Tampilkan postingan dengan label Mengenang J Siyaranamual. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Mengenang J Siyaranamual. Tampilkan semua postingan

Satrio Piningit

ilustrasi
SUATU hari di bulan Juli atau Agustus 1999, di Kediri berkumpul tokoh-tokoh paranormal Indonesia yagn secara khusus membahas pemimpin masa depan Indonesia - Satrio Piningit atau satria yang Dipingit-yang sudah ditunggu-tunggu semenjak lama, sesuai dengan ramalan Joyoboyo, yang kalau tak salah dari awal milenium kedua. Tokoh messianik ini sebenarnya sudah bermunculan terbuka sejak akhir tahun 1990 oleh Permadi, yang meramalkan munculnya Sang Satrio Piningit sesudah nada gonjang-ganjing masa penuh kekacauan dan malapetaka

    Memang sepanjang dasawarsa 1990-an, Indonesia mengalami masa paling berantakan. Bukan saja bencana alam, kita juga mengalami kehancuran ekonomi paling parah dengan jatuhnya nilai rupiah terhadap dolar menyusul meningkatnya jumlah penduduk di bawah garis kemiskinan yang konon mencapai 80 persen. Kita juga mengalami disintegrasi paling menakutkan dengan puluhan rumah ibadah dibakar, penjarahan toko-toko dan pemerkosaan, pembunuhan ratusan orang yang dituduh dukun, perang antarsuku dan agama, dari Sumba sampai ke Ambon, dari Kalimatan sampai ke Sulawesi.

    Saya ketika itu sedang ditugaskan untuk melatih wartawan baru yang bertugas di Kediri Pos, sebuah koran yang diterbitkan oleh Harian Surya. Kesempatan ini saya pergunakan untuk mengunjungi seorang tokoh paranormal di perbatasan Kediri. Pernyataan saya cuma satu, "Siapa yang pantas menjadi Presiden RI keempat?"

"Menurut pendapat saya," ujarnya sesudah menatap saya dalam-dalam, "Gus Dur tidak bisa diandalkan karena keadaan kesehatannya. Wong jalan saja harus dipapah orang. Amien Rais agak tidak jelas, selalu berubah-ubah. Mega dan Habibie menurut saya sama, kedua-duanya sangat lemah. Yang harus jadi Presiden berikut kalau kita mau selamat mestilah ABRI".

    "Apakah tidak akan terjadi masalah kekerasan karena kita semua tahu pendekatan ABRI selama ini terhadap masalah yang muncul?"

    "Tidak ada masalah. Menurut perhitungan para ahli, justru orang Jawa ini harus sisa sepertiganya saja kalau mau negara bisa diurus dengan baik".

    Saya tentu saja protes, seperti juga ketika saya mewawancarai Permadi untuk Surya di akhir tahun 1990. Ramalan Joyoboyo menurut pendapat saya hanya berlaku untuk orang Jawa saja. Tidak untuk seluruh Indonesia, dan dengan pemikiran Joyoboyo berarti tidak ada kesempatan untuk orang bukan orang Jawa seperti saya untuk menjadi presiden. Dan sang paranormal hanya tertawa. "Kita memang Indonesia, tetapi lebih dari separoh penduduk negara ini masih orang Jawa".

    Dan beberapa hari lalu, Undang-Undang Keadaan Bahaya menimbulkan protes keras dari mahasiswa dan rakyat, dan seperti yang sangat ditakutkan dari undang-undang yang konon membuka peluang bagi berkembangnya militerisme di Indonesia, para mahasiswa dibantai tentara dan enam orang yang dilaporkan meninggal dunia di luar puluhan yang luka parah dan entah berapa yang hilang.

    Masalah yang muncul tentang Timor-Timur, juga dikarenakan pendekatan kita selama seperempat abad ini adalah pendekatan sekuriti dan bukan budaya. Itulah sebabnya, kendati kita sudah membangun daerah tersebut habis-habisan dan membiarkan Timor NTT yang sduah ikut merdeka semenjak 1945 tetap saja melarat, dan kendati kemampuan sumber daya untuk menjadi sebuah negara tidak memadai, kebanyakan rakyat Timtim memilih merdeka.

    Dalam tradisi Hindu yang cukup berpengaruh di Indonesia, memang raja dan tentara berada dalam satu kasta, yang berlainan dengan Cina di mana kedudukan tentara dianggap rendah karena merupakan orang bayaran. Dalam keadaan yang sedemikian kacaunya seperti sekarang ini dan yang masih akan terus berkembang, mungkin pengambilalihan kekuasaan oleh pihak militer bukanlah mustahil. (julius r siyaranamual)


Sumber: SKH Pos Kupang, Senin 27 September 1999 hal 1

SKH Pos Kupang dan GMIT

Oleh Paul Bolla

SURAT Kabar Harian (SKH) Pos Kupang dan Gereja Masehi Injili di Timor (GMIT) memiliki hubungan sejarah. Hubungan ini dibangun diawal berdirinya Pos Kupang tahun 1992 atau 16 tahun silam. Hubungan itu klop karena kedua lembaga ini memiliki misi yang sama, yakni menjadi corong untuk menyuarakan 'suara kenabian.' 

Adalah almarhum Julius Syaranamual yang meyakinkan Damyan Godho, sekarang Pemimpin Umum SKH Pos Kupang, dan almarhum Valens Goa Doy, akan pentingnya mengajak GMIT terlibat sejak awal dalam membangun surat kabar harian pertama di Nusa Tenggara Timur, kala itu. Ketiga tokoh yang disebut di sini adalah pendiri Koran yang kini bertiras di atas 20 ribu eksemplar ini.

Julius Syaranamual adalah sarjana teologi alumnus STT Jakarta, yang juga dikenal sebagai wartawan dan sastrawan. Ia memimpin sebuah tim kecil menemui Ketua Sinode GMIT yang saat itu dijabat oleh Pendeta Dr. Benyamin Fobia. Kedua alumni STT Jakarta ini memiliki pikiran yang sama, bahwa gereja wajib mendukung institusi yang hendak menyatakan keadilan dan kebenaran, serta menyuarakan kepentingan kaum yang mendapat perlakuan tidak adil. Kunjungan tim pendiri SKH Pos Kupang ini dilakukan sebagai bagian dari persiapan lahirnya Pos Kupang.


Dukungan GMIT atas berdirinya Pos Kupang diwujudkan dengan kesediaan GMIT menyediakan sejumlah orang untuk direkrut menjadi wartawan. GMIT akhirnya mengajukan lima orang untuk melayani di Pos Kupang dalam profesi sebagai seorang jurnalis. Mereka adalah Pendeta Eben Nuban Timo, Pendeta Yulius Lopo, Pendeta Mesakh AP Dethan, Ester Mariani Gah dan Paul Bolla. 

Lima nama yang diajukan Sinode GMIT ke Pos Kupang ini adalah teman seangkatan vikariat. Hanya dua nama terakhir yang saat itu belum bersedia ditabiskan ke dalam jabatan pendeta setelah selesai menjalani masa vikariat. Ester menjalani masa vikariat di dua wilayah pelayanan, yakni di Oekabiti dan Alor. Sedangkan Paul Bolla menjalani masa vikariat di Klasis Lobalain, Rote di Jemaat Syalom Mokdale.


Dalam percakapan di kemudian hari, Pendeta Dr. Benyamin Fobia menjelaskan alasannya mengizinkan para pendeta berkarya di luar gereja. Menurut Fobia, ke depan GMIT harus memikirkan menempatkan para pendeta tidak terbatas hanya sebagai pendeta teritorial saja yang generalis. GMIT juga wajib mempersiapkan pendeta-pendeta kategorial fungsional. GMIT sudah mulai memikirkan merekrut pendeta-pendeta untuk melayani umat dalam fungsi kategorial atau profesi. Sehingga kelak akan dikenal pendeta khusus rumah sakit, pendeta anak, pendeta pemuda, pendeta kaum perempuan, pendeta pelajar, pendeta kampus, dan sebagainya. Pentingnya pendeta-pendeta kategorial fungsional agar pelayanan bisa lebih fokus ke dalam perrmasalahan yang dihadapai setiap kategori.

Usai memberikan pelatihan kepada para calon wartawan, SKH Pos Kupang pun melakukan uji coba terbit. Mula-mula ujicoba terbit seminggu beberapa kali. Kemudian sejak 24 November 1992 dilakukan ujicoba terbit secara reguler. Tanggal 1 Desember akhirnya ditetapkan sebagai hari lahirnya SKH Pos Kupang. Penetapan tanggal itu ditandai dengan perayaan kecil-kecilan berupa pemotongan nasi tumpeng persis tanggal 1 Desember 1992.

Belum lama SKH Pos Kupang terbit, Pendeta Eben Nuban Timo yang saat itu ditarik dari pelayanannya di Amanatun Selatan, mengundurkan diri. Eben curhat ke Pendeta Dr. Fobia, bahwa ia kurang cocok sebagai wartawan, sekaligus meminta izin untuk sekolah lagi. Suami dari Pendeta Ningsih de Fretes ini kemudian mempersiapkan diri kursus bahasa di Jakarta, kemudian tahun berikutnya berangkat ke Kampen, Belanda yang kelak memberinya gelar doktor. 

Ester Mariani tak lama kemudian menyusul Pendeta Eben. Ia mengundurkan diri dari Pos Kupang untuk mengambil program magister di Universitas Kristen Satya Wacana, Salatiga. Setelah kuliahnya selesai ia menjadi salah satu pengajar di almamaternya itu. Yang terakhir mengundurkan diri adalah Pendeta Mesakh AP Dethan, yang saat ini sedang menimba ilmu di Jerman, untuk program doktor.
Dua aset GMIT yang masih bertahan di Pos Kupang adalah Pendeta Yulius Lopo dan Paul Bolla. Selama menjalani profesi wartawan, salah satu tugas tetap adalah melakukan liputan rutin setiap dilaksanakan Sidang Majelis Sinode (SMS) GMIT. Setiap kali dilaksanakan SMS GMIT atau sidang program tahunan, Sinode GMIT membiayai seluruh akomodasi jurnalis Pos Kupang, sedangkan Pos Kupang menyediakan ruang (space) khusus pada halaman koran. Dengan demikian warga GMIT bisa mengikuti dinamika persidangan SMS GMIT melalui SKH Pos Kupang.


Tahun 1999, Paul Bolla mengundurkan diri dari Pos Kupang, dan bersama teman-teman mendirikan harian baru bernama "NTT Ekspres." Koran baru ini melanjutkan tradisi menyediakan halaman khusus setiap dilaksanakan SMS GMIT. Setelah NTT Ekspres tutup, Paul Bolla menjadi konsultan media di PT PLN (Persero) Wilayah Nusa Tenggara Timur, sejak tahun 2003 hingga sekarang.
Tinggallah Pendeta Yulius Lopo, satu-satunya aset GMIT yang tetap di Pos Kupang. Sekitar tahun 1999, barulah Yulius Lopo ditarik untuk bertugas di Kupang. Ia memulai tugas di Sumba Barat sejak tahun 1993. Tahun 1994 Yulius Lopo dimutasi ke Alor, pindah ke Manggarai dan Sikka dan masuk lagi ke Kupang tahun 1999. Pos Kupang kemudian mengizinkan asetnya ini direkrut Kompas Grup untuk ditempatkan sebagai wartawan Timika Pos di Timika, Papua. Hingga kini Yulius Lopo tidak lagi menjadi bagian dari Timika Pos yang sudah tutup. Ia pindah ke Jayapura dan bergabung dengan stasiun Top TV Papua. Inilah aset terakhir GMIT di Pos Kupang.

Tanggal 1 Desember lalu, SKH Pos Kupang, telah berusia 16 tahun. GMIT telah menjadi bagian daru perjalanan sejarah sosok koran harian dengan oplah terbesar saat ini. GMIT melalui lembaga Sinode, pernah menyumbangkan orang-orang terbaiknya dalam membesarkan Pos Kupang. Sebaliknya Pos Kupang telah mengambil peran besar dalam sejarah pelayanan GMIT dalam menyebarkan informasi, baik secara umum maupun secara spesifik yang berkaitan langsung dengan kepentingan umat dan gereja. Di dalam peran itu terdapat hal-hal khusus yang berkatan dengan kepentingan GMIT. 

Saat ini meskipun secara fisik lima wartawan utusan GMIT tidak lagi bekerja di Pos Kupang, tetapi komitmen moral Pos Kupang sebagaimana kesepakatan yang dibangun oleh almarhum Pendeta Benyamin Fobia, mantan Ketua Sinode GMIT dan Julius Syaranamual, mewakili Pos Kupang saat itu, tetaplah dipertahankan. Warna kebijakan redaksional Pos Kupang hingga sekarang tetap dalam rangka menyuarakan suara kenabian, misi yang bukan lagi menjadi monopoli fungsi para pendeta atau rahib.

Lalu bagaimana masa depan kerja sama SKH Pos Kupang dan Sinode GMIT? Salah satu gereja Protestan dengan umat terbesar di Indonesia ini, saat ini dipimpin oleh salah seorang mantan wartawan Pos Kupang, Pendeta Dr. Eben Nuban Timo. Hubungan batin yang pernah ada, meskipun tidak lama, setidaknya bisa menjadi perekat untuk membangun suatu kerja sama yang bisa meningkatkan martabat manusia, khususnya bermanfaat bagi kedua lembaga. Universitas Kristen Artha Wacana, misalnya, pernah menempatkan mahasiswanya menjalani colegium pastoral (baca: kuliah kerja nyata/KKN) di Harian NTT Ekspres.

SKH Pos Kupang dan Sinode GMIT bisa duduk bersama berdiskusi untuk menemukan bentuk-bentuk kerja sama yang bermanfaat dalam rangka menyuarakan suara masyarakat Nusa Tenggara Timur. Pos Kupang bisa menjadi tempat para calon pendeta menjalani masa vikariat, misalnya. Pos Kupang bisa membantu para calon pendeta untuk mengasah karakter seorang jurnalis, yakni ketajaman dan kepekaan nurani atau keberanian membela yang tertindas.

Sebaliknya, Pos Kupang bisa menjadi saudara (Lukas 17:2) yang mengkritisi manajemen gereja, atau pola kepemimpinan. Bisa juga membongkar kasus-kasus penyelewengan keuangan di gereja-gereja, yang membuat pelayanan gereja berjalan di tempat. Sebab bukan tidak mungkin gereja justru menjadi sarang korupsi. Selama ini mungkin saja Pos Kupang enggan membongkar kasus penyelewengan karena pertimbangan tertentu. Keengganan itu bisa jadi sebagai suatu bentuk "perlindungan" yang akab mematikan suara kenabian, dan tidak menjadi saudara yang benar. Semoga. * Paul Bola, Wartawan Pos Kupang 1993- 1999.

Opini Pos Kupang edisi Jumat, 5 Desember 2008 halaman 14

Selamat jalan Ba'i Jembatang!

