Tampilkan postingan dengan label Superball. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Superball. Tampilkan semua postingan

Ladang Duit Bernama Indonesia

Tahun 2013 tidak hanya menjadi ajang bagi para politikus untuk tebar pesona jelang pemilihan Presiden Indonesia tahun depan. Tahun ini sekaligus menjadi ajang bagi tiga klub raksasa Premier League, Arsenal, Liverpool, dan Chelsea untuk menebar jala bisnisnya di Indonesia.

Popularitas Premier League sudah tidak perlu dipertanyakan lagi. Kompetisi yang terbentuk sejak 1992 itu disiarkan ke lebih 212 wilayah dan disaksikan lebih dari 643 juta pemirsa di seluruh dunia.

Di Indonesia yang masyarakatnya terkenal sebagai penggila sepakbola, hak siar Premier League selalu menjadi rebutan sejumlah media. Kepopuleran Premier League di Indonesia berbanding lurus dengan jumlah penggemar klub-klub peserta. Komunitas penggemar klub Premier League bermunculan seperti Manchester United, Liverpool, Arsenal, Chelsea, Manchester City, bahkan hingga klub-klub medioker sekelas West Ham United dan Newcastle United.

Berdasarkan survei pada 2012, penggemar Manchester United di Indonesia diperkirakan mencapai 55 juta orang. Gooner (sebutan untuk penggemar Arsenal)  mencapai 1,4 juta orang. Komunitas Big Reds dan CISC (Chelsea Supporter Indonesia Club) misalnya, saat ini mereka masing-masing memiliki jumlah anggota hingga 9000 dan 12000 orang.

Tidak bisa dipungkiri loyalitas pun akhirnya selalu terhubung dengan royalitas. Seorang penggemar sejati rela merogoh kocek dalam-dalam untuk bisa berjumpa dengan klub kesayangan dan pemain idola. Hubungan semacam ini yang akhirnya terendus oleh naluri bisnis klub-klub Premier League sebagai kesempatan besar untuk mengeruk keuntungan.

"Tahun lalu, saat kami berada di Malaysia, kami kedatangan banyak fans Indonesia yang menempuh perjalanan dari Indonesia ke Kuala Lumpur untuk melihat tim kami. Saat itu kami tahu kami harus datang ke Indonesia," ujar CEO Arsenal, Ivan Gazidis.

"Indikator kami adalah penggemar. Pasar terbesar di dunia, dari segi penggemar, berada di Indonesia," kata Manajer Regional Manchester City wilayah Asia, Ryan Norys, seraya mengumbar rencana kedatangan mereka ke Indonesia pada 2015. Dengan penggemar sebagai indikatornya, sangat beralasan mengapa klub-klub Premier League mulai menggaet perusahaan-perusahaan besar Indonesia.

Arsenal pun berhasil menggandeng penyedia jasa telekomunikasi Telkomsel. Sementara Liverpool jauh sebelumnya telah menggandeng maskapai Garuda Indonesia, dan telah diperpanjang tiga tahun lagi. Adapun Chelsea makin meningkatkan kerja sama dengan bank plat merah Bank Negara Indonesia (BNI).

Itu pun belum termasuk Manchester United yang mengikat kerja sama dengan Bank Danamon dan ban Achilles/Corsa, serta Manchester City dengan minuman energi Extra Joss.

Kesepakatan ini sangat murni bisnis. Menjelang akhir tahun 2012, Arsenal misalnya, terancam kehilangan sponsor jika tidak lolos ke Liga Champions musim 2013/14. Semakin banyak sponsor, semakin leluasa pula pergerakan klub-klub Premier League, baik di bursa transfer maupun operasional mereka sehari-hari.

Sebagai kompensasi mengikat kerja sama dengan perusahaan Indonesia, klub-klub Premier League harus mengunjungi Indonesia. Selama Juli ini, Arsenal, Liverpool, dan Chelsea berbondong-bondong ke Indonesia dalam rangka tur pramusim. Embel-embelnya adalah mendekatkan diri dengan para penggemar di Indonesia.

Kesan untuk menghibur penggemar benar-benar dibungkus secara rapi. Klub-klub Premier League memberikan kesempatan kepada penggemar untuk mendapatkan tanda tangan, berfoto bersama, serta menyaksikan permainan mereka secara langsung dari jarak dekat.

Melalui kegiatan-kegiatan seperti itu hubungan antara loyalitas dan royalitas semakin jelas terlihat. Demi bertemu klub kesayangan atau sekedar memeriahkan suasana, penggemar di Indonesia rela merogoh kocek dalam-dalam untuk membayar tiket kegiatan dan pernak-pernik seputar klub kesayangan.

Hal seperti ini juga bisa dilihat dari apa yang dilakukan perusahaan-perusahaan besar Indonesia. Telkomsel berencana mengajak 10 orang pelanggannya untuk menyaksikan pertandingan Arsenal di Emirates Stadium.

Danamon bahkan sudah beberapa kali mengirimkan nasabah pengguna kartu debit/kredit Manchester United mencicipi atmosfer Old Trafford dan bertemu para pemain The Red Devils.     Semakin banyak yang anda keluarkan, semakin besar pula kesempatan anda berjumpa klub dan pemain kesayangan.

Saling Menguntungkan   
Namun demikian, jangan selalu melihat kunjungan dan ikatan kerja sama tersebut membuat masyarakat Indonesia seperti budak imperialisme sepakbola. Pada kenyataannya, kunjungan dan ikatan kerja sama merupakan bentuk apresiasi yang diberikan oleh bangsa asing.     Secara umum, hubungan klub Premier League dengan Indonesia merupakan hubungan yang saling menguntungkan.

Persepakbolaan Indonesia turut kecipratan efek positif dari kunjungan klub-klub Premier League. Kesempatan melawan pemain-pemain kelas dunia membuat para pemain Indonesia bisa menambah jam terbang . "Ini pengalaman berharga bagi pemain," kata penjaga gawang Timnas Indonesia Kurnia Meiga.

Tidak kalah penting adalah keuntungan yang diperoleh Indonesia dalam berbagai aspek. Tidak bisa dipungkiri dalam beberapa tahun terakhir citra Indonesia sungguh tercoreng akibat kasus-kasus peledakan bom dan ketidakstabilan ekonomi.

Terakhir, hanya sehari sebelum Manchester United mengunjungi Indonesia pada 2009 silam, hotel tempat mereka akan menginap dibom oleh oknum yang tidak bertanggung jawab. Manchester United batal datang dan citra Indonesia semakin buruk.

Kini setelah kunjungan Arsenal, Liverpool, dan Chelsea berlangsung lancar dan aman, menjadi indikator bahwa Indonesia sudah aman untuk dikunjungi. Kunjungan ini juga membuat pariwisata dan kekayaan budaya Indonesia turut terangkat. Untuk mempromosikan kunjungan mereka ke Indonesia, sejumlah Arsenal mengenakan batik dan memainkan alat musik gamelan. Liverpool dan Chelsea juga meluncurkan situs resmi mereka dengan bahasa Indonesia.

Kerja sama klub-klub Premier League dengan perusahaan-perusahaan besar Indonesia pun menunjukkan perekonomian di Indonesia mulai sehat. Logikanya sederhana, jika tidak sehat, mana mungkin mereka mau berbisnis dengan Indonesia.Indonesia sukses menjadi ladang uang yang subur.

Kunjungan ke Indonesia pun membuat Manajer Liverpool, Brendan Rodgers, sangat terkesan. Pria asal Irlandia Utara ini menyebut atmosfer pertandingan di Stadion Utama Gelora Bung Karno membuat dirinya merasa seperti di Anfield. Rodgers juga terkesan atas keindahan dan keramahan orang Indonesia.

"Saya akan bercerita tentang negara ini. Keramahtamahan di sini sangat menyenangkan. Saya akan katakan kepada anak-anak saya dan orang-orang untuk ke sini sekembalinya saya ke Inggris," kata Rodgers. Proficiat Indonesia! (Oleh Deodatus Pradipto, Wartawan Tribun)

Sumber: Tribun Manado

Neymar: Kami Mesti Tetap Membumi

Neymar
BISA saja legenda itu benar mengawalinya di sini di Rio de Janeiro.  Bintang baru Brasil Neymar disebut "Pele berikutnya" setelah melalukan debutnya untuk timnas Brasil pada 2010 di East Rutherford, New Jersey, Amerika Serikat.

Tak perlu berkata-kata lagi, pemuda bernama asli Neymar da Silva Santos Junior ini mencetak gol, dan di negara yang selalu mendamba pahlawan sepakbola, kemunculannya membangkitkan harapan pahlawan itu telah hadir.

"Kami bermain lebih baik dari yang dikira sebelumnya," kata Neymar setelah laga final Piala Konfederasi yang menghancurkan juara dunia Spanyol 3-0, Minggu 30 Juni 2013.

"Saya sungguh senang. Kami telah membuat banyak orang bahagia, tetapi kami mesti tetap membumi," kata sang bintang seperti dikutip AFP.

Mengikuti jejak Pele mungkin terlalu berlebihan.  Satu hal yang tak mungkin dilakukan Neymar adalah menjuarai Piala Dunia pada usia 17 tahun yang justru dilakukan Pele.  Pada usia ini Neymar barulah bergabung dengan Santos, klub lama Pele.

