Gaya Jokowi di Kairagi
Dalam rangkaian blusukannnya ke Sulawesi Utara, Calon Presiden (Capres) PDI Perjuangan, Ir Joko Widodo alias Jokowi menyempatkan diri mampir ke Kantor Harian Tribun Manado di Jalan AA Maramis, Kairagi, Manado, Sabtu (10/5/2014) sekitar pukul 13.15
Dua Mahasiswi Unima Taklukkan Puncak Elbrus
Prestasidemi prestasi dibukukan anak-anak Mahasiswa Pecinta Alam (MPA) Aesthetica, Fakultas Bahasa dan Seni (FBS) Universitas Negeri Manado (Unima)
Berwisata Penuh Sensasi ke Pulau Komodo
TAK dapat dimungkiri, Pulau Komodo di Manggarai Barat, Nusa Tenggara Timur, adalah salah satu pulau terunik di dunia
Tampilkan postingan dengan label Kampoengku. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Kampoengku. Tampilkan semua postingan
Ka Maki Muzi
dion bata
MENSYUKURI dan menghormati hasil panenan adalah tradisi turun-temurun yang biasanya dilakukan oleh masyarakat Ngada. Tradisi-tradisi yang ini merupakan sebuah kearifan lokal yang harus terus dipupuk dan dipelihara secara terus-menerus, agar anak cucu semakin hari semakin tahu bersyukur akan karunia dan limpahan rezeki yang diberikan Yang Kuasa melalui alam dan lingkungan.
Dengan demikian generasi muda tahu menjaga lingkungan dan sebaliknya lingkungan alam memberikan hasil yang berlimpah pada penghuninya. Salah satu tradisi yang sering dilakukan masyarakat Ngada setiap tahun setelah panen, terutama panen padi ladang, adalah ka maki muzi. Ka maki muzi adalah sebuah tradisi makan nasi yang berasal dari beras yang baru selesai diketam dari ladang atau sawah tadah hujan.
Tradisi ini merupakan bagian dari masyarakat Bajawa dan kampung-kampung sekitarnya, yakni Boua, Langa, Mangulewa, Mataloko, Jerebu'u dan Aimere. Ka maki muzi, ini sebagai salah satu tanda di mana masyarakat bisa mulai makan makanan lainya seperti ubi (uwi), ejo (ubi manis), ke'o (jali), wete (jewawut) dan hasil pertanian lainnya.
Sebelumnya, padi baru ini ditumbuk menjadi beras. Maki muzi ini harus dimasak bersama kacang nasi (sobho). Sebelum dimasak menjadi nasi, sisihkan satu genggam beras tumbuk pada bagian yang agak hancur (mata dhea) disimpan di satu wadah apa saja, campurkan dengan air kelapa muda. Beras tumbuk yang dimasak menjadi nasi yang hampir kering diangkat airnya diirus yang terbuat dari kelapa dan rendam di beras dan air kelapa yang disisihkan tadi. Setelah itu, sisa air nasi dioleskan pada leher masing-masing anggota keluarga. Beras yang disisihkan tadi dibagi sedikit-sedikit kepada semua anggota keluarga dan sisanya disimpan di tungku batu.
Kebiasaan orang Ngada tungku api (lika) terbuat dari batu yang ditanam di dalam tanam sebanyak tiga buah membentuk segi tiga. Beras yang disisihkan bersama air kelapa tadi harus disimpan pada tiga buah batu tersebut.
Setelah itu, barulah nasi yang dimasak tadi dimakan oleh seisi keluarga. Selain itu, anggota keluarga pun bisa menikmati hasil pertanian lainnya yang ada, seperti ubi, jewawut, jali dan sebagainya. Tradisi ini dilakukan untuk menghormati hasil panenan yang baru dipanen, sehingga pada tahun-tahun selanjutnya, hasil pertanian semakin membaik dan memberikan hasil yang memuaskan. Biasanya orang Bajawa melakukan tradisi ini setiap tahun setelah panen.
Tradisi ini tidak semuanya dilakukan oleh masyarakat Bajawa tetapi hanya untuk masyarakat yang menanam dan memanen padi dari ladang atau sawah tada hujan. Sedangkan mereka yang memiliki sawah biasanya tidak melakukan tradisi ini. Jika ada yang melanggar, menurut kepercayaan orang Bajawa, akan terkena penyakit gondok atau gejala leher membesar. Percaya atau tidak tetapi biasanya terjadi.
Saat ini, karena kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi informasi yang sangat pesat, tradisi ini sudah tidak banyak orang lagi yang membuatnya. Banyak generasi muda yang sudah melupakan tradisi ini, sehingga muatan-muatan lokal atau kearifan lokal yang sebenarnya menjadi kekhasan dan ciri khas daerah menjadi punah.
Apalagi, makanan lokal seperti ubi, jali, jewawut dan sebagainya saat ini sangat susah ditemukan di masyarakat. (Apolonia Mathilde Dhiu)
Pos Kupang, Sabtu 27 November 2010 halam 5
Membuka Tahun Adat dengan Paro
dion bata
TAHUN Adat mungkin sesuatu yang cukup asing bagi kebanyakan orang. Tetapi bila kita berada di Kampung Wewoloe, Kelurahan Towak, Kecamatan Aesesa, Kabupaten Nagekeo, kita bisa mengerti dan melihat perayaan tahun adat yang dikenal dengan nama paro.
Paro, sesuai kebiasaan adat Suku Mbare, dirayakan pada bulan Februari setiap tahunnya. Paro adalah ritual warga Suku Mbare untuk membuka tahun adat baru.
"Saat paro berlangsung, secara bersama-sama kita menentukan tanggal-tanggal untuk perayaan acara adat. Termasuk misalnya tinju adat atau perayaan lainnya, yakni syukuran panen padi yang dinamakan ghan woja wru," kata Yakobus Koru, salah satu tokoh masyarakat Suku Mbare, yang ditemui, Kamis (4/11/2010).
Menurut Yakobus, warga Suku Mbare sudah mengetahui acara adat apa saja yang harus dirayakan setiap bulannya dalam satu tahun adat yang sedang berjalan. Tetapi kapan tanggal acaranya berlangsung, itulah yang harus disepakati bersama-sama saat paro berlangsung.
Paro pun bukan sekadar menentukan tanggal-tanggal perayaan adat, tetapi salah satu hal yang paling sakral dalam acara paro adalah menanam padi dan jewawut di kebun adat yang sudah diwariskan.
"Acara paro itu sendiri juga dimaknai sebagai penghormatan terhadap para leluhur. Sehingga setelah melakukan penanaman, kita bisa meminta agar hujan turun, serta meminta agar tanaman kita terhindar dari hewan liar yang merusak tanaman," kata bapak Yakobus yang juga pensiunan seorang guru itu.
Setelah ritual paro dirayakan, warga Mbare tidak boleh melakukan kegiatan pembangunan. "Misalnya membuat rumah adat atau memperbaiki rumah, itu tidak boleh. Selain itu, membawa kayu mentah ke kampung pun itu dilarang," kata Yakobus.
Larangan tersebut berlangsung sampai dilakukannya acara ghan woja wru, yakni acara yang bertujuan agar padi yang telah dipanen diperbolehkan untuk dikonsumsi oleh warga. Sekaligus acara syukuran atas panenan padi tersebut. Panen biasanya sudah bisa dilakukan pada bulan Mei setiap tahunnya. Artinya, larangan tersebut harus dijalankan sejak bulan Februari sampai bulan Mei. Kalau tidak ditaati, maka yang bersangkutan bisa mendapat musibah.
Dijelaskannya, untuk mengetahui paro secara detail, harus mengikutinya secara langsung. Karena setiap tahapan acara paro tidak boleh dibicarakan sebelum hari perayaannya, yakni setiap bulan Februari.
Di tempat yang sama, Ibu Rosalina Owa menuturkan, saat pelaksanaan paro setiap warga harus membawa beras, ayam, moke, dan sayur-sayuran. "Beras dan sayur-sayuran untuk dimasak secara beramai-ramai di tempat paro, ayam juga untuk disembelih dan makan bersama-sama. Begitu pun moke untuk diminum," kata Ibu Rosalina.
Dia menjelaskan, paro biasanya dilakukan di lahan yang sama dan letaknya di atas bukit. Di tempat yang sama itulah ritual paro dirayakan setiap kali bulan Februari.
"Kita lakukan acara seremoninya dulu baru menanam padi dan jewawut secara bersama-sama. Tidak ditentukan setiap warga harus ditanam di bagian mana. Semuanya secara bersama-sama menanam di semua bagian lahan yang ada," kata Ibu Rosalina. (Servatinus Mammilianus)
Pos Kupang, 13 November 2010 hal 5
Maronggela yang Jauh
dion bata
SATU-PERSATU lubang yang menghiasi jalanan terus dilewati. Demikian pula kilometer demi kilometer dilalui sejak pagi. Kampung demi kampung penduduk terus dijumpai sepanjang perjalanan. Kurang lebih sudah 60 kilometer perjalanan.
"Kuda besi" yang saya tumpangi juga sudah dua kali diisi bahan bakar, namun tujuan perjalanan ini pun belum tercapai. Tiba-tiba kuda besi tadi terasa oleng dan hampir keluar dari bahu jalan. Ternyata bannya gembos lagi.
Kendaraan ini sepertinya sudah menyerah karena medan yang cukup berat dan kurang bersahabat ini. Terpaksa saya harus turun dan mendorong kendaraan untuk mencari bengkel yang paling dekat.
Usai membetulkan ban "kuda besi" perjalanan menuju Maronggela, Kecamatan Riung Barat, Kabupaten Ngada, dilanjutkan. Kurang lebih 75 kilometer perjalanan yang ditempuh dengan waktu tiga jam.
Apabila menggunakan kendaraan umum membutuhkan waktu
lima hingga enam jam. Jarak 75 kilometer, bila dibandingkan dengan jalan di jalur negara, hanya membutuhkan waktu satu setengah sampai dua jam.
Mengapa jalan menuju pusat kecamatan harus seperti ini? Jawabannya tidak lain karena kondisi jalan yang kurang mendapat perhatian. Banyak lubang dan batuan lepas serta jalur yang sempit membuat setiap pengendara harus ekstra hati-hati. Dari kejauhan tampak sebuah tower. Di tempat itulah letak ibu kota kecamatan dengan enam desa ini. Maronggela. Kota tersebut dikenal sebagai salah satu ibu kota kecamatan tanpa listrik.
Listrik sebagai motor penggerak pelayanan kesehatan di lokasi itu belum ada. Bagaimana peralatan kesehatan yang membutuhkan daya listrik untuk dioperasikan? Jawabannya tentu tidak dapat difungsikan dan hanya sebagai pajangan yang akhirnya masuk museum gudang puskesmas itu.
Dijelaskan Alexander Songkares, Kepala Desa Ria, Kecamatan Riung Barat, bukan sebatas itu saja fasilitas umum yang belum tersedia di daerah itu. Wilayah Kecamatan Ruing Barat dengan enam desa dan jumlah penduduk 8.425 jiwa atau 1.718 kepala keluarga (KK) ini selalu dilanda kekeringan. Akibatnya warga di wilayah itu sering kekurangan air bersih.
Hal ini mengakibatkan kebersihan lingkungan tidak diperhatikan dan rawan terhadap berbagai jenis penyakit menular.
Daerah tersebut masih jauh dari sentuhan pembangunan. Untuk menjangkau ibukota kabupaten dan kembali ke daerah itu, warga membutuhkan satu hari perjalanan. Hal ini disebabkan pembangunan jalan raya dan akses transportasi belum diperhatikan.
Selain itu, listrik dan kebutuhan air bersih yang berpengaruh terhadap kesehatan warga juga belum mendapat perhatian serius.
Dia menambahkan, pola hidup sehat warga setempat belum teratur. Menurutnya, selama ini kebanyakan warga tidak menggunakan jamban untuk buang air besar (BAB) dan lebih sering ke semak belukar.
"Warga di sini sering BABS (buang air besar sembarang, Red) karena tidak ada stok air bersih yang cukup. Jangankan untuk BAB, untuk minum saja susah sekali," kata Songkares.
Hal senada dikatakan salah seorang petugas kesehatan,
Agustinus Ceme, SKM. Dia mengisahkan rata-rata setiap KK di dearah tersebut belum memanfaatkan jamban. Hal ini bukan karena warga tidak memiliki kesadaran, namun kekurangan air bersih.
Untuk memenuhi kebutuhan air bersih, terkadang warga harus mengonsumsi air kali yang tidak bersih. (John Taena)
Pos Kupang Sabtu 20 November 2010 halaman 5
Urung Pigang
dion bata
Namun Urung Pigang yang berada di Bukit Wailiti dan menghadap ke pantai utara (Pantura) Flores itu adalah salah satu dusun yang terkenal tandus dan gersang. Siangnya gersang dan malam penuh kesunyian serta
jauh dari kebisingan.
Urung Pigang merupakan daerah perkampungan dimana warga hidup dalam suasana kekeluargaan. Namun kini, kehidupan kota yang modern mulai merambah wilayah ini seiring masuknya wilayah ini ke dalam wilayah Kecamatan Alok (Kota Maumere).
Meski mereka sudah hidup dalam suasana kota, namun kebiasaan dan adat istiadat di Urung Pigang masih sangat tradisional. Kehidupan masyarakat masih dalam suasana di perkampungan.
Di Urung Pigang adalah aneka dan warna kehidupan yang khas. Kaum wanita masih setia dalam kehidupan menenun seperti biasa dilakukan wanita Kabupaten Sikka pada umumnya. Sementara para laki-laki berprofesi sebagai pembuat batu bata.
Inilah gambaran keseharian masyarakat di wilayah ini. Seiring kemajuan jaman banyak kaum wanita
di wilayah ini juga mulai enggan menenun karena dan memilih membantu suami di kebun dan kerja kasar seperti menjadi buruh bangunan.
Helena Dowena (50), seorang ibu rumah tangga di Dusun Urung Pigang, kepada Pos Kupang di Kampung Urung Pigang berkisah, di kampung ini kaum wanita menenun kain untuk membantu suami dan mengisi waktu kosong. Selebihnya, jika ada kerja kasar mereka lebih senang membantu suami.
Dan, bagi Helena menenun tidak menjadi rutinitas. Menenun baginya hanya untuk mengisi waktu kosong. "Setiap bulan saya hasilkan satu lembar kain. Saya lebih banyak kerja kasar membantu suami membuat batu merah. Batu merah di kampung ini adalah sumber penghasilan tetap warga," kata Helena sambil menenun di rumahnya.
Sementara itu, warga lainnya di kampung ini sibuk dengan aktivitas membuat batu merah di samping dan belakang rumah.
Warga Urung Pigang ramai-ramai membuat batu merah. Batu merah sudah menjadi bagian dari kehidupan warga Urung Pigang.
Urung Pigang yang dulunya perkampungan tradisional kini telah beralih menata kehidupan menuju kehidupan modern. Selain menenun, membuat batu merah, di Urung Pigang warga juga berprofesi sebagai buruh, ada tukang ojek dan pekerjaaan lainnya yang bisa didapatkan di Kota Maumere.
Kehidupan masyarakat tradisional di Urung Pigang yang berada di daerah pinggiran Kota Maumere adalah bukti peralihan kehidupan warga yang kini mau menjadi masyarakat perkotaan. (Aris Ninu)
Pos Kupang 18 September 2010 halaman 5
Koro Bhera Butuh Sentuhan
dion bata

