Tampilkan postingan dengan label Mutiara Flobamora. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Mutiara Flobamora. Tampilkan semua postingan

Pesona Kefamenanu

Durasi kehidupan malam terasa lebih lama. Rumah makan tersebar di beberapa tempat. Pilihan menu pun bervariasi. Satu hal yang membuat girang, ada menu kuah ikan asam dan ikan bakar. Makanan kesayangan saya.

Di warung pinggir jalan kita berhak pilih sendiri jenis ikan, umumnya  masih segar dalam kotak khusus berisi es batu. Baru sekali mati, kata empunya rumah makan melukiskan kondisi ikan.

Sungguh malam itu beta melihat wajah Kefamenanu yang sudah jauh berubah. Ya, setelah lima tahun beta kembali ke ibu kota Kabupaten Timor Tengah Utara tersebut di penghujung Februari 2024.

Saya ke sana bersama dua rekan dari Harian Pos Kupang, Paul Kopong Burin dan Kristanto Bisilisin. Kami ke sana untuk silaturahmi dengan mitra kerja di Kefa.

Terakhir saya ke Kefa 27 Januari 2019, juga bersama kolega dari Pos Kupang dalam perjalanan silaturahmi termasuk ke Belu dan Malaka.

Sesudah itu saya ke Pulau Dewata menunaikan tugas dari pemimpin Tribun Network di Harian Tribun Bali sampai Oktober 2021. 

Selanjutnya saya bergeser ke Pulau Lombok, Nusa Tenggara Barat. Di nusa molek berkat keanggunan Gunung Rinjani itu, beta bantu merintis lahirnya portal berita ke-60 Tribun Network bernama TribunLombok.com.

Kembali ke Kefa - sapaan populer Kefamenanu - merupakan kerinduan lamaku yang akhirnya terwujud pada 26 dan 27 Februari 2024.

Kota ini lama nian bukanlah favorit di Timor Barat. Orang lebih kuat  mengingat Kota Kupang dan Atambua sebagai jantung dan barometer kemajuan Indonesia di Timor.

Dulu Kefa hanya tempat transit. Banyak orang cuma mampir sejenak manakala letih menghampiri dalam perjalanan Atambua-Kupang atau sebaliknya. 

Kala malam menjelang, Kefa lekas amat menuju peraduan. Tak banyak aktivitas yang memaksa pemilik toko dan atau rumah makan bertahan sedikit lebih lama.

Hari ini Kefa telah berubah. Tuan dan puan tak perlu cemas bila baru keluar dari rumah atau penginapan untuk makan malam di atas pukul 21.00 Wita. Niscaya anda tidak kelaparan.

Mengapa Kota Kefamenanu berubah? Faktor pemicu kemajuan Kota Kefa tentunya tidak tunggal. Tapi menurut beta,  ada satu fakta paling menonjol yaitu kehidupan kampusnya yang luar biasa pesat.

Saat ini tercatat lima perguruan tinggi di Kota Kefamenanu (sumber https://datapendidikan.com/perguruan-tinggi/kab/timor-tengah-utara).

Kelima kampus tersebut yaitu  Universitas Timor (Unimor) yang beralamat di Jalan El Tari, Km 9 Kelurahan Sasi,  Kecamatan Kota Kefamenanu. 

Kedua, Akademi Kebidanan Santa Elisabeth Kefamenanu di Jl. El Tari Km 9 Kecamatan Bikomi Selatan.

Ketiga, Sekolah Tinggi Ilmu Hukum Cendana Wangi di Jl. Timor Raya Km  6, Kelurahan Tubuhue, Kecamatan  Kota Kefamenanu.

Keempat, Sekolah Tinggi Keguruan dan Ilmu Pendidikan Surya Kasih di Kecamatan Kota Kefamenanu. 

Kelima, Sekolah Tinggi Pastoral St. Petrus Keuskupan Atambua yang beralamat di Jalan  El Tari,  Km 9 Desa Naiola, Kecamatan Bikomi Selatan.

Dari kelima perguruan tinggi tersebut, Unimor merupakan satu-satunya universitas negeri di Kefa. Sedangkan empat lainnya adalah perguruan tinggi swasta.

Unimor terbesar dan tersohor. Kehadiran universitas yang berdiri pada 16 Juli 2000 ini mengubah kawasan Sasi yang dulu sepi menjadi riuh ramai oleh aktivitas para mahasiswa. 

Status awal Unimor adalah perguruan tinggi swasta. Tahun 2014 berubah menjadi universitas negeri. 

Sejak saat itu  minat mahasiswa dari berbagai daerah di Nusa Tenggara Timur (NTT) untuk kuliah di Unimor terus meningkat dari tahun ke tahun.

Saat ini Unimor memiliki 15 program studi yang terbagi ke dalam lima fakultas yaitu Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan, Fakultas Ekonomi, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Fakultas Pertanian, dan Fakultas Sains dan Teknologi.

 Ketika saya  temui di ruang kerjanya, Selasa 27 Februari 2024,  Wakil Rektor Unimor Bidang Akademik dan Kerja sama, Dr. Yoseph Nahak Seran, S.Pd., M.Si mengatakan, Unimor siap menerima 2.700 orang calon mahasiswa baru melalui Seleksi Nasional Penerimaan Mahasiswa Baru (SNPMB) tahun 2024.

 Demi  mendukung jangkauan penyebaran informasi ke sekolah dan siswa tentang SNPMB  tahun 2024, kata Yoseph Seran, panitia sudah membekali  tim sosialisasi dan promosi pada 24 Januari 2024. Kegiatan ini dibuka  Rektor Unimor Dr. Ir. Stefanus Sio, MP.

“Untuk tahun 2024, kita usulkan 2.700 orang calon mahasiwa baru. Untuk mencapai ini kita harus melakukan berbagai kegiatan. Salah satunya turun melakukan sosialisasi," kata rektor dikutip dari situs web Unimor.

Total jumlah mahasiswa Unimor sekarang  kurang lebih 12 ribu orang. Bukan angka yang kecil. Ditambah para mahasiswa dari empat perguruan tinggi lainnya, maka mahasiswa di Kota Kefamenanu lumayan banyak. 

Bisa dilukiskan Kefamenanu merupakan  kota pelajar dan mahasiswa nomor dua terbesar di Timor setelah Kota Kupang.

Keberadaan mereka memberi warna baru kehidupan warga Kota Kefa. Bisnis pemondokan, kuliner dan sebagainya tumbuh subur. Perputaran uang hari-hari  ini terjadi dalam skala lebih gemuk dan menggiurkan dibandingkan belasan tahun silam.

Kiranya itulah yang mengubah wajah Kefa lebih bergairah, anggun dan mempesona.

Pesona Kefa pun memikat hati para mahasiswa mancanegara. Menurut Yoseph Seran, Unimor memiliki mahasiswa asing sejak tahun akademik 2023-2024. "Ada sembilan orang, semuanya dari Timor Leste," kata dia.

Untuk tahun 2024 sebanyak 200 calon mahasiswa asal Timor Leste sudah menyatakan minatnya bergabung. Yos  Seran memperkirakan sekira 40 persen dari jumlah tersebut akan mewujudkan niat menjadi mahasiswa Unimor Kefamenanu. 

"Kami yakin mahasiswa asing bertambah jumlahnya tahun ini. Keberadaan mereka meningkatkan grade Unimor," ujarnya.

Bagaimana kemampuan berbahasa Indonesia? "Sebelum kuliah di Unimor mereka kursus Bahasa Indonesia di KBRI Dili," kata Yos Seran.

Begitulah tuan dan puan sekeping cerita dari Kefamenanu, kota pelajar yang bergairah di tapal batas negeri Indonesia-Timor Leste. (*)

Sumber: Pos Kupang



Tenun Ikat Sumba yang Memikat Hati



Jokowi dan Ibu Negara di Sumba Barat Daya 12 Juli 2017
Seni tenun adalah budaya tua yang ditekuni manusia untuk menghasilkan busana dan merupakan peradaban yang hampir merata ditemukan di seluruh pelosok bumi.

Pada masa modern ini pun ketika pabrik pemintalan benang mampu menghasilkan ribuan, bahkan jutaan meter tekstil dengan cara yang praktis, tradisi memintal benang untuk membuat kain masih ditekuni di beberapa tempat, tak terkecuali di Pulau Sumba, satu daratan kecil di Nusa Tenggara Timur (NTT).

Presiden RI Joko Widodo (Jokowi) yang hadir dan mengenakan ikat kepala dan berselempang kain tenun menyaksikan Festival Tenun dan Kuda Sandelwood di Lapangan Galatama, Tambolaka, Kabupaten Sumba Barat Daya (SBD), NTT, Rabu (12/7/2017).


Bagi orang Sumba, memiliki dan mengenakan kain serta sarung dari tenun ikat merupakan suatu "keharusan" karena kain tenun adalah busana penting yang dikenakan pada acara adat, seperti menghadiri pesta pernikahan, upacara kematian, dan beribadah.

Menurut Mikhael Molan Keraf, CSsR, Direktur Yayasan Sosial Donders, kaum perempuan di perdesaan menenun kain sebagai ibadah, untuk memuji kebesaran Tuhan yang diwujudkan dalam motif-motif bentuk hewan, alam, dan benda-benda yang lekat dalam kehidupan keseharian.

Sejak mengetahui hal itu, dia lebih menghargai kain tenun dan lebih berhati-hati memakainya. Misalnya, tidak lagi menggunting kain.

Meskipun berasal dari Desa Lamalera, Kabupaten Lembata, Flores Timur, tokoh yang lebih dikenal dengan sapaan Pater Mike Keraf ini sekarang lebih sering berpakaian ala pria Sumba dengan memakai ikat kepala serta kain tenun yang melilit pinggangnya.

Memaknai kain sebagai bagian dari ibadah juga diakui oleh Angela Lele Biri, perempuan Sumba yang bekerja di Kantor Dinas Agama Kabupaten Sumba Barat.

Proses panjang menenun pada masa lalu diawali dengan memilih kapas yang dipintal menjadi benang, kemudian diikat untuk membentuk gambar dan dilanjutkan dengan pencelupan warna sesuai rancangan yang telah dipilih baru terakhir ditenun.

Berdasar pemahamannya, tenun Sumba adalah rajutan hari-hari orang Sumba yang dilukiskan melalui tenun dan merupakan doa pujian yang harus didaraskan setiap hari.

"Ketika memakai kain atau sarung Sumba, kita merenungi makna kehidupan," kata Angela.

Mengenakan sarung pun sebenarnya merupakan cara untuk menjaga martabat diri dengan memakainya secara patut.

Angela menerawang, terkenang akan kakeknya, Yosep Nudu yang selalu marah ketika melihat orang membetulkan sarung yang dipakainya di depan umum, seperti yang saat ini lazim dilakukan banyak orang.

"Membenahi sarung di muka umum menurut kakek Nudu sama dengan memperbaiki rok dalam (tidak patut dilakukan di depan orang banyak)," katanya.

Dikenal mahal

Tenun ikat dari NTT dikenal mahal harganya jika dibanding dengan kain-kain bikinan pabrik. Namun, ada yang setara dengan kain songket dari Jambi, batik tulis yang bermutu tinggi atau kain sutra Sulawesi.

Harga termurah kain tenun sekitar Rp250.000 selembar untuk jenis kain yang terbuat dari benang pabrik dengan memakai celup pewarna buatan pabrik juga. Akan tetapi, ada pula kain yang harganya mencapai sepuluh juta rupiah bila terbuat dari benang kapas yang dipintal tangan dan dicelup dengan pewarna alami.

"Harga kain tidak sama karena dari tangan penenun kain-kain bisa melalui banyak tangan lain sebelum mencapai ke tangan pembeli. Harga bisa berlipat ganda," kata Felicitas Ambukaka, perempuan dari etnis Kodi, Sumba, yang kini merintis usaha pemasaran tenun Sumba.

Felicitas mencoba memangkas harga jual dengan cara berhubungan secara langsung dengan penenun di kampung-kampung sehingga harga dan ongkos bisa ditekan.

Rerata kain yang dipasarkannya berharga antara Rp200 ribu dan Rp2 juta. Dengan harga ini, mampu bersaing dengan harga di tempat penjualan yang lain, bahkan kini relatif banyak toko oleh-oleh yang memesan kain tenun darinya.

"Bagi saya untung sedikit-sedikit tidak apa-apa agar makin banyak laku dan makin banyak orang memakai tenun Sumba," katanya.

Ikat Sumba sangat unik, punya daya tarik tersendiri dari sisi warna dan motif dan juga cocok dimodifikasi untuk busana modern. Dengan demikian, bisa makin melekat di hati.

Adalah jamak terlihat perempuan dan laki-laki Sumba mengenakan kain atau sarung tenun kebanggaan mereka untuk sehari-hari, apalagi pada hari khusus, bahkan anak-anak dan remaja juga sudah memakainya.

Kain-kain dengan pewarna modern terlihat lebih cerah dan warna-warni, sedangkan kain dengan bahan alami memiliki warna yang lembut. Para pencintanya akan memilih sesuai dengan selera dan kemampuan kantong.

"Saya sudah mulai mengenakan kain ikat pada usia 5 tahun dan saat ini saya merasa bangga serta percaya diri bila memakai tenun ikat," kata Anggriani Irwanto, perempuan Sumba yang berdinas sebagai pegawai negeri sipil di Kabupaten Sumba Barat Daya dan pernah lama berkarier di Jakarta.

Sejak kembali ke Sumba beberapa tahun lalu, Anggriani mengaku lebih suka mengenakan sarung Sumba pada peristiwa-peristiwa khusus ketimbang memakai busana pesta modern atau dari daerah lain.

Baginya, memakai tenun ikat Sumba membuatnya tampil lebih menarik sekaligus menunjukkan jati diri etnis.

Sumber kehidupan
Menenun kain, selain perwujudan ibadah juga menjadi sumber nafkah bagi banyak perempuan Sumba meskipun mereka baru bisa merajut helai demi helai benang setelah selesai mengerjakan tugas rumah tangga.

"Pendapatan kami sangat bergantung pada hasil tenun," ujar Debora Kali, penenun asal Desa Weri B, Kecamatan Kodi Timur, Sumba Barat Daya.

