Tampilkan postingan dengan label Paus. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Paus. Tampilkan semua postingan

Pope Of the People



Oleh: Helga Maria Evarista Gero

Dosen Sosiologi Fisip Undana Kupang - NTT

POS-KUPANG.COM - Dalam lanskap dunia modern yang ditandai oleh ketimpangan, migrasi paksa, kekerasan berbasis identitas, dan krisis ekologis, kehadiran Paus Fransiskus menjadi semacam suara kenabian yang melintasi batas-batas keagamaan. 

Dijuluki Pope of the People, Paus Fransiskus membawa wajah baru bagi institusi Katolik yang selama ini cenderung dianggap elitis dan konservatif.

Sejak terpilih pada 2013, Paus Fransiskus membawa angin pembaruan dalam cara Gereja Katolik memaknai keberadaannya di tengah masyarakat global yang makin dilanda krisis: ketimpangan ekonomi, krisis migran, konflik bersenjata, kerusakan lingkungan, serta dekadensi moral dalam institusi keagamaan itu sendiri. 

Ketika ia berkata, “Ini adalah waktu belas kasih, bukan Waktu ketertutupan,” ia sedang menentang arus populisme xenofobik yang tumbuh di Eropa dan Amerika Latin. Paus tidak tinggal diam. 

Ia menjadikan hak asasi manusia (HAM) sebagai basis teologis dan praksis pelayanan Gereja. 

Kita dapat membaca pendekatan Paus Fransiskus sebagai bentuk reformasi praksis — sebuah gerakan yang menyatukan spiritualitas dengan perjuangan sosial. 

Agama dalam konteks ini bukan sekadar ritual, tapi alat pembebasan. Inilah jiwa yang menjadi fondasi moral perjuangan Paus Fransiskus membela kaum miskin, tertindas, dan terpinggirkan.

Gereja yang Berjalan Bersama Kaum Miskin

Dalam dunia yang semakin dikendalikan oleh struktur neoliberal global, peran institusi keagamaan sering kali terpinggirkan, atau justru dijadikan alat legitimasi kekuasaan. 

Paus Fransiskus menolak posisi ini. Ia menegaskan bahwa Gereja tidak boleh menjadi sekadar institusi moral yang netral, melainkan komunitas perlawanan terhadap ketidakadilan.

Paus Fransiskus menyebut Gereja ideal sebagai “rumah sakit lapangan”—institusi yang hadir bukan di tempat nyaman, melainkan di tengah luka sosial: pengungsi yang tersisih, buruh migran yang diperas, keluarga miskin yang kehilangan tanah, dan lingkungan hidup yang dihancurkan. 

Gereja harus turun tangan, bukan hanya berdoa dari kejauhan. Dalam banyak pernyataannya, Paus dengan lantang mengecam sistem ekonomi global yang menciptakan “budaya pembuangan” (throwaway culture) dan menyebut kapitalisme tanpa kendali sebagai bentuk baru dari penyembahan berhala.

Enrique Dussel dan Paulo Freire (meski lebih dikenal di bidang pendidikan) mendorong gereja dan institusi sosial untuk menjadi subjek aktif dalam proses emansipasi rakyat. 

Dalam semangat itu, Paus Fransiskus mempopulerkan konsep “Gereja yang berjalan bersama umat” (synodality), yaitu gereja yang bukan menara gading tapi komunitas yang mendengarkan jeritan rakyat kecil.

Sebagai contoh, Laudato Si’ — ensiklik lingkungan yang menjadi dokumen moral dunia dalam isu krisis iklim. 

Paus Fransiskus tidak hanya bicara soal kerusakan bumi, tapi menyentuh dimensi sosial-ekologis: bahwa penderitaan bumi selalu paralel dengan penderitaan kaum miskin. 

Dalam kerangka ini, pembelaan terhadap Hak Asasi Manusia (HAM) bukan semata agenda politik, melainkan ekspresi iman yang hidup.

Tindakan Paus Fransiskus merupakan pembalikan struktur kekuasaan tradisional dalam gereja. 

Ia meruntuhkan tembok hierarki dan menggantinya dengan spiritualitas kerendahan hati. 

Gereja yang diperjuangkannya adalah gereja yang mengakar pada penderitaan, dan oleh karenanya, wajib menjadi bagian dari perjuangan sosial.

Kepausan dan Solidaritas Global dalam Dunia yang Terpecah

Dunia kini dilanda gelombang konservatisme, populisme, dan politik identitas yang memecah belah. 

Dalam situasi ini, Paus Fransiskus tampil sebagai tokoh dialog yang melampaui batas agama dan ideologi. Ia menjadi satu dari sedikit pemimpin dunia yang konsisten membela HAM universal.

Dalam dokumen Fratelli Tutti, Paus Fransiskus menyerukan persaudaraan lintas iman dan lintas bangsa. 

Ia juga mengecam nasionalisme sempit dan xenofobia yang berkembang di banyak negara Barat. 

Dalam setiap pidatonya, Paus Fransiskus mengingatkan bahwa setiap manusia—migran, pengungsi, tahanan, bahkan penjahat—memiliki martabat yang tak dapat dicabut. 

Ia menyebut pengabaian terhadap kaum migran sebagai “skandal moral global.”

Dapat dikatakan bahwa otoritas religius tidak dapat dipisahkan dari relasi kuasa dan simbol. 

Paus Fransiskus menggunakan posisi simboliknya sebagai pemimpin religius dunia untuk melawan narasi eksklusi dan kekerasan. 

Ia menggagas budaya perjumpaan sebagai antitesis dari budaya kebencian dan polarisasi.

Dalam dunia yang makin dipenuhi tembok (secara harfiah dan simbolik), Fransiskus memilih membangun jembatan. 

Ia tidak hanya menyerukan doa bersama, tetapi juga mendesak aksi kolektif: reformasi ekonomi global, pelindungan minoritas, penghapusan hukuman mati, dan penghormatan terhadap kelompok terpinggirkan.

Paus Fransiskus bukan tanpa kritik, baik dari kelompok konservatif dalam Gereja maupun dari pihak luar yang menganggap pendekatannya terlalu politik. 

Namun justru di sanalah letak kekuatan sosok ini: ia meredefinisi peran pemimpin agama sebagai pejuang nilai-nilai kemanusiaan universal, bukan sekadar penjaga doktrin. 

Dalam konteks Indonesia, khususnya di wilayah timur seperti NTT yang masih bergumul dengan kemiskinan, ketimpangan, dan marginalisasi, inspirasi dari Paus Fransiskus bisa menjadi suluh moral.

Perjuangan HAM, misalnya, bisa dimulai dari hal-hal konkrit: membela hak pekerja migran, mendampingi korban kekerasan seksual, mengadvokasi anak-anak putus sekolah, serta melindungi tanah adat dari perampasan oleh korporasi. 

Paus Fransiskus bukan hanya “Pope of the People”—ia adalah simbol yang mengajarkan bahwa iman sejati berada di jalanan—di tempat di mana suara-suara yang dibungkam harus dibela, dan martabat manusia harus ditegakkan. 

Alih-alih menjadi penonton, kita dipanggil untuk menjadi aktor transformatif.  Seperti yang dikatakan Paus: “Iman yang tidak menjadi solidaritas adalah iman yang mati.” (*)

Sumber: Pos Kupang


Paus Fransiskus dan Orang Muda Katolik

 

Paus Fransiskus di Jakarta 2024

Oleh : Frids Wawo Lado 

POS-KUPANG.COM - Dalam satu kunjungan pastoral ke Rio de Janeiro pada 2013, Paus Fransiskus berdiri di hadapan jutaan anak muda dalam World Youth Day dan berseru: “Hagan lío!” yang berarti “Bikin keributan!”

Akan tetapi keributan yang dimaksud bukan kerusuhan, melainkan keributan iman: iman yang berani bertanya, yang tidak diam ketika dunia buta arah, yang tidak gagap menyuarakan kasih dalam zaman yang semakin gaduh dan sarkastik.

Orang Muda Katolik bukan figuran dalam drama Gereja. Mereka adalah tokoh utama di babak baru sejarah iman.

Dari Takhta Menuju Trotoar

Paus Fransiskus bukan Paus biasa. Ia bukan tipe pemimpin yang menyukai kursi empuk atau tongkat gading. 

Sejak awal kepausannya pada 2013, ia menghindari kemewahan Vatikan dan memilih tinggal di Wisma Santa Marta.

Ia lebih suka bicara tentang “Gereja yang berdebu karena keluar ke jalan” daripada “Gereja yang steril tapi mandul karena nyaman di balik tembok.”

Ia memeluk logika inkarnasi: Allah yang menjadi manusia, bukan untuk duduk di singgasana, tapi berjalan di debu jalanan. 

Maka, dalam diri Paus Fransiskus, banyak anak muda menemukan sosok gembala yang tidak menggurui, tapi berjalan bersama. 

Seperti Yesus yang berjalan dengan dua murid di Emaus, mendengarkan sebelum menjelaskan (Luk 24:13–35).

Iman yang Relevan atau Romantis Sesaat?

Bagi generasi yang dibesarkan dalam era digital, kesabaran bukanlah virtue utama.  Mereka tumbuh dalam algoritma instan dan informasi yang membanjiri.

Gereja tak bisa lagi bicara dengan bahasa abad pertengahan dalam dunia yang sedang berdansa dengan kecerdasan buatan.

 Maka Paus Fransiskus, dalam Christus Vivit (2019), menulis: "Orang muda bukan hanya masa depan Gereja, mereka adalah masa kini Allah."

Di sini ada pesan teologis yang tajam: iman tidak bisa hanya diwariskan, ia harus dikonversi secara eksistensial, menjadi milik pribadi, bukan saja tradisi keluarga.

Ini menggemakan seruan Paulus: “Bukan lagi aku yang hidup, tetapi Kristus yang hidup dalam aku” (Gal 2:20).

Data menunjukkan bahwa banyak orang muda Katolik saat ini merasa jauh dari institusi Gereja. 

Survei Pew Research Center (2022) menyebutkan bahwa lebih dari 50 persen orang muda Katolik di Amerika Latin merasa “kurang relevan” dengan pengajaran resmi Gereja. Tapi anehnya, mereka tetap tertarik pada Yesus.

Mereka mungkin kecewa pada institusi, tapi tidak pada Injil. Maka, tugas Gereja bukan membuat mereka kembali pada “aturan,” tapi menemani mereka kembali pada “relasi.”

Cor ad cor loquitur: Hati Bicara Kepada Hati

Paus Fransiskus sangat memahami adagium ini. Ia tahu, orang muda tidak sedang mencari Gereja yang “benar,” tapi Gereja yang “tulus.” 

Mereka tidak lapar doktrin, mereka haus otentisitas. Mereka ingin didengar sebelum diajari.

Maka dalam banyak homilinya, Paus lebih suka berbicara sebagai teman, bukan hakim. 

Dalam dunia yang letih oleh kebisingan, suara keheningan yang empatik justru lebih didengar.

Dalam hal ini, gaya Fransiskus sangat Augustinian: In necessariis unitas, in dubiis libertas, in omnibus caritas. 

Dalam hal-hal yang esensial: kesatuan. Dalam hal-hal yang meragukan: kebebasan. Dalam semua hal: kasih.

Orang Muda Jangan Hanya Duduk di Bangku

Proses Sinode tentang Sinodalitas (2021–2024) yang digagas Fransiskus adalah momen emas untuk mendobrak hierarki satu arah.

Ini bukan reformasi kecil-kecilan. Ini revolusi spiritual. Paus Fransiskus ingin agar Gereja bukan lagi seperti menara gading yang turun perintah, tapi seperti tenda Abraham yang terbuka, menampung suara dari pinggiran, termasuk suara orang muda yang sering hanya dijadikan objek, bukan subjek.

Ia menantang mereka untuk tidak pasif. Dalam Laudato Si’, ia berbicara tentang krisis ekologi dengan nada kenabian, dan di situlah orang muda sangat aktif, karena mereka sadar, masa depan bumi adalah masa depan mereka.

Di sinilah titik temu antara iman dan aksi sosial. Iman yang tidak mengakar dalam dunia nyata hanyalah mistik semu. Fides sine operibus mortua est, Iman tanpa perbuatan adalah mati (Yak 2:17).

Menjadi Katolik Bukan Menjadi Lama, Tapi Menjadi Dalam

Orang muda bukan ingin meninggalkan iman. Mereka ingin iman yang bisa berjalan bersamarealitas mereka. 

Mereka ingin tahu bahwa menjadi Katolik bukan berarti kembali ke masalampau, tapi masuk lebih dalam ke masa kini, dengan roh kasih, bukan topeng moralitas kosong.

Paus Fransiskus mengajak semua orang muda untuk jangan takut berbeda. Iman bukan soal menjadi mainstream, tapi menjadi meaningful.

