Tampilkan postingan dengan label Keutamaan Flores. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Keutamaan Flores. Tampilkan semua postingan

Dai, Tradisi Berburu Orang Nagekeo

ilustrasi
"SALA...sala...sala... Tombaknya menikam rusuk kanan seekor babi hutan. Babi hutan itu sempat bangun dan ingin berlari lagi, lalu terguling beberapa kali, dan akhirnya mati.

Itulah teriakan Sipri Koba, ketika ia berhasil menombak seekor babi hutan saat berburu bersama warga sekampungnya, beberapa waktu lalu. Teriakan Sipri Koba disambut teriakan histeris kelompok perempuan, "Sa'i...sa'i...sa'i (dapat, dapat, dapat). Teriakan yang sama dilakukan kelompok perempuan lainnya yang sudah menunggu di pinggir kebun atau hutan.

Teriakan kegembiraan kaum perempuan ini bisa didengar sampai di kampung atau di bawah bukit. Dan, teriakan ini juga menjadi pertanda bahwa perburuan kali ini berhasil.  Inilah kebiasaan orang Kampung Adat Bhela, ketika tikaman tombaknya mengenai sasaran.

Teriakan sala  artinya salah, merupakan kebalikan dari kenyataan sesungguhnya bahwa ternyata yang ditombak tepat pada sasaran atau kena.  Kebiasaan orang Bhela, setiap orang yang berburu sudah tahu posisi, siapa penombak pertama, kedua, ketiga dan seterusnya. Di posisi mana mereka harus menunggu atau berdiri.
Biasanya dengan kuda dan tombak, mereka sudah menunggu pada jalur-jalur jalan (nete), di mana babi hutan atau rusa melewati nete tersebut. Tidak ada teriakan atau dialog, tapi mereka sudah dalam posisi mengintai dan diam untuk siap menombak babi hutan atau rusa. Para pemburu segera tahu kalau babi hutan atau rusa melewati jalan atau nete, dari gonggongan anjing berburu yang mereka lepas ke hutan.


Sebelum berburu ada ritual yang harus dilakukan  oleh kepala kampung. Dia akan memberi pengumuman kepada warga kampung untuk siap-siap pergi. "Eiiiiii... oga yeta oga lau. Eye poa woka toni, yua mai to'o  tenge (memanggil orang-orang di kampung untuk pergi berburu)."  Demikian Falentinus Nuga, tua adat Sa'o Beba di Kampung Adat Bhela berteriak pada malam hari memberitahukan kepada warga untuk siap berburu babi hutan dan rusa di hutan atau padang.

Saat melakukan ritual itu, kaki kanannya bertumpu pada watu meye (batu besar) dan kaki kirinya menginjak watu nabe (batu persegi yang rata) sang tua adat mewartakan (enga dai) kepada segenap warga suku Bhela tanda dimulainya masa berburu atau dai.

Menurut kalender adat suku Bhela, enga dai dilakukan pada puncak musim panas, saat bulan masih terpendam atau belum muncul (wula so'o).  Sehari setelah enga dai dilakukan sang tetua adat, kira-kira pukul 18.00 Wita masing-masing bhisu atau rumah adat (semuanya ada enam bhisu) menyiapkan satu anakan pisang untuk ditanam pada lokasi yang telah disepakati dan menyiapkan enam ekor ayam sesuai jumlah rumah adat untuk dibuat ritual permohonan kepada Dewa Yeta -Ga'e Yale (Tuhan) dan leluhur.

Uniknya, ayam tidak disembelih tetapi lehernya diselipkan pada belahan aur yang ditancap. Setelah ayam dibakar, salah satu tetua adat yang berpengalaman akan melihat hati ayam (tanga ate manu) untuk memprediksikan hasil buruan. Dengan melihat hati ayam dapat diketahui apakah perburuan tahun ini berjalan sukes atau malah tidak dapat buruan sama sekali.


Keyakinan orang Bhela, ada korelasi antara hasil buruan dan hasil panen. Kalau hasil buruan banyak, maka panenan juga melimpah, sebaliknya kalau hasilnya kurang atau atau tidak dapat sama sekali maka berdampak pada berkurangnya hasil panen atau yang paling ekstrim adalah gagal panen.

Pada saat ini juga dibahas strategi berburu, termasuk titik-titik penyergapan, di wilayah mana anjing-anjing pemburu mulai dilepaskan. Senjata utama yang biasa dipakai untuk berburu adalah tombak (tuba) dan tombak berkait (bhou). Dai pada suku Bhela berlangsung selama empat hari dai berlangsung ada sejumlah pantangan yang harus diikuti seperti dilarang menyalakan api, dilarang ke kebun dan menggali hasil kebun, dan warga suku dilarang membawa kayu api ke dalam rumah. Pelanggaran terhadap pantangan ini adalah poke sega atau mengambil dan menikam secara paksa ternak piaraan milik warga suku yang melanggar.


Sistem pembagian hasil buruan pada masyarakat Bhela sudah diatur turun-temurun.
Penikam pertama biasanya berhak mendapat kepala. Sedangkan penikam berikutnya mendapat bagian ekor. Daging sisanya dimasak dan dibagi  merata seluruh anggota suku yang hadir. Selain itu, anjing pemburu juga mendapatkan bagian (lama lako).

Rafael Susu, salah satu tokoh adat Suku Bhela mengatakan, dai pada orang Bhela menjadi penanda pembukaan kalender adat dan dimulainya pembersihan lahan. Selain mengusir hama dari kebun-kebun petani, dai juga menjadi sarana pemersatu dan pengikat tali persaudaraan dan kekeluargaan dalam suku dan antar suku.

Suku Bhela hanya salah satu dari suku-suku di Nagekeo yang melaksanakan dai atau perburuan adat. Suku-suku lain yang melakukan tradisi ini antara lain Doa, Lea, Geyu, Ute, Toto, Tedamude, Aja, Redu, Lape, Dhawe, Labo, Olaia, dan lain-lain.

Di Nagekeo, berburu tidak sekadar hobi, tetapi telah menjadi tradisi melalui serangkaian ritual yang diwariskan turun-temurun dari generasi ke generasi. Tradisi berburu di Nagekeo juga berkaitan erat dengan ketahanan pangan masyarakat setempat. Namanya saja yang berbeda. Ada yang menyebut  berburu dengan dai seperti di Bhela, Lea, Ute, Toto, Geyu dan Ndora. Ada juga yang menyebut To'a Lako untuk masyarakat Boawae, Tedamude dan desa-desa di Kecamatan Aesesa Selatan. 

Salah satu tokoh adat, Pius Mare, ditemui di Mbay  pekan lalu, menuturkan, dai atau berburu bertujuan mengusir hama babi hutan, rusa dan monyet yang diyakini akan merusak tanaman pangan masyarakat setempat. "Tujuan utamanya mengantisipasi rawan pangan karena gagal panen akibat diserang babi hutan atau rusa" kata Pius.

Sejak zaman dahulu, rusa, babi hutan dan monyet menjadi hama perusak tanaman pertanian milik warga petani setempat. Karena itu, sebelum tanam, hama-hama itu harus disingkirkan. Dengan demikian, ketika musim hujan lahan milik petani sudah bersih dari hama-hama tersebut.

Sebagaimana terjadi pada komunitas adat Bhela, orang Ndora juga mengenal dai dengan keseluruhan tahapan-tahapan yang harus dilalui. Dai diawali dengan enga dai (undangan berburu) yang disampaikan dengan teriakan oleh fungsionaris adat setempat dari atas bukit tiga hari sebelum kegiatan berburu.

Isinya memberitahu masyarakat Ndora di dataran atau kampung (zili peda) musim berburu sudah tiba. Dalam enga dai itu juga disampaikan kalau esok hari (eza poa) pati kote bhego mao (semua masyarakat yang akan berburu lengkap dengan peralatan berburu seperti tombak, kuda dan anjing berkumpul di padang).

Waktu berkumpul malam hari. Pada malam itu, sambil menunggu pagi, masyarakat  bersama-sama memasak nasi bambu (kose). Nasi bambu yang dimasak bukan untuk disantap malam itu. Nasi itu baru boleh disantap pada pagi hari sekitar pukul 04.00 Wita atau pukul 05.00 Wita. Pada malam kose, masyarakat hanya boleh makan umbi-umbian yang dibakar.

Pisang termasuk salah satu jenis pangan yang dilarang konsumsi selama musim berburu. Kalau ada yang melanggar, akibatnya celaka selama berburu. Yang bersangkutan bisa jatuh dari kuda, digigit babi hutan atau terkena tombak.  Hari kedua disebut masa pemantapan persiapan baik berupa pengaturan strategi berburu dan pengaturan kelengkapan. Hari ketiga baru masuk dengan kegiatan berburu.

Menurut Pius Mare, waktu berburu sesungguh hanya empat hari, dua hari di padang (dai mala) dan dua hari di gunung (dai keli).  Hari kelima disebut  wono lako atau hari terakhir berburu. Seluruh kepala hewan hasil buruan dikumpulkan lalu digelar upacara sule ulu (upacara kemenangan dengan mempersembahkan kepala hewan buruan).Hari keenam disebut ie (masa tenang). Pada hari itu, seluruh orang Ndora tidak boleh melakukan aktivitas seperti masuk kebun dan lain-lain.

Frans Kogha, salah seorang masyarakat adat Ndora mengatakan, selama dai ada pantangan atau larangan yang tidak boleh dilanggar, seperti  tidak boleh menyalakan api dan tidak boleh terima tamu. Orang yang hendak bertamu hanya bisa diterima sore hari, setelah para pemburu pulang dari hutan. Menerima tamu pada waktu berburu diyakini bisa mengusir rezeki,  tidak akan mendapatkan  hewan buruannya.

Pembagian hasil buruan ternyata dilakukan dengan cara yang tidak biasa. Setiap orang yang ingin mendapat bagian dari hasil buruan  harus berebutan (papa ngebu). Mendapatkan daging buruan dengan cara berebutan ternyata lebih bergengsi karena cara mendapatkannya yang tidak mudah.  "Ketika berebutan hasil buruan itu, dinilai ada unjuk kekuatan dan kelincahan. Siapa yang berhasil dapat daging, berarti dia pemenangnya," kata Pius.

Kalau ada anjing yang mengusir (weti lako), pemilik anjing dapat satu lengan. Tukang pikul juga dapat bagian tiga tulang iga. Sedangkan masyarakat seisi kampung tetap mendapat bagian daging hasil berburu.  Selama berburu, masyarakat yang terlibat berburu dilarang membawa kayu api dari dalam hutan ke kampung. Begitu juga perempuan yang sedang datang bulan, dilarang ikut berburu. Satu lagi pantangan yang benar-benar tidak boleh dilanggar jika ingin  selamat selama berburu. Tidak boleh berhubungan intim suami istri.

Menurut Pius, tidak ada perbedaan antara berburu di masa lalu dan saat ini. Perbedaannya hanya pada jumlah kuda yang digunakan untuk berburu. Kalau dahulu semua orang yang ikut berburu menggunakan kuda, dalam dasawarsa terakhir, jumlah kuda berkurang dan sebagian besar orang yang berburu berjalan kaki.  (adiana ahmad/matilde dhiu)


Andreas Corsini Ndona, S.Fil
(Kepala Dinas Pariwisata Kabupaten Nagekeo)

Belum Dilirik

BUDAYA berburu di Nagekeo belum dilirik Dinas Kebudayaan dan Pariwisata sebagai obyek pariwisata. Ketidakpastian jadwal berburu dari setiap kampung menyulitkan Dinas Kebudayaan dan Pariwisat Nagekeo untuk menjual tradisi ini kepada para wisatawan. 
Padahal berburu syarat makna. Selain karena alasan budaya,  berburu juga bisa menjadi sarana olahraga dan refreshing tanpa harus mendapatkan hewan buruan. Apalagi, budaya berburu ternyata tidak membatasi orang dari luar untuk mengambil bagian dalam ritual tersebut. Asalkan mematuhi aturan adat yang ada.

Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Nagekeo,  Andreas C Ndona,  yang ditemui di kantornya, Senin (28/9/2015), mengatakan, pihaknya kesulitan  untuk menjadikan budaya berburu sebagai salah satu obyek wisata karena jadwal berburu tidak pasti. Sama seperti tinju tradisional atau etu.

"Sama sekali belum disentuh karena para fungsionaris adat dari setiap kampung  jarang melibatkan kami. Dari cerita yang kami dengar, memang menarik dan bisa dijual kepada wisatawan. Tetapi jadwal yang tidak pasti menjadi kesulitan sendiri," kata Andreas.

