Pulang ke Rumah yang Dulu


Oleh Dion DB Putra

TIBA-tiba saya merindukan waktu itu.  Saat di mana tidak banyak bunyi notifikasi SMS, BBM dan WA yang sangat mengganggu dan menghabiskan banyak waktuku. Saya kembali ke buku. Dulu saya bisa lebih dari satu jam membaca buku dan berjam-jam menulis. Hanya sesekali merespons deringan pesawat telepon.  Saya tidak ketagihan menatap layar hape.

Zaman berubah lekas amat. Teknologi komunikasi dan informasi terus perbarui diri. Canggih! Alat bikinan manusia kian pintar dan piawai membantu. Namun. serentak dengan itu dia menciptakan situasi paradoks.

Manusia teralienasi. Waktunya terlalu banyak tersedot untuk berselancar di jagat maya. Berjam-jam berhari-hari.  Doyan pelesiran virtual lalu komat-kamit sendiri,  senyum sendiri. Duduk semeja tapi tak saling sapa. Sama  menanti bus di halte namun enggan bicara satu sama lain. Obrolan manusia menguap entah ke mana. Masing-masing orang asyik sendiri. 

Handphone menjadi candu baru yang super dahsyat dampaknya bagi kehidupan sosial. Relasi antar sesama kering kerontang. Saya pun ikut menjadi korbannya. Mulai lupa refleksi. Lupa menulis dengan otak dan hati yang jernih.  Maka tak ada jalan lain, saya harus pulang ke rumah yang dulu. Kembali ke buku.

Baca buku dan menulis. Menulis dan baca lagi. Beratnya bukan main tuan dan puan. Baru sekitar 30 menit baca buku sudah tergoda menengok layar hape, tergiur tanda pesan WA masuk atau nofikasi akun Facebook dan Instagram. Kecanduan ini sungguh bikin galau. Kalau tidak direm, mungkin tak lama lagi kemampuan menulisku tak tersisa sama sekali karena larut dalam jebakan smartphone yang memabukkan.

Syukurlah. Tahun 2018 ini tiga kali saya menyumbang tulisan buat buku. Satu menulis kata pengantar, satu epilog dan satu artikel. Menulis untuk buku memerlukan konsentrasi dan energi lebih. Tidak asal-asalan. 

Saya menulis Kata Pengantar untuk buku Wasiat Jalan, Menemukan Makna  Hidup, Karya dan Cinta, buah  karya Yahya Ado (Februari 2018). Buku setebal 119 halaman tersebut diterbitkan Institute of Resource Governance and Sosial Change (IRGSC) Publisher Kupang.  Yahya, tokoh muda NTT yang aktif dalam karya sosial kemanusiaan itu mengundang saya ikut dalam acara peluncuran dan diskusi buku di Aula F-Square Fatululi Kupang, Sabtu 14 April 2018.

“Yahya melalui buku Wasiat Jalan mau mengajak generasi milenial, manusia zaman now  yang super sibuk mengejar materi untuk luangkan waktu sejenak. Jeda sesaat,  menarik diri dari keriuhan duniawi. Di sanalah keutamaan buku mungil nan bernas ini.” Demikian cuplikan kata pengantar saya.

Pada bulan Agustus 2018 saya menulis satu artikel untuk buku Mewujudkan Profesionalisme Wartawan, 10 Tahun Margiono Memimpin PWI. Buku ini memang didedikasikan khusus untuk Margiono yang mengakhiri masa pengabdiannya pada  kongres PWI di Kota Solo 27-30 September 2018.

Kongres tersebut selain mengevaluasi kinerja pengurus sebelumnya juga memilih ketua umum PWI pusat yang baru. Atal S Depari terpilih sebagai pengganti Margiono. Dia unggul tiga suara atas calon ketua umum lainnya yaitu Hendri Ch Bangun.

Margiono menorehkan kenangan manis bagi Nusa Tenggara Timur. Pada masa kepemimpinannya, PWI Pusat mempercayakan Kota Kupang sebagai tuan rumah peringatan Hari Pers Nasional (HPN) tahun 2011.
Padahal saat itu Kupang serba terbatas terutama akomodasi perhotelan. Justru dalam kekurangan itu, NTT bisa memberikan pelayanan berkesan bagi lebih dari 1.000 tamu yang datang dari seluruh penjuru Nusantara. Pasca HPN 2011, ekonomi Kota Kupang bergeliat dan percaya diri menjadi tuan rumah event-event berskala nasional berikutnya.

Dalam buku Mewujudkan Profesionalisme Wartawan, 10 Tahun Margiono Memimpin PWI, saya yang menjadi ketua  PWI Provinsi NTT pada periode sama dengan Margiono (2008-2018)  menulis dampak positif yang dipetik daerah ini setelah sukses menjadi tuan rumah HPN tahun 2011.

Buku setebal 413 halaman yang berisi kumpulan tulisan wartawan dari seluruh Indonesia tersebut diterbitkan PWI Pusat. Isinya sungguh kaya  tentang kiprah organisasi PWI karya para jurnalis Indonesia dari Sabang sampai Merauke, Miangas hingga Rote.

Tulisan ketiga yang saya rajut adalah  epilog untuk buku Ringkasan Kegelisahaan Sosial di Aula Sejarah karya Marsel Robot (Oktober 2018).  Buku 260 halaman berisi kumpulan artikel pilihan Marsel Robot dalam dua dekade terakhir. Penerbit Perkumpulan Komunitas Sastra Flobamora.

Saya berterima kasih kepada Yahya Ado, tim buku PWI Pusat dan Dr. Marsel Robot, dosen senior dari Program Studi Bahasa dan Sastra Indonesia Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Universitas Nusa Cendana (Undana) Kupang yang memberi kesempatan saya menulis.

Setidaknya saya masih berurusan dengan buku. Tidak semata rutin mengedit berita untuk pembaca Harian Pagi Pos Kupang. Rutinitas itu kerap menjadi momok bagi wartawan. Asyik bekerja sehari-hari mereka lupa menulis sesuatu yang lebih berisi. Menulis yang bermakna tak sebatas warta informatif memenuhi unsur 5W + 1H. Menulis untuk buku memerlukan energi lebih dalam mencermati, menganalisis, refleksi dan merangkai kata demi kata.

Benarlah pesan orang bijak bahwa cara terbaik merawat istana ingatan adalah dengan membaca dan menulis.  Luangkan waktu saban hari antara 30 menit sampai 1 jam untuk membaca. Baca informasi apa saja terutama buku-buku yang dapat menambah wawasan dan pengetahuan. 

Satu lagi yang tidak boleh terlewatkan. Jika tuan dan puan punya kebiasaan menulis mestilah disertai ketekunan mendokumentasikannya. Banyak orang hebat menulis tapi cuma sedikit yang telaten menyimpan file. Akibatnya ketika berniat membukukan tulisan itu, misalnya, dia  tidak tahu harus mendapatkan di mana. Pusing sendiri. Rugi besar karena pengalaman saya menunjukkan gagasan bernas jarang  terulang.

Ikhwal konsistensi menulis saya  mengagumi teladan para wartawan kawakan negeri ini. Tiga nama besar patut disebut secara khusus  yaitu Jakob Oetama, Rosihan Anwar dan Dahlan Iskan.

Rosihan Anwar menulis sampai usia sepuh bahkan hingga saat-saat terakhir kembali ke pangkuanNya dia masih merangkai kata, menyumbangkan pikiran demi kemajuan bangsa dan negara yang dia cintai. Pendiri Harian Kompas, Jakob Oetama juga sama. Demikian pula Dahkan Iskan. Dahlan sampai saat ini masih menulis minimal sekali dalam  sepekan. Tulisannya mengalir dalam langgam yang enak dibaca.

Para jurnalis senior itu mengajarkan satu hal bahwa menulis adalah sesuatu yang menyenangkan. Maka setiap ide yang muncul perlu segera dimahkotai dengan kata dan kalimat agar ia bermakna bagi peradaban manusia. Secuil ide laksana air sungai yang terus mengalir sampai jauh  melewati jeram, laguna, muara dan laut biru.  Tak pernah kembali.  (Kolhua  4-11-2018) *

Beranda Kita adalah kolom Dion DB Putra yang pernah hadir di edisi cetak Harian Pos Kupang periode 2008-2011. Kini atas permintaan pembaca, sang penulis  menghadirkan lagi dalam format online minimal seminggu sekali. Semoga berkenan.

Dion DB Putra, wartawan Pos Kupang 1992- sekarang.

Merekan Rintik Hujan


Oleh Dion DB Putra

BERAPA jam dalam sehari tuan dan puan menghabiskan waktu untuk menatap layar handphone atau ponsel di tanganmu? Berapa kali dalam tempo 24 jam jempol dan ujung jarimu menyentuh layar, menggesek ke atas bawah, kiri dan kanan? Mungkin dikau luput menghitung. Lupa mereken lantaran asyik masyuk dan larut!

Ya, hari-hari kita begitu sibuk sendiri. Dulu televisi menjadi tabernakel hidup.  Manusia memujanya lebih dari apapun.  Kini ponsel menyisihkan posisi orang-orang terkasih.  Saat berbicara dengan rekan kerja, pimpinan atau bawahan, tangan tak henti-hentinya memainkan gadget.


Tatkala menemani buah hati mengerjakan PR sekolah, setiap 30 detik hingga satu menit sekali mata melirik layar ponsel guna melihat notifikasi yang masuk. Pada momen makan berdua di restoran dengan istri atau kekasih, ponsel diletakkan sedekat mungkin di sisi kita dan barang itu  mampu menyela  obrolan sepenting atau  seromantis  apapun.

Ketika suara pesan dari medsos atau notifikasi WhatsApp masuk, perhatian tertuju pada ponsel. Duh… kita sungguh ketagihan ponsel cerdas hasil karya manusia yang justru membodohi penciptanya sendiri.

Maka wajarlah bila banyak yang galau lalu berkata lantang marah karena hidup dalam genggaman ponsel seperti ada dan tiada. Bertamu main HP.  Berdoa main HP.  Ibadah main HP.  Terima tamu main HP.  Bekerja main HP.  Belajar main HP.  Sambil makan main HP.  Di tengah keluarga pun main HP.  Kiamatlah duniamu tanpa HP.

