Tampilkan postingan dengan label Database NTT. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Database NTT. Tampilkan semua postingan

Fosil Gajah Ditemukan di Mata Menge Ngada

Fosil Gajah dari Cekungan Soa
BAJAWA, FS -- Tim Pusat Penelitian Arkeologi Nasional (Puslit Arkenas) bersama Tim Geologi Bandung serta peneliti dari Australia menemukan beberapa fosil gajah di situs Mata Menge, Desa Menggeruda, Kecamatan Soa, Kabupaten Ngada, Nusa Tenggara Timur.

Fosil yang ditemukan terdiri dari scapula (tulang belikat) fosil RIB (tulang rusuk) fosil gading, fosil pelvis (tulang pinggul), fosil vertebrae atau tulang belakang. Sebelum dibawa ke laboratorium di Jakarta, temuan ini dipresentasikan kepada pemerintah Kabupaten Ngada di Bajawa, Selasa (19/7/2011).

Seperti disaksikan FloresStar, dalam presentasi di Aula Setda Ngada itu, temuan fosil dipaparkan sejumlah arkeolog, yaitu Drs. Imanuel Wahyu Saptono, M.Hum, Drs. Jatmiko, M.Hum, Dr. Ery Setyabudi dan Prof. Mike Morwood dari Australia. Presentasi disaksikan Bupati Ngada, Marianus Sae, Wakil Bupati Paulus Soliwoa, Ketua DPRD Ngada Kristoloko, pimpinan SKPD dan anggota DPRD Ngada.


Dr. Ery Setyabudi menjelaskan, fosil-fosil yang ada di cekungan Soa adalah fosil jenis pigmy tegodon yang berasal dari buaya dan tikus besar yang hidup sejak 800.000 tahun yang lalu.

Bupati Ngada, Marianus Sae mengucapkan terima kasih kepada peneliti atas hasil kerja mereka yang berhasil menemukan fosil gajah di cekungan Soa. Temuan baru tersebut bisa menjadi kebanggaan masyarakat Ngada yang diwariskan dari generasi ke generasi. Bupati Marianus berharap temuan tersebut bisa menjadi aset daerah sehingga tidak dibawa ke daerah lain.

“Saya minta hasil temuan itu disimpan di Kabupaten Ngada sebagai asset daerah sehingga generasi penerus Kabupaten Ngada tidak hanya mengenal nama saja tetapi bisa melihat secara langsung fosil-fosil tersebut,” pinta Marianus.

Menanggapi permintaan Bupati Ngada, tim arkeolog dan geologi menyetujui hal itu dengan syarat Kabupaten Ngada harus memiliki museum situs untuk menyimpan alat-alat purbakala. Menurut tim peneliti, fosil-fosil tersebut akan dibawa ke laboratorium di Jakarta untuk pembersihan dan perawatan khusus agar fosil tetap awet. Perawatan fosil membutuhkan tenaga khusus dan biaya tinggi.
“Setelah museum situs dibangun di Kabupaten Ngada maka fosil tersebut dikembalikan. Kami bawa fosil ini untuk perawatan dan pembersihan di laboratorium,” jelas salah seorang anggota tim peneliti. (hh)

Ngada Bangun Museum

BERKAITAN dengan penemuan fosil yang sangat berlimpah di wilayah Kabupaten Ngada, pemerintah setempat berencana membangun museum situs daerah. Menurut Bupati Ngada, Marianus Sae pemerintah segera membangun situs yang representatif. Namun, sambil menunggu bangunan situs baru, pemerintah akan menggunakan gedung yang ada untuk menyimpan alat-alat purbakala.

Keberadaan museum, kata bupati, akan menjadi salah satu daya tarik pariwisata di Ngada. Wisatawan akan mengunjungi situs tersebut untuk melihat benda-benda bersejarah seperti fosil, alat-alat purbakala atau artefak yang telah berusia ribuan tahun. “Temuan ini menjadi salah satu kekuatan daerah untuk mendorong pertumbuhan ekonomi di sektor pariwisata,” kata Bupati Marianus Sae.

Ketua DPRD Kabupaten Ngada, Kristoforus Loko menambahkan, DPRD memberikan dukungan politis untuk membangun museum itu. Berkaitan dengan rencana pemerintah membangun situs di Ngada, Loko mengharapkan agar Pusat Penelitian Arkeologi Nasional (Puslit Arkenas) mengirim beberapa tenaga ahli untuk membantu pemerintah daerah dalam hal merawat peralatan purbakala. (hh)

Harian FloresStar Minggu, 24 Juli 2011 halaman 1

Tidak Ada Dana Pemeliharaan Situs di NTT

KUPANG, PK -- Pemerintah tidak pernah mengalokasikan dana untuk pemeliharaan benda cagar budaya (BCB) dan situs-situs sejarah di Propinsi Nusa Tenggara Timur (NTT). Karena itu kondisi BCB dan situs- situs tidak terawat dan kehilangan makna.

Demikian dikatakan Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Propinsi NTT, Abraham Klakik, yang dikonfirmasi melalui Kepala Bidang Kebudayaan, Rafael Daud Ga, SE, Senin (20/6/2011).


"Selama ini, dana pemeliharaan tidak ada, kecuali dana untuk honor para juru pelihara BCB dan situs. Mungkin ini yang membuat BCB dan situs terkesan tidak dipelihara secara optimal," katanya.

Dia menjelaskan, penetapan status sebagai BCB dan situs bersejarah dilakukan setelah dilakukan survai oleh tim yang di dalamnya ada unsur arkelogi dan intansi terkait lainnya. BCB dan situs ini berupa benda, bangunan, struktur, situs atau kawasan sebagai cagar budaya. 

"Namun tidak semua yang termasuk unsur itu bisa ditetapkan sebagai BCB atau situs untuk didaftar pada buku register. Ada beberapa syarat atau kriteria yaitu sudah berusia di atas 50 tahun, mewakili masa gaya paling singkat 50 tahun dan memiliki arti khusus bagi sejarah dan budaya," jelasnya.

Rafael mengatakan, pemerintah perlu mengalokasikan dana untuk pemeliharaan BCB baik dari APBN maupun APBD. Pemeliharaan harus memperhatikan keaslian bentuk, tata letak, gaya, bahan atau teknologi. Pemeliharaan dilakukan untuk mencegah kerusakan dan pelapukan.

Rafael mengatakan, selama ini upah untuk para juru pelihara (jupel) BCB dan situs-situs sejarah di NTT hanya Rp 200 ribu/bulan, jauh di bawah standar upah minimum propinsi (UMP) di NTT.

Di NTT, sejauh ini, katanya, ada 73 jupel yang menjaga BCB dan situs-situs yang tersebar di 21 kabupaten/kota. "Jupel yang ada di NTT ditetapkan melalui keputusan Gubernur NTT No. 262/kep/HK/2010," katanya.

Menurut Rafael, upah itu sangat rendah sehingga tidak menutup kemungkinan sejumlah jupel harus mencari tambahan penghasilan selain menjadi jupel BCB.
"Kalau upah mereka dinaikkan, para jupel mungkin tidak cari kerja lain," katanya.

Dikatakannya, jika semua BCB dan situs dikelola dengan baik dan didukung dana yang cukup untuk pemeliharaan, maka keberadaan BCB dan situs bisa mendatangkan penghasilan bagi warga sekitar.
Kepala Unit Pelaksana Teknis (UPT) Museum Daerah NTT, Drs. Leonardus Nahak mengatakan, situs-situs yang ada di NTT termasuk di Kota Kupang, tidak boleh dijamah atau diubah karena akan menghilangkan makna dari situs yang bersangkutan. Situs merupakan obyek yang tetap dan tidak bergerak sehingga hanya bisa dipelihara dan dirawat.

"Situs di NTT cukup banyak, namun banyak yang tidak diperhatikan. Situs ini obyek tidak bergerak dan bisa menjadi tujuan wisata. Karena situs bisa memberikan informasi tentang sejarah masa lampau," katanya. (yel)


BCB dan Situs di NTT

* Kota Kupang: Tugu Jepang, Gereja Kota Kupang, bunker Kolokaha, bunker Luan Mbena, makam Raja Taebenu

* Kabupaten Kupang : gua prasejarah Oenaek, Istana Raja Amarasi 

* Sabu Raijua : Kompleks megalitik dan tumah adat Mata Lolo Wini Raeawu, kompleks megalitik dan rumah adat Kolorai, kompleks megalitik dan rumah adat Dara Rae.

* Rote Ndao : Gereja Loaholu dan rumah Raja Thie JA Messakh.


* TTS : Tugu Peringatan Perang Kolbano, kuburan tentara Belanda, Kampung Tua Benteng None.

*TTU : Rumah adat Manumuti Kempah, kompleks Tau Leau Salneno dan rumah adat Sonaf Bikomi.

*Belu : Megalitik Fatulotu, megalitik Makuloon dan Makes, situs megalitik Loro Dirma, megalitik dan rumah adat Kewar.

* Alor : Rumah adat Mabur, rumah adat Pasing, rumah adat Langwa, masjid tua Lerabaing.

*Lembata : Kampung Lama Lewohala, keris pusaka Lamalera, kampung lama Lamaraing, rumah adat Suku Lejab dan rumah adat suku Wawin, tulang ikan paus.

Flotim : Kuburan tua, rumah adat Kalike, rumah adat Belogili, rumah adat Wailolong dan istana Raja Larantuka.

*Sikka : Gua Wisung Fatima, rumah adat Lepo Ria Kunu Mbengu, gereja tua St. Mikhael, rumah adat Lepo Kirek, peralatan tua untuk misa di Gereja M Imaculata, kaki candi, salib, monstrans, piala, siboripateno, jambangan, penggantung dan tabernakel.

* Ende : Rumah adat Koanara Moni, kampung tua Unggu, mumi Wolondopo, rumah adat Wiwipemo, rumah pengasingan Bung Karno, rumah adat Sao Ria Raja Nggaji.

* Ngada : Situs Matamengge-Soa, megalitik dan rumah adat Wogo, kampung tradisional Gurusina-Jerebu'u, megalitik dan rumah adat Bena-Jerebu'u.

* Nagekeo: Rumah adat Tua Pau, bunker Jepang di Kobafesa, Kampung Boawae, bunker Jepang peninggalan Perang Dunia II Oki Sato.

* Manggarai Timur: Situs Sambi Lewa

* Manggarai : Situs Compang Tenda. 

* Manggarai Barat: Situs Ponto, patung Batupong. 

* Sumba Timur: Rumah adat dan pusat tenun ikat Palumarang, Benteng Hama Parengu, megalitik Praiyawang, rumah adat Parengu Wunga.

* Sumba Barat Daya: Megalitik dan rumah adat Bondo Bukha, Kampung Bukumbani

* Sumba Barat : Megalitik dan rumah adat Tambera

* Sumba Tengah: Kampung Adat Padabar.
Sumber: Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Propinsi NTT. 

Pos Kupang, 21 Juni 2011 halaman 1

Kekayaan Alam NTT Belum Dioptimalkan


KOMPAS.com - Rata-rata pendapatan per kapita penduduk Nusa Tenggara Timur tahun 2009 Rp 4,88 juta, jauh di bawah rata-rata nasional yang Rp 21,48 juta. Minimnya infrastruktur dan kondisi alam yang kering sering disalahkan atas rendahnya kesejahteraan rakyat Nusa Tenggara Timur.

