In Memoriam Yulius Lopo: Persembahan GMIT untuk Papua


Yulius O Lopo

Oleh Paul E Bolla

Wartawan Pos Kupang 1992-1999

"Malam to'o. Saudara kita Om Yulius Lopo baru saja berpulang di Timika karena sakit." Itulah pesan singkat dari Om Dion Db Putra, pada Sabtu, 27 Agustus 2022, malam hari.

Informasi via pesan WA ini membuat beta tersentak. Kaget. Tidak percaya. Berdua sering berkirim pesan selamat pagi disertai pesan-pesan biblis. Tidak ada keluhan atau informasi sedang sakit.  

Selanjutnya beta minta update informasi dan langsung cecar Om Dion dengan banyak pertanyaan informatif. Sedangkan Om Dion mesti lanjut bertanya ke Marthen L. Moru, wartawan Timika Express, di Papua, sebagai pemberi informasi awal ke Om Dion.

Kelengkapan informasi berkualifikasi 5 W + 1 H, penting sekali akurasinya. 

Karena kabar duka ini harus saya teruskan kepada handai taulan, baik dari kalangan media massa, komunitas gereja GMIT, khususnya alumni Fakultas Theologi UKAW Angkatan 84, dan keluarga.

Kabar berpulangnya sosok yang beta biasa panggil Om Lius, atau Om Yol, inisial semasa wartawan Pos Kupang, harus segera beredar. 

Maka info duka ini beta langsung posting di facebook, dengan menyebut sumber infonya. Sehingga jika ada pertanyaan lanjutan, saya harus menghubungi kembali pemberi informasi.

Komunikasi informasi tidak berjalan mulus mengenai keputusan keluarga membawa jenazah ke Kupang. Keterlambatan update info menjadi masalah. 

Saya sudah fb-kan waktu kedatangan jenazah dari Timika ke Kupang pada Senin, 29 Agustus 2022. Tiba Kupang diperkirakan jam 13:00 Wita. 

Om Dion meneruskan info ini setelah menerima kabar berantai dari Marthen Moru, dan Indah Lopo, putri bungsu Om Lius.

Ketika teman-teman pendeta GMIT, angkatan 84 dan teman-teman wartawan Pos Kupang bersiap menjemput ke Bandara Eltari, muncul simpang siur informasi. 

Ada info pesawat delay, dan ternyata jenazah sudah tiba di Kupang dan disemayamkan di Baumata, di rumah adik perempuan.

Beta dan rombongan teman-teman pendeta GMIT angkatan 84, memutuskan langsung menuju rumah  duka. 

Di tengah perjalanan baru ada update informasi dari Om Dion, yang juga terlambat menerima perubahan informasi ketika sudah dalam perjalanan ke bandara. 

Bersama Om Fery Jahang, kelimpungan mencari alamat rumah duka  Info dari nona Indah Lopo, meminta maaf karena ternyata jasad ayahnya lebih dulu ke Kupang pada penerbangan pagi hari. Keluarga membawa ke rumah duka di Baumata. 

"Saya dan KK laki" Bru menuju ke kupang. Begitu pesan WA yang dikirim nona Indah ke Om Dion, yang baru beta terima hampir jam 13:00 Wita. Si suling dan bungsu terbang terpisah dengan bapanya.

"Jangan sampai Om Yol sengaja, supaya Om Dion dan kita semua harus cari rumah duka sampai dapat," nyeletuk Om Paul Burin, salah satu wartawan angkatan pertama.

Akhirnya beta ketemu Om Dion dan Om Fery Jahang  di rumah duka. Lalu tiba menyusul dari Pos Kupang, yakni, Etty Turut, Paul Burin, Fery Ndun dan Gerardus Manyela.

Demikian sekadar klarifikasi atas status informasi keliru yang termuat di facebook.

*** 

Nama lengkap YULIUS OKTOVIANUS LOPO. Lahir pada 18 Oktober 1964. Menempuh pendidikan theologia di UKAW Kupang. 

Setelah menjalani masa vikariat, ditabiskan menjadi Pendeta di GMIT Elim-KiE November 1989, bersama Pdt. Ebenhaezer  Nuban Timo dan mendiang Pdt. Yes Tlaan. 

Om Lius meninggal dunia di RSUD Mimika, Papua, Sabtu (27/8/2022), sekira pukul 17.25 WIT. 

