Sepi Sebelum Nyepi


Pantai Kuta 21 Maret 2020
Kesunyian itu tercipta di Pantai Kuta, pantai ikonik Pulau Dewata. Hening pada akhir pekan 21 Maret 2020, empat hari sebelum perayaan Nyepi.

Sehari setelah Gubernur Bali Wayan Koster menginstruksikan wali kota dan bupati menutup objek wisata di daerahnya masing-masing.

Instruksi Gubernur Bali mewajibkan semua objek wisata baik yang dikelola pemerintah, swasta maupun desa adat untuk sementara tidak menerima kunjungan wisatawan mancanegara, nusantara maupun lokal.

Efeknya nyata.

Suasana tampak lengang di kawasan jalan Legian dan Monumen Ground zero, Kuta, Sabtu, (21/3/2020). Hanya terlihat beberapa kendaraan melintas di kawasan tersebut.

Suasana tampak lengang di kawasan jalan Legian dan Monumen Ground zero, Kuta, Sabtu, (21/3/2020). Hanya terlihat beberapa kendaraan melintas di kawasan tersebut. (Tribun Bali/Rizal Fanany)
Dua rekanku jurnalis Harian Pagi Tribun Bali Rizal Fanany dan Zaenal Nur Arifin melaporkan, suasana tampak lengang di kawasan jalan Legian dan Monumen Ground Zero Kuta sepanjang Sabtu
(21/3/2020).

Hanya terlihat beberapa kendaraan melintas di kawasan yang arus lalu lintas biasanya padat merayap tersebut.

Restoran dan lapak suvenir tetap buka. Namun, pengunjung nyaris kosong.

Menurut seorang polisi lalu lintas yang piket di depan Monumen Peringatan Bom Bali alias Ground Zero, kawasan Legian sudah mulai sepi sejak Jumat (20/3/2020).

"Sudah kemarin terlihat sepi,” ujarnya.

Sepinya wisatawan pun diakui Nurianto, pedagang suvenir. Dia mengatakan, kawasan Ground Zero dan sepanjang jalan Legian lebih santai daripada biasanya.

 "Ya tahu sendiri, Legian nggak pernah sepi, kendaraan pasti mengular. Tapi dua hari ini sepi, " kata Nurianto.

Tidak hanya Legian yang lengang. Jalan menuju pantai dan kawasan pantai Kuta pun senyap.

Jumlah pengunjung bisa dihitung dengan jari. Inilah pertama kali Kuta tanpa wisawatan sejak terakhir 2005 pascainsiden Bom Bali II.

Nasib yang sama melanda Pantai Pandawa dan Garuda Wisnu Kencana (GWK) Cultural Park di Kuta Selatan. Bali Zoo, Ubud dan objek wisata lainnya.

Bajra Sandhi, Monumen Perjuangan Rakyat Bali di Lapangan Niti Mandala, Renon pun ditutup untuk umum tanggal 21-30 Maret 2020.

 Bisa dilukiskan pariwisata Bali kini lockdown selama dua pekan dan berpeluang diperpanjang tergantung seberapa dahsyat amukan Virus Corona hari-hari mendatang.

Menyimak tren datanya, kepedihan ini agaknya belum segera bertepi.

Sepi sebelum Nyepi

Sepi sebelum hari raya Nyepi 25 Maret 2020 akhirnya benar-benar terjadi di Bali. Sebuah keputusan rasional realistis di tengah pandemi global Covid-19 yang menelan korban jiwa hampir 10.000 orang sejagat.

Di Bali hingga 21 Maret sudah 4 orang yang  positif,  2 meninggal dunia dan 21 pasien dalam pantauan (PDP).

 Instruksi Gubernur Bali menutup objek wisata sejalan dengan keputusan Pemerintah RI menangguhkan kebijakan visa-on-arrival selama satu bulan terhitung sejak hari Jumat 20 Maret 2020.

Lebih baik terlambat daripada tidak sama sekali.

Sebagian kalangan sesungguhnya mengharapkan pemerintah menutup objek wisata lebih lekas mengingat Bali merupakan tempat persinggahan paling ramai manusia dari seantero dunia.

Pesona Pulau Dewata tak memudar bagi wisatawan meski Corona sudah membunuh ribuan orang di Wuhan pada Februari lalu.

 Al Jazeera melaporkan, sebelum Presiden Jokowi mengumumkan kasus Corona pertama di Indonesia 2 Maret, sebanyak 400.000 wisatawan dari Australia, Rusia, Korea Selatan, India, Jepang dan lebih dari 100 negara lain menuju Bali.

 Dalam 12 hari pertama bulan Maret ini bahkan masih 114.000 orang asing yang datang.

Itulah mengapa pesimisme sempat mencuat tatkala kebijakan social distancing bergulir pada 16 Maret 2020 sementara Bali tetap menerima kunjungan wisatawan.

Ironis. Yang di dalam diminta berdiam di rumah sementara dari luar silakan berdatangan.

Syukurlah hari-hari ini semua telah dikunci untuk sementara sambil berharap prahara Covid-19 segera berlalu dari buana.

Memang bisa dipahami bila Bali tidak serta merta menutup objek wisata.

Kita maklumi kehati-hatian pemerintah. Di pulau peristirahataneksotik ini lebih dari tiga perempat geliat ekonomi terkait pariwisata.

Pariwisata merupakan sumber utama sehingga penutupan objek wisata berpeluang menjadi bencana besar bagi populasi 4,2 juta orang.

 Ada secuil adagium, tanpa turis Bali akan mati! Sekitar 80 persen Produk Domestik Bruto (PDB) Bali bersumber dari pariwisata.

Bali tak memiliki sektor penopang ekonomi alternatif yang kokoh. Menutup kran wisata berarti mengganggu peri kehidupan khalayak.

Banyak orang menganggur. Kehilangan pendapatan sehari-hari. Kelompok rentan tentu paling berisiko.

Di sinilah kita mengerti mengapa agak lama baru pemerintah menutup objek wisata seiring pemberlakuan jaga jarak, hindari kerumuman dan berdiam di rumah saja atau social distancing.

Benar bahwa Bali bergantung pada pariwisata.

Tapi saat ini tidak penting lagi membicarakan itu karena hampir semua negara melarang warganya bepergian di tengah pandemi Corona yang terus menelan korban saban hari.

Toh kepedihan ekonomi yang sama karena penutupan objek wisata pun telah mendera Singapura, Roma, Barcelona, Paris, Monaco, Karibia dan negara-negara lain yang merupakan magnet bagi para wisatawan dunia.

Tak sepenuhnya benar tanpa turis Bali akan mati.

Dari purnama ke purnama Bali tangguh menghadapi cobaan, tidak mengeluh berlebihan dan pasrah begitu saja.

Ketika ada masalah mereka berusaha menemukan solusinya.

Dalam dua dekade terakhir Bali telah mengalami kegetiran ekonomi berulang kali. Kerusuhan Mei 1988, bom Bali 2002 dan 2005, prahara keuangan global tahun 2009 dan letusan Gunung Agung tahun 2017.

Pada setiap momen krisis itu, wisatawan berbondong-bondong melarikan diri dari pulau ini. Semua negara menetapkan travel warning.

Objek wisata hening. Tapi setelah badai berlalu mereka selalu kembali lagi ke Bali dalam jumlah yang jauh lebih gemuk.

Begitulah Bali. Segudang pesona ada di sini. Pemandangan alam indah, akomodasi wisata nyaman memanjakan, penduduk yang ramah dan keutamaan budaya klasiknya yang paling unik dan paling terpelihara di bumi.

Dikau tidak akan menemukan di belahan dunia manapun.

Ketika tahu saya bertugas di Bali sejak tahun lalu, Natalia, temanku asal Ukraina mengirim pesan, “Dion, kamu sangat beruntung.

Bali adalah kerinduanku yang belum terwujud. Saya tetap akan ke sana suatu hari nanti.”

Secercah Harapan

Prahara Corona hari ini sungguh mendebarkan. Namun, bukan berarti tanpa secercah terang di ujung terwongan.

Kesembuhan sudah terbukti ada dan jumlahnya jauh lebih banyak daripada yang meninggal dunia.

Pemerintah pun tidak tinggal diam. Dalam segala keterbatasan, berbagai upaya terus bergema. Inilah sejumput kabar baik agar optimisme tetap berkibar-kibar.

Pemerintah sudah memulai tes massal Covid-19 dari wilayah paling rawan yaitu di Jakarta Selatan.

Wisma Atlet Jakarta mulai tanggal 23 Maret disiapkan untuk 2.000 pasien corona.

Sebanyak 2 juta masker, sedang disiapkan dalam waktu dua minggu ke depan.

Lima ratus ribu test kit Covid-19 sudah diorder dari China dan masuk ke Indonesia secara bertahap. Pemerintah akan gelar drive-thru di beberapa titik untuk tes corona ala Korea Selatan.

Rumah sakit NU, Muhammadyah dan Aisyiyah, siap tangani pasien Corona. Hotel Patra Jasa akan dimodifikasi menjadi rumah sakit khusus pasien Corona.

Acara Ijtima Jamaah Tabligh Akbar di Gowa yang rencananya melibatkan puluhan ribu jamaah, dibatalkan. Jamaah menjalani karantina.

Gereja pun menerapkan perayaan ekaristi dan peribadatan secara online dan streaming.

Seorang pejabat tinggi daerah di Kalimantan membatalkan resepsipernikahan anaknya meski undangan sudah beredar.

Makanan dibagikan buat panti asuhan. Banyak orang lain memilih langkah serupa.

Solidaritas sosial tumbuh mengental. Wardah menyumbang Rp 40 miliar untuk penyediaan prasarana kesehatan. Yayasan Buddha Tzu Chi Indonesia menggalang dana bantuan senilai Rp 500 miliar.

Banyak organisasi masyarakat dan kelompok-kelompok berkontribusi dalam aneka bentuk, semisal bagi-bagi masker gratis, hand sanitizer dan makanan.

Dukungan moril kepada dokter dan terus perawat berdatangan.

Solidaritas bergaung di berbagai belahan dunia.

Para pemain bola professional rela memotong gaji, para atlet dan pesohor kaya mendonorkan dana miliaran dolar demi membantu pencegahan Corona.

Jack Ma, misalnya, lewat Jack Ma Foundation dan Alibaba Foundation menyumbangkan 2 juta masker, 150 ribu test kit Covid-19, 20 ribu baju pelindung wajah, 20 ribu pelindung wajah ke empat negara Asia Tenggara teramasuk Indonesia.

China mengirim dokter terbaiknya ke berbagai negara yang terinfeksi.Para pakar tengah berjuang menciptakan vaksin Covid-19.

Semoga dalam waktu dekat siap produksi massal.

Api harapan tak pernah padam bukan? Kalau demikian bolehlah tuan dan puan mematuhi arahan negara (pemerintah) agar social distancing tidak merana nasibnya.

Namun, sepekan berlalu kebijakan ini masih jauh panggang dari api. Kerumunan masih terlihat di berbagai sudut Bali.

 Pun demikian di belahan lain Indonesia semisal Nusa Tenggara Timur (NTT), kampung halamanku, yang jumlah PDP naik signifikan dalam sepekan.