Kalau kita masuk ke pelosok NTT, payahnya infrastruktur mudah ditemui. Keluar dari jalan penghubung antarkota/kabupaten yang beraspal menuju kampung-kampung, umumnya kita akan langsung menapak jalan tanah yang berdebu di musim kemarau dan licin di musim hujan. Padahal, jalanan itu naik turun tanjakan curam mengikuti topografi NTT yang berbukit-bukit. Tak jarang kendaraan harus menyeberang sungai karena belum ada jembatan atau perjalanan harus dilanjutkan dengan berjalan kaki.

Sarana transportasi laut juga minim. Kebanyakan mengandalkan kapal pelayaran rakyat yang keamanannya tak terjamin dan jumlah penumpang melebihi kapasitas. Penerbangan pun banyak mengandalkan pesawat kecil.

Jangankan di pulau kecil, kondisi seperti itu bertebaran di Pulau Flores, Timor, maupun Sumba yang terhitung besar. Hal itu diakui Bupati Sumba Timur Gidion Mbilijora. ”Jalan dan jembatan baru memadai di jalur utama yang menghubungkan Waingapu, ibu kota Sumba Timur, dengan wilayah sekitarnya. Di wilayah jauh ke selatan serta pegunungan, baru ada jalan tanah yang sulit dilewati di musim hujan,” katanya.


APBD yang terbatas, Rp 552 miliar, lebih dari 60 persen digunakan untuk membayar gaji pegawai negeri, tidak memungkinkan untuk membangun. Sisa APBD diprioritaskan untuk pendidikan, kesehatan, serta pengembangan pertanian. Usulan kepada pemerintah pusat untuk memperluas pelabuhan, membangun bendungan untuk irigasi pertanian, belum mendapat respons. Keluhan serupa diungkapkan kepala daerah lain.

Kondisi alam NTT kering. Musim hujan berlangsung pada bulan November sampai Maret dengan jumlah hari hujan rata-rata 44-61 hari per tahun. Sementara, musim kemarau antara April dan Oktober. Kondisi ini tidak cocok untuk padi atau jagung yang perlu air cukup.

Pengamat pertanian, Viator Parera, berpendapat, Pemerintah Provinsi NTT sebaiknya fokus pada pengembangan pertanian lahan kering yang cocok dengan kondisi geografis dan iklim NTT.
Kinerja pegawai

Bicara tentang kinerja pegawai pemerintah, sudah waktunya dilakukan pembenahan. Terkait hasil yang belum maksimal, Wakil Gubernur NTT Esthon L Foenay mengakui, aparat yang mengelola tidak efektif dan efisien dalam melaksanakan serta tidak disiplin anggaran. Penyebab lain, anggaran turun dekat habis tahun anggaran sehingga program tidak maksimal.

Stepanus Makambombu, Direktur Stimulant Institute, menyatakan, ada kecenderungan pelaksana me-mark up pengadaan barang sehingga mutu atau kualifikasi tidak sesuai akibat kurang pengawasan.

Persoalan lain yang mendasar adalah bagaimana warga memandang kesejahteraan mereka. Marianus Kleden, pengajar antropologi politik Universitas Katolik Widya Mandira Kupang, menuturkan, ada kecenderungan orang puas dengan apa yang ada. ”Kalau dengan hasil kebun dan ternak yang ada sudah bisa survive, ngapain mencari yang lebih. Untuk itu perlu ada mediasi agar mereka bisa melihat taraf hidup yang lebih layak dan terpacu untuk lebih bergiat mencapainya,” katanya.

Menurut Kleden, etos wirausaha memang baru berkembang. ”Kita banyak belajar dari etnik Tionghoa, Jawa, Padang, dan Sulsel tentang kerja keras. Lewat proses magang, etos ini perlahan-lahan diinternalisasi oleh generasi muda. Satu hal yang amat khas pada orang NTT adalah kecenderungan untuk mendapatkan uang tunai secara cepat dan tidak menempatkan uang dalam manajemen ekonomi jangka panjang,” katanya.

Terkait pesta adat yang menghabiskan banyak biaya, Marianus menyatakan, dalam masyarakat NTT yang berpola pikir sosial kolektif, pesta adat merupakan kesempatan bagi orang untuk mengukuhkan posisi dan status sosialnya di masyarakat.

Agar masyarakat NTT bangkit mengejar ketertinggalan, internalisasi sikap wirausaha perlu ditingkatkan. Di banyak tempat telah tumbuh semangat untuk mencapai taraf hidup yang lebih baik. Warga mengembangkan komoditas perkebunan. Hal ini harus dibantu dengan infrastruktur yang baik sehingga mudah dimobilisasi serta didukung tata niaga yang kondusif. Dengan demikian, nasib orang NTT akan lebih baik. (ATK)

Sumber: Kompas

Lima Abad Tuan Ma di Kota Reinha

Prosesi Tuan Ma di Larantuka
KOTA Larantuka yang dijuluki Kota Reinha atau Kota Ratu pekan ini mulai ramai didatangi para tamu dari berbagai penjuru tanah air, termasuk dari luar negeri. Mereka datang untuk mengikuti pesta akbar perayaan lima abad Tuan Ma (Bunda Maria) di Kota Larantuka.

Kedatangan para tamu atau peziarah rohani ini memberi nuansa lain bagi Kota Larantuka. Kota yang semrawut, jorok dan kotor ini mulai tampak bersih, meski jalan kabupaten dan jalan lingkungan masih berbatu dan berlubang di mana-mana.

Kehadiran mereka hanyalah ingin menjalani ritual lima abad Tuan Ma sebagai perayaan untuk menghormati Santa Maria Bunda Allah. Tuan Ma adalah satu gelar populer yaitu bunda Yesus dan bunda yang boleh disapa dengan kata manis Mama. Tuan Ma diyakini sebagai sebuah patung Santa Perawan Maria. Patung ini disimpan dalam sebuah kapela kecil yang disebut Kapela Tuan Ma di Pante Kebis, Kota Larantuka.

Asal-usul patung Tuan Ma memiliki versi sejarah yang berbeda. Meski demikian, orang Larantuka meyakini patung Tuan Ma adalah patung Bunda Maria yang ditemukan lima abad yang lalu.


Ada yang menceritakan, patung Tuan Ma awalnya ditemukan oleh seorang anak laki-laki bernama Resiona, entah berapa umur anak itu ketika menemukan patung Tuan Ma. Awalnya ia ingin pergi ke pantai di Larantuka mencari kulit-kulit siput. Namun, saat itu, ia melihat seorang ibu cantik. Ketika ia bertanya, siapa namanya dan dari mana datangnya, ibu itu hanya menunduk dan menulis di pasir tiga kata yang tidak dipahami Resiona.

Usai bertanya, Resiona mengangkat muka dan melihat rupa wanita itu sudah berubah menjadi sebuah patung kayu. Resiona pun mengambil batu dan kayu lalu memagari kata yang ditulis wanita cantik yang berubah bentuk tersebut agar tidak terhapus oleh hempasan batu dan pasir saat ombak besar. 

Usai memagari tulisan itu, Rosiona membawa patung kayu tersebut pulang ke rumahnya dan disimpan dalam sebuah korke atau rumah ibadat penduduk asli.

Beberapa tahun kemudian Resiona kecil tumbuh dewasa dan kembali ke pantai. Dari kejauhan ia meliat sebuah kapal berlayar menuju ke tempat ia berdiri. Kapal itu berlabuh lalu turunlah seorang berpakaian putih ke dalam sekoci yang membawanya ke pantai.

Resiona menunjuk kepadanya tempat di mana ada tulisan tiga kata di pasir. Orang itu -- yang kemudian diketahui seorang paderi ordo Santo Dominikus dari Portugal -- membaca tiga kata itu, yakni Reinha Rosario Maria.

Usai membaca kata yang ditulis Resiona, ia diantar ke korke di mana patung kayu itu disimpan. Dengan amat terharu paderi itu langsung mengenal patung itu dan berkata, "Ya, inilah dia, Reinha Rosari. Dia sendirilah yang menulis namanya di pasir yakni Maria."


Karena itu, patung Tuan Ma yang dikenal sebagai patung Mater Dolorosa atau Bunda Kedukaan atau Mater Misericordiae tidak lain adalah sebuah tanda atau lambang Santa Maria Bunda Allah.

Versi lain dalam cerita itu mengatakan, patung itu datang dari laut, anyo deri lao (hanyut dari laut) dan ditemukan di pantai Larantuka pada tahun 1702. 

Menurut versi ini, sebuah kapal Portugis mengalami musibah di Selat Larantuka ketika terjadi pertempuran antara armada Portugis dan orang Larantuka. Dari sebuah kapal Portugis yang karam terkena tembakan, terlempar keluar sebuah patung Bunda Maria yang terbuat dari kayu. Patung itu hanyut dan terdampar di pantai Larantuka. 

Seorang Larantuka yang menemukan patung yang tingginya 160 cm itu mula-mula menyimpannya di sebuah korke kemudian menyimpannya di sebuah kapela kecil yang dianggap sebagai kapela Kerajaan Larantuka.

Sekelumit sejarah keberadaan patung Tuan Ma ini kemudian menjadi pegangan umat Katolik di Kota Larantuka. Umat memahami kehadiran benda-benda seperti patung-patung -- terlepas dari cerita atau dongeng mengenai munculnya atau ditemukannya -- sebagai sarana yang boleh dipandang berasal dari Allah yang Maha Baik untuk membantu umatnya dalam beribadat membangun rohani. 

Menjadi tugas Gereja untuk mengajar, menguduskan, meyakinkan, mendampingi dan membina umatnya sesuai dogma Gereja.

Koordinator Seksi Humas dan Publikasi Perayaan Lima Abad Tuan Ma, Bernad Tukan, kepada Pos Kupang di Gereja Katedral, Selasa (5/10/2010), mengatakan, perayaan lima abad Tuan Ma berawal ketika sejumlah awam di Jakarta ingin memperingati iman Katolik dan devosi kepada Bunda Maria yang dimulai sekitar 500 tahun lalu dengan misinya di Pulau Solor, Flores dan Timor. Bahkan para pemrakarsa menelusuri sejarah iman Katolik di Larantuka dengan mendatangi Kedutaan Besar Portugal di Jakarta.

Di kedutaan ditemukan adanya MOU antara kedutaan dan pemerintah daerah Flotim, yang menyepakati Kota Larantuka dan salah satu kota di Portugal dan disebut sebagai calon Kota Fatima.

"Studi sejarah Tuan Ma ini juga ditulis oleh orang Belanda yang disimpan di Erasmushuis. Karena itu, tidak keliru kita merayakan lima abad Tuan Ma dalam tahun 2010. Ini didasarkan pada tulisan Francois Valentyn dalam bukunya bertajuk, Oud en Nieuw Oost Indien etc. 

Dalam buku ini dilaporkan adanya musibah karam di Pulau Penyu yang disebut Nusapinha Lokea yang aslinya Lewo Kea (kampung Penyu)," tutur Bernad.

