Tampilkan postingan dengan label Jakob Oetama. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Jakob Oetama. Tampilkan semua postingan

Jurnalisme Fakta dan Jurnalisme Makna

 



Oleh: Jakob Oetama

Pidato Penerimaan Penganugerahan Gelar Doktor Honoris Causa dalam Bidang Komunikasi dari Universitas Gadjah Mada Yogyakarta, 17 April 2003

DALAM dunia media masa, dua hal berlangsung hampir serentak di Indonesia. Datangnya kebebasan pers hasil reformasi pro demokrasi serta berlangsung revolusi teknologi informasi yang menghasilkan ICT (Information and Communication Technology).

Ada gejala yang perlu diteliti, dan cukup menarik perhatian. Yakni bahwa kehadiran media informasi dan komunikasi serba teknologi itu, pada gilirannya bukan mematikan informasi dan komunikasi tatap muka dan lewat forum tradisional lainnya, akan tetapi justru menggalakkannya. 

Demikianlah kabar-kabur dan informasi juga ramai dilakukan dalam pertemuan di rumah ibadah, di pasar, di pertemuan-pertemuan tatap muka lainnya.

Sudah sejak semula dipahami, informasi tidak pernah merupakan arus satu arah. Senantiasa dipersepsikan sebagai dua arah, multiarah, berinteraksi. 

Demikian kuat tabiat dan kebutuhan komunikasi sebagai ekspresi diri maupun sebagai proses komunikasi, sehingga apa pun sistem sosial politik yang berlaku, esensialia informasi dan komunikasi itu terus berlangsung. 

Informasi tidak pernah merupakan arus satu arah.

Dewasa ini mulai terdengar pendapat yang bernada mengeluh. Bahwa akhirnya, masyarakat bukan saja kaya akan jaringan informasi yang teknologi maupun yang tradisional, yang lokal maupun yang global, masyarakat bahkan mulai kebanjiran informasi. 

Informasi yang dipersepsikan sebagai sumber pengetahuan, mulai dikhawatirkan sebagai sumber kecemasan.

Hampir tidak ada yang mampu memastikan berapa banyak dan berapa jenis informasi mampu diterima seseorang, atau suatu masyarakat dalam suatu waktu. Dewasa ini mulai terdengar pendapat yang bernada mengeluh tentang lubernya informasi. 

Lubernya informasi tidak lain berarti bahwa ada jenis informasi yang bukan saja tidak sempat diolah akan tetapi sama sekali tidak mungkin dipakai.

Kekhawatiran lain tentang kontradiksi yang tidak mudah dipecahkan. Pada satu pihak masyarakat diperkaya dengan jaringan informasi yang didukung teknologi tinggi yang dalam prosesnya meningkatkan akumulasi seperti belum pernah disaksikan sebelumnya. 

Namun di pihak lain kekhawatiran juga mulai meningkat apakah dengan itu informasi tradisional dihancurkan. Informasi yang dipersepsikan sebagai sumber pengetahuan, mulai dikhawatirkan sebagia sumber kecemasan.

Perkembangan itu menghidupkan lagi debat, sesungguhnya apakah fungsi informasi dan komunikasi itu? Sekedar menyajikan informasi dengan memaparkan kejadian dan persoalan ataukah menyajikannya sedemikian rupa, sehingga khalayak menangkap dan memahami arti dan maksa kejadian dan masalah itu.

Dalam surat kabar, sudah lama ditinggalkan, pandangan – di antaranya dikemukakan oleh C.P Scott dari The Manchester Guardian, bahwa “comment is free but facts are sacred”. “Opini itu bebas, tetapi fakta adalah suci”. Reportase faktual yang memisahkan fakta dan opini berkembang sebagai reportase interpretasi, reportase yang mendalam, yang investigatif dan reportase yang komprehensif.

Pencarian makna berita serta penyajian makna berita itulah yang semakin merupakan pekerjaan rumah dan tantangan media

Bukan sekedar fakta menurut urutan kejadiannya, bukan fakta secara linier, melainkan fakya yang mencakup. Disertai latar belakang, proses dan riwayatnya. Dicari interaksi tali temalinya. Diberi interpretasi atas dasar interaksi fakta dan latar belakangnya. 

Ditemukan variabel-variabelnya. Dengan cara itu berita bukan sekedar informasi tentang fakta, berita sekaligus menyajikan interpretasi akan arti dan makna dari peristiwa.

Lambat laun, bahkan pencarian makna berita serta penyajian makna berita itulah yang semakin merupakan pekerjaan rumah dan tantangan media. The search of meaning dan the production of meaning. 

Bukankah hal itu berarti, tidak lagi berlaku suatu jurnalisme yang obyektif, melainkan yang berlaku adalah jurnalisme yang subyektif. Prof. De Volder ahli etika media dari Universitas Leuven, Belgia sudah dalam tahun 50 -an menyebutnya sebagai obyektivitas yang subyektif.

Subyektivitasnya itu apa? Tentu saja bukan suka atau tidak suka, bukan pula prasangka, tidak juga kepentingan pribadi dan partisan. Subyektif dalam arti, secara serius, secara jujur, secara benar, secara profesional mencoba mencari tahu secara selengkap-lengkapnya, mengapa peristiwa itu terjadi dan apa arti dan maknanya.

Demikianlah cara kerja jurnalisme yang berobyektivitas subyektif, bukan saja terikat dan wajib mematuhi kode perilaku dan kode kerja wartawan. Diperlukan hal-hal lain yang perlu dimiliki wartawannya secara individual, secara kolegial dan secara bersama dalam lembaga tempat mereka bekerja ialah lembaga media yang bersangkutan.

Sikap dan cara kerja yang dipersyaratkan ialah cara kerja bebas dan independen tetapi disertai pertimbangan atas akal sehat, kepekaan serta komitmen.

John C. Merill mengisyaratkan sosok wartawan dan media yang diperlukan agar pencarian dan the production of meaning bisa tercapai. Ia lukiskan sebagia sosok wartawan “yang berpikir dan merasa, yang rasional sekaligus sensitif, yang berdedikasi kepada dunia obyektif di luar “sana” dan kepada dunia subyektif di dalam “sini”. Sikap dan cara kerja yang dipersyaratkan ialah cara kerja bebas dan independen tetapi disertai pertimbangan atas akal sehat, kepekaan serta komitmen.

Atau seperti dilukiskan dengan indah oleh Paul Tillich “Orang hidup dalam makna artinya hidup di atas validitas yang lengkap, yakni validitas akal sehat, estetis, etik dan religius".

Intensi atau tujuan menjadi pedoman bagaimana interpretasi atau arti akan diberikan setiap kali media berjumpa dengan kenyataan. Dan interpretasi itu diberikan lewat kelebihan kata-kata, gambar serta sosok audio visual.

Tidak ada salahnya dipaparkan lagi, modal sosial dan modal intelektual yang diperlukan agar jurnalisme interpretatif atau jurnlaisme komprehensif atau jurnalisme obyektif yang subyektif dapat bekerja secara profesional dan karena itu juga secara bertanggung jawab.

Dalam keadaan supply informasi normal saja, pekerjaan media adalah pekerjaan seleksi. Tidak semua kejadian dan masalah, baik yang jatuh dari langit alias spot news maupun yang mengendap dalam masyarakat alias trend news, semuanya bisa masuk media. Kelewat banyak supply bagi ruang dan tempat yang sanggup menampung.

Seleksi, memilih, itulah pekerjaan media.

Seleksi, memilih, itulah pekerjaan media. Memilih selalu berimplikasi ukuran, kriteria, kualifikasi. Maka orang pun maklum, kriteria itu misalnya bahwa peristiwa dan masalah itu menarik. Menarik secara psikologis dan manusiawi, menarik karena makna dan pengaruhnya yang praktis. 

Selera publik, mau tidak mau menjadi pertimbangan. Sebab pada dasarnya, lewat media, berita bukan dibagi gratis tetapi dijual, dipasarkan, dipersaingkan.

Maka interaksi antara media dan khalayak merupakan suatu proses dan cara kerja yang ibarat terus berlaku dan berlangsung dari A sampai Z, artinya dalam seluruh proses kerja media.

Kriteria menarik atau tidak menarik, berarti atau tidak berarti terutama secara teknis, tidaklah memadai untuk mendudukkan media sedemikian rupa, sehingga mampu memenuhi tugasnya ialah memberi informasi, melangsungkan komunikasi serta menangkap arti dan makna dari suatu peristiwa dan masalah.

Lagi pula, seperti halnya dewasa ini di negara mana pun dan dalam sistem politik apa pun, media bukan lagi sekedar media informasi dan komunikasi secara sempit. Makna peristiwa dan masalah menjadi jelas, luas lagi dalam, tatkala justru ditempatkan pada posisi dan interaksi dengan persoalan-persoalan besar bangsa dan negaranya.

Media untuk bisa melaksanakan tugasnya secara memadai, memerlukan pada dirinya perangkat lunak visi, pandangan kemasyarakatan, misi sebagai pengejawantahan posisi dan peran yang akan diambilnya di tengah kenyataan persoalan masyarakat serta arah tujuan pembangunan masyarakat.

Memang demokrasi yang menjamin kebebasan dan hak individual serta kesetaraan. Namun sekaligus juga demokrasi yang bisa bekerja efektif untuk mengikis sumber-sumber unfreedom lainnya dan menurut Amartya Sen itu mencakup ”kemiskinan maupun tirani, kesempatan ekonomi yang terbatas maupun perampasan sosial, kelalaian fasilitas publik, intoleransi serta aktivitas berlebihn dari negara represif.”

Kiranya tanpa menyetujui pemakaian istilah the end of history, pengamatan Francis Fukuyama benar, di mana-mana kini berlaku sistem ekonomi pasar dan sistem demokrasi liberal. Tetapi jangan dilalaikan konteks dan seluruh lingkungannya yang berbeda bagi berlakunya demokrasi liberal dan ekonomi pasar itu.

Latar belakang, riwayat, sikap dasar, nilai dan kepercayaan mempengaruhi produk yang dihasilkan oleh sebutlah proses demokrasi liberal maupun ekonomi pasar.

Setiap bangsa mempunyai formulasi tujuan eksistensinya sebagai bangsa dan negara. Ada faktor-faktor idiil dan rasional yang berlaku umum. Ada realitas-realitas sosial, geopolitik dan lain-lain yang memberi ruang bagi pencarian dan perumusan sendiri. Ada identitas. Ada prioritas. Ada persoalan-persoalan spesifik.

Dari tugas media yang mencakup itulah, muncul pemahaman, bahwa media untuk bisa melaksanakan tugasnya secara memadai, memerlukan pada dirinya perangkat lunak visi, pandangan kemasyarakatan, misi sebagai pengejawantahan posisi dan peran yang akan diambilnya di tengah kenyataan persoalan masyarakat serta arah tujuan pembangunan masyarakat.

