Tampilkan postingan dengan label Perjalanan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Perjalanan. Tampilkan semua postingan

Kembali ke Bali

 


Kembali ke Bali sekarang tak begitu menyenangkan. Macet lalu lintasnya sungguh semakin menggila.

Senin petang 21 Oktober 2024, pesawat Lion Air yang membawa  saya dari Bandara El Tari Kupang tiba di Bandara Internasional I Gusti Ngurah Rai sekira pukul 15.20 WITA.

Dua puluh menit kemudian, saya sudah berada dalam mobil taksi yang langsung bergerak meninggalkan Bandara Ngurah Rai menuju sebuah hotel di Jalan Gatot Subroto Barat ( Gatsu), Kota Denpasar.

"Perjalanan kita ke sana kira-kira memakan waktu satu jam  kalau tidak macet, Pak," kata Pak Gede, sopir mobil yang ramah.

Ternyata macet luar biasa sore itu. Mungkin karena perjalanan saya ke hotel bertepatan dengan jam pulang kerja orang-orang kantoran.

Kemacetan paling parah sore itu terjadi di kawasan Pemogan, Kecamatan Denpasar Selatan. Kendaraan bergerak sangat pelan. "Mohon bersabar Pak, beginilah kondisi lalu lintas di Bali," kata Pak Gede.

"Oh tidak apa-apa Pak. Saya maklumi karena pernah tinggal di Bali hampir tiga tahun," jawabku.


Saya melihat jarum jam tangan menunjukkan pukul 17.58 WITA ketika mobil taksi berhenti di depan lobby hotel di Jalan Gatsu Barat Denpasar.

 Artinya perjalanan dari Bandara Ngurah Rai ke hotel di Gastu Barat menghabiskan waktu dua jam lebih sekian menit. 

Lebih lama daripada durasi penerbangan Kupang-Bali selama 90 menit saja. 

 Denpasar dan Bali 2024 memang semakin sesak berdesak. Perjalanan ke mana-mana senantiasa terjebak kemacetan arus lalu lintas.

Tol Bali Mandara dan Jalan By Pass memang sedikit mengurangi kemacetan. Namun, seiring waktu bergulir dan jumlah kendaraan terus bertambah, macet sudah menjadi bagian dari keseharian warga Bali.

Bali barangkali pada suatu titik waktu harus berani membatasi jumlah kendaraan bermotor. Kalau tidak maka Bali menjadi destinasi wisata yang tak menyenangkan hati karena ruwetnya lalu lintas.

Kembali ke Bali sekarang, tuan dan puan harus menyiapkan posisi batin untuk berada dalam kemacetan. Sabar dan menikmatinya dengan sukacita. (*) 

Pamit

 

ilustrasi
Kata itu sontak riuh di bulan September 2024.   Sejumlah rekan kerja di Tribun Network pamit.

Pamit karena tidak lagi menjadi bagian dari tim kerja  jaringan media di bawah naungan Kompas Gramedia.

Empat orang yang pamit di bulan kesembilan tahun 2024.  Saya mengenal baik keempatnya yaitu Mas Taufik Zuhdi atau akrab disapa Mas Tof, Mas Hasyim Ashari, Mbak Marina Napitupulu dan terakhir Kander Turnip.

Mas Tof terakhir bertugas di Jakarta. Dia sejatinya karyawan Harian Surya Surabaya. Sempat menjadi Pemimpin Perusahaan di sana.  

Mas Hasyim Ashari terakhir menjabat Pemimpin Redaksi Harian Tribun Batam. Marina Napitupulu terakhir Manajer Bisnis sejumlah unit Tribun Network di wilayah Papua.

Sedangkan Kander Turnip terakhir menjabat Manajer Produksi Harian Tribun Bali. Saya pernah bekerja di lembaga yang sama dengan ketiga nama terakhir. Hasyim menggantikan posisiku sebagai Pemimpin Redaksi Pos Kupang awal 2019.

Awal tahun 2024 saya kembali menempati jabatan Pemimpin Redaksi Pos Kupang. Mas Hasyim mutasi ke Batam.

Mbak Ina - sapaan akrab Marina Napitupulu - pernah bersama saya di Harian Tribun Manado (2012-2014) dan di Harian Pos Kupang (2015-2018). Di Manado Mbak Ina menjabat Wakil Pemimpin Perusahaan. 

Sedangkan di Pos Kupang dia mengemban tanggung jawab sebagai Pemimpin Perusahaan. Di masa kami berdua berdiri kantor Harian Pos Kupang di Jl. RW Monginsidi, Kelurahan Fatululi, Kota Kupang, Nusa Tenggara Timur.

Pada akhir 2018, Mbak Ina mutasi ke Jakarta. Saya mendapat tugas baru sebagai Wakil Pemimpin Redaksi Tribun Bali.

Nah di Tribun Bali saya satu atap dengan Bang Kander Turnip (2019-2021). Di akhir tahun 2021 saya mendapat tugas baru merintis berdirinya portal berita TribunLombok.com di Mataram, Nusa Tenggara Barat.

Waktu berlalu dan kini mereka berempat bukan lagi menjadi bagian dari Tribun Network.

Tentu saja saya pun akan di titik yang sama. Hanya soal waktu yang tak sama. Doaku buat Mas Tof, Mas Hasyim, Mbak Ina dan Bang Kander agar mereka sukses dan bahagia di medan karya yang baru.

Hidup adalah perjalanan. Semangat selalu. Tuhan bersama kita. (*)

Mampir Sejenak di Ayasofya Istanbul

Gerbang utama Ayasofya
SEBELUM meninggalkan Jakarta pekan terakhir bulan September 2016 menuju Istanbul, seorang teman yang sudah beberapa kali berkunjung ke kota Turki yang elok itu mengingatkan agar tidak lupa  menyambangi Hagia Sophia.

"Sebaiknya bung ke sana  untuk melihat keunikan dan terutama pesannya yang luar biasa bagi umat manusia," kata rekanku itu. Saya coba menanyakan lebih lanjut apa yang istimewa dari tempat itu sehingga dia getol mempromosikan, namun tidak mendapat jawaban. Rupanya dia sengaja membiarkan rasa penasaran terbawa hingga ke negara yang berada di dua belahan benua tersebut.

Gayung bersambut. Manajemen Karpowership, perusahaan pembuat kapal listrik yang mengundang kami 18 wartawan asal Indonesia  bertandang ke Istanbul ternyata sudah mengagendakan city tour ke Hagia Sophia. Dan, tiba saatnya city tour  hari itu, Sabtu 1 Oktober 2016. Kami sungguh terkagum-kagum melihat Hagia Sophia atau orang Turki umumnya menyapa  Ayasofya.

Selain Selat Bosporus yang elok,  Hagia Sophia adalah landmark Istanbul, kota dengan populasi 14,3 juta jiwa atau yang terpadat di Turki. Pelancong dari berbagai belahan dunia  hampir pasti berkunjung ke Ayasofya jika mereka sudah menginjakkan kakinya di Istanbul atau dulu dikenal sebagai Konstantinopel.

Wisatawan selalu menyemut di Hagia Sophia. Pada akhir pekan yang cerah 1 Oktober 2016, kami menyaksikan antrean panjang pengunjung sepanjang hari. Antrean mengular kurang lebih 200 meter terlihat di loket pembelian tiket hingga pintu gerbang masuk Ayasofya. Lantaran tiket sudah lebih dulu dibeli rekan-rekan dari Karpowership, kami tidak berlama-lama antre di pintu masuk. Dengan tiket di tangan langsung saja bergegas menikmati Ayasofya yang kini sudah menjadi museum.
Interior Ayasofya gabungan gereja dan masjid

Burak, pemandu city tour yang menemani kami hari itu menjelaskan banyak hal menarik tentang Ayasofya. Keistimewaan bangunan Ayasofya adalah usianya hampir 2.000 tahun. Saya dan rekan-rekan jurnalis sempat terkecoh oleh tampilan fisik bangunan Ayasofya. Dari luar jelas terlihat itu sebuah masjid agung yang ditandai kubahnya yang eksotik. Sama seperti kebanyakan masjid di Kota Istanbul yang menurut Burak jumlahnya lebih dari 3.000. 

Setelah masuk ke dalam kami tercengang karena interior Ayasofya ternyata  merupakan gabungan gereja dan masjid. Itulah sebabnya Unesco menjadikan Ayasofya sebagai situs warisan dunia. Di salah satu sudut bangunan itu ada semacam prasasti berisi pesan  sangat penting bagi umat manusia bahwa kekuasaan boleh datang dan pergi tetapi rumah ibadah tetap lestari. Tidak bijaksana merusak rumah ibadah karena berbeda pilihan politik.

Ayasofya berasal dari bahasa Yunani yang artinya kebijaksanaan suci.  Bangunan tersebut  merupakan saksi sejarah peradaban manusia yang patut dikagumi. Dia  menyimpan banyak kisah pahit, manis, dramatis juga heroik. Kisah paling dramatis saat Konstantinopel jatuh ke tangan Turki Usmani (Kerajaan Ottoman).
Gerbang utama Topkapi

Perancang Ayasofya adalah ilmuwan Yunani yaitu Isidorus, seorang fisikawan dan Anthemius yang dikenal sebagai pakar matematika di zamannya. Bangunan gereja itu pertama kali didirikan atas perintah Kaisar Justinian Bizantium. Konon pada tahun 360, Kaisar Constantine pernah membangun gereja besar bernama Megalo Ekklesia di tempat Ayasofya berdiri saat ini, namun terbakar pada tahun 404. Ayasofya baru dibangun  pada tahun 537.

Beberapa sumber referensi menyebutkan, Ayasofya digunakan sebagai gereja selama 916 tahun sejak dibangun tahun 537. Seiring pergantian kekuasaan Hagia Sophia  beralih fungsi sebagai masjid selama 481 tahun.  Tinggi kubah bangunan ini 55,6 meter dan dianggap sebagai lambang arsitektur Bizantium. Hagia Sophia pernah menjadi katedral terbesar di dunia selama hampir 1.000 tahun.

                    Istana Topkapi
Jika Anda berkunjung ke Ayasofya, jangan lewatkan obyek wisata sejarah lainnya yang terkenal di kawasan itu. Cukup berjalan kaki saja bisa menikmati Istana Topkapi (Topkapi Sarayi). Istana ini merupakan kediaman resmi Sultan Utsmaniyah selama lebih dari 600 tahun (1465-1856).

