
Valentino Luis (tengah). Dok SFF
Oleh: Elisabeth Hendrika Dinan
Saya pertama kali bertemu Ka Valen – sapaan akrab Valentino Luis – pada 2018.
Pertemuan itu terjadi saat Shoes For Flores (SFF), komunitas berbasis di Maumere yang ia rintis sejak 2014, mengadakan kegiatan di Labuan Bajo.
Saya dan kawan-kawan dari Rumah Kreasi- sebuah hub bagi kaum muda di Labuan Bajo untuk beragam aktivitas- menyambut mereka di kantor Sunspirit for Justice and Peace, yang juga mengelola Rumah Tenun Baku Peduli.
Kala itu, kami tidak banyak berinteraksi. Hal yang saya ingat justru satu detail kecil: Ka Valen datang lebih dulu dengan motor KLX oranye hijau, mendahului tim SFF yang menggunakan mobil.
Setelah acara itu, kami belum begitu akrab.
Saat bepergian, saya hanya sesekali menemukan nama Ka Valen di majalah yang dipajang di pesawat.
Ia memang salah satu penulis artikel perjalanan di sejumlah majalah milik maskapai. Pengalamannya berkelana ke berbagai belahan dunia ia abadikan melalui tulisan dan foto-foto dengan sudut pandang eksotik.
Kecintaan Pada Tenun
Kami baru terhubung lagi pada 2020, ketika media National Geographic (NatGeo) Indonesia meliput gerakan Rumah Tenun Baku Peduli. Ia merupakan salah satu kontributor media itu.
Dari semula agak segan, perlahan-lahan Ka Valen menjadi salah satu teman yang paling sering mengajak saya berdiskusi soal tenun.
Ia juga sosok yang paling rajin “mengompori” saya supaya mau menjadi narasumber dalam berbagai diskusi soal tenun.
Bersama beberapa teman, kami bahkan membuat Grup WhatsApp khusus untuk membahas apapun tentang tenun.
Setelah mendengar kabar ia meninggal pada 3 Februari 2026 dalam usia 43 tahun, saya kemudian mengingat-ingat lagi betapa seringnya kami berbagi ruang diskusi yang sama.
Sepanjang 2020-2021, kami sama-sama mengikuti kurang lebih tujuh forum diskusi tentang tenun. Hanya dua yang saya inisiasi, selebihnya atas ajakannya—kadang dengan sedikit paksaan.
Saat saya ragu ia selalu memberikan saya pertanyaan ini: “Kamu tidak mau kan kalau apa yang kamu kerjakan justru orang lain yang omong? Baik kalau itu benar, kalau salah? Kamu tidak capek nanti teriak protes?”
Kalimat itu sering ia ulangi, dan entah bagaimana, selalu berhasil membuat saya mengangguk.
Pada masa-masa pandemi Covid-19, kami berdua bersama Michael Whyag, seorang chef, pernah diminta menjadi narasumber diskusi di Kementerian Pariwisata tentang socioenterprenership dalam dunia pariwisata lewat wastra dan gastronomi.
Sehari sebelum acara, saya menghubungi Ka Valen, memberi tahunya bahwa saya bingung harus bicara apa.
Jawabannya sederhana: “Ya ayo, kita bahas kebingungan itu.” Esoknya, semuanya berjalan lancar.
Ada satu momen lain yang selalu saya ingat. Pada 9 Juli 2020 kami berdua diminta NatGeo untuk berbagi cerita tentang warisan wastra Flores lewat siaran langsung di kanal YouTube mereka.
Sebagai pengalaman pertama, saya grogi dan ragu menerima tawaran itu. Ka Valen rupanya menyadarinya. Ia menelepon, meyakinkan saya untuk ikut. Kami berdiskusi berulang-ulang, memilah-milah apa yang bisa dibagikan.
Lima belas menit sebelum acara dimulai, ia kembali menelepon: “Kaka Ney, santai saja. Jangan terlalu tegang. Kan kita yang paling tahu tentang adat kita sendiri. Kita lahir dan hidup dari situ. Jangan ragu.”
Begitulah Ka Valen. Hal-hal yang rumit sering terasa sederhana setelah ngobrol dengannya.
Kecintaannya pada upaya pelestarian tenun ia wujudkan juga lewat Innocentia. Ia mengubah tenun—yang bagi sebagian orang terlihat kaku—menjadi produk turunan yang fungsional: tas, jaket, strap kamera, dompet dan lain-lain.
Komitmennya menjaga kekhasan dan nilai tenun membuat ia juga bisa sangat keras.
Pada 19 Maret 2021, ia menghubungi saya memberitahu soal video kain printing bermotif tenun NTT yang dipromosikan oleh akun Badan Narkotika Nasional Provinsi NTT dan diklaim sebagai sebagai tenun Manggarai.
Ia marah dengan hal itu. Kami lalu menyusun pernyataan sikap yang dengan nada tegas mempersoalkannya. Saya juga ikut menulis pernyataan protes di akun Instagram.
Kemarahan serupa juga muncul pula ketika pada 2018 Gramedia menerbitkan buku berjudul Pesona Kain Indonesia: Kain Songket Labuan Bajo.
Isi buku itu sebagai besar mengambil foto penenun dan koleksi di Rumah Tenun Baku Peduli tanpa ijin. Selain itu, ada sejumlah informasi yang salah. Misalnya menyebut semua kain tenun dari NTT sebagai kain Songket Labuan Bajo.
