Tampilkan postingan dengan label Mengenang Frans Seda. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Mengenang Frans Seda. Tampilkan semua postingan

Frans Seda Diusulkan Jadi Pahlawan Nasional

KUPANG, POS KUPANG.Com --Wakil Gubernur NTT, Ir. Esthon Foenay akan membicarakan dengan Gubernur NTT, Drs. Frans Lebu Raya, usulan penganugerahan pahlawan nasional kepada almarhum Frans Seda. Pemerintah Propinsi NTT akan membicarakan dengan DPRD NTT dan menyurati pemerintah pusat.

Wagub yang dihubungi pertelepon, Selasa (5/1/2010) semalam mengatakan dirinya sudah mendapat masukan dari beberapa tokoh masyarakat NTT dan beberapa bupati untuk berjuang bersama agar almarhum Frans Seda mendapat penghormatan dengan gelar pahlawan nasional. Pengabdian dan kontribusi beliau bagi pembangunan nasional semasa menjabat beberapa menteri di era Orde Lama dan Orde Baru sangat pantas untuk dianugerahi pahlawan nasional.

Selain pengabdian di bidang pemerintahan, kata wagub, almarhum juga sebagai tokoh pemersatu kerukunan hidup beragama bagi bangsa ini. Karena itu, wajar masyarakat NTT dan pemerintah serta komponen lainnya memperjuangkan agar presiden menganugerahi jasa pahlawan nasional bagi Frans Seda.

Wagub akan meminta dukungan DPRD NTT, DPR RI dan DPD RI asal NTT sehingga perjuangan itu menjadi kuat dan didengar pemerintah pusat. Semua kekuatan dan simpul-simpul yang ada di masyarakat, kata wagub, perlu direkatkan sehingga perjuangan itu mendapat perhatian pemerintah pusat.

Dukungan yang sama dilontarkan Bupati Sikka, Drs. Sosimus Mitang, Bupati Sumba Timur, Drs. Gidion Mbilijora, Bupati Sumba Tengah, Drs. Umbu Sappi Pateduk, anggota DPR RI, Ir. Fary Francis, anggota DPD RI, Ir. Sarah Lery Mboeik dan Ir. Eman Babu Eha, anggota DPRD Kota Kupang, Niko Frans, S.Ip dan Epi Seran serta anggota DPRD Sikka, Siflan Angi yang dihubungi terpisah, Selasa (5/1/2010).

Bupati Sikka, Drs.Sosimus Mitang mengatakan, pemerintah dan masyarakat Kabupaten Sikka sangat mendukung jika almarhum Frans Seda dinugerahi gelar pahlawan nasional. "Kalau kriterianya memungkinkan dan Frans Seda bisa jadi pahlawan nasional, kita dukung. Kita perlu siapkan data dan dokumen untuk diusulkan agar beliau bisa jadi pahlawan nasional. Pemerintah dan masyarakat Sikka telah memberikan penghargaan atas jasa Frans Seda dengan menggantikan nama Bandara Waioti menjadi Bandara Frans Seda. Besok (Hari ini, Red), kalau sudah ada persetujuan DPRD Sikka, saya akan sampaikan kepada Gubernur NTT dan Menteri Perhubungan agar nama bandara secepatnya diganti menjadi Bandara Frans Seda. Kalau mengenai pahlawan nasional, jika kriterianya memungkinkan kita dukung. Tetapi perlu kita siapkan data," kata Mitang saat ditemui di Hotel Benggoan III Maumere, Selasa (5/1/2010) sore.

Bupati Mitang menegaskan, penghargaan masyarakat dan pemerintah kepada jasa Frans Seda telah diberikan karena Frans Seda telah memberikan andil bagi kemajuan Sikka pada masa ia menjabat Menteri Perhubungan RI.

Siflan Angi, Penasehat Forum Muda Lio yang juga anggota DPRD Sikka, menegaskan, Frans Seda layak dan pantas diusulkan menjadi pahlawan nasional. Di masanya beliau banyak berjasa membangun dan membuat perubahan di RI.
"Di masanya juga Frans Seda telah menjadi tokoh pembebasan Papua Barat. Saya meminta pemerintah memberikan penghargaan guna mengenang jasa beliau sebagai pahlawan nasional," kata Siflan di Maumere, Selasa (5/1/2010) sore.

Bupati Sumba Timur, Gidion Mbilijora mengatakan, almarhum telah berbuat untuk Indonesia disaat negara menghadapi masa sulit sebagai Menteri Keuangan. Dia mengemban tugas berat karena saat itu nilai rupiah anjlok dan keuangan negara betul- betul tak berdaya. Di saat orang lain enggan menjabatnya, beliau menerima dan menunjukkan kemampuan menyelamatkan negara yang dilanda krisis berat saat itu.

"Saat memimpin acara tutup tahun 2009, saya sudah sampaikan kepada masyarakat Sumba Timur bahwa jasa almarhum cukup besar sehingga pantas dianugerahi pahlawan nasional. Itu saya sampaikan saat mengheningkan cipta khusus bagi almarhum Gus Dur dan almarhum Frans Seda," kata Gidion.

Bupati Sumba Tengah, Umbu Sappi Pateduk juga mendukung agar almarhum dianugerahi pahlawan nasional. Dia mengenang almarhum yang adalah teman ayahnya sebagai orang yang gigih memperjuangkan nasib bangsa, peduli terhadap peningkatan kesejahteraan rakyat dengan ekonomi kerakyatan dan tokoh kerukunan hidup umat beragama yang merekatkan keutuhan NKRI.

Menurut Pateduk, almarhum bersama almarhum ayahnya Umbu Remu Samapaty, almarhum El Tari, almarhum Lorens Say, almarhum Herman Fernandez membela kemerdekaan saat berada di Yogyakarta. Almarhum Frans Seda, demikian Pateduk, sangat layak dianugerahi gelar pahlawan nasional oleh negara. Misi diplomasi Irian Barat kembali ke pangkuan Indonesia (1961) berkat jasa Frans Seda.

Eman Babu Eha (anggota DPD RI) menyatakan Frans Seda sangat layak mendapatkan gelar pahlawan nasional dari pemerintah RI. Babu Eha mendesak Pemerintah Propinsi NTT segera memroses usulan tersebut sehingga secepatnya Frans Seda mendapat gelar pahlawan.

Anggota DPR RI, Fary Francis menyatakan, Frans Seda memenuhi kriteria diajukan sebagai pahlawan nasional karena telah melahirkan pemikiran besar untuk pembangunan nasional yang mendatangkan manfaat bagi masyarakat banyak. Perjuangannya berlangsung sepanjang hidupnya, pengabdiannya jangkauannya luas dan berdampak nasional, tidak pernah melakukan perbuatan tercelah yang merusak nilai perjuangan.

"Bapak Frans Seda layak diajukan sebagai pahlawan nasional karena telah mengabdi tiga era, yakni orde lama, orde baru dan orde reformasi sampai akhir hayat dan berdampak luas secara nasional," kata Fary.

Fary mengaku akan menyuarakan aspirasi masyarakat NTT di DPR RI untuk ditindaklanjuti pemerintah. Dia mengharapkan DPD asal NTT, juga menyalurkan aspirasi itu agar simpul- simpul perjuangan menjadi kuat dan didengar secara nasional. Anggota DPD RI, Ir. Sarah Lery Mboeik juga mendukung agar Frans Seda dinobatkan menjadi pahlawan nasional. "Pada dasarnya saya setuju. Kalau dilihat dari prasyarat sebagai pahlawan, maka Pak Frans Seda telah memenuhi semua itu. Banyak hal yang telah beliau buat demi kepentingan bangsa ini," kata Lery.

Anggota DPRD Kota Kupang, Niko Frans mengatakan, Frans Seda telah berkiprah di tiga dekade. Dia juga berjuang mempertahankan kemerdekaan, salah satu wujud andilnya dalam pembebasan Irian Barat.

Lanjut Niko Frans, kiprahnya sebagai menteri di masa Orde Lama dan Orde Baru cukup bagus, tanpa cacat. "Saya sepakat karena beliau tanpa cacat. Beliau memenuhi syarat menjadi tokoh yang dapat diteladani sehingga layak dipertimbangkan mendapat gelar pahlawan nasional," kata Niko Frans.

