Tragedi De Kuip


Italia juar Euro 2020
Juara Piala Dunia empat kali. Yes! Tapi jangan bilang Italia selalu bahagia karena sepak bola. 

Euro adalah jalan sengsara bagi Squadra Azzurra. Jejak pilu berurai air mata dalam penggalan waktu lebih dari lima puluh tahun. Derita setengah abad yang belum berujung. 

Setelah pesta gemerlap 1968 berkat kemenangan 2-0 atas Yugoslavia, dua kali Italia mencapai tangga puncak Piala Eropa.  Namun, kegetiran menyelimuti justru ketika hampir semua orang yakin mereka meraih trofi juara.

Di antara via dolorosa Gli Azzurri, tak ada yang lebih perih ketimbang tragedi De Kuip. 

Sayatan sembilu itu masih membekas utuh di hati Paolo Maldini Cs meskipun sudah lebih dari seratus purnama berlalu.

Rotterdam Belanda 2 Juli 2000. Final Euro, Italia vs Prancis. Duel membosankan malam itu baru luruh terurai ketika pertandingan bergulir hampir satu jam.

Melihat rekannya Luigi Di Biagio, Stefano Fiore dan Francesco Totti kesulitan menembus benteng Prancis yang dikawal super ketat Lilian Thuram, Marcel Desailly dan Laurent Blanc, Gianluca Pessotto naik membantu.

Menit ke-55, Pessotto bergerak lincah dari sisi kanan lalu melepaskan umpan silang terukur ke kotak penalti lawan. 

Marco Delvecchio yang lolos dari kepungan Thuram, Bixente Lizarazu dan Blanc, menyambar bola lewat sontekan cantik kaki kiri. Gol!

Fabien Barthez berdiri kaku dengan mulut sedikit terbuka. Terkejut menatap bola telah mencabik gawangnya. Laurent Blanc urung membuat ritual, mengecup kepala botak kiper Fabien Barthez.

Italia unggul 1-0. Pendukung Gli Azzurri tak henti bernyanyi di Stadion De Kuip Rotterdam. Fans Les Bleus membisu di seberang tribune. Hening.

 Prancis asuhan Roger Lemerre berbalik menyerang. Berduel spartan dalam sisa waktu 30 menit. Akan tetapi Didier Deschamps dkk begitu sulit menembus pertahanan Italia yang digalang apik Paolo Maldini, Alessandro Nesta,  Mark Iuliano,dan Pessotto.

Italia memimpin hingga menit terakhir injury time 90 + 4. Sesaat lagi akan ada pesta di Roma, Milan, Turin, Napoli. Sementara ketegangan memuncak di Paris.

Tiga puluh detik menjelang Wasit Anders Frisk dari Swedia meniup peluit akhir, Fabien Barthez keluar jauh dari sarangnya. 

Dia mengirim bola langsung kepada David Trezeguet yang berdiri sedikit luar kotak 16 meter pertahanan Gli Azzurri. 

Trezeguet menyundul bola umpan kepada Sylvain Wiltord yang bergerak di sayap kiri. 

Dua langkah sesudahnya, Wiltord melepaskan tembakan mendatar kaki kiri yang indah mematikan. Bola menyusur tanah, melewati jangkauan kiper Italia Francesco Toldo.

Skor 1-1. Pertandingan harus berlanjut ke masa perpanjangan waktu memakai sistem golden goal (gol emas). Semangat bertanding Italia runtuh. 

Les Bleus menggila. Tepat sebelum paruh waktu masa extra time, Robert Pires memotong bola dari kiri, memberikan kepada David Trezeguet yang sekali sentuh menembakkan gol emas lewat kaki kiri ke sudut atap gawang Toldo. 

Sesuai aturan golden goal, Anders Frisk langsung meniup peluit panjang tanda berakhirnya laga final. Squadra Azzurra terluka. Remuk redam dalam tragedi 30 detik yang menyesakkan dada. Kota Paris bercahaya. Duka Roma tak terkira.

Dunia mengelu-elukan Prancis. Zinedine Zidane dkk membawa pulang trofi Euro 2000 ke Paris, melengkapi kejayaan mereka dua tahun sebelumnya meraih gelar juara Piala Dunia 1998. Pesta kembang api menghiasi menara Eiffel dan Champs-Élysées.

Tragedi De Kuip paling menyakitkan bagi pelatih Italia saat itu Dino Zoff dan kapten tim nasional Paolo Maldini.

Dino Zoff menyebutnya sebagai takdir Gli Azzurri. Menurut pahlawan Italia di Piala Dunia 1982 ini, tim asuhannya memang ditakdirkan untuk kalah. "Tiga puluh detik menghapus kemenangan kami," kata Zoff. 

“Kami memiliki waktu yang hebat di final tersebut. Pemain kami sangat kompak dan segalanya berjalan baik hingga saat-saat terakhir,” kata Paolo Maldini seperti dirilis uefa.com.

“Hingga 30 detik sebelum berakhirnya final, kami merupakan juara Eropa. Namun, kami memang melawan tim yang tidak pernah menyerah dan mereka berhasil menyamakan kedudukan di 30 detik pertandingan,” ujar  Maldini.

“Kami tiba-tiba langsung menyadari kami akan kalah. Itu bukan sekadar  gol menyamakan kedudukan,” ungkap Maldini.

Setelah gol Wiltord, kata Maldini, dia  berusaha  memotivasi rekan-rekannya untuk terus berjuang hingga menit terakhir.

“Kami saling mengingatkan agar bangkit dan memenangi final. Tapi itu hanya kata-kata, karena di hati kami paling dalam, kami sadar gol Wiltord merupakan pukulan psikologis amat besar,” ujarnya.

Sistem gol emas sungguh menghadirkan sudden death. Meski masih tersisa waktu 15 menit, Italia tak punya kesempatan lagi untuk membalas gol Prancis.

Federation Internationale de Football Association (FIFA) mulai menerapkan golden gol tahun 1993. Usia aturan ini tidak panjang karena dianggap tidak adil. Pada tahun 2004 FIFA mencabut aturan gol emas tersebut.

Dua belas tahun setelah malam jahanam di Rotterdam, Kiev kembali menghadirkan harapan bagi Italia berjaya di Piala Eropa setelah 1968.

Mario Balotelli dkk lolos ke final Euro melawan Spanyol 1 Juli 2012. Apalah daya. Tim generasi emas La Furia Roja tampil begitu perkasa.

Sungguh sakti mandraguna.  Final Euro 2012 menjadi momen antiklimaks yang memilukan. Spanyol menang telak 4-0.

 Dalam waktu 90 menit, Gianluigi Buffon empat kali memungut bola dari gawangnya.

Gol Spanyol sumbangan  David Silva (14'), Jordi Alba (41'), Fernando Torres (84'), dan Juan Mata (88'). Gol tercipta amat mudah. 

Spanyol seolah tak mendapat perlawanan apa-apa. Itulah sebabnya Italia menerima kekalahan final 2012 dengan lapang dada. Tak seperih "takdir 30 detik" dua belas tahun sebelumnya di Belanda.

***

Malam ini 11 Juli atau 12 Juli 2021 waktu Indonesia, Italia menapaki babak grandfinal Euro yang keempat sepanjang sejarah Piala Eropa. 

Mereka melawan Inggris yang bermain di kandang sendiri, stadion legendaris Wembley London. 

The Three Lions sedang berada pada level permainan terbaik. Penuh gairah yang meluap-luap karena untuk pertama kali mencicipi final Piala Eropa.

Italia dan Inggris sudah bertemu di berbagai event sebanyak 27 kali.  Italia menang 11 kali, kalah 8 kali dan sisanya imbang. Rekor head to head yang menawan.

Khusus di ajang Piala Eropa dan Piala Dunia, Italia selalu mengalahkan Inggris dalam empat pertemuan mereka. Piala Eropa 1980 di Roma, Italia mengalahkan  Inggris 1-0 di fase grup. 

Italia menekuk Inggris 4-2 (0-0) lewat adu penalti pada babak perempat final Piala Eropa 2012 di Polandia-Ukraina.

Saat perebutan posisi ketiga Piala Dunia 1990 di Roma, Gli Azzurri menang 2-1 atas Inggris. Teranyar, Italia mencampakkan Inggris 2-1 pada babak penyisihan grup Piala Dunia 2014 di Brasil.

Inggris baru sekali masuk final dan meraih juara Piala Dunia 1966 saat menjadi tuan rumah. Italia mencapai final Piala Dunia enam kali, dan empat di antaranya juara yaitu 1934, 1938, 1982 dan 2006.

Sejak tahun 2018, tim asuhan Roberto Mancini meraih 33 kemenangan beruntun termasuk enam pertandingan sejak penyisihan Euro 2020. Mancini memancarkan harapan baru pascakegagalan negeri itu lolos ke Piala Dunia 2018.

Sejak fase grup Euro 2020, Italia mencetak total gol  12 dan gawang Gianluigi Donnaruma hanya kebobolan 3 gol. 

Hebatnnya lagi, lima pemain Italia masing-masing mencetak dua gol yaitu Lorenzo Insigne, Ciro Immobile, Federico Chiesa, Manuel Locatelli, dan Matteo Pessina. 

Ada sedikit soal, Italia kehilangan bek kiri Leonardo Spinazzola yang cedera parah saat melawan Belgia. Posisi bek kiri kemungkinan diisi Emerson Palmeiri. 

Kinerja Inggris pun fantastik. Tim Tiga Singa memenangi 11 dari 12 laga terakhir  termasuk enam partai Euro 2020 dengan mencetak 10 gol dan hanya kemasukan 1 gol.

Dari 12 laga terakhir, skuat asuhan Gareth Southgate mencetak total 25 gol, mencatatkan 10 clean sheet, dan cuma kebobolan 2 gol. Pertahanan yang keren.

Penampilan Inggris terus membaik sejak menyingkirkan Jerman. Inggris memiliki lini belakang tangguh, baru kebobolan sebiji gol selama Euro 2020. Lini depan khususnya sang kapten Harry Kane, semakin tajam. 

Kane sumbang empat gol dari tiga laga. Sementara Raheem Sterling yang sempat dicibir bikin diving melawan Denmark di semifinal, telah mengoleksi tiga gol.

Tidak ada pemain yang absen karena cedera atau hukuman kartu. Semua pemain Inggris siap tempur melawan Italia di Wembley.

 ***

Bagaimana kemungkinan  duel malam ini?  Hampir pasti berjalan alot selama 90 menit bahkan lebih.

Menarik untuk melihat siapa yang terbaik dalam lima lima pertempuran  kunci di setiap lini. Yang pertama, duel antara Harry Kane vs Giorgio Chiellini.

Baik Kane maupun Chiellini tidak menikmati perjalanan  mulus sepanjang turnamen ini, tetapi keduanya berperan penting untuk memenuhi harapan tim meraih trofi. 

Kapten Inggris, Harry Kane adalah pencetak gol terbanyak di babak kualifikasi, tetapi tumpul di babak penyisihan grup.

Inggris bersyukur striker Tottenham yang memenangkan Sepatu Emas Piala Dunia 2018 itu, bangkit dengan mencetak empat gol dalam tiga pertandingan fase gugur. 

Ketajamannya membawa Inggris ke final turnamen besar pertama selama 55 tahun.

Bek tengah veteran Italia, Chiellini  pun lambat panas. Terutama sejak pertandingan Grup A Italia melawan Swiss sampai kemenangan perempat final atas Belgia.

