Tampilkan postingan dengan label BETA. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label BETA. Tampilkan semua postingan

Kegalauan Paman Joe

 



Amerika Serikat beberapa saat lagi kembali dipimpin seorang presiden yang tergolong kaya raya. Dialah Donald John Trump atau Donald Trump (78). 

Setelah menjabat sebagai Presiden Amerika Serikat ke-45 dari 2017 hingga 2021, Trump kembali terpilih sebagai Presiden Amerika Serikat ke-47. Dia unggul jauh atas pesaingnya dari Partai Demokrat, Kamala Harris pada Pemilu 5 November 2024.

 Sarjana ekonomi lulusan Universitas Pennsylvania itu akan berada di Gedung Putih mulai 20 Januari 2025 hingga 20 Januari 2029.

Donald Trump adalah presiden terkaya dalam sejarah Amerika Serikat. Bisa dimengerti mengingat latar belakangnya sebagai konglomerat yang memiliki real estat mulai dari lapangan golf hingga hotel berbintang. 

Bloomberg memperkirakan pada akhir tahun 2024, kekayaan bersih Donald Trump paling sedikit di angka 6,49 miliar dolar AS atau setara Rp 102 triliun. 

Donald Trump memang punya pesona khusus. Dalam Pilpres AS 2024,  calon dari Partai Republik tersebut mendapat dukungan dari orang-orang superkaya di Amerika Serikat.

Seorang di antaranya bahkan hampir pasti menjadi masuk kabinet Presiden Donald Trump masa bakti 2025-2029. Sang miliarder tersebut adalah CEO Tesla, Elon Musk.

Elon Musk pada Desember 2024 membukukan harga kekayaan kurang lebih 400 miliar dolar AS atau setara Rp 6.400 triliun. Demikian menurut daftar Forbes Real-Time Billionaires.

Tuan dan puan bisa bayangkan punya harta Rp 6.400 triliun. Berbekal duit segemuk itu, dia dapat berbuat apa saja.

Saat membantu Donald Trump untuk meraih kemenangan di Pemilu 5 November 2024, sejumlah laporan menyebut Elon Musk menggelontorkan dana lebih dari 100 juta dollar AS atau kira-kira Rp 1,6 triliun.

Tokoh superkaya Amerika Serikat lainnya  seperti Mark Zuckerberg dari Meta dan Jeff Bezos dari Amazon juga menyumbang untuk komite pelantikan Donald Trump sebagai presiden pada 20 Januari 2025.

Manusia superkaya AS tersebut secara khusus berkunjung ke klub pribadi Donald Trump di Florida untuk bertemu sang presiden terpilih. 

Merapatnya kaum kaya raya ke kubu Donald Trump membuat Presiden Amerika Serikat, Joe Biden galau.

Dalam pidato perpisahan dari Ruang Oval Gedung Putih, Rabu 15 Januari 2025 waktu setempat, Joe Biden terang-terangan merasa cemas akan hadirnya oligarki dalam pemerintahan Trump. 

“Sebuah oligarki sedang terbentuk di Amerika, dengan kekayaan, kekuasaan, dan pengaruh yang luar biasa, yang benar-benar mengancam demokrasi kita, hak-hak dasar dan kebebasan kita, serta kesempatan yang adil bagi semua orang untuk maju,” kata Presiden Joe Biden dalam pidatonya.

Menurut Joe Biden yang mengakhiri masa jabatannya pada 20 Januari 2025,  konsentrasi kekuasaan  di tangan segelintir orang superkaya sangat berbahaya bagi demokrasi.

Pemerintahan yang dijalankan beberapa orang berkuasa dari golongan atau kelompok tertentu bakal merugikan rakyat.

Untuk memperkuat kegalauannya, Si Paman Joe (baca: Joe Biden)  mengutip  peringatan Presiden AS,  Dwight Eisenhower dalam pidato perpisahannya tahun 1961. Ketika itu Presiden Eisenhower memperkenalkan istilah military-industrial complex. 

Istilah itu menggambarkan hubungan erat antara kalangan militer,  industri persenjataan, dan pemerintah Amerika Serikat. 

Eisenhower memperingatkan, jika hubungan itu tidak diawasi, maka akan terjadi konsentrasi kekuasaan yang berbahaya. 

Hal ini berpotensi mendorong peningkatan pengeluaran militer yang berlebihan dan kebijakan yang dipengaruhi oleh kepentingan ekonomi dan politik, bukan oleh kepentingan rakyat Amerika Serikat. 

"Saya memiliki kekhawatiran serupa terhadap kemungkinan munculnya tech-industrial complex yang dapat menjadi ancaman serius bagi negara kita," kata Joe Biden, presiden AS dari Partai Demokrat yang mengalahkan Trump di Pilpres 2020. 

Rasanya bukan hanya Paman Joe Biden yang galau. Sebagian rakyat Amerika tentu cemas melihat sejumlah orang superkaya di dunia dan raksasa industri teknologi berbondong-bondong mendukung Donald Trump dalam beberapa bulan terakhir. 

Elon Musk (53) akan mengisi jabatan sebagai Kepala Departemen Efisiensi Pemerintah AS. Lembaga ini baru dibentuk Trump. Dipangku Elon Musk sebagai penghargaan atas dukungan kuatnya selama kampanye Donald Trump.  

Elon Musk bukan tidak mungkin akan menjadi calon Presiden Amerika Serikat berikutnya. Jalan politik telah dia masuki.

Oligarki bukan hanya masalah Amerika Serikat. Kita di negeri ini pun jangan sampai terjerat praktik oligarki. Nasib kita diatur hanya oleh beberapa orang kaya raya dan berkuasa. Mereka kongkalikong dan mengatur sesuka hatinya. (*)

Sumber: Pos Kupang

Hanya Seumur Jagung


 Komisi Pemilihan Umum (KPU) Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) dan sejumlah KPU kabupaten dan kota di NTT telah menetapkan pasangan calon kepala daerah terpilih hasil Pilkada 2024 pada 9 Januari 2025. 

Pengecualian bagi daerah yang masih bersengketa di Mahkamah Konstitusi.

Setelah pleno penetapan itu, KPU mengirimkan berkas penetapan pasangan calon kepala daerah terpilih kepada DPRD setempat untuk proses lebih lanjut hingga pelantikan yang merupakan kewenangan pemerintah pusat. 

Menurut rencana pelantikan kepala daerah terpilih pada bulan Februari atau Maret 2025. 

Menarik perhatian kita menyimak pernyataan sejumlah pasangan calon kepala daerah setelah resmi ditetapkan KPU. Sebut misalnya pasangan Gubernur dan Wakil Gubernur NTT terpilih,  Melki Laka Lena dan Johni Asadoma. 

Melki-Johni membuka ruang bagi siapapun menyampaikan kritik selama keduanya menahkodai provinsi ini lima tahun ke depan. 

"Bukan cuma dukungan dalam bentuk hal positif. Kami membutuhkan kritik saran dari semua pihak tanpa kecuali. Terutama teman-teman pers dan pemikir NTT yang saya tahu, terkadang mencintai pemimpin daerah dengan mengkritik. Kami membuka diri untuk dikritik dan diberi masukan. Apa saja," kata Melki Laka Lena. 

Melki Laka Lena dan Johni Asadoma mengucapkan terima kasih kepada pasangan Ansy Lema-Jane Natalia Suryanto dan Simon Petrus Kamlasi-Andre Garu. Kedua  paslon itu telah memberikan kompetisi demokrasi yang baik pada Pilkada 2024. 

"Kami berkomitmen merangkul semua pihak tanpa terkecuali, kita akan mendengarkan pikiran-pikirannya. Juga mengajak bersama membangun NTT sesuai kemampuan masing-masing," kata Melki. 

Melki pun mendorong para aktivis mahasiswa termasuk dari kelompok Cipayung untuk bersikap kritis terhadap kepemimpinan Melki-Johni masa bakti 2025-2030. 

Kata-kata sejuk juga datang dari Christian Widodo-Serena Francis, pasangan wali kota dan wakil wali kota Kupang terpilih. 

Chris dan Serena mengatakan, sukses mereka di Pilkada 2024 merupakan kemenangan seluruh rakyat Kota Kupang. Keduanya mengajak semua pihak menyudahi perbedaan akibat pilihan politik selama proses demokrasi Pilkada 2024. 

Akhiri pengkotak-kotakkan. Chris dan Serena bertekad menjadi pemimpin bagi seluruh rakyat Kota Kupang tanpa kecuali. Mereka akan bekerja sebaik mungkin. Lembut dalam cara tapi tegas dan fokus pada tujuan demi kebaikan seluruh rakyat Kota Kasih.

Kita respek pada isi hati duet pemimpin baru NTT tersebut di atas. Pun sikap bijak pasangan wali kota dan wakil wali kota Kupang terpilih. Sudah sepatutnya pemimpin terpilih berlaku demikian. Kontestasi Pilkada sudah usai. 

Saatnya merajut kembali persaudaraan dan kebersamaan untuk membangun daerah tercinta.

Keutamaan pemimpin adalah keteladanan. Nah, duet pemimpin terpilih di NTT hasil Pilkada 2024  perlu memberi contoh yaitu merawat kebersamaan sejak awal hingga akhir periode kepemimpinan. Tak elok bila bulan madu kalian sebagai pasangan calon hanya seumur jagung. 

Tak menawan hati bila kepala daerah dan wakil kepala daerah berjalan sendiri-sendiri. Kompaklah selama lima tahun. (*)

Horor Sydney



Oleh Dion DB Putra

Sydney yang romantis nan damai sontak berubah menjadi kota horor.  Horor ditebarkan penyerang bersenjata pisau yang menikam orang-orang tak bersalah di ruang publik. 

Hanya dalam tempo 48 jam terjadi serangan di dua tempat berbeda yaitu pusat perbelanjaan dan gereja. Kota terbesar di Australia yang terkenal nyaman dan aman kini menebarkan kengerian.

Gedung Opera, ikon Kota Sydney menyalakan lampu khusus tanda duka cita sekaligus menghormati para korban tewas dan terluka.

Semua gedung pemerintahan di negara bagian New South Wales  mengibarkan bendera setengah tiang, dan negara bagian serta teritori di seluruh Australia merayakan hari berkabung nasional. Australia sungguh terguncang.

Horor merebak di akhir pekan. Pada jam sibuk Sabtu petang 13 April 2024, Joel Cauchi berjalan santai menuju mal Westfield Bondi Junction di jantung Kota Sydney. 

Tak seorang pun mencurigai pria berusia 40 tahun itu akan melakukan serangan mematikan.

