Tampilkan postingan dengan label Kawanua. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Kawanua. Tampilkan semua postingan

Cerita di Balik Foto yang Terkenal Ini

Foto Proklamasi Kemerdekaan RI
Siapa yang tidak kenal dengan foto proklamasi kemerdekaan Indonesia ini? Presiden Soekarno membacakan naskah proklamasi di Jalan Pegangsaan Timur. Wakil Presiden Mohammad Hatta berdiri di sisi kiri. Banyak yang kenal foto ini, tapi barangkali tak banyak yang tahu kisahnya. Tahukah Anda kisah heroik di balik foto ini? Pendiri fotografer.net, Kristupa Saragih, pernah mengabadikan kisah dua fotografer di balik foto ini dan dimuat di Kompas.com. Berikut kisahnya.

Suatu pagi di bulan puasa, 17 Agustus 1945. Frans Sumarto Mendur mendengar kabar dari sumber di harian Asia Raya bahwa ada peristiwa penting di kediaman Soekarno. Alexius Impurung Mendur, abangnya yang menjabat kepala bagian fotografi kantor berita Jepang Domei, mendengar kabar serupa. Kedua Mendur bersaudara ini lantas membawa kamera mereka dan mengambil rute terpisah menuju kediaman Soekarno.

Kendati Jepang telah mengaku kalah pada sekutu beberapa hari sebelumnya, kabar tersebut belum diketahui luas di Indonesia. Radio masih disegel Jepang dan bendera Hinomaru masih berkibar di mana-mana. Patroli tentara Jepang masih berkeliaran dan bersenjata lengkap.

Dengan mengendap-endap, Mendur bersaudara berhasil merapat ke rumah di Jalan Pegangsaan Timur Nomor 56, Cikini, Jakarta, tatkala jam masih menunjukkan pukul 05.00 pagi.

Pukul 08.00, Soekarno masih tidur di kediamannya lantaran gejala malaria. Soekarno juga masih lelah sepulang begadang merumuskan naskah proklamasi di rumah Laksamana Maeda, Jalan Imam Bonjol Nomor 1. Dibangunkan dokternya untuk minum obat, Soekarno lantas tidur lagi dan bangun pukul 09.00.

Di Jakarta, pukul 10.00 pada hari Jumat pagi itu Soekarno dan Mohammad Hatta memproklamasikan kemerdekaan Indonesia. Upacara proklamasi kemerdekaan berlangsung sederhana, tanpa protokol. Hanya Mendur bersaudara yang hadir sebagai fotografer pengabadi peristiwa bersejarah Indonesia.

Frans berhasil mengabadikan tiga foto, dari tiga frame film yang tersisa. Foto pertama, Soekarno membaca teks proklamasi. Foto kedua, pengibaran bendera Merah Putih oleh Latief Hendraningrat, anggota PETA (Pembela Tanah Air). Foto ketiga, suasana upacara dan para pemuda yang menyaksikan pengibaran bendera.

Diburu tentara Jepang

Usai upacara, Mendur bersaudara bergegas meninggalkan kediaman Soekarno. Tentara Jepang memburu mereka. Alex Mendur tertangkap, tentara Jepang menyita foto-foto yang baru saja dibuat dan memusnahkannya.

Adiknya, Frans Mendur, berhasil meloloskan diri. Negatif foto dikubur di tanah dekat sebuah pohon di halaman belakang kantor harian Asia Raya. Tentara Jepang mendatanginya, tapi Frans mengaku negatif foto sudah diambil Barisan Pelopor.

Meski negatif foto selamat, perjuangan mencuci dan mencetak foto itu pun tak mudah. Mendur bersaudara harus diam-diam menyelinap di malam hari, memanjat pohon dan melompati pagar di samping kantor Domei, yang sekarang kantor Antara.

Negatif foto lolos dan dicetak di sebuah lab foto. Risiko bagi Mendur bersaudara jika tertangkap tentara Jepang adalah penjara, bahkan hukuman mati. Tanpa foto karya Frans Mendur, maka proklamasi Indonesia tak akan terdokumentasikan dalam bentuk foto.

Proklamasi kemerdekaan Indonesia hanya diberitakan singkat di harian Asia Raya, 18 Agustus 1945. Tanpa foto karena telah disensor Jepang.
Tugu Mendur di Kawangkoan, Minahasa

Setelah proklamasi kemerdekaan, pada bulan September 1945, fotografer-fotografer muda Indonesia bekas fotografer Domei di Jakarta dan Surabaya mendirikan biro foto di kantor berita Antara.

Tanggal 1 Oktober 1945, BM Diah dan wartawan-wartawan eks harian Asia Raya merebut percetakan De Unie dan mendirikan Harian Merdeka. Alex Mendur pun pindah ke Harian Merdeka. Foto bersejarah proklamasi kemerdekaan Indonesia karya Frans Mendur tersebut baru bisa dipublikasikan pertama kali pada 20 Februari 1946 di halaman muka Harian Merdeka.

Setahun setelah kepindahan ke Harian Merdeka, kakak-beradik Frans dan Alex Mendur menggagas pendirian Indonesia Press Photo Service, disingkat IPPHOS. Turut mendirikan biro foto pertama Indonesia tersebut, kakak-beradik Justus dan Frank "Nyong" Umbas, Alex Mamusung, dan Oscar Ganda. IPPHOS berkantor di Jalan Hayam Wuruk Nomor 30, Jakarta, sejak berdiri 2 Oktober 1946 hingga 30 tahun kemudian.

IPHHOS

Koleksi foto IPPHOS pada kurun waktu 1945-1949 konon berjumlah 22.700 bingkai foto. Namun, hanya 1 persen yang terpublikasikan. Foto-foto IPPHOS tak hanya dokumentasi pejabat-pejabat negara, tetapi juga rekaman otentik kehidupan masyarakat pada masa itu.

Keluarga Mendur adalah putra daerah Kawangkoan, Minahasa, Sulawesi Utara. Alex Mendur lahir pada 1907, sementara adiknya Frans Mendur lahir tahun 1913. Frans belajar fotografi kepada Alex yang sudah lebih dahulu menjadi wartawan Java Bode, koran berbahasa Belanda di Jakarta. Frans lantas mengikuti jejak abangnya menjadi wartawan pada tahun 1935.

Foto monumental lain karya Alex Mendur adalah foto pidato Bung Tomo yang berapi-api di Mojokerto tahun 1945, tetapi sering dianggap terjadi di hotel Oranje, Surabaya. Foto monumental lain karya Frans Mendur adalah foto Soeharto yang menjemput Panglima Besar Jendral Soedirman pulang dari perang gerilya di Jogja, 10 Juli 1949.

Kala itu nama Mendur bersaudara sudah terkenal di mana-mana. Keberadaan mereka diperhitungkan media-media asing. Namun, Mendur bersaudara dan IPPHOS tetap idealis untuk loyal kepada Indonesia. Padahal, secara etnis Minahasa, sebenarnya Mendur bersaudara bisa saja dengan mudah merapat ke Belanda. IPPHOS tetap independen, di kala kesempatan bagi Mendur bersaudara terbuka luas untuk meraup lebih banyak uang dengan bekerja untuk media asing.

Meninggal dalam sepi


Semasa hidupnya, Frans Mendur pernah menjadi penjual rokok di Surabaya. Di RS Sumber Waras Jakarta pada tanggal 24 April 1971, fotografer pengabadi proklamasi kemerdekaan RI ini meninggal dalam sepi.

Alex Mendur tutup usia pada tahun 1984 juga dalam keadaan serupa. Hingga tutup usia, kakak-beradik Frans dan Alex Mendur tercatat belum pernah menerima penghargaan atas sumbangsih mereka pada negara ini. Konon, mereka berdua pun ditolak untuk dimakamkan di Taman Makam Pahlawan Kalibata.

Baru pada 9 November 2009 Presiden Susilo Bambang Yudhoyono menganugerahi kedua fotografer bersejarah Indonesia ini, Alexius Impurung Mendur dan Frans Soemarto Mendur, penghargaan Bintang Jasa Utama.

Tugu Pers Mendur


Untuk mengenang aksi heroik Mendur bersaudara, keluarga besar Mendur mendirikan sebuah monumen yang disebut "Tugu Pers Mendur". Tugu ini berupa patung Alex dan Frans serta bangunan rumah adat Minahasa berbentuk panggung berbahan kayu.

Tugu Pers Mendur didirikan di Kelurahan Talikuran, Kecamatan Kawangkoan Utara, Kabupaten Minahasa, Sulawesi Utara, di tanah kelahiran mereka. Di dalam rumah itu terdapat 113 foto karya Mendur bersaudara.  Presiden Yudhoyono meresmikan tugu ini pada 11 Februari 2013.

Sumber: Kompas.com

Baca Juga: Pejuang Bersenjatakan Kamera

Kiprah Srikandi Sulut di Senayan

Tiga periode menembus senayan sebagai 'senator' alias anggota Dewan Perwakilan Daerah (DPD) Republik Indonesia (RI) utusan Sulut merupakan garansi bahwa wanita bernama lengkap Aryanthi Baramuli Putri merupakan politisi yang patut diperhitungkan.

Ayanthi Baramuli Putri terlahir dari keluarga politisi. Ayahnya Dr Arnold A Baramuli merupakan mantan Ketua Dewan Pertimbangan Agung (DPA) dan pernah menjabat Gubernur Sulut merupakan bukti bahwa ABP memang tak asing dengan dunia politik.

Kepiawaian Aryanthi dalam dunia politik dibuktikannya dengan tiga kali terpilih sebagai anggota DPD RI mewakili Sulawesi Utara.

Terakhir di Pemilu 9 April 2014 ini, wanita kelahiran Jakarta, 18 Oktober 1964 sukses meraih suara terbanyak kedua untuk utusan DPD RI Sulut. Raihan ini dengan sendirinya membuat langkah Aryanthi ke senayan tak tertahankan.

Dia menyatakan bersyukur kepada Tuhan dan berterima kasih kepada rakyat Sulut yang telah memilihnya kembali berkiprah di DPD RI.

Ia berharap dengan bantuan doa dan dukungan masyarakat, ia bisa lebih baik dalam
melayani rakyat dan lebih bermanfaat bagi orang banyak.
"Terima kasih atas kepercayaan masyarakat Sulut yang telah memilih saya. Mohon maafkan bila ada salah kata maupun sikap selama ini yang kurang berkenan," ujarnya kepada Tribun Manado, Selasa (6/5/2014).

Menariknya lagi, Aryanthi merupakan satu-satunya incumbent yang mencalonkan sebagai anggota DPD RI yang terpilih lagi. Sebab tiga personel anggota DPD RI utusan Sulut akan berkiprah lagi di senayan. Sientje Sondakh-Mandey dan Alvius Lomban tak lagi mencalonkan. Sedangkan Marhanny Pua yang menurutnya, merupakan tokoh pemuda yang dekat dengan ketua-ketua umum parpol di pusat dan pejuang penguatan DPD RI sehingga menang di Mahkamah Konstitusi (MK) hanya menempati urutan enam.

Pada kesempatan itu ABP tak lupa memaparkan pemikirannya mengenai DPD. Baginya,  DPD seharusnya berfungsi sebagai Senat seperti di negeri lain. Karena itu, perlu diadakan penyempurnaan UUD 1945 yang mengatur kedudukannya sebagai badan yng menghimpun aspirasi rakyat termasuk kepentingan daerah.

Adapun visi Aryanthi dalam mewujudkan paparannya ini adalah memperjuangkan kesejahteraan, keadilan dan kepentingan seluruh rakyat Indonesia serta pemuda, khususnya Sulawesi Utara melalui lembaga legislatif tingkat nasional yaitu DPD RI. Misinya, antara lain membangun mental spiritual masyarakat yang bertaqwa kepada Tuhan YME, berakhlak, berbudaya, bersemangat dinamis membangun ekonomi rakyat demi kesejahteraan masyarakat.

Sedangkan program yang akan diperjuangkan di Senayan di antaranya, melakukan pengawasan atas pelaksanaan UU tertentu dan pelaksanaan APBN. Kemudian memperjuangkan isu provinsi, perbatasan, daerah tertinggal serta perempuan dan anak.

Namun, ia mengakui APBD yang sangat kecil dibanding dengan kebutuhan masyarakat yang besar serta kondisi geografis Sulut yang berdekatan dengan Filipina dengan tingkat kesejahteraan yang lebih terjamin adalah tantangan yang harus dihadapinya. ABP juga sangat aktif dalam kegiatan sosial dan kemanusiaan. Dia sering membantu wanita yang menjadi korban trafficking, korban perkosaan. Selain itu, dia ikut membantu anak-anak terlantar yang membutuhkan penanganan khusus.(andhika)

Sumber: Tribun Manado 15 Mei 2014 hal 1

Vanda Sarundajang Ingin Sulut Jadi Rising Star

Empat Wanita Sulut sukses berkiprah di senayan baik sebagai anggota DPR RI maupun sebagai anggota DPD RI. Apa saja yang akan mereka lakukan ke depan? Ikuti ulasannya secara bersambung.
SATU di antara srikandi Sulut yang sukses melenggang ke senayan adalah Vanda Sarundajang. Putri tercinta Gubernur Sulut, Dr SH Sarundajang ini untuk kedua kalinya menjadi wakil rakyat utusan Sulut ke DPR RI melalui Fraksi PDI Perjuangan.
Berstatus Incumbent, Putri Gubernur Sulut SH Sarundajang ini kembali memenangi satu kursi DPR RI Periode 2014-2019.