Namun kapten Azzurri itu, bersama bek Juventus, Leonardo Bonucci telah memainkan peran besar  membantu Italia menahan serangan gencar penyerang berbahaya Belgia di perempat final dan striker Matador di semifinal.

Duel berikutnya antara Raheem Sterling vs Giovanni Di Lorenzo. Pemain sayap Manchester City itu telah menjadi bintang Inggris sejauh ini.

Dia cetak gol kemenangan melawan Kroasia,  saat melawan Republik Ceko di penyisihan grup, dan gol pembuka dalam kemenangan 2-0  atas Jerman di babak 16 besar.

Dia juga membantu Inggis saat mengalahkan Denmark di semifinal, setelah  mencetak asis untuk gol pembuka Kane melawan Ukraina di perempat final. 

Di Lorenzo kemungkinan ditugaskan Mancini untuk meredam pergerakan Sterling. 

Bek kanan Napoli itu tampil baik meski sempat kesulitan meladeni kecepatan Jeremy Doku saat laga melawan Belgia, sehingga kebobolan gol penalti karena pelanggaran yang tidak perlu terhadap pemain remaja itu.

Duel selanjutnya adalah Kalvin Phillips vs Jorginho. Jorginho telah dianggap sebagai detak jantungnya lini tengah Italia. 

Lini tengah Italia banyak ditentukan kiprah Jorginho. Pemenang Liga Champions itu tidak dominan di semifinal  melawan Spanyol, ketika dia  menghadapi pemain muda sensasional Barcelona, Pedri.

Jorginho dan Pedri lebih banyak bermain di turnamen ini daripada Phillips yang dilatih Marcelo Bielsa di Leeds.

Inggris akan berharap Phillips dapat menggunakan energinya secara  baik demi meredam pengaruh Jorginho, seperti yang dia lakukan pada Luka Modric dalam pertandingan pembukaan  melawan Kroasia.

Duel kunci berikutnya adalah Luke Shaw vs Federico Chiesa. Dua pemain bintang turnamen akan saling berhadapan di sayap kanan Italia. 

Pemain muda Juventus, Chiesa telah menyiksa pertahanan lawan dengan kecepatan dan keterampilannya, termasuk saat mencetak gol brilian melawan Austria dan Spanyol.

Bek kiri Luke Shaw akan bertugas untuk menghentikannya. Bek MU itu juga menjadi ancaman saat menyerang. Dia telah menyumbang tiga asis di Euro 2020.

Kedua tim berharap bisa membuat lawannya lebih sibuk bertahan, daripada dibiarkan bebas berlari bersama bola menyerang ke lini pertahanan.

Duel kelima antara Harry Maguire vs Ciro Immobile. Immobile sejauh ini belum tampil maksimal di Euro 2020. Tetapi sudah mencetak dua gol dan memiliki rekor gol brilian untuk Lazio di Serie A.

Dia harus tetap dalam kondisi terbaik untuk menimbulkan masalah bagi Maguire, mengingat bek tengah Inggris itu tampil mengesankan sejak pulih dari cedera.

Immobile dapat berperan menekan Maguire selama mungkin sehingga bisa mencegahnya memainkan umpan ke depan yang sangat berbahaya.

Pertandingan final Minggu malam ini akan menjadi kesempatan tim Inggris untuk meraih gelar juara Eropa pertama kali. 

Bagi Azzurri, laga final ini bisa menandai kelahiran kembali sepak bola Italia setelah masa kegelapan bertahun-tahun. Terutama setelah gagal tampil di Piala Dunia 2018. 

Siapa pemenang di Stadion Wembley Senin dini hari nanti? Apakah tragedi De Kuip kembali menghampiri Gli Azzurri? 

Penggemar Inggris dan Italia silakan jawab sendiri ya. Selamat menonton!

* Artikel ini ditulis menjelang laga final Euro 2020 antara Inggris vs Italia di Stadion Wembley London 11 Juli 2021. Italia akhirnya menang 3-2 (1-1) lewat adu penalti dan meraih trofi Piala Eropa kedua dalam sejarah setelah tahun 1968. Artikel dipublikasikan Tribun Bali dan Pos Kupang online.


Ibu yang Malang


Dion dan Bukunya
Inggris adalah tanah air sepak bola, ibu yang melahirkan cabang olahraga terpopuler di Bumi. 

Seluruh dunia tahu tentang hal itu secara baik. Sejarah bola mencatatnya dengan tinta emas dan segala orang menerima tanpa prasangka. 

Tetapi Inggris adalah ibu yang malang, dan tidak bahagia. Ibu yang kesepian karena sang anak pergi sangat lama, bertualangan terlampau jauh hingga ke mana-mana. 

Begitu mesra mengasihi dan dikasihi oleh segala bangsa, sehingga ia lupa pulang ke pangkuan  ibu kandung yang melahirkannya.

Memang, pada suatu penggalan masa yang sudah lama sekali, anak bandel itu sempat pulang ke pangkuan ibunda. Tahun 1966, Britania yang menjadi tuan rumah World Cup menyanyikan tembang football coming home. 

Koor itu sungguh terbukti ketika Geoff Hurst dkk menumbangkan Jerman Barat 4-2 pada final tanggal 30 Juli 1966. Jules Rimet, trofi resmi Piala Dunia 1966 direbut Inggris. 

Sri Ratu Elizabeth II  yang hadir di  Stadion Wembley mengucapkan selamat, seluruh rakyat Inggris larut dalam pesta. Pelatih Alf Ramsey dipuja laksana dewa.

Namun, pesta itu hanya berlangsung sekali dan begitu cepat berakhir. Hari berganti, musim berlalu, bulan dan tahun terus bergulir, tapi prestasi Inggris tak lagi mencapai langit. 

Sebagai ibu kandung, segala cara sudah ditempuh agar sang anak betah di rumah sendiri. Ironisnya anak itu lebih memilih pergi jauh. 

Dengan entengnya ia berjalan-jalan menikmati indahnya pantai Copacabama Brasilia, bercengkerama dengan gadis-gadis latin bermata coklat.

Dia mengembara ke bumi Andalusia, ikut berjingkrak bersama para matador. 

Di lain waktu  melanglang buana ke negeri musikal Jerman, menikmati anggur oranye Belanda, bergoyang Tango bersama bocah Argentina atau tenggelam ria dalam pesta dansa di negeri mode Prancis dan Italia.

Setelah 1966, tim nasional sepak bola Inggris memang selalu gagal di event dunia, baik Piala Eropa maupun Piala Dunia. 

Ketika Piala Eropa 1996 berlangsung di tanah Britania,  tersembul harapan baru akan datangnya gelar terbaik. 

Sayang sekali, kenangan manis 1966 tak terulang. Inggris kalah 5-6 di semifinal melawan Jerman yang akhirnya menjuarai Euro 1996 setelah mematuk Ceko 2-1 di final. (Dion DB Putra dalam Bola Itu Telanjang, 2010, halaman 159).

  ***

Malam ini 7 Juli 2021, dua puluh lima tahun setelah kepedihan 1996, si anak bola pulang ke rumahnya, Wembley. Inggris sudah berada di babak semifinal Euro 2020 menghadapi Denmark. 

Italia  menanti di grandfinal 11 Juli 2021 setelah kemarin mengalahkan musuh klasiknya Spanyol 4-2 lewat adu penalti (1-1).

 Perjalanan Inggris begitu apik di Euro 2020 yang bergulir di tengah jerit tangis pandemi Covid-19. 

Gawang Jordan Pickford masih steril. Lima pertandingan tanpa kebobolan. Satu-satunya dari 24 tim peserta.

Inggris berjaya sejak fase grup D. Tekuk Kroasia 1-0, imbang 0-0 melawan Skotlandia, dan menang 1-0 atas Republik Ceko. Sesudahnya, skuat Gareth Southgate mempermalukan Jerman 2-0, dan menggilas Ukraina 4-0 di perempat final.

Harry Kane dan Raheem Sterling menjadi penymbang gol terbanyak, masing-masing tiga gol. The Three Lions sedang on fire, berada pada level terbaik kinerjanya. 

Langkah Denmark tertatih berliku. Terjal. Lolos untung-untungan ke babak 16 besar. Kalah dalam dua laga grup, nasib baik masih memihak mereka. 

Di fase gugur sumbu Dinamit meledak. Pasukan Kasper Hjulmand memukul Wales 4-0, dan menaklukkan Republik Ceko 2-1 di perempat final.

Suasana batin Denmark seolah kembali ke tahun 1992 ketika mereka pertama kali meraih trofi Piala Eropa. Veni, vidi, vici. 

Sempat terpukul pascainsiden kolapsnya Christian Eriksen pada laga pertama, Simon Kjaer Cc kini sudah menginjakkan kaki di empat besar. Selangkah lagi Denmark di partai puncak.

Rekor head to head Inggris lebih sakti. Dari 21 pertemuan, Inggris menang 12 kali, kalah 4 kali dan 5 laga berakhir imbang.

Dalam lima pertemuan kedua tim sejak 2005 skornya sama. Inggris menang 2 kali, kalah 2 dan sekali seri. Artinya Denmark bukanlah lawan mudah bagi Harry Kane dkk.

Sebelum Euro 2020, Inggris dan Denmark terakhir kali bertemu di ajang UEFA Nations League pada Oktober 2020 di Stadion Wembley, London 

Kala itu Inggris kehilangan Harry Maguire yang mendapatkan kartu kuning kedua, dan Denmark menang 1-0 lewat penalti Christian Eriksen.

Malam ini di Wembley yang pasti riuh penonton merupakan pertemuan mereka ke-22 sepanjang sejarah untuk merebut tiket final Euro 2000. 

Tiket emas yang belum pernah dicicipi Inggris sejak turnamen ini bergulir 60 tahun silam. 

Malam ini 7 Juli 2021, dunia menyaksikan si anak bola pulang ke rumahnya ibunya, Wembley. 

Setelah 90 atau 120 menit di sana apakah dia tetap tinggal di tanah airnya atau malah bertualang lagi, entah ke Kopenhagen atau kota abadi Roma.

Bagaimana menurut tuan dan puan? 

Selamat menonton!


* Ditulis menjelang laga Inggris vs Denmark di babak semifinal Euro 2020 tanggal 7 Juli 2021. Inggris  menang 2-1 dalam laga selama 120 menit dan lolos ke final bertemu Italia yang di semifinal mengalahkan Spanyol 4-2 (1-1) lewat adu penalti.

Saya, Umbu, dan Puisi


Umbu Landu Paranggi

Oleh Wayan Sunarta

Pertemuan pertama saya dengan Umbu Landu Paranggi merupakan sebuah pertemuan yang sangat menjengkelkan sekaligus menggelikan, yang terus membekas dalam kenangan. 

Namun pertemuan-pertemuan selanjutnya merupakan anugerah tak ternilai yang ikut mempengaruhi perjalanan hidup saya, terutama ketika bergesekan dengan dunia puisi.

Pada sebuah petang yang cerah di bulan Agustus 1993, ketika saya masih kelas tiga sekolah menengah atas, saya diajak oleh seorang kawan menonton pertunjukan teater di sebuah sanggar di Sanur, Denpasar. 

Kata kawan saya, Umbu pasti datang dalam acara itu. Kata dia lagi, kesempatan bertemu Umbu sangat langka, maka sangat rugi kalau saya tidak datang.