Terbetik kabar masih ada seminar, pertemuan dan hajatan pesta. Oh Tuhan.

Jujurlah. Kita adalah bangsa tidak disiplin. Kurang tertib. Anggap remeh, lengah bahkan ceroboh. Jatuh korban dulu baru tergopoh-gopoh.

Lihat itu negeri adidaya Amerika Serikat. Pemimpinnya jumawa, anggap remeh Corona, rasis menyebut virus China.

Amukan Corona bikin Amerika tunggang-langgang di pekan terakhir Maret, saat China hampir pulih
total dan aktif membantu banyak negara sahabat.

Dua negara bagian Amerika, California dan New York kini memilih lockdown. Ratusan juta orang dilarang keluar rumah. Langgar dapat hukuman.

Meski Presiden Trump bilang seluruh Amerika tak perlu lockdown, siapa tahu besok akan berubah.

Coronavirus tidak pandang bulu bung. Kesombongan dan kepongahan akan membunuhmu.

Maka kalau tuan sayang diri dan sesamamu, hentikan sikap pandang gampang.

Ajakan pemerintah menjaga jarak, hindari kerumunan massa, berdiam di rumah saja dan tetap mengusung pola hidup sehat merupakan pilihan rasional demi mencegah penyebarluasan pagebluk Covid-19. (dion db putra)

Sumber: Tribun Bali

Io Resto a Casa

ilustrasi
Senin pagi yang cerah di Denpasar 16 Maret 2020, saya mendapat pesan WA dari Romo Leonardus Mali, Pr.

Beliau adalah seorang imam Katolik asal Keuskupan Agung Kupang yang sedang menjalani studi S3 di Kota Roma Italia.

Ah, sontak saya merasa bersalah karena sudah agak lama tidak menjalin kontak dengan beliau.

Apalagi semenjak Virus Corona melanda hingga Italia menutup (knockdown) seluruh negara.

Pasti ada sesuatu yang penting.

Saya pun buru-buru membuka WA.


Ternyata Romo Leo mengirim video.

Isinya sebuah tembang indah meneguhkan perasaan di tengah pandemi Corona yang nyaris melumpuhkan Italia serta mendebarkan jantung manusia sejagat.

Lagu yang ikut menguatkan Indonesia yang sedang murung.

“Terima kasih Romo. Kiranya Romo sehat, tetap semangat selalu. Kita terus saling mendoakan. Keadaan di Indonesia juga tak begitu baik,” begitu balasan saya.

“Iya. Sudah dua minggu jadi seperti tahanan di rumah. Harus ada mekanisme untuk mengatasi stres.” kata Romo Leo.

Lirik lagu yang meneguhkan hati tersebut dibawakan Mega dan Mauro, pasangan suami istri musisi Indonesia-Italia.

Penggemar lagu dangdut di Tanah Air agaknya tidak asing lagi dengan pasangan suami istri yang pernah merilis album Dangdut Elegante ini.

Mega Sihombing dan suaminya Mauro Goia melantunkan tembang dalam bahasa Italia berjudul Io Resta a Casa (Berdiam di Rumah Saja) sebagai pesan solidaritas Italia dan Indonesia.

Syairnya menyentuh hati.

Sungguh relevan dengan kondisi yang sedang dialami kita hari-hari ini.

Saya kutip selengkapnya.

Berdiam di Rumah Saja

Berdiam di rumah saja
Untuk si mungil dalam
kandungan bundanya
Untukmu anak kecil
yang tidak tahu apa-apa

Untukmu yang kuharap
jangan sampai jatuh sakit
Dan untukmu yang tahu
Apa yang hidup berikan
seperti kanak-kanak

Untukmu eyang putri
yang terkadang kembali
Untukmu eyang kakung
yang duduk di kursi roda

Untukmu yang tak tahu lagi
harus berbuat apa
Di dunia yang kelihatannya
sudah tak realistis ini

Untukmu yang wajib bekerja
Untukmu yang berharap bisa
segera buka toko lagi

Untukmu yang bekerja di rumah sakit
Dengan senyummu meredam rasa sakitku
Dan untukmu yang terus-menerus
anggap remeh

Yang buru-buru memutuskan kabur
dari zona merah
Cobalah tolong renungkan sejenak
karena kematian bukanlah
sesuatu permainan

Untukmu yang sementara hanya
bisa memeluk bantal
membayangkan pasanganmu
Dan jangan katakan
mengapa saya harus diatur-atur
Karena pada akhirnya tak
tahu siapa yang bisa sembuh

Jangan merasa lebih tahu dari orang lain
Dan jangan menjadi manusia licik
Sebab saat ini banyak
yang tengah berkorban
Demi hari esok yang kiranya
menjadi hari yang lebih baik

Saya berdiam di rumah
Di rumah denganmu

Jangan katakan kamu tak perlu
berbuat sesuatu apapun
Jangan anggap ini akan berlalu
Tanpa berbuat apa-apa

Sebab setiap kita punya
tugas yang sangat penting
Supaya bisa kembali bersilaturahmi
dengan sobat dan keluarga

Ya, sejak 16 Maret 2020 pemerintah Indonesia menerapkan kebijakan "berdiam di rumah saja". Menghindari bertemu banyak orang.

Opsi yang dipandang efektif memperkecil angka penularan Virus Corona.

Indonesia tidak memilih lockdown seperti Italia, Denmark dan Filipina mengingat konsekuensi dan implikasinya sangat besar.

Kurang bijaksana Indonesia melakukan itu.

Risikonya tak sedikit.

Banyak yang menyebut opsi berdiam di rumah saja sebagai social distancing.

Masyarakat diminta membatasi diri menjalin kontak fisik secara langsung dengan orang lain yang memungkinkan terjadinya penularan virus.

Social distance setidaknya berlangsung selama 14 hari, sesuai lamanya masa inkubasi virus yang pertama kali terdeteksi di Kota Wuhan China tersebut.

Praksisnya sekolah diliburkan sampai akhir bulan Maret 2020.

Aparatur sipil negara (ASN), BUMN dan karyawan swasta pun boleh bekerja dari rumah.

Untuk sifat pekerjaan tertentu patut diatur pimpinan instansi atau perusahaan lebih lanjut.

Prinsipnya mengurangi aktivitas kerumuman, lahan basah bagi menularnya Virus Corona alias Covid-19.

Sekolah libur tapi pembelajaran dapat bergulir secara online.

Sudah banyak lembaga pendidikan yang menerapkan hal tersebut.

Bekerja dari rumah pun bukan sesuatu yang baru.

Seseorang bisa tetap produktif dengan bekerja dari rumah.

Yang penting tetap jaga komunikasi dengan atasan dan rekan kerja serta ditunjang fasilitas pendukung seperti internet yang stabil, laptop dan lainnya.

Pun ada saran agar tetap berpakaian rapi dan bersih.

Kendati bekerja dari rumah, jangan sampai tuan dan pua melewatkan mandi.

Penelitian membuktikan bekerja setelah mandi membuat otak dan tubuh lebih segar.

Tak ada alasan bagi masyarakat Indonesia untuk menolak kebijakan berdiam di rumah saja selama 14 hari ke depan.

Hendaknya kita jalani dengan sungguh-sungguh.

Anggaplah masa ini sebagai quality time, waktu bermakna yang kita habiskan bersama orang-orang terkasih yaitu keluargamu.

Toh pada akhirnya keluargamu adalah mereka yang akan selalu ada di sampingmu, apapun keadaanmu.

Baik ataupun buruk.

Ayah, ibu dan anak-anak dapat melakukan berbagai hal bersama di rumah, misalnya makan pagi, siang dan santap malam bersama, nonton televisi bersama, baca buku, berdiskusi.

Sesuatu yang selama ini hilang lantaran penghuninya sibuk sendiri-sendiri,

Io Resto a Casa.

Jadikanlah rumahmu kembali mendapat tempat yang semestinya.

Rumah tidak sekadar building tetapi home.

Maka selama masa "isolasi" ini, mari mendupai rumah dengan kasih.

Menyiraminya dengan cinta.

Itulah imunitas hati melawan kejamnya Covid-19. (dion db putra)

Sumber: Tribun Bali

Orang-orang Ternama


ilustrasi
Badan kesehatan dunia, WHO, mengambil keputusan tepat. Status covid-19 adalah pandemi. Pagebluk global.

Di bawah tudung pandemi tak seorang pun hari ini bebas dari ancaman wabah Corona. Virus menyebar liar tanpa mengenal batas negara, agama, ras dan suku bangsa.

Dari orang-orang tak ternama sampai pesohor kelas dunia kena virus yang belum ada obatnya tersebut.

Dua setengah bulan berlalu semakin banyak saja orang ternama terjangkit positif. Mereka harus menjalani isolasi paling lambat 14 hari.

Kabar teranyar datang dari bumi Latin Amerika, tepatnya negeri bola Brasilia.


Presiden Brasil Jair Bolsonaro positif corona berdasarkan hasil tes perdana. Hasil tes kedua mengonfirmasi sebaliknya. Presiden Bolsonaro negatif. Walau demikian bumi Brasilia sempat gempar.

"Rumah Sakit Angkatan Bersenjata dan (laboratorium diagnostik) Sabin telah mengembalikan hasil tes negatif virus corona untuk Presiden Jair Bolsonaro," demikian unggahan di Facebook Bolsonaro dikutip dari AFP.

Sebelumnya, media melaporkan Bolsonaro dites positif. Hasil tes datang setelah perjalanan sang presiden ke Amerika Serikat (AS).

Di sana Bolsonaro dan Fabio Wajngarten bertemu Presiden Donald Trump, Wapres Mike Pence dan sejumlah pejabat tinggi AS.

Fabio Wajngarten yang merupakan Direktur Komunikasi untuk Presiden Jair Bolsonaro positif Corona setelah uji medis. Fabio bertemu Presiden Trump di Florida akhir pekan lalu.

Saat itu Fabio mendampingi Bolsonaro dalam kunjungan kenegaraan. Dia positif virus Corona beberapa hari setelah kembali dari Florida.

Pesohor lain yang positif adalah Sophie Grégoire Trudeau, istri Perdana Menteri (PM) Kanada Justin Trudeau.

Dikutip dari kantor berita Reuters, Trudeau juga mengisolasi diri sendiri selama 14 hari. Meski begitu, kesehatan PM Trudeau baik dan tanpa gejala terinfeksi. Dia tetap bekerja dari rumah.

Direktur Komunikasi untuk kantor PM Kanada, Cameron Ahmad menjelaskan Grégoire diperiksa atas rekomendasi medis.

“Dia (Grégoire) merasa baik-baik saja. Mengikuti semua tindakan pencegahan yang direkomendasikan dan gejalanya ringan,” katanya melalui akun Twitter @CameronAhmad, Jumat (13/3/2020).

Ahli kesehatan merekomendasikan orang-orang yang sempat kontak dengan Grégoire segera tes covid-19.

Geger Corona menyerang orang ternama lebih dulu memanas di Teheren karena bertambah lagi jumlah pejabat tinggi Iran yang terinfeksi.