(Mengenang 40 hari Bung Julius Siyaranamual)

Oleh : Aris Tanone*

"Bermula dari mula itu ada mulanya".

SEJAK menerima berita duka itu, lalu ada permintaan dari Bung Damyan Godho untuk menulis catatan singkat mengenang 40 harinya Bung Julius, kalimat di atas terus berputar di otak. Soalnya, kalimat itu membangkitkan kenangan akan Bung Lius. Bayangan tentang tawa dan wajah Bung Lius saat berusaha menjelaskan tentang pentingnya kalimat pembuka sebuah cerpen, seakan tertayang kembali dalam film layar hitam putih. Dari pembicaraan tentang tulisan Bung Julius yang mendapat penghargaan Zainal Zakse di Bandung, akhirnya membawa Bung Julius ke urusan kalimat pembuka sebuah cerpen.
Kalimat pendek seperti yang banyak dipakai dalam Alkitab, kata Bung Lius. Sayang, saya tidak bisa ingat persis lagi kalimat itu selain sepotong kalimat di atas; sedangkan waktu dan jarak tidak memungkinkan untuk mengecek lebih jauh apakah betul begitu bunyi kalimatnya.
Pertama kali mendengar nama Bung Lius, mungkin dari almarhum Dady Tanggela yang kemudian menjadi iparnya Bung Julius. Dady dan saya ketemu di tahun terakhir SMA di Kupang. Dia bercita-cita menjadi pelaut dan berniat masuk AIP karena ada familinya yaitu Bung Julius yang tinggal di Jakarta.


Kedua kali mendengar nama Bung Lius dari Asmara Nababan, di Pesta Urakannya WS Rendra di Parangtritis di awal tahun 1970-an. Asmara datang bersama Arief Budiman. Ketika beliau tahu saya dari Timor, beliau terus bilang bahwa Bung Julius adalah teman kerjanya di majalah anak-anak Kawanku. Beliau malah kenal dengan Dady yang juga sudah kerja di sana. Ketiga kalinya mendengar nama Bung Lius dari Satyagraha Hoerip, redaktur harian Sinar Harapan. Waktu itu saya ke Kantor Sinar Harapan di Jakarta membawa naskah cerpen. Lagi-lagi waktu dengar saya dari Timor, beliau bilang kalau Bung Julius adalah pengasuh rubrik Sinar Remaja. "Nanti jam tiga baru dia akan masuk kantor. Tunggu atau kembali saja jam tiga nanti."
Detail pertemuan sudah tidak ingat sama sekali, tetapi dialog berikut ini tak bakal terlupakan.
"Lu tenga di mana?" tanya Bung Lius.
"Di Balai Budaya!"
"Oh, kalau lu bisa tenga di Balai Budaya, ayo nanti pulang botong singgah ame lu pung barang, tarus lu pi buka tikar deng Dady di rumah sa," ajak Bung Lius.
Tentu saja ajakan itu tidak saya tolak. Paling tidak ada Dady untuk mengobrol ketimbang mendengar batuknya Nashar dari bilik kecilnya waktu saya tidur sendiri di kursi tamu panjang di Balai Budaya.
Waktu itu saya ke Jakarta cuma berbekal mesin tik portable. Ada pergolakan batin apakah saya mau jadi fisikus atau jadi pengarang begitu menginjak tahun kedua di Yogyakarta. Karena tinggal di Asrama Timor, saya kenal akrab dengan penyair dan kini Prof. Bakdi Soemanto dari FS UGM yang menjadi tetangga. Dari ceritera-ceritera pengalaman beliaulah, saya pun akhirnya nekad ke Jakarta tanpa uang di kantong selain bekal mesin tik dan satu naskah cerpen. Kalau dipikir-pikir lagi, rasanya cerpen saya itu tidak bakal lolos ke rubrik Sinar Remaja. Tapi sekarang saya merasa seperti semua itu ada kaitan dengan kalimat-kalimat singkat Pengkhotbah yang Bung Lius kutip saat menjelaskan urusan kalimat pembukaan sebuah cerpen.
Saya tak ingat lagi berapa honornya, tetapi cukup untuk bisa beli tiket bis malam pulang ke Yogya, sekalian bisa beberapa kali ikut Bung Julius putar-putar keliling kota. Yang saya masih ingat antara lain kami pernah mampir ke rumah penulis atau pelukis bernama Fadli Rasyid, lalu ketemu dengan Bung Gerson Poyk. Pernah juga nongkrong minum di warung entah di mana di daerah Jatinegara lewat tengah malam. Paling tidak, itulah saat saya mencicipi hidup ala seniman di Jakarta dan terus terang agak menakutkan juga, apalagi sebelum itu pernah dikejar tukang-tukang copet di Lapangan Banteng sehabis turun dari bus gara-gara saya kembalikan hasil copetan mereka yang jatuh ke teman kuliah saya yang kebetulan ketemu di bus dan kena copet hari itu.
Tapi pengaruh terbesar Bung Julius dalam hidup saya adalah ajakan "buka tikar" di rumahnya itu. Karena waktu menginap di situ itu, saya disuruh melihat contoh karya berupa cerpen dan sajak yang dikirim buat rubrik Sinar Remaja. Ada dua tumpukan tinggi di lantai, masing-masing sekitar setengah meter. Dari tumpukan itulah, diam-diam saya mengingat nama dan alamat seorang penulis remaja dari Pekalongan, setelah sempat juga membaca naskahnya. Setahun kemudian ketika saya membaca sajak penulis remaja tadi di rubrik remaja harian Berita Buana, terus teringat alamat itu, dan saya menulis surat kepadanya.
Gayung bersambut, surat pun saling susul-menyusul. Sayangnya, ketika acara perkawinan kami setelah saya lulus kuliah di akhir tahun 1976, saking sibuknya saya sampai tidak ingat untuk mengirim undangan kepada Bung Lius. Itu suatu ganjalan di hati. Apalagi setelah menikah, kami selalu saja berpindah. Belum lagi karena kami sudah begitu lama di rantau, sampai saat ini istri saya belum pernah ketemu dengan keluarga Bung Julius, selain dengan Dady yang pernah mampir waktu kami masih tinggal di Salatiga.
Terakhir kali ketemu Bung Lius waktu saya di kampus Salemba sekitar tahun 1983-84. Saat itu saya sempat bergurau. "Pertama kali ketemu, Amy (putri Bung Julius) baru lahir. Kedua kali ketemu Amy sudah SMP. Mungkin ketiga kali ketemu Bung Julius sudah jadi kakek." Beberapa tahun lalu, gara-gara melihat namanya di susunan Redaksi Pos Kupang lewat internet, saya sempat telepon cari Bung Julius ke sana. Kebetulan Bung Julius sedang berada di Pos Kupang dan saya tidak ingat lagi apa yang kita bicarakan. Itu juga pertama kali Bung Lius kenalkan saya pada Bung Damyan.
Lalu dari Bung Lius saya mendapat nomor telepon rumahnya di Jakarta, dan saya pernah telepon dan bicara dengan ibu Theresa beberapa bulan setelahnya. Dari sana saya mendapat nomor telepon di Surabaya lalu sempat bicara satu kali lagi dengan Bung Lius.
Waktu saya beritahu kalau Bung Julius meninggal, istri saya hanya melongo. Setelah kembali dari rasa terkejutnya, istri saya sempat tanya.
"Masih muda kan?"
"Enampuluh satu," kata saya.
"Enampuluh satu kan belum tua, enampuluh satu kan sudah menunggu kita di ujung situ."
"Iya, sayang. Kalau di sini enampuluh satu memang terhitung muda. Di sana, selain mereka makannya sembarangan, tidak peduli urusan kolesterol, atau kandungan lemak, mereka juga belum tentu bisa periksa kesehatan dengan fasilitas seperti yang ada di sini, apalagi itu asap rokok dan minumam keras," lalu kami pun tenggelam ke dalam lamunan masing-masing.
Malam itu istri saya mengajak saya ke kapela, khusus untuk berdoa buat Bung Julius dan keluarganya. Setelah telepon sana sini selama dua hari, akhirnya saya bisa bicara dengan ibu Theresa, Amy dan adik-adik Bung Lius di Jakarta.
Dibandingkan dengan pembaca lain, kehadiran Bung Julius dalam hidup saya singkat sekali. Tapi dalam pertemuan yang begitu singkat, Jembatang - kata orang Kupang - atau mak comblang tidak langsung ini tentu saja menentukan sekali dalam seluruh perjalanan hidup saya. Mungkinkah itulah makna bahwa segala sesuatu di bawah langit ada waktunya, seperti yang Bung Julius sempat kutip waktu menjelaskan kalimat-kalimat pendek Pengkhotbah? Walahualam. Dari jauh, saya hanya bisa bilang, selamat jalan Bung Lius, selamat jalan Ba'i Jembatang!

* Aris dan istrinya Winnie Aloisa Tanone,
kini tinggal di Amerika Serikat.

Pos Kupang, 2 Juli 2005

Sastrawan yang Asing di Kampung Sendiri

* Mengenang Julius R Siyaranmual

Oleh Even Edomeko*

ADAKAH sastrawan dari NTT? Maka seorang guru sastra SMP Seminari Yohanes XXIII Lela (1983) menjawab kepada penulis : Gerson Poyk dan Julius R Siyaranamual. Hanya begitu. Begitu saja! Lalu ia cepat-cepat membicarakan nama lain yang tertulis dalam buku pelajaran sastra terbitan Tiga Serangkai Solo.
Siapakah Julius? Jawaban atas pertanyaan ini baru penulis peroleh ketika "merusak kerapian" perpustakaan SMA Seminari Yohanes Berchmans Mataloko (1985/1986), langsung dari "mulut" Om Julius sendiri melalui kisah kepengarangannya yang ia juduli Menolak Kebetulan, sebagaimana termuat dalam buku Pamusuk Eneste (editor) : Proses Kreatif (Gramedia, Jakarta, 1983). Dalam buku ini, "Sastrawan leu-leu" itu bersaksi dan men-sharing-kan pengalamannya tentang mengapa dan bagaimana saya mengarang, bersama dengan sepuluh sastrawan senior seperti "ST Alisjahbana, Trisno Yuwono, Budi Darma, Nh. Dini, Putu Wijaya, Arswendo Atmowiloto, dll. Berkali-kali penulis membacanya, dan setiap kali membaca, selalu saja berkibar perasaan sangat bangga bahwa ternyata dari daerah bencana ini, dari propinsi busung lapar ini, ada sastrawan ternama!


Namun perkenalan yang "lebih intens" dengan Om Julius dan sastrawan NTT lainnya baru terjadi di Malang (1991/1995), saat penulis jadi mahasiswa dan aktif dalam Kelompok Penulis Nusa Nipa (bersama Anthony Tonggo, Tonce Tolentino, Timo Teweng, Marthen Golo, serta Drs. Gaspar Asal dan Drs. Gerardus Uda - dua nama terakhir adalah dosen Undana yang sedang studi S2 di IKIP Malang). Kami mengumpulkan karya-karya pengarang NTT dan mendiskusikannya. "Luar biasa dahsyat para pengarang NTT!" kata Profesor Hasyim Amir, budayawan dan ahli sastra IKIP Malang, yang sering kami mintai komentarnya terhadap karya pengarang NTT.
Di rumah beliau yang sederhana dan artistik, sambil lesehan, kami sempat bergurau dengan dan menikmati Eka Budianta bersyair, Emha Ainun Nadjib berseloroh dan Gerson Poyk bikin cerita "porno". Kami jadi akrab dengan sastrawati Ratna Indraswari Ibrahim, yang hanya duduk di kursi roda, tetapi selalu dikunjungi Ignas Kleden saat ngelencer ke Malang. Sayang, Om Julius yang kala itu tinggal dekat- dekat di Surabaya sebagai redaktur Harian Surya tidak pernah bisa kami jumpai. Saat ke Surya mengambil honorarium tulisan dan menanyakan Om Julius, Kae Jacobus Embu Lato biasa menjawab, "Wah dia sudah ke..." Namun dari mulut para sastrawan dan budayawan itu, kami lebih mengenal para sastrawan NTT, termasuk keunikan-keunikan yang pasti tidak bakal dimuat di media massa. Kami pun mengenal : Umbu Landu Paranggi, John Dami Mukese, Maria Matildis Banda...
Gesekan dan pergaulan itu mendorong penulis untuk coba bikin cerpen sendiri dan -syukur-alhamdulilah-deo-gratias- dimuat di beberapa media terbitan Jakarta, Nusa Tenggara dan Jatim, di antaranya di Harian Sore Surabaya Post, di kolom yang pernah memuat karya Gerson Poyk (seperti cerbung Negeri Lintasan Petir, Budi Darma, Beni Setia dan Emha Ainub Nadjib.

***
Dengan kisah di atas, penulis mau mengatakan bahwa ternyata NTT memiliki sastrawan kaliber nasional dan bahkan dibicarakan di luar negeri, dan bahwa karya dan hidup mereka mampu membangkitkan minat dan menodorong kreativitas "generasi ade-ade"-nya, tetapi sayangnya mereka kurang dikenal di antara "anak-anak tanah". Sastrawan NTT adalah orang asing di kampungnya sendiri.
Ketika Pos Kupang (25/5/2005) mengabarkan Om Julius telah meninggal dunia, penulis bertanya kepada para siswa SMU di Maumere: "Kenal sastrawan Julis R Siyaranamual?" Mereka malah bertanya, "Siapa dia?" Bahkan seorang guru bahasa dan sastra di sebuah sekolah ternama di Maumere mengaku hanya tahu serba sedikit nama itu dari buku pelajaran sastra, dan belum pernah membaca karya-karyanya!
Pemerintah daerah pun sama saja. Dalam Pos Kupang edisi 26 dan 27 Mei 2005 tidak pernah ada "tanda-tanda budaya' (istilah penulis) yang mensinyalkan adanya perhatian dan kepedulian dari Pemda NTT - baik pemimpin eksekutifnya maupun legislatifnya - tentang telah mangkatnya seorang tokoh besar NTT. Sama sekali tidak ada! Yang ada justru ikan-iklan besar yang beri ucapan selamat ulang tahun kepada Bapak Piet A Tallo, Gubernur NTT. Om Julius, seperti Om Valens Goa Doy yang meninggal beberapa hari sebelumnya (3 Mei 2005), memang telah memilih jalan seni, sebuah jalan yang sepi, yang senyap dari aplaus dan sunyi dari apresiasi, lebih-lebih di kampung sendiri.
Apakah artinya ini? Ini berarti, para pemimpin kita, eksekutif, dan legislatif, tidak menaruh hormat atas jasa para pahlawan sastra dan budaya NTT. Padahal mereka telah mengharumkan nama NTT, tidak saja di jagat sastra nasional, tapi juga internasional. Hidup bagi mereka, seolah-olah, hanya politik yang riuh dan ekonomi yang hinggar. Sementara Presiden Susilo Bambang Yudhoyono, pada peringatan Harkitnas 20 Mei 2005, di Istana Negara, menulis sebuah puisi yang dibacakan penyair Bandung Imam S, dan menitipkan salam untuk semua seniman dan sastrawan Indonesia dengan ucapan : "Hidup itu tidak hanya politik dan ekonomi. Hidup baru jadi kaya bila diisi dengan seni dan budaya" (TVRI, 2 Mei 2005, jam 20.00-22.00 Witeng). (Kiranya politikus-ekonom Ame Frans Seda tidak berkeberatan dengan hal ini).
Semua ini mengingatkan kita akan gugatan Gerson Poyk, Taufiq Ismail, Jamal D Rahman dan Agus R Sarjono, tiga tahun lalu, yang mengeluh bahwa : "Sekarang Indonesia umumnya, dan NTT khususnya, miskin sastrawan pelapis". Keluhan ini dilontarkan dalam dialog "Sastrawan Bicara, Siswa Bertanya" bersama para siswwa SMA di Kupang (Pos Kupang, 29 Juli 2002). Gerson bahkan menuding Pemda NTT hanya peduli membangun gedung-gedung besar dan rumah-rumah mewah, semua yang fisikal belaka. Itu tidak buruk. Tetapi, melupakan pembangunan rohani, spiritual, dan emosi, lewat sastra dan budaya, hanya membuat manusia NTT yang besar badannya tetapi kerdil jiwanya.