Sebelum terjun ke dunia politik, sebenarnya Vanda tak kepikiran bakal menjadi wakil rakyat di Senayan, pusat berkiprahnya politisi-politisi tanah air. Apalagi tahun 2008 sebelum menjadi politisi, ia tengah fokus menyelesaikan pendidikan S-2 mendalami Alkitab di Singapore Bible College.

Baru setahun menjalani kuliah, ada tawaran  untuk memegang tampuk pimpinan Taruna Merah Putih, organisasi sayap PDIP. "Saya kembali ke Sulut tanpa pikir panjang, karena saya tertarik di organisasi," kata dia.

Tak lama dilantik di Taruna Merah Putih, sudah bergulir pemilihan umum 2009. "Saya ditawarkan partai untuk diusulkan calon legislatif," ungkapnya.

Kali ini ia berpikir panjang, apalagi bidang yang ditekuni beda, antara sekolah alkitab dan dunia politik. Setelah berpikir ia mendapat kesimpulan bidang pelayanan tidak harus berpredikat di teologi.

Melayani sesama bisa dilakukan di  di bidang dipolitik, hanya pendekataanya berbeda. Ia juga meminta restu orang tua, dan ternyata dapat respon positif

"Ini murni pilihan pribadi, tentu sebagai anak harus memohon restu orang tua, beliau (SHS) beri restu, kalau hal positif tentu didukung. Saya kemudian memutuskan mengambil peluang di legislatif," katanya.

Vanda tak lagi meneruskan tahun kedua kuliah Alkitab. Akhirnya sampai sekarang ia tak menyelesaikan kuliahnya. Meski begitu ia punya kerinduan menyelesaikan kuliahnya "Ke depan ada waktu kesempatan ada kerinduan untuk menyelesaikan, tapi bukan jadi pendeta, sekolah alkitab lebih ke misi," katanya.


Tahun 2009 merupakan langkah pertama, ia fokus sosialisasi sebagai Caleg DPR RI dari PDIP. "Penuh melaksanakan sosialisasi akhirnya jalan Tuhan berkenan terpilih di DPR,"katanya.

Di 2014, ia kembali berjuang memikat hati pemilih "Kami sebagai petugas partai mendapat penugasan berkompetisi lagi di legislatif, puji Tuhan masyarakat Sulut memberi amanah sebagai Anggota DPR RI," ujarnya.

Sebagai putri kandung Gubernur Sulut, Dr SH Sarundajang, diakuinya banyak sorotan  mengarah kepada keluarga Sarundajang

Sang Ayah gubernur, Ivan sang Kakak Wakil Bupati, Fabian Anggota DPD RI dan Eva Anggota DPRD Sulut. Bukan kebetulan anak keluarga Sarundajang mengambil pilihan yang sama di bidang politik."Pertanyaannya apa Kemudian by design karena orang tua punya kuasa? Jawabannya tidak seperti itu," katanya.

Prosesnya menurut Vanda, masing-masing pribadi ditawari,  selanjutnya mereka meminta restu orang tua.Harus diketahui, SHS 40 tahun berkarir di Birokrat sebelum ke Politik. Anak-anak keluarga Sarundajang saat membuka mata sudah ada lingkup pelayanan.

"Bisa dikatakan ini terbawa naluri kami kakak adik ada sisitu kemudian kami komitmen melayani masyarakat," ujarnya.

Setelah melewati Pemilu ini, Vanda mengatakan masih fokus menyelesaikan sisa periode di DPR RI, sebelum memasuki periode baru.

Di periode mendatang ia ingin Sulut bisa dipandang sejajar dengan daerah lain. "Saya Ingin ke depan Indonesia timur merujuk ke Sulut menjadi terdepan, sebagai rising star di Timur Indonesia," sebutnya.

Mengakhiri kata, Vanda meminta dukungan doa, masukan sekaligus kritikan "Saya ucapkan terima kasih kepada masyarakat yang masih mempercayakan saya duduk sebagai wakil rakyat," pungkasnya.(ryo  noor)

Sumber: Tribun Manado 14 Mei 2014 halaman 1

Jokowi Sebut Revolusi Mental

Jokowi di kantor Harian Tribun Manado 10 Mei 2014 (foto emerson@TM)
Satu di antara agenda utama kedatangan  Ir Joko Widodo, Capres PDI Perjuangan ke Sulawesi Utara adalah menemui tokoh agama di daerah ini dan berbicara tentang kerukunan dan pentingnya perdamaian.

Hal ini menjadi satu diantara agenda penting lainnya yang menjadi perbincangan antara Jokowi sapaan akrab Gubernur DKI Jakarta  ini dengan Ketua Badan Pekerja Majelis Sinode (BPMS) GMIM, Pdt HWB Sumakul STh dan Sekretaris Sinode GMIM, Pdt Hendry Runtuwene yang tampak kompak menggunakan kemeja putih lengan panjang.
Dialog informal ini berlangsung di ruang rapat BPMS GMIM. Saat pertemuan Jokowi pun memuji GMIM yang ikut memberi andil besar dalam menciptakan kerukunan di Sulut.

"Pak Jokowi memberi apresiasi luar biasa terhadap kerukunan di Sulut. Apalagi diketahuinya peran GMIM banyak untuk menciptakan kerukunan dan kedamaian di daerah ini," kata Pdt HWB Sumakul, Ketua BPMS GMIM seusai berdialog dengan Jokowi di Kantor Sinode GMIM di Tomohon, Sabtu (10/5/2014).

Jokowi juga menegaskan bahwa Indonesia tetap dibawah naungan Pancasila, tak boleh ada diskriminatif. "GMIM memberikan penghargaan luar biasa kepada Pak Jokowi, karena sebagai calon pemimpin Negara masih berkesempatan meluangkan waktu  bertemu dengan pemimpin gereja mendiskusikan masalah-masalah bernegara dan cara mengatasinya. Tentu kami akan terus menopang lewat doa agar di Indonesia akan lahir  pemimpin  berkharisma dan berwibawa serta mampu mengangkat harkat martabat negara agar lebih maju," ujar Pdt Hendry Runtuwene, Sekretaris BPMS GMIM

Setelah mengunjungi Kantor Sinode GMIM, Jokowi pun beralih memberikan kuliah umum kepada mahasiswa Unima Manado  dengan moderator Rektor Unima Theofilus Tuerah di Auditorium Bukit Inspirasi (ABI) Tomohon.

Jokowi menegaskan, kedatangannya ke Sulut sebenarnya sudah direncanakan dua tahun lalu, tapi baru dapat direalisasikan sekarang. "Jadi selamat baku dapa semua," ujarnya.

Jokowi dalam blusukan kali ini mengaku sangat kaget sekaligus bangga dengan antusiasnya sambutan yang diberikan masyarakat. "Saya kaget, tapi senang juga melihat sambutan masyarakat sebaik ini," ujar Jokowi sambil tersenyum.

Ia mengungkapkan belum memutuskan siapa calon pendampingnya apakah dari Sumatera atau Sulawesi atau daerah lainnya. "Yang pasti calon pendamping saya orang Indonesia," terangnya.

Kendati belum memutuskan pendamping, namun jika diperkenankan oleh Tuhan untuk menjadi Presiden maka Jokowi berjanji akan membangun Negara ini dengan baik, seperti yang dilakukannya selama ini memimpin daerah menjadi maju dan sejahtera.
"Saya memang belum menjadi Presiden, tapi dengan pengalaman yang ada ketika memimpin kota bahkan provinsi tentu akan dioptimalkan. Sebab ini semua hanya soal managemen dengan membiasakan menjadi pemimpin yang baik ditingkatan kota dan provinsi, tentu ditingkat nasional juga akan seperti itu, semuanya sama yang penting fokus saja," ujarnya.

Untuk membangun Indonesia menjadi Negara yang maju, menurutnya dapat dilakukan dengan terus diberi pendidikan budi pekerti yang luhur agar dapat memacu pembangunan lebih cepat demi mensejahterakan rakyat.

"Budi pekerti itu penting diberikan kepada masyarakat Indonesia sejak kecil, agar bisa diandalkan untuk membangun bangsa ini menjadi lebih maju," ujar Jokowi.
Di Korea misalnya, menurut Jokowi kemajuan sangat terasa karena pendidikan budipekerti diutamakan bagi anak-anak sejak kecil. Misalnya dengan budaya seorang kakak menggendong adiknya ke sekolah. "Setelah saya tanya apa manfaatnya dari budaya itu, ternyata mengajarkan kepada anak-anak bahwa yang adik itu harus menghirmati dan menghargai kakaknya, sedangkan yang kakak harus selalu membantu adiknya. Di Indonesia seperti itu ada dulu, tapi memang kini sudah terkikis," jelasnya.

Mengakhiri kuliah umum kepada mahasiswa Unima di ABI Tomohon, sekitar pukul 12.30 Wita, Jokowi, Calon Presiden RI dari PDI Perjuangan yakin Indonesia kedepan akan menjadi Negara besar. Syaratnya tentu ada, yakni jika dipimpin oleh pemimpin Negara yang tegas dan tidak ragu-ragu.

"Saya yakin Indonesia akan menjadi Negara yang besar, maju, dan berwibawa, asalkan pemimpinnya harus tegas dan tidak ragu-ragu. Pemimpin juga jangan hanya duduk dibelakang meja saja, tapi harus turun ke lapangan," kata Jokowi menutup kuliah umum.

Jika dipercayakan menjadi Presiden, Jokowi menegaskan siap untuk membawa bangsa ini lebih berdaulat dan disegani oleh Negara lain didunia ini.

"Revolusi mental akan saya lakukan dengan membekali masyarakat melalui penyiapan sumber daya yang memadai," tukasnya.

Sebelumnya Jokowi sempat melakukan blusukan ke Pasar Beriman, Tomohon. Di sini Jokowi sempat menemui sejumlah pedagang, termasuk pedagang gula merah dan penjual tikus.

"Mudah-mudahan Pak Jokowi bisa jadi Presiden 100 persen agar dapat membawa perubahan bagi kemajuan dan kesejahteraan rakyat Indonesia," ujar Kathy Pitoy warga Walian 2.

Kathy tersenyum gembira, karena boleh melihat langsung sosok Jokowi, apalagi pada kesempatan langkah itu ia bisa bersalaman langsung dengan Jokowi ketika berkunjung ke Terminal dan Pasar Beriman Tomohon. "Tangan Pak Jokowi sangat lembut jadi mudah-mudahan hatinya juga lembut seperti itu untuk memimpin Indonesia," ujarnya.

Ketika tiba di Pasar Tomohon sekitar pukul 08.25 Wita Jokowi yang hanya naik mobil Inova berwarna hitam DB 2566 AP disambut antusias ribuan masyarakat. Ia turun di Pasar Kuliner dan berjalan kaki menuju Terminal dan Pasar Beriman Tomohon sejauh sekitar 1 kilometer.

Jokowi yang menggunakan kemeja putih berbalut celana panjang hitam mendapat sorakan dan tepukan tangan meriah dari masyarakat ketika berjalan didampingi Jhon Runtuwene, Philoteus Tuerah, Javier Tuerah dan Ketua DPC PDI Perjuangan Vonny Paat, karena kehadirannya menjadi kado tersendiri bagi masyarakat Tomohon.
"Hidup Jokowi, hidup Bapak Presiden," teriak warga yang mengepung Jokowi dan berjabat tangan serta meminta bersama."Jokowi, Jokowi, Jokowi, disini dulu," sahut warga yang lain menyambut begitu antusias kedatangannya.

Kesederhanaan Jokowi disukai oleh masyarakat. Hal itu terlihat dengan tak adanya rasa takut dan khawatir apalagi ekspresi jijik ketika berkeliling di Pasar Beriman, Tomohon yang masih dihiasi becek. Jokowi berjalan slambat di Pasar Beriman karena dikerumuni warga yang ingin bersalaman. Sesak tapi ini membuat Jokowi tersenyum dan senang. Beberapa kali ia menyeka keringat yang membasahi dahinya hanya dengan tangan saja.

Jokowi saat berkeliling pasar juga sempat menyambangi pedagang yang menjual tikus. Ia sempat kaget karena melihat ada tikus yang sudah terpanggang dan ditusuk dijajakan oleh pedagang untuk dijual. Dia pun memegang dua ekor tikus yang ditusuk, karena mendapat informasi hewan itu bisa dimakan karena hidup di hutan.  Sebelum meninggalkan Pasar Beriman pukul 10.10 Wita, Jokowi sempat dihadiahi bunga oleh warga Tomohon.

Samsudin Dalalu (54) menilai dari semua calon Presiden Indonesia yang mencuat saat ini, tak ada yang memiliki sosok sebaik Jokowi. Karena mau turun berjumpa dengan masyarakat hingga ke pasar-pasar. "Tak ada yang seperti Jokowi, yang mau memperhatikan masyarakat seperti ini," kata pedagang tas keranjang ini di pasar Beriman.

