Tampilkan postingan dengan label Beta dan Pos Kupang. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Beta dan Pos Kupang. Tampilkan semua postingan

33 Tahun

Dion DB Putra 

Kami  berusia 33 tahun hari ini, Senin 1 Desember 2025. Puji syukur kepada Tuhan yang Maha Kuasa atas kasih dan tuntunanNya sehingga kami masih bertahan hidup. 

Terima kasih kepada  pembaca, pemirsa dan segenap rekan kerja, mitra serta kolega Pos Kupang.

Tanpa Anda semua kami bukan apa-apa dan tak mungkin hidup sejauh ini. Selama 33 tahun koran kami tidak pernah tidak terbit, kecuali hari libur nasional dan hari yang memang tidak dijadwalkan terbit.

Lebih dari tiga dasawarsa, Pos Kupang berusaha melayani masyarakat sebaik-baiknya. Tentu disertai keterbatasan dan beraneka kekurangan.

Selama 33 tahun Pos Kupang melihat dan merasakan langsung perubahan teknologi di bidang media massa dan informasi yang amat lekas. 

Ketika trio pendiri, Damyan Godho, Valens Goa Doy dan Rudolf Nggai sepakat melahirkan Pos Kupang 1 Desember 1992, kami masih memakai mesin ketik dan faksimili. Sesuatu yang asing bagi generasi milenial, Z hingga alfa.

Faksimili adalah gabungan fungsi telepon, scanner, printer, dan mesin fotokopi sehingga penerima mendapatkan dokumen persis seperti dikirimkan. 

Kirim gambar atau tulisan via faksimili lebih cepat dan efisien. Usianya ternyata tak lama.  Komputer dalam sekejap mematikan mesin ketik. Modem mengakhiri kiprah faksimili. 

Modem berkemampuan mengubah sinyal analog dari jaringan kabel menjadi sinyal digital. Dunia pun memasuki babak baru bersama kejayaan internet dengan segenap turunan teknologinya.

Perubahan tersebut tak terpikirkan ketika koran Pos Kupang terbit perdana 1 Desember 1992. Nyatanya apa yang terjadi saat ini sudah jauh berbeda. 

Kita hari ini adalah generasi yang sangat tergantung pada smartphone dan paket data internet. 

Kita  adalah warga internet alias netizen yang terhubung  satu sama lain kendati secara fisik belum tentu saling kenal.

Sejak bulan November 2022, kita bahkan mengarungi dunia baru yang lebih heboh dan dahsyat. 

Dunia ciptaan Internet Platform dengan teknologi Artificial Intelligence (AI)  atau kecerdasan buatan bisa diakses publik melalui ChatGPT.

Manusia menciptakan sistem ini untuk menjalankan pekerjaan manusia. AI diberi kemampuan berpikir seperti manusia. Memiliki kecerdasan mirip manusia.

Sebagian dari tuan dan puan kiranya sudah menggunakan sistem AI tersebut dalam kehidupan sehari-hari bukan?

Kemajuan teknologi informasi serta hadirnya AI system membuat  lanskap bisnis media seolah jungkir balik. Tatanan lama porak poranda. Hancur lebur. Banyak media telah masuk museum sejarah.

Di tengah riuh gemuruh perubahan itu Pos Kupang merayakan ulang tahun ke-33.  Kami berikhtiar tetap menjalankan peran jurnalisme dengan sebaik baiknya. Kami menyadari disrupsi menjadi ancaman.

Namun, pepatah mengatakan di tengah ancaman pasti ada peluang. Sekecil apapun itu.

Sejak 2010 Pos Kupang bersama Tribun Group Kompas Gramedia sebagai induk perusahaan, telah melihat fenomena seperti terjadi saat ini bakal muncul. 

Suatu era ketika informasi tak lagi tergantung kepada kertas (paperless) dan dapat diakses secara mobile.

Pos Kupang hari ini bukan lagi sekadar koran. Kami bertranformasi menjawab tantangan zaman. 

Sajian informasi tidak hanya dapat dinikmati melalui koran Pos Kupang tetapi juga melalui platform digital, www.pos-kupang.com serta semua kanal informasi berlabel Pos Kupang. 

Sampai hari ini kami merupakan news portal terbesar, dalam pengertian jumlah visitor, di wilayah Nusa Tenggara Timur (NTT).

Pos Kupang sebagaimana media massa Group Tribun-Kompas Gramedia di seluruh Indonesia, menyajikan liputan yang sering kali menjadi rujukan pengambil kebijakan publik. 

Kami bertekad tetap menjadi teman seperjalanan bagi semua kalangan dalam meniti buih perubahan yang sangat lekas itu. (dion db putra)

Sumber: Pos Kupang cetak Senin 1 Desember 2025


Srikandi di Sarang Pria

 


Hasanah (kiri) dan Ahmad Suroso

Dalam rentang waktu terbilang panjang, lebih dari dua dasawarsa, dia sungguh srikandi di sarang pria. Nyaris sendirian. 

Namun, kehadirannya memberi warna kepemimpinan yang kuat dan khas di ruang redaksi Tribun Network - Kompas Gramedia.

Dia pekerja keras yang cerdas dan tangguh. Tegas, berintegritas, berani, juga disiplin.

Sebagai jurnalis dan pemimpin dia mempraktikkan pepatah Latin, suaviter in modo, fortiter in re. Teguh dalam prinsip tapi lembut dalam cara.

Mereka yang pernah jadi rekan kerja, kolega atau dipimpinnya mengenal gayanya mendidik dan membimbing dengan hati yang hangat. 

 Karier kewartawanannya merangkak dari dasar hingga puncak tertinggi. Dia merasakan pengalaman sebagai reporter, asisten editor, editor, redaktur pelaksana hingga tugas dan tanggung jawab sebagai pemimpim redaksi.

Setelah mengabdi bertahun-tahun di Harian Tribun Jabar, dia mendapat kepercayaan menjadi Pemimpin Redaksi Harian Tribun Jambi. 


Dari Jambi dia pindah ke Provinsi Riau melakoni tanggung jawab sebagai Pemimpin Redaksi Tribun Pekanbaru. Beberapa bulan sebelum memasuki masa pensiun tahun 2022 lalu dia ke kantor pusat Tribun Network di Jakarta.

"Om Dion ada-ada aja," begitu komentar Mbak Hasanah Samhudi ketika saya menjulukinya sebagai srikandi di sarang pria.

 Nyatanya memang demikian. Di jaringan media Tribun Network Kompas Gramedia yang kini ada di 35 dari 38 provinsi di Indonesia, baru dua orang perempuan yang menjadi pemimpin redaksi. 

Hasanah Samhudi dan Wenny Ramdiastuti. Nama terakhir baru  pensiun medio 2023. Jabatan terakhirnya Pemimpin Redaksi Harian Sriwijaya Post dan Tribun Sumsel di Palembang, Sumatera Selatan.

 Mbak Hasanah dan Mbak Wenny hanya berselang setahun purnabakti sebagai karyawan-wartawan Tribun Network. 


Hari Rabu 20 September 2023, kami keluarga besar Tribun Network bak disambar petir di siang bolong.

Mbak Hasanah Samhudi berpulang.  Kami tahu mbak sakit tapi tak pernah ingin mendengar Mbak Hasanah pergi selekas ini.

Selamat Jalan Mbak Hasanah. Bahagia kekal di sisiNya. (*)


Fb 23092023

Josef Blasius Bapa: Ayah yang Humanis

 


Blasius Bapa (kanan)
Suara Melchias Marcus Mekeng bergetar saat menyapa sekaligus mengucapkan terima kasih tak terhingga kepada ayahnya malam itu. 

Sang ayah, Josef Blasius Bapa, mendampingi anggota DPR ini saat menerima Pos Kupang Award 2023 di Hotel Aston Kupang, Senin 11 Desember 2023.

Josef Blasius Bapa tampak bugar.  Pria berusia 85 tahun itu berbincang santai dan akrab dengan para tamu undangan lainnya.  Dia duduk semeja dengan Melchias Markus Mekeng dan sejumlah tokoh antara lain senator asal NTT, Abraham Paul Liyanto.

Beliau mengikuti seluruh rangkaian acara Pos Kupang Award mulai pukul 17.00 hingga tuntas pada pukul 21.00 Wita.

Putranya, Melchias Marcus Mekeng atau karib disapa Melky Mekeng  merupakan seorang di antara 40 tokoh masyarakat Nusa Tenggara Timur (NTT) yang dapat penghargaan dari Pos Kupang, harian pertama di NTT yang terbit sejak 1 Desember 1992.

Keesokan hari, Selasa 12 Desember 2023, Josef Blasius Bapa  kembali menemani Melky Mekeng ke studio Pos Kupang di Jl. RW Monginsidi Fatululi Kupang. 

Selasa siang itu Melky Mekeng secara khusus diwawancarai editor Pos Kupang, Novemy Leo mengenai lika liku pengabdiannya selama 30 tahun untuk rakyat Flobamora melalui jalur legislatif.

Sama seperti momen di Hotel Aston Kupang, Blasius Bapa menyimak secara baik wawancara khusus dengan anaknya sampai selesai.

Senja menjelang Malam Natal 24 Desember 2023, kabar duka dari Jakarta menghampiri kami. Josef Blasius Bapa berpulang. 

Warta yang mengejutkan keluarga, kolega dan kerabat termasuk kami keluarga besar Harian Pos Kupang.

Ayah yang Humanis

Dalam berbagai kesempatan Melky Mekeng selalu menyebut peran sang ayah yang luar biasa dalam seluruh kiprah dan kariernya sebagai politisi, dan wakil rakyat NTT di Senayan hingga kini.

Josef Blasius Bapa merupakan sumber inspirasi yang mengalir tiada henti bagi Melchias Markus Mekeng.

Blasius Bapa adalah mentor politik Melky Mekeng sejak muda usia. Melky sering diajak ayahnya mengikuti rapat-rapat organisasi sosial dan politik. 

Dari sana tumbuh kecintaannya pada jagat politik yang melambungkan namanya hingga kini.

Sebagai ayah, Melky Mekeng melukiskan Josef Blasius Bapa sebagai sosok yang sangat humanis.

"Ayah saya ini orang yang sangat humanis, selalu jatuh hati pada orang kecil yang susah," kata Melky Mekeng kepada Pos Kupang, Selasa (27/12/2023).

Blasius Bapa juga mengajarkan anak-anaknya agar tidak mengambil sesuatu yang bukan haknya. Tak boleh mudah patah semangat.