***
Mungkin prihatin akan itu, Om Julius bercita-cita pulang kampung dan mendirikan sanggar belajar sastra bagi kaum muda NTT (Pos Kupang, 25/5/2005). Sayang, ia keburu mangkat sebelum angannya terwujud. Maka, hari-hari duka mengenang kepergiannya kini mesti jadi momentum untuk membergairahkan minat kaum muda NTT akan sastra. Bukan sekadar untuk memenuhi cita-cita Julius, tidak hanya demi melahirkan sastrawan pelapis dari NTT yang diangankan Gerson Poyk, tetapi terutama untuk membentuk kebeningan budi dan keindahan jiwa kaum muda kita.
Untuk itu barangkali strategi berikut kita direnungkan untuk dipertimbangkan. Pertama, media massa. Media massa kita, elektronik dan terutama cetak, akan menjadi tonggak pertama dan sangat penting dalam menyebarluaskan karya-karya dan kisah hidup para sastrawan lokal kita. Jangan tunggu mereka mati dulu baru menulis berhalaman- halaman tentang mereka. Ulasan tentang karya-karya mereka, baik karya yang meraih penghargaan maupun belum, dan wawancara tentang proses kreatif mereka sebagai pengarang atau aktivitas kesehariannya, akan senantiasa penting dan menarik disimak, dipelajari, diarsipkan, diajarkan, dan pada gilirannya merangsang minat banyak "anak tanah" untuk tidak saja mengenal dan mencintai para sastrawannya, tetapi juga mengikuti jejaknya.
Di sisi lain, demi mengemangkan minat pada sastra, koran-koran perlu menyiapkan ruang khusus yang mempublikasikan karya para kawula muda (seperti Pos Kupang Minggu), dan alangkah baiknya jika disediakan pula honorarium yang merangsang. Bersamaan dengan itu, kehadiran Maria Matildis Banda, Frans M Parera dan Gerson Poyk (selaku redaktur khusus) bisa lebih menggairahkan para "calon sastrawan pelapis" itu dengan memberikan penilaian, kritik dan apresiasi terhadap karya-karya mereka, sebagaimana dulu DA Peransi terhadap R Siyaranamual atau HB Jassin terhadap Chairil Anwar, dll.
Kedua, sekolah-sekolah. Sistem pendidikan bahasa dan sastra yang selama ini menitikberatkan gramatika perlu diperkaya dengan belajar sastra dan mengarang. Adalah baik, jika para guru mulai memasukkan ujian mengarang sebagai bagian dengan bobot lebih dalam ujian Bahasa Indonesia. Siswa harus diajari menulis dan mengarang lebih serius daripada sekadar bikin clipping. Rasa-rasanya ahli gramatika seperti Bapak Goris Keraf dan Romo Bone Rampung setuju dengan saran ini.
Ketiga, masyarakat. Kelompok masyarakat seperti pengusaha, LMS dan stasiun-stasiun radio bisa mengambil bagian dalam menumbuhkan semangat berkebudayaan ini, misalnya dengan menyelenggarakan lomba mengarang dan/atau membaca karya sastra (seperti dulu pernah ada lomba baca Tapaleuk). Jangan dulu bangga jika hanya mampu menyelenggarakan pertandingan sepak bola, invitasi bola voli, turnamen tinju, kejuaraan berkelahi (taekwondo, karate, kungfu, gulat, silat, dll). Jangan hanya bikin pemilihan Puteri Ayu, Puteri Seksi, Puteri Pantai. Jangan dulu bertepuk dada karena sukses bikin lomba nyanyi, lomba joget, lomba poco-poco, lomba rokatenda, atau lomba gawi dan lomba tari ja'i. Tetapi berbanggalah, beranilah bertepuk dadalah dengan menyelenggarakan sayembara mengarang. Rasanya Dr. Daniel Dhakidae dan Dr. Paulus Budi Kleden tidak akan menolak menjadi juri tanpa dibayar.
Upaya Flobamora Mall yang mengadakan lomba baca puisi baru-baru ini di Kupang penting diikuti pengusaha lainnya. Era otonomi daerah adalah era inisiatif rakyat diberi dan mengambil peran. Dan jangan lupa, jika mungkin, rangsanglah peserta dengan hadiah uang yang menggiurkan. Sekadar contoh, para pengarang/penulis di Malaysia, jika memenangi suatu sayembara mengarang, bisa membawa pulang uang ribuan ringgit (=jutaan rupiah). Maka, tidak heran, jika di negeri tetangga kita itu, kehidupan sastranya jauh lebih maju dari pada kita di sini.
Keempat, pemerintah. Di atas telah diuraikan kritik Gerson Poyk. Di sini, penulis hendak mengimbau agar pemda mulai berani memaknai OTDA dengan mengembangkan kurikulum pendidikan muatan lokal, yang berisikan pelajaran dan pembelajaran tentang sastra dan sastrawan NTT. Siapa lagi yang akan menghargai mereka jika bukan kita?
Setelah melengkapi kurikulum tersebut, langkah selanjutnya pemda perlu menyiapkan "media" untuk para muda itu berkreasi. Misalnya: menyelenggarakan lomba mengarang kisah kepahlawan dari para pahlawan daerah kita pada Hardiknas 2 Mei, Harkitnas 20 Mei, atau perayaan Kemerdekaan 17 Agustus. Jangan hanya bikin pertandingan makan kerupuk dan lomba panjat pinang doang! Bung Karno dan Bung Hatta memperjuangkan kemerdekaan negara ini dengan banyak menyebarkan tulisan di media massa nasional dan internasional. Bukan dengan memanjat pinang atau makan kerupuk.
Semoga permenungan ini menggedor kesadaran kita bersama untuk melahirkan Julius-Julius baru, Gerson-Gerson muda, sebuah angkatan sastrawan NTT yang baru, yang -insya Allah- mengharumkan NTT dan menyejajarkan Indonesia dengan Rusia (dengan Dostoyevsky-nya) atau Inggris (dengan Shakespeare-nya) atau Jerman (dengan Karl May-nya) atau Denmark (dengan Hans Christian 'Louk', eh, Anderson-nya), dll. Memang, jalan itu masih panjang. Namun, berusaha selalu lebih baik daripada berdiam diri. **

* Penulis, pemerhati kearifan lokal
dan pencinta sastra, tinggal di Maumere

Pos Kupang, 15 Juni 2005

Manusia dan Belenggu Bahasa

* Mengenang Kakakku Julius Sijaranamual

Oleh Jacobus E. Lato

Manusia belum mengetahui apakah dia itu, namun melalui alienasi dari diri sendiri, ia dapat mengetahui apa yang pasti bukan merupakan dirinya dan karenanya ia tidak mau atau sekurang-kurangnya seharusnya ia tidak mau tetap tingggal dalam kepalsuan.
Kata-kata Ernest Block, filsuf Marxis kenamaan ini mengingatkan saya pada Julius Sijaranamual. Pada perspektif tertentu, karena kedekatan personal kami yang bersumberkan kekayaan normatif kebudayaan Sumba dan Flores, saya menempatkannya sebagai kakak, namun perspektif lain memposisikan kami sebagai dua lawan yang tak bisa dipertemukan. Tulisan ini dengan demikian mendeskripsikan keberjarakan dan ketidakmampuan manusiawi untuk saling memahami manusia dan kemanusiaan itu sendiri.