Debora sudah mulai menenun sejak usia 8 tahun dengan cara belajar melihat orang-orang dewasa menenun, tahap berikutnya belajar menggulung benang dan dilakukan setiap hari.

Di kampungnya, menenun lebih banyak dilakukan oleh kaum perempuan tetapi tidak tabu bagi pria, seperti yang terlihat siang itu saat sekelompok pengrajin menenun bersama-sama bukan hanya perempuan, melainkan juga pria, ada yang menggulung benang, ada yang mengikat dan ada yang mulai menenun.

Motif-motif yang sering mereka rajut adalah belah ketupat, mamuli yaitu perhiasan lambang kesuburan yang biasa digunakan sebagai mas kawin atau belis, gambar rumah adat dengan atap gaya Marapu yang runcing, gambar-gambar hewan, seperti kuda, ular, ayam, kura-kura, burung.

Debora yang menggantungkan periuknya pada tenun mengatakan bahwa dirinya bisa menghasilkan selembar kain dalam 1 minggu untuk motif yang sederhana.

Ia juga sanggup menerima pesanan untuk pilihan warna dan gambar.

Maria Kaka, penenun lain juga sudah bergelut dengan benang, alat-alat tenun, seperti pakan, lungsing sejak umur 10 tahun, usia yang ideal untuk mulai belajar.

"Bila sudah besar baru belajar biasanya tidak bisa," katanya sambil memperagakan jemari saat memadatkan benang.

Dewasa ini, Debora, Maria, dan Yosefina Piromete dari kampung Kalenarongo lebih memilih menenun dengan benang dan pewarna yang dibeli di took karena prosesnya lebih praktis.

"Saya tidak penah belajar memintal benang, jadi saya memakai benang jadi dan jenis benang ini tidak bisa menyerap pewarna alami sehingga harus memakai pewarna buatan," kata Yosefina.

Penghasilan dari menjual kain tenun menjadi sumber nafkah utama bagi mereka, selain beternak.

Mengenai jumlahnya, mereka hanya menjawab: "Cukup untuk biaya hidup."

Meskipun bagi pendatang, khususnya dari Jawa, harga kain tenun dianggap relatif mahal, para perajin yang setiap bulan menjual hasil karyanya, tetap hidup dalam kesederhanaan. Mereka menempati rumah-rumah panggung dari bambu dan kayu dan nyaris tidak memiliki benda berharga.

Bahan baku untuk membuat selembar kain yang kelak dijual di toko dengan harga sekitar Rp200 ribu rata-rata bernilai Rp100 ribu, belum dihitung ongkos belanja membeli benang, uang lelah, dan ongkos mengirim kain tenun ke pasar.

Kain tenun dengan motif yang lebih rumit dan dijual dengan harga antara Rp500 ribu hingga sejuta rupiah memakai bahan yang lebih banyak untuk variasi sulam dan waktu pengerjaan sekitar 1 bulan.

"Cukup untuk hidup" adalah Bahasa bijak yang mereka sampaikan ketimbang mengungkapkan besaran rupiah yang mereka raup melalui hasil tenun-tenun itu.

Menghormati tamu
Orang Sumba membeli tenun ikat tidak hanya untuk dipakai sendiri, tetapi juga membeli untuk hadiah bagi keluarga dan kerabat pada hari-hari khusus dan juga untuk menghormati tamu.

Hari itu Thomas Iwan, warga kota Mataram sedang berlibur ke Sumba dan mengunjungi rumah Ima Nudu, tokoh perempuan dan penggagas pemekaran kabupaten Sumba Barat Daya.

Thomas bersama istri dan dua anaknya masing-masing disambut di ambang pintu dengan penyelempangan kain tenun.

"Baru datang sudah dapat hadiah indah seperti ini," kata istrinya dengan terharu.

Cara menyambut tamu seperti itu merupakan kelaziman. Bila tidak dilakukan, akan membuat tuan rumah merasa tidak enak hati.

Membawa hantaran berupa tenun ikat juga dilakukan untuk menghadiri pernikahan, melayat ke rumah duka, saat bayi lahir, dan peristiwa penting lain.

"Biasanya kami memiliki persediaan kain. Akan tetapi, bila tidak kain akan mudah dibeli di pasar dan di toko-toko," kata Anggriani.

Ia menambahkan bahwa cara tersebut memang menghabiskan uang, tetapi membuat tenun ikat makin lekat memikat hati orang Sumba.

Menggelar festival tenun yang akan diikuti 2.017 penenun tidaklah sulit karena hampir semua perempuan di desa mempunyai kemampuan menenun. Setidaknya hampir di setiap kampung ada pengrajin tenun.

Tenun ikat yang melekat di hati orang Sumba pun kini memikat orang-orang luar Sumba. (Maria Dian Andriana/Antaranews)


Sumber: Antaranews.com

Tradisi Non Pah di Kabupaten TTU

Pasukan berduka dalam tradisi Non Pah
RATUSAN orang berkumpul di Sonaf Bikomi Maslete, Senin (16/1/2017) sekira pukul 08.00 Wita.  Sonaf Bikomi Maslete adalah salah satu obyek wisata budaya di Kabupaten Timor Tengah Utara (TTU). Sonaf ini berada di RT 01/ RW 01, Kelurahan Tubuhue, Kecamatan Kota Kefamenanu.

Mereka berkumpul di Sonaf Bikomi Maslete untuk menjalani ritual Non Pah. Ritual ini masih dipertahankan komunitas adat Bikomi yang digelar tujuh tahun sekali. Dalam upacara ini, pasukan berkuda  mengelilingi wilayah Kerajaan Bikomi hingga Kota Kefamenanu dan kembali masuk ke Sonaf Bikomi Maslete. Pasukan berkuda membawa Pedang Bermata Tujuh atau dalam bahasa lokal disebut Tap Mese Nes Hitu yang dipercayai memiliki kekuatan magis.

Seekor kuda jantan hitam dipersiapkan khusus oleh Sonaf (pemangku rumah adat) untuk membawa Pedang Bermata Tujuh. Kuda didandani dengan giring-giring, perak dan ekor sapi yang sudah dikeringkan ditempatkan  pada bagian leher. Semua meo (panglima perang, red) hadir bersama  kuda masing-masing. Meo memakai pakaian adat lengkap ditemani pedang di bagian pinggang. Mereka siap mengawal Le'o atau benda adat yang dirindukan masyarakat Pah Bikomi sejak tujuh tahun lalu.

Sebelum berangkat, masih ada beberapa ritual adat, seperti meminta izin foto dan syuting yang  dilakukan di Tola Naijuf dengan memotong babi jantan berwarna hitam.
Wisatawan menyaksikan upacara Non Pah
Kemudian melihat hati, usus dan empedu yang dicermati oleh atupas (Usif yang menjaga Sonaf). Ritual ini disaksikan para tua adat. Bagian dada babi dipotong tujuh sayatan dan dimasak, kemudian didoakan dan diiris untuk dibagikan kepada semua pasukan berkuda sebagai tanda siom manikin atau menerima.

Seorang lelaki dari suku Ta'kua berwajah sedikit keriput, mengenakan baju hitam dipadu kain hitam yang diikat di kepala, masuk ke dalam Tola Naijuf (Rumah adat) untuk mengambil Pedang Bermata Tujuh. Keluar dari dalam Tola Naijuf seperti pahlawan  memegang pedang yang sudah dibungkusi kain hitam. Masyarakat setempat dilarang keras bersuara, apalagi berdiri dan melakukan aktivitas. Mereka duduk diam dan tunduk tak berbicara.

Ande Ta'kua sebagai suku yang dimandatkan membawa Pedang Bermata Tujuh, sudah siap di atas kuda punggung  hitam. Dia merapatkan barisan diikuti Tobe dari Suku Sife, yakni Kamilus Sife membawa perlengkapan ritual adat.  Urutan kuda ketiga, yakni Suku Sife atau Ta'nik yang dipercayakan membawa ayam jantan merah.  "Ayam jantan itu berkokok hanya siang dan malam," tutur  Usif Yohanes Sanak.

Pukul 12.31 Wita hari itu pelepasan Non Pah  dimulai. Lianenu, bifelon tok. "Duduk diam-diam sudah hoe," teriak seseorang di luar Sonaf Bikomi Maslete. Empat belas orang Meo yang ikut mengawal Tobe Takua, Sife dan Ta'nik seperti Klemens Malafu, Yohanes Takua, Vinsen Sabuin, Jefri Sonbay, Aldo Sonbay, Bonivasius Sonbay, David Hala, Nikolas Bana, Anus Hala, Blasius Nino, Mikhael Oeleu, David Obe, Benyamin Abi, dan Nikolas Lake. Giring-giring menjadi warna langkah kaki kuda keluar dari Sonaf Bikomi Maslete.
Wisatawan coba menunggang kuda

Pos Kupang dibimbing seorang tua adat mengenakan kendaraan bermotor melalui jalur umum menuju lokasi pintu keluar ke Bikomi, di Naen, Kelurahan Tubuhue, sekitar tujuh kilometer dari Sonaf Bikomi Maslete.

Seorang ibu pulang dari kebun membawa karung, hampir berpapasan dengan pasukan Non Pah. Dia lari terbirit-birit seperti ketakutan ada perang. Ibu itu nyaris masuk ke dalam semak belukar.  Pukul 13. 09 Wita giring-giring berbunyi dari dalam hutan. Masyarakat yang menunggu di etape pertama menunduk. Tak bersuara. Di sana mereka melakukan ritual adat Usapi Maknau untuk menerima rombongan sekaligus membuka jalan bagi pasukan berkuda untuk mengelilingi wilayah Bikomi.

Di sana sudah ada Tobe Nihala. Ada pula Suku Tahoni, Suku Paineon, Metboki, Insan Tuan yang juga  melakukan ritual adat Tualel (Nipe Naik, Koto Nain) atau makan diam-diam, minum diam-diam.

Sejumlah menu makanan dan minuman lokal seperti kelapa muda, tebu, ubi, pisang masak, sopi, pepaya, ubi rebus, kacang tanah goreng, lauk tobe yang sudah disiapkan dari pagi pukul 08.00 Wita.  Berbagai jenis makanan itu dibagikan kepada pasukan berkuda. Ibu-ibu sibuk mengupas kulit pepaya, dan memotong kelapa. Sementara  laki-laki menyuguhkan minuman arak dan makan khas lokal. Kebersamaan dan kekeluargaan  cukup kental.

Dua jam lebih diwarnai pembantaian ternak dan makan adat bersama. Sebelum makan siang dengan menu nasi putih dan beberapa potong daging babi yang dihidangkan, dua orang pria paruh baya membawa hidangan tersebut untuk dipersembahkan dengan tutur adat di tempat penyimpanan benda adat. Pukul 15. 22 Wita rombongan berkuda melanjutkan perjalanan ke Matbes, Desa Tublopo.

Tobe Nihala kepada Pos Kupang, mengatakan, beberapa lokasi persinggahan selanjutnya, yaitu  Maurisu Utara, Faotbana, Maurisu Selatan, Naiola, Desa Oelami dan Desa Inbate akan dilakukan ritual adat yang sama.

Mereka ditunggu para Amaf Bikomi atau tua adat dengan berbagai makanan lokal. Ada perbincangan dan informasi keluhan yang akan diterima dari para Tobe dan Meo untuk disampaikan ke Sonaf, sesuai wilayah kekuasaan masing-masing Amaf.

"Pintu ini disambut dengan aman, damai, tertib dan lancar. Setelah pasukan berkuda jalan, sore ini juga kita akan antar ternak yang sudah dibantai dengan alas kaki (babi) ke Sonaf sebagai bentuk bukti informasi bahwa pasukan berkuda siap melanjutkan perjalanan dan akan disambut para Amaf wilayah Pah Bikomi,"jelas Tobe Nihala.

Pda Sabtu (21/1/2017) pukul 14. 20 Wita, pasukan berkuda tiba di Sonaf Bikomi Maslete. Mobil operasional Sat Lantas Polres TTU duluan memakai toa memberikan informasi agar jangan ada yang berdiri dan melakukan aktivitas di tengah jalan.

Mereka datang tidak bersamaan. Sebagiannya memakai kuda dan sebagian lagi berjalan kaki memasuki Sonaf. Mereka membawa pinang dan bambu. Turut disaksikan dua orang turis dari Australia bernama Luke Hunter, dan Hanna Ling, memakai sarung Bikomi.

"Pak (Polisi) tolong duduk," kata seorang warga yang duduk di bawah pohon.
Pukul 14. 40 Wita dua orang Meo tiba. Seperti lainya membawa pinang dan  bambu berisikan air yang diambil dari tujuh lokasi sumber mata air keramat di Oeleu-Suspin, Oelnitep, Tailneon,   Naisleu (Belakang Masjid Kodim), Nisani (Benpasi), Tasi (Maumolo),  dan Son Oel -Inbate. Air itu akan dimasukkan ke dalam periuk tanah di Tola Feotnaij (rumah adat).

"Saat curah hujan tak menentu, dengan air itu akan dilakukan upacara adat untuk turunkan hujan dan sebagai bahan percikan air berkat untuk para pembawa Maus (Para masyarakat yang membawa padi dan jagung),"  jelas Yohanes Sanak.

Bambu dan pinang langsung ditaruh pada  sebatang kayu bercabang tiga yang ditancapkan dalam tanah di depan Sonaf. Bagian bawah kayu yang disebut Haumonef itu dikelilingi tumpukan batu yang diatur rapi mengelilingi  tiang pohon. Cabang kayu yang di tengah ukurannya lebih tinggi daripada dua cabang lainnya. Posisinya di bagian timur menghadap ke arat barat. Di antara ketiga cabang, diletakkan sebuah batu berbentuk lempeng sebagai tempat persembahan darah hewan kurban.

                               Upacara Tama Maus
Sesepuh Sonaf Bikomi Maslete, Baltasar Sanak, didampingi penerjemah Bahasa Dawan, Yohanes Sanak mengatakan, setelah satu minggu perjalanan para Tobe dan Meo mengelilingi wilayah Kerajaan Bikomi dan kembali ke Sonaf Bikomi Maslete akan dilanjutkan upacara Tama Maus.