Dia juga tidak berhasil membawa timnya menjuarai Olimpide London tahun lalu.

Namun Minggu waktu setempat atau Senin dini hari (1/7/2013) Wita, bintang muda yang lahir di Mogo Das Cruzes, Sao Paulo, itu akhirnya dikalungi medali juara turnamen internasional setelah penampilan mencorongnya melawan Spanyol di mana dia sendiri mencetak satu gol di babak pertama sebelum melakukan manuver elok sekali yang membuat Fred bisa menggenapkan kemenangan Brasil.

Cara pesepakbola berusia 21 tahun itu dalam membongkar pertahanan Spanyol menunjukkan bahwa bakat muda ini memiliki kepercayaan diri yang setidaknya mengingatkan orang kepada Pele.

Pemuda ini sendiri bilang sebelum turnamen dimulai bahwa skuad Brasil sekarang tak terlalu baik untuk menjadi juara, namun dengan bakatnya yang luar biasa Selecao malah kini diperhitungkan lagi sebagai favorit juara pada Piala Dunia tahun depan.

Sebelum itu dia akan menjalani akademi yang keras di La Liga bersama Barcelona di mana dia akan berdampingan dengam Lionel Messi sebagai pasangannya, dan jika sukses bertandem maka mereka berdua akan menakutkan siapapun di Spanyol dan Eropa.

Kendati sempat disebut temperamental di awal karirnya dan cengeng karena gampang menjatuhkan diri seperti dikritik pemain Uruguay Diego Lugano, Neymar tumbuh dewasa dengan cepat dan dalam dua pekan terakhir tampil sebagai playmaker yang mempesona.

Dia tiba di turnamen ini dengan tak pernah membuat gol pada sembilan pertandingan terakhirnya namun kemudian dialah yang mengirim finis mengagumkan yang membuka kemenangan 3-0 Brasil pada tiga menit babak pertama saat menghadapi Jepang di Brasilia.

Gol dia lainnya dan satu assist diciptakannya kala melawan Meksiko, lalu sebuah tendangan bebas mempesona berbuah gol saat melawan Italia.

Kecocokannya dengan penyerang tengah Fred yang menjadi kesayangan pelatih Luiz Felipe Scolari telah menghasilkan buah yang manis.

Namun, hidup menjadi lebih sulit bagi Neymar ketika laga semifinal melawan Uruguay, tetapi Fred dan Paulinho mengambilalih tanggungjawabnya menciptakan gol hari itu.  Lalu kala melawan Spanyol, Neymar dan Fred berbagi gol dengan luar biasa.

Dia memperdaya para pemain hebat seperti Andres Iniesta dan Xavi yang akan menjadi rekannya di Nou Camp musim nanti.

"Saya sangat menghormati dan mengagumi mereka. Namun hari ini saya mewakili negara dan keluarga saya serta mesti memberi mereka kesulitan!"

Neymar mengatakan membintangi La Liga akan membawanya ke level yang lebih tinggi.

"Saya akan bergabung dengan salah satu klub terbesar di dunia.  Saya harap bisa beradaptasi secepat mungkin, dan tahun depan saya bisa mengalami Piala Dunia yang hebat," kata Neymar.

Neymar malu-malu mengutarakan perasaannya kepada para demonstran yang menggelar protes di Brasil dan berada di luar Stadion Maracana ketika timnasnya menghadapi Spanyol.

"Sulit membicarakan perkelahian di luar sana, itu buruk dan orang bisa terluka. Perayaan untuk yang berada di dalam stadion," kata Pesepakbola Terbaik Amerika Selatan 2011 ini.

Namun terbang tinggi kariernya bahkan membuat majalah olahraga AS Sports Pro mengangkatnya sebagai calon bintang olahraga terbesar yang bisa melampaui Messi dan pegolf Rory McLlroy.

"Penghargaan itu hanya bagian dari kerja. Itu menuntut tanggung jawab, namun memang menyenangkan," kata Neymar menyangkut klaim Sports Pro tersebut.

Sumber: ANTARANews

Ziarah Bola Carlo Ancelotti

Carlo Ancelotti
Carlo Ancelotti menjadi pilihan terbaik yang bisa didapat Real Madrid sepeninggal Jose Mourinho. Jauh lebih tenang, Ancelotti punya punya cara yang berbeda membangun sukses sebuah tim. Don Carletto dianggap punya segalanya.

Euforia yang dirasakan fans Madrid terkait kedatangan Ancelotti ke bisa jadi tak sebesar tiga tahun lalu, saat Mourinho memutuskan meninggalkan Inter Milan dan menerima pinangan El Real. Itu agak bisa dimaklumi, Ancelotti memang tak dapat sorotan sebanyak Mourinho. Juga tak punya banyak kisah kontroversial, yang seperti Mourinho membuat dia makin sering masuk halaman koran.

Ancelotti malah dianggap telah dinilai di bawah kemampuannya. Padahal, jika melihat apa yang sudah dia torehkan selama ini, pria 54 tahun itu adalah salah satu yang terbaik sekaligus tersukses yang ada di Eropa saat ini.

Lantas, apa yang dibawa Ancelotti ke Bernabeu? Ancelotti punya pengalaman yang luar biasa, mentalitas juara dan pastinya dia sangat baik secara taktik bermain. Ancelotti disebut sebagai pelatih yang selalu punya hubungan baik dengan pemain, yang membuat dia bisa mengeluarkan kemampuan terbaik anggota skuatnya. Ingat bagaimana dia 'menemukan' Andrea Pirlo dan kemudian mempertahankan John Terry sebagai kapten The Blues saat diterpa isu perselingkuhan?

Sebagai Italiano dia jelas sangat tahu bagaimana cara bertahan, sebagaimana Milan menunjukkan hal itu saat dua kali menjuarai Liga Champions. Dan di saat bersamaan, Rossoneri -- serta Chelsea -- juga dibuatnya menjadi tim yang punya lini depan sangat baik bersama nama-nama seperti Shevchenko, Ronaldo, Ronaldinho, Inzaghi hingga Didier Drogba dan Nicolas Anelka.

"Saya sudah pernah bekerja dengan pelatih-pelatih hebat, tapi tidak pernah dengan seorang pelatih yang punya hubungan seperti ia dengan para pemainnya. Itu adalah kunci kesuksesannya. Dan ia elegan, bahkan saat ia sedang berbicara. Metodenya lembut dan amat sabar. Ia membuat para pemain merasa aman," puji Zlatan Ibrahimovic pada Ancelotti.

"Dari semua pelatih yang pernah bekerja sama dengan saya, ia yang menangani tim dengan paling tenang. Ia menyimpan kerisauan dan ketegangannya sendiri sehingga tim tetap tenang," komentar Paolo Maldini.

Skill unik lain yang dipunya Ancelotti adalah kemampuannya untuk bertahan saat berhadapan dengan para bos besar, yang umumnya egois, tak sabaran dan penuh campur tangan. Delapan tahun kebersamaan dengan Silvio Berlusconi di Milan menunjukkan hal tersebut, juga saat berelasi dengan Roman Abramovic di Stamford Bridge.

Kapten Roma

Lahir di Provinsi Reggiolo Emilia, Italia, pada 10 Juni 1959, Ancelotti muda mengawali karier sepakbolanya di Parma dan memperkuat klub tersebut dalam kurun 1976-1979. Setelah itu, Ancelotti kemudian pindah ke Roma, di mana dia meraih sukses besar sebagai pemain. Menjadi kapten I Lupi, Ancelotti sukses mempersembahkan Scudetto 1983, meraih empat trofi Copa Italia dan mengantar klub tersebut lolos ke final Liga Champions 1984.

Delapan musim berseragam Roma, Ancelotti lantas pindah ke Milan. Di San Siro kisah suksesnya berlanjut. Milan yang saat itu dianggap punya tim terkuat di Eropa berhasil menjuarai Liga Champions dua kali di tahun 1989 dan 1990. Meski Milan periode itu dikenal dengan trio Belandanya, Ancelotti jadi bagian penting dalam sukses yang diraih Diavolo Rosso dengan perannya di lapangan tengah permainan.

Milan kemudian jadi klub terakhir yang dibela Ancelotti. Di akhir musim 1991/1992 dia memutuskan gantung sepatu. Total dia punya 14 gelar juara bersama tiga tim berbeda: lima saat memperkuat Roma dan sembilan dalam seragam Milan.

Roma
Serie A (1): 1982-83
Coppa Italia (4): 1979-80, 1980-81, 1983-84, 1985-86

Milan
Serie A (2): 1987-88, 1991-92
Supercoppa Italiana (1): 1988
European Cup (2): 1988-89, 1989-90
UEFA Super Cup (2): 1989, 1990
Intercontinental Cup (2): 1989, 1990


Menjadi Pelatih
Carlo Ancelotti mengawali karier melatihnya dengan menuntut ilmu di Coverciano, sebuah lokasi yang sejatinya adalah markas FIGC namun juga berisi museum sejarah sepakbola Italia dan menjadi tempat mendapatkan akreditasi pelatih. Karya tulis yang dia hasilkan untuk mendapatkan sertifikasi tersebut adalah Il Futuro del Calcio: Più Dinamicità atau The Future of Football: More Dynamic.