Pembangunan istana ini dimulai pada tahun 1459 atas perintah Sultan Mehmet II. Kompleks istana terdiri dari empat lapangan utama dan banyak bangunan kecil. Pada masa kejayaannya istana ini dihuni 4.000 orang. Selain sebagai tempat tinggal kerajaan, istana digunakan untuk acara kenegaraan dan hiburan.

Interior Ayafosya
Pesona  Istana Topkapi memudar akhir abad ke-17 ketika sultan lebih suka menghabiskan waktu di istana baru bernama Dolmabahçe di bibir Selat  Bosporus. Istana Topkapi juga merupakan situs warisan dunia Unesco. Masih di kompleks Ayasofya, wisatawan dapat menikmati Masjid Biru yang terkenal. Disebut Masjid Biru karena warna cat interiornya dominan warna biru.

Kota Istanbul memang  memiliki banyak situs sejarah yang penting dan masih lestari hingga kini. Ketika masih bernama Konstantinopel, dia  merupakan ibukota Kekaisaran Romawi Timur.

Menurut sejarah, ibukota Romawi Timur awalnya adalah Nikomedia di Anatolia lalu sejak tahun 330 berpindah ke Bizantium lalu berganti nama menjadi Konstantinopel.

Kekaisaran Romawi Timur merupakan kekuatan terbesar ekonomi, budaya dan militer di Eropa pada zamannya. Wilayah kekuasaannya membentang dari Armenia  hingga  Calabria di Italia Selatan bahkan sebagian wilayah Afrika termasuk negara subur   Mesir.  Kekaisaran Romawi terbagi menjadi barat dan timur tahun 395 setelah kematian Theodosius I yang merupakan kaisar yang memerintah seluruh Romawi.

Pembagian ini mengacu pada persamaan bahasa. Kekaisaran Romawi Barat penduduknya menggunakan bahasa Latin sedangkan Romawi Timur bahasa Yunani. Sejarah mencatat pemisahan ini justru menggerogoti persatuan Romawi hingga akhirnya Romawi Timur jatuh ke tangan Turki Usmani tahun 1453. (dion db putra)

Sumber: Pos Kupang 11 Desember 2016 hal 3

Menikmati Istanbul dari Selat Bosporus

Jembatan Bosporus I
HARI itu Sabtu 1 Oktober 2016, akhir pekan yang indah di Istanbul.  Kota tergemuk di Turki dengan populasi  14 juta jiwa  seolah bergerak lebih lamban dari biasanya. Arus lalu lintas padat lancar. Banyak senyum dan tawa di mana-mana meski Istanbul masih siaga satu,  dua bulan pasca percobaan kudeta yang gagal.

Itulah hari terakhir kami sebanyak  18 wartawan asal  Indonesia berada  di Istanbul, kota unik yang berada di dua benua. Rekan-rekan dari Karpowership rupanya sudah menyiapkan agenda spesial yakni city tour yang mengasyikkan. Setelah dua hari berturut-turut kami serius bergelut tentang  kiprah  perusahaan terkemuka Turki yang membuat kapal pembangkit listrik atas pesanan pemerintah RI, akhir pekan itu saatnya piknik. Sungguh cara mengatur jadwal yang aduhai

Sabtu 1 Oktober, jarum jam baru  menunjukkan pukul 07.00,  Novi dan Ririn dari Karpowership Indonesia telah mengingatkan lewat grup WA agar kami jangan lupa sarapan pagi dan siap diri untuk jalan-jalan. Menurut jadwal city tour mulai pukul 09.00 waktu Istanbul atau sekitar  pukul 14.00 Wita di Kupang.

Kami meninggalkan Hotel Ritz Charlton Istanbul di kawasan Harbiye, Asker Ocagi Caddesi tepat pukul 09.00. City tour dipandu Burak, guide profesional dengan pembawaan  hangat dan menyenangkan. Setelah meninggalkan hotel berbintang lima itu, Burak membawa kami melewati depan Istana Dolmabache yang tak seberapa jauh dari Stadion Besiktas JK, satu di antara klub sepakbola papan atas Liga Turki.

Kami terus menyusuri kawasan Pasha House, Ciragan Palace dan  Albanian Villages  yang semuanya terletak di bibir Selat Bosporus yang elok. Mata sungguh dimanjakan oleh pedestrian area yang nyaman di pinggir pantai. Pagi itu ada banyak orang yang jogging dan bersenang-senang dengan hewan peliharaan seperti anjing dan kucing.
Benteng Rumeli Hisari yang masih kokoh.

Dan, tak kalah memikat hadirnya kerumuman orang yang sedang memancing. Anak- anak, remaja, orang tua, pria dan wanita. Selat Bosporus sungguh menghadirkan oase bagi warga Kota Istanbul dan pelancong.

Tiba waktunya tour laut menyusuri Selat Bosporus dengan kapal wisata untuk menikmati panorama Istanbul. Bosporus adalah selat yang menghubungkan dua benua, Asia dan Eropa. Juga menghubungkan Laut Marmara dengan Laut Hitam. Kedalaman selat sepanjang 30 km  itu bervariasi antara 36 sampai 124 meter.  Menurut data wikipedia, lebar maksimum Selat Bosporus 3.700 meter di sisi utara dan minimum 750 meter antara Anadoluhisari dan Rumelihisari.


Pemerintah Turki sudah membangun tiga jembatan melintasi selat tersebut yang mereka beri nama jembatan Bosporus I, Bosporus II dan III. Sejak tahun 1970-an Jembatan Bosporus menjadi ikon Kota Istanbul. Jembatan  Bosporus I  sepanjang 1.074 meter rampung dibangun pada 30 Oktober 1973. Pada tahun 1988 pemerintah Turki menyelesaikan pembangunan Jembatan Bosporus II sepanjang 1.090 meter. Warga Istanbul kerap menyebut jembatan kedua ini dengan nama Jembatan Fatih Sultan Mehmet.

Turki juga membangun Jembatan Bosporus Ketiga yang juga dikenal sebagai Jembatan Yavuz Sultan Selim. Pada malam hari ketiga jembatan itu diterangi lampu warna-warni yang indah. Konon pencahayaan jembatan  menggunakan sistem komputerisasi sehingga  warna ditampilkan sesuai kebutuhan dan momentumnya.
Istana Dolmabahce

Menyusuri Selat Bosporus tidak sekadar menikmati kota Istanbul yang dulu bernama  Konstantinopel dari sisi berbeda. Dari selat itu justru kami bisa melihat banyak bangunan berarsitektur Eropa, Asia dan Mediterinia yang masih terawat baik. Bangunan-bangunan bersejarah itu merupakan warisan kejayaan masa lalu sejak masa Bizantium, Romawi, Kekhalifahan Usmani hingga era Republik Turki modern di bawah kepemimpinan sang pendiri Mustafa Kemal Ataturk (1881-1938).

Dari atas kapal kami melihat  sisi lain  istana Dolmabahce. Burak, sang pemandu menjelaskan tentang peran penting  Istana Dolmabahce. Dulu istana tersebut merupakan pusat aktivitas Kekaisaran Ottoman. Istana tersebut juga pernah didiami Presiden pertama Turki, Mustafa Kemal Ataturk hingga akhir hayatnya.

Dari Selat Bosporus kami juga melihat bangunan Topkapi Palace, istana kesultanan Uthmaniyah (Ottoman) yang ditempati antara tahun 1465-1853. Letaknya masih di kawasan Sultan Ahmet, tak seberapa jauh dari lokasi wisata ternama di Istanbul yakni Grand Mosque, Hagia Sophia (Ayasofia) dan Grand Bazaar. Dari kejauhan kami bisa melihat sisa-sisa pagar benteng istana yang ketebalannya bisa mencapai 4 meter.
Mesjid yang indah di Selat Bosporus

Peninggalan bersejarah lainnya yang bisa dinikmati dari Selat Bosporus adalah Benteng Rumeli Hisari yang masih kokoh di perbukitan. Benteng yang dibangun tahun 1452 oleh Sultan Mehmed II atau Muhammad Al Fatih itu bertujuan mengamankan Selat Bosphorus dari ancaman musuh pada masa itu. Yang juga membuat takjub adalah bangunan mesjidnya yang indah, sebut misalnya Mesjid Ortakoy dengan taman  sekelilingnya.

Akhirnya, ketika perut minta segera isi ulang, tidak perlu cemas lantaran di sepanjang bibir Selat Bosporus yang elok itu tersedia aneka restoran dengan menu yang bisa dipilih sesuai selera. (dion db putra)

Data Singkat
Nama:  Istanbul. Dalam sejarah juga dikenal sebagai Konstantinopel dan Bizantium.
Kota terpadat di Turki yang jadi pusat perekonomian, budaya dan sejarah negara itu.

Luas: 5.343 km persegi

Ketinggian: 40 meter dpl

Jumlah Penduduk: 14,03 juta (31 Desember 2015)

Tempat Menarik: Selat Bosporus, Jembatan Bosporus, Istana Dolmabahce, Hagia Sophia, Istana Topkapi, Masjid Sultan Ahmed.

Universitas Terkenal: Universitas Istanbul,  Istanbul Aydin University, Istanbul Bilgi University.


Sumber: Pos Kupang  6 November 2016 halaman 1




   

Kapal Listrik untuk NTT Hampir Rampung

Sibel Yucel (kiri) dan Ufuk Berk (kedua dr kiri)
ISTANBUL, PK-Kapal listrik Karadeniz Powership yang akan ditempatkan  manajemen PT PLN Persero di Kupang, NTT hampir  rampung. Kapal yang dibuat perusahaan Turki, Karpowership  tersebut bakal dikirim ke Indonesia paling lambat awal tahun depan.
Demikian keterangan Koordinator Pengembangan Bisnis Karpowership, Sibel. Yucel dan Direktur Karpowership Wilayah Asia, Ufuk Berk, kepada Pos Kupang di Istanbul, Jumat (30/9/2016).

Sibel menjelaskan, sesuai kontrak antara Karpowership dengan Pemerintah Indonesia, kapal listrik yang akan ditempatkan di Kupang berkekuatan 60 MW (Megawatt). Namun kapasitasnya  bisa lebih ditingkatkan 10 persen  dari angka itu.

"Saat ini kemajuan pekerjaan fisiknya sekitar 86 persen. Untuk Kupang akan rampung dan dikirim ke Indonesia setelah kapal listrik yang akan ditempatkan di Belawan, Medan, Sumatera Utara," kata Sibel Yucel.