Ya, memang rugi kalau saya tidak ketemu Umbu, sebab pada waktu itu saya memang sedang tergila-gila ingin bertemu mantan “Presiden Malioboro” itu, sejak beberapa penyair senior di Bali “meracuni” otak saya dengan cerita-cerita nyleneh tentang Umbu. 

Pada waktu itu saya baru belajar menulis puisi dan baru mencicipi pergaulan sastra di Sanggar Minum Kopi (SMK), tempat kongkow penyair Denpasar, seperti Tan Lioe Ie, Warih Wisatsana, GM Sukawidana, Putu Fajar Arcana, K. Landras Syailendra dan banyak lagi. Umbu sekali waktu suka mampir ke SMK yang bekas toko klontong itu.

Tapi ketika itu saya belum pernah bersua dengan Umbu di SMK. Maka ketika kawan saya mengabarkan Umbu akan hadir di acara pentas teater itu, saya mempersiapkan diri untuk pertemuan yang bagi saya akan sangat bersejarah dalam karier awal kepenyairan saya. 

Sebelumnya saya sudah beberapa kali mengirim puisi (hampir setiap minggu) ke Bali Post yang gawang redaksinya dijaga ketat oleh Umbu. Setelah lebih dari 30 puisi saya menumpuk di meja Umbu, akhirnya dimuat hanya satu biji puisi yang berdampingan dengan karya beberapa penyair belia seangkatan saya. 

Tentu saya sangat girang dengan pemuatan perdana tersebut. Setelah perjuangan dan penantian yang meletihkan, akhirnya puisi saya diakui juga oleh Umbu. Saya pun merasa telah menjadi seorang penyair karena puisi saya dimuat Umbu, meski masih kelas penyair “Kompetisi.”

Umbu Landu dann Warih Wisatnana

Saya datang ke acara pentas teater itu dengan mengayuh sepeda. Kawan saya yang sudah lebih dulu di sana menarik tangan saya dan dengan wajah gembira mengabarkan Umbu benar-benar datang pada acara itu. Tentu saja saya penasaran dan clingak-clinguk mencari-cari orang yang bernama Umbu itu. 

Dalam bayangan saya, Umbu berperawakan tinggi besar, agak gemuk, wajah sedikit brewok. Tapi perkiraan itu sedikit meleset setelah kawan saya menunjukkan orang yang bernama Umbu. 

Umbu tidak gemuk, meski tubuhnya memang tinggi besar dan berotot. Wajahnya bersih, tidak ada bulu sedikit pun, hidungnya besar dan mancung, sorot matanya tajam namun menyejukkan, bibirnya lebar tapi jarang menyunggingkan senyum. 

Umbu nampak berwibawa di bawah naungan topi yang tidak pernah lepas dari kepalanya. Bertahun-tahun kemudian saya tahu kalau topi itu memang sengaja dipakai untuk menutupi rambutnya yang rontok dan mulai botak.

Umbu termasuk lelaki modis. Dia suka mengenakan t-shirt yang dipadu kemeja jeans dengan lengan digulung. Celana yang dipakainya juga kebanyakan jeans, kadang dengan variasi kantong di lutut. 

Pada kesempatan lain dia suka memakai baju lurik khas Yogya, sorjan. Rambutnya panjang sebahu. Dia suka memakai sendal semi sepatu sebagai alas kaki. Di pergelangan tangan kirinya melingkar gelang akar bahar hitam. Kadangkala lehernya dilingkari syal. 

Dia punya banyak koleksi topi yang secara bergantian dipakainya, mungkin juga disesuaikan dengan warna baju yang dikenakannya. Namun yang agak ganjil, kalau bepergian dia suka jalan kaki sambil menenteng tas kresek yang entah berisi apa. 

Kata seorang kawan, tas kresek itu mungkin berisi puisi-puisi yang akan dieksekusi sambil minum kopi di suatu warung di sudut pedesaan Bali.

Dada saya berdebar ketika Umbu lewat di depan saya. Kawan saya menyuruh saya segera menghampirinya dan memperkenalkan diri. 

Tapi jangankan memperkenalkan diri, menyapa dia saja saya kehabisan kata-kata. Pesonanya begitu kuat bagi jiwa remaja saya yang terlanjur mengaguminya gara-gara mitos yang ditanamkan ke benak saya. 

Dari kejauhan saya melihat dia asyik menerima salam dari para seniman senior yang hadir di sana. Umbu nampak takzim dan sesekali senyum tipis mendengar ocehan seniman-seniman yang banyak lagak itu. 

Pada mulanya saya hanya memperhatikan gerak-geriknya dari kejauhan. Tapi kesempatan tidak datang dua kali, pikir saya. 

Maka dengan menghimpun segenap keberanian, saya mendatangi Umbu yang lagi asyik ngobrol sambil berdiri dengan seorang seniman yang tidak saya kenal. Saya menjulurkan tangan agak ragu sambil memperkenalkan nama saya.

Tak lupa saya tambahkan bahwa puisi saya pernah dimuat di rubriknya, tentu dengan harapan dia mengingat saya. Tapi Umbu hanya menjabat tangan saya sekilas dan ngloyor pergi bersama temannya, meninggalkan saya yang terbengong-bengong sendiri. 

Saya pikir dia akan mengajak saya berbincang-bincang agak lama perihal proses kreatif saya, menanyakan sejak kapan menulis puisi, apa ada puisi baru, dan berbagai pertanyaan basa-basi lainnya, sebagaimana umumnya perkenalan pertama. 

Sejak itu pupuslah impian saya untuk ngobrol panjang lebar dengannya, dan kekaguman saya pada Umbu tiba-tiba saja menguap entah ke mana. Kesan pertama saya benar-benar berantakan tentang Umbu.

Belakangan kemudian saya tahu, Umbu bukanlah tipe orang yang suka basa-basi dan memang terkesan dingin bila berhadapan dengan orang yang baru dikenalnya. 

Tapi sebenarnya Umbu termasuk tipe lelaki pemalu. Kalau berbicara dengan Umbu, jangan harap dia mau menatap mata kita, apalagi dengan orang yang baru dikenalnya. 

Biasanya kalau diajak bicara, dia akan mengalihkan pandangan dari wajah lawan bicaranya.

Namun di balik semua kesan dinginnya, Umbu seorang pemerhati yang sangat hangat. Dia tidak jarang mengunjungi seorang calon penyair yang dianggapnya berbakat. 

Kadangkala dia datang membawa sejumlah buku puisi sebagai kado ulang tahun calon penyair itu. Pada kesempatan lain dia datang hanya untuk mengajak calon-calon penyair main kartu dan makan pisang rebus. 

Umbu memiliki cara tersendiri, seringkali tidak terduga, untuk memotivasi calon-calon penyair yang dianggapnya berbakat besar.

Mengenai hal itu saya pernah punya pengalaman diberi hadiah nasi bungkus oleh Umbu yang diistilahkannya sebagai nasi bungkus “Republika.” 

Pada waktu itu, tahun 1994, puisi saya untuk pertama kalinya dimuat koran nasional, Republika, bersama beberapa penyair senior Bali. Umbu sangat senang dengan pemuatan itu dan mendatangi saya secara khusus di SMK sekitar jam sepuluh, malam Minggu. 

Kebetulan waktu itu saya sedang asyik diskusi puisi dengan Tan Lioe Ie, Warih Wisatsana dan beberapa kawan lain, Umbu tiba-tiba muncul di pintu sanggar dan menjulurkan sebuah tas kresek kecil pada saya. “Jengki, ini nasi Republika, nasi khusus untuk kamu! Makanlah!” ujarnya sambil ketawa senang. 

Umbu Landu Paranggi

Tentu saja saya kaget dengan hadiah mendadak itu, apalagi yang memberikan orang sekaliber Umbu yang telah menjadi mitos itu. Teman-teman lain yang sudah paham kebiasaan Umbu hanya ketawa-ketawa kecil. Pembicaraan pun beralih pada puisi-puisi yang dimuat Republika itu. 

Belakangan saya tahu kalau nasi bungkus itu merupakan jatah makan malam Umbu dari Bali Post yang memang khusus dibawakan untuk saya karena berhasil menembus media nasional. 

Biasanya Umbu setiap hari Sabtu bekerja hingga malam di Bali Post untuk mempersiapkan rubrik sastra yang terbit setiap Minggu. Di luar hari Sabtu itu kami tidak pernah tahu Umbu berada di mana. Dia punya banyak tempat persinggahan yang selalu dirahasiakannya.

Lelaki yang bernama lengkap Umbu Wulang Landu Paranggi itu merupakan cucu salah seorang raja Sumba. 

Umbu dilahirkan di Kananggar, Waingapu, Sumba Timur, Nusa Tenggara Timur, 10 Agustus 1943. Yogyakarta merupakan tempat kelahiran kedua bagi Umbu. Kota Yogya telah membuat Umbu jatuh hati, yang dalam istilahnya, seakan rata dengan tanah. 

Jalan Malioboro dan barisan pohon cemara di depan kampus UGM adalah tempat yang paling berkesan bagi Umbu selama di Yogya. 

Sejak meninggalkan tanah kelahirannya di Sumba, Umbu ingin melanjutkan sekolah di Taman Siswa Yogya, tapi terlambat karena pendaftaran telah ditutup. Akhirnya Umbu meneruskan sekolah di SMA Bopkri 1 Yogyakarta.

Ketika bersekolah di SMA Bopkri itulah kebiasaannya menulis puisi tumbuh subur dan seringkali menelantarkan pelajaran lainnya. Di sekolah Bopkri itu pula Umbu menemukan seorang guru yang baginya ikut mempengaruhi jalan hidupnya kemudian, Ibu Lasia Sutanto, guru Bahasa Inggris. 

Setiap kali ada pelajaran guru itu, Umbu suka diam-diam menulis puisi. Umbu sendiri tidak mengerti, yang istilah Umbu entah setan atau dewa apa yang menyebabkannya begitu. Padahal Umbu sudah ditegur beberapa kali karena dianggap mengganggu jalannya pelajaran dan konsentrasi teman-temannya di kelas. 

Akhirnya karena jengkel dengan ulah Umbu, kawan-kawannya mendesak Ibu Lasia agar menghukum Umbu membaca puisi di depan kelas. Ibu Lasia berpikir dan merenung, kemudian memutuskan bahwa nanti kalau puisi Umbu sudah dimuat koran, baru dikritik. 

Ibu guru yang pernah menjadi Menteri Peranan Wanita pertama RI itu kemudian memasukkan puisi Umbu ke laci mejanya, dan pelajaran pun kembali berjalan. 

Tapi Ibu Lasia penasaran juga dengan apa yang ditulis Umbu, puisi itu dikeluarkan lagi dari laci mejanya, dimasukkan lagi, dikeluarkan lagi, begitu seterusnya. 

Mungkin saat itu Umbu berpikir bahwa Ibu Lasia berminat pada karyanya dan memberikan angin segar bagi proses kreatifnya. Sebab semestinya Umbu pantas dihukum karena sudah beberapa kali melanggar aturan kelas. Sejak itulah Umbu rajin menulis puisi dan kemudian dimuat di beberapa koran.

Tamat dari Bopkri, ibunya menginginkan Umbu melanjutkan kuliah ke fakultas Kedokteran Hewan, tapi Umbu menolak dengan alasan dia lemah dalam pelajaran Ilmu Alam. 

