In Memoriam Valentino Luis

 Gunung Ebulobo Flores. Foto karya Valentino 

Oleh: Dion DB Putra

"Gema suara pertanda kapal akan berlabuh membangunkan penumpang yang terlelap. Saya dan keempat tandem beringsut bangkit dari bangku-bangku panjang yang kami gunakan sebagai alas tubuh." 

"Angin pagi menerpa sekujur badan, memaksa kami berkemas dengan tangan menggigil. Alih alih menggerutu, kami justru saling berangkulan  dengan sukacita.  Akhirnya tiba juga di Pelabuhan Lembar, Lombok."  

Begitulah cara Valentino Luis menulis lead alias teras feature-nya. Deskripsinya kuat. Indah menggoda, senantiasa menghela minat pembaca untuk mencicipi tulisannya sampai jauh. Hingga kata terakhir.

Dua paragraf awal di atas saya kutip dari laporan perjalanannya di Lion Mag (Inflight Magazine Lion Air) edisi Agustus 2014 bertajuk "Buai Pesisir Lombok Selatan".

Kala itu Valentino Luis bersama empat rekannya dari negara berbeda berwisata ke Pulau Lombok, Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB).

Diksinya elok melukiskan suasana Lombok pagi itu dalam perjalanan dari Lembar menuju selatan.

"Pagi di Lombok adalah sawah-sawah hijau keemasan yang menguapkan kabut tipis putih, segelintir kendaraan yang dipacu lamban, dan siluet kubah-kubah mesjid bermodel bawang yang menunjukkan kesakralan mereka antara bayangan gunung serta pepohonan," tulis Valentino.

Lokasi liputan Valentino Luis dkk pada masa itu adalah kawasan Pantai Kuta Mandalika dan sekitarnya. 

Kuta memang dikenal sebagai kantong wisata Lombok Selatan. Letaknya persis di bibir pantai nan permai. Di kawasan inilah sekarang berdiri megah Sirkuit Mandalika, tempat pagelaran ajang bergengsi MotoGP sejak 2022.

Penulis Hebat

Sebagian dari tuan dan puan yang pernah menggunakan maskapai penerbangan Lion Air dan Batik  Air- kiranya tidak asing dengan nama Valentino Luis.

Mungkin sekali dua Anda pernah membaca tulisannya di majalah udara bulanan maspakai tersebut. Cukup sering catatan perjalanan Valentino menjadi laporan utama Lion Mag atau Majalah Batik Air.

Putra Sikka, Flores, Provinsi Nusa Tenggara Timur ( NTT), kelahiran 21 Mei 1982 adalah penulis hebat dan fotografer andal. Dia juga seorang petualangan sejati.

Sejak usia muda dia telah berkelana ke berbagai belahan dunia. Melalui tulisan dan foto-fotonya dengan sudut pandang eksotik, dia menghibur pembaca. 

Valentino Luis membawa setiap orang seolah ikut berwisata dengannya ke seluruh ujung bumi. 

Tempat yang biasa saja di mata awam, dalam jahitan kata dan kalimat Valentino Luis - berubah menjadi sesuatu yang berkesan. Penuh pesona memikat badan dan jiwa.

Kiranya banyak orang berkunjung ke objek wisata di NTT, luar NTT maupun manca negara setelah membaca tulisan Valentino Luis. Saya yakini itu.

Valentino Luis (Dok pribadi)

Pilihan judulnya umumnya puitik berisi. "Sensasi Elevasi Potosi" demikian dia beri titel perjalanannya ke Bolivia, dipublikasikan Majalah Batik Air edisi Juni 2014.  

Bolivia adalah negara terkurung daratan di Amerika Selatan berbatasan dengan Peru, Brasilia, Paraguay, Argentina dan Chile.

Valentino Luis berkunjung ke Kota Potosí, Bolivia. Kota dengan elevasi tak lazim. Meski letaknya di kaki Gunung Cerro Rico, posisi  Potosí sudah lebih dari 4.000 meter di atas permukaan laut (dpl). Karena letaknya itulah ia digadang sebagai kota tertinggi di planet bumi. 

Pada hari keempat di Bolivia, Valentino  memijakkan kaki di Salar de Uyuni atau nama lain Salar de Tunupa. Tempat favorit wisatawan dunia.

Ini adalah hamparan garam terluas di dunia, mencapai 10,582 km2  atau dua kali lipat dari luas Pulau Dewata Bali.  

Valentino menulis, "Menemukan dataran garam maha luas, mendapati diri laksana miniatur hidup di bentang whiteboard gigantis. Ada perasaan seolah sedang berenang di lautan terdalam ketika menghirup uap garamnya, namun saya pun menyadari bahwa kami berada di ketinggian 4.000 meter di atas permukaan laut."

Bukankah kata-kata Valentino membawa imajinasi pembaca ikut "merasakan" sensasi padang garam maha besar di sana?

Demikianlah kepiawaian Putra NTT ini selama puluhan tahun menjadi traveler. Penulis wisata sekaligus wisatawan penulis. 

Dia jurnalis terbaik. Dia nyaris sempurna sebagai penulis dan fotografer. Foto-fotonya bercerita, tulisan-tulisannya enak dibaca dan kaya perspektif. Lama tertanam di otak dan hati.

Kontak pertama saya dengan Valentino jauh sebelum Facebook hadir. Yang baru ada kala itu Friendster, pelopor platform media sosial global yang populer di atas tahun 2002, untuk berbagi profil, foto, dan testimonial antar teman. 

Kenangan di Dili

Saya jatuh hati pada caranya merangkai kata dan kalimat sejak pertama kali membaca tulisannya yang dia unggah di blog pribadi. Valentino Luis merupakan blogger ternama di masanya.

Saya rutin memberi apresiasi, komentar dan terutama berterima kasih karena melalui tulisannya saya seperti ikut melanglang buana. Perjumpaan kami memang lebih kerap lewat jagat maya. 

Kami bersua langsung hanya beberapa kali, dan tidak lama. Satu di antaranya yang agak lama durasinya saat bersama  ikut penerbangan perdana Maskapai Air Timor Kupang-Dili pada Desember 2017.  Di Dili kami sempat berbagi cerita dan menikmati keramahan tuan dan rumah.

Valentino Luis adalah pengguna medsos yang aktif sehingga banyak orang selalu terhubung dengan aktivitasnya seabrek.

Sesungguhnya dia tak sekadar penulis hebat. Valentino Luis juga dikenal luas sebagai aktivis sosial yang selalu hadir dalam banyak momen yang menentukan.

Melalui rumah Shoes for Flores, misalnya,  Valentino Luis menggalang bantuan untuk  anak anak di pedalaman Nusa Tenggara Timur yang kekurangan dalam  aneka akses dan fasilitas pendidikan.

Dia pria dengan spirit inovator dan pelopor. Karyanya berdampak luas. Dia memanggungkan produk lokal ke pasar dunia melalui Innocentia. 

Seingat saya, produk Innocentia yang khas antara lain jaket dan tas perjalanan berbahan tenunan dengan motif aduhai. Dia sungguh memancarkan semangat kewirausahaan. 

Dia terlibat dengan banyak komunitas di NTT. Valentino Luis sukarela berbagi ilmu dan keterampilan. Kerja kreatifnya selalu menginspirasi dan meneguhkan. 

Selasa pagi 3 Februari 2026 tersiar kabar yang menggemparkan dari Lela, Sikka. Valentino Luis berpulang. Usianya terbilang muda, belum genap 43 tahun.

Banjir ucapan dukacita dari mana-mana. Kolega dan para sahabatnya seolah tak percaya, anak muda Flobamora yang luar biasa itu telah tiada. 

Selamat Jalan Valentino Luis. Bahagia kekal di sisiNya.

Epang Gawang (terima kasih), Nong Valentino. Kami akan selalu mengenangmu lewat karyamu yang abadi.  (*)

Sumber: Pos Kupang

Tuan dan puan yang kangen tulisan Valentino Luis silakan klik DI SINI

Valentino Luis dan Warisannya untuk Flores

Valentino Luis (tengah). Dok SFF

Oleh: Elisabeth Hendrika Dinan

Saya pertama kali bertemu Ka Valen – sapaan akrab Valentino Luis – pada 2018. 

Pertemuan itu terjadi saat Shoes For Flores (SFF), komunitas berbasis di Maumere yang ia rintis sejak 2014, mengadakan kegiatan di Labuan Bajo.

Saya dan kawan-kawan dari Rumah Kreasi- sebuah hub bagi kaum muda di Labuan Bajo untuk beragam aktivitas- menyambut mereka di kantor Sunspirit for Justice and Peace, yang juga mengelola Rumah Tenun Baku Peduli.

Kala itu, kami tidak banyak berinteraksi. Hal yang saya ingat justru satu detail kecil: Ka Valen datang lebih dulu dengan motor KLX oranye hijau, mendahului tim SFF yang menggunakan mobil.

Setelah acara itu, kami belum begitu akrab. 

Saat bepergian, saya hanya sesekali menemukan nama Ka Valen di majalah yang dipajang di pesawat.  

Ia memang salah satu penulis artikel perjalanan di sejumlah majalah milik maskapai. Pengalamannya berkelana ke berbagai belahan dunia ia abadikan melalui tulisan dan foto-foto dengan sudut pandang eksotik.

Kecintaan Pada Tenun

Kami baru terhubung lagi pada 2020, ketika media National Geographic (NatGeo) Indonesia meliput gerakan Rumah Tenun Baku Peduli. Ia merupakan salah satu kontributor media itu.

Dari semula agak segan, perlahan-lahan Ka Valen menjadi salah satu teman yang paling sering mengajak saya berdiskusi soal tenun.

Ia juga sosok yang paling rajin “mengompori” saya supaya mau menjadi narasumber dalam berbagai diskusi soal tenun.

Bersama beberapa teman, kami bahkan membuat Grup WhatsApp khusus untuk membahas apapun tentang tenun.