Dalam dunia yang memuja kecepatan, iman mengajak untuk bertumbuh. Dalam dunia yang menuntut pencitraan, iman mengajak untuk menjadi otentik.

Maka tugas orang muda Katolik hari ini bukan mempertahankan institusi, tapi menghidupkan relasi, dengan Allah, sesama, dan bumi.

Paus Fransiskus hanya membuka pintu. Tapi kitalah yang harus melangkah masuk dan duduk di meja sejarah, membawa suara yang jernih dan hati yang bersinar.

Iman yang Bersuara, Harapan yang Bertindak

Gereja bukanlah museum orang kudus. Ia adalah rumah sakit bagi yang luka. Dan dalam rumah sakit itu, orang muda bukan hanya pasien. 

Mereka juga bisa jadi dokter, perawat, bahkan arsitek tata ruang yang baru.

Paus Fransiskus percaya pada kekuatan anak muda. Maka dunia Katolik hari ini bukan milik para kardinal di Roma semata, tapi milik mahasiswa yang gelisah di Jogja, pegiat lingkungan di Kupang, relawan sosial di Papua, dan seniman rohani di Bandung.

“Veritas vos liberabit.” Kebenaran akan memerdekakan kamu (Yoh 8:32). Tapi kebenaran hanya akan didengar jika ia disampaikan dengan kasih dan kehadiran yang nyata.

Jadi, jangan hanya bikin konten. Bikin perbedaan. Jangan hanya hadir di misa. Hadirlah di dunia.

Karena seperti kata Paus Fransiskus: “The Church needs you. The world needs you. Don’t be afraid to dream big.” Gereja membutuhkanmu, dunia membutuhkanmu, jangan takut bermimpi besar.

Selamat jalan menuju keabadian Papa Fransiskus, dan selamat berjumpa dengan Sang Gembala Agung. Nasihat dan kebajikan-kebajikanmu menjadi inspirasi kami semua yang masih berziarah di muka bumi yang fana ini. (*)

Sumber: Pos Kupang

Peran dan Tugas Kardinal dalam Gereja Katolik

Paus Fransiskus dan para kardinal
 Paus Fransiskus pada akhir Agustus 2019 memilih Mgr Ignatius Suharyo sebagai kardinal Indonesia. Suharyo adalah kardinal ketiga Indonesia.

Kardinal pertama adalah Mgr Justinus Darmojuwono yang dilantik pada 1967 di sela pengabdiannya sebagai Uskup Agung Semarang periode 1963 sampai 1981.

Kardinal kedua adalah Mgr Julius Darmaatmadja yang ditunjuk pada 1994 saat menjabat sebagai Uskup Agung Semarang.

Pada tahun 1996 Mgr Julius diminta menggembalakan Keuskupan Agung Jakarta menggantikan Mgr Leo Soekoto. Mgr Julius mundur dari Jakarta karena alasan kesehatan pada 2010.

Mgr Julius digantikan Mgr Suharyo yang kemudian ditunjuk Sri Paus sebagai kardinal.

Apa itu kardinal? Bagaimana posisinya dalam Gereja Katolik? Berikut ini ulasan Pastor Markus Solo Kewuta, SVD, Imam Kongregasi Serikat Sabda Allah (SVD) seperti dikutip dari Kompas.Com.

Kardinal adalah sebuah gelar rohani sangat tua di dalam Gereja Katolik, yang secara hirarkis berada langsung di bawah paus.

Paus Silvester I (314-335) adalah paus pertama yang menggagas dan membentuk gelar ini.

Secara etimologis kata "kardinal" berasal dari kata bahasa Latin "cardo", yang berarti engsel pintu yang menyambung dua helai pintu.

Kata "cardo" juga merupakan nama sebuah gereja utama kota Roma zaman dulu yang terletak di wilayah periferi Roma dan merepresentasi kehadiran gereja-gereja lokal di berbagai belahan dunia.

Berpijak pada dua pengertian di atas, seorang kardinal dipilih dan diangkat dengan sebuah tugas dan fungsi penting, yakni ibarat ‘’engsel“ yang menyambungkan Sri Paus (Tahta Suci Vatikan) dengan gereja lokal atau wilayah kerja di bawah tanggungjawab seorang kardinal.

Para kardinal bisa diidentifikasi dengan mudah melalui penampilan dengan pakaian kebesaran serba merah.

Para kardinal Gereja Katolik berbagai jenjang umur adalah anggota persekutuan para kardinal yang disebut kollegium para kardinal (College of Cardinals).

Kollegium para kardinal juga lumrah disebut "Senat Sri Paus" tetapi istilah ini sudah kedaluwarsa. Kadang istilah ini masih digunakan hanya dalam publikasi-publikasi atau tulisan-tulisan khusus saja.

Hilang munculnya istilah di atas kurang lebih sama dengan istilah lain, yakni "kollegium para kardinal yang kudus" (Holy College of Cardinals).

Penggunaan kedua istilah di atas melemah sejak tahun 1983. Istilah yang lebih popuper adalah kollegium para kardinal.

Setelah penganugerahan entitas ganda kepada Vatikan sebagai negara dan Tahta Suci melalui Traktat Lateran pada tanggal 11 Pebruari 1929, para Kardinal juga berikan julukan "pangeran-pangeran Gereja".

Hak prerogatif paus

Para kardinal yang dipilih dan diangkat oleh Sri Paus, dan ini merupakan hak prerogatif Sri Paus, bertujuan untuk mendukungnya di dalam menjalankan tugas kepausannya memimpin Gereja Katolik, baik secara individu, maupun secara kollegium.

Tugas para kardinal bisa bervariasi; mulai dari memimpin perkantoran-perkantoran Kuria di Vatikan, hingga pemimpin Gereja lokal negara masing-masing dan penasihat atau pengarah Gereja lokal.

Artinya, kardinal-kardinal yang tidak ditentukan oleh Paus untuk memimpin perkantoran Kuria di Vatikan, tetap tinggal dan bekerja di negara mereka masing-masing.

Mereka selalu siap bersedia untuk memenuhi panggilan Sri Paus, manakala kehadiran mereka di Vatikan dibutuhkan untuk sebuah tujuan penting tertentu.

Seorang kardinal yang berkarya di negaranya, tidak selamanya atau tidak harus menjadi pemimpin konferensi para uskup.

Hal ini bergantung dari kebutuhan dan hasil pemilihan yang independen. Ketidakharusan ini memberikan ruang gerak kepadanya yang lebih luas untuk menjalin relasi kerjanya dengan Sri Paus.

Tidak bertujuan merepresentasikan negara

Pengangkatan para kardinal pada dasarnya tidak bertujuan untuk merepresentasi sebuah negara. Banyak negara di mana hadir juga Gereja Katolik, tidak memiliki kardinal.

Hal ini merupakan hak prerogatif Paus yang berbasis pada kebutuhan beliau dan kriteria-kriteria yang beliau miliki.

Oleh karena pengangkatan seorang kardinal sesuai dengan kebutuhan Sri Paus, pada masa-masa terakhir, Paus Fransiskus bahkan juga memilih para pastor dan diangkat menjadi kardinal tanpa harus menjadi uskup atau uskup agung terlebih dahulu seperti lazimnya terjadi pada masa-masa sebelumnya.

Mereka-mereka itu biasanya memiliki kualifikasi-kualifikasi tertentu yang sangat mendukung tugas kegembalaan Sri Paus, atau oleh karena jasa-jasa dan pengalaman-pengalaman luar biasa yang dianggap bisa memberikan masukan penting bagi Sri Paus dalam menjalankan kepemimpinannya.

Tugas penting: memilih paus

Selain tugas-tugas di atas, para kardinal memiliki tugas lain yang sangat penting, yakni memilih paus yang baru. Ketika terjadi “Sedes vacans” (kekosongan jabatan Paus), para kardinal sebagai kollegium memimpin roda pemerintahan Gereja Katolik.

Selama “Sedes Vacans’’, artinya ketiadaan paus, para kardinal biasanya hadir di Vatikan untuk mengadakan pertemuan atau sidang harian guna membahas berbagai hal untuk menjamin jalannya pemerintahan serta mempersiapkan Konklav (upacara pemilihan Paus yang baru).

Selama masa ini, mereka tidak berhak menggantikan atau mengubah hukum atau keputusan serta ketetapan apapun yang sudah dilakukan oleh paus sebelumnya.

Pemimpin kollegium para kardinal adalah seorang kardinal dekan yang dibantu oleh kardinal subdekan.

Keduanya memiliki status titular kardinal uskup. Selain kardinal uskup, masih ada lagi dua pangkat lainnya di dalam hirarki kollegium kardinal yaitu kardinal imam dan kardinal diakon.

Gelar-gelar ini pertama-tama berkaitan dengan sistim administratif Tahta Suci Vatikan dengan gereja-gereja utama seputar Roma (gelar Kardinal Uskup) dan pembagian gereja-gereja titular di Roma (kardinal imam) dan pembagian institusi-institusi gereja di bagian diakonia dan sosial-karitatif, juga di kota Roma dan sekitarnya (kardinal diakon).

Kardinal diakon tertua menerima gelar protodiakon (diakon utama) dan memiliki tugas untuk mengumumkan nama paus yang baru terpilih dengan rumusan terkenal "habemus papam" (kita memiliki seorang paus).

Pengaturan dan penetapan ketiga gelar di dalam kollegium para kardinal diatur di dalam Kitab Hukum Kanonik atau Codex Iuris Canonici, Kanon 205 §1. Jumlah total kardinal segala jenjang umur saat ini adalah 215 orang (per 2 September 2019).

Dari jumlah ini, seandainya sebuah konklav terjadi pada hari ini, artinya sebelum ada pengangkatan kardinal baru oleh Paus, maka ada 118 kardinal berumur di bawah 80.

Mereka berhak memilih paus baru (dan berhak dipilih juga). Akan tetapi menurut Konstitusi Apostolik Paus Yohanes Paulus II “Universi Dominici Gregis”, ditetapkan 120 kardinal pemilih. Ketetapan ini belum diubah oleh Paus Fransiskus.

* Markus Solo, SVD adalah imam asal Pulau Flores, Nusa Tenggara Timur. Seorang ahli Islamologi. Kini bertugas menangani Desk Relasi Katolik-Muslim di kawasan Asia dan Pasifik, Wakil Presiden Yayasan Nostra Aetate "Pendidikan Dialog Lintas Agama" pada Kantor Dewan Kepausan untuk Dialog Antar Umat Beragama di Vatikan.

Sumber: Tribun Bali

Jangan Takut

Paus Yohanes Paulus II
(Merenda Usia Perak Kunjungan Paus Yohanes Paulus II ke Maumere)

Oleh Philip Ola Daen, CD

Rohaniwan

POS Kupang dalam beberapa edisi terakhir ini memuat seputar Paus Yohanes Paulus II dan visit kegembalaannya ke Maumere, Flores, NTT, Indonesia dan bermalam semalam di Ritapiret. Ritapiret menjadi Vatikan semalam. Kunjungan Paus Yohanes Paulus II ini berlangsung dari tanggal 11-12 Oktober 1989.

Kunjungannya ini semakin bernas muatan isinya karena ia sudah digelar kudus dengan nama Santo Yohanes Paulus II pada tanggal 27 April 2014. Dengan demikain peristiwa kunjungannya ini telah mencapai usia perak. Karena itu, peristiwa perak ini menjadi momentum  untuk berhenti sejenak dan menoleh sekejap ke belakang untuk merefleksikan hati, pikiran dan  jiwanya.

Momentum refleksi ini menjadi teramat penting karena ia adalah  satu sosok dari sekian banyak sosok yang paling penting dan berpengaruh dalam dunia dewasa ini, dan satu paus dari sekian banyak paus yang paling elokuent dan inspiratif  sepanjang zaman dengan salah satu seruannya "Be Not Afraid". Karena itu, untuk merendah usia perak kunjungannya ke Maumere menjadi lebih indah dan bermakna baiklah diangkat dan direfleksikan lagi seruannya  be not afraid - jangan takut.

Be not afraid - jangan takut adalah satu seruan yang diwartakan di Basilika Santu Petrus pada tanggal 22 Oktober 1978 saat ia mengawali kepausannya. Seruan ini membahana ke seantero jagat. Seruan ini sungguh mengembalikan harapan ketika harapan itu nyaris pupus dan membangkitkan keberanian ketika keberanian itu mulai berubah menjadi ketakutan.

Realitas dunia yang dihadapi adalah semata kekalahan demi keekalahan dalam perjuangan hidup. Di sini orang merasa bahwa Allah seakan tidak lagi berpihak pada mereka;  kebohongan dunia seakan selalu menang dan penderitaan seakan selalu mengincara hidup tanpa pernah berakhir. Namun bagi Yohanes Paulus II, realitas keputusasaan dan ketakutan tidak boleh menang.