NAMA desa ini sempat menjadi perhatian masyarakat Kabupaten Sikka dan NTT. Desa ini berada di wilayah pantai Selatan Flores atau oleh masyarakat setempat menyebutnya, Panser Sikka dan masuk dalam wilayah Kecamatan Mego. Desa Koro Bhera. Begitulah namanya.
Ada tiga dusun di Desa Koro Bhera yaitu Dusun Magetake, Uba Moru dan Wara. Kehidupan warga desa masih tradisional dan sederhana dan aktivitas warga ke sawah dan laut.
Masyarakat di desa ini yang memilih menjadi petani karena memiliki kebun dan lahan pertanian. Namun, hampir setiap tahun petani di desa ini tidak maksimal dalam mendapat hasil panen karena terserang hama keong.
Sementara warga yang memiliki pekerjaan sebagai nelayan karena wilayah ni berada di daerah pesisir pantai selatan, meski laut di wilayah ini juga terkenal memilikki gelombang cukup besar dan ganas. Namun hasil tangkapan berupa ikan segar dan selalu diminati pembeli dari Kota Maumere.
Desa Koro Bhera telah menjadi desa mandiri. Namun persoalan dari tahun ke tahun selalu melilit masyarakat setempat.
Apa yang selalu melilit dan terus membelenggu warga Desa Koro Bhera? Ada tiga hal yang membuat desa ini perlu dapat perhatian dari Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Sikka yakni jalan, air dan listrik atau dikenal dengan istilah JALI. Kalau JALI sudah ada warga Desa Koro Bhera pasti sejahtera.
Kades Koro Bhera, Chairul Dou, berkisah tentang desa yang ia pimpinan setahun ini.
Ia mengungkapkan, jalan masuk ke desa sejauh empat kilometer masih berupa bebatuan cadas. Kondisi jalan ini pada musim hujan berlumpur dan berdebu di musim panas. "Musim hujan makan lumpur dan musim panas makan debu," ungkap Chairul Dou.
Jalan masih membuat warga terisolir dan terbelakang di Pantai Selatan Flores-Sikka. Musim hujan warga sengsara jika ingin ke kota dan pasar. Kondisi jalan yang prihatin tersebut telah dikeluhkan dari tahun ke tahun. Warga desa terus berharap ada kemurahan hati dari pemimpin di Sikka guna memperhatikan jalan di Desa Koro Bhera. Desa Koro
Bhera punya potensi pertanian dan perkebunan. Sawah membentang luas dan komoditi tidak bisa dibawa ke kota dan pasar. Lahan persawahan terus dimakan hama dan petani terus menjerit. Hama kakao pun belum teratasi. Hanya satu permintaan warga jalan diperbaiki. Bukan saja masalah jalan, warga Desa Koro Bhera terus menjerit dan menangis karena air bersih yang mereka konsumsi tidak layak.
Dusun Magetake yang sudah menikmati air bersih. Namun saat ini air kembali macet sehingga warga harus minum air kali. Dua dusun lainnya Uba Moru dan Wara apalagi. Di Dusun Wara ada sumur gali tapi sama saja warga terus menderita. Masalah air memang masih terus membelenggu warga Desa Koro Bhera.
Kini warga masih meminta perhatian karena listrik di dua dusun yakni Uba Moru dab Wara belum ada. Di Desa Koro Bhera baru Dusun Magetake yang mendapat pelayanan listrik. Sementara dua dusun lainnya masih menunggu pelayanan yang sama.
Jangan biarkan potensi itu pergi seperti air laut yang sedang diterjang gelombang. Desa Koro Bhera perlu disentuh dan diperhatikan. Perhatian pemerintah dengan memperhatikan jalan, air dan listrik alias JALI. Itulah tanggungjawab pemerintah dalam mensejahterakan warganya. Desa Koro Bhera butuh sentuhan. (Aris Ninu)
Pos Kupang, 28 Agustus 2010 halaman 5
Kloang Popot: Menjaga Kelestarian Mata Air
dion bata