Sebelum kembali ke Kota Manado, Jokowi menyempatkan diri meresmikan Posko Relawan Jokowi di Kota Tomohon. Setelah itu menuju ke Manado dan mampir di redaksi Tribun Manado, Jalan AA Maramis.

Sesudah itu Jokowi makan siang bersama dengan sejumlah tokoh agama di Sulut. Di antaranya Pdt Lucky Rumopa, Sofyan Yosadi dan lainnya.(war/alp)

Sumber: Tribun Manado 11 Mei 2014 hal 1

Gaya Jokowi di Kairagi

Berdiskusi di Kantor Tribun Manado 10 Mei 2014 (foto emerson)
DALAM rangkaian blusukannnya ke Sulawesi Utara, Calon Presiden (Capres) PDI Perjuangan, Ir Joko Widodo alias Jokowi menyempatkan diri mampir ke Kantor Harian Tribun Manado di Jalan AA Maramis,  Kairagi, Manado,  Sabtu (10/5/2014) sekitar pukul 13.15 wita.

Kedatangan Jokowi,  sapaan akrab Gubernur DKI Jakarta ini disambut Pemimpin Perusahaan (PP) Tribun Manado, Fahmi Setiadi, Manager Produksi, Dion DB Putra dan Wakil Koordinator Liputan, Aswin D Lumintang.

Jokowi bersama rombongan langsung diantar ke ruang rapat Tribun Manado yang terletak di Lantai I kantor tersebut. Menariknya, begitu Fahmi Setiadi mempersilakan Jokowi untuk duduk di kursi paling depan yang biasa dipakai pimpinan saat rapat redaksi, namun oleh Jokowi ditolak dan memilih duduk di kursi yang biasa menjadi tempat duduk peserta rapat.

Perbincangan dimulai dengan beberapa pertanyaan singkat Fahmi Setiadi terkait mulai ramainya kampanye hitam terhadap dia (Jokowi) menjelang pilpres dan beberapa hal lainnya.

Satu di antaranya yang akan menjadi fokus Jokowi jika terpilih menjadi presiden katanya, dia akan memfokuskan pada pendidikan. Dia berkeyakinan dengan pendidikan yang baik akan menghasilkan kualitas sumber daya manusia nomor satu.

''Sistem pendidikan saat ini harus dievaluasi termasuk kurikulumnya. Saya melihat ada disorientasi. Jadi kalau kita maunya menjadi negara yang konsentrasi terhadap pangan dan energi. Harus fokus ke pertanian dan kelautan, '' ujarnya memberi contoh.

Jika ini menjadi fokus pembangunan, maka pendidikan juga harus diarahkan ke sana.'' Seperti yang sering saya sampaikan pembangunan karakter itu dijadikan yang utama terutama di dunia pendidikan. Budi pekerti mengenalkan nilai-nilai ke Indonesiaan. Saya rasa itu penting sekali, waktu mereka SD menurut saya 70 persen bukan pengetahuan tapi memberikan fondasi mengenai nilai-nilai kedisiplinan, budi pekerti dan budaya, '' ujarnya.

Sekitar 70 persen harus dikenalkan kepada anak-anak, 30 persen berbanding 20 persen untuk hal-hal yang mengenai pengetahuan. Ketika masuk SMP 40 persen banding 60 persen.


'' Mungkin baru SMA/SMK perbandingannya  70 persen banding 30 persen. Saya kira memang harus seperti itu, kalau mau negara maju.''Karakter pasti nomor satu, pembangunan SDM nomor satu. Yang saya sampaikan, kita memang musti memerlukan revolusi mental, di bidang pendidikan, memerlukan membangun nilai- nilai baru yang mulai menjadi satu gerakan, gerakan nilai-nilai yang baik, '' ujarnya.
Sedangkan mengenai ketahanan pangan, Jokowi mengakui ketergantungan terhadap impor memang luar biasa. '' Garam pun kita impor, '' ujarnya.

''Saya kira kalau pahan pangan, SPMA harus diperhatikan lagi dan universitas- universitas sekolah yang berkaitan dengan pertanian itu harus diperhatikan, '' ujarnya.

Infrastruktur yang berkaitan dengan pertanian harus di perhatikan lagi, harus diarahkan ke sana. kalau ingin maju. Kemudian pasca panen industri pengalengan, pendinginan, industri kemasan. Banyak sebenarnya produksi pertanian yang tidak tergarap karena pasca panen tak ada.

Mengenai penegakan hukum yang paling penting adalah sistemnya.  Terkait dengan korupsi di Indonesia, Jokowi berpendapat 70 persen harus mengutamakan upaya preventif dan 30 persen adalah penindakan. "Bukan penindakan yang diberi porsi besar, tapi upaya preventif yang harus mendapat porsi 70 persen," tuturnya.

Upaya preventif dimaksud yaitu terkait perbaikan sistem yang ada di negara ini. "Korupsi kan terjadi karena sistem di negara kita yang amburadul. Ini yang harus dibenahi," ujarnya.

Perbaikan sistem ini kata Jokowi, harus bersifat menyeluruh dan bukan setengah-setengah. "Semuanya harus tersistem dan terkoneksi dengan baik, sehingga memudahkan untuk dilakukan kontrol. Mudah saja sebenarnya. Kalau hal ini dijalankan seperti ini maka kecil kemungkinan korupsi itu terjadi," jelasnya.

Diakuinya, jika diberi kesempatan menjadi presiden periode berikutnya, hal-hal inilah yang akan dilakukan terutama dalam upaya memberantas korupsi di negeri ini.(khy/ika)

Sumber: Tribun Manado 11 Mei 2014 hal 1


Benny Rhamdani Diarak Keliling Kampung

TRIBUNMANADO.CO.ID, MANADO - Sebelum palu diketuk KPU Sulawesi Utara, nama Benny Rhamdani masih bersaing ketat dengan Stefanus BAN Liow dalam rekapitulasi suara untuk DPD RI.

Suara anggota DPRD Sulut dan Ketua P/KB GMIM itu saling susul. Namun di akhir penghitungan, Benny Ramdhani menjadi pemilik kursi keempat menemani Maya Rumantir, Aryanthi Baramuli dan Fabian Sarundajang.

Suara Benny dan Liow hanya selisih 348 pemilih. Benny meraup 94.588 suara, sementara Stefanus Liow mengumpulkan 94.242.

Sebenarnya Liow masih unggul ketika perolehan suara di Manado dan Minahasa Utara belum masuk.

Namun Benny berbalik unggul ketika suara dari Manado masuk yakni 18.022 suara dan Liow memperoleh 10,106.

Kemudian ketika suara Minut masuk, Liow memperoleh 7.962 suara dan Benny 3.233. Di akhir penghitungan, Benny dinyatakan unggul.

Begitu meraih kemenangan, Benny pulang kampung untuk mengabarkan kebahagiaan. Dan Benny pun tak kuasa menahan haru kala dijemput ribuan pendukungnya, di Kotamobagu, Minggu (27/4/2014).

Ia mengaku bahagia, bisa pulang ke kampung halaman membawa kemenangan.

Benny mengungkapkan, kemenangannya merupakan kemenangan masyarakat Sulut. Benny bersyukur kepercayaan masyarakat dijawab tanpa melakukan money politics.

"Ini sejarah pertama kali BMR (Bolmong Raya) memiliki wakil di DPD RI," katanya.

Ia bangga selama berjuang dalam Pemilu 2014 tanpa bermain uang. Benny mengaku sebagai calon termiskin. "Saya caleg gakin (keluarga miskin). Modal dana kampanye saya Rp 57.710.850. Silakan buka buku rekening laporan dana kampanye," ungkapnya.

Dana awal pencalonannya, kata Benny, hanya Rp 400.000. "Sampai selesai pemilu, tidak pernah ada pemasukan sumbangan dari pihak luar. Alat peraga kampanye sangat terbatas, bahkan nyaris tidak terlihat," sebutnya.

Dikatakannya, kursi ia peroleh murni kepercayaan masyarakat. "Terima kasih warga Bolmong, sungguh suatu kehormatan terbesar bagi saya karena masih diberikan kepercayaan untuk mengemban tugas selama lima tahun di DPD RI, tentunya wujud syukur ini tak mampu saya ucapkan dengan kata-kata, namun akan saya wujudkan dengan tindakan dan kerja keras," ungkap mantan aktivis ini.

Kedatangan Benny di kampung halamannya disambut prosesi adat Itum-itum dan tarian adat Tuitan khas Bolaang Mongondow yang konon diartikan sebagai ungkapan kegembiraan atas torehan prestasi.

Ia didampingi istri diarak di keliling Kelurahan Sinindian, Kotamobagu tempat prosesi acara syukur penyambutannya.

Di atas truk yang disulap menjadi panggung dadakan, Benny mengucapkan rasa terimakasihnya kepada warga Bolmong.

"Terimakasih yang tak terkira. Harapan warga Bolmong Raya akan saya wujudkan dengan usaha keras," kata dia.

Kepada Tribun Manado di sela kesibukannya menerima tamu di rumahnya malam tadi, Benny mengakui keunggulan suaranya sangat dramatis. Suaranya hanya terpaut ratusan saja dari peringkat kelima, Stevanus BAN Liow. "Sangat dramatis," kata Benny.

Mantan aktivis mahasiswa ini mengatakan ada beberapa agenda yang suda disiapkanya di DPD. Pertama yang akan dilakukan adalah penguatan DPD yang saat ini posisi dan power politiknya kalah dari DPR. Benny berencana membentuk Kaukus Muda Senator RI (Kaukus RI) yang terdiri kaum muda di DPD RI.

"Para kaum muda yang progresif dan revolusioner ini pasti memiliki cita-cita dan mimpi besar untuk negara," kata dia.

Setelah itu, dia berjanji memperjuangkan posisi Indonesia Timur dalam kebijakan ekonomi dan politik. Menurutnya, kebijakan ekonomi dan politik Indonesai lebih mementingkan wilayah Indoesia Barat saja. Indonesia Timur, kata dia, sangat tertinggal jauh dalam segi pembangunan.

Ditanya tentang godaan untuk bertarung di kancah pemilukada, Benny mengatakan pilihan pertama dirinya bukan di eksekutif.

"Kalau diberi pilihan kemana arah politik saya yang paling ideal adalam pandangan hidup daya, saya ingin ke DPR RI. Saya ini tipikal destroyer, sebagai orang yang mengawasi bukan pelaksana. Saya ingin menuntaskan DPD selama lima tahun, setelah lima tahun akan ada pertimbangan lain," katanya.

Sementara itu, Vanda Sarundajang juga terpilih untuk kali kedua sebagai anggota DPR RI dari PDIP di Dapil Sulut. Putri Gubernur SH Sarundajang ini merasa sangat bersyukur karena boleh meraih dukungan dari masyarakat sehingga namanya merupakan urutan kedua caleg dengan suara terbanyak.

"Pertama-tama sebagai orang yang percaya tentunya saya bersyukur kepada Tuhan. Karena atas perkenanNya sehingga saya bisa terpilih lagi," ujar Vanda, Minggu (27/4).

Ia juga berterima kasih kepada masyarakat Sulut yang kembali mempercayakan dirinya sebagai wakil rakyat di DPR RI." Terima kasih juga untuk warga Sulut yang masih memberikan kesempatan kepada saya untuk berjuang di pusat," tuturnya.

Mengenai apa yang akan dilakukan selanjutnya, putri dari gubernur Sulut Dr Sinyo H Sarundajang ini tak banyak berujar. "Saya akan kembali fokus di DPR melanjutkan tugas pekerjaan sampai periode ini selesai di akhir September nanti," tandasnya.

Tak kalah sengit adalah pertarungan untuk DPRD Sulut. Dari sebagian besar calon incumbent, hanya 15 yang berhasil mempertahankan kursinya.

Netty Agnes Pantow, satu di antaranya incumbent yang memenangi satu kursi dari Dapil Minut-Bitung.

Kepada Tribun Manado, caleg Partai Demokrat itu mengungkapkan rasa syukurnya. Menurutnya, kemenangan ini tidak perlu disambut dengan menggelar pesta.

"Tidak harus pesta, rasa syukur disampaikan lewat doa dan mengiplementasi wujud kehidupan sehari-sehari," kata peraih 10.310 suara dukungan ini.

"Pertama bersyukur bangga Netty tidak money politics. Netty masih dicintai masyarakat, satu periode di lembaga, diperkenankan Tuhan terpilih kembali dengan jujur punya kebanggan murni terpilih," ungkapnya.

Terkait dana kampanye, Netty menolak menyebutkan jumlahnya. "Tidak mungkin kalau tidak keluar uang, tapi itu biaya politik, bukan money politics. Masa orang antar stiker tidak dikasih uang, sewa transportasi kampanye juga harus keluar uang," ungkapnya.

Ia mengakui banyak pekerjaan rumah variatif di DPRD Sulut, pembangunan berjalan tentu butuh kelanjutan. "Ke depan memang butuh perbaikan," katanya.

Terpisah, Ivone Bentelu, caleg PDIP Dapil Nusa Utara juga berhasil mengamankan satu kursi di Gedung Cengkih. Ia mengungkapkan syukur kepada Sang Khalik, dan ungkapan terima kasih kepada masyarakat Nusa Utara yang sudah memberikan kepercayaan kembali duduk di DPRD Sulut.