Hari-hari ini jamak nian pemandangan dua orang duduk berhadapan, entah di rumah makan,  ruang tunggu keberangkatan bandara, stasiun kereta api, terminal bus, tempat praktik dokter,  namun tidak berkomunikasi sama sekali. Mereka masing-masing asyik main HP. Kalaupun bicara sekadar basa-basi, kadang tidak nyambung dan tidak fokus pada topik.

Dulu saat hari raya seperti Lebaran, Natal dan Tahun baru  orang saling berkunjung ke rumah, bercengkerama, bersalam-salaman, cium pipi kiri dan kanan. Makan bersama. Ngobrol apa saja  sepuasnya.

Kini  jabat erat tangan sahabat telah sirna, sudah berganti gambar-gambar mati atau animasi dalam ponsel. Dan, kita menikmatinya seolah-olah nyata. Duduk sendiri, angguk dan geleng sendiri, senyum dan tawa bahkan menangis sendiri. Dunia makin kering dan sepi. Alienasi. Miris.

Pada tahun 2012 para ahli bahasa, sosiolog  dan budayawan dalam pertemuan di Sidney University Australia menyepakati kosa kata baru dalam tata bahasa Inggris. Kata tersebut adalah phubbing yang maknanya sebuah tindakan seseorang yang sibuk sendiri dengan gadget di tangannya. Dia tidak perhatian lagi kepada orang yang berada di dekatnya.  Kaca diri kita masing-masing. Rasanya tidak berlebihan bila tuan dan puan pun sudah terbiasa phubbing bukan?

Jangan sampai handphone yang kita beli justru memisahkan kita dengan orang-orang yang kita kasihi. Bahkan memisahkan dikau dengan sang empunya pemilik kehidupanmu. Tuhan Yang Maha Kasih.  Sangat dianjurkan untuk menata ulang caramu memanfaatkan ponsel. Butuh tekad  kuat serta konsistensi sikap.

Mari melakoni hidup  sebagaimana laiknya manusia hidup yang dikaruniai Tuhan dengan panca indera.  Saat anak bercerita tentang kegiatannya di sekolah atau luar rumah, dengarkanlah dia. Simak kata-katanya dengan penuh perhatian. Sisihkan HP. Saat ibu atau ayahmu bicara, abaikan ponselmu selama beberapa saat sampai mereka selesai bercakap.

Saat matahari merekah, udara sejuk, angin semilir, burung-burung bersiul, cueklah pada bunyi notifikasi hapemu. Ada saat dalam hidupmu engkau ingin sendiri bersama angin lalu menceritakan kepenatan batinmu. Saat kehidupan di luar sana sengit, riuh dan bising, cobalah kembali mendengar nyanyian dan kicau burung, suara sungai dan bersyukurlah betapa indah karya Tuhan bagi makhluk kesayanganNya.

Sesekali pergilah ke pantai. Pantai itu sama seperti tatapan ibu atau pundak ayah. Tempat pelarian terbaik untuk mendapatkan kesegaran dan semangat hidup baru. Atau dakilah bukit dan gunung, susuri lembah dan ngarai. Hirup aroma genit padi bunting. Jangan dikau lari ke medsos, curhat dan mengumpat di sana. Tuan lupa sosial media  itu panggung liar dan binal dengan hukum rimba sebagai panglimanya. Nyinyir, sinis, doyan memendam dendam…

Berhentilah memuja HP secara berlebihan. Dunia maya itu fatamorgana saudaraku. Mari kita selalu meluangkan waktu menyapa senja, mereken rintik hujan, memahat langit dan mencumbui rembulan. Tanpa HP, tanpa gadget di tangan.  Ayolah!  (*)

Beranda Kita adalah kolom Dion DB Putra yang pernah hadir di edisi cetak Harian Pos Kupang periode 2008-2011. Kini atas permintaan pembaca, sang penulis  menghadirkan lagi dalam format online minimal seminggu sekali. Semoga berkenan.

Dion DB Putra, wartawan Pos Kupang 1992- sekarang.

Habis Manis Sepah Dibuang


Oleh Dion DB Putra

PRESTASI Lalu  Muhammad Zohri merupakan interupsi khas  olahraga paling heboh di negeri ini ketika pusat perhatian sedang tertuju ke pesta Piala Dunia 2018 di Rusia. Pelari nomor bergengsi 100 meter asal Nusa Tenggara Barat itu  meraih juara dunia di bawah usia 20 tahun pada Kejuaraan IAAF di Tempere, Finlandia, Rabu  11 Juli 2018.

Zohri mencatat  waktu 10,18 detik untuk mendapatkan medali emas. Anak dari keluarga miskin ini mengalahkan favorit juara, pelari Amerika Serikat Anthony Schwartz yang merupakan pemegang rekor dunia nomor ini dengan catatan waktu 10,9 detik pada 2 Juni 2018 lalu.


Prestasi Zohri memang mengejutkan.  Untuk pertama kali atlet atletik Indonesia meraih  juara dunia. Kalau di cabang olahraga lain sudah ada juara dunia asal Indonesia. Sebut misalnya bulutangkis, tinju, angkat besi, pencaksilat dan  kempo. Tapi atletik baru kali ini dan juara nomor 100 meter. Manusia tercepat dunia.  Itulah sebabnya nama Zohri langsung populer.

Zohri sebenarnya sudah menjadi juara Asia, Dia merebut medali emas pada kejuaraan atletik junior Asia di Stadion Gifu Nagaragawa, Jepang, 8 Juni 2018. Kala itu dia membukukan waktu 10,27 detik. Namun, prestasi Zohri di Jepang sepi dari pemberitaan. Tidak dianggap sama sekali.

Mengenai prestasi Lalu Muhammad Zohri, beta  mengutip kembali ulasan bernas seniorku di organisasi Persatuan Wartawan Indonesia (PWI), Asro Kamal Rokan “Ketika Zohri berhasil, pemerintah gegap gempita menyambutnya. Negara tiba-tiba hadir,” tulis Asro Kamal Rokan sebagaimana dipublikasikan Ceknricek.com.

Tidak banyak yang tahu  Zohri nyaris batal  berangkat ke Finlandia karena kesulitan biaya dan tidak memperoleh visa. Bob Hasan, Ketua Pengurus Besar Persatuan Atletik Seluruh Indonesia (PB PASI) mendengar informasi miris ini. Bob menanggung semua biaya sehingga  Zohri bisa berangkat tanpa dukungan pemerintah. Pusat dan daerah!

Nah, ketika Zohri sukses pemerintah menyambut hangat.  Para pejabat dari level kepala kampung sampai kepala negara sontak hadir memberi perhatian. Perhatian makin dalam setelah media massa mengungkap kehidupan Zohri. Atlet kelahiran 1 Juli 2000 di Dusun Karang Pangsor, Kabupaten Lombok Utara, NTB ini lahir dari keluarga papa.

Rumahnya kecil berlantai tanah. Kamar Zohri berdinding  bambu, ditempeli koran bekas untuk menutup lubang di berbagai tempat. Kemiskinan mendera keluarga nelayan ini sejak kecil. Ayah dan ibunya telah tiada.

Rumah buruk Zohri segera berubah wajah. Persatuan Perusahaan Real Estate Indonesia (REI) memberikan sebuah rumah. Presiden Joko Widodo menginstruksikan pula Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat merenovasi rumah Zohri. Tentu baik adanya sebagai apresiasi untuk Zohri.

Mendadak populer dan banjir hadiah bisa jadi madu dan racun bagi Zohri.  Derajat ekonominya  mungkin membaik. Tapi usianya masih muda. Sanjungan bisa menambah semangat untuk berprestasi tapi bisa pula melenakannya. Seperti pisau bermata dua. Salah atur langkah nama Zohri akan meredup dalam sekejap.

Dan, kalau Zohri tidak lagi meraih prestasi pada hari-hari mendatang maka  nasibnya akan sama dengan atlet lainnya. Dilupakan!  Sudah terlalu banyak contoh di negeri ini betapa atlet hebat hidupnya merana setelah masa kejayaannya berakhir. Ironi selalu menyertai jagat olahraga kita. Nasib mantan atlet seperti habis manis sepah dibuang.

Abangku  Asro Kamal Rokan melukiskan secara tepat untuk kita renungkan. Beta kutip kembali kata-katanya bagi tuan dan puan. “Kehidupan para atlet membawa nama negara.  Nasibnya  tidak seberuntung para politisi. Dipilih dengan dana rakyat dan ketika menjabat mengambil uang rakyat. Negara ini lebih tertarik mengeluarkan dana triliunan rupiah untuk mendapatkan politisi daripada membiayai atlet-atlet hebat, para peneliti dan anak-anak berbakat.”

Maka untuk adinda Zohri yang kami kasihi, tak ada jalan pintas. Tetaplah berlatih agar dirimu berlari lebih cepat. Atletik selalu terukur.  Hadiah dan banjir pujian itu sifatnya hanya sementara. Cetaklah terus rekor keabadian.  *

Beranda Kita adalah kolom Dion DB Putra yang pernah hadir di edisi cetak Harian Pos Kupang periode 2008-2011. Kini atas permintaan pembaca, sang penulis  menghadirkan lagi dalam format online minimal seminggu sekali. Semoga berkenan.

Dion DB Putra, wartawan Pos Kupang 1992- sekarang.

Tulisan yang Merindu


Oleh Dion DB Putra

MENJAHIT fakta sosial dalam nada dan langgam yang indah, dalam cara rupawan. Mencubit  tanpa meninggalkan sakit hati. Keras menghela tanpa melukai, mencandai realitas tanpa hujat mempermalukan.

Itulah sosok Marsel Robot. Guru, pendidik dan terutama dia seorang penulis cerdas dan piawai. Pejuang kata sepanjang hidupnya yang menghibur, membesarkan hati dan menawarkan harapan bagi sesama ciptaan Tuhan.

Maka membaca tulisan Marsel Robot selalu menarik rindu. Rindu untuk baca dan baca lagi. Sang penulis jauh dari menggurui. Dia hanya bercerita dan sidang pembaca menikmati cerita itu lalu meresapi dan  memahami pesannya. Pesan renyah gurih yang merasuk jauh hingga ke sumsum, otak dan hati.

Menggerakkan batin  untuk introspeksi dan terus bertanya. Menggugat. Mempertanyakan lagi. Siapakah diriku. Siapakah sesamaku manusia?  Apa dan bagaimana seharusnya bersikap menghadapi fakta sosial budaya agar adab hidup lebih bermartabat, agar tata dunia baru sungguh adil bagi semua.