TERIK matahari di Kota Maumere langsung hilang saat kita memasuki kawasan pegunungan di Kecamatan Doreng, Kabupaten Sikka. Kawasan yang terkenal dengan hasil tanaman perkebunan seperti vanili, cengkeh, cokelat, kemiri ini masih hijau. Udara di wilayah ini juga terasa sejuk. Demikian juga kawasan Desa Kloang Popot.
Masyarakat Desa Kloang Popot hingga kini masih terus menjaga keasrian alam, meski ada juga warga yang masih terus menebang hutan di lereng pegunungan Mapitara.
Desa Kolang Popot yang berjarak sekitar 35 km arah timur Kota Maumere kini dihuni sekitar 700 KK yang tersebar dalam tiga dusun masing-masing dusun Wualadu, Kloang Popot dan dusun Peli Baler. Sebagian besar masyarakat di tiga dusun ini menggantungkan hidup dari hasil tanaman perdagangan tersebut. Namun, mereka juga menanam aneka tanaman pangan lokal. Ada aneka jenis umbi-umbian, jagung dan kacang- kacangan. Sementara tanaman keras lainnya yang juga ditanam dan sering dijadikan pangan adalah kelapa. Bahkan mereka kini juga mengembangkan tanaman durian.
Meski hidup sedikit berkecukupan, masyarakat di desa ini masih memanfaatkan air sungai untuk kebutuhan sehari-hari. Sungai Kaki Wair dan Jojet merupakan andalan utama mereka akan air bersih. Sejak tahun 2008 lalu, masyarakat di wilayah ini mulai berswadaya membangun jaringan pipa air dari sumber mata air langsung ke perkampungan penduduk.
Pemasangan pipa dan pembangunan bak penampung di mata air pada awalnya dilakukan oleh masyarakat Dusun Wualadu. Beberapa tokoh masyarakat, antara lain Wilem Wair, Florianus Salo, Lorensius Woga, Lorensius Hulir dan beberapa tokoh masyarakat lainnya mulai membangun jaringan pipa dari mata air Wair Toket yang berada di sekitar kaki Gunung Mapitara yang berjarak sekitar delapan km dari dusun tersebut. Dan, berkat swadaya masyarakat, air yang tadinya hanya bisa mengalir di sungai, kini langsung bisa sampai ke rumah masyarakat.
Langkah yang diambil warga Dusun Wualadu ini juga menginspirasi pemerintah dan masyarakat Desa Kloang Popot pada umumnya. Dan, tidak lama berselang melalui program PPK, masyarakat mulai membangun jaringan pipa dari sumber air Watu Wogat. Air yang dialiri ini untuk memenuhi kebutuhan semua masyarakat desa itu.
Langkah yang diambil masyarakat saat ini untuk menjaga kelestarian mata air tersebut adalah dengan melakukan aktivitas menanam di sekitar sumber mata mata air tersebut. Masyarakat juga dilarang menebang pohon di sekitar tempat itu. Sayang, di daerah lereng hingga puncak Gunung Mapitara yang merupakan wilayah serapan air untuk desa tersebut masih terus terjadi penebangan liar. Aktivitas penebangan ini berlangsung terus, bahkan ada beberapa titik yang sudah mulai habis. Bila ini terus berlangsung, maka sejumlah mata air yang berada di kaki gunung tersebut terancam kering.
Kloang Popot kini juga dikembangkan menjadi tujuan wisata. Sebab selain memiliki alam yang indah, di salah satu titik di desa ini juga terdapat sebuah batu meteor yang jatuh. Oleh masyarakat sekitar batu itu diberi nama dalah elat (bintang jatuh).
Konon kabarnya, batu ini pernah akan dipindahkan ke museum, namun belum bisa dibawa karena ada cerita magis. Hingga ini batu tersebut masih ada dan menjadi tontonan wisatawan yang berkunjung ke tempat itu. (Tanto Salo dan Alfred Dama)
Pos Kupang, 21 Agustus 2010 halaman 5
Oebou Manfaatkan Potensi Laut
dion bata

PERJALANAN panjang yang melelahkan. Melintasi jalan aspal berlubang dan beberapa ruas jalan tanah, terasa sangat melelahkan.
Itulah perjalanan dari Pelabuhan Ba'a ke Desa Oebou. Pelabuhan Ba'a merupakan pelabuhan laut utama di Kabupaten Rote-Ndao. Butuh waktu sekitar satu jam untuk menempuh perjalanan sekitar 35 km ke Desa Oebou, Kecamatan Rote Barat Laut.
Meski jalanan tidak terlalu sulit, tidak mudah juga menuju kawasan pantai selatan di kabupaten terselatan Indonesia ini. Soalnya, akses transportasi ke wilayah ini sangat minim. Hanya tersedia ojek atau kendaraan carteran bila ingin ke tempat ini.
Tetapi sulit dan mahalnya tranportasi segera terobati manakala mata dimanjakan oleh pemandangan alam yang sangat indah. Itulah sebagian dari 'surga' di selatan Pulau Rote ini.
Desa Oebou merupakan salah satu titian sejarah tentang perkembangan di Pulau Rote. Wilayah ini memiliki kekayaan alam. Selain alam yang begitu indah, warga di tempat ini juga membudidayakan rumput laut. Dan, yang paling fenomenal adalah dari desa inilah cikal bakal masuknya agamanya Kristen dan pendidikan di Pulau Rote.
Beberapa warga yang juga petani rumput laut hampir setiap hari berada di tempat itu. Mereka mengawasi budidaya rumput laut di tempat itu. Sejumlah warga di tempat itu mengatakan, mereka mendapatkan hasil yang cukup membantu perekonomian rumah tangga dari usaha rumput laut. Agar rumput laut tumbuh baik, maka mereka juga selalu menjaga lingkungan agar tetap bersih. Bagi mereka, air laut yang bersih merupakan kehidupan mereka.
Masyarakat desa ini sebelumnya ada petani dan nelayan. Tetapi setelah kenal rumput laut dan nilai ekonomisnya, sebagian dari warga di desa ini beralih mengadu nasib dengan menanam rumput laut. Nyatanya rumput laut sangat membantu perekonomian mereka.
Sebetulnya, tanpa rumput laut pun, pemandangan di kawasan ini punya pesona yang luar biasa. Pantai nan indah belum dimanfaatkan untuk kunjungan wisata. Padahal, prospek untuk olahraga menyelam di tempat ini sangat menjanjikan. Tinggal bagaimana pemerintah menyiasati dengan menyediakan fasilitas dan akomodasi bagi para turis yang akan mulai mengenal dan akan mengunjungi wilayah ini. (Alfred Dama)
Pos Kupang edisi Sabtu, 31 Juli 2010 halaman 5
Hutan untuk Madu
dion bata

HUTAN bagi masyarakat Desa Fatumnasin, Kecamatan Fatumnasi, Kabupaten TTS memiliki nilai sosial dan ekonomi yang sangat tinggi. Warisan leluhur tersebut pun dijaga dan dilindungi dari tangan-tangan jahil.
Bagi masyarakat di lereng sebelah barat Gunung Mutis ini, hutan bukan dengan cara merambah, melainkan memanfaatkan kekayaan hayati yang ada dalam hutan tersebut tanpa harus merusak kawasan yang dilindungi tersebut. Salah satunya adalah memanfaatkan sarang lebah yang ada dalam kawasan hutan itu untuk diambil madunya.
Bagi masyarakat Desa Fatumnasin, menjaga kekayaan hutan sama artinya dengan menjaga kelangsungan hidup mereka. Sehingga proses pengambilan madu juga dilakukan dengan beberapa syarat diantaranya tidak harus menebang dahan dan ranting, apalagi menebang pohon.
Pengelolaan madu di kawasan mutis dilakukan masyarakat desa setempat dalam beberapa kelompok. Tiap-tiap kelompok terdiri rata-rata antara 10 hingga 15 orang.
Para pengumpul madu bisanya mengambil madu pada antara Bulan Juni-Juli, Januari-Maret. Saat itu, sarang lebah dianggap sudah cukup banyak menyimpan sehingga bisa di ambil. Hanya pohon tertentu saja yang biasa menjadi tempat bersarang lebah antara lain kapuk hutan, beringin, pinus dan kayu putih, yang dikenal oleh warga setempat dengan nama pohon bonak.
Biasanya lebah mulai bersarang pada bulan Desember hingga Maret dan bulan Mei Maret-April.
Salah seorang warga Fatumnasin, Novemris Tefa, menjelaskan, bila saatnya panen, proses panen biasanya dilakukan pada malam hari. Bahkan, tidak boleh ada cahaya meski cahaya bulan. Sebab, yang dipanen adalah sarang lebah hutan. Lebah hutan di kawasan tersebut cukup ganas dan bisa menyerang dengan sengatan yang menimbulkan efek perih dan bengkak pada kulit. Meski tidak terlalu berbahaya, namun sengatan lebah ini tentu akan mengganggu proses pengambulan madu tersebut.
Panen pada gelap malam relatf lebih aman apalagi ketinggian sarang lebah berada sekitar 30 meter dari permukaan tanah. "Panen biasanya dilakukan secara tradisional, tapi harus malam gelap," jelas Novemris.
Sarang lebah yang diambilpun tidak semua, warga biasanya menyisahkan sedikit agar lebah bisa bersarang dan mengumpulkan lagi madu di tempat tersebut guna dipanen pada waktu berikut. Setelah panen, madu yang masih ada dalam sarang dibawa ke tempat penyaringan untuk di proses lebih lanjut menjadi madu yang siap di jual.
Menjaga hutan merupakan upaya masyarakat Desa Fatumnasin . Hutan yang lestari akan menjadi sumber hidup bagi mereka, untuk itulah mereka terus menjaga kelestarian hutan. (Alfred Dama)
Pos Kupang, Sabtu 24 Juli 2010 halaman 5
Rimbunan Pisang di Nunmafo
dion bata