Gelar ucap syukur ia sudah jadwalkan dilakukan dengan kecil-kecilan saja. Justru di depan mata adalah ada tanggung jawab besar.

"Kepercayaan ini merupakan tanggung jawab yang harus dikawal untuk mewujudkan kerja keras dan kerja cerdas guna kesejahteraan masyarakat," ujar wanita yang menyemat profesi dokter ini.

"Yang pasti bersama teman-teman saya dari Nusa Utara, kita akan bergandengan tangan untuk mengawal aspirasi dari Kepulauan," ungkap Sekretaris Komisi IV DPRD Sulut ini. (ryo/suk/aro)


Sumber: Tribun Manado 28 April 2014 hal 1

Inilah Anggota DPRD Sulut Terpilih 2014-2019

Maya Rumantir (kanan) saat ke Tribun 25-4-2014
Berikut daftar nama lengkap peraih kursi DPRD Sulut yang akan huni Gedung Cengkih (DPRD Sulut) dan daftar nama yang melenggang ke senayan, Senin (28/4/2014).

* Penghuni DPRD Sulut:

Dapil Manado
1.  Andre Angouw (PDIP)
2. James Karinda (Demokrat)
3. Hanny Joost Pajouw (Golkar)
4. Novi Ferdinand Mewengkang (Gerindra)
5. Ayub Ali (PAN)
6. Teddy Kumaat (PDIP)
7. Siska Mangindaan (Demkorat)
8. Amir Liputo (PKS)

Dapil Minut-Bitung
1. Eva Sarundajang (PDIP)
2. Herry Tombeng (Gerindra)
3. Netty Agnes Pantouw (Demokrat)
4. Adriana Dondokambey (PDIP)
5. Cindy Wurangian (Golkar)
6. Denny Harry Sumolang (PKPI)
7. Frans Matthieu (Hanura)
8. Nori Supit (Nasdem)

Dapil Nusa Utara
1. Marvel Dicky Makagansa (PDIP)
2. dr Ivone Bentelu (PDIP)
3. Meiva Salindeho Lintang (Golkar)
5. Edwin Lontoh (Demokrat)
6. Ferdinand Mangumbahang (Gerindra)

Dapil Bolmong Raya
1. Muslimah Mongilong (PDIP)
2. Rocky Wowor (PDIP)
3. Hj Marlina Moha Siahaan (Golkar)
4. Affan R Mokodongan (PAN)
5. Julius Jems Tuuk (PDIP)
6. Rasky Mokodompit (Golkar)
4. Mursan Ardiansyah Imban (PAN)
8. Hj Ainun Talibo (PPP)
9. Muhamat Yusuf Hamim (Gerindra)
10. Rita Lamusu Manoppo (PKS)

Dapil MinseL-Mitra
1. Kristovorus Deky Palinggi (Golkar)
2. Franky Donny Wongkar (PDIP)
3. Billy Lombok (Demokrat)
4. Juddy Moniaga (Gerindra)
5. Felly Estelita Runtuwene (Nasdem)
6. Edison Masengi (Golkar)

Dapil Minahasa-Tomohon
1. Steven Kandou (PDIP)
2. Stefanus Vreeke Runtu (Golkar)
3. Vonny Jane Paat (PDIP)
4. Wenny Lumentut (Gerindra)
5. Inggrid Sondakh (Golkar)
6. Marthen Manuel Manopo (Demokrat)
7. Fanny Legoh (PDIP)
8. Bart Senduk (PKPI)

Kursi Parpol
* PDIP 13 Kursi
* Golkar 9 Kursi
* Gerindra  6 Kursi
* Demokrat  6 Kursi
* PAN  3 Kursi
* Nasdem 2 Kursi
* PKPI  2 Kursi
* PPP 1 Kursi
* Hanura 1 Kursi

* Melenggang ke Senayan:

DPD RI Utusan Sulut
1. Maya Rumantir (206.987)
2 Aryanthi Baramuli Putri (150.255)
3 Fabian Sarundajang (127.499)
4 Benny Rhamdani (94.588)

DPR RI Dapil Sulut
1 Olly Dondokambey (PDIP)
2 Vanda Sarundajang (PDIP)
3 Aditya Anugrah Moha (Golkar)
4 EE Mangindaan (Demokrat)
5 Yasti Soepredjo Mokoagow (PAN)
6 Wenny Warouw (Gerindra).(*)


Sumber: Tribun Manado 28 April 2014 hal 1

Inilah Wakil Bumi Nyiur Melambai 2014-2019

Berikut daftar nama yang lolos di senayan untuk wakili masyarakat Sulawesi Utara, Senin (28/4/2014).

DPD RI Utusan Sulut
1. Maya Rumantir (206.987)
2 Aryanthi Baramuli Putri (150.255)
3 Fabian Sarundajang (127.499)
4 Benny Rhamdani (94.588)

DPR RI Dapil Sulut
1 Olly Dondokambey (PDIP)
2 Vanda Sarundajang (PDIP)
3 Aditya Anugrah Moha (Golkar)
4 EE Mangindaan (Demokrat)
5 Yasti Soepredjo Mokoagow (PAN)
6 Wenny Warouw (Gerindra).


Sumber: Tribun Manado 28 April 2014 hal 1

Daging Kucing Paling Enak Pakai Bumbu RW

BAGI kebanyakan orang, kucing merupakan  hewan peliharaan yang lucu dan menggemaskan. Tapi bagi penggemar kuliner ekstrem,  dagingnya enak disantap Selain hobi makan daging kucing, mereka pun piawai meramu bumbu masakan hingga daging kucing nikmat disantap.

Michael Manawan, Fendy Paoh, Richi Maringka dan Youtu Sumuweng, warga Kelurahan Luaan Kecamatan Tondano Timur Kabupaten Minahasa termasuk kelompok yang doyan daging kucing.  Manawan mengatakan daging kucing paling enak jika dimasak pakai dibumbu RW dengan takaran lengkuas dan saribata agak dilebihkan. "Lengkuas dan saribata jadi bumbu khas daging kucing," ujarnya kepada Tribun Manado, Jumat (21/2/2014).

Dijelaskannya, sebelum daging kucing dibumbu, terlebih dahulu diasapi guna  menghilangkan rasa anyirnya. Lama masakannya berdurasi 45 menit "Kalau tak diasap, rasa anyirnya mengganggu cita rasa," ujar Manawan. Sumuweng menambahkan, daging kucing bisa juga dimasak dengan santan. "Rasanya juga enak," tuturnya.

Sudah lama Manawan jago memasak daging kucing, terlebih ia juga tumbuh dan besar dari keluarga koki. Ia memotong sendiri si meong, tanpa ada rasa iba dengan tampangnya yang lucu dan menggemaskan. "Kalau punya orang lain, saya berani," ujarnya.

Menurut Manawan, ada kekhasan cita rasa daging kucing dibandingkan daging hewan lainnya. Daging kucing juga diyakini bisa menyembuhkan penyakit asma. "Kucing itu berdaging putih, jadi tak akan kena darah tinggi. Berbeda dengan daging merah. Untuk kesehatan juga baik, menyembuhkan asma," jelasnya.

Setiap kali kesempatan tersedia hidangan menu daging kucing, Manawan tak mau melewatkan kesempatan emas tersebut. Apalagi untuk mendapatkan daging kucing lebih sulit dibandingkan daging hewan lainnya. "Di pasar,  jarang ada yang jualan kucing, kecuali ada yang memberi kucing untuk dimasak," tuturnya.

Berbeda dengan para koki dan pengemar daging kucing, Fabiola Kamasi merupakan wanita pencinta hewan termasuk kucing. Ia mengaku dari waktu ke waktu, rumahnya selalu ada kucing. "Selain menggemaskan, mereka juga berguna sebagai pengusir tikus. Jadi di rumah selalu ada kucing," ujarnya.


Fabiola sudah mengenal karakter hewan yang satu ini. "Kucing itu susah mati, pasti. Satu lagi mereka manja. Kalau dimarahin akan mengambek, tak mau makan dan juga buang hajat sembarangan," ujarnya

Ia pun sudah berapa kali kehilangan kucing peliharaannya. Entah apa penyebabnya, tapi kuat dugaan kehilangan tersebut untuk dijadikan santapan. "Sudah berapa kali kucing saya hilang. Itu biasanya pada kucing jantan, karena mereka sering keluar rumah, berbeda dengan kucing betina yang lebih banyak tinggal di rumah. Sebelum hilang kadang sudah ada tanda-tanda dulu. Kadang kucing saya sudah luka-luka. Mungkin sudah jadi sasaran, tapi lolos. Tapi akhirnya hilang juga," katanya.

Suatu waktu, kucing kesayangan anaknya hilang hingga anaknya  menangis berhari-hari. "Tahulah anak-anak, saat cari sudah tak ada, dia nangis berhari-hari," tutur Fabiola. Menurutnya, tak ada salahnya masyarakat punya hobi makan daging kucing. Tapi sebaiknya jangan mencuri milik orang lain. "Kalau makan hasil curian, hati-hati kena sakit," ujarnya sambil terkekeh. (finneke wolajan)

Sumber: Tribun Manado 22 Februari 2014 hal 1

Ratusan Dokter Ciumi Dokter Ayu

MANADO, TRIBUN - Usai menandatangani berita acara pembebasan, Sabtu (8/2/2014) dini hari, dokter Dewa Ayu Sasiary SpOG, dokter Hendi Siagian SpOG dan dokter Hendry Simanjuntak SpOG keluar dari Rutan Malendeng.

Namun prosesi keluarnya mereka dari rumah tahanan itu bagian dari eksekusi yang dijalankan Kejaksaan Negeri Manado atas putusan dikabulkannya Peninjauan Kembali atas vonis penjara 10 bulan kepada ketiga dokter tersebut dalam kasus malpraktik hingga menyebabkan meninggalnya pasien melahirkan, Julia Fransiska Makatey pada April 2010 silam.

Usai eksekusi bebas tersebut, ketiganya kembali masuk ke Rutan Malendeng karena harus berkemas-kemas dan pamitan kepada rekan-rekan mereka di dalam penjara.

Sabtu pagi, ratusan dokter mendatangi Rutan Malendeng. Kali ini mereka tidak lagi menggelar demo dengan berorasi karena dokter Ayu Cs sudah dibebaskan. Mereka datang untuk menjemput ketiganya.

Di antara mereka terlihat Direktur Utama RSUP Kandou Maxi Rondonuwu. Kemarin, bertepatan dengan hari ulang tahun RSUP Kandou sehingga para dokter sengaja menjemput ketiga dokter itu yang pernah bekerja di rumah sakit tersebut untuk merayakan bersama-sama.


Sebelum bertemu dokter Ayu Cs, para dokter menggelar ibadah syukur di lantai dua Rutan Malendeng. Suara merdu nyanyian rohani terdengar dan doa bersama memanjatkan puji syukur kepada Tuhan atas terbebasnya ketiga dokter itu mengemuka.

Selanjutnya dokter Ayu kali pertama keluar Rutan Malendeng dan langsung melambaikan tangan kepada para penjemputnya serta menyapa para dokter yang datang.

"Dokter lihat sini dong. Lambaikan tangan dong dok," kata sejumlah rekan sejawatnya yang hendak mengabadikan momen tersebut dengan ponsel mereka.

Kemudian disusul dokter Hendry Simanjuntak dan dokter Hendi Siagian. Suasana haru pun pecah. Dokter Ayu terlihat berkaca- kaca saat melihat sejawatnya datang. Salaman dan peluk cium pun menjadi adegan selanjutnya.

Kemudian Dirut RSUP Kandou Maxi Rondonuwu menyerahkan bunga kepada ketiga dokter itu, dan melakukan peluk cium serta foto bersama. Maxi Rondonuwu mengaku bersyukur atas keputusan PK MA yang membebaskan dokter Ayu Cs.

Maxi Rondonuwu juga menyampaikan permohonan maaf kepada keluarga almarhumah Julia Fransiska Makatey jika pelayanan pada saat itu dirasakan banyak kekurangan. "Dari lubuk hati yang paling dalam kami menyampaikan permohonan maaf sebesar-besarnya," ungkapnya.




Dokter Ayu mengaku lega bisa benar-benar keluar dari penjara dan menghirup udara bebas. "Besok (Minggu) saya pulang ke Balikpapan, naik pesawat Garuda pagi. Hari ini (kemarin) rencananya menggelar acara melepas rindu dengan kawan- kawan," ujar Ayu seraya melempar senyum.

Dia mengaku, satu hari di dalam penjara rasanya seperti setahun. Apalagi sejak ditangkap, dia sudah mendekam selama 3 bulan, sementara dua rekannya masing-masing 2,5 bulan dari vonis 10 bulan.

Hendi Siagian juga mengaku senang telah bisa keluar. Dia pun tak ingin tinggal lama di Manado dan akan pulang ke Kabupaten Sorong Provinsi Papua. Kebetulan, Hendi lahir di kabupaten tersebut dan sanak saudaranya berada di sana. "Saya tidak punya saudara di sini (Manado). Kemungkinan Senin saya akan pulang ke Sorong," katanya.

Mereka kemudian ramai-ramai ke RSUP Kandou. Di rumah sakit itu,  ketiga dokter tersebut juga menyempatkan diri mengecek kesehatannya.

