Kelimutu Berubah Warna Lebih dari 10 Kali

Danau Tri Warna Kelimutu, Ende-Flores
ENDE, PK – Dalam kurun waktu 25 tahun terakhir, tiga danau berbeda warna di puncak Gunung Kelimutu, Kabupaten Ende sudah berubah lebih dari sepuluh kali. Perubahan warna tersebut selalu diawali dengan aktivitas vulkanis di gunung api aktif tersebut.

Kepada Pos Kupang di Ende, Jumat (16/12/2011), Kepala Balai Taman Nasional Kelimutu, Sri Mulyani menjelaskan, pihaknya masih mengumpulkan data lebih detail tentang perubahan warna ketiga danau tersebut untuk banyak kepentingan di masa datang. “Namun, dalam dua puluh lima tahun terakhir sudah terjadi perubahan lebih dari sepuluh kali,” katanya.

Perubahan terbaru terjadi tanggal 26 November 2011. Warna air danau yang berada di tengah yaitu danau Tiwu Koo Fai Nuwa Muri berubah dari hijau terang ke warna biru. Perubahan itu terdeteksi tanggal 26 November 2011 pukul 05.00 Wita.

Sebelum terjadi perubahan warna di Danau Tiwu Koo Fai Nuwa Muri, kata Sri Mulyani, pada malam tanggal 25 November 2011 terjadi getaran-getaran kecil yang tercatat di seismograf Pos Pengamatan Gunung Api. Menurut Muliany, aktivitas vulkanis di Kelimutu biasanya berdampak pada perubahan warna danau. Perubahan warna tidak bisa diprediksi atau tidak tetap jangka waktunya.

Menurut catatan Pos Kupang, pada bulan Desember 2008, perubahan warna terjadi pada danau Tiwu Ata Polo. Warna danau itu berubah dari warna cokelat kehitaman menjadi hijau tua. Perubahan berikutnya terjadi bulan Oktober 2009 yang menimpa danau Tiwu Ata Mbupu yang sebelumnya hijau kehitaman berubah menjadi hijau muda. Dengan demikian pada bulan Oktober 2009 itu kedua danau berwarna sama yaitu hijau.

Sejak diteliti oleh B.C.Ch.M.M van Suchtelen tahun 1915, warna air danau Tiwu Ata Mbupu memang sama dengan danau Tiwu Nuwa Muri Koo Fai yang dominan hijau. Perubahan warna Tiwu Ata Mbupu dari hijau kehitaman ke hijau muda itu berlangsung tanggal 5 Oktober 2009.

Warna air danau Kelimutu pernah diteliti tim Pusat Penelitian Geoteknologi Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia tahun 2007 ketika warna danau Tiwu Ata Polo masih cokelat kehitaman, danau Tiwu Koo Fai Nuwa Muri berwarna hijau muda dan Tiwu Ata Mbupu berwarna hijau lumut.

Namun, sampai sekarang belum ada penjelasan ilmiah lebih rinci tentang perubahan warna tersebut. Pada tahun 1970-an, ketiga danau tersebut berwarna merah, biru dan putih. Menurut kepercayaan penduduk setempat, warna-warna pada ketiga danau Kelimutu memiliki arti masing-masing dan memiliki kekuatan tertentu.

Luas ketiga danau itu sekitar 1.051.000 meter persegi dengan volume air 1.292 juta meter kubik. Batas antara danau adalah dinding batu sempit yang mudah longsor. Dinding sangat terjal dengan sudut kemiringan 70 derajat. Ketinggian dinding danau berkisar antara 50 sampai 150 meter. Pemerintah Indonesia menetapkan Kelimutu sebagai Kawasan Konservasi Alam Nasional sejak 26 Februari 1992. (oma/osi)

Pos Kupang, 17 Desember 2011 halaman 1

Warna Danau Kelimutu Berubah Lagi

Tiwu Koo Fai Nuwa Muri 22 Oktober 2011
ENDE, PK – Untuk kesekian kalinya warna air danau Tri Warna Kelimutu di Kecamatan Kelimutu, Kabupaten Ende mengalami perubahan. Danau Koo Fai Nuwa Muri yang berada di tengah berubah warna dari hijau terang ke warna biru. Sementara dua danau lainnya tidak mengalami perubahan warna.

Kepada Pos Kupang di Ende, Kamis (15/12/2011), Kepala Kantor Balai Taman Nasional Kelimutu (TNK), Sri Mulyani menjelaskan, perubahan warna air danau Tiwu Koo Fai Nuwa Muri itu baru terdeteksi tanggal 26 November 2011 pukul 05.00 Wita.

"Kalau dua danau lainnya,yaitu Tiwu Ata Polo (warna hijau kelam) dan Tiwu Mbupu (berwana hitam) tidak mengalami perubahan warna saat ini. Sebelumnya kedua danau tersebut lebih sering ganti warna, ada yang dari putih ke coklat atau ke warna merah bata," kata Mulyani.

Sebelum terjadi perubahan warna di Danau Tiwu Koo Fai Nuwa Muri, kata Mulyanti, malam tanggal 25 Novembe 2011 terjadi getaran-getaran kecil yang tercatat di seismograf Pos Pengamatan Gunung Api. Menurut Mulyanti, aktivitas vulkanis di Gunung Kelimutu biasanya berdampak pada perubahan warna danau. Perubahan warna tersebut, jelas Mulyani, tidak bisa diprediksi atau tidak tetap jangka waktunya.

Ia mengatakan,tidak ada kerusakan ekologi maupun habitat di hutan Kelimutu menyusul adanya getaran pada 25 November 2011. Namun, getaran itu tingkat kelabilan tanah di sekitar danau. "Informasinya, dulu di punggung bukit danau antara warna hijau muda dan hijau terang dapat dilalui manusia. Tetapi sekarang ini tanah tersebut sering jatuh akibat getaran, akhirnya punggung itu menjadi sempit atau tidak dapat dilintasi manusia lagi," kata Mulyani.

Mulyanti mengingatkan, Kelimutu merupakan gunung api yang masih aktif, sehingga wisatawan yang berkunjung ke obyek wisata tersebut harus tetap waspadai. "Kita harus hati-hati karena pengalaman seperti gunung Bromo dan Merapi yang juga berada dalam kawasan taman nasional," ujarnya.

Terkait kewaspadaan tersebut, lanjut Mulyani, belum lama ini pihaknya menggelar seminar tentang mitigasi bencana geologi yang diikuti aparat dari 24 desa dan 5 camat di Kabupaten Ende. Mereka merupakan aparat pemerintah yang wilayahnya berada di sekitar Gunung Kelimutu yakni Kecamatan Detusoko, Wolojita, Kelimutu, Ndona, dan Ndona Timur.

Kegiatan lain yang dilakukan, kata Mulyani, yaitu sosialisasi mengenai kegunungapian terkait dengan bencana gunung api kepada masyarakat serta kegiatan pengamanan dan pemberdayaan. (oma)

Pos Kupang 16 Desember 2011, halaman 1

RSUD Johannes Kupang dan Ketidakadilan Itu

ilustrasi
BARANGKALI sudah membosankan membahas tentang Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Prof. Dr. WZ Johannes Kupang. Bosan sebab lebih kerap kita mendengar warta pilu ketimbang sukacita. Lebih sering kisruh daripada senyum. Pasien berontak karena pelayanan tidak memuaskan atau paramedis mogok kerja karena hak mereka tidak terpenuhi tepat waktu sudah lumrah. Ini sekadar contoh soal yang menempatkan rumah sakit terbesar di propinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) tersebut selalu menjadi berita hangat media massa.

Mumpung kita segera memasuki tahun anggaran baru 2012 dan terutama menjelang Hari Ulang Tahun ke-53 Propinsi NTT 20 Desember 2011, mari kita bicara tentang ketidakadilan. RSUD Prof Dr. WZ Johannes adalah gambaran nyata selama bertahun-tahun tentang ketidakadilan itu. Pemimpin tertinggi pemerintahan propinsi serta wakil rakyat NTT bukan tidak tahu. Mereka tahu ada ketidakadilan tetapi mereka memilih diam

Ketidakadilan pertama menyangkut alokasi dana APBD Propinsi NTT untuk bidang kesehatan. Saban tahun anggaran, kurang lebih 70 persen dari total dana untuk bidang kesehatan dialokasikan untuk RSUD Prof. Dr. WZ Johannes Kupang. Sementara 90 persen layanan rumah sakit milik pemerintah Propinsi NTT tersebut hanya dinikmati warga Kota Kupang dan sekitarnya.

Kota Kupang jelas bukan representasi NTT yang menurut hasil Sensus Penduduk tahun 2010 total populasinya 4,7 juta jiwa, tersebar di 21 kabupaten dan kota. Mereka bermukim di Flores hingga Rote Ndao, dari Pantar hingga Komodo, Alor sampai Sumba. Enak betul warga Kota Kupang dan sebagian Kabupaten Kupang. Selama puluhan tahun Anda menikmati layanan rumah sakit yang dibiayai oleh pajak seluruh rakyat NTT. Apakah ini adil?

Hari Rabu 7 Desember 2011, kita mendengar kabar baru dari Ketua Komisi C DPRD NTT, Stanis Tefa. Menurut Stanis, dalam tahun anggaran 2012, RSUD Johannes Kupang akan mendapat subsisi dana dari pemerintah propinsi sebesar Rp 113 miliar. Tidak mengejutkan. Sudah tradisi tahunan kok. Untuk pengelola rumah sakit di daerah tidak perlu berandai-andai, misalnya dana Rp 113 miliar itu disubsidi untuk RSUD TC Hillers Maumere atau RSUD Sumba Barat yang juga butuh dana guna memperbaiki pelayanan kepada rakyat.

Ketidakadilan kedua adalah kisah berikut. Daerah kaya seperti DKI Jakarta, Sumatera Utara, Jawa Timur dan Bali, rumah sakit milik pemerintah propinsi mereka serahkan kepada pemerintah pusat sehingga biaya operasional setiap tahun ditekel Kementerian Kesehatan RI lewat APBN. Manfaatnya luar biasa besar. Selain masyarakat mendapat layanan lebih baik karena fasilitasnya memadai, keberadaan rumah sakit tidak lagi menyedot dana APBD saban tahun. Kalaupun ada, persentasenya sangat kecil sehingga alokasi dana kesehatan dialihkan untuk membenahi bidang lain yang lebih urgen.

Bagaimana dengan NTT? Usul agar RSUD Prof. Dr. WZ Johannes Kupang diserahkan kepada pemerintah pusat sudah berkali-kali disuarakan. Paling akhir kerinduan itu disuarakan Darius Beda Daton dari Ombudsman Propinsi NTT saat kegiatan sosialisasi penghitungan unit cost dan tarif RSUD Johannes Kupang di aula El Tari Kupang, Kamis (24/11/2011). Entah mengapa, suara-suara itu selalu mentok di tengah jalan. Belum pernah dieksekusi mereka yang berwenang. DPRD NTT pun menganggap hal ini biasa saja.

Pernyataan Sekretaris Jenderal (Sekjen) Kementerian Kesehatan RI, dr. Ratna Rosita, MPH di Kupang 2 Desember 2011 mungkin semakin meninabobokan kita. Menurut Rosita, rumah sakit berada di bawah Kementerian Kesehatan harus dengan pengakuan bahwa pemerintah daerah tidak sanggup mengelola. Karena itu tidak dianjurkan menjadikan RSUD Kupang sebagai RSU vertikal karena RSU tersebut merupakan kebanggaan pemerintah daerah NTT.

Rosita tidak salah. Dia harus bicara begitu sebab kalau RSUD Johannes menjadi RSU vertikal berarti memindahkan beban anggaran pada Kementerian Kesehatan RI. Beban APBN. Maka Rosita memilih diksi kebanggaan daerah agar kita makin bangga. Soalnya di mana keadilan? Mengapa rumah sakit Jakarta, Denpasar, Semarang yang kaya raya dibiayai APBN? Sementara Kupang (NTT) yang miskin tidak boleh?

Mudah-mudahan pemerintah daerah ini yang getol bicara tentang spirit pro rakyat melihat ketidakadilan itu dan berani melakukan sesuatu. Semoga para wakil rakyat NTT yang setiap kali kampanye pemilu bicara tentang kesejahteraan rakyat sampai mulut berbusa mulai tahu diri. Finansial daerah kita memang tidak mampu kok? Mengapa malu mengakuinya? *

Pos Kupang, Senin 12 Desember 2011 hal 4

Socrates

Socrates
Socrates Brasileiro Sampaio de Souza Vieira de Oliveira. Nama panggungnya Socrates, lahir pada 19 Februari 1954 di Belem do Para, Brasil. Punya sederet predikat jempolan, sebagai mantan kapten tim nasional Brasil, sebagai gelandang handal, dan sebagai aktivis laga politik. Oke!