Pendapat yang sama dikemukakan Epi Seran, anggota DPRD Kota Kupang. Epi Seran mendukung Frans Seda dianugerahi pahlawan nasional dan mengusulkan Walikota Kupang, memberikan nama jalan dari Bandara El Tari menjadi Jalan Frans Seda, sebagai bentuk penghormatan dan penghargaan terhadap jasa-jasa beliau. (gem/ris)


Kuku dan Rambut Frans Seda Tiba di Maumere

MAUMERE, PK--Kuku dan rambut almarhum Frans Seda tiba di Maumere, Ibukota Kabupaten Sikka untuk selanjutnya dibawa ke Lekebai, Kecamatan Mego, untuk dilakukan upacara adat.

Keluarga besar almarhum Frans Seda yang membawa kuku dan rambut, itu tiba di Bandara Waioti, Selasa (5/1/2010) sore. Kuku, rambut dan tanah tersebut langsung dibawa ke Lekebai, Desa Bhera, Kecamatan Mego, untuk dilakukan upacara adat kematian. Selain itu, keluarga juga membawa foto Frans Seda. Foto itu dipangku adik almarhum, Bone Seda. Bone Seda, yang ditemui di Bandara Waioti, Selasa (5/1/2010) sore, mengatakan, keluarga akan membawa langsung kuku, rambut dan tanah makam almarhum ke Lekebai-Mego. Keluarga juga akan menggelar misa dan acara adat di Lekebai.

Sementara Gerfas P.Mude, keluarga Frans Seda ketika dihubungi mengatakan, kuku, rambut dan tanah makam almarhum telah dibawa keluarga ke Lekebai. Di sana akan diadakan misa dan upacara pembuatan simbol berupa kuburan almarhum di Lekebai.

"Ada adik kandung almarhum Frans Seda, Bone Seda dan Paulus Seda serta beberapa keluarga sudah membawa kuku, rambut dan tanah makam ke Flores menggunakan pesawat merpati. Misa di Lekebai akan digelar 7 Januari 2010 bersama upacara adat," kata Gerfas.


Mengenai akan dibuat kuburan bagi almarhum, Gerfas mengaku akan dibuat di depan rumah induk dan makam keluarga di Lekebai. (ris)

Pos Kupang 6 Januari 2010 halaman 1

Waioti Diusulkan Jadi Bandara Frans Seda

MAUMERE, PK--Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Sikka akan mengusulkan kepada DPRD Sikka mengganti nama Bandar Udara (Bandara) Waioti - Maumere menjadi Bandara Frans Seda.

Proses pergantian nama bandara tersebut sebagai wujud penghargaan atas jasa almarhum yang memperhatikan Sikka secara khusus pada masalah transportasi di masa ia menjabat Menteri Perhubungan RI.

DPRD Sikka menyambut baik niat Pemkab Sikka tersebut. Beberapa anggota DPRD Sikka yang ditemui terpisah meminta pemerintah segera mengusulkan kepada DPRD Sikka untuk dibahas dan diproses ke Departemen Perhubungan RI di Jakarta.

Bupati Sikka, Sosimus Mitang yang ditemui bersama Wabup Sikka, dr.Wera Damianus, M,M, di Gedung DPRD Sikka, Senin (4/1/2010), mengatakan, Pemkab Sikka akan mengusulkan pergantian nama Bandara Waioti menjadi Bandara Frans Seda. Pergantian nama tersebut sebagai bentuk penghormatan jasa Frans Seda kepada masyarakat Sikka. Semasa menjabat Menteri Perhubungan RI, kata Sosimus, almarhum memberi perhatian khusus terhadap masalah transportasi di daerah kelahirannya.

"Hanya satu saja pemerintah akan memberikan penghargaan dengan menggantikan nama Bandara Waioti Maumere menjadi Bandara Frans Seda. Kita usulkan kepada DPRD Sikka. Menteri Perhubungan RI juga telah saya sampaikan rencana pergantian nama Bandara Waioti menjadi Bandara Frans Seda," kata Sosimus.

Beberapa anggota DPRD Sikka yang dimintai tanggapan menyetujuinya. Simon Subandi dari PDP Sikka, mengatakan, pergantian nama Bandara Waioti menjadi Bandara Frans Seda adalah bentuk penghargaan tertinggi masyarakat dan Pemkab Sikka terhadap jasa Frans Seda yang telah memperjuangkan penerbangan perintis ke Maumere dan NTT.

"Kita harus mengakui ketika Frans Seda menjadi Menteri Perhubungan, jasanya cukup besar bagi masyarakat Sikka. Kita dukung nama bandara diganti menjadi Bandara Frans Seda. Beliau juga punya andil besar bagi perkembangan pariwisata di Flores dengan adanya penerbangan yang masuk ke Maumere di masa itu," kata Subandi.

Siflan Angi, juga menyatakan dukungan dan meminta pemerintah mempercepat proses pergantian nama Bandara Waioti menjadi Bandara Frans Seda. "Pemerintah perlu mempercepat proses pergantian nama. Ini bukti dan penghargaan atas jasa Frans Seda. Saya juga setuju mengganti nama bandara karena nama yang ada tidak memilikki arti dan makna," kata Silfan.

Secara terpisah, Gubernur NTT, Frans Lebu Raya, dan anggota DPRD NTT asal Sikka, Kristo Blasin menyetujui niat Bupati Sikka mengganti nama Bandara Waioti menjadi Bandara Frans Seda. Bahkan, Kristo Blasin menyarankan Walikota Kupang mengabadikan nama Frans Seda dengan mengganti nama jalan protokol. Frans Seda adalah tokoh nasional asal NTT yang perlu dikenang secara monumental.

Blasin juga menyarankan agar pemerintah dan masyarakat NTT mengusulkan Frans Seda dikukuhkan menjadi pahlawan nasional bersama Gus Dur. "Pak Frans Seda itu tokoh tiga zaman yang punya jasa dalam memperjuangkan, mempertahankan dan mengisi kemerdekaan. Jadi, pantas kalau diperjuangkan menjadi pahlawan nasional bersama Gus Dur," kata Blasin.

Wacana pergantian nama Bandara Waioti telah didiskusikan Gubernur NTT dengan tokoh masyarakat NTT di Jakarta. Ada yang respons bagus, ada yang masih diam- diam.

"Usulan itu sudah disampaikan kepada beberapa pihak di Jakarta, tetapi belum semuanya menerima," kata Lebu Raya, melalui telepon genggam dari Jakarta, Senin (4/1/2010).

Menurut dia, pengabadian nama Frans Seda untuk nama bandara di NTT mungkin dinilai terlalu kecil. Namun sebagai orang NTT, almarhum perlu dikenang sebagai figur yang sangat berjasa dalam pembangunan di NTT.

Karena itu, kata Lebu Raya, diskusi ini akan terus dilakukan. Jika ada kesepakatan bersama, lanjut Lebu Raya, Pemprop NTT akan mengumumkan kepada publik pada upacara misa arwah yang akan digelar di Kupang, Rabu (6/1/2010).

Almarhum Frans Seda, kata Lebu Raya, sangat berjasa bagi bangsa ini, terutama dalam pembangunan perhubungan di kawasan timur Indonesia, termasuk NTT.

Ketika menjabat Menteri Perhubungan RI, kontribusi almarhum di bidang perhubungan laut dan udara sangat besar dalam membuka isolasi wilayah di propinsi kepulauan itu. Sejumlah kapal perintis dioperasikan di NTT untuk meretas isolasi wilayah, dan penerbangan perintis oleh pesawat Merpati Nusantara Airlines ke sejumlah daerah di NTT. "Semua ini berkat campur tangan Frans Seda," katanya.

Menurut Lebu Raya, tidak salah jika masyarakat NTT mengubah nama bandara di kampung halamannya itu untuk mengenang jasa-jasa almarhum yang semasa hidupnya telah mengabdikan diri bagi bangsa.(ris/gem/ant)

Pos Kupang 5 Januari 2010 halaman 1

Perintis Lahirnya Bank NTT

ALMARHUM Frans Seda adalah perintis lahirnya Bank Pembangunan Daerah (BPD) NTT, saat ini berubah nama menjadi Bank NTT. Tahun 1960, Seda dan Jusuf Indra Dewa merintis lahirnya bank di NTT. Bank ini akhirnya diresmikan tahun 1962.

Hal ini dikisahkan Thomas Tho, salah seorang mantan Direksi BPD NTT, yang ditemui di kediamannya, Jalan Seruni, Naikoten, Kupang, Sabtu (2/1/2010).

Menurut Thomas, sekembali dari studinya di Belanda tahun 1956, setahun kemudian Seda yang merupakan sarjana pertama asal Flores, membuka perusahaan di Ende, yang dikenal dengan Holding Company PT Nusa Bunga. Perusahaan ini bergerak di bidang perdagangan kopra, pelayaran, pabrik sabun merek Kaboreta, pabrik dendeng kerbau di Reo dan pabrik hollobriks (batu cetak tahan api) di Maumere.