Kemarin, sejak pukul 07.00 Wita, kawasan Rutan Malendeng, terlihat sudah dipenuhi kendaraan pribadi milik sejumlah dokter. Mereka memang ingin menjemput dokter Ayu Cs.

Beberapa dokter pun sempat masuk ke dalam rutan namun sebagain tak diperkenankan karena penuhnya pengunjung. Sekitar pukul 08.00 Wita, dari balik pintu gerbang Rutan Malendeng, terdengar sejumlah dokter mengadakan ibadah. Mereka pun menyanyikan lagu-lagu pujian dan mazmur. Satu di antara lagu yang dinyanyikan yakni berjudul Besar AnugerahMu. 

Ketiga dokter tersebut dan juga ratusan rekan sejawat mereka meninggalkan Rutan Malendeng sekitar pukul 09.00 Wita. Sebelumnya, Sabtu dini hari yakni sekitar pukul 00.30 Wita, ketiga dokter tersebut pun didatangi oleh petugas dari Kejari Manado. Kedatangan mereka membawa berita acara pembebasan ketiga dokter dan juga salinan petikan putusan PK MA.

Ketiga dokter tersebut pun diminta untuk menandatangani surat berita acara yang berwarna merah jambu sebanyak empat rangkap. Mereka mendatanganinya dihadapan Kepala Rutan Malendeng, Julius Paath bersama dua orang jaksa masing-masing Kasi Pidsus Kajari Manado Hotma Hutajulu serta Rommy Johanes yang merupakan jaksa penuntut ketika persoalan tersebut mulai disidangkan di PN Manado empat tahun silam. 

Untuk mengeluarkan ketiga dokter tersebut, Hotma Hutajulu pun mengorbankan waktunya bersama keluarga dan beranjak dari rumahnya di Tomohon menuju kantornya.  Dia pun menanti salinan petikan putusan PK MA sejak pukul 20.00 Wita.

"Karena informasinya salinan putusannya langsung dibawa ke Manado dengan pesawat terakhir. Makanya kami menunggu itu di kantor. Setelah dapat kami pun langsung menuju ke Rutan untuk segera mungkin melepaskan ketiga dokter itu," kata Hutajulu.

Pihak Kejari Manado pun tiba di Rutan Malendeng sekitar pukul 00.20 Wita dan kemudian menemui ketiga dokter tersebut. 

Mahkamah Agung dalam putusan Peninjauan Kembali kasus tersebut juga membebaskan dr Hendry Simanjuntak dan dr Hendy Siagian. Tiga dokter ini dinyatakan tidak menyalahi standar operasional prosedur (SOP) saat melakukan operasi terhadap Julia Fransiska Makatey.

Sebelumnya, MA berdasarkan putusan Nomor 365 K/Pid/ 2012 pada 18 September 2012, mengabulkan permohonan kasasi dari Jaksa Penuntut Umum pada Kejaksaan Negeri Manado dan membatalkan putusan Pengadilan Negeri Manado Nomor 90/PID.B/2011/PN.MDO tanggal 22 September 2011.

Selain itu, MA juga menyatakan para terdakwa: dr Dewa Ayu Sasiary Prawani (Terdakwa I), dr Hendry Simanjuntak (Terdakwa II) dan dr Hendy Siagian (Terdakwa III) telah terbukti secara sah dan meyakinkan bersalah melakukan tindak pidana 'perbuatan yang karena kealpaannya menyebabkan matinya orang lain'.

Ketiga dokter tersebut dijatuhi hukuman pidana penjara masing-masing selama 10 bulan.

Terkait putusan bebas ini, keluarga Julia Fransiska Maketey berencana akan melayangkan surat kepada Presiden Susilo Bambang Yudhoyono. (kev/fer/def/alp)



Dokter Edly Paat: Ringankan Pasien

DIKABULKANNYA Peninjauan Kembali permohonan dokter Dewa Ayu Sasiary SpOG dan kawan-kawan oleh Mahkamah Agung juga disambut suka cita rekan sejawatnya, dokter Edly Paat.

Pengurus Palang Merah Indonesia Sulawesi Utara yang Sabtu (8/2) tengah sibuk menangani pascabencana banjir bandang menyatakan putusan ini menunjukkan bahwa dokter Ayu Cs menangani operasi terhadap pasien melahirkan Julia Fransiska Maketey pada April 2010 silam sudah sesuai prosedur operasional.

"Pada prinsipnya tidak melanggar prosedur. Pembebasan dokter Ayu dan kawan-kawan tentu kami sambut senang karena kebenaran dapat dibuktikan," ujarnya.

Putusan bebas ini, kata dia, oleh sebagian masyarakat dibilang bahwa dokter itu kebal hukum, padahal semua warga sama kedudukannya di mata hukum.

Menurut Direktur Unit Donor Darah PMI ini, banyak juga dokter bila terbukti bersalah tetap masuk penjara juga.

"Istilah kebal hukum itu tidak ada. Dia (dr Ayu) bekerja sesuai dengan SOP dan tidak melanggar kode etiknya," kata istri dokter Royke Rattu SpOG ini.

Dokter Edly menambahkan, kejadian yang menimpa dokter Ayu Cs memberikan hal positif dan juga negatif. Positifnya adalah, para dokter akan menjadi lebih berhati-hati dalam bekerja. Namun negatifnya, bisa saja saking berhati-hati, malah merugikan pasien.

"Kita berusaha meringankan pasien, namun tetap saja bisa muncul risiko," ujar ibu dari Cintami dan Raynaldy ini. (def)

Jemmy Waleleng Pun Tersenyum

KETUA Ikatan Dokter Indonesia Sulawesi Utara, dokter Jemmy Waleleng mengaku tersenyum lega karena permohonan Peninjauan Kembali dokter Dewa Ayu Sasiary dan kawan- kawan dikabulkan Mahkamah Agung.

"Pakar hukum kesehatan serta ahli hukum menyatakan bahwa profesi dokter itu membantu pasien serta melayani masyarakat, bukan untuk mencederai," kata dokter Jemmy, Sabtu (8/2).

Jadi prinsipnya, kata dia, tugas dan fungsi dokter adalah untuk menolong pasien, bukan mencelakakan pasien.

"Dokter menawarkan usaha atau upaya, tapi tidak menjanjikan kesembuhan. Misalnya pada keadaan risiko tertentu dimana dalam situasi 50:50, jelas dokter tidak ingin pasien terkena risiko. Dokter itu sangat senang jika pasien itu sembuh. Jadi tidak ada dokter yang mengingikan pasiennya itu tidak sembuh," jelasnya.

Jemmy pun mengaku bersyukur dan berterima kasih karena apa yang diperjuangkan membuahkan hasil. Ini bukti bahwa apa yang dilakukan dokter Ayu dan kawan-kawan sudah sesuai dengan standar operasional dan prosedur.

"Jika tidak sesuai prosedur dan menyalahi aturan, maka tidak mungkin semua dokter di Indonesia sampai melakukan aksi keperihatinan," tutur dokter Jemmy.

Jemmy melanjutkan, profesi dokter dan masyarakat itu adalah mitra yang memiliki hubungan sangat dekat. Dia mencontohkan bahwa pasien mencari seorang dokter untuk minta tolong, maka pasien tersebut mencari dokter yang ia percaya untuk mengobatinya.

"Ketika dokter menangani pasien dan dalam situasi operasi sudah sesuai dengan prosedur dan sesuai alat ukurnya, jika kemudian tidak sukses, maka bukan berarti dokter itu sengaja. Memang ada hal tertentu yang merupakan risiko medis dalam melakukan tindakan dimana saat tertentu itu jika hasilnya tidak sesuai yang diharapkan maka tidak bisa diterjemahkan sebagai malpraktik," jelasnya.

"Selama ini para dokter melakukan tindakan atau penanganan pasien kadang-kadang jika tidak sukses respons masyarakat mengatakan malpraktik. Tidak mungkin dokter melakukan tindakan tanpa dasar teori dan ukuran. Dengan adanya kejadian ini keuntungan ada pada masyarakat dan pemerintah artinya para dokter bekerja dengan tenang, karena apa yang telah diupayakan telah maksimal dan mendapat perlindungan hukum," tandasnya. (kel)

Sumber: Tribun Manado 9 Februari 2014 hal 1

Dokter Ayu Loncat-loncat Senang

MANADO, TRIBUN - Jumat (7/2/2014) menjelang sore menjadi hari paling membahagiakan bagi Dokter Ayu Sasiary Prawani SpOG. Terpidana 10 bulan kasus malpraktik operasi terhadap pasien melahirkan Julia Fransiska Makatey hingga meninggal dunia itu akhirnya dibebaskan.

Mahkamah Agung dalam putusan Peninjauan Kembali kasus tersebut juga membebaskan dr Hendry Simanjuntak dan dr Hendy Siagian. Tiga dokter ini dinyatakan tidak menyalahi standar operasional prosedur (SOP) saat melakukan operasi terhadap Julia Fransiska Makatey.

"Perkara PK (peninjauan kembali) atas nama terpidana dr Ayu dan kawan-kawan sudah diputus. Pada pokoknya mengabulkan PK para terpidana pemohon PK. Membatalkan putusan judex juris (pengadilan sebelumnya, majelis kasasi MA)," kata Kepala Biro Hukum dan Humas MA Ridwan Mansyur, di Jakarta, Jumat (7/2).

Ia mengatakan, majelis PK menilai putusan Pengadilan Negeri (PN) Manado yang membebaskan tiga terpidana itu sudah tepat. Dasar pertimbangan yang digunakan majelis, kata Ridwan, tiga dokter spesialis itu tidak menyalahi prosedur dalam penanganan operasi cieto ciseria.

"Pertimbangan judex facti PN sudah tepat dan benar. Karenanya, majelis memerintah segera mengeluarkan para terpidana dari LP, memulihkan nama baik, dan harkat martabat ketiga pemohon PK," kata Ridwan.

Putusan tersebut dibacakan kemarin dengan Hakim M Saleh sebagai ketua majelis. Anggota majelis PK adalah Surya Jaya, Maruap Dohmatiga Pasaribu, Syarifudin, dan Margono. Hakim Agung Surya Jaya mengajukan pendapat berbeda (dissenting opinion) dalam perkara itu.

Dokter Ayu kali pertama mendengar kabar ini dari Tribun Manado yang mendatanginya di Rutan Malendeng. Ketika mendengar dia dinyatakan tidak bersalah dan segera dibebaskan, dokter Ayu yang saat itu bertemu Tribun Manado di luar sel langsung loncat-loncat kegirangan.

Dia tak henti-henti bersyukur dan terus mengumbar senyum. Dia memanjatkan doa dan selanjutnya melayani wawancara dengan Tribun Manado.

"Perasaan saya tentu sangat bahagia. Senang bersyukur kepada Tuhan, doa saya dan teman-teman dokter sejawat serta keluarga terkabul," katanya dengan penuh ceria.

Setelah bebas, dia mengaku akan kembali menjalani profesi sebagai dokter kebidanan dan kandungan. Dia juga berharap nama baiknya dipulihkan sehingga masyarakat bisa menerimanya kembali.



"Awalnya saya tidak percaya, setelah mengetahui (putusan dari Tribun Manado), kami memang tidak bersalah dan kami memang bertugas dengan betul. Saya mengucap syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa karena di dunia ini masih ada keadilan," ujarnya.

Dia pun menyampaikan ucapan terima kasih kepada Mahkamah Agung karena telah mengabulkan permohonan PK. "Saya tetap bertugas sebagai dokter spesialis kandungan di Balikpapan," ujar Ayu.

Sementara itu, dokter Hendi dan dokter Hendry ketika mendengar informasi dari Tribun Manado atas dikabulkannya PK, langsung terisk Yes... yes sambil mengepalkan tangannya.

Dokter Hendry Simanjuntak mengaku sangat bersyukur dan berharap nama baiknya segara dipulihkan karena akan kembali beraktivitas sebagai dokter kebidanan dan kandungan.  Dia sendiri belum memberi tahu keluarga kalau sudah dinyatakan bebas oleh MA.

"Kami tetap akan terus berhati-hati, standar prosedur penanganan pasien kami jalankan, bekerja sesuai keahlian kami. Peristiwa ini tidak akan mengakibatkan saya trauma, karena saya selalu berusaha bekerja lebih baik dari kemarin," ungkapnya.

"Kami berharap bisa segera pulang, karena kami mempunyai keluarga dengan penderitaan dan kami bertanggung jawab kepada pasien-pasien. Mudah-mudahan kami bisa pulang, karena kami rindu keluarga kami," ujarnya lagi.

Jika kita berserah kepada Tuhan, lanjutnya, semua akan baik. Secara ajaib menurut dia, keputusan bisa berubah, kebenaran dan keadilan bisa didapatkan. Walaupun mereka memenjarakan tubuh, kata dia, tapi jiwa kedokteran tidak bisa dipisahkan dari mereka.

Dokter Ayu dan kawan-kawan mengaku, sehari di dalam rutan rasanya seperti setahun. Sejak ditangkap, dokter Ayu sudah merasakan sempitnya penjara selama 3 bulan. Sedang dokter Hendi dan dokter Hendry merasakan 2,5 bulan hidup di penjara.