Upacara tersebut, jelas Sanak, dilaksanakan setiap tahun sebagai ungkapan syukur dan terima kasih masyarakat kepada Uis Neno atas hasil panen yang diperoleh. Upacara ini juga untuk memohon berkat-Nya agar  musim tanam berikutnya memberikan hasil  berlimpah. "Nanti harta yang dipersembahkan masyarakat berupa jagung sebanyak tujuh bulir per kepala keluarga atau padi sebanyak tujuh tanasak. Hanya tujuh, tidak boleh lebih dan tidak boleh kurang," katta Baltasar, dibenarkan Yohanes Sanak.

Disaksikan Pos Kupang, Sabtu (21/1/2017) malam, seluruh warga Pah Bikomi sudah membawa padi dan jagung ke Sonaf. Sebelum memasuki Sonaf, perwakilan keluarga jalan berderetan membawa persembahan.  Sebelum masuk Sonaf, diperciki air berkat dan disuguhi makanan yang telah didoakan (tekes) agar panen berikutnya berlimpah.
"Upacara Tama Maus, biasanya didahului dengan upacara rehab rumah adat Tola yang biasanya dilaksanakan pada November," ujar Sanak.

Menjelang upacara Tama Maus,  jelas Baltasar, ada satu tahapan lagi yang mendahuluinya, yaitu upacara pengambilan Luma atau upacara pengambilan air berkat yang diambil dari tujuh sumber air keramat. Dalam berbagai upacara adat, termasuk Tama Maus, terdapat dominasi angka tujuh. Contoh lainnya, jelas Baltasar,   sebelum hewan kurban persembahan didoakan lalu disembelih, terlebih dahulu pemimpin ritual adat akan mengangkat tangan yang memegang sebuah kasui atau piring tradisional yang terbuat dari daun lontar ke atas sebanyak tujuh kali. (abe)


Sang Pengatur Matahari

PEMERHATI budaya di Kabupaten TTU, Yohanes Sanak, mengatakan, salah satu ritus yang masih hidup dan dipertahankan komunitas adat Bikomi adalah upacara Non Pah yang dilakukan setiap tujuh tahun sekali.

Dalam upacara ini pasukan berkuda berjumlah puluhan orang mengelilingi wilayah Kerajaan Bikomi selama sepekan dengan membawa Pedang Bermata Tujuh (Tap Mese Nes Hitu) yang memiliki kekuatan magis.

Menurut  Sanak yang merupakan seorang Usif di Sonaf Bikomi Maslete, pembawa pedang mendapat bisikan atau wahyu untuk mendirikan haumonef sebagai altar penyembahan kepada Apinat-Aklaat, Amo'et -Apakaet yaitu Tuhan. Apinat = Yang Menyala, Aklaat = Yang Membara, Amo'et = Yang Menciptakan, Apakaet = Pengukir atau Pemahat yang membuat alam semesta menjadi indah.

Dikatakannya, haumonef  perdana didirikan di Koba Tamnau Lasi (Desa Maurisu Utara), diperkirakan pada tahun 1600-an. Hingga kini fisik bangunannya masih ada meski telah mengalami kerusakan pada beberapa bagian. Secara fisik, kata Sanak, haumonef  terbangun dari sebatang kayu bercabang tiga yang ditancapkan dalam tanah. Bagian bawahnya dikelilingi tumpukan batu yang diatur rapi  mengelilingi pohon tiang.

Cabang kayu yang di tengah, ukurannya lebih tinggi daripada kedua cabang lainnya. Posisinya di bagian timur menghadap ke arat barat. Cabang yang tertinggi, melambangkan Apinat -Aklaat, Amo'et -Apakaet sang pengatur matahari terbit dan terbenam, lahir dan mati.

Sementara dua cabang lainnya berada di sisi utara dan selatan, melambangkan aina ama (leluhur). Di antara ketiga cabang, diletakkan sebuah batu berbentuk lempeng atau plat sebagai tempat mempersembahkan darah hewan kurban.  Makna filosofisnya bahwa manusia dapat berkomunikasi dengan Tuhan melalui perantaraan arwah nenek moyang atau leluhur.

Sanak mengatakan, pedang magis tersebut dibungkus dengan kain hitam. Demikian pula penunggangnya mengenakan baju berwarna hitam, warna yang melambangkan kesakralan. Di dalam warna hitam (gelap) manusia tak dapat melihat sesuatu, tetapi Apinat -Aklaat, Amo'et -Apakaet dapat melihat dan mengetahui semua ciptaan-Nya.

Pada zaman dahulu, upacara Non Pah dilakukan dengan mengelilingi seluruh wilayah Kerajaan Bikomi yang terbentang dari Bijaele Su'in (batas dengan TTS, Belu dan Insana) di Desa Maurisu Selatan hingga Bijaele Sunan di Desa Manusasi (Batas dengan Naktimun dan Ambeno -Republik Demokratik Timor Leste).

Rute ini kemudian mengalami perubahan ketika Kerajaan Bikomi dibagi menjadi dua, yakni kevetoran pada zaman pemerintahan Belanda yaitu Kevetoran Bikomi dan Kevetoran Nilulat. Upacara ritual adat lainnya yang dilaksanakan secara rutin oleh masyarakat Bikomi adalah upacara Tama Maus.

Upacara ini dilaksanakan setiap tahun sebagai ungkapan syukur dan terima kasih masyarakat kepada Apinat -Aklaat, Amo'et -Apakaet (atau yang sekarang dikenal dengan sebutan Uis Neno) atas hasil panen yang diperoleh sekaligus untuk memohon berkat-Nya untuk musim tanam berikutnya agar memberikan hasil yang berlimpah.

Secara harafiah, jelas Sanak, Tama Maus berasal dari Bahasa Uab Meto, Tama berarti memasukkan dan Maus berarti harta. Jadi, Tama Maus berarti membawa persembahan berupa harta. "Harta yang dipersembahkan masyarakat berupa jagung sebanyak tujuh puler per kepala keluarga atau padi sebanyak tujuh tanasak. Tidak boleh lebih dan tidak boleh kurang," ujar lulusan S2 Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (Fisipol) Universitas Gajah Mada (UGM) Yogyakarta tersebut.


Upacara Tama Maus, biasanya didahului dengan upacara rehab rumah adat Tola yang biasanya dilaksanakan pada bulan  November. Menjelang upacara Tama Maus, ada satu tahapan lagi yang mendahuluinya yaitu upacara pengambilan Luma atau upacara pengambilan air berkat yang diambil dari tujuh sumber air keramat. Sanak berharap, ritual adat ini tetap dipertahankan oleh masyarakat setempat sebagai khasanah budaya dan warisan bagi anak cucu kelak.  (abe)

Bupati TTU Minta Jaga Keasliannya

BUPATI  Timor Tengah Utara (TTU), Raymundus Sau Fernandes mengatakan  upacara Non Pah merupakan ritus yang unik dan patut dipertahankan sebagai aset wisata budaya di Bumi Biinmaffo.

"Saya sudah omong ini sejak lima tahun yang lalu untuk memproteksi aset budaya yang kita miliki. Yang perlu diperhatikan adalah tetap menjaga keasliannya karena yang namanya peninggalan budaya nilai tambahnya ada pada keasliannya. Jangan diubah-ubah. Harus tetap dijaga agar tetap awet dan terpelihara," tegas Raymundus.

Ia mengatakan, terkait kalender kegiatan pariwisata budaya khusus untuk tradisi Non Pah mulai dari ritual adat sampai selesai harus ditetapkan agar menjadi rujukan pasti bagi wisatawan."Harus ada kepastian waktu sehingga orang luar atau turis mau datang saksikan itu jadwalnya jelas. Tanggal sekian-sekian acara di mana saja. Tidak boleh sesuka hati,"  tandasnya.

Raymundus mengatakan, tradisi Non Pah dilakukan tujuh tahun sekali. Untuk itu, yang perlu diperhatikan adalah waktu penetapan dan jadwal kegiatan ritual. Para pemangku adat harus menetapkan kalender yang jelas.

"Para pemangku adat harus duduk bersama dan bersepakat untuk menentukan jadwal ritual yang baik. Ini menarik, banyak wisatawan yang akan datang berkunjung," ujarnya.
Terkait penataan Sonaf Bikomi Maslete, demikian Raymundus, sudah berulang kali ditekankan agar tetap mempertahankan keaslian fisik dan non fisik. "Kalau mau mempetahankan keaslian, jangan pakai bahan-bahan bangunan modern. Jangan pakai seng, jangan membawa hal-hal yang berhubungan dengan modernisasi. Karena tidak akan bisa mempertahankan nilai keaslian," imbau Raymundus.

Ia berharap masyarakat TTU bersama-sama menjaga keaslian yang sudah ada di Sonaf Bikomi Maslete.  "Kalau mau komitmen, komitmen yang benar. Jangan kita bicaranya baik tetapi tingkah laku berbeda. Saya sangat mendukung," demikian Raymundus. (abe)

Sumber: Pos Kupang 29 Januari 2017 hal 1

Zefanya Soares Juara Nasional Menulis Artikel Populer

Zefanya Soares (tengah)
Semangat untuk belajar menulis membuahkan hasil bagi Zefanya. Ia pun meraih penghargaan tingkat nasional menyisihkan karya para pelajar lain dari berbagai daerah di Indonesia.

Di balik sikapnya yang malu-malu, Zefanya Mesquita Orleans Soares, semangat tetap membara untuk menulis. Alhasil, siswa kelas 8B SMP Katolik Santo Yoseph (Speksanyo) Naikoten Kupang ini berhasil menjuarai lomba menulis artikel populer Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) tingkat nasional.

Dalam lomba tingkat nasional yang diikutinya pertama kali ini, ia tak menyangka bisa meraih juara tingkat nasional. Remaja kelahiran Atambua, 5 Januari 2003 ini pun merasa bangga dan senang atas prestasi yang diraihnya itu.

"Ya bangga dan senang. Tetapi kita harus terus belajar dan belajar untuk menulis yang baik bersama para guru dan pembimbing," ujarnya kepada Pos Kupang, Rabu (22/2/2017).

Bersama pembimbingnya Frater Aditya, ia belajar menulis artikel. Ia juga rajin menulis puisi. Selain diterbitkan di majalah dinding (mading) sekolah, beberapa puisinya selalu menghiasi ruang Imajinasi Edisi Minggu Pos Kupang.

Tak pelak, saat ikut lomba menulis BPOM, ia pun tampil sebagai pemenang pertama untuk kategori pelajar se-Indonesia. Pemenang kedua Heksa Kusuma Wardhana dari SMA Kebangsaan Metro Lampung, dan ketiga Jaka Naufal Semendawai dari SMA Xaverius I Palembang.

Putri kelima dari tujuh bersaudara pasangan Domingos Orleans Soares dan Celina Mesquita ini akan berangkat ke Jakarta bersama guru pembimbingnya, Frater Giovanni Aditya Lewa Arum, untuk menerima penghargaan pada puncak HUT ke-16 BPOM, 28 Februari 2017 mendatang.

Zefanya mengatakan, pada lomba ini, dia mengangkat tema 'Gelarkan: Gerakan Pelajar Kawal Obat dan Makanan Aman'. Tema tulisan ini dibuat untuk  membagi idenya kepada para remaja agar menjadi inspirasi dan motivasi khususnya untuk mewujudkan generasi pelajar sehat.

"Dapatkah kita bayangkan, jika kondisi tubuh kita tidak sehat, bagaimana mungkin kita dapat melaksanakan seluruh aktivitas hidup dengan baik? Segala kegiatan dapat berjalan dengan baik dan lancar jika kita memiliki kondisi tubuh yang sehat," ujarnya.

Ia katakan, meski kita mengharapkan kondisi tubuh tetap sehat dan bugar, namun kenyataannya banyak masyarakat yang menderita sakit. "Mengapa hal ini bisa terjadi? Tentu banyak faktor yang menyebabkannya. Namun, masalah utamanya terletak pada pola hidup masyarakat yang tidak sehat," ujar Zefanya.

Baginya, masyarakat belum mampu membangun pola hidup sehat khususnya dalam hal mengkonsumsi makanan sehat dan obat-obatan yang aman. Ia mengatakan, dalam pengalaman sehari-hari, dia menyaksikan pola hidup sehat di sekolah belum berjalan dengan optimal. Kenyataan di sekolah-sekolah masih banyak pelajar yang tidak paham akan pentingnya mengonsumsi makanan yang sehat dan obat-obatan yang aman.

Misalnya saja, masih banyak siswa yang mengomsumsi jajanan di sekolah yang tidak higienis. Tidak adanya kantin sekolah yang sehat, minimnya kebersihan jajanan yang banyak dijual di pinggir jalan, maraknya jajanan yang mengandung bahan kimia berbahaya dan lain-lain, membuktikan bahwa pola hidup sehat di sekolah masih perlu diupayakan dengan sungguh-sungguh.

Menurutnya, sekolah tentunya mempunyai lembaga Organisasi Intra Sekolah (OSIS). Ia melihat peluang yang bisa dimanfaatkan dalam OSIS untuk membentuk gerakan bersama para pelajar yang dia sebut dengan 'Gelarkan'.

Gerakan ini sebenarnya bisa menjadi program strategis dari OSIS yang melibatkan seluruh pelajar di sekolah. Gerakan ini harus memulai agenda awalnya dengan program edukasi makanan dan obat-obatan yang aman.

Dikatakanya, dengan membangun kerja sama dengan para guru dan kepala sekolah, pengurus OSIS bisa mendatangkan tenaga ahli di bidang kesehatan makanan dan obat-obatan yang aman, khususnya dari Balai POM.

Karena, saat ini banyak pelajar yang belum mengetahui bahwa banyak obat-obatan dan makanan yang mengandung bahan-bahan kimia dan mikroba yang berbahaya bagi kesehatan. Di antaranya, formalin, boraks, saccharin atau pemanis buatan, siklamat, zat pewarna sintetis, sodium nitrit, monosodium glutamal (MSG), melamin dan lain-lain. Ini adalah contoh bahan kimia yang dapat menyebabkan penyakit yang mematikan, jika dikonsumsi secara terus-menerus.

"Menurut saya, program-program kecil dan sederhana lebih efektif daripada memiliki program besar yang sulit dilakukan. Saya menawarkan beberapa program strategis yang bisa dilakukan oleh Gelarkan," ujarnya.