Diam-diam Umbu kemudian melanjutkan kuliah di Fisipol UGM jurusan Ilmu Sosiatri dan di Universitas Janabadra jurusan Sosiologi.

Di Yogya, sejak tahun 1950-an, Umbu sudah menulis puisi dan esai. Tetapi puisinya jarang yang menonjol dan menarik perhatian para kritikus sastra. 

Perannya dalam perkembangan puisi Indonesia modern adalah sebagai bidan bagi kelahiran penyair-penyair muda yang kelak menguasai dunia perpuisian mutakhir di Indonesia.

Pada tahun 1968, di Yogya, bersama penyair Suwarna Pragolapati, Iman Budi Santosa, dan Teguh Ranusastra Asmara, Umbu membidani dan mengasuh Persada Studi Klub (PSK) yang menguasai rubrik puisi di Mingguan Pelopor Yogya. 

Komunitas sastra itu kemudian melahirkan nama-nama besar, seperti Emha Ainun Najib, Korie Layun Rampan, Linus Suryadi AG, Yudistira Adi Nugraha. Umbu pun dikenal sebagai Presiden Malioboro dan penyair yang punya bakat mendidik.

Di Yogya-lah Umbu mengawali petualangan batinnya. Dia seperti kuda Sumba yang gampang-gampang susah dikendalikan. Keyakinannya pada puisi seperti angin sabana, mengalir terus tanpa ada yang mampu menahannya. 

Darah petualang, puisi dan angin sabana pula yang membuat Umbu terdampar di Tanah Dewata, yang mungkin menjadi tujuan terakhir pengembaraannya.

Umbu yang menetap di Bali sejak tahun 1979 selalu punya cara-cara unik untuk menggairahkan dunia perpuisian dan membangkitkan gairah apresiasi sastra. 

Dia membuat jadwal pertemuan rutin, kunjungan ke semua kabupaten untuk mengadakan apresiasi puisi, atau dengan sentuhan-sentuhan pribadi yang membuat anak-anak muda merasa berada dalam sebuah ikatan keluarga besar. 

Di Bali, pada era 1980-an dan 1990-an Umbu mengklasifikasikan puisi-puisi yang dimuat di ruang sastranya ke dalam 4 kelas, yakni: kelas “Pawai” bagi pemula yang baru belajar menulis puisi, kelas “Kompetisi” bagi penyair yang cukup gigih mengirim puisi ke gawangnya dan siap diadu dengan penyair lain yang selevel, kelas “Kompro” atau “Kompetisi Promosi” bagi penyair yang telah lolos dalam sejumlah babak kompetisi dan siap diadu di luar kandang, kelas “Posbud” atau “Pos Budaya” bagi penyair yang telah dianggap handal menggoreng dan menendang bola kata-kata ke gawangnya hingga gol. 

Umbu menggunakan berbagai cara untuk menggugah kepercayaan diri penyair Bali, salah satunya Umbu pernah mencantumkan besar-besar slogan “Posbud = Horison” di ruang sastranya. 

Artinya puisi-puisi yang berhasil masuk kelas Posbud kualitasnya dianggap sama dengan puisi-puisi yang dimuat Majalah Sastra Horison. 

Tapi efeknya pada era itu karya penyair Bali jarang yang muncul di media nasional karena mereka sudah merasa puas setelah menembus Posbud di ruang Umbu. 

Belakangan muncul kelas “Solo Run” bagi penyair yang karyanya ditampilkan tunggal dalam satu halaman penuh koran. Dan tentu saja ini kelas yang sangat sulit ditembus penyair.

Sistem yang dibuat Umbu itulah yang bikin para penyair muda Bali “mabuk kepayang” dan tergila-gila menulis puisi. 

Apalagi pada setiap kesempatan pemuatan puisi-puisi kelas Pawai dan Kompetisi, Umbu rajin mengontak dan menggoda para penyair muda lewat kata-kata yang membakar semangat untuk berkarya lebih bagus. 

Seringkali dibarengi dengan pemuatan foto para penyair yang dikontak Umbu lewat kolom kecil bertajuk “Stop Press.” Anak muda yang awalnya tidak suka puisi pun jadi ikut-ikutan menulis puisi, mungkin karena ada keinginan fotonya dimuat Umbu. 

Bahkan kelas Pawai dan Kompetisi pun terbagi menjadi sejumlah angkatan yang beranggotakan 5-10 penyair muda. Saya masuk dalam penyair “Kompetisi Angkatan Ke-17”.

Kegemaran Umbu menonton sepak bola mengilhaminya membuat sistem unik untuk ruang sastranya, seperti konsep pos pawai, kompetisi, solo-run. 

Sistem seperti itu ternyata berhasil menggugah anak-anak muda di Bali untuk bersastra dan berkompetisi menunjukkan karya yang paling unggul. 

Apalagi Umbu juga memuat esai-esai dan kritik puisi dari para penulis muda itu. 

Rubrik sastra Umbu yang unik dan meriah itu pun menjadi ruang polemik sastra (puisi) di antara mereka. Penyair A mengomentari karya penyair B, penyair C membantai puisi penyair D, penyair E membela penyair D, begitu seterusnya. 

Saya rasa pada era itu ada seratusan penyair di Bali yang berebutan menendang bola kata-kata ke gawang Umbu. Dan Umbu adalah penjaga gawang yang bertangan dingin menangkap bola demi bola kata itu.

Pada era 2000-an, Umbu mengubah konsep rubriknya menjadi “Posis” atau “Pos Siswa” sebagai ruang untuk menampung tulisan-tulisan dari para siswa, “Posmas” atau “Pos Mahasiswa” bagi tulisan-tulisan dari mahasiswa, dan “Pos Solo Run” bagi penulis yang tampil tunggal. 

Umbu juga menyediakan ruang bagi para guru yang suka menulis esai-esai pendek. Terkadang sejumlah puisi dan prosa berbahasa Bali pun dimuat di rubriknya sebagai bentuk perhatiannya pada sastra daerah.

Pada Agustus 1995, SMK bubar karena suatu permasalahan intern. Saat itu SMK menjelang perayaan ulang tahun ke-10. Banyak anggota SMK yang merasa kehilangan tempat berkumpul. 

Mereka tercerai-berai dan tenggelam dengan kesibukan masing-masing. Umbu yang suka menyambangi para penyair yang berkumpul di SMK juga merasa terpukul dan kehilangan. 

Sanggar yang berlokasi di jantung Kota Denpasar itu merupakan tempat yang ideal dan romantis bagi Umbu karena berdekatan dengan Pasar Kumbasari yang buka 24 jam. 

Mungkin Umbu terkenang Pasar Beringharjo di Yogya saat dia dulu mengembalakan penyair-penyair muda Yogya.

Di pasar Kumbasari itulah Umbu suka mengajak para penyair muda Denpasar menyelami kehidupan yang sebenarnya dan membuka hati pada rakyat kecil yang bekerja membanting tulang hingga dinihari. 

Umbu suka memperhatikan kesibukan ibu-ibu pedagang sayur, gadis-gadis buruh junjung, pedagang nasi jenggo, kusir dokar dan kegiatan rakyat jelata lainnya. 

Kadangkala Umbu mengajak penyair-penyair muda pesta soto babad di sudut pasar itu sambil ngobrol ngarol-ngidul dan memperhatikan kesibukan pasar. Apalagi kalau purnama bercahaya indah menghiasi langit malam Denpasar, Umbu akan terkenang lagu “Denpasar Moon” yang dinyanyikan Maribeth. 

Umbu memang penyair romantis. Pernah suatu kali dia mengajak saya dan beberapa kawan penyair melihat bulan terbit di tepi sawah di ujung timur Kota Denpasar sambil nongkrong di warung kopi tepi jalan. 

Dia berseru kegirangan ketika bulan bulat merah muncul perlahan dari sawah yang berbatasan dengan laut Sanur itu. Kami duduk berlama-lama di sana sampai bulan merambat tinggi.

Setahun setelah SMK bubar, kami menggunakan sebuah rumah kecil di Jalan Bedahulu, di sudut utara Kota Denpasar, sebagai markas. 

Pada awalnya rumah itu ditempati oleh Nuryana Asmaudi, Raudal Tanjung Banua dan Riki Dhamparan Putra atas kemurahan hati seorang anggota keluarga Puri Kesiman yang memiliki rumah itu. Saat itu Raudal dan Riki baru setahun tinggal di Bali. 

Saya sering berkunjung ke rumah itu bersama kawan-kawan seniman, ngobrol ngarol ngidul hingga menjelang dinihari. Di depan rumah itu ada tegalan tak terurus yang ditumbuhi rumpun bambu, di sebelahnya ada sungai kecil dan masih dekat dengan persawahan. 

Seringkali angsa-angsa peliharaan tetangga memecah keheningan malam dengan lengking suaranya. Suatu kali Umbu datang ke sana dan langsung jatuh cinta dengan tempat itu. 

Umbu memberi nama tempat itu “Intens-Beh” yang merupakan akronim dari “Institut Tendangan Sudut Bedahulu”. Dia mengkavling sebuah kamar kosong yang kadang-kadang saja ditempatinya. 

Seniman-seniman muda suka berkumpul di sana, diskusi, ngobrol kebudayaan, baca-baca puisi, merayakan ulang tahun teman, main gitar, pacaran, ngrumpi. 

Di tempat itulah saya mengenal Umbu lebih dekat dan akrab, mendengar petuah-petuahnya, konsep-konsepnya tentang dunia perpuisian.

Jauh sebelum Umbu memindahkan “pusat pemerintahan” ke padepokan Intens-Beh, Umbu dikenal sebagai penyair yang berumah di atas angin. Tak seorang pun tahu di mana tempat tinggal tetapnya. Di mana Umbu suka, di situlah rumah baginya. 

Dia jarang mau datang ke acara-acara kesenian, meski diundang secara khusus. Tapi dia akan muncul tiba-tiba ketika acara itu menarik perhatiannya, atau hanya mengamati jalannya acara dari jarak yang jauh atau dari balik kegelapan. 

Pernah seorang kawan penyair mencoba membuntuti Umbu berharap menemukan tempat persembunyiannya, tapi kawan itu kehilangan jejak ketika Umbu tiba-tiba membelok di sebuah tikungan. 

Dia seperti tahu sedang dibuntuti. Kebiasaan Umbu ini tercermin dalam salah satu baris puisinya: sewaktu-waktu mesti berjaga dan pergi, membawa langkah ke mana saja.

Umbu memiliki banyak tempat persinggahan di Bali. Hampir di setiap kabupaten ada kawan akrab Umbu yang menyediakan ruang khusus bagi tempat semayamnya. 

Umbu suka muncul tiba-tiba di tempat-tempat persinggahannya itu dan biasanya dia akan diladeni secara khusus. 

Kalau sudah begitu Umbu benar-benar mirip seorang raja yang sedang melakukan kunjungan ke bawahannya. Biasanya kawan yang dikunjungi Umbu merasa mendapat kehormatan menjamu tamu istimewa itu. 

Sejumlah anak muda yang tertarik pada puisi kemudian berkumpul di tempat itu dan dengan takzim mendengar petuah-petuahnya tentang dunia puisi dan pentingnya puisi bagi pertumbuhan mereka. 

Tidak hanya itu, Umbu juga memotivasi mereka akan pentingnya komunitas sastra yang mampu mewadahi aspirasi dan kreativitas mereka. Maka bermunculanlah sanggar-sanggar sastra dan kelompok-kelompok teater yang dimotivasi Umbu. 