Joel masuk mal laksana pengunjung lainnya. Sabtu petang itu Mal Westfield Bondi Junction sedang sibuk. Maklum akhir pekan sehingga banyak orang belanja aneka kebutuhan atau pelesir bersama keluarga, kerabat dan kolega.

 Tiba-tiba Joel Cauchi mengeluarkan pisau lalu menyerang orang-orang di tengah keramaian mal. Enam orang meninggal dunia dan beberapa lainnya terluka dalam serangan yang berlangsung sekitar 25 menit.

Korban tewas lima orang perempuan dan seorang laki-laki yang adalah penjaga keamanan mal. 

Sang penyerang kejam, pria Queensland bernama Joel Cauchi langsung ditembak mati oleh polisi wanita di lokasi kejadian. 

Mengincar perempuan

Mengutip berita Kompas.com, keenam korban meninggal sudah teridentifikasi. Mereka adalah seorang ibu bernama Ashlee Good (38), Faraz Tahir berusia 30 tahun, Dawn Singleton usia 25 tahun, Jade Young yang berumur 47 tahun, Pikria Darchia berusia 55 tahun, dan Yixuan Cheng. 

Ashlee Good jadi korban penikaman bersama bayinya yang berusia sembilan bulan, adalah korban pertama yang disebutkan namanya. Bayinya kini dalam kondisi kritis namun stabil setelah menjalani operasi di rumah sakit. 

Faraz Tahir, warga negara Pakistan yang bekerja sebagai penjaga keamanan di Westfield Bondi Junction, merupakan satu-satunya korban laki-laki. Faraz baru saja pindah dari Brisbane.

Yixuan Cheng adalah warga negara China yang sedang kuliah di Sydney. Pikria Darchia adalah seniman dan desainer yang belajar administrasi bisnis di Sydney TAFE dan meraih gelar dalam bidang seni pertunjukan di Tbilisi State Academy of Art di Georgia.

Dawn memiliki hubungan lama dengan Killcare Surf Life saving Club di NSW Central Coast dan bekerja untuk White Fox Boutique. 

Jade Young juga tergabung dalam tim penyelamat di Bronte Surf Life saving Club di pinggiran timur Sydney. 

Andrew Cauchi, meminta maaf atas tindakan putranya Joel Cauchi yang dia sebut sedang frustrasi.  

"Ia adalah jiwa yang tersesat dan frustrasi, dan saya menyesal dia telah melakukan ini terhadap anak-anak Anda dan bangsa ini,” kata Cauchi sambil menangis. 

Ibu pelaku mengatakan putranya telah dirawat dokter selama 18 tahun karena kondisi kesehatan mentalnya. 

"Tidak ada yang bisa saya katakan, tidak ada yang bisa saya katakan yang dapat menghilangkan rasa sakit yang disebabkan oleh anak saya," tutur Andrew Cauch. 

Polisi setempat belum menyimpulkan motif serangan Joel Cauchi apakah terkait terorisme atau bukan.

Komisaris Polisi New South Wales, Karen Webb mengatakan, sedang menyelidiki masa lalu pria berusia 40 tahun tersebut. Hal yang sudah jelas Joel mengincar perempuan. "Dari video-videonya jelas, bukan?" katanya kepada ABC. 

"Bagi saya sudah jelas, menarik bagi para detektif juga untuk mencari tahu bagaimana pelaku fokus pada perempuan dan menghindari laki-laki," tambah Karen Webb.

Menurut Karen, para detektif sedang berbicara dengan orang-orang yang mengenal Joel untuk mendapatkan gambaran lebih dalam. Kepolisian New South Wales dan Queensland sempat waswas dengan pelaku karena masalah yang berhubungan dengan kesehatan mental. 

Serangan di gereja

Belum usai perhatian warga Sydney terhadap tindakan Joel, muncul serangan kedua pada Senin malam 15 April 2024. Penikaman kali ini terjadi di Gereja Christ The Good Shepherd di Wakeley pada pukul 19.15 waktu setempat. 

Pelaku yang juga menggunakan pisau melukai empat orang  termasuk Uskup Mar Mari Emannuel yang sedang memimpin ibadah di altar gereja. Pelaku sontak mendekati altar, mengangkat tangan kanan lalu menikam Uskup Emanuel.

Sebagaimana dilansir Independent, tiga orang jemaat juga terluka dalam serangan tersebut. Kepolisian New South Wales mengatakan, petugas telah menangkap seorang pria setelah mendapat laporan adanya penikaman terhadap sejumlah orang di gereja tersebut. 

"Orang-orang yang terluka tidak mengalami cedera yang mengancam jiwa dan sedang dirawat paramedis Ambulans New South Wales. Masyarakat diimbau untuk menghindari daerah tersebut," kata juru bicara polisi.

Horor Sydney benar-benar mengguncang publik Australia, negara benua yang selama ini terkenal apik sistem keamanannya.

Serangan dengan pisau di pusat perbelanjaan maupun gereja jarang terjadi di negara tetangga Indonesia tersebut.

Setelah dua insiden mengerikan ini, otoritas negeri Kanguru mengevaluasi sistem keamaman mereka dan menetapkan standar yang lebih ketat dan terukur guna mencegah kejadian serupa terulang.

Bagaimana kita? Sikap waspada dan antisipasi adalah keniscayaan. (*)

Sumber: Pos Kupang

Bukan Peti Mati Terakhir


Beta mau berkata lugas saja bahwa perbudakan modern di kampung halaman kita, Flobamora, belum usai bahkan semakin menjadi-jadi.

Di penghujung tahun 2023, Nusa Tenggara Timur (NTT) kembali menerima kiriman peti jenazah Pekerja Migran Indonesia (PMI) dari negeri seberang.

Malah tiga sekaligus di bulan Desember saat sebagian besar masyarakat di bumi tenggara NKRI ini merayakan Natal.

Mengutip laporan Pos Kupang, ketiga PMI yang meninggal di luar negeri pada Desember 2023 adalah Yohanes Baptista Baga asal Desa Beru Kecamatan Alok Timur, Kabupaten Sikka.

Lenisius Soba asal Desa Zozozea, Kecamatan Nangapanda, Kabupaten Ende, dan Piter Betan alias Petrus Doni Betan asal Kelurahan Lewolere, Kecamatan Larantuka, Kabupaten Flores Timur.

Tahun 2023 sebanyak 151 Pekerja Migran Indonesia (PMI) nonprosedural asal Provinsi NTT meninggal dunia di luar negeri, dominan di Malaysia.

Angka kematian yang bikin merinding. Bulu kuduk berdiri. Bayangkan setiap bulan rata-rata NTT menerima 12 peti mati.

Secara statistik dalam lima tahun terakhir, jumlah kiriman peti mati dari luar negeri ke NTT memang terus menanjak.

Pos Kupang mencatat pada 2018 sebanyak 105 jenazah PMI, 119 jenazah tahun 2019, sebanyak 87 jenazah pada tahun 2020, tahun 2021 sebanyak 121 jenazah, dan 106 jenazah tahun 2022. Tahun 2023 melonjak sampai 151 jenazah.

Sejak tahun 2018 hingga 2023, NTT menerima 689 peti jenazah PMI. Jumlah yang tidak sedikit bukan?

Sebagai pembanding, Kompas.id 23 Juli 2023 mewartakan, selama tahun 2018-2022, sedikitnya 516 pekerja migran Indonesia asal Nusa Tenggara Timur meninggal di luar negeri.

Dari jumlah itu, 499 orang di antaranya pekerja migran ilegal karena mereka berangkat ke negara lain tanpa dokumen resmi.

Menurut Koordinator Pelayanan Advokasi untuk Keadilan dan Perdamaian Indonesia, Gabriel Goa, jumlah PMI asal NTT yang meninggal di luar negeri itu dihitung berdasarkan jumlah peti jenazah yang tiba melalui Bandara internasional El Tari, Kupang.

Selain melalui Bandara El Tari, sebenarnya masih ada peti jenazah PMI asal NTT yang tiba dengan kapal laut karena keluarga mengalami kesulitan biaya memulangkan jenazah dengan pesawat terbang.

Namun, jumlah peti jenazah yang dipulangkan dengan kapal laut itu tidak terdata.

”Dari 516 orang yang meninggal itu, hanya 17 orang yang berstatus pekerja migran prosedural. Pekerja resmi ini mendapatkan santunan yang diterima ahli waris. Sementara pekerja nonprosedural tidak mendapat santunan, bahkan memulangkan peti jenazah ke NTT pun susah payah karena menyangkut biaya,” kata Gabriel, Kamis (20/7/2023).

Kisah klasik memilukan ini entah kapan bisa berakhir. Sejak puluhan tahun lalu pekerja migran asal NTT nekat ke mancanegara bermodal fisik semata.

Mereka pergi mencari sesuap nasi tanpa dokumen resmi yang menjamin keselamatan, kenyamanan dan terutama hak-hak mereka sebagai pekerja.

Pemerintahan berganti rutin di bumi Flobamora. Kepemimpinan daerah pun beralih alami tapi jarum waktu seolah tidak bergerak di sini.

Perbudakan atau istilah tren tindak pidana perdagangan orang masih terjadi dalam langgam dan rupa baru sesuai zaman.

Di luar sana satu orang PMI mati apalagi PMI itu ilegal merupakan tragedi.

Jangan-jangan kita di sini justru menganggap 151 (peti jenazah) sekadar angka tanpa makna. Bukan urusan lu (anda) dan beta.

Peti mati PMI yang terus bertambah jumlahnya saban tahun (mestinya) membuat Nusa Tenggara Timur terluka.

Terluka karena kita benar-benar tak berdaya untuk menekan apalagi memeranginya. Peti mati telah menjadi elegi harian.

Luka mengangga lebar itu mendera pemerintah dan masyarakat. Pemimpin daerah terluka, gereja terluka, perguruan tinggi juga terluka.

Aktivis LSM, civil society, kaum cerdik pandai, tokoh agama, tokoh masyarakat, kaum muda, pun insan media massa terluka.

Kita semua terluka. Anda dan saya termasuk mereka yang sedang gigih berjuang merebut kursi eksekutif dan legislatif pada 14 Februari 2024.

Angka kemiskinan ekstrem di NTT gemuk amat. Lebih dari satu juta orang tertatih-tatih untuk sekadar memenuhi kebutuhan makan dan minum sehari-hari.

Posisi kita belum bergeser dalam klasemen kemiskinan nasional. Tetap tiga besar bersama sesama saudara di Papua yang pulaunya kaya raya.

