Waioti Diusulkan Jadi Bandara Frans Seda

MAUMERE, PK--Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Sikka akan mengusulkan kepada DPRD Sikka mengganti nama Bandar Udara (Bandara) Waioti - Maumere menjadi Bandara Frans Seda.

Proses pergantian nama bandara tersebut sebagai wujud penghargaan atas jasa almarhum yang memperhatikan Sikka secara khusus pada masalah transportasi di masa ia menjabat Menteri Perhubungan RI.

DPRD Sikka menyambut baik niat Pemkab Sikka tersebut. Beberapa anggota DPRD Sikka yang ditemui terpisah meminta pemerintah segera mengusulkan kepada DPRD Sikka untuk dibahas dan diproses ke Departemen Perhubungan RI di Jakarta.

Bupati Sikka, Sosimus Mitang yang ditemui bersama Wabup Sikka, dr.Wera Damianus, M,M, di Gedung DPRD Sikka, Senin (4/1/2010), mengatakan, Pemkab Sikka akan mengusulkan pergantian nama Bandara Waioti menjadi Bandara Frans Seda. Pergantian nama tersebut sebagai bentuk penghormatan jasa Frans Seda kepada masyarakat Sikka. Semasa menjabat Menteri Perhubungan RI, kata Sosimus, almarhum memberi perhatian khusus terhadap masalah transportasi di daerah kelahirannya.

"Hanya satu saja pemerintah akan memberikan penghargaan dengan menggantikan nama Bandara Waioti Maumere menjadi Bandara Frans Seda. Kita usulkan kepada DPRD Sikka. Menteri Perhubungan RI juga telah saya sampaikan rencana pergantian nama Bandara Waioti menjadi Bandara Frans Seda," kata Sosimus.

Beberapa anggota DPRD Sikka yang dimintai tanggapan menyetujuinya. Simon Subandi dari PDP Sikka, mengatakan, pergantian nama Bandara Waioti menjadi Bandara Frans Seda adalah bentuk penghargaan tertinggi masyarakat dan Pemkab Sikka terhadap jasa Frans Seda yang telah memperjuangkan penerbangan perintis ke Maumere dan NTT.

"Kita harus mengakui ketika Frans Seda menjadi Menteri Perhubungan, jasanya cukup besar bagi masyarakat Sikka. Kita dukung nama bandara diganti menjadi Bandara Frans Seda. Beliau juga punya andil besar bagi perkembangan pariwisata di Flores dengan adanya penerbangan yang masuk ke Maumere di masa itu," kata Subandi.

Siflan Angi, juga menyatakan dukungan dan meminta pemerintah mempercepat proses pergantian nama Bandara Waioti menjadi Bandara Frans Seda. "Pemerintah perlu mempercepat proses pergantian nama. Ini bukti dan penghargaan atas jasa Frans Seda. Saya juga setuju mengganti nama bandara karena nama yang ada tidak memilikki arti dan makna," kata Silfan.

Secara terpisah, Gubernur NTT, Frans Lebu Raya, dan anggota DPRD NTT asal Sikka, Kristo Blasin menyetujui niat Bupati Sikka mengganti nama Bandara Waioti menjadi Bandara Frans Seda. Bahkan, Kristo Blasin menyarankan Walikota Kupang mengabadikan nama Frans Seda dengan mengganti nama jalan protokol. Frans Seda adalah tokoh nasional asal NTT yang perlu dikenang secara monumental.

Blasin juga menyarankan agar pemerintah dan masyarakat NTT mengusulkan Frans Seda dikukuhkan menjadi pahlawan nasional bersama Gus Dur. "Pak Frans Seda itu tokoh tiga zaman yang punya jasa dalam memperjuangkan, mempertahankan dan mengisi kemerdekaan. Jadi, pantas kalau diperjuangkan menjadi pahlawan nasional bersama Gus Dur," kata Blasin.

Wacana pergantian nama Bandara Waioti telah didiskusikan Gubernur NTT dengan tokoh masyarakat NTT di Jakarta. Ada yang respons bagus, ada yang masih diam- diam.

"Usulan itu sudah disampaikan kepada beberapa pihak di Jakarta, tetapi belum semuanya menerima," kata Lebu Raya, melalui telepon genggam dari Jakarta, Senin (4/1/2010).

Menurut dia, pengabadian nama Frans Seda untuk nama bandara di NTT mungkin dinilai terlalu kecil. Namun sebagai orang NTT, almarhum perlu dikenang sebagai figur yang sangat berjasa dalam pembangunan di NTT.

Karena itu, kata Lebu Raya, diskusi ini akan terus dilakukan. Jika ada kesepakatan bersama, lanjut Lebu Raya, Pemprop NTT akan mengumumkan kepada publik pada upacara misa arwah yang akan digelar di Kupang, Rabu (6/1/2010).

Almarhum Frans Seda, kata Lebu Raya, sangat berjasa bagi bangsa ini, terutama dalam pembangunan perhubungan di kawasan timur Indonesia, termasuk NTT.

Ketika menjabat Menteri Perhubungan RI, kontribusi almarhum di bidang perhubungan laut dan udara sangat besar dalam membuka isolasi wilayah di propinsi kepulauan itu. Sejumlah kapal perintis dioperasikan di NTT untuk meretas isolasi wilayah, dan penerbangan perintis oleh pesawat Merpati Nusantara Airlines ke sejumlah daerah di NTT. "Semua ini berkat campur tangan Frans Seda," katanya.

Menurut Lebu Raya, tidak salah jika masyarakat NTT mengubah nama bandara di kampung halamannya itu untuk mengenang jasa-jasa almarhum yang semasa hidupnya telah mengabdikan diri bagi bangsa.(ris/gem/ant)

Pos Kupang 5 Januari 2010 halaman 1
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Best WordPress Themes