Setelah mendengar kabar ia meninggal pada 3 Februari 2026 dalam usia 43 tahun, saya kemudian mengingat-ingat lagi betapa seringnya kami berbagi ruang diskusi yang sama. 

Sepanjang 2020-2021, kami sama-sama mengikuti kurang lebih tujuh forum diskusi tentang tenun. Hanya dua yang saya inisiasi, selebihnya atas ajakannya—kadang dengan sedikit paksaan.

Saat saya ragu ia selalu memberikan saya pertanyaan ini: “Kamu tidak mau kan kalau apa yang kamu kerjakan justru orang lain yang omong? Baik kalau itu benar, kalau salah? Kamu tidak capek nanti teriak protes?”

Kalimat itu sering ia ulangi, dan entah bagaimana, selalu berhasil membuat saya mengangguk.

Pada masa-masa pandemi Covid-19, kami berdua bersama Michael Whyag, seorang chef, pernah diminta menjadi narasumber diskusi di Kementerian Pariwisata tentang socioenterprenership dalam dunia pariwisata lewat wastra dan gastronomi.

Sehari sebelum acara, saya menghubungi Ka Valen, memberi tahunya bahwa saya bingung harus bicara apa. 

Jawabannya sederhana: “Ya ayo, kita bahas kebingungan itu.” Esoknya, semuanya berjalan lancar.

Ada satu momen lain yang selalu saya ingat. Pada 9 Juli 2020 kami berdua diminta NatGeo untuk berbagi cerita tentang warisan wastra Flores lewat siaran langsung di kanal YouTube mereka. 

Sebagai pengalaman pertama, saya grogi dan ragu menerima tawaran itu. Ka Valen rupanya menyadarinya. Ia menelepon, meyakinkan saya untuk ikut. Kami berdiskusi berulang-ulang, memilah-milah apa yang bisa dibagikan.

Lima belas menit sebelum acara dimulai, ia kembali menelepon: “Kaka Ney, santai saja. Jangan terlalu tegang. Kan kita yang paling tahu tentang adat kita sendiri. Kita lahir dan hidup dari situ. Jangan ragu.”

Begitulah Ka Valen. Hal-hal yang rumit sering terasa sederhana setelah ngobrol dengannya.

Kecintaannya pada upaya pelestarian tenun ia wujudkan juga lewat Innocentia. Ia mengubah tenun—yang bagi sebagian orang terlihat kaku—menjadi produk turunan yang fungsional: tas, jaket, strap kamera, dompet dan lain-lain.

Komitmennya menjaga kekhasan dan nilai tenun membuat ia juga bisa sangat keras. 

Pada 19 Maret 2021, ia menghubungi saya memberitahu soal video kain printing bermotif tenun NTT yang dipromosikan oleh akun Badan Narkotika Nasional Provinsi NTT dan diklaim sebagai sebagai tenun Manggarai.

Ia marah dengan hal itu. Kami lalu menyusun pernyataan sikap yang dengan nada tegas mempersoalkannya. Saya juga ikut menulis pernyataan protes di akun Instagram.

Kemarahan serupa juga muncul pula ketika pada 2018 Gramedia menerbitkan buku berjudul Pesona Kain Indonesia: Kain Songket Labuan Bajo.

Isi buku itu sebagai besar mengambil foto penenun dan koleksi di Rumah Tenun Baku Peduli tanpa ijin. Selain itu, ada sejumlah informasi yang salah. Misalnya menyebut semua kain tenun dari NTT sebagai kain Songket Labuan Bajo. 

Kami juga menilai judul buku itu melecehkan dan menggiring opini seolah-olah Labuan Bajo memiliki tradisi tenun Songket sendiri. 

Kami menduga waktu itu sebagai kesengajaan karena Labuan Bajo sedang menjadi destinasi pariwisata favorit dan belakangan disebut sebagai destinasi super premium. Jadi, meletakan Labuan Bajo di judul bisa jadi untuk menarik minat pembeli. 

Kami menyusun draft poin keberatan dan Ka Valen mengambil peran menyurati Gramedia untuk meminta menarik buku itu.

Setahu saya, buku itu kemudian tidak ditemukan lagi di beberapa gerai Gramedia yang saya kunjungi, kendati di toko digital, buku itu masih terpampang.

Senang Bercerita

Ka Valen yang saya kenal bukan orang yang mudah membuka diri pada semua orang. 

Namun, di lingkaran pertemanannya, ia adalah penutur cerita yang luar biasa. Mendengarnya bercerita secara runut benar-benar membius waktu. 

Dengan mata berbinar dan gestur tubuhnya yang khas, ia bisa membuat kita tenggelam dalam ceritanya. Tiga atau empat jam berlalu tanpa terasa. Ia tidak pernah sungkan berbagi apa yang ia ketahui.

Selama 2019 hingga 2024, ia terlibat aktif dalam banyak event besar dan ikut berkegiatan dengan banyak komunitas anak muda di Labuan Bajo. Di sana, terlihat jelas bagaimana pendekatannya pada semua orang.

Pada September 2021, saya baru saja kembali dari Yogyakarta untuk pengumpulan data riset tulisan akhir tentang tenun dan pariwisata berbasis komunitas. 

Sebuah kebetulan, Ka Valen mengabari bahwa ia berada di Labuan Bajo pasca kegiatan Flores Writers Festival yang berlangsung di Ruteng.

Ia sempat terkena Covid-19 dan tidak memungkinkannya terbang kembali ke Maumere.  Saya dan tim mengajaknya beristirahat di Rumah Tenun Baku Peduli.

Seminggu itu menjadi waktu yang berharga untuk mengenal lebih dalam bagaimana ia melihat Flores dari kejauhan—dan bagaimana akhirnya ia memutuskan pulang dan berkarya usai melalang buana di berbagai negara.

Rekan-rekan saya di Rumah Tenun Baku Peduli mengenang Ka Valen sebagai orang yang paling suka bercerita, juga suka merenung dan membaca berjam-jam.

Lela, Tempatnya Memilih Berpulang

Suatu sore, sepulang dari dokter untuk tes Covid, sambil mendengar kabar tentang banyaknya orang meninggal karena penyakit itu, ia tiba-tiba bercanda kepada kami: “Kalau boleh memilih, suatu saat ketika dipanggil Tuhan, saya mau berpulang di tempat yang indah. 

Di gunung misalnya, melihat matahari terbit atau tenggelam. Kan tidak merepotkan banyak orang.”

Ia mengatakan hal itu sambil tertawa.

Setelah mendengar kabar bagaimana dia berpulang, saya baru memahami bahwa bagi seorang Valentino Luis, di antara semua tempat indah di dunia ini yang sudah dia kunjungi, Lela, kampung halamannya menjadi yang terindah di hatinya.

Dan, ia benar-benar pergi saat matahari terbit—seperti yang pernah ia harapkan.

Di Flores, banyak orang hebat. Namun, tak banyak orang seperti Valentino Luis, yang mampu mendorong orang lain bertumbuh tanpa menggurui.

Tak banyak yang seperti Valentino Luis yang bersedia melakukan semua itu diam-diam, tanpa sorotan, juga tanpa pernah memanfaatkan orang lain demi membesarkan dirinya sendiri.

Bagi sebagian orang, ia adalah mentor; bagi yang lain, sahabat; bagi yang lain lagi, saudara.

Ia tidak hanya mewariskan nilai berharga untuk Maumere, tetapi dari ujung ke ujung pulau ini. 

Dalam forum Baku cerita sesi pertama di Labuan Bajo, yang ia ikut inisiasi, Ka Valen sempat berkata: “Kita ata (orang) Flores sudah terlalu lama dikotak-kotakkan, dibenturkan sana-sini, lalu lupa melihat bersama soal-soal yang ada di Flores. Rasa ke-Flores-an kita seharusnya memperkuat kerja-kerja kemanusiaan.”

Pernyataan itu meniupkan harapan bagi banyak orang muda di Flores dan NTT untuk bersatu, bergerak bersama melakukan apapun demi tanah kelahiran.

Ka Valen meninggalkan banyak legacy yang membuatnya terus dikenang, lewat Shoes for Flores, Innocentia, Blog Anak Flores, buku-bukunya, serta publikasi foto dan audiovisual.

Semoga legacy itu terus dihidupkan sebagai bagian dari menjaga mimpi-mimpinya tentang tanah ini.

Flores kehilangan satu sosok yang bersinar dalam aksi sunyinya.

Selamat jalan, Ka Valen.

Terima kasih telah menjadi inspirasi.

Fly high dan tidur tenang dalam pelukan abadi tanah Flores

You will always be missed.

*) Elisabeth Hendrika Dinan adalah Direktur Sunspirit for Justice and Peace, yang juga mengelola Rumah Tenun Baku Peduli di Labuan Bajo

Sumber: floresa.co

 




Ia Pergi Berkelana, tapi Tak Pernah Pergi dari Flores

Valentino Luis (Dok Pribadi Valentino)

Oleh: Erlyn Lasar

Pagi ini, kabar itu datang dari jarak jauh. Di bawah langit Melbourne, kabar itu terasa ganjil, dan sumbang sekali, seperti suara burung gagak di siang hari yang terdengar sangat asing di telinga ketika pertama kali kami menjejakkan kaki di benua ini. Seorang kakak, sahabat, dan guru bagi banyak orang telah pergi.

Ia penulis perjalanan, pengelana, pemotret lanskap dan budaya. Namun bagi banyak orang yang tumbuh bersamanya, ia adalah seorang yang diam-diam menjaga rumah.

Sejak kecil, ia bercita-cita menjadi tokoh Tintin dalam Kisah Petualangan Tintin. Barangkali itulah sebabnya ia memilih jalan hidup yang tidak menetap.

Ia berkelana ke banyak negara, menulis untuk majalah penerbangan Lion Air Group dan National Geographic, memotret bentang alam dan wajah-wajah manusia dengan ketekunan yang nyaris asketik.

Tetapi ke mana pun ia pergi, Flores tidak pernah tertinggal. Tanah itu bukan latar belakang, melainkan kompas.