Aneka predikat itu seakan turut merayakan Brasil sebagai "negara sepak bola" (o pais do futebol). Sampai-sampai ajang pemilihan umum di negeri itu kerapkali disekrup dengan penyelenggaraan Piala Dunia FIFA. Wah.

Sehebat apapun politik merayu sepakbola, sekuat apapun politik meracuni sepakbola, akhirnya sang Maestro menyerah kalah kepada jawaban atas pertanyaan, bahwa keberadaan manusia menuju kepada kematian (Sein-zum-Tode), meminjam istilah filsuf Heidegger.

Dapat dibaca bahwa keberadaan manusia bukan menuju kepada politik, tetapi kepada sukacita sepakbola. Buktinya? Dan Socrates menggenapi keniscayaan itu.

Ia meninggal dunia karena menderita infeksi usus, Minggu (4/12/2011), kata juru bicara Rumah Sakit Albert Einsten, Sao Paulo, Brasil. Socrates meninggal di usia 57 tahun. Ia mengeja alfabet laga kehidupan bahwa setiap orang mendapati dirinya dalam kondisi sama bahwa setiap manusia "terkutuk" untuk mati.

Disebut-sebut sebagai pesepakbola yang berusaha memahami siapa sebenarnya manusia, Socrates punya asa menggenapi sepak terjang filsuf Yunani Socrates. Tidak kebetulan punya nama sama, keduanya menonjolkan syahwat laga politik.

Socrates yang pesepakbola, turut ambil bagian dalam arus perjuangan politik demokrasi bagi warga Corinthian di pertengahan tahun 1980-an untuk menentang bercokolnya rezim militer di Brasil. Ia disandera oleh bara revolusi yang dikobarkan oleh sosok fenomenal di laga sosialisme Kuba pada tahun 1950-an, Fidel Castro dan Che Guevara.

Socrates yang filsuf, menurut staf pengajar STF Drijarkara, Simon Petrus L. Tjahjadi, berpendapat bahwa tugas negara adalah memajukan kesejahteraan warganya dan membuat jiwa mereka aman sentosa. Akibatnya, penguasa negara dituntut memiliki pengertian mengenai "yang baik". Socrates tidak menyetujui sistem pemerintahan demokratis yang berlaku di Athena.

Waktu itu, para elite politik di Athena dipilih berdasarkan mayoritas suara dalam suatu undian, padahal mereka tentu mempunyai pengertian tentang yang baik. "Kalau kita mempercayakan kesehatan kita hanya kepada seorang ahli dalam itu, yaitu seorang dokter, mengapa kita mempercayakan urusan negara kepada seseorang yang tidak mempunyai pengetahuan dan pengenalan mengenai 'yang baik'," kata Socrates.

Dipandu oleh Castro dan Guevara, pesepakbola Socrates menyatakan kepada wartawan BBC, "Rakyat memberi aku daya kekuasaan sebagai pemain sepak bola tersohor." "Jika rakyat tidak memiliki hak bersuara, maka saya berkewajiban mewakil dan menyuarakan mereka. Jika saja saya berseberangan dengan mereka, maka tidak ada seorang pun yang bakal mendengar pendapat saya," katanya.

Dalam Apologia atau pembelaan Socrates, sang filsuf mengingatkan kepada warga Athena agar sekuat tenaga mengupayakan tercapainya "jiwa yang baik" (eudaimonia) atau kebahagiaan. Caranya? "Dengan memiliki keutamaan pengetahuan akan yang baik. Kalau kita mengetahui yang 'yang baik', kita tentunya akan melakukan yang baik pula," kata Socrates mengungkapkan.

Nah, bagi Socrates asal Brasil, hal 'yang baik' dalam sepakbola yakni dapat mengetahui dan memahami siapa sebenarnya manusia. "Saya mendapati bahwa sepakbola memberi kesempatan kepada saya untuk bersua dan berbela rasa dengan mereka yang miskin dan terlantar di masyarakat. Saya dapat menyaksikan mereka yang berkelimpahan harta dengan mereka yang serba kekurangan," katanya.

Socrates asal Yunani mengajarkan kepada Socrates asal Brasil bahwa upaya mencari dan menemukan "yang baik" dalam kehidupan politik terpulang kepada penalaran atau argumentasi (ho logos). Jika kesalehan atau ketaatan tidak dikendalikan oleh nalar, maka kesalehan dan ketaatan dapat dengan mudah tergelincir menjadi "kebengisan yang saleh". Weleh...weleh.

Sang filsuf sampai-sampai menolak bujukan sahabatnya Krito agar Socrates segera melarikan diri untuk meluputkan diri dari hukuman mati kemudian bergegas lari ke pembuangan. Sebaliknya, Socrates si pesepakbola justru menghambakan diri kepada bujuk rayu alkohol. Dua sisi dari satu mata uang.

Socrates, yang menjadi kapten Brazil pada Piala Dunia 1982 dan dikenal sebagai pemain Brazil terhebat yang tidak pernah menjuarai Piala Dunia, telah dirawat di rumah sakit sebanyak dua kali pada Agustus dan September tahun 2011 ini. Ia mengalami pendarahan pada sistem pencernaannya, yang disebabkan oleh masalahnya dengan alkohol, khususnya ketika ia masih aktif sebagai pesepakbola.

Dalam sebuah wawancara televisi terakhirnya, Socrates mengatakan, baginya alkohol merupakan ’teman’. "Alkohol tidak mempengaruhi karierku, di sisi lain hal itu disebabkan (karena) saya tidak pernah membangun fisik untuk permainan ini," tuturnya saat itu.

Kalau Socrates mencari "yang baik" dalam sepakbola yang dialiri dengan alkohol, maka ia diganjar dengan keterasingan diri (alienasi).

Sosialisme yang dieluk-elukan oleh Socrates mengajarkan bahwa kematian mengajarkan bahwa makna hidup tidak terletak dalam "memiliki". Kematian menghapus segala milik pribadi. Kematian mengajarkan bahwa setiap manusia lahir dan besar sebagai sesama manusia.

Barcelona, 5 Juli 1982, Italia menundukkan Brasil 3-2. Socrates bersama dengan Zico, Serginho dan Eder mengalami kekalahan menyesakkan akibat kepongahan dan kepercayaan diri berlebihan akan politik pencitraan diri bahwa Brasil adalah "negara sepakbola" (o pais do futebol).

Socrates boleh jadi keblinger dengan politik pencitraan diri bahwa Brasil berkarakter menyerang, sementara Italia berkarakter bertahan. Socrates terbuai dengan kenangan sejarah yang meninabobokan bahwa Brasil telah melibas Italia pada final Piala Dunia 1970 di Mexico City dengan skor 4-1. Waktu itu Brasil diperkuat Pele, Jairzinho, Tostao, Rivelino.

Jika sepakbola diracuni politik, maka tuahnya kematian. Dari liang lahat, Socrates berpesan, "Pep (Pep Guardiola, pelatih Barcelona) latihlah timnas Brasil. Ia memiliki keberanian. Siapa yang bermain di pertahanan Barcelona? Mereka tidak butuh defender." Brasil menjemput ajal dengan kehilangan gaya pemainan khasnya, yakni Jogo Bonito, kombinasi antara "yang baik" dan "yang indah". (A.A Ariwibowo/ANTARA)

Sumber: http://www.antaranews.com/berita/287863/socrates-bila-politik-meracuni-sepak-bola

Los Felidas

ilustrasi
Los Felidas adalah nama sebuah jalan di ibu kota sebuah negara di Amerika Selatan, yang terletak di kawasan terkumuh di seluruh kota. Ada sebuah kisah yang menyebabkan jalan itu begitu dikenang orang, dan itu dimulai dari kisah seorang pengemis wanita yang juga ibu seorang gadis kecil.

Tidak seorangpun yang tahu nama aslinya, tapi beberapa orang tahu sedikit masa lalunya, yaitu bahwa ia bukan penduduk asli disitu, melainkan dibawa oleh suaminya dari kampung halamannya. Seperti kebanyakan kota besar di dunia ini, kehidupan masyarakat kota terlalu berat untuk mereka, belum setahun mereka di kota itu, mereka kehabisan seluruh uangnya, dan pada suatu pagi mereka sadar bahwa mereka tidak tahu dimana mereka tidur malam nanti dan tidak sepeserpun uang ada di kantong. Padahal mereka sedang menggendong bayi mereka yang berumur 1 tahun.

Dalam keadaan panik dan putus asa, mereka berjalan dari satu jalan ke jalan lainnya, dan akhirnya tiba di sebuah jalan sepi dimana puing-puing sebuah toko seperti memberi mereka sedikit tempat untuk berteduh. Saat itu angin Desember bertiup kencang, membawa titik-titik air yang dingin. Ketika mereka beristirahat di bawah atap toko itu, sang suami berkata: "Saya harus meninggalkan kalian sekarang. Saya harus mendapatkan pekerjaan, apapun, kalau tidak malam nanti kita akan tidur disini."
Setelah mencium bayinya ia pergi. Dan ia tidak pernah kembali. Tak seorangpun yang tahu pasti kemana pria itu pergi, tapi beberapa orang seperti melihatnya menumpang kapal yang menuju ke Afrika. Selama beberapa hari berikutnya sang ibu yang malang terus menunggu kedatangan suaminya, dan bila malam tidur di emperan toko itu. Pada hari ketiga, ketika mereka sudah kehabisan susu,orang-orang yang lewat mulai memberi mereka uang kecil, dan jadilah mereka pengemis di sana selama 6 bulan berikutnya.

Pada suatu hari, tergerak oleh semangat untuk mendapatkan kehidupan yang lebih baik, ibu itu bangkit dan memutuskan untuk bekerja. Masalahnya adalah dimana ia harus menitipkan anaknya, yang kini sudah hampir 2 tahun, dan tampak amat cantik jelita. Tampaknya tidak ada jalan lain kecuali meninggalkan anak itu disitu dan berharap agar nasib tidak memperburuk keadaan mereka. Suatu pagi ia berpesan pada anak gadisnya, agar ia tidak kemana-mana, tidak ikut siapapun yang mengajaknya pergi atau menawarkan gula-gula.

Pendek kata, gadis kecil itu tidak boleh berhubungan dengan siapapun selama ibunya tidak di tempat. "Dalam beberapa hari mama akan mendapatkan cukup uang untuk menyewa kamar kecil yang berpintu, dan kita tidak lagi tidur dengan angin di rambut kita". Gadis itu mematuhi pesan ibunya dengan penuh kesungguhan. Maka sang ibu mengatur kotak kardus dimana mereka tinggal selama 7 bulan agar tampak kosong, dan membaringkan anaknya dengan hati-hati di dalamnya. Di sebelahnya ia meletakkan sepotong roti. Kemudian, dengan mata basah ibu itu menuju ke pabrik sepatu, di mana ia bekerja sebagai pemotong kulit.

Begitulah kehidupan mereka selama beberapa hari, hingga di kantong sang Ibu kini terdapat cukup uang untuk menyewa sebuah kamar berpintu di daerah kumuh. Dengan suka cita ia menuju ke penginapan orang-orang miskin itu, dan membayar uang muka sewa kamarnya. Tapi siang itu juga sepasang suami istri pengemis yang moralnya amat rendah menculik gadis cilik itu dengan paksa, dan membawanya sejauh 300 kilometer ke pusat kota.

Di situ mereka mendandani gadis cilik itu dengan baju baru, membedaki wajahnya, menyisir rambutnya dan membawanya ke sebuah rumah mewah di pusat kota . Di situ gadis cilik itu dijual. Pembelinya adalah pasangan suami istri dokter yang kaya, yang tidak pernah bisa punya anak sendiri walaupun mereka telah menikah selama 18 tahun. Mereka memberi nama anak gadis itu Serrafona, dan mereka memanjakannya.

Di tengah-tengah kemewahan istana itulah gadis kecil itu tumbuh dewasa. Ia belajar kebiasaan-kebiasaan orang terpelajar seperti merangkai bunga, menulis puisi dan bermain piano.Ia bergabung dengan kalangan-kalangan kelas atas, dan mengendarai Mercedes Benz kemanapun ia pergi. Satu hal yang baru terjadi menyusul hal lainnya,dan bumi terus berputar tanpa kenal istirahat. Pada umurnya yang ke-24, Serrafona dikenal sebagai anak gadis Gubernur yang amat jelita, yang pandai bermain piano, yang aktif di gereja, dan yang sedang menyelesaikan gelar dokternya.