Maka yakin dan percayalah 151 itu bukan peti mati terakhir! Mungkin segera tiba yang baru di beranda Nusa Tenggara Timur. Dan, kita terluka lagi.

Siapa peduli? 

Sumber: Pos Kupang


Pulang ke Rumah yang Dulu


Oleh Dion DB Putra

TIBA-tiba saya merindukan waktu itu.  Saat di mana tidak banyak bunyi notifikasi SMS, BBM dan WA yang sangat mengganggu dan menghabiskan banyak waktuku. Saya kembali ke buku. Dulu saya bisa lebih dari satu jam membaca buku dan berjam-jam menulis. Hanya sesekali merespons deringan pesawat telepon.  Saya tidak ketagihan menatap layar hape.

Zaman berubah lekas amat. Teknologi komunikasi dan informasi terus perbarui diri. Canggih! Alat bikinan manusia kian pintar dan piawai membantu. Namun. serentak dengan itu dia menciptakan situasi paradoks.

Manusia teralienasi. Waktunya terlalu banyak tersedot untuk berselancar di jagat maya. Berjam-jam berhari-hari.  Doyan pelesiran virtual lalu komat-kamit sendiri,  senyum sendiri. Duduk semeja tapi tak saling sapa. Sama  menanti bus di halte namun enggan bicara satu sama lain. Obrolan manusia menguap entah ke mana. Masing-masing orang asyik sendiri. 

Handphone menjadi candu baru yang super dahsyat dampaknya bagi kehidupan sosial. Relasi antar sesama kering kerontang. Saya pun ikut menjadi korbannya. Mulai lupa refleksi. Lupa menulis dengan otak dan hati yang jernih.  Maka tak ada jalan lain, saya harus pulang ke rumah yang dulu. Kembali ke buku.

Baca buku dan menulis. Menulis dan baca lagi. Beratnya bukan main tuan dan puan. Baru sekitar 30 menit baca buku sudah tergoda menengok layar hape, tergiur tanda pesan WA masuk atau nofikasi akun Facebook dan Instagram. Kecanduan ini sungguh bikin galau. Kalau tidak direm, mungkin tak lama lagi kemampuan menulisku tak tersisa sama sekali karena larut dalam jebakan smartphone yang memabukkan.

Syukurlah. Tahun 2018 ini tiga kali saya menyumbang tulisan buat buku. Satu menulis kata pengantar, satu epilog dan satu artikel. Menulis untuk buku memerlukan konsentrasi dan energi lebih. Tidak asal-asalan. 

Saya menulis Kata Pengantar untuk buku Wasiat Jalan, Menemukan Makna  Hidup, Karya dan Cinta, buah  karya Yahya Ado (Februari 2018). Buku setebal 119 halaman tersebut diterbitkan Institute of Resource Governance and Sosial Change (IRGSC) Publisher Kupang.  Yahya, tokoh muda NTT yang aktif dalam karya sosial kemanusiaan itu mengundang saya ikut dalam acara peluncuran dan diskusi buku di Aula F-Square Fatululi Kupang, Sabtu 14 April 2018.

“Yahya melalui buku Wasiat Jalan mau mengajak generasi milenial, manusia zaman now  yang super sibuk mengejar materi untuk luangkan waktu sejenak. Jeda sesaat,  menarik diri dari keriuhan duniawi. Di sanalah keutamaan buku mungil nan bernas ini.” Demikian cuplikan kata pengantar saya.

Pada bulan Agustus 2018 saya menulis satu artikel untuk buku Mewujudkan Profesionalisme Wartawan, 10 Tahun Margiono Memimpin PWI. Buku ini memang didedikasikan khusus untuk Margiono yang mengakhiri masa pengabdiannya pada  kongres PWI di Kota Solo 27-30 September 2018.

Kongres tersebut selain mengevaluasi kinerja pengurus sebelumnya juga memilih ketua umum PWI pusat yang baru. Atal S Depari terpilih sebagai pengganti Margiono. Dia unggul tiga suara atas calon ketua umum lainnya yaitu Hendri Ch Bangun.

Margiono menorehkan kenangan manis bagi Nusa Tenggara Timur. Pada masa kepemimpinannya, PWI Pusat mempercayakan Kota Kupang sebagai tuan rumah peringatan Hari Pers Nasional (HPN) tahun 2011.
Padahal saat itu Kupang serba terbatas terutama akomodasi perhotelan. Justru dalam kekurangan itu, NTT bisa memberikan pelayanan berkesan bagi lebih dari 1.000 tamu yang datang dari seluruh penjuru Nusantara. Pasca HPN 2011, ekonomi Kota Kupang bergeliat dan percaya diri menjadi tuan rumah event-event berskala nasional berikutnya.

Dalam buku Mewujudkan Profesionalisme Wartawan, 10 Tahun Margiono Memimpin PWI, saya yang menjadi ketua  PWI Provinsi NTT pada periode sama dengan Margiono (2008-2018)  menulis dampak positif yang dipetik daerah ini setelah sukses menjadi tuan rumah HPN tahun 2011.

Buku setebal 413 halaman yang berisi kumpulan tulisan wartawan dari seluruh Indonesia tersebut diterbitkan PWI Pusat. Isinya sungguh kaya  tentang kiprah organisasi PWI karya para jurnalis Indonesia dari Sabang sampai Merauke, Miangas hingga Rote.

Tulisan ketiga yang saya rajut adalah  epilog untuk buku Ringkasan Kegelisahaan Sosial di Aula Sejarah karya Marsel Robot (Oktober 2018).  Buku 260 halaman berisi kumpulan artikel pilihan Marsel Robot dalam dua dekade terakhir. Penerbit Perkumpulan Komunitas Sastra Flobamora.

Saya berterima kasih kepada Yahya Ado, tim buku PWI Pusat dan Dr. Marsel Robot, dosen senior dari Program Studi Bahasa dan Sastra Indonesia Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Universitas Nusa Cendana (Undana) Kupang yang memberi kesempatan saya menulis.

Setidaknya saya masih berurusan dengan buku. Tidak semata rutin mengedit berita untuk pembaca Harian Pagi Pos Kupang. Rutinitas itu kerap menjadi momok bagi wartawan. Asyik bekerja sehari-hari mereka lupa menulis sesuatu yang lebih berisi. Menulis yang bermakna tak sebatas warta informatif memenuhi unsur 5W + 1H. Menulis untuk buku memerlukan energi lebih dalam mencermati, menganalisis, refleksi dan merangkai kata demi kata.

Benarlah pesan orang bijak bahwa cara terbaik merawat istana ingatan adalah dengan membaca dan menulis.  Luangkan waktu saban hari antara 30 menit sampai 1 jam untuk membaca. Baca informasi apa saja terutama buku-buku yang dapat menambah wawasan dan pengetahuan. 

Satu lagi yang tidak boleh terlewatkan. Jika tuan dan puan punya kebiasaan menulis mestilah disertai ketekunan mendokumentasikannya. Banyak orang hebat menulis tapi cuma sedikit yang telaten menyimpan file. Akibatnya ketika berniat membukukan tulisan itu, misalnya, dia  tidak tahu harus mendapatkan di mana. Pusing sendiri. Rugi besar karena pengalaman saya menunjukkan gagasan bernas jarang  terulang.

Ikhwal konsistensi menulis saya  mengagumi teladan para wartawan kawakan negeri ini. Tiga nama besar patut disebut secara khusus  yaitu Jakob Oetama, Rosihan Anwar dan Dahlan Iskan.

Rosihan Anwar menulis sampai usia sepuh bahkan hingga saat-saat terakhir kembali ke pangkuanNya dia masih merangkai kata, menyumbangkan pikiran demi kemajuan bangsa dan negara yang dia cintai. Pendiri Harian Kompas, Jakob Oetama juga sama. Demikian pula Dahkan Iskan. Dahlan sampai saat ini masih menulis minimal sekali dalam  sepekan. Tulisannya mengalir dalam langgam yang enak dibaca.

Para jurnalis senior itu mengajarkan satu hal bahwa menulis adalah sesuatu yang menyenangkan. Maka setiap ide yang muncul perlu segera dimahkotai dengan kata dan kalimat agar ia bermakna bagi peradaban manusia. Secuil ide laksana air sungai yang terus mengalir sampai jauh  melewati jeram, laguna, muara dan laut biru.  Tak pernah kembali.  (Kolhua  4-11-2018) *

• Beranda Kita adalah kolom Dion DB Putra yang pernah hadir di edisi cetak Harian Pos Kupang periode 2008-2011. Kini atas permintaan pembaca, sang penulis  menghadirkan lagi dalam format online minimal seminggu sekali. Semoga berkenan.

• Dion DB Putra, wartawan Pos Kupang 1992- sekarang.

Merekan Rintik Hujan


Oleh Dion DB Putra

BERAPA jam dalam sehari tuan dan puan menghabiskan waktu untuk menatap layar handphone atau ponsel di tanganmu? Berapa kali dalam tempo 24 jam jempol dan ujung jarimu menyentuh layar, menggesek ke atas bawah, kiri dan kanan? Mungkin dikau luput menghitung. Lupa mereken lantaran asyik masyuk dan larut!

Ya, hari-hari kita begitu sibuk sendiri. Dulu televisi menjadi tabernakel hidup.  Manusia memujanya lebih dari apapun.  Kini ponsel menyisihkan posisi orang-orang terkasih.  Saat berbicara dengan rekan kerja, pimpinan atau bawahan, tangan tak henti-hentinya memainkan gadget.


Tatkala menemani buah hati mengerjakan PR sekolah, setiap 30 detik hingga satu menit sekali mata melirik layar ponsel guna melihat notifikasi yang masuk. Pada momen makan berdua di restoran dengan istri atau kekasih, ponsel diletakkan sedekat mungkin di sisi kita dan barang itu  mampu menyela  obrolan sepenting atau  seromantis  apapun.

Ketika suara pesan dari medsos atau notifikasi WhatsApp masuk, perhatian tertuju pada ponsel. Duh… kita sungguh ketagihan ponsel cerdas hasil karya manusia yang justru membodohi penciptanya sendiri.

Maka wajarlah bila banyak yang galau lalu berkata lantang marah karena hidup dalam genggaman ponsel seperti ada dan tiada. Bertamu main HP.  Berdoa main HP.  Ibadah main HP.  Terima tamu main HP.  Bekerja main HP.  Belajar main HP.  Sambil makan main HP.  Di tengah keluarga pun main HP.  Kiamatlah duniamu tanpa HP.