Manusia adalah mahluk historis; tumbuh dari pergulatan hidupnya sendiri mewarnai kejasmanian dirinya seperti diuraikan Sigmund Freud berintikan kesadaran dan ketidaksadaran; lingkungan dan relasinya dengan Allah dalam dimensi waktu yang selalu mengkini. Dengan statemen ini saya ingin mengatakan bahwa pengakuan terhadap manusia sebagai mahluk historis tetap tidak bisa memberikan validasi atas pemahaman masa lampau seseorang. Kita tetap membuka diri terhadap kenyataan bahwa manusia adalah mahluk nyata hari ini; mengkini, yang sama sekali tidak bisa sepenuhnya dipertautkan dengan masa lampaunya. Dinamika manusia dengan demikian mengekspresikan kompleks rumit masa lampaunya sekaligus orientasi, harapan dan ekspektasi masa depannya.
Fenomena itu menyebabkan saya tidak bisa dibenarkan mengatakan rekan saya, seorang doktor yang meraih gelar secara gemilang dari sebuah universitas kenamaan yang membuatku ngiler dengan keistimewaan itu, sering terkantuk-kantuk di meja belajar dalam buaian udara dingin Mataloko tempo dulu untuk melakukan character assault atasnya. Saya pun pantas digebuk dengan pukulan karate ala Bruce Lee jika mengatakan rekan-rekan yang kini menjaga gawang dan mewujudkan kebijakan pemerintah pada berbagai kantor di NTT yang kini tercabut dari budaya jalan kaki mereka serta mengendarai mobil ke mana-mana, dulu seringkali mengencangkan perut karena kiriman wesel orangtua terlambat, karena para orangtua itu lebih dulu mengencangkan ikat pinggang mereka demi perwujudan pembangunan monumen anak mereka yang belajar di rantau.
Keunikan dinamika manusia menyebabkan kesibukan para seniman, mahluk yang berada di atas angin angan, sekaligus yang menjalani setiap jalan keras kehidupan tidak berhenti berkreasi. Mahluk rasional ini menjadi sumber inspirasi yang terus-menerus harus ditulis ulang. Menjadi kesibukan pencarian yang tidak pernah mampu terpagari oleh eksistensi manusia sehingga kematian pun tidak mampu mematikan keabadiannya. Tidak juga oleh bahasa. Pengalaman sebagai remaja kecil yang membuatnya selalu dikelompokkan sebagai orang buangan untuk tim sepakbola kelasnya atau jenis olahraga lainnya diekspresikan Julius dalam berbagai novel kanak-kanak seperti Anak-anak Laut (1971), Menaklukkan Dunia Baru (1972), Tuhan Jatuh Hati (1972) dan Dalam Enam Jam.
Dalam novelnya Theo si Cilik (1972), salah satu penulis terbaik yang pernah dihasilkan NTT itu menemukan bahwa ketidakmampuan menandingi rekan-rekannya yang berbadan subur bisa dikanalisasi dalam bentuk lain. Dalam ekspisme psikologis konstruktif tanpa terjebak dalam hingar bingar kebencian yang mempertentangkan diri dengan manusia lain yang kini nampak mulai menghilang dari batin kalangan muda kita. Pengakuan pribadinya kepada saya yang selama tiga tahun hidup satu kos dan bersama-sama menangani kolom Opini, harian Surya di Surabaya; yang termasuk Theo si Cilik dalam dunia nyatanya adalah Valens Goa Doy, rekan sekelasnya yang meninggalkan kita beberapa waktu lalu (lihat essay saya, Valens tidak bisa dikuburkan dengan kata-katanya).
Dalam novel terbitan Nusa Indah yang saya baca pada tahun tahun 1993 itu, Julius membuktikan bahwa karya sastra estetik bisa menjadi semacam tension release, pelepasan ketegangan berekspresi yang mampu menutupi hubungan timpang dalam kekerasan kehidupan sosial. Theo, anak nelayan kecil diindividuasikannya mampu mengalahkan rekan-rekannya yang kelebihan bobot yang ketika itu menyimbolkan kemampuan ekonomi keluarga karena keunggulannya memancing dan memasuki got-got kecil di sekitar kampungnya. Perbedaan-perbedaan kharakter dan kemampuan memetakan manusia dalam berbagai kelompok, tetapi kehidupan sosial mempertautkan mereka dalam satu kesatuan yang utuh agar manusia tumbuh seimbang nampak ingin dimaknakannya dalam berbagai novel anak-anaknya..
Kekayaan dan keasyikan permainan anak-anak kemudian secara jeli dituangkannya kembali dalam cerpennya, Ancaman-ancaman, yang menjadi bagian dari antologi Prosa Indonesia Modern, oleh penulis Pengakuan Pariyem, Linus Suryadi A.G. Dalam cerpen yang dituliskannya ketika pesona teologi membiusnya sebagai mahasiswa Sekolah Tinggi Teologia Jakarta, kemapanan berpikir kolektif yang bergerak dari norma-norma yang pada akhirnya membelenggu manusia dipertanyakan. Semua norma termasuk agama dipertanyakan dalam semangat mencari kemungkinan konsepsional alternatif yang mengakomodasi ketidakmampuan manusia memahami manusia itu sendiri sehingga hidup tidak terjebak dalam keinginan menjadi Tuhan bagi orang lain. Dikisahkannya, ada murid sekolah dasar yang senang mengganggu pendetanya yang menghabiskan waktu senggangnya dengan berkebun. Setiap kali melewati rumah sang pendeta yang penuh bunga-bunga dan kerimbunan pohon buah-buahan, sang aku melempari bunga-bunga dan mangga. Kebiasaan mengganggu itu ternyata lahir dari keinginan sang aku untuk mendengarkan penjaga gawang norma yang selalu mengkotbahkan cinta dan kerahiman Tuhan itu mengancam anak-anak dengan dosa, neraka dan Tuhan.
Keasyikannya pada anak-anak dan laut ditunjukkan Julius yang sudah mulai mematangkan konsep kepengarangannya dalam cerpen lain, Rembuan mati yang memperlihatkan betapa kebudayaan dalam hal ini mungkin Sumba membelenggu manusia sehingga fatalisme kematian pun bisa dipilih sebagai pelarian. Belenggu itu tidak dipandang sebagai sesuatu yang merugikan tetapi humor
yang memungkinkan siapapun melihat tradisi nenek moyang itu dalam perspektif baru; keseimbangan menjaga relasi manusia dan alam serta Tuhan. Cerpen itu, berkisah tentang dua bakal besan yang terjebak dalam kebanggaan etnis dan prestise sosial bersitegang tentang mas kawin. Tidak ada pihak mau mengalah menggampangkan anak mereka yang kasmaran menempuh perkawinan. Ketika kebuntuan terjadi keduanya melihat bertanding sebagai alternatif, untuk menunjukkan keunggulan dan prestise diri. Bentuknya bukan berhadap-hadapan ala Caci di Manggarai atau Etu di Ngada, tetapi memancing, yang justru dilakukan ketika rembulan sedang mati. Setelah sekian lama memancing, kedua bakal besan itu merasakan pancing mereka bergoyang. Dan ketika pancing diangkat, kedua calon kakek itu terperangah. Bukannya ikan yang mereka peroleh tetapi mayat anak-anak mereka sendiri.
Arswendo Atmowiloto salah seorang rekannya mengagumi Julius sebagai pengarang yang berhasil menyajikan setting NTT dalam kancah dunia sastra nasional yang berorientasi Jakarta. Pengarang nyeleneh yang pernah dipenjarakan karena sikap skeptisnya itu menilai Julius tidak termasuk pengarang produktif. Hingga tahun 1980, penyuka kopi yang bisa menghabiskan lima bungkus rokok perhati itu hanya menulis sekitar 11 cerpen.
Saya sendiri beruntung pernah membaca sekitar 6 cerpen dan dua novelnya; Theo si Cilik dan Saat Untuk Menaruh Dendam dan Saat Untuk Menaburkan Cinta serta satu novel yang konon diupayakan penerbitannya sebelum stroke melemahkan tubuhnya. Berbagai karya itu terasa mengental utuh dalam kehidupan Bohemiannya yang tidak berhenti mempertanyakan semua fenomena yang ada di sekitarnya. Akibat intensitas pergaulan kami dan latar belakang pendidikan filsafat serta psikologi sosial saya, hidup dan pesona pemenang Zakze Prize sebagai penulis mahasiswa terbaik Indonesia untuk bidang sosial budaya itu merepresentasikan sebuah cerpen atau novel absurd yang sampai kapan tidak pernah diselesaikannya.
Pemberontakan terhadap kemapanan sosial dan keinginan aspek mencari sisi lain dari kegetiran hidup terasa kental dalam setiap gerak hidupnya. Sebagai putra Timor, begitu dia lebih suka mengakuinya, dia keluar dari batasan-batasan sosialnya sejak remaja. Keberanian itu diungkapkannya sejak SMA, setelah menamatkan SMP di kota karang, Kupang. Sebagai drop out SMA elit NTT itu, yang kebetulan sama-sama mengelola ruang Opini harian Surya, kami saling menyegarkan ingatan kepada sekolah asuhan para pastor Serikat Sabda Allah yang menurut penulis NTT lainnya, Gerson Poyk, memiliki panggung drama yang sama baiknya seperti yang dimiliki East West Center di Hawai, Amerika Serikat pada era tahun 1970-an.
Kembara Julius berlanjut. Setelah menamatkan SMA Syuradikara, yang mungkin kini kehilangan panggung sekaliber East West Center sesudah bencana Tsunami tahun 1992, dan bekerja bersama tokoh dan orator Partai Katolik di NTT, Kanis Pari, dia melanjutkan pendidikannya ke STT Jakarta. Selain bertemu dengan rekan-rekannya, seperti Pendeta Yewangoe yang kini menjadi Ketua PGI, di sana, dia bertemu Theresa S. Jansen, mahasiswi Sastra Jerman UI asal Manado, Sulawesi Utara yang dinikahinya dan memberikannya empat putera; tiga perempuan dan satu laki-laki.
Mengenai kisah cintanya itu, Kak Thres, begitu saya biasanya menyapa, berkisah; Ketika mau menikah, dia (Julius) , membawa saya ke Kupang. Bapak dan mama saya tidak tahu. Pakaian pengantin terpaksa saya jahit sendiri dengan tangan. Pakaian itulah yang saya kenakan pada hari pernikahan kami.
Karya sastra berkembang seiring pergulatan hidup pengarang yang ditempa dalam waktu yang panjang. Proses ini menjadi niat yang terus menerus diperjuangkan sehingga kekayaan pengalaman dan pengetahuan dieskpresikan dalam karya-karya yang selalu lebih baik dari sebelumnya. Gejolak dunia anak-anaknya dan remaja Julius dituangkan dalam berbagai tulisan yang sekilas saya singgung di atas. Ketika dewasa, yang menurut psikolog kenamaan Kohler didahului sikap skeptis untuk mempertanyakan nilai-nilai, Julius pun mempertanyakan nilai-nilai cinta dan perkawinan.
Dalam Saat Untuk Menaruh Dendam dan Saat Untuk Menaburkan Cinta (1992), dia melukiskan misteri manusia yang cenderung memetakan cinta sekalipun secara platonis tanpa terjebak hanyutan psikologis; sebaliknya membiarkan masing-masing pihak tumbuh sebagai pribadi.
Bahar, mahasiswa daerah yang terkurung tembok asrama terjebak keinginan menyelamatkan Eri yang terlanjur hamil karena saya membutuhkan seorang sahabat, sebab itu yang tidak pernah saya miliki, dengan cara hidup bersama wanita itu. Kehidupan Eri yang bebas, perbedaan prinsip yang kerap berujung pada konflik menyebabkan pria 23 tahun itu ingin membalas dendam; wanita cantik mahasiswi sebuah akademi sekretaris itu telah memberikan cinta dan dirinya kepada kekasihnya yang entah ke mana, namun kini mengharapkan kerelaannya menanggung malu. Meski demikian, Bahar, tanpa mengutipkan alasan moralistis yang secara sederhana dan hitam putih memetakan manusia juga melihat perkawinan sebagai persoalan manusia yang harus diperjuangkan keutuhan dan kelanggengannya.
Bahasa bagi Julius, adalah raket di tangan Liem Swie King itulah yang sering dikatakannya ketika kami bersama-sama memberikan pelatihan kepada mahasiswa, pada awal 1990-an. Kemahirannya menggunakan keluaran kemampuan berpikir manusia itu mencengangkan. Setiap kata disadarinya dan dirumuskannya hati-hati. Ia khawatir, ketidakmampuan mengungkapkan setiap detil kekayaan konsep berpikir seperti dikandung benaknya membiaskan maksudnya. Tulisan-tulisannya merupakan cermin panjang refleksi keseharian yang dimatangkan bahasanya. Ketidakmampuan merumuskan utuh konsep yang selalu terjadi pada perspektif tertentu harus dikembalikan kepada ketidakmampuan dasar abstraksi manusia dan bahasa pada pihak lain. Karena itu, selain belenggu ketidakmampuan diri, manusia pun dikendalai oleh ketidakmampuan bahasa. Tulisan ini tidak berpretensi menjelaskan Julius Sijaranamual, seperti juga kekayaan pengalamanku bertemu dia. Untuk memahami serba sedikit kekayaan kemampuan Julius mengungkapkan dinamika psikologis manusia, saya kutipkan bagian akhir buku Saat Untuk Menaruh Dendam dan Saat Untuk Menaburkan Cinta (hal. 134-135).
Tetapi ketika melihat wajah ayah Eri yang seakan-akan siap untuk menelan isri dan anaknya, saya segera melanjutkannya; Ketika mula-mula menikah, saya dan Eri memang sependapat bahwa hanya untuk mengatasi persoalan yang bakal dihadapi Eri karena ia hamil. Tetapi persoalannya sekarang sudah agak berbeda. Kenyataan yang saya hadapi pun sudah mampu membuat saya mengambil keputusan untuk tetap meneruskan hubungan yang ada dengan Eri sebagai suami istri.
Lalu sang ayah menanyakan kesungguhan hati saya dan saya katakan bahwa saya dibesarkan dalam tradisi keluarga yang hanya mengenal satu kali perkawinan sebagai hal yang sempurna, dan terutama karena kami telah mempunyai anak dan saya kira persoalan tidak ada sebagai saya juga sudah bekerja baik-baik, bahkan akan kuliah kembali karena dibantu oleh kantor.
Malam itu memang kedua orangtua itu tidak jadi menginap di rumah kami, tetapi mereka juga tidak perlu repot membawa pulang anak mereka. Eri sendiri tidak berbicara sama sekali, ia berdiam diri saja.
Di atas tempat tidur saya berkata, Kau tahu Anwar sekantor dengan saya. Kata Eri: Saya tahu. Waktu saya mau melahirkan, saya dengan taksi lewat di situ. Maksud saya mau memberitahukan kau, tahu-tahu saya lihat Anwar berdiri di depan. Jadi saya suruh taksi terus saja.
Kata saya: Dia menceritakan segalanya, dan saya kira saya bukan seseorang yang tidak membuktikan hal-hal yang saya kira patut saya kerjakan, walaupun seluruh dunia ini akan mengatakan salah. Kata Eri: Lalu apa sebenarnya yang mendorong kau untuk meneruskan hidup bersama saya?
Kata saya: Tidak ada. Kita sudah hidup bersama dan justru saya lihat kemungkinan untuk sebaliknya yang akan aneh. Apalagi kita sudah punya anak sekarang. Dan persoalan pertama yang kita hadapi adalah bagaimana memberikan nama yang bagus untuknya. Eri diam saja. Saya juga sebab saat untuk tidur sudah hampir.*




Kutu Buku yang Pandai Menulis

* Mengenang sastrawan Julius R Siyaranamual (2)

Oleh Maria Matildis Banda

BERITA meninggalnya Julius Syaranamual cukup mengejutkan Agustinus Beu Mude, mantan guru sastra Indonesia-nya di SMAK Syuradikara Ende. "Julius anak yang cerdas dan tahu berterima kasih," demikian spontanitas Pak Agus berbicara tentang Julius.
"Gampang diingat sebab beliau paling kecil, bercelana pendek sepanjang sekolah sampai tamat SMA, pintar, dan terutama kutu buku! Soal kutu buku Julius sama dengan Valens Goa Doi. Keduanya sekelas, dua orang yang sangat saya ingat," demikian Pak Agus.
Bukan hanya itu saja, setelah tamat SMAK Syuradikara, Julius Siyaranamual tetap diingat karena profesinya. Tidak hanya wartawan tetapi secara khusus sebagai penulis sastra. "Sulit mencari pengganti mereka." Di kalangan alumni Syuradikara Ende, sekolah swasta pertama dan tertua (52 tahun) ternyata sangat sukar mencari "Julius Siyaranamual dan Valens Doy" yang baru. Orang-orang yang memiliki komitmen yang sangat tinggi terhadap dunia kewartawanan dan dunia tulis-menulis umumnya bahkan sampai akhir hidupnya.

Memang tidak sedikit anak Syuradikara yang menjadi wartawan atau anak NTT yang menjadi terkenal dan hidup dari profesinya sebagai penulis. Tetapi Julius dan Valens berada dalam catatan khusus. Keduanya sangat peduli untuk membawa perubahan bagi NTT. Sebagaimana dicatat Pos Kupang tentang peran Valens dan Julius menempah para calon wartawan pada awal lahirnya SKH Pos Kupang. Valens yang jeli dan peka terhadap hal-hal kecil dan ketajamannya membuat calon wartawan terkejut dan membuka mata. Juga Julius yang dikenal dengan kajian deskritif dalam dunia kewartawanan. Kita patut bangga sebab jelas tercatat "kewartawanan" gaya Valens dan Julius meninggalkan banyak penerus. Tetapi bagaimana dengan "kepengarangan" gaya Julius?
Kenangan terhadap seorang penulis sastra (pengarang) ibarat pepatah. Harimau mati meninggalkan belang, gajah mati meninggalkan gading, manusia mati meninggalkan budi. Bagaimana kalau pengarang meninggal dunia? Tentu saja beliau meninggalkan hasil karyanya. Di antaranya Julius R Syaranamual, salah satu pengarang asal bumi NTT yang "kering" penulis. Beliau pergi tetapi karya-karyanya tetap hadir dan tercatat dalam khazanah sastra Indonesia. Selain memukau kalangan peminat sastra melalui novel Saat untuk Menaruh Dendam dan Saat untuk Menaburkan Cinta (1978), Julius juga dikenal sebagai pengarang khusus. Beliau dijuluki "pengarang dunia kanak-kanak" karena perhatiannya mengangkat masalah anak, dan menuliskan cerita khas anak-anak seperti Anak-anak Laut (1971), Menaklukan Dunia Baru (1971), Tuhan Jatuh Hati (1971), Teo Si Cilik (1972), dan Sekamar dengan Koko. Dalam tulisannya, Julius sangat memperhatikan bagaimana manusia dibentuk sejak anak-anak. Kesadaran pada masa kanak-kanak yang bebas, riang, dan terarah dalam tradisi keluarga saleh, membangun komitmennya dalam menulis. Beliau sadar bahwa tulisan adalah salah satu jalan baginya untuk bersaksi. Termasuk kesaksiannya pada masa lalu sekaligus masa depan anak-anak Indonesia. Tidaklah mengherankan jika tiga buah karyanya tersebar merata ke seluruh negeri melalui Inpres, masing-masing Sekamar dengan Koko, Anak-Anak Laut, dan Menaklukkan Dunia Baru. Keberhasilannya ini juga dilengkapi dengan peran istrinya yang juga seorang pengarang cerita anak-anak.
Kecintaannya pada dunia anak diungkapkan juga melalui kepedulian untuk ikut membidani lahirnya majalah anak-anak Kawanku dan menjadi pemimpin redaksinya (1970-1989). Sekarang majalah Kawanku tampil dengan lebih gagah, gaya, dan gaul. Barangkali tidak ada seorangpun anak-anak dan remaja NTT yang tahu bahwa Om Julius Siyaranamual adalah orang yang berada di belakang Kawanku. Untuk mengenal saja begitu sulit bagaimana dengan regenerasi? Julius pergi, siapa penerusnya?
Menurut Agustinus Beu, setahunya - paling tidak - untuk lingkup Syuradikara, regenerasi sangat kering, jaraknya jauh sekali. Menurut pak Agus Beu, setelah Valens Goa Doi dan Julius Syaranamual, muncul beberapa nama penulis yang bukunya diterbitkan seperti Aloysius Liliweri dan Maria Matildis Banda. Wartawan cukup banyak, namun yang menerbitkan buku sangat minim. Regenerasi cenderung lambat. Apalagi untuk anak-anak NTT zaman reformasi yang cenderung pragmatis, generasi instan yang malas berpikir dan lebih puas menelan.
Apa sebenarnya yang membuat Julius (juga Valens Goa Doi dan kawan-kawan wartawan) begitu interes pada dunia tulis-menulis? Sebagai guru bahasa Indonesia yang syarat pengalaman, Pak Agus Beu segera menjawab. "Baca!" Dalam ingatannya Julius itu kutu buku yang cerdas. "Dia tidak terlampau pintar tetapi dia tekun dalam membaca. Di kalangan anak dan guru-guru Syuradikara dulu, Julius dikenal sebagai si kecil kutu buku." Bacaan membuka cakrawala, membangun kreativitas dan mampu menghapus batas. Hal inilah yang tidak dimiliki anak-anak sekarang. Budaya lisan begitu kuat membelenggu meskipun dunia tulis-menulis, kewartawanan, dan arus informasi berkembang pesat. Bahkan keengganan membaca justru muncul setelah tawaran dunia informasi memaksa pikiran anak-anak terjebak hanya pada konteks melihat dan mendengar.
Kepergiaan Julius mudah-mudahan menjadi catatan penting bagi bagi dunia tulis-menulis di NTT. Ada banyak nama pengarang baru yang penuh bakat dan karya mereka "diam" dalam Pos Kupang. Tercatat nama-nama seperti Sipri Senda, Pr, Siprianus Atok, Usman D Ganggang, Freddy Kedang, Charles Lakapu, Steph Tupeng Witin, Tilde Menge, Mezra Pellondow, Jefri Klau, dan masih banyak yang karyanya pernah diterbitkan Pos Kupang. Jika tidak ingin berhenti hanya pada segelintir pengarang, pemerintah NTT harus melakukan kerja nyata. Misalnya usaha membangun budaya baca dengan menerbitkan karya-karya pengarang. Selain untuk tujuan motivasi bagi pengarang, usaha ini juga sebagai salah satu bentuk toleransi pemerintah terhadap berkembangnya sastra Indonesia di tingkat nasional maupun internasional. Agar dunia sastra kita tidak hanya mencatat Julius Siyaranamual, Gerson Poyk, atau segelintir nama lain. Tetapi ada generasi baru disamping Julius.
Pengarang dan wartawan itu sudah wafat. Namun tulisannya menetap di dunia fana ini. Si kutu buku yang pandai menulis adalah dua sisi yang tak terpisahkan. Meskipun penciptanya telah wafat berkalang tanah tetapi pandangan dunianya mengembara kemana-mana, diam, dan mengendap pada setiap kepala dan setiap hati yang mau membaca. Selamat jalan Om Julius. Sebagai pengarang engkau dikenal dengan nama Julius Reinhard Siyaranamual.
Sebagai Redaktur Khusus Pos Kupang engkau disapa Om Julius oleh anak-anak didikmu. Walaupun kita tak pernah bertatap muka, namun sesungguhnya kita sudah bertemu berkali-kali melalui berbagai buku dan tulisan-tulisanmu. Ternyata benar tulisan menembus nuansa tempat, ruang dan waktu, meskipun penciptanya sudah pergi begitu jauh. (habis).