"Terima kasih kepada dosen kami dan teman-teman sejawat kami. Dengan adanya kejadian ini jangan sampai ada kriminalisasi lagi. Kami tidak kebal hukum, tapi kami taat hukum," tandas dokter Hendry.

Sebelumnya, MA berdasarkan putusan Nomor 365 K/Pid/ 2012 pada 18 September 2012, mengabulkan permohonan kasasi dari Jaksa Penuntut Umum pada Kejaksaan Negeri Manado dan membatalkan putusan Pengadilan Negeri Manado Nomor 90/PID.B/2011/PN.MDO tanggal 22 September 2011.

Selain itu, MA juga menyatakan para terdakwa: dr Dewa Ayu Sasiary Prawani (Terdakwa I), dr Hendry Simanjuntak (Terdakwa II) dan dr Hendy Siagian (Terdakwa III) telah terbukti secara sah dan meyakinkan bersalah melakukan tindak pidana 'perbuatan yang karena kealpaannya menyebabkan matinya orang lain'.

Ketiga dokter tersebut dijatuhi hukuman pidana penjara masing-masing selama 10 bulan.

Mereka sebelumnya masuk dalam daftar pencarian orang (DPO), pascaputusan kasasi yang telah berkekuatan hukum tetap dari majelis kasasi Mahkamah Agung (MA). Adalah Hakim Agung Artidjo Alkostar, Dudu Duswara dan Sofyan Sitompul yang menjatuhi para dokter itu vonis bersalah.

Penahanan dokter Ayu dan kawan-kawan sempat memantik demonstrasi nasional dan aksi mogok di rumah sakit dan tempat praktik.

Ketiga dokter sebelumnya bertugas di RSUP Kandou Manado dan menangani pasien melahirkan Julia Fransiska Makatey yang kemudian meninggal pada April 2010 silam. (fer)


Keluarga Julia Kaget
PUTUSAN dikabulkannya permohonan Peninjauan Kembali yang diajukan terpidana 10 bulan penjara kasus malpraktik dokter Ayu Sasiary Prawani SpOG dan kawan-kawan ke Mahkamah Agung mengagetkan keluarga korban, mendiang Julia Fransiska Makatey.

Pendamping keluarga korban, Jull Takaliuang kepada Tribun Manado, Jumat (7/2) mengaku, pihaknya dan keluarga korban kaget atas beredarnya informasi vonis bebas dokter Ayu dan kawan-kawan tersebut.

"Yang pasti kaget. Tapi pihak keluarga akan
menunggu amar putusan resminya (dari MA). Kalau sekarang sudah santer beredar di media, kan itu bukan bukti hukum," ungkap Takaliuang yang juga Ketua Komda Perlindungan Anak Sulawesi Utara ini.

Yang pasti menurut Takaliuang, selama surat resmi belum dikantongi pihak keluarga, maka para terpidana masih menjalani masa hukuman.

"Karena ini menyangkut hukum, semua harus sesuai dengan norma hukum, termasuk soal mengeluarkan para dokter dari (Rutan) Malendeng juga harus sesuai dengan prosedur hukum. Bukan sekonyong-konyong berdasarkan berita online atau TV," katanya.
Sementara itu, Kejaksaan Negeri Manado belum bersedia mengomentari soal Putusan PK Mahkamah Agung tersebut,

Kasi Pidsus Kejari Manado, Hotma Hutajulu yang juga ketua tim penjemput para terpidana itu mengaku masih menunggu petunjuk dari Kepala Kejari Manado. "No comment dulu yah karena kami masih menunggu petunjuk pimpinan," kata Hutajulu kepada kepada Tribun Manado, Jumat (7/2). 

Hutajulu sendiri memang sudah mengetahui kabar mengenai putusan tersebut. Dirinya juga ikut menginformasikan mengenai keluarnya putusan tersebut.

Sementara itu, Jaksa Rommy Johanes SH yang merupakan penuntut saat sidang di Pengadilan Negeri (PN) Manado saat dikonfirmasi juga belum bisa memberikan komentar banyak.

Kata dia, pihaknya hingga saat ini belum juga menerima putusan tersebut. "Kami kan belum terima putusannya. Lihat saja belum salinan putusannya," ungkapnya.

Upaya hukum terakhir yang dilakukan dr Ayu Sasiary SpOG, dr Hendi Siagian SpOG dan dr Hendry Simanjuntak, SpOG dengan mengajukan Peninjauan Kembali (PK) ke Mahkamah Agung (MA), dikabulkan oleh Hakim MA dalam sidang Jumat (7/2).

Dengan demikian, dr Ayu Cs bisa menghirup udara bebas. Putusan MA tersebut menyatakan SOP dalam menangani operasi cieto cisaria terhadap pasien Julia Fransiska Makatey tidak menyalahi aturan, dan memerintahkan agar para terpidana dikeluarkan dari lembaga pemasyarakatan serta memulihkan nama baik terpidana.

Terkait putusan tersebut, pihak Kakanwil Kementrian Hukum dan HAM Sulut, melalui Plt Kepala Divisi Pemasyarakatan (Kadiv Pas) Basuki Wijoyo mengatakan, putusan MA tidak diserahkan ke Kanwilkumham, namun langsung ke Rutan Malendeng.

"Kalau itu bukan wewenang kami, biasanya langsung ke rutan. Tapi setahu kami itu ada prosedurnya," jelasnya. (dit/kev)

Sumber: Tribun Manado 8 Februari 2014 hal 1

Pencarian Korban Sitaro Dihentikan

SIAU, TRIBUN  - Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Kepulauan Siau, Tagulandang, Biaro (Sitaro) Provinsi Sulawesi Utara resmi menghentikan pencarian terhadap 31 korban hilang akibat puting beliung Sabtu pekan lalu.

Hal ini berdasarkan kesepakatan dengan pihak keluarga korban yang sebagian besar tinggal di Desa Nameng, Kecamatan Siau Barat Utara. Demikian Kabag Humas dan Protokoler Pemkab Sitaro James Marthin kepada Tribun Manado, Jumat (31/1/2014).

"Bupati dan jajaran pimpinan Pemkab Sitaro menghadiri ibadah pemakaman di Nameng tadi siang dan sejak hari ini Pemkab menghentikan proses evakuasi berdasarkan kesepakatan dengan keluarga-keluarga korban," ujarnya.

Ia menjelaskan, sejak bencana itu terjadi Sabtu (25/1), Bupati Sitaro Tonny Supit setiap hari ke lokasi kejadian yaitu di dermaga Desa Nameng. Bahkan bupati  ikut mencari para korban bersama tim gabungan Basarnas, TNI, Polri dan masyarakat.

"Bupati  selalu mendampingi keluarga korban. Keputusan untuk ibadah pemakaman hari ini juga berdasarkan permintaan dari keluarga korban," katanya.
Usai ibadah kemarin,  kata,  James, Pemkab Sitaro  resmi menghentikan pencarian tetapi jika ada relawan yang mau melakukan pencarian dipersilahkan. "Lokasi bencana sangat sulit. Terlalu beresiko untuk evakuasi karena kemungkinan besar para korban tertimbun material padat dan ada di dasar laut," ujarnya.

Sekretaris Dinas Perhubungan Komunikasi dan Informatika Kabupaten Sitaro Gandha Mulalinda menambahkan,  banyak pejabat Sitaro yang ikut ibadah di Nameng. "Banyak yang hadir dan sampai sore masih ada di lokasi kejadian," katanya. Ia mengatakan, keluarga korban sudah ikhlas. "Para korban tertimbun material di dasar laut  berupa palung. Arus masih deras jadi sangat berbahaya  untuk menyelam mencari para korban," ujarnya.

Seperti diwartakan sebelumnya,  Sabtu (25/1) pagi,  puluhan warga Desa Nameng, Siau turun dari kampung mereka menuju dermaga di pantai antara Desa Nameng dan Bukide. Mereka hendak ke Pasar Ulu Siau menggunakan perahu motor. Sekitar pukul 09.00 Wita saat ABK perahu masih menunggu kedatangan seorang penumpang, hujan turun di wilayah itu disertai angin kencang.

Menurut saksi mata, angin puting beliung yang datang tiba-tiba membuat air laut seperti terangkat ke atas lalu terhempas di atas sela-sela lereng perkampungan di pantai itu. Air kembali tercurah dari lereng ke arah laut, berubah seperti banjir bandang yang menghantam perahu di pantai. Perahu terguling, tercabik-cabik. Para penumpang diterjang air bah bercampur material  batu, pasir dan kayu. Sebagian besar penumpang terhempas ke laut dan sebagian tertimbun material longsoran dari perkampungan. Hingga kini baru tiga korban tewas yang ditemukan, sedangkan lima korban yang terluka menjalani perawatan di RSUP Kandou Manado .(dit)

Sumber: Tribun Manado 1 Februari 2014 hal 1

Korban Nameng Tertimbun Material Setebal 5 Meter

SIAU, TRIBUN - Tim gabungan Basarnas, TNI, Polri, Pemkab Sitaro dan masyarakat telah berhasil mengidentifikasi posisi para korban banjir bandang di Desa Nameng Kecamatan Siau Barat Utara (Sibaru), Kabupaten Sitaro, Kamis (30/1/2014). Diperkirakan 31 korban tertimbun material batu setebal kira-kira 5 meter di kedalaman lebih dari 20 meter di dasar laut.

"Diperkirakan perahu itu terbalik dan menutupi penumpang (para korban). Lalu dalam posisi itu, ada material tanah keras, kayu dan batu tertimbun  di atasnya dengan ketebalan sekitar 5 meter di di kedalaman lebih dari 20 meter di dasar laut. Jelas evakuasi sangat sulit," kata Sekretaris Dinas Perhubungan Komunikasi dan Informatika Kabupaten Sitaro, Gandha Mulalinda, Kamis (30/1).

Menurut Gandha sejumlah keluarga korban sudah menemui pemerintah setempat menyatakan pasrah jika memang kondisinya demikian. " Jika hingga hari terakhir batas rencana pencarian belum juga ditemukan, maka sesuai kesepakatan bersama dengan keluarga korban akan dilaksanakan ibadah di tempat kejadian," tuturnya.

Senada diutarakan Kabag Humas dan Protokoler Pemkab Sitaro James Marthin. Disebutkannya, batas pencarian yang disepakati keluarga adalah tiga hari. Hari  ini sebelum jam 1 siang akan dilakukan ibadah pemakaman di lokasi kejadian dihadiri keluarga korban, masyarakat dan Bupati Sitaro Tony Supit serta jajarannya.

Menurut James, keluarga korban sudah ikhlaskan bahwa mereka yang hilang telah terkubur di dasar laut di perairan Desa Nameng. "Mereka sudah terkubur di bawah laut karena memang faktanya seperti itu. Keluarga korban sudah pasrah," ujarnya. James menuturkan sambutan Bupati Sitaro Tony Supit untuk ibadah pemacakam itu  sudah disiapkan. "Sebelum jam satu siang besok (hari ini) ibadah pemakaman akan dilakukan bersama-sama di lokasi bencana," katanya.

Dihubungi Kamis (30/1), Kapolres Sangihe, AKBP Sumitro mengakui pencarian serta proses evakuasi korban belum membuahkan hasil.  "Belum dapat. Kami masih berupaya," kata  Sumitro. Diakuinya,  pencarian masih berlanjut hari ini,  Jumat (31/1). Ia menjelaskan, tim sudah menurunkan penyelam dari Pol Air,  TNI AL dan Basarnas serta warga setempat.

Agenda hari ini, kata kapolres, tim  gabungan bersama masyarakat akan melakukan tabur bunga di lokasi kejadian dan doa bersama.  "Mudah-mudahan ada hasil setelah acara tabur bunga dan doa bersama," kata. Saat ditanya apakah tim penyelam harus ditambah, Sumitro mengatakan personel yang ada sudah cukup.

Kalau  ditambah, belum bisa menjadi patokan bisa berhasil karena cuaca yang tidak bersahabat serta medan berat. "Ombaknya sangat kuat. Biar diturunkan 2.000 orang belum tentu mendapatkan hasil maksimal. Kita berharap saja setelah tabur bunga dan doa bersama ada hasil," tuturnya. Sampai kapan pencarian dilakukan? "Itu tergantung keputusan dari tim. Tapi walaupun pencarian dihentikan, kami akan memonitor terus. Bisa saja waktu pencarian dihentikan lalu tiba-tiba ada penemuan mayat," demikian Sumitro.

Seperti diwartakan sebelumnya,  Sabtu (25/1) pagi,  puluhan warga Desa Nameng, Siau turun dari kampung mereka menuju dermaga di pantai antara Desa Nameng dan Bukide. Mereka hendak ke Pasar Ulu Siau menggunakan perahu motor. Sekitar pukul 09.00 Wita saat ABK perahu masih menunggu kedatangan seorang penumpang, hujan turun di wilayah itu disertai angin kencang.