Pekan ini, Wakil Presiden senior Iran Eshaq Jahangiri dan dua menteri Iran lainnya terbukti positif Virus Corona yang kini menembus angka 10 ribu kasus di seluruh negeri Timur Tengah yang molek itu.

Seperti dilansir Associated Press, Jumat (13/3/2020), kondisi kesehatan Jahangiri dipertanyakan dan memicu spekulasi karena dia tidak terlihat dalam foto-foto rapat yang dihadiri para pejabat tinggi Iran.

Kantor berita Fars News Agency akhirnya memberikan kejelasan soal kondisi Jahangiri.

Dalam laporan Fars News Agency, Rabu (11/3/2020) waktu setempat, nama Jahangiri ada di urutan teratas daftar nama orang-orang yang dikarantina akibat virus Corona.

Tidak ada penjelasan lebih lanjut soal kronologi Jahangiri terinfeksi dan kapan tepatnya dia dinyatakan positif virus Corona.

Selama ini, tidak ada laporan resmi dari media nasional Iran soal para pejabat tinggi Iran yang sakit akibat virus Corona. Media outlet di Iran lainnya juga tidak pernah melaporkan warta semacam ini.

Pada akhir Februari lalu, Wakil Presiden Iran Urusan Wanita dan Keluarga, Mashoumeh Ebtekar dilaporkan positif Corona.

Iran memiliki 11 Wakil Presiden dalam pemerintahan. Ebtekar menyatakan dirinya sudah sembuh dari virus Corona dalam postingan Twitter, Rabu 11 Maret 2020.

Di Inggris, Menteri Kesehatan Nadine Dorries tertular virus corona dan menjalani isolasi mandiri. Dorries menuturkan ia segera mengambil segala langkah pencegahan begitu mendapatkan konfirmasi positif.

'Dilansir Sky News, Selasa (10/3/2020), Dinas Kesehatan Inggris langsung melacak kasus Dorries dan kantornya ditutup.

"Saya berterima kasih kepada Dinas Kesehatan Nasional (NHS) yang sudah memberikan nasihat dan dukungan kepada saya," tuturnya.

Politisi dari Partai Konservatif itu mengkhawatirkan ibunya yang berumur 84 tahun dan saat ini tinggal bersamanya.

Menurut Dorries, ibunya mulai mengalami batuk dan dites untuk memastikan keberadaan virus yang pertama kali mengamuk di Wuhan China tersebut.

Sekretaris Kesehatan Inggris Matt Hancock sedih atas konfirmasi positif yang diterima Dorries. Meski begitu, dia mengapresiasi langkah sang menteri yang langsung mengisolasi diri secara mandiri sebagai bentuk pencegahan.

"Saat ini, kami mendoakan kesembuhannya. Saya paham mengapa publik Inggris khawatir dengan penyakit ini. Kami akan berusaha sebisa kami untuk menyelamatkan mereka," janjinya.

Dorries mulai mengalami gejala corona pada Kamis 5 Maret 2020). Saat itu, dia menghadiri sebuah acara di Downing Street untuk memperingati Hari Perempuan Sedunia yang diprakarsai Perdana Menteri Inggris Boris Johnson

Downing Street Number 10, kediaman PM Johnson, belum merespons apakah
Johnson sudah menjalani tes virus corona atau kapan dia akan melaksanakannya.

Selain menteri kesehatan Inggris, beberapa pesohor dunia terinfeksi virus corona yaitu aktor Hollywood Tom Hanks dan istrinya, Rita Wilson.

Beberapa selebriti asal Korea Selatan yang menghadiri Milan Fashion Week seperti Park Min-Young, Han Ye Seul, Minhyun NU’EST dan Kim Chungha, sempat dikhawatirkan terinfeksi virus corona. Namun, hasil tes negatif.

Kemarin, dalam kondisi positif terinfeksi virus corona di Australia, pasangan artis Tom Hanks dan istrinya Rita Wilson membagikan kondisi mereka melalui media sosial. Tom Hanks mengunggah fotonya bersama Wilson.

Mata mereka terlihat sayu. Namun Rita Wilson tersenyum lebar sedangkan Hanks tersenyum tipis. Pasangan Hanks mengatakan mereka tetap berpikir positif di tengah pandemi ini.

"Kami berterima kasih kepada semua di Australia yang telah merawat kami dengan baik," tulis Hanks di akun Instagram-nya, @tomhanks, seperti dikutip Kompas.Com, Jumat (13/3/2020).

"Kami positif Covid-19 dan dalam isolasi sehingga kami tidak menyebarkan kepada orang lain," ujar Tom Hanks.

Peraih dua Piala Oscar sebagai aktor terbaik itu mengingatkan semua orang untuk mematuhi saran pencegahan penyebaran virus corona yang disampaikan pihak berwenang di wilayahnya masing-masing.

Ya, di tengah pandemi virus corona yang menggila, sangat disarankan agar tidak panik. Usahakan tetap tenang dan berpikir positif.

Bahan Refleksi

Begitulah sejumput kisah tentang orang-orang ternama yang terpapar Corona. Lalu bagaimana dengan mereka yang tak termasyhur, orang-orang biasa, kaum kebanyakan?

Sudah jelas Corona tidak memandang bulu. Dari 128.343 kasus aktif covid-19 dengan 4.720 kematian di lebih dari 100 negara di dunia hingga Jumat (13/3/2020), jumlah terbesar adalah orang kebanyakan.

Sebagai bahan refleksi – bukan perbandingan apple to apple – menarik artikel yang dibagikan Pater Otto Gusti, ketua Sekolah Tinggi Filsafat Katolik (STFK) Ledalero, Maumere - Flores di akun Facebook-nya 12 Maret pukul 09.42.

Pater Otto memberi catatan pengantar untuk artikel yang dipublikasikan https://perspektive-online.net sebagai berikut.

Virus apa yang lebih berbahaya - Corona atau kapitalisme? Menurut artikel ini, 405.000 orang meninggal dunia karena malaria pada tahun 2018 dan pada tahun 2017 terdapat 1,5 juta penduduk di seluruh dunia yang menemui ajalnya karena TBC.

Tapi mengapa kedua bencana ini kalah dalam pemberitaan dibanding dengan corona? Juga anggaran riset untuk kedua penyakit ini jauh di bawah anggaran riset corona. Jawabannya: nyawa orang miskin jauh lebih murah di mata kapitalisme.

Mariya Kargar dalam artikel berjudul “Welcher Virus ist tödlicher – Corona oder Kapitalismus?” menyentil sejumlah fakta menarik. Saya kutip beberapa.

Selama berminggu-minggu sampai sekarang, media di Eropa melaporkan infeksi mematikan yang disebabkan virus Corona. Menciptakan kegemparan dan kepanikan.

Memang benar negara wajib menjaga kesehatan masyarakat dan memerangi penyakit dengan segala cara yang mereka bisa.

Tetapi mengapa virus Corona menjadi masalah besar dan negara-negara habiskan dana jutaan untuk penelitian dan perang melawannya.

Mengapa penyakit lain yang bunuh ratusan ribu orang saban tahun, seolah tak masalah dan Anda tidak membaca artikel tentang itu di koran, melihat tayangan TV dan tidak ada pertemuan darurat Organisasi Kesehatan Dunia?

Kargar melukiskannya sebagai kemunafikan dan ketidakadilan dalam sistem kesehatan dunia.

Pada tahun 2018, lebih dari 405.000 orang meninggal karena malaria dan 140.000 orang akibat campak di seluruh dunia.

Tahun 2017, sebanyak 1,5 juta orang terbunuh karena TBC. Negara miskin paling terpengaruh. Semuanya hilang. diagnostik, logistik, pembiayaan dan obat-obatan.

Alasannya adalah karena uang tidak mencukupi digunakan untuk kesehatan semua orang di dunia.

Mengapa jutaan orang harus mati karena penyakit terkenal di abad ini, meskipun ada cukup uang dan teknik canggih untuk menghilangkan selamanya?

Menurut dia, jika negara-negara Uni Eropa, AS, China memberikan perhatian dan investasi bagi penyakit lain kurang lebih sama dengan perhatian terhadap Corona, maka tidak ada yang harus mati karenanya.

Virus lain dengan tingkat dan konsekuensi kesehatan yang jarang dibahas adalah perang. Ribuan orang mati setiap hari karena perang.

Jutaan penduduk juga meninggalkan rumah mereka untuk mencari tempat yang aman.

Mereka adalah orang-orang dari negara yang memiliki tanah kaya tetapi miskin. Orang miskin, yang penguasanya menukar minyak dan gas tanah air mereka dengan senjata dari Jerman, Amerika Serikat dan Rusia. Mereka mati dan sebagian melarikan diri dari negerinya.

Di Suriah, 470.000 orang tewas dalam delapan tahun terakhir, dan lebih dari 10 juta dalam pelarian. Sebesar 35 persen dari populasi penduduk tidak memiliki akses ke air minum dan menggunakan air yang tercemar.

Sejak pertempuran di Yaman dimulai tahun 2015, lebih dari 3,6 juta orang telah melarikan diri dari negara itu, 16.000 warga sipil tewas dalam pertempuran dan setidaknya 10.200 terluka.

Sebanyak 24,1 juta orang - lebih dari 80% populasi - bergantung pada bantuan kemanusiaan.

Kurang lebih 16,4 juta warga Yaman tidak memiliki kesempatan mendapatkan perawatan medis dasar dan hampir 18 juta orang tidak memiliki akses ke air minum yang aman.

Kolera telah berkembang biak selama tiga tahun terakhir. Lebih dari sejuta orang terpapar sejak 2016 dan lebih dari 2.000 meninggal dunia.

Tetapi mengapa tidak semua bencana manusia ini - yang sebagian besar disebabkan oleh negara-negara imperialis yang kaya - menjadi berita utama di media Eropa?

Mengapa tidak ada protes di media tentang jutaan anak-anak yang kekurangan gizi ini? Mengapa tidak ada keadaan darurat yang diumumkan?

Jelas karena kehidupan kelas miskin dan tertindas itu murah dan tidak berharga bagi kelas penguasa. Dan, itu juga berarti pertanyaan kesehatan selalu merupakan pertanyaan kelas.

Kita seharusnya tidak mengharapkan keadilan dan perawatan kesehatan yang layak untuk semua dari sistem seperti itu.

Demikian sentilan Kargar dalam artikelnya. Boleh jadi tak semua sependapat dengannya.

Tapi setidaknya artikel ini memberi sudut pandang berbeda di tengah euforia berita virus Corona.

Saya senang mengutipnya. Semoga bermanfaat juga bagi tuan dan puan. Mohon maaf kalau tak berkenan. (dion db putra)

Sumber: Tribun Bali

Lockdown Olahraga


ilustrasi
Sama halnya era milenial yang karib dengan viral, viralnya Corona kini cenderung liar menggila ke mana-mana.

Setelah Italia dan Denmark lockdown (menutup seluruh negara), 13 Maret 2020 giliran Filipina ambil langkah serupa.

Presiden Amerika Serikat Donald Trump yang sempat memandang remeh Virus Corona, akhirnya menghentikan semua penerbangan dari dan ke Eropa kecuali Inggris dengan syarat ketat.

