Nereo Rocco

SELAMA perhelatan Piala Eropa 2012, dan juga kompetisi sepak bola besar lainnya, selalu saja catenaccio disebut-sebut. Setiap ada tim yang bermain dengan fokus bertahan dan mengandalkan serangan balik, selalu disebut sepak bola catenaccio.

Pada Piala Eropa 2012 lalu, Italia sebagai negara yang identik dengan catenaccio justru disebut mulai meninggalkan sepak bola bertahan itu. Bahkan, Inggris yang kemudian dituduh mengadopsi catenaccio.

Padahal, catenaccio murni sebenarnya sudah lama mati. Bahkan, tim-tim Italia yang dianggap gemar catenaccio sudah lama tak menggunakannya.

Catenaccio sebenarnya bukan dari Italia. Ide awalnya justru datang dari pelatih Austria, Karl Rappan. Dia memasang satu bek di belakang lini pertahanan, tepatnya di belakang dua bek tengah dan di depan kiper. Tugasnya menjamin keamanan. Jika lini belakang gagal menahan lawan, maka dia bisa menjadi penyapu terakhir sebelum kiper. Bek tambahan ini yang kemudian disebut sweeper atau penyapu. Rappan menyebut sistem ini dengan nama verrou atau gerendel.

Lalu, gaya sepak bola ini kemudian populer di Italia, setelah pelatih Nereo Rocco mengadopsinya. Dia memodifikasi sweeper dengan libero. Bedanya, jika sweeper khusus menunggu lawan lepas atau menjadi defender terakhir. Libero juga demikian, tapi dia diberi kebebasan bergerak. Dengan tugas utama membantu pertahanan, tapi dia juga diberi tugas menjadi playmaker kedua.

Sistem ini kemudian diperhalus oleh pelatih asal Argentina, Helenio Herrera, saat menangani Inter Milan pada era 1960-an. Rocco sukses bersama Milan degan juara Piala Champions (sekarang Liga Champions) musim 1962-63. Sedangkan Herrera sukses bersama Inter dengan menjuarai Piala Champions musim 1963-64 dan 1964-65.

Salah satu kunci dan ciri khas catenaccio adalah penggunaan man marking. Pemain lawan akan ditempel ketat dan sedekat mungkin. Tugas penempelan pemain lawan ini biasanya dilakukan bek tengah, bek sayap, dan gelandang bertahan.

Berbagai variasi catenaccio memang muncul. Tetapi, filosofinya, permainan defensif ini untuk mempertahankan keunggulan atau menghindari kemasukan gol. Juventus dengan bintangnya John Charles pernah memakai catenaccio juga. Setelah menjadi striker utama, tiba-tiba Charles turun menjadi bek tengah.

Lalu, memasuki era 1970-an, muncul Ajax Amsterdam yang begitu superior dengan permainan menyerangnya. Di bawah pelatih Rinus Michels, Ajax juara Piala Champions 1970-71, mengalahkan Panathinaikos 2-0. Saat itu, Ajax mengusung sepak bola total (total football) yang antitesis terhadap permainan bertahan. Ajax bermain sangat menyerang dan bahkan serangan tak hanya diandalkan pada lini depan, tetapi juga bisa lini tengah, bahkan defender. Sehingga, sepak bola man marking gaya catenaccio akan kesulitan membuat skala prioritas siapa saja yang harus ditempel ketat karena semua pemain bisa menyerang dalam total football.

Setahun kemudian, musim 1971-72, Ajax tak hanya mempertahankan Piala Champions. Tetapi, mereka juga menaklukkan catenaccio. Ajax yang bermain menyerang, menghajar Inter Milan 2-0 di final. Dua gol dicetak Johan Cruyff yang menjadi master permainan menyerang Ajax. Semusim kemudian, giliran Juventus yang dikalahkan Ajax di final Piala Champions. Di babak sebelumnya, AC Milan yang bermain bertahan dibantai Ajax 6-0.

Sepak bola menyerang total telah lahir dan juga mengandalkan zonal marking. Sejak saat itu, catenaccio murni yang bertahan dan mengandalkan man marking dianggap sekarat, kemudian mati perlahan. Kalaupun ada tim yang bermain bertahan, bukan berarti menerapkan catenaccio.

Catenaccio murni sudah kehilangan konteksnya di sepak bola modern. Apalagi setelah peraturan offside muncul dan lebih longgar bagi tim penyerang, maka catenaccio murni sudah tak cocok lagi, bahkan terasa riskan.