Om Lius sudah lebih dahulu ditinggalkan istrinya Melly Rita Sirituka pada 6 Januari 2016 dan meninggalkan tiga orang anak, yakni, Inyo, Indri dan Indah.

Yulius Lopo adalah Pendeta GMIT, yang ditugaskan Sinode GMIT untuk menjadi wartawan pada Surat Kabar Harian (SKH) Pos Kupang sejak tahun 1992. Penugasan itu pada masa Ketua Sinode Pdt. Dr. Benyamin Fobia. 

Penugasan menjadi wartawan itu bagian dari persiapan akan hadirnya koran yang terbit harian pertama di Provinsi Nusa Tenggara Timur. 

Pendiri Pos Kupang, mendiang Julius Siyaranamual dan Damyan Godho, berkunjung ke Kantor Sinode GMIT. 

Kunjungan itu bertujuan meminta Sinode GMIT mengutus kader-kader terbaiknya untuk mengikuti pelatihan jurnalistik sebagai persiapan menjadi wartawan SKH Pos Kupang. 

Sinode GMIT akhirnya mengutus lima orang, yakni, Pdt. Yulius O. Lopo, STh, Pdt. Ebenhaezer Nubantimo,STh, Pdt. Mesakh AP Dethan,STh,  Esther M. Rihi Ga, STh dan Paul Bolla, STh.  

Lima utusan GMIT ini resmi menjadi wartawan Pos Kupang, yang mulai terbit percobaan pada minggu terakhir November 1992. Lalu terhitung 1 Desember 1992, Pos Kupang resmi terbit harian dan diperingati sebagai hari lahirnya. 

Keputusan Ketua Sinode GMIT,  Pdt. Dr. Benny Fobia dengan mengikhlaskan lima orang kadernya dilandasi pikiran ini.  

"Koran juga dapat menjadi sebuah Jemaat baru, tempat pendeta GMIT melayani. Tempat  untuk bisa menyentuh hati orang lain, tidak dengan mulut,  tetapi dengan tangan yang menulis. Mewartakan kabar baik lewat tulisan. Tulisan yang mengubah manusia dan dunia, melintasi batas sebuah jemaat atau gereja. Demikian pertimbangan Pdt. Dr. Benny Fobia kala itu.

Beta kira Pdt. Fobia sudah berpikir jauh ke depan tentang tugas seorang pendeta. Yang harus diurus seorang pendeta, khususnya pendeta GMIT, tidak lagi terbatas hanya pada Jemaat-Jemaat GMIT. 

Pendeta GMIT harus juga melayani manusia dan dunia. Itulah kontribusi GMIT untuk membuat manusia dan dunia ini terus menjadi lebih baik. 

Menugaskan pendeta GMIT menjadi wartawan adalah cikal bakal konsep adanya Pendeta Pelayanan Umum atau Pendeta Pelum.

Saat ini Sinode GMIT sedang kewalahan mengakomodir banyaknya alumni fakultas teologi yang tidak dapat diakomodir. 

Jumlah tempat atau gereja atau Jemaat terbatas, sedangkan alumni teologia yang melamar berlimpah. 

Pelamar bukan hanya berasal dari lulusan Theologi UKAW Kupang, tetapi dari UKSW Salatiga, UKDW Yogya, STT Intim Makassar, STT Jakarta, dan sekolah teologia lainnya.

Pdt. Fobia sudah membuka mata GMIT, bahwa ada banyak ladang pelayanan yang sudah saatnya membutuhkan perhatian. 

Ladang Fungsional, seperti Pendeta ASN bisa membantu pemerintah membina dan membimbing ASN,  Pendeta Komunitas, seperti Petugas Parkir, Ojek, Cleaning Service, Satpam dan seterusnya. 

Pendeta Kategorial, khusus melayani kategori anak, remaja, teruna, pemuda, perempuan, ibu, bapak, lansia, dst. 

Begitu juga Pendeta Profesional, pendeta media massa, pengusaha, TNI-Polri, Satpam, pramuniaga, dst. Begitu juga pendeta petani, sopir, peternak, nelayan, dstnya. Ada kebutuhan pendeta yang melayani sesuai pergumulan khas.

Setiap kategori memiliki banyak anggota. Jika dijumlahkan bisa menyamai jumlah anggota sebuah gereja. 

Jika ada seorang pemdeta khusus, maka pelayanan bisa lebih fokus dalam mendampingi permasalahan khas yang dihadapi. 