Kota Negara di Jembrana dan Singaraja pernah ramai dengan komunitas-komunitas kecil dan kegiatan sastra dan teater yang tidak bisa dilepaskan dari peranan Umbu.

Umbu juga menggairahkan kehidupan bersastra di sejumlah pelosok desa di Bali, seperti Desa Marga di Tabanan. 

Biasanya Umbu bekerjasama dengan seniman-seniman yang dipercayainya di tempat itu untuk membuat kegiatan-kegiatan apresiasi sastra dan sebagainya. 

Dan tentu saja Umbu tidak pernah kekurangan orang untuk melakukan kerja-kerja kesenian kayak itu, meski tanpa bayaran. Mereka dengan senang hati dan terhormat mengikuti petunjuk-petunjuk Umbu.

Umbu bukan tipe redaktur sastra yang hanya duduk di belakang meja. Dia menjalankan konsep “turba” atau “turun ke bawah” dengan senang hati dan keyakinannya pada jalan puisi. Yang paling membahagiakan jiwanya adalah puisi mampu merasuki jiwa generasi muda dan bisa menjadi pelengkap hidup mereka. 

Tidak ada keinginan Umbu mencetak mereka menjadi pasukan penyair, sebab dunia kepenyairan adalah pilihan sadar dalam kehidupan. Yang terpenting bagi Umbu adalah membekali generasi muda dengan puisi sehingga lahir dokter yang berwawasan puisi, insinyur yang paham puisi, dan sebagainya. 

Sebab puisi bagi Umbu adalah empati dan simpati pada kehidupan dalam maknanya yang sangat luas. Bagi Umbu, puisi adalah kehidupan dan kehidupan adalah puisi. 

Penyair Bali generasi 1980-an, 1990-an, 2000-an, rata-rata pernah bergesekan dengan vibrasi Umbu, meski tidak semuanya lantas menjadi penyair yang dikenal di tingkat nasional. 

Cara Umbu memperkenalkan mereka pada puisi dan juga kesenian kini seringkali menjadi klangenan dalam obrolan para mantan penyair yang kebanyakan telah menjadi orang penting di Bali.

Umbu memang termasuk orang yang susah ditemui dan dilacak jejaknya. Dia akan segera menghilang jika ada tamu istimewa yang mencarinya. Emha Ainun Najib beberapa kali gagal bertemu Umbu, padahal Emha adalah murid kesayangan Umbu saat di Yogya. 

Umbu menghindari Emha adalah semata-mata untuk menjaga rasa kangennya dengan Emha dan Yogya. Taufik Ismail pun gagal bertemu Umbu ketika penyair Horison itu berkunjung ke Bali. 

Pendek kata, banyak sastrawan berkelas nasional yang ingin bertemu Umbu, tapi Umbu selalu menghilang, menghindari pertemuan. Pertemuan akan terjadi hanya karena dua sebab: Umbu memang ingin bertemu dan Umbu dijebak.

Jika Umbu ingin bertemu dia akan mengontak orang itu secara khusus lewat telepon atau lewat kurir kepercayaannya dan tempat pertemuan pun telah disiapkan. Atau Umbu akan datang tiba-tiba nyamperin orang yang ingin ditemuinya. Pertemuan juga bisa terjadi secara terpaksa karena Umbu dijebak. 

Ada cerita menarik tentang hal ini. Karena kebelet ingin bertemu Umbu, Emha pernah menjebak Umbu di rumah Hartanto, seorang kawan dekat Umbu. Hartanto tidak tega melihat Emha yang uring-uringan ingin ketemu gurunya itu dalam sebuah kunjungannya ke Bali. 

Hartanto kemudian memancing Umbu keluar dari sarangnya dengan umpan sop ikan kesukaan Umbu. Tentu dengan senang hati Umbu datang ke rumah Hartanto. Di meja makan Emha telah menunggu dengan rasa kangen yang amat sangat. 

Umbu pun tidak bisa lari. Mungkin pintu ruangan juga telah dikunci dari luar oleh Hartanto. Konon, Emha dan Umbu hanya saling berdiam diri, masing-masing seperti mengukur dan menakar perasaan.

Pergaulan di Tensut-Beh menjadi kenangan tersendiri bagi saya, terutama ketika berhadapan dengan sosok Umbu. Meski Umbu lebih suka berdiam diri dan hening, dia termasuk sosok pribadi yang sederhana dan hangat. 

Pada masa-masa Umbu betah di Tensut-Beh, kami biasa berdiskusi berbagai macam persoalan, mulai dari dunia kesenian, mutu puisi mutakhir, persoalan politik bangsa, hasil pertandingan bola, kegiatan mahasiswa, sampai persoalan remeh temeh lainnya, seperti gosip penyair, pacar penyair, menu masakan dan merek rokok kesukaannya. 

Biasanya Umbu akan bicara atau berkomentar jika dipancing duluan. Dan ada saja di antara kami yang memancing Umbu bicara tentang suatu pokok persoalan. Biasanya kami ngobrol sambil menunggu makan malam disiapkan oleh penghuni tetap Tensut-Beh, yakni Mas Nuryana. 

Mas Nur, begitu panggilan Nuryana, selain sebagai penulis dikenal juga jago masak. Dia paling banyak tahu masakan kesukaan Umbu, seperti sayur daun pepaya, daun singkong, jukut (sayur) gonde, nasi beras merah. Dan kami tidak pernah kekurangan makanan. 

Ada saja yang membawa oleh-oleh buat Umbu. Beras merah dan sayur gonde dibawa dari Marga, Tabanan, oleh seorang kawan dari sana. Daun pepaya dan singkong dipetik langsung dari kebun belakang rumah. Habis makan malam obrolan kembali sambung menyambung ditemani kopi dan rokok, bahkan sering sampai dinihari. 

Umbu sangat kuat merokok, sama kuatnya dengan kebiasaannya duduk berjam-jam beralaskan kardus bekas plat koran yang dibawanya dari Bali Post. 

Dia hanya akan berdiri jika mau kencing atau masuk kamarnya. Dengan beralaskan kardus itu pula kami merebahkan diri di lantai karena mata letih. Masing-masing penghuni Tensut-Beh memiliki satu lembar kardus yang dihadiahi Umbu, lengkap dengan memo dan tanda tangannya. 

Biasanya ada saja kawan yang mampu menemani Umbu ngobrol sampai dinihari, sementara kawan-kawan lain tergeletak dan ngorok di lantai.

Umbu suka minum bir. Biasanya ada saja kawan yang membawakan bir untuknya. Kemudian bir itu dibagi-bagikan kepada kami. Seorang kawan pecinta sastra yang bekerja sebagai bar tender kadangkala juga membawakan sisa-sisa minuman mahal untuk Umbu dan kami. 

Di Tensut-Beh kami seperti keluarga besar dengan Umbu sebagai “God Father”-nya. Ada saja tamu-tamu yang datang khusus untuk menemui Umbu di sana. 

Kalau Umbu tidak berkenan bertemu biasanya dia akan ngumpet seharian di kamarnya, tentu sambil menahan kencing. Dia akan nongol lagi jika tamu itu sudah pergi, kadangkala sambil menenteng botol bekas yang berisi air seni.

Kamar Umbu di Tensut-Beh tidak pernah terbuka lebar, selalu tertutup. Kordennya juga ditutup rapat-rapat. Karena penasaran, saya pernah mengintip kamarnya dari kisi-kisi lubang angin. Luar biasa! Samar-samar saya melihat seni instalasi. 

Lembaran kardus bekas plat koran dan tikar bersusunan membentuk kasur. Di samping kasur-kardus, koran bekas bertumpuk-tumpuk seperti benteng. 

Di sela-sela “benteng koran” itu, kertas-kertas yang mungkin berisi berkas-berkas puisi dan catatan-catatan kecil juga bersusunan. Umbu suka bersila berlama-lama di depan berkas-berkas itu sampai tiba jam makan. 

Botol-botol plastik kosong bekas air mineral berjejer rapi di pinggir dinding kamar Umbu. Yang menggelikan kamar yang berukuran kira-kira 3 x 4 meter itu dibelah oleh seutas tali nilon tempat Umbu menggantung pakaian-pakaiannya dan tas-tas kresek yang entah berisi apa. Umbu menata kamarnya dengan sangat rapi dan unik.

Umbu sangat memperhatikan kesehatan. Setiap bangun tidur, hanya mengenakan sarung dan kaos oblong, topi pet dipakai terbalik, dia akan langsung ke belakang sambil menggigit tangkai sikat gigi. 

Umbu paling cemas dan menjadi sangat pemurung jika mendengar kabar kematian, apalagi yang menimpa sahabat-sahabat dekatnya. Bahkan dia sangat cemas berboncengan dengan sepeda motor. 

Saya pernah memboncengnya dengan motor butut Suzuki RC 80 yang doyan mogok. Karena badannya yang berat tentu saja motor saya oleng memboncengnya. 

Dengan nada suara cemas dia wanti-wanti mengingatkan saya agar pelan-pelan dan hati-hati. Dalam hati saya tertawa geli, saya tidak sadar kalau sedang membonceng seorang keturunan raja yang sangat dihormati dalam dunia perpuisian.

Sebagai penyair, karya-karya Umbu tidak terlalu banyak dan tidak begitu dikenal luas. 

Dia lebih dikenal sebagai seorang pendidik, guru puisi, motivator, “provokator kegiatan sastra”, pencari bakat penyair, sahabat dan ayah yang tulus. 

Dia sangat jarang mempublikasikan karya dan terkesan menghindar dari publisitas. Pernah pengurus salah satu penerbit besar di Jakarta datang menemuinya ke Bali karena ingin mengumpulkan dan membukukan seratus puisinya. 

Umbu menyanggupi. Tapi sampai sekarang Umbu tidak pernah menyetorkan puisi-puisinya ke penerbit tersebut.

Sepertinya, Umbu menulis puisi hanya untuk dirinya sendiri. Puisi-puisi tersebut tersimpan rapi dalam map-mapnya dan mungkin tak seorang pun pernah melihatnya. 

Segelintir puisi Umbu hanya bisa ditemui dalam beberapa buku kumpulan puisi bersama, seperti “Tonggak” yang dieditori Linus Suryadi AG, “Bonsai’s Morning”, “Teh Ginseng.” 

Dalam rangka memasyarakatkan puisi-puisi Umbu, penyair Tan Lioe Ie yang juga seorang mantan penyanyi kafe mengaransemen sejumlah puisi Umbu menjadi karya musikalisasi puisi dan telah terkumpul dalam sebuah album sederhana berjudul “Kuda Putih.”

Pembicaraan mengenai sosok Umbu tidak akan pernah habis. Hampir setiap seniman yang pernah bersentuhan dengan Umbu, akan mempunyai kenangan dan cerita tersendiri tentang Umbu. 

Kalau cerita-cerita itu dikumpulkan tentu akan menjadi sebuah buku yang cukup tebal. Umbu memang sosok manusia yang langka dan unik. 

Kecintaannya pada dunia puisi seakan melebihi segalanya. Hal itu tercermin dalam salah satu baris puisinya yang berjudul “Melodia”: cintalah yang membuat diri betah untuk sesekali bertahan, karena sajak pun sanggup merangkum duka gelisah kehidupan.***

(Karangasem, Bali, 30 Maret 2007)


CATATAN: Tulisan ini dipublikasikan oleh Wayan Jengki Sunarta pada tanggal 2 Desember 2009 pukul 15.38, di akun Facebook-nya, tetapi ditulis 30 Maret 2007 sebagaimana ditera pada tulisannya ini. Pemuatan di Blog Pustaka Kabanti Kendari atas seizin dan persetujuan penulisnya.