Ia tidak bepergian untuk melarikan diri. Ia pergi untuk membawa pulang cerita. Lewat tulisannya, Flores hadir bukan sebagai objek eksotik, melainkan sebagai ruang hidup yang bermartabat, dengan kebudayaan, ritus, bahasa, dan imajinasi yang layak dihargai.

Ia percaya bahwa kebudayaan tidak selalu harus dibela dengan pidato; kadang cukup dengan menghadirkannya apa adanya, jujur, dan penuh hormat.

Kameranya bekerja dengan cara yang sama. Lanskap tidak pernah ia paksa menjadi indah. Wajah-wajah manusia tidak ia posisikan sebagai tontonan. Foto-fotonya seperti mengajak kita berhenti sejenak dan berkata: lihatlah, ini berharga. Bahkan yang paling sederhana sekalipun.

Di tempat-tempat yang ia singgahi, termasuk di kampung halamannya sendiri, ia lebih sering memilih peran pendukung. Ia mendorong lahir dan bertahannya komunitas-komunitas yang bekerja dengan militansi sunyi untuk kebudayaan dan kemanusiaan.

Ia hadir, menghubungkan orang, membuka ruang, lalu mundur selangkah. Namanya tidak selalu tercatat, tetapi dampaknya menetap.

Saya teringat, di suatu hari, kami mengutarakan kegelisahan tentang rencana merantau jauh untuk lanjut belajar, tentang membawa anak kami yang saat itu belum genap dua tahun, tentang jarak, ketidakpastian, dan rasa takut kalau-kalau pilihan itu akan menyusahkan anak kami yang diajak berjuang saat masih terlalu kecil.

Ia mendengarkan dengan senyum yang hangat, lalu berkata pelan bahwa ia telah berhenti takut mati. Bukan karena hidupnya tanpa luka, melainkan karena ia merasa telah pergi ke banyak tempat, mengalami banyak hal, belajar dari begitu banyak orang, dan yang terpenting, memberi dirinya kesempatan untuk berbagi kepada lebih banyak orang lewat berbagai cara yang mungkin.

Ia bilang, ia sudah menjadi seperti Tintin. Kalimat itu tidak terdengar seperti nasihat, melainkan seperti pengakuan yang jujur dan menenangkan.

“Kalian mesti berani. Anak itu beruntung, ketika kalian berani mengajaknya berpetualang jauh sejak dini. Suatu hari dia akan sangat berterima kasih,” katanya sambil menyeruput kopi pahit kesukaannya.

Tentang dirinya sendiri, ia jarang bercerita. Ia seperti seseorang yang bisa melakukan banyak hal, namun selalu bergerak dengan kerendahan hati orang yang merasa belum tahu apa-apa. 

Bahkan tentang sakit yang ia alami di hari-hari akhirnya, ia memilih diam. Sahabat dan rekan nyaris tidak pernah mendengar keluhannya. Maka kepergiannya terasa mendadak, bukan karena ia pergi terlalu cepat, tetapi karena ia pergi tanpa banyak isyarat.

Kini, yang tertinggal bukan hanya duka, tetapi juga tanggung jawab. Tanggung jawab untuk menjaga apa yang selama ini ia rawat. Terlebih kesadaran bahwa budaya kita berharga, bahwa tanah lahir tidak harus ditinggalkan agar bisa diperkenalkan ke dunia, dan bahwa kerja-kerja kemanusiaan sering kali paling bermakna justru ketika dilakukan tanpa sorotan.

Ia telah berkelana jauh. Sebab surga nampaknya membutuhkan seorang penutur ulung mulai hari ini.

Ia memang telah pergi. Namun melalui tulisan, foto, dan orang-orang yang pernah disentuhnya, rasa-rasanya memang ia tidak pernah benar-benar pergi dari Flores.

Selamat jalan, Valentino Luis. Rest in love.

Penulis: Erlyn Lasar

Sumber: ekorantt.com


Nasibmu Samsul

 

Inosentius Samsul (istimewa)
MENARIK perhatian kita mengamati langkah politik  DPR berkenaan dengan nama calon hakim Mahkamah Konstitusi (hakim MK). Lembaga wakil rakyat Indonesia tersebut tiba-tiba mengubah keputusannya sendiri tanpa penjelasan  memadai kepada masyarakat.

Tahun lalu tepatnya pada Rabu 20 Agustus 2025 Komisi III DPR sudah menyetujui Inosentius Samsul sebagai calon hakim MK usulan DPR. 

Persetujuan diambil setelah uji kelayakan dan kepatutan. Proses fit and proper test Inosentius Samsul berlangsung kurang lebih 1,5 jam.

"Apakah disepakati?" tanya Ketua Komisi III Habiburokhman di Ruang Sidang Komisi III Gedung DPR RI. "Setuju," jawab anggota Komisi III serentak. 

Samsul yang kala itu menjabat sebagai Kepala Badan Keahlian DPR merupakan calon tunggal usulan DPR untuk menggantikan Arief Hidayat yang akan pensiun pada 3 Februari 2026.

Sehari kemudian pada rapat paripurna, Kamis 21 Agustus 2025, DPR menyetujui Inosentius sebagai calon hakim MK. 

Setelah mendengar laporan Komisi III, Wakil Ketua DPR RI Cucun Ahmad Syamsurijal selaku pimpinan sidang menanyakan persetujuan para anggota dewan yang hadir saat itu. 

"Apakah laporan Komisi III DPR RI terhadap hasil pembahasan pergantian hakim konstitusi pada Mahkamah Konstitusi RI usulan lembaga DPR tersebut, apakah dapat disetujui?" tanya Cucun. Seluruh peserta  menjawab setuju. Cucun ketuk palu tanda pengesahan Samsul. 

Artinya seluruh proses di DPR telah tuntas sehingga Samsul tinggal dilantik sebagai hakim MK. Entah mengapa kini Komisi III yang masih diketuai Habiburokhman membuat langkah baru. 

Samsul diganti dengan Wakil Ketua DPR, Adies Kadir dari Partai Golkar. Pembatasan Samsul dan mengusung Adies Kadir ditetapkan dalam rapat Senin 26 Januari 2026.

Tentu perubahan ini menimbulkan pertanyaan dan memantik diskusi terkait netralitas hakim MK karena Adies merupakan politisi aktif Partai Golkar. 

Di partai posisi Adies sangat penting. Dia merupakan wakil ketua umum Partai Golkar. Sekretaris Jenderal Partai Golkar Muhamad Sarmuji mengatakan  Adies Kadir sudah mundur dari partainya. 

"Beliau sudah mundur  dari kader Golkar," kata Sarmuji kepada awak media, Senin (26/1/2026).

Perubahan nama calon hakim MK menyisakan pertanyaan,  mengapa DPR tiba-tiba membatalkan pencalonan Inosentius Samsul? 

Apa kekurangan atau kesalahan Samsul sehingga dia dianggap tidak patut dan layak menjadi hakim MK? Ataukah Samsul dinilai tidak mewakili kepentingan DPR?  

Sejauh ini Komisi III DPR belum memberikan penjelasan kepada khalayak mengenai alasan mereka memilih calon baru Adies Kadir.

Orang akhirnya bisa menduga macam-macam. Jangan-jangan ada politik dagang sapi. 

Jangan-jangan perubahan dari Samsul ke Adies merupakan bagian dari sebuah rekayasa sistematis lembaga penjaga konstitusi di negeri ini  demi kepentingan politik jangka pendek DPR. Bahkan mungkin untuk semakin melemahkan posisi MK.

Lagipula untuk apa aktivis politik ngotot masuk institusi hukum? Pastilah ada maunya. Posisi Mahkamah Konstitusi sangat strategis dan penting. 

Independensi lembaga tersebut harus tetap dijaga agar mengambil keputusan yang benar dan adil bukan demi tendesi politik tertentu. (*)

Sumber: Pos Kupang cetak 28 Januari 2026


33 Tahun

Dion DB Putra 

Kami  berusia 33 tahun hari ini, Senin 1 Desember 2025. Puji syukur kepada Tuhan yang Maha Kuasa atas kasih dan tuntunanNya sehingga kami masih bertahan hidup. 

Terima kasih kepada  pembaca, pemirsa dan segenap rekan kerja, mitra serta kolega Pos Kupang.

Tanpa Anda semua kami bukan apa-apa dan tak mungkin hidup sejauh ini. Selama 33 tahun koran kami tidak pernah tidak terbit, kecuali hari libur nasional dan hari yang memang tidak dijadwalkan terbit.

Lebih dari tiga dasawarsa, Pos Kupang berusaha melayani masyarakat sebaik-baiknya. Tentu disertai keterbatasan dan beraneka kekurangan.

Selama 33 tahun Pos Kupang melihat dan merasakan langsung perubahan teknologi di bidang media massa dan informasi yang amat lekas. 

Ketika trio pendiri, Damyan Godho, Valens Goa Doy dan Rudolf Nggai sepakat melahirkan Pos Kupang 1 Desember 1992, kami masih memakai mesin ketik dan faksimili. Sesuatu yang asing bagi generasi milenial, Z hingga alfa.

Faksimili adalah gabungan fungsi telepon, scanner, printer, dan mesin fotokopi sehingga penerima mendapatkan dokumen persis seperti dikirimkan. 

Kirim gambar atau tulisan via faksimili lebih cepat dan efisien. Usianya ternyata tak lama.  Komputer dalam sekejap mematikan mesin ketik. Modem mengakhiri kiprah faksimili. 

Modem berkemampuan mengubah sinyal analog dari jaringan kabel menjadi sinyal digital. Dunia pun memasuki babak baru bersama kejayaan internet dengan segenap turunan teknologinya.

Perubahan tersebut tak terpikirkan ketika koran Pos Kupang terbit perdana 1 Desember 1992. Nyatanya apa yang terjadi saat ini sudah jauh berbeda. 

Kita hari ini adalah generasi yang sangat tergantung pada smartphone dan paket data internet. 

Kita  adalah warga internet alias netizen yang terhubung  satu sama lain kendati secara fisik belum tentu saling kenal.