Seruan be not afraid - jangan takut yang diwartakannya adalah satu kesaksian yang lahir dari pengalaman iman personal yang tangguh. Karena itu, seruannya ini tidak pernah pupus oleh waktu dan tawar oleh kebiasaan. Malahan seruannya ini semakin urgen dan relevan dalam realitas dunia dewasa ini ketika penderitaan dan kebohongan semakin merambah seluruh lini kehidupan yang mencemarkan dignitas humana dan merusak bonum commune.  Karena itu, untuk memaknai seruan be not afraid - jangan takut ini secara praktis dan aplikatif, baiklah dipresentasikan secara bebas secuil syering pengalaman imannya yang mendasari ketidaktakutannya.

Syering kekayaan imannya ini hendakya menjadi bahan untuk menstimulasi inspirasi kita dalam menghadapi realitas dunia dewasa ini ketika ada perasaan menggelinding seakan Allah tidak berpihak pada kita,  ketika ada perasaan mengemuka seakan kebohongan selalu menang, dan ketika ada perasaan mengusik seakan penderitaan tidak pernah berakhir.

Be not afraid. Jangan takut bahwa Allah gagal menyiapkan apa yang kita butuhkan. Ia akan selalau menyediakannya untuk kita. Ingat! Aku kehilangan seluruh anggota keluargaku sebelum aku berusia 21 tahun. Saudariku satu-satunya meninggal sebelum aku lahir. Ibuku meninggal ketika aku berusia 8 tahun.

Kakakku satu-satunya, seorang dokter yang sangat aku cintai dan kagumi juga meninggal tiga tahun kemudian; dan kurang dari satu dekade sesudah itu, ayahku yang menjadi inspirasi spiritualku yang luar biasa juga meninggal secara tragis. Jadi pada saat usiaku menanjak 20 tahun aku sudah kehilangan semua orang yang aku kasihi. Tetapi Tuhan selalu ada di sana bagiku, dan Ia selalu juga ada di sana bagimu.

Be not afraid of lies. Jangan takut akan kebohongan. Kebohongan yang dunia ceritakan padamu setiap hari adalah tentang pribadi manusia, tentang hidup dan maknanya. Ketika aku hidup di bawah aturan Nazi dan Komunis di Polandia aku memerangi kebohongan ini setiap hari. Aku tahu kebenaran itu berakar dalam imanku dan aku wartakannya secara terbuka dan lugas sejauh aku dapat. Nazisme dan Komunisme adalah sistem politik dan ekonomi yang dibangun di atas kebohongan yang luar biasa, sehingga mereka dibodohi dari sejak permulaan.

Banyak orang terkejut ketika komunisme Soviet runtuh di Eropa Timur pada tahun 1990-an tetapi aku tidak terkejut. Apa yang dibangun di atas kebohongan, pada akhirnya mati. Karena itu, jangan takut akan kebohongan.

Be not afraid of sufferings. Jangan takut akan penderitaan. Dalam hidup aku menderita dalam aneka cara. Aku hanya mengatakan padamu beberapa dari antaranya: kehilangan semua anggota keluargaku sebelum aku berusia 21 tahun; hidup bertahun-tahun di bawah tekanan Nazi dan Komunis dan aku terpakasa belajar untuk menjadi imam secara sembunyi-sembunyi. Ada juga penderitaan yang lain seperti, saat aku ditembak di pelataran Basilika Santo Petrus pada tahun 1981 dan hampir mati, dan juga perjuanganku yang panjang dan sulit dengan penyakit Parkinson. Tetapi melalui semua penderitaan ini dan semua pencobaan yang lain dalam hidupku, aku memandang Allah dan menemukan kekuatanku di dalamNya.

RahmatNya selalu cukup buatku, dan itu juga akan selalu cukup buatmu. Untuk itu, be not afraid-jangan takut.

Paus Yohanes Paulus II sudah tidak ada lagi. Namun seruan imannya, be not afraid - jangan takut terus menggemah dan menjadi inspirasi yang berdayagugah dan berdayagugat. Karena itu, be not afraid - jangan takut hendaknya menjadi inspirasi kita dalam memperjuangkan martabat manusia sebagai imago dei, dialog, perdamaian, kedailan dan politik karena kita tahu bahwa mengubah dunia tidak semudah membalikan telapak tangan.

Ada banyak tantangan dan kesulitan; ada banyak kegentaran dan ketakutan. Tetapi ia telah membuktikan kebenaran seruannya itu sampai akhir hidupnya. Dan sekarang ia sudah digelar kudus yang pestanya dirayakan pada tanggal 22 Oktober setiap tahun. Sebagai orang kudus Santo Yohanes Paulus II juga pasti terus menyertai perjuangan kita dengan doanya yang tak kenal putus dan  terus meneguhkan kita dengan seruannya  tanpa henti  Be Not Afraid - Jangan Takut. *

Sumber: Pos Kupang 15 Oktober 2014 hal 4

Maestro Kemanusiaan itu 'Putra' Konsili Vatikan II

Paus Yohanes Paulus II
(Mengenang 25 Tahun Lawatan Paus Yohanes Paulus II di Indonesia)

Oleh Rm. Richard Muga Buku, Pr

Koordinator Totus Tuus Community Cristo Re Maumere.


TANGGAL 2 April 2005 waktu Vatikan (3 April waktu Indonesia), Paus Yohanes Paulus II melepaskan napasnya yang terakhir. Menarik bahwa Bapa Suci ini meninggal pada tahun ke-40 penutupan Konsili Vatikan II. Mungkin tidak banyak yang tahu bahwa sosok ini aktif dalam seluruh pergulatan Konsili Ekumenis yang makan waktu kurang lebih 3 tahun itu.

Ia bahkan mengakui `Putra dari Konsili Vatikan II' sebagai ekspresi betapa mendalamnya ia dipengaruhi Konsili Vatikan II dalam seluruh karya kepemimpinannya sebagai orang ke-264 yang menduduki takhta warisan Santo Petrus. Dan saat ini ketika umat Katolik Indonesia mengenang 25 tahun lawatan Paus yang sudah dikanonisasi (digelar santo) pada tanggal 27 April 2014 itu dan 50 tahun Konsili Vatikan II, baiklah kita menyelisik kiprah Bapa Suci yang boleh digelari Putra dari Konsili Vatikan II ini.

Ketika pada tanggal 28 Januari 1959, Paus Yohanes XXIII mengumunkan akan diadakan sebuah konsili ekumenis, Karol Wojtyla baru saja beberapa bulan menerima tahbisan sebagai uskup pembantu di keuskupan Krakovia. Dalam usia yang relatif masih muda, 38 tahun, Woijtyla yang kala itu dosen etika sosial katolik pada Universitas Katolik Lublin (KUL: Katolicki Uniwersytet Lubelski), menjadi uskup termuda dalam sejarah Gereja Polandia. Doktor teologi jebolan Universitas Angelicum Roma ini sebelumnya ditarik dari tugas rutin pastor pelajar dan mahasiswa di paroki Santo Florianus untuk memperkuat staf pengajar Universitas Lublin.

Tesis habilitasinya mengenai karya monumental Max Scheler: Der Formalismus in der Ethik und die Materiale Werethik. Neuer Versuch der Grundlegung eines Ethischen Personalismus (Formalisme dalam Etika dan Etika Nilai Material. Percobaan baru Pendasaran Personalisme Etis) yang pada hematnya tidak dapat diandalkan sebagai dasar teoritis untuk membangun etika Kristen.

Tesis berjudul An Assessment of the Possibility of Building a Cristian Ethic on the Principles of the System of Max Scheler (Penilain terhadap Kemungkinan Membangun Sebuah Etika Kristen Atas Dasar-Dasar Sistem Etika Max Scheler) itu diaprovisasi (=diterima) oleh para dosen serentak `membaptisnya' menjadi dosen etika di KUL pada tahun 1955 sampai pada penunjukkan dirinya sebagai Uskup Agung Krakovia di tengah sesion perhelatan Konsili Vatikan II.
Pada tanggal 24 Desember 1959, Wojtyla mendapat tugas khusus dari Komisi Persiapan Konsili Vatikan II untuk merancang materi seputar krisis humanisme (=krisis kemanusiaan) yang tengah dihadapi dunia pada saat itu. Tentu bukan tanpa alasan persoalan ini dilimpahkan kepada seorang dosen muda di wilayah berbasis komunisme. Pemikir dengan `nada dasar' pembelaan manusia sebagai persona ini justru sangat memberi penekanan pada martabat manusia sebagai persona.

Manusia adalah makhluk yang unik, hidup di dunia ini dengan nutrisi spiritual, suatu misteri baik bagi dirinya sendiri maupun untuk yang lain, suatu ciptaan yang martabatnya tersingkap dari kedalaman hidupnya sebagai citra Allah. Krisis humanisme mendesak Gereja untuk tidak hanya bagi hidup dan untuk dirinya sendiri. Kehadiran Gereja di dalam dunia mesti memainkan peran humanisasi dalam kemasan nilai-nilai kekristenan agar dapat mengimbangi segala janji humanisasi yang mengandalkan sarana-sarana duniawi yang justru menciptakan dehumanisasi dan degradasi dalam banyak aspek kehidupan manusia. Inilah salah satu simpul perjuangan Uskup Wojtyla selama kehadirannya dalam ruangan konsili.

Seperti diketahui Konsili Vatikan II dibuka secara resmi pada tanggal 11 Oktober 1962. Dalam kurun waktu kurang lebih 3 tahun hingga penutupannya tanggal 7 Desember 1965, Uskup Wojtyla melakukan beberapa intervensi (=masukan/pertimbangan dalam suatu session sidang). Pada tanggal 7 November 1962 ia berbicara dalam suatu intervensi tentang `Pembaharuan Liturgi Gereja' dan menyusul tanggal  21 November 1962  tentang `Wahyu Ilahi'. Pada tanggal 3 Juni 1963 Paus Yohanes XXIII yang membuka pintu konsili meninggal dunia. Gereja yang sedang berupaya membuka diri tidak ingin terlalu lama berada dalam kevakuman (sede vacante).

Tanggal 21 Juni 1963 Paus Paulus VI memegang kendali Gereja sekaligus melanjutkan cita-cita pendahulunya. Pada musim gugur 1963, kembali Uskup Wojtyla berbicara di hadapan konsili yang sedang membahas topik `Umat Allah', sebuah tema yang memberi visi baru yang kaya mengenai Gereja. Selanjutnya tanggal 25 September 1964, ia melakukan sebuah intervensi mengenai `Kebebasan Beragama'.

Intervensi yang terakhir ia berikan ketika para bapa konsili berbicara tentang kiprah `Gereja di tengan dunia kontemporer' pada tanggal 21 Oktober 1964, tema yang cukup mendapat sentuhan filsafat personalistis Wojtyla dan menempatkan Wojtyla sebagai salah seorang anggota tim perumus draft final konstitusi Gaudium et Spes, sebuah dokumen konsili yang membahas bagaimana Gereja yang sedang ber-aggiornamento ini mestinya berada dan berperan di tengah dunia kontemporer.

Dari intervensi-intervensi tersebut, kiranya dua yang berikut ini perlu diberi perhatian. Pertama, intervensinya pada sesion ketiga konsili yang berbicara tentang `ekumenisme' yang bermuara pada dokumen Dignitatis Humanae. Dalam intervensi yang ia bawakan pada tanggal 25 September 1964 ini, Uskup Agung Krakovia amat menekankan penghargaan terhadap kebebasan beragama sebagai dasar dari gerakan ekumene. Kebebasan amat eksistensial bagi setiap manusia. Bukan saja `kebebasan dari' tapi terutama `kebebasan untuk', khususnya kebebasan untuk mencari dan menemukan kebenaran. Kebebasan adalah unsur esensial dalam ziarah menuju kebenaran.

Kebebasan membimbing kita kepada kebenaran. Karena itu kebebasan mesti bertanggung jawab. Seseorang bukan saya bisa berkata `saya bebas', tapi mesti juga berkata `saya bertanggung tawab'. Orang bertanggung jawab atas apa yang ia lakukan dalam kebebasannya. Semakin bebas, semakin orang harus bertanggung jawab. Itulah kebebasan eksistensial, kebebasan melekat pada martabat manusia.

Dalam koridor demikian setiap orang secara bebas dapat mengekspresikan personalitasnya dan juga bertanggung jawab atasnya. Atas dasar itulah, manusia juga secara bebas berelasi di tengah dunia dan dengan ajaran agama yang diyakini dapat melambungkan dia kepada kebenaran sebagai puncak ekspresi kebebasannya. Judul dokumen konsili vatikan II Dignitatis Humanae yang secara harafiah berarti `kebebasan manusia' jelas menampilkan dimensi filosofis kebebasan setiap orang untuk beragama sebagai yang melekat erat pada martabat personalitas dan otonomitasnya.