Pukulan telak menerpa dunia olahraga yang karakternya selalu menyedot atensi publik dalam skala besar.

Setelah Perang Dunia II satu abad yang lalu, belum pernah jagat olahraga mengalami lockdown sekeji ini.


MotoGP paling awal menyatakan sikap. Itu bulan Februari 2020 ketika Tiongkok lockdown terutama Wuhan, Provinsi Hubei yang jadi episentrum covid-19 .

Operator MotoGP membatalkan GP Qatar, yang seyogianya bulan Maret ini serta menunda dua GP berikutnya ke bulan April.

Peluang tertunda lagi besar karena Corona belum menunjukkan sinyal mereda.

Italia, negara di luar China dengan jumlah penderita dan korban tewas terbanyak, ambil langkah tegas.

Setelah batasi Liga Serie A tanpa penonton, terhitung sejak 10 Maret 2020 negeri mode yang gila bola itu menghentikan kompetisi hingga awal April.

Spanyol juga demikian.

Serie A makin waswas setelah bek Juventus Daniele Rugani terkonfirmasi positif Corona, Kamis (12/3/2020).

Rugani adalah atlet dan pemain Liga Italia pertama yang positif.

Mengacu protokol kesehatan WHO, Rugani dkk di Juventus wajib karantina (isolasi) 14 hari.

Bintang Juventus Cristiano Ronaldo tengah berada di kota kelahirannya di Madeira Portugal sejak 9 Maret, menjalani isolasi mandiri di sana.

Dia belum boleh pulang ke Italia sekalipun pakai pesawat jet pribadinya yang super mewah.

Selain Serie A, semua event olahraga di Italia lockdown.

Pemerintah hanya izinkan masyarakat bepergian dalam rangka bekerja atau urusan keluarga sangat mendesak. Semua orang diminta tinggal di rumah dan melarang segala bentuk acara malam.

Pergerakan Corona hingga pekan kedua Maret 2020 makin serius melanglang buana ke Eropa. Setelah Italia dan Spanyol, Liga Inggris terguncang hebat.

Pemilik klub Nottingham Forest Evangelos Marinakis positif Corona pada Senin (10/3/2020). Dia rasakan gejala saat kembali ke negaranya, Yunani.

Paling baru Manajer Arsenal, Mikel Arteta, positif terjangkit Jumat (13/3/2020). Arsenal mengumumkan melalui situs klub hanya selang beberapa saat setelah otoritas Liga Inggris memastikan pertandingan liga tetap digelar pekan ini.

Terjangkitnya Arteta membuat Arsenal menutup pusat latihan di Colney.

Semua pemain klub berjuluk Meriam London yang kontak dengan pelatih asal Spanyol ini dikarantina.

"Kami perkirakan cukup banyak orang di Colney yang melakukan kontak dengannya. Termasuk para pemain di tim utama, staf pelatih serta sejumlah orang dari Akademi Hale End. Akademi telah ditutup sementara sebagai tindakan pencegahan," demikian pernyataan Arsenal.

Vinai Venkatesham selaku direktur klub mengatakan, kesehatan para pihak di Colney dan warga setempat prioritas. "Di situlah fokus kami," ucap Vinai.

Sebelumnya tiga pemain Leicester City masuk karantina. Pelatih Brendan Rodgers mengatakan trio ini telah dijauhi dari para pemain lain.

Sejauh ini 484 kasus covid-19 di Inggris dengan 8 kematian. Beberapa saat setelah Arteta positif, operator Liga Inggris menggelar rapat darurat merespons hal itu.

Mereka langsung memutuskan Premier League, kasta tertinggi Liga Inggris dan Football League, tiga divisi di bawahnya, dihentikan sementara hingga 4 April 2020.

Pada hari sama, Everton mengumumkan seluruh pemain tim utama serta staf kepelatihan klub tengah menjalani karantina setelah seorang pemain gejala terjangkit covid-19.

Pemain Chelsea, Callum Hudson-Odoi serta manajer Arsenal, Mikel Arteta, menjadi pemain dan pelatih Premier League pertama yang positif.

Akibat penyebaran corona yang sangat cepat, kompetisi sepak bola bergengsi Liga Champions Eropa dan Liga Europa musim ini juga ditunda.

Hentikan NBA

Negara adidaya Amerika Serikat pun porak-poranda. Kompetisi bolabasket NBA dihentikan sementara setelah pemain Utah Jazz, Rudy Gobert tertular.

Hasil tes Gobert diumumkan beberapa saat sebelum pertandingan Utah Jazz melawan Oklahoma City Thunder, Kamis (12/3/2020).

Pertandingan pun dibatalkan dan NBA langsung menunda semua pertandingan hingga pemberitahuan selanjutnya.

Sebelumnya NBA sudah mengantisipasi ancaman corona. Salah satunya dengan membatasi kontak fisik antara pemain dengan penonton dan awak media.

Lockdown gara-gara covid-19 kini menghantui pesta sepak bola akbar empat tahunan yaitu Piala Eropa 2020.

Kira-kira 100 hari lagi seharusnya kompetisi tersebut bergulir di 13 negara Eropa (Juni-awal Juli 2020).

Mengingat amukan monster corona makin membara, muncul keraguan apakah Euro 2020 bisa berlangsung sesuai jadwal.

Kecemasan yang sama pun melanda Jepang sebagai tuan rumah Ompiade yang rencananya mulai tanggal 24 Juli hingga 9 Agustus 2020.

Olimpiade akan mempertandingkan 33 cabang olahraga.

Menguat kekhawatiran apakah pesta olahraga multievent sejagat itu akan ditunda atau dibatalkan. Sejak Olimpiade modern pertama di Athena 1896, satu-satunya alasan batalkan olimpiade adalah Perang Dunia (PD).

Pecahnya PD I mengakibatkan pembatalan Olimpiade 1916 di Berlin, sementara PD II membuat dibatalkannya Olimpiade Sapporo (musim dingin) dan Tokyo (musim panas) tahun 1940 serta Cortina d'Ampezzo (musim dingin) dan London (musim panas) tahun 1944.

Sejak itu ada tiga boikot besar, pada tahun 1976 (Montreal), 1980 (Moskow) dan Los Angeles (1984) tetapi tidak sampai pembatalan.

Olimpiade 2004 di Athena tidak terpengaruh virus SARS 2002-2003 sementara virus Zika yang terkait nyamuk meningkatkan kekhawatiran menjelang Rio de Janeiro 2016 sebelum menghilang menjelang Olimpiade.

Secara teoretis, Komite Olimpiade Internasional (IOC) memiliki kewenangan membatalkan olimpiade atau memindahkan dari Tokyo.

Tetapi sejauh ini IOC tampaknya belum mempertimbangkan kedua opsi tersebut.

Hingga dua hari lalu, Jepang memiliki lebih dari 500 kasus Virus Corona di seluruh negeri dengan 12 orang meninggal.

Indonesia Meradang

Hingga Jumat (13/3/2020) sore, tercatat 128.343 kasus aktif covid-19 dengan 4.720 kematian di lebih dari 100 negara di dunia.

Kasus terbanyak tetap di China (80.932) disusul Italia (12.462), lalu Iran (10.075).

WHO -badan kesehatan dunia - telah menetapkan status pandemi. Artinya sudah daya rusak corona berada di level tertinggi.

Dunia terancam sakit, semua tempat harus dipandang kena infeksi.

Tak seorang pun bebas dari ancaman pagebluk.

Indonesia tak kalah meradang. Sampai 13 Maret 2020, 69 orang potitif, 4 meninggal.

Hari demi hari jumlahnya meningkat lekas. Jika terus mengamuk, mestinya Liga 1 Indonesia dan semua event olahraga di tanah air lockdwon sementara dulu.

Bagaimana Bali?

Menarik langkah Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan.

Opsi lockdown selektif! Anies menutup tempat wisata di DKI selama dua pekan.

"Semua destinasi liburan dan tempat wisata ditutup dua minggu ke depan. Ancol tutup, Ragunan tutup, Monas tutup, museum yang dipegang Pemprov tutup. Tujuannya meminimalkan kegiatan warga di ruang yang penuh dengan warga," kata Anies kepada wartawan, Jumat (13/3/2020).

Bali, lumayan banyak suspect corona dalam pantauan (PDP), satu dari empat pasien corona meninggal di sini.

Bali, pusat lalu lalang wisatawan dari seantero dunia. Yang dikunci baru dari tiga negara, China, Italia dan Iran.

Mengingat kasus corona di Indonesia kian gemuk, pemerintah provinsi Bali kiranya tidak tinggal diam.

Lockdown sementara wisawatan mancanegara bisa jadi opsi.

Seorang pengusaha di Denpasar bilang, sekarang jangan dulu pikirkan duit.

Utamakan kesehatan rakyat. Ekonomi bagus tapi dikau sakit, apalah gunanya? (*)

Sumber: Tribun Bali

Terkurung di Kota Abadi

ilustrasi
Kabar nelangsa datang dari adik sepupuku, seorang biarawati Katolik yang lebih dari 10 tahun berkarya di Italia.

Kini dia bermukim di Caserta, sebuah kota mungil di Region Campania, Provinsi Caserta.

Seharusnya tersenyum menyambut musim semi.

Tapi sebulan sudah ruang gerak mereka terbatas.

 “Bahkan dua minggu terakhir kami benar-benar terkurung. Tidak bisa ke mana-mana,” katanya melalui pesan singkat WA kemarin.

Sejak pekan kedua Februari 2020, sekolah taman kanak-kanak tempat dia mengajar diliburkan.

Mengikuti imbauan pemerintah kota setempat sebagai cara terbaik menghadapi epidemi virus corona (covid-19).

“Praktis hari-hari kami hanya berada di dalam rumah,” ujarnya.


“Kami juga tidak boleh ke mana-mana, Om. Hanya diizinkan beraktivitas di dalam biara,” kata keponakanku yang juga biarawati di Italia.

Sejak delapan tahun lalu dia berkarya di kota abadi, Roma. Jantung pemerintahan negara Italia.

Jenuh melanda. Tapi mau bilang apa, puluhan juta orang mengalaminya. Terpenjara di rumah sendiri. Gara-gara covid-19.

Serangan virus corona sungguh membuat Italia tunggang langgang hingga Perdana Menteri (PM) Italia Giuseppe Conte mengumumkan penutupan seluruh negara dari seluruh aktivitas yang menyedot publik dalam skala besar.

Terakhir Roma mengumumkan 9.172 kasus positif, dengan 463 orang meninggal dunia dan 724 orang sembuh.

Pada hari Minggu (8/3/2020), pemerintah melaporkan angka penularan masih berjumlah 7.375 orang.

Angka kematian karena virus corona pun bergulir liar, dari yang semula 93 orang berubah lekas menjadi 463 orang.

Jumlah tersebut menjadikan Italia sebagai negara di luar China dengan kasus kematian terbanyak.

Dalam pernyataannya di televisi seperti dilansir BBC, Conte menegaskan, segala kebiasaan Italia harus berubah.

Setelah membatasi kompetisi Liga Serie A tanpa penonton, terhitung sejak 10 Maret 2020 negeri gila bola itu menghentikan kompetisi hingga awal April.