Menurut dia, budaya berburu ada kaitan erat dengan ketahanan pangan di daerah-daerah yang memiliki budaya tersebut, seperti di Bhela, Ndora, Boawae, Lambo dan Tedamude.
Kalau budaya itu tidak digelar, demikian Andreas, masyarakat setempat meyakini akan terjadi bencana rawan pangan. Saat ini, lanjutnya, pihaknya masih mendata potensi budaya yang bisa dijadikan obyek pariwisata, termasuk ritual-ritual budaya seperti berburu.

Dari sisi tujuan, kata Andreas, berburu memang diyakini mendatangkan manfaat bagi kehidupan masyarakat setempat dengan tata aturan yang telah digariskan. Namun bagaimana dengan membakar hutan untuk alasan berburu?

Pius Mare, salah satu tokoh adat Ndora mengatakan, dalam budaya berburu tidak pernah
menyuruh orang membakar hutan.  Hal yang sama dikuatkan Willem Mite, dari Komunitas Adat Bhela. Pada tradisi dai orang Bhela, tidak kenal membakar hutan atau padang. Alasannya lebih banyak merugikan. (dea)


BUDAYA BERBURU DI NEGEKEO

*  Undangan disampaikan tiga hari sebelum berburu
*  Senjata yang dipakai
   -. Tombak (tuba)
   -  Tombak berkait (bhou) bentuknya seperti mata kail.
*  Berburu pakai kuda dan jalan kaki
*  Pantangan sebelum berburu
    - Jangan menyalakan api
    - Dilarang ke kebun dan menggali hasil kebun
    - Dilarang bawa kayu api ke dalam rumah
    - Tidak boleh berhubungan intim suami istri.
     - Tidak boleh makan pisang


News Analysis Dr. Watu Yohanes Vianey, M.Hum
(Kepala Divisi Penelitian LPPM Unwira)

Strukturasi Praktik Berburu

TRADISI berburu dalam budaya lokal pada sub-sub etnik Nage -Keo -Ngada biasanya ditempatkan dalam siklus kalender berbasis budaya pertanian lokal. Jika  dikonversikan pada penanggalan Masehi, biasanya terjadi antara pertengahan Agustus  dan pertengahan September (Molnar, 2000).  Tradisi ini terkait erat dengan ritual dalam agama lokal ('annual ritual hunt'), yang intensinya terkait dengan usaha komunitas manusia untuk berburu 'keadilan kosmis' (cosmic justice) dalam rangka meraih derajat damai sejahtera dan sukacita bersama dengan seluruh isi makhluk  'jagad raya'.

Dalam versi mitos di wilayah sub etnik  perbatasan Nage -Keo dan Ngada, yaitu di wilayah Hoga Sara, Hoga Taka, Hoga Are, dan Hoga Rowa (Molnar: 270-272), dikisahkan alasan mengapa tradisi berburu itu wajib dilakukan. Komunitas sub etnik ini legal dan "beriman" jika berburu babi hutan dalam rangka merayakan ritual berburu tersebut, yang di wilayah ini disebut Noe Lako. Istilah Noe Lako ini juga menjadi istilah dari kalender tradisionalnya yang berbasis peredaran bulan. Hal mana ritus itu dibuka pada malam hari saat "Wula Repa Telu" pada pertengahan September sampai pertengahan Oktober.

Korban tubuh dan darah dari Ine Wio yang dimangsa kawanan babi hutan pada masa lalu, dan korban dari tubuh tanaman masyarakat lokal yang dirusak oleh babi hutan dari masa ke masa,  harus  dibayar lunas dengan tubuh dan darah dari kawanan babi hutan yang terbantai pada  bulan tersebut.

Makna filosofisnya adalah para saudara dari Ine Wio, yaitu Reku dan Rede, serta keturunannya hingga zaman sekarang, yaitu kaum pria, dipanggil untuk berburu kaum "babi hutan" perusak para "Ine Wio" (kaum wanita)  dan  kaum "babi hutan" perusak "tanaman pangan" (perusak lingkungan hidup). Dengan demikian akan tercipta dan dan terkonservasi keadilan sosial dan keadilan kosmis yang membawa damai sejahtera dan  kegembiraan hidup.

Persoalannya adalah apakah praktik ritual berburu babi hutan pada masa sekarang masih relevan? Bukankah populasi babi hutan yang berkeliaran merusak kebun-kebun para petani sudah menuju kepunahan? Bagaimana mengeliminir bahaya kebakaran alam dan kerusakan alam lainnya waktu kegiatan berburu itu berlangsung? Bukankah warga lokal  yang merayakan ritual berburu sudah menganut agama-agama universal? Dapatkah ritual berburu itu direkonstruksi atau distrukturasi sebagai salah satu bentuk olahraga dan pertunjukkan pariwisata budaya dan pariwisata alam?  

Strukturasi itu dimaknai sebagai penataan relasi-relasi sosial lintas ruang dan waktu berdasarkan dualitas struktur. Dualitas struktur (duality of structre) dalam pandangan Giddens (1995, Watu,2015) menegaskan tentang struktur sosial dalam dunia kehidupan suatu masyarakat sebagai media dan hasil perilaku dari para pendukungnya, yang diorganisasikannya secara dinamis, baik dalam tindakan yang mempertahankan dan menumbuhkan kembangkan struktur yang ada secara produktif dan reproduktif, maupun yang sebaliknya.

Dalam kaca mata strukturasi itu, saya kira masyarakat pendukung budaya berburu dan Pemda Nagekeo dan Ngada sebagai pelayan masyarakat, dapat mereformasi ritual itu menjadi kegiatan olahraga dan pariwisata, tanpa mengabaikan dimensi inkulturasi dan kateketis dari ritualnya dengan kalender liturgi Gerejani dan isi pewartaan Kitab Suci serta doa-doa gerejanya.

Sebagai kegiatan olahraga, masyarakat lokal harus menyiapkan arena berburu. Melalui arena itu dapat diaktualkan semua potensi pariwisata budaya dan pariwisata alamnya. Selanjutnya dari sisi inkuturasi dan kateketisnya menurut saya dapat dilakukan. Bukankah bulan September itu Bulan Kitab Suci dan Bulan Oktober itu Bulan Rosario dalam kalender liturgi Gereja? Maka hemat saya, nilai-nilai dari tradisi berburu itu dapat berjumpa dengan nilai Kitab Suci dan Nilai Rosario.

Salah satu contoh katekesenya adalah sebagai berikut. Umat beriman yang terkasih, jika kita mau menjadi para pemburu hebat di bulan Kitab Suci dan Bulan Rosario ini, marilah kita memantaskan diri sebagai pemburu sejati, yaitu memburu dengan kuasa Allah di atas segala allah (Yes 40), yaitu Allah Tritunggal Maha Kudus. Tujuannya adalah untuk memperoleh  kebenaran dan keadilan, damai sejahtera dan sukacita (Rom 14:17), seperti tujuan akhir ritual dan pertunjukkan dari adat istiadat kita di bulan ini.

Srateginya adalah dengan mulai belajar membunuh berbagai karakter "membabi buta" dalam diri sendiri. Modhe pu'u zale one ate -meku pu'u zale one weki.  Selanjutnya dalam dan melalui  semangat itu, mari di bulan Dai/Noe Lako/Paru Witu ini, kita lestarikan keutamaan keadilan sosial antar pria dan wanita. Modhe ne'e ine weta -meku ne'e ema nara.  Selanjutnya terhilir tuntas dalam  keutamaan keindahan  keadilan kosmis antara manusia dan  alam lingkungan. Modhe ne'e masa nama ngaza dia ota ola -meku ne'e masa nama nemi dia tuka tana. (*/nia)

Sumber: Pos Kupang 4 Oktober 2015 halaman 1

Sui Wu'u: Makin Lama Makin Enak

Sui Wu'u
SIAPA yang sudah pernah mencicipi sui wu'u, kuliner khas Kabupaten Ngada, sudah pasti akan ketagihan. Sui wu'u merupakan daging babi yang diawetkan secara tradisional dicampur tepung jagung dan garam yang diisi dalam bambu (tuku).

Orang yang membuat sui wu'u adalah kaum perempuan yang terampil. Keterampilan sangat dibutuhkan karena untuk menghasilkan sui wu'u yang berkualitas dan lezat, harus bisa mencampur bahan daging, tepung dan garam dengan aturan yang tepat.

Campuran yang tepat bukan hanya bisa membuat sui wu'u terasa lezat, tapi juga tidak gampang rusak atau berulat, meski disimpan berbulan-bulan.  Bahkan ada moto, semakin lama disimpan, semakin enak dan lezat disantap. Su'i wu'u menimbulkan aroma khas.

Salah satu tokoh adat di Bajawa, David Lado Bara, Selasa (4/7/2015) mengatakan, aroma sui wu'u memiliki ciri khas tersendiri. Meski dibakar di halaman rumah, aroma sui wu'u akan menyebar ke satu kampung.

"Kalau dagingnya sudah dibakar, orang bisa bedakan aroma sui wu'u dengan aroma daging babi yang baru dibunuh. Kita cium aromanya saja, sudah bisa tahu bahwa ada orang yang sedang membakar sui wu'u.. Dan hal itu bisa meningkatkan nafsu makan kita," tutur David.

Keunikan lain dari sui wu'u bisa mengurangi, bahkan menghilangkan unsur pahit pada daun pepaya dan markisa yang hendak kita makan. Caranya, sui wu'u dibakar lalu minyak yang menetes diteteskan secukupnya ke daun pepaya atau daun markisa. Alhasil, ketika daun itu kita makan, tidak terasa pahit.

Menurut David, pembuatan sui wu'u  itu punya makna. Secara ekonomis menunjukan makna adanya penghematan. Pada zaman dulu, ketersedian daging sangat terbatas sehingga untuk menyantap daging biasanya hanya terjadi pada saat ada acara adat, seperti Rebha, ka Ngadhu, ka Sao dan ka Nua.

Pada saat ritual adat itu, biasanya banyak kelebihan daging yang tidak bisa dimakan. Dari situlah, masyarakat kemudian mengolah daging sisa itu menjadi sui wu'u  yang bisa disimpan  berbulan-bulan. Ketika tiba musim paceklik daging atau tidak ada daging, maka warga bisa makan sui wu'u sebagai menu makannya.
Berbeda dengan zaman modern saat ini. Kapan saja seseorang menginginkan makan daging, jika memiliki ternak atau jika memiliki uang, bisa mendapatkan daging dan mengolah serta mengonsumsinya.

Makna adat lainnya dari  sui wu'u, yakni makanan ini merupakan sesajian untuk nenek moyang.  Pada musim tanam, biasanya sui wu'u disimpan di setiap sudut kebun. Fungsinya untuk mengusir hama penyakit tanaman sehingga tanaman bebas dari serangan hama dan hasil penen bisa melimpah.

Cara membuat sui wu'u pun unik. Ada suatu kepercayaan yang diyakini masyarakat Ngada, saat membuat sui wu'u, tidak boleh ada orang lain yang melihatnya. Jika ada orang lain yang melihat, maka rasa sui wu'u itu tidak enak, bahkan bisa cepat rusak dan tidak bisa disimpan berbulan-bulan.

Karena itu, pembuatannya harus  'rahasia'. Daging babi bagian lemak dipotong seukuran kepalan tangan lalu dicuci hingga bersih. Bahan lainnya tepung jagung yang sudah kering dan garam secukupnya.  Kemudian bahan itu disusun berurutan ke dalam bambu yang sudah dibersihkan. Cara pengisiannya bersusun, tepung jagung, daging, tepung jagung dan daging lagi.

Begitu susunannya terisi penuh dalam bambu. Lalu bambu ditutup rapat-rapat dan kemudian diletakan di para-para. Yang perlu diperhatikan, yakni bambu tempat penyimpanan sui wu'u  harus benar-benar bersih dan ditutup rapat.
Ukuran bambu biasanya satu ruas bambu. Untuk menghasilkan sui wu'u dengan cita rasa yang menggoda, harus disimpan sekitar tiga bulan baru dibuka untuk dimakan. Bisa juga kurang atau lebih dari tiga bulan.

Meski dagingnya sedikit karena kebanyakan lemak, namun minyak sui wu'u bisa menambah kelezatan sayur. Biasanya, warga tidak akan langsung makan daging sui wu'u, tetapi makan duluan sayur daun pepaya atau daun markisa yang sudah ditetesi minyak sui wu'u barulah makan daging lemak tadi. (teny jenahas) 


Warisan Nenek Moyang

MEMBUAT
sui wu'u merupakan salah satu bentuk keterampilan para nenek moyang zaman dulu untuk mengawetkan daging babi menggunakan tepung jagung dan garam yang diawetkan di dalam bambu (tuku).