Seperti Program Edukasi dan Literasi Makanan dan Obat yang aman. Program ini dapat memanfaatkan media mading sekolah. Gelarkan dapat berbagi informasi kepada seluruh warga sekolah mengenai jajanan sehat di sekolah, tips-tips memilih makanan dan obat-obatan aman, dan lain-lain.

Program Kawal Kantin Sehat. Gelarkan harus mengawal kantin yang sehat. Hal ini bisa dilakukan dengan cara memperhatikan kebersihan lingkungan kantin. Contohnya tidak membuang sampah jajanan sembarangan, mengkonsumsi makanan yang sehat dan bersih, dan lain-lain.

Selain itu ada Program UKS Plus. UKS tidak hanya tempat beristirahat siswa-siswi yang sedang sakit. "Saya mengajak Gelarkan untuk membentuk UKS Plus, yakni menciptakan lingkungan UKS yang bersih dan nyaman, serta pusat layanan informasi tentang makanan sehat terutama bagaimana mengkonsumsi obat-obatan yang aman," uarnya.

Juga ada Program Koperasi Konsumsi Sekolah. "Saya mengusulkan untuk membentuk koperasi konsumsi para pelajar di sekolah. Koperasi ini khusus menyediakan jajanan sehat dan dikelola oleh guru dan siswa-siswi sekolah. Selain berlajar untuk berkoperasi, siswa-siswi juga lebih aman dalam mengkonsumsi makanan sehat karena seleksi jajanan sehat yang terkontrol oleh para guru," katanya.
Dikatakanya, dengan membentuk 'Gelarkan' ia berharap para pelajar dapat menjadi agen-agen kesehatan demi mewujudkan Indonesia Sehat.

Ia memberikan pesan kepada para remaja khususnya pelajar, jika ingin berjalan berkilo-kilo jauhnya, mulailah dengan langkah pertama.  Jika ingin membangun Indonesia Sehat, kita perlu memulainya dari diri kita sendiri. "Karena, jika bukan kita, siapa lagi Jika bukan sekarang, kapan lagi," ujar Zefanya. (nia)

Sumber: Pos Kupang 23 Februari 2017 hal 1

Cerita Sukses Perwira Polisi dalam Berbisnis

Antonia Pah
SPANDUK bertuliskan "Selamat Datang Peserta Diklat Autis bagi Kepala/Guru SLB dan Sekolah Penyelenggara Program Inklusif Se-NTT" terpasang di depan Hotel GreeNia di Jalan WJ Lalamentik Oebobo, Kota Kupang. Di teras hotel ini ada sebuah mobil dan beberapa sepeda motor sedang parkir.

Suasana di teras hotel tersebut tampak sepi. Yang ada hanya seorang petugas resepsionis. Kemungkinan diklat seperti tertera pada spanduk digelar di ballroom lantai dua hotel tersebut. Hotel GreeNia memiliki beberapa ruang aula. Ada aula di lantai satu dan  lantai dua. Letaknya yang di pusat Kota Kupang membuat hotel ini mudah dijangkau dari berbagai arah. Untuk sampai ke hotel ini, ikuti jalan disamping Kantor Dinas PU NTT.  Hotel tepat berada di belakang kantor tersebut.

Nama Hotel GreeNia sudah tidak asing lagi bagi warga Kota Kupang dan sekitarnya. Bahkan, di Kota Kupang sudah ada dua hotel GreeNia. Hotel GreeNia 2 di Jalan R Suprapto Oebobo,  20 meter lebih dari pertigaan dengan Jalan El Tari depan Rujab Gubernur NTT.

Pemilik Hotel GreeNia bukan orang biasa. Pemiliknya perwira polisi berpangkat AKBP yang kini bertugas di Polda NTT. Dialah AKBP Antonia Pah, yang saat ini menjabat Kabag Infosarpras Polda NTT. Perempuan berdarah Rote Ndao yang lahir dan besar di Kota Kupang.

Ketika ditemui di ruang kerjanya di Mapolda NTT, Kamis (30/6/2016), Nia Pah, begitu ia biasa disapa, bercerita, untuk bisa memiliki dua buah hotel  ia bersusah payah berusaha mulai dari titik nol. Banyak tantangan dan peluh keringat yang ia keluarkan untuk bisa mencapai titik ini. "Ceritanya panjang.Saya mengawali usaha bisnis dengan menjual barang keliling," kata Nia Pah.

Diceritakan Nia, pada tahun 1982 ia sudah menjadi seorang polisi. Di zaman itu, jam pulang kantor kalau hari Jumat pukul 11.00 Wita dan hari Sabtu pukul 13.00 Wita. Dia  memiliki cukup banyak waktu untuk kerja sampingan.  Kebetulan saat itu, Nia Pah mendapat informasi istri seorang dosen Undana menjual seprei, kain lap, baju dan lain-lain. Dosen Undana itu bernama Pak Koenunu, sementara nama istrinya ia lupa. Nia mendatangi istri dosen tersebut dan menawarkan diri ikut menjual. "Saya jual keliling ke semua orang. Bayarnya cicil, seperti kredit. Waktu itu belum ada orang dari Jawa atau orang Bugis yang jual keliling," kata Nia Pah.

Beberapa bulan kemudian, Ibu Devi dan Pak Devi asal Bandung datang ke Kupang. Keluarga itu menjual pakaian dari Bandung sehingga Nia Pah  mendatangi mereka. Ia menawarkan kerja sama menjual pakaian mereka. Ibu Devi dan Pak Devi inilah yang mendirikan Toko Bandung Jeans di Kota Kupang.

"Karena usaha saya membuahkan hasil maka saya diberi kesempatan untuk jualan lebih banyak. Waktu itu, keluarga Ibu Devi dan Pak Devi masih kontrak rumah di depan Hotel Charvita, Oebobo," cerita Nia Pah.

Pihak yang  berjasa bagi Nia Pah dalam usaha bisnis jual barang keliling ini adalah Toko Murah. Nia Pah juga jualan pakaian dari Toko Murah. "Pengusaha keturunan Thionghoa itu sulit percaya orang. Tapi mereka percaya saya. Bahkan saya ambil barang pakaian dalam jumlah banyak," kata Nia Pah. Pakaian dari Toko Murah itu ia pasarkan sampai ke Buraen, Kabupaten Kupang dan sekitarnya. Kebetulan saat itu, Nia Pah memiliki saudara yang tinggal di Buraen.

"Setiap Sabtu saya bawa barang ke Buraen. Kebetulan saat itu saya sudah punya sepeda motor Supercup 600. Sepeda motor itu saya dapat hadiah dari Pak  Piet Tallo. Saya muat barang di motor menuju Buraen. Kadang-kadang pakai angkutan umum juga," cerita Nia Pah.

Saat memulai usaha jualan keliling Nia Pah belum menikah. Nia Pah baru menikah tahun 1988. "Saya masih nona-nona tapi saya tidak malu. Prinsipnya yang penting bisa bagi waktu dan tidak mengganggu tugas utama saya sebagai polisi. Dan ternyata saya mampu menjalani tanpa mengganggu tugas utama saya," katanya.

Dengan berusaha serius, keuntungan yang diperoleh Nia Pah terus bertambah. Nia Pah pun tidak puas dengan cuma berjualan barang. Jika menemukan sesuatu yang dinilainya bisa dijadikan peluang usaha, langsung ia sambar.

Misalnya, saat melihat ada pohon asam berbuah, timbul pemikiran dalam dirinya untuk membuat manisan asam. Saat musim mangga berbuah, ia langsung mengolahnya dan berjualan manisan mangga. Bahkan, Nia Pah pernah  seperti pemulung. Ia mengumpulkan botol bekas, mencuci untuk digunakan lagi. "Saya juga pernah punya lima counter pulsa. Saya jual pulsa dan masih banyak yang lainnya. Yang bisa saya jual saya tekuni," kata Nia Pah.

Ketika menikah tahun 1988, beberapa ponakan tinggal di rumah mereka dan ikut membantu usaha bisnisnya. Tahun 2009, Nia membangun hotel dengan nama GreeNia. "Awalnya mau bangun kos-kosan. Tapi ada teman bernama ibu Anwar menyarankan sekalian bikin hotel saja. Kebetulan uang saya juga mencukupi untuk bangun hotel sehingga jadilah Hotel GreeNia," cerita Nia Pah.

Kini, Nia Pah bahkan memiliki dia buah hotel yakni Hotel GreeNia dan Hotel GreeNia 2. Sejak memiliki hotel, Nia Pah tidak lagi menekuni usaha counter pulsa,  jual barang keliling dan usaha kecil-kecil lainnya. Nia Pah kini konsentrasi pada usaha hotelnya dan usaha toko yang juga sekaligus menjadi rumahnya tak jauh dari kantor Perwakilan OJK Provinsi NTT. "Bagi saya, di NTT terutama di Kota Kupang ini ada banyak uang yang berterbangan. Tinggal bagaimana kita menangkap atau menggapai uang-uang tersebut," kata Nia.

"Bagi saya, walau kita ini orang PNS yang digaji negara, tapi kalau kita mau berusaha bisa saja. Yang penting tetap mengutamakan dinas atau pekerjaan pokok. Seperti saya ini, walaulun saya berusaha tapi saya tidak melepas baju seragam coklat yang saya pakai. Justru pekerjaan utama saya yang mendukung usaha saya," kata Nia Pah. Nia Pah berharap, para PNS, anggota Polri dan TNI, bisa memanfaatkan waktu luang dengan berusaha.  (maxi marho)

Sumber: Pos Kupang 1 Juli 2016 hal 1

Bombardom Jadi Mulok di Ngada

Alat musik bombardom di Ngada (2015)
Alat musik bombardom saat ini semakin digandrungi masyarakat Kabupaten Ngada, terutama di Kecamatan Jerebu'u, Bajawa dan Kecamatan Golewa. Bahkan beberapa sekolah di Ngada menjadikan alat musik bombardom sebagai kurikulum muatan lokal (mulok).

Kenyataan itu membuat Ketua Sanggar Seni dari Kampung Tololela, Kecamatan Jerebu'u, Kabupaten Ngada, Pelipus Dama merasa bangga. Kepada Pos Kupang belum lama ini. Dama mengatakan, alat musik yang populer di Ngada sejak tahun 1960 itu sempat dilupakan masyarakat Ngada belasan tahun. Selain bombardom, masyarakat Ngada mengenal alat musik tradisional lainnya seperti okalele, benyo dan strend bass.

Pada tahun 2014 melalui lembaga seni PT Indocon, alat musik tiup bombardom dihidupkan lagi serta dipromosikan secara besar-besaran. Bersamaan dengan itu dibentuk Sanggar Seni dan Musik 'Lina Wae Lengi' yang artinya 'Air Bersih yang Beraroma' di Kampung Tololela, Kecamatan Jerebu'u.

Menurut Dama, saat ini pelajar SD, SMP hingga SMA di wilayah Kecamatan Jerebu'u umumnya sudah terampil meniup bombardom.  Dijelaskannya, alat musik tiup ini digunakan saat menerima tamu atau pembesar pemerintah ketika berkunjung ke desa, acara perkawinan maupun festival budaya.

Pada bulan September 2015, Pemerintah Kabupaten (Pemkab)   Ngada menyelenggarakan Festival Musik Tiup Bombardom yang melibatkan peserta mencapai 510 orang mulai dari pelajar, penjabat bupati, para pejabat eseolan II dan III di Pemkab Ngada,  masyarakat  Kecamatan Jerebu'u hingga wisatawan asing. Festival bombardom saat itu berhasil mencetak rekor MURI dengan Nomor 7091/R.MURI/IX/2015. "Rekor MURI menjadi motivasi bagi setiap orang Bajawa untuk tetap melestarikan alat musik ini," katanya.

Ia berharap pemerintah Kabupaten Ngada konsisten melakukan berbagai terobosan agar alat musik tiup ini tetap eksis dan dikenal dunia. "Selama ini sudah banyak wisatawan yang datang dan mencoba alat musik ini. Jangan sampai orang luar malah lebih tahu meniup bombardom daripada orang Bajawa," ujar Dama yang didampingi istrinya Slokastika Dhone.

Alat musik bombardom terbuat dari bambu  ukuran besar yang dalam bahasa Ngada disebut peri dan bambu berukuran kecil (ila). Menurut Dama, peri berfungsi menampung udara sedangkan ila berfungsi peniup udara.  Bambu penampung suara dibuat dalam dua bentuk, yaitu ukuran panjang 75 centimeter dan yang pendek 53 centimenter. Sedangkan bambu peniup suara (ila) lebih panjang tujuh centimeter dari ukuran bambu besar. Diameter lubang pada bambu besar sekitar lima centimeter. Bombardom menghasilkan dua jenis suara yakni bariton dan sopran.

Menurutnya, alat musik tiup ini diwariskan orangtua mereka sebagai alat musik pendamping untuk alat musik lain seperti suling. "Dulu bombardom  selalu digunakan masyarakat untuk mengiringi lagu-lagu di setiap event, misalnya, saat kunjungan pejabat pemerintah ke desa-desa. Bombardom juga dipakai sebagai alat musik penghantar pasangan calon nikah sebelum menuju gereja dan menyambut mereka  sepulang dari gereja," katanya.

Ia mengatakan, bambu peri dan ila ini masih banyak banyak di wilayah Jerebu'u dan beberapa wilayah lain seperti Golewa dan Kecamatan Bajawa. Saat ini warga Kampung Tololela sudah memproduksi sekitar 500-an buah alat musik bombardom. "Kami sendiri yang membuat alat musik ini dan memang harus mencari jenis bambu yang bagus dan mulus sehingga menghasilkan suara yang bagus juga," katanya. (jen)

Sumber: Pos Kupang 17 Januari 2015 halaman 1

Barnabas nDjurumana Menjawab Pesan El Tari

Barnabas dan para kenshi NTT (2015)
POS KUPANG.COM  - Gubernur El Tari, sudah lama menghadap Sang Khalik, meninggalkan rakyat NTT. Tetapi pesan  El Tari kepada pionir olahraga kempo NTT,  Barnabas  nDjurumana, S.H, tahun 1977  tetap lestari hingga hari ini. Barnabas nDjurumana mewujudkan harapan El Tari agar suatu saat kelak kempo bisa mengharumkan nama NTT.