Ia mengakui, perayaan lima abad Tuan Ma di Larantuka juga bertepatan dengan tahun awam birokrat. Maka, setiap seksi melibatkan juga unsur awam birokrat untuk berperan serta.
Ia mengakui, perayaan lima abad Tuan Ma ini telah dilakukan sosialisasi oleh Panitia Nasional dengan pembicara Dr. Yoseph Inyo Fernandez, Dr. Paul Budi Kleden, SVD, Martinus Sakeira (alm), dan Dr. J. Riberu. 

Mereka memaparkan alasan diadakan perayaan lima abad Tuan Ma, juga devosi Tuan Ma dari perspektif teologi. Dalam pemaparan itu, semuanya menginginkan perayaan Tuan Ma yang puncaknya 7 Oktober 2010 di Lapangan Ile Mandiri.
Pada puncak acara, Tuan Ma tetap di kapelanya dan dapat diberi penghormatan sebagaimana lazimnya pada hari bae (pekan suci Paskah). Ini juga atas keikhlasan para pelaku tradisi yang bersedia membuka kapela Tuan Ma.

Bernad mengutip Uskup Larantuka, Mgr. Fransiskus Kopong Kung, Pr, yang menyatakan perayaan ini merupakan momen syukur karena Tuan Ma merupakan benih iman pertama di wilayah Larantuka dan moment tobat dan pembaharuan diri. Jadi, tidak hanya devosi kepada Bunda Maria, tetapi keutamaan Maria hendaknya mengispirasi, memotivasi, terintegrasi dalam seluruh realitas pergumulan hidup. 


Persatukan Rakyat Flotim
Perayaan lima abad Tuan Ma di Kota Larantuka, Kabupaten Flores Timur. Semua suku dan agama mengambil bagian dalam perayaan itu. 

Laksana pesta rakyat. Wajah-wajah lesu dalam pergulatan politik merebut kursi Bupati Flotim yang nyaris tak selesai dan kehidupan ekonomi yang karut-marut hilang seketika. Semua bahagia ketika menyaksikan partisipasi rakyat dalam perayaan lima abad Tuan Ma.

Hari Rabu (6/10/2010) merupakan momentum bersejarah. Berbagai kelompok lintas agama dan suku, baik Muslim, Protestan, Hindu dan Budha hingga paroki-paroki di wilayah Keuskupan Larantuka berjalan beriringan membawa barang bawaan mereka mulai dari sapi, kambing, babi, ayam, jagung, kacang, ubi, beras dan makanan lainnya menuju Gereja Katedral.

Mereka melintasi semua penjuru Kota Larantuka. Tari-tarian dari berbagai etnis mengiringi perjalanan kelompok-kelompok lintas agama itu. Tarian dolo-dolo, yang digandrungi masyarakat Flotim turut mengundang semua untuk berpartisipasi di halaman depan Gereja Katedral yang ditata cukup sempit itu. Gong dan gendang terus membahana menghipnotis warga Kota Larantuka yang saban hari berpacu mengais rezeki. 

Keinginan semua kelompok yang hadir di Gereja Katedral sebagai undangan kerajaan dalam perayaan lima abad Tuan Ma adalah kebersamaan. Karena Tuan Ma atau Mater Dolorosa adalah ibu yang melindungi anak-anaknya.

Laksana Raja Pertama Larantuka, Constantino Ola Adobala yang dalam sejarahnya adalah raja yang melindungi rakyatnya. Sebagaimana sekelumit cerita raja pertama Larantuka ketika dibaptis. Ketika itu, posisi Larantuka sebagai pusat kegiatan misi Solor setelah VOC menduduki benteng Lohayong. Dan, posisi raja yang nama aslinya Ola Adobala semakin menguat ketika dibaptis dengan nama Constantino pada tahun 1646 yang diikuti seluruh keluarganya. 

Hal ini kemudian dilanjutkan pada tanggal 14 September 1887. Setelah raja pertama meninggal, dilantik beberapa raja lalu raja Don Lorenzo II DVG. Dalam tangan raja inilah tongkat kerajaan diletakkan di altar Perawan Tersuci Maria pada 8 September 1888, karena Maria dipandang sebagai ratu yang sebenarnya di Larantuka. Dari sinilah kerajaan dialihkan ke gereja hingga peringatan yubileum lima abad Tuan Ma yang puncaknya dirayakan hari ini, Kamis (7/10/2010).

Sebagaimana pengumuman yang dikeluarkan Keuskupan Larantuka, Mgr. Fransiskus Kopong Kung, Pr dalam suratnya nomor KL.317/V.1/IX/2010 menyampaikan, kita patut bersyukur kepada Allah Tritunggal Mahakudus atas peristiwa iman yang terjadi di Keuskupan Larantuka. Lima abad yang lalu Maria Tuan Ma melewati wilayah kita. Bunda Maria menapakkan kaki di pantai pulau kita. Sejak saat itu, pintu keselamatan dibuka untuk wilayah kita. Dan bersama Bunda Maria Tuan Ma kita mulai menjalani ziarah kehidupan iman kita. 

Kini patung bersejarah Tuan Ma sudah lima abad usianya. Kita memperingati dan merayakan peristiwa ini secara khusus dalam perayaan meriah sekaligus menjadikan moment ini menjadi moment tobat dan pembaruan,"tulis Uskup Kopong Kung dalam suratnya.

Pada puncaknya nanti, moment pembaruan iman pada perayaan ekaristi lima abad Tuan Ma di Stadion Ile Mandiri akan dilangsungkan penyerahan ulang tongkat kerajaan dan penyerahan kembali Keuskupan Larantuka kepada Bunda Maria.

Hal ini dilakukan oleh homili, Dona Martina Kanena Ximenes da Salva - Diaz Viera de Godinho akan dijemput dengan tarian gong waning menuju pangung. Permaisuri (alm) Don Lorenzo III DVG (raja nua usi) akan mengulang penyerahan tongkat kerajaan Larantuka kepada Bunda Maria sebagaimana dilakukan oleh tiga raja Larantuka sebelumnya.

Dalam sejarahnya, sebagaimana catatan istana raja, pada tahun 1665 raja Don Fransisco Ola Adobala DVG yang didampingi Mgr. Hendrique menyerahkan tongkat kerajaan berkepala emas kepada Bunda Maria. Bunda Maria dinobatkan sebagai ratu yang memerintah Kerajaan Larantuka. Peristiwa inilah yang dipandang sebagai klimaks tonggak perintis iman umat Katolik di Larantuka.

Prosesi panjang yang dilalui dalam sejarah lima abad Tuan Ma adalah bagaimana mempersatukan umat dan itu menjadi bagian dari andil raja dan gereja sebagai pemilik Tana Nagi. 

Ziarah ke Tuan Senhor
Wure adalah sebuah desa kecil yang memiliki nilai historis religi perjalanan iman Katolik di Kabupaten Flores Timur (Flotim). Desa Wure berada di Kecamatan Adonara Barat, Pulau Adonara. Pada abad ke-15, Wure menjadi pusat penyebaran agama oleh bangsa Portugis. 

Bangsa Portugis memperluas wilayah jajahannya sambil melakukan penyebaran agama Katolik di Flores, khususnya di Flotim dari Lohayong, Pulau Solor, Larantuka hingga Wure, Pulau Adonara.

Portugis yang awalnya menjajah Malaka melakukan eksodus besar-besaran ke Indonesia bagian timur dan menyinggahi Pulau Solor di Lohayong. Mereka membawa semua ornament milik mereka, termasuk patung-patung yang bernilai relegius. 

Di Lohayong tepatnya di Menanga, mereka membangun benteng, namun benteng direbut Belanda. Masyarakat setempat juga tidak menerima mereka. Akhirnya mereka mendarat di Larantuka. 

Di Larantuka mereka mendapat perlakuan yang sama sehingga bangsa Portugis di bawah pimpinan De Abreu kembali berlayar membawa serta semua ornament dan menuju Wure, Pulau Adonara.

Di Wure inilah bangsa Portugis mulai menyebarkan agamanya dan membangun kapela-kapela sebagai tempat penyimpanan ornament termasuk Larantuka setelah Raja Larantuka menerima kembali bangsa Portugis.

Kini Wure, benteng Lohayong dan tempat peninggalan Portugis lainnya menjadi tempat sejarah perjalanan religi di Flotim. Setiap tahun sekitar ribuan peziarah dari dalam dan luar negeri yang masuk ke wilayah Flotim.

Namun, situs-situs religi ini baru menjadi perhatian para rohaniwan dan pihak kerajaan. Pemerintah juga belum serius. Buktinya, Benteng Lohayong hanya tinggal nama. Bahkan, bencana tahun 1982 membuat benteng ini rubuh. Meriam pun hanya menjadi besi tua. Satu meriam yang kelihatan. Sementara lainnya wallahualam sudah ditimbang sebagai besi tua. 

Padahal, pemerintah bisa memugar kembali situs-situs yang ada agar bisa menjadi wisata religi yang dapat meningkatkan pendapatan ekonomi keluarga.

Kamis (7/10/2010) sekitar pukul 08.00 Wita, ratusan peziarah kembali lagi ke Flotim mengikuti perayaan lima abad Tuan Ma. Mereka di antaranya Uskup Pangkal Pinang, Mgr. Hilarius Moa Nurak, SVD, uskup emeritus, Isak Dura, SVD, Dirjen Bimas Katolik, Anton Semara Dura, Kakanwil Depag Propinsi NTT, para pastor, suster serta tamu VIP lainnya. Ikut serta Ketua DPRD, Marius Payong Pati dan Wakil Ketua, Theodorus M. Wungubelen. Sementara tamu lainnya ada yang sudah berziarah.

Tamu-tamu yang hadir, antara lain Dubes Portugal dan istri, Gubernur NTT, Frans Lebu Raya bersama para muspida, Ketua KWI, Mgr. Martinus Dogma Situmorang, OFM.Cap, Uskup Maumere, Mgr. G. Kherubim Parera, Uskup Emeritus, Mgr. Anton Pain Ratu, SVD, Uskup Weetabula, Mgr. Edmund Woga, CSsR, Uskup Agung Samarinda, Mgr. Florentinus Suli, MSF dan sekretarisnya, Uskup Tanjung Selor, Mgr. Y. Harjosusanto, MSF, Uskup Denpasar, Mgr. Silvester San, Pr, Uskup Ruteng, Mgr. Hubert Leteng, Pr, Vikjen Keuskupan Tanjung Karang, RD. Piet Yoenato Sukowiluyo, Pr, utusan Keuskupan T.Karang, P. Marius Lami, CP, Uskup Bogor, Mgr. Michael Cosmas Angkur, OFM, Uskup Manokwari, Mgr. Hilarion Datus Lega, Pr, Uskup Emeritus Mgr. Issak A. Dura, para mantan Gubernur NTT, di antaranya Herman Musakabe, Arswendo Atmowiloto, Yopi Latul dan para tamu lainnya.

Di Wure para peziarah berdoa. Di bawah Patung Tuan Senhor (Tuan Berdiri) mereka bersujud. Selain itu, mereka juga bersujud di bawah kerangka jenazah Yesus dan ornament-ornament kudus peninggalan Portugal lainnya. 