Pembuatan sui wu'u masih dipertahankan dan dilestarikan oleh sejumlah keluarga di Bajawa, Kabupaten Ngada.  Salah satunya keluarga Theresia Nau, warga Bouwa, Desa Ubedolumolo, Kecamatan Bajawa, Kabupaten Ngada.  Ditemui di kediamannya di Bouwa, Jumat (10/7/2015), Thresia mengatakan, membuat sui wu'u merupakan kebiasaan yang sudah diwariskan nenek moyang. Dan  dia bersama saudaranya selalu melanjutkan tradisi itu.

Setiap ada daging, ia selalu membuat sui wu'u. Karena orang-orang dalam rumah baik, suami maupun anak-anak suka makan sui wu'u. "Ini warisan nenek moyang dulu yang kami  harus jaga. Kami tetap buat sampai sekarang. Kami punya di rumah buat terus dan simpan sampai dua tahun. Kalau ada lebih daging, saya selalu simpan sedikit untuk buat sui wu'u," ujar Thresia.

Bahan dasar sui wu'u  adalah daging babi bagian lemak, tepung jagung yang ditumpuk dan garam. Daging dipotong kecil-kecil seukuran satu genggam lalu dicampur dengan garam.

Pada zaman dulu, sui wu'u disimpan di para-para, namun saat ini ada rumah yang tidak memiliki para-para sehingga disimpan di tempat yang aman saja.
Thresia menambahkan, jika ada acara adat tertentu seperti Rebha dan Meghe, dan ada sisa daging babi khususnya bagian lemak, maka ia selalu menyimpan dan membuat Sui Wu'u.

Daging yang baru dan daging yang lama bisa dicampur dalam satu tuku, namun penempatannya diatur. Daging yang masih baru ditempatkan paling dasar. Lalu disusul dengan sui wu'u  yang sudah lama.

Idealnya sui wu'u dimakan setelah disimpan enam bulan. Semakin lama simpan semakin enak rasanya. Jika baru disimpan dua-tiga bulan, rasanya kurang lezat. Sebab, kelezatan sui wu'u  bukan pada daging, tetapi tepung jagung yang dicampur daging.

Thresia mengatakan, cerita orangtua dulu bahwa pada saat membuat sui wu'u tidak boleh dilihat banyak orang. Jika tidak, sui wu'u bisa rusak, dan aromanya tidak bagus.  Dan Thresia masih mempercayai hal itu sampai saat ini karena memang terbukti.

"Satu kali saya sementara buat sui wu'u, ada mas (orang Jawa) jual alat dapur lewat. Saya langsung teriak, mas jangan dulu lewat. Saya masih awetkan daging. Akhirnya orang itu mengerti," tutur Thresia sambil tertawa.

Suami Thresia Nau, Wenslaus Naru, mengaku sangat suka makan sui wu'u. "Saya suka makan sui wu'u. Karena sui wu'u punya cita rasa sendiri. Rasanya enak," aku Wens.

Menurut dia, pesan moral yang tersirat dari pembuatan sui wu'u adalah sikap penghematan. Pada zaman dulu, nenek moyang tidak pernah membuang daging sedikitpun, meski itu hanya bagian lemak saja. Karena untuk mendapatkan daging sangat susah. Karena itu, mereka membuat lemak daging babi menjadi menu yang bisa bertahan lama dan dikonsumsi pada musim tertentu. (jen)


Tunggu Master Plan Riparda

MESKIPUN sui wu'uu merupakan menu tradisional yang sudah dikenal oleh masyarakat di luar Bajawa. Namun kuliner lezat ini belum dipromosikan oleh Pemerintah Kabupaten Ngada sebagai kuliner tradisional khas Bajawa.

Kepala Dinas Perhubungan, Pariwisata, Komunikasi dan Informatika (P2KI) Sidhu Paulinus melalui Kabid Pariwisata, Ivan Botha, Selasa (7/7/2015), mengatakan, promosi wisata kuliner baru bisa dilakukan setelah master plan Riparda (Rencana Induk Pengembangan Pariwisata Daerah) selesai dibuat.

Ivan menjelaskan, saat ini pihaknya masih mendata sejumlah pangan tradisional atau lokal yang menjadi potensi wisata untuk dipromosikan. Setelah seluruhnya terdata dan  master plan Riparda masih digodok oleh beberapa pakar pariwisata di Universitas Gajah Mada (UGM) Yogyakarta, barulah pangan lokal itu bisa dipromosikan.

Menjawab Pos Kupang, Ivan juga mengatakan, selama ini pihaknya sudah pernah menggelar lomba khusus untuk membuat beberapa pangan lokal namun khusus untuk pembuatan sui wu'u, belum pernah dilombakan.

Kendalanya, sui wu'u bukan menu siap saji seperti menu lainnya. Sui wu'u menu khusus yang dibuat secara khusus dan setelah dibuat tidak langsung dinikmati karena harus disimpan. Sehingga belum ditemukan formulasi yang tepat untuk penilaian lomba dimaksud. Namun hal itu akan dipikirkan kedepannya.


Ivan menambahkan, menu tradiisonal lainnya selain sui wu'u adalah rapa, yakni daging yang diawetkan dengan asap. Rapa mirip dengan Sei babi (daging asap). Bahan rapa   dari daging kerbau dan kuda, lalu daging yang diambil hanya bagian isinya. Lalu diiris tipis dan disimpan di para-para untuk proses pengawetan dengan asap.

Sedangkan bahan sui wu'u dari bahan lemak daging babi lalu diawetkan dalam tuku (bambu) dengan campuran tepung jagung kering dan garam.
Daging yang diambil untuk pembuatan sui wu'u juga harus berasal dari daging pada saat ada upacara adat seperti Rebha, ka Ngadhu, ka Sao. Sedangkan pada acara kematian, daging babinya tidak bisa dijadikan bahan untuk membuat sui wu'u. (jen)

NEWS ANALISYS

Hilangkan Racun

Oleh  dr. Emerentiana Renni Wahyuningsi

SAYA pernah makan sui wu'u. Daging itu wanginya unik dan lezat. Sui wu'u adalah makanan dari bahan daging (lemak) babi yang diproses dengan cara pengawetan.

Pengawetan daging menggunakan garam sangat tepat apalagi dicampur dengan tepung jagung sebagai bahan pembantu untuk penyerapan minyak pada daging. Daging semakin awet ketika komposisi bahan yang dicampur dalam sui wu'u sudah tepat.

Tepung jagung atau tepung maizena adalah pati yang didapatkan dari endosperma biji jagung. Pada dasarnya tepung jagung tidak mengandung lemak, sehingga sangat baik untuk dicampur dengan daging berlemak.

Tepung jagung yang memiliki banyak kandungan karbohidrat dan nutrisi dapat menyerap kelebihan minyak pada daging. Tepung jagung juga menjadi bahan pembantu untuk melembutkan daging.

Tepung jagung berfungsi untuk menyerap kelebihan minyak pada daging sekaligus menghilangkan unsur racun pada daging. Dengan demikian, daging yang dimakan tidak menimbulkan diare, meski (sui wu'u) disimpan lama.

Garam bermanfaat untuk mengawetkan daging agar tidak mudah rusak. Kelebihan garam selain membantu mengawetkan daging, juga bisa menghilangkan rasa pahit.
Itu sebabnya, ketika minyak sui wu'u diteteskan pada daun pepaya, rasa pahit daun pepaya bisa hilang. Hilangnya rasa pahit pada daun pepaya karena minyak daging yang sudah tercampur dengan garam.  

Selain itu, tempat penyimpanan sui wu'u harus disteril dari jenis-jenis binatang. Seperti tikus, lalat dan serangga. Sepanjang hal itu dijaga dengan baik, maka menu sui wu'u tersebut tidak mengandung unsur racun.

Selain memahami komposisi bahan yang dicampur, kebersihan (hygine), baik daging maupun alat simpan daging (bambu tuku), sistem penyimpanan dan sirkulasi udara juga harus menjadi perhatian. 

Ketika daging yang disimpan dalam bambu itu kondisi tertutup rapat, maka udara tidak akan masuk. Proses penguraian daging, tepung dan garam hanya terjadi dengan udara yang ada di dalam bambu (tuku).

Karena itu, udara baru 'tidak boleh' masuk (ke dalam lubang bambu yang berisi daging bercampur tepung jagung), karena itu pentingnya menutup rapat bambu saat proses pembuatan sui wu'u. (jen)

Sumber: Pos Kupang edisi Minggu 26 Juli 2015 halaman 1

Asal Usul Nama Kota Ende

Bandara Haji Hasan Aroeboesman Ende 2015
KOTA Ende di Pulau Flores, Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT)  yang dikenal saat ini memiliki rekam jejak dan sejarah yang panjang. Dalam buku sejarah Kota Ende yang ditulis F.X Soenaryo, dkk di halaman 29 menyebutkan bahwa kata Ende diperkirakan berasal dari kata cindai. Dalam kamus disebutkan cindai adalah nama kain sutera yang berbunga-bunga. Pendapat lain mengatakan kemungkinan Ende berasal dari kata Cinde, yaitu nama sejenis ular sawa. Sawa adalah ular yang agak besar (pyton) di antaranya Sawa Rendem, Sawa Batu dan Sawa Cindai. Jadi ular Sawa Cindai ialah ular yang kulitnya berbunga  bunga seperti warna cndai.

Menurut cerita yang ada di daerah Kota Jogo, Kinde dan Wewa Ria yaitu wilayah Mautenda di sana banyak ular sawa yang disebut Sawa Lero atau Python reticulatus. Ular ini disamakan dengan Sawa Cindai. Jadi pada awalnya penduduk setempat hanya mengenal Sawa Lero, kemudian orang-orang Melayu dan pendatang dari Goa, Makassar, Bajo,  Bima menyebut Sawa Cindai sesuai dengan nama yang mereka kenal di daerah asalnya.

Lama kelamaan penduduk juga menyebut Sawo Lero itu Sawa Cindai. Berdasarkan cerita lisan dikatakan bahwa di masa lampau disebutkan ada ular ajaib di Gunung Meja atau Gunung Pui dan di Nusa Cilik yaitu Nusa Songo di Nusa Eru Mbinge. Di sekitar Kaburia, nama tempat, nama Ciendeh, Cinde, Kinde, dan Sinde seperti : Pulau Ciendeh, Tanjung Ciendeh dan Pelabuhan Ciende (Schetskaart van de Onderafdeeling Endeh,1918)

Selanjutnya nama tersebut di atas digunakan untuk nama kota, teluk dan Nusa Ende yang pada awalnya disebut Endeh, kemudian menjadi Ende. Hingga kini belum dapat dipastikan kebenarannya apakah nama Endeh, Ende itu berhubungan dengan nama Sawa Cindai. Tentu disebabkan adanya banyak perubahan dalam ucapan. Jadi nama  nama Cendau, Cindau, Sandau, Ciendeh, Cinde, Kinde, Sinde, Endeh dan Ende adalah nama yang setingkat, dilihat dari nama yang beretimologi sama yaitu dari istilah Cindai atau Sawa Cindai.


Guna meneliti perkembangan cara penulisan nama Ende, telah dikemukakan dalam beberapa tulisan, Van Suchtelen yang menulis nama  nama yang berkualitas dengan Ende sebagai berikut . Teluk dan Nusa cilik dekat Kota Jogo dan Mbotu Nita, ditulis dengan ejakan Ciendeh. Teluknya ditulis sebagai Teluk Ciendeh dan Nusa Cilik itu dikenal menjadi Ciendeh. Tulisan dan nama ini digunakan untuk nama tempat  tempat di pantai utara. Sedangkan nama  nama di pantai selatan yaitu Tanjung, Teluk, Nusa dan Kota, disebut Endeh. Nama Tanjung menjadi Tanjung Endeh, Teluk Endeh, Kota Endeh dan Nusa Eru Mbingu menjadi Nusa Endeh.

Apabila dibandingkan cara penulisan nama  nama tempat di Utara dan di Selatan oleh penulis tersebut, ternyata memiliki perbedaan yang relatif kecil atau sama yaitu Ciendeh dan Endeh, sedangkan latar belakang nama itu sama yaitu cindai dalam pengertian Sawa Cindai. Ini berarti sama  sama berlatar belakang ular sakti (Orinbao, 1969 : 160).

Penulis E.F Kleian seorang Civiel Gezaghebber dari Pulau Solor menulis nama Nusa Eru Mbinge itu menjadi Nusa Endeh, sedangkan nama teluk dekat Kota Jogo ditulis dengan ejakan Cinde (Kleian, 1875: 529  532). Ini berarti huruf h pada kata Ciendeh dan Endeh mulai dihilangkan. Walaupun demikian nama Endeh untuk tulisan Nusa Endeh masih tetap dipertahankan.