GMIT perlu membuat kajian serius mengenai tugas seorang pendeta pelum, ditengah rumit dan uniknya permasalahan manusia dengan beragam kategori. Banyak soal terjadi dalam masyarakat seharusnya bisa dicegah atau diminimalisir, jika gereja hadir secara spesifik. 

Hadirnya pandemi Covid 19 telah membuka mata gereja yang lambat merespon perkembangan dunia. 

Ketika ibadah tatap muka menjadi potensi terjadi penularan, banyak gereja kelabakan bagaimana cara bisa hadir melayani umatnya. Aspek multimedia mendadak harus menjadi perhatian. 

Saat ini GMIT mulai membenahi aspek kemampuan literasi para pendetanya. Padahal Pdt. Fobia sudah memulainya di tahun 1992. Lima orang sudah mulai disemaikan di Pos Kupang. Sayang sekali tidak diteruskan. 

Padahal GMIT memiliki ikatan batin khudus dan saham moral dalam pendirian koran Pos Kupang. Berulang kali beta sudah mengingatkan GMIT. 

Pos Kupang bisa menjadi tempat praktek pendeta, atau KKN mahasiswa theologi. 

Fakultas theologi UKAW Kupang, misalnya, pernah mempercayakan tiga mahasiswa teologi kkn di koran NTT Ekspres Kupang, yakni, John Famaney, Leny Bees, dan seorang lagi saat ini pendeta di GMIT Betlehem Oesapa Barat. 

Semoga berpulangnya Om Lius menjadi momentum GMIT memikirkan diversifikasi model pelayanan gereja. Semoga Om Lius tidak menjadi utusan yang terabaikan. 

Sebagai wartawan Pos Kupang, Yulius Lopo, sempat bertugas di Sumba Barat. Kemudian beta menjadi  penggantinya tahun 1994. 

Om Lius kemudian ditugaskan berturut-turut ke Alor, Manggarai, Sikka, dan kembali ke mabes di Kupang.

Pos Kupang yang bernaung dalam jaringan koran daerah, bentukan Kompas Grup, dibawah organisasi Pers Daerah atau Persda. Tahun 2000, Om Lius direkrut Persda pindah ke koran Metro Bandung (kini Tribun Jabar). 

Di Bandung, Om Lius dipersiapkan untuk memimpin koran Timika Pos, kerjasama KKG dan PT Frerport. Untuk misi ini Om Lius diundang khusus sesepuh KKG Jacob Oetama. 

Selain Om Lius, juga  Om Damyan Godho dan Dion Db Putra yang  pernah bertatap muka di ruang kerja bos KKG itu.

Om Lius mulai mewartakan di bumi Papua sebagai Pemred  koran baru Timika Pos sekitar Juli 2000. Ada lima wartawan dari NTT yang direkrut khusus untuk membantu Om Lius di Timika Pos. 

Selama berkiprah di Papua, setelah Timika Pos, Yulius Lopo, juga tercacat bergabung di beberapa media cetak di Timika dan Jayapura. 

Bahkan merambah ke televisi, seperti Top TV dan Golden TV. Hingga akhir hayatnya Om Lius tercatat  bergabung ke media Salam Papua. 

Ini pertanda bahwa GMIT bahkan NTT bisa mensuplai kader-kadernya untuk Indonesia. Selama 22 tahun membangun Papua dari dunia jurnalistik, Om Lius termasuk wartawan senior di Papua yang dihormati.

Beta dan Om Lius sudah lama tidak bertemu sejak kami bersama merancang hadirnya koran NTT Ekspres tahun 2000, bersama mendiang Hans Louk, Dany Ratu, Ana Djukana dan mendiang Harry Harzufri. 

Kami berdua "suten" siapa yang tetap di Pos Kupang. Hasilnya, Om Lus tetap di Pos Kupang dan saya bergabung ke NTT Ekspres.

Tahun 2002, Om Lius sempat pulang Kupang. Kami berdua ngobrol banyak hal hingga tengah malam di rumah saya yang baru mulai dibangun. 

Kami berdua bermimpi... kelak, bila beta sudah ditabis jadi pendeta, dan Om Lius dipanggil kembali oleh Sinode GMIT, berdua bercita-cita membangun GMIT dari sisi media dan membantu teman-teman agar bisa menulis. 

GMIT harus memiliki banyak penulis. Karena ketika mengasuh Rubrik Opini, jarang sekali menerima naskah opini dari kalangan teologi, mahasiswa atau pendeta.