Pengalaman pertama Ancelotti jadi pelatih adalah membesut Reggiana di tahun 1995. Dia cuma semusim di sana, karena setelah berhasil mengantar klub tersebut promosi ke Seri A (dengan rekor W16 D13 L9) Ancelotti lantas pindah ke Parma.

Rosoblu juga diantar Ancelotti meraih prestasi membanggakan. Di antaranya diperkuat oleh Gianluigi Buffon dan Fabio Cannavaro, Parma bisa menuntaskan musim 1996/1997 di posisi dua klasemen dan lolos ke Liga Champions. Di musim selanjutnya Parma menuntaskan kompetisi di urutan lima.

Membangun Dinasti di Milan

Tahun 1999 Ancelotti akhirnya dapat kesempatan membesut tim besar saat Juventus menunjuknya sebagai pelatih menggantikan Marcello Lippi. Ketika itu, Ancelotti mengawali musim dengan sangat menjanjikan setelah menjuarai Piala Intertoto dengan mengalahkan Rennes dengan agrgat 4-2. Namun di dua musim berikutnya dia gagal menyumbang gelar manjor dan dua kali beruntun finis sebagai runner up Seri A.

Fakta tersebut membuat Ancelotti sempat dijuluki sebagai spesialis runner up. Di akhir musim 2009/2001 dia diputus kontraknya oleh Bianconeri.

Pemecatan Fatih Terim oleh Milan di awal, musim 2001/2012 menjadi awal sukses Ancelotti karena dialah yang kemudian ditunjuk sebagai pelatih pengganti. Tak ada gelar dipersembahan Ancelotti di musim pertamanya itu, namun dia berhasil membangun pondasi yang kuat dan menunjukkan indikasi positif setelah mengantar Milan melangkah sampai semifinal Piala UEFA. Milan menuntaskan musim di posisi empat, yang membuat mereka kembali berhal main di Liga Champions.
(din/roz)Tiga Final, Dua Trofi Liga Champions

Meski dapat kritik dari Silvio Berlusconi karena dianggap bermain terlalu bertahan, Ancelotti memberi sukses besar buat Milan di musim 2002/2013. Setelah menjuarai Copa Italia, Rossoneri diberinya trofi Liga Champions nomor lima. Uniknya, dalam laga final yang digelar di Old Trafford Milan mengalahkan Juventus melalui adu penalti.

Keberhasilan Milan di musim itu datang dari kejelian Ancelotti melihat potensi pemain-pemainnya, dengan salah satu yang paling sentral adalah penempatan Andrea Pirlo sebagai pengatur permainan namun jauh ke belakang. Selain itu Ancelotti juga berhasil menjadikan Andriy Shevchenko dan Filippo Inzaghi sebagai duet mematikan di lini depan.

Setahun berselang Milan meraih kejayaan lain setelah sukses merebut Scudetto. Rossoneri dipaksa menelan pil pahit setelah kalah di final Liga Champions 2004/2005, namun dua tahun kemudian mereka bisa membalas kekalahan atas Liverpool tersebut.

Milan bersama Ancelotti menjalani final Liga Champions ketiganya di musim 2006/2007. Dan laga yang dilangsungkan di Yunani itu berakhir dengan skor 2-1 untuk kemenangan Diavolo Rosso. Milan lantas menyempurnakan sukses tersebut dengan menjuarai Piala Dunia Antarklub, di tahun yang sama.

Delapan tahun bersama Milan, Ancelotti total memenangi Scudetto, Coppa Italia, Piala Super Italia, Liga Champions (2), Piala Super Eropa (2) serta Piala Dunia Antarklub.

Menyeberang ke Inggris dan Perancis


Setelah berulang kali ramai dirumorkan akan ke Chelsea, Ancelotti akhirnya benar-benar pindah ke klub tersebut pada 1 Juli 2009. Sekitar sebulan setelah menjabat, Ancelotti langsung mempersembahkan gelar Community Shield, setelah menang adu penalti atas Manchester United.

Musim pertama Carletto bersama Chelsea benar-benar berjalan mulus. Di akhir kompetisi dia langsung mengantar Johh Terry jadi juara Premier League, plus mengangkat trofi Piala FA. Itu artinya, tiga gelar langsung dipersembahkan Ancelotti buat klub barunya itu.

Namun Ancelotti gagal mengulang sukses tersebut di musim berikutnya. Setelah kalah dari MU di Community Shield, Chelsea juga gagal bersaing di Premier League. Dia pun dapat surat pemecatan usai kalah dari Everton jelang berakhirnya musim 2010/2011.

Ancelotti resmi ditunjuk sebagai pelatih PSG sehari sebelum tahun baru 2012, menggantikan pelatih sebelumnya Antoine Kombouare. Musim perdana Ancelotti di Parc des Prince berakhir tanpa satupun gelar. PSG duduk di posisi dua klasemen akhir dan tertinggal tiga poin dari sang juara.

Baru semusim kemudian Ancelotti berhasil mempersembahkan gelar juara. Kompetisi masih menyisakan dua pertandingan saat PSG memastikan mengunci gelar juara Liga Prancis. Sementara di Liga Champions, Zlatan Ibrahimovic dkk berhasil melangkah sampai ke perempatfinal. Mereka didepak Barcelona dengan aturan agresivitas gol tandang, dalam laga yang berkesudahan dengan agregat 3-3. (*)

Sumber: Detikcom

Ciao Micha...

Michael Ballack, ditemani ketiga anaknya (afp)
And now, the end is near
And so I face the final curtain
My friend, I'll say it clear
I'll state my case, of which I'm certain
I've lived a life that's full
I travelled each and every highway
And more, much more than this, I did it my way..."


Lirik lagu "My Way" dari Frank Sinatra tersebut berkumandang di Stadion Red Bull Arena, Leipzig, Rabu (5/6/2013) malam waktu setempat. Di pinggir lapangan, tampak sosok Michael Ballack (36), didampingi tiga putranya Louis, Emilio, dan Jordi, mengelilingi lapangan melambaikan tangan ke sekitar 50.000 penonton yang memadati stadion dan meneriakkan namanya.

Ballack, salah seorang pemain terbaik Jerman tersebut, kini resmi berpamitan dari sepakbola setelah menjalani pertandingan ekshibisi antara Michael Ballack and Friends melawan World Class XI bertajuk "Ciao Capitano! Ein Abend Mit Weltklasse" (Sampai Jumpa, Kapten! Sebuah Malam dengan Pemain Kelas Dunia).

Pertandingan tersebut dimenangi tim World Class XI dengan skor 4-3 dan Ballack mencetak tiga gol. Dua gol untuk tim Michael Ballack and Friends di babak pertama serta satu untuk World Class XI di babak kedua. Gol-gol lain diciptakan Didier Drogba dan Andre Schuerrle (World Class XI) dan Sidney Sam (Ballack and Friends).

Selama hampir 17 tahun berkarier, Ballack berkesempatan bermain untuk klub besar seperti Bayer Leverkusen, Bayern Muenchen, dan Chelsea. Ia juga merasakan banyak gelar domestik. Namun, di samping kejayaan, ia juga pernah diakrabi kegagalan menyakitkan.

Sebagai contoh, pada tahun 2002, saat masih memperkuat Bayer Leverkusen, ia gagal mengawinkan tiga gelar; Bundesliga, Liga Champions, dan DFB Pokal. Padahal, sebelumnya ketiga gelar itu seolah sudah di depan mata.

Pada tahun yang sama, gol sundulannya ke gawang Korea Selatan mengantarkan Jerman ke babak final Piala Dunia 2002 melawan Brasil. Tragisnya, ia justru tak bisa membela Der Panzer di partai final akibat akumulasi kartu kuning. Di final, Jerman akhirnya dikalahkan Brasil yang tampil sebagai juara. Rentetan ketidakberuntungan ini seolah mengikuti Ballack dalam karier internasionalnya.

Di Piala Dunia 2006, Jerman terhenti di babak semifinal lewat dua gol telat Italia. Tahun 2008, Ballack kembali mengulangi nasib runner-up bersama Chelsea di Premier League, League Cup, dan Liga Champions serta bersama tim nasional Jerman di babak final Piala Eropa.

Sebuah tekel fatal Kevin-Prince Boateng di final Piala FA membuat Ballack cedera serius. Bahkan, cedera ini pula yang menggagalkan kesempatan Ballack bermain di Piala Dunia ketiganya tahun 2010. Setelah itu, kariernya perlahan-lahan mati saat ia memutuskan kembali ke Bayer Leverkusen akibat cedera yang terus berlanjut. Hingga akhir kariernya, Ballack tak pernah merasakan bermain di babak final Piala Dunia, pun tak pernah mengangkat trofi Liga Champions dan Piala Eropa.

Bahkan, ia tak punya kesempatan masuk ke "klub 100" tim nasional Jerman setelah Joachim Loew menutup pintu untuk Ballack kembali pada bulan Juni 2011 dengan caps 98. Bagi publik Jerman, Ballack adalah sosok unvollendeter (tak lengkap).