MENJAGA alam tetap lestari sambil memanfaatkan kekayaan alam merupakan hal yang biasa dilakukan masyarakat desa. Demikian juga warga di Desa Nunmafo, Kecamatan Amabi Oefeto Timur. Kabupaten Kupang.
Warga desa di ini juga selalu menjaga kelestarian hutan dengan tujuan menjaga agar debit air tetap mengalir di wilayah ini. Namun belakangan ini ada saja oknum tidak bertanggung jawab yang membabat hutan.
Desa Nunmafo berjarak sekitar 75 dari Kota Kupang, masuk dalam wilayah Kecamatan Amabi Oefeto Timur yang merupakan pemekaran dari Kecamatan Kupang Timur. Menuju ke desa ini melintas jalan Timor Raya (jalan negara) dan masuk ke jalan kabupaten melalui Kecamatan Fatuleu (setelah Camplong). Untuk mencapai desa ini, harus melewati jalan aspal, jalan berbatu dan jalan tanah yang berlumpur saat musim hujan.
Sebagian besar masyarakat Desa Nunmafo adalah petani, namun desa ini hingga tahun 2003 hampir tidak memiliki tanaman unggulan yang bisa mendongkrak ekonomi rakyat. Infrastruktur jalan yang belum memadai menjadikan wilayah ini jauh dari akses pembangunan.
Hingga tahun 2003, sebuua yayasan sosoal mulai membuka isolasi kemiskinan di wilayah ini. Pola pendampingan yang dilakukan lembaga tersebut dengan mengajak menanam sambil menjaga lingkungan membuat masyarakat mulai mengerti cara bercocok tanam yang baik.
Salah satu yang dikembangka masyarakat adalah pisang seperti kafendi, ambon, beranga dan aneka tanaman lainnya "Pada tahun 2005, para petani menanam 446 anakan pisang dari berbagai jenis di kebunnya masing-masing," ungkap Olis Isa salah satu petani di desa tersebut.
Dengan menanam pisang, ada tiga manfaat sekaligus yang diperoleh, yaitu daun pisang dapat menahan asap terutama asap yang berasal dari api liar (aifui), akar pisang sebagai bahan dasar obat lokal, sedangkan tanaman pisang bisa dimanfaatkan untuk menahan erosi.
Pengembangan tanaman pisang sejak tahun 2005 tersebut sedikit merubawa wajah desa khususnya di kebun-kebun petani. Hutan pisang menjadi hal yang biasa bagi warga desa. Bahkan kini mereka sudah menikmati pisang hasil jerih parah mereka.
Bila berkunjung ke desa tersebut, tidak heran bila menyusuri pedalaman maka kita akan melewati rimbunan pohon pisang. Tanaman pisang pun kini sudah dinikmati warga" Saat ini, kami tidak perlu menjual pisang ke pasar. Banyak pedagang yang masuk mencari pisang di sini," tutur Simon, salah satu warga desa tersebut.
Menurutnya, hasil penjualan pisang tersebut sudah sangat membantu ekonomi keluarga. Hasil penjualan pisang, selain memenuhi kebutuhan sehari-hari, juga sudah digunakan untuk membiayai sekolah anak-anaknya, bahkan sudah bisa membeli sejumlah peralatan elektronik. (Alfred Dama)
Pos Kupang, 17 Juli 2010 halaman 5
Enoneten Menjaga Hutan
dion bata

SAAT ini seluruh dunia sibuk membicarakan tentang isu lingkungan terkait ancaman pemanasan global. Dan, salah satu cara menghambat pemanasan global adalah melakukan gerakkan menanam.
Namun, tidak demikian dengan masyarakat di Desa Enoneten- Kecamatan Amanuban Selatan, Kabupaten Timor Tengah Selatan. Warga di desa ini sudah bertahun-tahun membuat kearifan lokal dengan menjaga hutan yang berada di desa mereka. Bagi mereka, hutan merupakan warisan leluhur dan harus diteruskan lagi pada anak cucu mereka.
Warga di desa yang berjarak sekitar 17 km dari SoE, ibukota Kabupaten TTS ini dengan setia menjaga setiap jengkal hutan warisan leluhur. Dalam hutan ini terdapat aneka tanaman di antaranya mahoni, kayu merah, aneka jenis tanaman perdu, johar, asam, gamelial, beringin dan aneka pohon lainnya.
Rata-rata tinggi pohon ini mencapai 20 meter. Sinar matahari bahkan tidak sampai menembusi lebatnya hutan yang dirawat warga desa itu.
Dalam kawasan hutan ini juga hidup rusa, babi hutan, kus-kus dan berbagai jenis burung serta hewan lainnya. Desa ini yang merupakan pemecahan dari Desa Mio ini memiliki luas 21 km persegi dan berpenduduk sekitar 1.585 jiwa atau 391 kk (tahun 2008).
Kawasan hutan di Desa Enoneten ini masuk dalam kawasan hutan Bayafa seluas 1.896 hektar. Hutan ini telah diregister oleh pemerintah melalui Dinas Kehutanan Kabupaten TTS (Registrasi Tanah Kehutanan/RTK) 34. Dan, hutan yang masuk wilayah Desa Enoneten seluas 262 hektar atau dikenal dengan kawasan hutan Oeayo.
Menurut tokoh masyarakat dan juga Kepala Dusun Enoneten, Melkior Tse, kawasan hutan Oeayo merupakan kawasan yang telah dijaga secara turun temurun oleh nenek moyang mereka. Keteguhan hati untuk menjaga hutan ini menjadikan hutan ini tetap perawan hingga saat ini.
Sikap hormat pada nenek moyang diwujudkan melalui sikap mereka menjaga kelestarian dan kemurnian hutan itu.
Sejak tahun 2000, bersama dinas kehutanan, warga desa ini mulai menfaatkan lahan hutan dengan menanam kemiri.
Kesadaran masyarakat Enoneten bukan saja menjaga hutan. Lahan pertanian mereka yang bisa mereka sebut dengan belukar juga dikonversi menjadi hutan kemiri, sehingga lahan hutan yang ada terus melebar.
Bagi Melkior Tse dan masyarakat Enoneten, menjaga dan melindungi hutan diyakini hanya kewajiban yang harus dilaksanakan secara turun temurun. Mereka melakukan apa yang menjadi kewajiban mereka. Mereka tetap menjaga kearifan lokal yang sudah diturunkan oleh nenek moyang mereka.
Menjaga hutan juga membuat mereka kini tidak kekurangan air. Selain itu kini mereka juga menikmati hasil hutan dari kawasan yang selalu dijaga dan dilindungi.
Ketersediaan pangan bukan menjadi masalah buat warga desa ini, namun masyarakat hanya membutuhkan fasilitas jalan yang lebih baik serta penerangan listrik. Mereka berharap, ada perhartian pemerintah dalam sarana tranportasi dan penerangan listrik buat mereka. (Alfred Dama)
Pos Kupang 3 Juli 2010 halaman 5
Studi Banding ke Suku Boti...
dion bata