Semasa bersama di Pos Kupang, Om Lius adalah wartawan Pos Kupang angkatan pertama, dan termasuk wartawan kesayangan Om Damy, Pemimpin Redaksi. 

Ketika Pos Kupang memiliki sepeda motor, hasil barter iklan, Om Lius menjadi orang kedua mendapat jatah sepeda motor Yamaha bebek, setelah seniornya mendiang Hans Louk. Lainnya tetap cari berita dengan jalan kaki.

Meski jauh di Papua, teman-teman Yulius di GMIT, khususnya alumni angkatan 1984 Theologi UKAW tetap bisa terus berkomunikasi lewat "The Eighties Fourth" WA Grup buatan Pdt.  Eben Nubantimo. Pada 12 Juni 2022, Yulius memberi tahu di grup WA dia mengikuti Ibadah Minggu pagi secara online dari GMIT Kota Baru Kupang, saat dipimpin Pdt. Tien Hawu-Muni.

Saat mendapat kabar duka, beta berharap  jasad Om Lius akan  kembali perut bumi Timor.  Bukan hanya asalnya dari Bokong, Kupang Tengah, tetapi Om Lius tercatat sebagai pendeta GMIT yang ditugaskan menjadi wartawan. 

Kembali ke tanah Timor ke pangkuan GMIT. Om Lius juga menjadi orang pertama asli produk Pos Kupang yang mendapat hati Om Herman Darmo, bos Persda, dan pemilik KKG Jacob Oetama, untuk menolong Papua. 

Kembali ke tanah Timor adalah pulang agar tumbuh kader-kader baru yang bisa disumbangkan untuk membangun Indonesia.

Beta  tidak tahu persis apakah Om Lius masih tercatat sebagai Pendeta GMIT, sekaligus karyawan GMIT. 

Beta juga kurang tahu, apakah Om Lius pernah dipanggil kembali melayani oleh Sinode GMIT, karena statusnya diutus ke Pos Kupang. 

Selamat Jalan sahabat rasa saudara, Yulius Oktovianus Lopo.  Ibadah Pelepasan di rumah duka jam 10:00 Wita, dilanjutkan Ibadah Pemakaman di Gereja Imanuel Baumata jam 11:00 Wita.

Tuhan menjaga anak Inyo, Indri dan Indah, serta menguatkan keluarga besar Lopo-Sirituka. *

Sumber: Pos Kupang cetak 30 Agustus 2022 halaman 2, rubrik opini.

Nyanyian Kehidupan Nafsiah Mboi


Oleh Dion DB Putra 

UNTUK kurun waktu yang cukup panjang, dia selalu disandingkan dengan nama besar sang suami, dr. Ben Mboi. Namun, sejatinya dia pun memiliki jejak tersendiri yang tak kalah mengagumkan. 

Sebagaimana suaminya,  dr. Andi Nafsiah Walinono-Mboi, SpA, MPH atau lebih dikenal sebagai dr. Nafsiah Mboi, merupakan tokoh yang sungguh bekerja keras memajukan wilayah dan masyarakat. 

Pasangan suami istri (pasutri) ini mengabdi untuk masyarakat Nusa Tenggara Timur (NTT) sejak daerah ini baru setahun jagung menjadi provinsi otonom.  

Totalitas pengabdian  keduanya menjadi penuh tatkala Ben Mboi mendapat kepercayaan sebagai gubernur NTT selama dua periode, 1978-1988.

Ketika itu Nafsiah dan Ben Mboi  telah membuat Flobamora mencuat di antara provinsi lain karena lonjakan kemajuan warganya.

 Prestasi mereka  di bidang pelayanan publik diakui tidak hanya di dalam negeri tetapi secara internasional, antara lain berupa penghargaan Ramon Magsaysay Award, Agustus 1986. 

Saya baru naik kelas 2 SMA Negeri 1 Ende kala itu.  Nama pasangan ini menjadi buah bibir. Siaran radio lokal hingga sekelas RASI dan BBC London berulang menyebut nama mereka. Media nasional tak ketinggalan mengupas.

Majalah bulanan Dian, media kebanggaan kami di Flores dan NTT umumnya, mengulas lengkap dan tuntas. Ende, kampung halamanku, kota pengasingan sang Proklamator RI, Bung Karno (1934-1938) tentu saja spesial buat pasutri dokter tamatan Universitas Indonesia tersebut.  

Di Ende mereka sama-sama mengabdi bagi rakyat Indonesia dalam masa yang sulit. NKRI baru merdeka. Di kota mungil ini pula putri sulung mereka lahir.