Sejak bulan November 2022, kita bahkan mengarungi dunia baru yang lebih heboh dan dahsyat. 

Dunia ciptaan Internet Platform dengan teknologi Artificial Intelligence (AI)  atau kecerdasan buatan bisa diakses publik melalui ChatGPT.

Manusia menciptakan sistem ini untuk menjalankan pekerjaan manusia. AI diberi kemampuan berpikir seperti manusia. Memiliki kecerdasan mirip manusia.

Sebagian dari tuan dan puan kiranya sudah menggunakan sistem AI tersebut dalam kehidupan sehari-hari bukan?

Kemajuan teknologi informasi serta hadirnya AI system membuat  lanskap bisnis media seolah jungkir balik. Tatanan lama porak poranda. Hancur lebur. Banyak media telah masuk museum sejarah.

Di tengah riuh gemuruh perubahan itu Pos Kupang merayakan ulang tahun ke-33.  Kami berikhtiar tetap menjalankan peran jurnalisme dengan sebaik baiknya. Kami menyadari disrupsi menjadi ancaman.

Namun, pepatah mengatakan di tengah ancaman pasti ada peluang. Sekecil apapun itu.

Sejak 2010 Pos Kupang bersama Tribun Group Kompas Gramedia sebagai induk perusahaan, telah melihat fenomena seperti terjadi saat ini bakal muncul. 

Suatu era ketika informasi tak lagi tergantung kepada kertas (paperless) dan dapat diakses secara mobile.

Pos Kupang hari ini bukan lagi sekadar koran. Kami bertranformasi menjawab tantangan zaman. 

Sajian informasi tidak hanya dapat dinikmati melalui koran Pos Kupang tetapi juga melalui platform digital, www.pos-kupang.com serta semua kanal informasi berlabel Pos Kupang. 

Sampai hari ini kami merupakan news portal terbesar, dalam pengertian jumlah visitor, di wilayah Nusa Tenggara Timur (NTT).

Pos Kupang sebagaimana media massa Group Tribun-Kompas Gramedia di seluruh Indonesia, menyajikan liputan yang sering kali menjadi rujukan pengambil kebijakan publik. 

Kami bertekad tetap menjadi teman seperjalanan bagi semua kalangan dalam meniti buih perubahan yang sangat lekas itu. (dion db putra)

Sumber: Pos Kupang cetak Senin 1 Desember 2025


Jojo dan Janice

 


Janice Tjen (kanan) dan Aldila Sutjiadi

Ada Jojo, ada Janice. Dan, November ceria melahirkan senyum bagi masyarakat olahraga nasional. 

Setelah muram berbulan-bulan serta pupusnya impian menuju Piala Dunia 2026, bulu tangkis dan tenis kembali hadir sebagai kebanggaan bangsa. Raket membuat Merah Putih berkibar di panggung dunia!

Warta ceria pertama dipersembahkan pebulutangkis tunggal putra Indonesia, Jonatan Christie. 

Jojo - sapaan akrab Jonatan yang keluar dari Pelatnas dan  sempat berniat gantung raket karena prestasinya anjlok, justru berjaya menjelang akhir tahun 2025.

Jojo  meraih tiga gelar juara turnamen bergengsi yaitu Korea Open 2025 (Super 500), Denmark Open 2025 (Super 750), dan Hylo Open 2025 (Super 500).

Tiga gelar dalam tempo sebulan terakhir. Trofi terbaru dia peroleh pada Minggu, 2 November 2025 pada ajang Hylo Open di Jerman.

Pencapaian Jojo yang kini berusia 28 tahun bagaikan oase mengingat prestasi atlet cabang olahraga bulu tangkis terus meredup belakangan ini. 

Kita belum melihat lagi Anthony Sinisuka Ginting, pasangan ganda putra Fajar Alfian/Muhammad Shohibul Fikri, Sabar Karyaman Gutama/Moh Reza Pahlevi Isfahani, ganda putri  Apriyani Rahayu/Siti Fadia Silva Ramadhanti, dan tunggal putri Gregoria Mariska Tunjung naik podium jawara. 

Pencapaian terbaik adalah runner-up sebagaimana diraih Sabar/Reza di Hylo Open 2025.

Kebangkitan Jonatan Christie berawal dari Korea Open 2025. Di babak final di Gimnasium Suwon, Minggu (28/9/2025), Jonatan Christie mengalahkan pemain terbaik Denmark, Anders Antonsen dalam laga melelahkan selama 75 menit.  Jojo menang dengan skor ketat tiga gim, 21-10, 15-21, 21-17.

Kejayaannya berlanjut di Denmark Open. Pada babak final Denmark Open, Minggu (19/10/2025), Jonatan melibas pemain nomor satu dunia asal China, Shi Yu Qi. 

Sebagaimana biasa duel Jonatan Christie melawan Shi Yu Qi selalu berjalan ketat. Kedua pemain sudah bertemu sebanyak 16 kali.

Jonatan Christie menang dalam tiga gim, 13-21, 21-15, 21-15. Ini kemenangan pertama Jojo di turnamen Super 750 sekaligus penanda bahwa ia telah kembali ke level elite dunia. 

Jonatan Christie bersama istri dan anak

Saat ini Jojo menempati peringkat kelima pemain terbaik dunia. Tiga gelar di tur Asia dan Eropa menambah rasa percaya diri Jojo. Kesuksesannya pun menginspirasi rekan-rekannya di Pelatnas segera bangkit dari keterpurukan.

Pada hari yang sama saat Jojo berjaya di Jerman, gadis berusia 23 tahun asal Jakarta, Janice Tjen, mencetak rekor mencengangkan di India. 

Petenis muda itu menyabet dua juara sekaligus di Chennai Open 2025 (WTA 250).

Janice Tjen meraih gelar juara tunggal putri dan ganda putri! Di final tunggal putri, dia menaklukkan Kimberly Birrell dari Australia dengan skor meyakinkan 6–4, 6–3. 

Cara bermain Janice tanpa drama. Dia tampil tenang dan efisien, membiarkan lawan repot sendiri.

Di final ganda putri, dia berpasangan dengan rekannya asal Indonesia, Aldila Sutjiadi. Mereka memaksa Hunter dan Niculescu, pasangan yang lebih berpengalaman, harus lari pontang-panting mengejar bola. Janice/Aldila pun menang 7–5, 6–4. Bendera Merah Putih berkibar dua kali di India.

Bagi Janice itu bukan sekadar gelar tunggal WTA 250 pertama. Ia juga mengakhiri puasa gelar Indonesia di ajang internasional.

Terakhir kali tunggal putri Indonesia berjaya di panggung tenis dunia terjadi tahun 2002. 

Saat itu Angelique Widjaja juara di Pattaya Open. Butuh waktu 23 tahun untuk mencapai hasil yang sama. 

Semoga Janice latihan lebih tekun dan terus meraih prestasi membanggakan bagi bangsa dan negara tercinta. (*)

Sumber: Pos Kupang

Hermien Y. Kleden dalam Kenangan


Hermien Kleden (tengah) dan Romo Hans (kanan)

Oleh: Romo Hans Jeharut

Kak Hermien, demikian saya memanggilnya. Empat tahun ini kami bersama sebagai pengurus Komisi Kerasulan Awam KWI. Ketika saya mulai bertugas, dia dan beberapa pengurus lain sudah ada di kepengurusan. 

Saya sebagai Sekretaris Eksekutif Komisi, sejak Januari 2022. Dalam banyak kesempatan dia menyebut saya "Bos". You're my Bos!  

Dalam kaitan relasi pengurus dan bos ini, Kak Hermien menunjukkan sikap taat. Jika tidak bisa menghadiri rapat karena kesibukan atau alasan lain, Kak Hermien selalu mengirim pesan whatsapp, nyaris seperti refrein, " Ama, kaka mohon maaf tidak bisa hadir. Kalau ada tugas siap dilaksanakan". 

Dan benar. Jika ada tugas, dia melaksanakan dengan tuntas. Sempurna.

Tiga tahun terakhir, saya memberinya tugas baru. "Kaka, saya minta kaka terlibat memberi bahan masukan untuk para romo muda. Usia tahbisan lima sampai sepuluh tahun". " Apa yang bisa saya bantu?", tanyanya serius.

 "Saya tidak minta Kak Hermien mengajar mereka ketrampilan jurnalistik, teknik wawancara, dan sejenisnya. Itu sudah terlalu biasa untuk Hermien Kleden. Saya minta kaka bicara sebagai seorang awam, perempuan dan saudari seorang imam". 

Kaka bayangkan, kami ini begitu ditahbiskan langsung jadi manajer, bahkan direktur, tanpa kuliah di Prasetia Mulia atau khursus manajemen. Tidak semua bisa menghadapi tahapan ini dengan baik. Ada yang gagap,  gamang dan gagal.

Dalam persahabatan kami, kak Hermien hadir sebagai mitra kerja, sahabat dan saudari. Sebagai saudari, dia seperti kebanyakan saudari Flores : perhatian, cendrung protektif dan...  galak! Itu saya rasakan. Dia sangat mencintai saudara imamnya - Pater Leo Kleden. 

Dia tidak bisa menyembunyikan kasih dan perhatiannya yang besar. Juga cintanya pada saudara- saudaranya yang menjadi imam. Dia dengan bangga bercerita perjumpasnnya dengan seorang imam SVD Indonesia di Polandia.

 Menurut Kak Hermien, Tuhan memberi berkat istimewa ke lidahnya karena bisa berbicara bahasa Polandia dengan baik dan indah. Saya merasa dia punya empati. Empati yang lahir alamiah karena dia menpunyai saudara kandung yang menjadi pastor.

Sesi-sesi itu seperti biasa dia lalui dengan baik. Apalagi untuk meyakinkan dia saya selalu memberi catatan tambahan, " Kak, acaranya nanti di Harris Resort Batam. 

Kompleksnya luas. Kaka bisa jogging dengan puas". Hahaha, ini jadi tawaran yang sangat sulit dia tolak.