NUNE Benu. Nama ini cukup melegenda. Membekas di sanubari warga Kabupaten Timor Tengah Selatan (TTS) atau siapa pun yang pernah mengenal atau bersua dengannya. Pemimpin spiritual Suku Boti di pedalaman kabupaten itu telah mangkat pada 20 Maret 2005. Ia telah digantikan oleh putra mahkota bernama Nama Benu.
Meski ia telah menghadap Sang Khalik, namanya tetap abadi. Mengapa? Ketika orang mempertentangkan ajaran agama, soal tradisi, doktrin dan radikalisme agama, Nune Benu hidup tenang bersama pengikutnya yang animisme ini.
Ketika jagat ini ribut-ribut soal pemanasan global, Nune Benu bersama pengikutnya hidup di bawah rimbunan pepohonan hijau. Bebukitan pun dirawat agar tak gersang. Dan, air tentu saja tak pernah kering sepanjang musim. Sikap batin ini ia tunjukkan dan selalu memberi inspirasi kehidupan bagi kita. Dengan kata lain, kehidupan mereka tak pernah bergesekan baik dengan sesama maupun dengan alam sekitarnya.
Dekade lalu saat Nune Benu masih kuat, wawancara itu berlangsung. Tatapan matanya membersitkan kepemimpinan sejati yang diemban di tanah leluhurnya. Dengan tutur kata yang lembut, sorot mata yang membiaskan kemurnian dan ketulusan hidup, Nune Benu mewariskan keteladanan ini.
Wawancara saya bersama Ampera Seke Selan, S.H, yang kini menjabat sebagai Wakil Ketua DPRD TTS itu masih membayang. Lelaki berkonde itu sambil mengunyah sirih pinang mengatakan, mengapa mesti ribut-ribut soal agama?
Bukankah soal keyakinan adalah hubungan personal antara manusia dan penciptanya? "Banyak orang mengatakan bahwa kami tak punya agama. Tapi pertanyaan saya, mereka yang beragama justru sering melecehkan, saling berkelahi, bahkan saling membunuh. Kami di Boti hidup tenang dan saling menghargai," katanya sembari menyilahkan kami menikmati pisang rebus di siang yang terik itu.
Mengapa warga Boti hidup rukun? Nune Benu pun menjelaskan prinsip-prinsip dasar kehidupan suku yang berjarak 60 kilometer timur tenggara Kota SoE, Ibu kota TTS atau sekitar 170 kilometer timur Kota Kupang ini.
Menurut kepercayaan masyarakat suku Boti, manusia adalah makhluk ciptaan Tuhan yang paling tinggi derajatnya di antara makhluk ciptaan lainnya. Menurut kepercayaan tersebut di dalam hidup ini manusia memiliki dua penguasa jagad yang harus ditaati, yaitu penguasa alam dunia yang disebut Uis Pah dan penguasa alam baka yang disebut Uis Neno.
Uis Pah dihormati dan disembah karena dialah yang menjaga manusia dan melindungi manusia dan seluruh isinya, sedangkan Uis Neno disembah karena peran-Nya yang menentukan apakah manusia masuk surga atau neraka. Oleh karena itu sesuai dengan ajaran yang dianutnya manusia Boti percaya bahwa apa yang diperbuat manusia selama hidup di dunia akan ikut menentukan jalan hidupnya di akhirat nanti. Sikap hidup baik dan benar semasa di dunia akan menuntun manusia kepada kehidupan kekal abadi di surga.
Nune Benu juga menyebut dalam hidup ini ada sembilan hari yang diyakini sangat penting. Ada Neon Kaet (hari keramat),
Neon Li'ana (hari anak), Neon Ai (hari api), Neon Onen (hari berdoa), Neon Masikat (hari bersaing), Neon Suli (hari salah paham), Neon Pah (hari berhala), Neon Besi (hari besi/logam) dan Neno Snasat (hari perhentian). Dan, hari-hari yang ditetapkan ini dijalani dengan sarat makna. Penuh ritual.
Nune Benu sebenarnya menjadi contoh, panutan dan teladan ketika kini kita masih terus mempersoalkan atau mempertentangkan keyakinan yang sebenarnya sudah final. Sudah harga mati. Mempersoalkan agama sama saja kita memicu keretakan yang tak berkesudahan. Kita boleh belajar dari kondisi negeri kita saat ini.
Perpecahan berlatarbelakang agama masih saja terjadi. Belum lagi upaya separatisme, memisahkan diri dari NKRI yang begitu kuat. Sungguh terasa akhir- akhir ini.
Yang patut menjadi diskursus adalah toleransi antarumat beragama. Di titik inilah barangkali kita duduk satu meja, satu atap untuk membedahnya. Mendiskusikannya. Dengan demikian kita akan saling memahami keanekaragaman ini dan berusaha menghindari bila terjadi gesekan-gesekan.
Begitu pula ketika alam kita terus dirusaki. Tengoklah ke suku "terasing" ini. Di sana antara manusia dan alam tak pernah ternoda. Tak ada "cekcok" atau perseteruan.
Kita di "belahan bumi" lain ini masih saja mempersoalkan hal-hal yang sepantasnya tak boleh. Seandainya Nune Benu masih hidup, kita patut melakukan studi banding ke kampung yang dikelilingi bukit dan ngarai itu.
Studi banding tentang harmoni kehidupan ini. Ternyata keteladanan, kepamongan, hidup bertoleransi masih banyak kita temukan di kampung-kampung. Nun jauh di sana seperti di Boti atau perkampungan adat Tamkesi di Kecamatan Biboki Selatan, Kabupaten Timor Tengah Utara (TTU). Kita yang tinggal di kota belajarlah tentang kebajikan yang kini perlahan tapi pasti terus meninggalkan kemanusiaan kita. Kita akhirnya menjadi manusia yang mirip "robot", tak punya mata hati.(Paul Burin)
Pos Kupang 26 Juni 2010 halaman 5
Kae Saat Orang Meninggal
dion bata
MENANGIS bisa diartikan sebagai luapan perasaan. Tetapi itu tidak cukup. Manusia, ketika dilahirkan yang dilakukan pertama adalah menangis. Menangis pun diartikan dalam banyak versi.Menangis bukan sekedar pelampiasan perasaan. Menangis merupakan reaksi atas tersentuhnya hati oleh sebuah kejadian. Arti air mata yang tercurah saat menangis merupakan ungkapan perasaan atas kebahagiaan, kekecewaan juga kesedihan. Tangis adalah anugerah bagi hidup dan hati agar senantiasa menyadari kemanusiaan yang begitu indah, tetapi lemah dan tak berdaya atas kuasa Tuhan.
Menangis bukanlah kesalahan yang harus dihakimi. Menangis itu kebebasan jiwa untuk mengungkapakan perasaan yang tersimpan, yang tersisa dan terbias di dasar keinginan. Lalu, mengapa kita menangis? Adakah manfaat air mata kita?
Dari semua arti menangis, ada yang unik dalam suku Timor Dawan. Hal ini khusus terjadi saat ada orang yang meninggal dunia. Menangisi saudara atau kerabat yang meninggal, tidak sekadar untuk menumpahkan kesedihan karena kehilangan. Orang dari luar suku Timor pasti akan heran melihat begitu histerisnya para ibu menangis. Tanpa air mata sekalipun, mereka bisa menangis berjam-jam tanpa henti.
Menangis atau dalam bahasa Dawan Timor artinya, kae, saat orang meninggal menjadi bukti kalau dia juga turut berdukacita. Namun, yang dimaksudkan di sini bukan menangis karena berdukacita, tetapi bagaimana teknik suku Timor Dawan 'menggugah' orang atau pelayat untuk ikut bersedih. Biasanya, seorang wanita setengah baya duduk dekat jenasah sejak meninggal hingga dikuburkan. Semua keperluannya mulai dari makan, minum, sirih pinang dan terkadang 'laru' (minuman keras lokal dari nira lontar atau kelapa) disediakan keluarga duka di bawah kaki tempat tidur jenasah.
Dia memiliki tugas yang tidak bisa dibilang ringan. Dialah yang dianggap paling mampu untuk menggugah kesedihan orang agar mau menangis. Begitu setiap pelayat memasuki tenda duka, dia harus menangis histeris tanpa ataupun dengan air mata. Bagaimana dia menggugah orang?
Sebelumnya, dia sudah harus tahu apa hubungan pelayat dengan orang yang meninggal dunia. Dari situ sambil menangis dia akan bercerita misalnya, mengapa kamu baru datang ketika dia sudah meninggal, sebelum meninggal dia tanya kamu dan sebagainya. Tidak hanya dengan kata- kata, sambil menangis dia akan melakukan gerakan-gerakan untuk meyakinkan pelayat bahwa orang yang meninggal tersebut memang perlu ditangisi.
Tidak sampai di situ. Barisan pelayat yang datang tidak asal-asalan. Yang berada di barisan paling depan, harus yang paling dituakan. Selain dituakan, dia juga harus mampu menangis, 'meski tidak sedih sekalipun dengan kematian orang yang dilayat.' Biasanya, suara tangisannya tidak boleh kalah tinggi dari mereka yang duduk mengelilingi jenasah.
Percaya atau tidak, tapi fenomena ini ada dan sudah sejak lama. Mereka akan 'merendahkan' orang yang datang melayat namun tidak menangis. Dan, mereka juga akan 'merasa bangga' karena lama atau paling keras saat menangis.
Masih ada banyak alasan dan keunikan lain yang bisa ditemukan dari fenomena menangisi orang mati di kalangan suku Timor Dawan. Ada yang sambil menangis mulai berhitung tentang hutang, pembagian harta, bahkan ada yang memarahi orang yang meninggal karena alasan tertentu. Yang pasti, dengan atau tanpa air mata, tangis saat orang meninggal tetaplah tangis yang mengekspresikan perasaan atas keadaan dan kenyataan. (Sipri Seko)
Pos Kupang 12 Juni 2010 halaman 5
Tanda Ritus dari Keo
dion bata

MASYARAKAT Keo, terutama di Keo Tengah, Kabupaten Nagekeo, Flores, mewarisi tradisi turun temurun hingga saat ini sebuah ritus adat yang disebut Tanda. Tanda, dapat diterjemahkan sebagai ritus larangan.
Ritus ini biasanya dipimpin oleh seorang tokoh adat yang diberi gelar Ine Tanda (Ibu Larangan). Ine tanda memiliki kewenangan untuk memimpin ritus ini dan juga menjadi hakim untuk menegakan aturan yang disepakati bersama bila ada yang melanggar.
Ritus Tanda biasanya dimulai pada masa-masa memulai musim tanam. Pada periode empat sampai enam bulan ditetapkan larangan-larangan bagi warga suku antara lain; larangan memanen kelapa, pisang, memotong kayu dan bambu.
Dengan dilakukannya Ritus Tanda, seluruh warga suku diharuskan untuk tidak melakukan hal-hal diatas termasuk berburu dan memotong kayu-kayu muda di hutan dan kebun-kebun bahkan di kebun atau ladang sendiri.Warga juga dilarang membakar hutan.
Ritus ini dilakukan dengan pemasangan semba, potongan daun kelapa yang digantungkan pada pinggir kampung maupun pada batas-batas kampung dimana tanda ini berlaku. Warga kampung akan secara proaktif memantau ketentuan bersama ini. Bila terjadi pelanggaran, warga akan melaporkan kepada Ine Tanda sebagai hakim tertinggi atau pemimpin adat. Ine Tanda selanjutnya akan memanggil seluruh warga kampung untuk berkumpul membahas pelanggaran dan hukuman yang harus ditetapkan. Orang yang melakukan pelanggaran harus menyiapkan babi besar dan beras untuk dimasak bagi warga kampung yang hadir. Jadi seperti acara makan gratis untuk warga kampung.
Dalam pertemuan itu akan ditetapkan hukuman yang disebut poke sengga (lempar dan tikam). Artinya, pelanggar harus menyiapkan babi besar bahkan jika pelanggaran sangat berat harus menyiapkan kerbau yang harganya saat ini bisa mencapai enam sampai tujuh juta rupiah. Pelanggar harus melaksanakan sanksi ini jika tidak ingin diekstradisi dari kampung halamannya sendiri.
Ketua LKMD Desa Mbae Nuamuri, Kecamatan Keo Tengah, Kabupaten Nagekeo, Benediktus Bude, dalam obrolan dengan Pos Kupang beberapa waktu lalu, mengatakan, ritus ini sebenarnya sangat berkaitan erat dengan upaya pelestarian lingkungan serta budaya hemat. Biasanya pada masa tanam warga berfoya-foya dengan makanan yang baru dipanen. Karena itu tanda diharapkan bisa mendorong warga untuk menghemat sehingga pada masa tanda ini berlaku tidak terjadi krisis pangan. Warga bisa bertahan selama kurun waktu tersebut dengan lumbung-lumbung yang dimiliki warga.
Dampak lain adalah kualitas hasil pertanian terutama pisang dan kelapa yang menjadi komoditi utama di wilayah pesisir selatan Nagekeo menjadi lebih baik. Kalau tidak ada tanda, ketika makanan habis warga akan mengambil pisang maupun kelapa sebelum belum masa panen. Hal ini juga berdampak pada nilai jual dari hasil bumi ini. Pisang maupun kelapa kalau diambil pada usia muda harganya menjadi sangat rendah ketika dibeli oleh para saudagar dari Bima maupun pesuruan. Bahkan, banyak pembeli yang datang dengan truk-truk untuk membeli pisang maupun kelapa dengan harga murah karena belum matang. Kelapa maupun pisang itu akan dibawa ke NTB, Denpasar dan Surabaya dalam keadaan sudah kuning sehingga seperti matang.
Dampak lain adalah warga tidak berburu atau membakar hutan pada masa larangan tersebut. Sehingga binatang buruan pun tidak segera musnah. Alam tetap terawat secara baik dan terutama ketika tanda di cabut mereka enggan berburu lagi atau bakar hutan karena ada persediaan makanan yang cukup baik pisang maupun kelapa yang dapat ditukarkan dengan jagung dan padi dari para petani di wilayah Tengah Nagekeo atau Ngada yang sangat cocok untuk tanaman jagung dan padi.
Jika ritus ini dipertahankan tentu akan sangat baik untuk ketahanan pangan, kelestarian lingkungan, menjaga mutu hasil bumi maupun prinsip hidup hemat selaras alam. (hermina pello)
Pos Kupang 5 Juni 2010 halaman 5
Manusia dan Ternak Rebutan Air Minum
dion bata