"(Beliau) mengajarkan hidup yang tidak boleh mengambil yang bukan haknya, pantang mwnyerah dalam keadaan sulit apapun," kata Melky Mekeng.

Satu lagi pesan hidup yang sangat mendalam. Dalam hidup bermasyarakat, Josef Blasius Bapa berulangkali mengingatkan Melky Mekeng agar usahakan hadir kalau ada undangan dari orang baik untuk kesukaan maupun kedukaan.

"Dia selalu membina komunikasi dengan siapapun yang dia kenal baik di dalam negeri maupun luar negri, jadi kemanapun dia pergi selalu ada temannya," kata Melky Mekeng.

Melky Mekeng mengatakan, sang ayah berpulang setelah "menunggu" dia merayakan usia 60 tahun pada 8 Desember lalu serta menerima penghargaan dari Pos Kupang.

"Almarhum menunggu usia saya 60 (tahun) pada tanggal 8 Desember dan menyaksikan penerimaan Pos Kupang Award," kata Melky Mekeng.

Josef Blasius Bapa adalah tokoh bangsa yang sarat pengalaman di bidang politik dan kemasyarakatan. 

Ayah Melky Mekeng itu merupakan aktivis Partai Demokrasi Indonesia (PDI) di paruh akhir 1970-an. 

Sebelumnya Blasius Bapa aktif di Partai Katolik  yang fusi ke PDI setelah pemerintahan Orde Baru melahirkan kebijakan menyederhanakan partai politik.

Blasius Bapa pernah merasakan dan terlibat aktif dalam dinamika politik era Orde Lama, Orde Baru dan teranyar di Era Reformasi. 

Mantan anggota MPR ini merupakan anak bangsa yang menjadi saksi sejarah kepemimpinan Indonesia sejak masa Presiden Soekarno hingga Presiden Joko Widodo saat ini.

Josef Blasius Bapa merupakan  pendiri organisasi paguyuban  Keluarga Besar Maumere Jakarta Raya (KBM Jaya).

Menjelang Paskah  2023, Blasius Bapa secara khusus berpesan kepada warga KBM Jaya agar tidak berafiliasi ke partai politik manapun tapi anggotanya boleh berpolitik. 

Dia mengingatkan bahwa KBM Jaya bukan partai politik tapi organisasi sosial wadah orang Maumere di Jakarta dan sekitarnya berhimpun membagi suka dan duka dalam bingkai kekeluargaan. 

"Saya berharap agar Keluarga Besar  Maumere Jakarta Raya (KBM)  sebagai sebuah paguyuban kekeluargaan, harus tetap solid, tetap kuat, tetap harmonis, tetap solider serta saling mengasihi dan menyanyangi satu sama lain," pesan Blasius Bapa dalam rilis yang disiarkan Pos-Kupang.com 9 April 2023.

"Kita yang berada di dalam paguyuban KBM Jaya sebagai keluarga harus saling menyapa, menginformasikan kemana kita berparpol, agar kita tetap dalam satu koordinasi, di dalam satu kekuatan untuk membangun KBM Jaya agar tetap jaya," kata ayah Melky Mekeng ini.

Kepulangan Blasius Bapa membuat KBM Jaya dan seluruh masyarakat Flobamora kehilangan tokoh panutan dan sesepuh. 

Jenazah Josef Blasius Bapa menurut rencana diterbangkan ke Maumere, Kabupaten Sikka dan dimakamkan di Kewapante pada Kamis, 28 Desember 2023. 

Selamat jalan Bapak Josef Blasius Bapa. Bahagia kekal di sisiNya. Jasa dan budi baikmu kami kenang selalu. (*)

Pos Kupang.com, 26 Desember 20203

Purnabakti

 


Saya dan Mas Surnarko di Mataram, 4 Sept 2023
Pada suatu titik waktu saya pernah selevel dengan mereka. Selevel dalam hal tugas dan tanggung jawab sebagai pemimpin redaksi unit media naungan Tribun Network-Kompas Gramedia.

Medio 2023 satu per satu mereka mengucapkan sayonara kepada Tribun Network karena sudah tiba saatnya untuk purnabakti.

Meski pensiun sebagai karyawan adalah hukum natur tetap saja saya merasa agak terkejut. Kaget bahwa saya pun tidak akan lama lagi menyandang NIK alias nomor induk karyawan Tribun Network- Kompas Gramedia.

Sampai bulan September 2023, empat saudaraku pensiun.  Paling awal pamit dari Grup WA Pemimpin Redaksi adalah Mbak Wenny Ramdiastuti. 

Mbak Wenny terakhir menjabat sebagai Pemimpin Redaksi Tribun Sumsel-Sriwijaya Post di Palembang, Sumatera Selatan.

Dengan pensiunnya Mbak Wennya, maka sekarang tidak ada lagi perempuan yang menjabat pemimpin redaksi di lingkungan Tribun.

Mbak Wenny menyusul Mbak Hasanah Samhudi yang pensiun lebih dahulu setahun.

Setelah Mbak, Wenny tidak lama berselang Mas Bechi, tepatnya Achmad Subechi mengucapkan selamat tinggal karena telah memasuki masa pensiun. 

Mas Bechi pernah menjadi pemimpin redaksi Tribun Kaltim, Kompas.com dan Warta Kota. Mas Bechi meniti karier di harian Surya, Surabaya lalu ke Jakarta mengelola Tabloid dan lain-lain.

Nah bulan September 2023,  dua orang lagi saudaraku satu leting yang pensiun yaitu Mas Sunarko dan Kang Cecep Burdansyah.

Mas Surnako terakhir menjabat Pemimpin Redaksi Tribun Bali selama 10 tahun. Sejak awal terbit Tribun Bali, Mas Narko adalah pemimpin redaksi. 

Estafet kepemimpinan sekarang diserahkan kepada Bli Komang Agus Ruspawan.

Mas Narko sebelum ke Bali menjadi pemimpin redaksi Harian Surya di Surabaya dan Harian Tribun Jogja di Yogyakarta.

Mas Narko resmi pensiun per 1 September 2023. Selanjutnta pada 23 September 2023, Kang Cecep Burdansyah pensiun.

Kang Cecep lama menjabat sebagai Pemimpin Redaksi Tribun Jabar di Bandung. Dari Bandung, Kang Cecep ke Semarang menjadi Pemimpin Redaksi Tribun Jateng.

Dari empat orang tersebut, Mbak Wenny, Mas Bechi dan Kang Cecep purnabakti pada usia 60 tahun. Sedangkan Mas Narko mengambil pensiun dini pada usia 54 tahun. 

Dari sisi aturan perusahaan, Mas Narko sebenarnya baru pensiun tahun 2029. Tapi beliau memilih opsi pensiun lebih awal.

Sebelum ini seniorku yang lebih dulu pensiun adalah Yusran Pare (Tribun Jabar, Banjarmasin Post, Tribun Jateng), kemudian Richard Nainggolan (Tribun Manado, Tribun Batam), dan  Andi Asmadi (Tribun Lampung)

Saat ini para pemimpin redaksi umumnya mereka yang jauh lebih muda. Memang sudah semestinya demikian. (*)

Mataram, 4 September 2023

Achmad Subechi Sang Pionir

 


Achmad Subechi (kanan)

"Saya memiliki seorang teman di Tribun Network, Mas Bechi. Achmad Subechi namanya. Saya kenal waktu tugas di Kalimantan." 

 Demikian dikatakan Brigadir Jenderal (Brigjen) TNI Agus Bhakti saat berbincang santai dengan saya seusai podcast di Studio TribunLombok.com di Mataram, 7 September 2023. Brigjen TNI Agus Bhakti adalah Komandan Korem (Danrem) 162 Wira Bhakti. Jenderal kelahiran Bandung itu memimpin Korem yang wilayahnya mencakup seluruh Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB) sejak 27 Juni 2023. 

 Kantor kami di Kota Mataram hanya berjarak selemparan batu, berseberangan jalan. Kami tetangga dekat. Ketika beliau bercerita tentang sosok Achmad Subechi, pembicaraan kami makin asyik karena Mas Bechi merupakan senior sekaligus kolega saya juga selama puluhan tahun. Pak Agus Bhakti pernah mengemban tugas sebagai Komandan Kodim Dandim 0910/Malinau, Kalimantan Utara. 

Di sana mereka bertemu. Kala itu Mas Bechi menjadi pemimpin redaksi Harian Tribun Kaltim yang wilayah kerjanya sampai Kalimantan Utara. "Mas Bechi merupakan sosok yang hangat, teman diskusi yang baik," kata Agus Bhakti. 

 Segera setelah Danrem pamit kembali ke kantornya, saya kirimi Mas Bechi foto bersama Pak Agus Bhakti.

 "Mas Bechi dapat salam dari Danrem 162 Wira Bhakti. Masih ingat?" Spontan dijawabnya via WA: "Ingat Dion. Udah jenderal ya? Alhamdulilah. Semoga Pak Agus makin sukses di NTB." 

 Tak lupa Mas Bechi yang terakhir menjadi pemimpin Redaksi Warta Kota (Jakarta) mendoakan kesuksesan menyertai kami di TribunLombok.com, portal berita yang belum genap 2 tahun usianya. 

 Achmad Subechi purna bakti sebagai jurnalis Tribun Network medio tahun ini. Hampir bersamaan dengan Kang Cecep Burdansyah, mantan Pemimpin Redaksi Tribun Jabar dan Tribun Jateng. 

 Dia merupakan seorang di antara jurnalis pionir di lingkungan Tribun Network Kompas Gramedia atau yang dulu lebih dikenal sebagai Persda. Mas Bechi bergabung dengan Harian Surya (Surabaya) tahun 1989 seangkatan dengan Mas Febby Mahendera Putra, kini Direktur Pemberitaan Tribun Network. 

 Pertama kali saya mengenalnya tahun 1992 saat Mas Bechi meliput bencana gempa dan tsunami di Pulau Flores. Bencana dahsyat yang menelan korban jiwa lebih dari 2.000 orang itu terjadi 12 Desember 1992 atau baru dua pekan Pos Kupang lahir sebagai koran pertama di Provinsi Nusa Tenggara Timur.

 Sebagai wartawan baru, kami belajar banyak dari Mas Bechi. Jurnalis gesit, cerdas dan cepat bergaul dengan siapa saja. Ngotot menembus narasumber tersulit sekalipun. Liputan lapangannya detail dan komperehensif. Komplet.