Sibel mengatakan, kapal listrik untuk Kupang  yang sedang dibangun di galangan kapal Istanbul tersebut panjangnya 170 meter, tinggi 50 meter dan lebar 30 meter.   
Kapal listrik Karadeniz  dengan ukuran dan kapasitas mesin  yang sama juga akan ditempatkan PLN di Lombok, Nusa Tenggara Barat (NTB)dan Ambon, Maluku.

Seperti disaksikan Pos Kupang, kapal-kapal tersebut sedang dibangun di galangan  Hat-San di kawasan Yalova, sekitar dua jam perjalanan dari pusat kota Istanbul.
Ufuk Berk menambahkan, dirinya sudah beberapa kali ke Kota Kupang dan memastikan kondisi pelabuhan di sana tidak ada masalah untuk menempatkan kapal listrik Karadeniz  nanti.

"Perizinan  sudah diurus. Pelabuhan di Kupang siap untuk menerima kapal kami sehingga bisa langsung digunakan untuk mengatasi krisis listrik di sana,"  kata Ufuk Berk.

Menurut Ufuk, dari lima kapal buatan Karpowership yang dipesan pemerintah pusat guna mengatasi krisis listrik, satu kapal berkapasitas 60 MW sudah ditempatkan di Pelabuhan Amurang, Kabupaten Minahasa Selatan, Sulawesi Utara bulan Januari 2016.
Empat kapal lainnya, kata Ufuk, akan dikirim ke Indonesia secara bertahap hingga awal tahun 2017. 

Dia mengatakan, kapal listrik untuk Lombok dan Ambon akan rampung bulan Oktober dan segera diberangkatkan ke tempat masing-masing. Kemudian menyusul kapal listrik untuk Medan dan Kupang.

"Dari semua kapal buatan kami  untuk Indonesia, kapal listrik paling besar akan ditempatkan di Belawan, Medan. Kapasitasnya 110 Megawatt," jelas Ufuk.

Seperti diketahui, untuk mengatasi krisis listrik, Pemerintah Indonesia di bawah kepemimpinan Presiden Joko Widodo dan Wakil Presiden Jusuf Kalla (Jokowi-JK)  menjalin kontrak kerja sama dengan Karpowership, perusahaan pembuat kapal listrik di Istanbul. Kapal listrik  itu disewa dalam jangka waktu tertentu sesuai kontrak kerja sama.
Sampai saat ini Karpowership mengoperasikan sembilan kapal listrik yang menghasilkan lebih dari 1.500 MW di kawasan Timur Tengah, Asia, Afrika dan Mediterania. (osi)


18 Wartawan Kunjungi Galangan Kapal

SEBANYAK  18 orang wartawan dari beberapa provinsi di Indonesia  mengunjungi galangan kapal listrik buatan Karpowership di Istanbul Turki, Kamis (29/9/2016).

Para wartawan itu berasal dari lima provinsi di Indonesia yang sudah dan akan mendapat kapal listrik buatan Karpowership yaitu Sulawesi Utara,  NTT, NTB, Maluku  dan Sumatera Utara.
Bergabung juga wartawan media cetak dan elektronik yang berbasis di Jakarta dan Surabaya seperti Jawa Pos, Media Indonesia, The Jakarta Post, Detikcom, Metro TV, Antara dan lainnya.
Para wartawan didampingi Direktur Karpowership Wilayah Asia. Mr. Ufuk Berk,  Hendri, Lidya, Novianti dan Ririn dari Karpowership Indonesia.

Sebelum mengunjungi kapal listrik  di kawasan Tuzla dan Hat-San,  Istanbul, wartawan asal  Indonesia, termasuk Pos Kupang mampir dulu di kantor pusat Karpowership di pusat Kota Istanbul.
Dari kantor pusat Karpowership ke galangan kapal listrik apung itu perjalanan memakan waktu dua  jam.

Di galangan kapal para wartawan diajak pimpinan Karpowership  meninjau proses pembuatan kapal listrik yang akan ditempatkan di Medan, Sumatera Utara, Kupang, Lombok dan Ambon. Kapal-kapal  tersebut hampir rampung. (osi)



Bangun Transmisi Koneksi ke Kapal

GENERAL Manager PLN Persero Wilayah NTT, Richard Safkaur, kepada Pos Kupang, Jumat (30/9/2016) mengatakan, kapal listrik dari Turki akan tiba di NTT awal tahun 2017.
Richard menjelaskan, persiapan yang dilakukan oleh PT PLN Peresro melalui tiga tahap. 

Tahap pertama, proses di kantor pusat, mulai dari lelang sampai  penandatanganan kontrak. Setelah penandatangan kontrak, pihak Car Power menyiapkan kapal di Turki. Fase tersebut sudah selesai.
Tahap kedua, dari proses tersebut penugasan ke PLN Unit Induk Pembangunan Nusa Tenggara, yang ada di Lombok, Nusa Tenggara Barat (NTB) yang mempersiapkan aspek teknis yang berhubungan dengan konstruksi koneksi antara gardu induk ke kapal.

Selain itu, jelas Richard, membangun transmisi dari tiang-tiang untuk koneksi ke kapal. Interkoneksi ini dengan gardu  induk di Bolok dan Maulafa yang masuk transmisi 70 KV yang menyalurkan keluar dari gardu induk Maulafa, gardu induk Naibonat, Nenohonis dan Kefa.

Tahap ketiga, demikian Richard, menyangkut perizinan antara pihak pemilik kapal dan kantor PLN wilayah, juga terlibat berhubungan dengan pihak otoritas terkait analisa dampak lingkungan, UKL, UPL, Amdal dan hal-hal lainnya.

Richard mengatakan progressnya sedang dibangun transmisi yang menghubungkan tiang ke kapal. Proses kesiapan terutama kapal  membutuhkan waktu. Tetapi yang jelas, lanjutnya, persiapan  tahap pertama hingga terakhir, sudah di atas 75 persen.

Richard mengatakan, begitu kapal datang langsung  koneksi dihubungkan, pengujian dan lainnya serta sertifikasi untuk memastikan bahwa listrik ini aman.   Kapal ini hidup dan listrik bisa masuk ke transmisi dan peralatan listrik dapat bekerja dengan baik. 

Didampingi Manajer Perencanaan PLN Wilayah NTT, Didit, Richard berharap kehadiran kapal listrik nanti masyarakat NTT keluar dari krisis listrik dan nyaman menggunakan listrik.
Ia menjelaskan, jalan tol PLN sudah ada dan dalam penyelesaian transmisi 70 KV Bolok - Maulafa untuk suplai Kota Kupang, Naibonat, Oesao, Nonahonis ke So'E, Kefa sampai ke perbatasan Mota'ain.

"Ini bukan kapal PLN, skema di dalam kontrak jual dan beli kami terima listrik. Kalau tidak disuplai sesuai beban yang dicantumkan dalam perjanjian kerja sama, maka dikenakan penalti. Begitu juga sebaliknya, kalau tidak pakai penuh 60 Mega, maka kami membayar kembali. Tapi di dalam kapal disiapkan 120 Mega," tuturnya.

Richard menjelaskan, untuk sistem Kupang penambahan pembangkit baru 60 MW. Sedang dibangun juga listrik swasta di kawasan Bolog 2 x 15 MW.

Sebelum Juni tahun depan, kata richard,  akan ada penambahan sistem Timor 90 MW. Kalau melihat gabungan beban puncak antara sistem Timor, sekarang belum mencapai 70 MW, ditambah Atambua sampai 85 MW.

"Itu beban untuk malam dengan durasi empat jam. Kalau siang beban puncak Kupang hanya 47-48 MW, belum So'E dan Kefa, mungkin naik sekitar 55 MW.  Kami punya 40 MW akan siap di sini siang hari. Namanya over suplay. Melihat seperti ini, siang 70 MW sisa beban 30 MW, setiap bulan harus dibayar," jelas Richard.

Dampaknya, kata Richard, investor dan dunia usaha di Timor harus bertumbuh. Timor harus tumbuh karena kelebihan listrik sekitar 30 MW. (yen)

Sumber: Pos Kupang 1 Oktober 2016 hal 1

Melihat Pembuatan Kapal Listrik di Istanbul (1)

Sibel Yucel (kiri) dan Ufuk Berk (kedua dari kiri)
POS KUPANG.COM - Koordinator Pengembangan Bisnis Karpowership, Sibel Yucel menyambut hangat Noviana Baharuddin, Dearina, Lidya dan Hendri Satrio, rekan-rekannya dari  Karpoweship Indonesia pagi itu. Dia memeluk mereka satu persatu kemudian  menempelkan pipi kiri dan kanan.

Senyum pun merekah di wajah wanita itu ketika Hendri memperkenalkan 18 wartawan asal  Indonesia  yang diundang Karpowership. "Selamat datang di Istanbul. Senang sekali bertemu Anda," kata Sibel saat menyambut kami di ruang pertemuan kantor pusat Karpowership di Merkez Mahalessi, Davel Sok No.14 Kagithana Kota Istanbul, Turki, Kamis (29/9/2016) pagi.

Sibel Yucel tidak sendirian. Di pagi yang cerah itu dia didampingi staf pemasaran Karpowership,  Asli Surek, Asli Acturk  serta Direktur Karpowership Wilayah Asia, Ufuk Berk. Ufuk Berk sebelumnya bersama-sama dengan kami menghabiskan waktu 12 jam penerbangan tanpa transit dengan Turkish Air dari Bandara  Soekarno-Hatta Jakarta menuju Bandara Ataturk Istanbul.

Sekitar 10 menit berselang pemimpin tertinggi perusahaan pembuat kapal listrik itu keluar dari ruang kerjanya menuju tempat kami berkumpul. Dengan ramah Chief Executive Officer (CEO) Karpoweship, Orhan Remzi Karadeniz  menyapa kami.
Beberapa rekan wartawan seperti Budhi Santoso dari Kantor Berita ANTARA, Hermasyah dari Harian Analisa Medan dan Eries Adlin (Bisnis Indonesia) berniat mengajukan pertanyaan kepada Orhan.

Namun, kami diingatkan Hendri agar menahan dulu hasrat bertanya tentang apa saja terkait Karpowership dan produknya. Sebab agenda hari pertama adalah mengunjungi tempat pembuatan kapal listrik yang akan diberangkatkan ke Indonesia. "Sesi wawancara dengan Pak Orhan kita agendakan besok. Sekarang rekan-rekan melihat dulu kapalnya sehingga ada gambaran secara teknis," kata Hendri dari Public Relation Karpowership Indonesia.