Menurut saksi mata, angin puting beliung yang datang tiba-tiba membuat air laut seperti terangkat ke atas lalu terhempas di atas sela-sela lereng perkampungan di pantai itu. Air kembali tercurah dari lereng ke arah laut, berubah seperti banjir bandang yang menghantam perahu di pantai. Perahu terguling, tercabik-cabik. Para penumpang diterjang air bah bercampur material  batu, pasir dan kayu. Sebagian besar penumpang terhempas ke laut dan sebagian tertimbun material longsoran dari perkampungan. Hingga kini baru tiga korban tewas yang ditemukan.(dit/kev)

Sumber: Tribun Manado 31 Januari 2014 hal 1

Keluarga Korban Sitaro Mulai Pasrah

SIAU, TRIBUN - Pasrah!  Itulah kata yang diutarakan James Marthin tentang suasana batin keluarga korban bencana di Desa Nameng, Kecamatan Siau Barat Utara Kabupaten Sitaro. James, Kepala Bagian Humas dan Protokoler Pemkab Sitaro mengakui keluarga mulai pasrah karena hingga hari Rabu (29/1/2014), pencarian para korban yang diduga tertimbun material longsoran di dasar laut  belum membuahkan hasil.

"Sebagian besar keluarga korban mengaku sudah pasrah. Ada yang sudah meminta untuk cari waktu ibadah adat pemakaman bersama di lokasi bencana ini. Pemerintah tentu siap memfasilitasi. Tapi pemerintah tidak mau memaksakan kehendak. Kita masih berusaha mencari sampai hari ini," ungkap James dengan suara agak parau kepada Tribun Manado, Rabu (29/1)

James mengatakan, ia selalu berada di lokasi bahkan dalam kondisi hujan deras bersama Bupati Sitaro Tonny Supit. Mereka  berangkat ke lokasi bencana  di Nameng dengan mengunakan sepeda motor. "Kalau lewat darat  lebih aman karena di laut ombak kencang. Tapi harus lanjut jalan kaki karena ke desa ini belum ada jalan untuk kendaraan," katanya.

Diakuinya, sampai kemarin Tim Basarnas Manado masih berada di lokasi bencana dan mempelajari strategi evakuasi yang efektif. Posisi perairan Nameng yang berupa palung  sangat menyulitkan penyelam profesional sekalipun. "Arus deras, ombak kuat. Jadi mau menyelam risiko nyawa. Kemungkinan besar mereka (para korban) tertimbun perahu yang terbalik dan tertindih batu. Jadi batu-batu ini harus diangkat dulu dan sepertinya butuh 200 sampai 300 penyelam karena menurut Basarnas timbunan batu dari longsor itu sangat banyak," jelasnya.

James mengucapkan terima kasih kepada Wakil Gubernur Sulut Djouhari Kansil yang telah mengunjungi para korban selamat yang kini dirawat di RSUP  Prof Kandou Malalayang Manado.  "Terima kasih kepada Pak Wagub yang memperhatikan dan menguatkan para korban selamat di Manado. Karena memang keluarga sangat terpukul apalagi ada yang satu keluarga terpisah karena yang lain selamat dan yang lain tidak ditemukan," katanya.


Dilanjutkan Hari Ini
Kapolres Sangihe AKBP Sumitro  yang dihubungi secara terpisah, Rabu (29/1), mengungkapkan pencarian terhadap 31 warga Nameng akan berlanjut hari ini. "Pencarian hari ini (kemarin, Red) kami hentikan jam empat sore tadi," katanya.
Diakuinya, tim gabungan Basarnas, Polri, TNI,  Pemkab Sitaro serta masyarakat belum berhasil menemukan korban. Kata dia, hingga saat ini tercatat 31 orang yang dinyatakan hilang akibat musibah tersebut.

Dalam pencarian itu, kata Sumitro, Polres Sangihe menurunkan 30 orang personel. Mereka dibantu Direktorat Pol Air Polda Sulut dengan menurunkan 1 unit kapal dan  tim penyelam.  Sumitro juga menyebut beratnya medan serta cuaca buruk menyulitkan tim gabungan melakukan pencarian. Dia  memprediksi korban tertimbun material berupa pohon, batu dan tanah. Apakah ada kemungkinan terseret ke laut? Sumitro belum bisa memastikannya. "Tapi jika benar, biasanya jenazahnya akan mengapung. Tapi hingga saat ini belum ada tanda-tanda. Yang pasti kami masih melakukan pencarian," tandasnya.

Seperti diwartakan sebelumnya,  Sabtu (25/1) pagi,  puluhan warga Desa Nameng, Siau turun dari kampung mereka menuju dermaga di pantai antara Desa Nameng dan Bukide. Mereka hendak ke Pasar Ulu Siau menggunakan perahu motor. Sekitar pukul 09.00 Wita saat ABK perahu masih menunggu kedatangan seorang penumpang, hujan turun di wilayah itu disertai angin kencang.

Menurut saksi mata, angin puting beliung yang datang tiba-tiba membuat air laut seperti terangkat ke atas lalu terhempas di atas sela-sela lereng perkampungan di pantai itu. Air kembali tercurah dari lereng ke arah laut, berubah seperti banjir bandang yang menghantam perahu di pantai. Perahu terguling, tercabik-cabik. Para penumpang diterjang air bah bercampur material  batu, pasir dan kayu. Sebagian besar penumpang terhempas ke laut dan sebagian tertimbun material longsoran dari perkampungan. Hingga kini baru tiga korban tewas yang ditemukan.(dit/kev)

Sumber: Tribun Manado 30 Januari 2014 hal 1

Sepotong Kayu Selamatkan Nyawa Sunce

MANADO, TRIBUN  - Mata kanannya memar dan tertutup akibat pembengkakan. Sesekali Sunce Mogabe (46) terlihat kesakitan saat batuk akibat tulang rusuk kanannya patah. Meski begitu,  Sunce masih bisa berbicara dan berharap suaminya yang hilang bersama 30 warga Desa Nameng Kecamatan Siau Barat Utara Kabupaten Sitaro lainnya, segera ditemukan tim penolong.

Sunce menjalani perawatan  di Rumah Sakit Umum Pusat (RSUP) Prof Dr Kandou Malalayang Manado, tepatnya ruang kelas II. Selain Sunce, ada dua korban lainnya terbaring lemah di sana yakni  Respin Maliku (36) dan Regina Sidangoli (14). Regina dan Respin pun berusaha menahan sakit akibat luka patah tulang.

Respin Muliku alami patah tulang pada kaki kanan serta beberapa tulang rusuknya patah. Punggungnya mengalami luka cukup besar. Goresan-goresan akibat terpental dari atas perahu saat kejadian, Sabtu (25/1/2014), masih terlihat di tubuh perempuan itu.

Sambil menahan sakit, Sunce menceritakan pengalamannya saat terhempas dari perahu di Desa Nameng Sabtu lalu. Menurut Sunce, dia selamat dari maut berkat sepotong kayu yang dia raih di dekat kapal yang dihantam air bah. "Saya pegang sepotong kayu dan berusaha merangkak lalu orang-orang yang melihat langsung membawa saya ke darat," katanya.

Menurutnya, ketika dia dan puluhan penumpang sedang menunggu penumpang lainnya akan naik ke kapal, tiba-tiba terdengar bunyi gemuruh dari arah darat. Dalam hitungan detik, air bah dari arah perkampungan  itu menghantam perahu. Semua penumpang terpental ke lautan. Sunce sedih karena suaminya  Jonathan Manope (44) dan penumpang lain belum ditemukan.  "Mudah-mudahan bisa ditemukan meski hanya jasadnya," kata Sunce dengan suara lirih.

Korban lain yang kini dirawat di RSUP Kandou adalah Steven Mananohas (28).  Ketika ditemui kemarin, Steven yang ditemani sang ibu mengatakan, tangannya patah karena terbentur batu. Steven hanya sempat melihat penumpang lain digulung air bah.  "Pokoknya yang saya lihat angin berputar kencang dan air berwarna cokelat seperti tanah  bercampur batu. Tidak tahu lagi apa yang terjadi. Saya hanya sempat melihat orang-orang yang ada di perahu tergulung-gulung," kata Steven
yang diselamatkan orang di sekitar TKP. Dia berharap, semua penumpang bisa ditemukan. "Kemungkinan mereka semua tidak selamat. Tapi saya berharap mereka bisa ditemukan," kata Steven.

Sementara itu pencarian terhadap korban hilang akibat banjir bandang di Kabupaten Siau Tagulandang Biaro (Sitaro), belum mengalami perkembangan. Jumlah korban ditemukan tidak bertambah saat pencarian, Selasa (28/1). Kapolres Sangihe, AKBP Sumitro mengatakan,  tim gabungan Basarnas,TNI,Polri dan masyarakat melakukan penyisiran di pantai dekat dermaga antara Desa Nameng dan Bukide. "Hari ini kita masih melakukan pencaharian di sekitar TKP," kata Sumitro,  Selasa (28/1).

Ia mengatakan, tim penyelamat  akan terus melakukan pencaharian  hingga 10 hari ke depan. "Kedalaman  air di lokasi kejadian sekitar 12-15 meter dan banyak material yang diduga  menimbun para korban," tambah Sumitro.

Seperti diwartakan sebelumnya,  Sabtu (25/1) pagi puluhan warga Desa Nameng, Siau turun dari kampung mereka menuju dermaga di pantai antara Desa Nameng dan Bukide. Mereka hendak ke Pasar Ulu Siau menggunakan perahu motor. Sekitar pukul 09.00 Wita saat ABK perahu masih menunggu kedatangan seorang penumpang, hujan turun di wilayah itu disertai angin kencang.

Menurut saksi mata, angin puting beliung yang datang tiba-tiba membuat air laut seperti terangkat ke atas lalu terhempas di atas sela-sela lereng perkampungan di pantai itu. Air kembali tercurah dari lereng ke arah laut, berubah seperti banjir bandang yang menghantam perahu di pantai. Perahu terguling, tercabik-cabik. Para penumpang diterjang air bah bercampur material  batu, pasir dan kayu. Sebagian besar penumpang terhempas ke laut dan sebagian tertimbun material longsoran dari perkampungan. Hingga kini baru tiga korban tewas yang ditemukan sementara 31 lainnya dalam pencarian. (rik/def)

Sumber: Tribun Manado 29 Januari 2014 hal 1

Regina Berharap Ibunya Selamat

SIAU, TRIBUN - Lima korban bencana alam di Nameng, Kecamatan Siau Barat Utara Kabupaten Kepulauan Siau, Tagulandang, Biaro (Sitaro), Sabtu (25/1/2014), sejak kemarin dirawat di Rumah Sakit Umum Pusat (RSUP)  Prof Kandou Manado. Mereka mengalami patah tulang kaki dan tangan. Satu korban menjalani operasi.

Kepada Tribun Manado, Regina Sidangoli (14) mengatakan, peristiwa itu terjadi begitu mendadak sehingga banyak orang  tidak sempat menyelamatkan diri. "Waktu kejadian saya bersama ibu dan paman sudah berada di atas kapal. Tiba-tiba banjir bandang menerjang perahu. Saya berlari ke bagian belakang kapal. Selanjutnya saya terhempas ke laut dan tangan saya sebelah kiri patah," ujarnya.

Regina kehilangan ibu dan pamannya yang sampai saat ini belum ditemukan. "Semoga mereka ditemukan," tutur Regina dengan raut wajah sedih dan takut. 
Fine, anggota keluarga korban menyatakan, tempat kejadian itu adalah sungai kering. "Angin puting beliung yang mencurahkan air di atas gunung kemudian turun di sungai kering. Curahan air laut itu berubah jadi banjir bandang yang menghantam kapal yang akan berangkat ke pasar," kata Fine.

Miranda,  anak dari korban selamat Respin Muliku menuturkan, ibu dan kedua kakaknya menjadi korban. "Semoga mereka selamat dan segera ditemukan," tutur Miranda.  "Saat kejadian saya berada di rumah dan ayah bekerja di Gorontalo. Jika tidak ada halangan ayah akan sampai di Manado malam ini," ujarnya.

Kelima korban selamat yang mengalami luka-luka itu diangkut dengan KM Terasanta dari Siau. Kapal tiba di Pelabuhan Manado, Senin (27/1) subuh. Para korban langsung dilarikan ke RS Kandou bersama dokter pendamping dari Sitaro. 
Sementara itu pencarian terhadap korban banjir bandang di Desa Nameng masih belanjut hingga Senin (27/1). Pencarian dilakukan tim gabungan  Polres Sangihe, TNI, Basarnas, aparat Pemkab Sitaro dan masyarakat setempat.

Kendala Cuaca Buruk
Polres Sangihe dan Pemkab Sitaro mengoreksi data korban yang hilang bukan hanya 26  orang tetapi 31 orang. Sedangkan korban yang tewas yang sudah ditemukan  akibat bencana tersebut 3 orang. "Tadi sekitar jam tiga sore (pukul 15.00 Wita) satu orang ditemukan bernama Adunikam Sidangoli," kata Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten  Sitaro yang juga Asiten II Pemkab Sitaro, Herry Lano SE MM kepada Tribun Manado, Senin (27/1) sore. Sehari sebelumnya, kata dia, ada dua korban yang ditemukan tewas.

Herry menjelaskan,  Adunikam Sidangoli ditemukan tim gabungan saat menarik sebuah pohon yang tumbang. Saat pohon tersebut bergeser, jenazah dari Sidangoli  muncul. Herry mengakui, pada hari pertama musibah itu jumlah korban masih simpang siur.  Mereka pun mencari informasi ke warga dan terungkap sementara ada 41 orang yang menjadi penumpang dari dua kapal yang diterjang banjir curah pada Sabtu (25/1) pagi.