Coretan tangan Marsel Robot senantiasa telanjang menghentak kesadaran. Gemas menggaruk ingatan bahwa di kolam kehidupan ini janganlah dikau sekadar memancing atau menatap birunya langit, tetapi bergeraklah lebih  dalam untuk menggapai makna kehidupan yang lebih hakiki. Berilah kontribusi, tidak cuma kata manis di bibir.


Buku ini memang hanya menceritakan tentang secuil  kegelisahan sosial di  aula
sejarah. Itu kata sang penulis. Temanya lahir dari situasi tertentu dan dibesarkan dalam konteks-konteks  tertentu pula. Aromanya berganti bersama musim namun senantiasa merajam nalar dan rasa. Marsel Robot membawa pembaca bukunya ke suatu masa, menyajikan pesan galau, gelisah dan ceria dalam selimut kesadaran reflektif, introspektif, aksi.

Buku ini sungguh sebuah aula sejarah nan kaya, setidaknya dalam dua dekade terakhir. Marsel merekam, mencatat dan meramunya dengan apik. Mulai dari masalah  politik, sosial budaya, sastra, pendidikan hingga soal ekonomi dan infrastruktur dasar kebutuhan masyarakat.  Dari Sebutlah Presiden Kita Ini: Ibunda Si Mulut Sunyi  hingga Manggarai Timur, Sepanjang Jalan, Aku Retang Bao.  

Susur sejarah artikel karya Marsel mempertemukan lagi pembaca dengan  Opera Osama Bin Laden, kisruh Ambon Manise, Ambon Menangise, Sidang Tahuan DPR-MPR juga sentilan bagi Pers sebagai Lembaga Politik. Kadang bikin ngakak terkekeh, juga pilu menikmati sentilan nan satir.

Sebut misalnya Tuhan Yesus: Keluar Gereja Naik Bemo, Mengecup Kening Manggarai pada Peristiwa Lonto Leok, Adegan Pembangunan di Tepi Lapangan, Selamat Datang Manggarai Timur, Selamat Datang Kesedihan, Tentang Wajahmu di Tikungan Itu,  Gayus dan Menara Pasir  atau Parodi Kontekstual Ahok.

Hebatnya lagi, Marsel Robot ogah tergoda membuat benang merah. Silakan tuan dan puan menautkan sendiri peristiwa itu dalam konteks waktu tertentu. Begitulah sejatinya sifat buku. Dia hanyalah sebuah undangan kepada sidang pembaca untuk menyusuri parit-parit yang mengalirkan fakta agar dapat menemukan   sumber  kegalauan  sosial,  kemudian menarik simpul sendiri.

Watak buku pun sama dari waktu ke waktu, dari purnama ke purnama. Buku  ibarat jendela  yang memberi ruang kepada siapa saja boleh melongok memandang  dalam langgam kaya perspektif.

Baca buku ini jadinya sungguh asyik. Tuan bebas memilih topik sesuai selera. Marsel Robot tidak meminta pembaca untuk misalnya harus baca dulu artikel M untuk memahami artikel N. Sebab, masing-masing artikel hadir dengan cara dan sejarahnya.

Marsel mewarisi spirit intelektual sejati. Penulis yang rendah hati. Dosen dengan banyak pengagum ini menyadari sungguh tulisannya secara substansial hanya segepok ringkasan kegelisahan sosial yang dipandang amat subjektif dengan horison pengetahuan cuma seluas testa. Antena diskursiflah yang menangkap riuh-rendah di aula sejarah.
Dengan begitu sang penulis mengajak siapa pun untuk berdiskusi, mengkritisi pikiran, gagasan dan argumentasinya.  Berbeda pandangan  adalah lumrah. Justru menjadi humus penyubur daya  kritis yang memang dibutuhkan dalam menyikapi dialektika sosial.  Benar adanya, pembaca pun diuntungkan dari pertengkaran yang merimbunkan pengetahuan tersebut.
Tidak banyak penulis cerdas menghantar makna dalam cara bercanda. Guyonan memukau. Mencumbui realitas tanpa kehilangan selera humor. Marsel Robot adalah pengecualian karena memiliki kemampuan itu.  Masalah politik, ekonomi dan sosial budaya yang pelik dan rumit  diraciknya sedemikian rupa menjadi bahan bacaan yang cair menyegarkan.
Membaca tulisannya tidak membuat dahimu berkerut apalagi sampai pening kepala. Bahasanya selalu bikin kangen. Saya mengenal sejumlah penggemar setianya yang selalu minta informasi manakala Pos Kupang mempublikasikan artikel Marsel Robot. "Tolong beritahu kalau dimuat, saya mau beli Pos Kupang yang ada tulisannya itu. Sejak dulu saya koleksi tulisan-tulisan Pak Marsel," kata seorang fansnya,
Tidak mengherankan memang. Hal ini terjadi karena Marsel Robot merajut  artikel-artikelnya dalam gaya bahasa  gaul. Tulisannya bisa dipahami dengan baik oleh anak milenial hingga opa dan oma. Tuan dan puan tidak hanya boleh melibatkan pikiran tetapi juga melegokan perasaan. Silakan masuk ke lokus logika, mengendap ke dasar  palung rasa, dari testa terus ke rasa. Duhai indahnya!
***
SEBUAH kehormatan bagi saya  ikut berkata-kata sedikit mengenai isi buku di tangan Anda ini. Maklumlah beliau guru saya. Pembimbing yang telaten dan super sabar tatkala kami baru belajar merangkai kata dan kalimat.

Kami mengenalnya sejak penghujung 1980-an, terutama karena pesona tulisannya yang sudah menghiasai berbagai koran dan majalah lokal, regional dan nasional. Sebut di antaranya Mingguan Dian, Mingguan Asas, Simponi,  Swadesi, Harian Bali Post, Harian Nusra dan lainnya.

Ketika saya masih mahasiswa Fakultas Ilmu Administrasi (FIA) Universitas Nusa Cendana (Undana) Kupang, beliau sudah menjadi dosen Program Studi Bahasa dan Sastra Indonesia, Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendikan Undana.

Saya dan teman-teman seangkatan seperti Viktus YK Murin, Anton Gelat, Mezra E Pellondou, mengaguminya. Nama besarnya sebagai penulis tak membuatnya jumawa. Dia dengan rendah hati mau berbagi. Mendidik dan mengajarkan kami tentang dunia tulis-menulis.

Dia guru dan pendidik bertangan dingin. Tak sedikit muridnya yang sukses menjadi jurnalis dan penulis dengan reputasi baik. Sebagian menjadi sastrawan, bintang teater dengan karya monumental. Sampai detik ini dia pun masih menjadi guru, pendidik dan sahabat para muridnya.

Terima kasih ka'e (kakak) Marsel Robot. Guru bagi banyak orang. Semangat menulisnya tak pernah padam. Takkan bosan bertengkar dengan kenyataan.

 Spririt luar biasa itu tersembul molek di bagian akhir kata pengantarnya,  "Andalah yang menyuruh saya untuk menghampiri jendela, mengusap senja, mereken gerimis yang menerpa di palkah. Sedangkan  di daratan yang jengang  itu, saya diminta untuk menepi, ambil biola memuja  kenyataan yang tak pernah menyentuh dan  merindu."

Kupang, medio Agustus 2018
Dion  DB Putra
Wartawan Pos Kupang


Info Buku

Judul: Ringkasan Kegelisahan Sosial di Aula Sejarah

Penulis: Marsel Robot

Penerbit: Dusun Flobamora, Oktober 2018

Pesona Tenun Ikat NTT


Tenun ikat NTT
GELIAT ekonomi Kota Kupang tak pernah berhenti bergerak. Perkembangan terbaru yang sungguh menggembirakan adalah semakin menjamurnya butik khusus tenun ikat di ibu kota Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) ini. Pemiliknya pun berlomba menghadirkan aneka jenis tenunan berkualitas guna memenuhi kebutuhan konsumen yang terus meningkat.

Pemilik butik mendatangkan tenun ikat dari  berbagai daerah di Nusa Tenggara Timur. Sudah jadi pengetahuan umum bahwa Flobamora memang sangat kaya ragam dan corak tenun ikat. Setiap daerah punya keunikan tersendiri.

Menurut pengelola butik, para pembeli lebih suka tenunan asli hasil kerajinan tangan bukan produksi industri. Harga yang relatif mahal bukan masalah bagi penggemar tenun ikat  yang umumnya berasal dari luar Flobamora. Mereka membeli  tenunan utuh (lembaran) atau yang sudah dimodifikasi menjadi aneka busana mengikuti tren mode masa kini semisal gaun, jas, rok dan sebagainya.


Harga busana tenun ikat NTT  bervariasi  dan relatif  terjangkau. Sedangkan kain tenun ikat dalam satu lembaran utuh atau belum dipotong  harganya berkisar antara Rp 350.000 hingga belasan juta rupiah.

Selain motifnya yang kaya, unik serta elegan, tenun ikat NTT sangat diminati karena memiliki diferensiasi yaitu hasil karya tangan para penenun hebat. Kalau sekadar mendapatkan kain bermotif tenun NTT,  tidaklah sulit bagi pembeli  karena dewasa ini sudah banyak produksi pabrikan. Namun, bagi penggemar tenun ikat keaslian itulah yang mereka butuhkan.

Pada  titik ini ada sesuatu yang mesti menjadi perhatian serius. Kita bakal kehilangan generasi penenun andal makanala tidak mempersiapkan sejak dini. Penenun di kampung-kampung umumnya sudah berusia di atas 40 tahun bahkan lebih.

Regenerasi tidak berjalan baik. Kaum muda Flobamora tanpa sadar mulai meninggalkan warisan luhur budayanya sendiri. Mereka tak cakap dan terampil menenun. Malah anggap menenun sebagai 'pekerjaan orang kampung'.

Itulah sebabnya kita sependapat dengan pandangan Kepala  Dinas Kebudayaan Provinsi NTT, Sinun Petrus Manuk. Sinun   memiliki kiat praktis agar aktivitas tenun di NTT tidak punah yaitu tenun harus dimasukkan menjadi muatan lokal (mulok)  kurikulum di sekolah sehingga semua anak berkesempatan untuk belajar menenun sejak usia dini.

Gagasan tersebut kiranya tidak sebatas wacana tetapi segera dijabarkan melalui agenda aksi yang nyata. Sekolah-sekolah  mulai dari tingkat dasar sampai menengah di NTT mesi  memiliki mata pelajaran menenun.