 Garapan sisi human interestnya menggugah hati. Berminggu-minggu Harian Surya laris manis berkat laporan Mas Bechi dari Maumere Flores. Dia termasuk jurnalis pertama yang melihat Pulau Babi porak-poranda dilanda tsunami, dan ratusan jasad masih tergeletak sana. Sejak 1992 itu pertemanan dengan Mas Bechi terus berlanjut. 

Banyak nian momen kebersamaan kami sebagai sesama awak Persda - Tribun Network. Kami pernah sama-sama pening kepala ketika "disekolahkan" di Prasetiya Mulya Business School Jakarta, dan masih banyak lagi kesempatan bersama. Suatu saat saya ke rumahnya di Jakarta. Dia jamu makan yang enak. 

"Dion, terima kasih sudah berkunjung ke rumah saya," katanya. Kreatif Persis dikatakan Danrem 162/Wira Bhakti Brigjen Agus Bhakti, Mas Bechi merupakan teman diskusi yang baik. Dia sangat antusias kalau mendiskusikan suatu topik. 

Idenya mengalir dan kerap out of the box. Kreatif. Unik. Tahun 1996 Mas Bechi bertugas sebagai wartawan Harian Surya biro Jakarta bersama rekan-rekannya. 

 Merekalah pionir yang menghadirkan konten berita dan foto yang didistribusikan untuk kebutuhan seluruh koran daerah Kompas Gramedia termasuk Harian Pos Kupang, tempat saya mengabdi sejak 1992. Karya jurnalistik Mas Bechi dkk dari Jakarta menjadi pembeda. 

Nilai lebih bagi koran daerah seperti Serambi Indonesia, Swirajaya Post, Pos Kupang, Harian Surya dan lainnya. Tahun 2003 PT Indopersda mulai menerbitkan koran (dan selanjutnya media online) dengan brand Tribun. 

 Tribun Kaltim menjadi anak sulung. Koran itu berbasis di Balikpapan, kota industri paling dinamis di Kalimantan Timur. Arek Suroboyo ini kembali menjadi pionir ketika Tribun Kaltim sedang bertumbuh. 

 Dia meneruskan kepemimpinan pada masa awal media tersebut setelah Mas Uki M Kurdi mendapat tugas baru dari pemimpin Persda, Om Herman Darmo. Sejak itu Tribun terus berbiak dan bertumbuh. 

Hadir di berbagai daerah. Hingga 2023 Tribun Network telah hadir di 35 dari 38 provinsi Indonesia, berkekuatan 21 koran dan 69 portal berita online. Mas Bechi tak hanya berkiprah di lingkungan Persda (Tribun). 

 Berkat pengalaman dan kemampuan manajerialnya Mas Bechi bahkan sempat mendapat kepercayaan sebagai pemimpin redaksi Kompas.com. Hari ini Minggu 3 Desember 2023, kami keluarga besar Tribun Network terguncang. Air mata mengalir. Sang pionir itu berpulang. Innalillahi wa innailahirojiun 

 "Sesungguhnya kita ini adalah milik Allah, dan kepadaNya kita akan kembali." Mas Bechi, selamat jalan. Beristirahatlah dalam damai dan kasih Tuhan. *

In Memoriam Yulius Lopo: Persembahan GMIT untuk Papua


Yulius O Lopo

Oleh Paul E Bolla

Wartawan Pos Kupang 1992-1999

"Malam to'o. Saudara kita Om Yulius Lopo baru saja berpulang di Timika karena sakit." Itulah pesan singkat dari Om Dion Db Putra, pada Sabtu, 27 Agustus 2022, malam hari.

Informasi via pesan WA ini membuat beta tersentak. Kaget. Tidak percaya. Berdua sering berkirim pesan selamat pagi disertai pesan-pesan biblis. Tidak ada keluhan atau informasi sedang sakit.  

Selanjutnya beta minta update informasi dan langsung cecar Om Dion dengan banyak pertanyaan informatif. Sedangkan Om Dion mesti lanjut bertanya ke Marthen L. Moru, wartawan Timika Express, di Papua, sebagai pemberi informasi awal ke Om Dion.

Kelengkapan informasi berkualifikasi 5 W + 1 H, penting sekali akurasinya. 

Karena kabar duka ini harus saya teruskan kepada handai taulan, baik dari kalangan media massa, komunitas gereja GMIT, khususnya alumni Fakultas Theologi UKAW Angkatan 84, dan keluarga.

Kabar berpulangnya sosok yang beta biasa panggil Om Lius, atau Om Yol, inisial semasa wartawan Pos Kupang, harus segera beredar. 

Maka info duka ini beta langsung posting di facebook, dengan menyebut sumber infonya. Sehingga jika ada pertanyaan lanjutan, saya harus menghubungi kembali pemberi informasi.

Komunikasi informasi tidak berjalan mulus mengenai keputusan keluarga membawa jenazah ke Kupang. Keterlambatan update info menjadi masalah. 

Saya sudah fb-kan waktu kedatangan jenazah dari Timika ke Kupang pada Senin, 29 Agustus 2022. Tiba Kupang diperkirakan jam 13:00 Wita. 

Om Dion meneruskan info ini setelah menerima kabar berantai dari Marthen Moru, dan Indah Lopo, putri bungsu Om Lius.

Ketika teman-teman pendeta GMIT, angkatan 84 dan teman-teman wartawan Pos Kupang bersiap menjemput ke Bandara Eltari, muncul simpang siur informasi. 

Ada info pesawat delay, dan ternyata jenazah sudah tiba di Kupang dan disemayamkan di Baumata, di rumah adik perempuan.

Beta dan rombongan teman-teman pendeta GMIT angkatan 84, memutuskan langsung menuju rumah  duka. 

Di tengah perjalanan baru ada update informasi dari Om Dion, yang juga terlambat menerima perubahan informasi ketika sudah dalam perjalanan ke bandara. 

Bersama Om Fery Jahang, kelimpungan mencari alamat rumah duka  Info dari nona Indah Lopo, meminta maaf karena ternyata jasad ayahnya lebih dulu ke Kupang pada penerbangan pagi hari. Keluarga membawa ke rumah duka di Baumata. 

"Saya dan KK laki" Bru menuju ke kupang. Begitu pesan WA yang dikirim nona Indah ke Om Dion, yang baru beta terima hampir jam 13:00 Wita. Si suling dan bungsu terbang terpisah dengan bapanya.

"Jangan sampai Om Yol sengaja, supaya Om Dion dan kita semua harus cari rumah duka sampai dapat," nyeletuk Om Paul Burin, salah satu wartawan angkatan pertama.

Akhirnya beta ketemu Om Dion dan Om Fery Jahang  di rumah duka. Lalu tiba menyusul dari Pos Kupang, yakni, Etty Turut, Paul Burin, Fery Ndun dan Gerardus Manyela.

Demikian sekadar klarifikasi atas status informasi keliru yang termuat di facebook.

*** 

Nama lengkap YULIUS OKTOVIANUS LOPO. Lahir pada 18 Oktober 1964. Menempuh pendidikan theologia di UKAW Kupang. 

Setelah menjalani masa vikariat, ditabiskan menjadi Pendeta di GMIT Elim-KiE November 1989, bersama Pdt. Ebenhaezer  Nuban Timo dan mendiang Pdt. Yes Tlaan. 

Om Lius meninggal dunia di RSUD Mimika, Papua, Sabtu (27/8/2022), sekira pukul 17.25 WIT. 

Om Lius sudah lebih dahulu ditinggalkan istrinya Melly Rita Sirituka pada 6 Januari 2016 dan meninggalkan tiga orang anak, yakni, Inyo, Indri dan Indah.

Yulius Lopo adalah Pendeta GMIT, yang ditugaskan Sinode GMIT untuk menjadi wartawan pada Surat Kabar Harian (SKH) Pos Kupang sejak tahun 1992. Penugasan itu pada masa Ketua Sinode Pdt. Dr. Benyamin Fobia. 

Penugasan menjadi wartawan itu bagian dari persiapan akan hadirnya koran yang terbit harian pertama di Provinsi Nusa Tenggara Timur. 

Pendiri Pos Kupang, mendiang Julius Siyaranamual dan Damyan Godho, berkunjung ke Kantor Sinode GMIT. 

Kunjungan itu bertujuan meminta Sinode GMIT mengutus kader-kader terbaiknya untuk mengikuti pelatihan jurnalistik sebagai persiapan menjadi wartawan SKH Pos Kupang. 

Sinode GMIT akhirnya mengutus lima orang, yakni, Pdt. Yulius O. Lopo, STh, Pdt. Ebenhaezer Nubantimo,STh, Pdt. Mesakh AP Dethan,STh,  Esther M. Rihi Ga, STh dan Paul Bolla, STh.  

Lima utusan GMIT ini resmi menjadi wartawan Pos Kupang, yang mulai terbit percobaan pada minggu terakhir November 1992. Lalu terhitung 1 Desember 1992, Pos Kupang resmi terbit harian dan diperingati sebagai hari lahirnya. 

Keputusan Ketua Sinode GMIT,  Pdt. Dr. Benny Fobia dengan mengikhlaskan lima orang kadernya dilandasi pikiran ini.  

"Koran juga dapat menjadi sebuah Jemaat baru, tempat pendeta GMIT melayani. Tempat  untuk bisa menyentuh hati orang lain, tidak dengan mulut,  tetapi dengan tangan yang menulis. Mewartakan kabar baik lewat tulisan. Tulisan yang mengubah manusia dan dunia, melintasi batas sebuah jemaat atau gereja. Demikian pertimbangan Pdt. Dr. Benny Fobia kala itu.

Beta kira Pdt. Fobia sudah berpikir jauh ke depan tentang tugas seorang pendeta. Yang harus diurus seorang pendeta, khususnya pendeta GMIT, tidak lagi terbatas hanya pada Jemaat-Jemaat GMIT. 

Pendeta GMIT harus juga melayani manusia dan dunia. Itulah kontribusi GMIT untuk membuat manusia dan dunia ini terus menjadi lebih baik. 

Menugaskan pendeta GMIT menjadi wartawan adalah cikal bakal konsep adanya Pendeta Pelayanan Umum atau Pendeta Pelum.

Saat ini Sinode GMIT sedang kewalahan mengakomodir banyaknya alumni fakultas teologi yang tidak dapat diakomodir. 

Jumlah tempat atau gereja atau Jemaat terbatas, sedangkan alumni teologia yang melamar berlimpah. 