"Cahaya di masa kegelapan"

Soal gelar, Ballack mungkin tak sehebat yang diraih Gert Mueller, Franz Beckenbauer, atau Lothar Mattaeus. Namun, Ballack tetaplah legenda sepak bola Jerman. Bahkan, tak ada yang menampik bahwa Ballack bukanlah pemain sembarangan. Di tim nasional Jerman, sosoknya hadir kala Die Mannschaft tak punya banyak alternatif pemain berbakat seperti sekarang.

Mengutip perkataan Udo Muras di situs Die Welt, Ballack tak ubahnya "cahaya yang bersinar di masa kegelapan". Ballack hadir dan bersinar untuk timnas Jerman saat mereka terpuruk pasca-Piala Dunia 1998 dan Piala Eropa 2000. Toh, pemain yang identik dengan nomor punggung 13 ini selalu mengerahkan penampilan terbaiknya untuk tim serta menjadi sosok yang menyemangati rekan-rekannya di lapangan maupun di ruang ganti.

Hanya, kesialan mungkin juga ikut bersama kariernya hingga ia sering gagal di kompetisi internasional. Namun, itu tak membuatnya ciut, tetapi memacunya untuk menjadi pemain yang lebih baik.

Dalam sepak bola, masih ada hal yang lebih penting dibandingkan sebuah trofi, seperti dedikasi dan pengabdian pada tim. Selain itu, Ballack juga punya karakter kuat dan jiwa kepemimpinan yang tinggi. Mantan pelatihnya di Chelsea, Jose Mourinho, punya pujian khusus.

"Ia pemain yang fantastis, baik untuk Chelsea maupun Jerman," kata Mourinho yang menjadi pelatih tim World Class XI. "Saya mendoakan yang terbaik untuknya dengan sepenuh hati," lanjut Mourinho.

Pertandingan di Leipzig semalam menjadi momen terakhir Ballack untuk berpamitan kepada dunia sepakbola yang membesarkan namanya. Atau, seperti yang diucapkannya seusai pertandingan, kepada para penggemar yang sudah menjadikan sepak bola menjadi sesuatu yang istimewa untuknya.

"Sepakbola selalu spesial dan itu karena kalian (para penonton). Kami di sini hanya pemain. Tapi tanpa kalian, tak akan ada semangat dan tak ada emosi," kata Ballack.

Ia sempat kesulitan mencari kata-kata yang tepat serta berusaha meredam air matanya saat menatap para rekan-rekan setim dan penonton yang meneriakkan namanya. Ia pun menutup kalimat pamitannya.

"Aku sangat bersyukur atas perjalanan karierku. Aku ucapkan terima kasih untuk keluargaku, juga putraku, dan semua yang memiliki peran dalam karierku selama ini. Kuharap kita semua menjalani malam yang hebat. Terima kasih!" kata Ballack.

Seperti lirik lagu "My Way" milik Sinatra, Micha-begitu panggilan kesayangan Ballack-telah menyingkap gorden terakhir menuju belakang panggung sepak bola yang pernah membesarkan namanya. Ia telah tuntas melewati karier sebagai pemain sepak bola dan harus menggantung sepatunya.

Ciao, Micha. Ciao, Capitano!

Sumber: Kompas.Com

Messi Menuju Bola Emas Kelima

Leo Messi (AP)
LIONEL Messi kembali mencatat rekor dunia. Setelah menjadi pemain tersubur dalam satu tahun kalender, El Messiah membuat rekor sebagai orang pertama yang memenangi gelar Ballon d'Or empat kali beruntun. Tak sampai di situ, ia berpeluang memperpanjang rekor dengan merebut Ballon d'Or kelima tahun ini.

Messi, bintang klub Barcelona, merebut gelar FIFA Ballon d'Or 2012 setelah mengungguli Cristiano Ronaldo (Real Madrid/Portugal) dan Andres Iniesta (Barca/Spanyol). Pemain asal Argentina itu menggondol FIFA Ballon d'Or setelah meraih 41,60% suara, jauh lebih besar dari Ronaldo dengan 23,68% suara, dan Iniesta yang meraih 10,91% suara.

Penghargaan tersebut diserahkan oleh kapten tim nasional Italia saat menjuarai Piala Dunia 2006, Fabio Cannavaro, dalam acara yang berlangsung di markas FIFA di Zurich, Selasa (8/1) dinihari.Untuk Messi, ini merupakan gelar keempatnya secara beruntun di ajang tersebut -- tiga ketika sudah bernama FIFA Ballon d'Or (2010, 2011, 2012) dan satunya ketika Ballon d'Or dan FIFA World Player of the Year belum dilebur (2009).

Pria berusia 25 tahun itu menjadi orang pertama yang mampu melakukannya. Ia melangkahi rekor legenda Perancis, Michel Platini, yang mendapatkannya tiga kali berturut dalam selamg tahun 1983 sampai 1985. Sebagai catatan, saat itu Ballon d'Or merupakan penghargaan pemain terbaik di Eropa.Johan Cruyff dan Marco van Basten juga pernah tiga kali memenangi Ballon d'Or, tapi eks bintang Belanda itu tidak secara beruntun memenanginya. Cruyff meraihnya di tahun 1971, 1973 dan 1974, sementara Van Basten memenanginya di tahun 1988, 1989, 1992.

"Sejujurnya, sulit dipercaya bisa memenangi penghargaan ini untuk keempat kalinya secara berurutan. Award keempat yang saya dapatkan terlalu hebat untuk diungkapkan dengan kata-kata," ucap Messi ketika menerima penghargaan itu.
Seperti biasa, Messi bersikap merendah. Ia pun tak lupa menyampaikan terima kasih kepada rekan-rekan setim yang telah membantunya."Saya  berterima kasih pada seluruh rekan di Barcelona. Iniesta, luar biasa bisa berlatih dan bermain bersama Anda. Saya juga berterima kasih pada seluruh teman di timnas Argentina."

"Semua orang yang telah bekerja sama dengan saya, pelatih-pelatih saya, staf, dan keluarga serta teman-teman. Juga kepada istri dan anak saya, terima kasih," lanjut dari ayah Thiago ini.


Kemenangan Messi tahun ini tak lepas dari prestasi fenomenalnya ketika menasbihkan diri sebagai top scorer dalam satu kalender dengan mencetak 91 gol sepanjang 2012. Ia memecahkan rekor legenda Jerman, Gerd Mueller (85 gol), yang sudah bertahan 40 tahun.  Well, dengan memasuki usia emas seorang pesepakbola, kemampuan Messi diyakini akan tetap mengkilap dan hebat di tahun 2013. Messi masih sulit dihentikan untuk membuat prestasi gemilang dan rekor dunia.

Apalagi ia berpeluang besar membawa Barcelona kembali merebut gelar La Liga musim 2012/2013. Saat ini Barca memimpin klasemen 52 angka, unggul jauh dari Atletico Madrid (41) dan Real Madrid (36).La Pulga (Si Kutu) juga memimpin daftar top scorer La Liga dengan torehan 27 gol, meninggalkan Radamel Falcao (Atletico Madrid) dengan 17 gol dan Ronaldo (Real Madrid) dengan 16 gol.

Messi juga juga memiliki kans untuk kembali membawa Barcelona menjuarai Liga Champions. Sejauh ini, ia sudah meloloskan Barca ke babak 16 besar dan menjadi favorit utama untuk memenangi gelar bergengsi antarklub Eropa tersebut. Karena itu, Iniesta meyakini Messi akan masih melanjutkan prestasi sempurna dengan meraih Ballon d'Or kelima."Jika Leo bisa melanjutkan performanya seperti sekarang ini, dia tak akan kehilangan gelar kelima," ujar Iniesta dikutip Marca.

Satu-satunya yang bisa menggagalkan Messi untuk merebut gelar kelima adalah force majour bernama cedera! Namun dari jejak rekamnya, meski selalu menjadi santapan lawan, pemain mungil nan lincah ini jarang mengalami cedera parah.
Selain catatan rekor dunia yang spesial, penampilan Messi dalam acara penganugerahan Ballon d'Or 2012 juga mengejutkan. Penampilannya pun menyita perhatian. Messi datang mengenakan tuksedo hitam bermotif polkadot putih. Ia memadukannya dengan dasi kupu-kupu motif serupa.

Meski terkesan mencolok, tuksedo yang dikenakan Messi adalah hasil rancangan perancang busana papan atas, Dolce & Gabbana. Tuksedo dengan motif polkadot  pun serupa dengan yang pernah dikenakan legenda Argentina, Diego Maradona beberapa tahun  lalu Ternyata penampilan Messi tak hanya memukau di atas lapangan hijau. Penampilan di luar lapangan juga makin memesona dan sepertinya mulai menyaingi sang rival, Cristiano Ronaldo. Klop! (tribunnews.com/deo/ka7)

Sumber: Tribun Manado 9 Januari 2013 hal 1


Nonton gol-gol terbaik Messi di SINI

Malam Panjang di Kairagi

MALAM panjang di Kairagi berakhir di hari Senin. Ya, tanggal 1 Juli 2012 malam larut  di Kiev  atau 2 Juli 2012 waktu Manado, Euro 2012 berakhir dengan hasil yang semua kita sudah tahu: Spanyol menciptakan hattrick terbaik dalam sejarah turnamen kompetitif sepakbola sejak awal abad ke-20.