Sekolah SD di provinsi ini jumlahnya kurang lebih 5.000. Sebut misalnya 20 persen saja dari jumlah itu  menerapkan mulok ini, maka kita bisa menyelamatkan tenunan Flobamora dari kepunahan penerus.

Selain mulok, sekolah juga bisa membentuk komunitas tenun. Prinsipnya berbagai cara mesti kita tempuh guna mempertahankan diferensiasi serta pesona  tenun ikat NTT yang kini memikat  dunia. *

Sumber: Pos Kupang 30 Oktober 2018 halaman 4

Ramai-ramai Tanam Kelor

Kelor
AJAKAN Gubernur Nusa Tenggara Timur (NTT), Viktor B Laiskodat agar masyarakat menanam kelor atau merunggai (moringa oleifera) mulai terlihat aksinya di lapangan.

Masyarakat baik perorangan maupun kelompok mulai melaksanakan ajakan gubernur. Mereka menanam tumbuhan dengan ketinggian batang 7-11 meter, daun berbentuk bulat telur ukuran kecil-kecil bersusun majemuk yang manfaatnya sangat besar bagi manusia tersebut.

Beberapa contoh bisa disebut. Kepala Desa Oematnunu, Kecamatan Kupang Barat, Kabupaten Kupang,  Yulianus Laitoto  menyiapkan lahan sekitar satu hektar untuk menanam kelor. Yulianus  tegas mengatakan langkah tersebut untuk mendukung ajakan Gubernur NTT.

"Saya siap lahan satu hektar untuk tanam kelor. Jika pemerintah siapkan bibit, maka saya siapkan lahan," katanya, Sabtu (13/10/2018).

Kepala Dinas Pertanian Provinsi NTT, Ir. Yohanes Tay Ruba, MM pun bergerak cepat. Saat ini pihaknya sedang menyiapkan bibit kelor yang ditanam dalam wadah polybag sebanyak 30.000 anakan. Yohanes menjelaskan,  untuk budidaya kelor, pihaknya memilih dua pola yakni pola inti dan plasma.

Aksi tanam kelor ternyata tidak cuma dilakukan instansi teknis terkait tetapi juga dinas lain di  lingkup Pemerintah Provinsi (Pemprov)  NTT.

Satu di antaranya Dinas Pariwisata Provinsi NTT yang menanam 1.000 anakan kelor di halaman gedung kantor tersebut. Mereka mengubah halaman belakang kantor itu  menjadi kebun kelor. Lahan yang semua kosong kini ada tanaman hijau kaya nutrisi.

Lembaga perguruan tinggi pun tidak tinggal diam. Politeknik Pertanian Negeri (Politani) Kupang menyambut baik rencana Pemprov NTT membangun kerja pengembangan kelor. Direktur Politani Kupang, Ir. Thomas Lapenangga, MSi menjelaskan,  pihaknya tengah melakukan konsolidasi internal dengan para dosen dan pimpinan jurusan untuk merajut kerja sama tersebut.

Kita mengapresiasi kegairahan semacam ini. Menanam kelor di halaman kantor yang kosong kiranya bisa menjadi inspirasi bagi instansi lainnya serta masyarakat agar dapat  memanfaatkan setiap jengkal tanah untuk kelor. Tanaman lokal tersebut tidak rewel. Tidak butuh perawatan rumit dan berbiaya tinggi. Kondisi iklim Nusa Tenggara Timur umumnya cocok untuk kelor.

Semangat ramai-ramai menanam kelor hendaknya perlu dijaga dan dipertahankan. Tugas pemerintah untuk mengatur sedemikian rupa agar gerakan ini tidak sekadar menanam tetapi sampai proses akhir kelor yang banyak khasiatnya itu benar-benar bermanfaat bagi masyarakat Flobamora.

Sejauh ini kita belum mendapat jawaban serta gambaran  yang memadai kira-kira apa yang akan dilakukan pemerintah  daerah  ketika gerakan menanam kelor berhasil.

Produksi kelor yang berlimpah nantinya jangan sampai justru tidak memberi nilai tambah apapun secara ekonomis bagi masyarakat yang sudah berjerih lelah menaman. Artinya tidak sebatas mengajak tanam lalu habis perkara. Setelah tanam lalu apa? *

Sumber: Pos Kupang, 17 Oktober 2018 halaman 4

Kembalikan Kejayaan Kabupaten Sikka

HARI yang akan menjadi pusat perhatian rakyat Kabupaten Sikka sudah tiba.  Fransiskus Roberto Diogo, S.Sos, M.Si atau akrab dengan sapaan Roby Idong dan Romanus Woga, BA menjadi Bupati dan Wakil Bupati akan dilantik Gubernur Nusa Tenggara Timur (NTT),  Viktor Bungtilu Laiskodat, S.H, M.Si, di Aula Fernandez Kantor Gubernur NTT, Jalan El Tari Kupang, Kamis (20/9/2018) ini.

Keduanya akan menahkodai Kabupaten Sikka periode 2018-2023. Roby Idong dan Romanus Woga meraih suara terbanyak dalam Pilkada Sikka 27 Juni 2018.

Pasangan yang maju dari jalur independen ini meraih dukungan  63.039 suara disusul pasangan calon Alexander Longginus-Fransiskus Stefanus Say 49.690 suara dan pasangan  Yoseph Ansar Rera-Rafael Raga 44.467 suara. Roby-Romanus menjadi  pasangan kepala daerah pertama hasil Pilkada 2018 di NTT yang dilantik Gubernur Viktor Laiskodat. Sementara sembilan daerah lainnya akan menyusul.

Setiap kali momen pelantikan pasangan kepala daerah kita selalu mengingatkan kembali mengenai tugas, tanggung jawab dan wewenang mereka.

 Kepala daerah antara lain bertugas memimpin pelaksanaan urusan pemerintahan yang menjadi kewenangan daerah sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan dan kebijakan yang ditetapkan bersama DPRD. Memelihara ketenteraman dan ketertiban masyarakat. 

Kepala daerah pun memiliki sejumlah kewenangan semisal mengajukan rancangan Perda, menetapkan Perda yang telah mendapat persetujuan bersama DPRD, mengambil tindakan tertentu dalam keadaan mendesak yang sangat dibutuhkan oleh daerah dan atau masyarakat serta melaksanakan wewenang lain sesuai ketentuan peraturan perundang-undangan. Singkat kata di tangan kepala daerah dan wakil kepala daerah masyarakat berharap  akan hadirnya kesejahteraan.

Bagaimana Kabupaten Sikka?  Selama lima tahun ke depan seluruh rakyat  Sikka menyandarkan harapan mereka pada Bupati Roby Idong dan Wakil Bupati Romanus Woga. Pasangan orang muda dan tokoh berpengalaman ini diyakini mampu membuat terobosan sehingga Kabupaten Sikka lebih cepat maju dibandingkan daerah lainnya. Rakyat Sikka lebih sejahtera lahir dan batin.

Jujur mesti dikatakan bahwa Sikka memiliki potensi sumber daya alam dan sumber daya manusia yang luar biasa. Namun, potensi tersebut belum dimanfaatkan secara baik sehingga Sikka pun menjadi kabupaten yang biasa-biasa saja. Hampir tidak ada yang menojol dari wilayah itu.

 Bahkan kalah pamornya dibandingkan nam Sikka di masa lalu yang menjadi pioner dalam berbagai bidang pembangunan. Untuk basmi rabies pun Sikka seolah tak berdaya sampai sekarang.  Letak geografisnya yang stategis di jantung Pulau Flores pun tidak dioptimalkan.

Pelabuhan Lorens Say dan Bandara Frans Seda, misalnya,  cenderung sepi belakangan ini. Geliat ekonomi berjalan biasa-biasa saja. Sikka pernah berjaya dan semoga pemimpin yang baru ini bisa mengembalikan kejayaan itu. Selamat bekerja bupati dan wakil bupati Sikka. *

Sumber: Pos Kupang 20 September 2018 hal 4

Energi Positif Asian Games 2018

PRESIDEN Dewan Olimpiade Asia (OCA) Ahmad Al-Fahad Al-Sabah ketika menutup Asian Games 2018 Jakarta-Palembang di Stadion Utama Gelora Bung Karno,  Minggu (2/9/2018) malam beberapa kali mengucapkan kata yang sangat menyentuh. "Indonesia, kalian hebat! Indonesia, kami cinta kalian.''

Ucapan  Presiden OCA tersebut disambut aplaus meriah ratusan ribu orang yang memenuhi Stadion Utama Gelora Bung Karno Jakarta. Jutaan penonton televisi Indonesia  yang menyaksikan siaran langsung penutupan Asian Games   ikut merasa bangga dengan sanjungan Presiden OCA.

Indonesia sukses menjadi tuan rumah pesta olahraga bangsa-bangsa Asia yang bergulir sejak  18 Agustus 2018. China yang kali ini kembali menjadi juara umum akan menjadi  tuan rumah Asian Games empat tahun mendatang, tepatnya di Hangzhou, Provinsi Zhejiang.

Pujian Presiden OCA kiranya tidak berlebihan. Masyarakat internasional mengakui kita sukses menjadi tuan rumah Asian Games 2018. Sangat minim komplain atau keluhan dari para tamu yang datang dari 45 negara.  Banyak pemimpin dunia memuji  termasuk  Presiden Komite Olimpiade Internasional (IOC), Thomas Bach.

 Bach bahkan mengatakan, dengan menutup sejumlah kekurangan saat Asian Games 2018,  Indonesia layak menawarkan diri sebagai tuan rumah Olimpiade musim panas 2032. Bach salut atas antusiasme masyarakat Indonesia terhadap olahraga. Kesan positif ini menjadi modal lebih bila Indonesia serius  mengajukan diri sebagai tuan rumah Olimpiade.

Prestasi atlet  Indonesia juga luar biasa di Asian Games 2018. Mereka memenuhi target  10  besar bahkan meraih posisi empat besar berkat perolehan  98 medali yang terdiri dari 31 emas, 24 perak dan 43 perunggu. Perolehan medali emas hampir dua kali lipat dari target. Berada di urutan keempat setelah China, Jepang dan Korea Selatan merupakan prestasi terbaik anak-anak Indonesia sepanjang sejarah keikutsertaannya di ajang Asian Games.

Asian Games 2018 telah melahirkan energi positif bagi bangsa Indonesia dan Asia. Kita membuktikan kepada seluruh bangsa Asia dan juga dunia bahwa  kita mampu menjadi tuan rumah yang ramah, santun dan memberikan pelayanan terbaik bagi para atlet dan ofisial peserta Asian Games 2018.