Penulis lainnya, C.C.FM. Leroux, menulis nama Ende dengan ejaan yang bermacam-macam sesuai dengan ejaaan yang ada pada sumber yang digunakan. Beberapa tulisan itu antara lain Endeh, Ende, Ynde,Inde, sehingga agak sulit untuk menghubungkan dengan istilah Sawa Cindai. Dilihat dari istilah Endeh masih dapat dihubungkan dengan istilah Ciendeh, sehingga melalui istilah Ciendeh semua istilah yang disampaikan Lerroux dapat dikembalikan pada etimologi yang sama ialah istilah (Sawa) Cindai yang berkaitan dengan ular raksasa (Orinbao, 1969 : 160).

Pendapat yang hampir sama dikemukakan oleh Pua Mochsen yang mengatakan kata Ende berasal dari kata Ciendeh yang ada hubungannya dengan kata Cindai dan Cinde yaitu nama kain adat yang terbuat dari sutera yang biasa dipakai oleh penduduk dalam upacara  upacara adat. Cindai atau Cinde ini menjadi barang dagangan yang berasal dari India. Dengan demikian diperkirakan Ende berasal dari Cinde dan Cindai yang kemudian berubah menjadi Ciande dan Ciendeh, dan dalam perkembangannya menjadi Ende atau Endeh (Mochsen, 1984: 1).

Dengan adanya hubungan etimologik bagi nama Kota Ende dan Pulau Ende yang disinyalir dari istilah Sawa Cindai, maka dapat diketahui bahwa dalam perjalanan waktu nama Kota Ende dan Nusa Ende telah mengalami penggantian sebutan. Tulisan dan ucapan nama kota dan Nusa Ende sekarang biasa tanpa huruf h, akan tetapi dalam tulisan dan ucapan terjemahan kata Ende dalam ejakan latin masih biasa ditulis dengan huruf h menjadi Endeh.

Sejak masa Portugis penyebutan nama Ende memang tidak konsisten dan ditulis sesuai kemampuan yang mendengar dan sumber yang digunakan sehingga nama Ende kadang  kadang ditulis Ende. Orang  orang Portugis memberikan nama juga semaunya. Pigafetta menamai Nusa Gede ini Zolot sedangkan nama Zolot yang sebenarnya adalah Nusa Cilik di sebelah timur, itu telah disebutkan dalam Kakawin Negara Kertagama dari Zaman Kerajaan Majapahit seperti telah diuraikan di atas. Pada masa kekuasaan Portugis Nusa Gede disebut Ilha de Larantuca yang diartikan sebagai Nusa Larantuka. Selanjutnya dari pusat pertahanan Portugis di Nusa Cilik Ende, Nusa Gede dinamai Endeh Ilha Grande yang artinya Nusa Gede.

Terlepas dari asal nama Ende yang sampai sekarang belum dapat dipastikan, nama Ende sudah cukup lama dikenal oleh dunia internasional. Hal ini dapat dilihat dalam majalah Belanda BKI jilid ketiga yang terbit tahun 1854, halaman 250 nama Ende sudah disebutkan dengan jelas. Salah satu artikelnya berupa laporan tertulis Predicant (pendeta) Justus Heurnius yang menceritakan keadaan daerah Ende pada masa awal perkembangan agama Kristen dan tentang keadaan di Bali tahun 1638.
Setelah masa penjajahan Belanda Nama Ende yang sering juga ditulis Endeh dikenal sebagai ibukota Afdeeling Flores dan sekaligus ibukota Ondeerafdeeling Ende. Sejak itu nama Ende atau Endeh selalu digunakan dalam buku  buku untuk sekolah  sekolah Bumi Putera dalam Karesidenan Timor seperti Kitab Pengetahoean dari hal Residen Timoer dan daerah takoeknja karangan Arn. J.H. Van Der Velden yang diterbitkan pada tahun 1914.

Van Suchtelen dalam bukunya berjudul Endeh yang terbit tahun 1921 juga menulis pada tahun 1560 seorang Pater Dominican dari Portugis yaitu Pater Taveira telah membaptis orang  orang di Timor dan Endeh sebanyak 5.000 orang lebih. Pada tahun 1570 disebutkan  ada bajak laut dari Jawa yang membajak dan membunuh di Pulau Endeh (Suchtelen, 1921:1). Orang  orang Kristen mengungsi dan dikumpulkan Pater Simon Pacheo yang mendirikan benteng  Fortolessa de Ende Minor di Pulau Ende untuk melindungi para misionaris Dominican dari Solor. 

Dengan adanya beberapa tulisan yang menyebutkan nama Ende seperti itu di atas dapat disimpulkan nama Ende sekurang  kurangnya sudah sejak tahun 1560 dikenal dan digunakan sampai sekarang. (*/romualdus pius)

Sumber: Pos Kupang 26 Juli 2015 halaman 5

Kerbau Bule untuk Arwah Leluhur

Sembelih kerbau bule (foto Egy Mo'a)
PULUHAN tahun silam di Kampung Lada, Mpo (nenek) Podang tinggal bersama seorang istri dan beberapa orang anaknya. Beragam perasaan berkecamuk di sanubari Mpo Podang. Apakah  hanya dia bersama keluarganya yang akan terus menempati wilayah seluas itu yang kini tergabung dalam Desa Manong di Kecamatan Rahong Utara, Kabupaten Manggarai. Mpo Podang membatin.

Kegaulauan Mpo Podang itu dicurahkan kepada arwah nenek-moyangnya. Dia berharap agar diberikan keturunan yang banyak untuk mendiami Kampung Lada. Bila permintaan itu terkabulkan, Mpo Podang berjanji suatu waktu keturunannya akan mempersembahkan seekor kerbau bule sebagai tanda syukur.

Waktu pun berjalan, hari berganti minggu, bulan berganti tahun demi tahun, sampailah di tahun 2015. Telah ratusan  warga keturunan Mpo Podang yang beranak pinak memenuhi seisi kampung itu yang kemudian membentuk komunitas Compang (rumah adat) Lada dalam garis keturunan Suku Manong.

Janji mempersembahkan kaba rae atau kerbau bule itu mungkin tak diingat lagi oleh sebagian keturunan Mpo Podang. Beberapa pertanda yang sulit diterima akal sehat datang silih berganti mengancam warga keturunan suku Monang. Ada yang mengalami waa le wae gelo atau  mati dibawa air sungai jernih. Ada juga mati terbunuh. Demikian juga tetua atau warga di kampung itu sering mengalami mimpi ditagih leluhur agar menyembelih kerbau bule.

Kejadian demi kejadian menjadi bahan refleksi warga Mpo Podang. Pemuka Compang Lada bererembuk. Mereka sepakat menyelenggarakan syukuran dengan menyembelih kaba rae (kerbau bule). Bersyukur kepada nenek-moyang yang telah mengabulkan permintaan Mpo Podang.

Perayaan syukur itu berlangsung hari Kamis (9/7/2015). Sekitar 500-an orang mulai dari anak-anak hingga orang  tua dari keturunan Mpo Podang berkumpul di Gendang Lada. Seekor kerbau bule terikat di tengah halaman rumah adat itu. Bunyi gong gendang bertalu-talu dimainkan kaum wanita usia paruh baya.

Beberapa pria berpakaian adat Manggarai berdiri mengitari seorang algojo dengan kelewang panjang di tangan. Dalam sekali tebasan tepat mengenai leher kerbau jantan itu.  Kerbau bersimbah darah. Roboh ke tanah. Daging kerbau lalu dipotong-potong untuk makan bersama seluruh warga kampung.

Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Manggarai, Wens Sene, menyaksikan upacara langka tersebut. Kehadiran pejabat pemerintah sebagai saksi atas penyelenggaraan upacara yang berbau mistis regilius itu. "Yang namanya upacara adat yang diselenggarakan semua komunitas di Manggarai, bupati dan wakil bupati pasti diundang hadir menyaksikan. Aspek budaya daerah menjadi urusan wajib selama pemerintahan Pak Chris Rotok dan Deno Kamelus. Kalau mereka berhalangan, saya diutus," kata Wens.

Pemerintah Kabupaten Manggarai memberi apresiasi tinggi kepada semua komunitas masyarakat yang menyelenggarakan upacara adat. Pemerintah dan masyarakat tidak bisa dipisahkan dari budayanya, meski ilmu pengetahuan dan teknologi informasi berkembang pesat tak mengena ruang dan waktu.

Dengan menyelenggarakan kaba rae, kata Wens, semua keturunan Mpo Podang mengharapkan nenek moyang (terimplisit Tuhan Yang Maha Esa) melimpahkan kesejahteraan secara ekonomi dan dijauhkan dari segala macam musibah.

Wens yang  sudah sering hadir dalam berbagai ritus adat di Manggarai, mengakui penyembelian kabe rae, jarang diadakan komunitas di Manggarai. "Memang ada kecemasan ritus-ritus adat yang aktif seperti congko lokap, jarang bolong, kaba maring beka, kaba oke lalo, kaba kaer ulu wae, dan kaba kelas akan punah.  Tapi  kami percaya setiap generasi dalam komunitas itu akan setia kepada ritus itu,"  demikian Wens. (egy mo'a)

Sumber: Pos Kupang 12 Juli 2015 halaman 5

Kemasan Jagung Titi

Masyarakat Nusa Tenggara Timur (NTT) agaknya tidak asing lagi dengan jagung titi. Makanan khas ini dihasilkan masyarakat beberapa daerah di NTT terutama di sebagian Pulau Flores, Adonara, Solor, Lembata dan Alor. Namun, kuliner jagung titi yang paling terkenal berasal dari Kabupaten Flores Timur (Flotim). Jagung titi bahkan telah menjadi semacam ikon daerah tersebut.  Cita rasa jagung titi asal Flotim memang menggoda lidah.

Proses pembuatan jagung titi di Flotim masih berlangsung secara manual. Jagung disangrai hingga setengah matang menggunakan periuk tanah (tembikar) kemudian ditempah (dipukul)  dengan batu sebesar kepalan tangan manusia dewasa. Jagung dipukul sampai pipih atau menyerupai emping.

Jagung titi dianggap berkualitas tinggi bila rasanya gurih. Umumnya masyarakat Flotim memilih bahannya dari jagung pulut warna putih. Jagung tidak hanya disangrai hingga setengah matang baru dipukul, tapi membutuhkan insting untuk memastikan jagung itu sudah pas "dititi" atau belum. 

Biasanya proses pembuatan jagung titi berlangsung di dalam pondok atau rumah khusus. Namun, ada juga yang dilakukan di atas tungku yang dipakai untuk keperluan memasak makanan sehari-hari di rumah atau di pondok kebun.
Bagi masyarakat setempat jagung titi umumnya dinikmati sebagai sarapan pagi, makanan kecil saat menjamu tamu (jajanan)  atau sebagai bekal dalam suatu perjalanan jauh. Salah satu keistimewaan jagung titi adalah bertahan lama asalkan ditempatkan pada wadah yang kering.

Jika Anda berkunjung ke Larantuka, ibukota Kabupaten Flores Timur, tidak sulit mendapatkan oleh-oleh jagung titi. Makanan khas Flotim tersebut dijual para pedagang di beberapa tempat umum seperti Pasar Inpres Larantuka,  Pelabuhan Larantuka serta Pelabuhan Penyeberangan Kapal Feri di Kelurahan Waibalun.

Jagung titi merupakan hasil olahan industri rumah tangga di Flores Timur yang cukup konsisten diusahakan masyarakat setempat. Pekerja utama adalah kaum perempuan. Bagi sebagian masyarakat Flotim khususnya di Pulau Adonara, usaha ini tidak lagi sekadar sampingan. Hasil penjualan jagung titi malah menjadi pendapatan utama bagi keluarga sehingga mereka menekuni usaha tersebut dengan sungguh-sungguh.

Soal branding jagung titi Flores Timur sudah  lumayan terkenal, setidaknya untuk konteks regional NTT. Satu sisi yang  kurang adalah kita masih sulit mendapatkan jagung titi di luar Flores Timur. Di Kota Kupang, misalnya, tidak mudah pula bagi penggemar wisata kuliner mendapatkan jajajan ini. Itu berarti pasar jagung titi masih sangat terbatas.