Dipublikasikan juga oleh Tribun Bali saat mengenang wafatnya Umbu Landu Paranggi 6 April 2021

Baca juga tentang Umbu Landu di sini:

Baca juga tentang Umbu di sini

Umbu, Berpuisilah dari Ruang Sunyi


Umbu Landu Paranggi
Jenazah penyair Umbu Landu Paranggi diupacarai Kuru kudu untuk mengantarkan ke peristirahatan sementara di Bali.

Upacara kuru kudu dihadiri oleh pihak keluarga, pengurus Flobamora Bali, sastrawan dan budayawan yang juga murid-murid Umbu Landu Paranggi (ULP), acara berlangsung khidmat, di Taman Makam Mumbul, Nusa Dua, Badung, Bali, Senin 12 April 2021.

“Pak Umbu, berpuisilah dari ruang sunyi, karena aksara itu adalah aksara yang hidup yang bisa mempengaruhi dunia ini,” kata Umbu Rihimeha Anggung Praing, menantu Umbu Landu Paranggi saat menutup sambutannya dalam acara kuru kudu untuk ULP.

Kuru kudu merupakan sebuah upacara untuk peristirahatan sementara sebelum nantinya jenazah dikirim ke tanah kelahirannya, Sumba

“Ini merupakan tempat peristirahatan sementara, dan berarti Pak Umbu masih ada di sekitar kita, belum mengendarai kuda putih, kuda merah untuk sampai ke surga,” kata Rihimeha.

Ia pun mengenang, setamat kuliah S2, dirinya bertandang ke Lembah Pujian yang menjadi kediaman ULP. Di sana, ULP berkata padanya, bahwa S2 itu sudah banyak, tetapi S2 itu tergantung dari bacaannya.

“Pak Umbu berkata, ‘kau harus selalu ada di dalam ruang sunyi, sepi dalam keheningan.’ Saya waktu itu tidak mengerti karena bukan sastrawan dengan apa yang mertua saya katakan. Saya mencari di buku dan ketemu di buku Madam Teresa, tidak ada manusia yang menemui Tuhan dalam suasana hiruk-pikuk,” katanya.

Ia menambahkan, banyak nilai yang diberikan oleh Umbu kepadanya juga kepada murid-muridnya. “Karena itu, benang-benang nilai harus ditenun jadi selimut, karena nilai yang akan menutupi moral kita,” katanya.

Sebagai perwakilan dari pihak keluarga, ia berharap agar pandemi ini segera mereda, sehingga jenazah Umbu bisa dipulangkan ke tanah kelahirannya, Sumba.

“Ucapan terima kasih kami kepada Pemerintah Provinsi Bali, juga Kesultanan Jogja di mana Pak Umbu berkreativitas sehingga sampai pada jalan sunyi ini,” katanya.

Ketua Flobamora Bali, Yusdi Diaz berharap apa yang Umbu ajarkan secara sunyi senyap, tapi nyata bisa membuat bibit-bibit menjadi tumbuh subur.

“Beliau memberikan dirinya sebagai pupuk dan kita akan melihat kebangkitan sastra Indonesia. Semoga sang pejalan sunyi bisa diantarkan dari ruang sunyinya ke Sumba pada waktu yang disediakan Tuhan,” katanya.

Sementara  istri Gubernur Bali, Putu Putri Suastini Koster yang juga murid Umbu mengatakan, Umbu tak hanya memberikan ilmu dalam bidang sastra, namun juga hal baik tentang kehidupan.

“Tanggungjawab kita yang merasa murid beliau, jangan bangga saja, tetapi kita petik apa yang sudah diberikan kepada kita adalah pelajaran tentang kehidupan. Kita petik jadikan pedoman ke depan,” katanya.

Meskipun Umbu lahir di tanah Sumba, namun ia memberikan lelaku baik ke tanah Bali, Jawa, bahkan beberapa tempat lain di Indonesia. Bahwa seorang Umbu, tak hanya melihat dengan mata secaranya nyata, namun juga dengan mata batin.

“Dalam kepolosan seni sastra, beliau tidak hanya guru sastra, juga guru kehidupan untuk kita. Itu membuat kita bangga dengan beliau,” katanya.

Dalam acara kuru kudu itu juga ada pembacaan puisi dari dua murid Umbu yakni Wayan Jengki Sunarta membawakan puisi Kata Kata Kata karya Umbu dan Kuda Puisi karya Jengki yang didedikasikan untuk Umbu dan pembacaan puisi dari Pranita Dewi dengan judul Sajak Kecil karya Umbu.

Umbu merupakan penyair besar Indonesia yang juga guru penyair yang lahir di Kananggar, Waingapu, Sumba Timur, Nusa Tenggara Timur, 10 Agustus 1943. 

Dari tangannya telah lahir banyak penyair maupun sastrawan besar, sebut saja Emha Ainun Nadjib, Korrie Layun Rampan, Linus Suryadi AG. Ia meninggal di RS Bali Mandara pada usia 77 tahun, Selasa (6/4). (i putu supartika)

Sumber: Tribun Bali 13 April 2021 edisi print

Penyair Umbu Landu Paranggi Berpulang


Umbu Landu Paranggi

Penyair di Bali sebagian besar lahir dari tangan Umbu Landu Paranggi. Mereka terasah dengan gemblengan Presiden Malioboro ini. 

Penyair Umbu Landu Paranggi meninggal di RS Bali Mandara, Denpasar, Selasa 6 April 2021. 

Dengan kepergian sosok guru, dunia sastra pun berduka. Kenanganan akan kebaikan dan keramahan Umbu pun melekat di hati sastrawan Warih Wisatsana.

“Bukan hanya dalam puisi, Umbu mengajak seseorang untuk menghayati kehidupan. Saat hujan beliau mengajak kita, ayo basah-basahan agar kuyup hidupmu, sehingga kamu bisa memiliki daya haru terhadap suatu momentum,” kata Warih.

Warih mengaku berkenalan dengan Umbu tahun 1984, saat ia masih menjadi seorang wartawan muda. 

Saat itu, Umbu memegang 2 halaman lembar kebudayaan di harian Bali Post. Dia membuka ruang kepada siapapun untuk menulis di halaman tersebut. 

Dalam pemuatan puisi, ia menggunakan pola kompetisi metafor sepak bola, mulai dari pola pawai, kompetisi hingga pos budaya.

“Jadi penulis yang masuk ada tahapannya sejalan dengan capaian estetika dan tematik serta kematangan serta kepribadian dalam menghadapi kehidupan. Sehingga tidak segan Umbu bisa memuat karya satu penulis dalam satu halaman penuh,” tutur Warih.

Pola ini juga Umbu terapkan saat masih di Jogja lewat kolom Sabana dan melahirkan banyak penulis besar di Indonesia sebuat saja Emha Ainun Nadjib, Korrie Layun Rampan, Linus Suryadi AG hingga beberapa nama lainnya. Warih juga menuturkan, sejak 5 bulan lalu, ia juga mengasuh halaman puisi di NusaBali.

“Seluruh Indonesia mengirim naskah selama lima bulan tiap minggu. Walaupun penulis tidak mendapat honor, namun karena Umbu melakukan penciptaan sebagai ibadah, dengan sukacita banyak penulis nasional yang ikut berpartisipasi,” tuturnya.

Warih mengatakan, ada nasehat dari Umbu yang paling diingat yakni guyubkan dirimu dengan hidup dan kehidupan. “Umbu mengatakan pergilah ke tempat jelata, pasar tradisional, di sana mendalami pengalaman,” kenangnya.

Selain itu, hal yang menarik lainnya, Umbu memiliki teman dari berbagai daerah di Bali, dimana setiap rumah yang dikunjunginya selalu ada satu kamar untuk Umbu. 

“Kalau sudah ditempati Umbu, kamar itu tak akan ditempati oleh pemiliknya. Dan seolah-olah kamar itu khusus disiapkan untuk Umbu, walaupun Umbu akan datang lima atau enam bulan sekali,” katanya.

Setelahnya sahabat Umbu yakni Hendra Gunawan memberikannya rumah khusus di Lembah Pujian Denpasar. 

Awalnya Umbu sempat tidak terbuka dan menyepi. Akan tetapi setelah sempat sakit, Umbu mulai kembali terbuka. Bahkan dalam sebuah pembacaan puisi yang digelar Balai Pustaka, Umbu meminta agar ia membaca puisi di Pura Andakasa.

“Umbu mau membaca puisi asalkan membaca puisi di Pura Andakasa. Beliau sangat menyadari keberadaan ruang dan waktu,” katanya.

Warih juga menambahkan, penghargaan yang diterima oleh Umbu pun sangat lengkap dan paripurna. Di Bali ia meraih penghargaan Bali Jani Nugara dan Penghargaan Wijaya Kusma, penghargaan dari Universitas Indonesia, Kementerian Pendidikan, Dirjen Kebudayaan hingga Badan Bahasa. 

Sempat tersiar kabar bahwa Umbu meninggal akibat Covid-19. Akan tetapi, Warih meluruskan informasi tersebut. Umbu diketahui meninggal karena gagal ginjal.

“Pelurusan informasi, informasi dari penyair Mira MM Astra bahwa Pak Umbu Landu Paranggi wafat bukan karena Covid, melainkan gagal ginjal, dan prosedur di Rumah sakit, dalam masa pandemi ini, memang untuk sakit jenis apapun ditangani dengan prosedur Covid, hanya prosedurnya, namun Pak Umbu tidak menderita Covid, hasil test negatif. Itu percakapan Mbak Mira dengan dokternya langsung,” kata Warih.

Pria kelahiran Sumba, 10 Agustus 1943 ini berpulang pukul 03.55 Wita. Warih menuturkan, beberapa hari sebelum meninggal, Umbu secara tersirat menyampaikan keinginannya pulang ke Sumba. 

"Beberapa hari sebelum ini, sudah menyampaikan secara tersirat keinginannya untuk pulang ke Sumba," kata Warih saat ditemui di RS Bali Mandara.

Warih mengatakan, jenazah akan dipulangkan ke Sumba setelah dijemput oleh pihak keluarga. 

"Bu Putri (Putri Suastini) akan memberikan atensinya secara penuh untuk mengantar jenazah pulang ke Sumba. Tadi sudah dihubungi oleh teman," katanya.

Sabtu pagi 3 April 2021, Warih sempat menelepon Umbu. Dalam percakapan tersebut, Warih menyadari bahwa kondisi Umbu sedang tidak baik. Bahkan percakapan terakhir melalui sambungan telepon itu pun ia rekam.

"Saya rekam percakapan itu. Umbu bilang, apakah sudah cukup tiga hari atau lima hari. Lalu menyebut surga, dan saya menyadari ada sesuatu," kata Warih menuturkan dengan mata berkaca-kaca. Sorenya Umbu pun langsung diajak ke rumah sakit. Warih mengaku meskipun sedih namun tetap mengikhlaskan kepergian Umbu.

Sementara itu, penyair Wayan Jengki Sunarta, mengatakan banyak sastrawan maupun penyair yang datang ke RS. Meski tak bisa menemani di dalam kamar saat perawatan mereka tetap menunggu di lobby rumah sakit. 