Seluruh komponen bangsa telah memberikan kontribusi positif. Mereka bahu- membahu bersama  panitia dan segenap jajaran  pemerintah menyukseskan pesta olahraga empat tahunan ini baik di Jakarta maupun Palembang. Momentum ini perlu kita jaga agar terus mewarnai kehidupan kita sebagai sesama anak Indonesia.

Dari sisi prestasi,  pencapaian Asian Games tahun 2018 tidak mudah dipertahankan. Empat tahun lagi iklim kompetisinya berbeda. Hal ini merupakan pekerjaan rumah bagi pengurus, pembina dan pelatih cabang olahraga. Dan, tentu bagi atlet sendiri. Tidak boleh berpuas diri. Tetaplah menjadi atlet yang disiplin dan tekun berlatih.*

Sumber: Pos Kupang 4 September 2018 hal 4

Kabar Pilu dari Tanah Merah

KABAR pilu datang dari Tanah Merah. Bentrokan yang melibatkan sekelompok masyarakat dari Desa Oebelo dan Desa Tanah Merah, Kecamatan Kupang Tengah, Kabupaten Kupang kembali terjadi pada Kamis (23/8/2018) petang. Insiden kekerasan itu menimbulkan korban jiwa luka-luka. Air mata duka tumpah lagi.

Dua kubu menggunakan benda keras dan senjata tajam. Para korban umumnya mengalami luka potong, terkena anak panah dan tembakan senjata rakitan dan senapan angin.

Sampai kemarin suasana di lokasi kejadian masih mencekam. Bahkan hampir terjadi aksi susulan. Untung aparat keamanan bertindak cepat sehingga mampu meredam bentrokan dalam skala yang lebih luas.

Kita turut berduka bersama keluarga korban yang meninggal dunia. Kita berharap mereka yang luka-luka segera pulih. Kita prihatin dan sedih karena peristiwa kekerasan itu bukan yang pertama.

Menurut catatan Pos Kupang,  kejadian dua hari lalu merupakan yang keenam sejak tahun 2005. Data tersebut berdasarkan pemberitaan Pos Kupang. Boleh jadi ada kejadian yang luput dari pantauan media.

Hampir semua bentrokan sejak tahun 2005 selalu menimbulkan korban manusia dan harta benda. Bakar rumah bahkan disertai pengungsian. Pemicu awal kerap masalah sepele tapi berlanjut penganiayaan serta bentrokan kelompok.

 Dampak psikologisnya pun tak terkira. Ada dendam kesumat. Fakta sosial tersebut  tidak bisa disembunyikan. Bayangkan, sudah lebih dari sepuluh tahun tapi  perdamaian belum sungguh membumi di Tanah Merah dan Oebelo. Ada apa gerangan?

Kita tiada henti  mengajak para tokoh masyarakat, tokoh agama dan pemimpin pemerintah setempat  agar menempuh langkah yang lebih sungguh guna mengakhiri konflik sosial berkepanjangan itu. Cari akar masalah  sebenarnya dan berikan solusi yang tepat. Kejadian berulang mencerminkan bahwa masalah sesungguhnya belum tuntas. Yang diselesaikan selama ini hanya reaksi permukaan.

Tidak cukup pendekatan hukum semata.Yang bersalah untuk kasus kekerasan hingga menimbulkan korban jiwa memang perlu mendapat hukuman. Namun, itu bukan satu- satunya solusi. Pemerintah hendaknya mengajak tokoh masyarakat kedua daerah itu serta tokoh kunci lainnya duduk bersama membahas masalah ini secara terbuka dalam spirit rekonsiliasi menuju penyelesaian final berjangka panjang. Bukan sekadar reaksi atas insiden dua hari lalu.


Para wakil rakyat baik di lembaga DPRD Kabupaten Kupang maupun DPRD Provinsi NTT kiranya tidak berpangku tangan. Bapak dan ibu  jangan hanya sibuk tebar pesona setelah  mencalonkan diri  lagi untuk Pileg 2019. Tidak cukup sekadar berkata-kata.

Segera bertindak melalui aksi konkret guna memberikan solusi terbaik mengakhiri konflik di Tanah Merah Oebelo. Korban sudah banyak berjatuhan. Tega nian jika tidak memberikan perhatian.

Menciptakan perdamaian di Tanah Merah-Oebeo hendaknya menjadi atensi pemimpin baru Kabupaten Kupang. Juga Gubernur dan Wakil Gubernur NTT terpilih. *

Sumber: Pos Kupang 25 Agustus 2018 hal 4

Aura Positif Joni Kala

Joni Kala dan Jokowi
Siswa Kelas VII SMP Negeri Silawan, Kabupaten Belu,  Yohanes Ande Kala (14) mendadak terkenal pasca aksi heroiknya memanjat tiang bendera setinggi 15 meter untuk membetulkan tali yang putus dan pengait tersangkut.  Dalam sekejap bocah yang akrab disapa Joni itu menjadi buah bibir masyarakat Indonesia.

Mengenakan  seragam putih biru, tanpa sabuk pengaman, ia memanjat  tiang bendera dari pipa pada peringatan HUT ke-73 RI di  lapangan Mota'ain, Kecamatan Tasifeto Timur, Kabupaten Belu, NTT, Jumat 17 Agustus 2018.

Joni sempat berhenti di pertengahan tiang. Beberapa orang berteriak  memintanya turun namun ia tetap semangat  memanjat hingga mencapai ujung tiang bendera.  Tiang bendera sempat melengkung oleh beban tubuhnya. Setelah sukses membenahi ujung tali, Joni pun meluncur  turun. Tepuk tangan membahana.

Sejak hari  itu nama Joni Kala viral di media sosial. Terkenal ke seantero negeri. Dia dan orangtuanya langsung diundang ke Jakarta menemui para petinggi negara. Joni bersua para menteri, antara lain Menpora Imam Nahrawi, Menteri ESDM Ignasius Jonan, Menko Polhukam Wiranto, Menko Kemaritiman Luhut Binsar  Panjaitan dan  bertemu Presiden Jokowi serta Wapres Jusuf Kalla.

Joni Kala  pun  kebanjiran rezeki. Dia mendapat beasiswa dan uang. Tempat tinggalnya di Dusun Halimuti,  Desa Silawan, Kecamatan Tasifeto  Timur Belu, diperbaiki. Perhatian tersebut datang dari sejumlah pihak, di antaranya manajemen  PT PLN (Persero), Kemenpora, Panglima TNI, Kapolda NTT, Pemerintah Provinsi NTT dan pengacara kondang Hotman Paris Hutapea.

Joni Kala dielu-elukan. Banyak yang menyebutnya sebagai pahlawan. Tidak berlebihan memang sebab anak itu melakukan secara spontan. Bukan diperintah atau dipaksa.  Dia langsung bergerak  ketika mendengar ada masalah di tiang bendera. Padahal saat itu dia sedang sakit perut.

Berkat keberaniannya upacara bendera yang sempat terganggu bisa berjalan sampai tuntas. Bendera Merah Putih pun berkibar di Lapangan Mota'ain --daerah tapal batas antara Indonesia dengan Timor Leste. Beranda  NKRI!

Kepolosan dan spontanitasnya melahirkan simpati, respek dan hormat. Si bocah Joni Kala menebarkan aura positif pada momentum yang tepat, di kala kita menghadapi banyak tantangan dan godaan yang dapat mencederai rasa sebagai satu bangsa, bangsa Indonesia yang bhineka. Joni  mengingatkan kita untuk merawat dan menjaga agar Merah Putih terus berkibar dan NKRI tegak berdiri selamanya.

Sisi lain yang tak kalah penting adalah perhatian tidak sebatas pada Joni dan keluarganya. Tengok dan bangun sungguh-sungguh daerah perbatasan negeri ini, baik yang berbatasan dengan Timor Leste, Malaysia dan Australia maupun Papua Nugini.

Ketika tapal batas kita posisikan sebagai beranda NKRI, maka pembangunan mestinya menjadi prioritas utama. Rakyat di perbatasan harus maju, modern dan sejahtera. Fakta memperlihatkan kehidupan mereka jauh dari makmur.  Infrastruktur dasar umumnya belum memadai. Masih ada yang terisolir, sulit mendapatkan air bersih, fasilitas kesehatan dan komunikasi.

Aura positif Joni Kala hendaknya berlanjut pada ikhtiar membangun negeri ini secara adil dan merata dari Sabang sampai Merauke, Miangas hingga Pulau Rote. Semoga. *

Sumber: Pos Kupang 20 Agustus 2018 hal 4

Prestasi Tetangga NTT Jauh Lebih Baik

DULU  Nusa Tenggara Timur (NTT) merupakan gudang atlet atletik. Juara nasional bahkan juara Asia datang dari provinsi ini. Sebut  beberapa sebagai contoh kisah sukses.

Welmince Adolfina Sonbay.  Tahun 1981 saat dia masih SD meraih medali perak PON X di nomor lari 3.000 meter puteri. Saat upacara penutupan, Presiden Soeharto menggendongnya.

Peristiwa yang sama terulang pada tahun itu juga. Welmince meraih medali perunggu Asian Games di Filipina sekaligus memecahkan rekor nasional 3.000 meter puteri atas nama Starlet.

Lagi-lagi si kecil ini digendong Presiden Marcos. Tiga tahun kemudian pada ajang yang sama Welmince yang masih duduk di bangku SMP kembali merebut medali di Korea Selatan.

Eduardus Nabunome adalah nama besar dari NTT. Dia pemegang 14 rekor nasional (rekornas)   lari. Sampai sekarang lima nomor di antaranya belum terpecahkan. Bahkan di tingkat ASEAN, rekor maraton SEA Games masih milik anak Timor itu.  Rekor Edu sudah bertahan selama 27 tahun.  NTT tidak hanya punya dua legenda ini.  Masih ada nama lain seperti Anton Falo, Osias Kamlasi dan  Oliva Sadi.

Namun, harus diakui secara jujur bahwa setelah masa kejayaan Welmince dan Nabunome, belum ada lagi pelari asal NTT yang mencetak prestasi fenomenal. Belum muncul generasi penerus yang lebih muda setelah Oliva Sadi,  Fery Subnafeu, Mery Paijo, Afriana Paidjo.