Dia berkisah tentang pergumulan spiritualnya. Ada fase ketika Hermien memasuki padang gurun. Ia kecewa. Ia mengembara di padang keraguan. 

Tapi keraguannya adalah keraguan seorang peziarah. Ketika sampai pada satu titik tertentu, ia tersentuh dan kembali. "Keragu-raguan adalah sebentuk penghormatan pada kebenaran", kata Ernest Renan. 

Di Batam - setelah pertemuan dengan para imam muda se Sumatra - saya mengajaknya ke bekas tempat pengungsi Vietnam di Pulau Galang. Berita buruknya : penjaga tempat itu seorang Adonara.  "Kaka e, jao jao ke Batam kita ketemu orang Adonara". Hahaha 

Kami berdoa di depan arca Bunda Maria, dengan landasan berbentuk kapal. Ya, ingatan akan manusia-manusia perahu yang lari, pergi dari kampung halaman karena perang. 

Si Om Adonara, kami bertiga, arca perahu dan patung Bunda Maria adalah pengingat : kita semua perantau. Perantau bukan hanya dalam dimensi ruang, tapi spiritual. Mendadak dia minta berkat.  

" Ama saya minta berkat". Saya masih menanggapinya dengan guyon, " Hae kita sudah sama-sama tiga hari, masih perlu berkat khusus lagi kah?". Hermien bergeming. 

Dia menundukan kepala, mengatupkan tangannya dan menanti berkat. Saya menumpangkan tangan, memberkatinya. Entah apa isi doanya di depan Bunda Maria saat itu.

Menjelang akhir 2024, kepengurusan Komisi Kerawam berakhir. Saya sudah bicara dengan Bapa Uskup Ketua dan Presidium KWI, mengusulkan kepengurusan ini diperpanjang. 

Sesuai prosedur yang biasa, saya harus menanyakan kesediaan calon pengurus. Kak Hermien mengirim pesan pribadi kepada saya. Isinya kurang lebih,'saya akan butuh waktu lebih banyak untuk urusan kesehatan. Apakah lebih baik saya mundur saja? 

Jawaban saya juga singkat. "Bahkan kalau kakak hanya bisa dari rumah, kakak tetap di situ". 

Diskusi selesai. Dia tidak membantah. Di akhir tahun itu kami mengadakan rapat kerja.  Saya memilih tempat rapat kerja di Pangkalpinang. 

Saya berasal dari Keuskupan  Pangkalpinang, maka saya tahu tempat-tempat yang baik yang ada di sana. Kami rapat di Tanjung Pesona Resort. Tempat indah di pinggir pantai.

Sebelumnya Kak Hermien mengirim pesan bahwa dia harus berkonsultasi dengan dokternya terlebih dahulu apakah dia diizinkan untuk pergi jauh?

 Dokter mengizinkan, dengan beberapa catatan yang saya tahu Kak Hermien akan mematuhinya dengan baik. Saya lagi-lagi menambah catatan : resort ini di pinggir pantai. kakak bisa jogging sepuas-puasnya kapanpun Kakak mau.

Kami - pengurus Komisi Kerawam KWI - melewati hari-hari itu dengan indah ditambah dengan ziarah dan perjalanan ke beberapa tempat rekreasi.

Satu hari awal tahun 2025, Kak Hermin meminta waktu bertemu. Kami bertemu di ruang kerja saya.

Kak Hermien bercerita tentang kondisinya, yang menurutnya butuh perhatian lebih serius, maka dia akan jarang hadir bersama-sama dalam  rapat rapat rutin komisi. 

Ketika dia cerita kepada saya tentang kondisinya, saya mengusulkan apakah tidak sebaiknya mencari pendapat yang lain, sehingga menemukan cara yang tepat untuk penanganan apa yang sedang dialami? 

Bukan Hermien namanya kalau hanya menurut begitu saja. Dia mengeluarkan beberapa literatur yang menurutnya meyakinkan dia bahwa apa yang dia pilih sekarang ini adalah yang terbaik. 

Tentu dengan literatur lebih banyak daripada yang saya tahu dan saya baca,  saya hanya bisa mengiyakan keputusannya. 

Sekitar bulan Mei yang lalu dia menceritakan bahwa dia mengalami pendarahan yang hebat dan itu membuat dia harus masuk rumah sakit. 

Sebelumnya melalui beberapa teman - Bu Vero dan Liza sahabatnya yang lain - saya menawarkan memberi Komuni Suci kepadanya dan memberinya Perminyakan Suci. 

Entah kenapa selalu ada alasan yang menghalangi rencana itu. Mengantar komuni dan memberinya perminyakan tidak pernah kesampaian. Maka ketika hari Sabtu (27/9/2025) yang lalu Bona Beding - seorang kerabat Hermien -  mengirim pesan kepada saya bertanya Romo ada dimana?  

Saya mengatakan saya ada di Malang. Rupanya Bona ingin minta saya memberi perminyakan Suci untuk Kak Hermien. Liza juga menelpon saya menyampaikan kabar yang sama.  

Saya mengatakan saya sedang di Malang. Dalam hati saya membatin, "waktu saya ada kesempatan, saya menawarkan, Kak Hermien yang selalu tidak bisa.  Sekarang saya jauh dan tidak mungkin melayankan sakramen perminyakan,  saya dicari".

Setiba kembali ke Jakarta, di berbagai WAG berseliweran informasi soal keadaan sakit Kak Hermien. Saya dikirimi foto kondisinya yang harus berjuang dengan bantuan peralatan medis. 

Tanggal 29 September sore - sekitar pukul 17.30 - setelah rapat di KWI saya berencana untuk mengunjungi Kak Hermien. 

 Ibu Vero mengirim pesan bahwa jalan ke arah Pasar Minggu sangat macet, sementara waktu berkunjung sangat terbatas. Romo cek lalu lintas dari KWI ke  Pasar Minggu ya. Saya mengecek di waze dan google map : semua merah.

Saya memutuskan untuk menunggu. Mendadak saya merasa badan saya demam dan meriang.  

Saya mencoba bertahan di kantor. Karena situasinya menjadi tidak menyenangkan saya memutuskan pulang. 

Dalam keadaan demam saya kembali ke rumah. Saya tiba di rumah kira-kira pukul 21.50 WIB. Saya langsung berbaring. 

Tak lama berselang saya mendapat kabar Kak Hermien menghembuskan nafas terakhir pukul 22 08 WIB. Saya menangis mendengar berita itu. 

Tapi juga berpikir kenapa dia tidak mengizinkan saya untuk melihatnya  dalam keadaan sakit?

Tadi malam saya datang. Saya melihatnya sudah cantik dalam balutan kebaya putih dan tenun Lamaholot. Saya tidak punya memori kerapuhan dan rasa sakit yang dialami Kak Hermien. 

Memori yang ada di kepala saya adalah Hermin yang tangguh. Hermien yang sangat detail. Hermin yang selalu tampil prima. Dia tidak mau saya melihat dia dalam keadaan sakit dan tak berdaya. 

Tapi di titik itulah saya melihat kerapuhan seorang Hernien. Dengan segala pengetahuan,  kekayaan bacaan, keluasan wawasan yang dia miliki pada akhirnya dia tunduk bahwa tidak semua yang dia pikirkan,  tidak semua yang dia ketahui, terjadi seperti itu. 

Kita tahu Hermien seorang editor hebat. Kami pernah bertugas di sidang para Uskup. Pada  akhir sidang harus merumuskan pernyataan sidang. Hermien menjadi  ketua tim editor. Dia melakukan editing seperti layaknya seorang editor senior.  

Di sela-sela itu saya mengingatkan "Kaka, ini pendapat Uskup. Kalau sudah berhadapan dengan Uskup kita hanya bisa taat.  Kalau hanya ganti koma ganti titik satu dua bolehlah. Tapi kalau membuat editing  seperti ini saya takut kita kena kutuk". Kami tertawa. 

Tapi Hermien tetaplah Hermien. Menurut dia pesan apapun harus disampaikan dengan jelas, lugas dan jernih sehingga orang bisa menangkap juga dengan jelas dan jernih. 

Bahkan ketika harus menyatakan secara implisit pun, yang implisit itu pun bisa dipahami dengan baik. 

Saking terkenalnya dia sebagai seorang editor handal. Ketika menyiapkan pertemuan untuk para imam itu,  dia mengirim kepada saya bahan yang dia siapkan dan memohon untuk dibaca dan dikoreksi.

 Saya membalasnya dengan emoticon ketawa.  Dia menelpon saya. Kenapa ketawa?  Saya menjawab,  "saya merasa seperti Goenawan Muhammad atau Fikri Jufri saja harus mengoreksi tulisan kakak".

Mengedit, itu juga yang dia buat untuk sakitnya. Di hari-hari akhir hidup dia ingin mengedit : mengoreksi dan memperbaiki. Tapi ternyata Tuhan - Sang Editor Agung - punya kehendak lain. 

Pada Senin malam 29 September 2025, pukul 22.08 WIB, pada hari ketika gereja merayakan pesta Malaikat Agung, setelah berjumpa dengan saudara imam yang dia cintai - Pater Leo, yang menyapanya dan memberi berkat, Hermien pulang dalam tenang.

Kak Hermien, satu lagi yang kakak pernah ceritakan kepada saya. Kakak pernah mengalami insomnia berat. 

Bukan hanya tidak bisa tidur berhari-hari tapi  tidak bisa tidur berminggu-minggu. Tadi malam saya melihat Kakak begitu lelap dalam tidur panjang. Pagi ini juga. Saya tahu : Tuhan memberimu tidur abadi, tanpa insomnia.

Selamat jalan saudariku. Beristirahatlah dengan tenang dalam tidur Abadi.

Rumah Duka Carolus

Rabu, 1 Oktober 2025

@hansjeharutpr

Sumber: Akun Facebook Romo Hans Jeharut

Hermien Kleden dan Jurnalisme Tutu Koda


Hermien Y. Kleden

Oleh: Steph Tupeng Witin

HERMIEN Yosephine Kleden selalu tersenyum. Penulis menyapanya “Tata”. Itu sapaan yang akrab, penuh persaudaraan suku Lamaholot. Ada nuansa kedekatan yang hangat.