"HARI ini mau makan siapa?" Bagi para pemegang kekuasaan, berpikir demikian sudah tentu untuk tetap menempati kursi empuknya.
Namun warga kampung Geo Olo, Desa Gerodhere, Kecamatan Boawae, Kabupaten Nagekeo, setiap hari masih berpikir, "Hari ini mau minum apa?" Apa lagi pada musim kemarau panjang. Untuk mendapatkan setetes air minum, warga terpaksa berebutan dengan ternak di lokasi sumber air.
Kampung Geo Olo terletak di atas sebuah bukit yang berjarak sekitar 30 km dari Kota Mbay, Ibu Kota Kabupaten Nagekeo. Untuk mencapai lokasi tersebut, membutuhkan waktu kurang lebih empat jam. Dari pusat Desa Gerodhere harus berjalan kaki sekitar tiga jam untuk menempuh jarak 5 kilometer agar sampai di kampung ini. Waktu perjalanan cukup lama karena harus melalui jalan menanjak dan berlumpur. Selain itu, terdapat beberapa kali yang harus diseberangi.
Dari ketinggian bukit kampung Geo Olo, dapat disaksikan pemandangan indah dari berbagai penjuru. Meski demikian, tanah Geo Olo, yang tandus dan kurang subur, menjadi lokasi pilihan untuk bermukim bagi 13 kepala keluarga (KK). Mereka merupakan sekelompok masyarakat yang enggan untuk meninggalkan tanah leluhur. Meskipun pergulatan hidup kian hari kian keras dan menantang.
Kurang lebih terdapat 80 jiwa yang bermukim di kampung Geo Olo. Sebuah kampung yang hingga saat ini masih terisolir dan jauh dari sentuhan pembangunan. Akses transportasi dan pembangunan lainnya belum mereka nikmati. Tak jarang pada musim kemarau panjang, mereka membawa bekal dan mengantre sepanjang hari untuk mendapatkan
setetes air minum.
Berdasarkan hasil analisis kesejahteraan partisipatif (AKP), warga setempat masih hidup di bawah garis kemiskinan atau sangat miskin.
Hal ini dikatakan oleh tiga orang warga setempat, masing-masing Kosmas Djawa (tokoh masyarakat setempat), Rafael Bhia (Ketua RT 13) dan Hermanus Laki (Kepala Desa Gerodhere).
Mereka mengatakan, kesulitan terbesar yang dihadapi
warga setempat adalah air minum. "Kadang-kadang terjadi konflik di antara warga yang mengantre di lokasi sumber air untuk mendapatkan air minum," kata Laki.
Musim kemarau biasanya terjadi mulai bulan Juni hingga akhir Desember. Warga setempat biasanya antre sejak pukul 04.00 Wita di lokasi sumber air yang berjarak sekitar 5 km dari pusat permukiman.
Selain itu, debit air yang ada tidak besar. "Kalau kami antre dari dini hari biasanya sampai jam 12 siang baru dapat jatah air minum. Itu pun hanya mendapat sekitar 20 liter," sambung Laki.
Tak jarang sejumlah warga yang tidak mendapat air minum memilih untuk bermalam di sekitar lokasi sumber air. Hal ini terpaksa dilakukan demi dapat menampung air minum untuk dibawa kembali ke rumah.
Dikisahkan Rafel Bhia, Ketua RT setempat, terkadang air yang sudah ditampung oleh warga menunggu sejak malam hari dicuri sesama warga lainnya. "Kalau sudah seperti itu, konflik dan perkelahian di antara mereka tidak terelakkan," sambung Kosmas Djawa.
Mereka mengatakan, untuk mendapatkan air bersih yang bisa dikonsumsi saja sudah sulit sekali, apalagi kebutuhan rumah tangga yang lain tentunya tidak terpenuhi. Dari debit air yang tersedia pada musim kemarau tersebut, warga hanya bisa menggunakannya untuk konsumsi.
"Hanya untuk minum saja, sudah kesulitan sekali. Bagaimana mau mandi. Apalagi untuk kebutuhan lainnya, tentu kami tidak bisa penuhi. Kasarnya kami di sini rebutan air minum dengan ternak," kata mereka. (John Taena)
Pos Kupang edisi Sabtu, 27 Maret 2010 halaman 5
Kampung "Moke" Brai
dion bata

BRAI. Begitulah namanya. Kampung dan namanya telah dikenal masyarakat Kabupaten Sikka. Kampung ini berada di daerah pinggiran Kota Maumere, Kabupaten Sikka. Kampung ini penuh keunikan, lain dari yang lain.
Bagi masyarakat Kabupaten Sikka, Brai terkenal dengan suguhan moke (arak) yang menjadi sumber penghasilan dan pekerjaan warga setempat.
Kampung Brai merupakan salah satu dusun kecil di Desa Watugong, Kecamatan Kangae, Kabupaten Sikka. Wilayah ini telah dikenal sebagai salah satu daerah penghasil moke terbesar di Kabupaten Sikka. Para pembuat moke dari wilayah ini mampu melayani permintaan konsumen hingga ke luar Kabupaten Sikka, seperti Kabupaten Ende, Flores Timur dan Lembata.
Sebenarnya pembuat moke di Kabupaten Sikka menyebar merata hampir di setiap desa di Kabupaten Sikka. Tapi, bila menyebut nama Brai, ingatan orang langsung pada moke.
Moke sendiri memiliki nilai historis dan tradisional bagi masyarakat Kabupaten Sikka. Hampir setiap acara adat harus ada moke sebagai salah satu suguhan hidangan. Ada yang memberi julukan tak ada moke, maka tidak ada pesta. Banyak rumah di Kabupaten Sikka sengaja menyimpan moke, baik untuk konsumsi sendiri maupun untuk menyuguhi tamu yang biasanya tamu yang dihormati.
Begitu kuatnya moke ini membuat jenis minuman lokal ini sulit untuk diberantas, apalagi kini moke tidak sekadar minuman pada acara adat, tetapi sudah memiliki nilai ekonomis yang tinggi. Meski demikian, tidak semua orang Kabupaten Sikka selalu mabuk dan membuat anarkis karena minuman keras ini. Hanya oknum-oknum tertentu saja yang sengaja ingin mencari perhatian dengan cara minum moke ini berlebihan.
Tidak sedikit putra-putri Kabupaten Sikka yang sukses menempuh pendidikan dan menjadi orang-orang sukses karena moke. Para orangtua rela bekerja keras membuat moke demi menyekolahkan anak-anak mereka.
Lalu bagaimanakah pendapat warga setempat di tengah upaya banyak kalangan memberantas miras dan menertibkan penjualan miras?
Kepala Dusun Brai, Alfonsus Abraham (54), yang ditemui Pos Kupang, Rabu (20/1/2010), mengatakan, penyulingan moke di Brai dilakukan secara turun-temurun. Penyulingan moke bagi warga Brai sudah mejadi urat nadi kehidupan dan merupakan sumber mata pencaharian utama.
"Hampir semua warga Kampung Brai menyuling moke dan dengan moke mereka menyekolahkan anak-anak mereka hingga ke perguruan tinggi. Moke telah menjadi andalan warga Brai," kata Abraham.
Mengenai proses pembuatan moke, Abraham mengatakan, usaha penyulingan hingga penjualan moke di wilayah ini harus melalui proses yang matang. Untuk pembuatan moke, ada tiga tiga tahap penting. Penyulingan moke dimulai dari menggunakan periuk tanah. Ada juga yang menggunakan drum, hingga mesin penyulingan moke yang diperoleh warga dari Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag), Kabupaten Sikka beberapa tahun lalu.
Proses penyulingan moke pun membutuhkan bahan bakar yang tidak sedikit. Untuk itu, warga penyuling moke harus rela mengeluarkan biaya besar untuk membeli kayu api, yang saat ini mencapai harga Rp 300.000 - Rp 400.000 per-truk. Untuk setahun menyuling moke, diperlukan delapan sampai sepuluh truk kayu.
Jika dilihat secara sepintas, semua orang akan berpikir memilih menjadi penyuling sekaligus pedagang moke merupakan pekerjaan yang gampang dan instant. Akan tetapi kenyataannya membuktikan bahwa setiap pembuat moke haruslah memiliki jiwa kerja keras yang tinggi. Sebab untuk menghasilkan bahan dasar pembuatan moke, harus memanjat pohon lontar dua kali sehari, pagi dan sore.
Setiap penyuling moke di Kampung Brai memiliki 30 sampai 40 pohon lontar, bahkan ada yang memiliki 50 pohon. Dengan demikian, secara akumulatif, setiap hari seorang penyuling moke mempertaruhkan nyawanya di atas pohon lontar, karena harus lebih dari 60 kali naik-turun pohon lontar.
"Kalau sudah jadi moke, terlihat gampang, tetapi kerjanya cukup sulit. Karena harus dua kali sehari panjat setiap pohon. Jadi kalau pas musimnya, kami bisa sampai jam 22.00 Wita baru bisa istirahat. Kalau tidak diiris sore, tingkat produksinya akan menurun drastis," jelas Abraham.
Berkat kerja keras tersebut, warga Kampung Brai dapat memenuhi kebutuhan hidup mereka setiap hari. Darius Martinus, Gensius Rikus, dan Kandidus Gregorius mengungkapkan, hanya dengan menjadi penyuling moke, mereka dapat memenuhi kebutuhan dasar hidup mereka, mulai dari bahan makanan, peralatan rumah tangga, bahkan sampai pada biaya pembangunan rumah tinggal.
Ketiganya mengisahkan, untuk menghasilkan 30 liter moke berkualitas, dibutuhkan 200 liter moke putih (nira), yang hanya dapat diperoleh dalam waktu dua sampai lima hari, tergantung banyaknya pohon lontar yang dimiliki seorang penyuling moke. Namun itu hanya dapat dihasilkan pada musim puncak produksi, antara bulan Maret sampai Agustus. Sedangkan untuk bulan Oktober sampai Februari, produksi moke berkurang, karena bunga lontar, yang menjadi media penghasil moke putih belum tumbuh, dan juga kualitas moke berkurang akibat adanya kadar air yang terlalu tinggi, tercampur air hujan.
Sedangkan untuk pemasaran moke, para penyuling belum memiliki tujuan pasar yang jelas, sehingga setiap kali memperoduksi moke, para penyuling mengadu nasib ke tempat-tempat pemasaran minuman yang 'wajib' disuguhkan di setiap pesta ini .
"Sampai saat ini, kami belum punya daerah tujuan pasar. Kami langsung jual ke pasar-pasar, sehingga kami sangat menjaga kualitas mokenya. Kami tidak ingin setelah sampai di pasar, mokenya tidak laku karena kalah kualitas. Sedangkan harganya berkisar antara Rp 10 ribu sampai Rp 15 ribu per botol, tergantung musim dan kualitas moke," jelas ketiganya.
Menyangkut adanya upaya dan larangan pihak pemerintah bagi masyarakat penyuling moke, ketiganya mengaku, tidak berkeberatan meninggalkan pekerjaan tersebut. Namun harus diberikan solusi berupa lapangan kerja pengganti. Sebab lokasi pertanian yang mereka miliki tidak dapat diandalkan untuk memenuhi kebutuhan dasar hidup mereka, apalagi biaya pendidikan anak.
Mereka juga berharap, adanya campur tangan pemerintah dalam melegalkan produksi moke, dengan cara memberi label paten, sehingga kualitas dan kadar alkohol moke dapat diatur, ada batas kadar alkohol moke yang boleh diedarkan secara bebas di pasaran. (Jumal Hauteas)
Pos Kupang Sabtu, 30 Januari 2010 halaman 5
Penganan Khas Sumba yang Mulai Tergeser
dion bata