Hari-hari ini kita tersentak kaget menyadari betapa tetangga sebelah rumah, Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB) yang dulu tidak masuk hitungan di cabang atletik, sekarang sudah memiliki seorang juara dunia.

Juara dari nomor lari bergengsi 100 meter yang diraih Lalu Muhammad Zohri.  Zohri meraih medali emas nomor lari 100 meter dengan catatan waktu 10,18 detik pada Kejuaraan Dunia Atletik U-20 di Tempere, Finlandia, 11 Juli 2018.

Prestasi Zohri membuka mata Indonesia betapa NTB sejak lama mempersiapkan atlet atletik mereka dengan baik. Mereka fokus dan sangat serius  membentuk atlet berprestasi di cabang atletik. Hasilnya luar biasa. Langsung menjadi juara dunia!

Langkah tetangga mestinya melecut semangat pengurus PASI, KONI, pemerintah  daerah serta seluruh komponen masyarakat yang peduli pada olahraga untuk berbenah. Kembalikan NTT sebagai gudang atlet atletik nasional.

Dalam spirit itulah kita memberi apresiasi tinggi kepada manajemen Naga Timor Sport Club yang sampai saat ini  konsisten dan setia membina atlet atletik di daerah ini. Bekerja sama dengan Harian Pagi Pos Kupang, klub Naga Timor akan menyelenggarakan lomba lari 5K di Kota  Kupang, 11 Agustus 2018.

Lomba lari ini mengusung konsep berbeda dengan kegiatan serupa sebelumnya. Kali ini peserta lomba adalah khusus untuk usia 13-16 tahun. Sifatnya tidak semata olahraga tetapi ada pesan edukatif.

Dari lomba ini diharapkan lahir para juara usia muda seperti Delvita Bakun yang kini sudah menjadi atlet nasional. Poinnya adalah memberi ruang kepada anak-anak NTT kembali menekuni olahraga membanggakan ini.*

Sumber: Pos Kupang 20 Juli 2018 hal 4

Aplikasi Si Karang 13

DINAS Pemadam Kebakaran (Damkar)  Kota Kupang melakukan terobosan yang sejalan dengan spirit menjadikan Kupang sebagai Smart City. Demi  mengurangi dan menekan informasi bohong atau hoax tentang kebakaran di Kota Kupang, Dinas Pemadam Kebakaran akan meluncurkan Aplikasi Si Karang 13.

Si Karang 13 merupakan aplikasi berbasis android yang digunakan untuk melaporkan informasi kebakaran yang terjadi secara akurat kepada pihak Damkar yang memantau dari pusat kontrol di Markas Damkar.

Kepala Bidang Penanggulangan Dinas Pemadam Kebakaran Kota Kupang, Johanes Bell, ST, MT mengungkapkan, selama ini petugas Damkar kerap menerima telepon atau laporan bohong dari masyarakat mengenai  kebakaran. Informasi hoax semacam itu menimbulkan keragu-raguan bagi petugas untuk bertindak cepat mengatasi kebakaran.

Johanes yang merupakan ketua tim kerja aplikasi Si Karang 13 ini mengungkapkan, dengan aplikasi tersebut masyarakat dapat memperoleh banyak manfaat. Selain untuk membuat laporan kebakaran secara cepat, realtime dan tepat, juga ada berbagai fitur penting lainnya terkait kebakaran.

Ada sosialisasi tentang tindakan preventif mencegah kebakaran, informasi tentang data dan tren kebakaran di Kota Kupang, data jalur tercepat dan posisi satuan Damkar serta informasi penting lainnya terkait Dinas Damkar Kota Kupang.

Aplikasi Si Karang 13 juga diproyeksikan untuk meningkatkan response  time Damkar dari 15 menit menjadi 13 menit saja.

Dengan menggunakan  aplikasi ini,  petugas Damkar akan lebih cepat tiba lokasi kebakaran karena aplikasi Si Karang 13  menunjukkan jalur tercepat dari markas Damkar menuju tempat kejadian perkara.

Warga Kota Kupang tentu menyambut gembira aplikasi tersebut. Di zaman digital sekarang keberadaannya sudah menjadi kebutuhan.Yang kita harapkan adalah sikap konsisten dan displin petugas Damkar Kota Kupang menanggapi laporan dari  masyarakat.

Jangan sampai terjadi warga  Kota Kupang sudah melapor dengan cepat dan tepat menggunakan aplikasi Si Karang 13 tetapi tanggapan dari petugas Damkar masih sama dengan kondisi sebelumnya. Poinnya kembali pada sikap profesionalisme  petugas Damkar. Apapun alatnya,   faktor manusia tetap sangat menentukan.

Problem lain yang juga perlu dibenahi adalah sarana dan prasarana pendukung. Menurut pandangan kita armada mobil Damkar di kota ini perlu ditambah jumlahnya mengingat permukiman penduduk, kawasan pusat perbelanjaan, hotel dan sebagainya tumbuh kian subur di Kota Kupang.

Armada yang ada saat ini pun sudah termakan usia sehingga tidak gesit dan tangguh lagi melahap medan dalam kota manakala terjadi musibah kebakaran. Akhirnya tidak kalah penting pelatihan bagi petugas Damkar. Mereka butuh pengetahuan baru dan keterampilan mereka harus terus diasah agar tetap profesional dalam menjalankan tugasnya. *

Sumber: Pos Kupang 12 Juli 2018 hal 4

Menguji Kesabaran Kesebelasan Milenial


Harry Kane
Catatan Sepakbola Dion DB Putra

POS-KUPANG.COM - St. Petersburg, kota pelabuhan yang eksotik di tepi Sungai Neva dan Teluk Finskiy ternyata meninggalkan luka di hati Lukaku. Bikin Kevin de Bruyne meringis dan Eden Hazard meradang pada Selasa malam 10 Juli 2018. Belgia baru sebatas kembang penyegar, bukan pahlawan bagi negaranya musim ini.

Berakhir sudah petualangan Si Merah. Prancis menang dengan sebiji gol Samuel Umtiti untuk meraih satu kursi terhormat di partai Final Piala Dunia 2018 tanggal 15 Juli nanti. Didier Deschamps berada sejengkal lagi untuk mencetak sejarah sebagai orang ketiga di planet ini yang sukses sebagai pemain dan pelatih di ajang World Cup.

Umtiti melengkapi kepiawaian bek timnas Prancis yang mencetak gol selama putaran Final Piala Dunia 2018 bersama Benjamin Pavard dan Raphael Varane. Ini kali pertama tiga bek Prancis mencetak gol setelah tahun 1998.



Tahun ini untuk ketiga kalinya Les Bleus mencapai babak final setelah Piala Dunia 1998 dan 2006. Rekor itu sudah selevel dengan Belanda yang tahun ini absen di Rusia. Deschamps menjadi pelatih Prancis pertama yang meraih dua kali final pada turnamen besar yaitu Final Piala Eropa 2016 dan Final Piala Dunia 2018.

Menghadapi Belgia yang bertaburan pemain bintang, Didier Deschamps kembali ke watak dasarnya sebagai gelandang bertahan. Prancis tidak obral serangan ofensif sebagaimana pada pertandingan-pertandingan sebelumnya.

Paul Pogba dan kolega lebih santai. Tidak terburu-buru menusuk ke jantung pertahanan Belgia yang memang rapat dan padu. Statistik FIFA menunjukkan, Belgia lebih banyak menguasai bola dengan persentase mencapai 64 persen.

Menghadapi Belgia, Selasa malam 10 Juli 2018 atau Rabu dini hari 11 Juli 2018 waktu Indonesia, Prancis cenderung defensif. Itulah yang membuat trio Belgia, Eden Hazard, Thibaut Courtois dan Kevin De Bruyne meradang. Kesal tak terkira.

"Saya lebih memilih kalah dengan tim Belgia ini daripada menang dengan cara Prancis," kata Hazard seperti dikutip Kompas.com dari Metro, Rabu (11/7/2018).

Hal serupa diungkapkan kiper Belgia, Courtois. "Prancis menerapkan sepakbola negatif. Saya tidak pernah melihat ada seorang striker sangat jauh dari gawang lawan," kata Courtois. "Menurut mereka itu adalah cara bermain yang benar, tetapi itu tidak enak dilihat," tambah kiper Chelsea tersebut.

Kevin De Bruyne agak diplomatis dengan mengatakan sudah terbiasa bermain melawan tim yang selalu bertahan saat membela Manchester City. "Apakah saya terganggu dengan permainan Prancis? Tidak, saya bermain di Man City dan saya sudah sering melawan tim yang bermain 90 persen bertahan. Inilah sepakbola, dan yang membedakan adalah gol," ucap De Bruyne.

Belgia gagal menciptakan gol. Begitulah faktanya. Prancis lebih beruntung. Meskipun lebih banyak menciptakan peluang dalam 19 percobaan, gol Prancis justru tercipta dari sepakan bola mati. Bermula dari sepak pojok, sundulan Samuel Umtiti pada menit ke-51 sudah cukup memulangkan Belgia lebih lekas.

***

KINI mari kita beralih ke babak semifinal berikutnya Rabu 11 Juli 2018 malam ini atau Kamis (12/7/2018) dini hari Wita. Inggris kontra Kroasia. Dua tim yang sebenarnya tidak begitu difavoritkan penggemar bola sejagat mengingat performa mereka belakangan ini.

Tak dinyana Inggris dan Kroasia sudah melangkah sedemikian jauh di Rusia dan berhak merebut satu kursi untuk meladeni Prancis di babak Final Piala Dunia 2018.

Bagi Inggris, berada di babak semifinal merupakan sesuatu yang membanggakan.  Terakhir mereka mencapai level itu pada tahun 1990. Selebihnya langkah terbaik pasukan Tiga Singa adalah babak perempafinal.

Dalam dua turnamen besar terakhir yakni Piala Dunia 2014 dan Piala Eropa 2016, Inggris malah meraih hasil mengecewakan.

Pada putaran Final Piala Dunia 2014 tim berjuluk The Three Lions ini terhenti di fase grup. Dua tahun berselang, pada ajang Piala Eropa, tim Tiga Singa pun tersingkir di babak 16 besar. Inggris bahkan kalah melawan tim debutan dari negara kecil di Eropa, Islandia.

Kegagalan Inggris dua tahun silam melengkapi berakhirnya era kejayaan sejumlah nama besar yang pernah menghiasi percaturan sepakbola Eropa dan dunia. Pelatih Roy Hodgson tinggalkan kursi pelatih timnas Inggris. Steven Gerrard, Frank Lampard, Michael Carrick, Jermain Defoe, James Milner, dan Wayne Rooney pun mengumumkan pensiun dari timnas Inggris.