Ia adalah figur gadis yang menjadi impian tiap pemuda, tapi cintanya direbut oleh seorang dokter muda yang welas asih, yang bernama Geraldo. Setahun setelah perkimpoian mereka, ayahnya wafat, dan Serrafona beserta suaminya mewarisi beberapa perusahaan dan sebuah real-estate sebesar 14 hektar yang diisi dengan taman bunga dan istana yang paling megah di kota itu.

Menjelang hari ulang tahunnya yang ke-27, sesuatu terjadi yang mengubah kehidupan wanita itu. Pagi itu Serrafona sedang membersihkan kamar mendiang ayahnya yang sudah tidak pernah dipakai lagi dan di laci meja kerja ayahnya ia melihat selembar foto seorang anak bayi yang digendong sepasang suami istri.

Selimut yang dipakai untuk menggendong bayi itu lusuh, dan bayi itu sendiri tampak tidak terurus, karena walaupun wajahnya dilapisi bedak tetapi rambutnya tetap kusam. Sesuatu di telinga kiri bayi itu membuat jantungnya berdegup kencang. Ia mengambil kaca pembesar dan mengkonsentrasikan pandangannya pada telinga kiri itu. Kemudian ia membuka lemarinya sendiri, dan mengeluarkan sebuah kotak kayu mahoni.

Di dalam kotak yang berukiran indah itu dia menyimpan seluruh barang-barang pribadinya, dari kalung-kalung berlian hingga surat-surat pribadi. Tapi di antara benda-benda mewah itu terdapat sesuatu terbungkus kapas kecil, sebentuk anting-anting melingkar yang amat sederhana, ringan dan bukan emas murni.

Ibunya almarhumah memberinya benda itu sambil berpesan untuk tidak kehilangan benda itu. Ia sempat bertanya, kalau itu anting-anting, di mana satunya. Ibunya menjawab bahwa hanya itu yang ia punya. Serrafona menaruh anting-anting itu didekat foto. Sekali lagi ia mengerahkan seluruh kemampuan melihatnya dan perlahan-lahan air matanya berlinang.
Kini tak ada keragu-raguan lagi bahwa bayi itu adalah dirinya sendiri. Tapi kedua pria wanita yang menggendongnya, yang tersenyum dibuat-buat, belum penah dilihatnya sama sekali. Foto itu seolah membuka pintu lebar-lebar pada ruangan yang selama ini mengungkungi pertanyaan-pertanya annya, misalnya: kenapa bentuk wajahnya berbeda dengan wajah kedua orang tuanya, kenapa ia tidak menuruni golongan darah ayahnya.
Saat itulah, sepotong ingatan yang sudah seperempat abad terpendam, berkilat di benaknya, bayangan seorang wanita membelai kepalanya dan mendekapnya di dada. Di ruangan itu mendadak Serrafona merasakan betapa dinginnya sekelilingnya tetapi ia juga merasa betapa hangatnya kasih sayang dan rasa aman yang dipancarkan dari dada wanita itu.

Ia seolah merasakan dan mendengar lewat dekapan itu bahwa daripada berpisah lebih baik mereka mati bersama. Mata nya basah ketika ia keluar dari kamar dan menghampiri suaminya yang sedang membaca koran: "Geraldo, saya adalah anak seorang pengemis, dan mungkinkah ibu saya masih ada di jalan sekarang setelah 25 tahun?"

Itu adalah awal dari kegiatan baru mereka mencari masa lalu Serrafonna. Foto hitam-putih yang kabur itu diperbanyak puluhan ribu lembar dan disebar ke seluruh jaringan kepolisian di seluruh negeri. Sebagai anak satu-satunya dari mantan pejabat yang cukup berpengaruh di kota itu, Serrafonna mendapatkan dukungan dari seluruh kantor kearsipan, kantor surat kabar dan kantor catatan sipil.

Ia membentuk yayasan -yayasan untuk mendapatkan data dari seluruh panti-panti orang jompo dan badan-badan sosial di seluruh negeri dan mencari data tentang seorang wanita. Bulan demi bulan lewat, tapi tak ada perkembangan apapun dari usahanya. Mencari seorang wanita yang mengemis 25 tahun yang lalu di negeri dengan populasi 90 juta bukan sesuatu yang mudah. Tapi Serrafona tidak punya pikiran untuk menyerah.
Dibantu suaminya yang begitu penuh pengertian, mereka terus-menerus meningkatkan pencarian mereka. Kini, tiap kali bermobil, mereka sengaja memilih daerah-daerah kumuh, sekedar untuk lebih akrab dengan nasib baik. Terkadang ia berharap agar ibunya sudah almarhum sehingga ia tidak terlalu menanggung dosa mengabaikannya selama seperempat abad.....Tetapi ia tahu, entah bagaimana, bahwa ibunya masih ada, dan sedang menantinya sekarang.

Ia memberitahu suaminya keyakinan itu berkali-kali, dan suaminya mengangguk-angguk penuh pengertian. Pagi, siang dan sore ia berdoa: "Tuhan, ijinkan saya untuk satu permintaan terbesar dalam hidup saya: temukan saya dengan ibu saya". Tuhan mendengarkan doa itu. Suatu sore mereka menerima kabar bahwa ada seorang wanita yang mungkin bisa membantu mereka menemukan ibunya.

Tanpa membuang waktu, mereka terbang ke tempat itu, sebuah rumah kumuh di daerah lampu merah, 600 km dari kota mereka. Sekali melihat, mereka tahu bahwa wanita yang separoh buta itu, yang kini terbaring sekarat, adalah wanita di dalam foto. Dengan suara putus-putus, wanita itu mengakui bahwa ia memang pernah mencuri seorang gadis kecil di tepi jalan, sekitar 25 tahun yang lalu. Tidak banyak yang diingatnya, tapi di luar dugaan ia masih ingat kota dan bahkan potongan jalan dimana ia mengincar gadis kecil itu dan kemudian menculiknya.

Serrafona memberi anak perempuan yang menjaga wanita itu sejumlah uang, dan malam itu juga mereka mengunjungi kota dimana Serrafonna diculik. Mereka tinggal di sebuah hotel mewah dan mengerahkan orang-orang mereka untuk mencari nama jalan itu. Semalaman Serrafona tidak bisa tidur.
Untuk kesekian kalinya ia bertanya-tanya kenapa ia begitu yakin bahwa ibunya masih hidup sekarang, dan sedang menunggunya, dan ia tetap tidak tahu jawabannya. Dua hari lewat tanpa kabar. Pada hari ketiga, pukul 18:00 senja, mereka menerima telepon dari salah seorang staff mereka.
"Tuhan maha kasih, Nyonya, kalau memang Tuhan mengijinkan, kami mungkin telah menemukan ibu Nyonya. Hanya cepat sedikit, waktunya mungkin tidak banyak lagi." Mobil mereka memasuki sebuah jalanan yang sepi, di pinggiran kota yang kumuh dan banyak angin. Rumah-rumah di sepanjang jalan itu tua-tua dan kusam. Satu, dua anak kecil tanpa baju bermain-main di tepi jalan.

Dari jalanan pertama, mobil berbelok lagi ke jalanan yang lebih kecil, kemudian masih belok lagi ke jalanan berikutnya yang lebih kecil lagi. Semakin lama mereka masuk dalam lingkungan yang semakin menunjukkan kemiskinan. Tubuh Serrrafona gemetar, ia seolah bisa mendengar panggilan itu. "Lekas, Serrafonna, mama menunggumu, sayang".

Ia mulai berdoa "Tuhan, beri saya setahun untuk melayani mama. Saya akan melakukan apa saja". Ketika mobil berbelok memasuki jalan yang lebih kecil, dan ia bisa membaui kemiskinan yang amat sangat, ia berdoa: "Tuhan beri saya sebulan saja". Mobil belok lagi kejalanan yang lebih kecil, dan angin yang penuh derita bertiup, berebut masuk melewati celah jendela mobil yang terbuka. Ia mendengar lagi panggilan mamanya , dan ia mulai menangis: "Tuhan, kalau sebulan terlalu banyak, cukup beri kami seminggu untuk saling memanjakan ".

Ketika mereka masuk belokan terakhir, tubuhnya menggigil begitu hebat sehingga Geraldo memeluknya erat-erat. Jalan itu bernama Los Felidas. Panjangnya sekitar 180 meter dan hanya kekumuhan yang tampak dari sisi ke sisi, dari ujung ke ujung. Di tengah-tengah jalan itu, di depan puing-puing sebuah toko, tampak onggokan sampah dan kantong-kantong plastik, dan di tengah-tengahnya, terbaring seorang wanita tua dengan pakaian sehitam jelaga, tidak bergerak-gerak.

Mobil mereka berhenti di antara 4 mobil mewah lainnya dan 3 mobil polisi. Di belakang mereka sebuah ambulans berhenti, diikuti empat mobil rumah sakit lain. Dari kanan kiri muncul pengemis- pengemis yang segera memenuhi tempat itu. "Belum bergerak dari tadi." lapor salah seorang.
Pandangan Serrafona gelap tapi ia menguatkan dirinya untuk meraih kesadarannya dan turun. Suaminya dengan sigap sudah meloncat keluar, memburu ibu mertuanya. "Serrafona, kemari cepat! Ibumu masih hidup, tapi kau harus menguatkan hatimu ." Serrafona memandang tembok di hadapann ya, dan ingat saat ia menyandarkan kepalanya ke situ. Ia memandang lantai di kakinya dan ingat ketika ia belajar berjalan. Ia membaui bau jalanan yang busuk, tapi mengingatkannya pada masa kecilnya.

Air matanya mengalir keluar ketika ia melihat suaminya menyuntikkan sesuatu ke tangan wanita yang terbaring itu dan memberinya isyarat untuk mendekat. "Tuhan, ia meminta dengan seluruh jiwa raganya,beri kami sehari...... Tuhan, biarlah saya membiarkan mama mendekap saya dan memberitahunya bahwa selama 25 tahun ini hidup saya amat bahagia..Jadi mama tidak menyia-nyiakan saya".

Ia berlutut dan meraih kepala wanita itu ke dadanya. Wanita tua itu perlahan membuka matanya dan memandang keliling, ke arah kerumunan orang-orang berbaju mewah dan perlente, ke arah mobil-mobil yang mengkilat dan ke arah wajah penuh air mata yang tampak seperti wajahnya sendiri ketika ia masih muda. "Mama.. ..", ia mendengar suara itu, dan ia tahu bahwa apa yang ditunggunya tiap malam - antara waras dan tidak , tiap hari - antara sadar dan tidak kini menjadi kenyataan.

Ia tersenyum, dan dengan seluruh kekuatannya menarik lagi jiwanya yang akan lepas. Perlahan ia membuka genggaman tangannya, tampak sebentuk anting-anting yang sudah menghitam. Serrafona mengangguk, dan tanpa perduli sekelilingnya ia berbaring di atas jalanan itu dan merebahkan kepalanya di dada mamanya.

"Mama, saya tinggal di istana dan makan enak tiap hari. Mama jangan pergi dulu. Apapun yang mama mau bisa kita lakukan bersama-sama. Mama ingin makan, ingin tidur, ingin bertamasya, apapun bisa kita bicarakan. Mama jangan pergi dulu... Mama..." Ketika telinganya menangkap detak jantung yang melemah, ia berdoa lagi kepada Tuhan: "Tuhan maha pengasih dan pemberi, Tuhan satu jam saja, satu jam saja ". Tapi dada yang didengarnya kini sunyi, sesunyi senja dan puluhan orang yang membisu.
Hanya senyum itu, yang menandakan bahwa penantiannya selama seperempat abad tidak berakhir sia-sia.

Sahabat, mungkin saat ini kita sedang beruntung. Hidup di tengah kemewahan dan kondisi berkecukupan. Mungkin kita mendapatkannya dari hasil keringat sendiri tanpa bantuan orang tua kita. Namun yang perlu kita sadari, bahwa orang tua kita senantiasa berdoa untuk kita, meski itu hanya di peraduan.

Sumber: dari milis pertemanan

Uskup Donatus: Persembahan Termahal dari Keluarga

Enam Uskup yang Melepas Mgr. Donatus 2 Des 2011
ENDE, PK – Uskup Agung Ende, Mgr. Vincentius Sensi Potokota, Pr melukiskan Uskup Emeritus Mgr. Donatus Djagom, SVD sebagai persembahan termahal dari keluarga untuk tugas perutusan gereja. Uskup Sensi juga mengucapkan terima kasih kepada keluarga almarhum di Ranggu yang mengisi penggalan akhir masa pensiun Uskup Donatus dengan penuh kasih.