Hari-hari ini jamak nian pemandangan dua orang duduk berhadapan, entah di rumah makan,  ruang tunggu keberangkatan bandara, stasiun kereta api, terminal bus, tempat praktik dokter,  namun tidak berkomunikasi sama sekali. Mereka masing-masing asyik main HP. Kalaupun bicara sekadar basa-basi, kadang tidak nyambung dan tidak fokus pada topik.

Dulu saat hari raya seperti Lebaran, Natal dan Tahun baru  orang saling berkunjung ke rumah, bercengkerama, bersalam-salaman, cium pipi kiri dan kanan. Makan bersama. Ngobrol apa saja  sepuasnya.

Kini  jabat erat tangan sahabat telah sirna, sudah berganti gambar-gambar mati atau animasi dalam ponsel. Dan, kita menikmatinya seolah-olah nyata. Duduk sendiri, angguk dan geleng sendiri, senyum dan tawa bahkan menangis sendiri. Dunia makin kering dan sepi. Alienasi. Miris.

Pada tahun 2012 para ahli bahasa, sosiolog  dan budayawan dalam pertemuan di Sidney University Australia menyepakati kosa kata baru dalam tata bahasa Inggris. Kata tersebut adalah phubbing yang maknanya sebuah tindakan seseorang yang sibuk sendiri dengan gadget di tangannya. Dia tidak perhatian lagi kepada orang yang berada di dekatnya.  Kaca diri kita masing-masing. Rasanya tidak berlebihan bila tuan dan puan pun sudah terbiasa phubbing bukan?

Jangan sampai handphone yang kita beli justru memisahkan kita dengan orang-orang yang kita kasihi. Bahkan memisahkan dikau dengan sang empunya pemilik kehidupanmu. Tuhan Yang Maha Kasih.  Sangat dianjurkan untuk menata ulang caramu memanfaatkan ponsel. Butuh tekad  kuat serta konsistensi sikap.

Mari melakoni hidup  sebagaimana laiknya manusia hidup yang dikaruniai Tuhan dengan panca indera.  Saat anak bercerita tentang kegiatannya di sekolah atau luar rumah, dengarkanlah dia. Simak kata-katanya dengan penuh perhatian. Sisihkan HP. Saat ibu atau ayahmu bicara, abaikan ponselmu selama beberapa saat sampai mereka selesai bercakap.

Saat matahari merekah, udara sejuk, angin semilir, burung-burung bersiul, cueklah pada bunyi notifikasi hapemu. Ada saat dalam hidupmu engkau ingin sendiri bersama angin lalu menceritakan kepenatan batinmu. Saat kehidupan di luar sana sengit, riuh dan bising, cobalah kembali mendengar nyanyian dan kicau burung, suara sungai dan bersyukurlah betapa indah karya Tuhan bagi makhluk kesayanganNya.

Sesekali pergilah ke pantai. Pantai itu sama seperti tatapan ibu atau pundak ayah. Tempat pelarian terbaik untuk mendapatkan kesegaran dan semangat hidup baru. Atau dakilah bukit dan gunung, susuri lembah dan ngarai. Hirup aroma genit padi bunting. Jangan dikau lari ke medsos, curhat dan mengumpat di sana. Tuan lupa sosial media  itu panggung liar dan binal dengan hukum rimba sebagai panglimanya. Nyinyir, sinis, doyan memendam dendam…

Berhentilah memuja HP secara berlebihan. Dunia maya itu fatamorgana saudaraku. Mari kita selalu meluangkan waktu menyapa senja, mereken rintik hujan, memahat langit dan mencumbui rembulan. Tanpa HP, tanpa gadget di tangan.  Ayolah!  (*)

• Beranda Kita adalah kolom Dion DB Putra yang pernah hadir di edisi cetak Harian Pos Kupang periode 2008-2011. Kini atas permintaan pembaca, sang penulis  menghadirkan lagi dalam format online minimal seminggu sekali. Semoga berkenan.

• Dion DB Putra, wartawan Pos Kupang 1992- sekarang.

Habis Manis Sepah Dibuang


Oleh Dion DB Putra

PRESTASI Lalu  Muhammad Zohri merupakan interupsi khas  olahraga paling heboh di negeri ini ketika pusat perhatian sedang tertuju ke pesta Piala Dunia 2018 di Rusia. Pelari nomor bergengsi 100 meter asal Nusa Tenggara Barat itu  meraih juara dunia di bawah usia 20 tahun pada Kejuaraan IAAF di Tempere, Finlandia, Rabu  11 Juli 2018.

Zohri mencatat  waktu 10,18 detik untuk mendapatkan medali emas. Anak dari keluarga miskin ini mengalahkan favorit juara, pelari Amerika Serikat Anthony Schwartz yang merupakan pemegang rekor dunia nomor ini dengan catatan waktu 10,9 detik pada 2 Juni 2018 lalu.


Prestasi Zohri memang mengejutkan.  Untuk pertama kali atlet atletik Indonesia meraih  juara dunia. Kalau di cabang olahraga lain sudah ada juara dunia asal Indonesia. Sebut misalnya bulutangkis, tinju, angkat besi, pencaksilat dan  kempo. Tapi atletik baru kali ini dan juara nomor 100 meter. Manusia tercepat dunia.  Itulah sebabnya nama Zohri langsung populer.

Zohri sebenarnya sudah menjadi juara Asia, Dia merebut medali emas pada kejuaraan atletik junior Asia di Stadion Gifu Nagaragawa, Jepang, 8 Juni 2018. Kala itu dia membukukan waktu 10,27 detik. Namun, prestasi Zohri di Jepang sepi dari pemberitaan. Tidak dianggap sama sekali.

Mengenai prestasi Lalu Muhammad Zohri, beta  mengutip kembali ulasan bernas seniorku di organisasi Persatuan Wartawan Indonesia (PWI), Asro Kamal Rokan “Ketika Zohri berhasil, pemerintah gegap gempita menyambutnya. Negara tiba-tiba hadir,” tulis Asro Kamal Rokan sebagaimana dipublikasikan Ceknricek.com.

Tidak banyak yang tahu  Zohri nyaris batal  berangkat ke Finlandia karena kesulitan biaya dan tidak memperoleh visa. Bob Hasan, Ketua Pengurus Besar Persatuan Atletik Seluruh Indonesia (PB PASI) mendengar informasi miris ini. Bob menanggung semua biaya sehingga  Zohri bisa berangkat tanpa dukungan pemerintah. Pusat dan daerah!

Nah, ketika Zohri sukses pemerintah menyambut hangat.  Para pejabat dari level kepala kampung sampai kepala negara sontak hadir memberi perhatian. Perhatian makin dalam setelah media massa mengungkap kehidupan Zohri. Atlet kelahiran 1 Juli 2000 di Dusun Karang Pangsor, Kabupaten Lombok Utara, NTB ini lahir dari keluarga papa.

Rumahnya kecil berlantai tanah. Kamar Zohri berdinding  bambu, ditempeli koran bekas untuk menutup lubang di berbagai tempat. Kemiskinan mendera keluarga nelayan ini sejak kecil. Ayah dan ibunya telah tiada.

Rumah buruk Zohri segera berubah wajah. Persatuan Perusahaan Real Estate Indonesia (REI) memberikan sebuah rumah. Presiden Joko Widodo menginstruksikan pula Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat merenovasi rumah Zohri. Tentu baik adanya sebagai apresiasi untuk Zohri.

Mendadak populer dan banjir hadiah bisa jadi madu dan racun bagi Zohri.  Derajat ekonominya  mungkin membaik. Tapi usianya masih muda. Sanjungan bisa menambah semangat untuk berprestasi tapi bisa pula melenakannya. Seperti pisau bermata dua. Salah atur langkah nama Zohri akan meredup dalam sekejap.

Dan, kalau Zohri tidak lagi meraih prestasi pada hari-hari mendatang maka  nasibnya akan sama dengan atlet lainnya. Dilupakan!  Sudah terlalu banyak contoh di negeri ini betapa atlet hebat hidupnya merana setelah masa kejayaannya berakhir. Ironi selalu menyertai jagat olahraga kita. Nasib mantan atlet seperti habis manis sepah dibuang.

Abangku  Asro Kamal Rokan melukiskan secara tepat untuk kita renungkan. Beta kutip kembali kata-katanya bagi tuan dan puan. “Kehidupan para atlet membawa nama negara.  Nasibnya  tidak seberuntung para politisi. Dipilih dengan dana rakyat dan ketika menjabat mengambil uang rakyat. Negara ini lebih tertarik mengeluarkan dana triliunan rupiah untuk mendapatkan politisi daripada membiayai atlet-atlet hebat, para peneliti dan anak-anak berbakat.”

Maka untuk adinda Zohri yang kami kasihi, tak ada jalan pintas. Tetaplah berlatih agar dirimu berlari lebih cepat. Atletik selalu terukur.  Hadiah dan banjir pujian itu sifatnya hanya sementara. Cetaklah terus rekor keabadian.  *

• Beranda Kita adalah kolom Dion DB Putra yang pernah hadir di edisi cetak Harian Pos Kupang periode 2008-2011. Kini atas permintaan pembaca, sang penulis  menghadirkan lagi dalam format online minimal seminggu sekali. Semoga berkenan.

• Dion DB Putra, wartawan Pos Kupang 1992- sekarang.

Kefa

MUNGKIN kejadian ini telah sirna bersama sang waktu, dilupakan atau luput dari perhatian karena dipandang wajar dan biasa-biasa saja. Di suatu kabupaten hasil pemekaran di Propinsi Nusa Tenggara Timur (NTT), pemerintah daerah amat bersemangat dalam membangun. Mereka bangun dua kantor bupati sekaligus. Waw!

Setelah mekar dari kabupaten induk dan mendapat wewenang mengurus dapur sendiri, pemerintah daerah itu bangun kantor bupati. Sesuai ketentuan yang berlaku bupati pertama tak lama memimpin. Saat dia pergi, kantor bupati nan megah itu belum tegak berdiri. Bupati kedua berjubah diksi definitif tampil lebih percaya diri karena rakyatlah yang memilih. Bukan melanjutkan pembangunan kantor yang belum rampung, bupati baru justru bangun kantor baru. Letaknya pun persis di samping kantor terdahulu. Tercatatlah dalam sejarah Flobamora, dua bupati dua kantor. Hebat ko!



Kampung besar ini memang ganjil tuan dan puan. Keganjilan tidak berhenti di situ. Di kabupaten lain lagi seorang bupati membangun dua kantor. Yang satu dipakai, yang lain tegak berdiri bersama ilalang, dihuni cecak, tikus, kalajengking dan ular. 