Holding Company menghimpun perusahaan- perusahaan di Flores dengan perusahaan pelayaran Tanjung Bunga. Dalam perjalanan, timbul perselisihan antara Seda dengan Dion Lamury. Dion Lamury mengambilalih perusahan pelayaran dan berdiri sendiri. Peristiwa itu terjadi antara tahun 1956-1957.

Saat itu, katanya, Seda juga bekerja di PT Perintis Jakarta. Dia memberikan perhatian khusus terhadap anak-anak NTT yang potensial. Thomas Tho dan Donatus Say dikirim mengikuti pendidikan sebagai kader bank pada IBC (Indonesian Bank Cooperation) Jakarta. Adol Parera (almarhum) dan seorang lagi mengikuti pendidikan di Bank Boperasi Bandung. Ada yang mengikuti pendidikan pengolahan dendeng dan dua orang lagi mengikuti pendidikan dan pelatihan untuk pabrik sabun.

Tahun 1960 Seda dan Indra Dewa merespon pendidiran Bank Pembangunan Daerah (BPD) NTT. Di bidang ekonomi, perhatian Seda lebih fokus pada koperasi. Ada dua koperasi besar, yakni Koperasi Kopra (Kokop) di Flores dan Gabungan Koperasi Hewan (Gakowan) untuk Timor dan Sumba serta Flores bagian barat (Ngada dan Manggarai,Red).

Dua koperasi ini tumbuh subur. Setahun Kokop mengirim 2.000-an ton kopra ke Surabaya dan kota besar lain di Jawa dan koperasi hewan yang diketuai Bung Kanis mengekspor 2.000-an ekor ternak ke Hongkong. Seda, demikian Thomas, sangat mencintai Flores yang disebutnya Nusa Bunga sehingga perhatian ke Flores khususnya, dan NTT umumnya, sangat tinggi.

Cerita soal perhatian Seda di bidang perdagangan dan koperasi, juga dituturkan Damyan Godho, wartawan Kompas saat itu. Sebagai wartawan Kompas, Damy mengetahui banyak terobosan yang dilakukan Seda untuk kemajuan NTT.


Di bidang politik, Seda bergabung dengan Kasimo di Partai Katolik. Dalam perjalanan, Kasimo mundur dan Seda naik sebagai ketua umum. Saat menjabat ketua umum Partai Katolik, Kasimo mengusulkannya untuk duduk dalam Kabinet 100 menteri yang dicanangkan Presdien Soekarno. Seda dipercayakan Bung Karno sebagai Menteri Perkebunan. Di masa Soeharto, Seda dipercayakan menduduki jabatan Menteri Keuangan, Menteri Pertanian dan terakhir Menteri Perhubungan.

Partai Katolik, kata Thomas dan Damy, juga pernah mencalonkan Seda sebagai gubernur pertama di NTT. Namun karena tokoh Katolik di Flores pecah sehingga niat itu gagal dan Lalamentik yang terpilih sebagai gubernur pertama di NTT. Seda terus membina kader partai untuk menjadi bupati seperti almarhum Frans Sales Lega di Manggarai, Jan Jos Botha di Ngada dan P C da Cunha di Sikka. Kader partai saat itu, kata Thomas, dididik dengan baik sehingga banyak yang sukses di pentas politik. Seda juga sebagai tokoh yang sangat menentang PKI.

Pasca G 30 S PKI, lanjut Thomas, Indonesia "ambruk" dan Seda sangat berperan dalam melobi negara- negara Eropa untuk terus memberikan bantuan ke Indonesia. Akhirnya dia dipercayakan sebagai Menteri Keuangan yang banyak orang menolaknya, karena kerumitan yang sedang dihadapi bangsa saat itu. (gem)

Pos Kupang, Senin 4 Januari 2010 halaman 1

Frans Seda: Pahlawan Perhubungan NTT

MAUMERE, PK -- Almarhum Frans Seda telah banyak berbuat untuk kemajuan kawasan timur Indonesia, termasuk NTT. Kontribusinya bagi kemajuan bidang perhubungan di NTT (transportasi laut dan udara), tidak kecil. Almarhum adalah pahlawan bagi kemajuan perhubungan di NTT.

Sewaktu menjabat sebagai Menteri Perhubungan RI (Era Presiden Soeharto), sejumlah kapal perintis "didrop" ke NTT untuk meretas keterisolasian wilayah, meski pada akhirnya pengelolaan kapal-kapal itu oleh pemerintah daerah menjadi tidak jelas dan akhirnya "hilang" tak berbekas. Penerbangan perintis oleh pesawat Merpati ke sejumlah daerah di NTT, juga berkat campur tangan almarhum Frans Seda.

Mantan Ketua DPRD NTT, Drs. Daniel Woda Palle mengakui besarnya perhatian Frans Seda tersebut. Dia memberi contoh bagaimana Frans Seda memperhatikan pentingnya sarana perhubungan (bandar udara).

"Setelah menjadi Menteri Perhubungan, benar-benar saya akui beliau begitu memperhatikan Indonesia timur, termasuk NTT dan Sikka. Saya ingat betul, landasan pacu (bandara) Waioti itu dulu rumput peninggalan Jepang. Tetapi waktu dia jadi Menteri Perhubungan landasan itu diaspal, tambah luas lalu dibangun tower. Saya yang memanfaatkan tower itu. Saya waktu itu Bupati Sikka. Saya kadang-kadang naik di tower, kendalikan pesawat yang datang ke Maumere bawa turis. Anda bisa lihat Waoiti sekarang, kita boleh bangga untuk tingkat lokal. Itu jasa Frans Seda," tandas Woda Palle yang ditemui di kediamannya di Maumere, Sabtu (2/1/2010).

Kesaksian tentang besarnya perhatian Frans Seda bagi perhubungan di NTT, juga disampaikan Damyan Godho, Pemimpin Umum SKH Pos Kupang. Saat Frans Seda menjadi Menhub, Damyan adalah wartawan Harian Kompas yang bertugas di NTT.

Frans Seda, katanya, membuka penerbangan dan pelayaran perintis di NTT. Dia memberi lima kapal perintis untuk NTT.

"Tiap kapal itu kapasitas angkutnya sekitar 150-250 ton.
Salah satu kapal namanya Kelimutu. Sekarang ini ada kapal Pelni namaya Kelimutu, itu nama kapal yang dulu diberikan oleh Frans Seda untuk NTT," kata Damyan.

Kapal-kapal perintis tersebut dikelola oleh Perusahaan Pelayaran Daerah NTT (Peldan). "Yang mengurus perusahaan itu namanya Hendrik Mujur," katanya.
Untuk kepentingan penerbangan perintis, kata Damyan Godho, Frans Seda banyak memberi inspirasi kepada El Tari, Gubernur NTT saat itu, untuk membuat bandara- bandara di NTT guna mendukung penerbangan perintis.
Seda membagi maskapai penerbangan ke beberapa daerah dan NTT dapat jatah pesawat Merpati.

Selain pembangunan bidang perhubungan, Seda juga memperhatikan pembangunan pendidikan dan Pariwisata di NTT. "Almarhum mendirikan sekolah- sekolah di Magepanda dan Mego. Kemudian yang penting juga adalah perhatiannya pada bidang parawisata. Dia bangun Flores sebagai daerah wisata maka lahirlah Sao Wisata. Dibangun sebelahnya Sea World Club. Dan titik itu menjadi sentral wilayah Flores. Itu kenangan saya tentang Frans Seda sebagai tokoh nasional," ujar Woda Palle.

Tak Lapuk dan Lekang
Kenangan akan Frans Seda yang tak terlupakan oleh Woda Palle adalah ketika Frans Seda menikah. Resepsi pernikahan berlangsungi Lekebai, Kecamatan Mego, Kabupaten Sikka.

"Saya masih ingat betul, saat itu saya masih muda. Ketika Frans Seda menikah dengan seorang gadis bernama Yoge Pattinaya keturunan Ambon Minahasa. Mereka nikah di Jakarta tapi resepsinya di Lekebai. Saya waktu itu, usia kurang lebih 21 tahun. Saya pimpinan Grup Band Garuda waktu itu dan band saya harus tampil dalam acara resepsi itu. Zaman itu tidak ada tape recorder. Jadi band saya diminta tampil dalam acara yang besar itu. Kami mulai main band jam lima sore. Entah ada kekuatan apa, kami main band sepanjang malam sampai jam selapan pagi baru berhenti," kenang Woda Palle.