Memang, permainan bertahan tak mati. Bedanya, pemain gerendel (sweeper atau libero) tak digunakan lagi karena terbukti ketinggalan zaman. Lalu, muncullah zona mista. Sistem ini menggabungkan zonal marking dengan catenaccio yang mengandalkan man marking.

Di sistem zona mista, taktik bertahan adalah zonal marking. Namun, libero tetap dipertahankan untuk menempel (man marking) pemain paling berbahaya. Tim-tim Italia kemudian banyak yang menggunakan sistem ini dan mereka sukses di tingkat klub maupun timnas (juara Piala Dunia 1982). Enzo Bearzot merupakan tokoh sistem ini. Dan, sistem ini kemudian juga dikenal dengan Italian defense atau pertahanan gaya Italia.

Lalu, Arrigo Sacchi menjadi pelatih AC Milan (1987-1991). Dia memperkenalkan sepak bola indah dan menyerang dengan mengandalkan trio Belanda (Ruud Gullit, Frank Rijkaard, dan Marco van Basten). Perlahan-lahan, tim sepak bola Italia meninggalkan catenaccio secara total.

Meski begitu, kata catenaccio masih sering dipakai dalam dunia sepak bola. Setiap tim yang bertahan dan mengandalkan serangan balik selalu disebut catenaccio. Padahal, hampir sudah tak ada tim yang menggunakan sweeper atau bahkan libero. Kalaupun ada, bukan berarti sistem permainannya catenaccio.

Tim yang kalah kualitas biasanya memang akan menerapkan permainan bertahan dan menerapkan serangan balik. Itu sudah wajar. Tetapi, kini masih sering terdengar latah soal catenaccio. Setiap tim yang bermain bertahan selalu dinilai menerapkan catenaccio. Padahal, bertahan tidak harus catenaccio. Sebab, bertahan itu adalah iktikad, rencana, dan strategi, bukan sistem. Dengan sistem apa pun, tim bisa bermain bertahan jika memang niatnya bertahan.

Memang, roh catenaccio terkadang merasuki tim-tim yang bermain bertahan. Seperti kala Jose Mourinho menyuruh Pepe menempel ketat Lionel Messi kala Real Madrid melawan Barcelona. Namun, Madrid sebenarnya tak sedang menerapkan catenaccio. Sebab, catenaccio murni sebenarnya sudah mati. (*)

Sumber: Kompas.Com


Rumah Woloan Bisa Bertahan Satu Abad

Rumah Panggung Woloan-Minahasa
KETAHAHAN rumah panggung Woloan  terhadap gempa dahsyat bukan sekadar mitos. Sejak berabad-abad silam  rumah asli dari Minahasa Sulawesi Utara ini tak pernah roboh digoyang gempa sekuat apapun. Apalagi jika dirawat dengan baik, rumah Panggung Woloan dapat berdiri kokoh selama satu abad atau 100 tahun lamanya.

"Jika hanya pengaruh gempa bumi, rumah panggung Woloan tak akan runtuh, kecuali ditimpa bencana longsor atau banjir bandang," ujar Yani Kawuwung, pengusaha rumah panggung Woloan kepada Tribun Manado di Tomohon, Jumat (3/8/2012).

Menurut Yani,  rumah tersebut tahan terhadap gempa karena seluruh konstruksi dari kayu saling bertautan. "Mulai dari landasan hingga atap, rumah Woloan selalu menyatu karena kancingannya merata pada seluruh bagian rumah,"  ujarnya.

Selain itu,  bahan bakunya sangat awet, yakni pada bagian landasan bawah dan tiang rumah yang lazim menggunakan kayu besi. Sedangkan bagian dinding, lantai dan plafon menggunakan kayu sejenis  nantu.

"Untuk landasan atau rangka bawah menggunakan kayu besi dengan lebar 9 cm dan tebal 18 cm. Lubang yang dibuat untuk kancingan tak sampai menembus kayu, hanya setengahnya agar menjadi kuat dan  tak mudah patah," kata Yani.

Perawatan, kata Yani,  merupakan faktor penting agar rumah tak mudah lapuk terkena hujan dan panas. Sebaiknya rumah dilaburi  cat air berkualitas tinggi. "Jika setiap tahun dirawat dengan mengecatnya secara rutin, maka rumah tak mudah lapuk atau bisa bertahan hingga 100 tahun. Jadi, meski umurnya sudah tua, tak akan ambruk," tandasnya.

Yus Ngala (62), pengusaha rumah panggung lainnya menambahkan rumah yang dibuatnya banyak dipesan masyarakat yang berada di wilayah rawan gempa seperti Jawa Tengah, Papua dan Sumatera.  Rumah ini sudah terbukti ampuh memberikan kenyamanan bagi penghuninya saat bencana gempa. "Yang penting rumah panggung diletakkan di tanah yang keras atau padat agar tak roboh ketika digoyang gempa. Berapa pun ketinggiannya dari tanah, pasti tetap aman," tuturnya.