Pelamar bukan hanya berasal dari lulusan Theologi UKAW Kupang, tetapi dari UKSW Salatiga, UKDW Yogya, STT Intim Makassar, STT Jakarta, dan sekolah teologia lainnya.

Pdt. Fobia sudah membuka mata GMIT, bahwa ada banyak ladang pelayanan yang sudah saatnya membutuhkan perhatian. 

Ladang Fungsional, seperti Pendeta ASN bisa membantu pemerintah membina dan membimbing ASN,  Pendeta Komunitas, seperti Petugas Parkir, Ojek, Cleaning Service, Satpam dan seterusnya. 

Pendeta Kategorial, khusus melayani kategori anak, remaja, teruna, pemuda, perempuan, ibu, bapak, lansia, dst. 

Begitu juga Pendeta Profesional, pendeta media massa, pengusaha, TNI-Polri, Satpam, pramuniaga, dst. Begitu juga pendeta petani, sopir, peternak, nelayan, dstnya. Ada kebutuhan pendeta yang melayani sesuai pergumulan khas.

Setiap kategori memiliki banyak anggota. Jika dijumlahkan bisa menyamai jumlah anggota sebuah gereja. 

Jika ada seorang pemdeta khusus, maka pelayanan bisa lebih fokus dalam mendampingi permasalahan khas yang dihadapi. 

GMIT perlu membuat kajian serius mengenai tugas seorang pendeta pelum, ditengah rumit dan uniknya permasalahan manusia dengan beragam kategori. Banyak soal terjadi dalam masyarakat seharusnya bisa dicegah atau diminimalisir, jika gereja hadir secara spesifik. 

Hadirnya pandemi Covid 19 telah membuka mata gereja yang lambat merespon perkembangan dunia. 

Ketika ibadah tatap muka menjadi potensi terjadi penularan, banyak gereja kelabakan bagaimana cara bisa hadir melayani umatnya. Aspek multimedia mendadak harus menjadi perhatian. 

Saat ini GMIT mulai membenahi aspek kemampuan literasi para pendetanya. Padahal Pdt. Fobia sudah memulainya di tahun 1992. Lima orang sudah mulai disemaikan di Pos Kupang. Sayang sekali tidak diteruskan. 

Padahal GMIT memiliki ikatan batin khudus dan saham moral dalam pendirian koran Pos Kupang. Berulang kali beta sudah mengingatkan GMIT. 

Pos Kupang bisa menjadi tempat praktek pendeta, atau KKN mahasiswa theologi. 

Fakultas theologi UKAW Kupang, misalnya, pernah mempercayakan tiga mahasiswa teologi kkn di koran NTT Ekspres Kupang, yakni, John Famaney, Leny Bees, dan seorang lagi saat ini pendeta di GMIT Betlehem Oesapa Barat. 

Semoga berpulangnya Om Lius menjadi momentum GMIT memikirkan diversifikasi model pelayanan gereja. Semoga Om Lius tidak menjadi utusan yang terabaikan. 

Sebagai wartawan Pos Kupang, Yulius Lopo, sempat bertugas di Sumba Barat. Kemudian beta menjadi  penggantinya tahun 1994. 

Om Lius kemudian ditugaskan berturut-turut ke Alor, Manggarai, Sikka, dan kembali ke mabes di Kupang.

Pos Kupang yang bernaung dalam jaringan koran daerah, bentukan Kompas Grup, dibawah organisasi Pers Daerah atau Persda. Tahun 2000, Om Lius direkrut Persda pindah ke koran Metro Bandung (kini Tribun Jabar). 

Di Bandung, Om Lius dipersiapkan untuk memimpin koran Timika Pos, kerjasama KKG dan PT Frerport. Untuk misi ini Om Lius diundang khusus sesepuh KKG Jacob Oetama. 

Selain Om Lius, juga  Om Damyan Godho dan Dion Db Putra yang  pernah bertatap muka di ruang kerja bos KKG itu.

Om Lius mulai mewartakan di bumi Papua sebagai Pemred  koran baru Timika Pos sekitar Juli 2000. Ada lima wartawan dari NTT yang direkrut khusus untuk membantu Om Lius di Timika Pos. 

Selama berkiprah di Papua, setelah Timika Pos, Yulius Lopo, juga tercacat bergabung di beberapa media cetak di Timika dan Jayapura. 

Bahkan merambah ke televisi, seperti Top TV dan Golden TV. Hingga akhir hayatnya Om Lius tercatat  bergabung ke media Salam Papua. 

Ini pertanda bahwa GMIT bahkan NTT bisa mensuplai kader-kadernya untuk Indonesia. Selama 22 tahun membangun Papua dari dunia jurnalistik, Om Lius termasuk wartawan senior di Papua yang dihormati.

Beta dan Om Lius sudah lama tidak bertemu sejak kami bersama merancang hadirnya koran NTT Ekspres tahun 2000, bersama mendiang Hans Louk, Dany Ratu, Ana Djukana dan mendiang Harry Harzufri. 

Kami berdua "suten" siapa yang tetap di Pos Kupang. Hasilnya, Om Lus tetap di Pos Kupang dan saya bergabung ke NTT Ekspres.

Tahun 2002, Om Lius sempat pulang Kupang. Kami berdua ngobrol banyak hal hingga tengah malam di rumah saya yang baru mulai dibangun. 

Kami berdua bermimpi... kelak, bila beta sudah ditabis jadi pendeta, dan Om Lius dipanggil kembali oleh Sinode GMIT, berdua bercita-cita membangun GMIT dari sisi media dan membantu teman-teman agar bisa menulis. 

GMIT harus memiliki banyak penulis. Karena ketika mengasuh Rubrik Opini, jarang sekali menerima naskah opini dari kalangan teologi, mahasiswa atau pendeta.

Semasa bersama di Pos Kupang, Om Lius adalah wartawan Pos Kupang angkatan pertama, dan termasuk wartawan kesayangan Om Damy, Pemimpin Redaksi. 

Ketika Pos Kupang memiliki sepeda motor, hasil barter iklan, Om Lius menjadi orang kedua mendapat jatah sepeda motor Yamaha bebek, setelah seniornya mendiang Hans Louk. Lainnya tetap cari berita dengan jalan kaki.

Meski jauh di Papua, teman-teman Yulius di GMIT, khususnya alumni angkatan 1984 Theologi UKAW tetap bisa terus berkomunikasi lewat "The Eighties Fourth" WA Grup buatan Pdt.  Eben Nubantimo. Pada 12 Juni 2022, Yulius memberi tahu di grup WA dia mengikuti Ibadah Minggu pagi secara online dari GMIT Kota Baru Kupang, saat dipimpin Pdt. Tien Hawu-Muni.

Saat mendapat kabar duka, beta berharap  jasad Om Lius akan  kembali perut bumi Timor.  Bukan hanya asalnya dari Bokong, Kupang Tengah, tetapi Om Lius tercatat sebagai pendeta GMIT yang ditugaskan menjadi wartawan. 

Kembali ke tanah Timor ke pangkuan GMIT. Om Lius juga menjadi orang pertama asli produk Pos Kupang yang mendapat hati Om Herman Darmo, bos Persda, dan pemilik KKG Jacob Oetama, untuk menolong Papua. 

Kembali ke tanah Timor adalah pulang agar tumbuh kader-kader baru yang bisa disumbangkan untuk membangun Indonesia.

Beta  tidak tahu persis apakah Om Lius masih tercatat sebagai Pendeta GMIT, sekaligus karyawan GMIT. 

Beta juga kurang tahu, apakah Om Lius pernah dipanggil kembali melayani oleh Sinode GMIT, karena statusnya diutus ke Pos Kupang. 

Selamat Jalan sahabat rasa saudara, Yulius Oktovianus Lopo.  Ibadah Pelepasan di rumah duka jam 10:00 Wita, dilanjutkan Ibadah Pemakaman di Gereja Imanuel Baumata jam 11:00 Wita.

Tuhan menjaga anak Inyo, Indri dan Indah, serta menguatkan keluarga besar Lopo-Sirituka. *

Sumber: Pos Kupang cetak 30 Agustus 2022 halaman 2, rubrik opini.

Sayonara Kenari 1 Kupang

Ruang kerjaku di Jl. Kenari 1
PERASAAN mengharu-biru itu akhirnya meluap di hari Jumat. Jumat malam 5 Januari 2018.  Malam itu setelah proses produksi redaksi untuk terbitan edisi Sabtu 6 Januari 2018, kami seluruh awak redaksi meninggalkan Jl. Kenari No. 1, Kelurahan Naikoten Kupang. Kami kemas barang dan bawa ke kantor baru di Jl. RW Monginsidi III, Kelurahan Fatululi Kupang. Jaraknya kurang lebih 7 km dari kantor lama.

Kantor di Jalan Kenari itu penuh kenangan istimewa buat saya. Tentu dirasakan pula kawan-kawanku sesama karyawan Pos Kupang.   Itu kantor Harian Pagi Pos Kupang kedua setelah kantor pertama di Jl. Soeharto No.53 Kupang (akhir 1992- awal 1995).  Kami berkantor di Jl. Kenari sejak tahun 1995.

Selama 23 tahun bangunan  rumah toko (ruko) itu merupakan kantor sekaligus rumah kedua bagiku dan teman-teman.

Dua puluh tiga tahun bukan waktu yang singkat. Lebih dari separuh masa pengabdianku sebagai wartawan Pos Kupang bermarkas di gedung dua lantai yang bersebelahan dengan Pasar Inpres Naikoten I Kupang ini.

Itulah sebabnya ketika Jumat malam 5 Januari 2018 itu kami terpaksa meninggalkannya karena sudah miliki gedung kantor baru di kompleks Lippo Mall Plaza Fatululi Kupang, ada perasaan yang tergores. Hanya ucapan terima kasih yang bisa saya persembahkan untuk tempat yang luar biasa ini dan lingkungannya.

Ketika Pos Kupang berusia 25 tahun (1 Desember 2017) dan bergerak menuju usia ke-26, kami pindah ke gedung kantor baru di Fatululi yang lebih nyaman dan memang dirancang khusus untuk kantor sebuah penerbitan koran.

Jumat malam 5 Januari 2018
Secara pribadi dan bersama rekan-rekan saya merasa  bangga, bersyukur dan bahagia. Ya, bersyukur kepada yang Maha Pengasih karena  bisa memberi secuil  kontribusi untuk hadirnya tempat baru yang lebih representatif.

Sebagai orang yang terlibat sejak koran ini pertama kali hadir di Nusa Tenggara Timur  (NTT)  1 Desember 1992,  kami setidaknya mewariskan sesuatu yang lebih baik kepada generasi penerus Pos Kupang.