Visi dan misi lebih jauh diuraikan dalam suatu kerangka referensi. Pemikiran, pemahaman serta preferensi perihal hal-hal pokok yang menyangkut perikehidupan bangsa dan negara. Bagaimana memahami pluralisme. 

Bagaimana memahami warisan budaya secara kritis. Bagaimana menempatkan individualitas dan kebersamaan. Bagaimana menumbuhkan ekonomi yang sekaligus memberikan perbaikan hidup bagi rakyat banyak.

Bagaimana memahami semacam proses yang hampir-hampir seperti usaha menemukan kembali Indonesia, Reinventing Indonesia. Memberikan jiwa, semangat dan energi baru kepada Republik, memberi makna aktual dan kongkrit kepada otonomi. 

Menjadikan salahguna kekuasaan alias KKN sebagai musuh bersama, sebagia tantangan bersama, sebagai ujian kita sebagai bangsa akan lulus berjajar dengan bangsa-bangsa lain atau tidak.

Media bekerja dengan melakukan seleksi. Seleksi yang disertai beragam kriteria dan beragam kategori kerangka referensi untuk menyajikan makna atau meaning kepada publik.

Apa yang oleh John Naisbitt pernah disebut sebagai Global Paradox, semakin tampak. Jaringan global merambah ke Nusantara, tetapi pada waktu yang sama identitas-identitas lokal ibarat meledak penuh energi di mana-mana. Ekspresi seni budaya, ekspresi sosial ekonomi, ekspresi politik, ekspresi emansipasi kemanusiaan.

Dalam arena informasi dan komunikasi yang marak, khalayak masih tetap harus memilih. Inilah yang juga menarik dari dinamika media. 

Media bekerja dengan melakukan seleksi. Seleksi yang disertai beragam kriteria dan beragam kategori kerangka referensi untuk menyajikan makna atau meaning kepada publik.

Sebaliknya, khalayak juga tetap raja. Ia berhak memilih dan khalayak melakukan pemilihan, setiap hari, setiap saat. Adalah Menlu Singapura Rajaratnam yang dalam tahun 70-an berolok, sesungguhnya pekerjaan yang paling demokratis ialah pekerjaan wartawan. Khalayak pembaca sebagai konstituennya melakukan pilihan setap hari, bukan lima tahun sekali.

Persaingan terjadi antara sesama media. Bisnis media ialah bisnis persaingan yang ketat. Persaingan memperoleh khalayak pembaca, pendengar atau penonton dan persaingan untuk memperoleh iklan. 

Menjadilah media benar-benar suatu lembaga yang dimensi bisnisnya tidak main-main. Harus juga ditangani dan dikelola secara professional.

Dalam persaingan pasar itulah, akhirnya bisnis media bermuara. Gejalanya bertambah hari bukan bertambah surut, justru semakin ramai. Masuk akal, jika pengembangan dan pengelolaan bisnis media itu pun membangkitkan ketegangan. 

Ketegangan di antara sesama bagian-bagian dalam media, terutama antara bagian editorial, pemasaran dan periklanan. Misalnya seberapa jauh dan dalam sosok bagaimanakah, iklan rokok dapat dimuat dalam media. Ada perbedaan kebijakan antara satu media dengan lainnya.

Kemajuan media di negeri kita, kecuali oleh isinya, ditentukan oleh kemampuan mengelola bisnisnya.

Agak terlambat pemahaman dan perhatian media terhadap aspek bisnis dari lembaganya. Surat kabar Indonesia berasal dari zaman pergerakan dan perjuangan kemerdekaan. Surat kabar Indonesia bermula dari pamflet perjuangan. Isi menjadi nomor satu. Barulah kemudian, pemahaman perihal pentingnya pengelolaan bisnisnya muncul.

Untuk selanjutnya, kemajuan media di negeri kita, kecuali oleh isinya, ditentukan oleh kemampuan mengelola bisnisnya. Juga dalam lingkungan ini, media Indonesia sedang memasuki era baru. Era baru yang sangat dipicu oleh perkembangan ekonomi global termasuk berlakunya perjanjian AFTA.

Apakah dengan berlakunya kebebasan dalam sistem demokrasi, perbedaan dan benturan antarmedia dan kekuatan-kekuatan lain dalam masyarakat maupun dalam pemerintah, lantas berakhir? 

Baru saja kita alami pengalaman Mingguan Tempo. Baru saja kita ikuti sengketa hukum antara pengulas pasar modal Lie Chin Wei dengan Komisaris Bank Lippo. Masih terngiang-ngiang kritik pedas Presiden Megawati Soekarnoputri terhadap media.

Perbedaan, konflik dan salah paham antara media dengan publik, demikian pula antara media dengan power that be, dengan pemerintah, tidak akan berakhir. Mungkin lebih ramai, karena dipicu oleh kesempatan dan kebebasan yang dilindungi dan dikehendaki oleh demokrasi.

Terhadap pemerintah, mungkin media bisa menggunakan kebebasannya secara lebih leluasa tanpa beban. Terhadap publik dan berbagai kelompoknya yang pandangan hidup dan persepsinya tentang kehidupan beragam dan bisa sensitif, media akan cenderung lebih hati-hati.

Untuk membedakan norma, lingkungan dan pedoman kerja antara media dengan bentuk-bentuk kekuatan dan kekuasaan lainnya, terutama kekuasaan pemerintah, dibedakan antara politic of values, politik nilai-nilai dan Realpolitik atau power politics.

Kiranya orang tidak salah paham dan beranggapan, kekuasaan dalam otokrasi dan demokrasi itu berbeda. Dalam otokrasi kekuasaan cenderung bersalah guna. Dalam demokrasi kekuasaan cenderung bersih. Persepsi itu salah. Kekuasaan baik dalam otoraksi maupun dalam demokrasi, sama tabiatnya, cenderung bersalah guna.

Karena kekuasaan cenderung bersalah guna maka dalam demokrasi kekuasaan harus dikontrol, dikoreksi, diminta pertanggungjawaban.

Yang membedakan bukanlah tabiat kekuasaan tetapi sikap dan konsekuensi yang diambil. Karena kekuasaan cenderung bersalah guna, maka dalam demokrasi kekuasaan harus dikontrol, dikoreksi, diminta pertanggungjawaban. Hal semacam itu tidak terjadi sepenuhnya pada sistem otokrasi.

Maka amatlah jelas, betapa penting dan menentukan arti kontrol, koreksi dan pertanggungjawaban. Betapa penting kebebasan pers yang membuat media bisa dan wajib melakukan tugas tersebut.

Mudah dipahami, antara media sebagai pengemban politik nilai dan pemerintah sebagai pengemban Realpolitik terbentang peluang untuk berbeda pendapat, berbeda penilaian dan berbeda kepentingan. Terbukalah bukan saja perbedaan, tetapi konlfik, benturan. Terhadap kekuatan publik berlaku hal yang sama.

Perlu diakui dan dihormati aturan main yang disepakati sesuai dengan negara hukum. Yakni bahwa segala sesuatu jika tidak dengan mediasi, haruslah diselesaikan menurut proses dan aturan hukum. Tidak main hakim sendiri.

Meskipun lingkungan media adalah politics of values, sementara domain penguasa adalah Realpolitik alias politics of power, terbentang pula kesempatan bukan saja berinteraksi tetapi bekerja sama. 

Media biarpun beratribut politics of values tidaklah lantas berada di menara gading. Sebaliknya, Realpolitik maupun politics of power tidak berarti kosong nilai, buruk, tidak adil, represi.

Ada lingkungan sekaligus batas yang eksistensinya diperlukan serta eksistensinya harus dihargai oleh semua pihak termasuk oleh media. Yakni sebut saja, adanya wilayah dari the possible, the feassible, the workable, wilayah yang membuat maksud baik dan rencana baik pemerintah dan masyarakat dapat dilaksanakan.

Media ikut memperluas ruang kemungkinan, ruang dari yang feasible dan possible.

Segi inilah akhir-akhir ini, dalam euphoria kebebasan demokrasi, kurang atau tidak diperhatikan. Juga kurang diperhatikan perlunya proses. Salah satu perbedaan antara otokrasi dan demokrasi, diantaranya, adalah proses.

 Otokrasi ibarat tekan knop dari atas, maka proses cepat dan tidak penting. Demokrasi di antaranya ditunjukkan dengan bekerja lewat proses, proses menurut aturan main.

Apakah contoh dari suatu kebijakan yang haruslah feasible, kecuali baik. Hapuskan semua utang luar negeri. Putuskan hubungan dengan lembaga-lembaga luar negeri. Apa gantinya. 

Disebut diantaranya pajak, memang ideal dan sudah seharusnya. Tetapi bagaimana menambah pembayar pajak yang dari 215 juta penduduk, dewasa ini 2 juta saja yang membayar pajak.

Kata Lucien Pye, di antaranya memang di situlah peranan media. Pemerintah cenderung melihat segala sesuatu terbatas, sulit, tidak feasible. Sebaliknya, DPR dan partai-partai politik memandang segala sesuatu mudah dan amat feasible.

 Medialah yang menunjukkan jalan tengah, jalan yang benar-benar atau feasible atau tidak feasible. Media ikut memperluas ruang kemungkinan, ruang dari yang feasible dan possible.

Namun semua itu tidaklah mengurangi atau menggeser, tugas media yang sebenarnya, ialah mencari dan menghadirkan makna dari peristiwa dan masalah, besar dan kecil. Kesetiaan dan kemampuannya melaksanakan tugas itu akan membuat, media berhak atau tidak berhak berperan sebagai suara hati bangsanya, the conscience of a nation.

Pencarian makna lewat karya jurnalis kiranya tidak berhenti sampai sekedar laporan.

Penyelesaian suatu masalah sampai masalahnya benar-benar secara praktis dan selesai bukanlah tugas media. Tetapi jika jurnalisme mencari makna dan pencarian itu pun bepedoman kepada politics of values bukannya politics of power, pencarian makna lewat karya jurnalis kiranya tidak berhenti sampai sekedar laporan.

Lagi pula laporan komprehensif berusaha memaparkan seluruh persoalan berikut aneka macam latar belakang, interaksi serta prosesnya.

Kebanyakan persoalan adalah persoalan yang menyangkut kepentingan bahkan kepentingan berbagai pihak. Maksudnya agar setiap pihak memperoleh bagian yang adil dan dengan demikian masalah diselesaikan.

Seperti disebutkan di atas, sekurang-kurangnya dua faktor mempengaruhi cara kerja media. Yang pertama, revolusi teknologi informasi. 

Revolusi itu menghasilkan media-media baru yang demikian besar dampak teknologinya sehingga Marshall McLuhan melahirkan ungkapan "the medium is the message". Pesan media bukanlah isinya, tetapi pesan media adalah teknologi medium itu sendiri. Teknologinya mempengaruhi dan menentukan sosok isi.