Yus juga menjelaskan, kekokohan rumah Woloan terletak pada kancingan rumah yang menyatu. "Semua sambungan saling mengikat sehingga menjadikannya sangat kuat. Berbeda dengan rumah beton yang mudah retak ketika ada getaran kuat," kata pria yang sudah 43 tahun mengguluti usaha rumah panggung tersebut.

Pemilihan atap yang benar menurutnya juga menjadi kunci penting, agar rumah Woloan tahan lama, yakni memilih bahan yang ringan dan tak mudah retak. "Untuk atap pilih bahan yang ringan, seperti genteng asbes atau seng. Jangan menggunakan genteng beton atau tanah yang meresap air sehingga rumah menjadi berat pada bagian atas dan mudah ambruk," tuturnya. (war)

Sumber: Tribun Manado 5 Agustus 2012 hal 1

Satu Tubuh Tentu Lebih Baik...

Fosil stegodon di Situs Bualesa, Soa (kompas)
Kekakayaan Flores di Cekungan Soa

SEMBILAN matahari seolah bersinar di atas kepala. Teriknya memanggang Cekungan Soa. Meski musim kering belum mencapai puncak pada Maret, savana telah menguning. Pepohonan hanya merimbun di kanan-kiri Sungai Ae Sisa yang mengalir deras di dasar lembah.

Dari kejauhan, Gunung Ebulobo tinggi menjulang. Dalam naungan langit biru tanpa awan, 150 warga Kecamatan Soa mandi keringat mengorek lapisan tanah bagian atas di lereng-lereng dan dasar lembah dengan cangkul dan sekop. Para arkeolog dan paleontolog memimpin penggalian dengan kuas dan pahat mini. Mereka berpencar di beberapa situs penggalian yang tersebar di Cekungan Soa.

”Tuk, tuk, tuk, tuk…!” Bunyi ketukan palu pada pahat besi meramaikan lembah di kaki tebing curam yang mirip tembok raksasa. Warga setempat menyebut tebing itu sebagai Tangi Talo, artinya tangga yang mustahil didaki.

Setelah berhari-hari terbakar terik matahari, siang itu, dari lubang galian sekitar 1 meter, tulang-belulang menyembul dari kedalaman Bumi. Warna putihnya sudah memudar menjadi coklat kekuningan dan sebagian retak di sana-sini. Tapi, bentuknya masih dikenali.

Gading Stegodon sondaari berukuran sekitar 1,6 sentimeter ditemukan di bagian tengah galian. Di bagian atas terdapat tulang rahang. Sementara tengkorak, tulang belakang, dan rusuknya terserak di bagian bawah.

Tulang-belulang gajah purba itu tercampur dengan tulang pemangsanya, komodo dan buaya. Semua tulang sudah lepas dari sambungan, tidak utuh, mengabarkan pernah terjadinya banjir lumpur pada masa lalu, yang menggulung dan menghanyutkan binatang-binatang ini dari lereng tebing Tangi Talo ke dasar lembah.

Total ada 10 binatang di lubang galian ini, yaitu gajah, komodo, buaya, dan kura-kura. ”Lokasi ini merupakan habitat kehidupan purba yang cukup subur dan ramai,” kata Gerrit Dirk van den Bergh, peneliti paleontologi dari School of Earth and Environmental Sciences, University of Wollongong, Australia. Lelaki ini meneliti fosil binatang di Soa sejak tahun 1993.

”Pada tahun-tahun sebelumnya, kami juga menemukan banyak fosil binatang purba, termasuk tempurung kura-kura raksasa,” kata Erick Setiyabudi, paleontolog dari Pusat Survei Geologi Bandung (PSG). ”Dari ukuran cangkangnya, kura-kura raksasa yang ditemukan di Soa tak kalah dengan yang sekarang masih hidup di Kepulauan Galapagos.”

Kekayaan temuan fosil ini menguatkan cerita ramainya kehidupan di Cekungan Soa saat itu. Kehidupan yang kemudian terenggut tiba-tiba.

"Semua fosil yang ditemukan terlapisi material gunung api,” kata Ruly Setiawan, geolog dari PSG. Kandidat doktor dari Wollongong University ini memfokuskan penelitiannya untuk melacak gunung api yang menghabisi kehidupan di Cekungan Soa. ”Umur lapisan di Cekungan Soa berada dalam rentang 650.000 tahun hingga 1,02 juta tahun lalu. Dalam rentang itulah, gunung api silih berganti meletus dan menciptakan suksesi kehidupan.”