Namun, bisa saja diperpanjang tergantung perkembangan dampak amukan corona yang belum ada obatnya tersebut.

Selain Serie A, semua event olahraga ditiadakan.

Pemerintah hanya mengizinkan masyarakat bepergian dalam rangka bekerja atau urusan keluarga yang sangat mendesak.

Semua orang diminta tinggal di rumah dan melarang segala bentuk acara malam karena rentan terjangkit corona.

Sebelumnya, sampai 8 Maret 2020, otoritas Italia telah mengisolasi Lombardia, Veneto (Provinsi Venezia, Padova, Treviso), Emillia Romagna (Provinsi Modena, Parma, Piacenza, Reggio Emilia, Rimini), Piemonte (Provinsi Alessandria, Asti, Novara, Verbano, Vercelli) dan wilayah Marche (Provinsi Pesaro-Urbino).

Kini sekitar 60 juta orang di seantero negeri diisolasi hingga 3 April 2020.

Mengutip Sky News, pascapengumuman PM Conte tersebut, orang berbondong-bondong ke supermarket membeli makanan, minuman atau barang penting lainnya.

Sulit memungkiri adanya kepanikan. Konsekwensi keputusan pemerintah mengisolasi warga menyebar hingga ke penjara-penjara yang penuh sesak di seluruh Italia.

Kantor berita Reuters melaporkan, para narapidana, yang kebanyakan marah karena kunjungan keluarga dibatasi, mengamuk dan mulai membakar penjara dari Minggu (8/3/2020) hingga Senin (9/3/2020). Tujuh orang
meninggal dunia.

Di satu penjara, narapidana menyandera sipir dan yang lain melarikan diri.

Pada Senin (9/3/2020) sore, kekerasan menyebar ke bagian selatan Italia, mengguncang lebih dari 25 lembaga pemasyarakatan di seluruh negeri itu.

Pemberontakan terbesar dimulai pada Minggu (8/3/2020) di sebuah penjara di Kota Modena. Tiga tahanan tewas di sana dan empat lainnya terbunuh di penjara tempat mereka dipindahkan setelah kekerasan bergulir hebat.

Seperti sudah diduga dampak corona merebak ke segala penjuru kalau tidak dikelola dengan cerdas dan bijaksana.

“Ini adalah masa palingkelam, tapi kita akan melewatinya," kata PM Giuseppe Conte berusaha memberi peneguhan bagi rakyatnya agar tetap semangat.

Spanyol dan Inggris

Pergerakan virus corona hingga pekan kedua Maret 2020 ini makin serius melanglang buana ke Eropa.

Spanyol meningkatkan kewaspadaan.

Dua pekan ke depan kompetisi sepak bola Liga Spanyol (La Liga) digelar tanpa penonton, mengikuti langkah Italia.

Boleh jadi otoritas La Liga pun bakal meliburkan sementara kompetisi.

Kita lihat perkembangan satu dua hari ke depan.

Teranyar coronavirus mengguncang Liga Inggris.

Pemilik klub Nottingham Forest Evangelos Marinakis positif corona pada Senin (10/3/2020).

Dia mulai merasakan gejala saat kembali ke negaranya, Yunani.

"Mr Marinakis didiagnosis setelah menunjukkan gejala pertama sekembalinya ke Yunani. Selama tinggal di Nottingham, dia tidak menunjukkan gejala virus apa pun," demikian pernyataan resmi Forest.

Marinakis sudah mengumumkan sendiri via instagram bila dirinya positif terkena corona.

Dia berjanji mengikuti seluruh instruksi dokter agar bebas dari virus tersebut.

Tidak berhenti di situ.

Menteri Kesehatan Inggris, Nadine Dorries (62) juga tertular corona dan menjalani isolasi mandiri.

Dorries menuturkan dia segera mengambil segala langkah pencegahan begitu mendapatkan konfirmasi positif.

Dilansir Sky News Selasa (10/3/2020), Dorries menyebut Dinas Kesehatan Inggris melacak kasus ini dan kantornya langsung ditutup.

Politisi dari Partai Konservatif itu mengkhawatirkan sang ibu yang berumur 84 tahun, dia mulai batuk dan bakal jalani tes, Rabu (11/3/2020).

Meski merasa sedih sang menteri positif, Sekretaris Kesehatan Inggris, Matt Hancock mengapresiasi Dorries yang langsung mengisolasi secara mandiri.

"Kami mendoakan kesembuhannya. Saya paham mengapa publik khawatir dengan penyakit corona. Kami akan berusaha sebisa kami untuk menyelamatkan mereka," janjinya.

Juru bicara Departemen Kesehatan dan Layanan Sosial berujar, Dorries mulai mengalami gejala corona pada Kamis pekan lalu (5/3/2020).

Saat itu, dia menghadiri sebuah acara di Downing Street untuk memperingati Hari Perempuan Sedunia yang diprakarsai Perdana Menteri Boris Johnson.

Downing Street 10 (kediaman PM Inggris) belum merespons apakah Johnson sudah menjalani tes virus corona atau kapan dia akan melakukannya.

Mengutip BBC, Nadine Dorries terkonfirmasi positif terjadi setelah London mengumumkan kematian keenam di Inggris, dengan total kasus saat ini mencapai 382 orang.

Korban meninggal terbaru adalah pria berusia sekitar 80-an.

Dia sempat dirawat di RS Watford dan meninggal pada Senin malam waktu setempat (10/3/2020).

Inisiatif Periksa

Konon, Italia tunggang langgang seperti sekarang karena pemerintah setempat kurang sigap sejak awal virus merebak di Wuhan.

Indonesia bersyukur pemerintah lumayan sigap.

Tapi yang paling utama kita patut berterimakasih kepada ibu dan anaknya, dua penderita yang pertama kali diumumkan Presiden Joko Widodo pada 2 Maret 2020.

Mereka berinisiatif memeriksakan diri sehingga ketahuan menderita serangan virus yang belum ada obatnya tersebut.

Inisiatif semacam ini yang kita perlukan agar penanganan terhadap wabah ini cepat dan tepat.

Sejak terkuaknya kasus ibu dan anak itu, pemerintah dan semua pemangku kepentingan terus bergerak mencegah.

Memang jumlah yang positif bertambah, 27 orang hingga 10 Maret, namun ada keyakinan kita bisa terus menekannya.

Jika kasus bertambah secara signifikan isolasi wilayah seperti ditempuh China, Iran dan Italia bisa menjadi opsi pemerintah RI.

Kesembuhan bukan mustahil. Kabar baik terus berembus dari negeri China, episentrum covid-19.

Di Kabupaten Meizhou misalnya, 100 persen penderitaan virus corona sembuh.

Dua pekan terakhir tidak ada lagi penderita baru.

Kabar gembira juga datang dari Wuhan.

Pertama kali dalam dua bulan terakhir jumlah penderita baru hanya 36 orang di seluruh Provinsi Hubei yang ibukotanya Wuhan.

Bandingkan dengan kondisi bulan Februari lalu yang penderita baru saban hari selalu di atas 2.000 orang.

Otoritas setempat yakin Wuhan segera bebas corona.

Presiden China Xi Jinping sudah berkunjung ke Wuhan.

Pemerintah kota ini sudah menutup beberapa rumah sakit darurat karena tak ada pasien baru.

Penduduk Kota Chibi, satu kabupaten di Provinsi Hubei sangat senang karena diizinkan jalan-jalan di wilayah tersebut.

Pemerintah cabut masa isolasi.

Setelah dua bulan terpenjara, mereka kini bebas menghirup udara segar di luar rumah, menikmati hangatnya matahari dan memandang bunga musim semi yang indah.

Kerinduan yang sama kiranya mengisi ruang batin penghuni kota abadi Roma, rakyat Italia, Iran, Korea Selatan dan segenap penghuni bumi.

Berharap para ahli segera menemukan obat corona agar epidemi ini bertepilah sudah.

Terbayang bagaimana daya rusaknya kalau covid-19 terus meluas hingga tiga sampai enam bulan ke depan. Di Pulau Dewata Bali jeritan telah menyeruak hari-hari ini.

Objek wisata sepi. Jalanan lengang.

Ada saudara kita yang di-PHK, karyawan tidak diperpanjang lagi masa kontrak kerjanya.

Pukulan telak memang sangat dirasakan Bali yang pendapatan utamanya bersumber dari pariwisata.

Dalam skala berbeda Labuan Bajo juga telah merasakan efeknya.

Bagaimana Bali dan Labuan Bajo bergairah kalau puluhan juta orang terisolasi di rumahnya masing-masing?

Kemarin malam, seorang driver moda transportasi online di Denpasar mengeluh.

“Sepi pak. Saya sejak pagi sampai jam begini (pukul 20.00) belum mencapai poin aman untuk dapat insentif. Tidak biasanya seperti sekarang,” katanya lirih.

Pemerintah pusat dan daerah bakal kelimpungan karena sumber pendapatan terjun bebas.

PR pemerintah bagaimana menutup defisit anggaran tahun berjalan.

Kegalauan juga menerpa dunia usaha.

Pencapaian laba berpeluang meleset jauh.

Corona sungguh menguji seberapa kuat bangsa ini akan bertahan. Maka tak ada jalan pintas.

Rekatkuatkan solidaritas sosial. Tak mungkin dikau mampu berjalan sendiri. Berhenti saling menghujat dan menyalahkan. Mari beraksi konkret.

Secuil pun pasti berguna bagi orang lain yang membutuhkan.

Di kampung saya, Nusa Tenggara Timur (NTT), bukan hanya corona yang menakutkan.

Bencana sesungguhnya justru demam berdarah.

DBD menyerang hebat, 14 orang meninggal di Kabupaten Sikka dan seluruh NTT sudah 34 orang.

Oh Tuhan semoga di sana solidaritas sosial tidak sunyi senyap.

Solider membersihkan sampah, menguburkan botol bekas, membasmi jentik, membantu meringankan beban sesama. (dion db putra)

Sumber: Tribun Bali

Serena dan Malam Romantis di Roma

Serena Williams (ist)
Musim dingin masih menggigil di Siberia ketika Maria Sharapova mengumumkan gantung raket tenis pada 26 Februari 2020.

Serentak dengan itu, pemuja lawn tennis sontak mengingat satu nama, Serena Jameka Williams (39).

Wanita atlet berdarah Afro-Amerika ini tetap berdiri kokoh di lapangan tenis dunia. Padahal usianya hampir kepala empat.

Dan, dia masih masuk 10 besar petenis putri terbaik sejagat.  Awal 2020 peringat 9 WTA.

Amazing! Sulit mencari alasan untuk tidak mengaguminya.

Lama nian jagat tenis lapangan tidak lagi menulis tentang teman seangkatan Serena atau yang lebih muda darinya.

Sebut misalnya Arantxa Sánchez Vicario (Spanyol), Mary Pierce (Prancis), Martina Hingis (Swiss), Monica Seles, Lindsay Davenpor (AS), Ai Sugiyama (Jepang), Ana Ivanovic (Serbia), Justine Henin, Kim Clijsters (Belgia), Elena Dementieva (Rusia) atau Caroline Wozniacki (Denmark).