Pesan media bukanlah isinya, tetapi pesan media adalah teknologi medium itu sendiri. Teknologinya mempengaruhi dan menentukan sosok isi.

Faktor kedua ialah perubahan dan perkembangan masyarakat yang kini berlangsung dalam interaksi global. Begitu banyak perubahan, begitu intensif interaksi global dan lokalitas, sehingga warga merasa kehilangan makna. Agar hubungan antara kejadian dan masalah-masalah itu. Apa pula arti dan maknanya.

Demikianlah dalam teori dan praktek jurnalisme berkembang cara kerja media yang dikenal sebagai jurnalisme komprehensif, jurnalisme in depth, jurnalisme investigatif.

Dicari bukan sekedar fakta dan masalah yang tampak. Tetapi latar belakang, riwayat dan prosesnya, hubungan kausal maupun hubungan interaktif.

Orang lewat media bukan sekedar ingin tahu, bukan berwacana saja, tetapi ingin memahami arti dan makna peristiwa tersebut.

Selanjutnya khalayak tidak hanya ingin tahu makna, tetapi juga ke mana arah dan semangat penyelesaiannya.

Lagi pula, jika dipikir lebih jauh, apakah artinya makna, tahu duduknya perkara, jika dalam persoalan-persoalan yang mendesak dan strategis, pencarian dan pendekatan solusi tidak ditawarkan. Kembali berlaku disini tuntutan politics of value, bahwa pendekatan dan arah solusi haruslah bermuatan keadilan, persamaan, pembelaan kepada yang lemah dan kepada yang banyak.

Wartawan mestilah cerdas serta memiliki pengetahuan dan pemahaman elementer.

Barangkali terasa diulang-ulang, namun perlu kiranya dikemukakan lagi: bahwa kecuali perlengkapan visi, kerangka referensi, kerja jurnalisme komprehensif serta pilihan-pilihan atas politics of value, untuk sanggup secara memadai melakukan tugasnya, wartawan mestilah cerdas serta memiliki pengetahuan dan pemahaman elementer, sekurang-kurangnya, perihal fakta dan persoalan yang akan diliput dan dipaparkan secara komprehensif.

Tampil silih berganti fenomena yang sebagai pemberi informasi, komunikasi serta makna, wartawan tidak bisa lain kecuali berusaha keras untuk memahaminya.

Media harus memahami lebih jauh, mengapa korupsi, kolusi dan nepotisme merajalela. Apa akar permasalahannya? Latar belakang struktur dan budaya feudal menyuburkan. Demikian pula paham feudal bahwa power is privilege.

 Warisan sejarah bisnis yang diungkapkan dengan setiap penguasa ada koneksi bisnisnya. Tertimpa oleh sikap hidup kapan lagi. Merajalelanya konsumerisme dan hilangnya rasa malu.

Mengapa Korea Selatan, Thailand, Malaysia, Filipina dan Vietnam kini melangkah lebih maju dari Indonesia? Mereka sudah keluar dari krisis, kita belum? 

Apakah sekedar karena jumlah penduduk Indonesia lebih besar, 215 juta, menghuni negeri kepulauan, amat majemuk, lemah dan feodal budayanya.

Kebangkitan demokrasi dalam milenium ketiga disertai kebangkitan rakyat. Kebangkitan rakyat berjenjang dari akar rumput lewat beragam organisasi politik, social dan keagamaan berlanjut. Juga disertai lahir dan tumbuhnya gerakan masyarakat madani. Tetapi perannya belum tampak dan bermakna dalam membawa perubahan.

Culture matters, budaya kita bicara, tulis Samuel P. Huntington dan Laurence E. Harisson. Budaya yang mana misalnya dikutip pengalaman antara Ghana dan Korsel, sama-sama posisi dan data ekonominya dalam tahun 70-an, tetapi kini dalam tahun 2000 ibarat bumi langit kesenjangannya.

Kultur yang mana? Ethika Protestan? Revolusi Meiji, Konfucian, Ascetisme Gandhi, Ascetisme Hatta. Kita punya, kita bahkan termasuk kaya budaya. Bagaimana menjadikan budaya Indonesia sebagai pemicu kemajuan, pemicu pemerintah yang bersih, pemicu hidup hemat, kerja keras, berencana serta membangun social trust alias kepercayaan sosial yang kuat, kreatif, produktif.

Barangkali tidak lagi memadai jika sekedar pendidikan yang mencerdaskan, harus juga pendidikan yang mencerahkan.

Terdorong motivasi ikut serta menggerakkan kebangkitan, reveille dan reformasi, media ikut berwacana, barangkali tidak lagi memadai jika sekedar pendidikan yang mencerdaskan, harus juga pendidikan yang mencerahkan. Bukan saja akal, tetapi akal budi, emosi dan spiritualitas yang sekaligus ditumbuhkembangkan pada anak dan warga Indonesia.

Wacana! Ya, wacana. Amatlah subur dewasa ini. Beragam forum diselenggarakan untuk wacana. Sampai-sampai mulai ada yang mengingatkan, dalam wacana pun jangan sampai orang kebablasan. Perlu belajar dari negara-negara Amerika Latin, yang nasibnya sejauh ini seperti hanya jatuh bangun.

Di sana wacana oleh para komentator dan oleh kaum intelektual umumnya begitu tertimpa inflasi, sehingga seorang kolumnis terkenal melukiskannya dengan istilah “todologi”. 

Menurut Carlos Alberto Montano, todologi ialah kemampuan untuk bicara tentang hal apa pun tanpa sikap tahu diri dan tanpa pengetahuan. Todologi celakannya, ikut membentuk “cosmovision” Amerika Latin. Yakni pandangan hidup yang sekedar dan terbatas pada ngomong melulu.

Bukan dalam makna itulah wacana yang dilakukan lewat media. Wacana dalam arti yang serius, disertai usaha sungguh-sungguh untuk memahami persoalan serta bertujuan memperkuat wacana demokrasi.

Wacana membuka kesempatan bagi lembaga-lembaga publik untuk berpartisipasi dalam urusan hidup bersama. Lewat wacana itu masyarakat madani dibentuk dan diperkuat. Selanjutnya masyarakat madani membangun jaringan yang sekaligus merupakan jaringan kultur, nilai dan makna demokrasi dalam masyarakat.

Janganlah wacana merosot menjadi todologi, asal ngomong dan hanya ngomong!

Wacana dalam istilah Anthony Giddens, “democratizing of democracy” merupakan tugas pokok media. Setiap hari orang bisa merasakannya. Termasuk menjelaskan proses demokrasi itu bagaimana serta apa pula tanggung jawab dan tujuannya.

Namun tidak ada salahnya orang belajar dari pengalaman negara Amerika Latin. Janganlah wacana merosot menjadi todologi, asal ngomong dan hanya ngomong!

Kemarin, kini atau hari esok, sungguhlah tinggi tugas media. Pendekatan developmentalism seperti yang diusahakan sejak tahun 70-an atau kini sejak 5 tahun lalu, pendekatan Development as Freedom, sama-sama merupakan pilihan yang jika akan berhasil, haruslah memenuhi syarat-syaratnya. 

Misalnya syarat bahwa segala sesuatu haruslah diolah menjadi rencana dan program. Rencana dan program harus dilaksanakan. Dulu get things done, cukup efektif. Kini gejala todologi yang lebih kuat.

Harapan besar menyertai reformasi, bahwa dalam pemerintahan dan kekuasaan yang demokratis, kecenderungaan bersalahgunanya kekuasaan, wewenang dan kesempatan akan terkendali. Sejauh ini, orang dibuatnya kecewa. Bukan berkurang justru menjadi-jadi.

Pemerintah bertugas eksekutif, melaksanakan, get things done. Partai-partai politik mengontrol dan menyalurkan aspirasi rakyat. Partai-partai politik tidak sendirian. 

Kebangkitan demokrasi abad 21 disertai kebangkitan masyarakat madani. Ada jalur representasi dan ada jalur partisipasi. Namun semua itu masih menunjukkan taraf coba-coba tanpa disertai pemahaman yang jelas serta komitmen yang tinggi dan konsisten.

Apa peranan media? Kecuali menjelaskan duduknya perkara, membuka dialog dan mengontrol juga setiap kali menangkap tanda dan isyarat. Tanda dan isyarat perubahan serta perkembangan zaman yang besar pengaruhnya terhadap perikehidupan bangsa dan negara.

Demikianlah suratkabar berani mengambil risiko memasang jati diri dan simbol profesinya sebagai Amanat Hati Nurani Rakyat. Tidaklah berlebihan, tidah tahu diri, mempertaruhkan diri kelewat tinggi serta tanpa disadari menempatkan diri pada penilaian serta pengadilan publik.

Tetapi dalam segala zaman, kondisi dan sistem, akhirnya, the bottom line dari suatu surat kabar, bukankah mencoba dengan tahu diri dan rendah hati menyampaikan apa sesungguhnya yang merupakan aspirasi dan dambaan publik untuk perikehidupannya.

Macam-macam formulasi dipakai oleh beragam media. Mengungkap dan menyampaikan kebeneran yang menyangkut perikehidupan bersama. Kewajiban surat kabar adalah kepada pembacanya dan kepada publik, bukan kepada kepentingan pribadi pemegang sahamnya.

Surat kabar tidak boleh menjadi sekutu dari kepentingan khusus apapun dan pihak mana pun. Surat kabar haruslah fair dan bebas, independen dalam pandangan kemasyarakatannya serta dalam pandangannya terhadap siapa pun.

Kebebasan ialah kesempatan untuk menjadi baik. Perbudakan adalah kepastian untuk menjadi lebih buruk.

Ketika lewat suatu proses jatuh bangun, uji coba, ketegangan dan tarik menarik suatu surat kabar menunjukkan sosoknya sebagai Un journal c’est un monsieur, pastilah pergulatannya telah panjang. Meskipun telah panjang, pergulatan akan terus menyertai kehadiran dan peranannya.

Amatlah elokuen jawaban Albert Camus atas pertanyaan, apakah jika pers bebas, dengan sendirinya pers adalah baik. 

Jawab wartawan dan filsuf Prancis tersebut: “Jika pers bebas, bisa baik, bisa buruk. Baik untuk pers maupun untuk manusia. Kebebasan ialah kesempatan untuk menjadi baik. Perbudakan adalah kepastian untuk menjadi lebih buruk”. Tetapi siapa pun membicarakan kebebasan, baik ilmuwan, publik, pemerintah dan media sendiri cenderung tidak akan mengatakannya dengan gagah berani dan amat percaya diri.

Kebebasan ialah kebebasan memilih. Memilih bukan pekerjaan sederhana. Juga dengan sikap dan pandangan sebagai penyangga politics of value pilihan tetap sulit. Sebab senantiasa ada dua dunia yang dihadapi, dunia realita yang obyektif di luar sana serta dunia subyektif di dalam sini.