Secara stratigrafi, Cekungan Soa dibagi menjadi dua formasi penting, yaitu Ola Kile sebagai bantalan di lapisan paling bawah serta formasi Ola Bula dan formasi Gero di atasnya. Umur formasi Ola Kile berdasarkan penarikan umur menggunakan metode jejak belah (fission track) batuan adalah 1,86 juta tahun dan umur formasi Ola Bula 880.000 tahun. Adapun formasi Gero sekitar 650.000 tahun.

Fachroel Aziz memastikan bahwa formasi Ola Kile merupakan produk gunung api berupa batuan breksi yang keras. ”Cekungan Soa tadinya berupa cekungan besar, yang kemudian tertutup batuan breksi dari letusan gunung. Batuan breksi susah ditembus air sehingga terbentuklah danau, barulah timbul kehidupan di sekitar danau,” katanya.

Dengan melihat halusnya ukuran batuan gunung api yang melapisi Cekungan Soa, Ruly menduga, sumber letusan itu cukup jauh. Dia memetakan, sedikitnya tiga gunung api yang diperkirakan menjadi penyebab petaka itu. Pertama, gunung api di sisi utara cekungan, yaitu Kaldera Welas, kedua adalah Gunung Kalelambu di sisi timur cekungan, dan ketiga, Gunung Kero di sebelah tenggara Soa.

”Kami masih menunggu hasil penelitian di laboratorium untuk mengetahui kapan ketiga gunung api itu meletus pada masa lalu. Penanggalan usia batuan menggunakan argon-argon memperlihatkan, lapisan vulkanik yang melapisi Soa ini berumur sekitar satu juta tahun,” kata Ruly. ”Jika kita ketemu gunung api yang meletus hebat satu juta tahun lalu, kita bisa tahu sumber bencana di Soa.”

Setelah kehancuran akibat letusan gunung api itu, menurut Ruly, kehidupan yang punah kemudian tergantikan oleh spesies baru. Rerumputan kembali tumbuh subur di cekungan itu. Sungai-sungai kembali mengalirkan air bersih, mengundang kehidupan untuk kembali datang dan bersemi kembali.

Sekitar 880.000 tahun lalu, Cekungan Soa kembali dihuni. Kali ini bukan oleh gajah kerdil, tetapi oleh serombongan gajah besar (Stegodon florensis), tikus besar, dan komodo. Sekelompok manusia purba juga diduga kembali datang.

Namun, petaka kembali terjadi. Sekali lagi, letusan gunung api mengubur kehidupan yang baru bersemi di Cekungan Soa. Banjir lumpur kembali melapisi dan mengawetkan tulang binatang dan alat-alat batu itu.

Lapisan kehidupan tahap kedua inilah yang ditemukan Iwan Kurniawan, palentolog dari PSG, di lembah sempit yang berada di tengah-tengah Cekungan Soa. Situs yang diberi nama Mata Menge ini berada di ketinggian 325 meter di atas permukaan laut, dikepung perbukitan.

Situs Mata Menge, menurut Iwan, sudah diteliti oleh tim PSG bekerja sama dengan University of New England sejak akhir tahun 1990-an. Penggalian sebelumnya telah menemukan fosil Stegodon florensis, komodo, buaya, dan moluska air tawar. Selain itu juga ditemukan sedikitnya 200 alat batu yang umumnya terdiri atas serpih bilah dan batu inti.

Berjarak sekitar 2,5 kilometer dari Mata Menge, tim Pusat Penelitian Arkeologi Nasional (Puslit Arkenas) melakukan penggalian di Kobatuwa. Situs ini berupa lembah yang bagian tengahnya dibelah sungai yang mengering saat kemarau. Nama Kobatuwa diartikan penduduk sebagai tali hutan karena wilayah ini dulu merupakan hutan yang ditumbuhi tanaman belukar dengan akar sangat lebat.

”Di Kobatuwa, kami menemukan beragam artefak batu yang melimpah dan fragmen fosil tulang serta gigi hewan vertebrata yang umumnya jenis hewan stegodon,” kata Jatmiko, arkeolog dari Puslit Arkenas. ”Sebagian temuan didapatkan dalam keadaan masih melekat di lapisan tanah aslinya.”

Pada umumnya, temuan artefak di Kobatuwa didominasi jenis alat-alat serpih bilah. Penelitian melalui analisis jejak belah terhadap endapan tufa putih yang melapisi situs mengungkap, situs ini berusia sekitar 700.000 tahun.

