Srikandi di Sarang Pria

 


Hasanah (kiri) dan Ahmad Suroso

Dalam rentang waktu terbilang panjang, lebih dari dua dasawarsa, dia sungguh srikandi di sarang pria. Nyaris sendirian. 

Namun, kehadirannya memberi warna kepemimpinan yang kuat dan khas di ruang redaksi Tribun Network - Kompas Gramedia.

Dia pekerja keras yang cerdas dan tangguh. Tegas, berintegritas, berani, juga disiplin.

Sebagai jurnalis dan pemimpin dia mempraktikkan pepatah Latin, suaviter in modo, fortiter in re. Teguh dalam prinsip tapi lembut dalam cara.

Mereka yang pernah jadi rekan kerja, kolega atau dipimpinnya mengenal gayanya mendidik dan membimbing dengan hati yang hangat. 

 Karier kewartawanannya merangkak dari dasar hingga puncak tertinggi. Dia merasakan pengalaman sebagai reporter, asisten editor, editor, redaktur pelaksana hingga tugas dan tanggung jawab sebagai pemimpim redaksi.

Setelah mengabdi bertahun-tahun di Harian Tribun Jabar, dia mendapat kepercayaan menjadi Pemimpin Redaksi Harian Tribun Jambi. 


Dari Jambi dia pindah ke Provinsi Riau melakoni tanggung jawab sebagai Pemimpin Redaksi Tribun Pekanbaru. Beberapa bulan sebelum memasuki masa pensiun tahun 2022 lalu dia ke kantor pusat Tribun Network di Jakarta.

"Om Dion ada-ada aja," begitu komentar Mbak Hasanah Samhudi ketika saya menjulukinya sebagai srikandi di sarang pria.

 Nyatanya memang demikian. Di jaringan media Tribun Network Kompas Gramedia yang kini ada di 35 dari 38 provinsi di Indonesia, baru dua orang perempuan yang menjadi pemimpin redaksi. 

Hasanah Samhudi dan Wenny Ramdiastuti. Nama terakhir baru  pensiun medio 2023. Jabatan terakhirnya Pemimpin Redaksi Harian Sriwijaya Post dan Tribun Sumsel di Palembang, Sumatera Selatan.

 Mbak Hasanah dan Mbak Wenny hanya berselang setahun purnabakti sebagai karyawan-wartawan Tribun Network. 


Hari Rabu 20 September 2023, kami keluarga besar Tribun Network bak disambar petir di siang bolong.

Mbak Hasanah Samhudi berpulang.  Kami tahu mbak sakit tapi tak pernah ingin mendengar Mbak Hasanah pergi selekas ini.

Selamat Jalan Mbak Hasanah. Bahagia kekal di sisiNya. (*)


Fb 23092023

Josef Blasius Bapa: Ayah yang Humanis

 


Blasius Bapa (kanan)
Suara Melchias Marcus Mekeng bergetar saat menyapa sekaligus mengucapkan terima kasih tak terhingga kepada ayahnya malam itu. 

Sang ayah, Josef Blasius Bapa, mendampingi anggota DPR ini saat menerima Pos Kupang Award 2023 di Hotel Aston Kupang, Senin 11 Desember 2023.

Josef Blasius Bapa tampak bugar.  Pria berusia 85 tahun itu berbincang santai dan akrab dengan para tamu undangan lainnya.  Dia duduk semeja dengan Melchias Markus Mekeng dan sejumlah tokoh antara lain senator asal NTT, Abraham Paul Liyanto.

Beliau mengikuti seluruh rangkaian acara Pos Kupang Award mulai pukul 17.00 hingga tuntas pada pukul 21.00 Wita.

Putranya, Melchias Marcus Mekeng atau karib disapa Melky Mekeng  merupakan seorang di antara 40 tokoh masyarakat Nusa Tenggara Timur (NTT) yang dapat penghargaan dari Pos Kupang, harian pertama di NTT yang terbit sejak 1 Desember 1992.