Pos Kupang, 28 Mei 2005

Antara Dendam dan Cinta

* Mengenang sastrawan Julius R Siyaranamual (1)

Oleh Maria Matildis Banda

PERJUANGAN mengalahkan dendam berjalan bersama kegigihan menaburkan cinta. Itulah dua hal yang paling meninggalkan kesan mendalam tentang Julius Reinhard Siyaranamual sebagai seorang sastrawan. Dalam kehidupan nyata cinta dan dendam ibarat mata uang. Katakanlah uang itu senilai lima puluh ribu rupiah. Manakah halaman depan dan mana pula halaman belakang? Apakah yang bergambar pengerek bendera siap menaikkan bendera, ataukah wajah tampan Wage Rudolf Soepratman. Mana pula yang lebih penting?
Kedua sisinya saling memunggung tetapi tak terpisahkan. Mungkin analogi ini kurang tepat untuk menunjukkan betapa dendam dan cinta memiliki kekuatan yang sulit dipahami. Apalagi jika dikaitkan dengan harga diri dan integritas seorang laki-laki Timor yang dibesarkan dalam tradisi Kristen yang amat kuat. Sudah dapat diduga mana yang dikalahkan, mana yang diutamakan, dan bagaimana dua hal ini membayangi detak-detik perjalanan waktu.


Demikianlah Julius R Syaranamual mendeskripsikan prinsip hidupnya melalui novel terkenal Saat untuk Menaruh Dendam dan Saat untuk Menaburkan Cinta (disingkat SMDSMC). Sebelum lahir sebagai buku, novel ini terbit bersambung di Harian Kompas bulan April 1978. Tidak banyak sesama warga NTT yang membaca karyanya. Mungkin hanya segelintir guru yang kagum dan mencatatnya dalam mata pelajaran bahasa dan sastra Indonesia di sekolah. Keberhasilan Julius sebagai pengarang memang hanya dikenal generasi sebelum 1980-an.
SMDSMC menarasikan dua tokoh utama Bahar (laki-laki) dan Eri (perempuan). Eri berusia 20 tahun, karyawati juga mahasiswi Akademi Sekretaris yang sangat binal. Kehidupan cintanya dilukiskan sangat liar dan bebas. Lukisan karakter fisik, psikis dan sosial (salah satu poin penting dalam estetika prosa) dibangun dalam kemasan konflik yang membuat pembaca tidak akan berhenti membaca sebelum selesai. Dia naik ranjang dengan semua laki-laki yang pernah menjadi pacarnya. Tercatat banyak nama dan yang terakhir ternyata sudah beristri. Sedangkan Bahar adalah mahasiswa Teologi yang hidup di asrama dengan tata krama sosial budaya yang sudah dibangun dalam kesepadanan teori dan praktek. Bahar adalah sahabat Eri, pendengar yang sangat menawan yang selalu dengan setia menampung semua kisah dan keluhan Eri tentang sebagian besar laki-laki yang pernah tidur dengan dia. Pendek kata Bahar adalah laki-laki yang siap-sedia memberi nasehat dan jalan keluar dari problem sahabat karibnya itu.
Sampai suatu saat terjadilah bencana itu. Tanpa diduga, Bahar jatuh juga dalam pelukan Eri dan celakanya satu kali saja memakan "buah terlarang" telah menyebabkan Eri hamil. Bahar perlu meyakinkan dirinya apakah benar dia laki-laki terakhir dan apakah betul dialah ayah anak yang kandung Eri. Tapi Eri memilih Bahar untuk mau bertanggung jawab, sekedar menutup malu. Pernikahan Bahar (23 tahun) dan Eri (20 tahun) berlangsung dalam sebuah perjanjian cerai setelah anak mereka lahir.
Eri tahu dirinya tidak pernah mencintai Bahar dan sangat naif jika memaksa Bahar untuk bertanggung jawab. Rumah tangga berjalan dengan konflik tajam untuk saling menyakiti terutama setelah Bahar tanpa sengaja membaca buku harian Eri yang menulis detail malam pertamanya dengan "D". "Bukan main pengalaman malam pertamamu," demikian Bahar menikam Eri dengan kata-kata sekaligus membuka aib yang telah terkubur satu persatu dalam kenangan catatan harian. Tanpa sadar dendam di hati dan pikiran Bahar bertumbuh subur bersamaan dengan keluasan Eri berpeluk dengan mantan-mantannya dan membesarnya kandungan ibu muda itu bulan demi bulan.
Puncaknya ketika Bahar akhirnya tahu bahwa Anwar, sahabat karibnya sekaligus rekan kerja di sebuah majalah, bercerita tentang bagaimana malam percintaannya dengan Eri. Anwar tidak pernah tahu bahwa perempuan yang dikisahkan itu adalah istri Bahar. Pada puncak kemarahan itulah Eri melahirkan bayi laki-laki. Entah kenapa Bahar merasa perlu untuk mendampinginya dengan rasa kasih dan maaf yang sukar dikatakan sebab lahir bersama dendam yang tak juga hilang.
Dua minggu setelah melahirkan, Eri cukup tahu diri untuk segera pergi. Sambil berlinang air mata dia memohon pamit. "Saya tidak tahu cara yang paling tepat untuk mengatakan terima kasih saya," ujar Eri. "Tapi kau tahu, saya sangat berhutang budi padamu. Terima kasih. Tapi saya kira kita tidak begitu sepadan untuk hidup bersama. Kita selalu cenderung untuk saling menyiksa." Di luar perkiraan Eri, ternyata Bahar tidak mengizinkannya pergi dengan alasan, "Kalau saya menahan kau bukan karena kasihan. Itu jelas, karena saya kira hal itu tidak begitu baik untuk kita berdua. Tapi Negara ini sudah terlalu penuh dengan penderitaan. Kita tidak punya hak untuk menambahnya, kalau seandainya kita bisa menghindarkannya." Ada alasan yang lebih mendasar dari itu, Bahar dibesarkan dalam tradisi keluarga yang hanya mengenal satu kali perkawinan sebagai hal yang sempurna. Dengan prinsip iman inilah dia kalahkan dendam dan berjuang membangun cinta bersama Eri dan anaknya.
Berbagai pikiran yang dituangkan dalam SMDSMC syarat makna. Novel ini ditampilkan dalam teknik dan komposisi cerita dalam cerita (cerita berbingkai). Alur bergerak maju dalam latar Jakarta yang padat masalah. Sangat tepat bisa ditelaah dari teori strukturalisme genetik yang menggarisbawahi pandangan dunia pengarang. Lucian Goldmann adalah salah satu pengembang teori ini (Baca: Sosiologi Sastra, tulisan Umar Yunus). Intinya menggarisbawahi cara berpikir, wawasan dan sikap hidup pengarang yang dituangkan dalam karya sastra. Struktur novel dibedah sesuai estetika alur, perwatakan, dan latar. Pandangan dunia pengarang akan terungkap melalui estetika itu. Pertanyaan seperti siapakah mengarang, apa alasan dan tujuan, dan makna apa yang ingin dikedepankan melalui karyanya, menjadi bagian dari usaha kritikus untuk menempatkan posisi karya sastra. SMDSMC secara tajam menampilkan sebuah ekspresi dari prinsip iman pengarangnya. Bahwa meskipun pahit pil realitas hidup yang mesti ditelan, segalanya akan menjadi lebih mudah jika seseorang berjalan pada prinsip.
Catatan kenangan yang ditinggalkan Julius Siyaranamual tidak berhenti pada solusi iman. Melalui SMDSMC beliau juga memberi pesan bahwa kerumitan problem hidup tidak dapat berubah hanya dalam sekejab membalikkan telapak tangan. Butuh waktu dan usaha terus- menerus untuk berapresiasi dengan kesediaan memberi. Itulah Julius R Siyaranamual, laki-laki kelahiran Sumba Barat. Salah satu pengarang asal daerah NTT yang miskin penulis dan begitu lama kehilangan jejak regenerasi. "Sebab seseorang yang berada di tempat saya akan merasa betapa sialnya hidup bercinta dan terjerat oleh nasib, karena ia sempat mengetahui bahwa banyak orang lain dengan pasti telah menggauli habis-habisan perempuan yang menjadi istrinya," itulah pandangan dunia Julius melalui tokoh Bahar.
Dalam keadaan hampir putus asa dia kembali ke dalam Gereja. "Saya memasukinya dengan perasaan tak menentu. Memang saya tidak juga memperoleh kedamaian di situ, tetapi saya bisa menyanyi dengan seluruh jiwa saya." Pengarang "menggiring" pembaca pada akhir yang menyesakkan jika diukur dari sudut pandang manusia. Namun, bukan tanpa alasan ketika di ujung kemelut tokoh utamanya diantar ke Gereja dengan kata-kata padat makna, "Sudah saatnya saya memperbaiki hubungan saya dengan Tuhan." Sejak Julius wafat 23 Mei 2005, beliau tidak saja memperbaiki hubungan dengan Tuhan tetapi beliau pergi ke sana dan tak pernah kembali lagi ke Negara yang katanya terlalu dipenuhi oleh penderitaan. (Bersambung)

Pos Kupang, 27 Mei 2005

Selamat jalan Ama Tobo

Oleh Paul Bolla

SAAT menghadiri ibadah syukur mengenang Om Julius Siyaranamual di Kantor Surat Kabar Harian Pos Kupang kemarin (25 Mei 2005) siang, saya diminta oleh Pemimpin Redaksi Pos Kupang, Dion DB Putra, untuk membuat sebuah tulisan mengenai Om Julius.
"Pokoknya, katong tunggu tulisan To'o (begitu Dion biasa menyapa saya) untuk rubrik opini," pinta Dion. "Opini masih kosong ya," kata Dion kepada Tony Kleden, pengasuh halaman opini, agak bersekongkol. Dan, diiyakan oleh Tony.
"Masih wartawan to, pokoknya katong tunggu sebentar untuk edisi besok," ulang Dion dengan pemaksaan halus, saat ibadah selesai dan hendak berpisah sekitar pukul 14.15 Wita. Deadline tulisan tidak diberitahu. Hanya deadline "pokoknya".

Dalam waktu yang mepet, saya memenuhi permintaan eja asal Ende itu. Karena saya tahu, jika mendekati deadline dan tulisan yang diharapkan belum ada, pasti mereka akan stres. Dan dengan kecewa segera mengganti dengan tulisan lain. Nah, tulisan ini merupakan pengembangan dari apa yang sudah saya ungkapkan sebagian saat diminta memimpin ibadah syukur mengenang Om Julius Siyaranamual, kemarin.
Ada banyak predikat yang diberikan pada Om Julius. Dia seorang wartawan, penulis, sastrawan, budayawan, aktivis LSM, guru, sahabat, pendeta, ayah, dan sebagainya. Saya memilih dua predikat: guru dan penulis. Sebagai guru, Om Julius mengajari saya menulis yang baik.
Dalam banyak ilmu yang dia ajarkan sejak ikut mendirikan Pos Kupang, topik deskripsi adalah yang paling berkesan pada saya. Mengapa? Karena ketika itu topik itu sangat menelanjangi kita wartawan Pos Kupang angkatan pertama dan sudah senior. Mereka yang tadinya bergaya sebagai wartawan senior, ternyata sama saja dengan para pemula. Lemah dalam membuat deskripsi. Om Julius mencap kita semua "bodok".
Jerih lelahnya agar kita bisa membuat tulisan deskripsi yang benar, tak banyak memberi hasil. Sehingga ungkapan berikut ini keluar begitu saja: "Saya telah memberi mutiara kepada babi-babi." Semua yang ikut pelatihan terdiam. Sonde ada yang barani angka muka. Muka merah semua. Bagi wartawan pemula wajarlah, tapi yang sudah terlanjur bergaya wartawan besar, betul-betul tidak berkutik. Karena hanya untuk membuat deskripsi ternyata tidak ada yang benar.
Sejujurnya, apa yang diminta Om Julius itu berat. Kemampuan yang didapat om Julius, terutama saat menulis feature yang menuntut deskripsi yang kuat, pasti tidak dalam seminggu pelatihan. Tetapi Om Julius meminta kita harus cepat bisa. Di kemudian hari baru saya mengerti tuntutan Om Julius itu. Ternyata deskripsi yang benar adalah sesuatu yang sangat mendasar bagi seorang wartawan. Sebuah fakta kerap berubah menjadi penilaian atau opini di tangan wartawan. Itu bukan semata-mata karena wartawan ingin beropini, tetapi sumbernya dari sang wartawan memang lemah dalam membuat deskripsi atas peristiwa yang dia laporkan.
Nah, suka atau tidak, kita sudah dicap 'bodok'. Itulah Om Julius. Apa yang ada di pikirannya keluar begitu saja. Dia ungkapkan lurus, apa adanya, dan langsung. Dia ungkapkan sesuatu yang obyektif. Jujur. Bagi yang tidak mengenal karakternya, tentu akan sangat tersinggung. Namun penilaian obyektif ini tidak terbawa dalam hubungan pribadi. Dia tetap seorang teman, memperlakukan kita dengan baik, meski baru saja dia mengatakan kita 'bodok' atau 'babi'.