Berbagai temuan alat batu ini semakin menguatkan hipotesis Father Theodor Verhoeven bahwa Cekungan Soa pernah dihuni manusia purba. Pada tahun 1968, pastor berkebangsaan Belanda ini menemukan fosil stegodon dan artefak alat batu di Cekungan Soa. Verhoeven yang pernah belajar arkeologi itu menggali lapisan tanah di beberapa lokasi di Cekungan Soa, yaitu Mata Menge, Boa Lesa, dan Ola Bula.

Verhoeven melaporkan temuannya berupa alat batu dan tulang stegodon di balik lapisan abu gunung api. Karena stegodon hidup di Indonesia sekitar 750.000 tahun lalu, dia mengklaim bahwa alat batu itu juga berasal dari tahun yang sama. Namun, temuan itu tak banyak mendapatkan respons karena tiadanya kepastian umur batuan.

Setelah lama terabaikan, tahun 1991-1992, tim gabungan dari The Netherlands National Museum of Natural History bersama dengan PSG yang waktu itu masih bernama Pusat Penelitian dan Pengembangan Geologi (P3G) melakukan penggalian di Mata Menge. Tim ini juga melakukan pengujian paleomagnetik untuk mengetahui umur lapisan batuan yang mengubur fosil dan artefak batuan.

Pada tahun 1994, P3G melanjutkan penggalian di Cekungan Soa bekerja sama dengan The University of New England, Australia. Penelitian itu berlangsung hingga saat ini dan telah menemukan 12 situs artefak dan fosil. Tersebar di bagian tengah cekungan, di bagian barat dengan situs Mata Menge, Kobatuwa, Boa Lesa, dan Lembah Menge. Di bagian utara terdapat kelompok Tangi Talo dan Ola Bula. Di bagian timur-tenggara terdapat kelompok Dhozo Dalu, Sagala, Ngamapa, dan Kopowatu.

Dari semua situs yang digali, ditemukan aneka jenis binatang purba dan alat batu. Namun, penggalian di Cekungan Soa belum menemukan tulang-belulang manusia purba. ”Berdasarkan bentuk alat-alat batu yang ditemukan, kami menduga manusia purba di sini adalah nenek moyang Homo florensiensis di Liang Bua,” kata Mike. ”Tetapi, semua teori ini masih spekulatif, sampai kami bisa menemukan fosil manusia purba di sini,” kata Mike, arkeolog tua ini sambil menghela napas.

Adam Brumm, research fellow pada University of Wollongong, Australia, mengungkapkan, temuan manusia purba di Flores juga bakal mengubah peta migrasi sejarah manusia. ”Kita akan punya bukti bahwa ada migrasi manusia dari timur. Ini menarik dan pasti akan mengejutkan dunia,” katanya.

Senja temaram di Cekungan Soa. Suasana sepi. Warga lokal yang bekerja sebagai penggali sudah pulang ke rumah. Mike baru saja beranjak dari lubang galian di Mata Menge menuju base camp di Desa Mengeruda ketika dia berkata dengan lirih, ”Satu gigi pun cukup. Satu tubuh, tentu akan lebih baik.” (*)

(Tim Penulis Ekspedisi Cincin Api Kompas)
Ikuti perjalanan Ekspedisi Cincin Api Kompas di www.cincinapi.com

Ketika Lonceng Victoria Berdentang Sendiri

Kastil Victoria Ambon
Nusantara ternyata memiliki riwayat gempa dan tsunami yang sangat panjang. Jauh sebelum tsunami dahsyat melanda Flores 12 Desember 1992 dan Aceh pada 26 Desember 2004.

LONCENG -lonceng di Kastel Victoria di Leitimor, Ambon, berdentang sendiri. Orang berjatuhan ketika tanah bergerak naik turun seperti lautan. Tak lama kemudian air laut datang dengan suara bergemuruh.

Demikian penggalan catatan naturalis Georg Everhard Rumphius tentang gempa dahsyat disusul tsunami yang melanda Pulau Ambon dan Seram pada 17 Februari 1674. Catatan itu dibuat Rumphius pada 1675 dan jadi satu-satunya naskah yang diterbitkannya semasa hidup.

Kastel Victoria di Leitimor itu kini ada dalam kompleks Benteng Victoria, Ambon. Lokasi benteng ini persis di seberang Kantor Gubernur Provinsi Maluku. Saat ini benteng itu dijadikan kompleks perkantoran dan perumahan Komando Daerah Militer XVI/Pattimura.