Pilihan perlu disertai pertimbangan akal sehat, kepekaan dan komitmen. Bahkan ada yang mengingatkan isyarat Sorean Kierkegaard, agar pilihan dilakukan “in fear and trembling in anguish” – dengan rasa takut dan cemas.

Kecemasan bukanlah pertanda kelemahan, kecemasan pertanda rasa tanggung jawab. Tugas media seperti “to afflict the powerful and comfort the afflicted” adalah tugas yang disertai kecemasan. Yakni Kecemasan yang menurut theology Paul Tillich adalah pertanda serta proses interaksi munculnya keberanian.

Kecemasan justru bagian dari proses membersitkan vitalitas. Vitalitas diperlukan oleh setiap pekerjaan, terutama oleh profesi wartawan. Vitalitas adalah kemampuan untuk menghasilkan sesuatu melebihi sosok pribadinya tetapi tanpa kehilangan sosoknya.

Vitalitas lagi-lagi dikaitkan dengan tujuan pekerjaan apalagi jika pekerjaan itu masuk kategori profesi.

Dalam proses yang paralel dengan “democrating of democracy” inilah persoalan yang terutama sedang digeluti oleh masyarakat media. Bagaimana memberi makna kepada profesi wartawan dan bagaimana melaksanakan pesan Albert Camus, bahwa dengan kebebasan peri kehidupan harus menjadi lebih baik.

Kemarin ibaratnya, masalah yang dihadapi oleh pers Indonesia adalah “freedom from”. Sekarang pun freedom from belum sepenuhnya selesai dan memang tidak akan pernah selesai. Aturan main dan aturan main itu ialah etika dan hukum, itulah yang harus terus dikokohkan dan dibuat efektif.

Meskipun freedom from belum sepenuhnya memuaskan, kiranya semakin mendesak sisi yang lain bagi pers, ialah freedom for. Untuk apa kebebesan yang dimiliki pers.

Hampir-hampir hapallah wartawan akan arti kebebasan pers bagi terciptanya forum wacana, untuk menginterpretasikan berita, untuk menghibur yang papa dan menggugat yang mapan, untuk mengontrol dan mengkritik pemerintah serta untuk memperbaharui masyarakat.

Pekerjaan media harus dibuat lebih spesifik dengan menangkap dan memahami kondisi dan gejala zaman.

Pekerjaan media harus dibuat lebih spesifik dengan menangkap dan memahami kondisi dan gejala zaman. Kondisi, keadaan, masalah-masalah riil bangsa dewasa ini. Serta perubahan dan gejala yang dibawa oleh perkembangan zaman. Di satu pihak globalisasi, di lain pihak kebangkitan dan ekspresi lokal.

Kenapa tidak tampak hasrat bangkit mengejar ketinggalan, ketika orang mengikuti analisa, kali ini, yang akan memanfaatkan revolusi industri baru ialah India dan Cina. 

Kepercayaan, Trust dan Social Trust, modal pergerakan dan perjuangan Indonesia Merdeka. Juga modal pembangunan masyarakat bangsa dari kemajemukan menjadi satu masyarakat bangsa yang ber-Bhineka Tunggal Ika.

Tanah air! Dari tanah air, dari masyarakat, dari alam, laut, daratan dan kepulauan, dari keragaman sumber alam, kekayaan penghuni hutan dan lautan, dari ekspresi seni budaya bangsa, kita bangun Indonesia Baru.

Reinventing Indonesia! Menemukan kembali Indonesia. Jangan-jangan itulah yang mendesak dewasa ini. Kembali ke persoalan media! Freedom from tetapi sekaligus freedom for.

Masyarakat pers Indonesia telah memiliki buku pintar dan kode perilaku profesionalnya. Pers Indonesia memiliki sejarah panjang. Sejarah yang parallel sekaligus berinteraksi dengan kebangkitan, pergerakan dan perjuangan kemerdekaan Indonesia.

Pers memang harus melaksanakan tugasnya “in fear and trembling in anguish“

Dan lagi-lagi, jika mencoba menangkap dan memahami kondisi, keadaan serta tantangan dewasa ini, begitu berakumulasinya persoalan dan begitu miskinnya visi dan kepemimpinan – pers memang harus melaksanakan tugasnya “in fear and trembling in anguish“.

Kecemasan dan ketakutan bukan sebagai tanda kelemahan, melainkan sebagai isyarat tanggung jawab dan membersitnya vitalitas.

Demikianlah, kesetiaan akan sejarah dan warisan terus dipupuk secara kreatif dan kritis.

Diperkuat kemampuan professional untuk mengembangkan pengetahuan umum yang sistimatis. Diperkuat orientasi dan komitmen bagi kepentingan orang banyak. Kontrol diri oleh Kode Etik Profesional yang disepakati.

Hadir di antara kita wartawan-wartawan senior yang sangat dihormati oleh masyarakat media. Dan yang untuk saya sekaligus adalah tempat saya belajar, seperti di antaranya saudara Rosihan Anwar.

Kepadanya, juga kepada Ibu Herawati Diah, rekan-rekan senior yang telah mendahului kita di antaranya Saudara P.K. Ojong, Bapak Wonohito, Hetami, Sakti Alamsyah, Zus Tuti dan Bung Azis, Rorimpandey, kepada rekan dan sahabat saya Manuhua yang sedang sakit di Makassar, tokoh kebebasan pers Indonesia Bung Mochtar Lubis, saya sampakan hormat dan rasa syukur saya.

Kehormatan besar yang dianugerahkan oleh Universitas Gadjah Mada kepada saya untuk merekalah kehormatan itu saya persembahkan.

Prof. John C. Merril membedakan sosok wartawan dengan mengambil tamsil mitologi Romawi yakni dewa Apollo dan Dionisius.

Tanpa ragu preferensi pilihan ialah kepada sosok wartawan “Apolonisian”. Dilukiskan sosok wartawan Apolonisian sebagai: “pribadi yang berpikir dan merasa yang rasional tetapi juga sensitif, yang peduli terhadap fakta maupun perasaan, yang berdedikasi terhadap dunia obyektif 'di luar sana' dan terhadap dunia subyektif 'di dalam sini'".

Sosok wartawan dikatakan demikian oleh mahaguru Missouri School of Jurnalism itu sebagai pada esensinya seorang pesinthesa yang rasional, seorang wartawan yang mampu secara sadar mengembangkan falsafah jurnalistik yang menggabungkan ketegangan, kebebasan, akal sehat dan kewajiban.

Pekerjaan media bukan saja profesi tetapi panggilan hidup.

Kepada siapakah preferensi pilihan itu ditujukan dari mimbar yang terhormat dan terpelajar ini?

Kepada rekan-rekan wartawan muda yang akan melanjutkan pekerjaan media. Pekerjaan media bukan saja profesi tetapi panggilan hidup. 

Tugas ikut mencerahkan anak bangsa tugas membangun masyarakat madani, tugas membawa masyarakat kepada komitmen dan kehendak menyejahterakan bangsa, tugas-tugas itu patut dan menuntut komitmen wartawan sebagai panggilan hidup!

Mengapa saya. Mengapa bukan rekan-rekan yang lain? Disertai pertanyaan itu, kehormatan ini saya terima dengan sikap tahu diri “nobles oblige” , kehormatan itu membawa tanggung jawab.

Kepada Majelis Guru Besar Universitas Gadjah Mada, kami sekeluarga menyampaikan terima kasih. Kami sampaikan pula terima kasih kepada Rektor Universitas Gadjah Mada Prof. Dr. Sofian Effendi. Terima kasih pula kepada promotor Prof. Dr. Mulyarto.

Adalah rekan-rekan dari jurusan Ilmu Komunikasi Fakultas Sospol Gadjah Mada yang pertama melontarkan prakarsa. Masukan di antaranya dari sebagian masyarakat pers Indonesia.

Sepanjang hayat dalam suka maupun duka, kami “Praci dino”, setiap hari berterima kasih dan bersyukur.

Dan pada kesempatan ini rasa syukur dan terima kasih meluap kepada keluarga, kepada orang tua, kepada para guru, kepada rekan-rekan.

Sungguh benar pandangan James Redfield, penulis “The Celestine Prophecy” , bahwa yang terjadi dalam perjalanan hidup sebagai koinsidensi, sesungguhnya adalah Penyelenggaraan Ilahi.

KepadaNyalah, kepada Yang Maha Pengasih lagi Maha Pemurah saya dan keluarga dan rekan-rekan dan kita semua yang hadir di sini melantunkan puji syukur. (*)

Sumber: Kompas.com

Makan Are Gau Bersama Jakob Oetama


Sarapan bersama Jakob Oetama 

“Dion, tugasmu menulis kunjungan Pak Jakob Oetama ke Flores. Kau harus sudah berada di Maumere paling lambat sehari sebelum kedatangan beliau bersama sahabatnya Pak Frans Seda.”

Om Damyan Godho, Pemimpin Umum Harian Pagi Pos Kupang, memberitahu saya pagi itu setelah kami menikmati kopi hangat di ruang kerjanya, hari Selasa 25 Oktober 2005.

Rabu siang 26 Oktober 2005 saya menjejakkan kaki di kota nyiur melambai Maumere manise.

Langsung bergegas mengoleksi data tambahan tentang Flores, Kabupaten Sikka, STFK Ledalero, Nilo, Lekebai dan lain-lain.

“Pak Jakob akan menanyakan hal-hal seperti itu. Dion jangan sampai gagap menjawab pertanyaan beliau,” pesan Om Damy.

Hari Kamis pagi 27 Oktober 2005, pendiri Kompas Gramedia dan Pemimpin Umum Harian Kompas, Jakob Oetama, Frans Seda dan rombongan kecil tinggalkan Kota Kupang menuju Maumere.

Saya sudah berada di Bandara Waioti, kini berganti nama jadi Bandara Frans Seda setelah beliau meninggal tahun 2009, kira-kira 45 menit sebelum pesawat Trans Nusa yang ditumpangi Pak Jakob mendarat.

Saya tak sudi telat. Ini momen bersejarah.

Kunjungan dua tokoh nasional Frans Seda dan Jakob Oetama ke Flores setelah sebelumnya beliau berdua ke Pulau Timor. Tepatnya di Kupang ibu kota Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT).

Di Kupang keduanya menyampaikan gagasan besar tentang menemukan kembali Indonesia dalam seminar nasional di Hotel Kristal. Total lima hari mereka ke Provinsi Nusa Tenggara Timur, 26-30 Oktober 2005. Itulah kunjungan pertama dan terakhir kedua tokoh besar tersebut ke NTT.