Korban yang selamat dan mengalami luka sampai saat ini berjumlah tujuh orang. Lima di antaranya mengalami patah tulang dan sudah dirujuk ke RSUP Prof Kandou Malalayang Manado. Herry mengakui upaya pencarian korban sangat sulit karena cuaca yang tidak bersahabat. "Ombak masih sangat kuat," ungkapnya.

Kapolres Sangihe, AKBP Sumitro mengatakan tim gabungan melakukan pencarian sejak pukul 07.00 Wita, Senin (27/1). Tim gabungan akan mencari korban selama satu minggu. Dia yakin tim akan menemukan korban. Berdasarkan pengalaman, kata dia, korban yang terseret arus laut akan terapung setelah dua atau tiga hari pasca kejadian.

"Ini sudah hari ketiga. Kami masih melihat situasi. Kalau belum ditemukan, maka kemungkinan tertimbun material di dasar laut. Setelah dihitung,  kedalaman air sekitar  12 meter di lokasi kejadian itu," tambah Sumitro.

Seperti diwartakan sebelumnya,  Sabtu (25/1) pagi puluhan warga Desa Nameng, Siau turun dari kampung mereka menuju dermaga di pantai antara Desa Nameng dan Bukide. Mereka hendak ke Pasar Ulu Siau menggunakan perahu motor. Sekitar pukul 09.00 Wita saat ABK perahu masih menunggu kedatangan seorang penumpang tujuan Ulu,  hujan turun di wilayah itu disertai angin kencang.

Menurut saksi mata,  angin kencang mirip puting beliung yang datang tiba-tiba membuat air laut seperti terangkat ke atas lalu  terhempas di atas sela-sela lereng perkampungan di pantai itu. Air kembali tercurah dari lereng ke arah laut, berubah seperti banjir bandang yang menghantam perahu di pantai.

Perahu terguling, tercabik-cabik. Para penumpang diterjang air bah bercampur material  batu, pasir dan kayu. Sebagian besar penumpang terhempas ke laut dan sebagian tertimbun material longsoran dari perkampungan. Dua warga ditemukan meninggal pada pukul 10.00 dan 11.00 Wita, Sabtu (25/1). (kel/kev)

Korban yang dirawat di RS Kandou
1. Wilson Kendung (42), warga Desa Nameng
2. Regina Sidangoli (14),  Desa Nameng
3. Steven Mananohas (25), Desa Nameng
4. Respin Muliku (36), Desa Nameng
5. Sunce Mugawe (46), Desa Nameng


Mungkin Tertimbun Bebatuan

KEPALA Bagian (Kabag) Hubungan Masyarakat (Humas) dan Protokol Pemerintah Kabupaten Kabupaten Sitaro James Marthin  meminta keluarga korban bencana di Desa Nameng bersabar. Lokasi evakuasi di dalam laut membuat tim penolong agak sulit mencari korban yang hilang. "Sulit sekali menemukan korban yang hilang tapi kita terus berusaha," ungkap James, Senin (27/1)

Dikatakannya,  proses pencarian pada Senin kemarin mulai pukul 06.00 hingga 18.00. Pencarian berlanjut hari ini Selasa (28/1). Tidak ada pencarian malam hari karena terkendala penerangan, arus laut yang kencang sekaligus memperkecil risiko. Saat ini, kata James,  Tim Basarnas Manado fokus pencarian dengan penyelaman karena besar kemungkinan para korban hilang tertimbun material yang didominasi bebatuan di dasar laut tersebut. "Tim SAR fokus evakuasi selam karena kemungkinan korban hilang tertimbun batu dan ada di dasar laut," kata James.

James mengakui bencana yang menimpa Kabupaten Sitaro kali ini benar-benar menyayat hati. Bila korban hilang tidak terlamatkan, maka melebihi jumlah korban banjir bandang di Kota Manado. James tidak mau mengambil kesimpulan semua korban hilang sudah meninggal walaupun pihak keluarga korban sudah pasrah melihat kondisi yang ada. "Bisa dibayangkan sulitnya mencari korban hilang karena puting beliung itu menghantarkan air dan bebatuan lalu menghantam mereka saat berada di perahu jatuh ke dalam laut," kata James sambil mengatakan  korban selamat yang luka parah sudah dirujuk ke RS Prof Kandou Malalayang Manado.

 "Sudah dirujuk atas petunjuk bupati dan semua biaya perawatan termasuk jika ada yang dioperasi akan ditanggung Pemkab Sitaro," ucapnya.

Sekretaris Dinas Perhubungan Komunikasi dan Informatika (Dishubkominfo) Pemkab Sitaro Gandha Mulalinda mengatakan, di Desa Nameng rumah penduduk berada di area tebing. "Jadi dermaga di sini bukan di tepi pantai tapi di daerah seperti lembah yang mengarah langsung ke laut yang dalam. Desa Nameng juga belum bisa dicapai dengan mobil. Tim tim yang datang mengunakan perahu atau kapal. Jalan ke desa ini hanya bisa dengan sepeda motor karena masih berupa jalan setapak. Di sini juga ada jembatan yang putus,  jadi masih terisolir," kata Gandha.

Disebutkannya, selain Basarnas Manado, tim yang ikut membantu proses evakuasi dari BPBD Sitaro, Dishub Sitaro, TNI AL, Polair, Polsek Urban Siau Barat, PMI Sitaro serta warga setempat.  Menurut  Gandha,  Bupati Sitaro Tonny Supit memerintahkan warga dari desa tetangga lokasi kejadian yaitu Kampung Lokong Banua dan Lohoraung untuk membantu proses evakuasi korban di Desa Nameng.
Anggota DPRD Sitaro Mochtar Kaudis berharap ada relawan membantu proses evakuasi karena harus mengunakan alat penyelaman. "Ini duka yang mendalam bagi kita semua terutama bagi keluarga korban. Tentu kami berharap segera ditemukan korban yang hilang itu," kata Kaudis.  (dit)

Sumber: Tribun Manado 28 Januari 2014 hal 1

26 Orang Masih Hilang di Siau

SIAU, TRIBUN - Maritji Manutur, S Maliku dan Amang Antarameng tentu tak pernah tahu jika kehidupan mereka akan berakhir, Sabtu (25/1). Ketiga warga Desa Nameng, Kecamatan Siau Barat Utara,  Kabupaten Kepulauan Siau, Tagulandang, Biaro (Sitaro) Provinsi Sulawesi Utara (Sulut) ini, ditemukan meninggal dunia akibat terjangan banjir bandang.

Jasad tiga orang itu ditemukan bersama lima orang lainnya yang luka-luka tapi dalam kondisi masih hidup. Sementara puluhan orang lainnya masih dinyatakan hilang. Ada yang menyebut korban hilang 26 orang sementara warga lain menyebut masih 27 orang yang hilang hingga Minggu (26/1/2014).

Sebenarnya belum ada kepastian berapa jumlah penumpang di perahu penyeberangan yang akan menuju Ulu yaitu ibukota di Pulau Siau, Sitaro itu. Sebab perahu penyeberangan itu tidak miliki nama daftar penumpang. Para korban dan tidak menduga angin puting beliung menciptakan pusaran air besar yang mematikan seperti banjir bandang atau air bah yang menyerang ke daratan.

Demikian diceritakan Sekretaris Dinas Perhubungan Komunikasi dan Informatika  (Dishubkominfo) Pemerintah Kabupaten Sitaro Gandha Mulalinda kepada Tribun Manado, Minggu (26/1).  "Mereka (para korban) waktu bencana itu terjadi,  seperti hari-hari biasanya mau ke Ulu. Sebagian besar penumpang mau jualan ke pasar di Ulu. Tidak ada yang menduga tiba-tiba ada puting beliung menerpa perahu  itu. Jadi menurut keterengan saksi mata dan korban yang selamat ada angin besar yang tiba- tiba membuat air laut seperti terangkat ke atas dan menjadi seperti pusaran. Dan air itu terhempas di atas sela-sela lereng, karena memang kampung itu di daerah lereng lalu air itu kembali tercurah dari lereng ke arah laut jadi seperti banjir bandang yang menghantam kampung itu," jelasnya.

Selain perahu berpenumpang, ada satu rumah yang ada di dermaga kampung itu yang hancur tak tersisa. "Satu rumah di pinggir pantai Nameng, dekat dermaga hancur juga dihantam puting beliung itu. Rumah-rumah penduduk yang lain di desa itu aman karena memang rumah-rumah di situ berjauhan," kata Gandha.

Gandha menuturkan, menurut keterangan saksi mata kepada pihak Dishubkominfo Sitaro, perahu penyeberangan itu masih menunggu satu orang penumpang yang belum datang. Hujan tidak begitu deras dan ombak tidak begitu tinggi tapi bencana itu tiba-tiba terjadi. "Bisa dibilang kondisi laut sudah mendingan dibandingkan minggu lalu. Izin pelayaran juga sudah kami sampaikan sejak 20 Januari sudah boleh. Tapi memang bencana itu tak bisa diprediks," ungkapnya.

Dikatakannya,  pihaknya terus mendampingi tim Search and Rescue (SAR) gabuangan dari Dishub, TNI AL, Polair, Polsek Urban Siau Barat, PMI Sitaro dibantu warga setempat untuk mencari para korban yang hilang. Disebutnya ada dua kemungkinan korban ini berada di laut atau tertimbun di tanah longsor. "Puting beliung itu menciptakan pusaran air dan membawa air menjadi banjir bandang. Di Desa Nameng tidak ada sungai. Jadi jika air itu masuk ke celah lereng dan jatuh kembali ke bawah maka lereng itu akan menjadi seperti sungai yang menurunkan banjir bandang dari laut ke atas (desa) dan kembali menghantam ke bawah," katanya.

Kepala Bagian Hubungan Masyarakat (Humas) Pemerintah Kabupaten Kota Sitaro James Marthin menegaskan informasi resmi Pemkab Sitaro, korban yang meninggal 3 orang, 5 selamat dan 26 masih hilang. Adapun bencana ini terjadi sekitar pukul 09.30 Wita, Sabtu (25/1)  dan hingga hari Minggu pukul 18.00 Wita belum ditemukan korban lain yang dinyatakan hilang. "Yang selamat sekarang dirawat di RSUD Sawang dan proses pencarian masih berlangsung. Sudah ada tim gabungan di sini. Rencananya  Tim Basarnas dari Manado akan tiba hari Senin (27/1)  untuk membantu proses evakuasi," ungkap James.

Secara terpisah, Anggota DPRD Sitaro Mochatar Kaudis menyebutkan peristiwa ini sangat menyedihkan bagi masyarakat Sitaro. "Sangat sedih semoga korban hilang segera ditemukan," ungkapnya. Pihaknya pun berharap pihak berkompeten bisa membantu proses evekuasi puluhan orang yang diduga hilang. Apalagi kemungkinan ada yang terhempas ke laut. "Segala sesuatu memungkinkan semakin cepat proses pencarian masih ada kemungkinan korban ada yang selamat. Semoga pihak berkompeten bisa bersama-sama membantu proses evakuasi," katanya. (dit)


Andrianto Melompat dari Perahu

APARAT Polres Sangihe bersama tim gabungan  BNPB Sitaro dan TNI masih terus mencari 26 korban yang hilang akibat banjir bandang dan angin puting beliung di Desa Nameng Kecamatan Siau Barat Utara Kabupaten Sitaro. "Ada 26 orang yang dinyatakan hilang. Kami masih melakukan pencarian," kata Kapolres Sangihe, AKBP Sumitro kepada Tribun Manado, Minggu (26/1/2014).

Diungkapkannya, musibah itu berlangsung sangat cepat. Dia mendengar dari saksi mata di sana bahwa ada  korban yang sempat berteriak meminta tolong dan berhasil lolos dari terjangan air. Sebagian besar terbawa arus dengan timbunan material berupa pohon, batu dan tanah.

Sumitro mengatakan, warga yang selamat sebanyak delapan orang. Dari delapan orang tersebut dua di antaranya Andrianto Balumpia dan Rintu Bareng yang kondisinya sehat sedangkan enam orang lainnya luka-luka.

"Kedua orang itu melompat dari perahu. Dia awalnya sudah melihat ada banjir dan
kemudian melompat. Enam orang lainnya saat ini sedang dirawat di RS Sawang di Siau," kata Sumitro.

Tim gabungan  sudah menemukan tiga orang meninggal masing-masing, Manutur, Antarameng, Sunarni Maliku. Dua  korban ditemukan pukul 10.00 Wita di dermaga pantai Nameng dan satunya lagi ditemukan di dekat pantai sekitar pukul 19.30 Wita, Sabtu (25/1).

Sumitro menjelaskan, Desa Nameng terletak di di tepi pantai. Di pantai tersebut ada dermaga kecil untuk mengangkut warga yang hendak pergi pusat Kota Siau di Ulu. Tiap hari Sabtu, warga pergi ke Ulu untuk berjualan sekaligus berbelanja  dengan menggunakan perahu penyeberangan. Kepala Basarnas Manado, Suyanto Samigan yang dikonfirmasi, Minggu (26/1), mengatakan timnya sudah berangkat ke Siau untuk mencari dan mengevakuasi para korban. (kev)

Sumber: Tribun Manado 27 Januari 2014 hal 1
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Best WordPress Themes