Seusai berkenalan dengan pimpinan Karpowership di lantai tiga kantor itu kami  bergegas menuju bus yang akan mengantar ke kawasan Tuzla, kurang lebih satu setengah jam perjalanan dari kantor pusat Karpowership. Pukul 09.50 waktu setempat bus membelah keramaian lalulintas Kota Istanbul yang berbalut suhu udara 23 derajat Celcius. Ufuk Berk berperan sebagai pemandu. Dia menjelaskan tempat-tempat penting yang kami lewati seperti stadion klub sepakbola Galatasaray, jembatan Bosporus yang menghubungkan wilayah Asia dan Eropa di Istanbul dan lainnya.
Tak terasa kami tiba di galangan kapal Sedef di kawasan Tuzla. Setelah mengenakan rompi dan topi khusus untuk keamanan, Sibel Yucel dan Ufuk mengajak kami berkeliling melihat galangan kapal tersebut. Ratusan pekerja yang hampir 99 persen pria sedang beraktivitas.

Ada yang menyiapkan bahan, mengelas, merakit dan sebagainya. Tujuan utama kami di sini adalah melihat proses pembuatan kapal listrik yang akan ditempatkan PT PLN (Persero)  di Pelabuhan Belawan, Medan, Provinsi Sumatera Utara.

Seperti disaksikan Pos Kupang, secara fisik pembuatan kapal listrik yang akan ditempatkan di Medan baru sekitar 85 persen. Para pekerja masih merakit 24 mesin pembangkit listrik tenaga diesel di kapal itu. Pekerja juga membenahi ruang panel kontrol, ruang rekreasi serta bagian lain dari genset apung raksasa ini.

Dari lima kapal yang disewa pemerintah Indonesia melalui kontrak kerja sama antara PT PLN (Persero) dengan Karpowership,  kapal untuk Medan merupakan yang terbesar. Ukurannya lumayan jumbo. Tinggi 65 meter, lebar 46 meter, panjang 295 meter dan berat 50.000 ton. Kapasitas instalasi kapal ini 470 Megawatt (MW). "Kapal untuk Medan namanya Orhan Ali Khan," kata Ufuk Berk.

Sesuai branding Karpowership, nama kapal itu selengkapnya yakni Karadeniz Powership Orhan Ali Khan. Menurut Sibel Yucel, kapal Orhan Ali Khan akan diberangkatkan dari Istanbul ke Medan pada bulan Januari  2017 dan dijadwalkan tiba di Belawan pada bulan Februari 2017.

Setelah melihat pembangunan fisik kapal litrik untuk Medan, Sibel Yucel dan Ufuk Berk mengajak kami bergerak lagi ke bagian lain kota Istanbul. Kami menuju  Hatsan di kawasanYalova. Perjalanan ke Hatsan memakan waktu sekitar satu jam dari lokasi perakitan kapal untuk Medan. Kali ini kami melewati jembatan Bosporus III, jembatan terpanjang dari tiga jembatan Bosporus di Kota Istanbul.

Karyawan Karpowership sungguh bekerja keras merampungkan semua kapal listrik yang akan diberangkatkan ke Indonesia. Sama seperti Kapal Orhan Ali Khan, kapal yang akan ditempatkan PT PLN (Persero)  di Kupang, Ambon dan Lombok hampir rampung. "Saat ini kemajuan pekerjaan fisiknya sekitar 86 persen. Kapal untuk Kupang akan diberangkatkan ke Indonesia setelah Medan," kata Sibel Yucel.

Kapal listrik untuk Kupang  panjangnya 170 meter, tinggi 50 meter dan lebar 30 meter. Kapasitas instalasi 60 MW. Kapal listrik Karadeniz  dengan ukuran dan kapasitas mesin  yang lebih besar daripada Kupang akan ditempatkan PLN di Ambon, Maluku dan Lombok, Nusa Tenggara Barat. Kapasitasnya  110 MW.
Pemberian nama kapal listrik produksi Karpowership punya kisah tersendiri. Semua diambil dari nama anggota keluarga besar Karadeniz, sang pendiri perusahaan raksasa Turki tersebut. Kapal listrik untuk Kupang akan diberi nama Karadeniz Powership Ibrahim Bey. Kapal untuk Lombok bernama Gokhan Bey dan untuk Ambon namanya Yasin Bey. Satu dari lima kapal listrik yang sudah dioperasikan Karpowership di Amurang, Provinsi Sulawesi Utara bulan Januari 2016 diberi nama Karadeniz
Powership Zeynep Sultan.

Si cantik Zeynep inilah yang akan berbagi cerita tentang keunggulan kapal  produksi Karpowership yang telah menghalau kegelapan malam dan krisis energi listrik  di sejumlah negara Asia, Afrika, Mediterania dan Timur Tengah. (dion db putra/bersambung)


Sumber: Pos Kupang 7 Oktober 2016 hal 1

Melihat Pembuatan Kapal Listrik di Istanbul (2)

Zeynep Harezi (kanan)
Karpowership bisa menjual listrik murah karena perusahaan tersebut memilih bahan bakar yang lebih efisien yaitu HFO.

POS KUPANG.COM - Sosok perempuan muda paling ditunggu yang namanya diabadikan pada kapal listrik  yang beroperasi di Pelabuhan Amurang, Sulawesi Utara awal Januari 2016  itu akhirnya hadir juga ketika kami menikmati menu makan siang ala Turki yang lezat di kafe kantor Karpowership,  Jumat (30/9/2016).

Makan siang berlangsung pukul 14.10 waktu setempat setelah teman-teman Muslim menunaikan sholat Jumat di Masjid An Nur Istanbul. Dialah Zeynep Harezi, Direktur Eksekutif Pengembangan Bisnis Karpowership. Dua hari sebelumnya dia masih di Myanmar. Dia terbang ke Istanbul untuk sesi wawancara dengan kami 18 wartawan asal Indonesia. "Senang bertemu denganmu. Saya sudah bebeberapa kali ke Indonesia,"  kata Zeynep saat menyalami Pos Kupang. Disalaminya pula rekan wartawan lain dengan hangat dan ramah.

Didahului sesi  wawancara khusus dengan jurnalis televisi (Metro TV dan TV One), Zeynep kemudian memaparkan tentang keunggulan kapal listrik produksi Karpowership yang telah dan akan beroperasi di berbagai negara termasuk Indonesia. Zeynep menegaskan, manajemen Karpowership pantas percaya diri karena  bisnis mereka merupakan solusi terbaik guna mengatasi krisis listrik di negara berkembang.

Zeynep menjamin, harga jual listrik Karpowership kepada pelanggan PLN di Indonesia lebih murah ketimbang pembangkit lainnya. Menurut data yang dikutip  detik.com, PLN menyatakan mereka membeli setrum dari Karpowership dengan harga Rp 870 per kilowatt hour (kwh) selama lima tahun.

Karpowership bisa menjual listrik lebih murah memang dimungkinkan lantaran perusahaan tersebut memilih bahan bakar yang lebih efisien. Semua kapal buatan Karpowership memakai bahan bakar jenis HFO (Heavy Fuel Oil) dan gas.

Menurut Zeynep, pasokan HFO berlimpah dan harganya jauh lebih murah ketimbang minyak diesel. Dia menyebut harga HFO sekitar 270 dolar AS (Amerika Serikat) per ton atau kurang dari separuh harga minyak diesel sebesar 600 dolar AS  per ton.

Mesin pembangkit listrik (generator) buatan perusahaan Finlandia, Wartsila, yang dirakit pada kapal-kapal Karpowership juga hemat bahan bakar. Generator hanya menyedot 209 gram HFO dibanding rata-rata generator minyak diesel yang butuh bahan bakar 250 gram untuk mendapatkan setrum 1 kwh.

 "Itulah sebabnya biaya generator HFO hanya US  5,6 sen dolar AS dibanding 15 sen dolar AS pada pembangkit listrik berbahan bakar minyak diesel," kata Zeynep yang menjelaskan kepada wartawan sambil menuliskan angka-angka tersebut di papan.

Jaminan bahwa kapal listrik produksi perusahaan Turki itu lebih efisien, praktis dan tidak fleksibel  sebelumnya disampaikan Chief Executive Officer (CEO) Karpowership, Orhan Remzi Karadeniz di kantornya, Jumat (30/9/2016) pagi.
Proses pembuatan kapal Karpowership, kata Orhan,  hanya butuh waktu kurang dari satu tahun. Artinya jauh lebih cepat daripada membangun pembangkit listrik di darat yang butuh lahan luas serta memakan waktu bisa lebih lama setahun.

Orhan mengatakan, kapal Karpowership tidak memerlukan persiapan yang lama untuk mengoperasikannya. Setelah kapal tiba di tempat yang ditentukan suatu negara bisa langsung dipasang untuk menghasilkan energi listrik bagi masyarakat. Gardu bertenaga tinggi ada di kapal, koneksinya terhubung ke jaringan di darat. Keunggulan lainnya, lanjut Orhan, penyimpanan bahan bahan dan akomodasi pun di atas kapal dengan operasi pemeliharaan selama 24 jam.

Sebagai genset  raksasa apung, kapal buatan Karpowership pun gampang bergerak ke manapun tempat yang membutuhkan pasokan listrik segera. Misalnya saat terjadi bencana alam atau musibah tak terduga. "Daerah kepulauan seperti Indonesia sangat tepat menggunakan kapal listrik buatan kami," kata Orhan Karadeniz.

Orhan juga menjamin kapal-kapal buatan mereka ramah lingkungan. Di setiap lokasi penempatan kapal listrik tersebut akan dilengkapi alat pengolah limbah yang memenuhi syarat dan standar pemerintah setempat. "Kami sangat peduli terhadap aspek lingkungan dan pengurangan polusi," katanya.

"Dengan pendekatan pertumbuhan secara kontinu Karpowership menjaga kualitas dan efisiensi terbaik. Dan, dengan kepeloporan dan pendekatan kreatif  kami juga memberikan nilai tambah kepada para pemangku kepentingan kami," kata Orhan lagi.
Menurut Orhan, soal lain yang tidak luput dari perhatian manajemen Karpowership adalah melakukan transfer ilmu pengetahuan dan teknologi kepada sumber daya manusia (SDM) lokal. "Transfer ilmu dan teknologi itu sudah menjadi agenda kami," ujarnya.