Ketekunan dan kekuatan doa yang dilantunkan menunjukkan betapa besar pengharapan dan cinta kasih yang dimiliki masyarakat dan para peziarah. Peristiwa ini pada hakekatnya adalah merayakan penemuan patung Tuan Ma pada 1510 di Pantai Larantuka.

Perayaan lima abad Tuan Ma yang monumental ini hendaknya memiliki makna yang mendalam bagi umat Katolik Keuskupan Larantuka dan sekitarnya. Peristiwa ini tidak seperti kita merayakan hari ulang tahun kelahiran kita.

Perayaan lima abad Tuan Ma merupakan moment syukur karena Tuan Ma merupakan benih iman pertama di wilayah Larantuka, perayaan lima abad Tuan Ma mestinya menjadi momentum pembaruan iman dalam ziarah bersama Bunda Maria. Patung Tuan Ma diyakini oleh masyarakat Larantuka sebagai tonggak penyebaran agama Katolik.

Dalam sepatah katanya di Wure, Uskup Samarinda mengatakan, "Saya sangat terkesan dengan keimanan masyarakat Wure. Begitu kuat imannya sehingga ornament religi menjadi pemersatu masyarakat di daerah ini.

"Saya baru pertama kali ke daerah ini dan ini cukup berkesan. Ini menjadi tempat ziarah yang sangat bagus. Kalau saya dekat dengan tempat ini, setiap hari saya ke sini. Apalagi daerah ini sangat subur, banyak buah dan sayur-sayuran," ungkap uskup diikuti tepuk tangan peziarah.

Tepuk tangan para peziarah juga warga setempat seakan-akan menghilangkan penat dan rasa haus selama perjalanan melewati lautan dan daratan dengan jalan yang masih berbatu.

Uskup emeritus Isak Dura mengatakan, ini perjalanan wisata yang cukup menggembirakan. "Dengan melihat ornament yang ada, saya yakin iman masyarakat di Wure sangat kuat. Apalagi, daerah ini sangat subur,"katanya sembari mengucapkan terima kasih atas suguhan kelapa muda segar oleh masyarakat setempat walaupun mereka kecewa dengan panitia Perayaan Lima Abad Tuan Ma yang tidak mengundang mereka untuk terlibat dalam prosesi religi tersebut.

Dirjen Bimas Katolik, Anton Semara Dura mengatakan, dirinya walaupun putra daerah, baru pertama kali ke Wure melihat ornament religi. "Ini sejarah religi yang hebat,"katanya.
Atas segala pujian itu, Lurah Wure, Yoseph L. Fernandez merasa bangga."Kami masyarakat di daerah ini sangat bangga dikunjungi para uskup, pastor dan peziarah lainnya. Ajaklah warga dunia datang ke tempat kami untuk melihat ornament religi yagn suci," ajak Yoseph. (Syarifah Sifah)

Sumber: Pos Kupang, 5-7 Oktober 2010 halaman 1


Jadwal Perayaan:

Rabu 6 Oktober 2010:
08.00: Penataan panggung dan tenda perayaan
10.00: Utusan umat dari masing-masing paroki tiba di Larantuka dengan membawa hantaran bagian dan berkumpul di halaman depan Gereja Katedral
17.00: Rombongan para Uskup dan tamu Negara tiba di Larantuka dan diterima di tempat penginapan
18.00: Salve agung di Gereja Katedral Reinha Rosari Larantuka
19.00: Pegelaran Napak Tilas Tuan Ma dan Malam Seni Budaya

Kamis 07 Oktober 2010:
08.00: Para uskup dan tamu VIP mengunjungi benteng Lohayong dan Wureh
09.00: Pentakhtaan Patung Tuan Ma
15.00: Pintu Kapela Tuan Ma ditutup sementara untuk kepentingan perayaan misa. Prosesi mengantar patung Bunda Maria ke Gereja Katedral dan menuju stadion Ile Mandiri
16.00: Perayaan Misa Agung
19.00: Prosesi menghantar kembali Patung Bunda Maria Reinha ke Gereja Katedral
19.30: Acara Resepsi

Jumat 8 Oktober 2010:
Sepanjang hari umat diberi kesempatan untuk melakukan ziarah dan cium Tuan di Kapela Tuan Ma

Sabtu 9 Oktober 2010:
10.00: Pintu Kapela Tuan Ma ditutup. 

Hayati Kerendahan Hati Tuan Ma

Peringatan 500 tahun Tuan Ma
LARANTUKA, PK -- Gubernur NTT, Drs. Frans Lebu Raya mengatakan, perayaan lima abad Tuan Ma di Kota Larantuka kiranya memurnikan kembali hati rakyat dan umat Katolik di daerah ini dari sekat-sekat perbedaan pandangan dan pilihan yang pernah dan mungkin masih ada.

Tatapan tulus Tuan Ma sebagai ibu yang mengayomi kiranya dapat memadamkan api amarah dan dendam di antara rakyat dan umat daerah ini yang mungkin belum padam. Karena itu, umat di daerah ini dapat menghayati kerendahan hati Bunda Maria dalam hidup bersama sebagai saudara.

"Senyuman kudus Bunda Maria kiranya memulihkan kembali hubungan manis yang dulu pernah ada di antara kita semua. Masih banyak teladan yang bisa direfleksikan dari 500 abad Tuan Ma di Kota Reinha. Namun yang utama adalah kita mengubah diri kita masing-masing. Kita berusaha menjadi manusia-manusia baru yang dipulihkan oleh doa dan air mata Bunda Maria yang berdukacita. Marilah kita berubah karena hanya kita yang dapat melakukannya," ajak Frans Lebu Raya pada perayaan puncak lima abad Tuan Ma (Bunda Maria) di Stadion Ile Mandiri-Larantuka, Kamis (7/10/2010) malam.


Hadir pada acara itu, Duta Besar Portugal, Dirjen Bimas Katolik, pimpinan dan anggota DPRD NTT, para uskup se- Indonesia, Penjabat Bupati Flotim, Drs. H. Muhammad S. Wongso, para imam, suster, biarawan/wati, jajaran Muspida Kabupaten Flotim dan ribuan masyarakat Flotim.


Puncak perayaan itu diawali dengan prosesi menghantar kembali patung Bunda Maria Reinha Rosari ke Gereja Katedral yang diikuti para uskup dan imam setelah misa agung di Stadion Ile Mandiri.

Pada malam puncak tersebut, selain Gubernur NTT, Ketua KWI, Mgr. Martinus Dogma Situmorang, Uskup Larantuka, Mgr. Fransiskus Kopong Kung, Pr, wakil umat dan panitia juga memberikan kata sambutan.

Selain acara makan bersama, panitia juga menyelingi acara itu dengan koor dan nyanyian-nyanyian, baik dari Flotim maupun Jakarta. Bahkan, Yopi Latul malam itu menyumbangkan sejumlah tembang emas miliknya.

Lebu Raya lebih lanjut mengatakan, peristiwa karamnya kapal dagang Pedro Gonzales dari Portugis saat melintasi selat Larantuka tahun 1510 lalu seolah-olah terbayang kembali. Demikian juga dengan kegembiraan para pemuda Kampung Ijo yang menemukan arca yang terdampar di Pantai Ae Konga. Arca yang kemudian ditakhtakan di korke (rumah sembahyang) sebagai dewi karena kekaguman raja.

"Kondisi ini terus berlangsung selama 100 tahun. Sampai tahun 1615, datanglah Pastor Antonio Dominikan di Larantuka dan melihat arca yang bertuliskan "Santa Maria Mater Dolorosa", yang berarti Santa Maria Bunda Berdukacita.

"Pastor Antonio kemudian menjelaskan tentang latar belakang patung itu dan sejak itulah Agama Katolik masuk ke wilayah Larantuka dan arca tak dikenal itu berganti nama menjadi Tuan Ma dan Larantuka menjadi Kota Reinha atau Kota Santa Maria," kisah Lebu Raya.

Larantuka, demikian Lebu Raya, adalah Kota Reinha, Kota Bunda Maria. "500 tahun sudah arca putri ema ada di Larantuka dan menjadi bagian dari keseharian orang Nagi. Dalam kurun waktu 500 tahun, saya yakin benar bahwa figur Tuan Ma telah dikenal dan menjadi bagian dari keseharian warga Kota Larantuka dan orang Lamaholot secara turun-temurun.

Karena itu, ajak Lebu Raya, orang Nagi Lamaholot agar dapat menghayati kerendahan hati Bunda Maria dalam hidup bersama sebagai saudara. 

"Mengapa hal ini saya sampaikan pada momentum suci ini karena pada titik tertentu kadang anak-anak Lewo Tanah yang hidupnya diilhami teladan Bunda Maria didominasi sikap keras kepala dan kesombongan diri sebagai halnya bangsa Israel dalam pengembaraan antara Mesir menuju Kanaan. (iva)

Pos Kupang, 9 Oktober 2010 halaman 1

Lima Abad Tuan Ma

PERAYAAN lima abad Tuan Ma (Bunda Maria) di Larantuka, Flores Timur, puncaknya hari ini, Kamis, 7 Oktober 2010. Setelah ziarah cium Tuan Ma, sore harinya dilanjutkan dengan perayaan misa agung. Beberapa hari sebelumnya, umat Katolik melaksanakan triduum, prosesi Bunda Maria dan salve di gereja Katedral Larantuka, serta pagelaran napak tilas Tuan Ma.

Dapat dipastikan, rangkaian ritual ini dihadiri ribuan umat Katolik. Tentu, bukan saja berasal dari Larantuka dan daerah sekitarnya, tetapi juga propinsi lain, bahkan dari negara lain. Kehadiran mereka untuk berdoa. Ketekunan dan kekuatan doa yang dilantunkan menunjukkan betapa besar pengharapan dan cinta kasih yang dimiliki masyarakat dan para peziarah.


Peristiwa ini pada hakekatnya adalah merayakan penemuan patung Tuan Ma, pada 1510 di Pantai Larantuka. Konon, saat itu seorang anak laki-laki bernama Resiona menemukan patung berwujud perempuan saat mencari siput di Pantai Larantuka. 

Dari literatur, diketahui diduga patung itu terdampar saat kapal Portugis atau Spanyol karam di Larantuka.
Kendati waktu itu masyarakat belum mengenal patung, kepala Kampung Lewonama, Larantuka, memerintahkan agar patung disimpan di korke atau rumah adat. Patung kemudian dihormati sebagai benda keramat. Penduduk memberi sesaji setiap perayaan panen. 

Ketika padri (pastor) dari Ordo Dominikan datang lalu menyampaikan bahwa patung tersebut adalah Reinha Rosari yang dikenal juga sebagai patung Mater Dolorosa atau Bunda Kedukaan atau Mater Misericordia.

Semenjak penemuan patung Tuan Ma, masyarakat Larantuka yang mayoritas Katolik melakukan devosi kepada Tuan Ma setiap bulan Februari sebagai syukur atas hasil panen dan tangkapan dari laut. Devosi merupakan kegiatan di luar liturgi gereja, praktik-praktik rohani yang merupakan ekspresi konkret keinginan melayani dan menyembah Tuhan melalui obyek-obyek tertentu. Proses inkulturasi pun terjadi antara kepercayaan masyarakat lokal dan ajaran gereja.