“Kepada keluarga dari Manggarai yang sempat hadir, atas nama umat Keuskupan Agung Ende saya ingin mengucapkan apresiasi dan terima kasih karena telah membersembahkan seorang Donatus, tokoh teladan dalam hal pemberian diri sampai mati. Terima kasih atas persembahan yang sangat mahal ini,” kata Uskup Sensi ketika memberi sambutan di akhir misa pemakaman Uskup Donatus di Gereja Katedral Kristus Raja-Ende, Jumat (2/12/2011).

Menurut Uskup Sensi, ketika merenung spritualitas memberi dalam diri Mgr. Donatus Djagom, maka spritualitas yang dihayati dengan setia itu adalah hasil dari proses belajar. “Uskup Donatus berasal dari keluarga di Ranggu. Benih semangat memberi diri itu sudah tertanam di sana, saya sangat yakin itu. Itu berarti peran keluarga sangat menentukan,” katanya.

Setelah pensiun sebagai uskup tahun 1996, Uskup Donatus memutuskan kembali ke tengah keluarganya di Ranggu untuk menikmati masa tua dalam suasana kekelurgaaan. “Saya sendiri menyaksikan betapa keluarga mencintainya, merangkulnya sebagai anak, saudara, sebagai bapak, sebagai tokoh teladan. Terima kasih untuk semua bentuk cinta yang Anda berikan terutama pada penggalan akhir ketika beliau menikmati usia pensiun di Ranggu,” kata Uskup Sensi.

Uskup Sensi meminta maaf seandainya ada hal-hal yang mengganjal karena ketidakmampuan memberi yang pantas selama masa pensiun Uskup Donatus di sana. “Atas nama umat Keuskupan Agung Ende saya mohon maaf pada keluarga dan terutama kepada Bapak Uskup Emeritus Donatus,” ujarnya.

Uskup Sensi pun mengucapkan terima kasih kepada Serikat Sabda Allah (SVD) yang mempersiapkan Donatus Djagom menjadi imam misionaris yang sungguh-sungguh setia pada perutusan. “Satu hal yang pantas dihargai oleh umat Keuskupan Agung Ende adalah bahwa ketika SVD mempersembahkan seorang anggotanya kepada gereja lokal lewat diri Mgr. Donatus, hadir sebuah pengabdian yang luar biasa, yang pantas diteladani. Pemberian diri yang total bagi perkembangan gereja lokal. “Sekali lagi terima kasih kepada SVD untuk persembahan yang luar biasa ini,” kata Uskup Sensi.

Menurut Uskup Sensi, Uskup Donatus dikagumi karena dia dekat dengan umat Keuskupan Agung Ende yang selama 27 tahun masa kegembalaannya terbentang luas dari Boganatar (di Kabupaten Flores Timur) sampai Aimere (Ngada). Dia mengenal umatnya dengan baik. Dia bertumbuh menjadi seorang gembala yang baik bersama dengan umat. “Beliau amat dekat, amat akrab, amat mencintai umat. Beliau sangat rajin turun bertemu umatnya di setiap stasi dan paroki,” jelasnya.

Provinsial SVD Ende, P Dr. Leo Kleden, SVD dalam sambutannya mengutip kesan Superior General SVD di Roma Pastor Antonio Pernia, SVD yang menggambarkan sosok Mgr. Donatus Djagom sebagai misionaris SVD yang cerdas, tangguh serta memiliki karakter kepemimpinan yang kuat.

Uskup Donatus, kata Pater Leo Kleden, juga berperan besar dalam dalam meletakkan dasar yang kokoh bagi gereja lokal, khususnya Keuskupan Agung Ende. Sementara Bupati Ende, Drs. Don Bosco M Wangge, M.Si saat menyampaikan sambutan mengungkapkan kenangan manis dengan Uskup Donatus saat dia menjabat Camat Detusoko.

“Kau camat lihat orang miskin di Utara Ende itu. Tolong bantu mereka agar bisa keluar dari kemiskinan dan isolasi fisik,” kata Don Wangge mengutip pesan Uskup Donatus kepadanya. Uskup Donatus, kata Don Wangge, juga merindukan hadirnya sebuah rumah sakit di Kabupaten Ende.
“Meskipun waktu itu saya katakan sudah ada rumah sakit Jopu dan rumah sakit umum Ende, beliau bilang itu belum cukup. Menurut beliau kita harus memiliki rumah sakit lebih banyak lagi untuk membantu masyarakat,” kata Bupati Don Wangge.

Enam Uskup
Misa Requiem atau Misa Pemakaman jenazah Uskup Emeritus Keuskupan Agung Ende, Mgr. Donatus Djagom, SVD di Gereja Katedral Kristus Raja-Ende, Jumat (2/12/2011), merupakan misa akbar. Enam orang uskup dan 200-an imam hadir dalam misa konselebrasi yang diikuti ribuan umat Katolik tersebut.

Uskup yang hadir dalam misa tersebut adalah Uskup Emeritus Keuskupan Atambua, Mgr. Anton Pain Ratu, SVD, Uskup Agung Kupang, Mgr. Petrus Turang, Pr, Uskup Larantuka, Mgr. Frans Kopong Kung, Pr, Uskup Maumere, Mgr. Gerulfus Kherubim Parera, SVD, Uskup Ruteng, Mgr. Hubert Leteng, Pr dan Uskup Agung Ende, Mgr. Vincentius Sensi Potokota, Pr.

Misa di Gereja Katedral Kristus Raja Ende dipimpin Uskup Agung Ende, Mgr. Vincentius Sensi Potokota, Pr. Sementara upacara pemakaman di pekuburan para klerus diosesan di Ndona dipimpin oleh Uskup Ruteng, Mgr. Hubert Leteng, Pr. Dari unsur pemerintah hadir Bupati Ende, Drs. Don Bosco M Wangge, M.Si, Wakil Bupati Ende, Drs. Achmad Mochdar, Wakil Bupati Sikka, dr. Wera Damianus dan pejabat lainnya dari kabupaten di Flores. Dari Kupang hadir Kepala Kantor Wilayah Kementerian Agama Propinsi NTT, Frans Sega.

Gubernur Nusa Tenggara Timur (NTT), Drs. Frans Lebu Raya tidak mengikuti misa pemakaman karena agas tugas lain di Kupang. Namun, Gubernur Lebu Raya sempatkan diri berdoa dan memberikan penghormatan terakhir di depan jenazah almarhum sebelum berangkat ke Kupang, Jumat (2/12/2011).

Misa yang dimulai tepat pukul 08.00 Wita baru berakhir sekitar pukul 10.30 dilanjutkan dengan acara pemberkatan oleh enam uskup dan penutupan peti jenazah. Dari depan altar Gereja Katedral, peti jenazah Uskup Donatus diusung para imam muda menuju mobil pick up di halaman gereja.
Dari situ dimulai perarakan menuju Ndona melewati Jalan Katedral, Irian Jaya, Kelimutu, Gatot Subroto, Wolowona dan Ndona. Sepanjang jalan yang dilewati umat berdiri di sisi kiri dan kanan jalan. Meskipun hujan mengguyur deras Kota Ende, mereka tak bergeming. (osi)

Meriam Bambu Bertalu-Talu


BUNYI meriam bambu bertalu-talu saat jenazah Uskup Emeritus Keuskupan Agung Ende, Mgr. Donatus Djagom, SVD dimasukkan ke dalam liang lahat di pekuburan para klerus diosesan di Ndona, Jumat (2/12/2011) siang. Suasana hening dan khusuk merebak. Hanya terdengar dentuman meriam nyaring membelah langit yang saat itu sedang menumpahkan hujan.

Sebelumnya, dentuman meriam bambu pun bertalu-talu ketika peti jenazah Uskup Donatus diusung meninggalkan altar Gereja Katedral Kristus Raja Ende. Ditingkahi denting lonceng gereja, ribuan umat Katolik mengantar Uskup Donatus Djagom menuju tempat peristirahatan terakhir di Ndona, tempat dia menggembalakan umat Keuskupan Agung Ende selama 27 tahun.
Kubur Uskup Donatus Djagom berada persis di samping kubur Uskup Mgr. Longinus da Cunha, Pr yang meninggal dunia tahun 2006 di Jakarta. Longinus adalah Uskup Agung Ende yang menggantikan posisi Uskup Donatus Djagom yang pada tahun 1996 memasuki masa pensiun.

Kini selain menjadi tempat peristirahatan terakhir dua orang uskup, pekuburan para klerus diosesan di Ndona juga telah diisi makam sejumlah imam yang telah berpulang. Kompleks pemakaman tepat berada di halaman depan Kapela Istana Keuskupan Agung Ende yang mungil. Halaman itu dipenuhi aneka bunga dan pepohonan rindang. Dari tempat itu Gunung Meja dan Iya terlihat indah di mata. (osi)

Sekolah dan Kantor di Ende Fakultatif

Pemakaman Uskup Emeritus Keuskupan Agung Ende, Mgr. Donatus Djagom, SVD, Jumat (2/11/2011), diikuti ribuan umat Katolik dan umat dari agama lainnya. Untuk menghormati Yang Mulia sekolah dan kantor dalam Kota Ende diliburkan alias fakultatif.

Tepi jalan utama dalam Kota Ende, Jumat pagi mendadak ramai. Ribuan siswa sekolah dasar hingga SLTA melakukan pagar betis sepanjang jalan yang akan dilalui rombongan pembawa jenazah Mgr Donatus dari Gereja Katedral Ende, menuju tempat pemakaman di Istana Keuskupan Ende di Ndona.

Berseragam lengkap, para siswa berdiri di sepanjang jalan sebagai bentuk penghormatan terakhir mereka kepada pemimpin umat Katolik di Keuskupan Agung Ende selama 27 tahun tersebut.

Pada pukul 07.00 Wita, kantor pemerintah dan swasta serta sekolah memang masih melaksanakan aktivitas seperti biasa. Namun mulai pukul 08.00 Wita, aktivitas tersebut dihentikan. Ada yang langsung mengikuti misa pemakaman di Gereja Katedral, namun ada juga yang hanya menunggu di tepi jalan.

"Ini aksi spontan dari kami sebagai penghormatan kepada Yang Mulia Bapak Uskup Donatus Djagom. Untuk hari ini kami disuruh oleh guru agar berdiri di tepi jalan menunggu hingga rombongan pembawa jenazah lewat," kata seorang siswa SMKN 2 yang ditemui di kompleks Mall Barata, Wolowona.
Ribuan siswa yang memadati ruas jalan nampak setia menunggu meski panas sangat menyenyat. Mereka baru lari berhamburan mencari tempat berlindung ketika hujan tiba-tiba turun di saat yang bersamaan rombongan pembawa jenazah lewat.

Fakultatifnya perkantoran membuat semua aktivitas di kantor-kantor pemerintah di Ende tidak ada. Semua kantor sudah sepi mulai pukul 09.00 Wita. (eko)

Pos Kupang, 3 Desember 2011 halaman 1

Uskup Donatus Berdampingan Dengan Uskup Longinus

Kubur Uskup Donatus
ENDE, PK – Dua uskup dimakamkan dalam posisi berdampingan di halaman kapela Istana Keuskupan Agung Ende di Ndona. Jenazah Uskup Emeritus Keuskupan Agung Ende, Mgr. Donatus Djagom, SVD akan dimakamkan di samping makam Mgr. Longinus da Cunha, Pr hari ini. Misa pemakaman di Gereja Katedral Kristus Raja-Ende, Jumat (2/12/2011) mulai pukul 08.00 Wita.

Vikjen Keuskupan Agung Ende (KAE), Rm. Cyrillus Lena, Pr, yang ditemui Pos Kupang di Sekretariat Keuskupan Agung Ende di Ndona, Kamis (1/12/2011), mengatakan usai misa akan dilanjutkan dengan prosesi perarakan peti jenazah Uskup Donatus dari Gereja Katedral Ende menuju lokasi penguburan di Ndona melalui rute, Jl. Katedral, Jl. Irian Jaya, Jl. Kelimutu, Jl. Gatot Subroto, Jl. Wolowona dan Ndona.

Rm. Cyrillus mengatakan, pihaknya sudah mengirim undangan untuk seluruh uskup di Nusa Tenggara, Bupati Ende, Bupati Ngada, Bupati Nagekeo (Wilayah KAE), Gubernur dan Wakil Gubernur NTT dan pejabat daerah lainnya. Ia mengatakan, paling tidak ada 200 tokoh yang khusus diundang mengikuti pemakaman hari ini.

“Uskup se-Nusa Tenggara siap hadir. Memang tidak semua tapi beberapa sudah ada di Ende. Pak Gubernur sendiri informasi yang kami peroleh akan hadir namun hanya untuk melayat tapi tidak ikut prosesi penguburan karena ada tugas lain,” kata Rm. Cyrillus Lena.