Keesokan hari, Selasa 12 Desember 2023, Josef Blasius Bapa  kembali menemani Melky Mekeng ke studio Pos Kupang di Jl. RW Monginsidi Fatululi Kupang. 

Selasa siang itu Melky Mekeng secara khusus diwawancarai editor Pos Kupang, Novemy Leo mengenai lika liku pengabdiannya selama 30 tahun untuk rakyat Flobamora melalui jalur legislatif.

Sama seperti momen di Hotel Aston Kupang, Blasius Bapa menyimak secara baik wawancara khusus dengan anaknya sampai selesai.

Senja menjelang Malam Natal 24 Desember 2023, kabar duka dari Jakarta menghampiri kami. Josef Blasius Bapa berpulang. 

Warta yang mengejutkan keluarga, kolega dan kerabat termasuk kami keluarga besar Harian Pos Kupang.

Ayah yang Humanis

Dalam berbagai kesempatan Melky Mekeng selalu menyebut peran sang ayah yang luar biasa dalam seluruh kiprah dan kariernya sebagai politisi, dan wakil rakyat NTT di Senayan hingga kini.

Josef Blasius Bapa merupakan sumber inspirasi yang mengalir tiada henti bagi Melchias Markus Mekeng.

Blasius Bapa adalah mentor politik Melky Mekeng sejak muda usia. Melky sering diajak ayahnya mengikuti rapat-rapat organisasi sosial dan politik. 

Dari sana tumbuh kecintaannya pada jagat politik yang melambungkan namanya hingga kini.

Sebagai ayah, Melky Mekeng melukiskan Josef Blasius Bapa sebagai sosok yang sangat humanis.

"Ayah saya ini orang yang sangat humanis, selalu jatuh hati pada orang kecil yang susah," kata Melky Mekeng kepada Pos Kupang, Selasa (27/12/2023).

Blasius Bapa juga mengajarkan anak-anaknya agar tidak mengambil sesuatu yang bukan haknya. Tak boleh mudah patah semangat.

"(Beliau) mengajarkan hidup yang tidak boleh mengambil yang bukan haknya, pantang mwnyerah dalam keadaan sulit apapun," kata Melky Mekeng.

Satu lagi pesan hidup yang sangat mendalam. Dalam hidup bermasyarakat, Josef Blasius Bapa berulangkali mengingatkan Melky Mekeng agar usahakan hadir kalau ada undangan dari orang baik untuk kesukaan maupun kedukaan.

"Dia selalu membina komunikasi dengan siapapun yang dia kenal baik di dalam negeri maupun luar negri, jadi kemanapun dia pergi selalu ada temannya," kata Melky Mekeng.

Melky Mekeng mengatakan, sang ayah berpulang setelah "menunggu" dia merayakan usia 60 tahun pada 8 Desember lalu serta menerima penghargaan dari Pos Kupang.

"Almarhum menunggu usia saya 60 (tahun) pada tanggal 8 Desember dan menyaksikan penerimaan Pos Kupang Award," kata Melky Mekeng.

Josef Blasius Bapa adalah tokoh bangsa yang sarat pengalaman di bidang politik dan kemasyarakatan. 

Ayah Melky Mekeng itu merupakan aktivis Partai Demokrasi Indonesia (PDI) di paruh akhir 1970-an. 

Sebelumnya Blasius Bapa aktif di Partai Katolik  yang fusi ke PDI setelah pemerintahan Orde Baru melahirkan kebijakan menyederhanakan partai politik.

Blasius Bapa pernah merasakan dan terlibat aktif dalam dinamika politik era Orde Lama, Orde Baru dan teranyar di Era Reformasi. 

Mantan anggota MPR ini merupakan anak bangsa yang menjadi saksi sejarah kepemimpinan Indonesia sejak masa Presiden Soekarno hingga Presiden Joko Widodo saat ini.

Josef Blasius Bapa merupakan  pendiri organisasi paguyuban  Keluarga Besar Maumere Jakarta Raya (KBM Jaya).