Pesan itu  terjawab sejak tahun 1993 ketika para atlet kempo NTT mampu mengangkat nama dan martabat Flobamora di pentas olahraga kempo nasional, regional ASEAN dan Asia, bahkan dunia.  Mantan Sekda Kabupaten Kupang ini mengenal kempo saat ia studi hukum pada Fakultas Hukum  Universitas Kristen Satya Wacana (UKSW) Salatiga tahun 1971-1976.  Barnabas  terpilih sebagai atlet PON Provinsi  Jawa Tengah pada PON tahun 1977 di Jakarta. Lalu di laga PON 1977, Barnabas mampu meraih medali perak dalam nomor randori beregu.
Pada bulan November 1977, Barnabas bertemu Gubernur NTT,  El Tari, di Jakarta.

"Kebetulan waktu itu saya mendampingi kakak saya menjenguk  Gubernur Bapak El Tari, yang sedang sakit ginjal di rumahnya di Cempaka Putih, Jakarta. Beliau minta saya kembali ke NTT karena sangat butuh tenaga sarjana untuk membangun NTT. Beliau juga menanyakan kepada saya mengapa sudah selesai kuliah sejak tahun 1976, tapi masih tetap tinggal di Salatiga," kata Barnabas mengenang.

Barnabas mengatakan kepada Gubernur El Tari bahwa  ia masih tinggal di Salatiga karena terpilih sebagai atlet kempo mewakili Jawa Tengah pada PON 1977 di Jakarta.

"Beliau spontan meminta saya harus pulang ke NTT. Selain itu, beliau juga minta mengembangkan olahraga kempo di NTT. Biar kita miskin sumber daya alam, tetapi kita tidak boleh miskin prestasi. Dan,  biar nanti NTT dikenal karena prestasi olahraganya. Kemudian beliau beri waktu dua hari untuk berpikir. Saya mengambil keputusan mengikuti imbauan Bapak Gubernur El Tari untuk membangun NTT. Beliau menitipkan nota ditujukan kepada Sekwilda Provinsi NTT  agar saya diproses pengangkatan sebagai PNS. Lalu  pada tanggal 1 Maret 1978 saya diangkat menjadi Calon Pegawai Negeri Sipil (CPNS)," kata  Barnabas.

Akhir bulan April 1978,  Gubernur El Tari meninggal dunia. Rakyat Flobamora berduka. "Saat itu saya berikrar dan bertekad dalam hati untuk mewujudkan apa yang menjadi keinginan gubernur kepada saya agar NTT dikenal karena prestasi olahraganya, dan tidak hanya dikenal sebagai provinsi miskin. Untuk mewujudkan impian  almarhum Gubernur El Tari, saya menyusun langkah strategis pengembangan olahraga kempo secara massal dan perkembangan jangka panjang di seluruh NTT  (12 kabupaten pada waktu itu).  Saat Gubernur El Tari meninggal, baru ada dojo (sasana) kempo di Kantor Direktur Sospol, di mana seorang Barnabas bekerja  dengan 25 orang anggota," paparnya.

Adapun beberapa langkah strategis yang ditempuh Barnabas antara lain  pengembangan kempo diutamakan di sekolah dan perguruan tinggi. Khusus untuk perguruan tinggi (Undana) rekrutmen anggota mengutamakan mahasiswa Fakultas Keguruan dari berbagai jurusan yang berasal dari 12 kabupaten di NTT kala itu. Tujuannya apabila selesai kuliah  mahasiswa tersebut pasti jadi guru dan kembali ke daerah  asal masing-masing dan diharapkan dapat mengembangkan kempo di sekolahnya secara berkelanjutan.

"Sistem rekrutmen anggota melalui sistem sel artinya setiap anggota yang naik tingkat diwajibkan merekrut lima orang di lingkungannya, baik itu di lingkungan sekolah maupun lingkungan tempat tinggal atau tempat kerja untuk dibina sampai anggota yang direkrut mengahayati dan mengamalkan falsafah dan motto kempo," kata Barnabas.

Menurut dia, strategi pendidikan kempo diarahkan pada pendidikan karakter sedangkan pendidikan beladirinya hanyalah sarana berhimpun untuk  menanamkan disiplin diri yang tinggi. Disiplin merupakan kunci sukses dalam segala bidang kehidupan.

"Juga ditanamkan  jiwa sportivitas dan kesatria, menanamkan semangat kerja keras, semangat berkompetisi, fair play, menanamkan jiwa kejujuran dan jiwa pantang menyerah serta semangat cinta tanah air, kemanusiaan dan persaudaraan sejati," tambahnya.

Pada  tahun 1986 organisasi olahraga beladiri kempo sudah terbentuk di 12 kabupaten di Provinsi NTT. Setelah ada pemekaran kabupaten/kota maka organisasi olahraga kempo sudah terbentuk di 22 kabupaten/kota. Kempo menjadi satu-satunya cabang olahraga di NTT yang ada di 22 kabupaten/kota. Bahkan di Kota Kupang kempo ada di seluruh kelurahan (51 kelurahan). Di delapan kabupaten kempo ada di semua kecamatan, serta 13 kabupaten lainnya masih fokus pada ibukota kabupaten. (ferry ndoen)

Sumber: Pos Kupang 16 Januari 2016 halaman 1

Kempo Targetkan Empat Emas di PON 2016

Simpai George Hadjoh dan kenshi putri NTT
POS KUPANG.COM, KUPANG - Provinsi NTT meloloskan 71 atlet dari sepuluh cabang olahraga (cabor) ke Pekan Olahraga Nasional (PON) XIX/2016 yang akan berlangsung di Jawa Barat (Jabar) tahun 2016 ini.

Dari 71 atlet yang lolos ke PON XIX/2016, sebanyak 24 orang  atlet berasal dari cabang olahraga kempo. Cabang olahraga yang menjadi lumbung medali bagi NTT menargetkan empat medali emas di PON 2016.

Ditemui Pos Kupang,  Kamis (14/1/2016) Ketua Umum Pengurus Provinsi  (Ketum Pengprov) Perkemi NTT, Ir. Esthon Foenay, M.Si mengatakan,  kempo meraih juara umum saat Pra PON kempo di Bandung, Jawa Barat tahun 2015 dengan meraih tujuh medali emas. Atas dasar itulah Esthon optimistis atlet NTT bisa meraih minimal empat medali emas di PON 2016.

"Kejurnas Pra PON Shorinji Kempo di Bandung diikuti seluruh atlet kempo dari seluruh provinsi di Indonesia. Kempo ini  tidak seperti cabang olahraga lainnya yang  Pra PON menggunakan sistem wilayah atau zona sehingga Pra PON di Bandung tahun lalu boleh dikatakan mirip PON," kata Esthon.

Ia mengaku sepulang dari Pra PON atlet kempo NTT cuma istirahat sebentar dan setelah itu melanjutkan  latihan desentralisasi. "Kempo sukses juga karena atlet tetap latihan sehingga saat masuk TC sentralisasi mereka sudah siap," ujarnya.

Esthon berharap saat pelatda ada try out atau pra kondisi sehingga atlet memiliki lebih banyak pengayaan  suasana pertandingan dan lawan tanding.

Mantan wakil gubernur NTT ini optimistis dengan dukungan doa masyarakat NTT, kempo bisa tetap eksis untuk kembali berprestasi dalam PON XIX/2016 di Bandung, Jawa Barat.

Pelatih kempo, Dr. Alfons Theodorus, MT diwawancarai di Kupang, Jumat (15/1/2015), menceritakan kembali  perjalanan prestasi kempo. "Luar biasa. Atlet kempo NTT dalam Pra PON 2015 di Bandung lolos 15 nomor dari 15 nomor yang dipertandingkan. Dan, NTT meraih juara umum dengan perolehan lima medali emas dari nomor embu dan  dua medali emas dari nomor randori," jelas  Alfons.

Pria bertubuh atletis yang juga Sekretaris Majelis Sabuk Hitam (MSH) Perkemi NTT mengatakan, target yang diberikan Ketua Umum KONI NTT dan Ketua Harian KONI NTT  kepada Perkemi NTT di PON XIX/2016,  yakni meraih empat medali emas atau minimal mempertahankan prestasi di Pra PON.

"Semua komponen di Perkemi NTT tentu bekerja keras menuju prestasi PON 2016. NTT pernah meraih delapan medali emas dalam PON 2004. Dari jumlah medali itu atlet kempo NTT menyumbang empat medali emas. Dan pada PON 2008 atlet kempo NTT menyumbang dua medali emas, pada PON 2012 di Riau, atlet kempo NTT meraih dua medali emas dan tinju mendulang satu medali emas," kenang Alfons yang saat ini menjabat Kepala Seksi (Kasie) Pembangunan Jalan Dinas PU Provinsi NTT.

Torehan prestasi kempo NTT  di tingkat nasional, bukan cuma di ajang Pra PON dan PON, namun  pada level kejuaraan nasional (kejurnas) termasuk  kejuaraan antar mahasiswa dan  pelajar. NTT mengukir prestasi sejak tahun 1988. Prestasi ini terus dipertahankan hingga saat ini.

"Pada ajang PON cabang olahraga kempo menjadi cabang penyumbang medali emas terbanyak bagi NTT sejak tahun 1997 hingga 2015. Bahkan untuk tingkat Asia Tenggara pada even SEA Games tahun 2011 di Jakarta dari enam medali emas untuk Indonesia, dua medali emas, satu  perak dan dua medali  perunggu disumbangkan atlet kempo asal NTT," papar Sekretaris Umum Pengprov Perkemi NTT, George Hadjoh (V DAN) saat ditemui  Pos Kupang, di sela-sela latihan rutin mempersiapkan atlet menuju PON XIX, di aula serbaguna KONI NTT, Jalan WJ Lalamentik, Kupang, Kamis (14/1/2016).

Hasil lainnya, papar George, di SEA Games Myanmar dari tujuh medali emas yang direbut atlet  Indonesia, tiga medali emas, dua perak dan satu perunggu direbut atlet kempo asal NTT.  Apa yang diraih atlet kempo NTT tentu sangat membanggakan bukan cuma bagi rakyat NTT, namun juga membangakan rakyat Indonesia karena sudah ikut mengharumkan nama Ibu Pertiwi di kancah olahraga regional ASEAN.

NTT saat ini menjadi kiblat kempo di Indonesia baik dalam hal pengembangan anggota maupun prestasinya. "Semua prestasi yang dicapai karena dukungan penuh dari bapak gubernur NTT, para bupati dan walikota, DPRD NTT serta DPRD kabupaten/kota, juga tokoh agama, tokoh masyarakat,  orang tua hingga anggota kempo. Karena itu, cabang olahraga kempo terus berkembang dan menjadi idola masyarakat NTT dan ditetapkan KONI NTT sebagai cabang olahraga super prioritas untuk NTT," kata George. (fen)

Sumber: Pos Kupang 16 Januari 2016 halaman 1

Mariana Rohi Bire Tidak Jalan Sendiri

Mariana Rohi Bire
POS KUPANG.COM - Dipercayakan lagi menjadi Ketua Unit Pembantu Pelayanan (UPP) Perbendarahaan dalam kepengurusan Majelis Sinode (MS) Gereja Masehi Injili di Timor (GMIT) Periode 2015-2019 unsur jemaat  merupakan suatu berkat bagi Mariana Rohi Bire.

Perempuan  yang akrab disapa Rina ini awalnya tidak bersedia dicalonkan menjadi pengurus MS GMIT periode 2015-2019. Tetapi ada banyak yang mendukung  Rina  agar menerima kepercayaan itu.

Perempuan kelahiran Kota Kupang pada 24 Januari 1970 mengatakan, "Saya menolak, tapi saya mendapat dukungan dari para pendeta, dari teman-teman untuk ikut proses saja karena sudah empat klasis yang usulkan sehingga wajib  ikut pencalonan. Mereka bilang ini panggilan Tuhan melalui jemaat. Dari tiga calon, puji Tuhan saya terpilih."

Istri Agus Joko Rusmono ini menuturkan,  menjadi Ketua UPP Perbendarahaan MS GMIT adalah tanggung jawab yang cukup berat, tetapi  dia yakin mampu melaksanakan dengan baik.

"Saya berpikir apa yang ada sekarang, tetap dijalankan sepanjang itu baik, sambil merancang program seusai kondisi jemaat tapi tidak boleh di luar rencana induk pelayanan dan haluan kebijakan. Saya bersyukur karena kepemimpinan GMIT ada beberapa orang. Berarti kita bersatu untuk melakukan semua program yang ada. Saya tidak berjalan sendiri," ujarnya.

Rina bekerja di GMIT sejak tahun 1994 dan diangkat menjadi karyawan  GMIT non pendeta tahun 1996.  Tahun 2005 diangkat  menjadi kepala bagian keuangan. Lalu ada perubahan struktur tahun 2011, di mana istilah kepala bagian keuangan berubah menjadi Sekretaris Bidang Keuangan dan  nomenklatur berubah lagi  tahun 2013 menjadi Ketua UPP Perbendarahaan.  "Saya diangkat menjadi ketua UPP Perbendarahaan GMIT dan  merangkap sekretaris bidang keuangan," katanya

Rina mengambil S1 pada Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Nusa Cendana (FISIP  Undana) Kupang. Pada fakultas ini Rina menekuni ilmu  administrasi niaga, jurusan administrasi keuangan dan S2 di Universitas Katolik Widya Mandira (Unwira) Kupang  dengan spesialisasi manajemen keuangan. 

Saat melanjutkan pendidikan S2, Rina mengaku butuh waktu lebih lama untuk menyelesaikannya karena bagi Rini melanjutkan pendidikan itu penting, tetapi lebih pada kepentingan pribadi. "Saya tidak mau mengorbankan pekerjaan saya karena itu baru selesai pada bulan Agustus 2015," ungkapnya. (ira)

Sumber: Pos Kupang 10 Januari 2016 hal 1

Pendeta Mery Kolimon Merangkul Semua

Pdt Dr Mery Kolimon
POS  KUPANG.COM -  "Apakah kepemimpinan perempuan akan menjadi lebih baik? Ini berkat bagi GMIT, tapi juga tantangan. Saya menyadarinya, sejauh mana kepemimpinan perempuan akan menyumbang bagi transformasi kepemimpinan yang androsentris, kepemimpinan yang patriarkis.  Saya sungguh berharap bahwa ini tidak sekadar kepemimpinan perempuan, tapi ini menjadi  kepemimpinan feminis."