Demikian pula kemasannya masih seadanya saja sehingga tidak cukup menarik. Dari sisi kemasan, jagung titi masih kalah jauh dibandingkan emping jagung yang juga diproduksi industri rumah tangga di NTT. Tentu saja ini menjadi catatan kritis bagi pemerintah kabupaten Flores Timur yang sejak lama banggakan jagung titi sebagai ikon kuliner daerah tersebut. *

Sumber: Pos Kupang 7 Juli 2015 halaman 4

Suara Dentang Batu Beradu di Dapur


Jagung Titi
PULAU Adonara bukan hanya terkenal karena perang tanding antar-saudara memperebutkan lahan, tapi juga sangat terkenal karena jagung titi. Inilah kekhasan Pulau Adonara, bahkan Kabupaten Flores Timur (Flotim).

Belum lengkap jika seseorang berkunjung ke Flotim saat pulang tidak membawa oleh- oleh jagung titi. Jagung titi merupakan pangan lokal yang dibuat dengan cara tradisional. Bukan seperti kebanyakan sekarang emping jagung --mirip jagung titi-- hasil olahan industri rumah tangga.

Ketika berkunjung ke Flotim, Anda bisa saksikan  di Pulau Adonara, Pulau Solor dan sebagian di Kota Larantuka, Ibukota Kabupaten Flotim, hampir semua rumah pasti punya alat pembuat jagung titi. Sebab, hampir semua perempuan dan sedikit laki-laki dewasa hingga anak-anak mahir membuat jagung titi.

Jagung titi adalah jagung yang dititi pakai batu lempeng hingga jagung menjadi lempeng.  Cara membuat jagung titi sangat sederhana, jagung dipipil dari tongkolnya lalu disangrai atau digoreng tanpa menggunakan minyak selama 5-7 menit menggunakan periuk tanah hingga setengah matang.

Lalu jagung diangkat menggunakan tangan kosong dan dititi di atas batu kali yang dikepalkan dengan tangan. Prosesnya dilakukan satu per satu hingga butiran jagung itu memipih. Dan jadilah jagung titi.

Batu yang digunakan untuk meniti jagung, yaitu batu kali (pantai) yang kokoh dan lempeng, sebagai landasan, kemudian sebuah batu sebesar genggaman tangan orang dewasa untuk  meniti. 

Jagung titi yang berkualitas tinggi adalah jagung titi yang saat dikunya rasanya gurih. Karena itu, ibu-ibu dan anak putri yang biasanya titi jagung selalu memilih jagung pulut. Jagung pulut warnanya putih dan memiliki kekhasan sendiri. Rasanya benar- benar enak dan gurih.

Sedangkan jagung yang warnanya kuning membutuhkan tenaga yang kuat. Tukang titi jagung juga harus paham saat meniti jagung, terutama saat menggoreng jagung. Jagung tidak hanya setengah matang baru dititi, tapi dibutuhkan insting untuk merasakan apakah itu sudah pas untuk dititi atau belum.

Jika insting peniti jagung bagus, maka jagung yang dititi hasilnya gurih dan enak rasanya, walaupun tanpa digoreng atau dioven. Selain itu, jagung titi yang rasanya enak adalah jagung titi yang terbuat dari jagung muda. Jika hendak makan jagung titi muda, bahannya diambil dari jagung yang baru saja dipanen.

Kulitnya dikupas lalu jagung dijemur sampai kering  (kadar air harus rendah) baru kemudian dititi. Dan, jika sudah diolah sedemikian rupa, rasanya enak sekali dan harganya lebih mahal dari jagung titi biasa.  Namun jagung titi muda hanya dapat ditemukan pada saat musim panen jagung.

Biasanya proses pembuatan jagung titi dilakukan di dalam pondok atau rumah kecil yang dibuat khusus untuk pengolahan jagung titi. Namun, ada juga yang jagung titi dalam rumah di atas tungku tiga batu, yang juga dipakai untuk keperluan memasak makanan sehari-hari di rumah, di pondok di kebun, atau di mana saja ada orang tinggal.

Dan, tahukah Anda, bahwa segenggam jagung titi yang Anda pegang, tidak dibuat secepat kita menghabiskannya? Jagung dititi dalam butiran-butiran, dan sekali titi hanya terdiri dari satu, dua, atau tiga butir jagung. Satu tempayan jagung seukuran satu toples bisa diselesaikan dalam waktu lebih dari satu jam.

Jagung sejak nenek moyang menjadi makanan pokok. Sebab dulu, masyarakat Adonara dan sekitarnya tidak mengenal beras.  Baru setelah masyarakat mengenal beras, maka dilakukan konversi jagung ke beras. Karena itu, bisa dibayangkan tiga kali sehari atau dua kali  sehari warga Adonara atau warga  Flotim pada umumnya akan memakan jagung.

Untuk balita, selain makan pisang, ada  orangtua yang memberi balita jagung. Prosesnya, jagung dipipil kemudian direbus hingga menjadi bubur atau yang sekarang dikenal dengan sebutan jagung sereal.  Cara membuat bubur jagung zaman dulu sederhana, jagung titi diletakan di wajan dan tambah air lalu direbus hingga hancur seperti bubur baru kemudian ditambah garam secukupnya.

Selain sebagai pengganti makanan pokok, kini jenis jagung titi sudah banyak, seperti kerupuk. Bahkan sekarang jagung sudah diolah dalam berbagai rasa antara lain, rasa original, rasa coklat, dan rasa asin.

Gubernur NTT, Frans Lebu Raya, sebagaimana dikutip dari simpetadonara.blogspot.com, pernah mengisahkan begini.  "Di desa saya, jagung titi cukup mewarnai kehidupan warga. Tidak sekadar kata. Kalau beberapa tahun lalu Anda berada di kampung saya, maka pagi-pagi akan kedengaran suara dentang batu beradu di dapur-dapur rumah tempat ibu-ibu membuat jagung titi. Seperti musik. Pernah dalam waktu tertentu, dentang batu bahkan dijadikan pertanda waktu. Saya bangun tepat dentang batu pertama berbunyi, demikian orang menunjukkan kapan waktunya bangun. Atau saya terjaga waktu terdengar dentang batu itu."

Sebagian besar ibu-ibu dan anak gadis hampir pasti diberi kewajiban untuk melakukan pekerjaan ini, meniti jagung. Sedangkan bagi laki-laki, ini dipandang sebagai pekerjaan dapur dan urusan para wanita.

Tidak cuma menyiapkan hidangan itu. Di ladang jagung, kaum wanita juga berperan. Mereka menugal, menanam, hingga memanen. Sedangkan laki-lakinya dominan di membuka kebun, membersihkan ladang, dan urusan pergudangan di lumbung. Pada acara-acara kebersamaan, jagung titi adalah hidangan yang utama. Setiap keluarga bisa mengumpulkan masing-masing jagung titi kepada petugas untuk kemudian dibagikan lagi pada saat acara minum bersama.

Bagi sahabat maupun anggota keluarga yang lagi perantauan, jagung titi akan menjadi tanda cinta mereka yang di kampung untuk kalian.

Mahir Sejak Kecil
Jagung titi bisa ditemukan  di beberapa tempat seperti di pertokoan, di Pasar Inpres Larantuka dan Pelabuhan Larantuka, Pelabuhan Penyeberangan Kapal Feri di Kelurahan Waibalun dan di galeri koperasi di Taman Kota Larantuka.  Para ibu kelompok industri rumah tangga asal Solor selalu siaga menyiapkan jagung titi dalam berbagai kemasan. Jagung titi dalam kemasan bisa ditemukan di galeri koperasi di Taman Kota, namun ketersediaan kadang terbatas.

Beberapa pembuat dan penjual jagung titi, Ina Benga, warga Desa Muda, Kecamatan Kelubagolit, dan Mina Perada, warga Boleng, Kecamatan Ile Boleng serta Somi Lipat, warga Waiwerang, Kecamatan Adonara Timur, ditemui Pos Kupang di kediaman masing-masing, mengatakan, mereka sudah mahir membuat jagung titi sejak kecil. Ini warisan turun temurun dari orangtua mereka.

Menurut Ina Benga,  jagung titi selalu dibuat oleh masyarakat Flotim sampai kapanpun karena peminatnya ada. "Sampai kapanpun, orang suka makan jagung titi, baik orang lokal maupun tamu dari luar. Karena itu, jagung titi pasti tetap abadi dan tidak akan lenyap dimakan zaman," kata Ina.


Sementara itu Somi, mengkritik proses pengolahan jagung titi yang tidak pernah berubah dari dulu hingga saat ini. Jagung titi merupakan makanan khas masyarakat Lamaholot, namun  cara pengolahannya hingga sekarang belum berubah. Padahal, jagung adalah sumber karbohidrat alami. Jagung bisa diolah menjadi sirup dan tepung, juga beragam makanan.

Di negara lain, mungkin jagung titi ini menjadi makanan istimewa. Karena bentuknya yang unik dan  khasiatnya bagus untuk penderita gula. Karena itu, mestinya harus dicari solusi agar jagung titi bisa menjadi makanan primadona masyarakat Indonesia, bukan hanya untuk orang Adonara atau Flotim dan NTT," kata Somi. (syarifah sifat)



Ikon Wisata Kuliner


KEPALA Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Flores Timur (Flotim), Drs. Andreas Ratu Kedang,  mengaku hingga kini belum ditemukan cara titi jagung yang lebih modern. Masyarakat Flotim masih menggunakan cara tradisional, yakni jagung dititi pakai (dua) batu lempeng (satu ukuran kecil untuk titi dan satunya ukuran sedang/besar untuk simpan jagung saat dititi).

Kedang mendengar informasi bahwa biji jagung sempat diolah menggunakan alat-alat canggih seperti pres jagung, namun sekarang informasi itu sudah tidak lagi terdengar.  "Ada informasi bahwa di Kupang, jagung titi sempat diolah menggunakan alat pres dan bentuknya seperti emping melinjo, tapi pengolahan dengan cara itu sekarang tidak terdengar. Yang paling populer dari dulu hingga sekarang adalah dengan cara dititi, dan itu sangat mudah dilakukan," katanya.

Andreas menjelaskan, jagung titi di Flotim dijual masih dengan cara tradisional. "Ketika kita kembangkan dengan cara yang agak profesional dengan menggoreng pakai minyak goreng atau mentega, penyimpanannya tidak bertahan lama," ujar Kedang.

Ia mengatakan, saat ini sedang mencari cara yang tepat untuk memroses jagung titi agar bisa bertahan lama. Karena selama ini, lanjutnya, kalau jagung titi yang sudah digoreng dan disimpan lama, kadang menimbulkan bau pengab. "Karena itu, kami sedang mencari cara dan ini sudah masuk lintas sektoral," ujarnya.

Kedang menjelaskan, saat ini jagung titi sangat diminati wisatawan domestik dan mancanegara sebagai salah satu jenis makanan ringan yang menggoda selera. Para wisatawan merasa belum lengkap menikmati keindahan panorama alam laut dan obyek wisata lainnya di Flotim, jika belum mengantongi jagung titi untuk menemani makan mereka selama berwisata di wilayah itu.

Kedang pernah memrogramkan cara membuat jagung titi di Taman Kota Larantuka agar bisa menjadi salah satu ikon wisata kuliner. Cara pembuatan jagung titi itu secara tradisional dan menggunakan kayu, batu dan api. Namun karena kesulitan mendapatkan bahan, maka program itu tidak berjalan baik.

Kadis Koperasi Flotim, Drs. Frederik Bili, Selasa (30/6/2015) mengatakan, walau  tugas Dinas Perindustrian dan Perdagangan Kabupaten Flotim, namun pendidikan dan pelatihan (diklat) usaha emping jagung lebih banyak dibuat oleh Dinas Koperasi Flotim atas permintaan para pengusaha kecil menengah.

"Kami buat diklat bagi ibu-ibu untuk sejumlah kuliner, termasuk emping jagung. Mulai dari proses pembuatan jagung hingga pengepakan dan pemasaran. Bahkan, saya juga sudah minta ke pihak Bandara agar bisa dikasih satu saja etalase untuk pangan lokal, termasuk emping jagung dan kerajinan tangan lainnya tapi sampai saat ini belum ada kabar. Emping jagung jika dipasarkan cukup menjanjikan bagi UKM," kata Bili.

Diklat pengolahan jagung yang dilakukan Dinas Koperasi Flotim, demikian Bili, mulai dari pengolahan jagung titi. Jagung titi dibuat  berbagai rasa, original, coklat dan asin. Setelah diolah baru dikemas dalam kemasan.  "Ibu-ibu sudah banyak yang tahu cara mengolah jagung titi. Hanya saja, pasaran kita yang masih terbatas dan tingkat promosi kita yang belum baik," ujar Bili.

Menurut dia, jika jagung titi diolah secara baik akan kalah dengan emping jagung bulat yang dijual di sejumlah pasar se-Nusantara. "Sekarang jagung bulat, emping jagung dari Jawa cukup banyak. Dijual dengan harga Rp 1.000/bungkus. Ini memang butuh proses dan diklat yang lebih khusus. Selama ini kami buat diklat, tapi tidak khusus jagung," katanya.