Bahkan baru saja petenis yang jauh lebih yunior yaitu Maria Sharapova (Rusia) memilih pensiun pada usia belum genap 33 tahun setelah tersangkut skandal doping dan cedera hingga peringkatnya terjun bebas ke level 300-an.

Kepergian nama-nama tersebut di atas makin mengukuhkan status immortal alias abadi pada seorang Serena Williams.

Petenis kelahiran 26 September 1981 yang memulai karier profesional 1995 ini masih bersaing dengan petenis milenial. Garbine Muguruza (Spanyol), Ashleigh Barty (Australia), Naomi Osaka (Jepang), Sofia Kenin (AS) atau Angelique Kerber (Jerman). Usia mereka rata-rata di bawah 25 tahun.

Kebugaran fisik serta konsistensi prestasi seolah menegaskan, semua orang boleh datang dan pergi tapi Serena Williams masih ada di sana, di panggung tenis paling keras sejagat berlabel WTA (Women's Tennis Association) tour.

Pada awal karir profesionalnya, komentator seperti Chris Evert, John McEnroe dan Mary Carillo menyebut Serena sebagai Si Manis dari Michigan yang "Berisik dan Mengganggu." Mengacu pada bunyi manik-manik rambutnya saat bermain.

Sejarah kemudian membuktikan prestasi Serena Williams benar-benar berisik dan mengganggu tidur malam lawan-lawannya.

Sempat mengalami diskriminasi pada masa bocah lantaran warna kulit, Serena merupakan nama agung dunia tenis sejak penghujung abad lalu hingga dua dekade awal abad ke-21 ini.

Untuk petenis putri, hanya empat nama yang pantas berdiri sejajar. Chris Evert Lloyd, Martina Navratilova, Steffi Graff dan Serena Williams. Nama yang takkan lekang oleh waktu.

Secara spesifik Serena bahkan menyandang status petenis Afro-Amerika satu-satunya yang paling sukses dalam sejarah.

Serena Williams merupakan petenis profesional AS tersukses setelah Chris Evert dan Navratilova. Dia mengoleksi 23 gelar tunggal. terbanyak baik untuk petenis pria maupun wanita di era tenis terbuka WTA

Dia menempati peringkat 1 di nomor tunggal pada delapan kesempatan terpisah antara tahun 2002 dan 2017.

Tak seorang pun pernah meraih rekor prestisius itu.

Ia pertama kali menjadi petenis putri nomor satu dunia 8 Juli 2002.

Pada kesempatan keenamnya, ia memegang peringkat tersebut selama 186 minggu berturut-turut, menyamai rekor petenis legendaris Jerman Steffi Graf.

Secara total, ia menjadi nomor 1 selama 319 minggu, yang menempati peringkat ketiga setelah Steffi Graf dan Martina Navratilova.

Mengutip data WTA dan Wikipedia, Serena Williams memegang gelar Grand Slam terbanyak di nomor tunggal, ganda dan ganda campuran di antara petenis aktif saat ini.

Serena Williams mengoleksi 39 gelar Grand Slam, terdiri dari 23 di nomor tunggal, 14 gelar ganda putri dan dua nomor ganda campuran.

Pencapaian luar biasa karena tidak semua petenis piawai bermain apik di setiap nomor.

Dia menyamai rekor Lod Laver dan Graf sebagai pemegang empat gelar tunggal Grand Slam secara bersamaan (2002–2003 dan 2014–2015).

Dia pemain teranyar yang memenangkan gelar Grand Slam di setiap tipe lapangan (keras, tanah liat dan rumput) dalam satu tahun kalender (2015).

Bersama kakaknya Venus Williams, Serena genggam keempat gelar ganda putri Grand Slam (2009-2010).

Menghasilkan hampir 29 juta dollar AS hadiah uang dan sponsor, Serena adalah atlet wanita dengan bayaran tertinggi pada tahun 2016.

Dia mengulangi prestasi ini tahun 2017 ketika menjadi satu-satunya wanita dalam daftar Forbes dari 100 atlet dengan bayaran tertinggi yaitu 27 juta dollar AS.

Dia memenangkan penghargaan Laureus Sportswoman of the Year empat kali (2003, 2010, 2016, 2018), dan pada Desember 2015, dinobatkan sebagai Sportsperson of the Year oleh majalah Sports Illustrated.

Tahun 2019, ia berada di peringkat 63 dalam daftar atlet dengan bayaran tertinggi versi majalah Forbes.

Kaya raya tapi dermawan. Tidak pelit. Begitulah karakter Serena.

Tak secuil duit yang telah dia gelontorkan untuk karya amal selama 20 tahun terakhir.

Fokusnya pada pendidikan, kesehatan. olahraga dan pemberdayaan kelompok rentan.

Beberapa bisa disebut sebagai umpama. Melalui Yayasan Serena Williams, dia mendanai pembangunan Sekolah Menengah di Kenya, Sekolah Dasar di Jamaika, menyediakan beasiswa universitas bagi siswa kurang mampu di Amerika Serikat.

Serena terlibat aktif dalam sejumlah klinik di sekolah dan pusat-pusat komunitas, terutama yang memiliki program bagi kaum muda berisiko.

Dia membantu kaum muda yang ingin belajar tenis tetapi fakir secara sosial dan ekonomi.

Dia menerima penghargaan dari Avon Foundation tahun 2003 untuk dedikasinya dalam kampanye melawan kanker payudara.

Sejak 2016, Serena dan Venus berkolaborasi dalam Dana Williams Sisters untuk proyek-proyek filantropi.

Bertenaga, Konsisten dan Akurat Serena Williams memiliki gaya permainan yang khas. Dia akan
mengendalikan lawan sejak memukul bola servis pertama.

Servisnya terkenal keras dan konsisten sepanjang pertandingan.

Pengembalian servis pun sama akuratnya. Kekuatan lainnya adalah groundstroke, pukulan forehand dan backhand.

Forehand Serena dianggap sebagai salah satu tembakan paling bertenaga di jajaran petenis putri. Demikian pula backhand dua tangannya.

Serena Williams memukul groundstroke punggung menggunakan posisi terbuka, dan menggunakan posisi terbuka yang sama untuk forehandnya.

Penulis dan jurnalis tenis melukiskan pola permainan agresif Serena Williams sebagai gaya berisiko tinggi.

Namun, dia piawai mengimbangi dengan servis yang bertenaga dan konsisten. Skill ini tak banyak dimiliki petenis wanita.

Dia cerdas memproyeksikan langkah dan penempatan bola terukur dengan servisnya.

Di Australia Open 2013, misalnya, ia mencatat kecepatan servis puncak 128,6 mph (207,0 km / jam) yang merupakan waktu tercepat ketiga di antara para pemain wanita (hanya Venus 129 mph dan pencapaian Sabine Lisicki 131 mph yang lebih cepat).

Kunci suksesnya membuat servis mematikan adalah penempatan bola dan kemampuannya melepaskan tembakan kuat berakurasi tinggi.

Pada kejuaraan 2012 di Wimbledon, ia mencapai rekor 102 ace, lebih banyak daripada yang diraih petenis pria mana pun selama dua minggu.

Tergolong langka karena ace lebih sering terjadi dalam permainan pria.

Serena pun memiliki overhead solid dan kuat. Meskipun banyak yang menganggapnya pemain ofensif, dia sesungguhnya memiliki pola pertahanan tangguh.

Dia sangat senang bermain di lapangan tanah liat karena memberinya waktu tambahan untuk mengatur bidikan memperdayai lawan.

Serena Williams tahan banting. Mentalnya tidak rontok meski sudah tertinggal poin dari lawan.

Dia meraih tiga gelar tunggal Grand Slam setelah menyelamatkan poin krusial (semifinal Australia Open 2003 lawan Kim Clijsters, semifinal Australia Open 2005 melawan Maria Sharapova, dan semifinal Wimbledon 2009 menghadapi Elena Dementieva).

Dia mengejar defisit 3-5 pada set ketiga melawan Kim Clijsters di AS Terbuka 1999 dalam perjalanan menuju gelar tunggal Grand Slam pertamanya.

Di final AS Terbuka 2012 melawan Victoria Azarenka, ia tertinggal 3-5 pada set ketiga dan tersisa dua dua poin lagi akan tersungkur.

Di luar dugaan Serena melakukan counter attack menakjubkan dan mengalahkan Azarenka.

Di babak semifinal Prancis Terbuka 2015, Serena sakit, tertatih-tatih dan hampir tidak bisa berjalan. Namun, dia terus bertahan hingga mengalahkan lawannya, Timea Bacsinszky, 6-0 pada set ketiga.

Kemenangan mustahil lainnya terjadi di babak ketiga Wimbledon 2015.

Dia pulih dari dua kali istirahat dalam set ketiga untuk mengalahkan petenis wanita nomor satu Inggris Raya, Heather Watson.

WTA mencatat Serena Williams bangkit dari ketertinggalan untuk menang dalam 37 pertandingan level Grand Slam. Mental baja yang langka.

Keluarga Besar

Serena Williams hidup dalam lingkungan keluarga besar yang rukun. Dia lahir di Saginaw, Michigan, buah kasih pasangan suami istri Richard Williams dan Oracene Price.

Serena anak bungsu dari lima putri Price, saudara tiri Yetunde, Lyndrea, Isha Price dan kakaknya, Venus Williams.

Ia juga memiliki setidaknya tujuh saudara tiri dari pihak ayah.

Ketika anak-anak masih kecil, keluarga Williams pindah ke Compton, California, di mana Serena Williams mulai bermain tenis pada usia empat tahun.

Ibunya adalah pelatih resmi pertama. Mentor lain yang membantunya pelajari permainan itu termasuk Richard Williams, sang ayah yang di kemudian hari mendirikan The Venus and Serena Williams Tennis Tutorial
Academy.

Ketika Serena berusia sembilan tahun, keluarganya pindah dari Compton ke Pantai Palm Barat, Florida, sehingga ia bisa masuk akademi tenis Rick Macci.

Macci tak selalu setuju dengan cara Richard Williams mengasuh anaknya.

Tetapi Macci menghormati Richard memperlakukan anak perempuannya seperti anak-anak, membiarkan mereka menjadi gadis kecilnya. Yang kadang manja.

Richard berhenti mengutus putrinya ke turnamen tenis junior nasional ketika Serena berusia 10 tahun karena dia ingin putrinya fokus pada sekolah.

Pengalaman rasis juga berkontribusi. Selama mengikuti turnamen, Richard Williams mendengar orang kulit putih bicara tentang Serena dan Venus dalam rupa cara yang merendahkan.

Padahal kala itu Serena mengoleksi rekor 46–3 pada tur junior Asosiasi Tenis AS dan berada di peringkat nomor satu di antara pemain di bawah 10 tahun di Florida.

Tahun 1995 ketika Serena berada di kelas sembilan, sang ayah mengeluarkan dia dari akademi Macci dan melatihnya di rumah.

Serena baru benar-benar terjun sebagai petenis profesional pada usia 16 tahun.