Kesan Pak Frans Seda waktu itu? "Dia panggil saya, 'Hei kau ini resepsi belum mulai kau sudah main musik, selama resepsi kau main musik. Kami sudah mengantuk dan tidur kau masih main musik. Kami bangun tidur kau tetap masih main musik. Kenapa kau bisa begitu?' Saya katakan saya bangga dan ini sumbangan saya untuk pernikahan ini," tutur Woda Palle.

Saat resepsi pernikahan tersebut, lanjutnya, paman Frans Seda yang bernama Guru Mali Seda bertutur tentang sosok Frans Seda dalam Bahasa Lio.

"Begini katanya, 'Kau (Frans Seda, Red) ini, ele leza di nara meta, ele uza di nara jigha'. Artinya tidak lapuk oleh hujan, tidak lekang oleh panas. Makna dari ungkapan adat itu yaitu biar panas Frans Seda tetap segar, mekar dan hijau. Biar hujan kau berbunga. Saya terkesan sekali akan tutur adat itu, karena memang dalam perjalanan terbukti. Di era Soekarno, Frans Seda dicintai, di jaman Soeharto dia disayangi dan saat era Reformasi dia jadi panutan. Jadi tak lapuk dan lekang oleh perjalanan waktu," katanya. (ris/gem)

Pos Kupang, Senin 4 Januari 2010 halaman 1

Kuku dan Rambut Dibawa ke Lekebai

JENAZAH Frans Seda dikebumikan di pemakaman San Diego Hills, Kerawang Jawa Barat. Namun kuku dan rambut serta sedikit tanah di pemakamannya itu akan dibawa pulang keluarga ke Lekebai untuk dimakamkan secara simbol. Prosesi pemakaman kuku, rambut dan tanah makam itu dilakukan salam prosesi adat Lio.

Pihak keluarga di Lekebai menjadwalkan acara itu pada tanggal 7 Januari 2010.

Demikian penjelasan keluarga almarhum, Gerfasius B Mude kepada Pos Kupang melalui telepon, Minggu (3/1/2010) sore.

Saat dihubuhngi, Gerfas Mude masih berada di Jakarta, di rumah almarhum Frans Seda. Pihaknya bersama keluarga besar Seda dari Maumere, akan kembali ke Maumere setelah malam keempat.

"Kami akan kembali ke Maumere dengan membawa kuku, rambut dan tanah makam almarhum untuk dibuatkan kuburan di Lekebai sebagai simbol bagi keluarga di Lekebai guna menghormati dan selalu menjadi tempat keluarga mengenang almarhum. Kalau sudah selesai acara di Jakarta kami akan kembali tanggal 6 Januari. Kalau tidak ada halangan, setiba di Maumere kami langsung buat pertemuan guna menggelar acara adat dan pembuatan makam pada tanggal 7 Januari," katanya.

Pemakaman kuku, rambut dan tanah makam almarhum Frans Seda itu, katanya, akan dilaksanakan dalam prosesi adat Lio.


Sementara itu, Ny. Waldeltrudis, kerabat almarhum Frans Seda di Lekebai, mengatakan, keluarga besar di Lekebai sejak Frans Seda meninggal dunia dan selama proses pemakaman, juga menggelar doa bersama dan misa. Keluarga masih menunggu kedatangan anggota keluarga yang mengikuti proses pemakaman di Jakarta. Sekembali dari Jakarta akan ada acara adat. Keluarga juga akan membawa kuku, rambut dan tanah makam almarhum Frans Seda untuk dikuburkan juga di Lekebai.

"Biar jenazahnya dikuburkan di Jakarta tapi almarhum juga punya keluarga sehingga ada tanda di Lekebai supaya keluarga bisa bakar lilin dan berdoa di sini untuk almarhum," kata Waldetrudis, istri Camat Mego ini. (ris)

Pos Kupang, Senin 4 Januari 2010 halaman 1

Selamat Jalan, Pak Frans Seda!

Oleh Frans M Parera

Pernah dalam sebuah seminar di Hotel Mulia, Frans Seda membandingkan dirinya dengan Sutami yang bersama Bung Karno membangun jembatan Semanggi di Jakarta. Sutami orang Jawa, dia orang Flores. Usia Sutami pendek, badan kurus seperti kurang gizi. Sementara Frans Seda bisa berusia lanjut, badan tidak kurus dan menjadi cerdas karena sejak kecil selain minum susu ibu juga makan ulat bambu yang tumbuh subur di Flores.

Tokoh yang baru saja meninggal dunia pada usia 83 tahun (1926-2009) ini memang berasal dari Indonesia timur, tepatnya dari Pulau Flores, Provinsi NTT. Lahir di desa terpencil Lekebai, Kabupaten Sikka, Flores, pada masa Hindia Belanda dari keluarga pemuka setempat; bapaknya seorang guru. Belajar di Sekolah Guru Tomohon, Manado; pamannya seorang kapitan (camat sekarang), mereka tinggal di rumah beratap sirap bambu dan seng di tengah perkampungan beratap alang-alang atau daun kelapa.

Tak heran jika di dinding ruang tengah tergantung sebuah lukisan berukuran besar Danau Kelimutu di Lio-Ende, tempat kelahiran Frans Seda. Istrinya, Johanna Maria Pattinaja, berasal dari keluarga Manado, Maluku, dan Belanda, tetapi dikenal sebagai kolektor kain-kain tenun NTT.

Sejak Frans Seda meninggal sampai dikuburkan secara kenegaraan hari ini di pekuburan San Diego Hills, Karawang, begitu banyak perhatian dan minat publik terarah pada tokoh nasional ini. Para pelayat berdatangan ke rumah duka di kawasan Pondok Indah. Karangan bunga dari segala relasinya memenuhi halaman rumahnya sampai sepanjang jalan.

Memukau Bung Karno

Pembicaraan tentang dirinya, karyanya, prestasinya, serta jasa- jasanya kepada bangsa dan negara meramaikan suasana duka. Sosok ini merajut sebuah collective memory sebagai tokoh tiga zaman. Mulai masa pemerintahan Hindia Belanda, pendudukan Jepang, sampai NKRI berdiri selama lebih dari enam puluh empat tahun usianya. Biografinya memasuki gerbang collective memory sejarah kemanusiaan, masyarakat, bangsa Indonesia, diawali dengan sebuah peristiwa kecil di sekolahnya, yang setingkat SMP di Ndao Ende.

Peristiwa penting itu terjadi sekitar 75 tahun lampau di lingkungan sekolah Katolik tempat dia belajar di Ndao. Pada waktu itu Bung Karno dibuang dari Sukamiskin, Bandung, ke Ende dan ditempatkan di lingkungan kauman Ende, komunitas kecil beragama Islam. Polisi rahasia menyebarkan isu kepada kalangan gereja Katolik di Flores bahwa tokoh yang dibuang itu seorang komunis-marxis. Mereka tahu bahwa musuh utama gereja Katolik sedunia pada tahun tiga puluhan adalah partai komunis internasional dengan misi propaganda ateismenya. Gereja Katolik adalah lembaga politik antikomunis terutama sejak revolusi Bolshevik di Rusia tahun 1917.

Bung Karno dikaitkan sebagai anggota aliran komunis dan ateis. Ketika Bung Karno menyampaikan keinginannya mau mengunjungi SMP Ndao, pemimpin sekolah pada dasarnya menolak kedatangan Bung Karno. Namun, Bung Karno menunjukkan sikapnya dengan sungguh-sungguh mau mengunjungi sekolah Katolik itu, maka kepala sekolah mempersiapkan kedatangan tokoh pergerakan politik itu dengan mengemas acara penerimaan yang sederhana. Seorang murid yang sudah pandai berbahasa Belanda diminta mempersiapkan diri berpidato dalam bahasa Belanda menerima kunjungan Bung Karno yang berusia sekitar tiga puluh tahun itu. Bung Karno terkesan dengan penampilan seorang anak kecil tetapi cerdas, anggota keluarga kapitan perbatasan Lio dan Sikka/Maumere, Lekebai. Bocah itu bernama Frans Seda.

