Tampilkan postingan dengan label Mengenang Valens Doy. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Mengenang Valens Doy. Tampilkan semua postingan

Wartawan yang Mencintai Profesi Lebih dari Segalanya



Valens Doy
Mengenang 5 Tahun Wafat Valens Doy (3 Mei 2005-3 Mei 2010)

Oleh Steve H Prabowo

“Papa … Papa jangan tinggalin Elva!”

Suasana ruang Intensive Care Unit RSUD Sanglah, Denpasar, mencekam. Gadis itu, Elva, putri sulung wartawan senior Valens Goa Doy, memegang tubuh sang ayah. Sementara sang ibu, Ny Elsa Doy, memegang kaki almarhum.

Air matanya jatuh. Ya, malam itu, Selasa, 3 Mei 2005, Oom Valens – begitu ia biasa dipanggil para murid dan anak buahnya – meninggal dunia.

Beberapa saudara, teman-sahabat dan anak didik Oom Valens yang hadir di ruangan itu tepekur.

Sementara dokter dan paramedis mencoba menyelamatkan hidupnya, yang hadir memanjatkan doa berdasarkan agama dan keyakinan masing-masing.


Tampak sejumlah wartawan dan mantan wartawan Kompas, Damyan Godho, Frans Sarong, juga bekas anak didik almarhum di Persda Kompas-Gramedia seperti Victorawan “Itong” Sophiaan, Sri Unggul Azul dan Suwidi Tono.

Hampir satu jam upaya membuat jantung Oom Valens berdetak dilakukan. Namun, tubuh Oom Valens tetap tak bergerak. Pendiri koran-koran daerah milik Kelompok Kompas-Gramedia itu meninggal dunia.

Azul yang satu jam sebelumnya telah mengabarkan kematian Oom Valens lewat pesan teks kepada rekan-rekan lainnya, menghela nafas panjang. “Gua nyesel kirim berita duka duluan,” keluhnya.

Satu jam sebelumnya, kami, saya, Azul dan Itong, masih berada di luar ICU, ketika Frans Sarong mengabarkan Oom Valens meninggal. Azul langsung mengirim berita duka ke beberapa teman. Kami pun bergegas masuk ruangan tempat Oom Valens dirawat.

Ternyata, dokter dan para pembantunya sedang mengupayakan penyelamatan. Pesan teks Azul rupanya menjadi pesan berantai yang akhirnya, entah dari tangan ke berapa, kembali lagi pada pengirimnya.

Di dipan rumah sakit, tubuh Oom Valens membujur dikelilingi keluarga dekatnya, Tante Elsa, Elva dan Alex Doy, juga saudara kandungnya, Tante Waldeet dan Romo Frans Doy Pr. Isak tangis masih terdengar.

***

Mendengar tangisan dan ratapan Elva, ingatan saya kembali ke belasan tahun silam. Tepatnya tahun 1989. Oom Valens yang tengah membuka Harian Surya di Surabaya, lebih banyak tidur di mes kantor Jl Basuki Rachmat ketimbang bersama keluarganya di Jl Tumapel.

Malah, ia lebih suka tidur di ruang lay out, ketimbang di kamar mesnya.
Istrinya, Tante Elsa, setiap hari mengirim makanan ke kantor.

“Gila si Oom itu,” kata Manuel Kaisiepo, redaktur saya, ketika ngopi di kantin Gramedia. “Anaknya sudah lima hari di rumah sakit, dia baru tadi jenguk,” imbuh Manuel.

Hari itu memang hari kelima Elva dirawat di rumah sakit. Baru hari itu pula, Oom Valens menjenguk putri sulungnya.

“Nggak sempat,” kata Oom Valens, tertawa ketika saya tanya. “Mana sempat urus yang begitu-begitu (keluarga, pen), kalau kalian masih bikin berita biasa-biasa saja,” ujarnya.

Bagi Valens waktu itu, keluarga nomor dua. Pekerjaan nomor satu. Tapi itu berubah menjelang akhir hidupnya.

Sekitar seminggu sebelum meninggal, ketika hendak makan malam di rumah makan seafood di Cikini Raya, Oom Valens meminta saya ikut mobilnya, sementara teman lain berangkat duluan. Di mobil ia berpesan: “Keluarga itu yang paling penting. Jangan sia-siakan mereka, jaga mereka.”

Mereka yang mengenal Valens, pasti tidak percaya kalimat itu keluar dari mulutnya.

***

Berita adalah hidup sehari-hari Valens. Hidupnya dari deadline ke deadline. Selesai produksi, waktu itu koran masih sering terlambat, sekitar pukul 01.00 WIB, ia sudah rapat dengan para redaktur dan redaktur pelaksana.

Oom Max Margono, Trias Kuncahyono, dan (pada awal-awal Surya terbit) Oom Peter A Rohi, merupakan teman rapat rutinnya setiap dini hari.

Dalam rapat, ia menyusun penugasan kepada para redaktur dan kepala biro, untuk diteruskan kepada reporter-reporternya di lapangan esok harinya. Penugasannya begitu detil dan jelas.

Usai rapat, biasanya koran sudah terbit. Ia langsung memeriksa semua halaman, tak terlewat satu pun. Mencoret-coret koran dengan pena, baik untuk evaluasi maupun untuk dikembangkan lagi beritanya.

Pekerjaan ini biasanya dilakukan sampai subuh.

Pukul 08.00 WIB, Valens sudah rapi duduk di ruang rapat dengan koran yang sudah dicorat-coret di hampir setiap halamannya. Ia siap memimpin rapat redaksi pagi.
Usai rapat dengan redaksi, ia biasa juga mengadakan rapat dengan tim bisnis yang waktu itu dipimpin Herman Darmo.

Sore ia sudah memimpin rapat budgeting. Kantor yang sejak siang sepi, ramai oleh suara ketukan tuts kibor. Canda dan obrolan wartawan terdengar. Di antara hiruk pikuk itu, yang paling keras adalah suara Valens Doy. Teriakan, teguran, bahkan ketawanya terdengar dari depan sampai mes belakang kantor.

Begitulah kegiatan sehari-hari Valens Doy. Rutin, tapi penuh ketegangan, terutama bagi bawahannya.

“Dia memang kerja seperti kuda,” kata DJ Pamoedji, wartawan senior Kompas, saat menunggu jenazah disemayamkan di ruang duka.

Di proyek Surya, Mas Pam pernah berantem hebat dengan Oom Valens. Gara-garanya, Pamoedji marah diajak rapat pukul 03.00. “Emang semua kaya lu, kerja kaya kuda!” bentak Pamoedji, ketika pintu kamarnya diketuk Valens. “Orang perlu istirahat!”
Mereka bertengkar hebat, sampai-sampai Pamoedji membanting pintu. “Gua pulang (ke Jakarta) besok!” katanya.

Pamoedji benar-benar pulang ke Jakarta hari itu.

Menyadari kehilangan teman kerja yang andal, Valens pun minta maaf dan meminta Pamoedji kembali ke Surabaya, melanjutkan proyek Surya.

Istirahat dan santai adalah dua kata yang mungkin tidak dikenal Valens zaman itu. Bekerja bersama dia, jangan sekali pun berharap bisa bersantai. Ada cerita menarik di proyek penerbitan koran di Ambon, Pos Maluku, tahun 1990.

Suatu hari Sabtu sore (koran tidak terbit hari Minggu), kami – saya, Satrio Hutomo, Muhammad Yamin, dan Adrizon Zubair – berencana santai ke diskotek kota itu. Rencana itu gagal dengan kedatangan Oom Valens ke kantor.

 “Ayo, cicil untuk (terbitan) Senin!” teriaknya ketika kami duduk-duduk di depan kantor. Tommy, panggilan Satrio Hutomo, yang paling kesal. Tak lama kemudian, syukur pada Tuhan … listrik mati!

Si Oom marah besar, memaki-maki PLN karena tulisan dia hilang akibat mati listrik. Tommy menahan tawa, demikian juga Adrizon. Sikap mereka itu membuat saya dan Yamin berpikir bahwa merekalah, atau paling tidak salah satu dari mereka, dalang matinya listrik di kantor Pos Maluku.

***

Bekerja dengan Valens Doy sama artinya dengan menempatkan kantor sebagai rumah pertama, sedangkan tempat tinggal hanya “losmen” tempat berganti baju.

Tanggal 7 Desember 1989 malam, saya bertiga bersama Anwar Hudijono dan Trias Kuncahyono ngobrol-ngobrol sehabis kerja. Salah satu topik obrolan adalah wafatnya KH Ali Maksum hari itu.

Pukul 03.00 dini hari saya pamit. Sesampai di rumah, belum sempat ganti baju, sopir kantor datang. “Mas, dijaluk Oom balik kantor. Nggawa klambi, dikongkon luar kota (Mas, diminta Oom kembali ke kantor. Bawa baju, disuruh ke luar kota),” katanya.

Dini hari itu juga, saya berangkat ke Yogya mengikuti Ano – panggilan Anwar Hudijono – meliput wafatnya KH Ali Maksum. Tentu, dalam hati mengeluh: “Daripada pergi jam segini, kan mending dari tadi. Gak cape.”

Keasyikan ngobrol di kantor kadang ada untungnya. Salah satunya yang dialami Trias Kuncahyono, kini Wapemred Kompas. Hari itu, 26 Desember 1989, sekitar pukul 03.00 WIB, Trias masih berada di mejanya usai ngobrol dengan beberapa reporter dan redaktur.
Entah karena tak bisa tidur, ia iseng-iseng melihat lembaran teleks dari kantor berita. Waktu itu ia memang menangani desk luar negeri.

Tiba-tiba matanya membelalak. Malam hari sebelumnya, ia menulis headline “Ceausescu Ditangkap”. Nicolae Ceausescu memang ditangkap 22 Desember 1989 waktu Bucharest.

Tapi, pagi itu ia menemukan berita pendek, entah dari Reuters atau AFP, diktator Romania itu sudah dieksekusi, 25 Desember 1989 waktu setempat. Langsung ia telepon percetakan untuk stop press. Hari itu, sementara semua koran di Indonesia memasang headline Ceausescu ditangkap, Surya memasang judul “Ceausescu Ditembak”.

Total. Itu kata yang tepat untuk menggambarkan kerja Valens Doy. Ia selalu ingin timnya total bekerja. Awal tahun 1990-an, dan pasti sebelumnya juga, ia dikenal sebagai pribadi yang tanpa kompromi untuk hasil terbaik.

 Seperti yang dilakukannya sendiri, Valens Doy selalu menuntut anak buahnya untuk total dan bekerja keras.

“Kerja keras nggak bikin orang mati,” kalimat itu sering didengar anak didik atau rekan kerjanya.

Tentu bagi yang tidak terbiasa, atau bahkan yang sudah terbiasa sekalipun, bekerja sama dengan Valens Doy kadang merupakan siksaan. Baru datang liputan, sudah disuruh berangkat lagi. Entah untuk melengkapi hasil liputan yang dirasa kurang, atau liputan baru lagi.

***

Bagi yang mengenal dia, Valens Doy adalah sosok tanpa kompromi. Apa yang diinginkan harus terpenuhi. “Tidak ada sesuatu pun yang tidak bisa dikerjakan,” kata Oom Valens, di suatu hari bulan April 2005, saat rehat setelah seharian kami bertiga – Oom Valens, Azul Sjafrie dan saya – berdiskusi membahas konsep koran baru milik Grup MNC, Seputar Indonesia.

Ia lalu bercerita tentang awal-awal proyek Surya. Dari cerita itu, tampak jelas sosok seorang Valens yang penuntut, tanpa kompromi.

Ketika memulai proyek Surya, tutur Valens, ia sudah mensyaratkan adanya percetakan sendiri. Dengan saingan Jawa Pos yang sudah meraja, mustahil menerbitkan koran tanpa percetakan sendiri.

Tidak hanya meminta mesin cetak sendiri, Valens Doy juga menuntut mesin harus sudah siap saat dummy koran. Itu artinya, mesin harus sudah siap cetak tiga bulan dari saat kick off.

Tentu saja para ahli percetakan dari Kelompok Kompas Gramedia langsung menggeleng.
“Tidak mungkin,” kata mereka. Mesinnya saja saat itu masih di Jerman. Perjalanan ke Indonesia butuh lebih dari seminggu. Belum lagi fondasi untuk mesin cetak yang menurut mereka butuh paling cepat dua minggu. Ditambah lagi waktu merakit mesinnya.

Bukan Valens Doy kalau ia menyerah pada argumentasi semacam itu. Ia tetap ngotot mesin harus sudah siap cetak dalam waktu tiga bulan. “Nggak ada mesin, nggak ada koran,” ultimatumnya. Ia benar-benar tidak mau kompromi sedikit pun.

Tim percetakan rapat mencari cara untuk mempersiapkan mesin. Akhirnya ditemukan cara, dengan melakukan semua pekerjaan secara paralel. Baik persiapan mesin, pembuatan fondasi untuk gedung percetakan, sampai perakitan mesin, semua dilakukan bersamaan.
Hasilnya, ketika gedung dan konstruksi untuk mesin selesai, mesin pun tiba di Surabaya, tinggal memasangnya. Semuanya tepat waktu.