Kejutan bagiku terjadi di Waioti 27 Oktober 2005. Saat keluar dari ruang kedatangan, Om Damyan Godho dan Rikard Bagun (Wakil Pemimpin Redaksi Kompas kala itu) meminta saya menemani Pak Jakob menuju ke Sao Wisata Resort di kawasan Waira. Kurang lebih 8 kilometer arah timur Kota Maumere.

Gugup? Pastilah. Tapi saya berusaha lekas menenangkan diri dan hendak duduk di samping sopir. Eh malah dilarang August Parengkuan.

“Dion temani Pak Jakob. Saya duduk di depan ya. Saya ini kan pengawal beliau,” kata August Parengkuan yang belakangan jadi Dubes RI di Italia sambil terkekeh.

Jadilah saya semobil dengan tokoh hebat itu. Duduk berdampingan pula. Pengalaman tak terlupakan seumur hidup.

Benar kata Om Damyan Godho. Dalam perjalanan dari Waioti ke Waiara, Pak Jakob menanyakan beberapa hal tentang Maumere, Sikka, Flores dan lain-lain.

Untung saya sudah koleksi data dan informasi akurat sehingga bisa berbincang santai dengan beliau. Suaranya lembut. Santun menyimak setiap kata yang terucap.

Saya merasa begitu nyaman. Laksana berbincang dengan seorang ayah. Bukan pimpinan tertinggi sekaligus pemilik Grup Kompas Gramedia.

Tak terasa kami sampai Sao Wisata, disambut hangat Manajernya Heri Ajo. Setelah istirahat beberapa saat tibalah waktu santap siang kira-kira pukul 12.20 Wita di pinggir Waiara Beach.

Di kejauhan sana, puncak Gunung Egon berselimut kabut tipis putih. Egon sedang ramah. Tak kedengaran batuk apinya.

Kota Maumere tampak membentang luas di tengah terik matahari, di bawah hamparan nyiur melambai.

Persis di depan mata, Pulau Besar, Pemana dan Pulau Babi terlihat anggun berdiri. Laut utara Flores tenang membiru. Udara bersih. Semilir angin Waiara Beach menyapu lembut wajah kami. Tapi tak ada keheningan.

Gelak tawa dan canda membahana sepanjang acara makan siang. Sungguh jauh dari suasana formal. Benar-benar bersahaja, apa adanya, kental nian aroma persahabatan dan persaudaraan.

Yang menyantap menu makan siang di restoran Flores Sao Resort hari itu adalah dua tokoh nasional.

Hadir pula petinggi Kompas Gramedia lainnya, August Parengkuan, St. Sularto, Rikard Bagun, Petrus Waworuntu, Wandi S Brata, Julius Pour, Damyan Godho dan Kepala Biro Kompas di Bali, Frans Sarong.

Benarlah apa yang mereka katakan bahwa perjalanan bersama selama lima hari ke NTT merupakan ziarah pribadi. Ziarah yang diwarnai kisah ringan tapi bernilai tentang kepribadian, pengalaman, tentang perjuangan hidup dan persahabatan.

Kisah Ulat Bulu

Saat makan siang di Waiara saya lihat betapa dekat hubungan Frans Seda dan Jakob Oetama. Selaku tuan rumah, Frans Seda riang bercerita kepada sahabatnya. Beliau antara lain berkisah tentang ulat bulu.

"Ulat bulu itu makanan kesukaan saya sejak kecil. Rasanya enak sekali, Jakob," katanya. Ulat bulu. Nama yang agak asing bagi Jakob Oetama. Tapi belum sempat beliau bertanya, Frans Seda segera menjelaskan tentang si ulat.

"Ulat ini hidup dalam bambu," jelas mantan Menteri Perkebunan, Menteri Keuangan dan Menteri Perhubungan RI tersebut.

Saya sarapan pagi bersama Jakob Oetama di Sao Wisata Resort Waiara, Jumat 28 Oktober 2005.

Ulat bulu adalah makanan tradisional bagi sebagian masyarakat Ende- Lio, Sikka dan daerah lain di Flores.

"Tapi entahlah, apakah anak- anak sekarang masih suka makan atau tidak. Saya tidak tahu," lanjut Frans Seda.

Ulat bulu hidup dalam bambu, umumnya jenis bambu aur. Dalam satu rumpun bambu, lazimnya ada batang muda yang kurang subur. Buku-bukunya rapat. Ruasnya bengkok.

Di situlah hidup ulat (kepompong) warna putih sebesar jari kelingking anak-anak, panjang 3-5 cm. Masak lalu dimakan. Bisa ditemani sambal. Digoreng atau lawar pun enak. Saat masuk mulut lalu dikunyah akan terdengar bunyi kriuk..kriuk.

"Apa sih khasiatnya Pak Frans?" tanya Wakil Pemimpin Umum Kompas, St Sularto saat itu. "Oh...khasiatnya luar biasa. Makanan bergizi tinggi. Makanya saya sehat dan kuat sampai sekarang," kata Frans Seda yang saat itu berusia 79 tahun.

Semasa hidup, Frans Seda memang cinta mati makanan tradisional dari kampung halamannya Flores. Kecintaan Frans Seda terlihat jelas saat makan siang di Waiara maupun dalam acara syukuran ulang tahunnya ke-79 di rumahnya di Maumere pada Kamis (27/10/2005) malam.

Di meja makan tersaji are gau (ketupat), are merah (nasi dari beras merah), koro/horo ipu dan mbarase (sambal dengan bahan utama ikan kecil) yang mudah diperoleh di perairan Paga-Maulo'o Flores, singkong rebus, ae mage (kuah asam-ikan) serta kura mbo (udang dan ikan dari sungai/kali).

Frans Seda selalu meminta Jakob Oetama mencicipi makanan khas Flores.

"Pak Jakob, cobalah ini. Namanya are gau. Rasanya lain, tidak sama dengan ketupat di Jawa," kata Frans Seda menunjuk are gau saat makan siang di Waiara.

Tokoh kelahiran Borobudur, Jawa Tengah, 27 September 1931 pun enggan menolak. "Memang enak ya.." kata Jakob perlahan. Kami yang lain juga tak ketinggalan makan are gau bersama beliau siang itu.

Makan siang yang sungguh nikmat. Waktu satu jam terasa berlalu amat lekas. Pertanyaan Jakob Oetama menyadarkan kami. "Acara kita selanjutnya apa?"

"Oh, kita ke kampung dulu. Nanti terkutuk kalau saya tidak bakar lilin di kubur orangtua," kata Frans Seda.

Dengan tiga mobil Kijang, kami meninggalkan Waiara lima belas menit jelang pukul 14.00 Wita. Kami menuju Lekebai, 40 km arah barat Maumere.

Di sinilah Frans Seda lahir dan menghabiskan masa kanak-kanaknya. Dibesarkan orangtua dengan cinta, dikasihi saudara dan keluarganya.

Turun dari mobil di Lekebai, Frans Seda mengajak rombongan Jakob Oetama masuk ke pelataran rumah di kompleks yang cukup luas.

Di sana terdiri dari beberapa rumah, termasuk bangunan rumah adat asli yang menurut Frans Seda tersimpan pusaka warisan nenek moyang secara turun-temurun.

Frans Seda mengajak Jakob Oetama dan petinggi Kompas Gramedia lainnya menuju makam orangtuanya. Frans Seda menyalakan lilin. Kami berdoa di sana.

Teh, kopi, ubi rebus dan kue sudah menanti ketika Frans Seda mengajak Jakob Oetama, August Parengkuan, St. Sularto, Julius Pour, Petrus Waworuntu, Rikard Bagun, Damyan Godho menuju rumah induk terbuat dari kayu untuk beristirahat.

Mudah ditebak, ubi rebuslah yang paling laris “diserbu" para tamu ketimbang kue. Canda tawa pun tetap mewarnai acara sore itu.

Sebelum kembali ke Waiara pukul 15.40, Frans Seda mengajak Jakob Oetama melihat Nua Bharaka, kampung adat di puncak bukit kecil, persis di sisi kanan jalan Lekebai-Maumere.

Sahabat dalam Suka dan Duka

Keduanya berangkulan. "Selamat ulang tahun, Pak Frans," kata Jakob Oetama dengan suara lirih menahan haru.

Momen indah tersebut tercipta Kamis (27/10/2005) malam, dalam acara syukuran hari ulang tahun ke-79 Frans Seda di Maumere.

Syukuran yang dihadiri ratusan undangan diawali misa konselebran dipimpin Pastor Philipus Tule, SVD.

Para tokoh masyarakat Sikka hadir di sana antara lain, Lorens Say, Daniel Woda Palle, EP da Gomez, Alex Longginus dan Soter Parera.

Jakob Oetama dan Frans Seda bersahabat karib. Persahabatan yang unik. Satu berwatak NTT (Flores) yang keras, bicara lugas, blak-blakkan.

Yang lainnya pria Jawa, Jawa Tengah yang berpembawaan halus, lembut bahkan malu-malu.

"Bagi saya, Frans Seda adalah sahabat dalam suka dan duka. Memberi kekuatan dan meneguhkan hati di saat sulit. Tiada henti mendorong kami untuk maju," kata Jakob Oetama saat memberikan kesannya tentang Frans Seda.

Secara khusus, Jakob Oetama kembali mengisahkan peran Frans Seda pada awal kelahiran Harian Kompas tanggal 28 Juni 1965. Bagaimana pergulatan mereka saat itu menghadapi bermacamragam tantangan yang tidak ringan.

"Saya merasa beruntung mempunyai sahabat seperti Pak Frans," ujarnya.

Mengenai Kompas Gramedia, Jakob Oetama mengatakan sukses diraih grup ini bukan karena kemampuan dirinya semata dalam memimpin.

"Semua ini merupakan Providentia Dei, penyelenggaraan ilahi," katanya.

"Itulah pembawaan Pak Jakob sejak dulu. Tidak pernah mau menonjolkan diri," kata Frans Seda yang langsung bangun dari tempat duduk menyambut sahabatnya itu dan keduanya kembali berpelukan.

Acara syukuran ulang tahun Frans Seda Kamis malam itu berlangsung sederhana namun berkesan. Tidak ketinggalan irama musik dan lagu- lagu daerah Lio-Sikka-Ngada seperti gawi, rokatenda dan ja’i.

Tak terasa jarum waktu hampir menunjuk pukul 24.00 Wita. Jakob dan Frans pamit untuk beristirahat. Kami pun kembali ke Waira, melepas lelah mengingat esok hari ziarah dua sahabat itu masih panjang.

Kegiatan Jakob Oetama dan Frans Seda pada Jumat 28 Oktober 2005 adalah ziarah ke patung Bunda Maria Segala Bangsa setinggi 28 meter di Nilo serta bicara dalam seminar di Sekolah Tinggi Filsafat Katolik (STFK) Ledalero.

Sebelum ke Nilo, saya kembali mendapat kehangatan luar biasa dari Pak Jakob yaitu menemaninya sarapan pagi. Beliau menanyakan beberapa informasi mengenai Nilo dan saya menjelaskannya.