Sekitar sepuluh tahun kemudian ketika Frans Seda ikut berjuang sebagai Tentara Pelajar di Yogyakarta dan Jakarta mendapat kesempatan bertemu dengan Presiden Soekarno di Yogyakarta. Frans Seda memperkenalkan dirinya dari Flores. Memori Bung Karno dibuka kembali dengan kisah kunjungannya ke Ndao. Nasib Frans Seda berubah karena perkenalan dengan Bung Karno di Yogyakarta dan selanjutnya di Jakarta. Pak Frans Seda menjadi menteri kepercayaan Bung Karno; sahabat dekat Bung Karno dengan keluarga besarnya sampai sekarang.

Kini beberapa pihak sedang memperjuangkan agar Ende menjadi heritage, di mana Bung Karno memikirkan persatuan suku-suku di Indonesia untuk menjadi sebuah bangsa, bangsa Indonesia. Pancasila lahir di kota itu. Pancasila menjadi abadi juga di kota itu karena Bung Karno empat tahun hadir dan berada di tengah denyut dinamika orang Flores.

Bila di Jawa Uskup Soegijopramoto mengambil sikap cepat mendukung perjuangan para pendiri NKRI, maka berbeda sekali sikap uskup-uskup di Indonesia timur yang antikomunis. Biarpun Vatikan merupakan salah satu negara yang mengakui eksistensi NKRI, gereja Katolik Indonesia timur tidak demikian cepat bersimpati dengan NKRI karena adanya PKI sebagai partai resmi NKRI pada waktu itu.

Komunis harus dihadapi dengan gerakan kesejahteraan rakyat yang merata, maka uskup-uskup Flores mengirim anak-anak muda Flores belajar segala macam ilmu di Belanda. Frans Seda disuruh belajar ilmu ekonomi pembangunan, ekonomi kerakyatan.

Pahlawan keuangan RI

Peranan nasional Frans Seda meningkat ketika IJ Kasimo surut dari permainan politik istana bersama Natsir dari Masyumi, mereka menolak kehadiran partai komunis dalam kabinet Presiden Soekarno. Dengan dukungan Angkatan Darat yang antikomunis, Frans Seda diterima dalam lingkungan kabinet era Bung Karno, mulai dari menteri perkebunan dan pertanian, melanjutkan kebijakan pertanian yang dirintis dalam Kasimo Plan.

Para menteri yang menjadi tim pembantu presiden baik era Bung Karno maupun era Soeharto mengenang Frans Seda, diberitakan secara luas di media masa pada tahun enam puluhan ketika dia menjabat sebagai menteri keuangan. Dia dipercayai oleh Soeharto pada awal masa kepresidenannya. Menteri Emil Salim yang amat mengenalnya sampai memberi gelar kepada Frans Seda Pahlawan Keuangan Indonesia. Ini dinyatakan Emil Salim di Unika Atma Jaya, Jakarta, ketika menghormati 80 Tahun Usia Frans Seda,

Lalu mengapa Frans Seda begitu singkat masanya menjadi menteri keuangan pertama Orde Baru? Penyebabnya adalah perbedaan tradisi transparansi dan kontrol yang dipelajari Frans Seda di Belanda tidak klop dengan tradisi rahasia militer rezim Orde Baru. Naskah akademis Undang- Undang Keuangan Negara yang disiapkan Frans Seda dan anggota staf Departemen Keuangan ditolak oleh kalangan militer. Mereka menolak maksud baik Frans Seda untuk menyehatkan keuangan negara miskin karena mismanajemen hampir di segala bidang.

Di pengujung tahun 2009, ketika Indonesia sebagai sebuah sekolah raksasa diguncangkan oleh kehebohan dalam bagian administrasi keuangan, meninggal dua guru inspiratif, guru bangsa yakni Gus Dur dan Frans Seda. Mereka mempunyai kesamaan dan kemiripan membangun kembali moral sekolah ini dengan konsep moral force baru, yakni moralitas dibangun dari agama, intelektualitas/rasionalitas dan keuangan (kapital) untuk kesejahteraan umum karena dibedakan dengan tegas milik publik dan milik sendiri.

Akhirnya sesudah bergumul dengan berbagai komplikasi penyakit selama beberapa waktu, Frans Seda meninggal dunia di rumahnya di Pondok Indah pada tanggal 31 Desember 2009 pukul 05.00. Berita meninggalnya tokoh nasional ini tersebar cepat di tengah perhatian publik terarah pada proses penguburan jenazah Gus Dur di Jombang. Banyak pelayat datang menjenguk dan mendoakan arwahnya.

Telah pergi seorang manusia yang telah mengisi kehidupannya sebagai the man of values. Bagaimana publik memberikan penghormatan pada tokoh yang baru meninggal ini, sudah memperlihatkan memori kolektif di mana tokoh ini sudah berperan aktif dan mewariskan hal-hal permanen di tengah masyarakat. Selamat jalan, Pak Frans Seda! RIP!

Sumber: Kompas, 2 Januari 2010

Diplomasi Frans Seda

Oleh Pieter P Gero

Tidak ada yang keliru saat Wakil Presiden Jusuf Kalla meminta Frans Seda agar lebih baik beristirahat. Maklum, Frans Seda saat itu sudah berusia 81 tahun. Beliau juga sudah duduk di kursi roda pula. Namun, keinginan Frans Seda yang disampaikan kepada Wapres Kalla untuk membantu menyelesaikan utang Indonesia di Dana Moneter Internasional atau IMF itu adalah bagian dari semangat diplomasi yang kuat dan andal dalam diri Frans Seda.

Pria bernama lengkap Franciscus Xaverius Seda ini mencatat sukses dalam misi diplomasi yang diembannya. Masih segar dalam ingatan, bagaimana pria sederhana kelahiran Lekebai, Kabupaten Sikka, Flores, ini mengisahkan misi diplomasinya menghindari perang pembebasan Irian Jaya yang kini dikenal dengan Papua.

Saat wawancara dengan beliau guna mempersiapkan artikel ”Lebih Jauh dengan Frans Seda”, berkenaan dengan hari ulang tahunnya yang ke-70 pada 4 Oktober 1996, Frans Seda mengisahkan bagaimana dia memainkan peran diplomasi ke Belanda guna melunakkan Pemerintah Belanda saat itu yang tetap tak mau menyerahkan Irian Jaya kepada Indonesia.

”Angkatan Darat pernah menugaskan saya, tahun 1962, menyelesaikan Irian Jaya (Barat),” ujarnya bersemangat saat ditemui di rumahnya di kawasan Pondok Indah, Jakarta. Frans Seda selalu berapi-api jika menceritakan perannya menyangkut kepentingan bangsa dan negara.

Saat itu Pemerintah Amerika Serikat, di bawah Presiden John F Kennedy, mengajukan upaya perdamaian yang dikenal dengan Plan Bunker. ”Kita sudah setuju Plan Bunker dari Kennedy untuk menyelesaikan soal Irian Jaya, tapi Belanda belum. Bersama ABRI dan Nasution (Jenderal Abdul Haris Nasution), kita mencari jalan. Saya lalu dikirim ke Belanda untuk diplomasi,” tegasnya.

Plan Bunker intinya meminta Indonesia dan Belanda agar mengupayakan jalan damai bagi penyelesaian Irian Jaya. John F Kennedy mengutus adiknya, Robert Kennedy, ke Jakarta pada Februari 1961 untuk menyampaikan rencana ini, tetapi Pemerintah Belanda saat itu tetap menolak. Menlu Belanda Joseph Luns (1952-1971) paling keras menolak.

Karena Frans Seda saat itu tokoh Partai Katolik di Indonesia, mula-mula pembicaraan dilakukan dengan Partai Katolik di Belanda yang juga partai berkuasa. ”Tapi mereka tidak mau menerima, apalagi pemerintah. Menlu Belanda Joseph Luns saat itu juga melarang semua menteri menemui saya. Saya bilang, terserah,” ujar Frans Seda.

Frans Seda hanya mengatakan, ”Saya datang untuk menyatakan kalau kamu tidak menerima rencana itu, terjadi perang. Dan kalau terjadi perang, kau yang salah, kau yang harus pikul darah orang-orang yang mati.”

Saat itu Indonesia memiliki sejumlah kapal perang, kapal selam, pengebom, dan pesawat tempur mutakhir buatan Uni Soviet. Pada 2 Januari 1962, Komando Mandala untuk membebaskan Irian Jaya sudah dibentuk. Panglimanya Brigjen TNI Soeharto (kemudian Presiden Soeharto) yang saat itu menjabat Deputi KSAD Wilayah Indonesia Timur.

Pada hari ke-10, Partai Katolik Belanda rapat dan membicarakan masalah Plan Bunker dan akan mengusulkan ke kabinet. ”Saya bilang, tanggal 19 Mei saya masuk Indonesia dari Singapura. Kalau bisa, saya dapat kabar sebelum itu karena harus lapor kepada Bung Karno,” ujar Frans Seda.