Sejak tanggal  6 Januari 2018 produksi berita Pos Kupang mulai dari kantor baru di Fatululi, samping RSU  Siloam Kupang. Bau cat masih terasa menyengat. Toilet bersih.  Ruangan ber-AC. Kursi dan meja kerja yang baru. Cuma perangkat komputer masih yang lama dan lelet  (hahahahaa....)

Sipri Seko, Ferry Jahang dan Novri Nuban
Kami pindah hanya dua hari sebelum acara peresmian kantor baru. Dua pekan sebelumnya, teman-teman percetakan sudah lebih dulu pindah ke kantor baru. Senin 8 Januari 2018 kantor baru diresmikan.

Uskup Agung Kupang, Mgr. Petrus Turang, Pr memimpin perayaan misa peresmian gedung kantor baru Pos Kupang  bersama Romo Rudi Tjung Lake, Pr,   Romo Maxi un Bria, Pr,  Pater Philipus Tule,SVD  dan Pater Edu Dosi, SVD. Yang Mulia Uskup Agung Kupang memberkati ruang kerja kami yang baru. Kami bersyukur atas kehadiran beliau.

Hadir pimpinan kami dari Jakarta yaitu Wakil CEO Media Grup, Bapak Sentrijanto dan Wakil Pemimpin Umum Pos Kupang, Ciptyantoro.  Hadir juga Komisaris  PT Timor Media Grafika, Damyan Godho dan Direktur Utama PT Timor Media Grafika, Fauzan Marasabesy yang datang dari Bali.

Bildad Lelan dan Yuven Helmi
Tak ketinggalan para  undangan yang merupakan para mitra dan kolega kami. Memang banyak yang tak sempat hadir karena saat yang sama ada kunjungan Presiden Joko Widodo ke Kupang. Jokowi yang rajin blusukan ke NTT memang sedikit 'mengacaukan' agenda kami.  Hmm

Hari Senin 8 Januari  yang istimewa dan unik. Dua kali saya "memaksa"  Walikota Kupang, Dr. Jefri Riwu Kore datang ke kantor baru untuk tanda tangan prasasti. Cerita singkatnya begini.

Ketidakhadiran Pak Jefri pada Senin pagi kami maklumi karena beliau harus menyambut kedatangan Presiden Jokowi di Kota Kupang serta pada pukul 11.00 Wita dalam kapasitasnya sebagai ketua DPD Partai Demokrat NTT -- mengantar pasangan Benny K Harman-Benny Litelnoni ke kantor  KPU NTT untuk mendaftar sebagai paslon Gubernur-Wagub NTT.

Dafris bongkar komputer di ruang kerjaku
Kira-kira jam 11.30 Wita saya misscall beliau. Satu jam kemudian dapat balasan via WA, bagaimana Pak Dion? Saya sengaja tidak langsung menjawab. Eh kira-kira pukul 13.30 Wita telepon masuk dari staf protokol Setda Kota yang memberitahu bahwa Pak Jefri sedang meluncur ke kantor baru Pos Kupang.

Saya tidak menyangka dapat kejutan itu. Lima menit kemudian Pak Jefri benar- benar sudah di depan kantor baru kami yang jalannya masih becek selepas hujan. Dengan gayanya yang santai Pak Jefri masuk ke dalam kantor, menyalami teman- teman. Mengucapkan selamat kepada kami menempati gedung kantor yang baru.

Niko Sine dan Iyan Wonga
Saat itu di kantor unsur pimpinan hanya saya sendiri. Pemimpin Perusahaan, Marina Napitupulu ada urusan di luar kantor. Pimpinan kami dari Jakarta, Pak Sentrijanto dan Ciptyantoro pun sudah pulang ke Hotel Aston untuk beristirahat sejenak karena pada pukul 16.00 ada acara lagi yaitu gathering bersama agen dan pengecer.

Saya sempat tergoda untuk langsung memberi kesempatan Pak Jefri menandatangani prasasti peresmian yang sudah kami siapkan. Toh beliau sudah datang. Tapi saya tersadar bahwa penandatanganan prasasti itu mesti "diacarakan" dan harus disaksikan pimpinan kami dari Jakarta, komisaris, direksi.

Maka saya pun dengan agak memaksa meminta Pak Jefri berkenan datang lagi ke kantor pukul 16.00 Wita. Walikota Kupang yang baru menjabat lima bulan lebih itu langsung mengiyakan. "Aman sa kaka Dion, nanti sore beta datang lagi," kata Pak Jefri dalam dialek Kupang.

Dan, beliau menepati janjinya. Setelah semua persiapan kami beres, pada pukul 16.30 Wita hari Senin 8 Januari 2018 itu, Pak Jefri kembali ke kantor baru kami dan menandatangani prasasti disaksikan  Pak Sentrijanto, Ciptyantoro, Fauzan,  karyawan Pos Kupang, para agen dan pengecer. Acara malah berlangsung seru. Pak Jefri sempat berdialog dengan para agen dan pengecer.

Kantor baru kami ini menorehkan tanggal cantik. Peletakan batu pertama pembangunan kantor Pos Kupang pada tanggal 7 Juli 2017 (7-7-17) oleh Direktur Group of Regional Newspapers, Bapak Herman Darmo.

Peresmiannya pada 8-1-18 ditandai misa syukur dipimpin oleh Yang Mulia Uskup Agung Kupang dan penandatanganan prasasti oleh Walikota Kupang, Dr. Jefri Riwu Kore. Kantor baru kiranya memberi spirit baru untuk lebih baik. Terima kasih Jl. Kenari 1 Kupang.  (dion db putra)

25 Tahun Pos Kupang


Damyan Godho
Oleh: Damyan Godho
Pendiri

BAHAGIA, itulah rasanya pengelola saat surat kabar ini setelah menjalani hari-hari panjang 25 tahun, sejak berdiri 1 Desember 1992. Bahagia karena hari hari panjang -sejak masa keperintisan dan pengembangan-di tengah terpaan berbagai masalah dan tantangan, bisa dilewati.

Bagaimana memulai penerbitan surat kabar di suatu provinsi yang serba tidak punya sesuatu pun  -semua yang di tahun 1992 pasti mengetahui kondisi saat itu -boleh dibilang sebagai keberhasilan yang sungguh membahagiakan meski masih sangat minimal.

Maka, sebagai pendiri yang tinggal satu-satunya -setelah ditinggal pergi oleh almarhum Valens Goa Doy dan almarhum Rudolf Nggai-bersama segenap pengelola hari hari ini,  tidak boleh tidak haruslah bersyukur dan berterima kasih.

Pertama, kepada Yang Maha Kuasa Kuasa karena kuasa penyelenggaraanNya sudah pasti menuntun dan melindungi usaha dan kerja keras pengelolanya.


Kedua, kepada masyarakat pembaca yang menerima kehadiran surat kabar ini apa adanya, sejak terbit awal 1 Desember 1992  hingga mencapai usia 25 tahun.

Sekadar kilas balik, Kupang, ibukota Provinsi NTT di tahun 1992 adalah salah satu dari sekian ibukota provinsi yang belum punya surat kabar harian. Untuk memulai penerbitan surat kabar ini, yang ada hanyalah tekad  dan semangat mau bekerja keras.

Tak ada satu pun bahan baku cetak di daerah ini selain didatangkan dari Jawa. Sumber daya manusia pun sama. Semuanya harus ditangani simultan menjadikannya sebagai suatu pekerjaan "gila".

 Tak heran, tak sedikit orang  yang menyangsikan kemungkinan tekad dan usaha "gila" ini bisa berhasil. Terutama karena cita-cita ambisius, ingin menjadikan Pos Kupang sebagai surat kabarnya warga NTT di mana pun, dengan moto: Suara Nusa Tenggara Timur.

Semua hal di atas, bukannya tak disadari. Ini bahkan memperkokoh semangat menerbitkan surat kabar Pos Kupang dan menjadikannya sebagai tantangan maha berat yang harus dihadapi. Yaitu tidak hanya menjadi sumber informasi, tetapi lebih dari itu  bertekad menjadi perintis budaya membaca, menjadikan warga daerah ini suka membaca, budaya baru bagi warga daerah yang kekurangan sarana baca saat itu. 

Ibarat menanam pohon di tanah kering dan keras semisal Pulau Timor.  Hanya tanaman keraslah yang dapat tumbuh dan hidup di atas tanah kering dan keras, menanam dengan semangat keras dan terus bersemangat, apapun keadaannya.

Bagaimana menanamkan kegemaran dan menjadikannya budaya membaca di tengah tingginya tingkat buta huruf warga NTT dengan daya beli dan minat baca yang rendah? Menjangkau wilayah terisolir  NTT hanya melalui transportasi udara dari Kupang? Di tengah sekitar  50 kelompok etnis/budaya dengan 200-an dialek lokal, yang mau tak mau keragaman dan aspirasinya harus dimengerti dengan benar?

Maka bagi saya, pendiri surat kabar ini yang tersisa, ingin mengingatkan generasi penerus bahwa hutang besar kepada warga NTT adalah menuntaskan budaya membaca  yang rasanya masih harus ditumbuhkan sekuat-kuatnya.

Jika tiras surat kabar ini bertumbuh misalnya, penting diketahui sejauh mana pengaruhnya terhadap pertumbuhan budaya membaca? Tentu saja ada ukuran lain untuk menilai keberhasilan Pos Kupang menumbuhkan budaya membaca, terutama saat munculnya pers bebas awal dekade 2000-an.

Hari-hari ini pertumbuhan dan perkembangan dunia pers sekitar kita berlangsung begitu cepat akibat berbagai  perubahan luar biasa  yang tidak terbayangkan, yang datang tanpa kompromi dan tanpa terduga. 

Semisal, pergantian generasi baru  yang  tuntutan, harapan, gaya hidup dan  cita rasanya  tentang  media massa yang umumnya berubah.

 Perkembangan teknologi informasi dan media massa yang dengan dahsyat mempengaruhi  hidup matinya media cetak. Ramalan bahwa zaman media cetak seperti Pos Kupang hanya tinggal hitung hari, harus disadari bukan sekadar rekaan tetapi harus disikapi dengan benar.

Semua yang dicapai Pos Kupang hingga kini, bolehlah dibanggakan sebagai
keberhasilan, yang harus disertai kesadaran bahwa masih banyak catatan sebagai hutang. Terutama budaya membaca yang rasanya belum atau kurang  bertumbuh sesuai impian besar 25 tahun lalu.