Almarhum ayahku, Thomas Bata, seorang guru SD di pelosok Lio Timur,  Kabupeten Ende punya kenangan tentang Ben dan Nafsiah. 

"Dokter Ben dan dokter Nafsiah memang orang hebat. Ramon Magsaysay adalah pengakuan atas kegigihan mereka bekerja untuk rakyat NTT lewat Operasi Nusa Makmur, Operasi Nusa Hijau, dan Operasi Nusa Sehat," kata Thomas.

Nafsiah dan Ben Mboi

Ya, ketiga program unggulan itu memang tertanam kuat di benak sebagian besar masyarakat  NTT. Hingga saat ini.  Ben Mboi sungguh pemimpin pendobrak yang menumbuhkan harapan. Ben dan Nafsiah Mboi merupakan kombinasi yang saling mengisi. Seperti dwitunggal.

Peran Nafsiah Mboi jelas tak terkira. Nafsiah  memiliki jejak tersendiri yang mengagumkan. Perjalanannya panjang dan berliku sebelum mendapat kepercayaan mengemban tugas sebagai Menteri Kesehatan RI (2012-2014). 

Nafsiah Mboi adalah perempuan pertama dari suku Bugis, Makassar yang menjadi dokter dan dokter spesialis anak. Untuk NTT, dia merupakan dokter spesialis anak pertama yang melayani masyarakat Flobamora.

Nafsiah merupakan orang Asia pertama yang menjadi ketua Komite Hak Anak Perserikatan Bangsa-bangsa (CRC) dan perempuan Indonesia pertama yang menduduki posisi direktur pada Organisasi Kesehatan Dunia (WHO).

Sampai detik ini pun Nafsiah diakui ketokohannya dalam isu HIV/AIDS. Dia memperjuangan pendekatan kemanusiaan dan HAM untuk ODHA (orang dengan HIV/AIDS)   dan memahami pentingnya pemberdayaan populasi kunci dalam penanggulangan  HIV/AIDS.

***

Yogyakarta medio 1995. Di tempat novelis terkenal asal Siantar, Bang Ashadi Siregar, pertama kali saya belajar tentang HIV/AIDS bersama sejumlah rekan wartawan dari berbagai daerah di Tanah Air. Mentor kami dr. Nafsiah Mboi.

Ibu Nafsiah mengingatkan kami agar menulis HIV/AIDS dengan hati, penuh empati. Meletakkan nilai kemanusiaan sebagai pertimbangan utama. 

Nafsiah Mboi saat menjabat Menkes

Suatu malam di Yogya yang mendung, saya menitikkan air mata. Tak tahan mendengar curahan hati seorang ODHA yang dikucilkan bahkan oleh keluarganya sendiri. 

Menjadi ODHA pada masa awal HIV/AIDS merebak sungguh berat.  Hari ini kiranya sudah jauh lebih baik.  Nafsiah merupakan satu di antara tokoh di negeri ini yang begitu gigih berjuang agar ODHA tidak diperlakukan semena-mena.

Ketokohannya dalam isu HIV/AIDS hanya satu di antara sederet keutamaan Nafsiah Mboi. Banyak hal tentang dirinya terserak di berbagai media.  

Namun, kekaguman terhadap tokoh tersebut tergenapi ketika membaca buku biografi berjudul  "Nyanyian Kehidupan Nafsiah Mboi" karya Maria Hartiningsih dan Agung Adiprasetyo (Penerbit Buku Kompas, 2022).

Nafsiah Mboi

Biografi Nafsiah Mboi diluncurkan di Jakarta, Selasa 14 Juni 2022. Saya beruntung dapat undangan mengikuti acara  via zoom. Banyak tokoh penting di negeri ini yang hadir secara offline. Mereka merupakan sahabat, kolega, teman kerja Nafsiah. 

Mereka memberikan testimoni yang menyentuh. Saya ingat beberapa di antaranya yang memberikan testimoni. Aburizal Bakrie, Harry Tjan Silalahi, Martha Tilaar, Hasan Wirajuda, Ery Seda, dan Rikard Bagun.

Buku setebal 456 halaman ini mengungkapkan banyak sekali aspek kehidupan Nafsiah Mboi yang belum pernah terpublikasikan beserta mazmur syukur yang senantiasa alumni PMKRI itu daraskan pada setiap langkah hidupnya.