Wajah penuh senyum itu mengingatkan pertemuan pertama tahun 2009. Kala itu pimpinan menugaskan saya mengambil studi jurnalistik. Kami bertemu di kantor majalah Tempo lama di Jalan Proklamasi.

Kebetulan saat itu Goenawan Mohamad sedang berada di kantor. Maka terjadi pertemuan yang tidak terduga. Kami mengobrol cukup lama.

Goenawan Mohamad menyebut bahwa Pater Leo selalu datang ke kantor Tempo. GM memberi saya buku “Catatan Pinggir 2” (Cet. IV, 2006) lengkap dengan tanda tangannya. Penulis kata pengantar adalah Ignas Kleden, kakak kandung Hermien Y. Kleden. Judul kata pengantar: Eksperimen Seorang Penyair.

Pertemuan perdana itu sungguh membahagiakan. Redaktur senior Tempo begitu sederhana. Tata Hermien sangat hangat dan akrab. Dia memanggil saya “adik” hingga akhir hidupnya. Sapaan yang menarasikan kedekatan, kehangatan, bukan jarak.

Layar di samping peti jenazah rumah duka Carolus Jakarta tetap menampilkan wajah yang tersenyum. Ia telah pergi “merantau” ke dunia terakhir dengan tenang pada Senin 29 September 2025 di Rumah Sakit Umum Daerah Pasar Minggu Jakarta.

Pater Leo Kleden SVD, kakak kandung Tata Hermien, menulis, “Saya tiba dari Flores di RS tepat pukul 22.00 WIB. Langsung bicara dengan Hermien dan memberkati dia. Lalu dengan tenang sekali dia menutup mata.”

Sebuah akhir ziarah hidup yang penuh pengharapan. Tata Hermien selalu meminta berkat ketika menelepon atau mengirim pesan singkat. Dia selalu meminta doa agar tetap sehat dan mendarmabaktikan diri dan hidupnya melalui jurnalisme kepada lebih banyak orang.

Rupanya Tuhan melihat dia sudah lelah memberi habis energi dirinya. Kepulangannya ke Rumah Bapa adalah kabar gembira..Terbaca di layar itu aliran ungkapan duka dari kelurga, jurnalis, penulis, sahabat, para murid jurnalisme, kenalan dan rekan kerja di Tempo.

Orang-orang ini mengenal dan merasakan sentuhan kasihnya. Senyum itu menarasikan jurnalisme sebagai dunia yang hangat, penuh kasih dan persaudaraan. Jurnalisme menjadi salah satu titian untuk membangun kehangatan dan persaudaraan. 

Persahabatan dan persaudaraan dalam dunia jurnalisme tidak selalu identik dengan keselarasan dan kesepahaman. Jurnalisme adalah ruang yang demokratis karena memuliakan perbedaan dan argumentasi. 

Ketika dia menerima penghargaan SK Trimurti atas kontribusinya kepada dunia jurnalisme Indonesia, Tata Hermirn tersenyum lebar. Buah dari ketekunan dan ketelatenan karya jurnalisme. Dan Tata Hermien menikmati dunia jurnalisme itu dengan senyum hingga tapal batas hidupnya.

Tata Hermien Kleden telah berkarir sebagai jurnalis dalam rentang waktu puluhan tahun. Catatan dari buku Jejak Jurnalis Perempuan (2012) yang diterbitkan Aliansi Jurnalis Independen (AJI), Hermien merintis karir sejak tahun 1987 dengan bekerja sebagai kontributor sebuah majalah internasional dari Perancis.

Dia pernah menjadi Wakil Redaktur Eksekutif Majalah Tempo dan Pemimpin Redaksi Majalah Tempo English, Dewan Eksekutif Tempo Media Group, Redaktur Pelaksana Koran Tempo.

Deretan jabatan itu tidak pernah dia singgung selama hidupnya. Dia hanya menjalankan tanggung jawab kenabian: menulis sebagai jalan penyadaran rasionalitas publik. Baginya, jurnalisme investigasi itu ia lukiskan sebagai divisi paling kejam. Tidak mudah membongkar kejahatan elite politik dan pejabat publik.

Bagi Hermien, tanggung jawab kemanusiaan jurnalis adalah membagikan fakta yang ada di lapangan kepada publik. Banyak sekali laporan investigatif yang ditulis Tempo, Kompas, dan media lain tapi kasus korupsi, kejahatan lingkungan, mafia proyek pembangunan dan kejahatan publik lain tidak pernah surut, apalagi berhenti.

Tentu semua kejahatan publik itu akan lebih membandang ketika jurnalis tidak melakukan investigasi dan hanya menulis seremoni pejabat berdasarkan press release humas yang mendewakan atasannya.

Jurnalis bertanggung jawab kepada publik untuk mengetahui semua kotoran yang ada di bawah karpet merah. Namun jurnalis bukan malaikat, karena hanya pembawa informasi kepada publik.

Saya ingat satu ungkapan dari Tata Hermien yang sangat membekas. “write like you talk.” Ungkapan ini di satu sisi, sangat berbahaya bagi orang Flores yang dikenal omong banyak, kadang minim substansi. Orang Lio bilang wora yang artinya buih, busa. Omong sampai mulut berbih dan berbusa. 

Ada orang memang punya kemampuan seperti itu. Tapi sesungguhnya menulis itu titian untuk mendisiplinkan pikiran yang akan memelihara kesegaran otak, menjauhkan manusia dari demensia, dan membuat manusia tetap produktif sampai usia lanjut. 

Menulis dapat mempertemukan semua orang dari berbagai latar belakang dan meruntuhkan tembok pemisah antara penulis dan pembaca.

BRI Perkuat Akses Keuangan Masyarakat Lewat Jaringan 1 Juta AgenBRILink
UMKM Sikka Hadir di Pameran Inacraft 2025, Buka Empat Booth di JCC
Pesan Inspiratif: Peran Para Malaikat Dalam Hidup Manusia
Menulis itu sama dengan berceritera, berkisah, bernarasi dan bertutur secara lisan. Dalam dunia jurnalisme modern, ada tradisi yang kini kembali dikembangkan secara luas oleh media massa. Itulah jurnalisme story telling atau jurnalisme tutu koda dalam bahasa Lamaholot, Flores Timur-Lembata.

Generasi kami yang masih tumbuh dalam tradisi lisan sesungguhnya sangat beruntung karena masih dapat mengenyam proses tumbuh-kembang bersama tradisi tutu koda yang dipandu orang tua, kakek dan nenek. 

Sekarang ini setelah industri gadget telepon seluler pintar melibas dunia, tradisi tutu koda itu perlahan punah. Mungkin suatu waktu akan tinggal kenangan tanpa makna.

Tata Hermien mengabdikan seluruh diri dan hidupnya dalam dunia jurnalisme. Kepulangannya ke rumah Tuhan tidak menghilangkan jejak persembahan dirinya yang tulus. Hermien mendapat bilik istimewa dalam kenangan semua orang yang mengenal dan mengalami kasih Tuhan melalui kehadirannya.

Wahyu Dhyatmika adalah jurnalis Tempo yang bersaksi tentang kiprah Hermien di ruang redaksi einvestigasi majalah Tempo. Dia melukiskan Hermien Kleden sebagai sosok “Sangat teliti, sangat cerewet namun sekaligus sangat perhatian pada reporter.

Dia selalu memanggil kami dengan sapaan “adik”. Dia menempatkan dirinya sebagai senior yang selalu siap mendidik kami, berbagi ilmu dan pengetahuan. 

Dia sangat cermat dalam menulis, piawai menggunakan kata, lincah memindahkan peristiwa menjadi teks berita. Dia tidak pernah pelit bercerita, tak pernah lelah menjadi mentor, tak pernah berhenti menjadi guru.”

Wahyu menulis, di kalangan jurnalis Tempo, Tata Hermien sangat percaya diri dan mengajarkan para yunior untuk menghargai diri mereka sendiri. Dengan kepribadiannya yang hangat, dengan wawasan yang sangat luas, dengan kecerdasannya yang di atas rata-rata, dengan pikirannya yang terbuka, dengan keingintahuannya yang tak pernah habis, dia sesungguhnya mengajarkan bagaimana menjadi sosok jurnalis yang baik.

Jurnalis harus memberi suara pada mereka yang tak bisa bersuara. Suara itu mesti berkualitas. Maka jurnalis mesti selalu haus akan pengetahuan dan cekatan menambah amunisi suaranya.

Bagi seorang jurnalis, buku adalah sahabat hingga akhir. Membaca buku berarti belajar untuk menulis lebih baik, kaya perspektif, mengasah kepekaan dan mendisiplinkan gerak pikiran.

Maumere Heboh: Video Nasi Berulat di SMK Yos Tiba-tiba 'Hilang' Setelah Kepala SPPG Turun Tangan
MBG Berulat: Skandal atau Bukan Skandal?
Pesan Inspiratif: Misteri Salib Kristus
Sewaktu masa studi di Jakarta, Tata Hermien kadang mengajak diskusi yang biasanya sambil makan malam. Sopirnya yang sangat setia selalu menjemput saya di depan stasiun kereta api Menteng, Jakarta pusat.

Mobilnya dirancang sekian sehingga menjadi perpustakaan. Banyak buku bertebaran. Tempat duduknya dipasangi lampu sehingga ia bisa membaca naskah liputan, buku terbaru ataupun bahan seminar. Segala waktu dimaknai dengan membaca dan menulis.

Tulisan-tulisan itu abadi. Apalagi di era digital saat ini dengan kecepatan dan pendokumentasian yang rapi.
Tata Hermien…Terima kasih untuk semua teladan. Kesetiaan dalam kerja dan ketekunan dalam membangun pikiran.