Dari sana Frans Seda ke Roma (Italia), bertemu dengan Menlu Vatikan. ”Saya bilang bila Belanda tidak menerima Plan Bunker, berarti perang. Vatikan bila dengar soal pembunuhan amat responsif,” tutur Frans Seda. Pendekatan sebagai sesama Katolik dimanfaatkan.

Pulang ke Singapura. Pada 18 Mei 1962 malam, telepon berdering. ”Frans, dengar siaran radio Pemerintah Belanda semalam? Pemerintah Belanda menerima rencana itu.” Tiba di Jakarta, Frans Seda langsung ke Istana dan bertemu dengan Jenderal Achmad Yani.

Saat Frans Seda bertemu dengan Achmad Yani, datang Mayjen Soeharto. Sebagai Panglima Komando Mandala, pangkat Soeharto dinaikkan satu tingkat. ”Ia marah karena di luar diberitakan soal Irian ini kemenangan diplomasi Deplu,” ujar Frans Seda yang untuk pertama kalinya bertemu dengan Soeharto.

Tapi Achmad Yani langsung bilang, ”E... nanti dulu Pak Harto. Ini orangnya. Yang menjalankan diplomasi bukan mereka, tetapi kita. Ini orangnya di sini. Jangan kecil hati.” Frans Seda hanya berdiam diri saat ditunjuk Jenderal Achmad Yani.

Achmad Yani menegaskan, ini kemenangan tentara, walau di bidang diplomasi. ”Bukan kemenangan Subandrio,” ujar Frans Seda mengutip Achmad Yani. Subandrio adalah Menteri Luar Negeri yang ketika itu bertolak belakang secara politik dengan tentara.

Frans Seda sudah berpulang kepada Sang Pencipta 31 Januari 2009. Pertanyaan terakhir pada wawancara itu, apa yang dilakukan Pak Frans jika diperkenankan mengulang hidup lagi.

Dengan tertawanya yang khas, Frans Seda menjawab, ”Pertama, saya akan kawin lagi dengan istri yang sama, ha-ha-ha.... Kedua, bila diberi kesempatan, saya akan kembali turut mengatur negara ini sebab bangsa ini bangsa yang baik. Bila ditangani orang baik, akan bagus. Ketiga, coba lagi menjadi Katolik, ha-ha-ha..., jadi Katolik yang lebih baik.”

Frans Seda menikahi Yohanna Maria Pattinaya pada 11 Mei 1961 di Jakarta. Frans gemar menonton tonil yang salah satu bintangnya adalah sang istri. Terima kasih Pak Frans Seda. *

Seda: NTT Harus Jaga Pancasila

KUPANG, PK -- Sesepuh NTT di Jakarta, Frans Seda, telah tiada. Salah satu pesannya yang terakhir untuk NTT adalah agar segenap warga propinsi ini tetap menjaga Pancasila sebagai dasar Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).

Pesan Frans Seda untuk NTT itu disampaikannya melalui Gubernur NTT, Drs. Frans Lebu Raya dalam pertemuan terakhir di Jakarta, Juli 2009. Saat itu Frans Seda berpesan agar warga NTT jangan mudah terprovokasi isu yang ingin memecah belah NKRI. Warga NTT harus ikut menjaga keutuhan NKRI.

Pesan almarhum untuk NTT itu disampaikan Gubernur Lebu Raya di Kupang, Jumat (1/1/2010). Frans Seda, kata Gubernur, berpesan pula agar Undang-Undang Dasar (UUD) 1945 dan Pancasila harus terus dijaga di kawasan timur Indonesia.

"Beliau berpesan agar NTT dijaga baik-baik. Bangun kesejahteraan rakyat melalui peningkatan infrastruktur, sumber daya manusia, ekonomi kerakyatan, kesehatan, dan kerja sama antarkelompok masyarakat," kata Gubernur Lebu Raya.

Dia mengatakan akan menggelar misa arwah bersama warga di Kupang, 6 Januari 2010. Dalam misa itu warga NTT mendoakan Frans Seda dam KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur). Sebab, kedua tokoh itu memiliki peran besar bagi Indonesia umumnya dan NTT khususnya.

Frans Seda meninggal dunia di rumahnya di Jalan Metro Kencana V No. 5 Pondok Indah, Jakarta, Kamis (31/12/2009) pagi. Jenazahnya dikebumikan di Sandiego Hills, Kerawang, Sabtu (2/1/2009) setelah misa requiem di Gereja Katedral Jakarta yang dipimpin Uskup Agung Jakarta, Kardinal Julius Darmaatmadja.

Banyak tokoh nasional, termasuk Presiden RI, Susilo Bambang Yudhoyono dan mantan Presiden RI, Megawati Soekarnoputri, melayat ke rumah duka untuk memberikan penghormatan terakhir kepada Frans Seda.

Di mata SBY, Frans Seda adalah tokoh tiga zaman. "Kita mengenal beliau tokoh tiga zaman. Beliau pernah menjadi menteri di era Bung Karno dan menteri di berbagai portofolio pada masa Pak Harto. Juga pada era reformasi berkontribusi dalam pengembangan demokrasi dan pengembangan era baru ini," kata Kepala Negara.

Frans Seda, katanya, adalah tokoh bangsa dan pemikir yang kritis yang memberikan solusi untuk kepentingan pembangunan. Presiden menambahkan, semua yang masih menjadi cita- cita Frans Seda adalah tanggung jawab semua pihak untuk mewujudkannya demi menuju masa depan yang lebih baik.


Almarhum Frans Seda punya nasehat yang selalu diingat Megawati Soekarnoputri. "Om Frans selalu bilang saya enggak boleh menyerah," kata Mega usai melayat di rumah duka, Jumat (1/1/2010) malam.
Di mata Mega, Frans Seda adalah sesepuh PDI Perjuangan. "Sampai akhir hayatnya, Om Frans tetap PDI Perjuangan," tuturnya.

Sejumlah tokoh dan mantan pejabat pemerintah juga tampak melayat, seperti mantan Menperindag Rini Suwandi, mantan Menteri Negara Perumahan Rakyat Siswono Yudo Husodo, dan mantan Wapres Try Sutrisno.
"Beliau selalu memikirkan perekonomian yang ditata sesuai dengan aturan ekonomi kerakyatan yang berdasar Pancasila itu," tandas Try.

Wapres Boediono saat melayatm berpesan kepada Johanna Maria Pattinaja, istri Frans Seda, "Negara merasa kehilangan, terutama atas jasa di bidang ekonomi. Tabah ya Bu."

Menurut Wapres, Frans Seda adalah ekonom nasionalis yang mengedepankan kepentingan bangsa dan negara di atas kelompok dalam menjalankan tugas dan peran. Ia meminta semua komponen bangsa meneladaninya.
Mantan Wapres Jusuf Kalla, yang sedang di Australia, juga menyatakan duka mendalam atas berpulangnya Frans Seda. Frans Seda dikenalnya gigih dalam memperjuangkan kepentingan bangsa, khususnya pembangunan di wilayah timur Indonesia. "Semangat hidup dan semangat memikirkan bangsa ini luar biasa. Kadang kala semangatnya itu berlebihan untuk orang seusia dia," kata Kalla.

Kalla mengisahkan suatu peristiwa dua tahun silam. Dengan menggunakan kursi roda, Frans Seda mengunjunginya di Istana Wapres. Frans Seda bicara soal utang Pemerintah Indonesia yang terlalu besar dan menawarkan diri untuk membicarakan soal itu dengan koleganya di Dana Moneter Internasional (IMF) dan Bank Dunia.

"Saya bilang, kolega Bapak di sana tentu sudah pensiun. Jadi, Bapak istirahat saja, jaga kesehatan dengan baik," kata Kalla.

Selain di bidang kenegaraan, Frans Seda turut berperan dalam kelahiran harian Kompas, 28 Juni 1965, bersama PK Ojong (almarhum) dan Jakob Oetama. Jakob menyebutkan, almarhum merupakan sosok yang tidak pernah membosankan diajak berdiskusi.

"Orangnya tegas, pandai. Saya kenal lama. Pak Frans juga salah satu pendiri Kompas yang selalu menulis tentang keresahan di negeri ini," ujar Jakob Oetama.
Jakob mengakui terakhir bertemu Frans Seda sekitar setengah tahun lalu saat ia berkunjung ke Kompas. "Itu hanya sebentar. Beliau sudah sulit bicara," ujarnya.