Membaca biografi Nasfiah laksana mendengar nyanyian kehidupan. Mulai dari cerita soal  Sengkang, kota kecil di Sulawesi Selatan pada 14 Juli 1940,  benih cinta yang bersemi di Jalan Pos Jakarta hingga Nafsiah menapak tangga tertinggi dalam kariernya. 

Penulis biografinya keren. Saya mengenal  baik. Maria Hartiningsih adalah jurnalis Harian Kompas (1984-2015).  Saya selalu suka menikmati tulisan Mbak Maria. Sentuhannya apik berbobot dalam masalah kemanusiaan dan HAM, keadilan, kesetaraan dan keberagaman.  

Agung Adiprasetyo adalah pimpinanku. Beliau mantan CEO Kompas Gramedia. Beberapa kali berkunjung ke Kupang, dan Maumere, Ledalero. Tahun 2009 terpilih sebagai satu di antara CEO terbaik.

Agung Adiprasetyo  aktif menulis di Kompas, Kontan, majalah Fortune dan lainnya. Diksinya menawan, menukik terukur dan kaya pesan. Biografi Nyanyian Kehidupan Nafsiah Mboi lahir dari tangan dua penulis top ini. Kata pertama hingga akhir mengalir indah. Menggoda untuk terus membaca.

Tepat kiranya Nafsiah Mboi mempercayakan Mbak Maria dan  Mas Agung  menulis biografinya. Mereka piawai menenun pengalaman Nafsiah Mboi dalam buku yang terbagi dalam 15 bab  ini sebagai undangan untuk belajar tentang ketekunan, belajar soal totalitas.

Nafsiah Mboi saat peluncuran biografi

Tentang kehendak untuk terus belajar yang tak pernah padam, kegigihan dan keberanian mempertahankan prinsip-prinsip kebenaran, kesetaraan dan keadilan. Pun belajar tentang empati dan kerendahan hati.

Lebih dari itu, kita belajar dari Nafsiah yang menjalani semuanya dengan rasa terima kasih dan syukur yang mendalam, detik demi detik. 

Buku ini layak dibaca siapapun. Dari mahasiswa, orang kebanyakan, aktivitas sosial hingga para pemimpin pada level dan komunitas manapun.

Mbak Maria dan Mas Agung menulis: Nafsiah Mboi bagai batu karang di tengah samudra. Gelombang yang menghempasnya, ombak dan riak yang mengitarinya ketika angin utara mereda, sayup-sayup membentuk rangkaian nada yang dimainkan oleh orkestra alam, menciptakan nyanyian kehidupan (hal 417).

Tidak  sulit kalau tuan dan puan ingin memiliki Nyanyian Kehidupan Nafsiah Mboi.  Buku Penerbit Kompas lazimnya tersedia di Toko Buku Gramedia. *

* Dipublikasikan Pos Kupang cetak edisi Rabu 29 Juni 2022 halaman 2, rubrik opini.



Profil Sirkuit Mandalika

Sirkuit Mandalika (ist)

Sirkuit Internasional Jalan Raya Pertamina Mandalika akan menjadi saksi sejarah kembalinya ajang kejuaraan balap motor dunia ke Indonesia dengan digelarnya MotoGP seri kedua musim 2022.

Sirkuit Internasional Jalan Raya Pertamina Mandalika akan menjadi saksi sejarah kembalinya ajang kejuaraan balap motor dunia ke Indonesia dengan digelarnya MotoGP seri kedua musim 2022.

Sehari hari lagi desing suara mesin motor pebalap MotoGP akan membahana berpacu di lintasan Sirkuit Internasional Jalan Raya Pertamina Mandalika, Lombok, Nusa Tenggara Barat. 

Lintasan sepanjang 4,3 km ini akan menjadi saksi sejarah kembalinya pentas kasta tertinggi kejuaraan balap motor dunia.

Sirkuit Internasional Pertamina Mandalika dibangun oleh MRK1 Consulting yang berkantor di Bahrain. 

Konsultan ini mengerjakan layout sirkuit, pavement sirkuit, dan drainase sirkuit. 

Konsultan ini juga mengerjakan sirkuit balap kelas dunia, seperti Sirkuit Internasional Chang di Thailand yang juga menggelar MotoGP. 

Sementara untuk struktur tunnel atau terowongan sirkuit dan bangunan race control ditangani oleh konsultan Amsecon.

Dalam dokumen PT Pengembangan Pariwisata Indonesia (ITDC) disebutkan jangka waktu pengerjaan sirkuit ini sejak 15 Juli 2020–30 Juni 2021. 