Sebelum meninggal, dari pihak rumah sakit sempat mengabarkan dilakukan penanganan pompa jantung untuk Umbu. Namun usaha itu gagal. Hingga akhirnya ia mendengar kabar Umbu telah tiada. 

"Memang sudah jalannya dan kami mengikhlaskan. Pihak rumah sakit sudah berusaha semaksimal mungkin," katanya. (i putu supartika)

Sumber: Tribun Bali 7 April 2021 edisi print

Profil Umbu Landu Paranggi


Umbu Landu dan Cak Nun

Indonesia berduka. Penyair besar negeri ini Umbu Landu Paranggi berpulang.

Umbu Landu Paranggi meninggal dunia pada Selasa dini hari, 6 April 2021 di RS Bali Mandara, Denpasar, Bali.

Penyair Wayan Jengki Sunarta, mengatakan Umbu meninggal pukul 03.55 Wita.

"Saya di sini dari kemarin siang. Sekarang masih menunggu kedatangan keluarganya," katanya.

Menurut Jengki, Umbu mulai dirawat di RS Bali Mandara sejak Sabtu, 3 April 2021.

"Indonesia kembali kehilangan putra terbaiknya di bidang sastra," kata Jengki.

Kabar duka ini pun disampaikan sastrawan Warih Wisatsana kepada Tribun Bali Selasa pagi.

"Sahabat kita, Bung Umbu Berpulang. Guru batin kami pamitan dini pagi tadi. Kawan-kawan yang berjaga di rumah sakit Bali Mandara mengabari, pukul 03.55 Wita." kata Warih.

"Mohon maaf dan perkenan doa teman-teman bagi penyair rendah hati yang tulus ini, semoga lapang jalan pulangnya dalam naungan Kasih Sang Maha Indah," kata Warih.

Berikut profil Umbu Wulang Landu Paranggi.

Umbu Wulang Landu Paranggi lahir pada tanggal 10 Agustus 1943 di Kananggar, Paberiwai, Kabupaten Sumba Timur, Provinsi Nusa Tenggara Timur.

Seniman yang terkenal dengan julukan Presiden Malioboro ini kerap disebut sebagai tokoh misterius dalam dunia sastra Indonesia sejak 1960-an.

Umbu Landu dikenal luas melalui karya-karyanya berupa esai dan puisi yang dipublikasikan di berbagai media massa.

Umbu merupakan penyair sekaligus guru bagi para penyair muda pada zamannya, antara lain Emha Ainun Nadjib, Eko Tunas, Linus Suryadi AG, dan lain-lain.

Memilih jalan sunyi

Umbu Landu Paranggi lama menimba ilmu di Yogyakarta dan memiliki banyak murid di sana serta pengagumnya.

Pada tahun 1970-an Umbu Landu membentuk Persada Studi Klub (PSK) yaitu komunitas penyair, sastrawan, seniman yang berpusat di Malioboro Yogyakarta.

Komunitas sastra ini sangat mempengaruhi perjalanan sastrawan-sastrawan besar di Indonesia. Itulah sebabnya Umbu Landu Paranggi dijuluki sebagai Presiden Malioboro.

Kehidupan Umbu Landu unik. Penyair besar ini memilih jalan sunyi. Dia menjauh dari popularitas dan sorotan publik. Amat jarang dia tampil dalam acara yang meriah.

Ia sering berkenala sambil membawa kantung plastik berisi kertas-kertas, yang tidak lain adalah naskah-naskah puisi koleksinya.

Umbu Landu Paranggi

Sebagian orang menyebutnya "pohon rindang" yang menaungi bahkan telah membuahkan banyak sastrawan kelas atas, tetapi ia sendiri menyebut dirinya sebagai "pupuk" saja.

Di Yogyakarta, Umbu Landu Paranggi pernah dipercaya mengasuh rubrik puisi dan sastra di Mingguan Pelopor.

Tahun 1975 Umbu Landu Paranggi meninggalkan Yogya dan kemudian bermukim di Denpasar, Bali.

Dia sempat mengasuh rubrik Apresiasi di Harian Bali Post.

Di Pulau Dewata ini Umbu melahirkan banyak sastrawan dan dianggap sebagai mahaguru.

Pada tahun 2020, ia mendapatkan penghargaan dari Festival Bali Jani di bidang sastra.

Kenangan Cak Nun

Mengutip Artikel Tribun Bali berjudul Bali Beruntung Memiliki Umbu tayang 31 Oktober 2020,  budayawan asal Jombang, Jawa Timur, Emha Ainun Najib pada diskusi sastra Jatijagat Kampung Puisi, Rabu 29 Oktober 2014 mengaku lega setelah berjumpa Umbu Landu Paranggi.

Cak Nun, begitu ia biasa disapa, hadir ke acara di Jalan Cok Agung Tresna, Denpasar itu setelah menjenguk penyair Umbu Landu Paranggi di RSUP Sanglah.

Malam itu budayawan ini mengenakan kemeja putih dengan lengan tergulung hingga menyentuh siku.

Duduk di atas karpet merah, Cak Nun berbicara dalam diskusi sastra yang diadakan komunitas pegiat puisi Jatijagat Kampung Puisi.

Umbu Landu Paranggi,  penyair yang dianggap guru oleh Cak Nun, adalah pendiri komunitas tersebut.

Ide dadakan untuk menggelar diskusi sastra malam itu berawal dari kunjungan Cak Nun ke Denpasar untuk menjenguk Umbu yang dirawat di RSUP Sanglah.

Pada diskusi berlangsung itu Cak Nun menyiratkan rasa hormatnya pada penyair yang telah lama tinggal di Bali ini.

“Jangan harap memahami Umbu. Ia tidak bisa dimengerti, hanya bisa dinikmati,” ujar budayawan suami Novia Kolopaking ini.

Lontaran ini seakan mengomentari tanggapan beberapa masyarakat tentang sosok Umbu yang lebih sering dikenal sebagai seniman yang angkuh.

Sebaliknya, bagi Cak Nun, keangkuhan Umbu adalah bentuk penolakan penyair yang dikenal nyentrik ini terhadap budaya basa-basi.

Menurutnya, Umbu tidak bisa dijangkau lewat obrolan remeh-temeh.

Makna kata menikmati yang ia lontarkan berarti bahwa memahami Umbu hanya bisa dilakukan dengan mengamati kesehariannya secara langsung.

Hanya saja kesempatan bertatap muka dengan Umbu merupakan momen yang langka.

Cak Nun bertutur, Umbu hanya bisa ditemui jika memang Umbu sendiri yang menginginkan pertemuan itu.

Karenanya, meski pada akhirya Cak Nun berhasil bertemu langsung dengan Umbu yang sedang terbaring sakit, momen pertemuan itu adalah momen yang paling dirindukan Cak Nun.

Cak Nun berujar, di balik sosok angkuh yang lebih banyak diketahui masyarakat, Umbu adalah sosok yang hangat.

Sosok hangat ini dituturkannya lewat pribadi rendah hati dari penyair yang dikenal lewat karyanya seperti puisi Melodia ini.

Cak Nun tak sendiri malam itu. Ia ditemani budayawan yang aktif di Jogjakarta Imam Budhi Santosa.

Senada dengan Cak Nun, penyair ini pun menaruh hormat pada Umbu.

Cak Nun mengaku memahami pribadi Umbu bukan dengan cara mengajaknya ngobrol. Melainkan membaca karya sekaligus lakunya.

“Bali sangat beruntung memiliki Umbu,” ujar Cak Nun

Biodata singkat

Nama:  Umbu Landu Paranggi

Lahir: 10 Agustus 1943 di Kananggar,  Sumba Timur

Anak:  Rambu Anarara Wulang Paranggi, Umbu Wulang Tanaamahu Paranggi, Mira MM Astra

Pendidikan: Universitas Janabadra, Universitas Gadjah Mada, SMA BOPKRI 1 Yogyakarta

Sumber: Tribun Bali

Baca juga tentang Umbu di sini

Profil Joe Biden (6): Presiden AS Tertua dan Kedua Beragama Katolik


Joe Biden

Joseph Robinette Biden Jr atau akrab disapa Joe Biden  berperan besar dalam kampanye presiden 2016. Selama masa jabatan keduanya sebagai wapres, Biden sering disebut sedang mempersiapkan kemungkinan tawaran untuk pencalonan presiden dari Partai Demokrat 2016. 

Dukungan keluargaa,  teman, dan donatur serta menurunnya  peringkat elektabilitas  Hillary Clinton pada tahun 2015, membuat  Joe Biden sempat berpikir serius mempertimbangkan prospek ikut pencalonan tahun2016.

Hingga 11 September 2015, Biden masih belum yakin untuk mencalonkan diri. Kematian putranya ikut mempengaruhi keputusan Joe Biden.

Pada 21 Oktober 2015, berbicara dari podium di Rose Garden bersama istri dan Presiden Barack  Obama di sisinya, Joe Biden mengumumkan keputusannya tidak mencalonkan diri sebagai presiden pada 2016.  

Keputusan yang memberi jalan bagi Hillary Clinton maju bertarung melawan Donald Trump.

Pada Januari 2016, Joe Biden menegaskan bahwa itu adalah keputusan yang tepat.

Setelah  Obama mendukung Hillary Clinton pada 9 Juni 2016, Biden mendukungnya pada hari itu juga.  Sepanjang pemilu 2016, Joe Biden mengkritik keras lawan Hillary Clinton, Donald Trump, dalam istilah yang sering kali penuh warna.

Hasil Pilres AS 2016 memang menyakitkan kubu Partai Demokrat. Meskipun Hillary unggul popular vote namun kalah dari sisi elektoral sehingga memberi jalan bagi kemenangan Donald Trump.

Setelah meninggalkan jabatan wakil presiden tahun 2017, Joe Biden menjadi profesor di Universitas Pennsylvania, sambil terus memimpin upaya untuk menemukan pengobatan kanker. 

Biden menulis memoarnya Promise Me, Dad pada tahun 2017 dan mengikuti tur buku.  Biden memperoleh 15,6 juta dolar AS pada tahun 2017.

Pada tahun 2018, ia menyampaikan pidato menawan untuk teman dekatnya John McCain, senator AS dari Arizona. Dia  memuji pelukan McCain terhadap cita-cita Amerika dan persahabatan bipartisan. 

Joe Biden tetap berada di mata publik Amerika Serikat, mendukung kandidat sambil terus mengomentari politik, perubahan iklim, dan kepresidenan Donald Trump yang sedang berlangsung. 

Dia juga terus berbicara untuk mendukung hak-hak LGBT, melanjutkan advokasi tentang masalah yang menjadi fokusnya selama masa jabatannya sebagai wakil presiden. 

 Pada tahun 2019, Joe Biden dan istrinya melaporkan aset mereka telah meningkat menjadi antara 2,2 juta dan  8 juta dolar AS, berkat  ceramah dan kontrak untuk menulis satu set buku. 

Kampanye presiden 2020

Antara 2016 dan 2019, media Amerika Serikat  sering menyebut Joe Biden sebagai calon presiden pada 2020.  Ketika ditanya apakah dia akan ikut,  Joe Biden memberikan jawaban yang bervariasi dan ambivalen. 

Cukup sering Joe Biden berkata,  "jangan pernah katakan tidak pernah".  Sungguh bahasa seorang politisi kawakan.