“Yang dibutuhkan cuma kemauan berpikir di luar frame,” kata Valens, mengakhiri ceritanya.

Jangan pernah bilang “tidak” di depan Valens Doy. Ia tidak akan mendengarnya. Kata “tidak” mungkin tidak ada dalam perbendaharaan otaknya. Kalimat “Ya, Oom!” biasanya otomatis keluar dari mulut, begitu Valens Doy memberi perintah. Bahkan, seringkali belum habis ucapan Valens, anak buahnya sudah menjawab: “Ya, Oom!”

Tidak bisa adalah kalimat tabu bagi dia. Setelah harian Pos Kupang terbit, saya ditugaskan Valens Doy ke Dili untuk proyek Suara Timor Timur (STT). Oom masih di Kupang ketika saya tiba di Dili. Dia menyusul keesokan harinya. Tiga hari ke depan STT harus sudah terbit.

Tiba di kantor STT saya agak pesimistis. Di kantor cuma ada tiga komputer, dua desktop dan satu laptop milik Oom Valens. “Pasti bisa. Harus bisa,’’ kata si Oom. Dari sisi kesiapan redaksi mungkin tidak masalah, karena sebagian wartawan dan redaktur sudah berpengalaman.

Kebanyakan dari Majalah Dian yang terkenal sebagai tempat belajar wartawan asal NTT. Tapi dari sisi infrastruktur? Bagaimana mungkin tiga komputer, salah satunya untuk layout, bisa mendukung deadline?

Benar. Koran bisa terbit sesuai jadwal, meski deadline molor tiga jam. Pagi itu juga, semua koran yang dicetak habis terjual. Tak satu pun koran masih tersisa di kantor, termasuk untuk dokumentasi ikut dijual juga.

***

Tampang sadis, jiwa romantis. Itu ungkapan saya untuk Valens Doy. Meski tanpa kompromi untuk tugas, ternyata hatinya sangat lembut. Ia mudah tergerak hatinya melihat penderitaan orang lain.

Satu peristiwa yang melekat di ingatan saya tentang hal ini. Tahun 1990, saya diajak Oom Valens ikut serta di proyek penerbitan Tifa Irian di Jayapura, Papua. Seperti biasa, tangan besi dipakai Valens di koran baru ini. Ia tak bisa melihat siang hari wartawan masih di kantor.

“Oom istirahat sebentar ya,” katanya pada saya, sambil naik tangga menuju attic kantor yang sehari-hari dijadikan tempat tidur wartawan Tifa malam hari. Sejenak kemudian saya terkejut oleh suara Oom. “Jam segini belum berangkat?” bentaknya marah. Rupanya di atas masih ada seorang wartawan yang masih “di kamar”.

“Tidak bisa bekerja, Bapa,” kata wartawan itu ketakutan. “Harus cuci baju,” lanjutnya. Alasan itu membuat Valens tambah naik pitam. Alasan yang tak masuk akal, masakan mencuci baju saja harus mengorbankan pekerjaan. Rupanya si wartawan hanya punya sepotong baju yang dicuci seminggu sekali.

Mendengar pengakuan wartawan itu, Oom terdiam. Ia menengok ke arah lain, dan turun. Saya lihat matanya berkaca-kaca. Setelah bisa menguasai diri, ia merogoh sakunya dan mengeluarkan uang dari dompetnya. “Kau belilah baju,” katanya.

Valens Doy menangis. Mungkin tak banyak orang punya kesempatan istimewa melihat hal itu. Kenangan Oom Valens menangis itulah yang melintas di pikiran saya ketika melihat tubuhnya terbujur diam di RSUD Sanglah, 3 Mei 2005 malam itu.

Isak tangis dan untaian doa masih terdengar. Valens Doy masih dikelilingi dokter dan perawat yang mencopoti alat-alat penyelamatan di tubuhnya. Ia diam, wajahnya tenang seperti sedang tidur. Wartawan yang mencintai profesinya melebihi apa pun itu telah pergi. ***

Sumber: Facebook Steve H Prabowo

Demokratisasi a la Valens Goa Doy

Valens G Doy
Oleh: Steve H Prabowo

Pengantar:

Victorawan "Itong" Sophiaan tiba-tiba menelepon saya. "Gua bosen tiap tahun Oom dikenang gitu-gitu aja. Oom kaya ginilah, Oom kaya gitulah. Kaga ada yang betul-betul gambarin Oom secara utuh, kecuali dia pekerja keras, dedikasi tinggi pada profesi, dan sebagainya dan sebagainya. Padahal, dia punya pemikiran, ide, visi, tentang Indonesia," kata Itong.

Betul juga. Valens Doy, yang dipanggil "Oom" itu lalu sekadar figur nostalgik. Sama seperti lagu-lagu oldies yang ditayangkan dalam Tembang Kenangan. Haul Valens Doy, setiap 3 Mei, cuma jadi ajang orang-orang tua berkumpul dan berbagi kenangan. Lalu bercerita tentang Si Oom pada adik-adiknya yang -kata Itong -tak bakal dapat apa-apa dari cerita nostalgia itu.

Ide Itong untuk bikin buku tentang Oom Valens Goa Doy patut dipikirkan. Buku tentang visi Si Oom tentang Indonesia yang -lagi-lagi mengutip ucapan Itong -sedang sekarat. Nah, dalam rangka itu saya coba berbagi pengalaman, yang mudah-mudahan bisa menggambarkan sebagian sangat kecil dari begitu luas visi Si Oom tentang tugas media bagi hidup berkebangsaan.


***

"Mana komentar dari DPR?" tanya Valens Goa Doy lewat telepon, di suatu waktu tahun 1990.

"Belum ada, Oom," jawab saya.

"Ah, kalian ini. Semua versi pemerintah," keluhnya.

Komentar dari DPR, sejelek apapun kualitas omongan mereka, bagi Valens Doy penting. DPR, bagaimana pun adalah representasi rakyat (meski semu). Di tahun-tahun awal 1990-an, ketika Pak Harto sedang kuat-kuatnya, menurut pandangan dia, suara DPR sangat penting sebagai ejawantah dari demokrasi.

Oleh karena itu, ia minta selalu ada tanggapan anggota Dewan untuk setiap kebijakan yang dikeluarkan pemerintah. Meski pada kenyataannya, saat itu banyak yang membebek pernyataan pemerintah.

Tentu, jangan dibandingkan dengan saat ini. DPR kini sudah jauh lebih kuat. Bahkan sangat kuat, dan cenderung arogan. Saat itu, DPR begitu inferior berhadapan dengan Pak Harto di puncak kekuasaannya.

Demokrasi memang jadi concern Valens Doy. Terutama saat itu, ketika posisi Pusat begitu kuat. Itu juga mungkin alasan dia menjadikan Harian Surya sebagai corong bagi Indonesia Timur. Surabaya, yang nota bene berada di Pulau Jawa, cocok untuk basis suara daerah Indonesia Timur. Kota terbesar kedua di Indonesia, dan tidak terlalu jauh dari Jakarta, sehingga diharapkan suara wilayah timur Indonesia bisa lebih lantang daripada kalau diteriakkan dari daerah.

Alasan itu pula yang membuat koran-koran yang digagas Valens Doy waktu itu selalu memberikan rubrik khusus bagi man on the street untuk bicara. Rubrik itu ada di Halaman Opini Surya, dengan nama Mimbar Demokrasi. Juga ada di Sriwijaya Pos, lupa nama rubriknya. Di Pos Kupang, awal-awal saya ada di sana juga sempat ada space khusus untuk man on the street itu.

Meski kecil, rubrik yang mewawancari rakyat jelata -bisa tukang becak, pelajar, mahasiswa, ibu rumah tangga -lengkap dengan foto wajah mereka, sangat diperhatikan. Saya yang ketika di Surabaya menjadi anak buah Bang Manuel Kaisiepo -mantan Menteri Negara Percepatan Pembangunan Kawasan Timur Indonesia -di Desk Opini Surya, bertanggung jawab atas Mimbar Demokrasi ini. Tidak ada alasan, wajah 5 orang rakyat itu harus terpampang setiap hari.

Seringkali, teman-teman reporter yang dimintai bantuan (bergiliran tiap-tiap desk setiap hari) lalai membawa naskah dan foto untuk Mimbar Demokrasi. Saya bisa paham, memaklumi bahwa "berita" itu sepele, remeh temeh. Kalau sudah begitu, biasanya sudah di atas pukul 17.00 sementara deadline pukul 17.00 juga, saya kalang kabut. Mewawancarai sendiri siapa pun di sekitar kantor.

Si Oom sempat mengeluhkan, atau tepatnya memarahi saya, karena kualitas Mimbar Demokrasi makin buruk. Cenderung seadanya. Asal ada. "Kalau bukan kita, siapa lagi yang mau menulis pendapat mereka?" katanya. Saya, seperti biasa hanya bisa menjawab: "Ya, Oom ..." sambil menunduk. Tak berani melihat matanya.

Rubrik Mimbar Demokrasi memang sepele, bukan berita hot. Tapi buat dia, tak ada rubrik yang sepele. Semua harus digarap serius. Itu pendapat saya waktu itu. Tapi belakangan, lama setelah ia meninggal, saya baru paham: Suara rakyat yang riil itu adalah ucapan yang keluar dari mulut mereka sendiri. Bukan oleh wakil mereka di Dewan. Itu alasan mengapa ia minta Mimbar Demokrasi digarap betul-betul.

Apa yang dilakukan Valens Doy waktu itu, mungkin bisa disamakan dengan apa yang disebut sebagai media "interaktif". Jauh sebelum ada telepon seluler dan internet seperti sekarang, Si Oom sudah berpikir bagaimana interaksi aktif pembaca melalui koran. Sekarang sudah banyak koran yang memberikan space untuk interaksi ini, antara lain melalui SMS. Si Oom sudah melakukannya, dengan cara sederhana: Mewawancarai dan memajang foto mereka.

Salah kalau saya waktu itu berpikir, rubrik ini sekadar supaya orang-orang biasa ini bangga fotonya masuk koran, kemudian membeli koran. Pemikiran praktis dari sudut pandang pemasaran sederhana. Valens Doy berpikir lebih sekadar pemasaran -yang memang mungkin tak efektif, karena rakyat biasa itu belum tentu menjadikan koran sebagai kebutuhan. Ada visi yang lebih tinggi: Rakyat biasa harus punya suara.


***



Baru-baru ini, teringat hari meninggalnya Valens Doy sudah dekat, saya coba baca lagi tulisan Mas Uki M Kurdi tentang dia. Mas Uki, mantan Desk Sunting Olahraga dengan redakturnya Bang Yesayas Oktavianus, bercerita tentang bagaimana Si Oom minta dicarikan seorang mantan pemain bola lokal yang punya nama dan integritas untuk menulis kolom sepak bola. Akhirnya, lewat diskusi dengan reporter olahraga (diskusi redaktur, penyunting, dan reporter seperti itu kini sudah jarang ditemui di surat kabar), ketemulah nama Rusdy Bahalwan.

Hal serupa juga terjadi di Desk Opini yang diasuh Bang Man (panggilan Manuel Kaisiepo). Ia selalu berpesan, dan pesan itu selalu diulang-ulang Bang Man, untuk memberi ruang bagi cendekia lokal. "Kita harus memunculkan orang daerah," katanya seringkali.

Ketika sebagai reporter politik pun, Si Oom menghendaki ada wawancara dengan cendekia Unair. Terutama yang muda-muda. Saya lihat hal itu juga dilakukan di Desk Ekonomi Bisnis. Orang daerah tidak boleh ketinggalan.

Saya pikir itu adalah salah satu upaya demokratisasi a la Valens Doy. Media menjadi saluran suara daerah, dan kalau bisa menjadi alat memunculkan tokoh-tokoh dari daerah.

***
Suatu malam, di Gedung Teja Buana, markas Majalah Prospektif, kami -saya, Yusran Hakim, Sri Unggul Azul, dan beberapa teman lain -berbicara dengan Si Oom di meja Yusran. Dia berucap soal pemihakan terhadap pengusaha. Untuk diketahui, Majalah Prospektif adalah majalah ekonomi.

"Pemerintah punya power untuk memaksakan kebijakan. Pengusaha tidak. Lewat media seperti kitalah mereka (pengusaha) bisa menyuarakan pendapat," katanya kurang lebih.

Serius sekali dia bicara begitu. Mungkin agak naif, karena pengusaha sebenarnya punya lobi sangat kuat terhadap pemerintah. Mereka bisa mempengaruhi, bahkan membeli, kebijakan pemerintah. Tapi saya coba berpikir positif. Ucapan itu lebih bersemangatkan keberpihakan terhadap yang tak punya power.

Pengusaha, khususnya dari etnis Tionghoa, saat itu memang bisa dipandang sebagai kelompok minoritas. Meski para konglomerat itu punya lobi kuat, terutama kroni-kroni Pak Harto, secara umum mereka lemah. Sering menjadi sapi perah penguasa. Mungkin istilah "sapi perah" tidak begitu tepat, karena bagaimana pun hubungan antara keduanya merupakan hubungan simbiosis mutualisme, saling menguntungkan. Tapi di lain pihak, mereka juga sering dimanfaatkan penguasa, termasuk dijadikan kambing hitam atau pun pengalih isu. Dan, harus diakui mereka juga korban stigmatisasi negatif yang dipertahankan penguasa.