Perayaan lima abad Tuan Ma yang monumental ini hendaknya memiliki makna yang mendalam bagi umat Katolik Larantuka dan sekitarnya. Peristiwa ini tidak seperti kita merayakan hari ulang tahun kelahiran, yang lebih diwarnai dengan pesta hura-hura.

Perayaan lima abad Tuan Ma merupakan momen syukur karena Tuan Ma merupakan benih iman pertama di wilayah Larantuka, perayaan lima abad Tuan Ma mestinya menjadi momentum pembaruan iman dalam ziarah bersama Bunda Maria. Patung Tuan Ma diyakini oleh masyarakat Larantuka sebagai tonggak penyebaran agama Katolik.

Selain itu, umat harus menyadari bahwa perayaan lima abad Tuan Ma sebagai momentum pembaharuan iman dan pertobatan masyarakat Larantuka. 
Iya, semua kita mesti bertobat. Orangtua perlu bertobat dan memberikan contoh hidup yang baik bagi anak-anak. Anak-anak juga perlu membaharui diri dengan menjaga nilai-nilai kristiani. 

Pejabat pemerintah juga perlu semakin sadar akan tugasnya untuk melayani rakyat, bukan untuk mengeksploitir rakyat demi keuntungan pribadi. Kebijakan dan program harus dibuat pro rakyat, bukan sebaliknya. Aparat penegak hukum, polisi, jaksa dan hakim harus bekerja sungguh-sungguh menegakkan keadilan yang selama ini dirasakan sudah semakin langka. 

Keadilan bisa dibeli dengan uang. Perilaku koruptif harus dihilangkan sehingga kesejahteraan rakyat dapat terwujud. Tokoh agama juga tidak saja pandai berkotbah dari mimbar tetapi harus menunjukkan sikap yang mencerminkan panggilan hidupnya. Sudah saatnya tokoh agama "turun gunung" untuk membantu umat keluar dari kubangan kemiskinan yang senantiasa melilit. Singkatnya, dibutuhkan pembaharuan total, sehingga makna perayaan lima abad Tuan Ma tetap kuat dihayati.

Sekali lagi perlu ditegaskan bahwa, lima abad Tuan Ma harus menjadi momentum pembaharuan, kesempatan bertobat dan memperbaiki diri. Selama ini, devosi kepada Tuan Ma atau Bunda Maria menjadi sentral hidup keluarga dan masyarakat Larantuka. Oleh karena itu kehidupan devosional yang kental hendaknya berdampak pada perubahan sikap dan perilaku hidup yang lebih kristiani dalam kehidupan sehari-hari. Jadi, tidak hanya devosi kepada Bunda Maria, tetapi keutamaan Bunda Maria hendaknya menginspirasi, memotivasi, terintegrasi dalam seluruh realitas pergumulan hidup. *

Pos Kupang, 7 Oktober 2010

Misteri Danau Tri Warna Kelimutu

Fenomena perubahan-perubahan warna air di tiga kawah Kelimutu di Kabupaten Ende, Pulau Flores, Nusa Tenggara Timur, sudah sejak lama menimbulkan kekaguman.

Kawah di gunung itu antara lain, Tiwu Ata Polo sering menunjukkan warna merah darah, Kawah Tiwu Nua Muri Koo Fai berwarna hijau zamrud, dan Kawah Tiwu Ata Bupu berwarna putih.

Karena itu, Kelimutu juga sering disebut Danau Triwarna. Namun, sesekali warna ketiganya bisa pula menjadi seragam. Mau Lihat silakan klik di sini.

Jumlah Penduduk NTT 4,7 Juta

KUPANG, POS KUPANG.Com --- Badan Pusat Statistik (BPS) Propinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) memprediksi jumlah penduduk NTT mengalami peningkatan. Sebelumnya tahun 2009, total penduduk NTT sebanyak 4,6 juta, namun sesuai hasil sensus penduduk 2010 naik menjadi 4,7 juta lebih.

Hal ini disampaikan Kepala BPS Propinsi NTT, Ir. Poltak Sutrisno Siahaan, ketika ditemui Pos Kupang di ruang kerjanya, Rabu (23/6/2010). Poltak menjelaskan, jumlah penduduk NTT sesuai data BPS tahun 2009 sebanyak 4,6 juta jiwa. Dan setelah dilakukan Sensus Penduduk (SP) 2010 yang dimulai 1 hingga 31 Mei 2010 lalu, diprediksi jumlah itu meningkat atau bertambah sekitar 100.000 lebih jiwa penduduk.

"Memang ada penambahan penduduk setelah sensus. Namun angka pastinya belum kita tahu, karena saat ini petugas BPS NTT masih lakukan 'konsistensi terhadap data dari 21 kabupaten/kota di NTT. Kita akan umumkan hasil sensus sesuai jadwal nasional," kata Poltak.

Dikatakannya, sesuai jadwal nasional, sensus penduduk baru diumumkan pada bulan Agustus 2010 mendatang, setelah pidato Presiden RI pada 16 Agustus 2010. Sementara NTT pada 17 Agustus 2010. Data yang akan diumumkan hanya berupa data jumlah penduduk NTT berdasarkan jenis kelamin. "Setiap tahun tentu ada peningkatan. Meski begitu, penduduk di NTT banyak yang ke luar daerah, terutama perempuan sebagai tenaga kerja dan sebagian sekolah dan mencari pekerjaan di luar daerah yang kemungkinan tidak terdata pada sensus penduduk 2010," katanya.

BPS NTT saat ini, lanjutnya, sedang dalam proses konsistensi dan pengecekan data yang sudah masuk, terutama jumlah penduduk berdasarkan jenis kelamin, agar semua data dipastikan akurat.

Menurut dia, BPS sejak 1 hingga 15 Juni membuka kesempatan bagi masyarakat yang ingin mengadu, karena mungkin belum terdata atau terlewati saat pendataan berlangsung. "Kita berterima kasih kepada seluruh masyarakat NTT yang sudah mendukung atau berpartisipasi menyukseskan sensus penduduk 2010," ujarnya. (yel)

Kota Kupang Naik 13 Persen

SEMENTARA itu, jumlah penduduk di Kota Kupang mengalami peningkatan 13 persen. Sebelumnya, berdasarkan data tahun 2009 jumlah penduduk Kota Kupang 291.474 jiwa, dan setelah sensus 2010 diprediksi naik 13 persen.

"Data terakhir di Kota Kupang terdapat 291.474 jiwa, dan hasil sensus naik menjadi 335.000 lebih. Ini karena Kota Kupang sebagai Ibu kota Propinsi NTT, juga sebagai kota perdagangan, pusat pemerintahan, pusat pendidikan dan lain sebagainya.

Faktor-faktor ini mempengaruhi pertumbuhan penduduk yang urbanisasi ke Kota Kupang untuk bekerja, sekolah dan lain- lain," jelas Kepala BPS Kota Kupang, Ir. Adi Manafe, M.Si.
Dikatakannya, sesuai data sensus yang ada, jumlah penduduk Kota Kupang pasti meningkat tajam akibat adanya urbanisasi penduduk. (yel)

Pos Kupang 24 Juni 2010 halaman 3

Buta Aksara di NTT 420 Ribu Orang

Kupang, POS KUPANG.Com - Angka buta aksara di Nusa Tenggara Timur (NTT) hingga 2009 mencapai 420 ribu dari 4,6 juta jiwa penduduk NTT saat ini. "Meningkatnya jumlah buta aksara di NTT disoroti Komisi D DPRD NTT, karena pelaksanaan program pendidikan luar sekolah itu belum maksimal," kata Ketua Komisi D DPRD NTT Hendrik Rawambaku di Kupang, Sabtu (28/11/2009).

Menurut Rawambaku, dalam rapat komisi bersama mitra eksekutif, Dinas Pendidikan Pemuda dan Olah Raga (PPO) mendapat perhatian serius DPRD NTT, karena sub-sektor ini ikut memberi andil terhadap suksesnya program pendidikan terkait dengan bebas buta aksara yang telah dicanangkan bersama.

"Komisi D belum mengetahui persis duduk persoalannya ada di mana, sehingga jumlah buta aksara di NTT masih tinggi, sementara anggarannya cukup tersedia terutama dari pemerintah pusat untuk pemberantasan buta aksara," katanya.

Rawambaku mengatakan, apakah karena program yang dicanangkan tidak sesuai dengan yang diinginkan peserta pendidikan dan pelatihan ataukah ada sebab lain, katanya. Misalnya, program yang dilaksanakan lebih mengutamakan praktek ketimbang teori, sehingga selesai program praktek itu, jumlah peserta buta aksara bukan berkurang, tetapi justru tetap seperti semula.

Sekretaris Dinas PPO NTT, Klemens Meba ketika dihubungi secara terpisah mengatakan, jumlah buta aksara yang masih tergolong tinggi di NTT antara lain disebabkan berubahnya kriteria usia buta aksara. "Sebelumnya hanya usia 15-44 tahun. Namun, saat ini tidak ada batasan usia lagi sehingga jumlahnya meningkat," katanya.

Artinya meningkatnya jumlah buta aksara di NTT salah satu faktor penyebabnya kebijakan yang membolehkan semua golongan usia penduduk yang ada menjadi peserta buta aksara, sehingga jumlahnya membengkak menembus angka 420 ribu. "Tidak mudah menurunkan atau menuntaskan angka buta aksara menjadi lima persen atau tuntas pada tahun 2009," katanya.

Karena itu, lanjutnya, sasaran penuntasan buta aksara tidak lagi hanya terbatas pada usia 15-44 tahun tetapi termasuk mereka diatas 44 tahun. "Kami sangat menyadari bahwa menurunkan angka buta aksara menjadi lima persen atau tuntas pada 2009 sesuai amanat Inpres Nomor: 5 Tahun 2006 bukan perkara mudah," katanya.

Menurut dia, jika pada tahun-tahun mendatang, kondisi anggaran sudah memadai baik bersumber dari APBN, APBD provinsi dan kabupaten/kota, dan ditunjang dengan partisipasi semua pihak seperti lembaga keagamaan, maka tahun 2010 sisa buta aksara tidak hanya lima persen tetapi langsung tuntas. (ant)

Sumber: Pos Kupang

5,9 Juta Ha Laut di NTT Dikonservasi

Kupang, POS KUPANG.Com - Kawasan laut seluas 5,9 juta hektare yang berada di 11 kabupaten/kota di Nusa Tenggara Timur (NTT) dikonservasi.

"Luas laut yang dikonservasi 5,9 juta hektare yang tersebar di 11 kabupaten/kota tergabung dalam cadangan konservasi Laut Sawu," kata Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Propinsi NTT, Ansgerius Takalapeta di Kupang, Kamis (19/11/2009).

Sebanyak 11 kabupaten yang memiliki wilayah perairan untuk cadangan konservasi tersebut adalah Manggarai Barat, Manggarai, Sumba Barat, Sumba Barat Daya, Sumba Tengah, Sumba Timur, Kota Kupang, Kabupaten Kupang, Rote Ndao, Sabu Raijua dan Timor Tengah Selatan (TTS).

Tujuan dilakukan konservasi, katanya, untuk melindungi ribuan tumbuhan air, ikan, karang, dan mamalia di kawasan itu terhadap ancaman bom dan sianida yang digunakan nelayan lokal dan asing. Konservasi Laut Sawu, katanya, dibagi dalam dua zona, yakni zona perairan Laut Sawu seluas 3,5 juta hektare, terdiri atas perairan Sumba dan sekitarnya seluas 567.165,64 hektare.