Warga Nilo berjubel, berdesak-desakan di sisi kiri dan kanan jalan. Bunyi gong waning (gendang) membahana di lereng bukit itu. Prosesi adat Huler Wair menyambut kehadiran Frans Seda dan Jakob Oetama di sana.

Diawali sapaan dalam bahasa adat setempat—Jakob Oetama dan Frans Seda diperciki air kemudian dikenakan selendang dan destar Sikka. Mereka tampak gagah.

Selepas acara Huler Wair, kedua sahabat itu diantar memasuki rumah adat Nilo baru menuju Patung Bunda Maria Segala Bangsa yang berdiri anggun di bukit Keling.

Di sana sudah banyak peziarah yang berdoa. Setelah berdoa dan mendapat berkat seorang pastor dari Kongregasi Pasionis, rombongan Jakob Oetama-Frans Seda meninggalkan Nilo menuju Seminari Tinggi Ledalero.

Waktu hampir pukul 10.00 Wita. Philip Gobang tampak melirik buku panduan acara Festival Ledalero. Tertulis di sana, Jakob Oetama bicara tentang pers mulai pukul 09.00 Wita.

Nah? Mengertilah saya mengapa Philip beberapa kali terlihat bicara dengan Pastor Paul Budi Kleden, SVD (kini superior general SVD di Roma) lewat telepon selulernya.

Mohon maaf! Itulah kata pertama Jakob Oetama saat diberi kesempatan menyampaikan pikiran dan pandangannya sebagai pembicara tunggal dalam seminar di aula STFK Ledalero pagi itu.

"Ke Flores ini, bagi saya adalah suatu penziarahan pribadi. Mohon maaf terlambat tiba di sini (Ledalero). Tadi saya dibawa lebih dulu ke Bunda Maria di Nilo. Tentu sebagai wartawan saya sudah bepergian ke mana-mana. Tapi di sini saya melihat panorama, lingkungan alam yang kaya, yang memikat, mencerminkan kebesaran Tuhan. Jarang ada panorama, suatu lingkungan, suatu langit biru bersih seperti tanjakan tujuh kilometer ke Bunda Maria di Nilo itu. Luar biasa. Luar biasa..." kata Jakob mengungkapkan kekagumannya.

Jakob Oetama yang berbicara dalam seminar bertema: Peran Pers Indonesia dalam Membentuk Budaya Politik Demokratis antara lain, menggarisbawahi perubahan revolusi teknologi informasi yang membuat segala peristiwa di seluruh dunia penyebarannya berlangsung serentak-seketika dan interaktif.

"Perubahan yang dibawa oleh revolusi teknologi informasi luar biasa. Orang macam saya ketinggalan zaman. HP (handphone) saja hanya pakai untuk telepon, SMS saya belum menggunakannya, sangat ketinggalan,” kata Jakob Oetama.

“Komputer saya sudah pakai, tapi sekadarnya. Kalau rusak, wah...cari cucu. Kalau cucu di sekolah, telepon kantor. Orang macam saya seharusnya malu karena bergerak di bidang komunikasi, tapi dalam menghandel teknologinya ketinggalan. Tentu saja lembaga (Kompas Gramedia) tidak boleh ketinggalan," katanya sambil tersenyum disambut aplaus peserta seminar yang memenuhi aula STFK Ledalero saat itu.

Demikian sekilas kenangan yang saya rekam saat Jakob Oetama berkunjung ke NTT hampir lima belas tahun lalu. Yang mengiris hati adalah empat tokoh yang bersama dalam ziarah kala itu sudah berpulang.

Frans Seda meninggal dunia 31 Desember 2009 dalam usia 83 tahun.

Om Damyan Godho 29 Januari 2019, August Parengkuan kembali ke haribaanNya 17 Oktober 2019 dan Jakob Oetama di hari Rabu kelabu 9 September 2020.

Mengenang mereka, tak terasa air mata ini berlinang. Beristirahatlah dalam damai dan kasih Tuhan. (dion db putra)


Sumber: Tribun Bali

Kenangan di Lekebai



Di Lekebai, Sikka Flores 27 Oktober 2005
Waiara, 27 Oktober 2005. Jarum jam menunjuk pukul 12.20 Wita. Di kejauhan sana, puncak Gunung Egon berselimut kabut tipis. Egon sedang ramah. Kota Maumere tampak membentang berhiaskan nyiur melambai.

Persis di depan mata, Pulau Besar, Pemana dan Pulau Babi anggun berdiri. Laut utara Flores tenang membiru. Udara bersih. Semilir angin Waiara Beach menyapu lembut wajah kami. Tapi tak ada keheningan.

Gelak tawa dan canda membahana sepanjang acara makan siang. Sungguh jauh dari suasana formal. Benar-benar bersahaja, apa adanya.

Mereka yang menyantap menu makan siang di restoran Flores Sao Resort hari itu adalah dua tokoh nasional, Frans Seda dan Jakob Oetama serta para petinggi Kelompok Kompas Gramedia (GKG) yaitu August Parengkuan, St. Sularto, Rikard Bagun, Petrus Waworuntu, Wandi S Brata, Julius Pour.

Hadir pula pendiri sekaligus Pemimpin Umum Harian Pos Kupang, Damyan Godho dan Kepala Biro Kompas di Bali, Frans Sarong.


Itulah pertama kali saya mengenal lebih dekat Om August Parengkuan. Om August mendampingi Pak Jakob Oetama dalam kunjungan beliau ke Kupang dan Flores tanggal 26-29 Oktober 2005. Orangnya hangat. Murah senyum. Cepat akrab dengan siapa saja.

Kami sempat pose bersama di depan rumah keluarga Frans Seda di Lekebai, sekitar 40 km barat Kota Maumere. Hari Kamis tanggal 27 Oktober 2005 itu setelah makan siang di Waiara.

Frans Seda mengajak Pak Jakob dan seluruh anggota rombongan dari Jakarta ke Lekebai, kampung asal Frans Seda. Di sana mereka bakar lilin di makam orangtua Frans Seda.

August Parengkuan
Kamis malam itu Frans Seda menjamu sahabatnya Jakob Oetama makan malam di rumahnya di Maumere. Saya ingat malam itu setelah acara di rumah Pak Frans Seda, Om August Parengkuan mengajak Om Damyan Godho dan Frans Sarong melanjutkan acara santai di Flores Sao Resort, Waiara.

Setelah Pak Jakob istirahat, Om August, Om Damyan Godho, Frans Sarong dan lainnya ngobrol macam-macam sambil minum bir. Malam agak larut baru mereka menuju ke pembaringan.

Om August Parengkuan merupakan wartawan perintis di Harian Kompas. Pria kelahiran Surabaya 1 Agustus 1943 bergabung dengan Kompas sejak awal terbit dan menempati sejumlah jabatan penting di antaranya Redaktur Pelaksana Harian Kompas, Wakil Pemimpin Redaksi Harian Kompas, Direktur Komunikasi KKG (Kelompok Kompas Gramedia), Presiden Direktur TV7 dan staf Presiden Direktur Kelompok Kompas Gramedia.

August Parengkuan muda sempat bercita-cita menjadi tentara mengikuti jejak ayahnya. Dia juga berniat menjadi diplomat tapi batal. August melamar ke Harian Kompas yang terbit tahun 1965 dan diterima.

Cita-citanya menjadi diplomat baru tercapai setelah pensiun dari Kompas Gramedia. Om August ditunjuk sebagai Duta Besar RI untuk Italia tahun 2012-2017.

Om August memang wartawan hebat. Jaringannya luas dan dikenal piawai dalam melakukan lobi. Tahun 2011 ketika Kupang dipercayakan menjadi tuan rumah peringatan Hari Pers Nasional (HPN), Om August ikut berperan meyakinkan pengurus pusat PWI dan komunitas masyarakat pers nasional. Dalam kapasitasnya sebagai penasihat PWI Pusat, suara Om August didengar.

Meskipun akomodasi di Kupang sangat terbatas kala itu, beliau menyatakan Kupang harus diberi kesempatan jadi tuan rumah agar memberi efek positif di kemudian hari. Saya dengar cerita itu dari Om Damyan Godho (almarhum).

Hari Kamis 17 Oktober 2019 pukul 05.50 WIB, Om August Parengkuan meninggal dunia di Rumah Sakit Medistra Jakarta. Meninggalkan seorang istri dan empat anak dan sembilan orang cucu. Selamat jalan Om August. Tuhan maharahim mendekapmu dalam keabadian. Amin.

Ketewel, Sukawati Gianyar Bali, 17 Oktober 2019

Mengembangkan Indonesia Kecil

Oleh Jakob Oetama
Pendiri Kompas Gramedia


KETIKA Majalah Intisari terbit pertama kali, 17 Agustus 1963, tidak terbayangkan itulah awal hadirnya kelompok usaha Kompas Gramedia. Lima puluh tahun kemudian, masuk akal jika Kompas Gramedia telah bersosok, atau mengutip ungkapan Prof de Volder sebagai "lembaga yang organik sekaligus yang organis."

Serupa lembaga surat kabar, Kompas Gramedia (KG) dengan bisnis inti industri informasi, atau pabrik tulisan atau kata-kata-Gramedia: grafika media-terdiri atas berbagai bagian yang beragam. Bagian-bagian itu bekerja sama dan berinteraksi melaksanakan fungsi masing-masing. Fungsi-fungsi yang beragam itu secara organis bekerja sama dan bersinergi menjalankan peran dan panggilan yang terikat oleh tujuan dan falsafah bersama.

Dalam statusnya yang organik sekaligus organis itulah hidup, berkembang, dan berfungsi Kompas Gramedia, dinamis dan dan senantiasa berubah sejalan perkembangan masyarakat (medium is the  extension of man). Sejalan itu, bidang yang menjadi perhatian dan sarana pun beragam.

KG yang awalnya berusaha di bidang knowledge industry --Intisari 1963, Harian Kompas 1965, Toko Buku Gramedia 1970, Percetakan Gramedia 1971, Radio Sonora 1972, Majalah Bobo 1973, koran-koran  daerah dengan brand Tribun baru setelah tahun 1987-- dengan segala variasi bidang usahanya diikat dalam satu falsafah bersama. Yakni opsi dasar (optio fundamentalis) yang digagas, dibayangkan, sekaligus menjadi tali simpul kebersamaan.

 Small Indonesia in the making. Ungkapan itu menggambarkan cita-cita bahkan mimpi para perintis dan pendiri Kompas Gramedia 50 tahun lalu. Para perintis dan pendirinya berangkat tidak dengan modal uang tetapi ide dan cita-cita. Selain sebelumnya bertemu dalam berbagai kegiatan, kami --Saudara PK Ojong dan saya-- juga bertemu dalam kesamaan cita-cita, persepsi, dan impian untuk ikut ambil bagian  mengembangkan Indonesia.