Catatan Rumphius itu sejauh ini merupakan dokumentasi lengkap tertua yang dibuat tentang gempa dan air laut naik (istilah tsunami belum dikenal saat itu) di Nusantara. Sebelumnya, bahkan hingga ratusan tahun kemudian, kisah tsunami di Nusantara lebih kerap disebutkan dalam cerita lisan.

Awalnya, naskah ini disimpan di Perpustakaan Kerajaan Belanda di Den Haag dalam kategori anonim. Baru pada tahun 1871 ditetapkan bahwa laporan itu dibuat Rumphius. Pada tahun 1998, catatan itu diterbitkan kembali atas transkripsi W Buijze.

MJ Sirks PhD, profesor genetika dari Universitas Groningen dalam tulisan Rumphius, the Blind Seer of Amboina menyatakan, Rumphius begitu terikat dengan Ambon karena selama hampir 50 tahun dia tinggal di sana dan mengalami tragedi sekaligus kebahagiaan dalam pekerjaannya.

Penyaksi buta

Tsunami Jepang
Kisah perjalanan Rumphius memang penuh tragedi. Dia menghabiskan masa mudanya di Hanau, Jerman, tempat ayahnya, August Rumpf, menjadi arsitek terkenal. Namun, itu tidak menghalangi ketertarikan Rumphius untuk menjadi petualang. Ia berharap untuk melihat dunia yang lebih besar dari Hanau.

Rumphius pun meminta gurunya, Count Ludwig von Solms Grifenstein-Braunfels, untuk didaftarkan sebagai tentara Republik Venesia.

Namun, setelah naik ke kapal di Holland, bagian barat Belanda, ia sadar telah ditipu. Rumphius ternyata justru dimasukkan menjadi tentara West Indies Company (WIC). Awalnya dia memang akan dikirim sebagai prajurit ke Venesia, namun kapal itu mengubah haluan dan membawa para prajurit itu ke Brasil.

Di tengah jalan, kapal Swarte Raef, yang membawa Rumphius, diserang kapal Portugis. Rumphius kemudian dibawa ke Portugis. Di sana ia dan teman- teman prajuritnya dilatih untuk menjadi tentara Portugis.

Periode ini menjadi titik balik kehidupan Rumphius. Di Portugis, keinginan bertualangnya tersalurkan ke arah lain. Ia mendengar begitu banyak cerita luar biasa tentang dunia timur, dunia tumbuhan yang aneh, dan hewan-hewan asing yang juga aneh. Semua itu membuat keinginan Rumphius untuk menjelajah kian besar.

Setelah meninggalkan Portugis pada 1648 atau 1649, Rumphius kembali ke Hanau. Pada akhir 1652, ia mendaftarkan diri sebagai tentara East Indies Company (EIC). Pada Juni 1653, dia pun mendarat di Batavia dan pada 8 November ia pergi ke Pulau Ambon.

Menjadi tentara ternyata tidak memuaskannya. Gubernur Ambon saat itu, Jacob Hustaerdt, kemudian memberinya tugas sipil. Pada 1662 Rumphius resmi menjadi menjadi pegawai perdagangan di perusahaan EIC.

Pada saat itu juga Rumphius mulai mempelajari hewan dan tumbuhan di Ambon secara sistematis. Selama bertahun-tahun ia mendedikasikan waktu luangnya untuk belajar dan menulis tentang flora dan fauna Ambon.

Rumphius kemudian menjadi pimpinan di Hitu, sebuah daerah di pesisir utara Jazirah Leihitu di bagian utara Pulau Ambon. Di sana ia tinggal bersama keluarganya. Setelah dibebastugaskan dari perusahaan, Rumphius menemukan kebahagiaan dengan meneliti alam.

Namun, pada tahun 1770 Rumphius mengalami tragedi tragis. Dia kehilangan penglihatannya, tanpa ada penjelasan penyebabnya. Kebutaan yang dialami tidak menghalanginya untuk melanjutkan penelitiannya tentang flora dan fauna Ambon.

Dalam ilmu alam, Rumphius menghasilkan tiga kerja besar: Amboinsch Kruidboek, Amboinsch Rariteitkamer, dan Amboinsch Dierboek.

Kruidboek atau ”Herbarium Amboinense” dipandang sebagai karya terbesar Rumphius. ”Di antara tulisan-tulisan itu ada tulisan Rumphius lain yang kurang penting. Akibatnya, Tuan-tuan yang Mulia, ia tidak terlalu merekomendasikannya. Ada yang Amboinsche-Rariteitkamer, yang terdiri dari tiga buku, dan masih ada buku lain, Land-, Lugt-en Zeegedierten dari kepulauan ini...” (dari surat Gubernur Ambon ke Gubernur Jenderal di Batavia pada 20 Mei 1697).