Kedua, Gaudium et Spes, sebuah dokumen konsili vatikan II yang berbicara tentang kiprah `Gereja di tengan tata dunia kontemporer'. Perdebatan seputar dokumen ini dimulai pada hari Rabu 22 September 1965. Selasa pada minggu berikutnya, 28 September 1965, Uskup Agung Wojtyla berbicara di hadapan Bapa-Bapa Konsili  mengemukakan apa yang menurut sejumlah pengamat dinilai sebagai pidatonya yang paling terkenal selama konsili berlangsung.

Dia tegaskan bahwa konstitusi pastoral yang baru mesti lebih sebagai sebuah permenungan dari pada suatu tuntutan doktrinal karena keprihatinan dasariahnya adalah pribadi manusia, manusia dilihat sebagai persona yang dimengerti dalam kebersamaan relasi dengan manusia lain dan segala yang mengitarinya. Penegasan persona manusia sebagai dasar meretas relasi Gereja dengan dunia kontemporer ini disampaikan sedemikian semangat dan berapi-api oleh mantan dosen etika Universitas Lublin ini sampai moderator sidang, Kardinal Döpfner dari München menginterupsi dengan mengatakan `waktu bicara sudah selesai'. Wojtyla menyinggung realitas dunia kontemporer saat itu yang masih amat kuat dipengaruhi ateisme modern.

Gereja bagaimana pun mesti juga berdialog dengan ateisme modern sebagai kenyataan yang tak bisa ditampik. Dialog dengan para ateis mesti berpijak pada fundamen yang diakui bersama yakni  martabat manusia sebagai persona. Sebagai persona, setiap manusia memiliki kebebasan di dalam dirinya. Perbedaan antara orang beragama dan orang ateis terletak pada pemaknaan kebebasan itu sendiri. Bagi orang kristen kebebasannya dimaknai dalam keintiman hubungan dengan Allah, sedangkan kaum ateis dalam kebebasannya justru semakin menjauhkan diri dari Allah, mengingkari Allah dan dengan itu mereka justru semakin terpuruk dalam kesunyian yang radikal, kesunyian yang menakutkan. Di titik itulah, dalam dialog dengan kaum ateis, orang-orang beragama menawarkan jalan pemaknaan baru kebebasan bagi mereka.

Gaudium et Spes adalah dokumen yang mendapat banyak sentuhan intelektual Karol Wojtyla. Agar lebih memahami nilai strategis dokumen ini, orang mesti memahami konteks dunia kontemporer masa itu. Gereja yang ingin membuka diri kepada dunia saat itu diharapkan untuk tidak saja turun dengan sejumlah doktrin atau tutuntan iman tapi dengan pemahaman yang brilian tentang manusia sebagai persona yang memiliki nilai-nilai ultim dalam dirinya sendiri.

Gereja tampil dengan konsep humanisme baru, humanisme yang diilhami perjumpaan manusia dengan Kristus yang berinkarnasi bukan untuk mengasingkan manusia dari kemanusiaannya tetapi justru menyingkap tabir kebenaran yang utuh martabat manusia dan nasib akhirnya yang mulia dan bahagia. Dalam relasi dengan Kristus manusia tidak mengalami keterasingan atau rasa hampa makna yang radikal (sebagaiman nasib kaum ateis) tetapi justru mengalami kebersamaan sebagai suatu rahmat untuk saling memberi dan menerima diri. Di sana humanisme baru terbentuk, humanisme yang diwarnai oleh penghargaan terhadap tiap pribadi sebagai persona yang secara bebas mengada bersama dalam kesalingan memperkaya yang harmonis.

Wojtyla memberi suatu `visi dari dalam' yang begitu kuat terasa sehingga ada yang `membaptis' Konsili Vatikan II dengan `Konsili Personalistis'. Refleksinya seputar martabat manusia sebagai persona ia tuangkan juga dalam sebuah buku yang mengulas struktur tindakan manusia berjudul Osoba y czyn atau Pribadi dan Tindakan. Buku buah refleksi filosofis di sela-sela perhelatan konsili tersebut mengupas struktur tindakan manusia sebagai pengungkapan personalitasnya. Manusia mengungkapkan antara lain siapa dirinya melalui tindakannya. Buku ini dibahas dengan dua pendekatan filosofis yang saling memperkaya, filsafat Aristoteles-Thomas Aquino dan `filsafat fenomenologi' sebagaimana dikembangkan oleh Max Scheler. Seorang mantan murudnya, Tadeus Styczen berkomentar bahwa dalam karya ini, Wojtyla mengajak kita beralih dari afirmasi Rene Descartes: cogito ergo sum (saya berpikir maka saya ada) kepada cognosco ergo sum (saya mengenal/saya memahami maka saya ada). Pengenalan atau pemahaman yang dimaksud adalah pemahaman yang lahir dari tindakan-tindakan sadar manusia sebab dalam dan melaluinya manusia bukan saja mengenal sesamanya tetapi juga mengungkap siapa dirinya.

Tindakan yang dimaksud bukanlah tindakan yang egosistis tapi yang terjadi dalam relasi dengan sesama yang juga saya hargai sebagai persona. Untuk itu Wojtyla menekankan dimensi sosialitas ini dengan menampilkan tida kta kunci `partisipasi, solidaritas dan transendensi'.

Penekanan terhadap persona manusia ini menjadi warna dasar karya kepausan Karol Wojtyla. Tidak perlu dideretkan lagi di sini apa saja yang pernah ia lakukan sebagai bentuk pembelaannya terhadap persona manusia. Ia adalah maestro di bidang kemanusiaan. Martabat manusia menjadi paradigma setiap bentuk interaksi dan relasi. Manusia sebagai pribadi yang bermartabat tidak pernah boleh -meminjam istilah filsuf Immanuel Kant- digunakan sebagai sarana untuk kepentingan apapun. Inilah paradigma paling kokoh jika kita ingin membangun masyarakat bangsa dan dunia yang semakin manusiawi; suatu tatanan hidup bersama di mana individu-individu yang bergabung di dalamnya tidak hanya puas dalam kungkung subyektivisme, relativisme, komunalisme atau juga totalisme yang merusak kemanusiaan universal.

Akan tetapi kenyataan bersaksi bahwa nilai-nilai kemanusiaan universal atau martabat manusia kadang hanya sebatas retorika yang menopeng maksud dan kepentingan-kepentingan tertentu. Dalam hal ini patut kita angkat topi sekali lagi kepada Immanuel Kant yang menegaskan `kehendak baik' sebagai yang amat penting dalam pemaknaan moralitas hidup manusia. Hanya sayang bahwa yang tahu tentang maksud baik seseorang ada orang itu sendiri. Kejujuran menjadi ciri kemartabatan dan mutlak penting bagi seseorang menampilkan personalitasnya apa adanya, bebas dan bertanggung jawab.

Dimensi inilah yang antara lain diperjuangkan oleh almarhum Paus Yohanes Paulus II selama hayatnya masih di kandung badan. Peranan mantan Uskup Agung Krakovia ini selama Konsili Vatikan II mungkin tidak sehebat para Kardinal seperti Kardinal Franz König, Kardinal Frings, Kardinal Döpfner, Kardinal Alfrink, Kardinal Suenens atau juga tidak segigih Kardinal Bea yang sangat besar pengaruhnya dalam meloloskan dokumen Nostra Aetate, dan tentu saja tidak sepengaruh Kardinal Alfredo Ottaviani, kepala Sanctum Officium yang dengan semboyangnya semper idem berupaya untuk mereduksi sejauh mungkin hasil-hasil sidang agar selaras dengan kehendak Curia Romana.

Wojtyla hadir dalam Konsili Ekumenis itu sebagai salah seorang Uskup dari Gereja lokal Polandia, Gereja yang menderita. Dia tahu apa artinya penderitaan dan dia tahu pula bagaimana Gereja semestinya berkiprah dalam realitas penderitaan. Selain aktif dalam hampir semua sesi konsili, Wojtyla adalah pendengar yang setia dan kreatif. Ia amat menyadari betapa bernasnya Konsili Vatikan II. Ia adalah `Putera dari Konsili' yang tahu apa yang harus ia lakukan untuk menjawabi harapan-harapan Konsili. Hal itu ia buktikan dalam 26 tahun lebih masa pontifikatnya yang berakhir pukul 21.37 tanggal 2 April 2005 waktu Vatikan. Dan, hari-hari ini mengenang 25 Tahun Kunjungannya ke Indonesia dan 50 tahun berlangsungnya Konsili Vatikan II ini baiklah dijadikan sebagai momentum untuk mencermati wajah Gereja lokal Indonesia saat ini dalam terang semangat pastoral, gagasan-gagasan dan spiritualitas Santo Yohanes Paulus II dan amanat Konsili Vatikan II.*

Sumber: Pos Kupang 13 Oktober 2014 hal 4

Kamar Santo Yohanes Paulus II di Maumere Jadi Tempat Ziarah

Romo Ewaldus di kamar Santo Paus Yohanes Paulus II
KAMAR yang ditempati mendiang Santo Paus Yohanes Paulus II di Seminari Santo Petrus Ritapiret, Maumere saat mengunjungi Sikka 11-12 Oktober 1989 lalu,  telah menjadi kamar doa dan tempat ziarah bagi umat Katolik.

Kamar itu pun telah direnovasi dan semua perlengkapan di dalam kamar yang ada kala itu dikembalikan ke posisi semula.

Demikian Praeses Seminari Tinggi Santo Petrus Ritapiret Maumere, Romo Edwaldus Martinus Sedu, Pr saat ditemui Pos Kupang di ruang kerjanya, Jumat (10/10/2014) pagi.

Dikatakan Romo Ewal, demikian dia disapa, beberapa fasilitas yang perlu disimpan di Kamar  Paus,  antara lain kasula yang pernah dipakai Paus saat pimpin misa, kursi  yang diduduki saat misa dan piala.

Sampai saat ini pihak seminari belum bisa mengidentifikasi Kasula yang dipakai Paus kala itu. Sedangkan kursi, berada di Gereja Katedral Maumere. Sedangkan  piala dan tempat Paus berlutut untuk berdoa, menurut rencana segera  dikembalikan dan disimpan di Kamar Paus pada pemberkatan kamar itu, Minggu (12/10/2014).

Misa mengenang 25 tahun kehadiran Santo Paulus Yohanes Pualus II  di Ritapiret itu digelar Minggu (12/10/2014) dipimpin oleh Romo Patrick Guru, Pr, dihadiri internal komunitas Ritapiret dan umat sekitar. 

Pekan-pekan terakhir menjelang peringatan puncak itu, Centro John Paul II, panitia khusus yang menggali spiritualitas Santo Paulus II menyelenggarakan seminar, retret dan sosialisasikan spiritualitas Santo Yohanes Paulus II kepada pelajar SMAK Yohanes Paulus II Maumere.

Romo Ewal mengakui pasca bencana gempa bumi 1992, kamar itu tidak diperhatikan secara khusus. Kamar Paus digunakan sebagai tempat pertemuan dan kegiatan lainnya.
Santo Yohanes Paulus II

"Kita sudah renovasi kamar Paus dan kita upayakan kembali seperti keadaan semula. Kamar itu sudah jadi kamar doa dan tempat ziarah, terutama mereka yang secara khusus berdevosi kepada Sang Santo," kata Romo Ewal.

Meski masih secara sporadis, tetapi setiap tahun secara regular terdapat kelompok-kelompok yang datang mengunjungi Kamar Paus. Mereka datang untuk berdevosi kepadanya.

"Terutama kalau menjelang Proses Samana Santa di Larantuka. Sebelum mereka ikut ke sana, mereka banyak singgah di sini," tutur Romo Prases yang kala kunjungan Paus, tengah berada di semester V di seminari itu.

Kamar  Paus berada di tengah-tengah kamar para frater, padahal seminari itu memiliki kamar khusus untuk para tamu istimewa kala itu.

Romo Ewal sendiri belum menemukan jawaban mengapa Paus menempati kamar di antara para frater kala itu.

"Dugaan kita, mungkin demi keamanan saja. Semua frater waktu itu, tidak tahu kalau kamarnya di sana. Padahal ada kamar lain untuk para imam, " kata Romo Ewal.

Disaksikan Pos Kupang, tempat tidur Paus masih rapi dengan sprei putih dan bantal. Pada dinding di atas kepala, dipasang pigura Sang Santo ketika wafat pada 2 April 2005 lalu di Roma.

Di sisi kiri dan kanan tempat tidur terdapat masing-masing satu lemari kecil. Terdapat dua meja, satu meja buku dan satu lagi meja kerja dan terdapat satu kursi kayu.

Sedangkan di ruangan di depan kamar tidur Paus terdapat satu meja makan dengan empat kursi terbuat dari rotan dan tiga kursi bersantai. Sedangkan dinding diriasi foto kenangan ketika Paus berada bersama frater di Seminari Tinggi Ritapiret.