***



Rasanya, jika diingat-ingat, masih banyak cerita tentang Si Oom dari sisi lain itu. Termasuk bagaimana dia berkeinginan kuat membantu Bung Salvador mendirikan koran di Dili, Timor Leste. Saya yang ikut membidani Suara Timor Timur, banyak mendapat pelajaran dari Si Oom tentang hak-hak warga Timor yang tertindas saat itu.

Juga mengapa ia begitu bernafsu mendirikan Pos Kupang, belakangan Flores Pos di Ende. Terlalu panjang jika saya bercerita kali ini. Apalagi sekarang waktunya deadline koran saya. Dan, mungkin yang lebih tepat bercerita adalah Oom Damyan Godho, Pater Henri Daros SVD, dan juga mungkin Bung Salvador.

Saat ini saya hanya ingin mengenang dia, guru dan pembimbing saya: Si Oom bagi anak-anaknya.

 Palangka Raya, 2 Mei 2012


Sumber: Akun FB Steve H Prabowo

Antara Valens Doy dan Rusdy Bahalwan

Oleh Uki M Kurdi

KETIKA
Harian Surya berdiri 10 November 1989, situasi Surabaya masih dilanda eforia kejayaan Persebaya sebagai jawara nasional untuk ajang sepakbola Perserikatan. Ketika itu, tepatnya di akhir tahun 1988 Persebaya Surabaya berhasil menaklukan PSMS Medan dengan skor telak 3-1 di partai final di Senayan.

Bagaimana menangkap dan memanfaatkan eforia itulah yang kemudian digariskan oleh  Valens Doy (almarhum) menjadi editorial policy Surya khususnya Desk Olahraga. Kebijakan redaksi tersebut adalah, Desk Olahraga harus mampu merangkul masyarakat Surabaya khususnya dan Jawa Timur umumnya, sebagai pembaca setia Harian Surya, lewat berita-berita olahraga.

Saya (ketika itu sebagai editor/penyunting halaman olahraga) dan Yesayas Oktavianus (ketika itu sebagai Redaktur Olahraga) kemudian diminta Om Valens untuk membuat langkah-langkah strategis menyangkut kebijakan liputan Desk Olahraga Harian Surya. Om Valens memberi arahan dan salah satunya dengan ucapannya, "Cari satu orang bintang sepakbola eks pemain Persebaya yang akan kita persiapkan menjadi tokoh ternama lewat ruang-ruang halaman Surya. Kita akan siapkan panggung untuk mendorong ketenaran dan ketokohannya."

Saya dan Yesayas pun mulai bergerak mencari orang yang paling cocok untuk memenuhi permintaan Om Valens tersebut. Ketika itu Desk Olahraga Harian Surya diperkuat oleh tim yang solid, seperti ; Yos Kiwanuka, Amran Lawowe, Wahjoe Harjanto, Nanik Deyang, Nanik Ceking, Mathias Buluama,  Finon Manulang, Hardimen Koto, dan Rachmad yang bergabung belakangan. Saya punya catatan bahwa pada tahap awal yang banyak membantu menemukan seorang calon penulis olaharaga hasil "binaan Surya" adalah rekan YOK, RAN, JOE, dan DEY.

Pada mulanya mereka memilih Al-Hadad yang sempat beberapa kali muncul di Harian Surya sebagai kolomnis sepakbola. Namun Om Valens sedikit kurang berkenan. Hingga pada akhirnya keempat wartawan tersebut menyodorkan Rusdy Bahalwan. Dan, ketika nama ini kami sodorkan kepada Om Velens, beliau pun langsung setuju. Tugas berikutnya yang diberikan Om Valens kepada saya dan Om Yesayas adalah mengajari Rusdy Bahalwan bagaiamana menulis kolom komentar dan analisis untuk peristiwa olahraga sepakbola.

Namun saya tetap penasaran. Maka, di suatu hari di ruang kerja Om Valens saya menyodorkan pertanyaan, "Mengapa Om lebih senang memilih Rusdy Bahalwan?"  Om Valens menjawab, "Rusdy adalah figur yang kita cari. Dia berprestasi di Persebaya, berprestasi di tim nasional, populer, orangnya terdidik, santun, dan moralnya bagus."

Belakangan baru saya sadari bahwa pilihan Om Valens atas Rusdy Bahalwan memang sangat tepat. Selain memiliki dasar telenta menulis, Rusdy Bahalwan juga memiliki disiplin dan komitmen yang tinggi terhadap "profesi" barunya sebagai analis pertandingan sepakbola.

Maka, hanya dalam hitungan beberapa bulan saja Rusdy Bahalwan diberi reward oleh Om Valens.

Di suatu hari saya dan Yesayas dipanggil menghadap si Om. Beliau menjelaskan bahwa Harian Surya harus mengirim orang untuk pergi meliput ajang Piala Dunia 1990 di Italia. Om Valens menugaskan Yesayas untuk menulis liputan pertandingan dari Italia, sedangkan Rusdy Bahalwan  juga ikut dikirim ke Italia untuk menulis analisis-analisisnya dari Negeri Pizza tersebut.

Semua biaya untuk diputan Piala Dunia,  8 Juni - 8 Juli 1990 di Italia, ditanggung Harian Surya. Sementara saya, tetap "jaga kandang" dengan tugas menjaga Desk Olahraga di Jl Basuki Rahmat, Surabaya. Ketika itu saya minta Mathias Buluama dan Hardimen Koto untuk membantu "mengamankan" halaman olahraga Harian Surya.

Begitulah kebesaran Harian Surya ketika Om Valens masih menjadi pemimpin kita di redaksi, pemimpin yang tahu persis makna strategisnya halaman olahraga, khususnya sepakbola, untuk menarik minat para pembaca Surabaya dan Jawa Timur. Artinya, belum juga genap berumur satu tahun, Surya ternyata sudah mampu mengirim dua wartawannya untuk melakukan liputan khusus selama 50 hari ke Italia.

Bukan Om Valens kalau  tidak melahirkan gasasan baru setiap saat. Maka, beberapa bulan usai Piala Dunia 1990, beliau kembali memanggil saya dan Yesayas di ruang kerjanya. Isi pembicaraannya masih menyangkut Rusdy Bahalwan. Om Valens punya gagasan, bagaimana kalau Rusdy Bahalwan kita sekolahkan menjadi pelatih nasional. Saya dan Yesayas diberi tugas mencari informasi untuk kemungkinan itu ke PSSI.

Atas bantuan beberapa teman kita yang bertugas di Jakarta diperoleh informasi bahwa PSSI tidak punya program untuk pelatihan semacam itu. Mereka menyarankan kita untuk menyertakan Rusdy Bahalwan mengikuti sekolah pelatih yang diselenggarakan oleh FIFA di Rio de Janeiro, Brasil. PSSI siap membantu mengeluarkan rekomendasi asal seluruh biaya untuk sekolah pelatih tersebut ditanggung kita (bukan biaya PSSI).

Di luar dugaan, ketika jawaban PSSI kita sampaikan ternyata Om Valens memberi keputusan yang spektakuler. "Oke, kita akan keluarkan biaya tersebut untuk Om Rusdy Bahalwan."

Maka, berangkatlah Rusdy Bahalwan ke Brasil untuk mengikuti sekolah pelatih atas biaya Harian Surya. Belakangan diketahi bahwa selain Rusdy Bahalwan ada satu mantan pemain nasional  dari Medan, yaitu Sutan Harhara,  yang juga sekolah bareng Rusdy di Brasil.

Dua orang inilah yang menjadi "orang sepakbola" pertama di Indonesia yang berhasil mengantongi Sertifikat C sebagai pelatih kelas internasional dengan ijazah keluaran FIFA. Dengan sertifikat tersebut Rusdy Bahalwan juga menjadi orang Surabaya pertama yang memiliki lisensi untuk melatih klub mana pun di seluruh dunia.

Sertifikat C keluaran FIFA itu pulalah yang kemudian mengantar Rusdy Bahalwan diangkat oleh PSSI menjadi pelatih tim nasional Indonesia. Dari tangan Rusdy Bahalwan, bangsa Indonesia sangat berbangga ketika tim nasional PSSI yang dilatihnya berhasil menjuarai  Piala Tiger sebuah event penting karena diikuti oleh negara-negara kuat macan sepakbola Asia.

Itulah visi Valens Doy terhadap seorang Rusdy Bahalwan yang telah berhasil mengantar Rusdy menembus langit tanpa batas di dunia sepakbola. Sejak saya menginjakkan kaki di Surabaya dari Jakarta untuk bergabung dengan Surya di bulan Agustus 1989 (tiga bulan sebelum Harian Surya dilauunching), Om Valens tiada hentinya memberi wejangan lepada saya, "Kita akan menerbitkan koran yang akan menjadi panggung ketenaran bagi Arek-arek Suroboyo."

Rusdy Bahalwan adalah salah satu tokoh penting yang berhasil dijaring dan dihantar Om Velens dan Harian Surya ke atas panggung popularitas. Ia  menjelma dari seorang pahlawan Suroboyo dan nasional di bidang sepakbola, kemudian menerobos keluar dari kepompongnya menjadi seorang penulis handal di bidang sepakbola. Keahlian menulis yang hinggá hari ini tidak atau belum mampu diikuti oleh pemain maupun pelatih sepakbola nasional Indonesia lainnya.

Hingga tiga sampai empat tahun lamanya sebelum saya berpisah dengan Harian Surya di tahun 2002, saya masih sering bertemu dan ngobrol sama Rusdy Bahalwan di kantor kita di Margorejo. Posisinya ketika itu sudah kosentrasi menekuni profesi asalnya sebagai pegawai negeri sipil di Kotamadya Surabaya. Rusdy masih rajin ke kantor untuk duduk tekun depan kumputer kita sambil mengetik ulasan pertandingan, baik untuk sepakbola nasional maupun Liga Inggris dan Italia.

Di segmen akhir pertemuan saya dengan Rusdy ini, saya sering melihat keakraban wartawan kita Rachmad yang selalu siap membantu dengan menyuplai berbagai data untuk Rusdy Bahalwan sebagai bahan tulisan analisis sepakbola Liga Eropa. Di hadapannya terlihat ibu dokter Ny Ramadhani (istri Rusdy Bahalwan) duduk menemani suaminya hinggá  Om Rusdy selesai mengetik. Ibu Ramadhani terlihat sabar menunggu sambil memeluk putrinya yang sudah terlelap tidur di pangkuannya.

Valens Doy dan Rusdy Bahalwan adalah dua tokoh yang sama-sama menoreh tinta emas bagi kejayaan Harian Surya. Keduanya kini sudah pergi meninggalkan kita selama-lamanya. Selamat jalan Om Rusdy, semoga khusnul khotimah.

Sumber: Catatan Uki M Kurdi di Facebooknya, diposting tertanggal 9 Agustus 2011

SKH Pos Kupang dan GMIT

Oleh Paul Bolla

SURAT Kabar Harian (SKH) Pos Kupang dan Gereja Masehi Injili di Timor (GMIT) memiliki hubungan sejarah. Hubungan ini dibangun diawal berdirinya Pos Kupang tahun 1992 atau 16 tahun silam. Hubungan itu klop karena kedua lembaga ini memiliki misi yang sama, yakni menjadi corong untuk menyuarakan 'suara kenabian.' 

Adalah almarhum Julius Syaranamual yang meyakinkan Damyan Godho, sekarang Pemimpin Umum SKH Pos Kupang, dan almarhum Valens Goa Doy, akan pentingnya mengajak GMIT terlibat sejak awal dalam membangun surat kabar harian pertama di Nusa Tenggara Timur, kala itu. Ketiga tokoh yang disebut di sini adalah pendiri Koran yang kini bertiras di atas 20 ribu eksemplar ini.

Julius Syaranamual adalah sarjana teologi alumnus STT Jakarta, yang juga dikenal sebagai wartawan dan sastrawan. Ia memimpin sebuah tim kecil menemui Ketua Sinode GMIT yang saat itu dijabat oleh Pendeta Dr. Benyamin Fobia. Kedua alumni STT Jakarta ini memiliki pikiran yang sama, bahwa gereja wajib mendukung institusi yang hendak menyatakan keadilan dan kebenaran, serta menyuarakan kepentingan kaum yang mendapat perlakuan tidak adil. Kunjungan tim pendiri SKH Pos Kupang ini dilakukan sebagai bagian dari persiapan lahirnya Pos Kupang.


Dukungan GMIT atas berdirinya Pos Kupang diwujudkan dengan kesediaan GMIT menyediakan sejumlah orang untuk direkrut menjadi wartawan. GMIT akhirnya mengajukan lima orang untuk melayani di Pos Kupang dalam profesi sebagai seorang jurnalis. Mereka adalah Pendeta Eben Nuban Timo, Pendeta Yulius Lopo, Pendeta Mesakh AP Dethan, Ester Mariani Gah dan Paul Bolla. 

Lima nama yang diajukan Sinode GMIT ke Pos Kupang ini adalah teman seangkatan vikariat. Hanya dua nama terakhir yang saat itu belum bersedia ditabiskan ke dalam jabatan pendeta setelah selesai menjalani masa vikariat. Ester menjalani masa vikariat di dua wilayah pelayanan, yakni di Oekabiti dan Alor. Sedangkan Paul Bolla menjalani masa vikariat di Klasis Lobalain, Rote di Jemaat Syalom Mokdale.