Inklinasi dan pandangan politik kami sama: Indonesia Kecil. Indonesia bukanlah kotak-kotak yang terbagi-bagi dalam sektor-sektor dan bagian-bagian yang terpisah secara rigid, tetapi Indonesia yang satu berwarna-warni, beragam dalam segala hal.
Bagian-bagian memiliki kekhasan yang tidak luluh karena kebersamaan, tetapi menjadi mosaik indah dan produktif yang disebut Indonesia. Saling menunjang secara sinergik, organik sekaligus organis. 

Gagasan dan cita-cita ini tidak orisinal, sebab para bapak bangsa Indonesia sudah menggagas dan menjabarkannya ketika ingin membangun sebuah negara Indonesia. Cita-cita besar dan semangat keberagaman dalam kebinekaan kami dan kemudian kita kembangkan dalam lingkup yang kecil: Kompas Gramedia. Indonesia Kecil atau Indonesia Mini menjadi ideologi yang terus dikembangkan, juga setelah KG merambah keluar dari pakem knowledge industry.

Tekadnya KG ingin terus menjadi sarana, jembatan, dan titik temu berbagai kebedaan negara-bangsa Indonesia. Tidak hanya dalam cita-cita tetapi juga dalam membangunnya sebagai lembaga yang organik sekaligus yang organis.

Salah satu pembawa obor

Ungkapan small Indonesia in the making jauh dari rasa jumawa dan arogan. Serba tahu diri dan penuh pengertian, Kompas Gramedia dengan roh yang mendasari berbagai kegiatan bisnisnya, hanya salah satu pembawa obor. Banyak perusahaan lain, yang dari sisi finansial jauh lebih besar dan jauh lebih pantas menyandang gelar pembawa obor. 

Akan tetapi, sejak awal para pendirinya merintis, mendirikan dan mengembangkan usaha ini tidak hanya usaha bisnis. Ketika mendirikan Intisari, mungkin belum sedetail seperti ketika mendirikan Kompas, kami mengambil posisi  dan menjabarkan independensi  kami: usaha ini sebagai bagian dari ikut serta membangun sebuah Indonesia.

Dasarnya kesamaan kemanusiaan Indonesia, heterogenitas Indonesia yang beragam dan di atas keberagaman itulah Indonesia yang satu. Bhinneka Tunggal Ika. Ikut serta berusaha terus-menerus Indonesia menjadi lebih baik.

Sebagai salah satu bentuk usaha bisnis, saya teringat kata-kata Matsuhita tentang kelompok usahanya. Laba bukanlah cermin kerakusan perusahaan. Laba, tanda kepercayaan masyarakat. Laba, pertanda efisiensi.  Setiap perusahaan memiliki kebudayaan korporat yang berbeda satu sama lain. Kebudayaan korporat memberikan corak yang khas. Kebudayaan korporat hanya bisa ditumbuhkan  kalau ada nilai-nilai sebagai roh yang dihayati bersama oleh seluruh pimpinan dan karyawan.


Nilai-nilai itu disampaikan sebagai tradisi lisan dan tertulis, dalam keteladanan dan sosok-sosok manusia yang terlibat di dalamnya. Kami meninggalkan falsafah, etika, dan budaya kerja-secara tertulis pernah disampaikan Saudara PK Ojong dalam Falsafah Perusahaan Kita, secara tradisi dalam jatuh bangun mengembangkan Kompas Gramedia bersama para pimpinan dan karyawan selama 50 tahun ini.
Bersamaan pula dikembangkan kebiasaan yang mendukung etika dan etos dalam bekerja. Jujur, bekerja tuntas, tegas, tetapi juga punya hati; turunan semangat menjunjung tinggi nilai kemanusiaan dalam bentuk terpenuhinya kebutuhan hidup sehari-hari --relatif memang-- karyawan dan keluarganya yang kini mencapai lebih dari 19.000 orang.

Kami bahu-membahu, memperkaya dan mengembangkan etos dan etika itu, menstranfernya sebagai budaya korporat. Budaya itu terus diperkaya, dipraktikkan, dan dirumuskan menjadi kerangka dan pedoman kerja.  Muaranya plus-minus ikut serta mengambil bagian dalam membangun Indonesia yang lebih baik.  Jiwa dasarnya Indonesia kecil, kemanusiaan yang beriman, demi kemaslahatan manusia dan kemanusiaan.

Jiwa dasar itu menjadi tali pengikat, sumber referensi yang senantiasa dalam penerjemahannya disesuaikan dan diperkaya oleh kondisi dan perkembangan zaman. Perusahaan ini berkembang selain karena kerja keras, kompetensi dan sinergi, juga berkat penyelenggaraan Allah (providentia dei) lewat tangan-tangan kita manusia dengan kelebihan dan kekurangan kita.

Selayaknya rasa terima kasih dan bersyukur disampaikan. Jauh dari sikap jumawa dan arogan, KG menjadi sarana dan jalan bagi kebahagiaan banyak orang. Bekerja senantiasa merupakan praktik dan refleksi ibadah, ora et labora, berdoa dan bekerja.  Lima puluh tahun Kompas Gramedia tumbuh dan berkembang berkat kerja sama kita yang berpilin tangan secara sinergik, memperoleh kepercayaan masyarakat, didasari atas cita-cita tidak sekadar usaha bisnis tetapi juga mengembangkan ide-ide Keindonesiaan.

Keberhasilan ini berkat bantuan banyak pihak, para pemangku kepentingan.  Kesempatan ini sekaligus untuk mengucapkan terima kasih kepada berbagai pihak, karena saling menyertai dan saling mendukung perjalanan KG sebagai bagian dari mengembangkan Indonesia Kecil. Tantangan ke depan semakin berat, tetapi niscaya beban itu menjadi ringan manakala kita dukung bersama. Hari ini niscaya endapan hari kemarin sekaligus proyeksi esok hari! *

Sumber: Tribun Manado edisi Senin 19 Agustus 2013 hal 1

Terima Ancaman Soeharto di Hari Pers

Bintang Mahaputra Utama disematkan Presiden  Soeharto  tahun 1973 | Kompas.com
JAKOB Oetama, pendiri Kompas Gramedia (KG), merayakan ulang tahun ke-80 pada 27 September 2011. Selain syukuran di Bentara Budaya Jakarta, peringatan ulang tahun Chairman KG tersebut juga ditandai peluncuran buku berjudul Syukur Tiada Akhir, Jejak Langkah Jakob Oetama, disusun ST Sularto, wartawan senior Kompas. Berikut petikan buku setebal 659 halaman itu.

MALAM menjelang 5 Februari 1978, Jakob Oetama dan Petrus Kanisius (PK) Ojong tengah berdiskusi membahas tawaran pemerintah Soeharto. Tawaran itu terkait pelarangan terbit Harian Kompas, bersama 12 koran dan majalah lainnya, sejak 12 Januari 1978.

Kompas boleh terbit kembali asal menandatangani pernyataan tertulis, berisi permintaan maaf sekaligus berjanji tidak akan memuat tulisan yang menyinggung penguasa. "Jakob, jangan minta maaf. Mati dibunuh hari ini, nanti tahun depan, sama saja," ujar PK Ojong seperti ditirukan Jakob Oetama.



Mendengar perkataan PK Ojong tersebut Jakob menjawab, "Mayat hanya bisa dikenang, tetapi tidak akan mungkin diajak berjuang. Perjuangan masih panjang dan membutuhkan sarana, di ataranya lewat media massa." PK Ojong mengundur dan Jakob mengambil alih persoalan dengan menandatangani pernyataan minta maaf dan janji tertulis kesetiaan seperti diminta pemerintah.

Situasi politik pada saat itu diwarnai oleh protes mahasiswa di mana-mana. Aksi protes lewat pertemuan-pertemuan di kampus, aksi poster, maupun turun ke jalan, sudah terjadi di berbagai tempat. 
Mahasiswa menuntut pengunduran diri Soeharto di awal 1978.

Semua peristiwa itu ditulis hampir semua media, termasuk Kompas. Pada 16 Januari, Jakob menulis tajuk rencana berjudul Aspirasi Mahasiswa, bersamaan dengan pemuatan berita di halaman depan berjudul Kas Kopkamtib Sudomo: Turun ke Jalan Akan Ditindak Tegas.

Selama Orde Baru berkuasa, berkali-kali Kompas mendapat teguran, bahkan seringkali disertai ancaman. Hingga pada akhirnya Kompas, bersama beberapa media lainnya, dibredel selama dua minggu.

Keputusan menerima tawaran pemerintah tak lepas dari faktor kemanusiaan yaitu nasib sekitar 2.500 karyawan, termasuk wartawan, yang jumlahnya lebih banyak dibandingkan pada 1965 (saat Kompas baru terbit 3 bulan). 
"Saya tahu Ojong berat hari mengiyakan. Sikap dan pandangan hidupnya sebagai orang yang sudah punya jam terbang lebih lama dibandingkan saya, selain Rosihan Anwar dan Mochtar Lubis, yang masing-masing punya sosok kewartawanan sendiri," kata Jakob

Pria kelahiran Desa Jowahan, Magelang, Jawa Tengah itu yakin pilihan menerima tawaran pemerintah merupakan langkah yang benar, ketika mengikuti pelatihan jurnalisktik di Universitas Hawaii, pada 1980-an. Saat itu ada peserta dari Amerika Serikat yang nyeletuk, "Jakob, you are a living hero (Jakob, Anda pahlawan yang hidup)." 

Jakob yakin keputusan yang dilakukan pada saat itu bukan menjual diri atau kompromistis, namun bentuk dari prinsip teguh dalam perkara tetapi lentur dalam cara. Prinsip sebagai pedoman kerja tersebut telah dikembangkan sejak Kompas lahir.

Kepada PK Ojong, yang juga pendiri Kompas Gramedia, Jakob menyatakan, "Tanda tangan ini basa-basi saja. Tidak akan berlaku seumur hidup." 
Keputusan dalam kapasitas sebagai Pemimpin redaksi Kompas tersebut tidak terlalu diwarnai motivasi bisnis, kecuali tanggung jawab menyediakan lapangan kerja bagi karyawan, tetapi terutama motivasi idealisme memberi pengaruh pada perkembangan masyarakat.

"Daripada peranan Kompas diambialih media lain yang belum tentu bisa memperbaiki pers Indonesia, sebaiknya syarat dipenuhi," kata Jakob. PK Ojong akhirnya setuju, namun sejak itu ia memutuskan tidak aktif lagi dalam pengambilan kebijakan redaksional.