Demikian Ketua MSH GMIT periode 2015-2019, Pdt.Dr.Mery Kolimon, saat ditemui di ruang Direktur Pasca Sarjana Universitas Kristen Artha Wacana (UKAW) Kupang, Jumat (8/1/2016).

Pada Minggu (10/1/2016) sore berlangsung acara serah terima kepengurusan Majelis Sionde (MS) Gereja Masehi Injili di Timor (GMIT) dari pengurus lama kepada pengurus MS GMIT masa bakti 2015-2019 di Gereja Koinonia, Kuanino Kupang.

Mery menyatakan, kepemimpinan MSH GMIT periode ini tidak sekadar kepemimpinan perempuan. Dari sembilan orang yang terpilih, lima orang full time, di mana empat orang perempuan, kecuali sekretaris. Keberadan perempuan dalam pengurus ini adalah tantangan, apakah kepemimpinan perempuan akan lebih baik

Menurut dia, ciri khas kepemimpinan feminis adalah merangkul semua dan karakater partisipatif. Hal ini sejalan dengan kepemimpinan presbitarian sinodal, bahwa keputusan tidak hanya berada pada tangan seorang ketua. Fungsi ketua memoderatori percakapan dan pengambilan keputusan bersama.

"Sebagai pemimpin perempuan dan pemimpin feminis, saya mau itu terjadi dengan membuka ruang bagi partisipasi jemaat. Gereja ini milik semua warga GMIT, karena itu proses pengambilan keputusan  tidak sepihak oleh orang tertentu atau kelompok tertentu dan kelompok elit. Tetapi ada  proses partisipatif, di mana suara jemaat melalui presbiter atau para wakil yang hadir dalam sidang," ujar Mery.

Menurut Direktur Pasca Sarjana UKAW Kupang ini, kepemimpinan perempuan yang dominan dalam MSH GMIT periode ini harus berhati-hati, sehingga tidak menjadi ketidakadilan yang lain.

"Kalau kita mengeluh selalu laki-laki yang memimpin dan perempuan termarginal, maka jangan sampai itu terjadi  dengan banyaknya perempuan dalam memimpin,  lalu kawan laki-laki merasa bahwa mereka disisihkan. Kita harus memastikan bahwa kita omong keadilan dan kesetaraan gender, memberikan ruang yang sama bagi perempuan dan laki- laki untuk mengambil bagian  dalam kepemimpinan. Juga mengambil bagian dalam pelayanan untuk bersama memberi terbaik bagi gereja dan bangsa," tegas Mery.

Ia mengatakan, setelah serah terima akan buat peta GMIT dan membagi tugas semua klasis  dikunjungi, karena MS harus hadir bersama jemaat, terutama dalam kesulitn mereka, MS hadir untuk memperkuat jemaat karena jemaat adalah basis pelayanan.
"Saya membayangkan kami membuat peta GMIT  dan membagi tugas diantara kami sembilan supaya seluruh teritori, seluruh basis bisa dikunjungi sehingga tidak ada yang merasa bahwa tidak diperhatikan," katanya.

Namun saat turun ke klasis, tegas Merry, tidak hanya untuk acara seremonial, tapi mengajak  jemaat belajar bersama mengenai produk sinodal dan bagaimana memberikan tanggapan terhadap situasi konkret  yang terjadi di masyarakat.  Misalnya, isu kekeringan, isu perdagangan orang dan gizi buruk.

                                       Atasi Kekeringan
MS GMIT sepakat pada Januari 2016 ini akan mengevaluasi dan  mempersiapkan program pelayanan tahun 2016. Hal pertama yang akan dibuat adalah membaca Haluan Kebijaksan Umum Pelayanan (HKUP) periode 2015-2019 yang diputuskan dalam sidang raya sinode di Rote Ndao bulan Oktober tahun lalu.

"Kami tidak melaksanakan  yang di luar dari HKUP,meskipun begitu tugas kami menafsirkanya agar bisa menjawab kebutuhan yang konstektual di GMIT sekarang ini. Hal yang mendesak adalah di NTT termasuk jemaat GMIT bergumul dengan ancaman El Nino yang sangat serius," kata Mery.

Pada bulan Januari ini harusnya jagung petani dan tanaman lain di kebun sudah tumbuh besar dan  persiapan untuk panen. Masalah kekeringan ini, demikian Mery. menjadi perhatian serius GMIT, dan gereja harus berpikir apa yang harus dibuat.

Menurutnya, ancaman El Nino akan mengakibatkan semakin rentannya masyarakat, termasuk jemaat terhadap praktik tenaga kerja  ilegal, perdagangan orang.

"Ini harus menjadi perhatian serius gereja.  Kita harus berdoa sungguh-sungguh, tapi saya rasa doa saja tidak cukup. Kita harus mencari hikmat bersama supaya memberikan tanggapan apa yang harus kita lakukan bersama sehingga kalau hujan turun apa yang harus kita buat. Misalnya, menggali kembali kearifan lokal masyarakat untuk kembangkan jenis  tanaman pangan yang bisa bertahan dalam perubahan musim seperti sekarang ini," kata Mery.

Ia mengatakan, hikmat kearifan lokal perlu dimanfaatkan oleh gereja untuk ketahanan pangan masyarakat.  "Saya lihat isu yang mendesak adalah gereja harus menjadi bagian dalam upaya membangun ketahanan pangan masyarakat dan memastikan bahwa  ada dampak kekeringan ini. Kita bahu membahu mencari jalan agar tidak terlalu banyak korban. Kerja sama dengan pemerintah,  LSM,  media dan semua pihak yang berniat baik untuk kebaikan masyarakat dan kebaikan alam di NTT, di Sumbawa dan Batam (wilayah pelayanan GMIT)," katanya.

MS GMIT juga  berpikir harus ada perhatian serius tekait kekeringan tentang  bagaimana jemaat dan gereja mengelola air dengan membuat jebakan air di lingkungan jemaat, di klasis dan di lingkungan gedung gereja, serta kebun warga jemaat.

Mengenai bidang ekonomi, Mery mengatakan, peranan gereja dalam bidang ekonomi untuk mengadvokasi ekonomi rakyat. Tujuannya, agar  jemaat mampu terlibat dalam globalisasi  dan tidak menjadi korban,  bagaimana memberdayakan jemaat. Misalnya, jemaat di Alor yang mengembangkan  Kopdit Citra Hidup Tribuana.

Menurut dia, berhadapan dengan globalisasi yang sangat menenkankan pada jaringan, maka upaya ekonomi jemaat sangat rentan kalau dilakukan secara individu. Karena itu, gereja harus ada di bagian depan untuk mendampingi jemaat dalam mengembangkan koperasi yang berasal dari oleh dan untuk jemaat

Pada prinsipnya, kata Mery, ekonomi gereja adalah ekonomi kehidupan, ekonomi yang memberdayakan. Prinsip ini harus dipegang gereja saat mengembangkan ekonomi.
Gereja tidak boleh mengambil keuntungan berlebihan dari penderitaan jemaat. "Saya kira itu prinsip yang harus diperjuangkan melalui pelaynan gereja. Gereja melalui pengembangan eknomi harus menjadi berkat bagi NTT,  harus menjadi tanda sejahtera, jangan sampai gereja berdiri megah di tengah penderitaan rakyat NTT," tegas Mery.

Mery juga menyatakan, gereja harus mandiri dari aspek dana, daya dan kemandirian teologi. Dan, ketika gereja menggadaikan kemandirannya di bidang dana, maka pada saat yang sama gereja bisa  menggadaikan kemandirian bidang teologinya. 

Mery menyatakan, prinsip hidup hemat dan sederhana harus ditanamkan kepada jemaat. "Ini juga harus menjadi prinsip hidup para pendeta, dan prinsip penataan pelayanan. Jangan sampai kita menampilkan kehidupan gereja yang mewah di tengah penderitaan masyarakat. Jadilah  gereja yang hemat dalam pengelolaan keuangan dari persembahan  jemaat," tegas Mery. (ira)

Sumber: Pos Kupang 10 Januari 2016 hal 1

Sekilas Sejarah Perjalanan GMIT

Pdt Dr Mery Kolimon
POS KUPANG.COM  - Gereja Masehi Injili di Timor (GMIT)  mempunyai sejarah yang cukup panjang bila dibandingkan dengan gereja-gereja Protestan lainnya di Indonesia. Berikut ini sekilas perjalanan GMIT menurut  catatan Ketua BP4S GMIT, Pdt. Yuda D. Hawu Haba, M.Th yang dikirimkan ke Pos Kupang.

Sejarah GMIT telah dimulai sejak zaman Portugis (abad XVI) dan zaman VOC (abad XVII-XVIII). GMIT tak terpisahkan dengan sejarah gereja-gereja di Indonesia pada umumnya. Wilayah di mana Gereja Masehi Injili di Timor (GMIT) dianugerahi hak hidup bergerak dan berkembang adalah seluas Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) kecuali Pulau Sumba dan Sumbawa di Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB). Termasuk Pulau Sumbawa karena warisan masa lampau yakni bagian dari keresidenan Timor dan daerah taklukkannya.

Latar belakang tumbuhnya GMIT berawal dari kedatangan Injil ke Timor setelah ditemukannya Pulau Timor secara tidak sengaja oleh Antonio de Arbreau dalam usahanya mencari pulau "rempah-rempah" di Maluku.

Adapun sejarah pertumbuhan GMIT dapat terlihat dalam babakan berikut ini. Pertama, permulaan tumbuhnya gereja diawali dengan Portugis, tahun 1556 -1613. Kedua, Gereja Protestan selama Pemerintahan Belanda tahun 1614-1842 yang terbagi atas Masa Oud Hollandse (1614-1819); Masa Nederlandsche Zendeling Genootschaap (1814-1860); Masa Indische Kerk (GPI) 1860-1942; Gereja di Timor pada masa pendudukan Jepang tahun 1942-1945; Situasi menjelang pembentukan GMIT dari tahun 1945 -1947 dan Gereja Masehi Injili di Timor dari tahun 1947 sampai sekarang ini.

Keragaman sosial-kultural, perbedaan daerah, suku, bahasa, kedudukan sosial dan lain-lain merupakan pegumulan GMIT sepanjang sejarahnya. Ikatan suku dan daerah merupakan kesulitan yang terus-menerus dialami dalam mencapai keesaan di GMIT. Keadaan keterpencilan (baik antar-daerah di NTT maupun isolasi daerah NTT, dari daerah lain di Indonesia) menghambat pertumbuhan, koordinasi dan integrasi untuk memecahkan persoalan-persoalan yang dihadapi GMIT.

Meski demikian, hal ini perlahan-lahan mulai diatasi. Persatuan dan kesatuan yang sangat diperlukan untuk memanfaatkan kesempatan-kesempatan pencapaian efisiensi pelayanan gereja di NTT merupakan persoalan bagi GMIT.

Secara tradisional, konflik antar-etnik yang sudah lama terjadi dapat diatasi dengan mekanisme solidaritas yang dibangun antar-kelompok yang bertentangan itu. Mitos Thie Mau, Sabu Mau dan Belu Mau yang dikembangkan dalam tradisi lisan di tiga kelompok etnik ini adalah salah satu contoh mekanisme solusi konflik yang sudah lama digunakan untuk mempertahankan solidaritas antar suku yang bertentangan.
Masuknya berbagai denominasi lebih menyemarakkan keberagaman aliran Protestan di wilayah pelayanan GMIT. Meski demikian, harus diakui bahwa belakangan ini relasi antara GMIT dengan Gereja Katolik dan denominasi lain sudah jauh lebih baik dan semakin stabil.

Kelambanan Zending Belanda dan Gereja Protestan di Hindia Belanda dalam membina gereja di Timor ke arah kedewasaan secara teologis dan spiritual turut memberikan warna terhadap wawasan eklesiologi yang berkembang di GMIT, di samping kejiwaan kolonial yang berlangsung cukup lama turut membawa pengaruh tersendiri terhadap kepemimpinan, struktur, tata gereja dan manajemen keuangan GMIT.

Setelah melewati perkembangan sejarah yang cukup panjang (kurang lebih empat abad), maka tanggal 31 Oktober 1947, GMIT dinyatakan sebagai Gereja yang berdiri sendiri. Terpilih sebagai Ketua Sinode pertama adalah Ds. E. Durkstra dan Sekretaris Ds. E. Tokoh.  Pada tahun 1948, GMIT menjadi anggota Dewan Gereja-gereja se Dunia (DGD). Dewan Gereja-gereja di Indonesia (sekarang PGI) terbentuk pada 25 Mei 1950, di mana GMIT merupakan salah satu anggota pendiri.

Pada saat dibentuk, GMIT terdiri dari enam  klasis yakni Klasis Kupang/Amarasi, dipimpin oleh Pdt. J. Arnoldus; Klasis Camplong/Amfoang, dipimpin oleh Pdt. Naiola; Klasis SoE (Amanuban, Amanatun, Mollo, Timor Tengah Utara dan Belu) oleh Pdt. M. Bolla; Klasis Alor/Pantar, dipimpin pdt. M. Molina; Klasis Rote, dipimpin Pdt. J. Zacharias dan  Klasis Sabu, dipimpin oleh Pdt. M. Radja Haba.

Di samping keenam Klasis tersebut terdapat tiga jemaat yang berdiri sendiri yaitu Jemaat Kupang, Jemaat Ende di Pulau Flores dan Jemaat Sumbawa di Pulau Sumbawa. GMIT pada waktu itu terdiri dari kurang lebih  170 mata jemaat dan dilayani oleh 80 orang  pendeta (5 orang di antaranya utusan Zending). Anggota baptisan pada waktu itu sekitar 200.000 jiwa. Pada tahun 1953 jumlah anggota jemaat GMIT sebanyak 253.501 dan pada tahun 1972 sebanyak 517.779 anggota.