Sebagai pejabat negara, Jakob menambahkan, Frans Seda adalah sosok yang tak pernah membedakan daerah satu dengan yang lain. "Beliau selalu meperhatikan semua daerah, infrastruktur yang rusak diperbaiki, dan tidak ada diskriminasi," katanya.

Frans Seda meninggalkan seorang istri dan dua anak, Francisia Saveria Sika Seda dan Yoanesa Maria Yosefa Seda. Frans Seda lahir dari pasangan Paulus Setu Seda dan Sipi Soa Seda, 4 Oktober 1926, di Lekebai, Desa Bhera, Kecamatan Mego, Kabupaten Sikka, sekitar 30 kilometer sebelah barat Maumere. (kompas.com/kor/sem)

Biodata:

Nama lengkap: Franciscus Xaverius Seda
Tempat dan tanggal lahir: Maumere, 4 Oktober 1926
Agama: Katholik
Istri: Johanna Maria Pattinaja
Anak:
1. Francisia Saveria Sika Seda (Ery)
2. Yoanesa Maria Yosefa Sipi Seda (Nessa)
Alamat rumah: Jln. Metro Kencana V No. 5 Pondok Indah, Jakarta 12310, Telp. (021) 769-5625

Pendidikan:
- Sekolah Rakyat (SR), Ndao, Flores (1940)
- Koles Xaverius Muntilan, Jawa Tengah
- SMP Bopkri, Yogyakarta (1946)
- Hollandsche Burgerschool (HBS), Surabaya (1950)
- Jurusan Ekonomi di Katholike Economische Hogeschool, Tilburg, Nederland, Belanda (1956)

Perjalanan Karir:
- Ketua Umum Partai Katolik (1961-1968)
- Anggota Dewan Penasihat Partai Demokrasi Indonesia (PDI) (sejak 1971)
- Anggota DPRGR dan MPRS (1960-1964)
- Menteri Perkebunan (27 Agustus 1964- 28 Maret 966)
- Menteri Pertanian (28 Maret 1966-25 Juli 1966)
- Departemen Keuangan (25 Juli 1966-17 Oktober 1967)
- Menteri Keuangan (17 Oktober 1967-6 Juni 1968)
- Menteri Perhubungan (6 Juni 1968-28 Maret 1973)
- Duta Besar untuk Masyarakat Ekonomi Eropa di Brussel,
Kerajaan Belgia dan Luxemburg (1973-1976)
- Anggota Dewan Pertimbangan Agung (DPA) (1976-1978)
- Presiden Komisaris PT Kredosindo Perkasa
- Penasihat Ekonomi Presiden BJ Habibie (1 Juni 1998-
Oktober 1999)
- Penasihat Ekonomi Presiden Abdurrahman Wahid
- Penasihat Ekonomi Presiden Megawati Soekarnoputri

Kegiatan Lain:
- Anggota Laskar Kebaktian Rakyat Indonesia Sulawesi (KRIS)
- Anggota Batalyon Paraja/Lasykar Rakyat GRISK/TNI
Masyakarakat (1945-1950)
- Ketua Pemuda Indonesia di Surabaya
- Anggota Panitia Pembubaran Negara Jawa Timur
- Anggota Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) Sementara Daerah Jawa Timur (Mewakili Pemuda)
- Anggota Panitia Konggres Pemuda di Surabaya, Jawa Timur
- Peserta Kongres Umat Katolik Seluruh Indonesia I di
Yogyakarta (1949-1950)
- Anggota PPI (Persatuan Pelajar Indonesia) di Nederland,
Belanda
- Pendiri/pengurus Ikatan Mahasiswa Katolik Indonesia (IMKI) di Nederland (1950-1959)
- Wakil Ketua Yayasan Bentara Rakyat (Penerbit Harian Kompas)
- Anggota Dewan Komisaris PT Gramedia
- Presiden Komisaris PT Narisa
- Ketua Umum Asosiasi Pertekstilan Indonesia (API) dan Asosiasi Perdagangan Tekstil Indonesia (1982-1988)
- Ketua Asian Federation of Textile Industries-AFTEX (1983-1985)
- Anggota Dewan Penasehat untuk Asia dari Sears & Roebuck World Trade, Chicago, Amerika Serikat (1983-1984)
- Anggota Komisaris PT Bayer Indonesia (sejak 1982)
- Ketua Joint Working Party Indonesia United Kingdom (1981-1985)
- Presiden Komisaris PT Pantara Wisata Jaya (kerja sama dengan Japan Airlines dalam promosi pariwisata di Indonesia)
- Komisaris PT Saowisata Seaside & Diving Resort
- Ketua Umum Yayasan Atma Jaya (Penyelenggara Universitas Atma Jaya, Jakarta (1961)
- Dekan Fakultas Ekonomi Universitas Atma Jaya, Jakarta (1961-1964)
- Ketua Bidang Dana KONI (1980-1982)
- Anggota Desan Harian Nasional Angkatan '45 Ketua Bidang Ekubang
- Anggota Komisi Kepausan mengenai Keadilan dan Perdamaian (Iustitia Et Pax) di Roma, Italia (1984-1989)
- Dewan Pertimbangan PMI Pusat (sejak 1986)

Penghargaan:
- Bintang Mahaputra Adipradana II dari Republik Indonesia
- Grandcross of St. Silvester dari Paus Paulus II di Vatican
- Grandcross de L'Ordre de Leopold II dari Kerjaan Belgia
- Grandcross in de Orde van Oranje Nassau dari Kerajaan Belanda
- Grandcross de L'Ordre Royal du Saha Metrei dari Kerajaan Kamboja
- Grandcross of St. Thomas University dari Filipina
- Commander in the Order of Maritime Merit dari State California (USA) dan San Francisco Port Authority (Governor Ronald Reagan)

Pos Kupang edisi Minggu, 3 Januari 2010 halaman 1

Miu ta'u mata!

Oleh Dion DB Putra

WAIARA, 29 Oktober 2005. Fajar baru menyingsing. Di kejauhan sana, puncak Gunung Egon berselimut kabut tipis putih. Egon sedang ramah. Kota Maumere tampak membentang luas di tengah siraman matahari pagi, di bawah hamparan nyiur melambai.

Persis di depan mata, Pulau Besar, Pemana dan Pulau Babi anggun berdiri. Laut utara Flores tenang membiru. Udara bersih. Semilir angin Waiara Beach menyapu lembut wajah kami. Tapi tak ada keheningan.

Gelak tawa dan canda membahana di Pantai Waiara pagi itu. Tergelak oleh beragam kisah yang meluncur dari mulut Drs. Frans Seda. Orang tua itu tak henti- hentinya mempromosikan keindahan alam bawah laut di perairan Waiara serta alam Flores umumnya.Tiga pimpinan teras kelompok KompasGramedia, St. Sularto, Wandi S Brata dan Petrus Waworuntu menyimak dengan riang.

Tanggal 29 Oktober 2005 adalah hari ketiga ziarah dua sahabat pendiri Harian Kompas, Frans Seda dan Jakob Oetama ke Flores. Dua sahabat itu, antara lain sempat mengunjungi Lekebai, kampung halaman Frans Seda, berziarah ke Patung Bunda Maria di Nilo serta berdiskusi dengan civitas akademika STFK Ledalero.

Karena suatu urusan penting, Jakob Oetama lebih dahulu berangkat ke Denpasar bersama Rikard Bagun (kini Pemimpin Redaksi Kompas), Julius Pour dan August Parengkuan hari Sabtu 29 Oktober 2005 dan bermalam di Bali. Sedangkan Frans Seda dan lainnya berziarah ke Biara Pertapaan (Trappist) Lamanabi, Kecamatan Tanjung Bunga, Kabupaten Flores Timur. Saya ikut bersama rombongan Frans Seda menuju Lamanabi yang sempat melahirkan drama menegangkan!

Sejak Jumat (28/10/2005) malam, kami sudah diingatkan Manajer Flores Sao Resort (FSR), Heribertus Ajo bahwa perjalanan ke Tanjung Bunga dengan kapal berkapasitas 8-10 orang mulai pukul 06.00 Wita. "Jangan lupa ko besok bangun pagi-pagi," katanya malam itu.