Dalam percakapan di kemudian hari, Pendeta Dr. Benyamin Fobia menjelaskan alasannya mengizinkan para pendeta berkarya di luar gereja. Menurut Fobia, ke depan GMIT harus memikirkan menempatkan para pendeta tidak terbatas hanya sebagai pendeta teritorial saja yang generalis. GMIT juga wajib mempersiapkan pendeta-pendeta kategorial fungsional. GMIT sudah mulai memikirkan merekrut pendeta-pendeta untuk melayani umat dalam fungsi kategorial atau profesi. Sehingga kelak akan dikenal pendeta khusus rumah sakit, pendeta anak, pendeta pemuda, pendeta kaum perempuan, pendeta pelajar, pendeta kampus, dan sebagainya. Pentingnya pendeta-pendeta kategorial fungsional agar pelayanan bisa lebih fokus ke dalam perrmasalahan yang dihadapai setiap kategori.

Usai memberikan pelatihan kepada para calon wartawan, SKH Pos Kupang pun melakukan uji coba terbit. Mula-mula ujicoba terbit seminggu beberapa kali. Kemudian sejak 24 November 1992 dilakukan ujicoba terbit secara reguler. Tanggal 1 Desember akhirnya ditetapkan sebagai hari lahirnya SKH Pos Kupang. Penetapan tanggal itu ditandai dengan perayaan kecil-kecilan berupa pemotongan nasi tumpeng persis tanggal 1 Desember 1992.

Belum lama SKH Pos Kupang terbit, Pendeta Eben Nuban Timo yang saat itu ditarik dari pelayanannya di Amanatun Selatan, mengundurkan diri. Eben curhat ke Pendeta Dr. Fobia, bahwa ia kurang cocok sebagai wartawan, sekaligus meminta izin untuk sekolah lagi. Suami dari Pendeta Ningsih de Fretes ini kemudian mempersiapkan diri kursus bahasa di Jakarta, kemudian tahun berikutnya berangkat ke Kampen, Belanda yang kelak memberinya gelar doktor. 

Ester Mariani tak lama kemudian menyusul Pendeta Eben. Ia mengundurkan diri dari Pos Kupang untuk mengambil program magister di Universitas Kristen Satya Wacana, Salatiga. Setelah kuliahnya selesai ia menjadi salah satu pengajar di almamaternya itu. Yang terakhir mengundurkan diri adalah Pendeta Mesakh AP Dethan, yang saat ini sedang menimba ilmu di Jerman, untuk program doktor.
Dua aset GMIT yang masih bertahan di Pos Kupang adalah Pendeta Yulius Lopo dan Paul Bolla. Selama menjalani profesi wartawan, salah satu tugas tetap adalah melakukan liputan rutin setiap dilaksanakan Sidang Majelis Sinode (SMS) GMIT. Setiap kali dilaksanakan SMS GMIT atau sidang program tahunan, Sinode GMIT membiayai seluruh akomodasi jurnalis Pos Kupang, sedangkan Pos Kupang menyediakan ruang (space) khusus pada halaman koran. Dengan demikian warga GMIT bisa mengikuti dinamika persidangan SMS GMIT melalui SKH Pos Kupang.


Tahun 1999, Paul Bolla mengundurkan diri dari Pos Kupang, dan bersama teman-teman mendirikan harian baru bernama "NTT Ekspres." Koran baru ini melanjutkan tradisi menyediakan halaman khusus setiap dilaksanakan SMS GMIT. Setelah NTT Ekspres tutup, Paul Bolla menjadi konsultan media di PT PLN (Persero) Wilayah Nusa Tenggara Timur, sejak tahun 2003 hingga sekarang.
Tinggallah Pendeta Yulius Lopo, satu-satunya aset GMIT yang tetap di Pos Kupang. Sekitar tahun 1999, barulah Yulius Lopo ditarik untuk bertugas di Kupang. Ia memulai tugas di Sumba Barat sejak tahun 1993. Tahun 1994 Yulius Lopo dimutasi ke Alor, pindah ke Manggarai dan Sikka dan masuk lagi ke Kupang tahun 1999. Pos Kupang kemudian mengizinkan asetnya ini direkrut Kompas Grup untuk ditempatkan sebagai wartawan Timika Pos di Timika, Papua. Hingga kini Yulius Lopo tidak lagi menjadi bagian dari Timika Pos yang sudah tutup. Ia pindah ke Jayapura dan bergabung dengan stasiun Top TV Papua. Inilah aset terakhir GMIT di Pos Kupang.

Tanggal 1 Desember lalu, SKH Pos Kupang, telah berusia 16 tahun. GMIT telah menjadi bagian daru perjalanan sejarah sosok koran harian dengan oplah terbesar saat ini. GMIT melalui lembaga Sinode, pernah menyumbangkan orang-orang terbaiknya dalam membesarkan Pos Kupang. Sebaliknya Pos Kupang telah mengambil peran besar dalam sejarah pelayanan GMIT dalam menyebarkan informasi, baik secara umum maupun secara spesifik yang berkaitan langsung dengan kepentingan umat dan gereja. Di dalam peran itu terdapat hal-hal khusus yang berkatan dengan kepentingan GMIT. 

Saat ini meskipun secara fisik lima wartawan utusan GMIT tidak lagi bekerja di Pos Kupang, tetapi komitmen moral Pos Kupang sebagaimana kesepakatan yang dibangun oleh almarhum Pendeta Benyamin Fobia, mantan Ketua Sinode GMIT dan Julius Syaranamual, mewakili Pos Kupang saat itu, tetaplah dipertahankan. Warna kebijakan redaksional Pos Kupang hingga sekarang tetap dalam rangka menyuarakan suara kenabian, misi yang bukan lagi menjadi monopoli fungsi para pendeta atau rahib.

Lalu bagaimana masa depan kerja sama SKH Pos Kupang dan Sinode GMIT? Salah satu gereja Protestan dengan umat terbesar di Indonesia ini, saat ini dipimpin oleh salah seorang mantan wartawan Pos Kupang, Pendeta Dr. Eben Nuban Timo. Hubungan batin yang pernah ada, meskipun tidak lama, setidaknya bisa menjadi perekat untuk membangun suatu kerja sama yang bisa meningkatkan martabat manusia, khususnya bermanfaat bagi kedua lembaga. Universitas Kristen Artha Wacana, misalnya, pernah menempatkan mahasiswanya menjalani colegium pastoral (baca: kuliah kerja nyata/KKN) di Harian NTT Ekspres.

SKH Pos Kupang dan Sinode GMIT bisa duduk bersama berdiskusi untuk menemukan bentuk-bentuk kerja sama yang bermanfaat dalam rangka menyuarakan suara masyarakat Nusa Tenggara Timur. Pos Kupang bisa menjadi tempat para calon pendeta menjalani masa vikariat, misalnya. Pos Kupang bisa membantu para calon pendeta untuk mengasah karakter seorang jurnalis, yakni ketajaman dan kepekaan nurani atau keberanian membela yang tertindas.

Sebaliknya, Pos Kupang bisa menjadi saudara (Lukas 17:2) yang mengkritisi manajemen gereja, atau pola kepemimpinan. Bisa juga membongkar kasus-kasus penyelewengan keuangan di gereja-gereja, yang membuat pelayanan gereja berjalan di tempat. Sebab bukan tidak mungkin gereja justru menjadi sarang korupsi. Selama ini mungkin saja Pos Kupang enggan membongkar kasus penyelewengan karena pertimbangan tertentu. Keengganan itu bisa jadi sebagai suatu bentuk "perlindungan" yang akab mematikan suara kenabian, dan tidak menjadi saudara yang benar. Semoga. * Paul Bola, Wartawan Pos Kupang 1993- 1999.

Opini Pos Kupang edisi Jumat, 5 Desember 2008 halaman 14

Saya Diajak Valens Goa Doy

"Akhirnya saya ketahuan orang tua sewaktu menjadi wartawan lepas di Kompas diajak Valens G. Doy. Waktu itu saya masih kelas 3 SMP. Saya menulis hampir setiap hari menggunakan nama Reza". (Radhar Panca Dahana)

Anda pasti sudah sering melihat, mendengar, dan membaca karya Radhar Panca Dahana. Dia yang mengaku peternak ikan dan pengemar yang indah-indah ini adalah dosen di jurusan Sosiologi Universitas Indonesia dan lebih dikenal masyarakat sebagai seorang budayawan. Radhar Panca Dahana sudah hidup dalam budaya Indonesia sejak umur 5 tahun. Di usia tersebut dia sudah mulai punya sikap, menulis, menghilang dari rumah, dan sebagainya.

Kendati demikian Radhar mengatakan sampai saat ini masih mencari identitas diri, termasuk bangsa Indonesia pun masih terus mencari identitasnya. Banyaknya konflik saat ini antara lain karena proses identifikasi diri tersebut. Puncak dari ketidakjelasan identitas adalah tindakan terorisme seperti bom bunuh diri. Itu karena mereka disoriented, tidak mampu mengidentifikasi sesuatu secara riil, nyata, dan benar. Dinas intelejen sangat terbiasa memanfaatkan orang-orang frustasi yang sudah sangat disoriented itu.

Berikut wawancara Wimar Witoelar dengan Radhar Panca Dahana.


Apa yang terjadi pada Anda sewaktu kecil ?

Saya anak terkecil dari 7 bersaudara. Saya selalu mendapat tekanan dari saudara-saudara saya yang semuanya relatif otoriter karena mengikuti jejak Bapak yang jebolan Taman Siswa. Ditambah lagi dengan kemiskinan yang kami alami. Sampai akhirnya saya mencoba mengekspresikan diri sendiri melalui cara yang lain namun hal tersebut tidak dikehendaki oleh keluarga terutama orang tua saya.

Apa saluran ekspresinya?

Melalui kesenian. Sejak awal saya ditolak untuk melakukan kreatifitas kesenian sehingga pada periode akhir 1970-an dan awal 1980-an saya menggunakan nama samaran Reza Mortafilini. Ini karena takut ketahuan oleh orang tua saya. Orang-orang seperti Rendra, Arifin, Teguh Karya, Jajang sampai sekarang masih memanggil saya Reza.


Sewaktu Anda menjadi Reza Mortafilini, Apakah Anda sudah dikenal oleh orang-orang itu?

Ya, kami sudah saling mengenal dengan baik. Saya memulainya di dunia jurnalistik.

Berapa usia Anda saat itu?

Saya mulai sejak kelas dua SMP. Namun akhirnya saya memutuskan untuk kembali ke nama asli saya. Perselisihan dengan orang tua mengenai karir di jalur kesenian inilah yang akhirnya mendorong saya, saat itu masih duduk di kelas dua SMP, keluar dari rumah. Saya masih ingat kalimat terakhir yang saya ucapkan dengan mulut masih berdarah, "Tidak ada demokrasi di sini." Sebenarnya saya tidak mengerti arti kalimat itu. Saya hanya terpengaruh bacaan saja.

Apakah dengan keluar dari rumah membuat Anda keluar dari sekolah juga?

Tidak, saya tetap bersekolah. Saat itu saya bekerja di majalah Hai yang masih dipegang oleh Mas Arswendo. Saat itu majalah Hai punya sisipan yang namanya "Koma", Koran Remaja. Di sana, selain sebagai wartawan saya juga menjadi penata artistik. Sebagai wartawan saya menggunakan nama Reza sedangkan sebagai penata artistik saya menggunakan nama Radar. Honornya pada saat itu sekitar Rp 2.500 per bulan. Dengan honor tersebut kadang-kadang saya tidak makan 2 - 3 hari. Namun hal itu tidak membuat saya berhenti sekolah.

Mengapa Anda kabur dari rumah? Apakah orang di rumah Anda tidak ada yang mengapresiasi kegiatan-kegiatan yang Anda lakukan?

Akhirnya saya ketahuan orang tua sewaktu menjadi wartawan lepas di Kompas diajak Valens G. Doy. Waktu itu saya masih kelas 3 SMP. Saya menulis hampir setiap hari menggunakan nama Reza. Suatu hari ada yang menghubungi kantor redakur Kompas dan mengatakan, "Yang namanya Reza itu anak saya, dia tidak boleh ikut-ikutan." Ternyata yang menelpon adalah ayah saya.

Bagaimana sikap keluarga Anda sekarang?

Saat ini mereka mau tidak mau harus menerima manusia seperti saya ini.

Anda sudah punya identitas dan mereka menemukannya sekarang. Masalah identitas ini banyak ditanyakan kepada Anda termasuk kalau kita pindah tema dalam lingkup masyarakat luas seperti identitas manusia Indonesia terutama dalam masa 5 tahun terakhir. Apa komentar Anda mengenai yang terjadi pada manusia Indonesia sekarang ini?

Saya tidak khawatir. Saya juga belum menemukan identitas saya. Jika Bapak atau Ibu saya menemukan identitas saya, maka identitas itu adalah identitas yang mereka perkirakan. Bagi mereka, Radhar adalah bentuk eksistensi seperti ini yang barangkali mereka idealisir melalui pemahaman-pemahaman tradisional mereka. Saya pribadi merasa belum menemukan identitas saya.