Ketua Tim Penggerak PKK Kabupaten Flotim, Theresia Sabu Hadjon Herin mengatakan, kebanyakan diklat untuk semua jenis usaha mikro masyarakat digelar Dinas Koperasi.

"Kami kerja sama dengan Dinas Koperasi gelar diklat untuk memodifikasi penjualan jagung titi. Setahun sekali dan ini berjalan. Bahkan, sudah ada jagung titi yang dijual dalam kemasan. Namun, kita punya kendala terkait anggaran dengan kepekaan terhadap para UKM. Kadang kami anggarkan dana untuk diklat, tapi dicoret. Ke depan kami akan lebih fokus," ujarnya. (iva)



Terkendala Izin

Oleh Theresia Sabu Hadjon Herin
Ketua Tim Penggerak PKK Flotim


IBU-ibu Dekranasda Flotim sudah mencoba berbagai bentuk pangan jagung titi. Dan, sebagian sudah dipasarkan, tapi masih terkendal perizinan dari Balai Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) maupun Majelis Ulama Indonesia (MUI) untuk kehalalan. Tetapi, kami selalu mendampingi ibu-ibu untuk terus berinovasi menciptakan pangan lokal dari jagung titi.

Pasalnya, jagung titi tidak bisa disimpan hingga berbulan-bulan. Jika ingin disimpan sampai setahun, maka jagung titi  harus dijemur terus. Karena kadar airnya rendah, jagung titi sangat awet disimpan. Lebih awet ketimbang jajanan biasa karena jagung titi tidak punya minyak dan gula. Akan lebih awet lagi jika disimpan rapat-rapat di dalam kaleng kedap udara atau ditutup dengan lakban.

Dan, orang zaman dulu jika hendak merantau dengan menempuh perjalanan berbulan- bulan hanya membawa bekal jagung titi dicampur kenari atau kacang-kacangan dan sagu.  Jagung titi saat ini sudah diminati masyarakat luas. Bahkan di dunia pariwisata, jagung titi juga sangat diminati wisatawan domestik dan mancanegara sebagai salah satu jenis makanan ringan.

Apalagi ketika prosesi Jumat Agung/Semana Santa saat paskah, banyak peziarah  yang datang ke Kota Reinha-Larantuka selalu mencari jagung titi sebagai oleh-olehnya. Namun,  pemerintah kita lamban mengemas jagung titi sebagai pangan lokal yang diminati.

Padahal, pemerintah dalam hal ini Dinas Perindag, Pariwisata, PKK dan Koperasi bisa  kerja sama untuk menggolkan pangan lokal  jagung titi menjadi makanan khas Flotim yang mendunia. 


Hingga kini belum ada kesamaan pemahanan antar lintas sektor dalam pengembangan pangan lokal. Untuk itu, ke depan kita terus mencoba meyakinkan legislatif dan bekerja sama dengan dinas terkait untuk menjual produk pangan lokal kita khusus jagung titi sebagai jajanan khas Flotim.

Untuk memenuhi kebutuhan jagung titi bagi para wisatawan lokal dan internasional yang masuk ke Flotim, maka jagung titi dijual oleh pedagang di beberapa tempat pelayanan umum seperti Pasar Inpres Larantuka dan Pelabuhan Larantuka, serta Pelabuhan Penyeberangan Kapal Feri di Kelurahan Waibalun.

Untuk inovasi, ke depan, kami akan berusaha agar jagung titi bisa menjadi pangan lokal yang dikemas dalam kemasan yang memiliki nilai jual lebih besar dibanding sebelumnya. Saat ini jagung titi yang diproduksi secara manual/tradisional dijual dengan harga sekitar Rp 10.000 per toples atau ukuran satu piring nasi. Saya pikir jika sudah dikemas dengan baik, maka setengah piring nasi harganya bisa Rp 10 ribu.
Beberapa jenis jagung yang bisa dibuat sebagai jagung titi yakni jagung metro, bisma, hibryda dan jagung pulut. Namun, yang paling enak untuk dibuat jagung titi adalah jagung pulut. Saat ini jagung titi selain dibuat secara manual tradisional, juga dibuat dengan mesin pres.

Meskipun telah ada mesin teknologi baru untuk pembuatan emping jagung yang mirip jagung titi, namun jagung titi tradisional lebih diminati karena nilai ekonomisnya meningkat. Juga menjadi menu harian yang bisa dimakan dengan kopi, teh, susu, kuah asam, bubur kacang hijau dan lain-lain. (iva)

Sumber: Pos Kupang 5 Juli 2015 halaman 1

Kami Titi Sampai Tangan Melepuh

ilustrasi
MENGENAKAN baju kaos lengan pendek, Ina Benga (40), warga Desa Muda, Kecamatan Kelubagolit, setiap hari bergelut mengolah jagung titi. Pekerjaan yang membutuhkan tenaga itu dilakoninya saban hari demi membiayai pendidikan anak- anaknya. Ina Benga memiliki dua putra bersama pasangannya, Samuel Loho (42).

Suaminya sebagai tukang kebun  tidak setiap hari mendapat uang, padahal untuk makan minum dan membiayai pendidikan anak-anak harus butuh uang setiap hari. Karena itu, Ina Benga bisa diandalkan sebagai salah satu tulang punggung meniti dan menjual jagung titi untuk makan dan biaya pendidikan anak-anak mereka.

"Setiap hari kami butuh uang. Kalau titi jagung, uang masuk setiap hari. Tapi kalau berkebun belum tentu. Karena itu, sehari-hari saya titi jagung dan ini  sudah menjadi pekerjaan saya. Saya jual satu kantong kresek biru jagung titi harganya Rp 100 ribu. Sehari bisa satu kantong, tapi kalau tidak setengahnya," tutur Ina Benga.

Hal senada diakui Mina Perada, warga Boleng, Kecamatan Ile Boleng. Ia juga  menyekolahkan anak-anaknya dengan menjual jagung titi. "Sudah belasan tahun saya menyekolahkan tiga orang anak dari hasil menjual jagung titi," ujarnya.

Setiap hari, ia bergelut dengan batu yang digunakan untuk mengolah biji jagung menjadi jagung titi. Meskipun pekerjaan titi jagung menjadi rutinitas ibu rumah tangga di hampir seantero masyarakat pegunungan di Pulau Adonara, namun harga jagung titi masih dinilai murah oleh warga setempat.

"Pekerjaan ini cukup berat, tapi harganya masih murah. Satu kantong kresek biru Rp 100 ribu. Ini kami titi sampai tangan melepuh. Tapi kami  tetap lakukan ini untuk sekolahkan anak,” kata Mina.

Ia mengatakan, selain menekuni pekerjaan rutinnya mengolah jagung menjadi jagung titi, setiap musim tanam ia juga bercocok tanam. Dari hasil menanam diolahnya menjadi jagung titi. "Jagung yang saya titi ini adalah hasil dari kebun. Kebiasaan kami simpan untuk menunggu permintaan masyarakat yang mau pesan jagung. Biasanya mereka pesan untuk keluarga di luar desa atau daerah," jelasnya.

Sementara itu, Somi Lipat, warga Waiwerang, Kecamatan Adonara Timur mengaku pekerjaan meniti jagung sangatlah mudah. Ia sudah melakoninya sejak puluhan tahun untuk membiayai sekolah anaknya.  "Walau anak saya hanya tamat SMA, tapi saya bangga. Karena mereka semua sekolah dari hasil jerih payah titi jagung,” kata Somi. (iva)

Sumber: Pos Kupang 5 Juli 2015 halaman 1

Prosesi Pembangunan Sa'o Ria Woloara

ilustrasi
SEBAGAIMANA daerah lain di Nusa Tenggara Timur (NTT) atau wilayah Indonesia umumnya yang memiliki kekayaan alam dan budaya, Kabupaten Ende juga memiliki khasanah serupa. Hal ini terlihat di Desa Woloara, Kecamatan Kelimutu.

Pos Kupang mendapat kesempatan langka menyaksikan prosesi pembangunan rumah adat yang dalam bahasa daerah setempat disebut Sa'o Ria Woloara. Mosalaki (tetua adat)  Woloara, Don Watu menuturkan, rumah adat Woloara memiliki kesakralan serta nilai-nilai yang harus dipertahankan oleh  masyarakat setempat atau dalam bahasa daerah disebut ana kalo fai walu.

Keberadaan Sa'o Ria saat ini sangat membutuhkan perhatian dari ana kalo fai walu karena dipandang sudah tidak layak lagi untuk ditempati dan menjadi tempat pertemuan mosalaki, atalaki, podoria dan seluruh warga suku.

Oleh karena itu, pada tanggal 30 Mei 2015 Mosalaki Pu'u Tanah Mau Gadho Woloara memanggil Atalaki to'o si'i kuni mbana (petugas mosalaki) dalam struktur adat tana Mau Gadho Woloara yang bertugas menyampaikan dan mengundang seluruh atalaki, podoria dan ana kalo fai walo untuk hadir pada tanggal yang telah ditentukan itu.

Puji Tuhan semua pihak yang berkepentingan hadir pada tanggal tersebut guna membicarakan hal-hal yang berkaitan dengan pembangunan Sa'o Ria Woloara.
"Sudah merupakan kebiasaan jika mosalaki pu'u mengundang semua komponen adat maka seluruh persiapan ditanggung  mosalaki pu'u," ujar Don Watu.

Adapun perintah  adat yang harus dilaksanakan adalah pertama penebangan kayu untuk rumah adat dilaksanakan pada tanggal 13 Juni 2015. Kedua, pada saat penebangan kayu, semua ana kalo fai walu mengenakan pakaian adat yakni bersarung Lio. Ketiga, wilayah yang menjadi lokasi penebangan adalah hutan rakyat yang ada di Dusun Woloki, Desa Woloara.

Keempat, mengikuti petunjuk atau arahan dari mosalaki pai nggo niu wani terkait pohon yang akan ditebang.

Kelima, yang menandai kayu (neka kaju) untuk bahan bangunan rumah adat adalah mosalaki kili ndolu wangga taka. Semua pihak yang berkepentingan menaati semua perintah tersebut.

Sisi menjadi menarik dari prosesi penebangan kayu tersebut adalah seluruh ana kalo fai walu menyaksikan dengan seksama. Kendati jaraknya cukup jauh dari kampung, namun ana kalo fai walu tetap setia mengikuti prosesi tersebut.  Setelah tiba di lokasi mosalaki pai nggo niu wani langsung menuju ke pohon kayu yang hendak ditebang. Sebelum ditebang,  mosalaki pai nggo niu wani bersama mosalaki kili ndolu wangga taka melakukan seremonial adat yakni memberikan sesajian kepada tana watu dengan membawa seekor ayam dan mota keu oka (sirih pinang). Setelah itu langsung menandai pohon yang akan ditebang.

Pada hari itu berhasil ditandai tiga pohon kayu. Pohon yang ditandai tersebut masing masing dimiliki podoria atas nama Mathias Gadho, Don Watu (mosalaki pa nggo niu wani) satu  batang) dan satu batang oleh mosalaki dari rumah besar Bhoku Ndolu.  Pohon yang ditandai mosalaki kili ndolu wangga taka menunjukkan kesesuaian, rumah adat tersebut menjadi rumah pertemuan yang ramah dan rukun.

Pohon yang ditebang dan kayunya dibawa ke Sao Ria menandakan bahwa wilayah hukum adat Tana Mau Gadho Woloara sampai di perbatasan hutan negara, kawasan Taman Nasional Kelimutu. Hal ini mempunyai kesesuaian dengan tiga warna Danau Kelimutu yang merupakan keajaiban dunia. "Mudah-mudahan rumah adat Sa'o Ria  mempunyai keajaiban dan sangat istimewa," kata Don Watu.

Dia menyatakan, setelah penebangan pohon, semua atalaki, podoria dan ana kalo fai walu duduk bersama membicarakan prosesi untuk kembali ke Sa'o Ria dengan membawa  kayu yang sudah dipotong.  Mereka juga menikmati makanan adat yang telah disediakan oleh podoria yang dipimpin Mathias Gadho dan  ana kalo fai walu Woloki.

Setelah makan adat, mereka sesuai tugas masing-masing berjalan beriringan  menuju kampung sesuai urutan sebagai berikut. Pertama yang memukul gong adalah mosalaki pai nggo niu wani yakni Don Watu, SH;M.H diikuti mosalaki kili ndolu wangga taka dan mosalaki-mosalaki lainnya.