Orhan juga menyinggung tanggung jawab sosial perusahan atau Corporate Social Responsibility (CSR). Karpowership melalui kantor cabangnya di Indonesia, kata Orhan, sudah merealisasikan  hal tersebut. Saat memaparkan visi dan misi perusahannya di Istanbul, Jumat pekan lalu, Orhan sempat memperlihatkan foto-foto kegiatan CSR Karpowership di beberapa tempat seperti di Lombok, NTB dan Sulawesi Utara. (dion db putra/habis)

Sumber: Pos Kupang 8 Oktober 2016 hal 1

Lima Kardus dari Kenari Satu

ilustrasi
HARI itu Senin 4 Juli 2011 kubawa pulang ke pondok sempit sederhana di Kolhua lima kardus berisi buku, kliping koran, foto-foto  dan bahan cetakan yang masih berguna. Sontak tersadar itulah kekayaanku selama 19 tahun di Harian Umum Pos Kupang. Kekayaan tak ternilai dengan uang karena sebagian besar dia telah membentuk sosokku sebagai Dion DB Putra. Dalam keterbatasanku sebagai manusia saya  ikut menyumbang untuk lembaga ini dari titik nol 1 Desember 1992.

Kubawa pulang ke rumah buku-buku, kliping koran, foto dan bahan cetakan itu yang memang milik pribadiku. Di ruang kerjaku yang segera dikosongkan untuk pejabat redaksi yang baru jauh lebih banyak buku, kliping koran, piala, bahan cetakan dan lain-lain. Itu aset Pos Kupang, milik perusahaan. Aku hafal dan tahu persis, mana yang milik pribadi dan mana milik institusi.

Dengan menyewa mobil bak terbuka (pick up)  yang biasa mangkal di depan kawasan Pasar Inpres Naikoten I, kubawa lima kardus itu ke perumahan BTN Kolhua. Biaya sewanya Rp 25 ribu.  Hari yang sama rekanku Tony Kleden pun mengepak buku-buku dan barang pribadinya untuk dibawa pulang ke rumahnya di kawasan Liliba, Kupang.

Dalam beberapa hal saya dan Tony punya hobi yang sama. Suka koleksi buku dan kami berhasil menghadirkan sejumlah judul buku demi menaikkan branding Pos Kupang dalam kurun waktu 2005-2011.  Kami berdua harus kosongkan ruang kerja karena demosi dan mendapat tugas baru di luar Kota  Kupang. Saya ditugaskan hanya  bekerja untuk Harian FloresStar di Maumere, Tony jadi reporter Pos Kupang di Kabupaten Sumba Barat Daya (SBD).

Jarum jam di ruang redaksi menunjukkan angka pukul 15.45 Wita tatkala rekan- rekanku Dulah, Fidel, Robert dan Mad membantuku membawa keluar lima kardus itu menuju halaman parkir Pos Kupang.

Ada yang menatapku sedih. Novri, Ira, Metyl  dan Feny kulihat menitikkan air mata. Saya minta mereka tidak usah menangis. Toh saya masih di lingkungan Pos Kupang. Tidak ke mana-mana.  Tapi tak sedikit yang tersenyum melihat momen hari itu , entah apa di dalam benak mereka, kawan-kawanku juga.

Beberapa rekan menawarkanku bawa pulang lima kardus itu dengan mobil dinas Pemimpin Redaksi  Pos Kupang. Kutolak halus. Dion bukan lagi pemimpin redaksi yang berhak menggunakan fasilitas itu. Sejak 1 Juli 2011 Dion wartawan biasa dan Dion tahu diri. Bahkan selama jadi pemimpin redaksi, mobil dinas itu tidak pernah diparkir di depan rumahku. Gara-gara itu saya pernah disebut orang aneh, bahkan disebut orang paling bodoh!

Di dalam satu kardus kusisipkan satu edisi koran Pos Kupang terbitan 1 Juli 2011. Itulah  edisi terakhir koran yang saya hasilkan bersama teman-temanku Redaktur Pelaksana, Dami Ola, Tony Kleden, Hyeron  Modo. Per 1 Juli 2011, saya, Tony dan Dami bukan lagi yang menentukan di newsroom Pos Kupang.  Ruang itu kini ada di tangan teman-teman kami, Benny Dasman, Agus Sape, Marsel Ali dan Hyeron Modo. Edisi terakhir ini akan kusimpan baik-baik dan suatu saat akan kutunjukkan kepada anak-anakku  bahwa ayahmu ini pernah menjadi pemimpin redaksi Pos Kupang sejak 2005-2011. (Hehehe... sombong sedikit di dalam rumah).

 Dalam rentang waktu itu selain Pos Kupang, hadir juga Mingguan Spirit NTT (sejak 8 Mei 2006) dan Harian FloresStarr. Saya tidak tahu nasib Spirit dan FloresStar ke depan. Cuma ada dua kemungkinan, hidup terus atau berhenti.  Perubahan adalah sebuah keniscayaan. Saya berharap di tangan pemimpin baru Pos Kupang jauh lebih baik, lebih maju dan lebih mensejahterakan karyawan-karyawati PT Timor Media Grafika.

Saya lumayan kenyang belajar tentang teori manajemen dan kepemimpinan di kampusku Fakultas Ilmu Administrasi Universitas Nusa Cendana, lembaga- lembaga pelatihan nasional dan internasional bahkan sampai di Jerman 2010. Saya kenyang mempraktikkan manajemen dan kepemimpinan itu dalam keseharian. Maka saya memang sempat terkejut ketika didemosi pada 1 Juli 2011 tanpa penjelasan sesuai Key Perfomance Indicators (KPI) yang lembaga Pos Kupang (Kompas Gramedia Group)  anut sejak 2007.  Tapi benakku segera bergumam, ini semua akhirnya akan diuji oleh waktu.

Saya berusaha profesional sajalah. Sejatinya diriku adalah wartawan. Dunia kewartawanan tidak mengenal eselonering seperti di birokrasi. Saya konsekwen dengan apa yang kerap saya katakan di lingkungan Pos Kupang bahwa tak ada orang yang tak tergantikan di suatu lembaga. Siapa pun bisa digantikan jika waktunya sudah tiba.

Terlepas dari cara pergantian ini yang masih bisa diperdebatkan, mungkin memang sekaranglah waktunya buat saya, Tony, Dami dan teman-teman yang lain seperti Ferry, Even dan Etty (ketiga terakhir manajer di divisi bisnis Pos Kupang) untuk meninggalkan pos lama. Kami harus memulai sesuatu yang baru. Sudah waktunya kesempatan ini diberikan kepada rekan yang lain, yang mudah-mudahan membawa "perubahan" sebabagaimana tema sentral yang dikatakan pimpinan Pos Kupang saat melakukan mutasi dan demosi per 1 Juli 2011.

Ketika menulis secuil kenangan ini di Maumere yang terik, di ruang kamar kosku yang sempit dengan nyamuk kadang hilir mudik mencari darah di tubuhku, saya tetap bersyukur. Syukur tiada akhir karena diberi pelajaran penting tentang hidup.

Setelah 19 tahun bergelut dengan jadwal deadline yang ketat sebagai pengelola di Mabes Pos Kupang, setelah 15 tahun berkutat dengan cari angle untuk headline utama dalam kapasitasku mulai dari level wakil redaktus, redaktur desk, sekretaris redaksi,  wakil redaktur pelaksana, redaktur pelaksana, wakil pemimpin redaksi dan pemimpin redaksi Pos Kupang, di Maumere yang panas terpanggang namun ikan segarnya enak luar biasa ini, Dion kembali belajar tentang hal-hal baru di dunia kewartawanan. Kerjaku tidak seberapa berat di Harian FloresStar.

Tidak akan ada lagi momen dimana saya harus peras isi otak bersama teman-teman mencari angle untuk jualan esok hari. Tugasku kini sangat simpel. Menulis berita, bantu edit berita beberapa rekan di biro Maumere  lalu kirim ke ruang redaksi di Kupang. Teman-temanku di sanalah yang menentukan, berita dipublikasikan atau tidak. Saya bukan lagi penentu kebijakan redaksional. Kuingat peribahasa ini setiap masa ada orangnya, setiap orang ada masanya. Yang abadi adalah perubahan itu sendiri!

Malam-malam panjang di Kenari Satu Kupang bagiku untuk sementara sudah berakhir sejak 30 Juni 2011. Sekarang saatnya bagiku untuk retreat. Menarik diri sejenak dari rutinitas meskipun berat nian harus berpisah dengan istri dan anak- anakku yang masih butuh kehadiran sosok ayah di samping mereka.

Tanggal 1 Desember 1992, saya datang ke Jalan Jenderal  Soeharto Nomor 53 Kupang (kantor pertama Pos Kupang) dengan semangat bekerja total. Berusaha memberi yang terbaik dengan tangan dan kakiku yang dibatasi  keterbatasan manusiawi.  Totalitasku tak berubah sampai detik ini. Saya mencintai Pos Kupang, Dion DB Putra masih jatuh cinta pada profesi jurnalis. Entah sampai kapan....

Maumere, 7 Oktober 2011.
Genap tiga bulan di "Kota Tsunami"

Menangkap Suara-suara di Dili

Bersama Ramos Horta di depan kantornya di Dili (2009)
  Saya tiba-tiba membayangkan wajah Timor Leste dalam kurun waktu lima belas atau dua puluh tahun yang akan datang.Bukan mustahil mereka amat lekas maju dan jauh meninggalkan Indonesia yang pernah bersamanya selama 23 tahun.

DIRIKU  larut dan menikmati hiruk-pikuk serta kemeriahan pesta rakyat Timor Leste merayakan HUT ke-7 restorasi kemerdekaan. Hari Rabu tanggal 20 Mei 2009 rakyat Timor Leste khususnya warga Kota Dili tumpah ruah di sepanjang pantai ibu kota negeri itu,  sambung-menyambung mulai dari kawasan Pantai Kelapa di barat  Dili hingga Pantai Pasir Putih.

Pesta rakyat berlangsung hingga Rabu larut malam. Sebagian orang bahkan baru pulang ke rumah  Kamis dinihari 21 Mei 2009. Beragam permainan dan atraksi mereka gelar di pantai tersebut. Atraksi tradisional hingga kontemporer. Ada United Nations (UN) Police, ada PNTL (Polisi Nasional Timor Leste). Tetapi mereka tidak menebarkan wajah seram. Mereka cuma mengawal pesta rakyat. Bahkan berbaur.
Ah, saya sungguh merasa seperti di kampung sendiri, di Timor Barat, Indonesia.