Ia menambahkan, umat katolik di Wilayah KAE tidak dibatasi untuk menghadiri prosesi penguburan sebagai bentuk penghormatan terakhir kepada almarhum Mgr. Donatus Djagom. Namun, katanya, demi kelancaran prosesi, panitia berharap umat hadir sebelum prosesi pemakaman sehingga tidak mengganggu jalannya acara.

Pantauan Pos Kupang di Gereja Katedral Kristus Raja-Ende kemarin, misa untuk arwah Mgr.Donatus Djagom berlangsung pukul 17.00 Wita diikuti umat yang memadati Gereja Katedral. Sebelumnya, umat juga melakukan doa secara bergilir di depan jenazah almarhum Mgr. Donatus Djagom di Gereja Katedral Ende. Doa bergilir ini terus dilakukan sepanjang malam.

Sementara kubur yang berada di halaman depan kapela Istana Keuskupan Agung Ende di Ndona sudah selesai dikerjakan. Dipantau langsung oleh Rm. Cyrillus, pengerjaan kubur yang dilakukan secara sukarela oleh umat Katolik di Ndona berlangsung lancar.

Tenda berukuran raksasa yang dilengkapi dengan kursi juga sudah disiapkan di halaman kapela yang mungil itu. Mgr. Donatus Djagom, SVD meninggal dunia di Ndona pada hari Selasa (29/11/2011) pukul 13.00 Wita. Uskup kelahiran Bilas, Kabupaten Manggarai tersebut meninggal dunia dalam usia 92 tahun 6 bulan. (eko)

Pos Kupang, 2 Desember 2011 halaman 1

Permata Cinta Syuradikara Buat Uskup Donatus

Jenazah Uskup Don tiba di Katederal Ende 1 Des 2011
ENDE, PK – Keluarga besar SMAK Syuradikara-Ende mempersembahkan lagu Permata Cinta yang mengharukan ketika melepas jenazah Uskup Emeritus Keuskupan Agung Ende, Mgr. Donatus Djagom, SVD dari sekolah tersebut menuju Gereja Katedral Kritus Raja-Ende, Rabu (30/11/2011).

Lagu karya Ferdy Levi yang dinyanyikan siswa-siswi dan para guru SMAK Syuradikara menciptakan suasana hening, khusuk dan mengharu-biru. Beberapa orang menitikkan air mata duka mengenang jasa almarhum untuk sekolah unggulan di Propinsi NTT tersebut.

SMAK Syuradikara di Jl. Wirajaya- Ende merupakan satu-satunya tempat persinggahan saat jenazah Uskup Donatus Djagom (92) diantar ribuan umat Katolik serta umat bergama lainnya dari Kapela Istana Keukupan Agung Ende di Ndona menuju ke Gereja Katedral Ende, kemarin.

SMAK Syuradikara adalah sekolah yang dipimpin mendiang Uskup Donatus Djagom selama sembilan tahun sebelum dia diangkat Pemimpin Tahta Suci menjadi Uskup Agung Ende pada tahun 1969.

“Selamat datang kembali di rumah ini Yang Mulia Bapak Uskup Donatus Djagom,” kata Rektor Biara St. Mikael, P Yohanes Bele, SVD ketika menyampaikan sapaan awal saat jenazah uskup emeritus tiba di pendopo SMAK Syuradikara. Hadir saat itu Kepala SMAK Syuradikara, Pater Stefanus Sabon Aran, SVD, para guru, pegawai dan seluruh siswa-siswi SMAK Syuradikara. Menurut Pater Yohanes Bele, Uskup Donatus merupakan peletak dasar bagi SMAK Syuradikara hingga mutunya bertahan sampai sekarang.

“Semoga semangat yang ditanamkan Bapak Uskup tetap menjiwai seluruh civitas akademika Syuradikara. Selamat Jalan Bapak Uskup, doakan kami selalu,” kata Yohanes Bele yang adalah mantan Rekor Unwira Kupang itu.
Saat prosesi jenazah uskup memasuki jalan masuk SMAK Syuradikara disambut dengan pagar betis siswa-siswi sekolah tersebut. Peti jenazah selanjutnya diusung masuk ke dalam pendopo oleh guru dan pegawai dan disambut dengan Lagu Himne Syuradikara, Pencipta Pahlawan Utama.

Usai sapaan dari Pater Yohanes Bele dilanjutkan dengan pemberkatan jenazah serta tabur bunga oleh para imam. Seluruh rangkaian acara di SMAK Syuradikara disaksikan Uskup Agung Ende, Mgr. Vincentius Sensi Potokota, Pr, Vikjen Keuskupan Agung Ende, Romo Cyrilus Lena, Pr, para biarawan-birawati serta umat.

Sekitar 20 menit acara penyambutan di Syuradikara, peti jenazah Uskup Emeritus, Mgr. Donatus Djagom, SVD diantar menuju ke Gereja Katedral Ende melewati rute Jalan Wirajaya, Nuamuri, Pahlawan,Jalan Soekarno, Jalan Katedral dan masuk ke dalam Gereja Katedral Kristus Raja Ende. Sebelumnya jenazah uskup dari Ndona melewati rute Jalan Ndona-Wolowona, Jalan Gatot Subroto, Jalan El Tari, Wirajaya dan singgah di SMAK Syuradikara.

Seperti disaksikan Pos Kupang, sejak keluar dari Kapela Istana Keuskupan Agung Ende di Ndona, umat Katolik serta umat beragama lainnya berjejer di sepanjang jalan yang dilewati rombongan pengantar jenazah. Mereka berdoa kemudian melambai-lambaikan tangan ketika peti jenazah lewat. Para pelajar mulai dari tingkat SD hingga SLTA dengan pakaian seragam juga membentuk pagar betis di sepanjang jalur yang dilewati peti jenazah Uskup Donatus.

Sejumlah warga mengaku kaget dan terkejut ketika mengetahui bahwa Uskup Donatus meninggal dunia. “Aduh, saya baru tahu kalau beliau meninggal. Kata teman-teman mereka dengar lewat radiogram semalam,” kata Maria Imakulata dari Kelurahan Potulando Ende.

Disambut Tarian
Jenazah Uskup Donatus Djagom disambut dengan tarian adat Ende Lio ketika memasuki halaman Gereja Katedral Ende. Para penari wanita dan pria menyambut kedatangan jenazah Yang Mulia Uskup Donatus sejak di pintu masuk halaman gereja. Mereka juga menyampaikan sapaan dalam bahasa daerah Ende saat menyambut jenazah almarhum.

Para penari terus mengantar peti jenazah hingga di depan pintu utama Gereja Katedral. Anggota THS/THM tampak membentuk pagar pengamanan di sisi kiri dan kanan. Jenazah Uskup Donatus selanjutnya dibawa masuk ke dalam gereja dan disemayamkan persis di depan altar. Uskup Agung Ende, Mgr. Vincensius Sensi Potokota, Pr dan Vikjen Rm. Cyrilus Lena, Pr mengikuti seluruh prosesi mengantar jenazah uskup sejak dari Ndona hingga tiba di Gereja Katedral Ende. Uskup Sensi bahkan terlihat ikut merapikan kain penutup peti jenazah pendahulunya itu ketika ditahtakan di depan altar gereja. Ikut juga dalam prosesi ini, Sekda Ende, Drs. Yos Ansar Rera, Ketua DPRD Kabupaten Ende, Marsel Petu serta pejabat daerah lainnya.

Usai doa penutup dan pemberkatan, umat yang hadir di dalam dan di luar gereja diberi kesempatan untuk berdoa dan memberi penghormatan di depan jenazah Uskup Donatus Djagom. Umat dengan tertib berjalan berdua-duaan ke depan altar untuk berdoa dan memberi penghormatan kepada almarhum. Suasana tertib dan khusuk meski Gereja Katedral Ende penuh sesak dengan manusia.

Sejak jenazah Uskup Donatus disemayamkan di Gereja Katedral Ende kemarin siang, umat Katolik dari berbagai daerah tak henti-hentinya ke sana untuk berdoa dan memberi penghormatan terakhir kepada almarhum yang memimpin Keuskupan Agung Ende sejak tahun 1969 hingga 1996. Pada Rabu (30/11/2011) pukul 17.00 Wita diselenggarakan upacara ekaristi (misa) penyambutan jenazah Uskup Donatus oleh umat Paroki Katedral Ende.

Jenazah Mgr. Donatus Djagom, SVD yang meninggal dunia di Ndona, Selasa (29/11/2011) disemayamkan selama dua malam di Gereja Katedral Ende untuk memberi kesempatan kepada umat Katolik melayat serta mendoakannya. Menurut rencana, jenazah Uskup Donatus dimakamkan Jumat (2/12/2011) siang di pemakaman para imam di Ndona.

Upacara pemakaman Jumat besok akan diawali misa pemakaman di Gereja Katedral Ende mulai pukul 08.00 Wita. Usai misa jenazah Uskup Donatus akan diantar kembali ke Ndona dengan melewati rute Jalan Katedral, Irian Jaya, Kelimutu, Jalan Gatot Subroto, Jalan Wolowona dan Ndona. (eko/osi)

Pos Kupang, 1 Desember 2011 halaman 1

Selamat Jalan Mgr. Donatus Djagom, SVD

Mgr. Donatus Djagom, SVD
ENDE, PK – Uskup Emeritus, Mgr. Donatus Djagom, SVD, menghembuskan nafas terakhir di tempat perawatannya di Istana Keuskupan Ende, Selasa (29/11/2011) pukul 13.00 Wita. Mgr. Donatus meninggal dunia dalam usia 92 tahun. Selamat Jalan Uskup Donatus.

Uskup Agung Ende, Mgr. Vincentius Sensi Potokota, Pr, yang ditemui, mengatakan, Mgr. Donatus dijemput dari kampung halamannya di Ranggu, Manggarai sejak bulan April 2011 untuk menjalani perawatan karena faktor usia.

Ada rasa kehilangan yang dialami Mgr. Vincentius atas kematian seniornya ini. Dia tidak memiliki kesan khusus dengan Mgr. Donatus, namun dia merasa sangat kehilangan. “Mgr Donatus sangat berjasa khususnya untuk perkembangan gereja Katolik di Keuskupan Ende. Saat menjabat, keuskupan ini berkembang sangat pesat. Beliau amat berjasa bukan hanya karena paling lama menjadi uskup di sini, namun jasanya bagi perkembangan gereja di sini sangat besar,” ujar Mgr. Vincentius.

Mgr. Vincentius mengaku di hari-hari terakhir hidupnya, dia selalu bersama Mgr Donatus. Namun, kata Mgr. Vincentius, tidak ada pesan khusus yang ditinggalkan sang senior.


Kematian Mgr Donatus menimbulkan duka mendalam bagi umat Katolik di Kota Ende dan sekitarnya. Sekab Ende, Drs. Yoseph Ansar Rera, Asisten I, Marthinus Ndate, Kepala Dinas Perhubungan, Abraham Badu, langsung hadir di Istana Keuskupan Ndona sesaat setelah mendengar kepergian beliau.
Para pimpinan gereja dan rohaniawan juga nampak memenuhi sekitar Istana Keuskupan. Mulai dari dimandikan hingga diantar ke gereja di kompleks istana, warga tampak berjubel.

Usai dimandikan, jasad Mgr Donatus diarak dan disemayamkan di altar kapela Istana Keuskupan Rencananya, Rabu pagi (30/11/2011), jenazah Mgr. Donatus akan dibawa untuk disemayamkan di Gereja Katedral Ende. “Kami akan berikan kesempatan kepada umat untuk mendoakan Mgr. Donatus sepanjang hari,” katanya Uskup Sensi. (eko)

Uskup Donatus Dimakamkan Jumat 2 Desember 2011


KEUSKUPAN Agung Ende dalam berita kepada seluruh umat mengumumkan kematian Mgr. Donatus Djagom, SVD, Uskup Emeritus Keuskupan Agung Ende pada HARI Selasa (29/11) pukul 13.00 Wita di Ndona.

Sejak hari Selasa (29/11/2011) hingga Rabu (30/11/2011) pukul 09.30, jenazah Mgr. Donatus Djagom, SVD disemayamkan di Kapela Keuskupan-Ndona. Selanjutnya pada pukul 10.00 Wita hari ini akan diantar ke Gereja Katedral Ende untuk disemayamkan di sana sampai dengan misa pemakaman pada Jumat (2/12/2011).