Seminari Tinggi Ritapiret juga menata kamar yang ditempati Duta Besar Vatikan untuk Indonesia, Mgr. Fransesco Canalini dan Sekretaris Pribadi Paus, Stanislao Sziwisz. Keduanya mendampingi Paus saat berkunjung ke Maumere.

Pada dinding di luar kamar, telah dipasang prasasti sederhana menuliskan kamar paus itu. Menurut rencana, seminari akan membangun satu patung Sang Santo di taman di depan kamar. 

Sedangkan di Gelora Samador Maumere, tempat Paus menyelenggarakan misa akbar tidak ditemukan tanda mata yang mengingatkan kehadiran tokoh bersejarah dalam gereja Katolik ini. Gelora hanya terdapat coretan dan tidak terurus. (*)

Sumber: Pos Kupang 11 Oktober 2014 halaman 9

Messi, Maradona, dan Paus

Paus Fransiskus (AFP)
Oleh Sindhunata

Sejenak rakyat Argentina di Buenos Aires seperti tersihir dalam diam. Namun, begitu di televisi diumumkan dan diperlihatkan Paus yang baru, mereka pun meledak dalam jerit dan sorak tak terkatakan. ”Argentina, Argentina!” demikian mereka berteriak di mana- mana. Jalanan pikuk dengan klakson mobil. Bendera Argentina dikibar-kibarkan. Luapan sukacita ini persis seperti ledakan kegembiraan saat pertandingan final kesebelasan Argentina menekuk Jerman 3-2 dan menjadi juara Piala Dunia 1986 di Mexico City.

Messi, Maradona, Paus! Begitulah mereka berteriak-teriak ketika mereka tahu bahwa Paus yang baru adalah Kardinal Jorge Mario Bergoglio, Uskup Agung Buenos Aires. Bangsa mana yang tidak bangga bila mereka mempunyai legenda seperti Messi dan Maradona? Dua legenda itu sudah seperti rahmat berlimpah. Apalagi sekarang mereka mempunyai Paus Fransiskus. Lengkap sudah kegembiraan dan kebanggaan rakyat Argentina.

Tak hanya rakyat Argentina, tetapi seluruh dunia pun bergembira karena terpilih Paus yang menyebut dirinya ”datang dari ujung dunia ini”. ”Ia seperti kuda hitam yang jadi juara. ”Ia bukan favorit. Saya sama sekali tak dapat berkomentar, saya tegang,” kata seorang bernama Emanuel Sargari dari Santa Fe, Argentina, di tengah lautan manusia yang memadati halaman Gereja Santo Petrus, Roma. Saking tegangnya, ia sampai lupa menggoyang-goyangkan bendera Argentina.

Beberapa orang Italia kelihatan kecewa karena yang terpilih bukanlah Kardinal Angelo Scola dari Milan, jago yang sempat diunggulkan. ”Ya, tak apalah, sekurang-kurangnya ia mempunyai darah Italia,” kata seorang wanita Italia menghibur diri. Nada bicaranya seperti seorang fans bola yang jagonya kalah.

Dunia mengharap Paus Fransiskus akan membawa angin perubahan yang segar. Orang kiranya ingat akan catatan yang ditinggalkan Kardinal Italia terkenal, Carlo Martini. Sebelum kematiannya tahun lalu, Martini menyebut bahwa Gereja Katolik ini ketinggalan 200 tahun lamanya. Ritual Gereja megah dan meriah, tetapi berhadapan dengan zamannya, Gereja kehilangan nyali dan menjadi penakut.

Menurut Martini, Gereja lelah dan terseok-seok karena keberatan beban, seperti beban birokrasi yang melebihi proporsi dan beban liturgi yang melulu ritualistik belaka. Gereja harus bisa menemukan bara apinya lagi di tengah tumpukan abu yang menenggelamkannya.

Kardinal Bergoglio memilih nama Fransiskus untuk jabatan kepausannya. Fransiskus (1182-1226) adalah seorang kudus pembaru Gereja. Ia meninggalkan segala kekayaan dan kenikmatan dunia, lalu hidup sebagai orang miskin dan memberikan diri seluruhnya kepada kaum miskin. Semasa masih menjadi Uskup Agung di Buenos Aires, seperti Santo Fransiskus yang ingin diteladaninya, Kardinal Bergoglio adalah pembela hak asasi dan pengkritik yang bersuara keras terhadap keserakahan yang merusak ekologi. Hidupnya juga dekat dengan orang miskin. Ia tidak tinggal di istana uskup, tetapi di apartemen. Ke tempat kerja ia menggunakan kendaraan umum. Ia sungguh kardinal yang sederhana.

Belum lama ini, ia mengkritik warga Argentina yang seperti sudah kerasukan setan dari imperium uang, yang kiprahnya terlihat, misalnya, dalam perdagangan manusia, obat bius, dan korupsi. Itu semua akan membuahkan kekerasan, yang merusak keluarga. Dan, korbannya lebih-lebih adalah anak-anak dari keluarga miskin.

Paus Fransiskus kiranya akan terus memperjuangkan keprihatinannya tadi. Karena itu, semoga ia tak defensif mempertahankan hierarki kekuasaan yang selama ini mengurung pertahanan Gereja terhadap tantangan dari luar. Siapa tahu ia bisa menjadi ”Maradona Gereja”, yang berani mendobrak struktur Gereja yang terlalu defensif.

Dengan menyebut nama Maradona, kita kiranya boleh mengingat bagaimana situasi dunia bola pada waktu itu. Setelah era Pele dan Johan Cruyff, dunia bola lama sekali tenggelam dalam sistemnya yang defensif. Datanglah Piala Dunia 1986, dan Diego Maradona muncul menjadi dirigen yang mengobrak-abrik sistem itu. Ia bermain dengan eksplosif, lincah, dan gembira. Permainannya yang ofensif dan genius menunjukkan bahwa sistem defensif itu sudah usang dan keropos.

Waktu bermain di Napoli, Maradona juga menjadi dewa penyelamat. Napoli hanyalah kesebelasan yang pas-pasan kala itu. Namun, di tahun 1986/1987, Maradona dapat membawanya menjadi juara Liga Seri A untuk pertama kali. Malah Napoli juga meraih piala tingkat Eropa juga untuk pertama kalinya, ketika di tahun berikutnya meraih Piala UEFA.

Seperti Napoli telah mengambil Maradona dari Argentina, kini Vatikan juga mengambil Kardinal Bergoglio dari ”ujung dunia”. Diharapkan, ia juga bisa mendobrak kemacetan Gereja akibat sistem pertahanan yang hierarkis dan defensif. Ia akan dapat, karena kiranya ia yakin kekuatannya tidak berasal dari kekuasaan hierarki, tapi dari kegembiraan iman umatnya. Memerintah tanpa takut, punya nyali terhadap tantangan zaman, dan tidak terbebani beban birokrasi hierarkis yang berlebihan, inilah yang kiranya diharapkan dari Paus Fransiskus itu.

Argentina tidak hanya punya Maradona, tapi juga Lionel Messi. Messi memang belum pernah membawa Argentina jadi juara dunia. Namun, bersama Barcelona, Messi telah menunjukkan dominasinya di kancah Eropa dan Liga Champions. Dan sekarang diakui bahwa Liga Champions ini tak kalah arti dan mutunya dengan Piala Dunia atau Piala Eropa.

Lain dengan Maradona yang flamboyan, Messi adalah seorang pendiam dan pemalu. Tapi, kata Pep Guardiola, ”Ada bermacam-macam tipe pemimpin. Ketika situasi sedang sulit, Messi akan muncul. Dan ia mengerjakan dengan baik tugas kepemimpinan di saat sulit itu empat tahun lamanya. Kepemimpinannya adalah kepemimpinan yang diam. Dalam pergolakan, ia selalu maju ke depan.”

Dengan memilih Paus Fransiskus dari Argentina, Gereja Katolik kiranya kelihatan sedang membutuhkan kepemimpinan macam itu. Kepemimpinan yang tidak banyak bicara, yang berani bertindak, dan membuahkan gol di tengah segala kemacetan yang terjadi.

Karena itu, Messi, Maradona, dan Paus sesungguhnya bukanlah sekadar seruan kegembiraan dari para fans bola, melainkan juga sebuah seruan harapan: Semoga Paus dari Argentina ini dapat memimpin Gereja, seperti Messi dan Maradona memimpin bola.

Semoga Paus Fransiskus dapat kembali menyalakan kegembiraan beriman, menghapus ketakutan, mempunyai nyali untuk membuat terobosan, seperti Messi dan Maradona yang haus untuk membuat gol di dunia bola. (*)

Sumber: Kompas.Com

VIDEO KEHEBATAN MARADONA

Pilihan yang Tidak Diduga

Paus Fransiskus (tengah)
Oleh Simon Saragih

Kardinal Jorge Mario Bergoglio menjadi Paus Fransiskus? Tidak ada yang menduga. Namanya tidak masuk dalam ”papabili”, atau daftar kandidat unggulan untuk menjadi Paus baru pengganti Paus Emeritus Benediktus XVI.

Calon terdepan yang semula disebut-sebut adalah Uskup Agung Milan, Kardinal Angelo Scola. Dia dianggap bisa mengembalikan Italia ke dalam Takhta Suci Vatikan yang diduduki Paus non-Italia dalam 35 tahun terakhir ini.

Kalaupun ada keinginan agar kardinal non-Eropa yang terpilih, nama yang disebut antara lain Kardinal Odilo Scherer, Uskup Agung Sao Paulo (Brasil) atau Kardinal Sean O’Malley, Uskup Agung Boston, Amerika Serikat.

Dalam kultur gereja, sebenarnya tak ada yang perlu dikagetkan karena pemilihan Paus selalu dianggap buah dari lantunan ”Veni Creator Spiritus”. Sebelum diambil sumpah di Kapel Sistina, sebanyak 115 kardinal beriringan masuk kapel dengan menyanyikan lagu itu. Intinya memohon pendampingan Tuhan saat konklaf.

Namun, dari sisi manusiawinya, tetap ada rasa penasaran, bagaimana Bergoglio terpilih menjadi Paus?

Sebenarnya, mudah saja untuk menjelaskannya. Sejumlah pakar Vatikan mencatat, Bergoglio berada pada urutan kedua setelah Kardinal Joseph Ratzinger (Jerman) yang kemudian menjadi Paus Benediktus XVI pada konklaf 2005. Sejak itu, nama Bergoglio sudah ada dalam benak para kardinal.

Sikapnya yang antikorupsi, pendukung keadilan sosial, sikap kukuhnya soal doktrin konservatif, menarik perhatian warga. Ini menarik juga bagi para kardinal. Cara hidupnya yang sederhana, dan jauh dari sikap feodal juga menarik perhatian.

”Dia memberi sinyal kesederhanaan,” kata Kardinal Donald Wuerl, Uskup Agung Washington, AS. ”Dalam banyak hal, dia sangat bersahabat, tetapi kukuh. Dia amat menyenangkan dan hampir tanpa ada ketakutan, sekaligus sungguh bersikap seorang pastor dan peduli kepada orang lain. Itu cocok dengan tantangan sekarang ini,” kata Wuerl.

Kardinal Thomas Collins, Uskup Agung Toronto, Kanada, berpendapat sama. ”Dia peduli, menyenangkan. Kami mengapresiasi talenta yang dia miliki dan itu merupakan hadiah. Dia mencintai umatnya di Buenos Aires. Sejarah pelayanannya sudah terkenal,” kata Collins.

Saat makam malam bersama seusai konklaf di Rumah Santa Marta, Kardinal Timothy Dolan, Uskup Agung New York, mengenang Bergoglio bercanda. ”Semoga Tuhan memaafkan Anda semua,” ujar Bergoglio, kepada para kardinal yang telah memilihnya sebagai Paus.

Lima kali voting

Konlaf kali ini berlangsung lewat lima kali pemungutan suara. Voting pertama adalah pada Selasa 12 Maret. Empat kali pemungutan suara berlangsung pada Rabu (13/3), dua kali di pagi hari dan dua kali di petang hari.

Konklaf 2005 hanya melewati empat kali voting. Diskusi persiapan jelang konklaf saat itu juga hanya tiga hari. Kali ini, para kardinal menggelar kongregasi umum hingga delapan hari sebelum konklaf dimulai.

Dari sisi usia, tidak disangka jika Bergoglio, yang kehilangan satu paru-paru karena infeksi di masa muda, akan terpilih. Berbeda dengan para kardinal lain yang dijagokan, Bergoglio tidak pernah memegang jabatan apa pun di pemerintahan Vatikan, yang dikenal sebagai Kuria. Dia hanya tercatat menjadi anggota sejumlah kongregasi dan komite, seperti Kongregasi untuk para Imam, Dewan Kepausan untuk Keluarga, dan Komite Amerika Latin.