Menjelang Paskah  2023, Blasius Bapa secara khusus berpesan kepada warga KBM Jaya agar tidak berafiliasi ke partai politik manapun tapi anggotanya boleh berpolitik. 

Dia mengingatkan bahwa KBM Jaya bukan partai politik tapi organisasi sosial wadah orang Maumere di Jakarta dan sekitarnya berhimpun membagi suka dan duka dalam bingkai kekeluargaan. 

"Saya berharap agar Keluarga Besar  Maumere Jakarta Raya (KBM)  sebagai sebuah paguyuban kekeluargaan, harus tetap solid, tetap kuat, tetap harmonis, tetap solider serta saling mengasihi dan menyanyangi satu sama lain," pesan Blasius Bapa dalam rilis yang disiarkan Pos-Kupang.com 9 April 2023.

"Kita yang berada di dalam paguyuban KBM Jaya sebagai keluarga harus saling menyapa, menginformasikan kemana kita berparpol, agar kita tetap dalam satu koordinasi, di dalam satu kekuatan untuk membangun KBM Jaya agar tetap jaya," kata ayah Melky Mekeng ini.

Kepulangan Blasius Bapa membuat KBM Jaya dan seluruh masyarakat Flobamora kehilangan tokoh panutan dan sesepuh. 

Jenazah Josef Blasius Bapa menurut rencana diterbangkan ke Maumere, Kabupaten Sikka dan dimakamkan di Kewapante pada Kamis, 28 Desember 2023. 

Selamat jalan Bapak Josef Blasius Bapa. Bahagia kekal di sisiNya. Jasa dan budi baikmu kami kenang selalu. (*)

Pos Kupang.com, 26 Desember 20203

Purnabakti

 


Saya dan Mas Surnarko di Mataram, 4 Sept 2023
Pada suatu titik waktu saya pernah selevel dengan mereka. Selevel dalam hal tugas dan tanggung jawab sebagai pemimpin redaksi unit media naungan Tribun Network-Kompas Gramedia.

Medio 2023 satu per satu mereka mengucapkan sayonara kepada Tribun Network karena sudah tiba saatnya untuk purnabakti.

Meski pensiun sebagai karyawan adalah hukum natur tetap saja saya merasa agak terkejut. Kaget bahwa saya pun tidak akan lama lagi menyandang NIK alias nomor induk karyawan Tribun Network- Kompas Gramedia.

Sampai bulan September 2023, empat saudaraku pensiun.  Paling awal pamit dari Grup WA Pemimpin Redaksi adalah Mbak Wenny Ramdiastuti. 

Mbak Wenny terakhir menjabat sebagai Pemimpin Redaksi Tribun Sumsel-Sriwijaya Post di Palembang, Sumatera Selatan.

Dengan pensiunnya Mbak Wennya, maka sekarang tidak ada lagi perempuan yang menjabat pemimpin redaksi di lingkungan Tribun.

Mbak Wenny menyusul Mbak Hasanah Samhudi yang pensiun lebih dahulu setahun.

Setelah Mbak, Wenny tidak lama berselang Mas Bechi, tepatnya Achmad Subechi mengucapkan selamat tinggal karena telah memasuki masa pensiun. 

Mas Bechi pernah menjadi pemimpin redaksi Tribun Kaltim, Kompas.com dan Warta Kota. Mas Bechi meniti karier di harian Surya, Surabaya lalu ke Jakarta mengelola Tabloid dan lain-lain.

Nah bulan September 2023,  dua orang lagi saudaraku satu leting yang pensiun yaitu Mas Sunarko dan Kang Cecep Burdansyah.

Mas Surnako terakhir menjabat Pemimpin Redaksi Tribun Bali selama 10 tahun. Sejak awal terbit Tribun Bali, Mas Narko adalah pemimpin redaksi. 

Estafet kepemimpinan sekarang diserahkan kepada Bli Komang Agus Ruspawan.