Tapi Anda sudah memiliki identitas sebagai seorang yang kreatif, bisa menulis, dan sebagainya.

Itu bukan identitas. Semua orang bisa memilikinya.

Apakah itu berarti semua orang tidak memiliki identitas?

Identitas pertama yang ditemukan oleh seseorang adalah secara geografis. Ini ditunjukan dengan Kartu Tanda Penduduk (KTP), Nomor Pokok Wajib Pajak (NPWP). Kedua, dia menamakan dirinya orang Jawa, orang Indonesia, dan lain-lain. Tapi apa itu orang jawa dan orang Indonesia? Untuk yang pertama, saya punya KTP, NPWP. Tapi untuk yang kedua, saya tidak bisa menjelaskan apapun. Bapak dan Ibu saya Jawa tapi saya lahir dan dibesarkan di Jakarta. Apa arti Jawa buat saya? Apa arti Indonesia buat saya?

Jadi dalam kehidupan sehari-hari, dimana kelemahannya kalau orang tidak punya identitas?

Jika orang tidak punya identitas maka dia tidak tahu ada di mana, dia tidak tahu dari mana, dan dia tidak tahu ke mana.

Apa itu produk dari masyarakat atau sangat pribadi sifatnya?

Ini adalah produk masyarakat. Kita ini memang korban. Untuk orang seperti saya yang identitas kulturalnya tidak jelas maka saya mencari ibu kultural ke mana-mana seperti di pantai, hutan, buku-buku, atau tempat-tempat lain. Sedangkan untuk bapak kultural, saya mencari di diskotik, ruang parlemen, di mana saja. Jadi saya tidak jelas manusia Indonesia itu seperti apa. Orang yang berasal dari kultur yang jelas seperti orang Padang, Madura atau Jawa akan mengalami situasi yang sama ketika ke-Padang-an, ke-Madura-annya, atau ke-Jawa-annya itu tidak bisa diekspresikan secara tuntas dan optimal dalam situasi sekarang.

Apakah Anda bahagia tidak punya identitas, atau ingin punya identitas, atau it doesn't matter?

Saya kira semua orang menginginkan identitas itu. Hal itu adalah roots atau akar kita. Kerinduan semacam itu yang membuat pencarian-pencarian saya mengenai makna Indonesia, diri sendiri, dan manusia terus berjalan.

Apa pencarian identitas ini dipersulit karena Indonesia heterogen dan plural?

Pertama, saya kira karena kita tidak memahami itu dengan baik. Kedua, ketika orang memahaminya, mereka tidak bisa menerimanya dengan baik. Bentuk penerimaan itu, misalnya, pemahaman bahwa kita bukan satu sosok yang utuh. Jawa itu bukan sosok yang utuh tapi merupakan serakan-serakan atau mozaik yang bisa saja satu persatu pecah dan kapan saja bisa disusun lagi. Tapi dalam bayangan ideologis dan tradisi, kita selalu membayangkan diri kita satu yang utuh. Bahkan sangat dipaksakan secara ideologis. Itu membuat kita lupa terhadap kenyataan kita sendiri.


Jadi menurut Anda, apakah nasionalisme dan pembentukan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) justru menyulitkan atau memperjelas dalam proses pembentukan identitas?

Itu justru sangat menyulitkan karena kita tidak bisa memahami dengan baik. Belum ada konsensus mengenai hal itu. Kalaupun ada konsensus itu sifatnya dipaksakan dari kekuasaaan. Sementara secara menyeluruh, sementara rakyat belum memiliki pemahaman yang benar.


Apakah perlu ada sebuah identitas nasional atau silahkan saja cari sendiri-sendiri?

Kalau mau membentuk identitas nasional, kita membutuhkan sebuah konsensus yang luar biasa. Itu perjalanan yang sangat panjang. Kita akan menuju atau ke sana atau tidak, saya tidak perduli.

Apakah bagus atau tidak melupakan negara kita?

Saya kira persoalannya bukan bagus atau tidak bagus tapi seberapa jauh indentifikasi itu memberi kesempatan kita untuk mengoptimilisasi atau mengaktualisasi kemampuan-kemampuan kita yang terbaik.

Dan Anda melihat itu dari perspektif kemampuan individu bukan dari kegunaannya bagi masyarakat?

Pada akhirnya optimalisasi kebaikan kita sebagai individu itu hablum minallah, hablum minannas. Artinya, menyebar juga. Kalau hanya untuk kepentingan yang sifatnya personal saya kira itu tidak aktual sebagai manusia, tidak optimal sebagai manusia. Jadi manusia pada hakikatnya makhluk sosial.


Jadi orang yang cuek seperti Anda masih juga sosial ?

Saya sangat sosial karena saya selalu berbuat untuk orang lain. Apakah batasannya itu cukup wilayah Pamulang saja, Jakarta, Indonesia, atau regional itu merupakan pilihan masing-masing orang.

Anda malah tidak memberikan definisi pada diri sendiri?

Saya kira bila saya berbuat lebih banyak dan lebih luas itu jauh lebih baik. Jadi itu tidak ada batasannya.

Jadi kita boleh berguna walaupun tidak bisa mendefinisikan diri kita sendiri?

Kita sama-sama mencari karena tidak ada satu orang pun bisa mengklaim bahwa dirinya jelas. Itu sama saja dengan orang tidak bisa mengklaim bahwa dirinya Indonesia. Sebab, ketika dia menetapkan dirinya Indonesia dan bertemu dengan Indonesia yang lain masih ada konflik karena pemahamannya sangat berbeda diantara kita.


Anda bicara mengenai konflik yang ada sekarang itu sebagai sesuatu yang berasal dari identifikasi itu?

Iya, itu antara lainnya. Dalam mengidentifikasi diri, mengidentifikasi situasi, masa depan, masa lalu, dan segalanya.

Kalau teroris dan pelaku bom bunuh diri, apakah berarti jelas identitasnya?

Kalau teroris itu disoriented

Bukankah dia tajam sekali karena dirinya benar dan yang lain salah maka dibom saja?

Tidak, itu puncak dari ketidakjelasan. Itu ada pada terorisme karena dia tidak mampu mengidentifikasi sesuatu secara riil, nyata, dan benar buat dia.


Saya ingat pada sekitar tahun 2000-an sewaktu ada bom pertama di Kedutaan Besar Philipina di Jakarta. Ketika itu Indonesia sudah mulai kacau dan setelah itu jadi banyak pemboman. Menurut Anda, mengapa keadaannya berubah sehingga Indonesia sekarang dicap sebagai negara teroris?

Saya memiliki dua cara untuk melihat itu. Kedua-duanya saya gunakan walaupun bertentangan. Satu secara akademik dan satu lagi secara spekulasi. Kalau secara akademik, salah satu yang paling menarik adalah yang mengatakan citra Islam yang 90% dimiliki Indonesia sudah ditangkap secara salah oleh manusia-manusia atau kelompok lain di luar Islam.
Kini di Amerika ada satu trend baru untuk mempromosikan Islam lewat komedi. Jadi anak-anak muda muncul dengan one man show-nya dengan standing up komedinya.

Apakah komedi yang bersimpati atau melecehkan?

Tidak. Orang-orang Islam ini mencoba mencitrakan Islam dengan cara yang berbeda. Misalnya, muncul seorang bernama Hasan di sebuah panggung di New York dan mengatakan, "Saya menyesali di Arab Saudi dan negara Arab lainnya pemerintahan atau kekuasaan diwariskan berdasarkan keturunan. Bagaimana mungkin pada Abad 21 ini masih ada kejadian abad 15 yaitu orang menjadi presiden hanya karena keturunan."

Dia berbicara itu di Amerika. Artinya, ada pengubahan citra. Itu adalah satu terminologi atau satu perspektif yang diambil secara akademik. Kalau yang bertentangan dengan itu ada satu gerakan konspiratif yang buat saya ini spekulatif dan itu perlu diperhitungkan juga.


Konspirasi siapa dan terhadap siapa?

Konspirasi dari satu kekuatan terutama ekonomi dan politik dan di belakang ini ada militer dan kekuatan global untuk menguasi dunia dan mempertahankan dominasi mereka yang selama ini ada.


Apakah itu untuk minyak dan sebagainya?

Dan sebagainya. Jadi lebih luas dari itu. Terorisme dan yang lain itu adalah sebagian bentuk dari rekayasa itu, dari perencanaan-perencanaan itu. Ketika Amerika menjadi negara No.1 tapi kehilangan satu hal yang menjadi motivasi bagi bangsanya untuk bergerak maju.


Apa itu?

Enemy. Ketika Rusia sudah hancur dan Cina bekerja sama dengan yang lainnya, maka common enemy (red: musuh bersama) ini yang digembar-gemborkan.


Mengapa harus menciptakan konspirasi karena mereka sudah dominan?

Mereka harus mempertahankannya karena ada gerakan-gerakan kuat terutama di lapisan bawah dan menengah yang begitu kuat pressure-nya sehingga akan bisa menjatuhkan mereka juga.


Tapi gerakan kuat melawan mereka, apakah itu dari teroris atau dari orang biasa?

Kalau teroris itu ciptaan mereka dalam teori konspirasi ini. Kalau ini dari gerakan-gerakan masyarakat sipil dari akar rumput, bukan yang rekayasa seperti green peace. Tapi ini yang riil dari masyarakat yang tidak puas, yang frustrasi, dan lainnya.

Jadi mereka mau menyibukkan orang lain saja supaya ada alasan mereka pegang kekuasaan?

Iya betul untuk mengalihkan perhatian dan itu sering terjadi. Misalnya di Eropa Timur sewaktu keluar dari Uni Soviet. Mereka tidak menggunakan kata terorisme tapi menggunakan kata korupsi. Korupsi di wilayah Eropa Timur itu menjadi kesibukan luar biasa buat orang-orang sehingga lupa pada esensi persoalan-persoalan ekonomi, politik dan kultural yang sebenarnya.

Menarik. Di Indonesia juga ada gejala mengalihkan perhatian. Apakah ini proyek lokal atau bagian dari konspirasi global?

Pertanyaan itu tidak selayaknya Anda jawab atau saya jawab karena sudah ada yang bisa menjawab.

Saat ini suka ada isu muncul yang membuat orang sibuk dan kacau pikiran kemudian melupakan segalanya. Misalnya, sebentar lagi tarif telepon naik 100%, Tarif Dasar Listrik (TDL) naik 40%. Luar biasa yang dilakukan kabinet sekarang ini. Kabinet pemerintahan mana pun akan hancur karena kebijakan seperti itu.


Mengapa yang sekarang tidak hancur?

Tidak hancur karena lebih canggih. Mereka belajar di pemerintahan sebelumnya.


Apakah demokratisasi dan gerakan transparansi buah reformasi? Apakah itu bukan penyelamat bangsa.

Itu bukan buah reformasi, itu hanya lip service semata. Saya kira itu hanya suatu kedok yang cantik dari wajah yang buruk.

Ini agar kesimpulannya benar. Jadi ada konspirasi orang-orang kuat di dunia untuk untuk mengalihkan perhatian orang sehingga kekuasaaan itu bisa bertahan terus. Tapi kekuasaan itu tidak tahu berskala internasional atau nasional, blok Barat atau timur.

Semua terlibat dengan para cooperator. Tidak ada blok, tidak ada jurusan, tidak ada mata angin, tidak ada maju atau belakang. Semua elit terlibat langsung atau tidak langsung


Apakah ada orang atau kekuatan yang bisa diharapkan?

Rakyat itu kekuatan sesungguhnya. Yang kurang dari kita adalah memahami rakyat dan potensi-potensi apa yang padanya.

Tapi rakyat mengerti mengenai ini. Buktinya, Anda diundang ke mana-mana dan tidak dianggap orang gila.


Tidak tahu juga.


Untuk jangka pendek, apa yang sedang Anda lakukan?

Survive dalam hidup. Survive untuk bisa berbuat lebih. Itu saja.


Saya menangkap itu sebagai ucapan pesimis.


Tidak. Dalam tekanan luar biasa dari berbagai bidang ekonomi, politik, sosial, budaya seperti sekarang, kita perlu survive dulu. Lalu setelahnya baru berpikir berbuat lebih dari itu. Pada saat sekarang survive sebagai suatu prestasi untuk kita sebagai rakyat.

Tadi Anda mengatakan pada saat sekarang, apakah pernah ada saat yang lebih bagus dari saat ini?

Kita tidak mau romantis untuk seperti itu. Membayangkan hal di masa lalu tidak akan memberikan apa-apa di masa depan.

Edisi 517 06 Feb 2006
http://www.perspektifbaru.com/wawancara/517

Om Valens dan Sindrome Napoleon

Oleh Hadi Suprapto

Tawang, 16 Maret
Pagi yang cerah itu, seorang bocah kecil berdiri sebuah peron Stasiun Tawang. Menunggu Fajar Utama, sebuah angkutan rakyat jurusan Semarang-Jakarta. Ia datang 30 menit lebih awal, sebelum kereta berangkat, jam delapan pagi. Hiruk pikuk stasiun itu tidak membuatnya gerang. Ia santai, lebih pada kekosongan pikiran.