***
Pada acara syukur di Kantor SKH Pos Kupang, Om Damyan Godho, Om Marcel Gobang, Om Hans Louk dan Ana Djukana, sudah mengisahkan pengalaman kebersamaan mereka dengan Om Julius Siyaranamual. Saya sudah mengawali kisah pengalaman dengan Om Julius dalam renungan singkat yang didasarkan dari kitab Mazmur 90: 12 demikian "Ajarlah kami menghitung hari-hari kami sedemikian, hingga kami beroleh hati yang bijaksana."
Mengingat Om Julius adalah alumnus Sekolah Tinggi Theologia Jakarta, saya menyampaikan renungan diawali dengan cerita tentang penciptaan manusia. Dalam Kitab Kejadian 1-2, jelas disebutkan bahwa alam semesta dan segala isinya diciptakan lebih dahulu. Manusia diciptakan kemudian. Artinya dalam hubungan senioritas, manusia yunior dibanding ciptaan lainnya. Namun, manusia mengabaikan kesenioritas ini dan mengeksploitasi alam hingga akhirnya mencelakakan diri sendiri.
Dalam kisah penciptaan, martabat manusia tidak lepas dari ciptaan lain. Mulianya manusia selalu berkaitan dengan konteks. Konteks menyediakan semua yang manusia butuhkan. Konteks di mana Tuhan menempatkan manusia di tengah semua yang diciptakan adalah baik adanya. Sebaliknya konteks tidak bisa menyembunyikan dan melindungi manusia jika manusia mengabaikannya.
Menurut hemat saya, di situlah tempat Om Julius Siyaranamual. Dia adalah penulis yang memperhatikan pentingnya konteks, sehingga sebuah tulisan bisa bertutur dengan jujur dan apa adanya. Alasannya, tulisan harus menghadirkan suasana. Sesuatu yang hidup, berbicara dan semua yang ada dalam konteks memiliki peran terhadap yang lain. Sesuatu itu menjadi bermakna karena letaknya dalam konteks yang tepat. Jika sesuatu diabaikan atau dimarjinalkan perannya, maka yang lainnya akan berbeda pula maknanya. Tulisan yang mengabaikan konteks akan menyesatkan orang yang membacanya.
Penulis yang peduli pada konteks adalah bekal bagi wartawan yang jujur. Sebuah peristiwa yang dia lapor dengan kualitas deskripsi yang baik akan memberi gambaran jelas kepada pembaca bagaimana dan di mana sebuah peristiwa terjadi. Sebab deskripsi yang baik, menjadikan penulis sebagai mata, telinga dan indera perasa bagi pembaca. Sebuah tulisan dengan deskripsi yang baik sama seperti kita menghadirkan atau menyajikan tulisan sebagai suatu dunia ril, yang terbuka untuk dimasuki para pembaca.
Kepergian Om Julius Siyaranamual adalah suatu kehilangan seorang jago deskripsi. Saya kira Om Julius pergi dengan sakit hati. Sebagai orang Kupang -- rumahnya di Fontein Bawah dekat Suembak --- pasti Om Julius akan sedih sekali membaca tulisan-tulisan di koran-koran, terutama yang terbit di Kupang. Wartawan hingga editornya tidak mempunyai cukup bekal kemampuan deskripsi, sehingga banyak orang disakiti oleh tulisan mereka.
Rendahnya kemampuan deskripsi, diperparah dengan miskinnya perbendaharaan kata, membuat wartawan mengambil jalan pintas untuk mengungkapkan sesuatu yang disajikan kepada pembaca. Dalam banyak kasus tentang insiden perkelahian, wartawan mudah jatuh dalam kata- kata menyesatkan 'korban babak belur.' Ternyata yang dimaksud 'babak belur' itu bukan 'babonte balau' seperti ungkapan orang Kupang, tetapi hanya memar ringan. Kita telah diberi gambaran yang menyesatkan.
Mereka yang pernah membaca rubrik 'Bakatumu di Paklaru' pada tahun pertama kehadiran Pos Kupang, bisa menikmati kuatnya deskripsi. Rubrik ini merupakan rubrik Om Julius yang ditulis dalam bahasa Kupang. Tulisannya tentang aktivitas orang di Paklaru, membuat kita ikut membayangkan aktivitas di dalam paklaru. Ada dedegu, laru, se'i bakar, dan Ama Tobo yang pulang jual ikan selalu singgah di paklaru.
Rubrik 'Bakatumu di Paklaru' kemudian dipercayakan kepada saya. Saya menambahkan tokoh baru sebagai pemilik paklaru, yakni Aduba'i, nama asli suku Rote. Om Julius meminta saya mempertahankan tokoh Ama Tobo, tokoh rekaan asli dari Om Julius. Dengan kemampuan yang terbatas, saya mencoba menjaga setting, plot, karakter rubrik itu sesuai permintaan Om Julius hingga rubrik itu ditiadakan saat saya bertugas di Maumere.
Suatu hari di awal saya dipercayakan menulis rubrik Bakatumu di Paklaru, Om Julius bertanya: "Kanapa beta minta lu pertahankan tokoh Ama Tobo?" tanya Om Julius dalam aksen Kupang. Saya menjawab tidak tahu.
"Lu tau arti Ama Tobo?" tanya Om Julius lagi.
"Apa artinya?" Saya balik bertanya.
"Ama Tobo artinya To-lo Bo-a," Jawab Om Julius ringan sonde pake pele-pele. Saya hanya bisa melongo, tapi tidak merasa heran.
"Maksudnya, Ama Tobo adalah figur orang yang selalu jadi korban pembangunan, sasaran makian. Dia hanya bisa datang berterus terang tentang nasibnya dengan mengunjungi Paklaru Aduba'i yang dia anggap sebagai kantor DPR." Om Julius memberi penjelasan setelah melihat saya melongo.
"Nah, pakailah rubrik Bakatumu di Paklaru untuk membela Ama Tobo-Ama Tobo di mana pun." Inilah pesan terakhir Om Julius saat mengkhotbahi saya.
Kini Om Julius, bapaknya Ama Tobo menyusul rubrik "Bakatumu di Paklaru" yang sudah lebih dahulu almarhum sejak tahun 1996. Selamat jalan Ama Tobo!!!

* Penulis, seorang wartawan, tinggal di Kupang

Pos Kupang, 26 Mei 2005


Berpihak pada yang tertindas

In memoriam Julius Siyaranamual

Oleh Ana Djukana

TAHUN 1995 lalu, saat menjadi wartawan magang di Harian Umum Pos Kupang, penulis dan beberapa wartawan senior pada pukul 15.00 Wita setiap hari sepulang dari lapangan mendapatkan materi penyegaran dari wartawan senior. Salah satu wartawan senior yang memberikan materi saat itu, Almarhum Om Julius Siyaranamual. Penulis dan hampir semua wartawan sering menyapa almarhum dan almarhum Valens Doy, Damyan Godho, Marcel Gobang, Wens Rumung, Pius Rengka, Hans Louk, Dion Putra, Beny Dasman, Paul Bolla dan senior lainnya dengan panggilan Om.



Tak ada alasan yang tepat mengapa harus menyapa Om dan bukan Pak. Semua itu, hanya masalah kebiasaan dan lebih enak untuk bantingan lidah. Karena itu, terasa janggal bagi kami menyapa Om Damyan Godho dengan Pak Damyan. Karena kebiasaan itu, panggilan om pun dibangun menjadi alasan prinsipil untuk menegaskan dalam dunia pers tak ada birokrasi. Panggilan boleh om, tetapi dalam struktur kami menghormati mereka sebagai pimpinan dan senior. Bukan karena panggilan om lantas menjustifikasi kami harus tidak menghormati mereka. Tetapi pada sisi yang lain, kami bebas berdebat soal idiologi. Sesuatu yang tidak haram di dunia pers.
Kembali ke almarhum Julius Siyaranamual, dengan penampilannya yang nyentrik rambut dikucir, mengenakan jins dan kemeja lengan panjang, merokok dengan secangkir kopi ia memberikan penyegaran kepada kami wartawan.
Untuk mengetahui idiologi apa yang dibangun seorang wartawan dalam bekerja, di ruang rapat Dewan Redaksi, kepada kami diajukan pertanyaan. Sebagai seorang wartawan, jika menulis berita wartawan berpihak pada orang miskin, tertindas ataukah pada kebenaran.
Yang menjawab pertama, senior penulis Om Ben Seran. Ia mengatakan akan berpihak kepada kebenaran. Selanjutnya Om Julius meminta penulis komentar. Penulis memberikan alasan berpihak pada mereka yang tertindas. Dengan membangun kerangka pikir advokasi, penulis selalu melihat korban sebagai orang yang harus dibela dan diberi perhatian.
Setelah itu, Om Julius mengemukakan mestinya wartawan berpihak pada mereka yang miskin dan tertindas. Jawaban Om Julius dibantah Om Ben Seran. Menurut Om Ben, bagaimana mungkin wartawan diminta berpihak kepada orang miskin kalau orang miskin itu mencuri, malas, menipu.
Om Julius kembali bertanya, apakah di dunia ada kebenaran?. Baginya kebenaran itu ada dalam diri orang yang tertindas, orang miskin dan tercecer. Orang menjadi miskin karena kemiskinan yang terstruktur, korupsi yang merajalela dan ketidakadilan.
Selanjutnya mantan Pemimpin Redaksi Majalah Anak-Anak Kawanku ini memberikan kuliah teologia panjang lebar untuk meyakinkan argumentasi yang disampaiaknnya kepada kami. Mengutip Injil, Om Julius menyampaikan bilamanakah kami melihat Engkau lapar dan memberi Engkau makan atau haus dan memberikan Engkau minum ? Bilamanakah kami melihat melihat Engkau seorang asing dan kami memberi Engkau tumpangan, atau telanjang dan memberikan Engkau pakaian? Bilamanakah kami melihat Engkau sakit atau dalam penjara dan kami mengunjungi Engkau? Aku berkata kepadaMu, sesungguhnya segala sesuatu yang kamu lakukan untuk salah seorang dari saudaraKu yang paling hina, kamu telah melakukannya untuk Aku.
Baginya pesan Tuhan Yesus menjadi pesan kenabian yang menjadi spirit dalam melaksanakan kerja-kerja kemanusiaan melalui profesi wartawan. Wartawan tidak boleh netral dan pasif terhadap rezim saat itu.
Dalam bekerja, ujar Om Julius wartawan mesti bertindak profesional artinya dalam menulis berita harus berimbang, cek, recek tetapi dalam idiologi harus berpihak kepada mereka yang lapar, haus, korban ketidakadilan, termarginalisasi.
Pada lain kesempatan saat isu HIV/AIDS belum diketahui di NTT, Om Julius yang menangani hotline HIV/AIDS di koran Surya datang dan mensosialisasikannya melalui Harian Umum Pos Kupang, membuat lokakarya.
Om Julius jauh-jauh hari sudah mengingatkan wartawan agar dalam menulis berita HIV/ADIS tidak diskriminasi terhadap ODHA, melihat OHDA sebagai sesama yang patut diberi perhatian.
Ia pun mengajarkan kepada kami wartawan muda untuk menjaga nilai dalam menjalani profesi. Wartawan sekali-kali jangan mapan. Jika mapan wartawan tidak akan peka dan cenderung membela kekuasaan. Wartawan katanya harus belajar, membaca dan berdiskusi. Menjadi wartawan tak cukup dengan memahami 5 W dan 1 H.
Meski ia meminta wartawan menjaga jarak kritis dengan kekuasaan tetapi wartawan tetap harus mempunyai kasih dalam hati. Dengan kasih wartawan tidak menjadikan berita bagi pembacanya candu tetapi menjanjikan jalan keluar.
Ajarannya tentang nilai tidak sekedar omong-omong tetapi dipraktekannya dalam sikap hidup. Meski bicaranya sering nyelekit (judes bahasa Kupang), tetapi hatinya baik.
Penulis bertemu terakhir dengan almarhum, ketika Harian Independen NTT Ekspres baru terbit beberapa bulan. Setiap malam dari rumahnya di Fontein ia selalu datang memberikan motivasi kepada penulis, Om Hans Louk, Paul Bolla dan Dani Ratu.
Kini Om Julius telah dipanggil Tuhan kembali. Airmata kita jatuh lagi, kenapa orang-orang baik begitu lekas dipanggil pulang. Guru, penyair, wartawan, ayah kita Julius Siyaranamual telah berpulang. Itulah kiriman pesan pendek Pemred Pos Kupang, Om Dion Putra kepada penulis. Selamat jalan Om Julius, nilai-nilai yang kau ajarkan menjadi suluh bagi kerja-kerja kemanusiaan melalui profesi wartawan. *

Wartawan atau tukang cat?