Buku-buku yang Tata kirim tersimpan di rak Oring Literasi Siloam Lembata. Anak-anak dan orang muda akan melahapnya. Semoga buku-buku itu menularkan kreativitas membaca dan ketekunan mengembangkan diri agar sekali waktu anak-anak ini mampu menulis hidup.

Melalui menulis, anak-anak dapat bercerita tentang diri, hidup dan pengalamannya. Selamat beristirahat dengan tenang dalam keabadian-Nya. Doakan kami… *

*Jurnalis, Penulis Buku dan Pendiri Oring Literasi Siloam Lembata.

Catatan: Artikel ini sudah ditayangkan di FloresPost.net, Kamis, 2 Oktober 2025 - 11:45 WITA.

Hermien Kleden: Jurnalis Perempuan yang Langka dari Flores

Hermien Y. Kleden

Oleh: Petrus Dabu

Tak banyak perempuan Flores yang menjadi jurnalis, apalagi menggapai posisi penting sebagai petinggi di media selevel Tempo.

Hermien Yosephine Kleden, perempuan asal Flores Timur salah satu dari yang sedikit itu. Ia kemudian meninggalkan jejak berharga selama hampir empat dekade sebagai jurnalis.

Beragam bentuk warisannya membuat kabar kematian Hermien yang tersiar di berbagai platform media sosial pada 29 September sontak menjadi duka bagi banyak orang, terlebih mereka yang pernah mengenalnya secara dekat.

Kak Hermien – begitu ia disapa – menghembuskan nafas terakhir pada pukul 22.08 WIB di RSUD Pasar Minggu, Jakarta Selatan, dalam usia 62 tahun karena komplikasi penyakitnya.

Kakaknya, Pastor Leo Kleden, SVD menyebut Hermien meninggal hanya beberapa menit usai ia tiba tepat pada pukul 22.00, berbicara sebentar dengannya dan mengulurkan berkat.

“Lalu, dengan tenang sekali dia menutup mata,” kata Pastor Leo yang merupakan dosen di Institut Filsafat dan Teknologi Kreatif Ledalero di Flores.

Setelah disemayamkan di Rumah Duka RS St. Carolus Jakarta, Hermien dimakamkan pada 1 Oktober di Jagakarsa. 

Hermien lahir pada 6 April 1963 di Waibalun, Kecamatan Larantuka, Kabupaten Flores Timur. Ia memilih tidak menikah.

Selain Pastor Leo, salah satu kakaknya adalah kritikus sastra dan sosiolog terkenal Ignas Kleden yang meninggal pada Januari tahun lalu.

Hermien menempuh pendidikan di Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Gadjah Mada.

Sejak 1987, ia merintis karier jurnalistik sebagai kontributor sebuah majalah internasional berbasis di Prancis. 

Ia juga pernah bekerja di Majala Matra-milik Grup Tempo-, sebelum bergabung dengan Tempo pada 1999. 

Di majalah yang kental dengan liputan investigatif itu, ia pernah menjabat sebagai Wakil Redaktur Eksekutif Majalah Tempo, Pemimpin Redaksi Tempo edisi Bahasa Inggris dan anggota Dewan Eksekutif Tempo Media Group. 

Ia dikenal luas karena wawancaranya dengan tokoh dunia seperti Fidel Castro-mantan perdana menteri dan presiden negara komunis Kuba-, Saddam Hussein-mantan Presiden Irak dan Lee Kuan Yew, mantan Perdana Menteri Singapura.

Atas dedikasinya sebagai jurnalis, ia menerima Penghargaan SK Trimurti dari Aliansi Jurnalis Independen (AJI) pada 2009.

Penghargaan itu mengapresiasi perempuan yang berjuang di bidang kebebasan pers, kebebasan berekspresi, kesetaraan gender, HAM dan keberpihakan pada kaum tertindas. 

Sosok yang Teliti, Mentor Bagi Jurnalis Senior

Wahyu Dhyatmika, CEO Tempo Digital yang pernah dididik Hermien mengenangnya sebagai sosok yang “sangat teliti, sangat cerewet namun sekaligus sangat perhatian pada reporter.”

Ia mengingat pengalaman saat Hermien menjadi redaktur investigasi di Tempo, rubrik yang disebut Wahyu “paling keras” di majalah itu.

“Kalau mengirim penugasan mengejar narasumber untuk diwawancarai, atau mereportase satu peristiwa, Kak Hermien akan menelepon dulu setelah mengirim email berisi outline liputan,” tulisnya dalam artikel di Indonesiana.

“Dia akan memastikan kami paham angle yang harus dicari, detail yang harus diperhatikan dan fakta yang harus dikonfirmasi.”

Demikian juga setelah laporan dikirim, cerita Wahyu, Hermien kembali menelepon untuk memastikan setiap kata, kalimat, nuansa dan detail dari laporan reporter itu agar ia tak keliru menuliskannya dalam bentuk berita. 

“Dia selalu memanggil kami dengan sapaan ‘adik’, menempatkan dirinya sebagai senior yang selalu siap mendidik kami, berbagi ilmu dan pengetahuan,” kenang Wahyu yang saat ini juga menjadi Ketua Umum Asosiasi Media Siber Indonesia.

Metta Dharmasaputra, Founder dan CEO Katadata, eks wartawan Tempo, juga punya kenangan serupa. 

Hadir dalam Misa Arwah di Rumah Duka St Carolus Jakarta pada 30 September malam, Metta menyebut Hermien tak hanya sebagai mantan atasan, tetapi juga seorang guru.

“Kak Hermien adalah salah seorang yang menjadi tempat saya menimba ilmu bagaimana menulis dengan gaya bertutur ala majalah Tempo,” katanya.

Menurut Metta, Hermien adalah salah satu penulis terbaik yang pernah dimiliki Tempo, menggambarkannya sebagai sosok dengan “gaya bahasa bertutur dan deskriptif-naratifnya amat memikat.” 

“Dia tak paham sepak bola sama sekali. Tapi ketika Piala Dunia berlangsung, dia dengan piawai menuliskan artikel bola dengan sangat gurih dan renyah untuk dinikmati para penggila bola,” kata Metta.

Ia juga mengenang Hermien sebagai pekerja keras yang berdedikasi pada pekerjaannya.

“Ketika kami yang lebih muda selalu menyelipkan waktu untuk tidur sejenak di kursi pada malam deadline setiap Jumat dan Sabtu subuh tiap pekan, Hermien tak pernah beranjak dari depan komputernya. Terus bekerja hingga fajar datang,” tulisnya.

Meski dalam hal pekerjaan Hermien sosok yang “cukup galak”, namun ia juga ramah dan riang.

“‘Adik oke kan?’ Begitu dia biasa menyapa. Dan, jika ada acara kumpul-kumpul, ia pun selalu di depan memimpin poco-poco,” kata Metta.

Aktif di Lingkungan Gereja, ‘Galak’ terhadap Para Imam

Selain jurnalis, Hermien juga aktif dalam berbagai kegiatan sosial, termasuk dalam lingkungan gereja. 

Ia tercatat sebagai Presidium Hubungan Luar Negeri Ikatan Sarjana Katolik Indonesia (ISKA).

Hargo Mandirahardjo, Ketua Umum Presidium Pusat ISKA periode 2017-2021 menyebut “Hermien memberi peran dan warna di ISKA dengan kepiawaiannya dalam komunikasi, riset dan mengolah data yang sangat dibutuhkan ISKA sebagai Ormas cendekiawan Katolik.”

“ISKA kehilangan sosok yang penuh dedikasi dan total dalam pelayanan untuk organisasi, gereja dan bangsa,” katanya.

Hermien juga merupakan anggota Komisi Kerasulan Awam di Konferensi Waligereja Indonesia (KWI), lembaga dengan anggota para uskup.

Romo Yohanes Jeharut, sekretaris eksekutif komisi itu menggambarkan Hermien sebagai sosok yang taat dan berkomitmen pada tanggung jawabnya.

“Jika tidak bisa menghadiri rapat karena kesibukan atau alasan lain, Kak Hermien selalu mengirim pesan WhatsApp, nyaris seperti refrain, ‘Ama, kaka mohon maaf tidak bisa hadir,” kenang Romo Hans-sapaanya- dikutip dari artikel panjang di Facebooknya.

“Kalau ada tugas siap dilaksanakan’. Dan benar. Jika ada tugas, dia melaksanakan dengan tuntas. Sempurna,” tambahnya.

Romo Hans berkata, pada tiga tahun terakhir, ia memberi Hermien penugasan baru untuk mendampingi para imam muda yang usia tabisannya antara 5-10 tahun.

Saat Hermien bertanya, “Apa yang bisa saya bantu?” ia menjawab “tak memintanya mengajar keterampilan jurnalistik, teknik wawancara dan sejenisnya.”

“Itu sudah terlalu biasa untuk Hermien Kleden. Saya minta Kaka bicara sebagai seorang awam, perempuan dan saudari seorang imam,’” kata Hans.

Ia memberinya pesan bahwa “kami ini begitu ditahbiskan langsung jadi manajer, bahkan direktur,” tanpa kuliah atau khursus manajemen.

“Tidak semua bisa menghadapi tahapan ini dengan baik. Ada yang gagap, gamang dan gagal,” kata Hans, memberi sinyal soal apa yang mesti Hermien kerjakan.

Pemberian tugas itu juga muncul karena Hans melihat Hermien sebagai sosok perempuan Flores yang peduli dengan kehidupan para imam.

Ia cenderung protektif terhadap para imam, kenang Hans. “Galak! Itu saya rasakan,” kata Hans.

Hans juga mengenang saat Hermien membantu sebagai panitia salah satu sidang para uskup dan diminta mengoreksi pernyaatan akhir.

“Dia melakukan editing seperti layaknya seorang editor senior. Di sela-sela itu saya mengingatkan ‘Kaka Hermien, ini pendapat uskup. Kalau sudah berhadapan dengan uskup, kita hanya bisa taat. Kalau hanya ganti koma ganti titik satu dua, bolehlah. Tapi kalau membuat editing seperti ini, saya takut kita kena kutuk.’ Kami tertawa,” katanya.