Malam Romantis di Roma

Serena Williams menikah dengan pendiri Reddit, Alexis Ohanian. Ohanian melamar Serena Williams di Kota Roma pada malam romantis dua pekan menjelang Natal yaitu 10 Desember 2016.

Tanggal 30 Desember 2016, Serena Williams mengumumkan pertunangannya dengan Ohanian di sebuah pos Reddit.

Sebelas bulan berikutnya mereka menikah 16 November 2017 di New Orleans, AS. Para tamu di pesta pernikahan spesial itu termasuk pesohor Beyonce, Anna Wintour, Kelly Rowland dan si cantik Kim
Kardashian West.

Pada 19 April 2017, Serena unggah foto dirinya di Snapchat yang berfokus pada bagian tengah tubuh. Judulnya, "20 minggu", memicu spekulasi fansnya bahwa Serena sudah berbadan dua.

Fakta bahwa dia hamil 20 minggu saat mengumumkannya, berarti dia hamil 8 minggu kala memenangi Australian Open pada Januari tahun 2017.

Serena kemudian mengkonfirmasi posting foto di Snapchat adalah sebuah kecelakaan.

Sebenarnya dia hanya bermaksud menyimpan foto itu untuk catatan pribadi.

Pada September 2017, Serena Williams melahirkan seorang anak perempuan lewat bedah cesar karena emboli paru selama persalinan.

Dia menderita emboli paru lagi setelah melahirkan.

Pada Agustus 2018, Serena Williams mengakui ia sempat depresi pascapersalinan.

Sakit lagi-lagi tidak meruntuhkan mental bertandingnya.

Tanggal 30 Desember 2017, Serena memainkan pertandingan pertama sejak melahirkan,
laga eksibisi di Abu Dhabi. Kalah dari juara bertahan Prancis Terbuka Jeļena Ostapenko.

Sebagai seorang ibu, Serena Williams memenangkan gelar tunggal pertamanya di ASB Classic 2020.

Dia mengalahkan berturut-turut, Giorgi, McHale, Siegemund, Anisimova dan Jessica Pegula di final. Dia juga mencapai babak final di nomor ganda dengan Caroline Wozniacki.

Itulah sebabnya dia menjadi wanita pertama di era tenis profesional dengan koleksi setidaknya satu gelar dalam empat dekade: 1990-an, 2000-an, 2010-an, dan 2020-an.

Turnamen terkini yang dia jalani adalah Australia Open 2020 di Melbourne, di mana ia menjadi unggulan ke-8.

Dia menekuk Anastasia Potapova dan Tamara Zidanšek di babak pertama dan kedua.

Sebelum kalah atas Wang Qiang (China) dalam tiga set ketat di babak ketiga tanggal 23 Januari 2020.

Bulan September tahun 2020, petenis yang fasih bicara Inggris, Prancis, Spanyol dan Italia tersebut akan genap berusia 39 tahun.

Sedemikian jauh belum ada sinyal Serena Williams bakal pensiun.

Mungkin di usia 40 tahun atau lebih, entahlah.

Dia masih bugar dan tetap menyulitkan lawan-lawannya yang jauh lebih muda.

Hebatnya lagi Serena bersih dari obat-obatan atau multi vitamin penambah stamina ilegal alias doping.

Berharap dia tidak terpeleset seperti Sharapova dan atlet top lainnya.

Dengan begitu tinta emas sejarah olahraga dunia berkenan menulis, untuk Si Manis dari Michigan, musim-musim berlalu tapi namamu abadi selalu. Manis dan anggun.

Manis prestasi anggun pula moral fair play! (dion db putra)

Sumber: Tribun Bali

Puasa Berciuman


ilustrasi
KAMIS pagi yang adem setelah rinai gerimis menyapa Denpasar, saya menerima pesan WA yang bikin ngakak.

Pesan dari teman karib semasa kuliah yang sedang pulang kampung menemui orangtua dan keluarga.

Kendati sejak penghujung 1990-an dia bekerja di Jakarta, kalau dengan saya gaya komunikasinya tetap berdialek melayu Kupang. Isinya demikian.

“Dion e…, beta nih lagi di Kupang. Pulang tengok mama yang sakit. Maklum umur su (sudah) 79 tahun. Lu (kamu) tahu, yang bikin beta kesal, gara-gara corona beta harus tahan diri ko sonde (tidak) berciuman hidung deng (dengan) mama dan sodara (saudara) yang lain.”

Ya, coronavirus alias Covid-19 yang masih bergentanyangan itu memang bikin dongkol dunia, termasuk sebagian besar masyarakat Nusa Tenggara Timur (NTT) yang punya tradisi berciuman hidung saat bersua.

Di Malaka, teritori eksotis NKRI di beranda terdepan yang berbatasan dengan Negara Republik Demokratik Timor Leste, bupati harus turun tangan.

Bupati Stefanus Bria Seran yang seorang dokter mewanti-wanti masyarakatnya agar hentikan dulu urusan cium hidung.

"Ciuman hidung memang budaya kita untuk saling sapa, tetapi untuk sementara, jangan dulu," ujarnya seperti diberitakan Kumparan, Selasa (3/3/2020).

Wajar bila Bupati Malaka, Stefanus Bria Seran mengajak puasa cium hidung atau cium Sabu itu.

Sebab sebagian besar masyarakat NTT khususnya di Sabu, Rote, Timor dan Sumba akan merasa kurang afdal kalau tidak bersalaman “hidung bertemu hidung” yang bermula dari tradisi masyarakat Pulau Sabu tersebut.

Tradisi yang dalam bahasa Sabu disebut henge’do ini dapat dilakukan kapan, di mana pun dan dengan siapa saja, tak memandang usia, perbedaan gender, strata sosial dan lainnya.

Lazimnya dipraktikkan saat menyambut atau bertemu seseorang.

Maknanya adalah tanda persaudaraan, kekeluargaan dan penghormatan.

Hidung merupakan alat pernapasan agar manusia tetap hidup.

Masyarakat Sabu Raijua memaknai henge’do sebagai unsur yang dapat menghidupkan rasa kekeluargaan dan persaudaraan walaupun baru pertama kali berjumpa.

Tradisi luhur itu pun telah berkembang jauh menjadi kebiasaan masyarakat Tenggara Timur.

Sebagai pembanding, cium hidung ala Sabu mirip hongi dari Suku Maori di Selandia Baru.

Kembali ke laptop! Coronavirus memang mensyaratkan kita mengurangi kontak fisik sehingga cium tangan atau berjabatan tangan hari-hari ini agak dibatasi.

Bahkan puasa sementara dulu seperti cium hidung di Nusa Tenggara Timur itu.

Di Kabupaten Gianyar, Bali pimpinan Dinas Pendidikan dan Kebudayaan setempat telah mengeluarkan imbauan agar semua sekolah menghentikan salam jabat dan cium tangan antara murid dan guru.

Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Gianyar, I Wayan Sadra mengajak para murid dan guru menggunakan salam namaste atau mencakupkan tangan di dada.

“Bersalaman dan mencium tangan guru selama ini adalah bentuk etika. Namun, karena kondisi seperti saat ini (epidemi corona) untuk sementara waktu, sikap salaman itu diubah menjadi namaste,” kata Wayan Sadra kepada Tribun Bali, Rabu (4/3/2020).

Dia juga mengimbau kepala sekolah dan guru memantau kondisi anak didiknya.

“Bila ada siswa demam, batuk dan flu segera kontak tim medis. Namun saya berharap tindakan jangan berlebihan yang dapat membuat panik. Sebab saat ini musim hujan, penyakit demikian (batuk, flu) umum terjadi di Indonesia,” ujarnya.

Jangan berlebihan. Itulah kata kuncinya.

Nah seorang kerabat bercerita betapa corona bikin dirinya parno (paranoia).

Apalagi sejak Presiden Joko Widodo mengumunkan dua warga negara Indonesia (WNI) positif
terjangkit corona pada 2 Maret 2020.

Dia yang biasanya gesit bersalam-salaman seusai ibadah mendadak takut bersentuhan tangan.

“Saya takut kena corona,” katanya. Belakangan dia sadar kecemasan itu over dosis.

Mendadak mengubah kebiasaan tanpa menjelaskan alasan berpotensi membuat teman, kolega atau orang lain tersinggung.

Untuk sementara waktu memang dapat dimaklumi harus puasa cium hidung, cuti cipika (cium pipi kiri kanan) dan jabat tangan.

Namun, tidak boleh mengurangi respek dan hormat.

Kita toh masih mungkin menatap mata lawan bicara, cangkupkan tangan di dada atau salam hormat membungkukkan badan ala Jepang.

Pengembaraan corona yang belum bertepi memang mengandung sejumlah konsekuensi yang mesti disikapi secara cerdas dan bijaksana.

Kewaspadaan tetap tinggi namun tanpa mengganggu aktivitas kehidupan masyarakat umumnya.

Bagi umat Katolik, misalnya, ada ritual cium salib saat perayaan Jumat Agung (peringatan wafat Yesus Kristus) awal April 2020 nanti.

Otoritas Gereja tentu sudah punya rencana terbaik. Apakah tetap cium salib sebagaimana berlaku saat ini atau berbeda caranya. Beberapa opsi sudah dikedepankan.

Kisah Indah Corona

Sampai detik ini sebaran kasus virus corona meluas ke sedikitnya 77 negara di seluruh dunia.

Tapi kabar baiknya jumlah pasien yang sembuh dari virus yang awalnya menyebar di Wuhan, China tersebut juga semakin banyak.

Bahkan beribu kali lipat dibandingkan jumlah yang meninggal dunia.

Artinya corona tak melulu kabar seram mematikan.

Ada kisah indah yang menumbuhkan harapan.

Peta persebaran COVID-19, Coronavirus COVID-19 Global Cases by John Hopkins CSSE melansir, hingga Rabu 4 Maret 2020, jumlah pasien yang sembuh tercatat sebanyak 48.252 orang.

Sampai kemarin virus corona di seluruh dunia mencapai 92.860 kasus dengan korban meninggal 3.162 orang, terbanyak di China.

Masih dari sumber yang sama seperti dikutip Kompas.Com, jumlah pasien yang sembuh mengalami peningkatan cukup signifikan.

Di China, lebih dari 50 persen pasien virus corona sembuh.

Dari total 80.151 kasus di negeri Tirai Bambu itu, 47.270 di antaranya sudah sembuh.

Adapun jumlah terbesar pasien yang sembuh terletak di Provinsi Hubei yakni sebanyak 36.167 orang.

Hubei merupakan tempat pertama kali corona bercamuk.

Menyusul di urutan kedua provinsi Henan dan Guangdong dengan masing-masing pasien sembuh berjumlah 1.225 serta 1.084 orang.

Kantor berita Associated Press, Selasa 3 Maret 2020 mewartakan, jumlah kasus baru di China terus menurun yakni hanya sebanyak 202 orang.

Hal tersebut merupakan jumlah terendah sejak 21 Januari lalu.

Tingkat kesembuhan 100 persen terjadi di beberapa negara, yaitu Vietnam, Kamboja, Oman dan Sri Lanka.

Di Vietnam tercatat 16 pasien yang terkonfirmasi positif covid-19.