Dalam empat tahun  Spanyol meraih tiga tropi bergengsi sepakbola, juara Piala Eropa 2008 (mengalahkan  Jerman di final 1-0), juara Piala Dunia 2010 (menekuk Belanda 1-0) dan juara Piala Eropa 2012 (menganiaya Italia 4-0). Bahkan negara dengan tradisi sepakbola kuat seperti Jerman dan Italia belum pernah mencetak sejarah emas semacam ini. Mungkin lima 25 sampai 50 tahun lagi sejarah serupa baru terulang, entah oleh negara mana di bumi ini.

Selesailah  sudah pesta bola di Polandia-Ukraina  2012. Kita akan selalu mengenang dan merindukannya. Mengenang momen-momen indah dan sedih. Merindukan aksi-aksi menawan seniman lapangan hijau.

Malam-malam yang panjang sungguh tercipta di Kairagi, satu titik kecil di bumi Kawanua, markas kami Harian Tribun Manado beraktivitas. Selama tiga pekan lebih, bola membius-memesona kami. Bola menyedot energi tak sedikit, setidaknya jam tidurku dan kawan-kawan di Tribun Manado  lebih sedikit dari lazimnya.  

Sejak 8 Juni 2012  praktis malam-malam kami begadang sampai menjelang fajar lantaran menikmati aksi pemain bintang di Polandia-Ukraina.  Diskusi bola mewarnai newsroom.  Ada canda, ada tawa. Ada olok-olokkan. Juga wajah sedih dan hati galau karena tim kesayangan tumbang di babak awal.

Kegalauan melanda fans Belanda. Belanda 2012 begitu rapuh padahal bertaburan bintang. Belanda 2012 laksana elang yang patah sayapnya. Sekalipun tak pernah menang di fase grup, menempati dasar klasemen. Seolah sulit dipercaya mengingat Belanda adalah runner-up Piala Dunia 2012 Afrika Selatan. Mereka melewati kualifikasi Euro 2012 dengan mulus. Dan  tim itu masih yang sama.

Bola memang bukan matematika. Bola adalah ekspresi paling murni tentang kemanusiaan. Mereka boleh saja berintikan 11 bintang. Tapi bintang-bintang yang egois hanya menghasilkan kesia-siaan. Belanda yang mewariskan tradisi total football justru terseok-seok. Lekas pulang kampung dengan wajah muram. Italia yang adem ayem, tampil seadanya malah menembus final dengan memupus impian 82 juta rakyat Jerman. Final ideal mestinya Jerman vs Spanyol yang meraih hasil nyaris sempurna sejak penyisihan grup. Tapi begitulah bola punya logika sendiri. Sebuah tim diyakini menang mudah. Fakta di lapangan dapat berbalik arah. Dengan aktor utamanya manusia, bola merupakan cermin bening human being yang terdiri dari tulang dan daging rapuh. Bejana tanah liat yang sewaktu-waktu bisa remuk dengan entengnya.

Dan, awan kesedihan seketika menggelayuti kubu tim nasional Italia sesaat setelah wasit Pedro Proenca meniupkan peluit tanda berakhirnya pertandingan final Piala Eropa 2012 di Stadion Olympic di Kiev, Minggu 1 Juli 2012. Bukan sekadar kekalahan yang membuat mereka kecewa, poin telak membuat mereka tertunduk.

Spanyol mengubur impian Gli Azurri dalam-dalam dengan empat gol tanpa balas. Skor terburuk sepanjang sejarah final Piala Eropa.  Leonardo Bonucci menangis tersedu-sedu hingga beberapa kali ditenangkan  Pelatih Cesare Prandelli.

"Ini tamparan yang keras. Anda dapat kalah di final, tetapi menyakitkan jika kalah seperti ini," ungkapnya seusai pertandingan seperti dilansir Football Italia.

Penyesalan mendalam pun diungkapkannya. Bek berusia 25 tahun itu menyesal karena pertahanan Italia tidak mampu mengimbangi gempuran Spanyol. Menurutnya, pendekatan lini belakang Italia sudah salah sejak awal. Seharusnya, lanjut Bonucci, mereka tak boleh sedikit pun memberikan ruang kepada  lawan karena mereka sedang melawan Spanyol, bukan Jerman, bukan Inggris atau Portugal.

Riccardo Montolivo datang dengan rasa penyesalan yang sama besarnya. Bahkan, menurut dia, para pemain Italia tak sekadar sedih. Mereka frustrasi. Apalagi, menurutnya, mereka telah bersama-sama bermimpi bersama seluruh rakyat  Italia.

"Kalah 0-4 di final kejuaraan Eropa, Anda tak bisa bahagia. Ada penyesalan yang sangat besar dan rasa frustrasi yang kami alami sampai akhir pertandingan dan kami tidak memainkannya dengan baik," tutur pemain AC Milan ini sendu.

Kepedihan yang mendalam memang menguasai skuad. Prandelli dan kiper Gianluigi Buffon saja yang terlihat tegar. Dengan karakter kebapakannya, Prandelli berusaha menghibur para pemain yang bersedih. Begitu pula Buffon.

Striker bengal timnas Italia, Mario Balotelli, termasuk salah satunya. Air matanya menetes setelah di akhir-akhir babak kedua, wajahnya datar. Publik pun tahu, ini adalah ketiga kalinya Balotelli menangis.

Sebelumnya, ibu Balotelli, Silvia Balotelli, yang dipeluk oleh striker berusia 21 tahun ini saat dua golnya ke gawang Jerman membawa Italia maju ke final, mengatakan bahwa sulit menemukan "Super Mario" menangis.

Setelah menangis karena Jose Mourinho, sekarang Pelatih Real Madrid, terakhir kali Balotelli menangis di pelukan ibunya seusai laga melawan Jerman di semifinal Euro 2012. Dan, Minggu malam 1 Juli 2012, Balotelli kembali menangis bersama Andrea Pirlo yang selama ini senyumnya sangat jarang dilihat....

Italia hanya sedang tak beruntung alias sial. Demikian penilaian dari pelatih tim nasional Spanyol, Vicente Del Bosque. Menurut pelatih berusia 61 tahun ini, "Gli Azzurri" tampil luar biasa sepanjang turnamen, tetapi tidak terlalu beruntung mengakhirinya.

"Kami telah menjalani pertandingan yang sangat luar biasa. Namun, jangan meremehkan Italia. Mereka hanya tidak beruntung. Segala keberuntungan mendukung kami malam ini," katanya seperti dilansir Football Italia.

"Italia bermain dengan satu pemain lebih sedikit, satu hari kurang istirahat, dan mereka telah mencoba yang terbak, tetapi tak bisa masuk ke dalam permainan. Kami main dengan gaya kami, dan yakin dengan apa yang sudah kami lakukan bertahun-tahun," lanjutnya.

Del Bosque mengatakan, siapa saja dan tim mana pun di dunia ini bisa kehilangan suatu kesempatan kapan saja, dan Italia mengalaminya. Meski sudah menunjukkan permainan yang mencengangkan hingga berjalan sampai final, kebobolan terlebih dahulu hingga cederanya Thiago Motta membuat permainan efektif yang coba dibangun Cesare Prandelli segera berakhir.

Namun, menurutnya, para pemain Spanyol memang tengah dalam performa terbaiknya. Iker Casillas dkk tidak mudah menyerah ketika lawan bereaksi terhadap permainan mereka. Mereka  membalasnya dengan reaksi yang tak kalah ngotot.  "Ini adalah generasi pemain yang luar biasa. Mereka memiliki dasar dan tahu bagaimana harus bermain karena mereka datang dari negara yang mengetahui cara-cara (bermain sepak bola). Kami memiliki banyak pemuda yang luar biasa, beberapa bermain di luar negeri," ungkapnya.

"La Furia Roja" menurutnya bisa bermain dengan tenang sehingga menguasai bola dengan lebih baik. Dengan kemenangan ini, Spanyol menjadi tim pertama yang memenangi tiga gelar turnamen besar secara berturut-turut. Bravo Espana..

Kairagi  kembali ke rutinitas biasa. Dan, kami agaknya masih menjalani malam- malam yang panjang. Hidup adalah perjalanan....kawan. Perjalanan seperti bola yang bundar, bergulir. Ada saat di atas, ada waktu tiarap sejajar kulit bumi...

(Catatan rumpu-rampe yang dibuang sayang....Hehehe)

Bakung Cinta dari Kiev

Upacara Penutupan Euro 2012, Kiev 1 Juli (afp)
DI atas karpet berwarna biru yang dibentangkan di lapangan Olympic Staidum, Kiev, Ukraina, Minggu malam atau Senin (2/7/2012) dinihari Wita, ratusan penari yang didominasi anak-anak kecil membentuk sebuah koreografi seorang pria menendang bola.

Bentuk koreografi kemudian berubah lagi menjadi lambang cinta dengan variasi bunga bakung berwarna putih-kuning. Artis nyanyi kenamaan Jerman, Oceana mengiringi gerak indah tarian tersebut dengan lantunan Endless Summer.