Pada periode 2011-2015, anggota jemaat di GMIT berjumlah sekitar 1.200.000, yang tersebar dalam 399 Jemaat Mandiri/399 Gereja, 438 Jemaat, 1.625 Mata Jemaat, 44 Klasis dan dilayani oleh 1.000-an orang pendeta (laki-laki 379 orang dan perempuan 615), emiritus 106 orang (laki-laki 93 orang dan perempuan 13 orang), meninggal 38 orang (laki-laki 28 orang dan perempuan 10 orang. (*/ira)

Majelis Sinode GMIT 2015-2019
Ketua: Pdt. Mery Kolimon
Wakil Ketua: Pdt. Agustina Oematan-Litelnoni
Sekretaris: Pdt. Yusuf Nakmofa
Bendahara: Pnt. Mariana Rohi Bire

Anggota
1. Pnt. Liven Rafael
2. Pnt. Fary Francis
3. Pnt. Godlief Neofula
4. Pnt. Robert Fanggidae

Pimpinan GMIT Sejak 1947
1. 1947 -1951    (Ketua    Ds. E. Durkstra, Sekretaris    Ds. E.F. Tokoh)
2. 1951 -1952    (Ketua    Ds. Johanis. L. Ch. Abineno, Sekretaris Ds. A. J. Toele)
3. 1952 -1953    (Ketua    Ds. Johanis. L. Ch. Abineno, Sekretaris Ds. Bernadus Meroekh)
4. 1954 -1956    (Ketua  Ds. Markus Bolla, Sekretaris Ds. Leonidas. Radja Haba)
5. 1956 -1958    (Ketua Ds. Johanis L.Ch. Abineno, Sekretaris Ds. Leonidas Radja Haba)
6. 1958 -1960    ( Ketua Ds. Leonidas Radja Haba, Sekretaris Ds. Abia Dethan)
7. 1960 -1970    (Ketua    Ds. Leonids Radja Haba, Sekretaris Ds. Magelhans E. Arnoldus)
8. 1970 -1973    (Ketua Ds. Jususf A. Adang, S.Th, Sekretaris Ds. Albinus L. Nitti, S.Th)
9. 1973 -1976    (Ketua  Ds. Jususf A. Adang, S.Th, Sekretaris Ds. Albinus L. Nitti, S.Th)
10. 1976 -1979 (Ketua Pdt. Drs. Max Jacob, Sekretaris Pdt. John Ch. Kalemudji)
11. 1979 -1983 (Ketua Pdt. Thobias A. Messakh, S.Th, Sekretaris Pdt. John Ch. Kalemudji, S.Th)
12. 1983 -1987 (Ketua Pdt. Thobias A. Messakh, S.Th, Sekretaris    Pdt. Drs. Jesaya Sabuna)
13. 1987 -1991 (Ketua Pdt. Thobias A. Messakh, S.Th, Sekretaris Pdt. Drs. Jesaya Sabuna)
14. 1991 -1995 (Ketua Pdt. Dr. Benyamin Fobia, Sekretaris Pdt. Semuel V. Nitti, S.Th)
15. 1995 -1999 (Ketua Pdt. Dr. Benyamin Fobia, Sekretaris Pdt. Achim M. Lulan, S.Th)
16. 1999 -2003 (Ketua Pdt. Thobias A. Messakh, S.Th, Sekretaris    Pdt. Drs. Messackh D. Beeh, M.Si)
17. 2003 -2007 (Ketua Pdt. Dr. Ayub Ranoh, Sekretaris Pdt. Mesak J. Karmany, S.Th)
18. 2007 -2011 (Ketua Pdt. Dr. Ebenhaezer I. Nuban Timo, Sekretaris Pdt. Bendelina Doeka-Souk,S.Th,MM)
19. 2011-2015 (Ketua Pdt. Robert St. Litelnoni, S.Th, Sekretaris Pdt. Benjamin Nara Lulu, M.Th)
20. 2015-2019 (Ketua  Pdt. Dr. Mery Kolimon, Sekretaris Pdt. Yusuf Nakmofa)
Sumber: GMIT


Sumber: Pos Kupang 10 Januari 2015 halaman 1

Tradisi Wulla Poddu di Sumba Barat

Babi Hutan
Pemburu Sumba Makin Sulit Dapat Babi Hutan

WAIKABUBAK, PK -  Populasi babi hutan di kawasan hutan  Wanokaka,  hutan Wone di Kecamatan Loli dan hutan Weeluri  di Kecamatan Mamboro kian berkurang. Hal itu makin menyulitkan pemburu di Sumba Barat mendapatkan babi hutan pada  masa berburu di bulan keramat atau wulla poddu seperti  sekarang.

Kenyataan tersebut diakui Bili Laga Lete,  ketua kelompok pemburu babi hutan  di Kampung  Wola Baku, Kelurahan Weekarou, Kecamatan Loli, Sumba Barat saat ditemui  Jumat (23/10/2015) lalu. Bili sudah puluhan kali  bersama kelompoknya turun berburu babi hutan pada wulla poddu,  namun dalam dua tiga tahun terakhir ini hasil buruan tidak banyak lagi. Tahun-tahun sebelumnya, ungkap Bili Laga, hasil buruan mereka  biasanya lebih dari tiga ekor sekali berburu. Sekarang  ini tidak sebanyak itu lagi.

Kelompok pemburu babi hutan  pada masa wulla poddu, kata Bili Laga,  selalu optimistis karena sudah mendapat restu nenek moyang. "Memang babi hutan jarang ditemukan, tapi pada masa wulla poddu  seperti sekarang, ada saja babi hutan muncul. Tetapi kadang juga tidak dapat babi hutan sama sekali," ujarnya.

Bili Laga mencontohkan, dua pekan lalu timnya  sekitar 40 orang berangkat ke Wanokaka untuk berburu babi hutan. "Kami menyiapkan bekal berburu selama dua hari.  Tim ini bergabung dengan tim di Wanokaka sama-sama berburu babi hutan. Rata-rata sekali turun berburu  80-100 orang dengan anjing sekitar 20-30 ekor," ujarnya.

Sehari sebelum berburu, timnya sudah mengutus seorang warga menghubungi tuan tanah di kawasan hutan Wanokaka. Tuan tanah juga menggelar ritual adat agar memudahkan kelompoknya datang berburu. "Saya sudah menggelar  ritual adat dengan memotong satu ekor ayam. Setelah memotong ayam, saya melihat hati ayam berwarna putih, pertanda baik untuk turun berburu. Tetapi jika hati ayam berwarna merah pertanda bahaya, kami tidak akan turun berburu," kata Bili Laga.

Bila pemburu mendapat babi hutan, demikian Bili Laga, babi hutan tersebut dipikul bergantian mulai dari huta Wanokaka sampai Kampung Wola Baku, terus ke  Kampung Terona dan terakhir ke Kampung Tarung. Jaraknya sekitar 4 kilometer.

Sepanjang jalan kelompok tersebut melantunkan lagu wulla poddu yang mengisahkan perburuan dan mohon berkat agar hasil panen berlimpah musim mendatang.  Di Kampung Tarung, mereka  diterima dengan ritual adat oleh Rato Rumata Kampung Tarung, Lado Regi Tera. Rato akan bertanya, "nemi gedo walimu (dari mana)?"  "Kelola kedu page ra wawi (dari berburu babi)". "Ana pegesa kedu, ana kelola wawi...mai...tomage taru nguma jaga, sadi woma nyoba, ana pagesa kedu, ana kalola wawi, gege uma padou pene (sudah pulang berburu, di mana rumah tujuanmu)?". "Karena kami turunan suku ana wara, kami menjawab uma ana wara".

Setelah tanya jawab selesai,  rato memberi satu lembar kain sarung kepada ketua  kelompok  berburu. Babi hutan dimasak untuk makan bersama. Namun, sebelum itu rato akan memeriksa hati babi melihat bagaimana  kehidupan masyarakat marapu, apakah panen berlimpah atau tidak selama satu tahun ke depan.

Ada sejumlah pantangan dalam tradisi berburu pada masa wulla poddu selama bulan Oktober dan November. Selama berburu, tidak boleh makan dan minum dan tidak boleh mengeluarkan kata-kata kotor. Ada waktu tertentu untuk makan bersama paskah berburu. Makanpun tidak boleh duluan harus bersama-sama.

Selain itu, warga dilarang mengadakan pesta,  memukul gong, membangun rumah, tidak boleh menangis bila ada anggota keluarga meninggal dunia dan menguburkan secara diam-diam dan lainnya.

Menurut Rato Rumata Kampung Tambera, Desa Dokaka, Kecamatan Loli, Kabupaten Sumba Barat, Yewa Lede Kodi, di Lamboya, Wulla Poddu dilaksanakan di  Kampung Sodan dan Kadengar, di Wanokaka berpusat di Kampung Kadoku dan Tanah Righu di Kampung Ombarade.  (pet)

25 Kampung Adat

SETIAP  tahun Pemerintah Kabupaten Sumba Barat mengalokasikan  dana  Rp 10 juta untuk acara ritual adat  di setiap kampung adat. Demikian Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan, Kabupaten Sumbar, Drs. SC Poro, di kantornya, Kamis (8/10/2015).

Dia menjelaskan, untuk menjaga kelestarian kampung adat  khususnya dan budaya Sumba unumnya, Pemerintah Kabupaten Sumba Barat bekerjasama dengan Pemerintah Provinsi NTT dan Pemerintah Provinsi Bali  melestarikan cagar budaya Sumba. Pemerintah mengangkat penjaga situs kampung adat yang bertugas menjaga dan memelihara kelestarian budaya serta melaporkan kepada Dinas Pariwisata tentang kegiatan  kampung situs. Honor penjaga situs  ditanggung  pemerintah daerah dan provinsi. Menurutnya, anggaran yang disiapkan pemerintah hanya bersifat stimulan.

Pada tahun 2014, kata Poro, Pemkab Sumba Barat  telah menetapkan 25 kampung adat di enam kecamatan sebagai situs budaya. Dua puluh di antaranya ada penjaga situs.  Penjaga situs rumah adat Kampung  Tarung di tengah Kota Waikabubak  dibiayai pemerintah Provinsi Bali, sedangkan selebihnya pemda Sumba Barat.


Berikut 25 kampung situs budaya Sumba yakni kampung Bondo Boghila dan Dikita di Kecamatan Tanah Righu, kampung  Gela Koko, Praijaga, Weetebara, Rate Wana dan  Tanah Rara di Kecamatan Loli, kampung Bali Ledo, Jaga Ngara, Bodo Maroto, Gollu, Praijing, Prairame, Gollu Wunuta dan Kanakata di Kecamatan Kota Waikabubak, kampung Waigali, Ubu Bewi, Kadoku dan Praiholi di Kecamatan Wanokaka,  Kadengara, Sodana, Litti, Malissu, Watukarere dan  Waru Wota di  Kecamatan Lamboya. (pet)



News Analysis
Pater Mikael Keraf, CSSr
Direktur Yayasan Donders SBD

Perlu Revitalisasi

SECARA  harafiah Wulla Poddu berarti bulan keramat, bulan pemali, bulan suci, bulan pahit atau bulan sakral. Sebagai tradisi, Wulla Poddu berlaku untuk beberapa wilayah di Sumba Barat seperti Loli, Lamboya, Lamboya Barat, Tanah Righu, dan Weeluri berlangsung dari bulan Oktober sampai November.

Secara subtansial, Wulla Poddu adalah perayaan pembebasan dari segala dosa pribadi, keluarga dan dosa  komunitas.  Ritual  Wulla Poddu dimulai dengan penyampaian para rato kepada seluruh warga  khususnya warga marapu bahwa Wulla Poddu sudah dimulai. Itu berarti seluruh wilayah masuk dalam suasana hening dan sakral.

Ada beberapa larangan yang harus dipatuhi semua orang seperti tidak boleh ada pesta, menabuh gong dan tambur, tidak boleh ada upacara kawin mawin, dan tidak boleh berhubungan seks dengan istri bagi para rato.

Ritual Wulla Poddu diperkuat dengan upacara inisiasi seorang laki-laki yang memasuki usia  dewasa. Mereka akan disunat oleh rato pada awal Wulla Poddu dan diutus  keluar dari kampung, tinggal selama sebulan di padang atau hutan  untuk berburu.

Hasil buruan dibawa pulang ke kampung adat untuk disampaikan kepada para rato. Ketangkasan berburu menunjukkan kematangan seorang laki-laki yang teruji dan siap memasuki usia  perkawinan. Masa berburu berakhir pada malam puncak Wulla Poddu.
Puncak Wulla Poddu ditandai dengan tiga malam penyucian berturut-turut. Malam pertama adalah malam penyucian bagi para rato. Para rato akan membawa tujuh pinang kering sebagai sarana utama memprediksi kesucian seseorang.

Apabila ada pinang yang berkurang, dapat dipastikan masih ada dosa yang belum diungkapkan. Demikian  pada malam kedua dan ketiga. Pembebasan malam kedua ditunjukan kepada istri para rato. Sedangkan pembebasan malam ketiga ditunjukan kepada anak-anak para rato dan seluruh warga marapu yang datang.

Ritual pembebasn akan dimahkotai dengan tarian di masing-masing pelataran sebagai tanda kemenangan karena telah disucikan. Pada malam terakhir Wulla Poddu pun, para rato akan menyucikan benda-benda keramat milik suku atau kabisu dengan menggunakan santan kelapa. Acara puncak Wulla Poddu akan diakhiri dengan mengantar 'kawuku' (tali bersimpul 6 atau 8).

Menurut hemat saya, ada beberapa catatan kritis yang perlu menjadi perhatian  pengambil kebijakan di daerah ini. Perlu diwaspadai beberapa tindakan yang bisa merosotkan nilai-nilai dalam Wulla Poddu sepeti penetrasi kekerasan yang menyertai ritual perburuhan dari komunitas anak muda.  Gejala pencurian hewan piaraan adalah indikasi penetrasi kekerasan yang berlawanan dengan roh murni Wulla Poddu.

Sebaliknya diusulkan penetrasi damai, misalnya kembali kepada partisipasi warga desa yang memberikan persembahan kepada kelompok berburu sebagai kesepakatan sosial.

Kedua,  cara pandang melenceng dari komunitas turisme dan masyarakat non marapu yang cenderung memberi stigma kafir pada ritual Wulla Poddu bahkan turut mendekralisasi Wulla Poddu dengan pelecehan seks pada malam puncak Wulla Poddu.

Bagi saya Wulla Poddu merupakan salah satu  instrumen hakiki yang mengekspresikan jati diri orang Sumba. Oleh karena itu perlu diperkuat, direvitalisasi dengan tetap ada sikap kritis dalam konteks komunikasinya dengan kebudayaan lain. (pet)

Sumber: Pos Kupang Minggu 1  November 2015 halaman 1

Minta Berkah di Benteng Lapis Tujuh

TIDAK mudah mencapai Benteng Lapis Tujuh Dirun di kawasan Gunung Lakaan, gunung tertinggi di Kabupaten Belu. Itulah yang dirasakan Pos Kupang  ketika menuju lokasi itu, Selasa (1/9/2015) lalu.