Kemudian di Kamboja, Oman dan Sri Lanka, masing-masing jumlah kasus yang dilaporkan sebanyak satu kasus.

Seluruh pasien di tiga negara tersebut sembuh dan pulang ke rumah dengan senyum bahagia.

Coronavius memang menakutkan tapi serentak pula si virus itu menumbuhkan optimisme, merajut solidaritas, menyadarkan.

Betapa manusia tidak bisa hidup sendirian. Egoistis.

Sepasang pria dan wanita paruh baya, entah siapa, membagi-bagikan masker di sebuah perempatan jalan di Kota Denpasar.

Di tengah kekosongan masker karena diborong kaum cemas dan serakah, di tengah kasus penimbunan, masih ada orang samaria.

Selalu ada manusia berhati mulia di tengah sengkarut kemelut.

Aih jadi malu, kira-kira apa yang bisa kubuat dalam riuh-rendahnya virus corona sekarang?

Mungkin tengok tetangga yang kena demam berdarah atau sakit paru-paru, ODHA, ODGJ, kanker atau penyakit sosial lainnya.

Mereka pun tak kalah galau dibandingkan penderita covid-19 dan keluarganya.

Mereka butuh bahu untuk sekadar bersandar, sekilas tatapan atau salam sapa, hai saudaraku …kamu tidak sendirian. (dion db putra)

Sumber: Tribun Bali

Dunia yang Tunggang Langgang


ilustrasi
SETELAH dua purnama berlalu, virus yang menginvansi dunia era revolusi 4,0 tersebut terbukti mendarat jua di negeri +62 alias Indonesia Raya.

Di Istana Merdeka Jakarta hari Senin 2 Maret 2020, Presiden Joko Widodo mengumumkan dua Warga Negara Indonesia (WNI) positif terjangkit virus corona.

Gempar! Televisi berita bikin breaking news berjam-jam. Media online perbaharui informasi detik demi detik. Media cetak mengemas laporan dari beragam sudut pandang. Media sosial jangan bilang lagi. Riuhnya minta ampun.

Kekhawatiran coronavirus (Covid-19) positif masuk Indonesia sesungguhnya berembus sudah lama, sejak Januari 2020 ketika virus yang bermula dari Kota Wuhan, China itu mulai menyebar ke beberapa negara Asia.


Pertama Filipina, Singapura, Korea Selatan, Malaysia, Jepang dan negara lainnya. Pada bulan Februari 2020, Eropa, Amerika, Australia pun terjangkit virus mematikan tersebut.

Sempat muncul sejumput keraguan apakah benar Indonesia yang berada di jantung benua Asia ini aman-aman saja?

Positive thinking mesti tetap dikedepankan. Pemerintah Indonesia tentu tak bermaksud menutup-nutupi.

Pemerintah harus memastikan secara medis baru umumkan kepada publik adanya WNI yang terjangkit. Dan, itu sudah disampaikan sendiri oleh Kepala Negara RI Joko Widodo.

Entah apa yang tiba-tiba merasukinya, reaksi sebagian saudara kita sebangsa dan setanah air agak mengejutkan.  Di Jakarta dan beberapa kota, orang mendadak borong sembako serta kebutuhan rumah tangga lainnya.

Terlihat antrean panjang di pusat-pusat perbelanjaan. Keranjang belanja penuh sesak. Mereka seolah takut kehabisan stok pangan sehingga beli sebanyak mungkin untuk persiapan. Berpikir seakan besok akan kiamat.

Permintaan terhadap masker pun menjulang tinggi hingga stok habis di berbagai toko dan apotek. Kalaupun ada harganya selangit. Uniknya lagi orang tetap saja beli.

Sulit memungkiri bahwa virus dari Wuhan telah membuat dunia terbirit-birit. Tunggang langgang. Setidaknya dalam 60 hari terakhir, kecemasan merebak hampir di seantero bumi lantaran angka kasus corona meningkat saban hari.

Sampai 2 Maret 2020, covid-19 terkonfirmasi menyebar di 65 negara dengan jumlah kematian 3.006 orang dan 88.227 lainnya terinfeksi. Bisa dipastikan angkanya akan terus bergerak naik hari demi hari.

Begitulah sisi kelam dunia tanpa sekat alias globalisasi. Batas-batas geografi dan teritori tak punya arti lagi. Dunia ibarat sebuah kampung kecil. Di era 4,0 ini malah bumi hunian kita semakin mengerut.

Seolah cuma seukuran gadget di telapak tangan yang terhubung dengan jaringan internet selama 24 jam nonstop. Itulah sebabnya hari ini bukan hanya manusia, barang dan jasa yang bebas keluar masuk batas negara, penyakitpun menyebar bebas ke seluruh bumi. Serentak sekejap.

Virus corona yang bermula dari Wuhan hanya dalam hitungan detik ikut melahirkan kengerian di banyak negeri.

Terulang fenomena epidemi penyakit global yang lebih dulu bikin geger seperti SARS, flu burung, flu babi atau sapi gila yang menyeruduk membabi buta ke pelbagai belahan dunia.

Lalu bagaimana sebaiknya kita menghadapinya? Baik kiranya menyimak kisah anekdot dari Anthony de Mello berikut ini.

Suatu hari wabah menuju ke Damaskus dan melewati seorang kafilah di padang gurun. “Mau ke mana kau wabah?” tanya kafilah.

“Saya akan ke Damaskus, mau merenggut 1.000 nyawa,” jawabnya. Sekembali dari Damaskus, wabah bertemu lagi kafilah itu. Si kafilah protes.  “Hai wabah, mengapa kau merenggut 50.000 nyawa, bukan 1.000 orang seperti katamu?”

“Tidak,” kata wabah. “Aku benar-benar hanya ambil 1.000 nyawa. Sisanya mati karena ketakutan.”

Pesan moral anekdot tersebut tentunya bukan  candaan yang tak lucu. Kita petik pesannya sebagai ikhtiar bersama menghentikan kengerian dan kepanikan atas coronavirus sekarang juga!

Toh bukan muskil virus itu sejatinya merenggut nyawa ribuan orang saja, tetapi jumlah yang mati bisa puluhan ribu hingga jutaan orang karena takut, rumor dan stigma yang mendera.

Tanggung jawab pertama itu ada di tangan jurnalis dan pengelola media massa apapun platformnya. Media mestinya tidak hanya mewartakan hal-hal yang mencemaskan. Publikasikan pula secara proporsional upaya mencegah dan menyembuhkan.

Sejauh ini jurnalis belum banyak menulis dari sudut pandang mereka yang sembuh dari serangan corona, langkah mitigasi serta rupa-rupa ikhtiar jajaran kesehatan dan semua pemangku kepentingan menghadapi pagebluk global tersebut.

Beberapa jam setelah Presiden Jokowi mengumumkan dua WNI positif terjangkit corona, beberapa media menyebut nama korban dan alamatnya secara gamblang. Televisi menayangkan kediamannya.

Media abai terhadap misi perlindungan kepada korban. Media boleh menulis korban secara jelas kalau yang bersangkutan memang menghendakinya. Tapi sedapat mungkin tidak. Hindari eksploitasi.

Transparasi korban hendaknya tetap dalam konteks kepentingan medis saja demi penanganan dan pencegahan virus itu meluas. Otoritas kesehatan tentu butuh data rinci korban dan siapa saja yang pernah kontak fisik dengannya.

Dengan demikian penanganan akan lebih mudah. Namun, rincian data tersebut tidak serta merta menjadi konsumsi publik melalui pemberitaan.

Sebab korban bisa saja dibully dan mendapat perlakuan kurang elok lainnya. Poinnya adalah di tengah ketidakpastian sekarang, media tak patut menambah demam kepanikan.

Wartakanlah  yang menumbuhkan harapan dan optimisme. Good news is good news. Bukan bad news news is good news. Kabar baiknya adalah lebih banyak penderita corona yang sembuh.  Di China, hingga 3 Maret 2020, dari total 80.151 kasus 47.270 di antaranya sudah sembuh.

Di Vietnam seluruh 16 pasien bisa disembuhkan. Pun di Amerika Serikat 7 pasien corona sembuh berdasarkan laporan dua hari lalu. Total seluruh dunia yang sembuh 48.212 orang. Artinya lebih banyak yang selamat bukan?

Tanggung jawab media bersama elemen masyarakat untuk terus mendorong pengelola fasilitas publik, institusi pendidikan dan perusahaan merajut sistem higienis yang  membantu mengurangi dampak penyebaran virus corona.

Ujian Solidaritas

Serangan virus corona merupakan ujian seberapa tangguh umat manusia dapat menghadapinya. Kebersamaan dan solidaritas menjadi kunci.

Kuat kesan dunia hari ini tercerai-berai. Masih berpikir dan bertindak sendiri-sendiri. Mirip perilaku selfi. Foto diri, puji dan kagumi diri sendiri. Psikologi selfi dekat amat dengan selfish. Mementingkan diriku, bangsaku, negeriku. Egoistis.

Masyarakat dunia tidak boleh lupa bahwa kita ini ibarat menumpang kapal pesiar yang sama. Berlayar di tengah samudera menuju pelabuhan tujuan yang sama jua.

Maka tatkala lambung kapal bocor tertikam gunung karang dan karam, siapapun penumpang di dalamnya akan menghadapi risiko tenggelam bersama-sama.

Karena itu kapal harus kita jaga bersama-sama supaya tidak karam terserang corona. Namanya saja penyakit, covid-19 bisa menyerang siapa pun tanpa kecuali.

Tak peduli kaya miskin, dikau cantik rupawan atau buruk rupa. Dunia harus bersatu. Cari antivirus ini selekasnya. Basmi virus tersebut sehingga kehidupan berjalan normal seperti sediakala.

Kalau masih berpikir dan bertindak sendiri-sendiri ya susah bung. Yang paling mencemaskan adalah terjadi resesi ekonomi. Coronavirus cuma pemicu, dampaknya liar berlari ke mana-mana.

Sinyalnya sudah terendus jelas. Sebagai misal di bidang olahraga. MotoGP Qatar ditunda. BWF pending sejumlah turnamen bulu tangkis. Liga sepak bola Serie A Italia libur.

Olimpiade Tokyo dan kejuaraan sepak bola Piala Eropa (Euro) 2020 dalam bayangan waswas apakah mungkin terlaksana sesuai jadwal.

Belum seorang pun pakar yang memprediksi kapan serangan virus ini akan berujung. Dunia pun takkan pernah tahu setelah corona nanti berlalu, virus apalagi yang bakal berkunjung?

Penting diingat siklus epidemi global belakangan ini makin pendek jaraknya dengan daya rusak mengalirkan air mata lara.

Covid-19 pada akhirnya mengirim pesan kuat bahwa epidemi global tersebut merupakan masalah kemanusiaan. Dia jauh melampaui batas kedaulatan negara, sekat suku, agama dan bangsa.

Ketika menyentuh urusan kemanusiaan, maka setiap insan wajib peduli, bekerjasama, saling mendukung, menopang dan meneguhkan. Hadapi corona secara rasional serta tangan dan hati yang merangkul sesama. (dion db putra)

Sumber: Tribun Bali
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Best WordPress Themes