Setiba di Sa'o Ria mosalaki pu'u  Dominikus We,u dan Adrianus Sega  sudah menunggu kedatangan  atalaki, podoria dan ana kalo fai walu. Mereka diterima dengan tarian adat diiringi nggo wani. Sudah menjadi kebisaan dalam masyarakat Lio, selama melaksanakan kegiatan adat nggo wani harus tetap dibunyikan.
Gong merupakan tanda adat yang awalnya diserahkan mosalaki pu'u  kepada mosalaki pai nggo niu wani lalu diserahkan kembali kepada mosalaki pu'u.

 Dengan diserahkan kembali gong adat tersebut maka seluruh kegiatan adat pada saat itu telah usai. Tepat jam 20.00 Wita hari itu, semua duduk dan makan bersama mendengar arahan dari mosalaki pu'u terkait dengan pelaksanaa kegiatan adat selanjutnya. Akhirnya diperintahkan kepada atalaki, podoria dan ana kalo fai walu bahwa kegiatan lanjutan penebangan pohon berlangsung pada tanggal 15 Juni 2015 dengan prosesi yang kurang lebih sama. (romualdus pius)

Sumber: Pos Kupang 28 Juni 2015 halaman 5

Sagi Butuh Kelincahan Petinju

Tinju adat Sagi di Soa, Ngada (2015)
SELASA (12/5/2015) pukul 14.00 Wita, Kampung Libunio, Desa Libunio, Kecamatan Soa, Kabupaten Ngada dipadati ribuan warga yang menyaksikan pagelaran  Sagi atau tinju adat. Hadir juga Bupati Ngada, Marianus Sae, Wakil Bupati, Paulus Soliwoa, Ketua DPRD, Helmut Waso dan beberapa pimpinan satuan kerja perangkat daerah (SKPD) di Ngada.

Dalam waktu empat jam, tersaji 29 partai pertandingan yang memuaskan para penonton. Setiap partai melakonkan tiga sampai lima ronde. Para petinju ada yang mengalami luka lecet, bengkak bahkan berdarah di pipi, hidung, bibir dan pelipis. Meski dalam kondisi berdarah, mereka tetap enjoy dan di akhir pertarungan mereka saling memaafkan sebagai wujud sportivitas.

Bagi petinju Sagi, kondisi luka, bengkak bahkan berdarah di bagian wajah menjadi hal biasa. Sagi merupakan tinju adat yang saling memberikan pukulan dengan wilayah sasaran adalah bagian wajah.

Di babak pemanasan mulai dari partai pertama sampai partai kelima, para Mosa (orang yang mengatur petinju) menurunkan petinju kelas menengah dan didominasi peserta tuan rumah. Di partai pemanasan ini, petinju hanya bertarung dua sampai tiga ronde. Namun, di partai keenam hingga partai ke-29, peserta yang tampil adalah petinju berpengalaman, mereka peserta sudah sering bertarung di setiap acara Sagi di wilayah itu, bahkan ke luar daerah seperti  tinju adat Etu di Boawae, Kabupaten Nagekeo.

Gaya dan taktik peserta kelas ini sangat menarik perhatian penonton. Di kelas ini biasanya mereka bertarung hingga lima ronde. Sagi merupakan tinju adat yang cukup populer bagi masyarakat Soa dan sekitarnya. Karena dalam Sagi, banyak hal menarik yang ingin disaksikan penonton seperti peserta tinju, gaya tinju, taktik dan juga hasil tinjunya. Namun, warga kampung yang biasa menonton Sagi sudah mengetahui kalau Sagi itu mulai seru saat para Mosa memasukkan peserta tinju kelas atas dan biasanya pertarungan petinju kelas ini dilakukan di pertengahan tinju atau saat penonton sudah mulai banyak.

Dalam Sagi, para petinju membutuhkan kelincahan dan teknik tinggi menyerang lawan. Tinju semakin menarik, ketika peserta saling menyerang dan memberikan pukulan telak ke wajah lawan. Saat-saat seperti itu, para penonton akan berteriak untuk memberikan semangat. Akan tetapi, ketika salah satu dari peserta berdarah, entah di pipi, hidung, bibir atau pelipis, para penonton terkadang diam sambil mengucapkan kata-kata iba. "Aduhhh kasian!! Dia kena di bibir. Lihat dia punya bibir darah," kata beberapa penonton.

Pertarungan seru juga terlihat  ketika salah satu petinju mendapat pukulan telak dari lawannya. Semakin banyak mendapat pukulan, semakin semangat pula para petinju menambah ronde. Tambahan ronde karena petinju ingin membalas pukulan lawannya. Kepuasan petinju muncul saat lawannya berdarah atau mengaku kalah. Namun, terkadang ada petinju yang merasa tidak puas dengan hasil pertarungan. Hal ini umumnya dirasakan petinju yang sering mendapat  pukulan berat, namun ia belum sempat membalasnya. Rasa dendam  muncul dalam diri petinju.

Ketika niat untuk membalas belum tercapai, biasanya salah satu dari peserta yang berdarah meminta untuk tambah ronde atau meminta berhenti bertarung, jika merasa tidak sanggup lagi. Keputusan ini dinilai oleh Sike atau orang yang bertugas memegang dan mengontrol jalannya tinju setiap peserta dan seorang penengah atay wasit (Dheo Woe). Dheo Woe bisa menghentikan pertarungan manakala pertarungan sudah tidak berjalan dengan baik.   

Tokoh adat Soa yang juga Ketua Panitia Penyelenggara Sagi, Thomas Sogo kepada Pos Kupang menjelaskan, peserta tinju yang belum puas dengan hasil pertarungan  tidak diperkenankan untuk protes, apalagi membuat keributan atau perkelahian. "Kalau antara mereka ada yang dendam, maka di Sagi berikutnya mereka dua bisa bertarung lagi. Yang penting rasa dendam jangan jadi permusuhan di luar arena," kata Thomas.

Menurut Thomas, setiap pergelaran Sagi, mosalaki dari berbagai kampung tetangga datang menyaksikan dan mereka juga membawa petinju untuk bertarung. Mereka langsung mengambil posisi yang sudah disediakan panitia, biasanya di ujung arena tinju (ulu-eko), seperti, bagian timur dan barat atau utara dan selatan, tergantung posisi kampung. Di tempat itu, para Mosa mulai menawarkan beberapa petinju yang siap bertarung dengan lawan. Mosa juga melakukan koordinasi soal peserta tinju yang akan bertarung, apakah kedua peserta itu layak atau tidak untuk bertarung. Hal ini dilihat dari faktor umur, pengalaman tinju (Sagi) dan faktor lainnya.

Menurut Thomas, Sagi atau tinju adat bagi masyarakat Soa, merupakan warisan budaya nenek-moyang yang harus dijaga. Sagi dimaknai sebagai acara syukuran panen yang diperoleh masyarakat dalam satu tahun.


Sagi memiliki tiga tahap pertama, Kobhe Dero yaitu, tahapan sebelum tinju dimulai. Dero dilakukan pada malam hari yang diawali dengan ritual menyongsong acara tinju keesokan harinya. Pada malam Dero itu, warga memulai dengan tarian dan nyanyian lagu-lagu. Mereka juga saling membalas pantun lewat lagu-lagu. Dero dilakukan hingga pagi hari.

Kedua, Sagi yaitu, acara inti yang dilakukan lewat pertarungan tinju. Peserta tinju terdiri dari dua orang, baik peserta tinju yang sudah disiapkan masing-masing kubu maupun penonton yang dipilih oleh Mosa saat acara berlangsung. Alat yang digunakan dalam Sagi disebut Woe. Woe terbuat dari kayu atau tanduk kerbau yang dilapisi dengan ijuk, pasir dan pecahan botol. Saat tinju, Woe diikat di telapak tangan petinju yang berfungsi untuk memukul lawan. Peserta tinju mengenakan pakaian berupa Lesu (kain yang diikat di kepala), selendang (kain penutup dada) dan kain penutup tubuh bagian bawah.    

Ketiga adalah Sogo, yaitu ritual akhir dari Sagi yang ditandai dengan belah kelapa oleh tua adat. Kelapa yang sudah dibelah  itu di lempar ke tanah dan apabila kedua belahan kelapa itu semuanya dalam posisi tertutup maka hal itu memberikan tanda bahwa hasil panen tahun itu dinilai gagal. Sebaliknya, hasil panen akan berlimpah ruah  apabila belahan kelapa yang dilempar itu satu bagiannya tertutup dan sebagiannya terbuka. Tanda-tanda seperti itu yang diakui warga setempat saat melakukan ritual adat. 

Thomas mengatakan, Sagi hanya digelar di beberapa kampung di Kecamatan Soa yakni, Boamuji, Piga, Wuli, Lebuni dan Loa. Pelaksanaan Sagi di beberapa kampung itu biasanya dari April hingga Juli. Kepala Desa Libunio, Blasius Gholo saat ditemui mengatakan, Sagi merupakan warisan budaya yang selalu dijaga oleh masyarakat setempat. Dan sepanjang sejarah, pelaksanaa acara Sagi belum pernah dibuat di luar kampung di Soa. Berbeda dengan pesta Reba yang bisa dilakukan di luar Ngada, seperti Reba di Kupang atau di Jakarta oleh masyarakat Ngada. Namun, untuk acara adat Sagi belum pernah dibuat oleh masyarakat Soa yang ada di luar daerah Ngada. (teni jenahas)

Sumber: Pos Kupang 31 Mei 2015 halaman 5

Khasiat Jitu Batu Penis Raksasa

Batu Penis di Liangbua Manggarai, Flores
Batu penis raksasa di Liang Bua, Manggarai sudah banyak menolong  pasangan suami istri yang sulit mendapatkan momongan.

KEBERADAAN batu kemaluan (penis stone) di Liang Bua, Desa Wae Mulu, Kecamatan Wae Rii, Kabupaten Manggarai belum setenar Liang Bua, gua tempat ditemukan sembilan tulang-belulang Manusia Flores atau Homo Floresiensis. Homo Floresiensis yang dijuluki hobbit  adalah nama yang diberikan pakar antropologi dan tim gabungan Australia-Indonesia terhadap spesies dari genus homo yang punya tubuh dan volume otak kecil.

Menurut serial subfosil (sisa-sisa tubuh yang belum sepenuhnya membatu), individu sisa tulang itu diberi kode LB1-LB9. Postur tubuh paling tinggi sepinggang manusia moderen sekitar 100 cm. Pos Kupang  sudah empat kali mengunjungi gua yang terkenal ke sentero jagat pasca penemuan Homo Floresiensis tanggal 6 September 2003.

Kerja sama penggalian dilakukan tim gabungan Indonesia-Australia dimulai tahun 2001 untuk mencari jejak peninggalan migrasi nenek moyang orang Aborigin Australia di Indonesia. Tim Indonesia dipimpin Raden Pandji Soejono dari Puslitbang Arkelogi Nasional (dulu Puslit Arkenas) dan tim Australia dipimpin Mike Marwood dari Universitas New England.

Pada kedalaman lima meter (ekspedisi sebelumnya tidak pernah mencapai kedalaman  itu), ditemukan kerangka mirip manusia yang luar biasa kerdil. Tulang-tulang itu tidak membatu (bukan fosil), tetapi rapuh dan lembap. Terdapat sembilan individu, namun tidak ada yang lengkap. Diperkirakan Liang Bua dipakai sebagai tempat pekuburan.


Individu terlengkap, LB1, diperkirakan berjenis kelamin wanita ditemukan pada lapisan berusia sekitar 18.000 tahun. Bagian yang ditemukan berupa tengkorak, tiga tungkai (tidak ada lengan kiri) dan beberapa tulang badan. Individu lainnya berusia antara 94.000 dan 13.000 tahun.
Batu Penis di Liangbua, Manggarai

Agaknya sudah banyak publikasi tentang manusia kerdil dari Liang Bua. Yang masih sayup adalah cerita tentang batu berbentuk penis atau batu kemaluan. Guna menghilangkan rasa penasaran itu, Selasa tanggal 5 Mei 2015 pukul 08.00 Wita Pos Kupang bergegas ke Liang Bua. Cerita tentang batu penis pernah disampaikan pemandu wisata Kornelis Jaman, dua tahun silam  saat  Pos Kupang  ke Liang Bua. Tetapi  saat itu konsentrasi tercurah kepada penemuan berbagai fosil binatang purba oleh tim Arkelogis Nasional.

Batu berbentuk alat kelamin pria itu berdiri kokoh di dalam gua. Letaknya agak ke utara dekat dinding gua dan langit-langit gua yang dipenuhi stalaktit. Dari depan gua yang berukuran panjang 50 meter, lebar 40 meter dan tinggi 20 meter, batu penis itu tampak kokoh di antara batu-batuan lainnya.