Mengenakan kaos hitam dipadu celana cokelat muda, anak itu duduk. Sebuah ko-ran lokal yang sedang memberitakan akuisisi perusahaan rokok di Surabaya dipegangnya. Namun, terlihat bocah cilik itu tidak serius dalam membacanya. Pandangannya kosong. Kegembiraan, kesedihan, dan bimbang, bercampur menjadi satu.

Dua hari yang lalu, dalam sebuah prosesi pemakaman, bocah cilik itu menerima telepon dari sebuah kantor majalah di Jakarta. Alamat yang diberi tidak dicatatnya sebab tidak memungkinkan. Hanya tetpon konfirmasinya saja yang ia ingat-ingat, 021 314 2557.

Dengan modal informasi telepon dari kantor tersebut, ia berangkat. Membulatkan tekad dalam citanya, menjadi waratawan. Anak lugu itu dengan pede-nya ke Jakarta tanpa alamat. Ia hanya punya telepon konfirmasinya, itu saja. Itupun sedari kemarin su-dah dicoba dihubunginya, tapi belum satu pun tersambung. Namun bocah kecil itu tidak berhenti di situ. Ia tetap ngotot ke Jakarta.
 

Di kereta pun ia bimbang, apalagi satu-satunya alamat yang ia punya itu, belum bisa dihubungi. Hanya mesin penjawab saja yang terdengar. Berlahan ia coba terus den-gan HP yang super gedenya. Rupanya Tuhan tidak tega melihat makhluknya berjalan tanpa tujuan. Di tengah perjalanan, kantor itu berhasil ia hubungi, dan alamat pun ia dapatkan.

***

Bocah cilik itu sudah merasakan Jakarta. Cita-citanya sebagai wartawan di am-bang pintu. Bersama 10 anak lainnya, ia masuk di salah satu ruangan kantor majalah Prospektif. Di situ ia ditempa selama dua minggu oleh tiga wartawan senior. Entah siapa mereka, hari pertama bocah itu belum mengenalnya.

Mungkin ini penempaan jurnalis yang paling membekas. Bocah cilik itu di tanyai oleh satu di antara tiga trainers itu "apa itu berita?" Itu awal kali dialognya. Setelah be-berapa patah kata keluar darinya, bocah kecil yang belum tahu Jakarta itu disuruh turun ke lapangan. "Lihatlah apa yang terjadi di TIM, you tuliskan, you deskripsikan secara detail," perintahnya. Hingga sore, bocah itu di lapangan tanpa tahu arah. Ia hanya bisa merenungi, mengingat apa yang dilihatnya, tanpa tahu apa yang akan ditulisnya, nanti.

Namun, di hari kedua bocah lugu itu sudah mulai ngerti. Laki-laki paruh baya itu tidak lain adalah Valens Goa Doy. Seorang jurnalis terkenal, jebolan Kompas. Dialah yang menjadikan Kompas eksklusif di berita olahraganya, sekiran tahun 80-an.
Sapanya akrab, membuat bocah kecil itu merasa terlindungi. Om Valens, laki-laki itu sering disapa.

Hari demi hari Om Valens mengajar dengan sabar bocah kecil itu. Om Valens memberi tahu konsep berita komprehensif, dan bagaimana cara penerapannya. Sungguh jelas apa yang disampaikan Om Valens. Meski penjelasannya sangat cepat, Om Valens bisa memberikan gambaran pada wartawan pemula untuk memulai tugas kewartawanan-nya, seperti bocah kecil itu.

Om Valens bisa dibilang sebagai guru jurnalis yang favorit. Sebab Om Valens memiliki sifat lain, menghargai anak didik. Selain itu, Om Valens juga jago meyakinkan orang untuk bisa melakukan sesuatu. Meyakinkan bocah kecil untuk bisa menulis apa yang dia lihat, dia rasakan indra, dan dia alami.

Rabu, 27 April

Om Valens entah dari mana. Hanya satu yang bocah kecil tahu, Om terlihat lelah. Tapi rasa lelah itu rupanya tidak menjadikan Om Valens lupa menyapa anak Semarang itu. Bocah kecil itu memang sering disapa "Anak Semarang". Mungkin karena dia satu-satunya anak didik satu angkatan yang datang dari Semarang. Dengan mengenakan pa-kaian khasnya, kaos putih berkerah dipadu dengan celana gelap berkalung handuk putih itu menyapa melalui senyum.

Saat menunggu lift, Om Valens sudah memunculkan sikap sumehnya. Ia me-nepuk-nepuk bahu bocah kecil yang kumal itu, "Hai.." Om Valens menyapanya dulu. "Sore Om, gimana kabarnya?" tanya bocah kecil yang waktu itu habis liputan. "Baik, you gimana?" percakapan itu pun berlanjut, hingga bocah kecil itu minta beberapa tulisan Om Valens untuk dibacanya. "Om sudah tua lah, capai tubuh ini." Jawabnya kepada bocah kecil itu.

Menepuk bahu bukanlah kebiasaan asing bagi Om Valens ketika bertemu anak didiknya. Mungkin ini salah satu yang menjadikan Om Valens terlihat lebih akrab dengan anak didiknya. Bukan hanya itu, lelaki yang masih setia dengan HP Nokia 3315 itu juga sebagai sosok manusia "pekerja keras". Om Valens tidak pernah mengeluh. Apalagi sampai mengucapkan hal seperti itu. Sebuah kalimat yang bocah kecil dengar dari mulut Om Valens.

Namun, bukan Om Valens jika berhenti menulis. Meski Om Valens pernah bilang dirinya telah lelah, Om Valens masih tetap menulis. Lima hari berikutnya, bocah kecil itu bisa membaca tulisan Om Valens. Dengan titel Probo75, ia ingin mengungkapkan selamat ulang tahun untuk pengusaha pribumi, Probo Sutedjo.

Di usianya yang mendekati senja, tidak menjadi halangan bagi Om Valens untuk berbuat terbaik. Keyakinan yang dimiliki itu diakuinya sebagai semangat bagi Om Va-lens. Entah, mungkin Om Valens hanya menyemangati si Bocah kecil itu atau memang benar-benar terjadi.

Keyakinan untuk selalu bisa dan tidak mau kalah dengan orang lain itu menjadikan Om Valens sebagai seorang pekerja yang totalitas. Makanya, tidak heran jika minggu itu Om Valens masih sering terlihat bermalam di kantor. Atau, paling tidak sering pulang larut malam. Lihat saja, kisah-kisah Om Valens yang pernah ditulis kawan-kawannya. Om Valens terlihat sebagai sosok pekerja yang tidak pernah menyerah.

***

Kini, baru 40 hari bocah kecil itu, yang tidak lain adalah aku, Hadi, baru men-genalnya, di saat itu juga Om Valens meninggalkannya. Om sebagai guru dan ayahku telah tiada. Namun, hatiku akan selalu ada ruang untuk mengenang namamu, Om Valens.

Om, istirahat dengan tenang. Aku di sini akan selalu berusaha untuk menjadi wartawan yang seperti Om inginkan. Dan.. kan selalu ku ingat pesan Om, "you juga punya Sindrome Napoleon,* hati-hati itu," ucapnya, lirih.

***

* Sindrome Napoleon hanyalah sebutan dan kiasan sifat seseorang terhadap sifat sombong. Sindrome ini menyerang dengan meracuni pikiran "bahwa aku lebih mampu dari yang lain". Anehnya, penyakit ini ser-ing meracuni orang-orang yang bertubuh kecil, seperti Napoleon Bonaperte, seorang prajurit biasa yang berhasil menjadi Raja Prancis dan terobsesi menaklukkan seluruh daratan Eropa.
Jul 23, '05 5:37 AM

Sumber http://hadisuprapto.multiply.com/journal/item/2/_Om_Valens_dan_Sindrome_Napoleon

Dicari, Wartawan yang Dapat Dipercaya

(Catatan yang tercecer dari Dili)

Oleh JB Kleden *

TERUS terang saja karena berbagai kesibukan, artikel yang sebenarnya diperuntukkan sebagai catatan pada peringatan Hari Pers, 9 Pebruari lalu baru diturunkan pada kesempatan ini. Artikel ini mengambil posisi dari sudut pandang pembaca yang menginginkan media massa kita tumbuh menjadi media massa berkualitas dan dicari-cari pembaca, bukan media massa mencari pembaca.

Kepada beberapa orang rekan dosen Sekolah Tinggi Pastoral Keuskupan Agung Kupang dan beberapa orangtua/wali murid TK/SD Assumpta yang setiap pagi suka membaca koran di halaman Gereja St. Maria Assumpta, saya pernah bertanya pikiran apakah yang paling menggugat saudara ketika membaca koran. "Saya ingin agar berita yang ditulis di koran ini dapat dipercaya kebenarannya," jawab pak Dolar salah seorang wali murid, tanpa memalingkan matanya dari headline Pos Kupang pagi itu, "Sembilan Parpol dukung Adoe-Hurek" (PK 13/3). Sebagai orang yang masih suka menulis sebagai free-lance, saya menjadi terpana. Berita yang dapat dipercaya?

NOT just for sentimental reason. Tidak semata hanya untuk sebuah kenangan cengeng jika dalam nuansa peringatan Hari Pers 2007 ini saya mengutip sebuah memori yang kendati surut ke belakang dengan rentang masa 10 tahun, namun masih segar dalam hard disk pikiran saya. Memori itu merekam kejadian suatu hari di bulan Februari 1995 di Dili Timor Timur, ketika saya melaksanakan tugas sebagai wartawan Harian Suara Timor Timur (STT) di bumi Loro Sae itu. Ketika itu bersama Yos Lema (Redpel STT) dan Om Marcel Weter Gobang (Persda Kompas yang ditugaskan untuk membackup STT), kami dipanggil menghadap Danrem 164/WD Dili, Kol (Inf) Kiki Syahnakri di ruang kerjanya terkait artikel saya "The Death in Liquica" yang muncul di Fokus Harian Umum Suara Timor Timur, Sabtu (18/2/1995). Artikel itu berkisah tentang insiden penembakan enam warga sipil di Gariana, Liquica 12 Januari 1995 yang oleh militer Indonesia diidentifikasi sebagai GPK Fretilin. Di samping Danrem Kiki Syahnakri, ada Wagub Timtim Brigjen J Haribowo, Wadanrem Kol Inf Glenny Khairupan, juga Dan Satgaspenrem Mayor Drs. Laeden L Simbolon serta sejumlah pejabat Korem 164/WD lainnya.

Pagi hari itu, ketika hendak berangkat menuju Markas Korem 161/WD di Caicoli, pesawat 22824 si ruang redaksi berdering. "Hai, om," suara Aderito Hugo, Koordinator Peliputan STT, terdengar seperti berteriak. Kemudian ia menyerahkan gagang telepon kepada saya. "Dari Jakarta, om Valdo!". Om Valdo adalah sapaankhas kami untuk Valens Goa Doy (alm) yang ketika itu mengemudikan STT selaku Pemred dari markasnya di Jakarta.

"Jack, sudah siap menghadap Danrem? Pergi saja, tak perlu cemas. Setelah om mempelejari artikelmu, tidak ada yang keluar dari asas jurnalisme, juga tidak melenceng dari fakta lapangan hasil investigsi Tim Komnas HAM yang turun ke Liquica yang dipimpin langsung ketuanya, Ali Said. Masa depan STT tidak ditentukan oleh militer di Timtim, kendati kita tidak bisa menafikan semua itu. Masa depan STT ada di tangan Anda sendiri dan seluruh wartawan di situ. Bukan di tangan om atau Om Marcel. Dan itu bisa akan terwujud jika Anda sebagai wartawan dapat dipercayai. Jika Anda dapat dipercayai, maka STT akan dihormati. Go a head, om mendoakanmu, salam untuk Yos dan Om Marcel," setelah itu Om Valdo langsung menutup telponnya tanpa memberikan jedah sedikitpun kepada saya untuk mengomentarinya

Peristiwa itu sudah lama berselang. Mungkin ada yang bertanya, untuk apa menghadirkan sebuah peristiwa masa lalu sementara hidup menderas maju. Saya sadar, menyajikan cerita tersebut kembali setelah kurun waktu lebih dari satu dasawarsa, akan ternyata, bukan saja sudah tidak ada kaitan urgensi dan proporsinya, tetapi bahkan sangat boleh jadi sudah kehilangan idenya, sejak yang bernama ide selalu mengalami perubahan nuansa dan problema sesuai kebutuhan zaman. Lagi pula sebuah cerita masa lalu, seperti kata para ahli sejarah, tidak seluruhnya dapat dipercaya karena ia selalu merupakan cerita kepahlawanan.

Tetapi berkenaan dengan peringatan hari pers dan keinginan pembaca untuk mendapatkan berita yang dapat dipercaya, nasehat sang maestro Persda Kompas, tersebut terdengar getir. Maka dalam kerendahan hati catatan kecil yang tercecer dari Dili tersebut dihadirkan kembali dalam artikel ini dengan asumsi bahwa betapapun subyektifnya ia dapat selalu digunakan sebagai titik tolak dan sumber inspirasi hari ini bagi rekan-rekan kawula kuli tinta (yang sesuai dengan perkembangan teknologi nomen klaturnya menjadi kawula kuli flash-disket) yang dengan jujur dan sungguh-sungguh senantiasa ingin menghadirkan berita yang sungguh dapat dipercaya.