Namun, inilah misteri konklaf. Bergoglio sendiri memegang moto ”miserando atque eligendo”, yang berarti ”bersahaja tetapi terpilih” di Keuskupan Agung Buenos Aires. Sikapnya yang bersahaja berhasil membuatnya terpilih.

Sepak terjang Bergoglio memperbaiki reputasi gereja menjadi hal mengena. Uskup Agung Vienna, Austria, Kardinal Christoph Schoenborn, mengatakan, saat persiapan konklaf semua hal didiskusikan oleh para kardinal. Mulai dari keuangan bank Vatikan, manajemen yang kaku, komunikasi yang beku, dan oknum-oknum gereja yang terlibat skandal.

Ada keinginan tumbuh suasana baru dalam gereja dan Takhta Suci. Dalam konteks ini, Bergoglio menjadi perhitungan para kardinal.

Kardinal Timothy Dolan mengenang peristiwa konklaf. ”Saat perhitungan suara mencapai 77 suara untuk Bergoglio, para kardinal sudah bertepuk tangan. Saat semua suara selesai dihitung, kami bertepuk tangan lagi dengan gemuruh. Kami bertepuk tangan lagi dengan meriah ketika Bergoglio menyatakan ’mau menerima’”.

”Ada semacam kelegaan karena kami tahu memiliki gembala yang baik. Dia membumi, kukuh, sungguh tulus, dan bersahaja,” kata Dolan.

Pastor Kornelius Sipayung OFM Cap, ahli teologi lulusan Universitas Gregoriana, Roma, mengatakan, Paus baru ini akan membawa banyak perbaikan.

Pada hari Kamis, Kardinal Jean-Pierre Ricard, Uskup Agung Bordeaux, Perancis, mengenang betapa Bergoglio meninggalkan tradisi lama. Protokol di Takhta Suci Vatikan memperlakukan Paus seperti pemimpin tertinggi.

”Kami menyingkir memberinya jalan usai tampil di balkon Basilika dan diperkenalkan kepada khalayak. Namun, dia ingin berjalan bersama kami,” kata Ricard.

Para kolega merasa dekat dan senang. ”Bergoglio tidak suka memaksakan kehendak. Dia mendengar,” kata Sergio Rubin, penulis biografi Bergoglio.

Kelemahan yang dikaitkan dengannya adalah kediktatoran Argentina di era lalu. Teolog Italia, Massimo Faggioli, mengatakan, ”Jangan naif. Politik di Argentina bukan persoalan yang mudah.” Kediktatoran Argentina adalah warisan gelap negara. (AFP/AFP/REUTERS)

Sumber: Kompas.Com

Perangai dan Kalimat Paus Fransiskus

Paus Fransiskus bayar sendiri biaya menginap di hotel (AFP)
Dia ke resepsionis Hotel Casa Martha membayar sendiri biaya menginap, Kamis (14/3/2013), sehari setelah terpilih sebagai Paus. Dia memakai sepatu biasa dan jam biasa. Dia naik bus mini menuju makan malam bersama para kardinal yang memilihnya.

Paus Fransiskus dengan afeksi menyapa mereka. "Siapa yang bikin proses konklaf lama? Kiranya Tuhan memaafkan semua yang bikin kita capek. Malam ini saya ingin tidur tenang, dan firasat saya berkata kalian juga ingin tidur pulas sekarang kan?" seperti dikutip harian AS, The New York Times, edisi Jumat (15/3/2013).

Kardinal New York, Timothy Dolan, mengenang perbincangan itu untuk menggambarkan suasana seorang Paus yang menyenangkan.

Pada sebuah institusi kuno (lama), gaya khusus dan unik sering ditampilkan ke permukaan. Ada nuansa aristokratis dan elitis. Paus Emeritus Benediktus XVI (85), adalah seorang teolog yang memiliki rasa pada karpet merah, jubah kemegahan, dan homili bernuansa pemahaman tinggi pada teologi. Ini seperti menghidupkan selera kepausan dari abad-abad silam.

Paus Fransiskus sebaliknya, mengirimkan pesan kesahajaan. "Ini mengindikasikan di atas segalanya sebuah gaya gereja: kesederhanaan, kemiskinan dan kekukuhan," kata Pastor Antonio Spadaro, editor dari La Civilta, sebuah jurnal Jesuit yang dengan Kementerian Luar Negeri Vatikan.

Pada Kamis pagi setelah terpilih, Paus Fransiskus beranjak dari Vatikan dan secara pribadi berdoa pada Bunda Maria di Santa Maria Maggiore, sebuah basilika Romawi yang diperuntukkan pada Bunda Maria. Dia tentu juga berdoa di Kapel Santo Ignasius Loyola (1491-1556), pendiri Jesuit.

Pada hari itu, Kardinal Jean-Pierre Ricard (68), Uskup Agung Bordeaux, Perancis, mengenang tindakan Paus baru setelah menyapa masa dari balkon Basilika Santo Petrus. Dia beranjak bersama pada kardinal menuju tempat tinggal selama konklaf, Hotel Santa Martha.

"Ketika dia beranjak bersama kami ke Santa Martha, para staf menyuruh kami minggir, karena biasanya Paus menuruni lantai sendirian lewat lift. Akan tetapi dia bilang, 'Tidak, tidak, kita semua bisa turun bersama'. Jadi kami semua masuk ke dalam lift bersamanya."

"Ketika kami sudah tiba di lantai dasar, dia pun tidak mau terpisah. Mobil kepausan telah menantinya. 'Tidak, kita berangkat bersama-sama saja'. Lagi-lagi duduklah dia bersama kami di dalam sebuah bus. Mobil kepausan pun kosong. Saya kira inilah gaya Paus baru kita," kata Ricard.

Dalam homili saat misa di Kapel Sistine dengan para kardinal yang memilihnya pada hari Kamis, Fransiskus berbicara tentang keperluan pembangunan iman seperti cara Rasul Petrus membangun gereja di atas batu padas. "Jika kita tidak beranjak maju, berarti kita telah kaku," katanya, yang membuat para kardinal terperangah.

"Jika membangun rumah tidak di atas batu padas, hal yang terjadi serupa saja dengan anak-anak di pantai yang membentuk rumah-rumah di atas pasir. Semuanya ambruk," kata Fransiskus.

Kardinal Philippe Barbarin (62) dari Lyon, Perancis, mengenang Kardinal Bergoglio, kini menjabat Paus, saat ditanya mengapa tidak hadir bersama yang lain di Roma, saat Paus Benediktus XVI mengangkat sejumlah kardinal pada Desember 2012.

"Dia mengatakan Argentina sedang bergolak. Dia ingin tetap di sana, karena tidak tega meninggalkan negaranya. Bagi saya, ini adalah sebuah tindakan berarti. Dia ingin bersama umatnya," kata Kardinal dari Lyon ini.

Pada hari Sabtu (16/3/2013), dia berbicara dengan pada wartawan dari penjuru dunia. Dia menemui para wartawan dengan sambutan hangat. Ini kontras dengan citra Vatikan bernuansa "power" (kekuasaan). Dia senyum menyambut 3.000 wartawan dan hadirin lainnya di Vatikan. Dia menegaskan, agar gereja diperuntukkan bagi kaum pada.

Dia menjelaskan alasan mengapa memilih nama sebagai Paus Fransiskus. Ini karena dia terinspirasi oleh Fransiskus Asisi (1181-1226), seorang rohaniwan Italia abad pertengahan yang hidup miskin dan pendamba perdamaian. "Saya menginginkan gereja yang miskin menjadi milik orang miskin," katanya, dengan kalimat sarat makna sebagaimana diberitakan kantor berita Agence France Presse.

Gereja yang miskin, dalam hal ini kemungkinan merupakan penekannya tentang prioritas pendalam kehidupan spiritual. Namun dia tidak menjelaskan tuduhan terkait "Dirty War" di Argentina selama rezim kediktatoran Argentina (1976-1983).

Jorge Mario Bergoglio, kini Paus Fransiskus, pernah dituduh terlibat atau setidaknya berdiam diri, saat dua pastor Jesuit ditahan rezim. Namun dalam penjelasan sebelumnya disebutkan bahwa Bergoglio mendekati rezim agar dua Jesuit itu dibebaskan, dan lima bulan kemudian mereka memang dibebaskan. Dua Jesuit ini terlibat kegiatan sebagai aktivis sosial saat itu.

Paus Fransiskus menjelaskan suasana emosional pada momen pemilihannya pada hari Rabu (13/3/2013) lalu. Ini sesuatu yang juga unik dari seorang Paus baru. Dia tidak beku dengan nuansa kerahasiaan, yang biasanya hanya tersimpan di dalam Vatikan sendiri. Dia menjelaskan ketika para kardinal memilihnya.

Saat itu dia duduk di dekat Kardinal Brazil Claudio Hummes (78). Kardinal Hummes menyemangatinya saat jelas bahwa Bergoglio terpilih sebagai Paus ke-266. Fransiskus mengatakan dia sempat "deg-degan", ketika suara sudah terpenuhi untuk pemilihannya sebagai Paus baru.

"Dia memeluk saya dan mencium saya, seraya mengatakan agar saya jangan melupakan kaum papa. Dan kalimat itu tertanam di sini," kata Paus Fransiskus menunjuk kepalanya.

"Saya langsung terpikir akan Fransiskus Asisi, seorang yang hidup dina, pencinta perdamaian, dan mencintai semua ciptaan (lingkungan hidup). Sekarang hubungan kita dengan lingkungan sedang tidak berjalan baik," katanya.

Dia juga mengingat Fransiskus Asisi akan perang, yang pernah dia tinggalkan dan memilih perdamaian.

Para kardinal sempat bertanya, apakah nama Fransiskus yang dia pakai merujuk pada Santo Fransiskus de Sales (1567-1622). Nama ini pernah menjabat sebagai uskup di Geneva, Swiss. Di masa hidupnya dia gencar mendorong kembalinya pemeluk Protestan ke Katolik, yang ditinggalkan karena krisis di kepausan. De Sales adalah orang yang ingin memperbaiki gereja dari dalam.

Dia juga ditanyai, apakah namanya merujuk pada salah satu pendiri Ordo Jesuit, asal Ordonya, Fransiskus Xaverius (1506-1552). Ada canda dari sejumlah kardinal yang menyarankan penggunaan nama sebagai Hadrian VI, meniru seorang Paus tokoh reformis gereja, sebagai kebutuhan akan perlunya pembersihan sedikit keadaan acak-acakan di birokrasi Vatikan.

Beberapa menyarankan dia menggunakan saja nama sebagai Paus Klemen XV, melanjutkan nama Paus Klemen XIV, yang pernah menekan Ordo Jesuit pada tahun 1773.

Dia mengklarifikasi bahwa nama yang dia usung adalah Fransiskus Asisi. Almarhum Paus Yohanes Paulus II sendiri pernah menyatakan, Santo Fransiskus Asisi sebagai ikon pencinta lingkungan hidup. Fransiskus Asisi adalah orang yang hidup miskin dan meninggalkan keluarganya yang kaya-raya demi ketuhanan.

Dalam perkembangan lain, Vatikan pada hari Sabtu kemarin menyatakan untuk sementara Paus Fransiskus telah mengganti semua Kuria Roma, komposisi hierarki di Tahta Suci Vatikan, yang mendapatkan banyak kritikan. "Bapak Suci menginginkan masa refleksi, doa, dan dialog sebelum nominasi dan konfirmasi definitif berlangsung kelak," demikian pernyataan Vatikan.

Marco Politi, seorang analis dan penulis biografi Paus Emeritus Benediktus XVI, mengatakan, adalah sesuatu yang jelas bahwa Paus Fransiskus, pemilik kekuasaan absolut, ingin memimpin dengan gaya merangkul dan bahu membahu bersama para petinggi gereja.

"Gereja akan dipimpin Paus bersama dengan para uskup. Ini yang akan kita lihat dalam bulan-bulan dan tahun-tahun ke depan," kata Politi, yang mengindikasikan kepausan sekarang akan membuka ruang konsultasi dan dialog.

Dalam bahasa Italia yang unik, dia meminta para pemimpin Katolik memancarkan kemuliaan dan melakukan pembaruan spiritual gereja hingga akhir hayat, atau berisiko menjadi tidak lebih dari sekadar sebuah karitas tanpa fondasi spiritual. Gereja telah ditandai dengan sejumlah skandal yang dilakukan oknum-oknum gereja. Makin banyak fenomena penurunan spiritual di internal dan juga di kalangan umatnya.