MEMBAHAS seorang Julius Siyaranamual tak cukup hanya dengan menulis in memoriam. Ia tidak hanya wartawan, tetapi juga guru, sastrawan. Ia kaya ide. Berada dekatnya, kita selalu merasa bodoh. Bersama keluarga besar Harian Umum Pos Kupang, Rabu (25/5/2005), kami beberapa anak didik Om Julius yang sudah tidak lagi mengabdi di Pos Kupang diundang Pemred Pos Kupang, Om Dion Putra berdoa bersama. Di sana ada Om Hans Louk, Om Asis Tokan, Om Paul Bolla, Ibu Evie Pello dan saya sendiri yang pernah mengabdi dan dibesarkan di koran tersebut.
Doa bersama tersebut dipimpin Paul Bolla. Dalam refleksi khotbahnya Om Paul menyinggung Om Julius Siyaranamual mengajar calon wartawan Pos Kupang bagaimana mendeskripsikan fakta sehingga pembaca merasa hadir dalam sebuah peristiwa dengan membaca tulisan wartawan.
Yang dikritik Om Julius, selama ini wartawan menulis features sangat kering. Artinya konteks tidak dihadirkan dalam sebuah tulisan. Membaca features yang kering, pembaca tidak mendapatkan apa-apa dari tulisan tersebut. Karena itu, jangan heran kalau hasil liputan yang dibuat features dan diperiksa Om Julius tak ada yang baik menurutnya.
Menurut Paul, Om Julius berbeda dengan Om Valens. Kepada wartawan yang bersusah payah mengejar objek liputan dan berhasil membuat berita yang baik diberi apresiasi. Hal itu tak pernah dirasakan dari Om Julius. Di hadapan Om Yulius semua orang bodoh.
Membaca hasil-hasil karya wartawan yang diajarkannya dan tidak ada perubahan, Om Julius pernah marah. Ia mengatakan apa yang disampaikannya ibarat membuang mutiara ke mulut babi-babi. Setelah itu ia meninggalkan wartawan dan keluar.
Dipandu Tony Kleden, memberikan kesempatan kepada kami untuk memberikan komentar tentang Om Julius. Om Damyan Godho mempunyai kesan yang spesifik terhadap Om Yulius. Di mata Om Damyan, Om Julius orang yang sangat toleran. Saat pertama mendirikan Pos Kupang, Om Julius rela meninggalkan keluarga dan semuanya memilih bergabung dengan Om Damy dan teman-teman untuk mendirikan Pos Kupang. Semua itu dilakukannya karena tantangan Om Damy, kalau merasa orang Kupang pulang dan buat koran di Kupang.
Meski Om Julius suka mengeluarkan kata jorok kata Om Damy, dan jarang ke gereja, tetapi sikap hidupnya sangat religius.
Dirinya pernah dinasehati Om Julius saat ia datang ke rumahnya dan melihat lilin yang sementara dinyalakan. Om Julius memintanya untuk hidup seperti lilin yang menerangi orang lain tetapi lebur. Sebenarnya nasehat itu juga adalah cerminan hidup Om Julius sendiri. Karena Om Julius orang yang sibuk mempersoalkan dan menggugat kemiskinan, ketidakadilan, orang-orang yang tercecer tetapi hidupnya menderita.
Sementara Om Marsel Gobang menilai Om Julius adalah inspirator. Ide-idenya cerdas dan cemerlang. Dia diberikan Tuhan lima talenta.
Sewaktu masih di Surabaya, mereka sering makan dan tidur bersama sehingga menjadi akrab. Kedekatannya dengan Om Julius karena almarhum Valens Doy. Jika kehabisan uang untuk membeli makan, Om Julius akan berterus terang, begitupun rokok. Hal yang sama pun dilakukannya terhadap Om Julius. "Banyak hal yang tak bisa diungkapkan biar semua itu menjadi kenangan," katanya.
Om Hans Louk mempunyai kesan seperti Paul Bolla. Berkenalan dengan Om Yulius kata bodoh pertama yang diterimanya dari mulut Om Julius. Tetapi ajaran Om Julius soal deskripsi membuat tulisannya tentang tetangganya yang meninggal terbakar menjadi acuan polisi untuk membongkar kasus tersebut. Satu hal yang tak bisa ditirunya dari Om Julius mengajar berjam-jam dengan rokok di bibir.
Pengalaman kami dengan Om Julius oleh Pemred Pos Kupang, Om Dion Putra minta ditulis dan dikirim ke Pos Kupang. Paul Bolla didaulat pertama untuk menulisnya. Siapapun yang pernah berteman, dididik Om Yulius mempunyai kesan tersendiri terhadapnya. Yang pasti semua tahu Om Yulius tak pernah senyum meski selera humor tinggi, suka mengeluarkan kata-kata yang judes, pelit pujian, baju selalu diluar. Pokoknya dia sosok yang unik.
Jika seseorang ingin menjadi wartawan hanya karena mengisi waktu luang sebelum mendapat pekerjaan di tempat lain dan bertemu dengan Om Julius, pasti dia berpikir dua kali lagi untuk menjadi wartawan.
Awal kedekatan saya dengan Om Julius, saat menjadi wartawan magang. Seorang teman diutus meliput festival Lasiana. Namun sepulang dari festival ia tak membuat berita (sesuatu yang fatal bagi seorang wartawan sebenarnya). Padahal berita tersebut telah diproyeksi dalam rapat Dewan Redaksi sore hari untuk berita halaman I. Pukul 22.00 Wita, penulis dipanggil Om Hans Louk (redpel saat itu) dengan Om Julius dan menugaskan meliput diantar mobil sedan Pos Kupang. Pukul 12.00 Wita, kembali dan membuat berita yang diturunkan halaman I.
Sejak saat itu, mungkin karena ia melihat saya mempunyai tampang disuruh atau penurut dalam beberapa hal saya sering ditugaskan atau diajak diskusi. Termasuk saat sosialisasi HIV/AIDS di Kupang.
Hal yang tak pernah terlupakan saat mendidik kami wartawan baru. Om Julius paling benci terhadap orang yang malas berpikir dan tidak disiplin. Seorang teman perempuan saya datang terlambat dari lapangan padahal Om Julius sementara mengajar. Teman saya itu datang mengenakan celana ketelpak (celana kode) yang saat itu lagi mode. "Ana ini tukang cat dari mana?" tanya Om Julius dan menghadap ke Ana. Teman saya itu tertawa. Om Julius mengatakan tak ada yang lucu karena kamu seperti badut seraya bertanya sinis, "Ini wartawan atau tukang cat?"
Saat itu saya benar-benar ketakutan. Teman saya itu salah tingkah tetapi Om Julius seakan tak peduli perasaan teman saya dan melanjutkan mengajar. Dalam hati, saya catat Om Julius orang yang disiplin, keras dan komit terhadap profesi. Karenanya selama ia mengajar, saya berusaha tidak terlambat dan menuruti semua penugasan yang diberikannya. Om Julius memang unik, guru, wartawan, sastrawan. Mungkinkah ada generasi baru pengganti Om Julius? (ana djukana)

Sumber Harian Kursor, 25 Mei 2005

Jangan lupa bawa kondom

JULIUS Siyaranamual meninggal dunia di Jakarta, hari Senin 23 Mei 2005. Bagi murid-muridnya atau mereka yang pernah bekerja dengan almarhum, banyak kenangan indah yang membekas di hati. Om Julius dikenal unik, cerdas, kreatif dan keras dalam mendidik. Berikut penuturan mereka.

Yulius Lopo (Pemred Timika Pos)
HARI Senin (23/5), tepat pukul 09.51 WIT, saya mendapat SMS mengagetkan dari Paul Bolla yang isinya singkat, "Pak Julius Siyaranamual meninggal dunia tadi pagi jam 5." Setelah membaca SMS tersebut saya agak ragu dan mencoba menkonfirmasikan berita tersebut ke sejumlah teman, namun belum sempat, terdengar lagi SMS masuk dan ternyata dari Om Marcel Gobang yang isinya nyaris sama.

Lalu berturut-turut masuk SMS dari Ale (Surya), Dion DB Putra (Pemred Pos Kupang), Evie Pello (mantan wartawan Pos Kupang) dan sejumlah nomor HP yang tidak kenal siapa orangnya, yang isinya sama memberitahukan, "Guru kita Julius Siyaranamual telah meninggal dunia dan sementara disemayamkan di Kompleks Cemara Indah Tangerang, telp 021-5511766. Tolong teruskan ke teman-teman".
Bagi saya, Julius Siyaranamual merupakan sosok yang sulit dilupakan dalam dunia pers, khususnya di lingkungan Persda (kelompok pers daerah KKG). Beliau tidak hanya seorang wartawan senior yang keras pendirian, tapi juga guru bagi para wartawan yang sangat unik dan khas. Unik dan khas karena memiliki sifat dan sikap yang berbeda dari wartawan pada umumnya.
Patut dicirikan beliau sebagai salah seorang wartawan senior yang keras kepala dan egois. Dalam melihat dan menilai sesuatu, beliau sangat argumentatif. Selalu saja memiliki argumen yang sulit dikalahkan dengan argumen lain. Argumennya unik dan sulit menemukan argumen lain untuk mematahkannya. Beliau kaya ide dan selalu saja terkesan mau menang sendiri sehingga sepintas bisa dibilang beliau orang yang egois atau mau menang sendiri dalam melihat, menilai atau menyikapi sesuatu. Selalu membuat penasaran. Kesal dan terkadang juga jengkel. Tapi beliau tidak bisa dibenci karena sikapnya itu, karena beliau juga sosok yang perhatian, bijak dan pintar memberi solusi.
Sebagai seorang pendeta, beliau selalu mengajarkan murid-muridnya (calon wartawan) agar dalam menulis selalu meniru tulisan dalam Alkitab yang ringkas, singkat, padat kata-katanya dan jelas tujuan atau sasarannya. Sangat banyak ayat Alkitab yang beliau hafal dan sering digunakan dalam mengajar dan membimbing para calon wartawan. Ayat-ayat Alkitab juga sering dipakai dalam membina dan menasehati para wartawan, dan juga dalam membangun sebuah argumentasi terhadap sesuatu. Karena memakai ayat Alkitab, jadi sulit membantahnya kalau lawan argumentasinya tidak memiliki referiensi ayat Alkitab yang sebanding dengannya.
Sebagai manusia, beliau juga memiliki banyak kekurangan dan kelemahan. Bagi teman atau wartawan yang sudah agak akrab dengan beliau, beliau adalah seorang "tukang maki" walau makiannya tidak bermakna maki sungguhan. Seperti orang Timor umumnya, makian sering digunakan untuk menggambarkan kedekatan dalam berteman. Karena itu ketika Dion Bata Putra (Pemred Pos Kupang) meminta saya untuk menulis sesuatu tentang beliau, saya sempat bilang, yang paling saya ingat adalah kebiasaan beliau memaki-maki.
Namun setelah berpikir dan mengenang beliau lebih dalam, sebetulnya juga yang paling berkesan adalah cara mendidik dan nasehatnya yang khas Alkitabiah, pandangan dan raut mukanya yang tajam, cara merokoknya yang khas dan sambung-menyambung. Yang tak bisa saya lupakan juga adalah keterlibatan beliau upaya pencegahan HIV/AIDS dan bagaimana beliau mengajari dan mendidik para wartawan agar ikut menyebarluaskan bahaya HIV/AIDS kepada masyarakat luas. Selamat jalan, semua murid pasti mendoakan dan berharap Om Julius mendapat tempat yang layak di sisi Tuhan.

Viktor Bhato (Redaktur Harian Timika Pos)
BAGI saya, yang sangat berkesan dari beliau ketika mendidik para calon wartawan adalah nasehatnya agar menulis mengikuti gaya tulisan para rasul dalam Alkitab. Saya selalu mengenang pesan Om Julius kepada saya, Hadmarus Waka (kini wartawan Polkam Harian Timika Pos), Marthinus Moru (kini Redaktur Ekonomi Harian Radar Timika) dan Mathias Masan Ola (kini Redaktur Kota Harian Tribun Kaltim) ketika hendak berangkat ke Timika setelah mendapat pelatihan di Pos Kupang pada bulan Juni 2000.
Om Julius yang juga aktivis/pakar HIV/AIDS itu meminta kami berempat untuk membawa kondom kalau berangkat ke Timika. "Pesan saya berbeda dengan Om Damy (Damyan Godho, PU Pos Kupang) dan Om Marcel Gobang. Saya hanya minta kalian yang ingin ke Timika agar jangan lupa membawa kondom," pesan Om Julius Siyaranamual ketika itu. Semula saya dan teman-teman tersenyum malu dan tidak mengerti mengapa beliau berpesan seperti itu. Tapi setelah tiba di Timika baru kami tahu, beliau berpesan seperti itu karena Timika merupakan salah satu daerah di Papua yang memiliki penderita HIV/AIDS cukup tinggi, tertinggi kedua setelah Merauke, Papua.

Tony Kleden (Redaktur Pelaksana Pos Kupang)
DI hadapan Om Julius, kekurangan dan 'kekecilan' sebagai seorang wartawan begitu terasa. Pengalaman sudah pasti jauh berbeda, karena terpaut umur yang jauh. Tetapi, di hadapan Om Julius, saya merasa sangat jauh jarak wawasan, elan vital, keingintahuan dan hasrat untuk belajar.
Itu sebabnya, umpatan seperti "Ah, tolol kamu! Salah itu" dan semacamnya, merupakan sesuatu yang telah biasa di telinga ketika berbincang-bincang dengan Om Julius. Seperti rokoknya yang jarang lepas dari bibirnya, seperti itulah Om Julius jarang membiarkan otaknya berkelana hampa, menerawang tanpa arah dan tujuan. Ada-ada saja ide yang keluar dari bibirnya itu. Dan, dari ide-ide dan pikiran yang dilontarkannya, jelas kalau Julius seorang generalis sejati ketika banyak wartawan mulai cenderung menjadi seorang spesialis. Kepergiannya, bagi saya tidak cuma menghapur satu nama deretan wartawan NTT, tetapi juga kehilangan seorang seniman wartawan. **

Data diri
Nama: Julius Siyaranamual
Lahir: Sumba Barat, 21 September 1944

Pendidikan:
- SR di Sumba Barat dan Makassar, Sulawesi Selatan
- SMP Negeri 1 Kupang
- SMA Katolik Syuradikara-Ende
- Sekolah Tinggi Teologia (STT) Jakarta, tamat tahun 1969.

Pekerjaan
- Karyawan Gakowan
- Wartawan beberapa surat kabar di Jakarta
- Wartawan Harian Surya, Surabaya
- Pemimpin Redaksi Majalah Kawanku
- Penyair, sastrawan Indonesia
- Pakar HIV/AIDS

Keluarga
Ayah: Marthen Daniel Siyaranamual
Ibu : Yuliana Yuli-Bolodadi

Julius Siyaranamual menikah tahun 1970 dengan Theresia S Yansen, seorang penulis dan dikarunia empat orang anak masing-masing Ani, Demi, Upi dan Intan. Terakhir tinggal di Tangerang, Banten.


Gaji pertama beli kue senyiru

Mengenang Julius Reinhard Siyaranamual
Oleh Alfred Dama

SATU persatu anggota rumpun keluarga dan kerabat Julius Reinhard Siyaranamual hadir di kediaman Jack K Iki di Kelurahan Fontein, Kota Kupang, Senin (23/5/2005) siang. Mereka ke sana setelah mendapat kabar duka meninggalnya seorang ayah, saudara, kakak, adik, om terkasih, Julius R Siyaranamual pada Senin (23/5) sekitar pukul 05.00 WIB di Tangerang.
Suasana langsung berubah ketika Eveline Iki-Siyaranamual, adik kandung Julius Siyaranamual kembali dari tempat kerjanya. Dia disambut deraian airmata. Pelukan dan tangis mewarnai pertemuan itu. Susana makin sedih ketika saudara kembar Eveline, Margaretha Bermiho-Siyaranamual juga datang ke rumah keluarga itu.