Pada 1679 dan 1680, Gubernur Ambon memberikan asisten yang bernama Daniel Crul untuk membantu kerja Rumphius. Anak Rumphius, Paulus Augustus, juga membantu, setidaknya dari 1686. Rumphius menghasilkan banyak sekali karya sehingga Gubernur Ambon Dirck de Haes menulis, ”Pekerjaan sepertinya telah selesai, dan saat ini ada 1.720 bab termasuk 12 buku.”

Namun, tragedi rupanya tidak menjauh dari Rumphius. Dalam kebakaran besar di Ambon, pada 11 Januari 1670, buku, koleksi, dan manuskrip Rumphius turut hancur. Untungnya sebagian buku utama bisa diselamatkan, namun gambar-gambar yang dibuat Rumphius sebelum tahun 1670 turut dimakan api.

Tragedi terbesar

Tsunami Aceh 2004
Bagi Rumphius, tragedi terbesar yang dialaminya terjadi pada 1674, ketika gempa dan gelora tsunami melanda. Bukan hanya karena petaka itu menewaskan 2.322 orang di Pulau Ambon dan Seram, tetapi juga menewaskan istri Rumphius dan salah satu anak perempuannya.

Hila, di dekat Hitu, disebut Rumphius sebagai daerah yang paling menderita. ”Begitu gempa mulai menggoyang, seluruh garnisun, kecuali beberapa orang yang terperangkap di atas (benteng), mundur ke lapangan di bawah benteng, menyangka mereka akan lebih aman. Akan tetapi, sayang sekali tidak seorang pun menduga bahwa air akan naik tiba-tiba ke beranda benteng (Amsterdam),” tulis Rumphius.

Air itu sedemikian tinggi hingga melampaui atap rumah dan menyapu bersih desa. Batuan koral terdampar jauh dari pantai. Sebanyak 1.461 orang tewas di Hila.

Sedangkan di Hitu, menurut Rumphius, air laut naik hingga setinggi 3 meter dan menyeret rumah-rumah kompeni. Sedikitnya 36 orang tewas.

Dengan rinci Rumphius mengisahkan kondisi desa-desa di Ambon dan Seram yang hancur akibat peristiwa itu. Sedikitnya ada 11 desa yang dideskripsikan Rumphius.

Desa-desa itu terentang di sepanjang pesisir utara Jazirah Leihitu, mulai dari Larike di ujung barat hingga Tial di ujung timur. Di Pulau Seram yang tercatat adalah tempat-tempat di daerah Huamual, seperti Tanjung Sial dan Luhu. Catatan lain juga berasal dari Oma di selatan Pulau Haruku dan Pulau Nusa Laut.

Dalam khazanah mitigasi bencana, catatan Rumphius ini merupakan warisan penting karena memberi kesaksian bahwa Nusantara memiliki riwayat gempa dan tsunami yang sangat panjang. Jauh sebelum tsunami dahsyat melanda Flores 12 Desember 1992 dan Aceh pada 26 Desember 2004, Rumphius telah menuliskan tentang bencana sejenis di bagian timur Nusantara.

Sayangnya, catatan rinci Rumphius itu tak banyak diketahui masyarakat Ambon dan Seram. Nama Rumphius bahkan tidak begitu dikenal.

”Tidak banyak yang tahu tsunami yang katanya dicatat Rumphius. Kalau gempa di sini memang sering terasa, tapi masyarakat tidak lari ke bukit, malah diam di tempat,” kata Damri Lating (49), warga Hila.

Hal senada diungkapkan Said Lumaela (52), warga Kaitetu, desa yang bersebelahan dengan Hila. ”Pernah dengar tentang Rumphius, tetapi tidak tahu itu soal apa,” katanya. (M Zaid Wahyudi/A Ponco Anggoro)

Lihat PETA TSUNAMI di Indonesia

Sumber: Kompas.Com

Wajah Polri

WAJAH kepolisian kita kembali mengusik perasaan publik. Perasaan yang paling hakiki yakni  runtuhnya kepercayaan. Hari Senin 30 Juli 2012  polisi menyandera penyidik  hingga jajaran pimpinan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) saat  menggeledah barang bukti di  Gedung Korps Lalu Lintas (Korlantas) Polri terkait dugaan kasus korupsi simulator kemudi motor dan mobil.