Rute prosesi dari Ndona menuju Gereja Katedral Ende sebagai berikut: Jl. Ndona-Wolowona, Jl Gatot Subroto. Jl El Tari, Jl Wirajaya, Jl Pahlawan, Jl Soekarno, Gereja Katedral.

Selama disemayamkan di Gereja Katedral, selain doa-doa bergilir dari seluruh umat yang datang, juga akan dirayakan Ekaristi dengan jadwal:
- Tanggal 30 November: pkl 17.00 Wita.
- Tanggal 1 Desember: pk 17.00 Wita
- Tanggal 2 Desember: misa pemakaman pk 08.00 Wita. Setelah misa dilanjutkan dengan upacara pemakaman dengan rute prosesi mulai dari Jl Katedral, Jl Irian Jaya, Jl Kelimutu, Jl Gatot Subroto, Jl. Wolowona-Ndona.

Dengan demikian Uskup Donatus Djagom, SVD akan dimakamkan di Ndona, di tempat yang sama dengan Uskup Longinus da Cunha, Pr yang meninggal dunia pada tahun 2006. (osi)

DATA DIRI

Nama : Mgr. Donatus Djagom, SVD, Uskup Emeritus
Lahir : Bilas, Manggarai, 10 Mei 1919

Pendidikan :
- Tahun 1929 masuk sekolah desa (3 tahun)
- Tahun 1932 masuk sekolah standar di Ruteng
- Tahun 1935 melanjutkan pendidikan di Seminari Menengah Mataloko
- Masuk Novisiat SVD di Ledalero 1942
- Kaul pertama diikrarkan pada tahun 1944
- Studi Teologi di Ledalero tahun 1946 dilanjutkan hingga selesai di Teteringen-Belanda tahun 1948
- Ditahbiskan imam di Teteringen – Belanda, 28 Agustus 1949

Karya/Masa Pengabdian :
- Tahun 1951 – 1952 sebagai pengajar pada Seminari Menengah San Dominggo di Hokeng, Flores Timur
- Tahun 1952 – 1953 sebagai pengajar pada Seminari Menengah di Lalian, Belu
- Tahun 1953 – 1956 sebagai pengajar pada Seminari Menengah San Dominggo Hokeng, Flores Timur
- Tahun 1956 -1958 tugas belajar di Filipina
- Tahun 1958 – 1960 sebagai pengajar pada Seminari San Dominggo Hokeng, Flores Timur
- Tahun 1960 – 1969 sebagai Rektor SMA Katolik Syuradikara, Ende
- 11 Juni 1969 – 1996 sebagai Uskup Agung Ende

Tugas-Tugas Lain :
- Sebagai Wakil Regional (mendampingi Regional Ende, pada masa PA Bakker, SVD dan PN Apeldoorm, SVD)
- Konsultor untuk Uskup Agung Ende, Mgr. Gabriel Manek, SVD
- Anggota Presidium Konferensi Wali Gereja Indfonesia (KWI)
- Anggota Standing Committee FABC (Federasi Konferensi Wali Gereja Asia)

Masa pensiun dijalani di Ranggu, Manggarai, kampung halamannya. Meninggal dunia di Ndona, Ende hari Selasa 29 November 2011 sekitar pukul 13.00 Wita.

Sumber: Keuskupan Agung Ende

Pos Kupang, Rabu 30 November 2011 hal 1

Hidup di Bumi yang Makin Panas

WARGA Kota Ende menjerit di penghujung November. Suhu kota ini sungguh menikam ubun, membakar kulit dan mendidihkan dada. Di tengah krisis air yang mendera mereka sejak awal September 2011, suhu udara rata-rata 35-37 derajat Celcius sungguh membuat hidup jauh dari rasa nyaman. Tidur tak nyenyak. Makan pun tak berselera.

Ya, mereka hidup di kota yang panas. Bahkan panas luar biasa. Jauh berbeda dibanding kondisi lima atau sepuluh tahun silam. Ende, kota yang diapit empat gunung menjulang, Kengo, Wongge, Iya dan Meja biasanya tidak terlalu panas seperti Kota Maumere atau Kupang. Kota ini bersuhu sedang. Tapi kini justru di akhir November yang mestinya sudah masuk musim baru, suhu udara malah semakin tak bersahabat. Hujan tak kunjung datang. Entah sampai kapan.

Terik mentari menikam ubun kiranya bukan hanya menimpa warga Kota Ende semata. Anda yang berdomisili di Kupang, Maumere, Larantuka, Kalabahi, Atambua, Waingapu dan Ba’a dan kota lainnya pasti merasakan kegerahan yang sama dan sebangun. Kita hidup di bumi makin panas. Bumi yang menjerit krisis air, pangan dan energi tiada henti. Kalau hari ini sudah sepanas itu, bagaimana kondisi dua puluh atau lima puluh tahun ke depan? Kita bisa membayangkan sendiri situasinya. Kasihan anak cucu kita.

Begitulah iklim yang telah berubah drastis. Seperti telah diungkapkan beribu kali oleh banyak tokoh, mulai dari ilmuwan sampai tokoh agama dan pemimpin negeri, iklim yang berubah sangat buruk itu akibat ulah manusia sendiri. Bumi adalah rumah hunian kita, tetapi di antara makhluk hidup di bumi ini, manusia paling rakus dan pongah. Manusia angkuh dan serakah mengeksploitasi sumber daya alam dan lingkungannya.

Dulu negeri kita dikenal sebagai paru-paru dunia karena hutan tropisnya yang maha luas di berbagai pulau besar maupun kecil. Namun, wikipedia Indonesia mencatat berdasarkan data Bank Dunia sejak tahun 1985-1997 Indonesia telah kehilangan hutan sekitar 1,5 juta hektar setiap tahun dan diperkirakan tinggal sekitar 20 juta hektar hutan produksi yang tersisa.
Hilangnya hutan akibat penebangan liar berkaitan dengan meningkatnya kebutuhan kayu di pasar internasional, besarnya kapasitas terpasang industri kayu dalam negeri, konsumsi lokal, lemahnya penegakan hukum dan pemutihan kayu di luar kawasan tebangan.

Menurut data Kementerian Kehutanan RI tahun 2006, luas hutan yang rusak dan tidak dapat berfungsi optimal telah mencapai 59,6 juta hektar dari 120,35 juta hektar kawasan hutan di Indonesia. Laju deforestasi (kerusakan hutan) rata-rata 2,83 juta hektar per tahun. Dan, sebagian besar deforestasi itu akibat sistem politik dan ekonomi yang menganggap sumber daya hutan sebagai sumber pendapatan dan bisa dieksploitasi untuk kepentingan politik serta keuntungan pribadi.

Menebang pohon adalah pekerjaan enteng. Dengan gergaji mesin cuma butuh beberapa menit untuk menumbangkan sebatang pohon yang telah berusia puluhan bahkan ratusan tahun. Yang sulit adalah menanam kembali. Pemerintah RI lewat Kementerian Kehutanan serta berbagai instansi formal telah berkali-kali menggelorakan gerakan menanam pohon. Beberapa tahun lalu kita kenal Gerakan Nasional Menanam Sejuta Pohon. Tahun ini lagi-lagi kita mendengar gerakan yang lebih heboh yaitu Menanam Satu Miliar Pohon.

Sejuta pohon atau satu miliar pohon hendaknya dimengerti sebagai angka imajiner. Pemerintah memiliki pesan mendalam di balik gerakan tersebut yaitu mengajak seluruh masyarakat Indonesia untuk menanam pohon sebagai bagian dari keseharian hidupnya. Anda jangan hanya gesit memotong, tetapi piawai juga menanam kembali. Kalau setiap rumah tangga di negeri ini menanam satu pohon saja di pekarangan rumah atau di lahan yang kosong, maka impian sejuta pohon bukanlah sesuatu yang muskil.

Dua hari yang lalu, Wakil Gubernur NTT, Ir. Esthon L Foenay, M.Si memimpin aparat Pemerintah Propinsi NTT dan Kota Kupang menanam pohon di kawasan Loti, Kelurahan Fatukoa, Kota Kupang. Kegiatan tersebut menandai dimulainya Gerakan Menanam Satu Miliar Pohon tingkat Propinsi Nusa Tenggara Timur (NTT). Baik adanya melihat aparatur pemerintah memberikan contoh tentang budaya menanam pohon. Cuma kita tidak lupa pengalaman masa lalu. Gebyar menanam hanya pada saat gerakan itu dikumandangkan. Seiring perjalanan waktu, pohon yang ditanam merana mati karena tidak disiram dan dirawat. Kegagalan proyek penghijauan di wilayah NTT bukan kabar baru.

Kita tidak mau pengalaman buruk itu terulang. Menaman mesti diikuti dengan menyiram dan merawat sampai pohon itu tumbuh berkembang. Juga disertai pengawasan agar orang tidak mudah memotong pohon sesuka hati. Kalau kita mendambakan bumi yang lebih adem, suhu udara yang nyaman dan sehat, maka gerakan menanam pohon harus menjadi kebiasaan baru dalam hidup yang bermartabat. Siapa menanam, dia akan menuai. Siapa malas menanam, siap-siaplah untuk hidup di bumi yang makin panas dan gersang. Kira-kira begitulah. *

Pos Kupang, 30 November 2011 hal 4

Mgr. Donatus Djagom, SVD: Masih Semangat Bicara Sepakbola

Uskup Donatus (kiri) di Ndona, 25-11-2011
INGATAN Yang Mulia memang tidak sejernih dulu. Maklum faktor usia serta kondisi kesehatan yang agak menurun setahun terakhir. Untuk menyegarkan ingatannya, mudah saja resepnya. Ajak Yang Mulia bicara soal sepakbola. So pasti dia penuh semangat mengisahkan masa jayanya ketika studi di Belanda serta hobinya bermain bola guna menjaga kebugaran tubuh.

Tokoh yang sangat kuat ingatannya soal sepakbola itu adalah Uskup Emeritus Mgr. Donatus Djagom, SVD. Tahun ini Yang Mulia berusia 93 tahun. “Tak menyangka.” Cuma kalimat itu yang diungkapkan Uskup Donatus Djagom kepada Pos Kupang yang menemuinya di Lembaga Pendidikan Remaja Biara Susteran CIJ di Kawasan Istana Keuskupan Agung Ende di Ndona, Jumat (25/11/2011). Uskup Emeritus ketika itu didampingi Romo Efraim Pea, Pr.

Rm. Efraim Pea mengatakan, Uskup Donatus telah berada di biara tersebut sejak bulan April 2011. Menurut Rm.Efraim Pea, Uskup Donatus sakit sehingga Uskup Agung Ende, Mgr. Vinsensius Sensi Potokota, Pr menjemput beliau dari Ranggu, Manggarai ke Ndona untuk perawatan. Sakit yang diderita telah diobati, namun karena faktor usia Uskup Donatus tidak bisa berjalan normal lagi.

Menurut Rm. Efraim, ingatan Uskup Donatus cenderung melemah, namun beliau penuh semangat berceritera jika ingatannya sesekali muncul. Beliau sangat antusias menceritakan pengalamannya bermain bola di Belanda saat studi di sana. Kaki kanan Uskup Donatus selalu menghasilkan gol, meski tendangan dari jarak jauh. Uskup Donatus juga sering bercerita tentang Vatikan dan pengalaman berkesan setiap kali bertemu Sri Paus di Vatikan. Selama menjadi Uskup Agung Ende, Uskup Donatus bertemu Sri Paus secara langsung di Roma sebanyak lima kali.

Romo Efraim Pea mengatakan, soal resep panjang umur, Uskup Donatus selalu berkata, hal pertama yang tidak dilupakan adalah doa. Kemudian bersikap jujur serta tidak menyusahkan hidup orang lain. Ungkapan lain yang sering disampaikan Uskup Donatus adalah “tak menyangka”. Tak menyangka ia bisa menjadi Uskup Agung Ende dan tak menyangka usianya bisa setua kini.

Seperti disaksikan Pos Kupang, Uskup Donatus duduk di atas kursi roda. Matanya lebih banyak tertutup. Kedua tangannya terus terkatup seperti orang sedang berdoa. Ingatannya muncul-tenggelam. Sesekali merespons pembicaraan orang lain dan mengumbar senyum kebapaan.

Salah seorang anak yang mendampingi Uskup Donatus, Erik Djo mengungkapkan, beliau langsung berdoa setelah bangun tidur pagi. Demikian pula malam hari sebelum tidur. Beliau juga suka berjemur matahari. Menu santapan pagi Uskup Donatus berupa biscuit dengan air putih. Siang makan sedikit nasi, sayur dan lauk. Demikian juga pada malam hari.