****

SECARA umum, fungsi media massa adalah mengenali dan menyajikan informasi tentang kenyataan; memilih dan menafsirkan kenyataan; menyajikan dan meneruskan nilai-nilai sosial budaya kepada generasi penerus serta memberikan hiburan. Terkait dengan itu fungsi pengasuh media (baca: wartawan) adalah mengumpulkan informasi tentang kenyataan sebagai bahan berita, mengolah dan menyunting bahan tersebut dan selanjutnya menyajikannya sebagai news kepada publik. Ada juga tajuk rencana dan catatan by line sebagai wujud dari tugas wartawan menafsirkan kenyataan.

Berita dan analisis tersebut dihadirkan dengan minimal memenuhi kriteria aktualitas, manfaat, urgensi dan kelayakannya untuk dimuat (fit to print). Kriteria fit to print dikembangkan terutama di negara yang menganut paham tanggung jawab sosial (social responsibility system). Pers yang menganut sistem ini disebut juga pers yang bebas dan bertanggung jawab. Pers Indonesia menganut paham ini (kendati ada media kepentingan yang dengan sengaja mengabaikannya). Secara substansial, berita yang dipublikasikan media adalah fakta mengenai kejadian (event), kecenderungan (trend), atau berita tentang hal-hal yang akan terjadi (estimasi) dan konteks yang terus berproses (proceeding contex).

Masalah yang dihadapi pengelola media adalah keterbatasan waktu dan ruang, mengakibatkan kenyataan yang tersebar di tengah masyarakat tidak dapat disiarkan secara menyeluruh. Ada yang dengan sengaja tidak dipublikasikan karena tidak memenuhi kriteria media yang bersangkutan. Dengan demikian gambaran kenyataan yang dipublikasikan media massa tentu saja sudah merupakan kenyataan dan kebenaran menurut versi media. Jadi sebenarnya berita-berita media (fakta media/realitas media) sesungguhnya tidak pernah secara hakiki dapat mewakili kenyataan asli (pure reality) secara penuh. Mengapa demikian?

Ada banyak alasan, tetapi yang terpokok adalah urusan praktis. Industri media tidak mau rugi. Artikel Henry B Priyono, seorang peneliti tentang voyeurisme media dari STFK Driyarkara (Kompas, 1 Oktober 2003), memberikan jawabannya. Dalam bisnis media, pembaca atau pemirsa tv bukan tujuan. Tetapi pembaca menjadi tambang emas bagi media massa. Target utamanya bukan lagi to inform, to educate, dan to entertain, tetapi bagaimana menciptakan tambang laba dari pembaca/pemirsa. Jalan pintasnya adalah memainkan kawasan basic instink manusia yang bersifat libidinal. Dan sebagaimana kita pelajari dari psikologi, tidak ada batas pada libido manusia. Inilah kawasan yang terus menerus dieksplorasi dan juga dieksploitasi para pengelola media. Apa yang menjadi tujuan utama berita bukan lagi mengungkap fakta di balik realitas seperti yang dikumandangkan, tetapi bagaimana fakta itu relevan dalam memenuhi hasrat libidinal manusia. Jadi jangan heran kalau berita perselingkuhan, gaya hidup, kriminalitas, kekerasan meraup lebih dari 50 persen halaman koran atau jam tayang televisi kita.

Kendati demikian, dalam pandangan masyarakat media massa masih tetap mempunyai pengaruh yang begitu besar dan kuat bahkan dianggap sebagai salah satu pilar penting dalam penciptaaan demokrasi. Pandangan masyarakat yang sedemikian tingginya mengenai media mengakibatkan ketergantungan yang melahirkan anggapan bahwa berita media sebagai kebenaran, apalagi kalau berita itu seragam dan monolitik (kalau pembaca cukup jeli, sesungguhnya berita seperti ini dikutip dari kantor berita atau wartawan freelance yang sama). Berita yangseragam tidak saja berperan membentuk pendapat khalayak (publik opinion) tetapi cukup berpotensi membentuk pendapat umum (general opinion).

Terbentuknya pendapat umum bukanlah sesuatu yang buruk jika ia bertumpu pada berita yang sesuai dengan kenyataan yang sesungguhnya (pure reality). Tetapi akan menjadi persoalan serius jika landasan terbentuknya pendapat umum adalah "realitas media" yang tidak sesuai dengan pure reality. Inilah dilema yang dihadapi media massa dan wartawan idealis yang ingin jujur dengan fakta yang ingin ditampilkan. Mereka sadar bahwa telah meracuni pikiran masyarakat secara salah, namun mereka juga tidak bisa mengelak dari tanggung jawab untuk membuat medianya menjadi media yang laris manis.

****

JIKA kita membaca tulisan by line Pos Kupang mengenai `Wajah pers kita' yang merupakan hasil refleksi para wartawan mengenai jati diri mereka berkenaan dengan peringatan Hari Pers 2007, kita akan segera menemukan benang merah hubungannya. Ternyata harapan pembaca yang saya buat secara random, agar media massa di Kupang menjadi media massa yang dapat dipercaya bukan mengada-ada.

Betapa tidak, sekadar contoh saja, jika masyarakat menginginkan demokrasi ala pilkada langsung yang mengandaikan khalayak well informed, kita akan gigit jari karena halaman media massa kita semakin banyak dibeli para calon guna menyuarakan segala urusan berkenaan `payudara asmatis' alias tetek bengek mereka mulai dari poling SMS, sampai head-line news perdamaian mereka dengan para mantan isteri mereka sekadar menunjukkan kepada publik bahwa perceraian bukan kasus amoral dan tak perlu diributkan publik.

Kalau kita bertanya kepada pengelola media, mengapa kebenaran media bisa melorot menjadi obsesi ngintip dan nggosip pada lingkup personal seperti itu, jawabannya adalah mainstream : untuk itulah kami telah dibayar. Dan di situlah koran kami laku keras. Dengan demikian kita nantinya jangan heran bila pilkada justeru akan mengantar para badut, koruptor, preman, dan tukang jagal, terpilih sebagai pejabat di Propinsi Nusa Teramat Tandus ini. Tragis memang. Juga menyedihkan karena media massa ikut punya andil mengantar mereka ke singgasana korupsi! Jadi tampaknya pendapat masyarakat bahwa media massa sebagai pilar utama demokrasi tampaknya menjadi asumsi yang terlalu mulia.

****

MAKA sebagai catatan penutup kembali saya mengajak rekan-rekan wartawan untuk menyimak nasehat Om Valdo kepada saya di atas. Perhatikan, betapa pesan singkat dan padat Om Valdo itu bermakna klausal: Jika wartawan... dan karena itu pers...". Artinya kualitas pers ditentukan oleh kualitas wartawan. Pers yang dapatdipercayai tidak akan ditentukan oleh pakar atau pasar, tetapi oleh gabungan tindakan-tindakan yang tak terbilang banyaknya yang diambil wartawan di sini dan sekarang. Jika wartawannya dapat dipercaya, maka beritanya juga dapat dipercaya, dan pers akan kembali dihormati dan dicari pelanggannya.

Perhatikan penekannya pada fakta "jika wartawannya dapat dipercaya" bukan jika wartawannya disegani atau dihormati. Kalau disegani atau dihormati di dalamnya masih ada ruang untuk dibuat-buat. Tetapi kalau dipercaya di dalamnya tidak ada ruang untuk dibuat-buat. Wartawan yang dapat dipercaya merupakan aset media yang tak lekang oleh gegap gempita perubahan karena ia merupakan resultat dari karakter, integritas dan kemampuan profesional. Dan disitulah terletak masa depan pers yang sebenanya. Karena itu, memang dicari wartawan yang dapat dipercaya.
* Penulis PNS Kanwil Departemen Agama NTT

Piala Sudirman dan Valens Doy

Oleh Ignatius Sunito
Turnamen bulutangkis Piala Sudirman untuk ke-9 kalinya dimulai hari ini (10/5/05) di Beijing RRC berlangsung sampai dengan tanggal 15 Mei 2005. Indonesia baru pertama kalinya juara pada turnamen pertama kalinya di Jakarta tahun 1989, dan sesudah itu tak pernah membawa kembali piala yang dipersembahkan untuk mengenang tokoh bulutangkis kita itu.

Demikian juga di turnamen ini sekarang, tim Indonesia yang dimotori oleh pemegang medali emas Olimpiade Athena, Taufik Hidayat, juga di atas kertas tak mempunyai peluang. Maka, tidak heran Indonesia merupakan tim yang tidak diunggulkan. Regu Indonesia menjadi "kartu mati" ketika harus berbicara di sektor putri, karena setiap kali maju ke arena sudah pasti kehilangan dua point terlebih dahulu. Yaitu di tunggal serta ganda putri, dari tiga partai lainnya, tunggal dan ganda putra serta ganda campuran.

Tidak saja menjelang Piala Sudirman 2005, namun jauh sebelum itu setiap kali ada peristiwa besar maupun rutinitas bulutangkis, berita-beritanya selalu menghiasi koran-koran di Tanah Air. Namun, saya sudah seperti kehilangan gairah untuk mengikutinya. Lho,kok bisa? Ini karena sang "super" spesialis bulutangkis, Valens Goa Doy, rekan wartawan OR sudah lama meninggalkan gelanggang.

Ditambah, Valens secara mendadak dipanggil ke Rumah Bapa pekan lalu (3/5) akibat penyakit jantung dan meninggal di RS Sanglah, Bali, dalam usia 61 tahun. Mungkin, seandainya ia masih ada dan mau menuliskan persiapan tim Indonesia ke Piala Sudirman 2005, sekalipun tanpa pengharapan, saya yakin, buah penanya akan meliuk-liuk. Hasilnya ? Pasti sebuah tulisan yang sangat enak, enak dibaca.

Meskipun masih menang sedikit dalam senioritas, tetapi kalau sudah soal bulutangkis, wah, dia jagonya. Itu sudah terjadi dalam awal permulaan karir sebagai wartawan olahraga yang dimasukinya tahun 1973. Begitu ia mulai menjamah bulutangkis, bak seorang penulis ensiklopedi dari A s/d Z bulutangkis ia obrak-abrik. Sehingga kami, rekan-rekannya satu kantor di Redaksi OR SK KOMPAS, meskipun sudah terlebih dahulu menggeluti cabang bulutangkis harus mencari "ladang lain".

Beruntung kita menjadi satu tim yang kompak di bawah satu komando Th.A. Budisusilo, yang mengarahkan kami kepada "subyektivitas" masing-masing. Sejak itu dunia olahraga Indonesia seperti menemukan ikon baru, terlebih-lebih dunia bulutangkis Indonesia yang sejak tahun 1958 dengan direbutnya Piala Thomas, merupakan olahraga kebanggaan nasional dari ukuran prestasi.

Valens sudah melibatkan diri secara total dalam dunianya, tidak saja di dunia bulutangkis tetapi OR secara keseluruhan karena tanggung jawab tugasnya ketika menjadi redaktur OR KOMPAS. Ketika tahun 1983, kami berpisah meskipun masih dalam satu grup perusahaan, saya bersama Sumohadi Marsis membawa tabloid BOLA. Beberapa pengamat dan pecinta rubrik OR KOMPAS sangat menyayangkan.

Antara lain DR. Daniel Dakidae, yang waktu itu tengah menyelesaikan disertasinya di Cornel University, AS, yang juga membahas tentang dunia pers Indonesia. Ia menyatakan, dengan perpisahan para pilar OR KOMPAS, untuk membangunnya kembali perlu waktu lama. Malahan ia waktu itu berani menyatakan sampai akhir abad ke-20, rubrik OR KOMPAS akan kehilangan "roh" nya.

Pandangan Daniel ini seperti menambah semangat kami untuk memajukan tabloid OR BOLA, dan sekaligus menjadi modal untuk memprovokasi Valens agar ia membuat ramai dunia OR Indonesia melalui rubrik asuhannya. Dengan harapan, BOLA akan melengkapi atau paling tidak berita lebih lanjut dari apa yang sudah ditulis oleh KOMPAS.

Memang, harapan tinggal harapan karena Valens juga harus meninggalkan rubrik asuhannya, dengan menerima tugas baru mengembangkan pers daerah milik grup KKG, Kelompok KOMPAS Gramedia. Karena harus bersinggungan dengan manajemen bisnisnya, sudah bisa diduga bahwa pekerjaan ini sangat membosankan bagi seorang wartawan. Tugas ini benar-benar "merusak" masa depannya. Ia menjadi frustrasi jika sudah berhadapan dengan jalur birokrasi perusahaan.

Dalam karirnya sebagai wartawan, Valens mulai dari dunia pendidikan anak-anak, OR yang membesarkan namanya, kemudian diserahi sebagai Redaktur Pelaksana, dan kepala proyek pengembangan pers daerah. Sepertinya demikian banyak universitas atau fakultas yang dijelajahinya dan ia selesaikan dengan lulus secara cum laude. Demikian juga dengan banyak bidang pengalaman sudah dilalui, tetapi ia tetap saja terus meragu di mana letak lobang kuncinya.