Pemandangan indah itu langsung mendapat tepuk tangan meriah dari 65 ribu penonton yang memenuhi stadion terbesar di ibu kota Ukraina tersebut. Suasana makin haru biru tatkala pembaca acara mengucapkan terima kasih pada seluruh suporter yang telah mewarnai 'kehidupan' Polandia-Ukraina.

Semua seremoni indah tersebut menjadi awal dari akhir gelaran Euro 2012. Berakhir setelah Kapten Spanyol, Iker Casillas, mengangkat trofi penanda status tim terbaik di benua Biru untuk edisi 2012.

Oceana (afp)
Puluhan ribu fans Matador, baik di dalam stadion maupun di luar arena, berteriak. Gemuruh suara mereka bercampur dengan rasa sedih yang sempat bergelayut di rona wajah tifosi Italia. Namun semuanya seketika berbaur, menjadi sebuah pengalaman luar biasa. Mereka akhirnya bersatu dalam naungan dunia sepak bola.

"Viva Espana", begitu teriakan yang paling sering terdengar dari para suporter Spanyol tersebut. Spanyol memang superior. Terlepas dari euforia tersebut, fans Matador dan tifosi Italia mengucapkan terima kasih kepada Polandia dan Ukraina yang telah sukses menjadi tuan rumah Euro 2012.

"Polandia-Ukraina adalah tempat yang sangat nyaman, kami sangat senang berkunjung di dua negara ini. Sejak berada di Gdansk, Warsawa dan kini di Kiev, kami merasakan hangatnya cinta dari mereka. Kami takkan melupakan semua ini, " kata Manuel, seorang suporter Spanyol.

Secara khusus ucapan "Thanks Poland And Ukraine" juga diucapkan UEFA dengan membentangkan spanduk besar di Olympic Stadium Kiev. Spanduk tersebut sebagai bentuk apresiasi UEFA terhadap kerja keras dua negara Eropa Timur itu menggelar hajatan akbar sepak bola Eropa.(tribunnews)

Bintang Spanyol di Euro 2012

Pemain Spanyol di Euro 2012 ketika masih bocah (dok Marca)
MUDAH saja untuk menyebutkan nama para pemain tim nasional Spanyol saat melihat foto wajah mereka saat ini. Namun, bisakah Anda menyebutkan nama-nama mereka jika melihat foto yang satu ini?

Marca, media olah raga Spanyol, menayangkan foto-foto ke-23 penggawa "La Furia Roja" ketika mereka masih anak-anak dan remaja. Mereka adalah para pemain yang ikut berlaga di Polandia-Ukraina.

"Tak ada yang pernah membayangkan sebelumnya bahwa pada hari ini mereka bisa mencatatkan namanya dalam sejarah olah raga. Ke-23 pemain telah tumbuh dengan luar biasa untuk membawa sukacita kepada semua para suporter yang mendukung mereka," tulis Marca,  Minggu (1/7/2012).

Media olah raga terbesar di Spanyol ini juga menyebutkan bahwa kebahagiaan yang dibawa Spanyol melalui kemenangan ini paling dirasakan oleh anak-anak. Ini bisa menjadi pemicu semangat generasi muda Negeri Matador untuk terus mengembangkan kemampuan sepak bola mereka dan meneruskan rekor para senior mereka ini.

Berikut adalah nama-nama pemain dalam foto tersebut dari kiri ke kanan. Wajah siapakah yang tak berubah hingga saat ini?

Atas: Casillas, Ramos, Alba, Cesc, Torres, Juanfran dan Cazorla.

Tengah:
Xavi, Iniesta, Arbeloa, Piqué, Mata, Silva, Albiol dan Reina.

Bawah: Llorente, Martínez, Busquets, Pedro, Valdés, Negredo, Alonso dan Navas.

Sumber: Kompas.Com

Pesona Carbonero-Seredova

Sara Carbone dan Iker Casillas
SPANYOL versus Italia. Pasukan di bawah koordinasi Iker Casillas melawan pasukan di bawah pengaruh Gianluigi Buffon. Dua tim terbaik Eropa yang sama-sama dipimpin oleh dua kapten yang adalah kiper atau penjaga gawang. Dua tim finalis Piala Eropa 2012 yang sama-sama dipimpin oleh pemain berpengalaman dengan usia di atas 30 tahun.

Kehebatan Casillas ataupun Buffon, di kampungnya masing-masing, tak perlu diragukan lagi. Aksi di Piala Eropa 2012 sejauh ini sudah membuktikan kehebatan mereka. Dan tentu saja, di belakang karier kiper-kiper terbaik ini ada perempuan-perempuan yang berpengaruh besar bagi kehidupan dan kepribadian mereka.

Iker Casillas mungkin bisa dikatakan lebih beruntung karena sering didampingi oleh Sara Carbonero. Pasalnya, Carbonero adalah seorang presenter dan reporter olahraga televisi yang sering meliput ajang-ajang akbar sepak bola, tempat Casillas juga bisa hadir.

Dia juga kerap menulis kolom di surat kabar-surat kabar besar di Spanyol. Pada Juli 2009, Carbonero dinobatkan oleh FHM USA sebagai "Reporter Terseksi di Dunia", meski kemudian wawasannya sebagai jurnalis olahraga sempat dipertanyakan karena beberapa kali melemparkan pertanyaan konyol kepada narasumbernya.

Alena Seredova-Gianluigi Buffon
Namun, keberuntungan ini kerap dikritik juga oleh sejumlah pihak. Kehadiran perempuan berusia 28 tahun ini di lapangan dinilai kerap mengganggu konsentrasi Casillas saat tampil bersama timnya. Salah satunya, saat Spanyol ditaklukkan 0-1 oleh Swiss dalam laga penyisihan Grup C Piala Dunia 2010. Dia juga akhirnya dikenal setelah mewawancarai kekasihnya seusai salah satu laga. Saat itu, Casillas menciumnya di depan jutaan pasang mata di seluruh dunia.

Pasangan ini rencananya akan menikah setelah ajang Piala Eropa 2012 berakhir. Rumor berkembang bahwa mereka akan menikah pada 7 Juli mendatang. Namun, kabar itu sempat ditampik oleh keduanya.

Oleh pembaca Blick.ch, sebuah situs besar di Polandia-Ukraina, dia dipilih sebagai istri atau kekasih (WAGs atau Wife and Girlfriends) bintang sepakbola yang paling menarik. Penampilannya memang menarik, apalagi karena dia tak segan bergerak ke sana-kemari demi tugasnya.

"Tugas tetap nomor satu, baru kemudian bertemu dan memberi semangat kepada Iker. Saya berharap Spanyol bisa meraih prestasi terbaik di Polandia-Ukraina. Mengenai kostum, apa yang saya pakai, itulah yang paling nyaman buat saya," katanya.

Ingat surat terbuka Gianluigi Buffon yang dituliskan sebelum laga semifinal melawan Jerman, 28 Juni 2012? Surat terbuka itu dipuji banyak pihak. Mereka kagum dengan kepribadian yang kuat dari Buffon untuk menularkan semangat dan keberanian untuk bermimpi kepada semua orang.

Kehidupan pernikahan yang bahagia bersama Alena Seredova menjadi inspirasi tersendiri bagi hidup Buffon. Wanita cantik asal Ceko yang dinikahinya pada Juni 2011 ini kerap terlihat di tribune-tribune penonton bersama kedua anak lelaki mereka, Louis Thomas dan David Lee, untuk menonton aksi kiper berusia 34 tahun itu bersama timnya.

"Kehadiran keluarga bisa menjadi motivasi bagi setiap pemain," ungkap perempuan yang juga berusia 34 tahun ini saat menyaksikan Buffon dan timnas Italia mengalahkan Irlandia, 18 Juni lalu.

Di sela-sela kehidupannya sebagai istri dan ibu, runner-up Miss Ceko 1998 dan mantan supermodel Ceko itu membangun bisnis fashion-nya sendiri berlabel Baci e Abbracci dengan menggandeng mantan striker timnas Italia, Christian Vieri.

Tentu tak ada kaitan langsung dua diva ini dengan hasil pertandingan di Stadion Olympic Kiev, Ukraina, hari Minggu nanti. Namun, jika menerawang dari pesona tiap-tiap diva kapten kedua tim ini, kira-kira Spanyol atau Italia yang akan menjadi juara Eropa berikutnya?

Sumber: Kompas.Com

Racun Rasialisme

RASIALISME, diskriminasi terhadap bangsa yang berbeda, teramat kental telah mewarnai dunia sepak bola di Eropa. Mulai pertandingan antarklub hingga pesta sepak bola antarnegara, rasialisme sering terjadi di "Benua Biru" itu. Pelecehan rasial dilakukan terhadap pemain sepak bola berdasarkan warna kulit, kewarganegaraan, agama, atau etnis.

Beberapa korban biasanya tim lawan pelaku rasialisme. Sejumlah kasus yang dialami pemain justru karena perlakuan dari pendukung tim sepak bola yang sama.