Pelatih baru Gareth Southgate menata ulang tim Inggris yang lebih segar. Mereka terbilang anak-anak milenial seperti Jesse Lingard, Marchus Rashford dan Ashley Younh (Manchester United), Harry Kane dan Delle Ali (Tottenham Hotspur), Raheem Sterling dan John Stones (Manchester City), Jordan Pickford (Everton), Harry Maguire (Leicester), Jordan Henderson (Liverpool) dan lainnya.

Kapten timnas Inggris Harry Kane usianya baru memasuki 25 tahun pada 28 Juli 2018 nanti. Tapi kematangan dan ketenangannya sebagai pemimpin di lapangan sudah terbukti. Dia juga pencetak gol paling subur sejauh ini di putaran Final Piala Dunia 2018. Gelar top scorer Piala Dunia 2018 kemungkinan besar menjadi miliknya.

Bermaterikan hampir 90 persen pemain muda usia, Inggris 2018 pantas disapa sebagai kesebelasan milenial. Hebatnya lagi mereka tidak bernaung di bawah bayang-bayang pemain bintang. Misalnya dibandingkan dengan timnas Inggris pada era David Beckham, Michael Owen, Steven Gerrard dan Wayne Rooney.

Pemain Inggris yang bisa disebut bintang saat ini hanyalah Harry Kane seorang. Yang lainnya biasa-biasa saja. Nama mereka tenggelam oleh kebesaran legiun asing yang merajai klub-klub terbaik Liga Inggris.

Justru karena itulah Inggris 2018 bermain lebih rileks alias tanpa beban sejak fase grup. Mereka memperlihatkan diri sebagai anak-anak milenial Britania yang mampu menyihir dan memabukkan lawan.

Mungkin Kroasia menjadi korban berikutnya sekaligus membawa Inggris ke final di Moskwa. Kuncinya adalah kesabaran serta kerja tim yang kompak. Pelatih Gareth Southgate kiranya sudah tahu apa yang akan diraciknya.

Satu yang pasti Inggris tidak memandang rendah lawannya. Inggris tahu betul bahwa Kroasia merupakan lawan paling tangguh dari Eropa Timur. Krosia mencapai hasil luar biasa di Rusia 2018 bila acuannya adalah perjuangan mereka di babak kualifikasi. Terakhir negeri itu mencapai babak semifinal pada putaran Final Piala Dunia 1998 di Prancis.

Timnas Kroasia mendapatkan tempat pada gelaran Piala Dunia 2018 setelah mengalahkan Yunani pada babak play-off kualifikasi zona Eropa dengan agregat 4-1. Mereka harus melalui play-off karena kalah bersaing dengan Islandia yang pada babak penyisihan Grup 16 Juni 2018 lalu membuat pusing kepala Lionel Messi dkk dalam laga yang berakhir 1-1.

Dari sisi kematangan tim jelas milik Kroasia. Pelatih Zlatko Dalic mempunyai pemain dengan kemampuan merata di semua lini. Mulai dari Danijel Subasic di bawah mistar hingga tukang jebol gawang Mario Mandzukic.

Ivan Strinic, Domagoj Vida, Dejan Lovren dan Sime Vrsaljko merupakan pilar pertahanan yang sangat solid. Di lapangan tengah, ada jenderal inspirator Luka Modric. Modric begitu padu menjaga irama permainan bersama Ivan Rakitic, Ivan Perisic, Ante Rebic dan Andrej Kramari. Aksi para gelandang Kroasia akan sangat merepotkan Inggris.

Jangan lupa Kroasia adalah reinkarnasi Yugoslavia, nama besar dari timur Eropa yang selalu diperhitungkan lawan dalam ajang Piala Dunia sejak tahun 1930 hingga 1990. Yugoslavia sudah berakhir gara-gara perang Semenanjung Balkan yang melahirkan sejumlah negara baru termasuk Kroasia sekarang. Tradisi sepakbola di negeri itu sudah berakar lama dan membumi.

Setelah terhenti di babak semifinal tahun 1998, mungkin tahun ini saatnya Kroasia melaju ke grandfinal untuk menghadapi Prancis yang juara di kandangnya sendiri 20 tahun silam. Jika sudah di final laju Kroasia bisa tak tertahankan.

Panggung Rusia 2018 berpeluag melahirkan juara baru. Bukan mustahil pula Dewi Fortuna memihak anak-anak milenial Inggris, negeri asal leluhur bola yang sudah menanti pesta sangat lama sejak 1966. Selamat menonton.  (*)

Orang Ketiga Bernama Didier Claude Deschamps



Didier Deschamps
Catatan Sepakbola Dion DB Putra

POS-KUPANG. COM - Prancis beruntung memiliki anak bola bernama Didier Claude Deschamps. Pria kelahiran Bayonne, 15 Oktober 1968 tersebut sejauh ini selalu mempersembahkan yang terbaik dari ladang bola demi keharuman bangsa dan negara.

Didier Deschamps memang tak setenar Zinedine Zidane. Apalagi dibandingkan si flamboyan Eric Cantona dan anak ganteng David Ginola. Tapi hanya dia pekerja cerdas di tubuh Les Bleus. Tangguh dan efektif sebagai gelandang bertahan bahkan cukup sering berubah peran sebagai libero.

Dengan daya jelajah yang tinggi, Deschamps melayani dengan sungguh rekan- rekannya. Itulah sebabnya Pelatih Prancis 1998, Aime Jacquet lebih memilih dia ketimbang Cantona dan Ginola.



Dia bagian dari kisah sukses generasi emas Prancis kala merebut trofi Piala Dunia 1998 setelah menekuk tim unggulan Brasil di final. Deschamps bersinar bersama koleganya si botak Fabien Barthez, Marcel Desailly, Laurent Blanc, Bixente Lizarazu, Zinedine Zidane, Lilian Thuram, Emanuel Petit, Thiery Henry, dkk. Tim yang sama pun berjaya di Piala Eropa 2000.

Bagi Prancis, Didier Deschamps yang bermain sebanyak 103 kali untuk timas dan mencetak 4 gol adalah legenda. Nama besar yang akan terkenang selalu.

Dibanding rekan seangkatanya seperti Laurent Blanc dan Zidane, Didier Deschamps tercatat paling sukses menjadi pelatih baik di klub maupun tim nasioal (timnas).

Keberhasilannya sebagai pelatih terlihat sejak ia membawa klub AS Monaco menjadi runner-up Liga Champions Eropa pada tahun 2003. Ia pun sukses membantu bekas klubnya Juventus kembali ke Serie A Italia serta mengantar Marseille juara Liga Prancis hingga akhirnya dipercayakan Federasi Sepakbola Prancis sebagai pelatih timnas tahun 2012.

Didier Deschamps menangani Les Bleus setelah tampil ngos-ngosan di ajang Piala Eropa 2012. Tugas berat dia pada waktu itu adalah mempersiapkan tim untuk Piala Dunia 2014 di Brasil. Dalam berbagai keterbatasan, Didier bisa membawa tim asuhannya bertahan sampai babak perempatfinal. Empat tahun lalu, langkah Prancis dihentikan Jerman yang akhirnya keluar sebagai juara dunia.

Sejak kegagalan di Brasil tersebut, Deschamps melakukan peremajaan pemain. Dia memberi kesempatan lebih besar kepada talenta muda seusia Paul Pogba. Terbukti polesan tangan dinginnya membuahkan hasil.

Selain faktor tuan rumah, Prancis tampil trengginas hingga lolos ke babak grandfinal Piala Eropa 2016. Sayang seribu sayang kala itu Paul Pogba, Olivier Giroud dan Antoine Griezmann dkk kalah melawan Portugal.

Tren kinerja kepelatihan Didier Deschamps bersama pasukan mudanya menjulang positif. Kini mereka sudah berada di babak semifinal Piala Dunia 2018 setelah menyingkirkan tim-tim yang lebih diunggulkan.

Prancis 2018 memiliki peluang besar untuk mengulang sukses 1998. Banyak pemain hebat di tim Deschamps. Sebut misalnya Kylian Mbappe, Ousmane Dembele, Benjamin Pavard dan Nabil Fekir. Mereka merupakan talenta muda berbakat yang bakal terus bersinar.

Selama di Rusia 2018 Deschamps cenderung memakai formasi 4-2-3-1. Kemungkinan skema yang sama bakal dia pakai melawan Belgia, Selasa (10/7/2018) malam atau Rabu (11/7/2018) dini hari Wita.

Paul Pogba dan N'Golo Kante merupakan kunci kekuatan lini tengah Prancis. Ada yang melukiskan peran Kante sebagai mesin perebut bola dan pemutus rantai serangan lawan. Sedangkan Pogba cerdas melihat arah permainan dan mampu mengelolanya dengan apik untuk menghasilkan peluang manis.

Didier Deschamps percaya kekuatan dan kecepatan Mbappe dan serta kelincahan Griezmann akan merepotkan lawan. Apalagi dibantu Olivier Giroud yang bisa hadir mengejutkan dari lini kedua.

Sejarah Piala Dunia mencatat baru dua orang yang pernah memenangi Piala Dunia dalam perannya sebagai pemain dan pelatih, yaitu Mario Zagallo (Brasil) dan Franz Beckenbauer (Jerman). Didier Deschamps berpeluang menjadi orang ketiga bila tahun 2018 ini dia sukses membawa Prancis meraih trofi Piala Dunia di Rusia.

Langkah ke sana terbuka lebar. Malam ini mantan pemain klub Nantes, FC Girondins de Bordeaux, Olympique de Marseille, Juventus, Chelsea dan Valencia ini harus mengalahkan Belgia.

Sanggupkah Prancis? Sulit menjawabnya karena Belgia pun sedang on fire dan memiliki pemain bintang dari kiper hingga striker. Di atas kertas Belgia jelas kurang diunggulkan dan ini menguntungkan. Mereka siap meledak untuk menghentikan langkah Prancis menuju trofi Piala Dunia yang kedua.

Duel di Kota St Petersburg beberapa jam lagi pun akan sangat familiar bagi para pencinta Liga Primer di Indonesia lantaran banyak pemain dari kedua tim yang membela klub anggota liga utama Inggris.

Tercatat 11 pemain Belgia yang berkiprah di Liga Primer, dan lima pemain dari Prancis yang bermain di kompetisi paling meriah sejagat itu.