Sementara kuncinya ia bawa kian kemari. Kunci itu adalah ide-ide, kemauan, harapan dan cita-citanya. Semakin mencari di mana letak lobang kuncinya, semakin lobang itu lari menjauh. Seperti ketika perjumpaan kami terakhir satu tahun lalu, sempat saya tanya, apa sebenarnya yang kamu cari? Seperti biasa ia tersenyum lebar, senyum yang hangat.

Karena perjumpaan itu di RSCM, Jakarta, ia malahan mengalihkan pertanyaan kepada saya, ngapain Anda malam-malam begini di RSCM ? Ketika saya tunjuk anak perempuan saya yang memakai seragam dokter, kontan wajahnya berseri-seri, isteri saya langsung diberi ucapan selamat hangat. "Anda begitu bahagia, cita-cita Anda yang kandas bisa diteruskan anak," katanya juga sambil menepuk nepuk bahu saya. Memang, karena kawin dengan wartawan, isteri saya gagal menjadi dokter. Maklum, wartawan kan tidak berduit.

Ternyata perjumpaan terakhir dengan Valens juga di sebuah rumah sakit. Kali ini di kamar jenazah RS Sanglah, Bali. Wajahnya masih menanggung suatu pencarian, yang kita sahabatnya sampai sekarang tidak tahu, apa sebenarnya yang dicari.
Kembali seorang ikon olahraga telah pergi. Selamat jalan sahabat!

Sumber http://www.bolanews.com/sunito/10367.php


Selasa, 10 Mei 2005 pukul 13:56:36 WIB

Tantangan dari Valens Doy

Oleh Achmad Subechi

PUASA sebentar lagi akan berakhir. Di bulan suci seperti ini saya teringat sebuah tantangan besar yang diberikan guru jurnalistik saya. Namanya Valens Doy. Dia mantan wartawan senior Harian Kompas. Kejadiannya sekitar akhir tahun 2002.

WAKTU itu mendekati Pemilu 2004, mantan KSAD sekaligus Menpen Jenderal R Hartono mendirikan sebuah partai bersama tokoh Golkar Ary Mardjono. Namanya Partai Karya Peduli Bangsa, berdiri 9 September 2002.

Om Valens -biasa saya memanggil dia-yang ketika itu ditunjuk menjadi konsultan Harian Surya meminta saya agar mengerahkan semua kekuatan (wartawan) di Biro Jakarta agar melakukan wawancara khusus dengan R Hartono. "Saya sediakan dua halaman dan wawancara dibuat tanya jawab. Besok sudah harus ada," pesan Om Valens.

Hari itu juga saya panggil Erik, wartawan Persda. Dia saya perintahkan segera menghubungi R Hartono. Lagi-lagi ia kesulitan mencari kontak personnya. Selanjutnya ia saya suruh mencari alamat rumah R Hartono melalui jaringan wartawan lain. Akhirnya alamat rumah di kawasan Kebayoran Baru ditemukan juga.

Malam itu juga Erik bergegas mendatangi rumah R Hartono. Sesampainya di sana ia bertemu dengan sejumlah petugas TNI yang selama ini menjadi ajudan R Hartono. "Bapak masih ke Bandung. Trus saya harus kemana lagi?" tanya Erik kepada saya melalui telepon. "Tongkrongi sampai pagi. Tunggu beliau pulang dari Bandung," kata saya.

Sekitar pukul 08.00 pagi, Erik telepon kembali. Ia mengabarkan bahwa R Hartono belum pulang. "Apakah saya harus cabut?" "Okey silakan. " Selanjutnya saya kirim satu reporter lagi sebagai pengganti Erik. Hasilnya sama saja. Sementara Om Valens sudah krang. kring. ke Biro Surya di Jakarta.

Kepada Om Valens saya katakan bahwa kita sudah tempatkan dua reporter sejak semalam di rumah R Hartono. Tapi beliau masih ke Bandung dan sampai saat ini belum ketemu. "Mas Bec.Boleh tanya enggak? Jarak dari Jakarta ke Bandung jauh tidak? Berapa jam? Lalu naik apa kesana? Masak enggak bisa kirim orang." Saya katakan, perintah siapppp... dilaksanakan komandan!

Persoalannya dimana posisi R Hartono di Bandung? Itu yang menjadi PR kedua. Semua ajudannya bungkam. Alamatnya juga tak terendus. Saya lagi-lagi telepon ke Om Valens melaporkan perkembangannya. Om Valens tetap tidak mau mendengarkan alasan saya. "Kalian wartawan. pakai akal dong. Masak mencari satu orang saja enggak bisa? Om dulu ketika muda juga begitu. Pokoknya, jika dua hari lagi Om buka koran lalu enggak ada foto dan hasil wawancara dengan R Hartono di Harian Surya, you... saya copot jadi Kepala Biro Surya. Enggak usah jadi bos di Jakarta. Pulang saja ke Surabaya," ancamnya.

Tantangan itu sudah di depan mata. Persoalannya bukan karena takut dicopot atau tidak. Ini adalah tanggungjawab saya sebagai pimpinan sekaligus wartawan. Seberat apapun tugas, saya tidak boleh setengah-setengah. Semuanya harus tercapai, kalau kita ingin profesional di bidang jurnalistik.

Sejak itu, saya harus memutar otak lagi. Ehm.... Bagaimana ya caranya bisa melakukan wawancara khusus dengan R Hartono? Pikirku, dalam hati. Sejumlah wartawan yang biasa ngepos di Istana Presiden, saya kontak satu persatu. Siapa tahu mereka masih menyimpan kontak personnya. Alhamdulillah, salah seorang wartawan yang biasa dekat dengan Mbak Tutut memberikan kontak personnya. Dia wanti-wanti kepada saya agar tidak menyebutkan namanya kalau R Hartono tanya dari siapa saya mendapatkan nomor handphonenya.

Saya coba mengontak dia. Lagi-lagi HP tidak diangkat. Saya merenung sejenak. mencari ide atau siasat bagaimana caranya sang jenderal mau mengangkat telepon saya. Sambil merokok di ruangan kerja seorang diri. muncul ide baru. "R Hartono harus dikirimi SMS."
Persoalannya kalau isi SMS-nya hanya meminta wawancara, belum tentu ia bersedia meladeninya. Maklum, selain berbintang empat dia juga Ketua Umum PKPB. Untuk itu butuh siasat atau trik yang benar-benar kena. Saya terus mencari akal. bagaimana caranya misi yang akan kami jalankan bisa tembus.

Ehmmm. Tuhan rupanya memberikan ide brilian lengkap dengan kata-kata yang harus saya kirim. Kira-kira begini isi SMS-nya. "Assalamualaikum Wr Wb. Saya selalu berdoa agar Pak Hartono dan keluarga dilindungi Tuhan, diberi kesehatan, diberi umur panjang. Saya bersyukur di era reformasi ini bapak selamat dari fitnah. Banyak tokoh Orde Baru yang kena fitnah." Di bawah SMS itu saya tulis identitas saya. Tanpa rasa takut, saya tendang SMS itu ke HP sang jenderal.

Setengah jam kemudian HP saya berdering. Rupanya sang jenderal merespon balik. Ia tanya identitas saya. "Anda dapat nonor saya dari mana?" tanyanya. Saya katakan bahwa saya adalah orang yang pernah mengenal Anda ketika Anda menduduki jabatan sebagai Pangdam V Brawijaya, Jawa Timur. Memang dulu ketika ia jadi Pangdam saya sering bertemu dia dalam berbagai kesempatan untuk wawancara. Saya akui, saya kenal nama dan wajah dia, tapi dia belum tentu kenal saya. He..he..he..

"Anda dapat nomer telepon saya darimana?" tanyanya berulangkali. "Lho. saya kan cukup lama bertugas menjadi wartawan di Istana Presiden. Dulu ketika bapak jadi Menpen, saya sering melakukan wawancara dengan bapak. Mungkin bapak lupa dengan wajah saya," kata saya berbohong.

"Apa maksud kamu kirim SMS?" "Begini Pak. Bapak mestinya bersyukur lho dijauhkan dari fitnah. Selain itu saya mau melakukan wawancara khusus soal partai yang bapak dirikan. Apa ada waktu?" "Okey kalau begitu selesai shalat Jumat kamu datang ke rumah. Tahu alamatnya kan? Saya tunggu ya.... Kantor kamu dimana? Oh. dekat dengan rumah saya."

Esoknya, saya ajak Dahlan, wartawan Harian Surya di Biro Jakarta. Karena yang didatangi orang besar, kami terpaksa jaga gengsi. Kami berdua rencananya pinjam mobil inventaris kantor. Usai shalat Jumat di Masjid di dekat Harian Kompas, saya kembali menuju ke kantor. Di tengah perjalanan, R Hartono tiba-tiba telepon. "Posisi kamu dimana? Janjian sama jenderal seenaknya. Kemarin kamu kan bilang selesai Jumatan. Kok sekarang belum datang juga?" teriaknya.

"Siap jenderal. saya masih di kantor dan akan meluncur." "Berapa lama?" "Siap jenderal kira-kira setengah jam." Selanutnya saya dan Dahlan meluncur ke rumah R Hartono di kawasan Kebayoran Baru, Jakarta. Sesampainya di jalan yang dituju, saya berhenti tepat di depan sebuah rumah nomor 6. "Lan... silakan turun dan tanya apakah benar itu rumah R Hartono?" Ketika Dahlan --kini menjadi Wapemred Harian Tribun Timur-- turun dari mobil, hati saya sedikit bertanya, "Masak seorang jenderal kok rumahnya biasa-biasa saja? Ah kagak mungkin. Pasti keliru dah."

Setelah bertemu dengan penghuni rumah Dahlan melapor ke saya bahwa rumah R Hartono ada di seberang jalan. "Okey Kak Lan. sampean jalan kaki saja, saya muter dulu kesana." Saya lihat dari kaca spion, Dahlan berjalan melewati jalur hijau dan nyeberang menuju ke rumah Hartono.
 

Di samping pintu pagar rumahnya ada pos penjagaan. Sejumlah anggota TNI terlihat berjaga-jaga.. Ketika saya turun dari mobil, saya lihat Dahlan sedang adu mulut dengan beberapa anggota TNI. Tentara itu sempat membentak-bentak Dahlan. Saya dengarkan inti persoalannya, lalu saya potong. "Maaf. kami sedang puasa. Kami datang kesini atas perintah Jenderal R Hartono." Para ajudan R Hartono mau memahami ucapan saya, tapi ada jua tentara wanita masih ngomel, mengerutu. Ada kemungkinan, Dahlan slonong boy. alias kurang basa-basi sedikit ketika berhadapan dengan anggota militer.

Baru semenit di depan R Hartono, telepon di penjagaan berbunyi. Rupanya sang tuan rumah memerintahkan kami untuk masuk ke dalam rumah. Selanjutnya kami disuruh masuk ke ruang tamu. Ruang tamunya cukup luas dengan berbagai macam lukisan yang terpajang di dinding ruangan. "Assalamualikum Pak. Apa kabar?" sapaku kepada R Hartono ketika ia masuk ke ruangan tamu lengkap mengenakan peci warna putih dan baju koko (muslim).

"Sebelum Anda wawancara, saya mau tanya. Siapa yang memberi nomer saya kepada kalian ?" Saya jawab seperti semula. "Di Istana Presiden dulu, saya dekat dengan Mbak Tutut Pak. Kami sering melakukan wawancara." R Hartono terdiam. Ia lalu meminta saya untuk mengajukan pertanyaan. Dua tape recorder -satu sebagai cadangan seandainya kaset rekaman tidak sempurna-saya letakkan di atas meja. Wawancara berlangsung cukup lama, sekitar 1,5 jam.

Setelah itu kami pulang kembali ke kantor. Hasil wawancara itu saya transkrip dengan Dahlan. Side A saya yang mengerjakan, side B Dahlan yang mentranskrip. Selesai menuliskan hasil wawancara, naskah saya tending via FTP ke Harian Surya. Besok, wawancara kami dimuat di halaman dalam satu halaman bersambung. Esoknya lagi, ada satu tulisan lagi di halaman yang sama. Erik, wartawan kami yang membaca tulisan itu terheran. heran. 


"Kok bisa ya?" Jawab saya pendek. « wartawan kerja bukan dengan dengkul, tapi dengan otak..." Kata-kata itu saya kutip dari H Agil Ali, Pemimpin Umum Harian Memorandum. Saya dulu penah bekerja disana bersama Basuki Subianto, mantan Redpel Harian Surya dan Pemred Banjarmasin Post.

Sekarang Basuki menjadi pengusaha dan sudah menerbitkan sejumlah buku diantaranya berjudul : Mengubah Tidak Mungkin Menjadi Mungkin : Pengalaman Berbisnis dengan Sandaran Al-Quran. Bagaimana dengan Om Valens? Dia merasa puas dengan hasil kerja kita, hasil kerja murid-muridnya yang berguru sejak tahun 1989 di Surabaya.... Kini om Valens telah tiada. Ia pergi meninggalkan ilmu dan nama besar di mata murid-muridnya. Terima kasih Om...

(Achmad Subechi, salah seorang murid Valens Doy. Kini Pemimpin Redaksi Tribun Kaltim, ,salah satu koran daerah Kompas Gramedia Group)
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Best WordPress Themes