Tak hanya Eropa, rasialisme sepak bola juga melanda belahan dunia mana pun, mulai dari Amerika, Asia, hingga Afrika yang pesepakbolanya kerap menjadi sasaran rasialisme suporter kulit putih. Celaan yang sering diekspresikan adalah dalam bentuk suara menyerupai monyet.

Kasus tersebut, misalnya, terjadi saat pertandingan liga Perancis antara Paris Saint-German melawan RC Lens, Januari 2005. Padahal, kedua klub ketika itu sepakat untuk melakukan gerakan anti-rasialisme mengenakan seragam serba putih untuk Paris Saint-German dan hitam untuk RC Lens.

Inisiatif itu justru menjadi bumerang karena sebagian penonton menirukan suara kera saat pemain RC Lens menguasai bola. Insiden yang cukup terkenal adalah ketika Samuel Eto'o yang saat itu bermain di klub Barcelona mendapatkan perlakuan rasialis dari fans Real Zaragoza.

Sejumlah suporter bersuara seperti monyet jika Eto'o tengah menggiring bola. Saat itu pula, mereka menghamburkan kacang ke arah lapangan. Eto'o berniat meninggalkan lapangan di tengah pertandingan, tetapi dicegah rekan-rekannya.

Pemain Barcelona, Ronaldinho, yang juga menerima ejekan serupa meski tak seintens Eto'o, membujuknya. Barcelona kemudian menang 4-1. Seusai laga, Eto'o melakukan tarian seperti kera dengan alasan para penonton Real Zaragoza memperlakukannya tak berbeda dengan hewan tersebut.

Beberapa suporter Indonesia ternyata juga pernah terlibat tindakan rasialis. Dalam pertandingan persahabatan antara Filipina dan Indonesia di Rizal Memorial Stadium, Manila, Filipina, pada 5 Juni 2012, sejumlah suporter Indonesia berteriak, "Hindi kayo Pilipino!".

Teriakan dengan arti "Kamu bukan orang Filipina" itu ditujukan kepada para pemain sepak bola Filipina yang merupakan keturunan pernikahan campuran. Berdasarkan kesejarahan, Filipina saat masa penjajahan abad ke-19 banyak didatangi warga Spanyol.

Mereka kemudian menetap, menikah dengan penduduk setempat, dan menghasilkan keturunan yang disebut mestizo. Hingga saat ini, cemoohan terhadap para mestizo yang dianggap bukan warga Filipina asli sesekali masih diutarakan.

Di beberapa daerah di Polandia, nyanyian antisemit (kebencian terhadap Yahudi) dikumandangkan sekelompok warga di beberapa sudut kota menjelang Piala Eropa 2012. Beberapa pendatang berkulit hitam juga menerima hinaan berupa suara bak kera yang dilontarkan dari teras-teras rumah penduduk.

Nomor 88 di Jerman

Rasisme dalam sepak bola Jerman lebih halus. Suara kera digantikan dengan kode, misalnya nomor 88 yang identik dengan HH. Huruf-huruf itu merupakan singkatan dari "Heil Hitler" atau "jayalah Adolf Hitler", pemimpin Jerman yang memicu Perang Dunia II.

Rasialisme di Jerman turut diakselerasi reunifikasi pada tahun 1990. Gerakan baru neo-Nazi mulai melebarkan sayapnya dalam persepakbolaan. Mereka memanfaatkan pertandingan-pertandingan sepak bola sebagai ajang untuk menyerang komunitas lain, terutama keturunan Turki.

Dalam laga antarklub Jerman, Sachsen Leipzig dengan Hallescher, pemain Adebowale Ogungbure juga diteriaki "nigger" yang merupakan istilah bagi budak berkulit hitam. Pemain gelandang Sachsen Leipzig dari Nigeria itu juga diludahi dan dipanggil monyet.

Sebagai balasannya, ia meletakkan dua jari di bawah hidung dan memberikan salam Nazi kepada para pendukung Hallescher yang menghinanya. Ogungbure ditahan polisi Jerman karena segala hal yang berbau Nazi dilarang. Namun, ia dibebaskan 24 jam kemudian.

Kejadian lain yang cukup menarik perhatian pemerhati sepak bola adalah saat Inggris menghadapi Spanyol dalam pertandingan persahabatan di Stadion Santiago Bernabeu, Madrid, Spanyol, November 2004. Shaun Wright-Phillips dan Ashley Cole menjadi korban.

Jika kedua pemain Inggris berkulit hitam itu mendribel bola, suara-suara kera dari para pendukung Spanyol membahana. Bahkan, ketika para pemain Inggris masih menyanyikan lagu kebangsaannya, "God Save The Queen", sebelum laga dimulai, sejumlah fans "La Furia Roja" sudah mencemooh.

Pihak UEFA memberlakukan denda untuk menekan tindakan rasialisme. Namun, upaya itu tampaknya tak berdampak besar. Setelah investigasi terhadap laga Spanyol-Inggris, UEFA memberikan denda 87.000 dollar AS (sekitar Rp 820 juta) kepada Federasi Sepak Bola Spanyol.

Spanyol diancam menerima sanksi lebih berat jika rasialisme masih terjadi. Perdana Menteri Inggris Tony Blair dan Menteri Olahraga Inggris Richard Caborn bahkan bereaksi. Caborn menyatakan, perilaku fans Spanyol lebih terbelakang 20-30 tahun ketimbang Inggris.

Bahkan, Afrika juga tak lepas dari rasialisme. Maklum, di "Benua Hitam" itu bermukim banyak suku. Perang dan konflik negara-negara miskin yang berkecamuk menjadi akar persoalan rasialisme yang mengemuka dalam berbagai aspek kehidupan, termasuk sepak bola.

Hanif Adams, pemilik klub sepak bola Zambia, Lusaka Dynamos, mendapatkan perlakuan rasis sewaktu mencalonkan diri menjadi presiden Asosiasi Sepak Bola Zambia. Adams tak disukai beberapa pencandu sepak bola Zambia karena ia keturunan India. (bay)

Sumber: Kompas.Com

Ron Memuji Prestasi Fenomenal Di Matteo

Roberto Di Matteo
DIREKTUR Utama Chelsea Ron Gourlay memuji prestasi fenomenal Roberto Di Matteo. Namun, ia masih enggan bicara soal kontrak permanen Di Matteo sebagai pelatih "The Blues".

Transformasi yang disajikan Robbie --sapaan Di Matteo-- demikian fantastis. Baru mengambil kendali dari Andre Villas-Boas pada Februari lalu, pria berusia 44 tahun langsung menjawan tantangan dengan gelar kampiun Piala FA dan 15 hari berselalu, trofi Liga Champions 2012 di kandang juara Eropa empat kali Bayern Muenchen.

"Beberapa bulan ini sungguh luar biasa dan diakhiri dengan sesuatu yang besar: juara Liga Champions. Banyak "naik-turun" di musim ini. Kami memulai dengan baik tapi peride buruh dialami pada Nopember hingga Januari," ucap Gourlay yang dikutip Sky Sports News.

Takdir Messi

Catatan Sepakbola Dion DB Putra

Lionel Messi
SERGIO Batista mungkin satu-satunya manusia bola di bumi yang tidak peduli hasil akhir laga final ke-17 kejuaraan antarklub Eropa (Liga Champions) Sabtu malam, 28 Mei 2011 di Stadion Wembley, London. Barcelona kalah atau menang, Lionel Messi menangis atau tertawa, tidak ada bedanya bagi Batista.

"Sebab tak ada lagi yang diperjuangkan Lionel untuk menjadi pemain terbaik sepanjang sejarah bola, kecuali satu gelar yaitu Piala Dunia," kata Batista, pelatih tim nasional (timnas) Argentina yang melanjutkan jabatan itu pasca kegagalan Maradona di Piala Dunia Afrika Selatan 2010.

"Legenda Argentina Diego Maradona dan Messi sama-sama pemain besar. Maradona telah menjadi salah satu yang terbaik sepanjang masa, Lionel berada di jalur itu. Saya ingin melihat dia memegang tropi Piala Dunia di Brasil 2014," kata Batista yang mengangkat Messi sebagai wakil kapten timnas Argentina untuk Copa America, Juli 2011 mendatang.

Sergio Batista menyampaikan pesan yang benar tentang Lionel Messi, pemain paling fenomenal dalam sejarah klub Barcelona dengan kawanan penggemar tak terhitung banyaknya di seluruh dunia. Mungkin termasuk Anda. Jika Messi sukses mengantar El Barca merebut tropi Liga Champions Eropa dengan menekuk Manchester United (MU) di Wembley malam ini, gelar itu bukanlah yang luar biasa. Kalau Barcelona kalah pun tak ada bedanya. Toh Messi sudah meraih semua gelar terbaik sepakbola di level Eropa dan dunia. Cuma satu yang belum dia miliki yaitu Piala Dunia. Maka Messi sangat sensitif jika bicara tentang Piala Dunia karena Argentina dan penggemar bola semesta hanya mengenang Maradona, bintang terakhir yang mempersembahkan kepada negeri itu tropi World Cup 1986.

Dua rekan mungilnya di Barcelona, Andres Iniesta dan Xavi Hernandez memahami kegalauan Messi. Mereka sangat hati-hati menyinggung Piala Dunia manakala bercengkerama dengan Lionel, baik di dalam maupun di luar lapangan. Sebab takdir Messi dalam buku sejarah bola adalah menangis di Jerman 2006 dan Afrika Selatan 2010. "Di Afrika Selatan tahun lalu saya menghibur dia. Saya tahu hatinya remuk," kata Iniesta, pahlawan Spanyol di final Piala Dunia 2010 melawan Belanda.

Lionel Messi masih muda dan berpeluang mewujudkan impiannya. Dia tidak mau takdir bola menempatkannya serupa dengan bintang dunia lainnya yang gagal di Piala Dunia seperti Roberto Baggio dari Italia yang gagal di Piala Dunia USA 1994 atau bintang Inggris, David Beckham. Meski begitu piawai sebagai tukang umpan dan penembak bola-bola mati, Bechkam gagal mengantar Inggris menjadi juara Eropa dan Piala Dunia selama kariernya. Takdir Beckham dan Baggio adalah bintang klub, bukan yang terbaik untuk negara di ajang Piala Dunia.

Pelatih Barcelona, Josep "Pep" Guardiola berterima kasih kepada Batista yang mengingatkan dirinya soal motivasi Messi menjelang laga krusial di Wembley. Tugas Pep Guardiola tidak lagi di tataran teknis karena Barcelona punya segalanya. Yang paling berat justru merawat motivasi Messi agar tetap on fire demi membakar MU di Wembley. Berbahaya bila Messi kehilangan motivasi intrinsik menuju yang terbaik. Tanpa mengabaikan peranan pemain lainnya, nyawa tim Catatan ada di kaki dan kepala Messi.

Rupanya pesan itu sudah merasuk Messi. Minggu lalu Lionel berkata kepada Goal, gengsi final Liga Champions setara dengan Piala Dunia. "Pertarungan dalam ajang ini melibatkan pemain terbaik di dunia dan biasanya mempertemukan dua tim terbaik di partai final. Jadi merupakan kehormatan bagi saya dapat menjadi bagian dari laga final," kata Lionel. "Senang mendengar kata-katanya itu," ujar Guardiola.

Pep sadar betul motivasi terbaik anak asuhnya musim ini sudah berlalu. Itulah titik lemah Barcelona yang bisa dimanfaatkan MU. Pelatih MU, Sir Alex Ferguson sudah membaca gelagat itu dengan pura-pura memuji Barcelona sebagai favorit juara, sementara menempatkan timnya sebagai underdog.

Momentum emas Barca adalah memburu gelar juara Liga Spanyol dan menyingkirkan musuh abadi mereka, Real Madrid di semifinal Liga Champions 2011. Gelar juara La Liga yang ketiga secara beruntun sudah di tangan. Lionel Messi dkk pun sukses menghentikan Los Galacticos Madrid dengan skor 2-0 dan 1-1 di semifinal. Secara pribadi, rivalitas bintang Liga Spanyol musim ini antara Lionel Messi dan Cristiano Ronaldo (Madrid) terbukti memihak Messi. Produktivitas gol Ronaldo di liga memang lebih baik. "Tapi kami menang perang. Kami juara liga dan kini di final Champions," kata Carles Puyol.

Selain menjaga motivasi intrinsik Messi dkk agar tetap membara di Wembley, pekerjaan Pep Guardiola adalah merawat soliditas tim. Pep sangat mungkin tetap membuka laga malam ini dengan formasi andalannya 4-3-3. Pep membumikan taktiknya lewat atraksi operan cepat yang dikenal dengan tiki-taka. Seluruh pemain bekerja keras dilandasi keindahan dan kelenturan tubuh.

Selama tiga tahun melatih Barcelona dengan koleksi enam gelar, Pep sudah terbukti sukses mengawinkan gaya dribel pendek ala Catalan dengan kecermatan dan kecepatan bertukar posisi pemain warisan legenda Ajax, Johan Cruyff. Gaya itu telah menempatkan Barcelona sebagai tim elite dengan statistik penguasaan bola paling tinggi di Eropa.

Dengan target menguasai bola selama mungkin dan menghabisi MU di lini tengah, formasi tim inti Barcelola tak akan bergeser jauh dari dari Victor Valdes di bawah mistar, Daniel Alves, Gerard Pique, Javier Mascherano, Carles Puyol atau Eric Abidal, Sergio Busquets, Xavi, Andres Iniesta; Pedro atau Ibrahim Avellay, Lionel Messi, David Villa atau Seydou Keita.

Pasukan Guardiola akan menghadapi daya gempur MU yang sejak dulu fanatik pada format 4-4-2 adonan Sir Alex Ferguson. Edwin van der Sar, Patrice Evra, Nemanja Vidic, Rio Ferdinand, Rafael Da Silva, Michael Carrick, Darren Fletcher, Ryan Giggs, Nani atau Park Ji Sung, Wayne Rooney, Dimitar Berbatov atau Javier "Chicharito" Hernandez hampir pasti menjadi pilihan pertama Fergie -- sapaan akrab Alex Ferguson -- untuk menyukseskan misi balas dendam kekalahan 0-2 dari Barcelona di Stadion Olimpico Roma, 27 Mei 2009 lalu.

Fergie, salah seorang pelatih terbaik abad ini dengan koleksi 47 trofi selama kariernya di Old Trafford tentu sudah merancang skema menjinakkan trio Messi-Iniesta-Xavi. Fergie tahu betul Iniesta dan Xavi adalah pekerja keras, pelayan yang paham kemauan Messi merobek gawang Edwin van Der Saar setelah meliuk-liuk di antara kaki Evra, Vidic dan Rio Ferdinand.

Fergie pun mewaspadai pemain berwatak perusak, David Villa. Villa yang posisi idealnya di wing kiri bisa mengganggu perhatian lawan saat dia bergerak zig zag ke tengah dan kanan untuk memberi ruang kepada Messi agar lepas dari kawalan. Jika Villa, Messi atau Keita dikawal, masih ada Xavi dan Iniesta yang akan menari-nari dari lini kedua. Konsistensi menjadi kunci.

Guardiola mengharapkan MU main terbuka karena itulah jalan terbaik Barcelona memenangi laga. Menghadapi lawan yang defensif, permainan Barcelona lazimnya tidak berkembang. Harapan itu mungkin sulit terwujud karena Fergie kemungkinan memilih rapatkan pertahanan dulu baru menyerang dengan bola panjang langsung ke jantung pertahanan. Sir Alex diprediksi menghindari duel lapangan tengah karena kuartet MU yang dikoordinir Ryan Giggs dan Park Ji Sung bakal keteteran menghadapi soliditas Xavi-Iniesta, pemain kunci Spanyol yang sukses di Piala Eropa 2008 dan Piala Dunia 2010.

Statistik UEFA menunjukkan MU adalah tim dengan pertahanan terbaik di Liga Champions musim ini. Juara Liga Inggris 2011 itu hanya kebobolan empat gol sejak penyisihan grup. Situasinya sedikit berbeda dengan Barcelona. Pilar lini pertahanan Barca, Carles Puyol, Gerard Pique dan Eric Abidal kerapkali keasyikan membantu lini tengah sehingga lupa posisi. Dengan modal pertahanan kokoh dan agresivitas yang mengandalkan kecepatan, MU bakal merepotkan Barcelona. Konsentrasi El Barca bisa rusak bilamana MU mencetak gol lebih dahulu pada 25 menit pertama. Sebaliknya MU sulit bangkit manakala kebobolan lebih dulu dan permainan Barcelona konsisten hingga akhir.

Rekor pertemuan kedua klub di berbagai level kompetisi berimbang. Laga final di Wembley 2011 merupakan pertemuan ke-11 antara Barcelona dan MU. Saat ini, kedua tim mengoleksi tiga kemenangan dan empat partai berakhir seri. Barcelona menang dua tahun lalu, sementara MU unggul pada final Piala Winner 1991 di Rotterdam. Kedua tim pun mengincar tropi Liga Champions keempat, untuk menyamai perolehan Ajax Amsterdam, Bayern Muenchen dan memperpendek jarak dengan Liverpool (5), AC Milan (7) serta Real Madrid (9).

Sampai semalam bursa taruhan dunia lebih mengunggulkan Barcelona ketimbang MU. Apa komentar Guardiola dan Fergie? Keduanya tidak percaya. "Saya tidak percaya ramalan. Ini permainan bola bukan judi," kata Pep. "Kami sudah berulangkali menang justru ketika tidak diunggulkan di bursa taruhan," demikian Fergie. Wow! Yang pasti dua hari menjelang laga final malam ini atau Minggu (29/5/2011) dinihari Wita, Pep dan Fergie menjanjikan pertandingan memikat. Mudah-mudahan janji itu terwujud di Wembley. Selamat menonton!

Pos Kupang, Sabtu 28 Mei 2011 halaman 1

Artikel ini dibuat menjelang pertandingan final Liga Champions Eropa ke-17 antara Barcelona vs Manchester United di Stadion Wembley London. Barcelona akhirnya menang 3-1 dan Messi menyumbang satu gol serta terpilih sebagai man of the match.


Nonton gol-gol terbaik Messi di SINI
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Best WordPress Themes