Lebih top lagi rumah jabatan pemimpin di ibukota propinsi, megahnya bukan main. Jika kita menganut sistem kerajaan, rumah itu pantaslah disebut istana. Istana berdinding putih dengan halaman luas dan landai. Istana itu dibangun dengan dana miliaran rupiah dari APBD. Rancang bangunnya indah tiada tara. Nasibnya sungguh luar biasa, kawan. Sejak selesai dibangun dia berubah nama menjadi rumah hantu. Pemerintah kota propinsi dengan bangga mencacatnya sebagai aset daerah. Jadi, siapa bilang beranda Flobamora miskin papa? Buktinya kita sangat kelebihan uang sehingga uang lebih tersebut dialokasikan dengan riang untuk membangun rumah hantu nan megah. Ko Kupang na!

Ikhwal membangun gedung baru kita memang piawai. Urusan merawat dan memelihara, nol besar. Begitulah tuan dan puan, antara lain pernak-pernik zaman pemilu kada. Pemilihan umum kepala daerah dan wakil kepala daerah oleh rakyat Indonesia secara langsung, umum, bebas dan rahasia. Semenjak otonomi daerah bergulir diikuti maraknya pemekaran wilayah serta pemilu kada kian banyak saja keganjilan di sekitar kita. Sandiwara politik berjingkrak-jingkrak menguliti etika dan moral. Dan, dendam kesumat membara hingga tujuh turunan. 

Atas nama dendam kantor lama tak dirawat. Karena dendam pula fasilitas negara dibiarkan merana. Gedung pemerintah mubazir dianggap bukan tragedi di ini negeri yang membangun saban tahun dengan utang tujuh turunan. Kelewat biasa hingga kita buta mata. Jangan-jangan kebakaran kantor pemerintah di kampung besar Flobamora terdorong spirit yang sama jua. Yang sudah ada dibumihanguskan biar ada alasan bangun baru. Ada proyek baru. Atau bakar kantor demi menghilangkan jejak buruk, dugaan korupsi kelas kakap misalnya? Walahualam.

Alam pemilu kada sungguh menyesakkan dada. Pemilu tiba kemesraan menebar, tawa berderai. Orang ramai berdua-duaan, makan sepiring, tidur sebantal, susah dan senang sama-sama nikmat. Tahun pertama asyik-masyuk berbulan madu. Tahun kedua tidur bertolak punggung, tahun ketiga tak lagi seranjang, tahun keempat pisah rumah, tahun kelima ini dadaku, mana dadamu. Lu jual beta beli. Siapa takut? Tentu beta tidak memungkiri pasangan yang akur sampai akhir bahkan tetap sehati sesuara hingga periode kedua. Tapi jumlah mereka langka nian di beranda Flobamora. Bisa dihitung dengan jari.

Setiap musim pemilu kada tiba, saudara-saudariku anggota Korpri sebagai salah satu dari lima kekuatan sosial politik di negeri ini merasa terjebak dalam pusaran memabukkan. Cukup sering harus makan buah simalakama. Tidak makan ayah mati, kalau makan ibu mati. Maka mereka memilih jalan derita ini, daripada basah lebih baik mandi sekalian. Mau hancur ya hancurlah. Anggota tim sukses kemudian menjadi "tupoksi" baru pegawai negeri sipil (PNS) sejak pemilu kada langsung bergulir tahun 2005. Nonsense prinsip PNS itu netral. 

Setahun atau dua tahun menjelang musim pemilu kada, PNS terutama mereka yang menduduki jabatan strategis untuk mendulang suara mulai terkotak-kotak, mendukung si A yang sedang berkuasa atau melirik figur lain yang dianggap lebih berpeluang menang. Suasana lazimnya makin membara manakala bupati dan wakil bupati terlibat rivalitas. Kasak-kusuk di lingkup birokrasi pun kurang lebih berdengung demikian. Eh, dia itu orangnya pak bupati. Kalau yang ini jangan korek bung. Maklum tim sukses pak wakil...

Menjelang pemilu kada hampir seluruh gerak pejabat birokrasi selalu dihubung-hubungkan dengan pesta demokrasi lima tahunan tersebut. Jika dianggap sudah tidak sejalan lagi dengan yang sedang memimpin, bukan mustahil akan terkena mutasi. Dinonjobkan. Sebaliknya bila tuan dan puan tetap setia pasti disanjung dan dimanja-manja. 

Begitu hebatnya sanjungan sampai-sampai si bos tutup mata meski tuan yang memimpin SKPD tertentu gagal total melayani masyarakat. Tim sukses kok dilawan. Tidak penting penilaian berbasis kinerja yang kencang digaungkan di mana-mana. Lebih dari itu energi birokrasi nyaris tersedot habis untuk pesta demokrasi. Begitu kuatnya semangat menyedot sampai-sampai kas daerah kosong melompong dan pemerintah tidak malu meminjam dana dari pihak ketiga. Mereka tetap menyebut ini peristiwa bermartabat. He-he-he...

Aneka keganjilan tidak cuma terjadi menjelang pemilu kada. Pasca pemilu kada pun setali tiga uang. Mutasi biasanya menjadi pekerjaan pertama pasangan pemenang. Prinsip yang mereka anut adalah: babat, gusur dan sikat. Babat semua lawan politik. Gusur semua yang tidak mendukung. Sikat siapa pun yang bukan orang kita. 

Pasca pemilu kada mereka yang menang tertawa ngakak. Yang kalah perang gundah gulana. Yang masuk tim sukses paket pemenang naik pangkat, raih kedudukan. Anggota tim sukses yang "tidak sukses" masuk kotak. Lalu, bagaimana menurut tuan dan puan peristiwa hangat yang kini menggegerkan Kefa, ibukota Kabupaten Timor Tengah Utara? Maaf, beta no comment saja.

Hari-hari ini Flores Timur dan Lembata bersibuk ria menyiapkan diri menuju hari puncak pemilu kada. Beta ingat kata-kata seorang teman di Senayan. Politikus itu wataknya sama di mana-mana. Mereka merasa boleh bohong dan boleh salah. Pilih pemimpin atau politikus. Terserah tuan dan puan. Kalau mau ditipu pilihlah politikus. Salam babat, gusur dan sikat. Hai Flobamora, kita hidup di zaman batu atau iPad ya? (dionbata@yahoo.com) 

Pos Kupang, Senin 9 Mei 2011 halaman 1

Cantik Ngeri!

MAUMERE kota nyiur melambai, kota di mana terik mentari membakar dada hingga ubun-ubun. Kota di Flores yang tersohor hingga ke sudut bumi ketika gempa disusul tsunami menghardik pada Sabtu kelabu 12 Desember 1992. Lebih dari 2.000 nyawa hilang dalam sekejap.

Soeharto, penguasa rezim Orde Baru meninggalkan kenyamanan Istana Merdeka Jakarta. Dia terbang ke Maumere bersama Ibu Tien yang keibuan itu. Pasangan Soeharto-Tien mengunjungi barak dan tenda. Menguatkan mereka yang terluka. Meneguhkan yang kehilangan orang-orang terkasih.

Beta tiba di kota ini 7 Juli 2011. Tiba disambut terik Bandara Frans Seda untuk memulai tugas baru entah sampai kapan. Inilah pertama kali beta bertugas sebagai wartawan di kota tsunami. Puji Tuhan akhirnya Maumere kugauli juga. Kuakrabi dalam waktu yang lama, tidak sekadar nginap semalam, sehari dua bahkan cuma transit beberapa jam.

Sepekan menjadi penghuni MOF (nama udara untuk Kota Maumere) beta menangkap kesan yang mengesankan tentang Maumere, tentang anak-anak nian Sikka zaman ini. Di depan Gelora Samador da Cunha, tempat “suci” yang pernah ditapaki Beato Johanes Paulus II tahun 1989, celetukan dua remaja berseragam putih abu sekilas memberi gambaran tentang Maumere Manise.

“Itu cewek mayoret esema frater cantik ngeri! Saya dengar dia belum  ada pacar,” kata remaja A pemilik muka oval, kulit hitam manis, rambut sarimi (keriting) dan kepala agak lonjong seperti kebanyakan ana Lio, tanah darahku tumpah pertama dari rahim ibundaku dulu. “Ai, tidak mungkin ka dia belum ada pacar,” timpal rekannya. Profil fisik yang ini Sikka banget. Kuduga garis darahnya dari pantai selatan Flores yang ganas menghardik karang, seputar kawasan Bola atau Lela timur.

Cantik ngeri! Apa maksudnya? Kudapat jawaban seiring hari berganti dan waktu bergulir di MOF yang terik mendidih dan susah air bersih. Air harus “pake beli” kata orang di sana untuk melukiskan dana ekstra rumah tangga buat kebutuhan vital ini. Sebulan bisa habiskan “uang air” sebesar Rp 200 ribu lebih guna memenuhi satu rumah tangga dengan anggota lima orang.

Ngeri adalah diksi untuk menggambarkan betapa cantiknya cewek mayoret drumband SMAK Frateran Maumere yang digosipi kedua pemuda tanggung itu. Ngeri telah bergeser maknanya bagi orang Maumere. Ngeri tidak mesti berarti ngeri! Di Pasar Alok, pasar modern dan terbaik dari sisi penataannya di NTT beta menguping dialog penjual dan pembeli ayam begini. “Mo’at Hiro, berapa harga ayam ini?” “Lima puluh ribu nong,” jawab si penjual. “Mahal ngeri e...”

Jadi bukan hanya cantik ngeri. Harga ayam pun mahal ngeri. Kalau tuan dan puan ke kota ini, maklumilah bila amat kerap mendengar diksi ngeri. Ngeri terdengar di hotel, restoran, pinggir jalan, kantor polisi atau bank. Ngeri pun riuh di pasar, pertokoan, toko buku, kantor pemerintah bahkan gereja yang lebih banyak kaum hawa dibanding adam setiap kali misa. Entah misa harian pagi, misa hari raya atau Minggu biasa.

Maumere memang serba ngeri. Kecelakaan lalulintas ngeri. Perkosaan ngeri, selingkuh ngeri, KDRT ngeri, bunuh diri ngeri, mabuk moke ngeri, berdoa ngeri, belis ngeri, pesta ngeri, rabies ngeri, nyamuk malaria ngeri, politik ngeri, korupsi juga ngeriiiii sekali!