“Tapi Hermien tetaplah Hermien. Menurut dia, pesan apapun harus disampaikan dengan jelas, lugas dan jernih sehingga orang bisa menangkap juga dengan jelas dan jernih. Bahkan ketika harus menyatakan secara implisit pun, yang implisit itu bisa dipahami dengan baik,” tambah Hans.

Kontribusi sosial Hermien juga mendapat pengakuan dari Komisi Nasional Anti Kekerasan terhadap Perempuan (Komnas Perempuan).

Dalam ungkapan dukacita di akun Instagram, lembaga itu menyebut Hermien sebagai mitra sekaligus sahabat.

Ia disebut berperan penting “dalam membagikan pengalaman, wawasan kritis, serta etika jurnalisme yang memperkaya perspektif kami dalam menyuarakan isu-isu keadilan dan hak asasi perempuan.”

“Melalui dedikasi dan keterlibatannya, almarhumah turut menguatkan langkah Komnas Perempuan dalam membangun komunikasi publik yang berpihak pada korban, berbasis kebenaran, serta mendorong perubahan sosial yang lebih adil dan setara,” tulis lembaga itu.

“Komnas Perempuan kehilangan seorang sahabat yang tulus, kritis dan penuh kepedulian. Namun, jejak kontribusi beliau akan terus hidup dalam setiap upaya bersama mewujudkan ruang publik yang aman, inklusif dan bebas dari kekerasan terhadap perempuan.”

Merawat Kehidupan Spiritual

Sementara di mata publik dikenal sebagai jurnalis berdedikasi dan aktif dalam kegiatan sosial, Hermien juga merawat kehidupan spiritualnya sebagai orang Katolik.

Cornelius Corniado Ginting, pendiri Center of Economic and Law Studies Indonesia Society (CELSIS) yang juga kolega Hermien di ISKA membagikan pengalaman kala suatu sore sekitar tiga bulan lalu mereka bersama-sama dalam kereta api ke Jakarta.

“Kami duduk berhadapan sekitar tiga puluh menit. Tepat pukul 18.00, Azan Magrib berkumandang dari kejauhan. Di saat itu, wanita tersebut merogoh saku jaketnya, mengeluarkan sebuah salib berwarna hitam, lalu membuat tanda salib dengan khidmat,” tulis Cornelius di Facebooknya.

Ia melihat Hermien “menundukkan kepala, memejamkan mata dan berdoa dalam tradisi Katolik yaitu Doa Angelus.”

“Seusai berdoa, ia kembali menggenggam salib itu erat, melingkarkannya di tangannya seakan menjadi kekuatan batin.”

Sesaat kemudian, ketika kereta itu berhenti di Stasiun Cikini, Jakarta Pusat-tujuan perjalanan Hermien-, Cornelius menyalaminya.

“Ia tersenyum dan menyampaikan sebuah pesan yang hingga kini masih terdengar di telinga saya: ’Teruslah berkarya dan teruslah menulis.’”

Selamat jalan Kak Hermien!

Sumber: Floresa.co 

Mengenang Hermien Y. Kleden


Hermien Y. Kleden

Oleh: Gunoto Saparie

Senin malam, 29 September 2025, pukul 22.08. Di RSUD Pasar Minggu, Jakarta, sebuah hayat berhenti. Hermien Y. Kleden, seorang jurnalis senior di Tempo, meninggal dunia.

Ada yang datang dengan berita lirih itu: kepergian seorang yang namanya terikat pada kata-kata, pada kritik, pada keberanian untuk mengatakan yang lain. 

Bukan sekadar kabar duka, melainkan tanda bahwa satu suara yang kritis, yang jernih, telah padam dari tubuh manusia---meski mungkin tidak dari kesadaran kita.

Hermien dikenal sebagai seorang pemikir kritis. Ia berani menyoal, menggugat, dan mengurai dengan cara yang tak pernah dangkal. 

Dalam dunia kritik sastra, suaranya menghadirkan sesuatu yang jarang: ia bukan hanya bicara tentang teks, tetapi juga tentang dunia yang melatari teks itu. Ia membaca karya sastra seperti membaca kenyataan, sebuah kenyataan yang penuh luka, ketidakadilan, tapi juga harapan.

Di situ kita melihat: bagi Hermien, kritik bukan sekadar soal estetika. 

Kritik adalah percakapan dengan kebenaran. Kritik adalah usaha untuk melihat apa yang disembunyikan, apa yang terlupakan, apa yang dipinggirkan.

Wawasan kritis Hermien lahir dari kesetiaan pada pembacaan yang jujur. Ia menolak untuk menjadi sekadar akademisi yang dingin, atau pengamat yang netral. 

Dalam dirinya, kritik selalu berpihak. Dan keberpihakan itu jelas: pada korban, pada perempuan, pada yang lemah, pada yang dipinggirkan.

Ia sering menyinggung soal keadilan, hak asasi manusia, kesetaraan gender, hal-hal yang tak jarang diabaikan, bahkan ditertawakan, di dunia yang masih sibuk dengan dominasi dan kuasa. 

Hermien memandang kritik sastra bukan hanya urusan keindahan teks, tetapi juga etika kemanusiaan.

Di ruang publik, suaranya terdengar tegas. Hermien berbicara dengan bahasa yang lugas, kadang tajam, tetapi tidak pernah kehilangan empati. 

Ia percaya bahwa komunikasi publik bukanlah panggung untuk pamer kepandaian, melainkan sarana untuk menguatkan yang rapuh.

Dalam jurnalisme, ia mendorong etika yang sederhana namun sering terlupakan: berpihak pada korban, pada kebenaran, pada keadilan. 

Sebuah etika yang tidak populer di tengah arus berita yang sering lebih menyukai sensasi daripada substansi.

Hermien seakan ingin mengatakan: kata-kata hanya berguna jika ia mampu melindungi yang lemah.

Maka mengenang Hermien, bukan hanya mengenang seorang kritikus sastra, tetapi juga seorang intelektual publik. Ia membangun percakapan tentang teks, tetapi juga tentang dunia di balik teks. 

Tentang puisi, tetapi juga tentang penderitaan. Tentang cerita, tetapi juga tentang hak asasi perempuan.

Dengan begitu, Hermien memperlihatkan kepada kita bahwa sastra dan kehidupan tak bisa dipisahkan. Kritik sastra yang sejati, bagi Hermien, adalah kritik atas dunia itu sendiri.

Kepergiannya menimbulkan satu pertanyaan: siapakah kini yang akan menjaga ruang percakapan itu? Kita hidup di zaman ketika kritik semakin singkat, sering kali sekadar komentar media sosial. 

Zaman ketika kata-kata lebih sering digunakan untuk berteriak, bukan untuk memahami.

Hermien menolak jalan pintas itu. Ia sabar menelaah. Ia tekun membaca. Ia tetap percaya bahwa kata-kata harus dirawat dengan kesungguhan.

Kita mungkin kehilangan tubuhnya, tetapi apakah kita juga akan kehilangan kesabaran itu?

Saya kira, inilah arti sesungguhnya dari mengenang Hermien: bukan sekadar melukiskan sosoknya, melainkan melanjutkan sikapnya. Menghidupkan kembali keberanian untuk berpikir kritis. 

Menjaga kepekaan pada yang terpinggirkan. Menyadari bahwa setiap kalimat selalu punya konsekuensi moral.

Hermien sudah menunjukkannya. Kini, giliran kita.

Tetapi mengenang juga berarti mengingat bahwa Hermien adalah manusia, dengan keluarga, dengan sahabat, dengan cinta. 

Ada duka yang lebih sunyi dari sekadar kehilangan intelektual: duka keluarga yang ditinggalkan. 

Bagi mereka, Hermien bukan sekadar kritikus, bukan hanya suara di ruang publik, tetapi juga seorang istri, seorang ibu, seorang sahabat yang hangat.

Kematian, pada akhirnya, selalu sederhana dan personal.

Namun, seorang penulis, seorang kritikus, seorang intelektual, selalu meninggalkan jejak yang tak bisa ditutup. Tulisan-tulisannya, percakapannya, bahkan keberaniannya, semua itu tetap hadir. 

Kita bisa membuka kembali catatan-catatan Hermien, dan merasa seakan ia masih duduk di hadapan kita, berbicara, menantang, mengingatkan.

Seperti kata seorang filsuf: seorang penulis mati, tetapi bukunya tak pernah mati.

Mungkin benar, kematian adalah titik. Tetapi dalam kasus Hermien, saya lebih percaya: ia adalah koma. Kalimat masih berlanjut. 

Gagasan-gagasan yang ia tulis masih terbuka untuk dibaca, ditafsirkan, diperpanjang. 

Hermien tetap ada, di sela-sela halaman, di ruang diskusi, di hati orang-orang yang pernah disentuh pikirannya.

Senin malam, 29 September 2025, pukul 22.08, sebuah tubuh berhenti bernapas. Tetapi sebuah percakapan panjang masih terus berlangsung.

Apakah arti mengenang? Mengenang berarti menolak lupa. Menolak hilang. Kita tak bisa menunda kematian, tetapi kita bisa menjaga agar seseorang tetap hidup dalam kesadaran kita.

Hari ini kita mengenang Hermien Y. Kleden. Bukan hanya dengan duka, tetapi dengan tekad untuk melanjutkan apa yang ia percayai: bahwa kata-kata harus berpihak, bahwa kritik harus membela, bahwa komunikasi publik harus menguatkan, bukan melemahkan.

Mungkin itulah warisan Hermien: sebuah sikap. Dan warisan itu, bila kita jaga, akan membuatnya tetap ada.

Maka kita ucapkan, "Selamat jalan, Hermien. Bukan dengan air mata saja, tetapi dengan janji: bahwa kata-kata yang kau cintai, akan tetap kami rawat."

*Gunoto Saparie adalah Ketua Umum Satupena Jawa Tengah.

Sumber: Kompasiana



Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Best WordPress Themes