Jika kegemaran membaca atau budaya membaca menjadi ukuran kemajuan masyarakat, kini penting dievaluasi seberapa jauh surat kabar harian pertama di NTT ini telah berperan  menumbuhkan budaya membaca yang harapannya ikut mendorong perubahan dan kemajuan daerah ini.

Tak bolehlah berbangga jika dari sudut ekonomi dan kesejahteraan pengelola berubah menjadi lebih baik, jika budaya membaca warga NTT begitu begitu saja, belum bertumbuh.  Menjadi hutang besar bagi warga daerah ini yang menerima dan membanggakan kelahiran Pos Kupang 25 tahun lalu.

Mengawali usia ke-26 dan seterusnya, pengelola Pos Kupang yang diwarnai oleh kehadiran generasi baru, perlu belajar menempatkan diri, menyegarkan peranannya dan beradaptasi menghadapi perubahan baru yang beragam dan  sangat kompleks.

Jika masih konsisten dengan tekad membangun budaya membaca warga NTT, hal itu mesti dimulai dari unsur pengelola sendiri: punya budaya membaca dan  terus belajar.

Jika orang pers suka dipandang sebagai pembawa perubahan, maka orang pers sendiri harus mulai dari dirinya. Belajar untuk mencerdaskan diri bagi sesama, dan belajar memahami kebutuhan warga  pembaca dengan mempertebal kepekaan sebagai pekerja pers profesional.

Salah satu syarat profesional yang saya pahami ialah menjadikan kerja keras sebagai ibadat. Persaingan dengan beragam media, cetak maupun elektronik, atau apapun modelnya nanti, akan semakin tajam dan  bisa saling membunuh.

 Tak akan ada yang menolong, jika tak siap. Di lingkungan internal pengelola Pos Kupang,  menjadi mutlaklah suatu sistem kerja sama terpadu antarsemua unsur.

Membangun pasar  masih sangat memungkinkan meski serbuan teknologi komunikasi dan informasi sudah merasuki daerah ini melalui perkuatan berbagai hal seperti percetakan, digitalisasi perangkat dan fasilitas kerja.

Di masanya saat surat kabar harian ini ditumbuh-kembangkan di waktu lalu, ia telah menjadi semacam pesemaian, tempat berbagai bakat dan minat bertumbuh dan berkembang bersama.

Tidak hanya menjadi pekerja pers berbagai media di mana-mana. Ada yang menjadi politisi (kepala daerah dan anggota DPRD), pekerja eksekutif, wiraswasta, aktivis sosial dan keagamaan  dan lain lain. Mereka, dengannya kami bekerja sama sangat keras sambil terus belajar bersama tentang apa yang mesti dikerjakan.

 Suatu kebahagiaan lain dari kebanggaan dan keberhasilan berikut mengembangkan Pos Kupang sebagai surat kabar harian pertama dan terbesar di NTT hari ini. Terima kasih kepada semua...Para pekerja dan terutama warga NTT yang menjadikan Pos Kupang sebagai bacaannya.*

Sumber: Pos Kupang 4 Desember 2017 halaman khusus jaket

Kolaborasi Harga Mati


Febby Mahendra Putra
Oleh: Febby Mahendra Putra
GM Newsroom Tribun Network

KETIKA surat kabar harian ini lahir, 1 Desember 1992 lalu, para pendiri dan seluruh kru Pos Kupang tentu tak pernah membayangkan apa yang terjadi 25 tahun kemudian.

Nyatanya, apa yang terjadi saat ini, ketika Pos Kupang berusia 25 tahun, muncul fenomena yang sangat mengejutkan yaitu terjadinya disruption (gangguan perubahan zaman) dan munculnya generasi milenial.

Sebuah masa ketika orang menjadi sangat tergantung kepada gadget bernama smartphone dan kuota internet.  Muncul 'manusia baru' yang diberi julukan warga internet (netizen alias internet citizen), yang saling terhubung satu sama lain meski secara fisik belum tentu saling mengenal.


Tatanan lama, termasuk di dunia bisnis media, seolah jungkir balik. Di satu sisi kondisi itu menjadi ancaman. Namun, sebuah pepatah mengatakan di tengah ancaman pasti ada peluang. Kejelian menjadi kuncinya.

Sejak tujuh tahun lalu, Pos Kupang bersama Tribun Group Kompas Gramedia sebagai induk perusahaan, telah melihat fenomena seperti terjadi saat ini bakal muncul. Sebuah masa ketika informasi tak lagi tergantung kepada kertas (paperless) dan dapat diakses secara mobile.

Pada usia yang tak muda lagi, Pos Kupang yang lahir sebagai media massa cetak, telah bermetamorfosis dan berkonvergensi untuk menjawab tantangan zaman. Sajian informasi tidak hanya dapat dinikmati melalui Pos Kupang versi cetak tetapi juga melalui platform digital, www.pos-kupang.com.

Portal berita digital itu merupakan complementary (pelengkap) platform cetak yang lebih dulu lahir. Puji syukur, setidaknya setiap bulan dikunjungi sekira 1,5 juta visitor tiap bulan atau sedikitnya 50 ribu per hari. Sebuah news portal terbesar, dalam pengertian jumlah visitor, di wilayah Nusa Tenggara Timur.

Memang, sebagian besar pembaca portal berita yang dikelola Pos Kupang merupakan kelompok muda dewasa alias Generation Y (25-34 tahun) dan milenial (18-24). Mereka memang akrab dengan dunia digital dan sosial media sehingga disebut sebagai netizen.

Meski begitu kami meyakini para netizen tetap perlu mengakses Pos Kupang versi cetak. Mengapa? Karena kru Pos Kupang selalu menyajikan laporan-laporan mendalam dan eksklusif, yang tentu kurang nyaman manakala dinikmati melalui smartphone atau mobile devices.

Pos Kupang, sebagaimana media massa Group Tribun yang tersebar di seluruh Indonesia,  menyajikan liputan-liputan eksklusif yang sering kali menjadi trend setter (viral) dan sebagai  rujukan pengambil kebijakan publik.

Hasil liputan eksklusif di edisi cetak semakin mempunyai daya gedor setelah dikemas ulang melalui tiga portal digital Pos Kupang. Sebaliknya, konten-konten liputan eksklusif  tak jarang bersumber dari `bisik-bisik' netizen di media sosial atau status pribadi pemilik akun media sosial (medsos) yang kemudian kami verifikasi.

Berkolaborasi dengan para netizen mau tak mau harus dilakukan. Berubah dan mengikuti perkembangan zaman merupakan sebuah keniscayaan zaman. Begitu pula inovasi di produk dan pelayanan kepada para stakeholder. Bangga berubah merupakan harga mati. *

Sumber: Pos Kupang 4 Desember 2017 halaman khusus jaket

Tonggak Bersejarah 1 Desember 1992


SEJARAH lahirnya Harian Pagi Pos Kupang  tidak bisa dilepaspisahkan dari sosok Damyan Godho. Di tengah beragam keterbatasan, Damyan Godho berjuang keras menghadirkan koran harian pertama di Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) pada penghujung tahun 1992 silam.

Jauh  sebelum membidani kelahiran Harian Pagi  Pos Kupang, Damyan Godho atas dorongan Gubernur NTT  El Tari, pada tanggal 5 Desember 1977 menerbitkan Mingguan Kupang Post di Kupang. Mingguan setebal empat halaman tersebut dicetak di Percetakan Arnoldus Ende di PulauFlores.

Isinya menyangkut hal-hal umum berkaitan dengan kebijakan pemerintah daerah dan kepentingan masyarakat. Mingguan Kupang Post terbit atas rekomendasi Kantor Wilayah (Kanwil) Departemen Penerangan (Deppen) NTT dan surat izin terbit (SIT) dari Menteri Penerangan RI. Pemimpin redaksinya Damyan Godho yang pada waktu itu juga wartawan Harian
Kompas Jakarta untuk wilayah NTT.

Ketika Damyan berhenti sebagai pemimpin redaksi pada tahun 1978, pengelolaan Kupang Post diteruskan  Kanwil Departemen Penerangan (Deppen) Provinsi  NTT. Namun,  karena pengelolaan jauh dari sentuhan profesionalisme, Kupang Post berhenti terbit sekitar tahun 1983/1984.

Di Kota  Kupang, sejak matinya Kupang Post, nyaris tidak ada terbitan media massa umum. Masyarakat di ibukota provinsi NTT ini  hanya membaca Majalah Dian terbitan Ende (Flores)  dan sejumlah surat kabar harian terbitan Jakarta, sebut misalnya Kompas, Suara Karya, Sinar
Harapan, Media Indonesia, Majalah Tempo, Mingguan Hidup dan Bali Post.

Media-media ini juga menempatkan wartawannya di NTT, yang  rutin mengirim berita-berita menyangkut NTT ke kantor pusat redaksinya. Kendati demikian, pemerintah senantiasa mendorong supaya ada media cetak lokal di Kupang.

Maka, pada tahun 1987 Menteri Penerangan RI Harmoko mendirikan Percetakan Negara Republik Indonesia (PNRI) Kupang. Maksudnya mendorong tumbuhnya media cetak lokal di Kupang.Harmoko bahkan sempat mendorong koleganya  Damyan Godho, namun hal itu tidak segera terwujud karena terbatasnya modal dan sumber daya manusia wartawan.

Sampai tahun 1992, NTT tercatat sebagai satu dari enam provinsi di Indonesia yang belum memiliki media cetak harian. Karena itu Harmoko saat bertemu Damyan Godho di Bajawa 22 April 1992, sekali lagi mendorong rekannya itu menerbitkan koran  dengan memberi kemudahan
memperoleh SIUPP (Surat Izin Usaha Penerbitan Pers), sehingga terbitlah Harian Pos Kupang pada tanggal 1 Desember 1992.

Surat Kabar  Harian Pos Kupang didirikan bersama oleh Damyan Godho, Valens Goa Doy  dan Rudolf Nggai, berdasarkan SIUPP No: 282/SK/Menpen/SIUPP/A.6/1992, tanggal 6 Oktober 1992. Sejak itu ketiga tokoh perintis ini mulai mengumpulkan orang-orang NTT, baik untuk
menjadi wartawan maupun menjadi pengelola bisnisnya. Harian Pos Kupang tercatat sebagai harian pertama dalam sejarah NTT dengan peredaran menjangkau semua kabupaten yang ada di kawasan Flobamora.