Mgr. Donatus Djagom, SVD adalah Uskup Agung Ende selama dua puluh delapan tahun yaitu dari tahun 1968 hingga 1996. Uskup Donatus menggantikan Mgr. Gabriel Wilhelmus Manek, S.V.D. Donatus Djagom memimpin Keuskupan Agung Ende sejak tanggal 19 Desember 1968 hingga pensiun pada 23 Februari 1996. Pemimpin Tahta Suci kemudian mengangkat Mgr. Longinus da Cunha, Pr sebagai pengganti beliau. Uskup Longinus memimpin keuskupan itu sejak 23 Februari 1996 hingga wafat pada 6 April 2006.

Keuskupan Agung Ende meliputi tiga kabupaten yaitu Ende, Ngada dan Nagekeo. Keuskupan Agung Ende merupakan tahta metropolitan dari empat keuskupan sufragan yaitu keuskupan Denpasar, Larantuka, Maumere dan Ruteng.

Kami Memberitakan Kristus yang Disalibkan (1 Kor 1 : 23). Itulah motto Mgr. Donatus Djagom, SVD saat diangkat menjadi Uskup Agung Ende.Uskup Donatus lahir pada tanggal 10 Mei 1919 di Ranggu, sebuah desa kecil dan subur di Manggarai, Flores Barat.

Dalam buku Kenangan 75 tahun Paroki Kristus Raja Ende dikisahkan, setamat dari Seminari Mataloko, Donatus masuk Novisiat SVD dan melanjutkan studi filsafat di Seminari Tinggi Ledalero. Sesudah perang dunia II Donatus melanjutkan studi teologi di Seminari Tinggi SVD di Teteringen, Belanda dan ditahbiskan menjadi imam pada tanggal 28 Agustus 1949.

Donatus kemudian studi lanjut di Universitas San Carlos, Cebu-Filipina dan sekembali dari sana diangkat menjadi Rektor SMAK Syuradikara-Ende, merangkap sebagai Asisten atau Wakil Regional SVD Ende hingga akhirnya diangkat menjadi Uskup Agung Ende.

Uskup Donatus terhitung sebagai Uskup Agung Ende kedua sejak Gereja Katolik Indonesia berbentuk hirarki sendiri. Uskup Donatus menggantikan Uskup Gabriel Manek, SVD, beliau memimpin pada masa kehidupan menggereja menapaki tahap pengakaran dan pendalaman iman. Dalam masa kepemimpinannya, terjadi perkembangan dan kemajuan yang amat pesat dalam segala bidang, baik iptek, komunikasi dan informasi, ekonomi dan sosial-politik serta pendidikan dan kebudayaan. Semua faktor tersebut memberikan dampak dan sumbangan yang tidak kecil pada pertumbuhan dan pendewasaan iman umat dan kehidupan menggereja umumnya.

Setelah pensiun dari uskup tahun 1996, Uskup Emeritus Donatus Djagom minta kembali ke kampung halamannya di Ranggu, Manggarai. Uskup Donatus menikmati hari tuanya dengan keluarganya di desa kecil yang subur itu. Meski telah pensiun sebagai seorang uskup, namun Yang Mulia tetap menjalankan tugasnya sebagai seorang gembala umat. (okto manehat)

Pos Kupang, Selasa 29 November 2011 halaman 11

Ikhwal Korupsi di Kabupaten Ende

ilustrasi
TENTANG Kabupaten Ende, ingatan kolektif kita hari-hari ini tidak sekadar keindahan danau Tri Warna Kelimutu, pisang beranga yang gurih atau ubi Nuabosi yang nikmat tiada tara. Dari Kabupaten Ende baru saja kita mengecapi warta penegakan hukum dalam kasus korupsi APBD yang melibatkan mantan pejabat tinggi daerah tersebut.

Hari Selasa, 8 November 2011, mantan Sekretaris Kabupaten (Sekab) Ende, Drs. Iskandar Mberu akhirnya menyerahkan diri kepada aparat Kejaksaan Negeri (Kejari) Ende. Hari itu juga Iskandar masuk Lembaga Pemasyarakatan (LP) Ende.

Iskandar sempat masuk daftar pencarian orang (DPO) Kejari Ende setelah gagal dieksekusi jaksa di rumahnya pada Kamis (3/11/2011). Selama lima hari informasi tentang keberadaan Iskandar Mberu simpang-siur.

Iskandar Mberu mesti masuk penjara karena permohonan kasasinya ditolak Mahkamah Agung (MA) RI. MA memutuskan Mberu terbukti secara sah dan meyakinkan melakukan tindak pidana secara bersama-sama dan berkelanjutan dalam perkara korupsi dana APBD Kabupaten Ende tahun 2005 dan 2008 sebesar Rp 3,5 miliar. Iskandar dihukum selama 5 tahun 6 bulan, dan denda Rp 100 juta subsider 6 bulan kurungan.

Sejak awal proses hukum kasus ini menarik perhatian yang sangat besar dari masyarakat Kabupaten Ende serta NTT karena melibatkan dua mantan pejabat. Selain Iskandar, kasus ini pun melibatkan mantan Bupati Ende, Drs. Paulinus Domi (terakhir menjabat anggota DPRD NTT) dan pengusaha Samuel Matutina. Setelah divonis bersalah di pengadilan negeri, baik Mberu, Domi maupun Matutina mengajukan upaya hukum banding hingga kasasi.
Paulinus Domi yang diputus 2,6 tahun pidana penjara oleh MA telah menjalani hukuman di LP Kupang sejak Juni 2011, sedangkan Samuel yang divonis 4 tahun penjara masih menunggu putusan MA.

Pidana penjara bagi Iskandar Mberu dan Paulinus Domi menebarkan eksptektasi yang tinggi terhadap penegakan hukum kasus korupsi di Kabupaten Ende serta Nusa Tenggara Timur (NTT) pada umumnya. Ya, sudah seharusnya demikian. Hukum tidak memandang bulu. Siapa pun yang bersalah, siapa pun yang mencuri uang negara dia wajib mempertanggungjawabkan perbuatannya secara hukum.

Saat ini penyidik Polres Ende mengusut kembali kasus dugaan korupsi dana APBD pada dua Satuan Kerja Perangkat Daerah (SKPD) Kabupaten Ende, yakni Dinas Perhubungan (Dishub) dan Bagian Umum Setda Ende tahun 2002 dan 2003. Menurut Kapolres Ende, AKBP Musni Arifin, SIK, tiga calon tersangka sudah di kantong polisi. Dugaan korupsi pada dua SKPD tersebut terkait proyek pengadaan alat uji kendaraan bermotor. Menurut hasil audit BPKP, kerugian negara mencapai Rp 374 juta lebih.

Kita tentu saja mendukung langkah kepolisian membuka kembali kasus yang sudah berusia hampir sepuluh tahun itu. Selama masih dimungkinkan pengusutan oleh ketentuan hukum positif di negeri itu, polisi harus jalan terus. Hukum tidak memandang bulu. Pejabat daerah sekelas bupati saja dihukum, apalagi di level berikutnya. Mereka yang dulu bertanggungjawab terhadap proyek bernilai miliaran rupiah tersebut perlu diusut sekalipun telah pensiun sebagai pegawai negeri. Pensiun bukan alasan bebas dari jeratan hukum.

Selain kasus dugaan korupsi di Dinas Perhubungan, aparat Kejaksaan Negeri Ende telah menemukan indikasi korupsi dana penanggulangan bencana alam di Kabupaten Ende tahun 2010. Menurut Kejari Ende, Adianto, S.H, banyak orang penting di Ende yang kebakaran jenggot karena keterlibatan mereka dalam kasus ini. "Saya sudah punya bukti kuat siapa-siapa yang terlibat,” kata Adianto, Selasa (8/11/2011).

Semakin banyak kasus korupsi diproses hukum, semakin baik manfaatnya bagi semua. Kita harapkan aparat penegak hukum di Ende tidak sekadar gertak sambal. Juga tidak memilih strategi tebang pilih. Kalau mau melibas koruptor, libas saja semuanya. Kita tunggu keseriusan polisi dan jaksa memberantas praktik korupsi yang menciptakan penderitaan bagi masyarakat. Sekali lagi hukum tidak memandang bulu!

Pos Kupang, 17 November 2011 halaman 4

FA Sungkono: Baktinya Untuk Pendidikan

FS Sungkono dan istri Martha Fernandez
RUMAH permanen berteras mungil di Jalan Kelimutu-Ende tampak asri. Rumah ini semakin memanjakan mata karena di halaman depan dihiasi beraneka bunga. Sore itu, Selasa (15/11/2011), seorang kakek berada di taman depan rumah. Dia sedang mengamati bunga satu persatu.

Kakek yang masih awet dan bugar itu mengenakan baju warna putih abu-abu dipadu celana biru. Ketika Pos Kupang menyapanya, pria berusia 81 tahun itu langsung merespon dengan melangkah ke arah pagar. “Damy Godho itu murid saya,” tuturnya spontan ketika Pos Kupang memperkenalkan diri. Kakek ini langsung membuka pintu pagar dan mengajak Pos Kupang ke teras rumah.

“Damy Godho itu murid saya di SGA Ndao. Dia berasal dari Flores tengah, Boawae. Saat Damy tamat SGA, dia ajak saya bersama sejumlah temannya ke kampungnya. Dia potong seekor babi. Kita pesta, makan satu setengah hari tidak habis,” kata Fransiskus Asisi (FA) Sungkono sambil mengumbar tawa.
Suami Maria Martha Fernandez ini kemudian mengisahkan perjalanan hidupnya sebagai guru. Menurut Sungkono, setamat dari Sekolah Guru Atas (SGA) Malang tahun 1951, dia dibujuk pimpinan Frater Bunda Hati Kudus (BHK) untuk berangkat ke tanah misi. Tanah misi yang dimaksud adalah Ende di Pulau Flores, NTT.

Tiba di Ende tahun 1951, pria kelahiran Wonosobo, 4 September 1930 tersebut menjalani tugas sebagai pengajar di SMPK Ndao asuhan Frater BHK. Guru SMP Ndao saat itu adalah frater-frater asal Belanda dan dua guru pribumi, yaitu LE Monteiro dan Hendrikus Frederico. Keduanya tamat dari Muntilan.

Di SMPK Ndao, Sungkono yang baru berusia 21 tahun diberi tugas mengajar sejumlah mata pelajaran, mulai dari palajaran jasmani (olahraga), aljabar, ilmu ukur hingga sejarah. Sungkono terkesan mengajar sejarah karena sejarah Indonesia belum dikenal secara luas di Flores. Sungkono pun piawai mengajarkan lagu-lagu nasional dan lagu kebangsaan Indonesia Raya karya WR Supratman.

Menurut Sungkono, statusnya saat mengajar di SMPK Ndao adalah tenaga subsidi yang diangkat pemerintah Indonesia. Selain SMPK Ndao, Sungkono juga mengajar SGA Ndao yang saat itu baru dibuka. Berbekal ilmu dari perguruan tinggi olahraga di Surabaya, Sungkono muda juga membuka Kantor Inspeksi Pendidikan Jasmani. Pemerintah mengembangkan jadi beberapa bidang, yakni pendidikan masyarakat, pendidikan jasmani dan pendidikan kebudayaan.

Kantor inspeksi selanjutnya berkembang menjadi kantor perwakilan Departemen Olahraga. Tugas Sungkono saat itu membuka Sekolah Menengah Olahraga Atas (SMOA) Negeri. Lokasi sekolah di Pasar Senggol atau Pasar Potulando-Ende saat ini. “Pasca gempa ketika itu pemerintah bangun gedung pasar. Karena belum dipakai, kita pakai untuk SMOA,” ungkapnya.

Pendiri SMP Nur Jaya Ende ini juga berperan besar saat mendirikan SMPP (Sekolah Menengah Persiapan Pembangunan) Ende tahun 1977. Pada tahun 1980-an, SMPP telah berganti nama menjadi SMAN 1 Ende di Jalan Wirajaya.
Setelah malang melintang sebagai seorang praktisi pendidikan yang sarat pengalaman sebagai guru, Sungkono dipercayakan pemerintah menempati posisi struktural yaitu Kepala Kantor Departemen (Kandep) Pendidikan dan Olaharaga Kabupaten Ende pada tahun 1977.

Setelah mengabdikan diri di Ende, FA Sungkono ditarik Pemerintah Propinsi NTT ke Kupang menjadi Koordinator Pengawas (Korwas) pada Kantor Pendidikan dan Kebudayaan Propinsi NTT hingga memasuki masa pensiun tahun 1990.