Kedua, zona Timor, Rote, Sabu (Tirosa) dan Pulau Batek yang meliputi, perairan Sabu, Rote, Timor dan Batek seluas 2.953.964,37 hektare. Selain itu, Kabupaten Alor pada Maret 2009 telah menetapkan kawasan konservasi daerah Alor seluas 400.000 hektare. "Jadi total laut yang akan dikonservasi di NTT seluas 5,9 juta hektare," katanya.

Pencadangan kawasan konservasi Laut Sawu tersebut, jelasnya, berdasarkan surat keputusan (SK) Menteri Kelautan dan Perikanan No.Kep.38/MEN/2009 yang dideklarasikan pada 13 Mei 2009. Laut Sawu ditetapkan sebagai kawasan konservasi, karena berada di segi tiga emas tarumbu karang dunia, bersama enam negara lainnya, dan alas segi tiga terumbu karang tersebut berada di Laut Sawu.

"Kawasan konservasi tersebut akan ditingkatkan menjadi taman nasional atau "Sawu sea projeck pada waktu yang akan datang," katanya. Dengan dilakukan konservasi ini, katanya, diharapkan juga agar pemanasan global yang menyebabkan arus dingin tidak merusak terumbu karang yang berada di dasar laut. "Laut Sawu sering terjadi arus dingin. Kami berharap dengan konservasi ini, maka tarumbu karang yang ada masih dapat bertahan," katanya.

Walaupun 5,9 juta hektare laut di NT dikonservasi, namun aktivitas ekonomi masyarakat dan pariwisata di perairan tersebut tetap berjalan. Pemerintah pusat pada 2009-2010 telah mencangkan konservasi laut seluas 10 juta hektar. Dan, NTT telah menyumbang seluas 5,9 juta hektare konservasi laut nasional. (ant)

Sumber: Pos Kupang

Mengenang Bencana Larantuka dan Lembata

Mengingat Kembali Bencana Larantuka dan Lembata 1979-2009

(The Forgotten Disasters? Remembering The Larantuka and Lembata Disaster 1979-2009)
By Jonatan Lassa

KLIK DI
SINI

Baca Mutiara Flobamora di SINI

Baca Mutiara Flobamora di SINI. Lengkap!!!


Silakan KLIK

Mau Tahu Musik di Flores?

Anda ingin tahu musik di Flores?


Klik SAJA

Tentang Lamaholot

Artikel Menarik Tentang Lamaholot


Klik DI SINI dan DI SANA

Kisah Wato Wele-Lia Nurat

Kisah Wato Wele-Lia Nurat dalam tradisi puisi lisan Flores Timur

By Yoseph Yapi Taum, Achadiati Ikram

Selengkapnya DI SINI

NTT dan Pulau-Pulaunya


Kabupaten Alor
  1. Pulau Alor
  2. Pulau Pantar
  3. Pulau Pura
  4. Pulau Retta
  5. Pulau Buaya
  6. Pulau Nuhabeng
  7. Pulau Ternate
  8. Pulau Treweng
  9. Pulau Batang
  10. Pulau Lapang
  11. Pulau Marisa
  12. Pulau Rusa
  13. Pulau Kambing

Kabupaten Kupang
  1. Pulau Semau
  2. Pulau Tikus
  3. Pulau Burung
  4. Pulau Tabui
  5. Pulau Kambing
  6. Pulau Kera
  7. Pulau Sabu
  8. Pulau Raijua
  9. Pulau Ndana Sabu
  10. Pulau Batek

Kabupaten Rote
  1. Pulau Rote
  2. Pulau Ndao
  3. Pulau Nuse
  4. Pulau Doo
  5. Pulau Kodi
  6. Pulau Dao
  7. Pulau Ndana
  8. Pulau Landu
  9. Pulau Nusa Manuk
  10. Pulau Helihana
  11. Pulau Bibi
  12. Pulau Lai
  13. Pulau Liu
  14. Pulau Ingguhun



Kabupaten Flores Timur
  1. Pulau Solor
  2. Pulau Adonara
  3. Pulau Konga
  4. Pulau Suanggi
  5. Pulau Besar
  6. Pulau Kambing

Kabupaten Sikka
  1. Pulau Palue
  2. Pulau Babi
  3. Pulau Pangabatan
  4. Pulau Damhila
  5. Pulau Permaan
  6. Pulau Besar
  7. Pulau Pemana Besar
  8. Pulau Pemana Kecil


Kabupaten Ende
  1. Pulau Ende
  2. Pulau Sanga
  3. Pulau Koa

Kabupaten Ngada
  1. Pulau Mborong
  2. Pulau Dua
  3. Pulau Ontoloe
  4. Pulau Gong
  5. Pulau Lainjawa
  6. Pulau Nelo
  7. Pulau Bobajie
  8. Pulau Pata
  9. Pulau Bakau
  10. Pulau Rutong
  11. Pulau Sui
  12. Pulau Tembang
  13. Pulau Tiga
  14. Pulau Taor
  15. Pulau Tembaga
  16. Pulau Wire
  17. Pulau Batu

Kabupaten Manggarai Barat
  1. Pulau Mules
  2. Pulau Longos
  3. Pulau Komodo
  4. Pulau Gilibodo
  5. Pulau Langka
  6. Pulau Tala
  7. Pulau Logo
  8. Pulau Punya
  9. Pulau Kelor
  10. Pulau Gilibugis
  11. Pulau Gililawa Darat
  12. Pulau Gililawa Laut
  13. Pulau Kecil
  14. Pulau Besar
  15. Pulau Pilar
  16. Pulau Serai
  17. Pulau Kode
  18. Pulau Rinca
  19. Pulau Gilimotang
  20. Pulau Baleh
  21. Pulau Muang
  22. Pulau Nusarohbong
  23. Pulau Wainelu
  24. Pulau Pengah Kecil
  25. Pulau Pengah Besar
  26. Pulau Papagaran Besar
  27. Pulau Papagaran Kecil
  28. Pulau Pungu Besar
  29. Pulau Pungu Kecil
  30. Pulau Mangiatan
  31. Pulau Tatawa
  32. Pulau Siaba Besar
  33. Pulau Sebayur Besar
  34. Pulau Sebayur Kecil
  35. Pulau Suleman
  36. Pulau Kanawa
  37. Pulau Situri
  38. Pulau Bajo
  39. Pulau Kelapa
  40. Pulau Tobolon
  41. Pulau Kukusan
  42. Pulau Seraja Besar
  43. Pulau Seraja kecil
  44. Pulau Sebolan Besar
  45. Pulau Sebolan Kecil
  46. Pulau Bidadari

Kabupaten Sumba Timur
  1. Pulau Haluru
  2. Pulau Koatak
  3. Pulau Mangkudu


Sumber : Data Base dan Informasi DAS di Wilayah BP DAS Benain-Noelmina Propinsi NTT Tahun 2005. Disusun Balai Pengelola DAS Benain-Noelmina kerjasama dengan Pusat Penelitian Lingkungan Hidup dan Sumberdaya Alam Universitas Nusa Cendana, dan berbagai sumber lainnya.

Data lain

1.627 Desa di NTT Belum Tersentuh Listrik

Kupang, POS KUPANG.Com - Sebanyak 1.627 dari 2.577 desa yang tersebar di 62 kecamatan di provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT), hingga September 2009 ini belum tersentuh listrik.

Gubernur NTT Frans Lebu Raya di Kupang, Sabtu (14/11/2009), mengakui masih ada ribuan desa di 62 dari 276 kecamatan di wilayah itu yang belum berlistrik, belum termasuk 20 dari 380 kelurahan.

"Sampai saat ini masih ada 62 kecamatan di NTT belum berlistrik. Untuk tingkat kelurahan ada 20 kelurahan belum berlistrik dan 1.627 dari 2.577 desa juga belum berlistrik," katanya.

Dia mengatakan, pemerintah dan PT PLN (Persero) sedang berjuang keras agar wilayah yang belum tersentuh energi listrik bisa mendapat pelayanan. Menurut dia, salah satu solusi yang terus diupayakan untuk memenuhi kebutuhan listrik masyarakat di daerah ini adalah dengan pemanfaatan potensi energi baru dan terbarukan.

"Potensi energi baru dan terbarukan merupakan terobosan yang sangat tepat untuk mengatasi dan meningkatkan rasio elektrifikasi di NTT. Hal ini sudah sesuai dengan Peraturan Presiden Nomor 5 tahun 2006 yang mengharuskan peran energi baru dan terbarukan dalam bauran energi nasional sebesar 1,4 persen," katanya.

Dia mengatakan, untuk memanfaatkan seluruh potensi energi terbarukan, memang membutuhkan waktu dan biaya yang sangat besar tetapi tidak ada pilihan lain jika NTT ingin menjadi propinsi mandiri energi.

Gubernur mengharapkan pihak PLN mengambil langkah-langkah strategis dengan melakukan upaya diversifikasi energi. Hal ini penting dilakukan untuk mengatasi harga bahan bakar minyak (BBM) yang semakin tinggi yang berdampak pada kenaikan biaya energi pembangkit konvensional, katanya. (ant)


Menata Wajah Kota dari Kelurahan

Oleh Paul Burin

JUDUL ini merupakan intisari dari pernyataan Lurah Lasiana, Laesa Latif, ketika membuka musyawarah rencana pembangunan kelurahan itu hari Sabtu 1 Maret tahun 2008. Intinya, wajah kota ini akan baik bila mulai ditata dari rumah tangga, RT/RW dan kelurahan. 

Rasanya pas dan pantas jika pernyataan ini kita angkat ke ruang publik untuk kita diskusikan bersama. Pernyataan itu pas ketika semua orang menyatakan bahwa perencanaan dan pelaksanaan pembangunan di kota ini masih amburadul. Kota ini masih dinilai sebagai sebuah "kampung besar" meski perlahan mulai mengalami sejumlah kemajuan di tangan Walikota Drs. Daniel Adoe dan Wakil Walikota Kupang, Drs. Daniel Hurek. 


Frase "kampung besar" menggambarkan betapa pembangunan di kota ini mengabaikan aspek perencanaan. Rasanya selaras dengan pernyataan Asisten Bidang Pembangunan Setkot Kupang, Ir. Lay Djaranjoera, M.Si, saat pembahasan RAPBD Kota Kupang Tahun Anggaran 2009 dengan DPRD kota, pekan lalu. Ia mengatakan bahwa kota ini belum punya master plan. 

Pernyataan Lay ini merupakan otokritik terhadap kinerja pemerintahan sekaligus lecutan untuk segera merumuskan master plan kota. Apa yang disampaikan Asisten II ini bukan berarti selama ini tak ada master plan kota. Master plan sudah ada sejak masa kepemimpinan Messakh Amalo sebagai Walikota Administratif Kupang. 

Dasar-dasar pemetaan pembangunan di kota ini sudah ada. Buktinya, beberapa titik di kota ini seperti di Jalan Kartini, Jalan El Tari II sebagai daerah hijau. Itu artinya pemukiman di wilayah ini tak diperkenankan. Namun fakta menunjukkan, meski ada larangan, masyarakat tetap membangun. Kini titik-titik yang disebut sebagai daerah hijau itu telah menjadi pemukiman yang padat. 