Untuk mengatasi kesulitan distribusi akibat kondisi NTT sebagai daerah kepulauan, pada 25 Maret 1998 Pos Kupang melaksanakan cetak jarak jauh di Percetakan Arnoldus Ende untuk melayani pembaca di seluruh Flores dan Lembata. Namun pada tahun 2001, Pos Kupang berhenti cetak jarak jauh di Ende lalu mulai dengan cetak jarak jauh di Maumere menggunakan
mesin cetak sendiri.

Hal yang sama dilakukan di Ruteng sejak Oktober 2004 sampai sekarang untuk melayani pembaca di Manggarai, Manggarai Barat, Manggarai Timur  dan Ngada. Sejak tahun 1997, Pos Kupang juga menjadi media elektronik yang bisa dibaca melalui internet di seluruh dunia.

Krisis ekonomi pada tahun 1997 menjadi tantangan tersendiri bagi Pos Kupang. Kenaikan harga material cetak yang sangat tajam ketika itu sempat membuat Pos Kupang seperti kapal yang sedang dihempas gelombang hebat.

Tapi Pos Kupang berhasil melewati tantangan itu, bahkan boleh dibilang tantangan membuat Pos Kupang semakin matang menghadapi badai tantangan.Pos Kupang semakin maju dan bertahan hidup sampai usianya 25 tahun pada 1 Desember 2017. Berbagai prestasi telah ditorehkan media ini.

Pada tahun 2006, misalnya,  Pos Kupang menerima penghargaan sebagai salah satu dari 10 koran terbaik nasional pada tahun 2005 menurut penilaian Dewan Pers. Pada awal  tahun 2017 ini Pos Kupang meraih penghargaan sebagai koran dengan tata wajah terbaik di wilayah Bali dan Nusa Tenggara (Silver Winner Indonesia Print Media Award atau IPMA 2017). Penghargaan IPMA
seolah menjadi kado spesial saat Pos Kupang merayakan hari jadinya yang ke-25 pada 1 Desember 2017. (osi)

Sumber: Pos Kupang 4 Desember 2017 halaman khusus jaket

Bergabung dengan Kompas Gramedia


Edisi khusus HUT ke-25 Pos Kupang
ONAK dan duri mewarnai perjalanan Harian Pagi Pos Kupang selama 25 tahun terakhir. Pada awal kehadirannya di penghujung tahun 1991, tak sedikit tokoh NTT yang pesimistis mengenai kelangsungan hidup koran ini. Ada yang prediksi usianya hanya seumur jagung. Tak akan bertahan lebih dari enam bulan atau setahun.

Perjalanan hidup Pos Kupang selama seperempat abad memang tak luput dari turbulensi. Menurut Damyan Godho, hingga akhir 1994 Pos Kupang hanya terbit 3.000-an eksemplar, jumlah tiras yang sebenarnya mustahil bagi keberlansungan hidup. Pendapatan yang semata-mata dari hasil jual koran sangat tidak memadai.

 Iklan sebagai sumber pendapatan di samping jual koran, tak bisa diharapkan. Tak ada mau yang beriklan karena belum percaya manfaat iklan. "Sonde usah pakai iklan. Orang ju tahu,"  kata pengusaha Kupang dengan dialek Kupang kala itu.


Kondisi berat di atas, kata Damyan,  diperparah oleh sikap hampir 90 persen agen atau distributor nakal yang tidak membayar. Tak sedikit piutang yang tak tertagih. Hal ini bisa terjadi karena sistem adminitrasi bisnis surat kabar belum tertata dengan baik.


 Pada tahun awal 1994, Pos Kupang terbit dengan keras HVS warna putih, biru, kuning, hijau. Tak sedikit pembaca mengira sebagai kemajuan. Tak tahunya, kondisi Pos Kupang sedang sangat parah dan cetak warna-warni hanya karena tekad manajemen  "Tidak boleh pernah, tidak terbit sehari pun."

Tiga tahun setelah terbit, Pos Kupang mengalami situasi sangat berat. Seperti dikatakan Damyan Godho, kala itu Rudolf Nggai sebagai salah satu pemegang saham mengundurkan diri. Mundurnya Rudolf segera berakibat pada `kehilangan' tempat kerja di jalan Jenderal Soeharto
No. 53 Kupang.

Beruntung datang jasa baik dari Sungarno Siyayanto yang menawarkan tempatnya di Jalan Kenari No. 1 dengan  biaya kontrak sangat murah. Rumah dua lantai  ini selanjutnya menjadi markas besar Pos Kupang.

Tidak itu saja, beberapa saat kemudian diikuti Valens Goa Doy menarik sahamnya. Maka tinggal Damyan Godho sendirian sebagai pemilik saham. "Jadi saya akhirnya menjadi single fighter mengembangkan Pos Kupang ketika keduanya mengundurkan diri," kata Damyan Godho, Selasa (21/11/2017).

Kondisi Pos Kupang yang berat itu diperparah lagi dengan tidak ada satu pun materian cetak dijual di Kota Kupang bahkan NTT, misalnya, kertas, tinta, plat. Semua material cetak itu didatangkan dan harus dibeli secara tunai di Surabaya.

Kondisi di atas menyebabkan soal sangat mendasar yakni kesejahteraan karyawan tidak tertangani.  Namun, dalam situasi sangat kristis ini, kata Damyan Godho, sejumlah karyawan diam-diam melakukan suatu hal yang "sangat luar bisa".

Mereka bukannya mempersoalkan perbaikan kesejateraan tetapi sepakat menurunkan gajinya 50 persen. Padahal gaji mereka pada akhir tahun 1994 hingga 1995  begitu kecil tak mungkin untuk hidup minimum dalam bulan sekalipun. Sekitar Rp 60.000 hingga Rp 100.000 sebulan.

Dalam kondisi yang berat itu Kelompok Kompas Gramedia pimpinan Jakob Oetama menawarkan merger yang langsung ditanggapi pendiri Pos Kupang. Maka sejak medio 1995, Pos Kupang resmi bernaung dalam manajemen Kompas Gramedia. Ketika merger, Pos Kupang hanya memiliki mesin cetak tua, Rolland Rekord buatan tahun 1972 serta sejumlah komputer yang
sangat kuno dan sarana kerja terbatas.

 Semuanya dalam kondisi hampir tiada hari tanpa ngadat. Seiring berjalannya waktu terjadi peremajaan perangkat kerja yang lebih berkualitas. (osi)

Sumber: Pos Kupang 4 Desember 2017 halaman khusus jaket

Pos Kupang: Portal Berita Online Nomor Satu di NTT


DUA puluh lima tahun melayani masyarakat Nusa Tenggara Timur (NTT), Harian Pagi Pos Kupang tiada henti berinovasi demi menjawab kebutuhan pembaca yang terus berubah. Kekurangan dan keterbatasan selalu ada, namun tidak menghentikan ikhtiar seluruh karyawan-karyawati media ini untuk memberi yang lebih baik.

Seiring booming internet penghujung 1990-an, Pos Kupang merintis layanan berita online. Sebagai bagian dari Grup Kompas Gramedia, Pos Kupang tidak ketinggalan mengikuti setiap langkah perubahan grup ini merepons perkembangan zaman.

Ketika Harian Kompas mengembangkan Kompas Cyber Media (KCM) tahun 1998, Pos Kupang pun ikut mengambil bagian meskipun dalam kondisi serba terbatas. Bulan Februari 1998 merupakan tonggak sejarah Pos Kupang melayani pembaca dalam versi online.


Generasi pertama layanan online Pos Kupang sangat terbatas. Hanya beberapa item berita yang ditayangkan dalam sepekan. Adminnya terpusat di Jakarta.  Pada waktu itu, pengunggahan berita online dilakukan secara manual dengan meng-coding setiap halaman web secara manual dalam bahasa pemrograman model  HTML.

Di atas tahun 2000 seiring meningkatnya  popularitas internet di kalangan masyarakat, layanan berita online kami bertambah secara kuantitas. Berita edisi cetak Pos Kupang ditayangkan juga dalam versi digital keesokan harinya sehingga pembaca dari berbagai tempat yang dapat mengakses internet dapat menikmati informasi dari Nusa Tenggara Timur.

Sepuluh tahun setelah KCM bergulir, lagi-lagi Grup Kompas Gramedia melakukan terobosan dengan menghadirkan Mega Portal pada tahun 2007. Dalam spirit sinergi-konvergensi seluruh kekuatan grup menyatu. Pos Kupang pun tidak mau ketinggalan meningkatkan kualitas layanan online melalui www.pos-kupang.com.

Jumlah berita makin bertambah dengan konten yang lebih variatif. Layanan online kami mendapat sambutan yang sangat baik dari pembaca terutama yang berdomisili di luar Nusa Tenggara Timur.

Kini layanan online Pos Kupang boleh dilukiskan memasuki gelombang ketiga dengan status sebagai portal berita online  nomor satu di Nusa Tenggara Timur.

Tonggak sejarah itu dimulai tahun 2010 ketika Direktur Kelompok Koran Daerah Kompas Gramedia, Bapak Herman Darmo menginstruksikan seluruh pimpinan unit koran daerah serius menggarap online. Online menjadi divisi sendiri yang dikelola dengan sungguh-sungguh sebagaimana edisi print (cetak).

Seluruh koran daerah termasuk Pos Kupang membenahi online secara total dengan dukungan  jaringan Tribun (Tribunnews Network). Berita kami sajikan secara realtime dan liputan on the spot. Hanya lima sampai 15 menit pascakejadian sudah diberitakan secara online. Berita itu pun
terus diperbarui dalam tempo 30 menit atau satu jam bahkan sepanjang hari manakala ada informasi terbaru atau keterangan lain yang terkait dan relevan dengan peristiwa.

Dengan dukungan wartawan yang bertugas di semua kabupaten dan kota di Provinsi NTT, berita Pos Kupang sangat variatif. Mulai dari masalah kriminalitas, politik, pemerintahan, sosial budaya hingga gaya hidup. Dan, kami tidak lagi sekadar mempublikasikan teks berita dan foto.
Kami juga  menyajikan dalam format audio visual (video).