Mas Narko sebelum ke Bali menjadi pemimpin redaksi Harian Surya di Surabaya dan Harian Tribun Jogja di Yogyakarta.

Mas Narko resmi pensiun per 1 September 2023. Selanjutnta pada 23 September 2023, Kang Cecep Burdansyah pensiun.

Kang Cecep lama menjabat sebagai Pemimpin Redaksi Tribun Jabar di Bandung. Dari Bandung, Kang Cecep ke Semarang menjadi Pemimpin Redaksi Tribun Jateng.

Dari empat orang tersebut, Mbak Wenny, Mas Bechi dan Kang Cecep purnabakti pada usia 60 tahun. Sedangkan Mas Narko mengambil pensiun dini pada usia 54 tahun. 

Dari sisi aturan perusahaan, Mas Narko sebenarnya baru pensiun tahun 2029. Tapi beliau memilih opsi pensiun lebih awal.

Sebelum ini seniorku yang lebih dulu pensiun adalah Yusran Pare (Tribun Jabar, Banjarmasin Post, Tribun Jateng), kemudian Richard Nainggolan (Tribun Manado, Tribun Batam), dan  Andi Asmadi (Tribun Lampung)

Saat ini para pemimpin redaksi umumnya mereka yang jauh lebih muda. Memang sudah semestinya demikian. (*)

Mataram, 4 September 2023

Achmad Subechi Sang Pionir

 


Achmad Subechi (kanan)

"Saya memiliki seorang teman di Tribun Network, Mas Bechi. Achmad Subechi namanya. Saya kenal waktu tugas di Kalimantan." 

 Demikian dikatakan Brigadir Jenderal (Brigjen) TNI Agus Bhakti saat berbincang santai dengan saya seusai podcast di Studio TribunLombok.com di Mataram, 7 September 2023. Brigjen TNI Agus Bhakti adalah Komandan Korem (Danrem) 162 Wira Bhakti. Jenderal kelahiran Bandung itu memimpin Korem yang wilayahnya mencakup seluruh Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB) sejak 27 Juni 2023. 

 Kantor kami di Kota Mataram hanya berjarak selemparan batu, berseberangan jalan. Kami tetangga dekat. Ketika beliau bercerita tentang sosok Achmad Subechi, pembicaraan kami makin asyik karena Mas Bechi merupakan senior sekaligus kolega saya juga selama puluhan tahun. Pak Agus Bhakti pernah mengemban tugas sebagai Komandan Kodim Dandim 0910/Malinau, Kalimantan Utara. 

Di sana mereka bertemu. Kala itu Mas Bechi menjadi pemimpin redaksi Harian Tribun Kaltim yang wilayah kerjanya sampai Kalimantan Utara. "Mas Bechi merupakan sosok yang hangat, teman diskusi yang baik," kata Agus Bhakti. 

 Segera setelah Danrem pamit kembali ke kantornya, saya kirimi Mas Bechi foto bersama Pak Agus Bhakti.

 "Mas Bechi dapat salam dari Danrem 162 Wira Bhakti. Masih ingat?" Spontan dijawabnya via WA: "Ingat Dion. Udah jenderal ya? Alhamdulilah. Semoga Pak Agus makin sukses di NTB." 

 Tak lupa Mas Bechi yang terakhir menjadi pemimpin Redaksi Warta Kota (Jakarta) mendoakan kesuksesan menyertai kami di TribunLombok.com, portal berita yang belum genap 2 tahun usianya. 

 Achmad Subechi purna bakti sebagai jurnalis Tribun Network medio tahun ini. Hampir bersamaan dengan Kang Cecep Burdansyah, mantan Pemimpin Redaksi Tribun Jabar dan Tribun Jateng. 

 Dia merupakan seorang di antara jurnalis pionir di lingkungan Tribun Network Kompas Gramedia atau yang dulu lebih dikenal sebagai Persda. Mas Bechi bergabung dengan Harian Surya (Surabaya) tahun 1989 seangkatan dengan Mas Febby Mahendera Putra, kini Direktur Pemberitaan Tribun Network. 