Kepada para wartawan, dia meminta agar gereja tidak dipandang sebagai entitas politik semata tetapi juga sebagai institusi spiritual. Para wartawan juga diminta melihat esensi institusi ini, dengan segala keagungannya dan mungkin juga kesalahan-kesalahannya. Dengan kata lain para wartawan secara implisit diminta memberitakan Tahta Suci Vatikan, dengan cara yang sedikit berbeda seperti saat memberitakan pemerintahan negara biasa. Pemilihan paus misalnya, jelas sangat berbeda dengan pemilihan pemerintahan di banyak negara.

"Gereja eksis untuk mengkomunikasikan hal ini, kebenaran, ketuhanan dan personanya yang agung. Kita diminta bukan mengomunikasikan diri kita tetapi mengomunikasikan trio mendasar ini," kata Paus Fransiskus.

Agaknya Paus Fransiskus meminta, agar ada rasa khusus yang harus menjadi pegangan saat menuliskan dan memberitakan Tahta Suci Vatikan, yang juga berdiri sebagai sebuah negara tetapi sama sekali tidak serupa dengan pemerintahan umumnya. Para wartawan memiliki apresiasi positif terhadap Paus baru ini. "Simpel, simpati, sangat menyentuh," demikian Iacopo Scaramuzzi, seorang koresponden kantor berita Italia TMNews yang bertugas di Vatikan, saat melukiskan suasana perasaannya.

Alessandro Forlani, wartawan radio Italia, RAI, juga memiliki kesan baik soal Paus Fransiskus. "Dia memiliki rasa dalam berkomunikasi. Ada semangat Santo Fransiskus Asisi dalam dirinya. Saya meminta agar saya, istri dan anak saya di rumah diberkati. Dia bahkan mengatakan, berkat juga diberikan kepada hewan peliharaan di rumah saya," ucap Forlani, mengingatkannya pada Santo Fransiskus Asisi, yang juga mencintai alam, tumbuh-tumbuhan dan hewan. (SIMON SARAGIH). Sumber: REUTERS/AP/AFP

Sumber: Kompas.Com

Amelia Menolak Cinta Jorge

Paus Fransiskus (AFP)
Terpilih menjadi pemimpin umat Katolik sedunia, kisah kehidupan Paus Fransiskus satu per satu mulai mencuat ke publik. Salah satunya soal kisah cintanya di masa bocah yang membawanya menjadi seorang pastor dan akhirnya terpilih menjadi Paus.

"Jika saya tidak menikahimu, saya akan menjadi pastor," demikian kata-kata Paus Fransiskus yang bernama asli Jorge Mario Bergoglio, dalam surat cintanya kepada pujaan hatinya sekitar 60 tahun lalu, seperti dilansir news.com.au, Jumat (15/3/2013).

Surat cinta tersebut ditujukan kepada seorang wanita bernama Amalia dan dikirimkan ketika Jorge Bergoglio berusia 10-12 tahun. Cintanya ditolak, Jorge Bergoglio tidak bisa menikahi Amalia. Dia pun memilih jadi seorang pastor, uskup agung, kardinal dan akhirnya Paus Fransiskus.

Saat ini ketika Jorge Mario Bergoglio menjadi perhatian dunia karena terpilih sebagai Paus ke-266, sosok Amalia pun muncul. Wanita yang sudah berambut putih ini menceritakan kisah masa lalunya dengan Jorge Bergoglio muda ketika keduanya sama-sama menghabiskan masa kecil di wilayah Flores, Argentina.

"Dalam suratnya, dia (Paus Fransiskus) menggambar sebuah rumah kecil dengan atap berwarna merah dan dinding berwarna putih, dan dia menuliskan, 'rumah ini akan aku beli ketika kita menikah'," kenang Amalia, sembari menuturkan bahwa saat kecil, mereka berdua kerap berjalan menelusuri trotoar di lingkungan tempat tinggal mereka.

Namun sayang surat cinta tersebut dianggap serius oleh orangtua Amalia yang sangat konservatif. Mereka tidak ingin putrinya terkena skandal karena menerima surat cinta dari seorang bocah laki-laki. "Saya tidak menyembunyikan apa-apa (kepada orangtua), itu hanyalah kelakuan anak kecil," kata Amalia kepada wartawan yang menemuinya di Buenos Aires.

Hingga akhirnya, orangtua Amalia merobek surat tersebut dan berusaha menjauhkan putrinya dari Jorge Bergoglio muda. Kisah cinta keduanya pun berakhir, bahkan sebelum sempat dimulai.  Hari Rabu 14 Maret 2013), Kardinal  Jorge Mario Bergoglio yang kini berusia 76 tahun terpilih sebagai paus baru, menggantikan Paus Benediktus XVI yang mengundurkan diri 28 Februari lalu. Paus Fransiskus tercatat sebagai Paus pertama dari Benua Amerika.

Selain soal kisah cinta monyet itu,  Jorge Mario Bergoglio kecil dikenal bandel bahkan mendapat julukan 'setan kecil' dari guru dan suster yang mendidiknya.
Jorge Bergoglio kecil bersekolah di SD De la Misericordia, Buenos Aires. Saat itu, dia kerap dihukum, mulai dari harus naik-turun tangga sekolah hingga dihukum membaca tabel perkalian dengan keras-keras.

"Dia seperti setan, setan kecil, sangat nakal, seperti anak laki-laki kebanyakan. Siapa yang menyangka kalau dia akan menjadi Paus!" tutur bekas teman satu sekolah Jorge Bergoglio, Martha Rabino yang kini menjadi biarawati, mengenang kelakuan Jorge Bergoglio kecil sambil tersenyum.

Keluarga Jorge Bergoglio yang tinggal di wilayah Flores, Argentina dikenal religius dan rutin beribadah.  "Keluarga mereka mengikuti misa setiap hari Minggu. Ibunya sangat religius dan taat beribadah. Dia (Jorge Bergoglio-red) banyak belajar dari ibunya," tutur Rabino. Masih menurut Rabino, semasa kecil Bergoglio memiliki sejumlah suster yang mendidiknya dengan baik dan menjadi orang penting dalam hidupnya. Salah satunya adalah Suster Rosa yang merupakan guru pertamanya.

Bergoglio rutin mengunjungi Suster Rosa bahkan setelah dia telah menjadi seorang Kardinal Argentina. Terakhir kali, dia mengunjungi Suster Rosa ketika dia meninggal pada usia 101 tahun, pada tahun 2012 lalu.

"Dia gemar bertanya kepada Suster Rosa mengenai seperti apa dirinya ketika masih kecil, dan sang suster yang meski sudah berumur lanjut namun masih mampu berbicara jelas, akan menjawab: 'Kamu seperti setan. Apakah kamu tidak bisa menjadi lebih baik?' Dan dia (Bergoglio) akan mengerang sambil tertawa," kenang Rabino. Selain Suster Rosa, lanjut Rabino, masih ada satu suster lagi yang memberikan pengaruh besar dalam hidupnya, yakni Suster Dolores, yang merupakan guru katekisasi, pengajaran agama Nasrani. Ketika Suster Dolores meninggal dunia dua tahun lalu, Bergoglio menangis semalaman.

"Dia (Suster Dolores) merupakan salah satu suster yang sangat dia sayangi. Dia adalah guru katekisasinya ketika Bergoglio berusia 8 tahun dan Bergoglio tidak pernah melupakannya," ucap Rabino.(dtc/afp)


Sumber: Tribun Manado 16 Maret 2013 hal 1

Paus Fransiskus, Harapan akan Pembaruan

Paus Fransiskus
Oleh Kornelius Sipayung, Lic.S.Th.

Kardinal Argentina Jorge Mario Borgoglio menjadi Paus baru dari Ordo Serikat Jesuit (SJ) dengan mengambil nama Fransiskus. Ini merujuk pada Fransiskus dari Assisi. Paus dengan spirit dan semangat Jesuit tetapi dalam hidupnya berjiwa Fransiskan.

Dia mengasosiasikan diri dengan Santo dari Asisi yang begitu dicintai warga Italia dan dikenal sebagai simbol perdamaian, kemiskinan, dan kesederhanaan. Santo Fransiskus (1181-1226) dilahirkan dari sebuah keluarga kaya raya tetapi meninggalkan kekayaan dan kelak mendirikan ordo biarawan bernama Fransiskan.

Santo yang hidup di abad pertengahan ini di masa hidupnya rutin mengunjungi pedesaan untuk memberitakan kabar baik kepada orang-orang dalam bahasa yang sangat sederhana. Dia kelak menjadi nama pelindung negara Italia, tokoh pemerhati kaum miskin, pendamba "Lady of Poverty" (hidup miskin), dan pelindung lingkungan hidup.

Kini Gereja dan dunia mendambakan seorang Paus yang dapat membawa pembaruan. Sungguh suatu karya Roh Kudus bahwa Paus Fransiskus terpilih di tengah kebutuhan pembaruan.

Dalam sejarah, ada masa di mana Gereja mengalami kemunduran dan karena itu pernah pula ada gerakan dan tuntutan pembaruan. Tidak ada pembaharuan tanpa sebab-sebab yang mendahuluinya.

Jika kita mendengar kata pembaruan atau reformasi, sering pikiran kita kembali mengingat masa reformasi protestantisme. Barangkali sedikitnya ada kaitan antara situasi Gereja zaman ini dengan situasi Gereja pada zaman sebelum munculnya gerakan reformasi protestan.

Ada empat alasan mengapa muncul reformasi protestantisme. Pertama, tumbuh kesadaran nasionalisme dari sejumlah bangsa di benua Eropa saat itu. Pemerintah lokal berkepentingan memungut pajak demi kepentingan dan tujuan kenegaraan. Kepausan dipandang sebagai kekuatan ekstra-nasional yang merintangi terbentuknya bangsa dan negara. Perpajakan digalakkan Kepausan yang berdomisili di Avignon. Ini dianggap sebagai beban yang diletakkan atas bahu negara-negara.

Kedua, ada faktor Ketidakpuasan dan kekacauan di bidang ekonomi. Pada kurun waktu reformasi masa silam itu, sistem ekonomi yang berlaku adalah kapitalisme. Teknologi baru di bidang perkapalan, pertambangan, percetakan telah mendorong pembangunan ekonomi. Namun tatanan perekonomian seperti itu menimbulkan kesenjangan dalam masyarakat. Muncul banyak orang miskin yang terpinggir karena tidak sanggup bersaing dalam arus kapitalisme.

Faktor ketiga adalah kelemahan Kepausan. Suksesi dalam rangka kepausan mencapai ambang kejenuhan. Muncul pada masa ini tiga paus saat bersamaan. Misalnya ada paus tandingan. Pada masa ini para paus menaruh perhatian pada gerakan-gerakan seni yang sedang marak, sehingga tidak bersikap seimbang. Mereka sibuk mengurus barang-barang atau karya seni.

Hal yang lebih buruk lagi adalah kualitas dan moral para pemegang hirarki dalam pemerintahan Kuria Roma, seperti kehidupan mewah, nepotisme, materialisme seperti suka mengoleksi emas dan hal-hal lain berbau duniawi. Ada kelunturan ikatan moral dan melemahnya nilai-nilai keagamaan. Ada dekadensi moral yang menjadi salah satu tragedi. Pendangkalan religius terjadi di kalangan para klerus.

Keempat, keadaan Gereja Roma sangat memprihatinkan. Dosa Gereja terbesar adalah minat pada materi. Gereja menagih pajak untuk membiayai hidup para uskup. Pendidikan para imam memprihatinkan, dan penghayatan hukum selibat menjadi longgar. Praktik keagamaan terlalu menekankan penghormatan kepada orang kudus, reliqui, ziarah, dan indulgensi.

Krisis dalam Gereja Kristus pada abad XVI disebabkan oleh penyelewengan yang dilakukan oleh hierarki Gereja. Hal ini diakui oleh Paus Adrianus VI yang menyatakan bahwa krisis terutama disebabkan oleh korupsi dan kolusi yang merasuki Kuria Roma.

Protestantisme ingin menghidupkan kembali arti kekristenan yang sesungguhnya. Martin Luther menuntut suatu transformasi. Dia menolak sejumlah hal yang bagi Gereja katolik dipandang sangat hakiki seperti primat paus, yustifikasi yang dimengerti dalam artian tradisional, imamat orang beriman, kurban ekaristi.

Luther akhirnya meninggalkan Gereja dan membentuk Gereja baru. Dalam Gereja katolik sebelum Luther muncul, sebenarnya sudah ada gerakan spontan untuk mengadakan reformasi. Ada kehendak kuat yang bertujuan untuk revitalisasi keagamaan dan kelembagaan Gereja. Ini diarahkan pada pemerintahan Kuria Roma yang pernah berkutat dalam politik dengan norma-norma yang mulai diabaikan.

Reformasi dan pembaruan itu dapat dilihat dari munculnya persekutuan kaum awam yang melakukan amal kasih kepada kaum miskin. Salah satu persekutuan yang menonjol adalah persekutuan yang diprakarsai oleh Ettore Vernazza, bernama serikat Cinta Ilahi yang tersebar di Geneva, Swiss, pada Abad XV. Ada juga pembenahan hidup dari Tarekat Hidup Bakti.