SELAIN kacang tanah Sumba, masyarakat Sumba sesungguhnya memiliki penganan khas yang tidak kalah lezatnya. Penganan yang terbuat dari kacang tanah dan pisang itu dikenal dengan nama Manggulu.
Ukurannya kecil dan bentuknya mirip dodol. Makanan khas ini sudah jarang ditemui di Sumba Timur. Hanya di beberapa wilayah yang masyarakatnya masih membuat produk tersebut. Itu pun hanya pada waktu-waktu tertentu dan dalam jumlah tertentu.
Dalam kemasan aslinya, Manggulu dibungkus dengan daun pisang kering. Bagi orang Sumba, daun pisang kering memiliki nilai pengawet. Namun belakangan daun pisang mulai diganti dengan kemasan modern seperti plastik.
Manggulu saat ini memang masih ada. Namun keberadaannya mulai tergeser oleh penganan dari luar. Selain karena produksinya terbatas, perubahan gaya hidup masyarakat Sumba turut berpengaruh terhadap eksistensi dari produk tersebut. Keterbatasan produksi disebabkan oleh proses pembuatannya yang cukup memakan waktu.
Caranya, pisang kapok masak harus dikeringkan dahulu, kacang tanah goreng dikeluarkan kulit arinya. Kacang tanah kemudian ditumbuk. Demikian juga pisang masak kering. Setelah kedua bahan ini halus, dicampur lalu dibentuk. Kalau cara tradisional, pembentukan dengan menggunakan tangan. Namun belakangan pencampuran dan pembentukan bisa menggunakan mesin penggiling.
Manggulu saat ini memang masih ditemukan di wilayah-wilayah tertentu di Sumba Timur, seperti di Nggongi, Kahunga Eti. Di Kota Waingapu juga ada kelompok-kelompok binaan Badan Bimas Ketahanan Pangan yang masih membuat Manggulu. Namun produksinya tidak banyak. Karena itu, Manggulu jarang ditemukan di toko-toko kue. Kalaupun ada, jumlahnya sangat sedikit. Itupun jarang laku terjual karena Manggulu seakan tenggelam di antara penganan dari luar.
Hartini dari Badan Bimas Ketahanan Pangan Kabupaten Sumba Timur adalah orang yang masih konsisten untuk mempertahankan produk khas Sumba Timur ini. Melalui kelompok binaannya, Hartini mencoba untuk mengembangkan kembali penganan ini dan bertekad untuk menempatkan Manggulu menjadi tuan di negeri sendiri.
Sumba Timur sebenarnya kaya akan penganan lokal. Namun gaungnya kalah dengan penganan dari luar. Selain kemasan dan tampilan yang lebih menarik, pergeseran pola hidup masyarakat di daerah itu turut berpengaruh terhadap eksistensi penganan lokal. Masyarakat Sumba Timur lebih berkelas jika menenteng donat atau roti daripada Manggulu. Selain itu, promosi dan pencitraan pangan lokal yang masih terbatas membuat penganan ini tidak banyak dilirik oleh masyarakat Sumba Timur. Manggulu belum terkenal seperti kacang Sumba.
Jangankan untuk masyarakat luar, generasi Sumba saja bahkan sudah ada yang tidak mengenal Manggulu. Padahal kalau diperkenalkan terus-menerus, Manggulu bisa menjadi penganan yang diminati banyak orang karena rasanya khas.(Adiana Ahdmad)
Pos Kupang, 23 Januari 2010 halaman 5
Air Kurang, Mandi dan Belajar Tidak Diutamakan
dion bata

WEEPANGALI adalah sebuah desa yang terletak di Kecamatan Loura, Kabupaten Sumba Barat Daya (SBD). Bahasa masyarakat setempat, Wee berarti air dan Pangali adalah batu yang mengelilingi. Sehingga Weepangali, kurang lebih diartikan sebagai air yang dikelilingi batu.
Satu-satunya sumber air di Desa ini adalah mata air Weepangali, yang berjarak sekitar 500 meter dari permukiman warga di desa itu. Setiap warga desa yang hendak mendapatkan air di tempat itu, harus bersabar untuk menunggu berjam-jam, sampai air yang tertampung bisa digayung.
"Debit air yang keluar sangat lambat, sehingga kadang kita harus rela bersabar dari pagi hingga siang hari. Tidak jarang kita menunggu sampai jam delapan malam," kata Ketua Badan Perwakilan Desa (BPD), Eduardus Bili Daga, yang ditemui Pos Kupang di desa itu, Jumat (20/11/2009).
Eduardus menuturkan, untuk mendapatkan air satu gayung ukuran satu liter, setiap warga harus bersabar sampai sekitar setengah jam. Selain untuk konsumsi warga, air tersebut juga digunakan pemilik hewan untuk minum ternaknya seperti kuda dan kerbau.
Hal senada disampaikan oleh Sabinus Ngongo Routa, seorang warga lainnya. "Beberapa warga sudah memiliki bak penampung air sehingga kalau ada uang bisa membeli air dengan harga seratus ribu per tangki. Ini sangat membantu karena bisa mengurangi jumlah antrian di mata air," kata Sabinus. Namun, menurut Sabinus, sebagian besar warga di desa itu belum mampu membangun bak air sehingga hanya menampung air di drum. Harga per drum Rp 5.000.
Warga yang tidak memiliki bak atau drum bisa membeli air di tetangga yang sudah memiliki tampungan air, dengan harga Rp 20.000 tiga jerigen (satu jerigen ukuran 20 liter). "Kita tidak mungkin mandi setiap hari karena diutamakan untuk minum dan masak makanan, mandi seperlunya saja," kata Sabinus.
Warga yang kekurangan uang satu-satunya solusi adalah menungu dan tetap menunggu hingga air yang keluar dari matanya tersebut, bisa dipindahkan dan memenuhi jerigen atau ember yang disiapkan.
Lain halnya dengan Yovita Ghoghi. Siswi kelas 6 SDK Weepangali itu, harus mengorbankan jam belajar karena setelah keluar dari sekolah, dia wajib menunggu air di tempat tersebut sampai debit air yang keluar bisa memenuhi jerigen yang dibawanya.
"Setelah pulang sekolah, saya makan siang dan langsung datang menunggu air di sini (Mata air-Red). Setiap hari selalu begitu," kata gadis cilik yang ditemui di lokasi mata air tersebut.
Gadis itu mengaku tidak bisa mengikuti gadis di tempat lain yang seusianya, mereka mungkin bisa membuka kembali buku pelajaran yang didapatnya setelah pulang sekolah. Sedangkan dia, terpaksa harus mengutamakan kebutuhan air minum di rumahnya. Pekerjaan menunggu itu juga membuat gadis yang telah kehilangan ibu kandungnya itu capai, dan tidak bisa menggunakan waktu di malam hari untuk belajar.
Dia harus cepat tidur, karena besok harus melakukan aktivitas yang sama, yakni sekolah dan menunggu kedatangan air di mata air. Di rumahnya, dia hanya ditemani seorang kakak laki-laki dan ayah kandungnya. Dia mengambil alih pekerjaan Ibunya yang telah meninggal dunia, beberapa tahun silam.
Pantauan Pos Kupang di mata air itu sekitar pukul 15.00 Wita, sejumlah anak SD, SMP dan SMA, masing-masing membawa jerigen dan ember untuk ambil air. Mereka berlindung di bawa naungan pohon bambu di sekitar mata air tersebut, sambil
menunggu banyaknya air yang tertampung di mata air itu.
Beberapa di antaranya tidak mempedulikan panasnya mentari siang itu. Mereka memilih tetap bertahan di tepi mata air yang lebih menyerupai sumur itu. Mata air di Weepangali itu, berada di kedalaman sekitar enam meter dari permukaan tanah, terlihat seperti bekas galian, dengan diameter sekitar dua meter.
Warna airnya agak keruh. Sekelilingnya dipenuhi bebatuan yang tersusun rapi menggunakan campuran semen. Menurut warga sekitar, awalnya batu tersebut disusun oleh nenek moyang mereka, namun sekitar lima tahun lalu ada sebuah lembaga swadaya masyarakat (LSM), yang berinisiatif menata lokasi mata air tersebut dengan menyusun kembali batu-batu yang ada menggunakan campuran semen.
Eduardus mengaku, sudah beberapa kali menyampaikan kondisi tersebut kepada Pemerintah Kabupaten SBD, namun sampai saat ini tidak ada respon. (Servatinus Mammilianus)
Pos Kupang edisi Sabtu, 28 November 2009 halaman 1
Air Tak Pernah Mampir ke Desa Kami
dion bata