Seiring dengan lajunya perkembangan kota, maka tak ada tawaran lain kecuali perlunya penataan ulang, perlu penyesuaian-penyesuaian. Dan, apa yang disampaikan Pak Lay ini patut ditanggapi secara positif. 

Rasanya melitanikan persoalan pembangunan di kota ini tak akan pernah habis. Begitu banyak masalah pembangunan yang dihadapi pemerintahan "Dandan" dan warga kota ini. Ketika suatu persoalan usai, muncul lagi persoalan lain. Karena itu siapa pun pemimpin tak akan menyelesaikan persoalan ini dalam waktu sekejap. Butuh proses, butuh diskusi, buruh komitmen dan konsistensi. 

Karena itu kita ingin memberikan stresing pada beberapa hal positif yang sudah dilakukan pemerintah kota ini. Kita gembira karena di awal kepemimpinan "Dua Dan" ini beberapa ide cemerlang sudah terlaksana, seperti Program Kupang Hijau dan Bersih (Kupang Green and Clean). 

Sejak akhir November hingga awal Desember 2008 ini, pemkot telah menyalurkan 57 ribu anakan mangga harum manis yang didatangkan dari Kabupaten Situbondo, Jawa Timur ke 49 kelurahan di kota ini. Kini tanaman dengan nilai proyek Rp 1.061.531.000,00 ini sudah dibudidayakan di halaman warga kota ini. 

Karena itu, tiga atau empat tahun ke depan kota ini akan berubah wajahnya. Ia bakal menjadi kota mangga, kota hijau, kota sejuk. Sebuah predikat yang lebih elegan ketimbang sebutan Kota Karang. Sebuah predikat baru yang lebih humanis, menunjukkan bahwa warga kota sudah mulai berubah. Kupang bukan yang dulu lagi. Karena itu dalam semangat membangun dari kelurahan ini kita tentu memberi apresiasi yang positif bagi pemerintahan ini.

Kita juga mencatat bahwa tim penggerak PKK Kota Kupang begitu getol dalam memajukan kaum ibu-ibu dan perempuan. Dalam catatan kita, Ketua Tim Penggerak PKK Kota Kupang, Ny. Welmintje Adoe-Benyamin dan Wakil Ketua Tim Penggerak PKK, Ny. Victorya Hurek telah membuat terobosan bagi kaum ibu. 
Berawal dari studi banding di Surabaya, Jawa Timur, Ny. Welmintje dan Ny. Victorya kemudian mengimplementasikan program ini di kota ini. Sampah-sampah yang selama ini tak berharga menjadi sangat berharga. Ia akhirnya bernilai ekonomis setelah "disentuh". 

Sejumlah pelatihan telah dilakukan bahkan PKK menerjunkan timnya ke semua kelurahan. Ini sebuah langkah positif yang patut dipertahankan. Mudah-mudahan ibu-ibu PKK terus mengobarkan spirit ini. Spirit pelayanan dalam hal memberi keterampilan tak hanya "sampah bekas" menjadi bermanfaat namun aspek-aspek lain yang belum tersentuh. 

Ada baiknya ibu-ibu PKK memberikan pelatihan kepada kaum ibu, bila perlu kaum bapak tentang cara mengolah makanan yang sehat. Sungguh dan kita sangat yakin sampai saat ini masih banyak warga yang belum memahami secara benar mengolah makanan yang sehat dan bergizi, terutama bagi balita dan anak-anak. Pikiran ini penting karena ke depan kita ingin membentuk generasi yang cerdas. 

Kita ingin membentuk generasi yang memiliki pikiran dan gagasan untuk mengubah hidupnya. Investasi ini rasanya tak keliru. 

Daniel Taolin, S.E, M.Si, Caleg DPR RI dari Partai Bintang Reformasi pada Diskusi Terbatas Pos Kupang tentang Kesehatan Ibu dan Anak di Redaksi Pos Kupang belum lama ini, mengusulkan agar perlu ada kalkulasi, berapa biaya yang dibutuhkan untuk menginvestasi "pikiran", terutama masa golden age seorang anak yang menurut para ahli dalam dua tahun pertama. Di masa-masa ini, anak perlu diberi perhatian dalam hal gizi dan kandungan protein dalam membantuk sistem kerja otak secara maksimal. Pertanyaan ini tentu sangat mengena pada inti persoalan jika kita menginginkan perubahan sebuah generasi.

Karena itu tak salah jika pemkot bersama PKK mengalokasikan dana untuk itu. Tentu tak semua anak mendapat alokasi dana. Namun perlu kita uji coba terutama bagi orang-orang miskin. Tak salah dan tak rugi. Investasi masa depan sesungguhnya sebuah taruhan tentang harkat dan martabat kita ke depan. 

Kita tentu tak melupakan peran kader-kader posyandu yang sudah banyak bekerja dan mengabdikan sebagian hidupnya untuk sosialisasi ini. Hanya mungkin nilai dananya masih kecil. Dan, faktanya memang demikian. 
Beberapa catatan lain seperti terbentuknya PDAM Kota Kupang, bantuan dana dari Negeri Belanda untuk pengadaan sumur bor, sanitasi dan listrik serta reklamasi pantai adalah hal penting dan urgen yang patut kita realisasikan pada tahun 2009.

Tentu masalah lain, seperti sampah, drainase dan lalu lintas yang amburadul jangan dilupakan. Memang, secara filosofis, memulai sesuatu dari bawah akan memberi kesan lebih kuat, lebih elegan dan lebih mengakar. Sama dengan membangun dari kelurahan atau dari desa. Di sanalah hakikat sebuah kepemimpinan. * 

Jagung, Masa Depan NTT

Oleh Frans Krowin

LAHAN pertanian itu terlihat menghijau. Tanaman pertanian tumbuh subur di atasnya. Ada lombok, kacang hijau, kacang panjang, tomat dan aneka sayur lainnya. Tapi yang dominan adalah jagung. Tanaman itu tumbuh subur. Padahal ketika itu NTT sedang berada pada puncak musim kemarau.

Itu kenyataan yang terlihat di salah satu sisi Oesao, Kecamatan Kupang Timur, Kabupaten Kupang, medio Oktober 2008 lalu. Pemandangan itu terdapat di belakang kediaman Pendeta Daibel Tlonaen, S.Th. Tlonaen memiliki beberapa kelompok tani binaan yang sangat giat membudidayakan tanaman jagung.


Di tempat itu, tanaman jagung terlihat sangat subur bak musim hujan. Sementara di sekeliling lahan itu, aneka rerumputan justeru mati kekeringan karena terpanggang sinar matahari. Ada beberapa ekor sapi yang sedang melahap batang-batang jagung yang disuguhkan seorang petani. Sedangkan ternak sapi milik warga lainnya merumput bebas di padang penggembalaan nan tandus itu.

Cuplikan suasana ini adalah bagian kecil dari kondisi alam daerah ini. Bahwa alam yang tandus itu jika dijamah dengan program yang pro alam, maka alam juga akan memberikan hasil melimpah. Tapi kalau tidak diolah, dibiarkan terlantar, maka alam yang tandus itu tentu akan semakin tandus. Dan, masyarakat pun mendapatkan imbasnya.

Inilah kondisi obyektif alam NTT. Alamnya memang gersang, tapi jika diolah akan memberikan hasil yang maksimal. Mungkin faktor itu jualah yang melecut Pemerintah Propinsi (Pemprop) NTT menjadikan jagung sebagai salah satu komoditi unggulan daerah ini.

Namun, lepas dari motivasi itu, adalah tepat jika pemerintah daerah ini mulai sekarang menggali potensi tersebut. Ini penting karena ada banyak aspek yang mendukung hal tersebut. Pertama, seluruh petani di NTT sudah secara turun-temurun menjadikan jagung sebagai sandaran hidup keluarga. Kalau itu disentuh lagi dengan program pemerintah, maka hasil yang diperoleh pun tentu lebih optimal lagi.

Kedua, topografi daerah ini juga sangat cocok untuk jagung. Jadi jika jagung itu dikembangkan secara terprogram dan terarah oleh pemerintah, maka masyarakat juga tergenjot untuk sungguh-sungguh membudidayakan tanaman itu. Hasil yang didapat pun pasti akan lebih banyak. 

Selain produktivitas jagung meningkat, ketahanan pangan masyarakat juga tentu lebih baik. Konsekuensinya, keluhan masyarakat soal kekurangan pangan setidaknya dapat diminimalisir. Kasus gizi buruk dan busung lapar pun perlahan- lahan dapat diatasi. 

Pada diskusi bertemakan Membangun Lokaekonomi NTT di Redaksi Pos Kupang, 18 Juni 2008 lalu, salah seorang pembicara, Dr. Fred Benu, menyebutkan NTT memiliki banyak potensi. Ada jambu mete, ikan, rumput laut, jagung dan padi, serta potensi alam lainnya. Namun potensi-potensi itu belum memberikan hasil maksimal.

NTT, kata Benu, adalah daerah agraris dengan lahan pertanian yang amat sangat luas. Areal tanam untuk jagung, misalnya, jauh lebih luas dari lahan untuk tanaman lainnya. Bahkan dibanding Propinsi Gorontalo yang kini terkenal sebagai sentra jagung di Indonesia Timur, NTT jauh lebih potensial. "Kondisi alam Gorontalo tak jauh beda dengan NTT. Iklimnya panas dan kering. Tapi di sana, pemerintahnya bekerja fokus. Pemerintah punya komitmen sangat kuat untuk mengembangkan jagung sebagai komoditi unggulan. Maka jadinya hanya seketika Gorontalo menjadi terkenal. Ekonomi masyarakatnya juga membaik," ujar Benu memberi contoh.

Lantas NTT? Kita tak bisa memungkiri kenyataan bahwa lahan jagungnya luas, kondisi alam pun memungkinkan untuk pengembangannya. Namun fakta justeru memperlihat keadaan yang kontraproduktif. Lahan yang ada itu belum digarap maksimal oleh masyarakat. Pemerintah juga belum mengoptimalkan potensi tersebut. 

Tanaman jagung sepertinya tidak mendapat tempat di hati pemerintah. Padahal tanaman itu menjadi sandaran utama ekonomi masyarakat yang umumnya berdomisili di desa-desa. Ini terjadi karena pemerintah dan masyarakat belum berjalan bersama-sama. 

Masyarakat selalu dibiarkan bekerja sendiri, menanam jagung hanya di saat musim hujan. Sementara intervensi pemerintah juga sangat terbatas kalau tidak disebut sangat minim. Optimalisasi luas lahan dengan sentuhan teknologi tepat guna juga hampir tidak ada. Akibatnya, budidaya jagung terbatas, panenan pun terbatas. Ujung-ujungnya, ketersediaan jagung sebagai salah satu stok pangan juga terbatas. Karena itu tatkala stok menipis, masyarakat pun serta merta mengeluhkan krisis pangan.