Sekilas kesan menyeruak,  Republik Demokratik Timor Leste di bawah kepemimpinan Perdana Menteri (PM), Xanana Gusmao sudah jauh lebih baik dibandingkan masa lalu. Lebih baik dari sisi rasa nyaman dan aman. Tidak lagi terbelenggu dengan  kontak senjata yang menebarkan ketakutan setiap saat.

Saya pernah merasakan suasana mencekam itu tatkala melakukan liputan jurnalistik keliling Timor Leste tahun 1997 atau dua tahun sebelum referendum untuk menentukan nasib sendiri. Rakyat Timor Leste kini tentu boleh berbangga dengan pemimpin kharismatik itu karena Xanana memberikan kedamaian.
Kemacetan lalu lintas di Dili

Di antara keramaian di kawasan Lecidere Rabu malam itu, perbincangan sekelompok pria dan wanita menarik perhatianku. Mereka bercakap dalam bahasa Tetun diselingi bahasa Indonesia. Saya mengerti alurnya. Saya tangkap makna kontekstualnya. Mereka berdiskusi tentang kondisi politik terkini di Indonesia. Tentang hasil pemilu legislatif 9 April 2009 dan terutama isu panas mengenai calon presiden dan wakil presiden Republik Indonesia yang berkompetisi pada 8 Juli 2009.

Saya menikmati diskusi informal ala warung kopi itu sebagai pendengar sambil menikmati tarian Tebe Tebe, alunan musik dan lagu Timor. Mereka membahas tentang figur Prabowo Subianto, Wiranto, Megawati Soekarnoputri, Jusuf Kalla, Boediono dan Susilo Bambang Yudhoyono (SBY). Luar biasa! Analisis mereka tak kalah mendalam dibandingkan pandangan pakar politik Indonesia yang hampir saban malam hadir di televisi.

Sekilas kesan yang kutangkap dari diskusi "pinggir jalan" itu nama Prabowo paling populer di Timor Leste disusul Wiranto dan Megawati Soekarnoputri. Berkali-kali mereka menyebut nama Prabowo dan Wiranto. Maklumlah dua mantan pejabat tinggi TNI tersebut pernah bersentuhan langsung dengan rakyat Timor Leste ketika masih menjadi Provinsi ke-27 Indonesia (1976-1999). Tetapi yang mengejutkan adalah mereka menilai SBY lebih baik dan paling berpeluang terpilih kembali sebagai Presiden RI. "Di antara tiga calon presiden RI, tidak ada tokoh yang lebih berpengaruh dan populer daripada SBY," kata salah seorang dari mereka.

Pengibaran bendera Timor Leste
SBY dinilai lebih berani dibanding presiden RI terdahulu dalam memberantas kasus korupsi. SBY lebih akomodatif terhadap pemerintahan Timor Leste dan Australia, SBY juga dianggap lebih populer di mata rakyat yang dibuktikan lewat kemenangan Partai Demokrat pada pemilu legislatif 2009. Salah seorang peserta diskusi mengatakan, pesaing kuat SBY adalah pasangan Jusuf Kalla-Wiranto, bukan Mega-Prabowo. Terbukti pada Pilres 8 Juli 2009, pasangan SBY-Budiono meraih suara mayoritas. SBY memimpin Indonesia untuk periode kedua.

Tapi setidaknya analisis itu sungguh menggugah saya untuk menelusuri lebih jauh mengapa warga Dili terlihat begitu "paham" tentang konstelasi politik Indonesia? Tak butuh waktu lama untuk mendapatkan jawaban. Program acara dari saluran televisi Indonesia merupakan menu harian hampir setiap rumah tangga di Dili. Demikian pula dengan bar, restoran dan hotel. Jadi warga Timor Leste mengikuti dengan baik semua perkembangan yang terjadi di tanah air kita.

Seperti kecelakaan pesawat Hercules di Magetan pada tanggal 20 Mei 2009 itu, saya justru mendengar pertama kali informasi itu dari warga Dili yang menonton parade pasukan usai upacara bendera memperingati HUT ke-7 Timor Leste di halaman depan Kantor Perdana Menteri (Palacio do Governo) Dili. "Ada pesawat jatuh di Magetan, barusan saya lihat breaking news di Metro TV," kata warga Dili tersebut yang mengaku lulusan Universitas Brawijaya Malang.

Joao, kawan saya yang bekerja di sebuah LSM internasional di Dili bahkan bercerita bahwa putrinya yang duduk di kelas 4 SD sudah fasih bicara bahasa Indonesia dengan dialek Jakarta. "Bung tahu dia belajar di mana? Saya tidak pernah ajarkan dia Bahasa Indonesia di rumah karena saya dan istri pakai bahasa ibu kami, Tetun. Anakku bisa bahasa Indonesia karena tiap hari nonton televisi Indonesia. Dia nonton acara untuk anak-anak, nonton sinetron dan lain-lain," kata Joao yang menyelesaikan studi S1-nya di Universitas Katolik Atmajaya Yogyakarta.

Meskipun telah satu dasawarsa lebih berpisah dengan Indonesia (sejak referendum 1999), warna Indonesia masih kuat melekat di bumi Timor Lorosae. Bahasa resmi negara baru itu adalah Portugis dan Tetun, tetapi "bahasa bisnis dan bahasa kerja" sehari-hari adalah Bahasa Indonesia dan Inggris.  Berada di Dili Anda serasa berada di negeri sendiri.

Perbatasan Motaain
Tata upacara bendera, misalnya,  sungguh kental warna Indonesia. Petugas pengibar bendera (semacam paskibraka = pasukan pengibar bendera pusaka di Indonesia) persis sama warna seragam dan komposisi grup pengibar bendera nasional. Yang berbeda cuma lambang dan atribut yang melekat pada busana mereka.

Bahkan di daerah pelosok Timor Leste, murid sekolah dasar, SLTP dan SLTA masih mengenakan seragam warisan Indonesia, paduan Putih Merah, Putih Biru dan Putih Abu-abu. Bahasa pengantar di sekolah pun sebagian masih  menggunakan Bahasa Indonesia.  Yang berubah adalah papan nama tempat sudah dialihkan ke Bahasa Portugis dan Tetun. Dan, mereka menggunakan uang dolar Amerika Serikat (US Dollar).

Satu lagi yang berubah drastis sekarang, arus lalulintas Kota Dili yang tidak seberapa luas itu tersendat-sendat pada pukul 07.00 pagi saat orang berangkat kerja atau ke sekolah dan pukul 17.00 saat mereka pulang. Pertambahan jumlah mobil meningkat amat lekas di negara baru itu. Orang Dili  secara parodial melukiskan demikian, "Kami  orang Dili bisa saja tidak punya rumah, tapi mobil pasti ada."

Bangun Desa Perbatasan
Denyut perekonomian memang mulai bertumbuh di Timor Leste! Di jalan-jalan berseliweran mobil berbagai merk buatan mancanegara. Dari beberapa sumber saya mendapat informasi bahwa mobil-mobil itu berasal dari Singapura dan Australia. Pemerintahan Xanana konon membuka kran impor relokasi mobil dari kedua negara tersebut. Tentu saja harga jualnya menjadi lebih murah, sehingga terjangkau kantong  warga Timor Leste.

Kehidupan malam di Dili, ibu kota Timor Leste pun sudah lebih marak. Restoran dan cafe tumbuh bak jamur di musim hujan. Melayani konsumen hingga larut malam.  Pertokoan dan pasar-pasar menggeliat. Kehidupan di Dili sudah berjalan jauh lebih produktif dibanding masa-masa konflik beberapa tahun lalu. Mudah menemukan remaja Kota Dili memakai hot pants atau busana yang selalu mengikuti trend dunia mode. Selain Tetun, mereka juga fasih  berbahasa Inggris.

Dili berubah. Negara baru  Timor Leste penuh semangat mengisi kemerdekaan. Itulah suara-suara yang saya tangkap di Dili. Tidak lengkap memang karena perjalanan jurnalistik saya  hanya beberapa saat. Tetapi  setidaknya menangkap apa yang sedang direncanakan pemerintah negara tersebut untuk membangun negerinya.

Ketika meliput pertemuan antara Wakil Gubernur NTT Ir. Esthon L Foenay, M.Si dengan PM  Xanana Gusmao, Presiden Ramos Horta serta sejumlah menteri  di sela-sela peringatan kemerdekaan Timor Leste kala itu, saya menangkap  gairah yang bergelora dari para pemimpin negeri itu untuk segera mengeluarkan Timor Leste sebagai negara termiskin di Asia.

Satu hal yang menghentak adalah cara pandang pemerintahan Xanana tentang dari mana harus mulai membangun. Xanana ternyata ingin membangun mulai dari desa dan sasaran pertama justru desa-desa di perbatasan dengan wilayah Indonesia. Dan, itu berarti pemerintahan Xanana Gusmao akan membangun daerah tapas batas dengan Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT), baik yang berbatasan dengan Kabupaten Belu, Kabupaten Timor Tengah Utara (TTU) dan Kabupaten Kupang.

Sebagai orang yang lama bersinggungan dengan Indonesia, rencana pemerintahan Xanana bukan hal baru. Selama puluhan tahun tekad pemerintah Indonesia pun sama yaitu bangun bangsa mulai dari desa. Persoalannya itu sebatas jargon pemanis di bibir,  tidak membumi pada level eksekusi. Terdapat jurang pemisah yang amat lebar antara desa dan kota di Indonesia. Desa selalu terpinggirkan karena hampir semua sumber daya terbaik tersedot ke daerah perkotaaan.

Selain desa termarjinalkan, fokus pembangunan Indonesia selama puluhan tahun justru melupakan wilayah perbatasan dengan negara tetangga, seperti daerah tapal batas dengan Malaysia, Australia, Filipina, Singapura dan Papua Nugini. Baru dalam tahun-tahun belakangan ini kesadaran itu muncul bahwa tapal batas sesungguhnya merupakan beranda terdepan NKRI, pintu masuk, teras rumah Indonesia.

Lucu dan menyakitkan manakala orang masuk ke Indonesia melihat beranda rumah berlepotan, miskin dan tertinggal.  Maka lahirlah apa yang disebut pulau-pulau terdepan NKRI. Pemerintah Indonesia mengubah paradigma, perbatasan mesti dibangun dengan lebih fokus dan ofensif.