Setelah terbit kembali 6 Februari 1978, tekanan politik yang keras terhadap Kompas tetap terjadi. Padahal Kompas duah bersikap netral. Kompas ibarat bermain di atas buih. Saat Jakob berjabat tangan dengan Presiden Soeharto pada acara Hari Pers ke-32 di Solo, 9 Februari 1978, penguasa Orde Baru bicara singkat tapi jelas maksudnya.

"Aja meneh-meneh (Jangan lakukan lagi)," kata Soeharto. Jakob jenggah karena kalimat Soeharto itu bernada ancaman. Kalimat senada dilontarkan Soeharto di pesawat ketika melakukan lawatan kenegaraan ke Yogoslavia dan Uni Sovyet.

"Tak gebuk," ujar Soeharto menjawab pertanyaan tentang liputan media massa berkaitan dengan aksi-aksi mahasiswa tahun 1980-an yang mirip gerakan mahasiswa 1970-an. Berbeda dengan ekspresi dingin saat melontarkan acaman pada 1978, kali ini tangan Soeharto mengepal siap meninju. (Tribunnews.com - Rabu, 28 September 2011 09:05 WIB. Laporan Wartawan Tribunnews.com Febby Mahendra Putra) 

Artikel Terkait

Manusia dan Kemanusiaan Ala Jakob Oetama

Buku Syukur Tiada Akhir Jakob Oetama {Tribunnews.Com}
DALAM berbagai kesempatan Jakob Oetama menyampaikan prinsip-prinsip utama gaya bermedia Kompas. Intinya adalah manusia dan kemanusiaan, cobaan dan permasalahannya, aspirasi dan hasratnya, keagungan dan kekerdilannya. "Manusia dan kemanusiaan senantiasa diusahakan menjadi nafas pemberitaan dan komentar."

Konsep Indonesia mini yang secara eksplisit digagas terutama untuk Kompas, dikembangkan bagi unit-unit usaha lainnya dalam Kompas Gramedia. Dalam perjalanannya, Kompas tetap eksis meski mengalami berbagai terpaan, pembatasan, dan kendala, termasuk pemberedelan 21 Januari-5 Februari 1978.



Di tengah pertumbuhan pesat platform-platform lain di luar mendia cetak dan ramalan-ramalan media cetak akan menjadi masa lalu (punah), Jakob punya keyakinan kuat bahwa media cetak tidak akan mati. "Masak, orang sudah merasa tercukupi kebutuhannya lewat menonton? Kebutuhan informasi selain dari menonton dan digital, tetaplah dari membaca. Dalam membaca terjadi komunikasi timbal balik, yang kurang terpenuhio oleh sarana digital sekalipun."

Menurut Jakob, media digital memang telah menjadi keniscayaan. Oleh karena itu ia selalu menekankan kepada para wartawan dan karyawan bahwa dunia media adalah dunia digital, tidak ada lagi periodisasi. Kompas harus masuk, tak terkecuali melalui platform elektronik, karena menjadi bisa menyampaikan pesan lebih cepat, lebih lengkap, dan lebih luas.

Namun bagi Jakob, Kompas harus tetap berpegang pada semangat awal para pendiri sehingga ia sering mengingatkan pesan yang pernah disampaikan PK Ojong. 

"Surat kabar haruslah lebih besar daripada individu-individu serta gabungan individu-individu di dalamnya. Surat kabar haruslah lebih arif daripada individu wartawan dan karyawannya. Ia harus lebih adil, lebih nalar, lebih jujur, lebih peka, lebih setia kawan, terutama kepada mereka yang menderita," begitu pesan sang kolega yang saat ini sudah meninggal dunia itu. (Tribunnews.com - Kamis, 29 September 2011 09:45 WIB. Laporan Wartawan Tribunnews.com Febby Mahendra Putra).

ArtikelTerkait

Bimbang Jadi Guru atau Wartawan

Jakob Oetama (kanan) di ruang redaksi Kompas tempo doeloe. Mesin ketik senjata utama {kompas.com}
TAK pernah terlintas sebelumnya Jakob Oetama bakal menjadi wartawan dan mengelola media massa yang kemudian menjadi terkemuka. Bermula dari keputusan untuk keluar dari seminari (sekolah calon pastor) tinggi di Kota Baru, Yogyakarta, yang baru tiga bulan dijalani.

"Saya tidak tahu sebabnya. Sudah lupa. Keluar begitu saja," ujar founding father Kompas Gramedia tersebut. Yang dilakukan selanjutnya yaitu mencari kerja. Jadi apa? "Jadi guru, cita-cita yang pernah muncul bersamaan dengan cita-cita menjadi pastor," katanya.



Keinginan itu kemungkinan besar tak lepas dari lingkungan Jakob Oetama. Ayahnya, Raymundus Sandiyo Brotosoesiswo, seorang guru sekolah rakyat (sekarang bernama sekolah dasar), yang sering berpindah tugas mulai dari kawasan Jowahan --sekitar 500 meter sebelah timur Candi Borobudur-- hingga Sleman, DI Yogyakarta.

Atas arahan sang ayah, Jakob hijrah ke Jakarta menggunakan kereta api untuk menemui Yosep Yohanes Supatmo. Pria yang masih ada hubungan saudara dengan Sandiyo Brotosoesiswo itu bukan seorang guru, namun baru saja mendirikan Yayasan Pendidikan Budaya, mengelola sekolah-sekolah budaya.

Pertama kali Jakob menjadi guru di SMP Mardiyuwana, Cipanas, Jawa Barat, 1952-1953. Kemudian pindah ke Sekolah Guru Bagian B (SGB) di Lenteng Agung, Jagakarasa (1953-1954). Selanjutnya mengajar di SMP Van Lith, Jl Gunung Sahari, Jakarta (1954-1956).

Jakob kemudian mendapat tugas tambahan sebagai sekretaris redaksi yang sehari-hari melaksanakan pekerjaan sebagai Pemimpin Redaksi Penabur sejak 1956. Sambil mengajar di SMP, Jakob mengikuti kursus B-1 Ilmu Sejarah. Kemudian kuliah di Perguruan Tinggi Publisistik, Jl Menteng Raya, hingga 1961.

Berkat Ilmu Sejarah, tumbuh minat Jakob untuk menulis. Di sisi lain, ia direkomendasi memperoleh bea siswa di University of Colombia, AS, karena lulus B-1 Sejarah dengan nilai rata-rata 9. Dengan peluang itu Jakob diharapkan menyabet gelar doktor (PhD) dan kelak menjadi sejarawan atau dosen sejarah.

Namun cita-cita menjadi guru mulai goyah. Sampai suatu saat seorang pastor, JW Oudejans OFM menanyakan profesi apa yang kelak ditekuni Jakob. "Jadi dosen," kata Jakob. Namun Oudejans berkomentar, "Jakob, guru sudah banyak, wartawan tidak." (Tribunnews.com - Rabu, 28 September 2011 09:36 WIB. Laporan Wartawan Tribunnews.com Febby Mahendra Putra)

Baca Juga

Jakob Oetama Tak Mau Koran Jadi Corong Partai

Jakob Oetama di Bentara Budaya Jakarta, Selasa (27/9/2011).
KONDISI politik di era 1965 ikut melatabelakangi lahirnya Harian Kompas yang dikomandani duet Jakob Oetama dan Petrus Kanisius (PK) Ojong. Saat itu koran-koran nonkomunis bertumbangan akibat diberedel pemerintah.

Suatu hari di bulan April 1965, Menteri/Panglima TNI AD, Letjen Ahmad Yani menelepon koleganya di kabinet, Menteri Perkebunan Frans Seda. Yani minta agar Frans Seda, saat itu menjadi Ketua Partai Katolik, mendirikan koran .

Jenderal bintang tiga yang kemudian menjadi Pahlawan Revolusi tersebut beralasan, hampir semua partai politik memiliki media massa sebagai corong partai. Sebut saja Partai Komunis Indonesia (PKI) yang mempunyai Bintang Timur dan Warta Bhakti.

Seda kemudian menemui Ignatius Joseph (IJ) Kasimo, Ketua Umum Partai Katolik, PK Ojong, dan Jakob Oetomo, untuk membahas ide Ahmad Yani. "Ini pasti kemauan Tuhan," kenang Frans Seda.



Awalnya Jakob dan Ojong keberatan. Alasannya, lingkungan politik, ekonomi, dan infrastruktur pada waktu itu tidak menunjang. Dalam pembicaraan antara Jakob dan Ojong dicapai kesepakatan, koran yang akan diterbitkan bukan corong partai. Koran itu harus berdiri di atas semua golongan, oleh karena itu bersifat umum, didasarkan pada kemajemukan Indonesia.

"Dia harus mencerminkan miniaturnya Indonesia," ujar Jakob seperti tercantum dalam buku Syukur Tiada Akhir, Jejak Langkah Jakob Oetama. Buku tersebut diluncurkan pada saat peringatan ulang tahun ke-80 Jakob Oetama, di Bentara Budaya Jakarta, Selasa (27/9/2011). 

Kemajemukan dimaksud menyangkut suku, agama, ras, dan latar belakang lainnya. Dari sisi idealisme, prinsip Jakob dan Ojong tersebut bisa diterima, begitu pula dari sisi bisnis masuk akal.

Ketika pada saat itu semua koran berafiliasi pada sebuah partai politik tertentu, koran yang akan diterbitkan tidak boleh menjadi corong Partai Katolik. Setelah syarat tersebut disetujui Frans Seda dan IJ Kasimo, pembahasan pendirian koran baru dilanjutkan kembali.

Kemudian dibentuk Yayasan Bentara Rakyat sebagai penerbit karena koran baru tersebut rencananya akan diberi nama Bentara Rakyat. Bentara artinya pembantu raja yang bertugas menyampaikan perintah raja. Nama Bentara telah dipakai sebuah majalah yang terbit di Flores.

Rupanya, Bung Karno yang pada saat itu menjadi presiden, mendengar rencana penerbitan koran baru sehingga kemudian bertanya kepada Frans Seda. "Frans, saya dengar jij (kamu) mau menerbitkan koran. Apa nama korannya?" Seda menjawab, "Bentara Rakyat, Bung!" Ternyata Presiden Soekarno punya ide lain soal nama surat kabar.

"Aku akan memberi nama yang lebih bagus.. Kompas! Tahu tho apa itu kompas? Pemberi arah dan jalan dalam mengarungi lautan atau hutan rimba!" Apa jawaban Frans Seda? "Baik Bung, akan saya bicarakan dulu dengan redaksi dan yayasan." Nama itu disetujui Ojong, Jakob, dan organ yayasan.

Logo Kompas disiapkan semalam oleh wartawan Kompas, Edward Linggar. Logo tersebut terus dipakai hingga kini meski mengalami beberapa kali perubahan menyangkut tebal-tipis huruf. (Tribunnews.com - Kamis, 29 September 2011 09:41 WIB. Laporan Wartawan Tribunnews.com Febby Mahendra Putra)

Artikel Terkait
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Best WordPress Themes