Bila tujuan utama kedatangan  ke Liang Bua untuk mengamati batu penis, maka tidak sulit mengenalinya. Bentuk batuan warna putih kelabu tersebut memang mirip penis. Pos Kupang bersama Kornelis, mengukur batu penis raksasa ini. Bukan main besarnya. Bayangkan, panjang batu penis 80 cm, lingkaran helm 95 cm dan lingkaran bawah dekat pangkal 132 cm.

"Besar sekali. Saya tidak sempat mengukurnya selama ini," kata Kornelis sambil terbahak-bahak. Pengenalan Kornelis dengan batu penis raksasa ini bukan kebetulan saja. Sejak kecil, neneknya Antonius Agang (80) selalu bercerita kepada Kornelis tentang legenda Liang Bua.

Antonius, cerita Kornelis, bukan dukun. Tapi pernah ada pasangan suami istri yang telah lama menikah dan belum punya keturunan menemui nenek Antonius. Dia memberi pasangan itu "ramuan" berupa air rendaman batu asah. Setelah minum air tersebut, pasangan ini dikaruniai anak.

Suatu ketika, kata Kornelis, sang nenek menceritakan lagi batu mirip penis di Liang Bua. Batu penis itu,katanya,  merupakan milik orang tertua yang tinggal di dalam gua ribuan tahun silam. Mengapa penis milik penghuni Liang Bua menjadi batu, Kornelis mengaku tak punya kisahnya.


Entah sejak kapan penis raksasa itu tersohor, Kornelis pun tak ingat lagi ceritanya. Seingat Kornelis, suatu ketika pada  tahun 2011, dia ditemui sepasang suami istri asal Ruteng. Raut wajah mereka kurang cerah seperti ada soal yang hendak dibagikan kepada Kornelis. Delapan tahun menikah, pasangan itu trak kunjung mempunyai momongan.
Batu Penis di Liangbua Manggarai, Flores

Kornelis menyatakan, ada berbagai syarat yang mesti dipatuhi berkaitan dengan legenda batu penis itu. Yang paling penting, kata Kornelis, permohonan (sungke dalam Bahasa Manggarai) dan niat kepada batu penis. "Syaratnya, pertama tidak boleh memberitahu atau menceritakan kepada siapapun bila niatnya ke Liang Bua mengambil `ramuan' dari batu penis ini. Datang berdua bersama pasangan. Bila mau mengorek bagian batu penis ini atau mengambil air yang jatuh dari gua, tidak boleh memandang ke belakang. Tidak boleh juga dilihat orang. Pada waktu mau pulang juga tidak boleh lihat ke belakang," kata Kornelis.

Menurut Kornelis, pasangan dari Ruteng mengorek sedikit batu penis, mengambil air yang jatuh dari stalaktit dan mencampurkanya ke dalam botol plastik untuk dibawa pulang. Ramuan itu diminum selama lima hari setiap bangun pagi dan sebelum berhubungan suami istri "Sebulan lebih kemudian, pasangan ini menemui saya menyampaikan khasiat ramuan batu penis. Entahlah istrinya hamil atau berhasilnya seperti apa, mereka tidak jelaskan detail," demikian Kornelis.

Kornelis yang  sudah 15 tahun dipercaya Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Pemkab Manggarai mengelola Liang Bua mengatakan sudah 12 pasangan suami istri yang datang kepadanya menyampaikan niat serupa.

Cerita mujarab batu penis raksasa itu juga menjadi bagian dari tugas pemandu wisata. Kepada setiap pengunjung terutama yang dewasa, baik wisatawan domestik maupun asing, Kornelis tak sungkan mempromosikan khasiat batu penis raksasa ini.  "Kalau pengunjung  punya niat yang kuat, mereka akan kembali lagi.

Mengorek batu penis dan mengambil air dari stalaktit. Saya yakin dengan publikasi ini akan menarik perhatian orang yang punya niat khusus untuk mencobanya. Silahkan datang, dengan senang hati saya memandu," demikian  Kornelis. (eugenius mo'a)

Sumber: Pos Kupang 10 Mei 2015 halaman 5

Cerita dari Lamalera


Kompas/Samuel Oktora-- Sejumlah bocah laki-laki asyik bermain di badan seekor paus sperma (Physeter macrocephalus) sepanjang sekitar 10 meter yang berhasil ditangkap secara tradisional di kawasan kampung nelayan Lamalera, Kecamatan Wulandoni, Kabupaten Lembata, NTT, Minggu (23/5/2010).

Catatan Kaki Jodhi Yudono

Pada sebuah senja di akhir bulan maret tahun ini, saya  berkenalan dengan seorang lelaki asal Lembata. Namanya Antony Lebuan, Kepala Bidang Pariwisata di Kabupaten Lembata, NTT.

Tony Lembata, begitu ayah dua anak ini minta dipanggil. Sudah sehari semalam dia berada di Jakarta untuk mengawal pameran foto yang mengeksplorasi keindahan Lembata di Balairung Soesilo Soedarman, Gedung Sapta Pesona Kementerian Pariwisata, Jakarta, dengan judul "Cinta Lembata, Pesona Indonesia" yang digelar 27 Maret hingga 2 April 2015.

Acara ini diselenggarakan oleh Komunitas Pencinta Indonesia Timur (Kopit) dan didukung oleh Kementerian Pariwisata dan Pemerintah Daerah Tingkat II Kabupaten Lembata, Nusa Tenggara Timur.

Sebelum terlibat dalam obrolan yang hangat, sempat juga saya menikmati foto-foto yang dipajang, hasil jepretan para fotografer peserta Festival Adventure Indonesia (FAI) yang mencintai keindahan alam dan budaya Lembata yang mengambil lokasi di Kampung Adat Lamagute, Kampung Adat Ile Lewotolok, Kampung Adat Jontona, Teluk Jontona, Kampung Lamalera, Bukit Cinta/Wolorpass, Pantai Wiajarang, dan Kota Lewoleba.

Bicara tentang Lembata adalah juga bicara tentang perburuan ikan paus. Sebab itulah saya membuka percakapan dengan Tony perihal perburuan ikan raksasa itu.

Tony pun lantas bercerita mengenai tradisi perburuan yang sudah berlangsung ratusan tahun. Tony bilang, musim perburuan ikan paus di Desa Lamalera, Kabupaten Lembata, Nusa Tenggara Timur, berlangsung pada Mei hingga Oktober.

Tidak seperti yang dilakukan oleh nelayan-nelayan modern Jepang yang memburu kawanan ikan paus dengan kapal-kapal besar dan canggih, nelayan Lamalera hanya menggunakan peledang, yakni perahu kayu tradisional sebagai sarana perburuan, serta sosok lamafa yang memiliki tugas menikam ikan paus menggunakan sebilah tempuling atau tombak.

Untuk mendapatkan paus, ungkap Tony, nelayan di Lamalera tidak langsung terjun ke laut dan mencari hingga ke tengah samudera Laut Sawu. Mereka tetap beraktivitas di darat, sambil sewaktu-waktu melihat ke lautan. Siapa pun yang melihat paus akan meneriakkan baleo, kemudian disambung bersahut-sahutan memenuhi isi desa.

Nelayan di Lamalera selalu mengincar paus sperma atau koteklema yang memiliki semburan tepat di atas kening. Nelayan Lamalera tidak memburu paus biru atau kelaru yang memiliki semburan tepat di atas kepala mereka. ”Kami tidak memburu kelaru karena itu perintah nenek moyang,” kata Tony.

Selain koteklema, nelayan Lamalera juga memburu orca atau paus pembunuh. Dalam istilah Lamalera, paus pembunuh disebut dengan seguni. ”Tapi, seguni jarang lewat ke sini. Biasanya satu kali setahun atau tidak sama sekali. Seguni juga ganas karena berontak lebih dahsyat,” ujar Tony.

Tantangan seorang lamafa saat menaklukkan paus terjadi ketika akan menghunjamkan tombak. Untuk koteklema, tombak dihunjamkan tepat di belakang kepala karena di situlah bagian yang lunak. Sebaliknya, memburu seguni lebih sulit karena para nelayan Lamalera mengincar bagian ketiaknya agar tempuling bisa menusuk langsung ke jantung paus pembunuh itu.

”Kalau sudah kena tikam, pasti perahu diseret bisa masuk ke dalam,” kata Tony.

Tikaman pertama merupakan peristiwa yang amat krusial. Nyawa lamafa dan awak perahu menjadi taruhan. Sebab, satu sabetan ekor paus bisa seketika menghancurkan perahu nelayan. Para nelayan harus menunggu sampai paus itu lemas. Biasanya paus akan lemas setelah 45–50 menit. Darah akan menggenangi laut dan paus akan kembali ke permukaan.

Saat itu paus akan didekati dan awak perahu terjun ke laut untuk melakukan tikaman dengan pisau. Jika perlu, tikaman bisa dilakukan hingga berkali-kali. Tujuannya, memastikan paus itu mati saat dibawa ke darat.

Selain perburuannya yag menegangkan, pembagian daging paus hasil buruan juga merupakan pemandangan yang menarik. Pembagian daging paus merupakan tradisi turun-temurun yang ditaati oleh semua orang Lamalera,  sehingga dipastikan tidak ada rebutan saat daging itu dipotong. Intinya, pihak yang memiliki keterkaitan dengan Desa Lamalera, dengan perahu yang mendapatkan paus, akan mendapatkan haknya.

”Masing-masing sudah tahu hak dan pembagiannya,” ujar Tony. Pola pembagian ini memang dikhususkan untuk ikan-ikan yang berukuran besar.

Untuk mereka yang berburu di laut, sudah ada aturan pembagiannya. Selain peledang, ada juga perahu perahu dengan motor yang mengikuti perburuan. Jika di peledang ada sembilan awak perahu dan di perahu motor ada dua awak, mereka semua mendapatkan haknya.

Para awak perahu mendapatkan bagian paus yang diistilahkan dengan meng. Untuk meng ini, banyak bagian yang bisa dipotong dan dibagi-bagikan ke awak perahu.

Bagian sirip kanan dan kiri, masing-masing untuk rumah adat dan lamafa. Bagian kepala diberikan kepada lango fujo atau suku tuan tanah. Ekor dibagi menjadi banyak bagian karena di sana terdapat hak lamafa, laba ketilo, matros, lamauri. Para janda juga mendapatkan hak daging paus. ”Mama janda pasti mendapatkan hak karena mereka biasanya kasih jagung atau kasih rokok," ungkap Tony.

Perihal perburuan pada satwa yang dilindungi itu, mantan Menteri Lingkungan Hidup Sonny Keraf mengatakan saat jumpa pers Festival Adventure Indonesia 2014 di Jakarta, "Kegiatan perburuan paus dilakukan untuk seluruh rakyat Lembata, bukan secara individual. Kita tidak mengabaikan lingkungan hidup, tapi budaya juga perlu dikembangkan."

Perburuan paus di Desa Lamalera, Lembata, merupakan bagian budaya turun temurun dan dilakukan secara tradisional. Walaupun menuai kritik dari para pemerhati lingkungan, namun budaya ini sah di mata internasional. Perburuan paus tradisional sudah diakui dunia internasional, hanya ada di Kanada dan Indonesia saja.

"Dalam perburuan paus ini, ada seluruh rangkaian budaya dan dimensi sosialitas rakyat Lembata. Menghilangkan budaya ini, sama dengan membunuh seluruh rakyat Lembata," ujar Sonny Keraf.

Menurut Tony, ritual perburuan paus ini memiliki nilai religius di setiap aspeknya. Mulai dari persiapan, pembuatan kapal, pengangkatan layar, sampai pelemparan tombak, semuanya mengucap doa terlebih dahulu.

Menjelang perburuan, diadakan upacara adat sekaligus misa untuk memohon berkah dari sang leluhur serta mengenang para Arwah nenek moyang mereka yang gugur di medan Bahari bergelut dengan sang paus. Upacara dan Misa atau biasa disebut lefa dilaksanakan setiap tanggal 1 Mei.

Begitulah, Lamalera memang tidak bisa dipisahkan dari laut dan paus. Alam rupanya juga senantiasa berpihak kepada masyarakat Lamalera dengan mengantarkan paus ke lautan di hadapan tanah air mereka. Sebab setiap tahun, ikan-ikan paus itu bermigrasi antara Samudera Hindia dan Pasifik selama bulan Mei sampai Oktober. Ketika hewan-hewan laut raksasa melewati laut Sawu tepat di depan pintu pulau Lembata itulah, perburuan ikan paus pun dimulai.

Baleo! Baleo!....

Sumber: Kompas.Com
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Best WordPress Themes