Kadang dia berkata  tidak melihat skenario  dia akan mencalonkan diri lagi, tetapi beberapa hari kemudian, dia mengatakan,  "Saya akan mencalonkan diri jika saya bisa berjalan." 

Sebuah komite aksi politik yang dikenal sebagai Time for Biden dibentuk pada Januari 2018, mengusahakan agar Biden dapat ikut serta dalam perlombaan menuju Gedung Putih. 

Joe Biden mengatakan dia akan memutuskan ikut  mencalonkan diri atau tidak pada Januari 2019, tetapi tidak membuat pengumuman pada saat itu. 

Teman-teman dekatnya mengatakan dia "sangat dekat untuk mengatakan ya" tetapi prihatin tentang pengaruh pencalonan presiden terhadap keluarga dan reputasinya,  perjuangan penggalangan dana dan persepsi tentang usianya yang sepuh dan sentrisme relatifnya. 

Di sisi lain, Joe Biden mengaku  didorong untuk menjalankan tanggung jawabnya bagi negara, terutama melihat kinerja pemerintahan  Trump yang kurang memuaskan.

Apalagi calon  Demokrat lainnya minim pengalaman dalam hal kebijakan luar negeri.   Itulah yang membuat Joe Biden akhirnya memutuskan siap maju.

Ia meluncurkan kampanyenya menuju Gedung Putih  pada 25 April 2019.  Genderang perang melawan Trump bergaung.
 
Pada September 2019, dilaporkan bahwa Trump telah menekan presiden Ukraina Volodymyr Zelensky untuk menyelidiki dugaan pelanggaran oleh Joe Biden dan putranya Hunter Biden. 

Terlepas dari tuduhan tersebut, hingga September 2019, tidak ada bukti apapaun atas kesalahan  yang dilakukan Joe Biden.  

Media secara luas menafsirkan tekanan untuk menyelidiki Joe Biden sebagai upaya Donald Trump melukai peluang Biden memenangkan kursi kepresidenan. 

Tekanan itu berujung  skandal politik  dan pemakzulan Donald  Trump oleh Dewan Perwakilan Rakyat AS. Dua kali malah hingga Trump merupakan presiden pertama yang dimakzulkan dua kali.

Mulai tahun 2019, Donald  Trump dan sekutunya secara keliru menuduh Biden memecat jaksa agung Ukraina Viktor Shokin karena dia diduga sedang melakukan penyelidikan terhadap Burisma Holdings, yang mempekerjakan Hunter Biden. 

Joe Biden dituduh menahan 1 miliar dolar AS  bantuan dari Ukraina dalam upaya ini. Pada 2015, Biden menekan parlemen Ukraina untuk mencopot Shokin karena Amerika Serikat, Uni Eropa, dan organisasi internasional lainnya menganggap Shokin korup dan tidak efektif. 

Khususnya karena Shokin tidak menyelidiki Burisma secara tegas.  Pemotongan bantuan sebesar  1 miliar dolar AS  adalah bagian dari kebijakan resmi ini. 

Sepanjang 2019, Joe Biden secara umum unggul atas kandidat Demokrat lainnya dalam jajak pendapat nasional.  Meskipun demikian, ia finis keempat di kaukus Iowa, dan delapan hari kemudian, kelima di primer New Hampshire. 

Dia tampil lebih baik di kaukus Nevada, mencapai 15 persen dukungan yang dibutuhkan untuk delegasi, tetapi masih berada di belakang Bernie Sanders dengan 21,6 poin persentase. 

Sukses menarik simpati pemilih kulit hitam di jalur kampanye dan dalam debat Carolina Selatan, Joe Biden memenangkan pemilihan pendahuluan Carolina Selatan dengan lebih dari 28 poin. 

Setelah penarikan dan dukungan berikutnya dari kandidat Pete Buttigieg dan Amy Klobuchar, dia memperoleh keuntungan besar dalam pemilihan primer Super Tuesday 3 Maret 2019.

Joe Biden memenangkan 18 dari 26 kontes berikutnya, termasuk Alabama, Arkansas, Maine, Massachusetts, Minnesota, North Carolina, Oklahoma, Tennessee, Texas, dan Virginia, menempatkannya di posisi teratas secara keseluruhan. 

Elizabeth Warren dan Mike Bloomberg segera keluar dari lomba, dan Biden memperluas keunggulannya dengan kemenangan atas Sanders di empat negara bagian (Idaho, Michigan, Mississippi, dan Missouri) pada tanggal 10 Maret 2019.

Ketika  Bernie Sanders menangguhkan kampanyenya pada 8 April 2020, Joe Biden menjadi calon presiden dari Partai Demokrat. 

Pada 13 April 2019, Bernie Sanders mendukung Biden dalam diskusi streaming langsung dari rumah mereka. Mantan Presiden Barack Obama mendukung Biden keesokan harinya. 

Pada Maret 2020, Joe Biden berkomitmen untuk memilih seorang wanita sebagai pasangannya.  
Pada bulan Juni, Biden memenuhi ambang batas 1.991 delegasi yang diperlukan untuk mengamankan nominasi presiden dari partai tersebut. 

Pada 11 Agustus 2020, ia mengumumkan Senator AS Kamala Harris dari California sebagai pasangannya, menjadikannya calon wakil presiden Amerika keturunan Afrika dan Asia Selatan pertama dengan tiket partai besar.

Pada 18 Agustus 2020, Biden secara resmi dinominasikan pada Konvensi Nasional Demokrat 2020 sebagai calon presiden dari Partai Demokrat pada pemilu 2020. 

Tuduhan kontak fisik yang tidak pantas

Joe Biden tidak terlepas dari tuduhan  melakukan kontak non-seksual yang tidak pantas, seperti berpelukan, berciuman, dan mencengkeram, dan sekali melakukan pelecehan seksual.  

Pada tahun 2015, serangkaian pengambilan sumpah dan acara lainnya saat Biden  menempatkan tangannya pada orang-orang dan berbicara dekat dengan mereka,  menarik perhatian pers dan  media sosial. 

Berbagai orang membela Joe Biden, termasuk seorang senator dan  Stephanie Carter. Carter yang fotonya dengan Biden menjadi viral,  menyebut foto itu sebagai "diambil secara menyesatkan dari momen lama antara teman dekat" . 

Pada 28 Februari 2016, Biden memberikan pidato tentang kesadaran pelecehan seksual di Academy Awards ke-88, sebelum memperkenalkan Lady Gaga. 

Pada Maret 2019, mantan anggota dewan Nevada, Lucy Flores, menuduh Biden telah menyentuhnya tanpa persetujuannya pada kampanye  2014 di Las Vegas. 

Dalam sebuah opini, Lucy  Flores menulis Biden telah berjalan di belakangnya, meletakkan tangan  di pundaknya, mencium rambutnya, dan mencium bagian belakang kepalanya.

Juru bicara Biden mengatakan Biden tidak mengingat perilaku yang dijelaskan Flores.

Dua hari kemudian, Amy Lappos, mantan asisten kongres Jim Himes, mengatakan Biden menyentuhnya dengan cara non-seksual tapi tidak pantas yaitu memegangi kepalanya saat acara  penggalangan dana politik di Greenwich pada 2009. 

Keesokan harinya, dua wanita lagi melapor dengan tuduhan melakukan tindakan yang tidak pantas. 

Caitlin Caruso berkata Biden meletakkan tangannya di pahanya, dan DJ Hill bilang Joe Biden mengusap tangannya dari bahu ke punggungnya. 

Pada awal April 2019, tiga wanita memberi tahu The Washington Post Biden telah menyentuh mereka dengan cara yang membuat mereka merasa tidak nyaman. 

April 2019, mantan staf Biden,  Tara Reade mengatakan bahwa dia merasa tidak nyaman pada beberapa kesempatan ketika Biden menyentuhnya di bahu dan lehernya selama bekerja di kantor Senat tahun 1993. 

Pada Maret 2020, Reade menuduhnya melakukan pelecehan seksual pada 1993.  Joe Biden dan tim kampanyenya dengan keras membantah semua tuduhan tersebut. 

Joe Biden meminta maaf karena tidak memahami bagaimana orang akan bereaksi atas tindakannya.  Dia mengatakan niatnya itu terhormat dan  dia akan lebih "memperhatikan ruang pribadi orang". 

Presiden terpilih Amerika Serikat

Joe Biden terpilih sebagai presiden ke-46 Amerika Serikat pada 3 November 2020. 

Dia mengalahkan petahana, Donald Trump. Dia  menjadi kandidat pertama yang mengalahkan presiden yang masih duduk di Gedung Putih  sejak Bill Clinton mengalahkan George HW Bush pada tahun 1992. 

Joe Biden merupakan wakil presiden non-incumbent kedua, setelah Richard Nixon pada tahun 1968,  yang terpilih sebagai  presiden. 

Ia pun menjadi presiden Amerika Serikat tertua,   presiden pertama yang kampung halamannya adalah Delaware (meskipun ia lahir di Pennsylvania), dan presiden Amerika Serikat kedua yang beragama Katolik setelah John F Kennedy. 

Penghargaan

Joe Biden menerima Chancellor Medal (1980) dan George Arents Pioneer Medal (2005) dari Syracuse University. 

Pada tahun 2008, Biden menerima Penghargaan Kongres Terbaik dari majalah Working Mother untuk "meningkatkan kualitas hidup Amerika melalui kebijakan kerja yang ramah keluarga". 

Pun pada tahun 2008, ia berbagi dengan sesama senator Richard Lugar tentang penghargaan Hilal-i-Pakistan dari Pemerintah Pakistan, sebagai pengakuan atas dukungan mereka yang konsisten untuk Pakistan. 

Pada tahun 2009, Kosovo memberi Biden Medali Emas Kebebasan, penghargaan tertinggi di kawasan itu, atas dukungan vokal untuk kemerdekaannya pada akhir 1990-an. 

Joe Biden adalah penerima Hall of Fame Asosiasi Relawan Pemadam Kebakaran Delaware.  Dia dinobatkan sebagai Hall of Excellence Liga Kecil pada tahun 2009. 

Pada 15 Mei 2016, Universitas Notre Dame memberi Biden Medali Laetare, yang dianggap sebagai penghargaan tertinggi bagi umat Katolik Amerika Serikat. 

Medali tersebut secara bersamaan diberikan kepada John Boehner, ketua Dewan Perwakilan Amerika Serikat. 

Pada tanggal 25 Juni 2016, Joe Biden menerima Freedom of the City of County Louth di Republik Irlandia. 

Pada 12 Januari 2017, Obama mengejutkan Biden dengan menganugerahinya Presidential Medal of Freedom with Distinction‍ — ‌ untuk "kepercayaan pada sesama orang Amerika, untuk kecintaan Anda pada negara dan layanan seumur hidup yang akan bertahan dari generasi ke generasi". 

Itu adalah satu-satunya penghargaan Obama dari Medal of Freedom with Distinction; penerima lainnya termasuk Ronald Reagan, Colin Powell dan Paus Yohanes Paulus II. 

Pada 11 Desember 2018, Universitas Delaware mengganti nama Sekolah Kebijakan dan Administrasi Publiknya menjadi Sekolah Kebijakan dan Administrasi Publik Joseph R Biden Jr. Institut Biden bertempat di sana. 

Pada tanggal  10 Desember 2020, Joe  Biden dan Kamala  Harris bersama-sama dinobatkan Majalah Time sebagai Person of the Year.  (osi/wikipedia/berbagai sumber)

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Best WordPress Themes