Bergabung dengan Kompas Gramedia


Edisi khusus HUT ke-25 Pos Kupang
ONAK dan duri mewarnai perjalanan Harian Pagi Pos Kupang selama 25 tahun terakhir. Pada awal kehadirannya di penghujung tahun 1991, tak sedikit tokoh NTT yang pesimistis mengenai kelangsungan hidup koran ini. Ada yang prediksi usianya hanya seumur jagung. Tak akan bertahan lebih dari enam bulan atau setahun.

Perjalanan hidup Pos Kupang selama seperempat abad memang tak luput dari turbulensi. Menurut Damyan Godho, hingga akhir 1994 Pos Kupang hanya terbit 3.000-an eksemplar, jumlah tiras yang sebenarnya mustahil bagi keberlansungan hidup. Pendapatan yang semata-mata dari hasil jual koran sangat tidak memadai.

 Iklan sebagai sumber pendapatan di samping jual koran, tak bisa diharapkan. Tak ada mau yang beriklan karena belum percaya manfaat iklan. "Sonde usah pakai iklan. Orang ju tahu,"  kata pengusaha Kupang dengan dialek Kupang kala itu.


Kondisi berat di atas, kata Damyan,  diperparah oleh sikap hampir 90 persen agen atau distributor nakal yang tidak membayar. Tak sedikit piutang yang tak tertagih. Hal ini bisa terjadi karena sistem adminitrasi bisnis surat kabar belum tertata dengan baik.


 Pada tahun awal 1994, Pos Kupang terbit dengan keras HVS warna putih, biru, kuning, hijau. Tak sedikit pembaca mengira sebagai kemajuan. Tak tahunya, kondisi Pos Kupang sedang sangat parah dan cetak warna-warni hanya karena tekad manajemen  "Tidak boleh pernah, tidak terbit sehari pun."

Tiga tahun setelah terbit, Pos Kupang mengalami situasi sangat berat. Seperti dikatakan Damyan Godho, kala itu Rudolf Nggai sebagai salah satu pemegang saham mengundurkan diri. Mundurnya Rudolf segera berakibat pada `kehilangan' tempat kerja di jalan Jenderal Soeharto
No. 53 Kupang.

Beruntung datang jasa baik dari Sungarno Siyayanto yang menawarkan tempatnya di Jalan Kenari No. 1 dengan  biaya kontrak sangat murah. Rumah dua lantai  ini selanjutnya menjadi markas besar Pos Kupang.

Tidak itu saja, beberapa saat kemudian diikuti Valens Goa Doy menarik sahamnya. Maka tinggal Damyan Godho sendirian sebagai pemilik saham. "Jadi saya akhirnya menjadi single fighter mengembangkan Pos Kupang ketika keduanya mengundurkan diri," kata Damyan Godho, Selasa (21/11/2017).

Kondisi Pos Kupang yang berat itu diperparah lagi dengan tidak ada satu pun materian cetak dijual di Kota Kupang bahkan NTT, misalnya, kertas, tinta, plat. Semua material cetak itu didatangkan dan harus dibeli secara tunai di Surabaya.

Kondisi di atas menyebabkan soal sangat mendasar yakni kesejahteraan karyawan tidak tertangani.  Namun, dalam situasi sangat kristis ini, kata Damyan Godho, sejumlah karyawan diam-diam melakukan suatu hal yang "sangat luar bisa".

Mereka bukannya mempersoalkan perbaikan kesejateraan tetapi sepakat menurunkan gajinya 50 persen. Padahal gaji mereka pada akhir tahun 1994 hingga 1995  begitu kecil tak mungkin untuk hidup minimum dalam bulan sekalipun. Sekitar Rp 60.000 hingga Rp 100.000 sebulan.

Dalam kondisi yang berat itu Kelompok Kompas Gramedia pimpinan Jakob Oetama menawarkan merger yang langsung ditanggapi pendiri Pos Kupang. Maka sejak medio 1995, Pos Kupang resmi bernaung dalam manajemen Kompas Gramedia. Ketika merger, Pos Kupang hanya memiliki mesin cetak tua, Rolland Rekord buatan tahun 1972 serta sejumlah komputer yang
sangat kuno dan sarana kerja terbatas.

 Semuanya dalam kondisi hampir tiada hari tanpa ngadat. Seiring berjalannya waktu terjadi peremajaan perangkat kerja yang lebih berkualitas. (osi)

Sumber: Pos Kupang 4 Desember 2017 halaman khusus jaket
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Best WordPress Themes