Dengan demikian, yang perlu dilakukan ke depan adalah pemerintah harus mempunyai program unggulan yang jelas dan terarah. Program primadona tersebut harus diselaraskan dengan alam NTT yang agraris ini. Bila program dibuat secara matang, diaplikasikan juga secara optimal, maka hasil yang diperoleh pun akan mudah diprediksi.

Data yang diperoleh Pos Kupang dari Dinas Pertanian Tanaman Pangan dan Hortikultura NTT menyebutkan, luas tanaman jagung di NTT 244.768 hektar. Luas panen 232.529 hektar dengan produksi 588.152 ton. Itu berarti, setiap satu hektar tanaman jagung, hanya menghasilkan dua ton lebih. Jika produksi jagung hanya seperti itu, sementara tingkat konsumsi relatif tinggi, maka wajar kalau masyarakat mudah sekali mengeluhkan krisis pangan.

Berangkat dari fenomena ini, maka sangat tepat jika kita sepakat dengan Gubernur Drs. Frans Lebu Raya dan Wakil Gubernur, Ir. Esthon Foenay, M.Si agar tahun-tahun mendatang mengonsentrasikan perhatian pada pengembangan jagung tanpa memalingkan program dari potensi unggulan lainnya.
Jagung perlu mendapat tempat strategis, karena selain berhubungan langsung dengan penguatan ekonomi rakyat, usia produksi jagung itu pun pendek. Hanya tiga bulan saja, tanaman itu sudah bisa dipanen. Jadi, kalau jagung dibudidayakan sepanjang tahun alias tanpa kenal musim, maka hasil yang diperoleh pun pasti lebih baik pula. Pendapatan petani pun otomatis bertambah.

Karena itu, mulai saat ini pemerintah hendaknya menjadikan jagung sebagai tanaman masa depan NTT. Pertimbangannya, selain tanaman itu telah menyatu dengan masyarakat, budidayanya juga tidak sulit. Karena itu, ketika pemerintah memberikan perhatian lebih, masyarakat juga pasti tergerak untuk usaha itu. Tinggal sekarang bagaimana pemerintah menyediakan fasilitas pendukung lainnya.

Kita berharap rencana pemerintah menjadikan jagung sebagai salah satu komoditi unggulan NTT itu tidak sekadar lip service dari duet kedua pemimpin ini. Pemerintah harus benar-benar mewujudkannya, sehingga harapan masyarakat yang menantikan wujud dari Program 'Anggur Merah' itu bisa terjawab. (*)

Sehati Sesuara Bangun Olahraga NTT

Oleh Sipri Seko

TANTANGAN terbesar bagi dunia olahraga NTT di awal tahun 2008 adalah persiapan menghadapi PON XVII 2008 di Kalimantan Timur. Prestasi delapan medali emas, empat perak dan empat perunggu yang direbut pada PON XVI 2004 lalu di Sumatera Selatan menjadi beban yang harus dihadapi.

Tak heran kalau kemudian para pelatih seperti George Hadjoh (kempo), Yusuf Naragale (tinju) dan Agus Petrusz (taekwondo) menginginkan agar pemusatan latihan dipercepat. Namun, ketiadaan dana di mana pada saat yang bersamaan NTT juga sedang melakukan pemilihan kepala daerah, membuat KONI Propinsi NTT tidak bisa berbuat banyak. Persiapan bermodalkan semangat, disiplin dan tekad untuk mengharumkan nama NTT di pentas olahraga nasional diakhiri dengan merebut tiga medali emas, empat perak dan enam perunggu.


Kalau ukurannya adalah prestasi PON XVI 2004, maka prestasi PON XVII 2008 ini jelas menurun. Tapi kalau ukurannya adalah persiapan dan kualifikasi atlet peserta, prestasi kali ini tetap disebut cukup membanggakan. Alasannya, lima perebut medali NTT pada PON XVI 2004, Oliva Sadi, Ferry Subnafeu, Kamilus Lero, Mansyur Yunus dan Yules Pulu, pindah ke Kalimantan Timur. Dua lainnya, Hermensen Ballo dan Morits Saubaki tidak ikut. Ketidakhadiran atlet-atlet unggulan ini tidak membuat nyali anak-anak NTT ciut. Dengan semangat dan disiplin tinggi, atlet-atlet NTT yang rata-rata berusia di bawah 23 tahun bisa membawa pulang prestasi.


Prestasi di PON XVII diikuti atlet-atlet NTT yang berlaga di Pekan Olahraga Cacat Nasional (Porcanas) XIII 2008. NTT meraup tiga medali emas, satu perak dan satu perunggu. Simplisius Padji Abe tampil spektakuler dengan merebut tiga medali emas. Medali perak oleh Maria Kolloh dan perunggu direbut Tanty Yosefa.

Dari perjalanan olahraga NTT di tahun 2008, ada beberapa catatan prestasi tingkat nasional dan dunia yang berhasil diraih. Dari cabang tinju, NTT tampil spektakuler dengan merebut empat medali emas dalam Kejurnas STE di Denpasar-Bali lewat Yanto Fallo, Deni Hitarihun, Atris Neolaka dan Abniel Daniel. Selain itu, atlet-atlet PPLP NTT juga meraih hasil membanggakan di kejurnas antar-PPLPdi Manado. Dan, yang terakhir adalah dikirimnya Atris Neolaka dan Robinson Djo ke kejuaraan dunia di China.

Dari cabang atletik, Afriana Paijo merebut dua medali perak pada kejuaraan atletik pelajar Asia Tenggara (Asean School Championship) ke-23 di Danang, Vietnam. Selain itu, Mery Paidjo menempati peringkat kedua dalam Hongkong Marathon 2008 bersama Niko Silla. Dari cabang Taekwondo, Dudy merebut medali emas dan Jasson Hornay medali perungu di kejuaraan dunia Korea Open 2008. 

Dari kempo, Kabupaten Kupang mencatat hasil spektakuler dengan menjadi juara umum kejurnas kempo antar-kota di Jakarta bulan November lalu. Binaraga juga tidak ketinggalan menorehkan prestasinya, ketika atlet Belu, James Abanit merebut medali perunggu dalam kejuaraan Ade Rai Siswa Raga dan Body Fitnes 2008 di Balai Sarbini, Jakarta, Agustus lalu.
Federasi Karate Tradisional Indonesia (FKTI) NTT juga meraih juara umum Menpora Cup II 2008 di Wonogiri-Jawa Tengah. FKTI NTT merebut 16 medali emas, tujuh perak dan tujuh perunggu. Karateka Nagekeo menjadi pengumpul medali terbanyak, yakni 13 emas yang direbut Yoktan Taneo (4 emas), Sovia Taneo (5 emas), Marlin Safrudin (2 emas, 1 perak dan 1 perunggu) dan Leni Djafra (2 emas, 1 perak, 1 perunggu). 

Catatan prestasi-prestasi ini belum termasuk kejuaraan antar- pelajar, olahraga usia dini, porseni SMP, Popnas, olimpiade olahraga siswa dan lainnya. 

Dari sisi sumber daya manusia, di tahun 2008, NTT mengalami kemajuan. Kalau pada PON lalu, paling tidak hanya empat orang NTT yang menjadi wasit, kali ini di PON XVII 2008, ada sebelas putra NTT yang menjadi wasit. David Radja (tinju) dan Ferdy Amatae (pencaksilat) malah menjadi ketua pertandingan di cabangnya. Ferdy Amatae, beberapa kali juga dikirim memimpin pertandingan di luar negeri. Ada juga wasit asal Ende, Hermino Mau yang menjadi wasit renang pada Asian Beach Game 2008 di Bali. Selain itu, pelatih atletik NTT, Frans Sales dan Soleman Natonis juga dipilih mendampingi atlet Indonesia ke luar negeri.

***
Lalu, apakah geliat olahraga NTT di tahun 2008 ini berjalan mulus? "Kalau saja kita sedikit prihatin dengan kondisi daerah dan berlatih atau mengurus olahraga tanpa pamrih, saya yakin NTT akan menjadi lumbung atlet di Indonesia." Itu komentar dari mantan atlet tinju, Hermensen Bertolens Ballo, S.H.


Dari sisi pencapaian prestasi, dari semua keikutsertaan atlet-atlet NTT di kejuaraan tingkat nasional tidak semuanya berhasil. Di PON XVII, tinju yang ditargetkan meraih lebih dari dua medali emas, ternyata hanya membawa pulang satu. Pencaksilat yang dikoar-koarkan akan membawa pulang emas, ternyata gagal total, termasuk taekwondo yang meloloskan delapan atlet, namun hanya bisa merebut dua perunggu. Dari kejuaraan lainnya, seperti Popnas, kejurnas atletik, kejurnas atletik antar- PPLP dan lainnya, hampir semuanya belum memberikan hasil yang menggembirakan.

Lalu, apa faktor atau penyebab kegagalan itu? Selain dana, disiplin, kemauan, initeligensi atlet/pelatih dan kemampuan menyerap teknologi masih kurang. Ada atlet atau cabang yang latihannya keras, disiplin, terjadwal dan terprogram dengan baik, namun mereka masih kurang dalam pemahaman teknologi baik digital maupun forensik. Mereka hanya berlatih, berlatih dan terus berlatih tapi tidak pernah memperhitungkan kapan puncak performanya. Akibatnya, terkadang mereka habis-habisan hanya untuk latihan sehingga tak mampu berbuat banyak saat pertandingan.

Ada juga yang yang menguasai teknologi, namun kualitas, pengalaman dan inteleginsinya masih jauh di bawah. Ada yang memiliki dana yang cukup, namun tidak mempunyai program latihan sehingga terkesan hanya untuk menghabiskan dana. Namun, ada pula yang karena kemauan atau fanatisme untuk berprestasi masih sangat kurang.

Satu lagi masalah klasik yang terjadi dalam pembinaan olahraga di NTT adalah manajemen organisasi. Banyak pengurus hanya sekadar nebeng nama dalam struktur, namun tak tahu harus berbuat apa. Ada juga yang masih memanfaatkan olahraga untuk tunggangan politis. Yang memprihatinkan adalah mereka yang menjadikan olahraga di NTT sebagai tempat mencari nafkah sehingga tidak total ketika dana tidak ada.

Lalu, apa yang harus dilakukan di tahun 2009? Perhelatan politik masih akan memanas. Pemilihan anggota legislatif dan presiden akan menyita energi. Namun harus diingat bahwa akan ada pekan olahraga (POR) daratan. Daratan Timor akan digelar di Belu, Flores-Lembata di Sikka dan Sumba, Alor, Rote di Rote atau Alor. POR Daratan harus menjadi awal prestasi NTT. Atlet potensial harus dijaring sebanyak mungkin. Pembinaan harus lebih fokus. Cabang-cabang super prioritas harus lebih dimaksimalkan.

Dan, yang terpenting adalah 'menekan' pemerintah agar alokasi dana untuk olahraga dinaikkan. UU Nomor 3 tahun 2005 tentang Sistem Keolahragaan Nasional sudah mewajibkan adanya alokasi dana untuk olahraga. Untuk yang satu ini, tampaknya kita tak perlu khawatir. Drs. Frans Lebu Raya dan Esthon Foenay adalah duet yang sangat paham tentang pembinaan olahraga di NTT. Bukankah kita harus 'Sehati Sesuara Membangun NTT Baru? Salam Olahraga! *

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Best WordPress Themes