Sepeda motor masuk got, angkot seruduk pohon, ojek bakusenggol di lorong-lorong terlihat biasa saban hari. Naik motor tanpa helm adalah pemandangan jamak di jalan-jalan MOF. Bahkan mereka melintas tanpa beban di depan Kantor Polres Sikka yang halamannya diteduhi pepopohan rindang.

Dua bulan pertama di Maumere hampir tiap hari beta edit berita tentang KDRT. Laki pukul bini, bini hajar laki. Bapak aniaya anak, anak tikam ayah dengan belati. Juga perselingkuhan. Bukan lagi selingkih tipis-tipis sekadar memandang mengagumi, meremas jari atau tos pipi. Mereka selingkuh benaran sambil tega meninggalkan istri, menanggalkan suami untuk hidup bersama meski sama-sama sudah beranak seorang dua hingga setengah lusin. Maumere begitu jauh berubah dibanding memori masa bocahku dulu di Watuneso, kawasan tapal batas – sekitar 50 km barat Maumere.

Tatkala gong waning berdentang di jalan-jalan kota, digebuk sekelompok pria di atas mobil pick up, tahulah awak bahwa akan ada pesta. Lazimnya pesta kawin. Akan ada pengantin baru malam ini. Tapi pesta di Maumere bukan cuma sehari saja. Bisa dua hari sebelum dan dua hari sesudah hari H. Kesibukan keluarga luar biasa. Mulai dari buat panggung atau tenda sampai bubar panitia. Babi, ayam, kambing, anjing dan sapi tidur tak nyenyak. Sekian ekor disembelih. Sekian jerigen moke bakal dilahap sampai habis. Musik berbunyi hingga telingamu teler. Pung pang hingga malam larut. Saat hari H malah sampai fajar menyingsing. Demi pesta nikah atau sambut baru jalan umum ditutup. Kelakuan MOF mirip warga Kupang, ibukota propinsi Nusa Tenggara Timur.

Dugaan korupsi dana Bansos Rp 10 miliar di Sikka lebih telah menghiasi lembaran media massa cetak sejak berbulan-bulan, menghuni audio pendengar radio dan ditatap jutaan pasang mata di kotak kaca televisi. Juga informasi hilir-mudik di jalur online. Proses hukum berbelit ngeri. Berputar-putar ngeri. Entah berujung sampai di mana. Penasihat hukum ngeri bersilat lidah. Penegak hukum ngeri nian memainkan sandiwara. Tersangka pelaku berkelit ngeri (dengan segala cara), seolah tanpa dosa, ngeri betul mencari tumbal korban, mencari kambing hitam.

Maumere memang serba ngeri. Namun kengerian ini membuat beta mulai jatuh cinta pada kota ini. Jatuh hati pada ikan segarnya yang murah namun berkualitas wahid, sesuatu yang sulit ditemukan di Kupang dan kota lain NTT. Jatuh cinta pada dinamika sosial masyarakat yang makin sadar dan bertanggungjawab terhadap hak politik dan demokrasinya. Kuterpikat pada senyum manis kaum ibu yang masih memakai konde di rambutnya dan berbusana Sikka. Saat ke gereja, ke pesta nikah atau hajatan lainnya. Oh Maumere manise. Enak ngeri pernah menghunimu. Epangawang. Terima kasih.*

Beru, akhir September 2011 (untuk pembaca "berandaku yang telah mati." Beta belum berhenti menulis)

Pisang

“KAU punya orang itu bodoh sekali, ngero! Mereka jual pisang lalu beli molen. Kenapa tidak bikin molen untuk makan sendiri atau jualan macam saya, kan keuntungannya berlipat ganda.” Itu kata-kata seorang kawan asal Jawa Tengah. Sebagai putra Jawa yang sudah belasan tahun menetap di Kota Ende, Flores, Nusa Tenggara Timur (NTT), gaya bicaranya Ende banget. Langsung tembak ke sasaran. Tidak berputar-putar lagi.

Beta tersentak. Sungguh merasa kena tembak yang bikin kuping memerah. Setiap hari kawanku itu jual gorengan tahu, pisang goreng, pisang molen dan lainnya di pinggir jalan dekat pertokoan yang ramai dipadati pengunjung.


“Saya jual mulai jam empat sore sampai delapan malam. Kadang sebelum jam delapan malam, sudah habis. Kau bayangkan, kerja tidak sampai empat jam tapi hasilnya pasti. Bisnis makanan itu untungnya seratus persen.” Melihat beta tidak segera merespons kata-katanya, dia melanjutkan penjelasan. “Ndoe, kalau kau tidak percaya, coba kau tanya di orang-orang yang kerja macam saya ini ka,” katanya sambil terbahak.

Tentu saja beta percaya dengan kata-katanya. Toh dia hidup dari usaha itu dan sangat menikmati pekerjaannya. Di Kota Ende, penjual gorengan macam dia ada di banyak tempat. Dan, umumnya raut wajah mereka merupakan ata mai (baca: pendatang) dari luar pulau. Kondisi serupa agaknya sama persis di daerah lain Nusa Tenggara Timur. Belum banyak anak kampung Flobamora yang serius menekuni pekerjaan sebagai penjual gorengan, tahu, tempe, kripik pisang, singkong dan lainnya. Kalau penjual pisang atau ubikayu gelondongan, banyak.... sekali dan pasti orang kita. He-he-he...


Bagi masyarakat Pulau Flores, Adonara, Solor dan Lembata, pisang telah menjadi komoditi primadona dalam kurun waktu sepuluh tahun terakhir selain hasil perkebunan dan pertanian lainnya semisal kopi, vanili, kemiri, jambu mete, kakao, kelapa dan sebagainya. Sekarang ini kalau tuan dan puan masuk ke wilayah itu akan mudah berpapasan dengan dump truk yang mengangkut ribuan ton pisang. Pisang dari Pulau Flores dan sekitarnya biasanya keluar lewat dua pintu utama, yakni Pelabuhan L Say, Maumere di Kabupaten Sikka dan Labuan Bajo, Kabupaten Manggarai Barat.


Tujuan akhir perjalanan pisang Flores adalah Bali dan Surabaya, Jawa Timur. Apakah di sana namanya dikenal dengan pisang Flores? Oh jangan salah, kawan. Pisang asal Flores, tetapi kesohor sebagai pisang Bali. Sedih betul nasib pisang Flores... belum menjadi brand dagang. Maklumlah. Kehebatan petani Flores baru sebatas menjual pisang gelondongan. Apalagi masuk ke Pulau Dewata Bali yang namanya lebih populer ketimbang Indonesia.


Meskipun pisang menjadi komoditi yang menghasilkan duit, namum pola tanamnya masih bersifat tradisional. Tanaman tersebut ditanam secara sporadis di kebun milik petani. Belum ada usaha pisang secara besar-besaran di lokasi tertentu. Maka wajar jika sebanyak-banyaknya pisang dari Flores dan sekitarnya, belum bisa masuk pasaran ekspor. Produksi pisang Flores masih terbatas untuk kebutuhan lokal dan regional.


Tahun 2007 yang lalu di Ende pernah digalakkan tanaman pisang beranga yang terkenal enak itu.
Pemerintah setempat lewat Dinas Pertanian membudidayakan pisang beranga Kelimutu pada kawasan percontohan di dua desa seluas 10 ha yaitu Desa Wolokota, Kecamatan Ndona dan Desa Ndito, Kecamatan Detusoko. Peroncontohan itu diperluas lagi di 29 desa pesisir yang tersebar di sembilan kecamatan di Kabupaten Ende. Kesembilan kecamatan untuk perluasan lahan budi daya dimaksud adalah Ndona, Ndori, Lio Timur, Kotabaru, Wewaria, Maurole, Maukaro, Nangapanda, dan Kecamatan Ende. Sudah menjadi pengetahuan banyak orang kalau pisang Beranga Kelimutu asal Ende merupakan varietas unggulan nasional. Pisang jenis ini sangat diminati masyarakat setempat, karena buahnya memiliki keunggulan spesifik antara lain rasa manis yang khas tidak asam, dan aromanya wangi ketika dimakan. Pokoknya ingat Ende, ingat pisang beranga!


Bagaimana kelanjutan dan hasil dari program pengembangan pisang beranga itu sekarang, belum diumumkan lagi pemerintah Kabupaten Ende. Mudah-mudahan hasilnya memuaskan. Jangan sampai bahkan pemerintah sudah lupa dengan program yang sangat bagus tersebut. Mestinya setelah lima tahun, pisang beranga Kelimutu asal Ende sudah masuk pasar ekspor. Begitu idealnya.


Omong-omong soal pisang, orang Flores pasti bangga bukan main mendengar pujian dari Menteri Perdagangan Republik Indonesia, Mari Eka Pangestu. “Saya beli pisangnya. Pisangnya enak dan manis,” begitu kata Ibu Menteri saat berdialog dengan penjual pisang di Pasar Wairloka, Maumere, Kabupaten Sikka hari Sabtu, 2 Juli 2011. Di hadapan para pedagang dan Bupati Sikka, Drs.Sosimus Mitang, Menteri Pedagangan mencicipi sebuah pisang masak. Para penjual pisang kagum menikmati spontantitas Ibu Mari. Pejabat tinggi negara makan pisang di tengah pasar merupakan momen yang manis dan langka bagi mereka.


Maklumlah. Jarang nian orang kita kalau sudah jadi pejabat mau masuk ke pasar-pasar. Takut baju dan celana mereka kotor berlepotan lumpur atau sepatu yang disemir licin bisa lecet lusuh. Mereka baru mau masuk ke pasar-pasar lagi dan sontak ramah dengan orang-orang kecil pada detik-detik menjelang pemilu demi mempertahankan kursi kekuasaan. Pasar adalah tempat menebar pesona jika mereka ada maunya. Bukan cuma pejabat kelas teri di daerah. Bahkan calon presiden di negeri ini pun memanfaatkan pasar untuk tebar pesona dan mengail dukungan suara.

Pasar adalah tempat di mana orang berkumpul. Orang dari segala lapisan. Pasar adalah isi perut. Pasar merupakan sumber napas kehidupan meski banyak orang yang punya kewenangan kerap menomorduakan pasar. (dionbata@yahoo.com)

Yang tak terpublikasikan Pos Kupang. Senin, 4 Juli 2011. Akhir perjalanan BETA?

Oepoi

IZINKAN beta bergumam tentang sekilas wajah bola. Sekilas wajah bola di kampung halaman tercinta, Flobamora dalam sepekan yang baru lewat. Beta mulai dari sudut Stadion Oepoi, Kupang, tak jauh dari GOR Flobamora yang hari-hari ini sedang bergelora lewat permainan bola hebat berlabel kejuaraan Gubernur Cup 2011. Pemain bercucuran keringat, penonton senang tak terkira.