Akibat pandemi Covid-19, pengerjaan proyek sirkuit ini sempat mengalami beberapa kali penundaan.

Secara umum, sirkuit ini memiliki tiga area, yaitu lintasan sirkuit, garasi motor pebalap, dan tribune penonton.

Disamping ketiga area tersebut, tidak kalah penting adalah fasilitas penunjang sirkuit yang menambah lengkap dan estetis, seperti selasar gerbang sirkuit yang bisa digunakan sebagai ruang publik bagi pejalan kaki dan untuk swafoto, area usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM), area pendaratan helikopter, unit kesehatan (medical centre), dan area parkir bagi penonton.

Lintasan sirkuit

Dalam data proyek sirkuit yang dikeluarkan ITDC, lintasan memiliki panjang 4,301 km, lebar 15 meter, 17 tikungan terdiri 6 tikungan ke kiri dan 11 ke kanan. Sirkuit ini juga dilengkapi lintasan service road selebar 14 meter. 

Service road membentang di sisi kanan dan kiri sepanjang lintasan. Service road berfungsi sebagai lintasan darurat sirkuit untuk mengangkut kendaraan atau pebalap yang terjatuh dan tidak melanjutkan balapan.

Lintasan sirkuit memiliki pengamanan berupa run off area yang terdiri dari permukaan aspal, rumput, dan kerikil. 

Run off area berfungsi ketika pebalap yang melebar saat memacu kendaraannya, maka tidak akan langsung masuk rumput atau kerikil. 

Lebar run off area sangat bervariasi tergantung dari karakter tikungan dan kecepatan laju motor pebalap. 

Run off area dan gravel paling luas berada di tikungan 10 karena untuk mengantisipasi kecepatan laju motor dari tikungan 6, 7, 8, dan 9 yang berkarakter tikungan cepat dan mengalir saat pembalap memacu motornya.

Trek lurus yang membentang di gand stand utama di depan garis start dan finish memiliki panjang 507 meter. 

Saat tes pramusim 11-13 Februari lalu, top speed atau kecepatan puncak diraih Johaann Zarco (Pramac Ducati) mampu melaju hingga 314,8 kilometer per jam pada sesi Jumat dan Minggu. 

Sementara jawara seri MotoGP Qatar lalu, Enea Bastianini (Gresini Racing), dengan motor Ducati juga meraih kecepatan puncak yang sama pada hari Sabtu (12/2/2022). 

Dari tiga hari tes pramusim, catatan tercepat satu putaran diraih Pol Espargaro (Repsol Honda) meraih 1 menit 31,060 detik pada hari ketiga.

Lapisan aspal yang digunakan menggunakan teknologi stone mastic asphalt (SMA). 

Setelah tes pramusim lalu, dilakukan pengaspalan ulang dari tikungan 16,5 menuju tikungan 5,5 sepanjang 1,602 kilometer dipimpin oleh dua ilmuwan dari Universitas Ulster, Irlandia, yaitu Campbell Waddell dan David Woodward. 

Mereka merupakan pakar pengaspalan dan pengujian lapisan permukaan lintasan balap dari konsultan Roads Runways Racetracks (R3). 

Pengaspalan dilakukan agar kondisi lintasan lebih bersih dan aman setelah dilakukan evaluasi pada tes pramusim.


Garasi

Paddock atau garasi untuk memarkir dan menyetel motor pebalap merupakan tempat paling penting bagi pebalap dan kru untuk berkomunikasi mendapatkan setelan terbaik saat latihan, kualifikasi, dan lomba. 

Sirkuit Mandalika memiliki 50 garasi yang membentang di sepanjang trek lurus start dan finish. Kapasitas garasi mampu menampung semua tim yang berlomba di Moto3, Moto2, dan MotoGP.

Di belakang area garasi juga dilengkapi hospitality atau ruangan pebalap dan kru yang cukup luas. 

Ruangan tersebut juga bisa digunakan kru ataupun pebalap untuk beristirahat dan terdapat dapur untuk menyiapkan kebutuhan makanan dan minuman bagi pebalap dan kru balap. 

Di sekitar kawasan ini juga terdapat tempat yang digunakan untuk menyiapkan komponen pebalap, seperti ban cadangan dan komponen suku cadang sepeda motor.

Area garasi juga berdekatan dengan ruangan race control yang digunakan untuk memonitor balapan oleh para juri lomba. 