Kiper Belgia, Thibaut Courtois dan Kapten Belgia, Eden Hazard akan melawan rekannya di Chelsea, Ngolo Kante dan Olivier Giroud. Sedangkan gelandang Prancis Paul Pogba bakal bertarung melawan sobatnya di Manchester United, Romelu Lukaku dan Marouane Fellaini. Seru!

Kita berharap laga semifinal antara Prancis vs Belgia menghasilkan gol. Belgia sejauh ini sudah mengoleksi 14 gol dari lima pertandingan atau rata-rata 2,8 gol di setiap laga.

Tim asuhan Pelatih Roberto Martinez dibantu asistennya yang merupakan rekan seangkatan Didier Deschamps, Thierry Henry merupakan tim haus gol.  Belgia memiliki trisula piawai dalam diri  Eden Hazard, Romelu Lukaku dan Kevin de Bruyne.

Prancis yang sempat mandul di fase penyisihan grup, mulai membaik di babak knock-out dengan menggilas Argentina 4-3 dan Uruguay 2-0.

Dengan komposisi  tim yang relatif seimbang di semua lini, wajar bila Prancis lebih diunggulkan. Namun, sekali lagi perlu diingatkan bagi fans Les Bleus bahwa generasi emas Belgia yang bertabur bintang akan memberikan kejutan. Jangan- jangan Prancis menjadi korban berikutnya setelah Brasil. Selamat menonton. *

Sepenggal Kisah Ngongo dan Nganga


ilustrasi
Catatan Sepakbola Dion DB Putra

POS-KUPANG.COM – Langkah Brasil berakhir di Kazan Arena 6 Juli 2018 malam atau 7 Juli waktu Indonesia. Liukan goyang Samba tak sanggup mengalahkan tim bertabur bintang asal Eropa, Belgia. Selecao pulang sebelum babak Final Piala Dunia 2018. Takdir Neymar, Paulinho, Marcelino, Coutinho, Willian, Gabriel Jesus dan kolega hanya sampai di sini. Babak perempat final.

Banyak yang sedih, tak sedikit pula yang kecewa. Air mata tumpah di banyak tempat. Sumpah serapah, ungkapan getir sedih memenuhi linimasa media sosial. Dari musim ke musim rontoknya Brasil selalu menyembulkan kehebohan. Dunia terlanjur jatuh cinta pada tim Samba. Cinta dan air mata kerap seiring sejalan.

Jumlah penggemar Brasil terbesar sejagat raya. Maklum negara ini pemegang trofi Piala Dunia terbanyak yaitu lima kali. Selama pesta Rusia 2018 sudah ada korban nyawa gara-gara bakuolok mengenai kiprah tim Samba. Hukum psikologi idola hanya mau mendengar, melihat dan menerima yang baik-baik saja. Peribahasa bilang tahi kucing pun rasa cokelat.

Apa daya Brasil 2018 tak segarang Brasil 2002. Lagak cengeng, manja dan makan puji menyertainya. Bahkan cukup sering berpura-pura, bikin blunder dan sekadar ngongo dan nganga (baca: bingung alias tidak tahu mau melakukan apa) di mulut gawang lawan sebagaimana dikatakan pencintanya asal Kota Kupang, Pius Rengka.

Baca: Malam Bertabur Bintang di Kazan

Brasil memang sempat berjuang keras setelah tertinggal pada paruh pertama. Namun, secara taktikal Belgia lebih baik sehingga mampu mempertahankan keunggulan 2-1 sampai akhir laga. Belgia pantas berada di semifinal bersua juara 1998, Prancis yang menghentikan langkah menawan Uruguay 2-0. Habis sudah wakil Latin Amerika. Bumi Eropa milik Eropa. Juara dunia 2018 milik benua biru.

Sejumlah orang mengaitkan kegagalan Uruguay dengan absennya striker hebat Edinson Cavani yang cedera saat mereka memulangkan Cristiano Ronaldo dan rekan di babak 16 besar. Sesungguhnya ketidakhadiran Cavani hanya mengurangi daya gedor Uruguay, tetapi bukan itu musabab kekalahan.

Uruguay antiklimas. Penyakit semacam ini kerap melanda tim-tim solid ketika mengikuti kejuaraan bergengsi dalam kurun waktu lama. Setelah meraih hasil sempurna di fase grup dan gagah perkasa menekuk Portugal 2-1 di perdelapan final, Uruguay gagal merawat spiritnya ketika jalannya kompetisi makin menanjak. Melawan Prancis, Uruguay tampil jauh di bawah level terbaik mereka.

Luis Suarez dan kolega yang begitu solid pilar pertahanannya dengan noda hanya sekali kebobolan, mendadak longgar kala melawan Les Bleus. Amat mudah ditembus Antoine Griezmann, Giroud, Kylian Mbape dan Paul Pogba.

Gol serangan udara Varane cermin lemahnya koordinasi Caceres, Godin, Gimenez mengawal musuh. Blunder Musrela yang menghasilkan gol kedua Prancis melengkapi nasib tragis Uruguay. Luis Suaez selama 90 menit hanya berlari-lari kecil karena minimnya umpan matang dari sayap kiri, kanan apalagi assist manis dari blok tengah. Uruguay pantas tersisih.

***

MALAM ini , Sabtu 7 Juli 2018 air mata mungkin akan tumpah lagi di berbagai negeri termasuk di bumi Flobamora ketika Inggris bertempur melawan Swedia demi meraih satu jatah semifinal. Sebagai pusat rujukan liga terbaik dunia, timnas Inggris punya banyak fans. Saban pekan serunya Liga Utama Inggris menjadi tontonan penggemar bola sejagat. Dunia pun familiar dan mengenal nama-nama pemainnya.

Setelah menyingkirkan Kolombia, pasukan Gareth Southgate kini berada di jalur yang benar demi mengulang kejayaan 1966. Ada yang menyebut peluang Harry Kane dan kolega sangat besar untuk menjadi semifinalis lantaran “hanya” bersua Swedia. Tim medioker Eropa yang penggemarnya minim amat.

Jangan salah duga kawan. Swedia itu diam-diam ubi berisi. Mereka memiliki modal kuat untuk menjegal langkah Inggris. Penggemar Italia dan Belanda pasti belum lupa bahwa Swedialah yang memupus harapan tim kesayangan mereka lolos ke Piala Dunia 2018. Di babak kualifikasi zona Eropa, Swedia begitu dingin menghabisi kans Gli Azzuri dan tim Oranye Belanda.

Selama berkiprah di Rusia 2018, Swedia pun mengemas hasil meyakinkan. Sukses Emil Forsberg dkk menjuarai Grup F dengan menggeser Meksiko dan Jerman lalu menekuk Swiss tanpa perpanjangan waktu, merupakan peringatan serius bagi Inggris.

Sejak dulu Swedia selalu menjadi lawan tangguh bagi pasukan Tiga Singa. Selama 43 tahun atau sejak 1968 hingga 2011, Inggris tanpa kemenangan menghadapi Swedia. Dalam pertandingan kompetitif, Inggris bahkan cuma sekali unggul dari delapan pertemuan melawan Swedia.

Pertemuan terakhir mereka di turnamen besar adalah ajang Piala Eropa 2012. Kala itu the Three Lions menang dramatis 3-2 berkat gol Andy Carroll, Theo Walcott, dan Danny Welbeck. "Sebagian besar dari mereka menghormati kami,” kata striker Swedia, Marcus Berg seperti dilansir Reuters.

Buruknya rekor pertemuan Inggris vs Swedia diakui Gareth Southgate. Pelatih yang selalu tampil rapi itu tidak meremehkan Swedia. "Selama bertahun-tahun kita (Inggris) selalu meremehkan mereka (Swedia). Namun, Swedia melahirkan kisah mereka sendiri dan membuat sejarah. Kami tidak akan melakukan kesalahan yang sama lagi,” kata Southgate seperti dikutip Telegraph.

Swedia merupakan tim yang solid. Kinerja pilar pertahanan mereka sangat bagus. Dari empat laga yang sudah dijalani, Swedia hanya sekali kebobolan. Sejak fase grup sampai 16 besar, mereka cuma kemasukan gol saat kalah dari Jerman. Swedia sulit ditembus. Saat bertahan, para striker bisa menjadi bek. Begitu rapi tim ini melindungi kotak penalti dari serbuan lawan.

Sebaliknya, Inggris selalu kebobolan sejauh ini di Piala Dunia 2018. Gawang Jordan Pickford kemasukan masing-masing 1 gol saat melawan Tunisia, Panama, Belgia, dan Kolombia. Artinya Inggris mesti merapikan lini pertahanan mereka sambil menambah daya kreasi untuk menembus barikade Swedia demi menciptakan gol.

Harry Kane, Dele Ali, Raheem Sterling, Jesse Lingard, Kieran Trippier cs hendaknya tidak bosan menggempur. Jauhkan sindrom ngongo dan nganga di kotak penalti Swedia. Diperlukan beragam skenario yang efektif agar bisa mencetak gol dalam waktu 90 menit. Kalau sampai babak perpanjangan waktu dan adu penalti, nasib baik belum tentu memihak Inggris lagi.

Kapten Swedia, Andreas Granqvist sangat optimistis menjelang pertandingan melawan Inggris di Samara Arena malam nanti. Dia yakin Swedia bisa memulangkan Harry Kane dan kawan-kawan lebih dini.

"Ada yang berkata, dari seratus kali pertemuan, sembilan puluh sembilan kali Inggris bakal menang. Ya, mari kita bermain dan lihat hasilnya. Kami tahu Swedia biasanya bermain bagus ketika berhadapan dengan Inggris. Kami selalu mendapat hasil yang baik,” kata Andreas Granqvist.

Mantan pelatih timnas Inggris asal Swedia, Sven-Goran Eriksson juga mengingatkan pasukan Gareth Southgate agar tidak makan puji serta over percaya diri. "Sebuah kesalahan apabila mereka (Inggris) berpikir pertandingan nanti bakal berlangsung mudah. Ini akan menjadi laga tersulit mereka di turnamen," kata Eriksson seperti dilansir oleh Sky Sports.

Kalau Inggris sanggup mengalahkan Swedia, maka jalan mereka sangat mungkin berakhir indah hingga malam 15 Juli 2018 di Kota Moskwa yang bertaburan kerlap kembang api, bir dan vodka. *
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Best WordPress Themes