Senang sekali melihat Kupang terus bergeliat dalam urusan sepakbola, baik sepakbola lapangan besar maupun lapangan kecil bernama futsal. Futsal patut dicatat khusus karena telah menorehkan perkembangan dashyat. Dari tiada menjadi ada. Futsal sudah menjadi idola baru di kota ini. Laga futsal ada di mana-mana, mulai dari lorong gang kampung hingga kampus-kampus. Dari laga antarkelurahan sampai level klub tingkat propinsi.

Terima kasih buat mereka yang selama ini bekerja dengan hati memajukan futsal Kota Kupang dan NTT. Kepercayaan badan futsal nasional terhadap NTT menjadi tuan rumah babak prakualifikasi PON 2012 wilayah Nusra bulan Juli mendatang merupakan bukti bahwa Flobamora pun bisa! Kita sudah meraih kepercayaan itu. Salut!


Di lapangan luas, Kupang pun mulai menuai hasilnya, antara lain merebut juara El Tari Memorial Cup tahun silam setelah sekian lama miskin gelar dan selalu berada di bawah dominasi tim-tim asal daratan Flores, bahkan Sumba. Kompetisi perserikatan lokal Kota Kupang pun sudah berjalan rutin. Stadion Oepoi tak henti-hentinya bergetar oleh teriakan histeris penonton, tawa dan juga tangis. Ya, sudah seharusnya begitu. Sebagai ibu kota Propinsi Nusa Tenggara Timur (NTT), Kupang mesti menjadi barometer sepakbola dan juga bidang hidup lainnya.

Sekarang Oepoi lagi-lagi berpesta. Ribuan penonton memadati stadion itu setiap petang menyaksikan laga sepakbola Gubernur NTT Cup 2011. Awal mendengar kemudian menikmati kejuaraan itu, hatiku riang tak terkira. Kompetisi rutin menunjukkan pengurus PSSI bekerja sungguh-sunguh. Konsisten. Cuma batin sontak terusik melihat wakil Kota Kupang bernama Kosgoro 57. Sungguh mati beta terkejut karena nama itu terasa asing. Boleh jadi beta yang kurang gaul. Kurang mengikuti perkembangan terkini klub bola di kota ini sehingga merasa asing sendiri? Maafkan beta jika salah.

Ke mana gerangan klub juara kompetisi PSKK? Mengapa bukan tim juara atau runner-up kompetisi perserikatan Kota Kupang yang menjadi wakil di kejuaraan Gubernur Cup 2011 atau kumpulan pemain terbaik hasil seleksi dari klub-klub asuhan PSKK?

Bukankah Kosgoro itu nama ormas? Kalau benar sebuah ormas bisa membentuk "klub dadakan" serta gonta-ganti nama dan dipercaya menjadi wakil Kota Kupang, terus bagaimana nasib klub perserikatan PSKK yang mengelola klub sejak lama dengan penuh pengorbanan?

Kalau benar ormas bisa diusung untuk nama klub, baiklah dalam kejuaraan Gubernur Cup berikutnya beta usul agar nama tim naik setingkat lebih tinggi. Pakai saja nama partai biar lebih ramai, lebih seru dan lebih dashyat bobot kompetisinya. Misalnya kesebelasan Golkar 100 Kota Kupang, PDIP 200 Timor Tengah Utara, Gerindra 300 Kabupaten Kupang, Demokrat 400 Manggarai Barat, Hanura 500 Sumba Timur, PKB 600 Flores Timur, PAN 700 Ngada dan seterusnya.

Bayangkan tuan dan puan kalau itu sungguh terjadi. Kompetisi niscaya lebih ramai dari biasanya dan para politisi bakal tumpah ruah ke stadion menonton tim kesayangan mereka masing-masing. Anggap saja kompetisi tersebut sebagai pemanasan menjelang pemilu kada di Kota Kupang, Pemilu Kada NTT tahun 2013 serta Pemilu Nasional 2014 mendatang.

Tapi ah.. sudahlah. Jangan dipikirkan terlalu serius, kawan! Beta percaya pengurus cabang PSSI Kota Kupang dan pengurus propinsi PSSI NTT tentu lebih paham soal aturan main dan punya pertimbangan sendiri yang masuk akal dan hati sehingga nama Kosgoro 57 masuk sebagai salah satu kontestan dalam kompetisi Gubernur Cup musim ini. Toh apalah arti sebuah nama? Yang penting bisa bermain bola. Yang utama agenda kompetisi berjalan. Anggap saja gumamanku sebagai angin lalu. Sekadar gumaman penggemar bola di bibir lapangan. Beta kutip komentar seorang penonton saat menonton laga Persena Nagekeo pekan lalu. "Aue.. ini pemain hampir semua dari Kota Kupang ko..." Apa iya? Walahualam.

Sebagai penggemar bola, impian beta simpel saja. Silakan saja Indonesia karut-marut mengurus bola. Biarkanlah PSSI di level nasional amburadul karena salah urus. Toh pasti ada orang lain yang akan mengurus benang kusut itu. Kita yang hidup di beranda kampung ini mestinya bisa memberi teladan yang baik. Biar di kampung, walau prestasi sepakbola kita sayup-sayup, tapi kita urus dia bae-bae. Punya nilai dan harga diri. Ikut aturan main. Menjunjung tinggi fair play.

Geliat persepakbolaan di Kota KASIH sedang bagus-bagusnya. Dia terus bertumbuh. Bertumbuh dan berbiak. Kasihan sekali kalau keburu remuk karena salah urus. Bila tidak segera diperbaiki dengan niat baik, maka bersiaplah menerima prahara ini. Nila setitik merusak susu sebelanga. Panas setahun dihapus oleh hujan sehari. Bola mengajarkan sikap ksatria. Kalau saja salah langkah, mengapa tidak mengakuinya? (diondbputra@yahoo.co.id)

Pos Kupang, Senin 27 Juni 2011 halaman 1

Siami

Usir, usir... dia dari kampung ini.
Usir orang yang tak punya hati nurani!

WANITA berkerudung biru di depan kerumunan massa itu hanya bisa menangis pilu. Suara permintaan maafnya yang diucapkan dengan bantuan pengeras suara nyaris tak terdengar di tengah gemuruh suara massa yang melontarkan hujatan dan caci maki. "Usir, usir...dia dari kampung ini. Usir orang yang tak punya hati nurani!"

Itulah selaksa peristiwa menyayat hati di Jalan Gadel Sari Barat, Kecamatan Tandes, Kota Surabaya hari Kamis 9 Juni 2011. Siami tak menyangka niat tulus mengajarkan kejujuran kepada anaknya malah menuai petaka. Dia diusir warga Gadel Sari Barat gara-gara ia melaporkan guru SDN Gadel 2 yang memaksa anaknya, Al, memberikan contekan kepada teman-temannya saat ujian nasional pada 10-12 Mei 2011. Berlaku jujur malah buntung!




Keluarga Siami dituding telah mencemarkan nama baik sekolah dan kampung. Setidaknya empat kali, warga menggelar aksi unjuk rasa, mengutuk tindakan Siami. Puncaknya terjadi pada Kamis siang itu. Lebih dari 100 warga Kampung Gadel Sari dan wali murid SDN Gadel 2 meminta keluarga penjahit itu enyah dari kampungnya. Permintaan maaf Siami tidak melembutkan hati massa yang keras mengaum sampai akhirnya polisi mengevakuasi Siami dan keluarganya. Siami masuk mobil polisi dengan pengamanan pagar betis. Ngeri!

Namun, massa tetap berusaha merangsek. Mereka sangat beranafsu mencabik-cabik tubuh ringkih Siami. Sejumlah orang bahkan sempat menarik-narik kerudung biru Siami hingga nyaris mencium bumi. Untunglah Siami berhasil diamankan ke Mapolsek Tandes dan selanjutnya mengungsi ke kampung asalnya di Dusun Lumpang, Desa Sedapun Klagen, Benjeng, Gresik, Jawa Timur.

"Kami akan merasa tenang jika di Gresik," kata Saki, kakak Siami. Menurut laporan Kompas yang beta kutip, Al, putra Siami yang dipaksa guru memberi contekan kepada teman-teman sekelasnya sudah lebih dahulu diungsikan ke Benjeng setelah rumah orangtuanya didemo warga Gadel.

Siami dituding tak punya nurani. Lalu di manakah nurani? Bukankah nurani itu ada di setiap hati? Hati tuan dan puan pun beta. Ada di setiap hati kita. Pastilah karena bisikan nuraninya, Siami mengungkap praktik contek massal di sekolah putranya. Tapi kejujuran di zaman ini memang mahal, kawan! 

Pelaksanaan Ujian Nasional yang kini wajib sampai level sekolah dasar makin menunjukkan langkanya kejujuran di ini negeri. Ujian Nasional (UN) telah dimengerti seolah-olah indikator tunggal kualitas pendidikan bangsa. Maka orang pun tidak malu berdamai dengan realitas bernama cara instan dan jalan pintas. Yang penting tujuan bukan proses. Yang utama lulus, tak hiraukan cara lulus dengan menyontek atau katrol nilai.

Setiap musim ujian nasional tiba, semua berburu lulus dengan persentase setinggi-tingginya. Menguber seratus persen. Menggapai kesempurnaan. Gagal dianggap barang haram hingga tersibak hati yang rapuh ini. Guru mata pelajaan takut pada kepala sekolah, kepala sekolah takut pada kepala dinas PPO, kepala dinas PPO takut bupati, bupati takut gubernur, gubernur takut menteri, menteri takut presiden, presiden takut kehilangan pesona. Mereka takut gagal UN sehingga segala cara ditempuh. Baik pun tidak baik. UN mempertaruhkan jabatan. Betapa banyak orang gundah menghadapi kemungkinan hilang jabatan, hilang posisi, hilang kemewahan dan kenikmatan duniawi. Menipu lalu dianggap halal. Inikah bangsa yang bermartabat? Pendidikan bangsa ini telah disederhanakan sekadar hasil UN. Mengabaikan perlunya pembentukan akhlak mulia, otak cerdas sekaligus hati yang berjiwa besar.