Saya menduga pemerintahan Xanana coba belajar dari kegagalan Indonesia. Xanana fokus membangun daerah perbatasan sebagai halaman depan Timor Leste. Sebagai negara yang baru, memang masih banyak kekurangan Timor Leste dibandingkan dengan Indonesia. Namun, geliat membangun perbatasan sudah terlihat setidaknya antara perbatasan antara Kabupaten Timor Tengah Utara (TTU), Provinsi Nusa Tenggara Timur, Indonesia dengan Distrik Oekusi, Timor Leste.

Surat kabar tempat saya mengabdi, Harian Pos Kupang sudah berulang kali memberitakan betapa  Distrik Oekusi, Republik Demokratik Timor Leste (RDTL) yang berbatasan langsung dengan Kabupaten TTU memiliki infrastruktur dasar yang lebih baik. Sebut misalnya infrastruktur air minum dan listrik.

Jika malam tiba,  warga desa-desa  perbatasan TTU kembali ke peraduannya guna melepas lelah setelah seharian bekerja di ladang. Mereka menikmati malam hanya bermodalkan lampu pelita yang redup. Sementara desa tetangga yang hanya selemparan batu di Distrik Oekusi, listrik terang-benderang. Warganya bisa menonton televisi, mendengarkan radio. Anak-anak mereka bisa belajar dengan penerangan yang memadai.  Miris memang! Toh ketika masih bergabung dengan Indonesia nasib mereka sama yaitu tidur malam berselimutkan kegelapan.

Begitulah  suara-suara yang kurekam sejenak di Dili. Negara baru dengan populasi penduduk belum menembus angka 1 juta tersebut terus berbenah guna mengejar ketertinggalannya dalam berbagai bidang kehidupan. Saya tiba-tiba membayangkan wajah Timor Leste dalam kurun waktu lima belas atau dua puluh tahun yang akan datang.Bukan mustahil mereka amat lekas maju dan jauh meninggalkan Indonesia yang pernah bersamanya selama 23 tahun.*

Sumber:  Buku Bunga Rampai Hari Pers Nasional 2014: Dari Gampong Pande hingga UU Otsus Plus Papua halaman 97. Buku yang disunting Usman Yatim ini diterbitkan Panitia Hari Pers Nasional (HPN) 2014 dan Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Pusat.  Buku ini diluncurkan pada puncak HPN 2014  di Bengkulu yang antara lain dihadiri Presiden RI Susilo Bambang Yudhoyono dan Ibu Negara Ani Yudhoyono.


Menguji Nyali di Nimanga River

Sungai Nimanga, Minahasa, Sulawesi Utara
Sulawesi Utara benar-benar memiliki pesona luar biasa. Sungai yang membelah Desa Timbukar, Kabupaten Minahasa menjadi bukti pesona itu.

SEBANYAK 24  wartawan, di antaranya lima jurnalis Harian Tribun Manado masing- masing Anton Iwan, Arthur Rompis, Charles Imanuel Komailing, Wastef Abisada dan Dion DB Putra  berkesempatan menjajal arung jeram sungai di Desa Timbukar dalam gelaran Media Gathering PT Daya Adicipta Wisesa, Sabtu 24 November 2012.

Sebelum meluncur ke lokasi gathering, para jurnalis berkumpul dulu di main dealer Honda PT Daya Adicipta Wisesa yang berada di Maumbi.

Persiapan
Pada kesempatan itu, dipaparkan sistem PGM-FI yang akan berlaku pada semua motor Honda mulai tahun depan. Erik Winata Sugiarto, Marketing and Promotion Departement Head menyatakan, hal ini dilakukan Honda untuk mendukung kampanye lingkungan bersih yang sedang berlangsung di berbagai negara, termasuk Indonesia.

"Ini merupakan teknologi Honda yang ramah lingkungan," kata Erik seraya menambahkan,  teknologi PGM-FI sudah nyantol di motor Honda sejak 1982. "Ada motor tertentu yang sudah memakai teknologi ini," sebutnya.

Setelah 1982, berturut-turut pada 1993, 2002 hingga akhirnya dicanangkan semua motor Honda akan menggunakan teknologi ini pada 2013.

Para wartawan juga diajak menengok aktivitas di gudang Honda pada bagian sparepart dan unit. Masuk ke dalam 'area rahasia" Honda, para jurnalis dilarang bawa kamera.
Simak penjelasan instruktur

Mereka hanya dapat mencatat pada BlackBerry atau secarik kertas, hal-hal yang dijelaskan oleh penjaga gudang. Dijelaskan tentang barang-barang sparepart sewaktu diterima lalu dipak untuk dijual ke distributor yang ada di tiga daerah yaitu Sulut, Maluku dan Gorontalo.

Pada ruangan yang mampu menampung ribuan sepeda motor, para peserta gathering sempat terkejut begitu tahu motor-motor itu sudah terjual semua. Pada sisi kanan ruangan berkapasitas 1.500 motor itu, ada satu ruang berukuran kecil yang difungsikan sebagai tempat reparasi motor yang masuk.

Keluar gudang, para jurnalis langsung digiring menuju dua buah bus yang akan membawa mereka ke Timbukar.

Selama satu setengah jam lebih, perjalanan ditempuh dari Maumbi menuju Timbukar masuklah di daerah perbukitan dengan jalan sangat sempit. Namun di kanan kiri, pemandangan begitu indah. Bahkan beberapa kali ditemui air terjun.

Dan akhirnya tibalah di tempat rafting bernama Karapi Rafting Nimanga River Timbukar itu. Sungai sudah menderu-deru serta pepohonan menari-nari di pelupuk mata seperti memanggil-manggil, tapi "adu nyali" belum dimulai.

Sesudah makan siang yang riang, suasana jadi "mencekam" ketika para peserta gathering yaitu para jurnalis dan karyawan PT DAW mengambil perlengkapan rafting satu per satu mulai dari pelampung, helm pelindung hingga dayung.

Adrenalin para peserta membara ketika mendengar pasal demi pasal aturan rafting dibacakan. "Ada beberapa komando yaitu dayung depan, dayung belakang, pindah kiri dan kanan, buum yang berarti menunduk, buum, buum, buum yang artinya duduk. Juga pegang dayung ada caranya yaitu pegang ujung dan bagian tengahnya," kata seorang instruktur panjang lebar.

Penjelasan itu disambut anggukan kepala, tanda paham. Perahu karet sebanyak delapan buah sudah terparkir di tepi Sungai Nimanga.  Peserta menghampirinya dan mengambil posisi, dua di belakang, satu di tengah serta sang kapten yang bertugas mengawasi, duduk pada posisi paling belakang.

Jeram Say Goodbye


Puluhan wartawan dan karyawan PT Daya Adicipta Wisesa itu terjun ke sungai yang membelah Desa Timbukar. Lalu mereka meluncur menumpang perahu karet.
Siap meluncur dari titik start

Delapan perahu karet itu ditumpangi 4-6 orang. Satu orang merupakan pemandu dari Karapi Rafting Nimanga River Timbukar. Air sungai mengalir tenang diiringi rintik hujan.

Setengah jam setelah meluncur, tiba-tiba muncul arus deras dari atas. Air berwarna hitam dan membawa berbagai material, utamanya batang pohon ukuran sedang. Air semakin deras dan mereka yang ada di lokasi start pun panik.

Pengelola rafting yang stand by di lokasi start pun meluncur dengan sepeda motor, menyusul mereka yang mengikuti rafting. Tujuannya meminta mereka minggir dan melihat situasi, apakah perjalanan bisa dilanjutkan atau harus dihentikan. Semua untuk keselamatan peserta.

Di awal-awal perjalanan, semua merasa tegang. Saat dijelaskan mereka menganggu-anggukkan kepala, tapi medan yang beringas itu membuat teori di kepala buyar.

"Saya perintah dayung ke belakang, tapi kamu kamu dayung ke depan," hardik sang kapten bernama Doni kepada seorang peserta yang gugup.

Berbagai kesalahan mendasar dilakukan pada awalnya, mulai dari salah dengar komando hingga salah pegang dayung. "Pegang dayung baik-baik," kata sang kapten.

Jeram pertama dilalui dengan mulus karena bisa dilewati dengan mudah. Namun kala jeram kedua dan ketiga terlewati, itu pasti karena ketrampilan dan kekompakan.

Takut yang sempat muncul di awal perjalanan lenyap berganti nyali untuk terus menjajal rute sepanjang 12 kilometer melintasi dua desa beda kabupaten yaitu Desa Timbukar Kabupaten Minahasa dan Desa Tangkunei, Kabupaten Minahasa Selatan.

"Bole sampe jembatan Maruasei kalu bagini," seloroh seorang peserta. Perahu terus  bergerak mengikuti arus. Tak melulu ke depan, para peserta juga mengayuh ke belakang mengikuti perintah sang kapten.

Gerak perahu kadang terhalang oleh batu besar di tengah sungai, atau tersendat - sendat kala melalui permukaan air yang melapisi hamparan batu kecil di bawahnya.
Tiba selamat di finish

Tegak, lalu oleng lagi, para peserta harus berjuang keras melawan arus. Hingga suatu ketika, perahu memasuki area tenang.

Tak perlu berkelahi dengan arus, para peserta meletakkan dayung masing-masing di sisi perahu. Perahu kemudian menepi dan berhenti pada suatu tempat.

Di sini, para peserta beristirahat dengan cara duduk pada tepi perahu. Sambil menyudut rokok atau meminum air mineral yang dibawa, para peserta berbagi pengamalan seru yang barusan dialami.

Tiba-tiba terdengar suara teriakan seorang pria yang tak lain pengelola yang menyusul akibat ada gelombang besar. Sang pengelola minta menunggu arus sampai tenang kembali.

Para peserta tegang lagi mendengar peringatan itu, apalagi mengetahui rute yang dijalani baru tiga kilometer. Berarti masih ada sembilan kilo lagi sebelum peserta benar-benar finish. "Di depan, tantangan yang ada makin ekstrem, " kata Donny.

Benar saja, ketika perahu dilepas sudah terasa adanya sesuatu yang seram menanti di depan sana. Bebatuan berukuran besar maupun kecil, jumlahnya lebih banyak ketimbang tiga kilometer pertama tadi.
Awak Tribun Manado

Arus yang makin kencang memukul bebatuan itu membuat gelombang makin besar. Bukan hanya oleng, perahu kadang berputar-putar hingga 180 derajat.