Berita duka itu diterima keluarga besar Julius Siyaranamual di Kupang, Senin (23/5) pagi. Berita itu cukup menyejutkan keluarga meskipun kabar mengenai sakitnya almarhum sudah diketahui jauh-jauh hari. Keluarga tidak menyangka kepergian Julius begitu cepat.
Kesedihan sanak keluarga Julius Siyaranamual di Kupang terasa begitu mendalam karena sosok Julius dikenal sebagai kakak, paman, saudara yang humoris, sederhana dan penyayang.
Menurut adik kandung almarhum, Margaretha Siyaranamual, Julius merupakan seorang kakak yang penyanyang pada adik-adik dan keluarganya. Julius juga memiliki bakat luar biasa dalam bidang tulis-menulis. Sejak di bangku SMPN 1 Kupang, almarhum sudah pandai menulis puisi dan cerita tentang kehidupan sehari-sehari.
"Setiap pulang sekolah, kaka Nyong (sapaan akrab Julius Siyaranamual) biasa menulis. Dia menulis cerita apa saja dan menulis puisi-puisi," kata Margaretha. Kemampuan dan bakat menulis itu juga telah membuatnya beberapa kali meraih prestasi dalam lomba menulis di tingkat sekolah menengah pertama yang berlanjut hingga namanya dikenal sebagai salah seorang penyair Indonesia.
Kesan yang mendalam tentang sosok Julius juga disampaikan adik kandungnya, Eveline Iki-Suyaranamual. Menurutnya, Julius Siyaranamual adalah kakak yang sangat memperhatikan dan menyayangai adik-adiknya. Salah satu kenangan indah adalah ketika Julius menerima gaji pertama. Sekitar tahun 1969, Julius bekerja pada Gabungan Koperasi Hewan (Gekowan) bersama Kanis Pari (Bung Kanis). Gaji pertama pria yang suka mengikat rambutnya itu digunakan untuk membelikan kue untuk adik-adiknya.
"Kakak Nyong bukan orang yang ingat diri, saya ingat betul waktu pertama kaka Nyong terima gaji, gaji itu digunakan untuk membeli kue satu nyiru dan kemudian dibagi-bagikan semua ke kita adik- adiknya," kata Eveline. Bukan itu saja, setiap kali menerima gaji, Julius sering memberikan sesuatu pada adik-adiknya dan mengajak mereka nonton film.
***
JULIUS Siyaranamual bukan saja dekat dengan adik-adiknya. Salah seorang saudara sepupu almarhum, Enos Ndaparoka, S.H yang ditemui di rumah duka menyampaikan kenanganannya. Menurutnya, dalam pergaulan Julius tidak memposisikan dirinya sebagai orang yang eksklusif meskipun ia sudah menjadi wartawan dan penulis ternama.
"Kaka Nyong ini orangnya sederhana, dikasi makan apa saja pasti dimakan. Kalau kami di Sumba punya istilah, kaka Nyong kalau masuk rumah tidak tanggung-tanggung sampai duduk di Aburau (duduk dekat tungku perapian di dapur)," kata Ndaparoka yang juga Kepala Dinas Narkertrans Kota Kupang itu.
Julius juga sederhana dalam penampilan. "Kaka Nyong ini orangnya low profile, apa adanya. Sampai meninggal pun ia tidak memiliki apa-apa. Tidak memiliki kemewahan, ia tetap menjadi sosok yang sederhana," tukas Ndaparoka.
Kesan tentang Julius juga datang dari adik iparnya, Jack K Iki, suami Eveline Iki-Siyaranamual. Menurut Jack, almarhum selalu mengingatkan agar keluarga saling mengasihi satu dengan lainnya. Almarhum juga suka bercanda. Sekali waktu, Jack bersama almarhum melintas di sekitar Kolam Renang, Fontein. Mereka menyaksikan seorang anak sedang menangis karena digonggong seekor anjing. Saat itu, Jack berupaya menenangkan anak kecil tersebut sambil bertanya, "Kenapa kamu menangis". Anak itu menjawab, "Saya mau menggonggong anjing". Jawaban anak itu membingungkan Jack dan almarhum Julius, namun langsung ditanggapi dengan canda oleh almarhum dengan mengatakan, "Nah ini baru berita, biasanya anjing gonggong orang tapi sekarang ada orang gonggong anjing". Jack langsung tertawa terpingkal-pingkal.
Ada lagi beberapa gurauan yang disampaikan almarhum ketika bersama Jack di sebuah rumah di Kota Kupang. Saat itu, almarhum bertanya kepada Jack, "Apa yang dikatakan Tuhan Yesus setelah perjamuan terakhir dengan para murid-muridnya". Pertanyaan itu sangat membingungkan Jack. Almarhum menjawab sendiri dengan mengatakan bahwa yang dikatakan Yesus itu adalah "Mari kita foto bersama" sambil menunjuk gambar "Perjamuan Terakhir".
Barulah Jack mengerti kalau almarhum Julius Siyaranamual hanya bercanda. "Saya ketawa dan memang kalau tidak ada gambar itu pasti tidak ada bayangan kita tentang perjamuan terakhir. Tapi itu hanya lelucon," kata Jack.
Pada kesempatan lain, Jack dan almarhum menumpang bus umum dalam perjalanan di Pulau Jawa. Ketika bus yang mereka tumpangi memasuki Kota Kudus, tiba-tiba almarhum bertanya kepada Jack. "Apa kesamaan antara Rudy Hartono dan Tuhan Yesus?" Pertanyaan itu dijawab Jack tidak mungkin sama karena Rudy hanya manusia biasa sedangkan Yesus itu Tuhan. Namun, almarhum Julius mengatakan, "Ada kesamaannya, Jack. Rudy Hartono itu lahir di Kota Kudus sedangkan Tuhan Yesus punya Roh Kudus. Jadi sama-sama ada Kudus-nya." *

Selamat jalan Julius R Siyaranamual

Oleh Marcel Weter Gobang

HARI Senin (23/5), berita sedih kembali diterima Keluarga Besar Harian Pos Kupang. Salah satu Redaktur Khusus-nya, Julius R Siyaranamual, pada Sabtu subuh itu dipanggil menghadap Sang Penciptanya. Ia meninggal di rumahnya, Kompleks Perumahan Cemara Indah, Tangerang, Propinsi Banten, setelah hampir setahun lebih menderita stroke. Sedangkan sebelumnya, pada Selasa (3 Mei) pukul 21.30 Wita, salah seorang perintis berdirinya Surat Kabar Harian (SKH) Pos Kupang, Valens Goa Doy, pergi untuk selama-lamanya.


Bagi Keluarga Besar Harian Pos Kupang, terutama bagi para awak redaksinya, nama Julius R Siyaranamual begitu melekat. Beberapa bulan menjelang terbitnya harian ini pada 1 Desember 1992, Julius termasuk salah seorang yang juga berperan besar dalam menempa para calon wartawan untuk menjadi reporter tangguh harian ini. Karena keahliannya dalam menulis karya-karya sastra (novel, novelet dan cerpen), maka dia ditugaskan khusus untuk mengajar dan melatih menulis features bagi para calon reporter Harian Pos Kupang.
Bagi hampir semua reporter didikannya -- banyak yang telah meninggalkan Pos Kupang untuk berkiprah di berbagai media massa cetak dan elektronik (televisi) --, nama Julius R Siyaranamual identik dengan kata "deskripsi". Soalnya, untuk menulis features, seorang reporter tidak saja dituntut mampu mengumpulkan bahan/data di lapangan untuk menulis, tetapi harus memiliki kemampuan tinggi mendeskripsikan suatu obyek sebagai bahan tulisan. Dan, untuk mendeskripsikan suatu obyek itu tidak segampang yang dibayangkan seorang calon wartawan.
Penekanan tentang pentingnya deskripsi itu dia ulangi lagi dalam pelatihan terhadap calon-calon wartawan Pos Kupang angkatan tahun 2000. Bagi Harian Pos Kupang, tahun 2000 itu adalah keterlibatan terakhir Julius Siyaranamual untuk secara langsung melatih calon- calon wartawan Pos Kupang.
Tatkala harian ini hendak terbit pada tahun 1992, Julius Siyaranamual adalah wartawan senior Harian Surya (salah satu koran Kelompok Kompas-Gramedia/KKG) di Surabaya, dan pendiri sekaligus pengasuh Hot Line Surya yang salah satu kegiatannya adalah bidang konseling penanggulangan penyakit HIV/AIDS.
Namun, oleh karena tenaganya diperlukan untuk melatih calon-calon wartawan Pos Kupang, ia rela meninggalkan tugasnya sementara waktu di Surabaya. Baginya, ini adalah peluang emas untuk menularkan ilmu dan pengalamannya di bidang jurnalistik dan tulis-menulis bagi 'orang sendiri'. Karena itu, jangan heran bila Julius sangat keras selama pelatihan. Kata-kata "bodok" dan kata-kata kasar lainnya yang ia lontarkan kepada calon-calon wartawan tidak lain untuk memotivasi 'orang sendiri' itu agar mereka benar-benar menjadi wartawan tangguh, terampil dan profesional di kemudian hari.
Bagi manajemen Harian Pos Kupang, sosok yang sederhana, mudah bergaul dan cepat berteman ini dikenal sebagai orang yang siap melupakan diri sendiri. Dia siap membantu kapan pun diminta.
Begitulah, ketika beberapa kali Pos Kupang hendak merekrut wartawan baru, dia pun siap meninggalkan pekerjaannya di Surabaya. Dia lakukan itu tanpa menuntut balas jasa. "Yang penting, siapkan saja tiket pergi pulang!" kata alumnus Suryadikara, Ende, tahun 1962, seangkatan dengan mantan Wakil Gubernur NTT, Drs. Johanes Pake Pani, dan Valens Goa Doy, itu.

Dari Kanis Pari
Julius yang telah menulis cukup banyak karya sastra (novel, novelet dan cerpen) ini sejak kecil telah menunjukkan bakatnya di bidang sastra. Ketika duduk di SMPN 1, Kupang, Julius menulis dan sering meraih juara dalam lomba penulisan puisi di sekolahnya.
Setamat dari SMA Suryadikara, Ende, Julius membantu Kanis Parera (Kanis Pari/Bung Kanis) mengelola Mingguan Pos Kupang, di Kupang. Namun, mingguan ini hanya bertahan beberapa bulan. Meski demikian -- sebagaimana dituturkannya kepada Pemimpin Umum Harian Pos Kupang, Damyan Godho, beberapa tahun lalu --, Julius mengaku, justru selama bekerja di Mingguan Pos Kupang itu Bung Kanis memberikan perhatian yang serius terhadap bakatnya di bidang sastra itu. Bung Kanis, katanya, adalah guru sastra. "Dia memotivasi saya untuk mengembangkan bakat saya," kata Julius sebagaimana ditutur ulang Damyan.
Bakat sastra yang ia miliki dan kembangkan sejak di bangku SMP, dan motivasi dari Bung Kanis selama di Mingguan Pos Kupang itu rupanya membuat Julius tetap mengembangkan bakatnya di bidang tulis menulis itu ketika dia kuliah di Sekolah Tinggi Teologia di Jl. Proklamasi, Jakarta. "Kalau lagi kepepet, lagi tidak ada duit untuk beli sabun dan lain-lain sewaktu kuliah di Sekolah Tinggi Teologia itu, maka saya bikin tulisan, bikin cerpen. Hanya perlu beberapa jam sudah bisa dapat satu cerpen. Itu saya bawa ke Pintu Air (alamat percetakan) Sinar Harapan. Cerpen atau tulisan opini saya pasti dimuat. Kalau sudah dimuat, hari berikutnya saya pergi ambil honornya," tutur Julius suatu ketika beberapa tahun lalu di Kupang.

Majalah Kawanku
Selain menulis novel, cerpen, cerita bersambung untuk koran-koran besar seperti Kompas dan Sinar Harapan, Julius memiliki bakat khusus dalam menulis untuk pembaca kalangan anak-anak. Majalah Kawanku adalah satu bukti kemampuan bakat khususnya itu. Majalah itu ia dirikan bersama beberapa temannya di tahun 1970-an. Majalah ini kemudian ia jual kepada Kelompok Kompas Gramedia (KKG) tahun 1990.
Ketika bersama-sama di Harian Surya, Surabaya, tahun 1989 - 1991, Julius mengatakan, ia terpaksa menjual Majalah Kawanku, selain karena salah satu teman pengelolanya sudah sakit-sakitan dan dia tidak mampu mengelola seorang diri, juga karena ia ingin membantu teman dekatnya sejak di SMA Suryadikara, Valens Goa Doy, untuk lebih berkonsentrasi membangun dan mengembangkan Harian Surya.
Dan, ketika KKG mengambil alih pengelolaan Mingguan Surya milik Harmoko di Surabaya dan Valens Goa Doy dipercayakan mengelolalnya, maka Julius pun meninggalkan Majalah Kawanku dan berhijrah ke Harian Surya.
Di Harian Surya (berubah dari mingguan menjadi harian per 10 November 1989), Julius dipercayakan sebagai Redaktur Desk Opini. Salah satu stafnya di desk ini adalah Manuel Kaisiepo -- wartawan Kompas yang diperbantukan di Harian Surya dan di masa Presiden Abdurrahman Wahid (Gus Dur) diangkat sebagai Menteri Percepatan Pembangunan Kawasan Timur Indonesia.
Setelah beberapa tahun bergabung dengan Harian Surya dan mengelola Hot Line Surya, Julius kemudian mendirikan hot line sendiri yang juga, antara lain, bergiat di bidang konseling penanggulangan penyakit HIV/AIDS.

Rindu pulang Kupang
Sebagai salah seorang penulis dan pengarang yang telah punya nama di tingkat nasional, Julius memendam obsesi agar banyak pula generasi muda dari Nusa Tenggara Timur (NTT) mengikuti jejak para senior, yaitu selain jejak dia sendiri, juga jejak Gerson Poyk, Umbu Landu Paranggi sebagai pengarang dan sastrawan atau para penulis lainnya seperti Dr. Daniel Dhakidae atau almarhum Marcel Beding.
Namun, Julius prihatin karena belakangan ini sangat minim kaum muda NTT ingin berkiprah di dunia tulis-menulis untuk menjadi penulis- penulis atau pengarang-pengarang besar. Menurut dia, hal itu terjadi bukan karena kurangnya ilmu yang didapat di bangku sekolah atau di perguruan tinggi, namun karena generasi muda NTT itu kurang mendapat motivasi dari para senior yang berpengalaman dan terampil.
Ketika beberapa kali datang ke Kupang beberapa tahun lalu, ia berkali-kali pula mengutarakan kerinduannya untuk pulang ke Kupang. Tekadnya, di Kupang dia akan menghabiskan hari tuanya dengan mendirikan semacam wadah untuk mengumpul generasi muda berbakat di bidang tulis-menulis.
Sayang, cita-citanya itu tidak terwujud sampai dia terserang stroke di tempat tugasnya di Surabaya, dan dipanggil Tuhan pada Senin (23/5/2005) dini hari. Selamat jalan, Julius! Semoga ada orang lain atau generasi muda NTT ini dapat mewujudkan cita-citamu! *

Pos Kupang, 25 Mei 2005
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Best WordPress Themes