Sungkono bangga melihat perkembangan dunia pendidikan masa kini. Fasilitas dan sarana pendidikan sudah berkembang maju bahkan sampai di pelosok desa. Namun, di balik kemajuan itu dia melihat ada sesuatu yang perlu dibangun kembali yakni komitmen pelaku pendidikan memfokuskan diri secara total. Pergantian kelewat sering pejabat di bidang pendidikan menjadi masalah tersendiri. Demikian juga godaan bagi seorang guru bermain di area politik.

“Ada yang ingin jadi bupati, ada yang ingin jadi DPR atau DPRD. Mengakibatkan spirit sebagai pendidik yang melekat dalam dirinya menjadi bias,” demikian ayah empat anak ini.

Sungkono mengkritisi peran orangtua. Menurut dia, ada salah kaprah soal perhatian terhadap anak dalam proses belajar. “Saya melihat kebanyakan orang tua kita beri perhatian terhadap anak sekolah dengan mencari duit untuk memenuhi kebutuhan yang anak minta. Bagaimana perkembangan psikologi anak kurang diperhatikan,” jelas Sungkono.

Mengenai program Gong Belajar yang dicanangkan Pemerintah Propinsi NTT, antara lain dengan asramakan anak sekolah, Sungkono mengatakan asrama tidak wajib diterapkan pasa masa sekarang. Kalau dulu diasramakan karena sekolah masih terbatas dan di sekitar sekolah tidak ada kos-kosan seperti saat ini. Program itu bisa sukses jika semua pihak menjalankan perannya secara baik.

Khusus tentang kehadiran Perguruan Tinggi (PT) di Kota Ende yang jumlahnya makin banyak, Sungkono mengatakan, itu tanda kemajuan. Tetapi harus diatur secara baik oleh pemerintah agar kualitasnya terjaga. Legalitas dan akreditasi dari sebuah PT harus diutamakan.

“Intinya banyak perguruan tinggi tidak menjadi masalah, tetapi outputnya harus bisa bersaing dalam dunia begitu kompetitif,” tandasnya. Begitulah pandangan Sungkono. Darma baktinya demi kemajuan pendidikan dan olahraga di Kabupaten Ende tak diragukan oleh siapapun. Sampai hari ini. (okto manehat)

Data Diri
Nama: Fransiskus Asisi Sungkono
Lahir: Wonosobo, 4 September 1930
Isteri: Martha Fernandez
Anak :
1. Nuri Sungkono
2. Ati Sungkono
3. Santi Sungkono
4. Yoyo Sungkono

Pos Kupang, 18 November 2011 halaman 13

Benih Lokal yang Makin Terpinggirkan

KITA tidak kaget lagi mendengar warta memilukan dari Kefamenanu, Kabupaten Timor Tengah Utara (TTU) tentang petani kesulitan benih jagung dan padi untuk musim tanam tahun ini. Ketiadaan benih merupakan dampak yang sudah bisa diprediksi tatkala gagal panen terjadi di hampir sebagian besar wilayah Nusa Tenggara Timur (NTT) termasuk TTU sepanjang tahun ini dan tahun-tahun sebelumnya.

Di Kabupaten TTU, sebagaimana dilaporkan harian ini, lahan pertanian seluas 18.323 hektar yang sudah diolah terancam tak bisa ditanami karena petani ketiadaan benih. Itu baru di Kabupaten TTU. Hampir pasti kesulitan serupa juga melanda para petani di wilayah lain NTT dan luas lahan yang terancam gagal ditanami lebih luas lagi. Tahun 2011, menurut catatan kita, wilayah Pulau Timor, Alor dan Sumba paling parah mengalami gagal panen yang diikuti kasus rawan pangan dan gizi buruk.

Sejujurnya kesulitan benih sudah merupakan masalah tahunan petani di Nusa Tenggara Timur dalam satu dasawarsa terakhir. Pemerintah daerah pernah mewacanakan pendirian Balai Benih yang representatif sehingga saban tahun NTT tidak lagi mendatangkan benih dari luar daerah, seperti Jawa, Sulawesi dan Sumatera. Apalagi benih dari luar daerah tentu mengandung risiko tertentu, misalnya rusak atau menurun kualitasnya akibat perjalanan panjang melalui beberapa titik perhentian. Kecuali itu belum tentu benih dari luar cocok dengan kondisi lahan pertanian di NTT.

Entah mengapa wacana menghadirkan Balai Benih tersebut belum terwujud sampai hari ini. Mengingat data statistik sekitar 85 persen penduduk NTT menggantungkan hidupnya dari sektor pertanian, membangun Balai Benih yang representatif kiranya sudah menjadi kebutuhan Nusa Tenggara Timur yang mencanangkan diri sebagai Propinsi Jagung, juga Propinsi Ternak.

Jeritan petani tentang ketiadaan benih hari-hari ini pun merupakan buah nyata dari kebijakan ala sinterklas yang diusung pemerintahan kita mulai dari level pusat hingga ke daerah. Kebijakan ala sinterklas, semisal program beras untuk rakyat miskin (raskin) dan lainnya, selain tidak mendidik juga melunturkan semangat kemandirian, menciptakan ketergantungan.

Sejak lama petani kita seolah dininabobokan dengan bantuan pemerintah setiap tahun anggaran, termasuk dalam hal perbenihan. Selalu tertanam dalam benak petani, untuk apa repot siapkan benih? Kalau tidak ada benih pasti pemerintah akan membantu. Pemerintah pasti mengalokasikan anggaran untuk mendatangkan benih dari luar wilayah. Tugas sebagai petani cukup menyiapkan lahan.

Tanpa kita sadari bantuan semacam itu justru menumpulkan kecakapan petani NTT dalam menyiapkan benih untuk kebutuhan mereka sendiri setiap musim tanam. Coba turun ke kampung-kampung di Nusa Tenggara Timur. Bisa dipastikan tidak banyak lagi petani kita yang piawai menyimpan benih berkualitas seperti generasi terdahulu. Seumpama butuh benih sayur, mereka tinggal ke toko benih. Keluarkan duit sekian rupiah dan bawa pulang benih.

Kemudahaan mendapatkan benih semacam itu serta tumpulnya kecakapan petani mengelola benih hasil panenan sendiri menyebabkan posisi benih lokal NTT semakin terpinggirkan. Posisinya telah digeser oleh benih (jagung atau padi) yang berasal dari luar daerah. Hasil riset sejumlah mahasiswa pertanian menunjukkan, puluhan jenis benih palawija lokal NTT main langka bahkan sebagian bisa dilukiskan telah punah. Kalau benih lokal tidak digarap serius, mungkin dalam waktu yang tidak lama lagi untuk benih kangkung pun kita harus mengimpor dari Amerika Serikat.

Ada pesan manis dari petani sawah di Ekoleta, Kecamatan Detusoko, Kabupaten Ende. Meskipun saat ini banyak benih varietas padi unggul yang mudah mereka dapatkan, namun petani Ekoleta lebih memilih benih padi lokal. Mengapa? Selain cita rasanya khas, benih padi lokal lebih tahan terhadap serangan hama. Melirik kembali benih lokal NTT agaknya harus menjadi kampanye utama kita. *

Pos Kupang, Sabtu 29 Oktober 2011 hal 4

Tikam Kepala

ilustrasi
JANGAN salah duga. Tikam kepala bukan berarti ada peristiwa pembunuhan. Misalnya, Om Dorus menikam Ama Pe’u di bagian kepala hingga mengeluarkan darah.

Tanam kaki pun demikian. Tidak bermakna seseorang dengan sengaja menanam kakinya ke dalam perut bumi. Kalau tanam kaki benaran bisa dianggap sikap iseng berlebihan, bahkan bisa saja gila benaran. Ha-ha-ha….

Tikam kepala tanam kaki adalah cara orang Flores (yang menghuni Pulau Flores di Propinsi Nusa Tenggara Timur, Indonesia), melukiskan sikap kerja mereka. Tikam kepala artinya seseorang bekerja keras. Tanam kaki artinya siap hadapi segala tantangan. Jadi, tikam kepala tanam kaki mencerminkan etos manusia Flores dalam bekerja.

Sejatinya manusia Flores dan penghuni pulau-pula lain sekitarnya misalnya Adonara, Lembata, Solor, Palue, Pulau Ende adalah tipe pekerja keras. Meski demikian tetap saja ada yang kurang keras bekerja alias malas, kurang disiplin dan sebagainya. Juga dalam beberapa hal mereka kurang cerdas bekerja, sehingga meraih hasil kurang maksimal. *

Aparatur Pemerintah Tidak Mau Repot

ilustrasi
BUKAN pertama kali kita mendengar pejabat pemerintah daerah di Nusa Tenggara Timur (NTT) melakukan otokritik tentang kegiatan pemerintahan berlangsung di hotel-hotel (berbintang) dan bukan memanfaatkan fasilitas milik pemerintah sendiri.

Kritik, imbauan sudah acapkali digaungkan gubernur, bupati, anggota DPRD atau elemen masyarakat lainnya. Namun, praktiknya masih sama dan sebangun. Banyak suara di tengah masyarakat yang melukiskan kebiasaan aparatur pemerintah bikin rapat di hotel, seminar di hotel, pendidikan dan latihan (diklat) juga di hotel sebagai bagian dari gaya hidup. Kenapa memang?

Sederhananya orang tidak mau repot. Jika bikin seminar di hotel, Anda tinggal angkat telepon untuk pesan ruangan, konsumsi bagi sekian orang, spanduk, backdrop, sound system dan lainnya. Pembayaran bukan perkara sulit. Bisa dibayar sekian persen dulu sebagai tanda jadi sebelum seminar atau bayar penuh setelah kegiatan. Praktis dan mudah. Poinnya kerja secara profesional!

Urusan yang sama bisa berbeda kondisinya jika memilih fasilitas pemerintah sendiri. Sudah menjadi rahasia umum jika fasilitas pemerintah dikelola dengan semangat apa adanya. Ruang pertemuan mungkin tanpa pendingin udara. Kalaupun ada, peserta seminar tetap berkeringat lantaran mesin pendingin udara (AC) jarang dibersihkan. Untuk konsumsi peserta, panitia harus memesan catering dari luar. Repot dan mengeluarkan tenaga ekstra.

Ini zaman instan. Orang tidak suka kerja ruwet. Kalau bisa meraih kemudahan di hotel dan restoran, kenapa tidak? Bayar uang habis perkara. Apalagi kalau pengelola hotel dan restoran memberikan fee bagi panitia. Siapa tidak suka uang. Fee merupakan trik pemasaran. Lumrah dalam jagat bisnis agar pelanggan tetap setia. Jangan lupa instansi pemerintah termasuk target pasar utama hotel dan restoran.

Pemerintah daerah di berbagai pelosok NTT memiliki fasilitas gedung pendidikan dan latihan atau balai yang dilengkapi penginapan, ruang pertemuan dan sebagainya. Lagi-lagi fasilitas yang dibangun dengan pajak rakyat itu bisa dilukiskan mubazir karena jarang dipakai bahkan oleh instansi pemerintah sendiri. Kalau pemiliknya saja tidak mau pakai apalagi orang lain atau pihak luar.

Kita setuju dengan imbauan Gubernur NTT, Drs. Frans Lebu Raya agar Satuan Kerja Perangkat Daerah (SKPD) setda propinsi dan kabupaten/ kota di NTT mau melirik kembali fasilitas mereka sendiri. Kurangi kegiatan di hotel. Selain demi efisiensi anggaran belanja pemerintah juga demi kontribusi bagi kas daerah. Kita pun sependapat dengan pandangan anggota DPRD Propinsi NTT, Jimy Sianto dan Vinsen Pata agar gubernur (kepala daerah) berani memberikan sanksi kepada pimpinan SKPD yang tidak menghiraukan imbauannya.

Agaknya tidak cukup sekadar imbauan dan pemberian sanksi. Saatnya pemerintah daerah berbenah lewat aksi konkrit. Daripada menebar prasangka ada ‘main mata’ antara pimpinan SKPD dengan pengelola hotel tertentu, tirulah cara kerja profesional pengelola hotel guna membenahi fasilitas pemerintah daerah.

Ciptakan standar pelayanan dan tingkat kenyamanan setara hotel atau minimal sedikit di bawahnya. Tempatkan sumber daya manusia (SDM) aparatur yang kompeten dan profesional mengelola fasilitas itu. Jangan tempatkan SDM yang hanya omong besar tapi hasil kerjanya nol bulat. Kalau belum profesional, kirim dia belajar untuk menambah pengetahuan dan keterampilan manajerial serta visi bisnis. Toh fasilitas pemerintah dibangun agar berkontribusi terhadap PAD. Kalau cuma omong-omong, tidak ada manfaatnya. Aparatur pemerintah berani repot? *

Pos Kupang, Jumat 30 September 2011
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Best WordPress Themes