Di sudut hatinya yang paling bening, warga sekampung yang membenci Siami tentu tak setuju contekan massal. Tapi benak mereka mungkin bergumam serentak. "Betul itu salah tetapi sudah lumrah terjadi di banyak tempat. Mengapa melawan arus? Yang lalu biarkanlah berlalu, yang penting anak-anak lulus, tidak mengulangi ujian atau tahan kelas VI." Di zaman yang mementingkan angka-angka ini, suara mayoritas selalu menang meskipun salah. Siami dipandang sok jujur. Sok pahlawan. Dia pantas dijadikan kambing hitam. Kambing hitam yang mesti disembelih. Harus dikorbankan demi kepentingan mayoritas.

Hasil investigasi tim independen menemukan bukti bahwa Siami benar tentang fakta contekan massal. Al memang diintimidasi guru sehingga mau memberikan contekan. Namun, tim tidak menemukan cukup bukti sehingga UN di SDN Gadel 2 perlu diulang. Alasannya tim independen tidak menemukan hasil jawaban UN yang sistemik sama, dan nilai UN pun hasilnya berbeda. Al tidak seluruhnya memberikan jawaban yang benar. Dan, kawan-kawannya tidak sepenuhnya percaya dengan jawaban Al sehingga hasil ujian tidak sama.

Hari Sabtu 18 Juni 2011, Dinas Pendidikan Propinsi Jawa Timur merilis hasil mencengangkan. Seluruh 60 murid kelas 6 SD Negeri Gadel 2 Surabaya lulus. Lulus 100 persen. Hebat! Kasihan Siami. Dia telah menjadi korban karena kejujurannya. Tapi Indonesia mesti berterima kasih kepada ibu ini. Dia mengingatkan tentang prahara kehidupan: Demi tujuan orang bisa menghalalkan segala cara. Siami membuka mata betapa kita sesungguhnya hidup di tengah masyarakat yang sakit!

Salah satu ciri masyarakat sakit, menurut kaum bijak bestari, adalah masyarakat yang tak berani lagi melawan arus. Diam melihat penyimpangan. Bisu mencicipi kesewenangan. Lima puluh sembilan orangtua/wali murid kelas 6 SDN Gadel Surabaya tahu anak-anak mereka menyontek. Tetapi mereka memilih diam karena mereka merasa mendapat keuntungan. Ketika si penjahit Siami bersuara, dia dinistakan. Siami menyulam kejujuran di tengah badai kemunafikan. Dia terlindas.

Dalam keseharian, tuan dan puan mungkin sadar sesuatu itu salah. Tetapi tuan pasti berpikir seribu kali. Kalau tuan lemah jangan coba-coba melawan. Lebih baik ikut arus daripada terpinggirkan. Mengoreksi bisa merusak karier. Lebih baik ABS. Lebih baik loyal buta. Membeo. Membebek saja.

Inilah zaman di mana semua seorang anak merasa berhak lulus atau naik kelas di akhir tahun ajaran. Tidak perlu belajar, tak perlu tikam kepala melahap teori dan mempratikkannya. Persoalan besar bangsa kita adalah erosi budi pekerti. Aih, negeri ini membutuhkan Siami. Terima kasih Siami. (diondbputra@yahoo.co.id)

Pos Kupang, Senin 20 Juni 2011 halaman 1

Soeharto

Duar! Ada Ledakan Saat Makam Soeharto Digali
Bulu Kuduk Merinding...

MINGGU Wage, 27 Januari 2008. Jarum jam menunjuk angka 15.30. Azan Asar terdengar sayup-sayup dari kejauhan. Suasana Astana Giribangun redup kala itu, Matahari entah ke mana. Tak ada awan, juga tiada tanda gerimis bakal jatuh.

Sejumlah orang berkumpul, mengelilingi sebidang petak tanah makam yang siap digali. Mereka melakukan upacara Bedah Bumi yang bertujuan agar penggalian berjalan lancar. Yang memimpin Begug Purnomosidi, Bupati Wonogiri.



Lalu linggis dihujamkan ke tanah. Tak ada apapun yang terjadi. Begitu pula tikaman yang kedua. Namun, bulu kuduk sontak merinding saat linggis mengoyak tanah untuk kali ketiganya. "Tiba-tiba, duar! Terdengar suara ledakan yang sangat keras bergema di atas kepala kami," kata Sukirno, juru kunci makam keluarga Soeharto di Astana Giribangun. Sukirno menceritakan kembali pengalamannya menggali makam Soeharto dalam buku Pak Harto The Untold Stories yang diluncurkan di Jakarta, Rabu, 8 Juni 2011. 

Menurut Sukirno, para penggali makam dan orang-orang di sekitarnya kaget. Mereka berpandangan. Bingung. Coba mereka-reka dari mana asal suara menggelegar itu. "Bukan bunyi petir, lebih mirip suara bom besar meledak di atas cungkup Astana Giribangun," katanya. Aneh. Tak ada yang porak-poranda, tak satupun benda yang bergeser karena ledakan itu. Mereka menduga itu suara gaib. Semua diam, terpaku. Lalu suara Begug memecah keheningan. "Bumi mengisyaratkan penerimaan terhadap jenazah beliau," tutur Sukirno menirukan kalimat Bupati Wonogiri tersebut. 

Sukirno adalah satu dari 113 orang yang menceritakan kisahnya dalam Pak Harto The Untold Stories -- buku yang diluncurkan tepat pada peringatan kelahiran Soeharto ke-90 tanggal 8 Juni 2011 lalu. Peluncuran buku tersebut berlangsung hanya tiga pekan setelah masyarakat Indonesia dikejutkan dengan hasil survei lembaga Indo Barometer yang menunjukkan 36,5 persen responden (dari total 1.200) memilih Jenderal Besar Soeharto sebagai presiden yang paling disukai. Selanjutnya 20,9 persen memilih Presiden Susilo Bambang Yudhoyono, 9,8 persen memilih Presiden Soekarno, 9,2 persen memilih Megawati Soekarnoputri, 4,4 persen memilih BJ Habibie, 4,3 persen memilih almarhum mantan Presiden Abdurrahman Wahid alias Gus Dur.

Mayoritas responden juga menilai Orde Baru lebih baik daripada Orde Reformasi. Hanya pada bidang hukum, Orde Reformasi dianggap lebih baik. Sementara pada banyak sisi kehidupan lain, terutama ekonomi dan sosial politik, dominan responden menyatakan ketidakpuasan terhadap pemerintahan saat ini. Masa kepemimpinan Soeharto lebih memuaskan. Wow! Karuan saja banyak yang sewot.

Reaksi keras datang dari Istana Kepresidenan Republik Indonesia. Pemerintahan SBY-Boediono menegaskan, masa pemerintahan Orde Baru tidak bisa dibandingkan dengan kondisi saat ini karena suasananya jauh berbeda. Juga dipertanyakan validitas data serta metodologi survai Indo Barometer. Juru bicara Presiden, Julian Aldrin Pasha menilai data responden membingungkan karena tidak dicantumkan secara detail subyek pertanyaan dan parameter yang lengkap. 
SBY sendiri pernah membandingkan zaman dia dengan Soeharto. "(Di zaman Soeharto) pemerintahan top down. Presiden bisa berbuat banyak," kata SBY. Dia juga membandingkan bisnis zaman Soeharto dengan saat ini. "Bisnis dulu bisa diatur dan ditata, belum berlaku otonomi daerah seperti sekarang ini," kata SBY.

Orang bisa berbeda pandangan merespons hasil survei tersebut. Dan, itu wajar saja. Yang pasti dalam keseharian tuan dan puan mungkin pernah menangkap suara-suara masyarakat yang merindukan kondisi stabil dan aman seperti di masa Orde Baru (Orba). Rakyat di level akar rumput tidak peduli apakah Era Reformasi lebih demokratis dibanding Orba. Ukuran mereka simpel saja yaitu bagaimana kemudahan mendapatkan sembilan bahan kebutuhan pokok (sembako) dengan harga terjangkau. Untuk urusan 'kampung tengah' alias perut ini agaknya masa Soeharto lebih mudah. Zaman Soeharto, Indonesia swa sembada beras. Impor pangan hampir nihil. Sekarang bahkan garam dapur pun impor. Begitu kira-kira persepsi umum di tengah masyarakat. Jadi bisa dimengerti bila ada yang kangen dengan Orde Baru. Dan, Orde Baru identik dengan Soeharto! 

Survei Indo Barometer pun menyeruak di tengah beragam keganjilan di ini negeri. Sebut misalnya kasus Bank Century, berbiaknya gerakan Negara Islam Indonesia (NII), pembakaran rumah ibadah, penyerangan tiada henti terhadap kelompok agama minoritas serta ingkar janji pemerintah terhadap sejumlah program pro rakyat yang oleh tokoh agama dilukiskan sebagai kebohongan. 

Survei itu juga bergulir di tengah drama politik yang menyakiti hati rakyat seperti studi banding, gedung mewah DPR, kasus anggota Dewan kepergok nonton video porno dalam rapat paripurna hingga kasus Partai Demokrat lewat M Nazaruddin yang masih berada di Singapura dan membangkang terhadap panggilan KPK dalam kasus proyek SEA Games 2011. Drama itu menambah rasa tidak puas masyarakat.

Begitulah tuan dan puan. Memori kolektif rakyat Indonesia seolah "lupa sejenak" bahwa Soeharto dan kepemimpinannya selama 32 tahun penuh kontradiksi. Mulai dari pengambialihan kekuasan tahun 1965, kasus G 30S PKI hingga jargon KKN (Kolusi, Korupsi dan Nepotisme). Meski banyak tuduhan, Soeharto tak pernah diadili sampai wafat 2008 atau sepuluh tahun setelah lengser keprabon. 

Buku Pak Harto The Untold Stories cuma mengisahkan sisi positif Soeharto. Lalu siapa yang akan menceritakan hal-hal kelam dari zaman itu? Bukankah sisi negatif mantan presiden bisa menjadi pembelajaran agar bangsa Indonesia jangan terperosok pada lubang yang sama? Bangsa besar ini agaknya belum dewasa. 

Benar peringatan Ikrar Nusa Bakti. Semua kenikmatan Orde Baru adalah hasil hutang luar negeri yang mesti ditanggung rakyat, penyerahan kekayaan sumber daya alam kepada asing serta mengebiri kebebasan hak asasi individu. "Kita jangan lupa bahwa stabilitas saat itu diperoleh dengan tangan besi. Di bawah pijakan sepatu lars, di ujung moncong senapan!" kata Ikrar. Seorang kawan menimpali. "Yang tidak kangen sama Orde Baru itu tidak punya hati. Tapi yang mau Orde Baru berkuasa lagi tak punya otak." He-he-he...(diondbputra@yahoo.co.id)

Pos Kupang Senin, 13 Juni 2011 halaman 1
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Best WordPress Themes