 Pertama kali saya mengenalnya tahun 1992 saat Mas Bechi meliput bencana gempa dan tsunami di Pulau Flores. Bencana dahsyat yang menelan korban jiwa lebih dari 2.000 orang itu terjadi 12 Desember 1992 atau baru dua pekan Pos Kupang lahir sebagai koran pertama di Provinsi Nusa Tenggara Timur.

 Sebagai wartawan baru, kami belajar banyak dari Mas Bechi. Jurnalis gesit, cerdas dan cepat bergaul dengan siapa saja. Ngotot menembus narasumber tersulit sekalipun. Liputan lapangannya detail dan komperehensif. Komplet.

 Garapan sisi human interestnya menggugah hati. Berminggu-minggu Harian Surya laris manis berkat laporan Mas Bechi dari Maumere Flores. Dia termasuk jurnalis pertama yang melihat Pulau Babi porak-poranda dilanda tsunami, dan ratusan jasad masih tergeletak sana. Sejak 1992 itu pertemanan dengan Mas Bechi terus berlanjut. 

Banyak nian momen kebersamaan kami sebagai sesama awak Persda - Tribun Network. Kami pernah sama-sama pening kepala ketika "disekolahkan" di Prasetiya Mulya Business School Jakarta, dan masih banyak lagi kesempatan bersama. Suatu saat saya ke rumahnya di Jakarta. Dia jamu makan yang enak. 

"Dion, terima kasih sudah berkunjung ke rumah saya," katanya. Kreatif Persis dikatakan Danrem 162/Wira Bhakti Brigjen Agus Bhakti, Mas Bechi merupakan teman diskusi yang baik. Dia sangat antusias kalau mendiskusikan suatu topik. 

Idenya mengalir dan kerap out of the box. Kreatif. Unik. Tahun 1996 Mas Bechi bertugas sebagai wartawan Harian Surya biro Jakarta bersama rekan-rekannya. 

 Merekalah pionir yang menghadirkan konten berita dan foto yang didistribusikan untuk kebutuhan seluruh koran daerah Kompas Gramedia termasuk Harian Pos Kupang, tempat saya mengabdi sejak 1992. Karya jurnalistik Mas Bechi dkk dari Jakarta menjadi pembeda. 

Nilai lebih bagi koran daerah seperti Serambi Indonesia, Swirajaya Post, Pos Kupang, Harian Surya dan lainnya. Tahun 2003 PT Indopersda mulai menerbitkan koran (dan selanjutnya media online) dengan brand Tribun. 

 Tribun Kaltim menjadi anak sulung. Koran itu berbasis di Balikpapan, kota industri paling dinamis di Kalimantan Timur. Arek Suroboyo ini kembali menjadi pionir ketika Tribun Kaltim sedang bertumbuh. 

 Dia meneruskan kepemimpinan pada masa awal media tersebut setelah Mas Uki M Kurdi mendapat tugas baru dari pemimpin Persda, Om Herman Darmo. Sejak itu Tribun terus berbiak dan bertumbuh. 

Hadir di berbagai daerah. Hingga 2023 Tribun Network telah hadir di 35 dari 38 provinsi Indonesia, berkekuatan 21 koran dan 69 portal berita online. Mas Bechi tak hanya berkiprah di lingkungan Persda (Tribun). 

 Berkat pengalaman dan kemampuan manajerialnya Mas Bechi bahkan sempat mendapat kepercayaan sebagai pemimpin redaksi Kompas.com. Hari ini Minggu 3 Desember 2023, kami keluarga besar Tribun Network terguncang. Air mata mengalir. Sang pionir itu berpulang. Innalillahi wa innailahirojiun 

 "Sesungguhnya kita ini adalah milik Allah, dan kepadaNya kita akan kembali." Mas Bechi, selamat jalan. Beristirahatlah dalam damai dan kasih Tuhan. *
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Best WordPress Themes