Di ruangan ini pula “jantung” jalannya lomba ditentukan, termasuk menentukan, misalnya, bendera kuning yang mengindikasikan ada insiden atau kecelakaan pebalap maupun bendera merah yang mengindikasikan balapan dihentikan. 

Race control dilengkapi 40 kamera yang tersebar di semua sudut lintasan dan trek lurus yang bisa berputar 360 derajat dan memperbesar visual hingga sangat detail.


”Grand stand”

Tribune penonton atau yang dikenal sebagai grand stand dibagi dalam empat kategori berdasarkan tiket penonton, yakni Premiere Class sebanyak 900 tiket, VIP Deluxe sebanyak 2.000 tiket, Premium Grand Stand, yakni tribune dengan atap, 21.056 tiket, dan Standard Grand Stand, yakni tribune tanpa atap, sebanyak 28.578 tiket.

 Sementara General Admission atau kuota tiket penonton tanpa tempat duduk sebanyak 10.000 tiket.

Menariknya, sirkuit ini selain tempat duduk tribune berwarna-warni, beberapa tribune juga dihiasi dengan warna tempat duduk warna merah-putih yang merupakan lambang kebangsaan Indonesia, yakni tribune terbuka Zona I. 

Sementara terdapat pula dua tribune yang diperuntukkan bagi penggemar atau fans Marc Marquez di tribune Zona J dan fans Maverick Vinales di tribune Zona K.

Bagi penonton juga akan disediakan shuttle bus yang secara rutin akan terus berkeliling area parkir menuju gate atau pintu masuk 1, 2, dan 3. 

Shuttle bus ini difungsikan untuk menaikkan dan menurunkan penumpang dari area parkir barat dan area parkir timur. 

Khusus Premiere Class dan VIP Deluxe Class diberikan akses parkir di dekat sirkuit yang berdekatan dengan tribune kedua kelas ini.

Sirkuit Mandalika juga menyediakan tempat menonton bagi area VVIP pemerintah di Observation Deck yang terletak di ketinggian 21 mdpl di ujung tikungan pertama sehingga memiliki posisi strategis menghadap secara langsung posisi start pebalap melaju menuju tikungan 1, 2, 3, dan 4.

Hal yang menarik dan menjadi perhatian selama ini adalah area penonton di kawasan bukit 360 derajat yang memungkinkan penonton melihat langsung jalannya lomba hampir di semua sudut tikungan karena posisinya yang tinggi. 

Penonton akan lebih nyaman jika menggunakan teropong untuk memantau tikungan yang agak jauh. 

Selain itu, penonton juga bisa menikmati panorama dan keindahan pantai yang menghampar di sepanjang lintasan lurus setelah tikungan 8, 9, dan 10 disertai embusan angin laut.

Penonton tidak perlu khawatir kebutuhan makanan dan minuman sebab Mandalika Grand Prix Association (MGPA) sebagai penyelenggara balapan dan Dyandra Promosindo selaku event organizer telah menyiapkan area bagi UMKM penyedia makanan dan minuman yang tersedia di sekitar tribune penonton.

 Selain makanan dan minuman, juga tersedia cendera mata, seperti gelang, gantungan kunci, kaus, kemeja, topi, hingga jaket bermotif tematis MotoGP, mulai dari tim balap dan motif layout Sirkuit Mandalika.

Panitia penyelenggara menyiapkan panggung hiburan live music yang akan menampilkan penyanyi dan grup musik papan atas Indonesia yang akan menghibur penonton. 

Fasilitas penonton dilengkapi dengan tempat ibadah, seperti mushala, sarana air bersih, dan toilet. Penonton juga bisa memanfaatkan sarana kesehatan yang disediakan di area sirkuit.

Menikmati MotoGP di Sirkuit Mandalika seirama dengan peradaban yang sedang dibangun di kawasan Kuta Mandalika. 

Perpaduan industri otomotif, olahraga kelas dunia, dan wisata diharapkan memiliki daya ungkit untuk memulihkan kembali perekonomian lokal dan nasional. (Litbang Kompas/TOPAN YUNIARTO, EDITOR: WISNU AJI DEWABRATA)


Artikel ini telah dimuat pada Surat Kabar Harian Kompas edisi Rabu (16/3/2022).

Simak liputan lengkap seputar MotoGP Mandalika dan berita mendalam khas Kompas lainnya di https://klik.kompas.id/mandalikatribun/

Artikel ini juga telah dimuat TribunLombok.com

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Best WordPress Themes