Perlu usaha ekstra keras untuk mengembalikan perahu pada posisi semula. Keadaan sempat tenang lagi, ketika peserta tiba pada suatu tempat yang tidak terlindung pepohonan.

Dari situ, tampak matahari bersinar cerah, perahu melaju mulus pada area yang tak banyak batunya itu. Kayuh dicelupkan pada permukaan air dan teraba dasarnya tanda air di situ tak dalam.

 Namun, seperti bunyi pepatah, tenangnya air di situ hanya pertanda sebelum datangnya badai. Tak jauh dari situ terdapat salah satu jeram maut bernama Say Goodbye.  Nama itu merujuk pada seringnya peserta jatuh dari perahu usai melalui tempat itu. Dari jauh, buih sudah terlihat. Perahu pun goyang kembali. Saking bahayanya, perahu yang datangnya berombongan harus melewati jeram maut itu satu per satu.

Satu perahu, kemudian dua, tiga dan empat perahu melewati jeram itu dengan cara meluncur dari atas ke bawah. Sial bagi perahu kelima. Seorang peserta  terlempar dari perahu, dayungnya pun terlepas dibawa air sungai.

Namun semua tantangan itu berhasil dilalui hingga tiba di garis finish. Mereka pun bergembira. Ronald Manueke, Marketing Communication PT Daya Adicipta Wisesa menyatakan, kegiatan ini digelar sebagai wujud apresiasi perusahaan terhadap insan pers yang telah menjalin kerja sama dengan baik. (arthur rompis)

Sumber: Tribun Manado 25-26 November 2012 hal 1

Tujuh Puncak di Tujuh Benua

ilustrasi
Di antara sekitar 350 penggapai tujuh puncak di tujuh benua, Indonesia menyumbang empat pendaki dari Mahitala pada Juli 2011 dan dua pendaki dari Wanadri pada Mei 2012. Namun, setelah itu apa? Cukupkah Indonesia berbangga memiliki enam pendaki penggapai tujuh puncak di tujuh benua atau seven summiteers? 

Demikian salah satu pertanyaan dalam seminar Kisah Para Pendaki Asia Tenggara yang Telah Berhasil Manggapai Puncak Dunia di Gedung Setiabudi 2, Jalan HR Rasuna Said, Jakarta Selatan, Sabtu (17/11/2012). Seminar diselenggarakan oleh Mahasiswa Parahyangan Pencinta Alam (Mahitala), Universitas Parahyangan, Bandung, Jawa Barat. 

Bagi Mahitala, sudah setahun lebih sejak empat pendaki mereka menyelesaikan ekspedisi dengan menggapai puncak ketujuh yakni Denali/McKinley (6.194 mdpl) di Alaska, Amerika Serikat (Amerika Utara) pada 7 Juli 2011. Mereka adalah Sofyan Arief Fesa (29), Xaverius Frans (25), Broery Andrew Sihombing (23), dan Janatan Ginting (23). 

Pemikiran untuk melaksanakan Indonesia Seven Summits Expedition Mahitala Unpar (ISSEMU) atau Ekspedisi Indonesia di Tujuh Puncak Dunia oleh Mahitala Unpar itu justru berawal dari perjumpaan dengan Hiroyuki Kuraoka, pemandu berpengalaman asal Jepang, saat belasan anggota Mahitala melaksanakan ekspedisi sekaligus penelitian flora dan fauna di Carstensz Pyramid, Papua, Indonesia (Oceania), Januari-Februari 2009. 

Dalam kurun waktu 35 hari ekspedisi itu, pada 23 Februari dan 26 Februari 2009, anggota Mahitala termasuk empat pendaki yang kemudian menjadi pendaki ISSEMU, menggapai puncak Ndugu-Ndugu/Carstenz Pyramid (4.884 mdpl). Mereka juga memberi nama lima puncak-salah satunya Mahitala-yang diklaim belum digapai pendaki lainnya, mengganti tali dan jangkar dengan yang baru sedangkan yang lama dibuang dengan bantuan angkut helikopter. 

Saat bertemu Hiroyuki, sang pendaki gaek asal Jepang itu sedang memandu seorang pendaki yang ternyata sopir taksi yang berambisi menjadi seven summiteers. Jika orang lain mampu, apakah anggota Mahitala yang notabene orang tropis juga bisa? Hiroyuki ternyata juga mengamati aktivitas anggota Mahitala di satu-satunya pegunungan berpuncak es abadi di Indonesia itu.

Hiroyuki punya feeling bahwa Mahitala mampu, selama kegiatan terlihat tenang, nyaris tanpa mengeluh, dan terus mendaki yang dinilainya modal yang cukup baik untuk menjadi pendaki tangguh dunia.   Perasaan Hiroyuki itu akhirnya terbukti. Indonesia melalui Mahitala dan Wanadri menjadi satu di antara para pendaki dari 52 negara di dunia yang dikategorikan seven summiteers.

Namun, sudah cukupkah? Setelah itu apa? Jawabannya masih disimpan oleh empat pendaki Mahitala. "Kami belum berani mengutarakannya," kata Xaverius Frans menjawab pertanyaan peserta seminar.   Di jajaran pendaki elite dunia, jumlah puncak tertinggi benua masih diperdebatkan. Sebagian menyatakan ada tujuh puncak mewakili tujuh benua. Sebagian menyatakan ada delapan puncak mewakili delapan benua. Yang disebut terakhir ialah puncak Kosciuszko (2.228 mdpl) di Australia yang dianggap mewakili benua Australia sehingga berbeda dengan Ndugu-Ndugu/Carstensz Pyramid yang mewakili benua Oceania.

Jika kategorinya delapan puncak di delapan benua, hanya ada 138 pendaki yang Indonesia belum termasuk di antaranya.   Selain itu, ada istilah adventure grand slam untuk penggapai tujuh puncak di tujuh benua ditambah kutub utara dan kutub selatan.  Yang berpredikat ini belum lebih dari 20 pendaki. Salah satunya berasal dari Singapura yakni Khoo Swee Chiow yang saat seminar juga hadir dan berbagi pengalamannya. Dia adalah orang pertama dari Asia Tenggara atau orang keempat di dunia yang mendapatkan adventure grand slam. 

Tidak berhenti di situ, Khoo pernah bersepeda Singapura-Beijing (China), bersepatu roda dari Hanoi (Vietnam) ke Singapura, berkayak keliling kepulauan Filipina, bertahan dalam air paling lama, dan berenang menyeberangi Selat Malaka. Sudah lebih dari 350 seminar motivasi yang diikuti 95.000 di seluruh dunia yang pernah diberikan oleh Khoo.

Khoo juga orang Asia Tenggara pertama yang menggapai puncak K2 (8.611 mdpl). Puncak kedua tertinggi di dunia itu digapai pada 31 Juli 2012. K2 dianggap gunung mematikan dengan jalur pendakian tersulit. Puncak tertinggi dunia yakni Sagarmatha/Everest (8.848 mdpl) sudah digapai oleh 4.000 pendaki. Namun, baru 300 orang yang pernah menggapai puncak K2 di Pegunungan Karakoram teritorial Pakistan-China. 

Menurut Khoo, Indonesia adalah bangsa yang besar. Indonesia patut menjadi pemimpin atau pemasok utama pendaki-pendaki tangguh dunia, setidaknya dari Asia Tenggara. Di Singapura, tidak banyak yang ingin mengikuti jejak Khoo. Malaysia diduga memfokuskan pada pendakian Everest. Sedikit pendaki dari Vietnam yang setelah mencapai Everest belum terdengar lagi gebrakannya. Thailand yang menyumbang tiga pendaki tujuh puncak di tujuh benua juga belum lagi terdengar gaungnya. 

"Peluang Indonesia amat besar untuk menjadi yang terkuat di pendakian gunung," kata Khoo. Bahkan, Khoo membocorkan peluang kegiatannya mendatang. Antara lain mendaki Kanchenjunga (8.586 mdpl) yang tertinggi setelah Everest dan K2, anggota 14 puncak di atas 8.000 mdpl, mendaki gunung tertinggi di Myanmar yakni Hkakaborazi (5.881 mdpl), mendaki puncak-puncak yang belum pernah didaki di India atau Papua, atau menjelajahi Indonesia dari Aceh sampai Papua.   Padahal, untuk mewujudkan ambisi nekatnya itu, Khoo tidak membiayainya sendiri. Dana didapat dari sponsor yang dianggap sebagai mitra bisnis.

Kegiatan Khoo dipandang membantu mengangkat citra dan mendongkrak penjualan produk perusahaan sponsor.   Lalu di mana peluang pendaki Indonesia untuk mengungguli Khoo? Peluang itu berasal dari pertanyaan seorang peserta apakah Khoo ingin mendaki seluruh 14 puncak di atas 8.000 mdpl? Jawaban Khoo, dalam waktu dekat ini belum, sebab pendakian gunung berkategori tersebut menghabiskan dana besar dan waktu yang lama. 

Sudah tiga puncak dari 14 puncak di atas 8.000 mdpl yang digapai Khoo. Selain Everest dan K2 adalah Shishapangma (8.013 mdpl). Berarti untuk mensejajarkan diri dengan 29 pendaki penggapai 14 puncak tersebut atau disebut eight-thousander, Khoo masih perlu menyelesaikan 11 puncak lagi.

Untuk menjadi eight-thousander, peluang Indonesia untuk menjadi yang terdepan di Asia jelas tertutup sebab sudah didahului oleh pendaki Korea Selatan, Jepang, Nepal, dan Kazakhstan. Namun, untuk menjadi eight-thousander pertama dari Asia Tenggara, peluang ini masih ada dengan catatan tidak didahului oleh Khoo. 

Entah kegiatan alam terbuka seperti apa yang bisa dijadikan Indonesia untuk menjadi yang unggul. Namun, pernyataan Khoo menarik untuk direnungkan. Mimpi besar membuat kita tetap hidup dan bisa diwujudkan dengan permulaan langkah kecil.   Pernyataan itu senada dengan hasil perenungan Mahitala. Perjalanan ribuan mil dimulai dengan satu langkah. Sesuatu yang mustahil menjadi saya mungkinkan (impossible to i'm possible). Dan, lakukanlah demi bangsa Indonesia. (*)

Sumber: Kompas.Com

Terkait


Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Best WordPress Themes