Dalam kurun waktu ini kita juga akan melihat bertambahnya komunitas para biarawan dengan tujuan revitalisasi. Ini menonjol dari dua tarekat, yakni Jesuit (didirikan Ignasius Loyola) dan Fransiskan (Fransiskus Asisi).

Serikat Jesuit merupakan Ordo pertama yang tidak menggunakan pakaian khas dan tidak berdoa ibadat harian secara bersama-sama. Ini agar anggotanya dapat bergerak secara leluasa. Semboyannya adalah Ad maiorem Dei Gloriam yang artinya demi lebih besarnya Kemuliaan Allah.

Pada zaman Kontra Reformasi, para Jesuit membela iman dan umat katolik. Jesuit ikut memperbaharui semangat umat, mendidik kader awam di sekolah dan universitas yang bermutu serta mengawali zaman misi baru di seluruh dunia. Banyak Jesuit memajukan berbagai cabang ilmu pengetahuan, mengembangkan teologi, dan menjadi penasihat beberapa raja.

Konstitusi Serikat Jesuit dirancang dan disetujui di Roma oleh Paus Paulus III pada tahun 1540. Jesuit menempatkan diri mereka di bawah pengaturan Paus dan berjanji akan mematuhi Paus sepenuhnya.

Pengajaran, pengakuan dosa, kotbah, dan kerja amal adalah bidang-bidang yang dipegang ordo baru ini, termasuk misi-misi ke luar negeri seperti tahun 1541, di mana Fransiskus Xaverius dan dua temannya meninggalkan Lisbon untuk pergi dan menginjil di Timur Jauh.

Tahun 1546, karir politik Ordo Jesuit dimulai ketika Paus memilih Lainez dan Salmeron (dari Jesuit) untuk mewakilinya di Konsili Trente dengan posisi sebagai "ahli teologia Paus".

Semangat yang menyala-nyala semakin dibangkitkan seiring dengan berjalannya waktu. Selain misi-misi luar negeri, aktivitas para pastor Jesuit mulai diarahkan pada penyelamatan jiwa-jiwa, khususnya di antara orang-orang yang berkuasa.

Politik adalah bidang utama mereka. Semua usaha dari para "pengarah" ini difokuskan kepada satu tujuan, yaitu seluruh dunia agar tunduk kepada Paus. Untuk mewujudkan hal ini "para kepala" (orang-orang yang memegang kekuasaan penting) harus ditaklukkan terlebih dahulu secara iman.

Ada dua senjata penting guna merealisasikan ide tersebut. Para Jesuit harus menjadi imam penasihat bagi orang-orang penting dan penasihat pendidikan bagi anak-anak orang-orang penting tersebut. Demikianlah kiranya para Jesuit mencoba membarui Gereja dari dalam. Mereka mencoba memperbaiki pendidikan para imam, dan menjadi penasihat tokoh-tokoh masyarakat kelas atas dengan pandangan teologi.

Semangat Kemiskinan


Di samping Para Jesuit, ada Fransiskus Asisi. Fransiskus ini adalah orang kudus yang terkenal dengan kesetiaan untuk menjalani kaul dan kemiskinan.

Ia sebenarnya anak seorang kaya di kota Asisi. Ayahnya, Pietro Bernadone merupakan saudagar kaya. Masa muda Fransiskus dilaluinya dengan berfoya-foya.

Ibunya, Donna Pica, prihatin melihat sifat anaknya dan selalu berdoa agar Fransiskus dapat menjadi anak Allah yang setia. Suatu hari perang meletus. Fransiskus hendak ikut serta dalam perang. Fransiskus berniat berangkat perang ke kota Apulia untuk membuktikan kehebatannya.

Di tengah perjalanannya, Fransiskus bermimpi. Ia mendengar suara, "Fransiskus, hendak ke mana kamu?" Ia menjawab "Aku hendak ke Apulia, aku ingin menjadi ksatria."

Lalu suara lain terdengar lagi, "Fransiskus, coba jawab pertanyaanku. Siapa yang dapat berbuat jauh lebih banyak dan jauh lebih besar, Sang Tuan atau hamba?" Fransiskus tanpa ragu menjawab, "Tentu saja Sang Tuan."

"Akan tetapi ketahuilah, selama ini kau hanya mengabdi kepada 'hamba'. Bukankah yang empunya segala-galanya adalah Sang Tuan? Mengapa engkau tidak mengabdi kepada-Nya?"

Fransiskus tersentak. Hati kecilnya berbisik, itu adalah suara Tuhan. Fransiskus segera bersujud dan mengatakan, "Tuhanku! Aku tahu Engkaulah yang berbicara kepadaku. Ya Tuhan, apa kehendak-Mu terhadap diriku? Tunjukkanlah, aku akan melaksanakannya." Tuhan menjawab dalam mimpinya, "Pulanglah. Kelak kau akan Kuberitahu."

Tubuhnya bergetar mengingat mimpinya. Fransiskus pun bergegas pulang. Sejak saat itu tingkah laku Fransiskus amat berubah. Ia tidak pernah lagi hidup bermewah-mewah. Malah ia banyak sekali memberi bantuan bagi Gereja dan kaum miskin dari kekayaan orangtua.

Sang ayah amat berang melihat perilaku anaknya. Sampai akhirnya Fransiskus meninggalkan rumah ayahnya. Ia bertekad berkelana mewartakan kabar gembira. Sejak saat itu Fransiskus bersumpah menjadikan kemiskinan sebagai "mempelainya".

Harta yang dimilikinya hanya jubah kasar yang menempel di tubuhnya. Ia banyak melayani kaum papa, terutama orang-orang kusta. Karyanya kemudian diketahui banyak orang. Bahkan terdapat beberapa orang yang kemudian menjadi pengikutnya.

Fransiskus membangun diri serta rumahnya, yaitu ordonya di atas wadas yang kokoh, yaitu kerendahan hati dan kemiskinan Putra Allah yang amat besar. Maka ia menamai ordonya Ordo Saudara Hina Dina.

Pada Tahun 1205 (musim gugur) Fransiskus mendapat "perintah" di San Damiano. "Fransiskus, pergilah dan perbaikilah gerejaKu yang nyaris roboh ini," demikian suara yang dia dengar lagi pada tahun 1206 (Januari atau Februari) di sebuah gereja yang runtuh di San Damiano.

Ayahnya gelisah dan berang dengan perangai Fransiskus. Dalam sebuah peristiwa di depan Uskup setempat di Asisi, Bernardone menuntut supaya Fransiskus mengembalikan semua harta yang telah diberikannya.

Fransiskus menanggapi dengan menelanjangi diri mengembalikan semua pakaian yang melekat di badannya kepada bapanya. Uskup Assisi menutupi ransiskus dengan mantelnya.

Mulai saat itu Fransiskus dengan mengenakan pakaian pertapa sibuk merawat penderita lepra di Gubbio. Kemudian dia kembali ke Assisi dan membangun kembali Gereja San Damiano. Dia juga memperbaiki Gereja St Petrus dan Gereja Ratu Para Malaikat di Portiuncula.

Pada satu perayaan Liturgi Fransiskus mendengar Injil Mateus tentang kemiskinan yang dibacakan saat ritual di sebuah gereja. Ia mengambil petikan Injil soal kemiskinan itu sebagai pedoman hidup.

Dalam hidupnya Fransiskus lebih suka melakukan pendekatan sosial, ketimbang melakukan pertempuran doktrinal. Ini menjadi hal paling penting kelak yang dilakukan oleh gereja.

Sebagai pejuang kaum miskin dan yang paling rentan, dia membawa pesan cinta dan kasih sayang. Ini mengilhami dunia selama lebih dari 2.000 tahun, bahwa kita melihat wajah Tuhan.

Gereja kini yang bergejolak


Sebagai Paus ke-266, Paus Fransiskus mewarisi berbagai gejolak yang kini tengah mengguncang Gereja. Paus Fransiskus sendiri menyebut kata tremor (guncangan) sehari setelah ia terpilih. Ini tampaknya merujuk pada beberapa skandal. Ada sedikit retakan, ada masalah sinergi, serta menurunnya jumlah umat di beberapa bagian dunia.

Zaman yang semakin modern dan pengaruh sekularisme turut mempengaruhi gaya hidup para imam. Ada oknum gereja yang ikut arus zaman. Ada oknum gereja dan para klerus ingin mendapat kedudukan dan tempat terhormat dalam Gereja. Ini memunculkan persaingan, melahirkan sikap yang kurang rendah hati, dan kurang gigih dalam pelayanan.

Ada para imam yang lebih menaruh perhatian pada minat dari pada menjalankan kebutuhan pastoral. Ini semua jadi tantangan Gereja pada zaman ini.

Kini, muncul Paus dari keluarga Jesuit dengan semangat Fransiskan. Saya memahami bahwa Paus yang mengambil nama Fransiskus ini ingin membarui Gereja dari dua arah. Sebagai Jesuit beliau akan memperbaiki Gereja dari atas, memperbaiki kuria dengan segala kekurangannya, dan ini akan dia lakukan dengan pendekatan sosial akar rumput gaya Fransiskus.

Inilah Paus dari Ordo Jesuit dengan semangat Fransiskan.

=============
Kornelius Sipayung, Lic.S.Th, alumnus Universitas Gregoriana, Roma, Italia. Penulis adalah dosen teologi di Sekolah Tinggi Filsafat dan Teologi Santo Yohanes Pematangsiantar, serta seorang pastor dari Ordo Saudara Dina Kapusin.


Sumber: Kompas.Com

Umat Katolik Argentina Luapkan Kegembiraan

Paus Fransiskus
UMAT Katolik Argentina yang memenuhi Katedral Buenos Aires, Rabu (13/3/2013) malam waktu setempat, meluapkan kegembiraannya setelah Kardinal Jorge Bergoglio terpilih menjadi paus baru dengan gelar Fransiskus.

Saat mengetahui kabar dari Vatikan soal terpilihnya Bergoglio, sekitar 200 orang yang hadir di Katedral Metropolitan langsung memberikan sambutan meriah.

Tak lama setelah kabar itu muncul, jumlah umat dan media di sekitar katedral tempat Fransiskus memimpin misa itu terus bertambah.

"Panjang umur Paus! Fransiskus! Fransiskus!" umat yang bergembira mengelu-elukan pemimpin baru mereka.

"Saya sangat bahagia. Saya juga sangat terkejut karena saya tak menyangka ini," kata seorang warga, Mariano Solis (33).

"Saat kami melihat asap putih di televisi, kami mengira Kardinal Brasil atau Italia yang terpilih," ujar Solis.

"Saya sebenarnya akan pergi ke bioskop dengan seorang teman. Namun, setelah kami mendengar kabar ini, kami langsung menuju katedral dan bergembira bersama," tambah Solis.

Solis kemudian bergabung dengan ratusan orang lainnya yang melakukan doa rosario untuk mendoakan Paus Fransiskus. Umat Katolik Argentina saling berpelukan sambil berbagi tangis bahagia.

"Saya sangat terkejut. Saya tak menyangka mereka memilih Bergoglio. Dia adalah paus pertama dari Amerika Latin, dan ini akan menjadi keuntungan besar bagi kawasan ini," kata Gaston Hall (37), seorang penerbit yang mengaku sedang belajar menjadi seorang Katolik.

Tak hanya umat Katolik Argentina yang terkejut, seluruh Gereja Katolik negeri itu juga terkejut dengan terpilihnya Bergoglio.

"Bergoglio berangkat ke Vatikan dengan damai untuk ikut dalam konklaf yang memilih paus baru. Dia bahkan sudah memiliki tiket pulang pekan depan," kata juru bicara Gereja Katolik Argentina, Federico Wals.

Gereja Katolik Argentina, lanjut Wals, yakin Bergoglio tak akan terpilih sehingga sudah mencantumkan namanya untuk memimpin misa pada perayaan Paskah nanti.

Sementara itu, Presiden Argentina Cristina Kirchner menyambut baik terpilihnya Bergoglio sebagai paus pertama dari Amerika Latin dan mendoakan agar Paus Fransiskus I sukses memimpin umat Katolik.

"Kami berharap beliau bisa bertugas dengan baik. Dengan tanggung jawab yang sangat besar ini, dia bisa memberikan keadilan, kesetaraan, persaudaraan, dan perdamaian di antara umat manusia," kata Kirchner.

Kirchner sendiri adalah penganut Katolik, tetapi dia tak memiliki hubungan yang baik dengan kepausan.

Kini, Paus Fransiskus I, putra seorang pekerja kereta api Argentina, menjadi anggota Jesuit pertama yang akan memimpin 1,2 miliar umat Katolik sedunia. *

Sumber: Kompas.Com
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Best WordPress Themes