Kami juga menilai judul buku itu melecehkan dan menggiring opini seolah-olah Labuan Bajo memiliki tradisi tenun Songket sendiri.
Kami menduga waktu itu sebagai kesengajaan karena Labuan Bajo sedang menjadi destinasi pariwisata favorit dan belakangan disebut sebagai destinasi super premium. Jadi, meletakan Labuan Bajo di judul bisa jadi untuk menarik minat pembeli.
Kami menyusun draft poin keberatan dan Ka Valen mengambil peran menyurati Gramedia untuk meminta menarik buku itu.
Setahu saya, buku itu kemudian tidak ditemukan lagi di beberapa gerai Gramedia yang saya kunjungi, kendati di toko digital, buku itu masih terpampang.
Senang Bercerita
Ka Valen yang saya kenal bukan orang yang mudah membuka diri pada semua orang.
Namun, di lingkaran pertemanannya, ia adalah penutur cerita yang luar biasa. Mendengarnya bercerita secara runut benar-benar membius waktu.
Dengan mata berbinar dan gestur tubuhnya yang khas, ia bisa membuat kita tenggelam dalam ceritanya. Tiga atau empat jam berlalu tanpa terasa. Ia tidak pernah sungkan berbagi apa yang ia ketahui.
Selama 2019 hingga 2024, ia terlibat aktif dalam banyak event besar dan ikut berkegiatan dengan banyak komunitas anak muda di Labuan Bajo. Di sana, terlihat jelas bagaimana pendekatannya pada semua orang.
Pada September 2021, saya baru saja kembali dari Yogyakarta untuk pengumpulan data riset tulisan akhir tentang tenun dan pariwisata berbasis komunitas.
Sebuah kebetulan, Ka Valen mengabari bahwa ia berada di Labuan Bajo pasca kegiatan Flores Writers Festival yang berlangsung di Ruteng.
Ia sempat terkena Covid-19 dan tidak memungkinkannya terbang kembali ke Maumere. Saya dan tim mengajaknya beristirahat di Rumah Tenun Baku Peduli.
Seminggu itu menjadi waktu yang berharga untuk mengenal lebih dalam bagaimana ia melihat Flores dari kejauhan—dan bagaimana akhirnya ia memutuskan pulang dan berkarya usai melalang buana di berbagai negara.
Rekan-rekan saya di Rumah Tenun Baku Peduli mengenang Ka Valen sebagai orang yang paling suka bercerita, juga suka merenung dan membaca berjam-jam.
Lela, Tempatnya Memilih Berpulang
Suatu sore, sepulang dari dokter untuk tes Covid, sambil mendengar kabar tentang banyaknya orang meninggal karena penyakit itu, ia tiba-tiba bercanda kepada kami: “Kalau boleh memilih, suatu saat ketika dipanggil Tuhan, saya mau berpulang di tempat yang indah.
Di gunung misalnya, melihat matahari terbit atau tenggelam. Kan tidak merepotkan banyak orang.”
Ia mengatakan hal itu sambil tertawa.
Setelah mendengar kabar bagaimana dia berpulang, saya baru memahami bahwa bagi seorang Valentino Luis, di antara semua tempat indah di dunia ini yang sudah dia kunjungi, Lela, kampung halamannya menjadi yang terindah di hatinya.
Dan, ia benar-benar pergi saat matahari terbit—seperti yang pernah ia harapkan.
Di Flores, banyak orang hebat. Namun, tak banyak orang seperti Valentino Luis, yang mampu mendorong orang lain bertumbuh tanpa menggurui.
Tak banyak yang seperti Valentino Luis yang bersedia melakukan semua itu diam-diam, tanpa sorotan, juga tanpa pernah memanfaatkan orang lain demi membesarkan dirinya sendiri.
Bagi sebagian orang, ia adalah mentor; bagi yang lain, sahabat; bagi yang lain lagi, saudara.
Ia tidak hanya mewariskan nilai berharga untuk Maumere, tetapi dari ujung ke ujung pulau ini.
Dalam forum Baku cerita sesi pertama di Labuan Bajo, yang ia ikut inisiasi, Ka Valen sempat berkata: “Kita ata (orang) Flores sudah terlalu lama dikotak-kotakkan, dibenturkan sana-sini, lalu lupa melihat bersama soal-soal yang ada di Flores. Rasa ke-Flores-an kita seharusnya memperkuat kerja-kerja kemanusiaan.”
Pernyataan itu meniupkan harapan bagi banyak orang muda di Flores dan NTT untuk bersatu, bergerak bersama melakukan apapun demi tanah kelahiran.
Ka Valen meninggalkan banyak legacy yang membuatnya terus dikenang, lewat Shoes for Flores, Innocentia, Blog Anak Flores, buku-bukunya, serta publikasi foto dan audiovisual.
Semoga legacy itu terus dihidupkan sebagai bagian dari menjaga mimpi-mimpinya tentang tanah ini.
Flores kehilangan satu sosok yang bersinar dalam aksi sunyinya.
Selamat jalan, Ka Valen.
Terima kasih telah menjadi inspirasi.
Fly high dan tidur tenang dalam pelukan abadi tanah Flores
You will always be missed.
*) Elisabeth Hendrika Dinan adalah Direktur Sunspirit for Justice and Peace, yang juga mengelola Rumah Tenun Baku Peduli di Labuan Bajo
Sumber: floresa.co


dion bata
Posted in: