Tanda Ritus dari Keo

MASYARAKAT Keo, terutama di Keo Tengah, Kabupaten Nagekeo, Flores, mewarisi tradisi turun temurun hingga saat ini sebuah ritus adat yang disebut Tanda. Tanda, dapat diterjemahkan sebagai ritus larangan.

Ritus ini biasanya dipimpin oleh seorang tokoh adat yang diberi gelar Ine Tanda (Ibu Larangan). Ine tanda memiliki kewenangan untuk memimpin ritus ini dan juga menjadi hakim untuk menegakan aturan yang disepakati bersama bila ada yang melanggar.

Ritus Tanda biasanya dimulai pada masa-masa memulai musim tanam. Pada periode empat sampai enam bulan ditetapkan larangan-larangan bagi warga suku antara lain; larangan memanen kelapa, pisang, memotong kayu dan bambu.


Dengan dilakukannya Ritus Tanda, seluruh warga suku diharuskan untuk tidak melakukan hal-hal diatas termasuk berburu dan memotong kayu-kayu muda di hutan dan kebun-kebun bahkan di kebun atau ladang sendiri.Warga juga dilarang membakar hutan.

Ritus ini dilakukan dengan pemasangan semba, potongan daun kelapa yang digantungkan pada pinggir kampung maupun pada batas-batas kampung dimana tanda ini berlaku. Warga kampung akan secara proaktif memantau ketentuan bersama ini. Bila terjadi pelanggaran, warga akan melaporkan kepada Ine Tanda sebagai hakim tertinggi atau pemimpin adat. Ine Tanda selanjutnya akan memanggil seluruh warga kampung untuk berkumpul membahas pelanggaran dan hukuman yang harus ditetapkan. Orang yang melakukan pelanggaran harus menyiapkan babi besar dan beras untuk dimasak bagi warga kampung yang hadir. Jadi seperti acara makan gratis untuk warga kampung.

Dalam pertemuan itu akan ditetapkan hukuman yang disebut poke sengga (lempar dan tikam). Artinya, pelanggar harus menyiapkan babi besar bahkan jika pelanggaran sangat berat harus menyiapkan kerbau yang harganya saat ini bisa mencapai enam sampai tujuh juta rupiah. Pelanggar harus melaksanakan sanksi ini jika tidak ingin diekstradisi dari kampung halamannya sendiri.

Ketua LKMD Desa Mbae Nuamuri, Kecamatan Keo Tengah, Kabupaten Nagekeo, Benediktus Bude, dalam obrolan dengan Pos Kupang beberapa waktu lalu, mengatakan, ritus ini sebenarnya sangat berkaitan erat dengan upaya pelestarian lingkungan serta budaya hemat. Biasanya pada masa tanam warga berfoya-foya dengan makanan yang baru dipanen. Karena itu tanda diharapkan bisa mendorong warga untuk menghemat sehingga pada masa tanda ini berlaku tidak terjadi krisis pangan. Warga bisa bertahan selama kurun waktu tersebut dengan lumbung-lumbung yang dimiliki warga.

Dampak lain adalah kualitas hasil pertanian terutama pisang dan kelapa yang menjadi komoditi utama di wilayah pesisir selatan Nagekeo menjadi lebih baik. Kalau tidak ada tanda, ketika makanan habis warga akan mengambil pisang maupun kelapa sebelum belum masa panen. Hal ini juga berdampak pada nilai jual dari hasil bumi ini. Pisang maupun kelapa kalau diambil pada usia muda harganya menjadi sangat rendah ketika dibeli oleh para saudagar dari Bima maupun pesuruan. Bahkan, banyak pembeli yang datang dengan truk-truk untuk membeli pisang maupun kelapa dengan harga murah karena belum matang. Kelapa maupun pisang itu akan dibawa ke NTB, Denpasar dan Surabaya dalam keadaan sudah kuning sehingga seperti matang.

Dampak lain adalah warga tidak berburu atau membakar hutan pada masa larangan tersebut. Sehingga binatang buruan pun tidak segera musnah. Alam tetap terawat secara baik dan terutama ketika tanda di cabut mereka enggan berburu lagi atau bakar hutan karena ada persediaan makanan yang cukup baik pisang maupun kelapa yang dapat ditukarkan dengan jagung dan padi dari para petani di wilayah Tengah Nagekeo atau Ngada yang sangat cocok untuk tanaman jagung dan padi.

Jika ritus ini dipertahankan tentu akan sangat baik untuk ketahanan pangan, kelestarian lingkungan, menjaga mutu hasil bumi maupun prinsip hidup hemat selaras alam. (hermina pello)

Pos Kupang 5 Juni 2010 halaman 5

Angka 17


DALAM sepuluh bulan 17 orang tewas di lubang mangan. Apakah ini sekadar angka tak bermakna? Begitu isi pesan pendek yang beta terima akhir pekan lalu dari seorang teman. Beta tersentak. Pesan itu menikam kesadaran.

Sungguh mati, beta mungkin sama dengan tuan dan puan yang selama ini menganggap kematian di lubang mangan sebagai peristiwa biasa. Pesan pendek itu menggugat sikap kebanyakan kita yang melihat angka sekadar angka. Tanpa usaha memahami sesuatu yang lebih penting di balik angka-angka tertentu.

Sahabatku itu mengirim pesan setelah dia membaca berita tentang kematian tiga warga Kabupaten Timor Tengah Utara (TTU) di lubang mangan 15 Juni 2010. Para korban adalah warga Desa Bakitolas, TTU, yaitu Oktovianus Sasi (38), Feliks Teti (40) dan Marsel Lafu (52). Ketiganya tertimbun tanah longsor saat menggali mangan pada kedalaman tujuh meter.


Dengan tambahan tiga korban jiwa tersebut, maka terhitung sejak tanggal 17 Agustus 2009 atau dalam tempo sepuluh bulan terakhir sudah 17 warga Nusa Tenggara Timur (NTT) yang tewas saat menambang mangan. Data ini berdasarkan warta yang dirilis media massa. Patut diduga masih ada korban tewas atau luka-luka yang tidak terekspos. Pekerjaan pokok para korban adalah petani dan peternak. Di antara korban ada murid SD dan ibu rumah tangga yang sedang hamil tua.

Kisah tentang korban hamil tua sungguh menyayat hati. Hari Jumat 23 April 2010, Martinus Tili (32) dan istrinya Ida Alunpa (29) sama-sama menambang batu mangan. Pasangan ini adalah warga Kelurahan Mobeli, Kabupaten TTU. Demi sesuap nasi keduanya tidak memperhitungkan resiko terburuk.

Saat Martinus dan Ida asyik menggali mangan pada kedalaman 2,5 meter, salah sisi dinding lubang galian roboh. Suara batu dan tanah bergemuruh lalu terdengar jeritan lengking Ida Alunpa memanggil suami tercinta. Ida tertimbun reruntuhan. Martinus panik. Tangis Martinus membahana saat tangannya mengais tanah yang menimbun tubuh sang istri. Histeria Martinus memuncak kala tahu belahan jiwanya tak lagi mengembuskan napas. Ia mendekap erat tubuh Ida dengan air mata terurai. Ida pergi selamanya bersama anak ketiga dalam kandungannya.

Dari 17 korban tewas di atas, jumlah terbanyak di Kabupaten Kupang yaitu tujuh orang tewas disusul TTU dengan lima orang. Korban lainnya asal Kabupaten Timor Tengah Selatan (TTS), Belu dan Kota Kupang. Artinya nikmat mangan telah menelan korban jiwa di lima wilayah Timor Barat. Tujuh belas orang kehilangan nyawa dalam sepuluh bulan mestinya pantas dilukiskan sebagai malapetaka. Angka kematian tersebut membuat bulu kuduk berdiri. Rata-rata setiap bulan selalu jatuh korban jiwa. Gali mangan untuk kuburan sendiri. Ngeri kawan!

Data ini jelas bukan sekadar angka kematian. Namun, siapa peduli? Booming ekonomi mangan di Timor Barat benar-benar lepas kontrol. Pengambil kebijakan seolah tidak mau tahu dengan penderitaan masyarakat. Dan, tidak mau mencari tahu secara serius apa sesungguhnya yang dibutuhkan masyarakat bersamaan dengan nikmat mangan dua tahun belakangan.

Pengambil kebijakan di daerah hanya riang dan berlomba-lomba mengeluarkan izin kuasa pertambangan ataupun pertambangan rakyat tanpa memperhatikan dampak lingkungan serta dampak sosial dan ekonomi bagi warganya.

Tuan dan puan coba simak ini. Menurut data Dinas Pertambangan dan Energi Propinsi NTT, hingga bulan Mei 2010, terdapat 319 kuasa pertambangan di beranda Flobamora. Data tersebut masih sementara karena belum semua pemerintah kabupaten/kota melaporkan izin yang telah dikeluarkan kepada pemerintah propinsi di Kupang. Maklumlah di era otonomi daerah sekarang, bupati/walikota adalah "raja" di wilayah masing-masing. Lapor kepada pemerintah propinsi seolah tidak wajib dalam tata krama kepemerintahan NKRI.

Apakah semua izin kuasa pertambangan itu sesuai ketentuan dan prosedur? Belum tentu. Tidak sedikit yang menghalalkan segala cara untuk menarik keuntungan dari penerbitan izin. Ada yang tega memanipulasi izin sehingga seolah-olah diterbitkan sebelum kewenangan izin tambang ditarik kembali pemerintah pusat tahun 2009.
Sekadar contoh, hari-hari ini Pansus DPRD TTU sedang giat bekerja menelusuri izin kuasa pertambangan. Di TTU ada 82 izin pertambangan dari pemerintah.

Kesimpulan sementara Pansus, tidak ada satu pun izin itu melalui prosedur yang benar. Bukan muskil hal yang sama juga terjadi di daerah lainnya. Salah urus benar-benar lekat dengan wajah Flobamora. Tapi siapa pernah merasa malu? Huh!! Kampung besar kita terkenal tebal muka.

Jumlah 17 itu bukan angka yang kecil. Itu tragedi yang nyata terjadi di depan mata. Dampak sosial ekonomi mangan sungguh menggetarkan hati. Jika kurang percaya, cobalah tengok kehidupan di pedalaman Timor sekarang. Demi mangan yang mudah mendapatkan rupiah ketimbang berkebun atau piara ternak, orang kita rela berhari-hari menggali perut bumi demi menemukan batu hitam bernama mangan.

Mereka melubangi dinding bukit dengan peralatan seadanya. Tinggal berhari-hari di bawah tenda, tidur beralaskan tikar dan makan ala kadarnya. Tak jarang mereka jatuh sakit, terutama balita, anak-anak dan kaum perempuan yang ikut menambang.

Derajat kehidupan mereka tidak serta merta terdongkrak dengan menjual batu seharga Rp 350-Rp 400 per kilogram. Keuntungan lebih besar bahkan berlipat ganda tetap milik para cukong dan perusahaan pemegang izin kuasa pertambangan.

Di manakah mereka ketika korban berjatuhan? Di mana orang-orang yang rajin mengeluarkan izin kuasa pertambangan? Dengan profil salah urus yang semakin akut dan kronis di kampung kita, beta yakin satu hal booming tambang mangan di beranda Nusa Tenggara Timur bukan jawaban atas kemiskinan para kekasih, saudara dan famili kita. Turut berduka cita untuk 17 korban tewas di lubang mangan. Beristirahatlah dalam damai! (dionbata@gmail.com)

Pos Kupang edisi Senin, 21 Juni 2010 halaman 1

Lupa Otak

Oleh Dion DB Putra

NAMANYA Sara Carbonera. Cantik? Ya, pastilah! Carbonera adalah reporter stasiun televisi Telecinco. Usai pertandingan Spanyol melawan Swiss di Durban, Rabu (16/6/2010), Sara Carbonera dengan sangat meyakinkan mewawancarai kiper sekaligus kapten tim Spanyol, Iker Casillas.

Wawancara Carbonera dari Durban ditayangkan secara langsung ke Spanyol. "Itulah sepakbola. Kami telah bertanding dengan kemampuan terbaik, tapi lawan lebih beruntung malam ini dan kami kalah," kata Casillas. Fans La Furia Roja rupanya tidak puas dengan jawaban Casillas. Apapun alasannya kekalahan Spanyol 0-1 sungguh menyesakkan dada mereka. Tak terbayangkan tim juara Eropa 2008 dengan komposisi tim terbaik justru gagal meraih kemenangan penting pada laga perdana Grup H.

Gosip dan rumor pun berembus kencang di Spanyol. Sara Carbonera yang tidak lain adalah kekasih Iker Casillas dituduh sebagai biang kerok keruntuhan Spanyol. Sara Carbonera mulai menarik perhatian media Spanyol dan Eropa sejak dia berkencan dengan Casillas saat berlangsung Piala Konfederasi di Afrika Selatan tahun lalu. Ketika itu Spanyol keok 0-2 melawan Amerika Serikat (AS) di semifinal.

Bumbu gosip makin panas karena keikutsertaan pacar atau istri pemain bukan hal lazim di tim nasional Spanyol. Apalagi untuk event segenting Piala Eropa atau Piala Dunia. Maka kehadiran Carbonera di South Africa 2010 menimbulkan kontroversi dan perdebatan seru. Pendukung Spanyol menuduh konsentrasi Casillas buyar gara- gara keberadaan sang kekasih di sampingnya. Sara Carbonero dianggap gagal memberi peneguhan kepada kapten El Matador itu hingga timnya kalah.

Pada detik-detik akhir duel Spanyol vs Swiss Rabu lalu, lebih dari tiga kali kamera televisi menyorot wajah Carbonera di tribun stadion yang sedang gundah. Selama di Afrika, wanita berusia 25 tahun itu memang selalu dekat dengan Casillas.

Carbonera berang karena dituding seperti itu. Dia datang ke Afrika Selatan bukan untuk mendampingi Casillas melainkan demi tugas jurnalistiknya sebagai reporter Telecinco. "Saya menggangu tim? Itu omong-kosong. Apakah mereka (yang menuding) lupa menggunakan otak?" kata perempuan yang dinobatkan sebagai jurnalis terseksi di dunia dalam wawancara seperti dikutip Daily Mail.


Spanyol kalah, Sara Carbonera didamprat. Waw! Begitulah sepakbola. Penalaran kerap terabaikan. Lebih banyak orang menonjolkan rasa. Atau mengutip kata-kata Carbonera: Lupa otak. Terlalu sederhana menimpakan kegagalan Spanyol pada Carbonera. Jika memakai otak fans Spanyol tidak patut melakukan itu. Toh Spanyol belum kiamat. Masih ada dua pertandingan melawan Chili dan Honduras.

Kemungkinan lolos tetap terbuka kendati Swiss dan Chili sudah mendulang tiga poin, sementara Spanyol dan Honduras masih nol besar. Lihat saja Jerman yang perkasa menggilas Australia. Tadi malam justru menyerah 0-1 atas Serbia.

Lupa otak ketika memuja bola memang telah menelan korban sejak lama dan selalu terulang. Di Piala Dunia 2010 sekarang korban nyawa dan harta pun telah berjatuhan. Gara-gara rebutan remote control TV untuk menonton siaran langsung Piala Dunia 2010, David Makoeya (61) meregang nyawa.

Pria sepuh dari desa kecil di Makwea, Propinsi Limpopo, Afrika Selatan itu dipukul sampai mati oleh istri dan anaknya saat laga Jerman kontra Australia, Minggu (13/6/2010) lalu. Saat duel hendak berlangsung, David Makoeya ngotot supaya saluran televisi diganti. Pada saat itu istri Davie Makoeya yakni Francina (68) bersama dua anaknya, Colin (36) dan Lebogang (23) sedang asyik menikmati acara siraman rohani.

Istri dan kedua anaknya bersikeras mempertahankan acara yang sedang ditontonnya. David Makoeya berang. Ia berusaha merebut remote dari tangan sang istri. Aksi saling rebut tak terhindarkan. Francina mencabik wajah suami. David membalas. Melihat kejadian itu Collin dan Lebogang membantu ibunya memukuli sang ayah hingga tewas.

"Tampaknya, mereka membenturkan kepala David ke tembok," ujar juru bicara kepolisian Mothemane Malefo seperti diberitakan Associated Press. Setelah kejadian itu, Francina, Collin dan Lebogang ditangkap polisi. Orang bakubunuh gara-gara sepakbola seperti yang menimpa David Makoeya bukan baru pertama kali. Sudah banyak korban dengan modus serupa.

Korban Piala Dunia 2010 lebih dulu menggemparkan Bangladesh. Kerusuhan meledak di ibukota Dhaka, Sabtu (12/6/2010) lalu gara-gara listrik mati saat warga sedang menonton laga pembuka antara Meksiko vs Afrika Selatan. Fans bola yang marah menyerang beberapa pusat pembangkit listrik dan merusak 20 kendaraan. Sekitar 30 orang terluka.

Petinggi PLN Bangladesh pusing tujuh keliling karena kekurangan daya -- mirip betul dengan kondisi di Indonesia. Solusi darurat harus diambil. Kementerian Listrik dan Energi Bangladesh turun tangan. Mereka perintahkan semua pusat perbelanjaan di Kota Dhaka tutup petang hari agar pecandu sepakbola dapat menyaksikan Piala Dunia di televisi tanpa kekurangan daya listrik. Perintah yang sama berlaku untuk sekitar 5.000 pabrik dan industri. Gila!

"Kami minta agar dipatuhi demi keamanan menyaksikan Piala Dunia," kata Mohammad Afrazur Rahman, juru bicara Kementerian Listik, Energi dan Sumber Mineral Bangladesh. Pengusaha jelas dirugikan. Tapi demi keselamatan mereka terpaksa menuruti tuntutan masyarakat gila bola di negeri itu.

Bola yang bikin gila kerap menomorsekiankan pertimbangan akal sehat. Sudah berulangkali terjadi tragedi memilukan gara-gara bola. Hari Rabu tanggal 16 Oktober 1996 sebanyak 82 orang tewas dan 180 cedera ketika penonton berdesak- desakkan di Stadion Mateo Flores, Guatemala. Kala itu berlangsung pertandingan babak penyisihan Piala Dunia 1998 antara Guatemala melawan Costa Rica.

Kebanyakan korban tewas karena kekurangan oksigen akibat tertimbun tubuh penonton lain. Entah bagaimana awalnya, serombongan penonton di atas tangga stadion tiba-tiba menjatuhi penonton di bawahnya dan terjadilah saling injak.
Jumlah penonton melebihi kapasitas stadion bertempat duduk 45.000 dan banyak orang masuk tanpa tiket. Pihak keamanan sudah berusaha membatasi, tapi mereka tak sanggup menahan ribuan penonton yang merangsek masuk ke stadion.

Jauh sebelum itu dunia bola mengenang tragedi Heysel saat partai final Piala Champions (kini Liga Champions) Eropa tahun 1985 antara Liverpool melawan Juventus. Kemenangan Juventus 1-0 kala itu harus dibayar mahal dengan kematian 39 orang, kebanyakan fans Italia. Mereka tewas karena tembok stadion Heysel di Brussels-Belgia roboh akibat serangan fans Liverpool yang tidak kebagian tiket. Fans Inggris memang terkenal pongah dan lebih andalkan otot ketimbang otak.

Demikian secuil litani berdarah dalam sejarah bola sejagat. Tidak terkandung maksud untuk menakut-nakuti. Hanya mengingatkan bahwa bola tak selalu berwajah elok penuh pesona. Tak melulu tentang keindahan dan sukacita. Sepakbola juga dapat menebar bencana dan air mata. Orang bisa kehilangan nyawa gara-gara gila bola sampai lupa menggunakan otak seperti omelan si jelita Sara Carbonera yang dengan kejam dituduh sebagai biang kejatuhan La Furia Roja.*

Pos Kupang 19 Juni 2010 halaman 1

Kehilangan Nyawa

Oleh Dion DB Putra

PIALA Dunia 2010 mulai memasuki saat-saat yang menentukan. Enambelas tim segera mengepak barang dan pulang ke kampung halaman. Mereka merupakan korban pertama dari ziarah panjang menuju yang terbaik.

Dari enambelas tim akan berkurang lagi delapan tim. Delapan menjadi empat, empat menjadi dua dan dari dua tim akan hanya satu kesebelasan yang bakal tercatat dalam sejarah sepakbola Piala Dunia. Tercatat sebagai juara. Maka bersiaplah untuk menangisi kegagalan. Juga berpesta bersama pemenang.

Fase penyisihan grup telah diwarnai kejutan demi kejutan. Tim unggulan tumbang. Yang biasa-biasa saja tampil meyakinkan dengan meraih hasil yang dibutuhkan untuk tetap bertahan di panggung Extravaganza South Africa 2010.

Dua raksasa Latin Amerika, Argentina dan Brasil mempertahankan martabatnya sebagai bintang. Inggris dan dan juara bertahan Italia mati angin. Belanda lumayan mooy, Jerman labil dan Perancis menjadi contoh bening tentang pasukan megabintang yang gagal sebagai tim.

Demikian pula dengan Pantai Gading yang justru rapuh saat mengaum di tanah air sendiri. Kamerun yang dulu menakutkan dunia, kini lunglai tak berdaya. Tercatat sebagai tim pertama yang tersingkir. Piala Dunia 2010 merupakan yang pertama di Afrika dalam 72 tahun sejarah Piala Dunia, tetapi enam wakil Afrika belum membanggakan benua hitam.

Menarik nian menyimak kegagalan Perancis. Mengapa Les Bleus hancur berkeping-keping? Sebagai mantan juara Piala Dunia dan juara Eropa, runner-up Piala Dunia 2006 dan beranggotakan pemain papan atas di Eropa, tim Ayam Jantan tidak seharusnya berakhir secara tragis seperti itu. Tersingkir di penyisihan grup dengan rekor dua kali kalah dan sekali seri. Prahara Piala Dunia 2002 terulang! Tidak hanya itu. Yang lebih memalukan perpecahan tim Les Bleus tersaji secara telanjang di mata publik sejagat.

Bagi mereka yang tekun mengikuti kiprah sepakbola Perancis, kehancuran juara Piala Dunia 1998 itu tidak terlalu mengejutkan. Toh Perancis memang tidak layak menjadi finalis musim ini. Mereka lolos ke South Africa 2010 dengan kecurangan yang akan dikenang rakyat Irlandia selamanya.
Thierry Henry mengontrol bola dengan tangan sebelum mengirim umpan kepada William Gallas untuk mencetak gol ke gawang Irlandia dalam laga playoff bulan November 2009. "Saya jujur, itu adalah handsball, tetapi saya bukan wasit," kata Henry seusai pertandingan kala itu.

Faktor lain yang lebih penting adalah Perancis sudah lama kehilangan nyawa tim. Perpecahan hebat itu terjadi karena tak ada pemain yang punya aura kepemimpinan. Tidak ada jenderal baik di dalam maupun di luar lapangan. "Pemain Perancis egois. Mereka tidak bisa menjadi tim yang solid," kritik Zinedine Zidane saat Perancis bermain 0-0 melawan Uruguay.
Sejak Zidane pensiun usai menanduk dada Marco Materazzi di grandfinal Piala Dunia 2006 melawan Italia, Raymond Domenech gagal menemukan pengganti Zidane sebagai "roh" kesebelasan tim Ayam Jantan.

Pelatih Domenech yang terkenal sombong dan keras kepala itu sempat berharap pada Thierry Henry dengan menyerahkan ban kapten kepadanya. Tapi takdir sejarah Thierry Henry rupanya sekadar pekerja yang ulet, bukan pemimpin tim di lapangan. Sebagaimana dalam struktur kemiliteran, tidak banyak orang mampu mencapai kehormatan sebagai jenderal apalagi Kaisar Bola seperti legenda hidup Jerman, Franz Beckenbauer. Di Euro 2008, Perancis gagal total tapi Domenech tidak cepat sadar.

Publik Perancis juga sempat menaruh harapan pada figur Franck Ribery. Lagi-lagi Ribery terlalu jauh untuk menyamai aura kepemimpinan Zidane. Ribery boleh saja disebut nyawa tim di level klub. Bukan untuk tim nasional.

Kenyataan itu pula kiranya yang menimpa tim Inggris yang tampil mati angin di Piala Dunia 2010. Sejak David Beckham mundur, Inggris kehilangan pemimpin dan motivator tim di lapangan. Figur pemimpin itu sempat merekah dalam diri
John Terry yang juga Kapten Chelsea. Tapi skandal seks Terry
dengan Vanessa Perroncel, mantan kekasih bek klub Manchester City, Wayne Bridge merusak reputasinya.

Kemolekan tubuh Vanessa yang model pakaian dalam itu meruntuhkan kepercayaan publik terhadap Terry hingga Pelatih Fabio Capello mencopot ban kapten dari lengannya menjelang Inggris terbang ke Afrika Selatan. Kapten Inggris diserahkan kepada Steven Gerrard. Sayang sekali, Gerrard sekadar nyawa klub Liverpool, bukan roh kesebelasan The Three Lions.
Menjadi nyawa timnas tidak bisa instan. Butuh ujian demi ujian.
Dan nyawa sebuah kesebelasan tidak harus memikul ban kapten.

Di tim Argentina 2010 tak pelak lagi yang menjadi nyawa tim adalah Lionel Messi. Messidona! Messi belum mencetak gol sejauh ini tetapi dari kaki Messi pula lahir gol demi gol Argentina. Ketika Maradona menyerahkan ban kapten kepada Messi saat melawan Yunani dua hari lalu, itu menggenapi pentingnya Messi bagi tim Tango. Di tim Brasil figur itu ada dalam diri Kaka. Kehadiran Kaka selalu memompakan semangat tanding berlipat ganda bagi tim Samba. Banyak bintang di tim Selecao, namun pesona Kaka tak terkalahkan.

Di tim Azzurri Italia figur itu ada dalam diri Andrea Pirlo, bukan kapten Fabio Cannavaro yang sudah di remang senja. Pirlo absen karena cedera, Italia tampil jauh dari form terbaiknya. Pirlo bukan kapten. Tapi sejak Paolo Maldini pensiun aura kepemimpinan itu hanya terpancar dari Pirlo, baik di klub AC Milan maupun timnas. Totti sempat disanjung sebagai calon pengganti Maldini. Sejarah kemudian membuktikan, Totti hanyalah Pangeran Roma bukan Santo bagi Squadra Azzura.

Belanda 2010 beruntung memiliki Wesley Sneijder yang mengulang romantisme tendangan gledek ala Ronald Koeman. Jerman jelas sangat kehilangan Michael Ballack. Joachim Loew tidak memungkiri itu. Buktinya jelas. Jerman yang perkasa menggasak Australia 4-0 di laga pertama, tampil tidak konsisten dan gagal melawan Serbia.

Tim muda Jerman begitu labil. Philip Lahm minim pengalaman menghadapi pertandingan super ketat seperti Piala Dunia. Kans itu ada dalam diri Bastian Schweinsteiger sebagai mesin penggerak serangan Jerman dari lini tengah. Namun, Bastian belum patut disandingkan dengan Ballack.

Uruguay punya Diego Forlan. Meksiko miliki Rafael Marquez. Tim Paman Sam Amerika Serikat bersyukur dikaruniai roh kesebelasan lewat Landon Donovan. Donovan adalah salah seorang pemain terbaik yang pernah dimiliki negeri adi daya tersebut. Piala Dunia 2010 terus bergulir. Siapakah di antara roh kesebelasan itu mampu bertahan hingga puncak?*

Pos Kupang 24 Juni 2010 halaman 1

Jumlah Penduduk NTT 4,7 Juta

KUPANG, POS KUPANG.Com --- Badan Pusat Statistik (BPS) Propinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) memprediksi jumlah penduduk NTT mengalami peningkatan. Sebelumnya tahun 2009, total penduduk NTT sebanyak 4,6 juta, namun sesuai hasil sensus penduduk 2010 naik menjadi 4,7 juta lebih.

Hal ini disampaikan Kepala BPS Propinsi NTT, Ir. Poltak Sutrisno Siahaan, ketika ditemui Pos Kupang di ruang kerjanya, Rabu (23/6/2010). Poltak menjelaskan, jumlah penduduk NTT sesuai data BPS tahun 2009 sebanyak 4,6 juta jiwa. Dan setelah dilakukan Sensus Penduduk (SP) 2010 yang dimulai 1 hingga 31 Mei 2010 lalu, diprediksi jumlah itu meningkat atau bertambah sekitar 100.000 lebih jiwa penduduk.

"Memang ada penambahan penduduk setelah sensus. Namun angka pastinya belum kita tahu, karena saat ini petugas BPS NTT masih lakukan 'konsistensi terhadap data dari 21 kabupaten/kota di NTT. Kita akan umumkan hasil sensus sesuai jadwal nasional," kata Poltak.

Dikatakannya, sesuai jadwal nasional, sensus penduduk baru diumumkan pada bulan Agustus 2010 mendatang, setelah pidato Presiden RI pada 16 Agustus 2010. Sementara NTT pada 17 Agustus 2010. Data yang akan diumumkan hanya berupa data jumlah penduduk NTT berdasarkan jenis kelamin. "Setiap tahun tentu ada peningkatan. Meski begitu, penduduk di NTT banyak yang ke luar daerah, terutama perempuan sebagai tenaga kerja dan sebagian sekolah dan mencari pekerjaan di luar daerah yang kemungkinan tidak terdata pada sensus penduduk 2010," katanya.

BPS NTT saat ini, lanjutnya, sedang dalam proses konsistensi dan pengecekan data yang sudah masuk, terutama jumlah penduduk berdasarkan jenis kelamin, agar semua data dipastikan akurat.

Menurut dia, BPS sejak 1 hingga 15 Juni membuka kesempatan bagi masyarakat yang ingin mengadu, karena mungkin belum terdata atau terlewati saat pendataan berlangsung. "Kita berterima kasih kepada seluruh masyarakat NTT yang sudah mendukung atau berpartisipasi menyukseskan sensus penduduk 2010," ujarnya. (yel)

Kota Kupang Naik 13 Persen

SEMENTARA itu, jumlah penduduk di Kota Kupang mengalami peningkatan 13 persen. Sebelumnya, berdasarkan data tahun 2009 jumlah penduduk Kota Kupang 291.474 jiwa, dan setelah sensus 2010 diprediksi naik 13 persen.

"Data terakhir di Kota Kupang terdapat 291.474 jiwa, dan hasil sensus naik menjadi 335.000 lebih. Ini karena Kota Kupang sebagai Ibu kota Propinsi NTT, juga sebagai kota perdagangan, pusat pemerintahan, pusat pendidikan dan lain sebagainya.

Faktor-faktor ini mempengaruhi pertumbuhan penduduk yang urbanisasi ke Kota Kupang untuk bekerja, sekolah dan lain- lain," jelas Kepala BPS Kota Kupang, Ir. Adi Manafe, M.Si.
Dikatakannya, sesuai data sensus yang ada, jumlah penduduk Kota Kupang pasti meningkat tajam akibat adanya urbanisasi penduduk. (yel)

Pos Kupang 24 Juni 2010 halaman 3

Bolakada


MUMPUNG lagi demam kejuaraan sepakbola Piala Dunia 2010, maka izinkan beta hari ini menyapa tuan dan puan dalam bahasa bola saja. Toh bahasa bola itu bahasa makhluk bumi. Bahasa yang mudah dimengerti oleh umat manusia sejagat.

Kalau di Afrika Selatan demam bola baru saja dimulai sejak tiga hari lalu, kita yang menghuni beranda rumah Nusa Tenggara Timur sudah lama mengalami demam. Namanya demam pemilu kada yang bergulir sejak awal tahun hingga babak final 3 Juni 2010. Maklum kompetisinya berlangsung sangat seru.

Sudah menjadi rahasia umum dari enam partai final pemilu kada Flobamora musim ini baru lima partai yang terselenggara. Satu partai final tertunda gara-gara pemain, wasit, asisten wasit dan pengawas pertandingan `bakulipat' sendiri sehingga terjadi kericuhan. Partai final di ujung timur Flores sana tertunda sampai batas waktu yang belum ditentukan. Ya sudah. Tunggu saja ending-nya seperti apa!


Begitulah wajah kita. Antara pesta demokrasi dan pesta bola mirip nian. Lebih kerap berakhir ricuh. Akar musababnya enteng ditebak. Bisa jadi karena wasit tidak profesional dan memuja KKN. Demikian pula dengan pemain sehingga bukan bola pemilu kada yang ditendang, tetapi tubuh lawan yang disikat. Namanya saja pemain bola tapi perilaku di lapangan adalah petinju, kenshi, pesilat atau karateka. Bahkan kerap bertingkah seperti pendekar mabuk yang omong tak tak karuan. Memaki dan menghujat seenaknya saja.

Sekarang kita coba menganalisis hasil lima partai final memakai bahasa bola. Sama seperti Piala Dunia sepakbola, hasil akhir kejuaraan pemilu kada di beranda Flobamora susah ditebak dan penuh kejutan. Tuan dan puan mungkin tidak pernah membayangkan dari lima partai final itu, tiga tim juara bertahan tumbang dengan hasil buruk. Hanya dua tim juara bertahan yang sanggup mempertahankan gelarnya. Putaran final paling alot justru terjadi di tanah Sumba. Selain juara bertahan gugur di babak awal, partai final bahkan belum menghasilkan tim pemenang. Ada dua tim yang akan melewati masa perpanjangan waktu untuk menentukan sang juara.

Dengan kualitas tim dan individu sangat berimbang, siapa pun sulit menebak dengan jitu pemenang dari laga perpanjangan waktu nanti. Sebagaimana terjadi dalam pemainan sepakbola, masa perpanjangan waktu butuh konsentrasi tinggi. Tuan dan puan tidak boleh lengah sedetik pun.

Menarik perhatian mengapa tiga tim juara bertahan kok bisa gagal? Menurut kamus bolakada eh... maksudku bolakaki, mempertahankan gelar memang jauh lebih sulit ketimbang berjuang meraih gelar juara. Hal semacam itu lumrah dalam suatu kompetisi. Jadi tidak perlu disesali secara berlebihan atau menunjuk hidung orang lain sebagai sumber kegagalan. Itu hanya membuang energi. Jika penyesalan berkepanjangan, badan tuan bisa kurus dan jatuh sakit. Ongkosnya akan jauh lebih mahal. Kalau sampai terjadi demikian ganti saja nama tuan menjadi Gatot. Gatot = Gagal total! Janganlah. Dunia tak cuma selebar daun telinga, kawan.

Dalam kejuaraan sepakbola, juara bertahan tersingkir dari arena merupakan peristiwa biasa. Banyak sekali faktor penyebab. Kegagalan bisa terjadi karena kesalahan strategi, taktik dan teknik di medan tempur. Boleh jadi karena juara bertahan menganggap remeh lawan tanding atau percaya diri berlebihan. Terlalu rajin berkeliling sambil tepuk dada dan omong besar.

Faktor lain adalah beban mental yang sangat berat. Tuntutan harus menang menyebabkan tim juara bertahan bermain tidak rileks. Juara bertahan pun sering lupa diri. Lupa bahwa sebagai juara bertahan tak ada lagi yang tertutup tentang dirinya. Segala kekuatan dan kelemahan sudah dibaca calon lawan. Lawan akan memanfaatkan titik lemah guna meraih kemenangan. Dalam kejuaraan pemilu kada faktor seperti ini juga berlaku.

Bagaimana dengan tim juara bertahan yang sanggup melanjutkan kehormatannya sebagai jawara? Tentu saja mereka bermain cantik dan mampu memikat hati penonton. Selain strategi, taktik dan teknik prima, tim juara bertahan sanggup merawat harmonisasi permainan sehingga soliditas tim dan kecakapan individu tidak tergoyahkan oleh gangguan apapun. Sebagai pemain mereka bermain secara profesional. Mereka mampu menjaga ritme. Kapan menyerang total, kapan bertahan dan kapan harus mematikan musuh.

Meminjam idiom bola, mereka tahu betul kapan meliuk-liuk laksana balerina, kapan bergoyang samba, tango atau lambada. Dan, kapan waktu yang tepat memainkan cattenacio, total football, kick and rush atau mem-panser lawan sampar terkapar.
Kebanyakan tim juara tersungkur dengan muka buruk karena cenderung menyerang total lawan hingga lupa bertahan. Saat lawan counter attack atau serangan balik, gawang sang juara kebobolan. Menyesal kemudian tiada guna.

Selain juara bertahan tumbang atau tetap berjaya, kompetisi sepakbola pun selalu menghadirkan tim kuda hitam atau tim kejutan. Di arena Piala Dunia 2010 yang baru bergulir empat hari tuan dan puan memang belum melihat tim kuda hitam. Tapi percayalah, kuda hitam itu bakal hadir dalam hari-hari mendatang.

Bagaimana dengan kompetisi pemilu kada di beranda Flobamora? Aih, kalau yang itu tidak perlu beta uraikan panjang lebar lagi. Toh tuan dan puan sudah melihat sendiri kuda hitam yang menjungkirbalikkan ramalan.

Sekian lama mereka dipandang sebelah mata. Tidak digubris dan dianggap bisa. Eh...ternyata mayoritas rakyat memberi kepercayaan kepada mereka sebagai pemimpin daerah lima tahun ke depan. Ya, selamat deh buat pemenang. Hidup ini bergulir seperti bola. Ada waktu di atas, ada saat mencium tanah.

Bagaimana perasaan mereka yang kalah? Bagaimana mereka mengisi hari-harinya sekarang. Apakah sedang menghitung utang atau kerugian materi yang dikuras pemilu kada? Huss... jangan tanya perkara itu kepada beta karena beta lagi demam bola dan hanya mau menonton Piala Dunia. Titik! (dionbata@gmail.com)

Pos Kupang edisi Senin, 14 Juni 2010 halaman 1

Menikmati Ketelanjangan

Oleh Dion DB Putra

KETIKA Piala Dunia 2010 mulai bergulir di Afrika Selatan hari ini pastilah ada yang berubah dalam ritme hidup keseharian kita. Kita akan menunggu 30 malam dengan penuh kerinduan. Malam yang panjang. Sebagai penggemar sepakbola Anda akan menanti dengan cemas, sabar dan gelisah bukan?

Tatkala 32 tim mulai mempertontonkan kecakapan, kecerdikan, dan selera seni mereka di lapangan hijau Afrika, kita merasakan betapa dekatnya bumi Bafana- Bafana. Jarak dengan Afrika Selatan akan terasa lebih dekat ketimbang Besikama di Belu Selatan atau Bu Selatan di Sikka. South Africa 2010 kini ada di kamar tidur atau ruang keluarga kita. Teknologi televisi sungguh menihilkan jarak. Afrika Selatan akan menjadi fokus perhatian selama sebulan. Luar biasa!




Pertanyaan yang selalu mengusik adalah, ada apa dengan bola? Mengapa dia menghipnotis dunia tak habis-habisnya? Menghibur dan atau membuat orang menangis dalam waktu bersamaan, cuma beda tempat, warna kulit serta usul-asal?
Percayalah tidak ada jawaban yang benar-benar tepat sampai hari ini. Silakan membaca segala referensi dari para analis atau pakar sepakbola terkemuka dunia, tak mungkin menemukan jawaban yang sungguh tepat.

Gara-gara bingung mendapatkan jawaban itu, seorang rekan delapan tahun silam -- saat Piala Dunia berlangsung di Korea Selatan dan Jepang -- enteng saja berkata begini, "Orang suka bola karena dia telanjang."

Waw! Sungguh ocehan sekenanya. Tapi ocehan yang menggelitik manakala kita sungguh menilai bola. Toh benda bundar dengan berat cuma 16 ons itu memang tak pakai apa-apa. Tanpa baju. Tanpa celana. Telanjang bulat. Ketelanjangan bola menyentuh sesuatu yang sangat mahal dalam hidup kita, yakni spontanitas dan kejujuran.

Anda rela begadang sampai malam larut demi menonton bola tanpa rekayasa bukan? Bola selalu mensyaratkan kejujuran. Kalah ya kalah. Kekalahan diterima dengan jiwa besar. Kalau menang karena memang tim pemenang itu bermain lebih baik. Tentu beda dengan 'kejuaraan politik' bernama pemilu kada di kampung halaman kita. Kekalahan mesti diwarnai kambing hitam, menuding atau menghujat.
***
DALAM permainan bola tidak ada tempat untuk tipu-menipu. Tidak bisa 'main mata' seenak perut. Sepandai-pandainya Anda menipu bakal ketahuan juga. Ketelanjangan bola sungguh 'menelanjangi' segala bentuk ketidakjujuran.

Maka berbahagialah kita karena kembali menikmati kejuaraan sepakbola terakbar empat tahunan bernama Piala Dunia. Mulai malam ini penggemar sepakbola sejagat kembali dihibur pesta bola sebulan penuh. Mari menikmati keindahan bola yang telanjang bulat. Ketelanjangan yang menghipnotis siapa saja. Menarik minat semua orang tanpa bedakan kasta. Dia melintasi keragaman suku, agama, ras dan golongan. Ketelanjangan yang mempersatukan.

Ketelanjangan bola tidak porno tapi merangsang. Membuat bulu kuduk berdiri, bikin adrenalin bekerja ekstra. Tegang! Bola memantik tangis dan tawa. Ketelanjangan bola adalah ketelanjangan tanpa rekayasa. Jelas beda dengan adegan hot Luna Maya, Cut Tari dan Ariel Peterpan yang kini menggegerkan 'republik mesum-munafik' Indonesia.

Sepakbola, cabang olahraga terpopuler sejagat yang bakal kita nikmati melalui Piala Dunia 2010 tidak semata tontonan. Sepakbola juga mengandung ilmu, strategi, teknik dan taktik. Lewat penampilan satu tim misalnya, kita bisa belajar tentang solidaritas, kekompakan, kerja sama tim dan aksi individu yang memiliki kecakapan, pengetahuan serta apresiasi seni. Seniman bola! Juga di sana ada penghormatan terhadap hukum, nilai-nilai etis dan moral.

Pemain bola tidak asal sepak laksana mahasiswa kita yang doyan tawuran, tidak asal sikut seperti kebanyakan elit politik kita menguber kursi, tidak berpikir kerdil kekanak-kanakan seperti segelintir orang yang disebut pemimpin. Di lapangan bola, bola disepak dengan tertib, kulit bundar ditendang dengan menaati rule of the game.

Kecurangan, keserakahan, ketidakjujuran atau kepongahan akan gampang terdeteksi dan mendapat sanksi tegas. Ruang improvisasi tim dan individu terbuka luas. Di sana ada kebebasan berekspresi dengan tidak menginjak norma. Yang culas akan menerima hadiah kartu kuning dari sang pengadil. Yang serakah dan curang, dengan sendirinya terusir dari lapangan sambil mengusung kado kartu merah. Wasit yang mempratekkan KKN tak mungkin luput dari penilaian orang banyak dan ia pasti dilindas hukum fair play.

Melalui Piala Dunia 2010 kita bisa belajar banyak hal, termasuk belajar untuk jujur dan solider. Belajar tentang ketelanjangan. Selamat datang Piala Dunia! *

Pos Kupang 11 Juni 2010 halaman 1

Susana


SUSANA Nome telah pergi untuk selama-lamanya. Dia tak mau makan dan minum sejak rumahnya dibongkar paksa Satpol PP Kota Kupang dengan alasan pembangunan RSU Kota Kupang 11 Mei 2010. Bak disambar petir di siang bolong, rumah yang ditempati sejak 1990 rata dengan tanah tak tersisa apapun. Karena alasan "pembangunan" rakyat jadi korban. Selamat jalan Mama Susana.

Demikian pesan singkat (SMS) yang masuk ke ponselku pekan lalu. SMS dari sejumlah teman di Kota Kupang. SMS berantai ini mungkin juga masuk ke ponsel tuan dan puan. Terkejut? Ya pastilah. Tidak dinyana, penggusuran rumah di Pasir Panjang awal Mei 2010 menyisakan kisah pilu tentang Susana.

Nenek Susana (83) meninggal dunia hari Kamis 3 Juni 2010 sekitar pukul 12.00 Wita di dalam tenda yang dijadikan rumah di lokasi bekas penggusuran. Beberapa saat kemudian jenazah Susana baru dibawa ke rumah Sius Tabun di RT 10b RW 04, Kelurahan Oepura, Kota Kupang.


Rumah yang digusur di Pasir Panjang itu selama ini ditempati nenek Susana bersama putranya, Imanuel Tabun sekeluarga. Setelah digusur, Imanuel Tabun bingung hendak pindah ke mana. Mereka memilih bertahan di sana dengan membangun tenda darurat sebagai rumah. Di dalam tenda itulah Susana menderita sakit hingga menghembuskan napas terakhir.


Menurut Imanuel Tabun, ibunya jatuh sakit sejak rumah digusur. "Mama susah makan. Dikasih makan mama selalu menolak. Kondisi ini terus berlangsung sampai mama meninggal dunia," kata Imanuel, PNS golongan II yang sehari-hari bertugas di Kelurahan Pasir Panjang-Kupang. 
Frederika Nubatonis, istri Imanuel Tabun melukiskan perasaan ibu mertuanya saat melihat Satpol PP menggusur rumah awal Mei lalu. "Mama sangat ketakutan. Seluruh badannya gemetar. Kami bingung, mau angkat barang-barang atau urus mama. Situasi saat itu sangat kacau," kata Frederika.

Kematian memang pasti dan semua kita akan mengalami seperti nenek Susana. Namun, kepergian nenek Susana untuk selama-lamanya meninggalkan pesan kuat tentang apa itu pembangunan. Pembangunan, jika salah urus memang selalu menelan korban. Dan, korban pembangunan umumnya orang-orang kecil. Orang-orang tak terkenal seperti nenek Susana.

Penggusuran demi pembangunan, apapun alasannya tetap mencerminkan salah urus. Kita tahu sesuatu itu bermasalah tetapi kita biasanya menunda-nunda penyelesaian masalah. Saat air setinggi leher baru huru-hara mencari solusi. Jalan kekerasan dan otoriter pasti yang dipilih. Pendekatan kemanusiaan belum sungguh-sungguh mewarnai pawai pembangunan bangsa, termasuk di beranda Flobamora tercinta. Begitulah tuan dan puan. Bila tuan salah urus, kalau puan main-main dengan credo membangun itu, tuan membunuh!

Korban pembangunan sesungguhnya jatuh saban hari. Jatuh satu demi satu tanpa kita sadari. Mungkin saja sangat disadari tetapi kita tak mau tahu dengan korban yang berjatuhan itu. Tatkala tuan mengurus KTP mesti pakai suap, urus SIM pakai pelicin, masuk tes polisi pakai duit, urus surat izin usaha mesti menyogok, tuan adalah korban dari pembangunan salah urus.

Untuk sebuah pelayanan yang menjadi hak tuan dan puan sebagai warga negara, tuan mesti membayar lebih. Bayar dengan harga sangat mahal. Adakah yang berani menampik kenyataan ini?

Hari-hari ini kerutan di kening para orangtua pasti bertambah banyak jumlahnya. Gundah gulana mereka menatap tahun ajaran baru 2010/2011 yang sudah di depan mata. Bagaimana mendapatkan uang untuk biaya sekolah anak-anak. Apakah mungkin anak-anak terkasih bisa melanjutkan studi ke jenjang yang lebih tinggi?

Beruntunglah tuan dan puan yang secara ekonomi berkecukupan. Bayangkan nasib mereka yang tak berpunya dan kurang beruntung hidupnya. Mungkinkah anak mereka dapat mengecap pendidikan sebagaimana anak-anak lainnya.

Tahun ajaran baru selalu melahirkan prahara di kampung besar Nusa Tenggara Timur. Prahara drop out. Tragedi berhenti sekolah karena orangtua tak mampu. Ribuan anak NTT saban tahun mengalami nasib buruk itu. Pendidikan untuk semua hanya slogan. Pendidikan murah cuma isapan jempol. Sekadar tong kosong nyaring bunyinya di saat kampanye pemilu. Kita gagal menyelenggarakan pendidikan murah tapi berkualitas bagi rakyat NTT dengan mayoritas pendapatan sangat pas-pasan.

Pendidikan di beranda Flobamora justru menjunjung tinggi kasta. Kasta sudra hingga brahmana. Kasta kaya dan miskin. Si miskin papa terdepak, hanya yang kaya dan mampu bisa menikmati pendidikan lebih baik. Korban salah urus pembangunan terus berjatuhan. Hari demi hari! (dionbata@gmail.com)

Pos Kupang Senin 7 Juni 2010 halaman 1

Gidion-Kitu Pimpin Sumba Timur


WAINGAPU, PK---Komisi Pemilihan Umum Daerah (KPUD) Sumba Timur menetapkan pasangan Drs. Gidion Mbiliyora- M.Si-dr. Matius Kitu, Sp.B, sebagai calon terpilih bupati dan Wakil Bupati Sumba Timur. Penetapan pasangan ini berlangsung dalam rapat pleno di Gedung Lama DPRD Sumba Timur, Senin (14/6/2010).

Penetapan Gidion-Matius menjadi calon terpilih bupati dan Wakil Bupati Sumba Timur 2010-2014 disahkan melalui Surat Keputusan KPU Sumba Timur Nomor : 27/KEP/KPU-ST/2010 tentang Penetapan Pasangan Calon Terpilih Hasil Pemilihan Umum Kepala Daerah dan Wakil Kepala Daerah Kabupaten Sumba Timur tanggal 14 Juni 2010.


Suasana penetapan Gidion-Matius sebagai calon bupati-wakil bupati terpilih berlangsung aman meskipun sebelumnya sempat ada isu unjuk rasa pada saat rapat pleno. Acara penetapan Gidion-Matius sebagai calon bupati dan calon wakil bupati terpilih diawali dengan pembacaan perolehan suara sah masing-masing pasangan calon dalam Pemilu Kada 3 Juni lalu yang dibacakan Sekretaris KPU Sumba Timur, Hendrik Makaborang.

Hendrik mengatakan, berdasarkan Keputusan KPU Sumba Timur Nomor : 26/KEP/KPU-ST/2010 tentang Penetapan Rekapitulasi Hasil Penghitungan suara Pemilihan Umum Kepala Daerah dan Wakil Kepala Daerah Kabupaten Sumba Timur tahun 2010, jumlah perolehan suara sah untuk seluruh pasangan calon 116.540 suara.

Dari jumlah tersebut pasangan Drs. Gidion Mbiliyora, M.Si-dr. Matius Kitu, Sp.B meraih 57.647 suara, pasangan Drs. Lukas Kaborang-Dra.Rambulika Atahumba,M.M 14.075 suara, Pasangan Ir. Emanuel Babu Eha, M.Si-Drs. Umbu Hapu Mbeju 11.506 suara, pasangan Langu Pindingara,M.Si-Kabunang Rudiyanto Hunga, S.H, M.H, 12. 648 suara dan pasangan Ir. Umbu Manggana, M.Si-Drs. Kristofel Praing, M.Si, 20.664 suara.

Hendrik mengungkapkan, sesuai ketentuan pasal 47 ayat (1) Peraturan KPU Nomor 73 tahun 2009, pasangan calon kepala daerah dan wakil kepala daerah yang memperoleh suara sah lebih dari 50 persen jumlah suara sah ditetapkan sebagai pasangan calon terpilih. Namun berdasarkan perolehan suara dari masing-masing calon tidak memenuhi ketentuan tersebut.

Karena itu, kata Hendrik, proses penetapan pasangan calon terpilih dilanjutkan dengan ketentuan pasal 47 ayat (2) yang mengatakan apabila ketentuan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) tidak terpenuhi, pasangan calon kepala daerah dan wakil kepala daerah yang memperoleh suara lebih dari 30 persen dari jumlah suara sah, pasangan calon yang perolehan suara terbesar ditetapkan sebagai pasangan calon terpilih dengan keputusan KPU Propinsi atau KPU Kabupaten/ kota.

Berdasarkan ketentuan tersebut, jelas Hendrik, maka pasangan calon nomor urut 1, Gidion-Matius yang memperoleh jumlah suara sah 49,47 persen dari jumlah suara sah memenuhi ketentuan Pasal 47 ayat (2) untuk ditetapkan menjadi calon terpilih Bupati dan Wakil Bupati Sumba Timur 2010-2015. (dea)

Pos Kupang 16 Juni 2010 halaman 6

Gidion Mbiliyora Raih 49,47 Persen


WAINGAPU, PK -- Dari total 116.540 suara sah hasil pemungutan suara 3 Juni 2010, pasangan calon Bupati- Wabup Sumba Timur (Sumtim). Gidion Mbilijora-Matius Kitu (GBY-MK) memperoleh hampir 50 persen, yakni 49,47 persen (57.647 suara).

KPUD Sumtim dalam dapat pleno, Sabtu (12/6/2010), menetapkan pasangan tersebut sebagai pemenang Pemilu Kada Sumtim. Rapat pleno KPUD berlangsung di bekas gedung DPRD Sumba Timur.

Dari rekapitulasi perolehan suara yang dilakukan dalam rapat pleno tersebut, terlihat jelas perbedaan jumlah suara yang sangat menyolok antara Paket GBY-MK dengan empat paket calon lainnya.


Perolehan suara pasangan ini di luar dugaan. Banyak orang memprediksi GBY-MK akan mendapat persaingan ketat Paket Maraing (Umbu Manggana-Kristofel Praing). Kalaupun menang, paket GBY-MK diperkirakan hanya bisa mencapai 30 persen lebih. Namun hasil rekapitulasi kemarin, membuktikan keunggulan paket ini.

Perolehan suara GBY-MK melejit jauh meninggalkan keempat paket lainnya. Hanya kurang 0,53 persen, perolehan suara GBY-MK menyamai total perolehan suara dari keempat paket lainnya.

Paket Maraing yang sebelumnya digadang-gadang akan bersaing ketat dengan GBY-MK hanya kebagian 17,73 persen (20.664) suara. Sementara paket Luri (Lukas Kaborang-Rambu Lika) 12,08 persen atau 14.075 suara, Pinang (Langu Pindingara-Kabunang Rudiyanto) 10,85 persen atau 12.648 suara dan Maju (Emanuel Babu Eha-Umbu Hapu Benju) 9,87 persen atau 11.506 suara.

Pleno penetapan hasil perolehan suara di KPUD Sumba Timur yang sebelumnya diprediksi ribut, ternyata berjalan aman. Para saksi tidak banyak menyampaikan protes. Hanya pada awal-awal saja, saksi dari paket Maraing, Paulus K Tarab meminta agar dalam berita acara penetapan hasil rekapitulasi dibuat catatan tentang pelanggaran-pelanggaran yang terjadi selama Pemilu Kada. Catatan itu, kata Paulus, penting agar pelanggaran yang sama tidak terulang lagi pada pemilu-pemilu yang akan datang. Demikian juga usulan saksi dari Paket Luri, Agus Lutang.

Ketua KPUD Sumba Timur, Siliwoloe Ndjoeroemana yang memimpin rapat pleno menyarankan agar dugaan pelanggaran yang belum terselesaikan disampaikan saja ke Panwas Pemilu Kada. Panwas-lah yang akan memberikan rekomendasi ke KPUD.

Suasana di luar ruangan rapat pleno, juga tenang. Para pendukung kelima paket calon mengikuti jalannya rapat pleno dengan tertib. Tidak ada keributan yang mengganggu jalannya rapat pleno. Meski demikian, polisu terlihat melakukan pengamanan ketat jalannya rapat. Sebuah watter canon disiagakan di halaman gedung tempat berlangsungnya pleno rekapitulasi. Semua pengunjung yang masuk ke ruangan rapat diperiksa. Pintu belakang dan depan ruangan pleno dipagari polisi sehingga para pendukung tidak mendekati ruangan pleno.

Setelah penetapan hasil perolehan suara dari masing-masing kandidat, pada Senin (14/6/2010), akan dilanjutkan dengan pleno penetapan calon terpilih.
Dari segi partisipasi pemilih, Siliwoloe mengatakan, Pemilu Kada kali ini lebih baik dari Pemilu Legislatif dan Pemilu Presiden, dimana tingkat partisipasi pemilih mencapai 83 persen. Meskipun dari jumlah pemilih, katanya, yang tidak ikut memilih masih cukup tinggi yaitu 22.775 orang. (dea)

Pos Kupang 13 Juni 2010 halaman 1
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Best WordPress Themes