Pukul 05.00 kamar sudah digedor staf FSR. Mata sebenarnya masih terasa berat karena tidur belum genap tiga jam. Om Frans Seda? Aih, orang tua itu sudah di Pantai Waiara sejak pukul 05.40. Di sana sudah ada St. Sularto, Wandi S Brata, Petrus Waworuntu dan Heri Ajo. Kapal pun sudah siap. Tergopoh-gopohlah saya, Philip Gobang dan Heri Soba. Kami berlari-lari kecil menuju pantai. Saya bahkan orang paling akhir berkumpul karena curi waktu sejenak untuk minum kopi. Khawatir kepala pening dalam perjalanan ke Lamanabi.

Frans Seda berhasil meyakinkan St. Sularto dan Wandi S Brata bahwa perjalanan laut ke Lamanabi aman. Sedangkan Petrus Waroruntu memilih berziarah ke kota Reinha Larantuka dengan mobil. Sekitar pukul 06.45 kami meninggalkan Pantai Waiara. Kapal itu membawa delapan orang termasuk ABK. Kami dikawal speed boat berkapasitas dua penumpang. Pagi yang cerah. Perjalanan terasa nikmat.

Sudah terbayang di depan mata Tanjung Bunga-Lamanabi karena perjalanan dengan kapal mesin ganda berkekuatan 150 PK itu hanya sekitar dua jam.
Ketegangan tiba tiga puluh menit kemudian. Satu mesin kapal mendadak mati. "Solar banjir," kata jurumudi asal Lembata, Nikolaus Nara. Heri Ajo ambil-alih kemudi. Om Niko utak-atik mesin. Sepuluh menit berlalu. Mesin hidup tapi mati lagi. Gantian Heri menghadap mesin, Niko pegang kemudi. Kapal tetap melaju walau perlahan karena hanya andalkan satu mesin.

"Jalan terus. Tidak apa-apa," kata Frans Seda sambil bercerita tentang keindahan alam bawah laut Maumere, pantai pasir putih Pulau Besar serta sisi lain Pulau Babi kepada St. Sularto dan Wandi Brata. Penerima Bintang Mahaputra Adipradana dari pemerintah RI itu terkesan cuek. Philip Gobang berbisik ke telinga saya, "Orang tua ini pintar sekali alihkan perhatian, biar kita tidak memikirkan mesin kapal mati."

Heri Ajo dan Niko tetap bolak-balik mengurusi mesin itu tapi tak kunjung sukses. "Heri, coba kau kontak speed boat pengawal kita. Mana mereka? Pengawal tidak boleh jauh-jauh. Panggil mereka biar kita pakai kapal kecil itu saja," kata Frans Seda. Wah? Heri Ajo mengambil radio (HT) menghubungi dua pengawal. Mereka tidak bisa dikontak. Heri melambaikan tangan sambil memberi tanda agar kembali. Lambaian sia-sia karena speed boat itu malah semakin melaju. Dalam sekejap hilang dari pandangan mata. Celaka duabelas!

"Tidak apa-apa. Terus. Jalan terus!" kata Frans Seda seraya bangkit dari tempat duduk dan menuju kemudi. "Niko, kau urus mesin, biar saya yang bawa," katanya sambil tertahak. St. Sularto dan Wandi S Brata terkesima. Momen indah. Mantan Menteri Perhubungan RI yang kala itu berusia 79 tahun menjadi "kapten" kapal.
Waktu hampir jam sembilan pagi. Arus laut mulai menguat. Tak sadar hampir satu setengah jam berlayar. Posisi kapal telah sejajar dengan Pulau Besar dan kurang 1 mil laut di depan Pulau Babi. Sejumlah penumpang mulai keringatan dan memilih diam. Saya mendekati orang tua itu lalu berkata pelan, "Om, kita kembali saja ke Waiara."

"Aih..miu ta'u mata!" sambarnya dengan suara tinggi diakhiri tawa berderai. Om Frans Seda menanggapi permohonan saya tadi dengan bahasa daerah Lio yang artinya, ah kalian ini takut mati! Kapal terus berjalan pelan.

Sepuluh menit kemudian, Heri Ajo berusaha lagi membujuk beliau agar mengakhiri perjalanan ke Lamanabi. "Bapa, lebih baik kita turun di teluk Wair Terang saja," kata Heri. Om Frans menganggukkan kepala. Syukurlah. Kapal pun putar haluan menuju Wair Terang dengan kemudi tetap dipegang Frans Seda. "Tapi Heri, kita harus tetap ke Lamanabi hari ini," kata Frans Seda.

Mendekati Wair Terang sinyal HP muncul. Heri cepat menghubungi stafnya di Waiara. Minta segera meluncur ke Wair Terang dengan dua mobil. Perasaan kami lega. Keputusan Heri Ajo yang memahami dengan baik lintasan Waiara-Tanjung Bunga itu tepat -- mengingat setelah Pulau Babi akan sulit mencari daratan terdekat jika terjadi apa-apa dengan mesin yang satunya lagi.

Mesin kapal mati hari itu menciptakan ketegangan lain di Tanjung Bunga. Gervasius Seda dan kawan-kawannya gundah. Demi menjemput kami yang diperkirakan tiba sekitar pukul 08.00 Wita, keponakan Frans Seda itu lebih dulu meluncur ke Larantuka, Jumat (28/10/2005) malam dan pagi-pagi menuju Tanjung Bunga. Tapi mereka menanti kapal yang tak pernah datang.

Menunggu sambil menahan lapar dan dahaga lebih dari 13 jam! Menanti dalam ketidakpastian di pantai yang sepi, tanpa telepon, tanpa Handy Talkie (HT). Sempat terbersit niat menghubungi tim SAR di Larantuka bahwa kapal yang ditumpangi Frans Seda mungkin mengalami kecelakaan. Untung niat itu tidak terlaksana karena sekitar pukul 13.00 mereka mengetahui duduk perkaranya.

Kapal tiba dengan selamat di Wair Terang. Heri Ajo dan Niko Nara melompat lebih dulu dari kapal. Dan, Om Niko langsung pasang pundak. Dibantu Philip Gobang dan Heri, Frans Seda yang kala itu mengenakan celana jins biru dan baju kaus duduk manis di pundak Om Niko saat meninggalkan kapal. Tiba di darat, orang tua itu berkelakar, "Heri, jangan lupa kasih naik gajinya." Heri Ajo tersenyum. Om Niko Nara adalah salah seorang karyawan Sao Wisata yang setia. Meski terlambat dan agak melelahkan, ziarah ke Lamanabi tetap terlaksana hari itu.

Demikian sekelumit kenangan dengan Frans Seda, salah seorang putra terbaik bangsa Indonesia yang meninggal dunia di Jakarta tanggal 31 Desember 2009 lalu. Frans Seda meninggal dunia dalam usia 83 tahun. Tokoh ini dikenal berpendirian teguh, pekerja keras, berani, jujur dan lembut hatinya. Beliau sangat serius saat berdiskusi atau memberikan pandangan-pandangannya. Tetapi dia pun bisa jenaka.

Frans Seda suka bercerita dan cerdas dalam memberikan motivasi. Ingatannya sangat kuat. Setiap kali bertemu beliau tak lupa menyapa atau berdiskusi dalam bahasa daerah. "Kau tidak usah malu pakai bahasa ibumu," katanya suatu ketika.
Sisi lain Frans Seda adalah kecintaannya terhadap makanan tradisional dari kampung halaman. Beliau suka makan are gau (ketupat), are mera (nasi dari beras merah), ulat bulu atau ulat bambu, horo ipu dan mbarase (sambal dengan bahan utama ikan kecil yang mudah diperoleh di perairan Paga-Maulo'o), singkong rebus, ae mage (kuah asam-ikan) atau kura mbo (udang dan ikan dari sungai).

"Ulat bulu itu makanan kesukaan saya sejak kecil. Rasanya enak sekali, Jakob," kata Frans Seda saat makan siang di Waiara bersama sobatnya Jakob Oetama, 27 Oktober 2005. "Apa sih khasiatnya Pak Frans?" tanya Wakil Pemimpin Umum Kompas, St. Sularto saat itu. "Oh, khasiatnya luar biasa. Itu makanan bergizi tinggi. Makanya saya sehat dan kuat sampai sekarang," kata Frans Seda.

Rasanya tidak berlebihan bila tokoh tiga zaman seperti dilukiskan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono itu dikaruniai umur yang panjang. Dia ikut berjuang mempertahankan kemerdekaan RI serta mengisi kemerdekaan bangsa bhineka ini dengan sepenuh hati. Frans Seda, seorang nasionalis sejati hingga akhir hayatnya. Selamat jalan Om Frans. Beristirahatlah dalam damai.*

Pos Kupang edisi Minggu, 3 Januari 2010 halaman 1
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Best WordPress Themes