Dalam sehari kami bisa menghasilkan lebih dari 100 berita. Tingkat kunjungan (visitor unik) Pos Kupang saat ini sudah berada pada level 100 ribu per hari. Berdasarkan peringkat Alexa, situs kami www.pos-kupang.com atau kupang.tribunnews.com merupakan portal berita online nomor satu di bumi Flobamora sehingga merupakan media promosi yang andal bagi siapa pun dengan benefit  terukur. (osi)

Sumber: Pos Kupang 4 Desember 2017 halaman khusus jaket

Like & Follow Us


ilustrasi
PERKEMBANGAN zaman menuntut Pos Kupang untuk membuat terobosan-terobosan guna memenuhi kebutuhan informasi yang benar dan terverifikasi bagi para pembacanya. Tak hanya print (cetak) dan online (website/laman), serta epaper dan video (audio visual), pembaca modern semakin berkembang dengan memasuki era milenial.

Mereka yang sangat akrab dengan komunikasi, media, dan teknologi digital memunculkan media baru yang mengandalkan pada jaringan internet sebagai media distribusi utama pesan-pesan yang ada dalam media tersebut.

Kemunculan sejumlah penyedia jejaring ini, seperti Facebook (2004) lalu disusul Twitter (2007), dan berbagai media daring lain, seperti Google+ , Youtube, Instagram, Path, Tumblr, Telegram, dan Whats App, membuat perubahan budaya untuk mendapatkan informasi di kalangan masyarakat.

Berbagai jejaring sosial atau social network ini merupakan sebuah jejaring online yang memuat interaksi dan relasi interpersonal yang memungkinkan pengguna untuk berkomunikasi dengan cara betukar informasi, berkomentar, mengirim pesan personal, mengirim gambar, video, dan lain sebagainya.

Mulai dari live streaming hingga vlog. Bukan hanya kalangan remaja dan masyarakat biasa, sampai para selebriti, tokoh masyarakat, pejabat, hingga Presiden RI, Joko Widodo (Jokowi) pun berselancar di dunia media sosial ini.

Data Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia (APJII) pada tahun 2016 menyebutkan, sebanyak 132,7 juta masyarakat Indonesia atau sekitar 51,5 persen dari total jumlah penduduk Indonesia terhubung dengan internet, dan sebanyak 95 persen aktivitas yang mereka lakukan adalah adalah membuka media sosial.

Bahkan Indonesia disebut-sebut masuk lima besar negara dengan pengguna sosial media paling aktif dan paling banyak. Salah satu alasan yang paling kuat mengapa hal tersebut bisa terjadi adalah karena perangkat-perangkat internet mobile semakin terjangkau harganya bagi masyarakat sehingga memungkinkan penetrasi jaringan pada user yang lebih luas.

Perkembangan gawai turut mendukung perkembangan akses media sosial. Telepon genggam pintar seperti Android, iOS, dan lain sebagainya, beserta beragam model IoT seperti phablet, tablet, dan lain sebagainya turut menyumbang pada semakin luasnya akses internet dan media sosial bagi masyarakat.

Saat ini media sosial tidak hanya digunakan sebagai platform komunikasi dan sosialisasi, tetapi juga digunakan untuk kepentingan politik, pemerintahan, dan lain sebagainya sebagaimana yang terjadi pada pemilu presiden pada tahun 2014 yang sebagian besar kampanye sangat masif dilakukan melalui internet dan media sosial. Konstruksi realitas sosial terhadap suatu informasi atau peristiwa tertentu sangat mudah dilakukan dengan media sosial.


Tak semua perkembangan ini membawa dampak positif, tetapi juga membawa sisi hitam. Berbagai berita hoax juga bermunculan di dunia media sosial ini. Berita-berita hoax ini pula memberikan dampak negatif bagi kehidupan nyata.

Perkembangan ini pula yang akhirnya membuat Pos Kupang untuk turut serta berkecimpung di dalamnya. Dengan pengalaman selama puluhan tahun menyajikan berita-berita yang akurat, kredibel, dan independen baik di print (cetak) dan online, Pos Kupang mencoba untuk memenuhi kebutuhan informasi bagi para nitizen akan berita yang benar dan terakurasi. Langkah ini juga untuk memerangi hoax.

Maka Pos Kupang mulai serius mengelola daring sosial ini. Selain laman www.pos-kupang.com atau www.kupang.tribunnews.com dan http://pos-kupang.com/epaper, berbagai akun media sosial aktif milik Pos Kupang dijalankan. Ada Fanpage Facebook dengan nama pos- kupang.com,  Twitter dengan akun @poskupang, Google+ dengan akun poskupang, Youtube dengan akun Pos Kupang, dan Instagram dengan akun  pos_kupang. Selain itu, Pos Kupang juga memiliki akun media sosial Facebook teenager.poskupang dan Instagram teenager_poskupang yang disajikan bagi para kalangan muda.

Pos Kupang juga memberikan berita paling kini di media sosial khusus bagi para pembaca sekalian. Di antaranya dengan menyajikan laporan secara langsung (on the spot) dalam laman Facebook live streaming pos-kupang.com. So, Like dan Follow us. (bet)

Sumber: Pos Kupang edisi 4 Desember 2017 halaman khusus jaket

Pos Kupang Mencerdaskan Masyarakat


Edisi khusus HUT ke-25 Pos Kupang
Drs. Frans Lebu Raya
Gubernur NTT
Saya mengucapkan selamat buat Pos Kupang. Pos Kupang telah turut membangun NTT melalui pemberitaan yang mencerdaskan dan terus membangun optimisme masyarakat NTT.

 Pos Kupang juga telah turut mengawal dn mendorong percepatan pembangunan NTT. Terima kasih buat Pos Kupang. Teruslah berjuang dengan landasan cinta kasih membangun optimisme masyarakat agar NTT menjadi lebih maju. Jadilah media kebanggaan NTT. Yang obyaktif, jujur dn terpercaya. (osi)

Irjen Pol  Drs Agung Sabar Santoso SH MH
Kapolda NTT
HARIAN Pos Kupang tetaplah menjadi media yang dapat mencerdaskan kehidupan masyarakat. Dapat mengkomunikasikan hal-hal positif  guna kemajuan NTT. Teruslah menjadi media yang mandiri, independen, kritis, dan bangga berubah. (aa)

Ireni Alexandria Garu
Putri Pariwisata NTT 2017
SAYA suka baca Pos Kupang yang selalu menghadirkan berita aktual, bermanfaat, Tampilan koran Pos Kupang saat ini semakin menarik dengan adanya Teenager di mana dari situ anak muda NTT bisa memberikan komentar positif mereka. Selamat Ulang Tahun Pos Kupang yang ke-25, Bangga Berubah. (gg)

Jefri Riwu Kore
Walikota Kupang
ATAS nama Pemerintah Kota Kupang mengucapkan selamat ulang tahun Harian Pos Kupang. Harapan saya  terbesar saya, Pos Kupang semakin maju dan Pos Kupang menjadi salah satu pengkritik pemerintah dalam hal-hal yang memang pemerintah tidak berbuat sebagaimana mestinya. Terima kasih. Tuhan memberkati.  (yen)

Bobby Pitoby
Ketua DPD REI NTT
POS Kupang bisa menjalankan amanat masyarakat melalui pemberitaan.  Ke depan Pos Kupang harus lebih besar dan lebih bagus untuk menjalankan amanat masyarakat. Dan dalam pemberitaan tidak bias terhadap pihak tertentu atau politik tertentu. Selamat buat Pos Kupang. Bangga Berubah. (ira)

H. Anwar Pua Geno, S.H
Ketua DPRD NTT
POS Kupang tetaplah eksis dan menjadi obor di NTT. Saya berharap Pos Kupang tetap menjadi corong aspirasi masyarakat NTT, ?bagi seluruh elemen pemerintahan, serta turut menjadi nilai-nilai demokrasi, Pancasila, UUD 45, Bhineka Tunggal Ika, dan NKRI. Karena itu Pos Kupang bisa membawa cahaya terang bagi masyrakat NTT.  (yel)

Polikarpus Keha Si
Mahasiswa FISIP Universitas Nusa Cendana Kupang
Saya sering membaca Pos Kupang baik cetak maupun situs online. Pos Kupang juga member ruang kaum muda untuk berekspresi seperti opini, cerpen, puisi, dan sebagainya. Harapan saya adalah Pos Kupang harus bebas dan berani perangi hoax. (gg)

Christine Wakano
Siswi SMA Negeri 3 Kupang
POS Kupang tetaplah eksis dan menjadi media yang dekat dengan anak muda.  Terus berinovasi dengan terus menciptakan konten-konten kreatif yang disukai anak muda. Selamat ulang tahun Pos Kupang. Kami bangga Pos Kupang berubah. (aa)

Fera Keti
Ketua Rumah Kreatif Oebobo
Pos Kupang merupakan media nomor satu di Provinsi Nusa Tenggara Timur. Berita-beritanya akuntabel dan objektif. Pos Kupang dapat menjadi media tumbuhnya komunitas-komunitas positif di NTT, tetap kritis dan berimbang, dan tetap menjadi media yang netral. Selamat ulang tahun Pos Kupang. (bb)

Bripda Ni Nyoman Budiarti
Polwan
SELAMAT ulang tahun Pos Kupang. Semoga tetap menghasilkan karya-karya jurnalistik yang cerdas dan mengedukasi, serta menjadi sumber referensi terpercaya untuk masyarakat NTT. (aa)

5 aktivis
Ete Umbu Tara
Ketua Komunitas Kupang Batanam
PERUBAHAN Pos Kupang ke online membawa dampak positif, apalagi di zaman sekarang ini internet sudah menjadi suatu kebutuhan, sehingga berita bisa dibaca kapan saja dan di mana saja, Pos Kupang merupakan media yang menyajikam berita-berita yang beragam, fresh, aktual, dan yang pastinya mewakili masyarakat NTT pada umumnya dan Kota Kupang khususnya. (bb)

6. pegawai pemula
Fredi Lady
Pegawai Swasta
POS Kupang selama ini sudah memberikan informasi yang mendidik. Hampir semua kasus yang terjadi diikuti dengan pemberitaan yang obyektif oleh Pos Kupang. Harapan saya, Pos Kupang harus lebih berani mengupas tuntas ketimpangan yang ada di NTT. (gg)

8. selebgram
Aine Lawalu
MC & Selebgram

SEMOGA Pos Kupang tetap menjadi media nomor satu di NTT dan menjadi media terpercaya untuk para pembaca di NTT.  Tetap menjadi media anak muda yang memberikan informasi-informasi yang inovatif dan kreatif. (aa)

9. pengusaha muda
Audrey Salean
CEO Betajual.com

SEMOGA Pos Kupang terus menjadi media terdepan dalam mengabarkan berita inspiratif buat anak muda di NTT. (dd)

Sumber: Pos Kupang 4 Desember 2017 halaman khusus jaket
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Best WordPress Themes