BAGI warga Desa Oelet, Kecamatan Amanuban Timur, Kabupaten Timor Tengah Selatan memiliki sarana air bersih yang mudah diakses merupakan impian sejak dahulu kala.
Namun keinginan masyarakat untuk bangun dari mimpi dan mendapatkan air bersih dengan gampang belum pernah menjadi kenyataan.
"Untuk memenuhi kebutuhan air bersih, kami warga Oelet harus berjalan kaki sepanjang 4 kilometer pergi pulang. Sumber mata airnya pun bukan dari sumber mata air yang bersih, tetapi dari hamparan tiga sungai di dekat desa kami," ujar Arnolus Nesimnasi kepada Pos Kupang pekan lalu di Oelet.
Sebenarnya ada mata air di desa tetangga yakni Desa Pili berjarak sekitar delapan kilometer yang dapat menyuplai kebutuhan air bersih 1.783 jiwa di desa itu. Namun keluhan dan usulan warga yang disampaikan lewat musrenbang tingkat kecamatan dan kabupaten belum terealisasi hingga kini.
Kendati demikian, warga Oelet tetap survive kendati hidup dengan ketiadaan sarana air bersih yang memadai selama berpuluh-puluh tahun. Kehidupan di Oelet tetap berjalan seperti biasa meski harus bersusah payah setiap harinya untuk mengambil 20 liter air bersih dengan menuruni dan mendaki bukit sepanjang empat kilometer.
Menurut Arnolus, ada tiga kali yang menjadi sumber mata air bagi warga Desa Oelet. Ketiga kali itu, yakni Oeuah, Oeuayu dan Oeunbu. Namun semenjak musim kering terus berkepanjangan warga tak semudah dahulu mendapatkan air. Untuk mendapatkan satu jerigen air warga harus menggali sungai dan menunggu hingga berjam-jam hingga air memenuhi kubangan.
Tak hanya masalah air. Ibarat sudah jatuh tertimpa tangga pula, masalah penerangan juga menjadi persoalan tertinggalnya desa itu dibandingkan dengan desa lain.
Beberapa upaya telah dilakukan pemerintah dengan memberikan bantuan beberapa unit PLTS bagi warga setempat. Namun rasa keadilan itu hanya diperoleh bagi yang mendapatkan bantuan.
Lantas bagaimana dengan warga yang terus bergelap gulita saat malam tiba.
"Sebenarnya kami bisa mendapatkan sarana penerangan bila PLN mau menyambungnya dari Ibu Kota Kecamatan Amanuban Timur di Oeekam. Tapi sampai kini sambungan listrik itu juga tidak pernah mampir di desa kami. Masyarakat kami banyak menggunakan pelita untuk penerangan malam hari," ujar Antonius.
Antonius bercerita, nyala pelita akan mengisi ruang gelap di rumah warga bila masyarakat mampu membeli minyak tanah. Pasalnya harga minyak tanah di Oelet cukup `mencekik' leher warga. Satu liter minyak tanah warga harus merogoh kocek sebanyak Rp 5.000.
Harapan Antonius dan Arnolus, Pemkab TTS tak melupakan Oelet sebagai salah satu desa yang harus mendapatkan kue pembangunan. Bukan tak mungkin keterisolasian warga setempat terjadi lantaran masalah air bersih dan penerangan yang tak kunjung datang. (Muhlis Al Alawi)
Pos Kupang, Sabtu 14 November 2009 halaman 5
Ritus Adat Siom Tafani Afu Naijan
dion bata

HARI Jumat (30/10/2009) siang, sekitar 100 warga Desa Nansean, Kecamatan Insana, Kabupaten Timor Tengah Utara (TTU), menggelar ritus adat Siom Tafani Afu Naijan (ambil pulang abu/tanah) di Oetuah-Nefotufe.
Ritus adat ini digelar untuk memulihkan dan mengembalikan hak-hak adat yaitu beberapa bidang tanah milik delapan suku adat di Insana, yang diserobot oleh Kodim 1618/TTU untuk mendirikan Markas Batalyon Infantri (Yonif) 746 dan Markas Kompi Kavaleri (Kikav).
Ritus adat dipimpin langsung oleh tobe (pemangku adat) setempat bernama Silvester Naibobe. Turut hadir delapan tobe yang mewakili delapan suku di Insana, yaitu Dominikus Abatan (Suku Amafnini), Ambrosius Kobo (Suku Saunoah), Fransiskus Sikone Taboi (Suku Taboi), Ignasius Suni Lake (Suku Amafsanan), Silvester Atini (Suku Naibobe), Vinsensius Tnesi (Suku Amatonis) dan Stanis Neno (Suku Amsabnani).
Ritus ada dimulai dari Lopo Hauteas. Tobe Silvester Naibobe didampingi tobe setempat menyembelih dua ekor ayam, yaitu seekor ayam jantan besar dan seekor anak ayam. Darah ayam itu dipercikkan di tiang lopo milik delapan suku tersebut.
Selanjutnya rombongan menuju ke lokasi Nefotufe. Di sini disembelih seekor kambing jantan. Darahnya dipercik pada sebatang bambu khusus dan abu tanah di pungut dari tanah lalu dimasukkan dalam saku baju milik pemangku adat. Selanjutnya abu tanah itu dibawa dan disimpan dalam Lopo Hauteas. "Abu tanah itu simbol dari hak milik suku adat (tanah) yang diambil pulang oleh suku. Sebab tanah milik hak ulayat delapan suku adat di Nifotufe dijual dan diserahkan secara diam-diam oleh beberapa oknum warga kepada TNI untuk keperluan mendirikan Markas Yonif 746 dan Markas Kompi Kavaleri," jelas Silvester Naibobe.
Ia juga meminta agar Pangdam Udayana, Mayor Jenderal TNI H. Panjaitan, Danrem 161/Wirasakti Kupang, Kolonel Inf. Dody H. Usodo dan Dandim 1618/TTU, Letkol Inf. H.M. Sinaga, dan jajaran TNI agar menghormati hak ulayat delapan suku di Insana. "Selain itu sudah ada kesepakatan oleh DPRD TTU dan Pemkab TTU berupa surat rekomendasi agar TNI tidak boleh melakukan aktivitas apa pun di lokasi tanah Nefotufe milik 8 suku di Insana," tandas Silvester Naibobe.
Ritus adat pemulihan hak ulayat delapan suku di Insana adalah untuk memurnikan tanahnya dari "noda dosa" yang dilakukan oknum warga dan oknum TNI di lokasi Nefotufe. "Semoga tentara mau belajar menghormati tanah milik suku di Insana," harap Naibobe. (Julius Akoit)
Pos Kupang edisi Sabtu, 7 November 2009 halaman 5
Darat Gunung Masih Terus Berjuang
dion bata

DESA yang satu ini memang terkenal tandus dan gersang. Warga tampak jarang tersenyum dan masih jauh dari akses ke kota dan ke pasar. Desa ini memang masih terus dilanda banyak persoalan dalam kehidupan bermasyarakat setiap hari. Desa ini adalah Desa Darat Gunung.
Desa yang berada di Kecamatan Talibura, Kabupaten Sikka, atau sekitar 50 km timur Kota Maumere. Desa Darat Gunung mudah ditempuh menggunakan kendaraan roda dua dan roda empat melalui ruas jalan negara dari Maumere-Larantuka. Namun desa ini masih membutuhkan perhatian serius dari pemerintah dan semua elemen di desa itu.
Akses menuju desa ini tidak sulit, tapi ada satu dusun dalam wilayah ini yang masih jauh dari sentuhan sarana transportasi dan akses kota dan pasar, yakni Dusun Natarita.
Secara umum ada dua persoalan yang setiap tahun masih mendera kehidupan warga di Desa Darat Gunung yaitu kondisi jalan dan air. Kenapa jalan dan air? Kondisi jalan di wilayah ini masih berupa tanah yang selalu sulit dilewati kendaraan bermotor pada musim hujan.
Warga memang sudah lama merindukankan jalan. Kerinduan dan kebutuhan warga telah terjawab dengan kehadiran Progran Nasional Pemberdayaan Masyarakat (PNPM) Tahun 2009 di desa ini.
Warga pun menyambut gembira masuknya program ini. Dengan semangat kegotongroyongan dan persaudaraan mereka bahu-membahu mengerjakan proyek jalan menuju Dusun Natarita.
Semangat kebersamaan guna membangun desa sangat nampak. Mereka tak mengenal panasnya terik matahari. Mereka tetap berjuang agar desa atau dusunnya memiliki jalan sehingga bisa memudahkan mereka ke kota dan pasar.
Contoh paling nyata, mereka bisa membawa hasil panen jambu mete dan kemiri ke kota dan pasar. Dari pasar, mereka bisa membawa pulang barang-barang kebutuhan mereka setiap hari.
Masalah kedua adalah air. Warga masih menjerit kekurangan air. Untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari ini, mereka harus menempuh berbagai cara. Ada yang membeli, ada yang berjalan kaki 5 km dan menggunakan air hujan.
Desa Darat Gunung sebenarnya tidak krisis air bersih. Kades Darat Gunung, Kondradus Padji, ketika ditemui Pos Kupang, mengaku ada dua persoalan di Desa Darat Gunung, yakni jalan dan air. Dari tahun ke tahun sejak Indonesia merdeka masalah ini belum terselesaikan. Namun, harapan demi harapan warga dan pihaknya kini mulai terjawab dengan adanya program yang masuk ke desa.
Dikisahkan Padji, Desa Darat Gunung terkenal tandus dan gersang di bagian pedalaman yakni Dusun Natarita yang memiliki 120 KK dan 470 jiwa. Dusun ini jauh dari ruas jalan negara Maumere-Larantuka. Untuk mencapai dusun ini hanya bisa dengan kendaraan truk dan sepeda motor ojek dengan biaya yang tidak sedikit. Dusun Natarita berada di perbukitan Kecamatan Talibura. Jalan menuju wilayah itu cukup curam dan menanjak. Warga membangun rumah di pinggir lereng dan berkebun di kawasan perbukitan.
Dusun Natarita mempunyai potensi seperti mente dan kemiri. Secara umum Desa Darat Gunung memiliki potensi perkebunan yang bisa membawa perubahan bagi ekonomi keluarga.
Bagi warga desa ini, kondisi alam yang keras tersebut sudah menjadi kehidupan sehari-hari mereka. Meski gersang, mereka pantang menyerah untuk terus mengais kehidupan di wilayah itu. Mereka terus berjuang melawan kekeringan dan kegersangan alam yang cukup memprihatinkan. Warga Dusun Natarita terus bertahan karena memiliki semangat juang tinggi. Nilai gotong-royong pun masih tertanam kuat di desa itu. Desa Darat Gunung mau berubah melalui kebersamaan. (Aris Ninu)
Pos Kupang edisi Sabtu, 31 Oktober 2009 halaman 5