Banyak jalan menuju Benteng Dirun. Bisa melalui jalur Weluli atau lewat jalur Maudemu. Jalur Weluli terbilang mulus. Namun selepas Kota Weluli,Kecamatan Lamaknen, jalanan menanjak dengan kondisi rusak parah sekitar 10 kilometer.  Jika mengikuti jalur Desa Maudemu, jalanan berbatu dan menanjak langsung menyambut di simpang depan kantor Desa Bauho.

Untuk mencapai benteng, harus berjalan mengitari kawasan Gunung Lakaan melewati beberapa desa seperti Desa Halimodok, Desa Maudemu. Tiba di puncak Gunung Lakaan, rasa sakit dan lelahnya badan seketika hilang. Ketika hendak masuk ke benteng, hamparan  kaktus memanjakan mata. Hamparan batu karang di kiri dan kanan jalan seolah prajurit bersenjata berjalan mengiringi pengunjung menuju benteng.

Sekitar 500 meter sebelum mencapai benteng, ada pagar kawat berduri yang dipakai unuk mencegah sapi atau kuda masuk ke kawasan benteng. Mendekati gerbang benteng, ada satu bangunan  lopo yang nyaris roboh di sisi kiri jalan. Dari Kota Atambua, perjalanan ke lokasi ini menghabiskan waktu hampir dua jam.

Antonius Bele adalah orang pertama yang menyambut Pos Kupang hari itu. Antonius perkenalkan diri sebagai penjaga benteng sekaligus perawat anakan pohon cendana yang ditanam di sekitar benteng. Dia bersama tiga rekan sudah memiliki jadwal memandu wisatawan yang datang kesana. Mereka digaji Dinas Kehutanan Kabupaten Belu. Sebelum melanjutkan perjalanan, kami menggelar ritual adat berupa permintaan izin untuk masuk ke benteng dengan meletakkan sirih pinang, rokok atau uang kertas.

Gerbang benteng ini menghadap ke selatan. Persis di pintu masuk benteng, terdapat tulisan tangan pada kardus yang meminta pengunjung wajib  menaruh 'uang permisi'.  Tinggi benteng batu karang ini diperkirakan mencapai dua meter dengan lebar  satu meter. Disebut Benteng Lapis Tujuh karena berbentuk tujuh lapis. Lapisan pertama paling luar dan paling dalam lapisan ketujuh berisi meriam dan kuburan tua. Untuk masuk ke setiap lapisan melewati pintu sempit berukuran sekitar 80 centimeter.

Pada sudut kanan lapisan pertama, terdapat lubang berdiameter sekitar 15 centimeter sebagai pengintai dan lubang untuk menaruh senjata. Lubang ini mengarah ke selatan. Setiap orang yang menuju ke gerbang benteng terlihat dengan jelas dari lubang ini.
Lubang yang sama juga ada di lapisan kelima, yang juga mengarah ke pintu gerbang utama benteng. Masuk lapisan keenam, mata langsung tertuju pada moncong meriam tua yang tepat mengarah ke pintu benteng. Meriam ini diletakkan di atas pagar batu dan tak goyah meski digoyang. Selain meriam, di sisi utara terdapat banyak kuburan tua. rapih. Ada satu kuburan batu besar yang dikenal sebagai makam raja pertama.

Di sebelahnya terdapat kuburan lain yang terbuat dari campuran semen dan pasir. Kuburan ini milik permaisuri pertama Kerajaan Dirun. Di kanan dan kiri terdapat bebatuan karang tinggi. Terdapat bekas batang jagung yang ditanam di dekat batu-batu. Diduga sebagai tempat  persembahan ketika musim panen jagung atau padi tiba. Ada juga sisa pembakaran lilin di atas batu-batu ini.

Di tengah lingkaran ketujuh atau disebut Saran Mot, terdapat satu batu yang ditanam. Menurut Anton Bele, batu itu merupakan tempat menaruh kepala musuh yang dipancung seusai perang. Lingkaran ketujuh atau disebut Saran Mot berdiameter sekitar 10 meter.  Di sisi utara benteng terdapat satu batu yang konon menjadi tempat mengintai musuh. Batu ini diberi nama Batu Makes. Makes dari bahasa bunaq (marae) yang artinya bambu belang. Di batu ini dulu ada pohon bambu belang yang ditanam panglima perang.

Daya magis Benteng Lapis Tujuh sudah diyakini turun-temurun oleh anak cucu keturunan Raja Dirun, yang kebanyakan keturunan Tionghoa. Orang luar atau orang- orang dari Kabupaten Belu tak jarang melakukan ritual adat di benteng itu.  Mereka yakin melakukan ritual adat di benteng, apapun yang diminta akan terpenuhi. Seperti berhasil dalam perantauan, bisnis, lulus ujian, direstui menjadi calon bupati atau wakil bupati. Dipercaya juga terbebas dari sial atau mimpi buruk.

Hal ini dibenarkan keturunan Raja Dirun, Gaspar Lesu (72).  Gaspar mengatakan, keturunan Raja Dirun, baik anak maupun cucu masih terus melakukan ritual adat di benteng itu. Namun sebatas saat acara panen jagung atau padi termasuk mengunjungi kuburan leluhur di lokasi benteng.  "Kami bangga karena saat ini Benteng Lapis Tujuh  sudah jadi obyek wisata," semua," katanya.

Gaspar mengaku sering mengalami pengalaman mistis di sekitar benteng. "Dulu, saat mau pergi perang. Daun apa saja atau lumut yang diambil dari benteng. Kalau sudah pakai itu, kena tembak kami tidak mati,” katanya. Namun bagi orang yang tidak percaya, maka orang itu tidak akan bisa pulang ke rumahnya.

Sebagai pemilik benteng, Gaspar merasa bangga karena benteng itu adalah sejarah peradaban yang tak ternilai harganya dan masih banyak masyarakat yang mengunjunginya. "Banyak  yang datang, terutama yang berdarah Tionghoa. Mereka bunuh babi atau ayam di benteng untuk minta rejeki. Mungkin mereka juga masih keturunan Raja Dirun karena dalam silsilah, ada anak raja yang suaminya berdarah Tionghoa,” ujarnya. 

Gaspar  menjelaskan, berdasarkan cerita orangtua dulu, pembuatan Benteng Lapis Tujuh ini ada campur tangan gaib. Pembuatan benteng ini hanya dilakukan 30 laki-laki, termasuk Raja Manu Loe beserta Bei Nai Koi, Bei Nai Naak dan Bei Nai Mali yang bekerja di atas puncak Makes (tempat benteng lapis tujuh). Serta 30 laki-laki yag bekerja di bawah kampung Nuawain.

Pamong Adat, Petrus Hale Oan, menambahkan, hal penting yang harus dilakukan wisatawan yakni perjalanan ke lokasi benteng dilarang melalui jalur Maudemu. Tetapi, harus melalui jalur Weluli dan pintu masuk melalui Kampung Nuawain. Hal ini untuk mencegah hal-hal yang tidak diinginkan. Di gerbang masuk benteng yang ada di Kampung Nuawain, ada pos penjagaan. Dan dari pos menuju ke benteng sekitar dua kilometer. Di dekat pos  terdapat tempat untuk melakukan ritual adat sebelum menuju puncak Makes, tempat Benteng Lapis Tujuh Dirun. (edy bau)

Janji Seribu Tangga


BENTENG Dirun merupakan obyek wisata sejarah yang indah, namun  infrastruktur jalan dan fasilitas di sana belum baik. Masyarakat Dusun Nuawain, Desa Dirun, Roberta Lawa dan Maria Lese mengatakan, jalan masuk menuju benteng ini harus diperbaiki sehingga memudahkan akses menuju benteng.

Mereka menyayangkan pengerjaan jalan menuju benteng yang baru dikerjakan tetapi sudah rusak lagi. Selain itu, fasilitas seperti mandi cuci, kakus (MCK), air bersih harus ada.  Pembenahan hanya untuk fasilitas penunjang. Kondisi benteng harus tetap asli jangan sampai berubah,” pinta keduanya. 

Tokoh masyarakat setempat yang juga Pamong Adat Desa Dirun, Petrus Hale Oan mengatakan, bukti sejarah kerajaan Dirun itu telah menjadi situs sejarah dan salah satu obyek wisata daerah dan mulai dikenal secara luas.

Tahun 2013 peserta Sail Komodo pernah singgah di benteng ini. Dan tahun 2014, sejumlah guru besar dari seluruh Indonesia juga mendatangi benteng ini, termasuk petugas dari kantor Bahasa.

Petrus mengatakan, pemilik situs sudah berupaya membenahi benteng ini semampu mereka. Proposalpun sudah dibuat, namun belum mendapatkan jawaban dari pemerintah daerah dan pusat.  Bahkan Pemkab Belu pernah berjanji membuat 1.000 tangga dari Kampung Nuawain menuju Benteng. Pembangunan 1.000 tangga ini diyakini bisa menjadi pesona dan daya tarik untuk pengunjung wisatawan berkunjung ke benteng itu.  "Kami sudah usul, tapi sampai sekarang belum ada jawaban. Janji pemerintah mau buat seribu tangga juga belum direalisasikan,” katanya.

Kepala Desa Dirun, Agustinus Mali mengatakan, saat menjabat tahun 2012, ia mengumpulkan tetua adat dari sembilan dusun di desa untuk melakukan pembersihan dan penataan area Benteng Dirun. Pasalnya, kondisi benteng  dipenuhi semak belukar dan padang sabana hutan kaktus. Mereka kemudian melakukan ritual pemotongan ayam untuk meminta izin. Hutan kaktus dibabat habis untuk membuka jalan menuju benteng. Alhasil, saat ini bisa dilihat wajah benteng mulai nampak ada penataan.

"Saya sering mengundang anggota DPRD Belu dan Dinas Pariwisata untuk melihat langsung benteng. Harapannya ada perhatian untuk pembenahan aset daerah ini. Saya berharap ke depan ada pintu masuk seperti gapura, lopo-lopo yang bagus dan jalan masuk yang bisa dilalui dengan mudah. Semakin baik akses jalannya, semakin menghemat energi untuk mencapai benteng sehingga akan lebih banyak waktu untuk menikmati keindahan dan suasana di benteng ini,” katanya.

Mali mengatakan, setiap tanggal 7 Oktober ada wisata rohani di puncak Gunung Lakaan. Dan di Benteng Lapis Tujuh selalu ada acara adat panen jagung atau panen padi. Tanggal 2 November seluruh keturunan kerajaan Dirun akan mendatangi benteng untuk membakar lilin dan membersihkan kuburan leluhur. (roy)

Drs. Dominikus Mali (Kadis Pariwisata Belu): Butuh Arkeolog

BENTENG Dirun atau Ranu Hitu Dirun merupakan benteng unik dan telah menjadi situs sejarah. Benteng ini mengandung makna tentang akar budaya orang Dirun, makna tentang kebesaran dan keagungan karya nenek moyang orang Dirun.

Pemerintah Kabupaten Belu melihat Benteng Dirun ini sebagai suatu bukti adanya peradaban, sebagai sebuah situs dan akar budaya orang Belu khususnya Dirun. Karena itu, situs ini harus dilestarikan. Kami sudah melakukan berbagai upaya untuk melestarikan Benteng Dirun itu seperti pembersihan, memperbaiki kerusakan, menyusun kembali bagian-bagian yang rusak termasuk mempromosikan situs ini sebagai salah satu obyek wisata di Kabupaten Belu.

Mengingat situs ini satu kawasan dengan Gunung Lakaan, Balok Ama, Fulan Fehan, Benteng Kikit, maka telah dimasukkan dalam rencana induk pengembangan pariwisata daerah (Riparda). Riparda akan diturunkan ke dalam masterplan dan menjadi kawasan terpadu antara lain wisata alam, wisata budaya dan wisata minat khusus.

Namun, kami  mengalami kendala yaitu keterbatasan anggaran. Pemerintah tidak bisa mengandalkan anggaran pendapatan dan belanja daerah (APBD), tetapi dibutuhkan intervensi dana dari pusat.

Selama ini, APBD Belu hanya mengalokasi dana Rp 1 miliar. Rinciannya, Rp 500 juta untuk operasional kantor dinas dan Rp 300 juta untuk partisipasi kegiatan di provinsi, sisanya Rp 200 juta. Jumlah ini tentu sangat kecil untuk  mengembangkan potensi pariwisata dan seluruh obyek wisata yang ada di wilayah Belu. 

Dalam APBD kami pernah usulkan, tapi dana terbatas. Kawasan Benteng Dirun ini mencapai radius satu kilometer sehingga dibutuhkan dana sampai  Rp 2 miliar.  Pemerintah pusat bisa memberikan perhatian dengan syarat, harus ada rekomendasi dari tim arkeologi daerah bahwa situs ini layak menjadi situs daerah atau situs nasional. 

Hasil penelitian tim arkeologi bisa diketahui usia benteng lalu dihubungkan dengan peristiwa besar yang terjadi hingga benteng itu dibangun. Dan tim arkeologi itu minimal tiga orang, terdiri dari seorang doktor atau minimal sarjana arkeologi, sarjana kebudayaan dan sarjana sejarah. Dan nantinya tim arkeologi ini akan dikukuhkan dengan surat keputusan (SK) Bupati Belu. 

Namun, sampai saat ini kami belum memiliki tim arkeologi daerah yang bisa melakukan penelitian tentang usia benteng dan membuat profil benteng itu.  Kalau tim arkeologi sudah ada, maka bisa dikeluarkan rekomendasi agar situs ini mendapatkan perhatian dari pemerintah pusat. Dan barulah bisa segera dikembangkan dan dibenahi sesuai rencana induk pengembangan pariwisata daerah.

Meskipun tahun lalu kami sudah buat proposal kepada Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) dan sudah ada dukungan dari 12 suku pendukung, tapi kami belum dapat jawaban positif dari Kemendikbud. (roy)

Pos Kupang, 6 September 2015 hal 1
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Best WordPress Themes