Tim KPK tidak diperkenankan membawa dokumen yang menjadi bukti dugaan aliran  aliran dana ke pejabat Korps Lalu Lintas (Korlantas). Penyidik KPK ditahan hingga larut malam.  Sikap seperti itu jelas sangat mengecewakan. Polri seolah-olah menempatkan dirinya bukan sebagai bagian dari institusi penegakan hukum di negeri ini. Idealnya mereka memberikan dukungan terhadap KPK menjalankan tugas dan tanggung jawabnya. Toh langkah KPK justru mau membersihkan institusi Polri khususnya Divisi Korlantas dari perilaku oknum yang menyimpang, oknum yang membuat wajah Polri rusak di mata masyarakat.

Menarik apa yang dikatakan pengamat kepolisian Bambang Widodo Umar seperti dikutip Kompas.Com, Selasa (31/7/2012). Bambang mengatakan, sikap tidak kooperatif itu tidak mungkin inisiatif anggota di dalam gedung Korlantas.

Dia yakin larangan bagi penyidik KPK keluar gedung dan membawa seluruh dokumen hasil penggeledahan atas perintah atasan. Artinya, unsur pimpinan Polri patut diduga berada di balik penyanderaan tersebut. Suatu sikap yang sangat tidak elok.

Dugaan penyimpangan di Korps Lalu Lintas Polri sudah menjadi rahasia umum. Untuk itulah KPK harus terus mengusut perkara itu sampai tuntas. Dan, KPK agaknya tidak mundur selangkah pun meskipun menghadapi halangan. Dalam jumpa pers di Kantor KPK Jakarta, Selasa kemarin Juru Bicara KPK Johan Budi mengatakan, penyidik KPK telah menetapkan Mantan Kepala Korps Lalu Lintas Polri, Inspektur Jenderal (Irjen) Pol Djoko Susilo  sebagai tersangka kasus dugaan korupsi pengadaan simulator kemudi motor dan mobil tahun 2011. Tersangka diduga menerima suap Rp 2 miliar dari proyek senilai Rp 196,87 miliar itu.

Sudah sepatutnya KPK bertindak tegas dan tanpa pandang bulu. Pembersihan institusi Polri dari perilaku oknum yang koruptif sejalan dengan tekad dan komitmen pimpinan Polri sendiri tentang transparasi publik demi memperbaiki citra positif kepolisian di mata masyarakat.

Usaha menumbuhkan kepercayaan publik adalah pekerjaan besar bagi Polri mengingat masih saja terjadi tindakan oknum anggota polisi yang jauh dari harapan masyarakat. Misalnya peristiwa penembakan yang menewaskan seorang bocah di  Desa Limbang Jaya, Ogan Ilir, Provinsi Sumatera Selatan (Sumsel). Peristiwa yang sama pun  terjadi di Sulawesi Utara ketika  Briptu DT melepaskan tembakan yang menewaskan warga Tondano, Kabupaten Minahasa, Gerald Lumowa tanggal 28 Juli 2012. Masyarakat mananti Polri bersikap profesional. Jika Polri membela anggotanya secara membabi-buta maka makin hancurlah citranya.*

Sumber: Tribun Manado 1 Agustus 2012 halaman 10

Dilema Bibir bagi Manado

ilustrasi
BIBIR Manado menjadi buah bibir dalam Workshop Penajaman Visi di Ruang Serba Guna Pemerintah Kota Manado hari  Rabu 25 Juli 2012 yang lalu.

Diskusi hari itu  membedah dua branding yang ditawarkan Dinas Pariwisata Kota Manado. Dinas Pariwisata  menawarkan tagline  Nice Manado dan Dive Manado.

"Nice Manado menunjukkan keramahtamahan yang ditawarkan oleh Kota Manado.  Ini akan membuat orang akan selalu mengingatnya ketika ia berada di luar Manado. Dive Manado mengingatkan kita akan keindahan alam bawah laut di Bunaken. Kalau berdasarkan tiga B (Boulevard, Bunaken, Bibir)  ada satu kata yang bersifat negatif yaitu bibir. Tapi bibir berkonotasi negatif," ujar Petter Assa, Kepala Dinas Pariwisata dan Budaya Kota Manado.

Kata bibir menurut Assa sudah berkonotasi negatif karena sering dihubung- hubungkan dengan prostitusi. Orang kemudian membubui kata itu seolah-olah Manado "begitu gampang" dalam hal yang satu ini. Kenyataannya tidak demikian. 

Beberapa kepala dinas yang mengikuti workshop itu mengungkapkan pandangan senada.  Salah satunya Kepala Dinas Perhubungan Kota Manado, YB Waworuntu. Ia mengatakan penggunaan kata bibir itu itu ada hubungannya dengan hidup sosial. "Bibir sudah terlanjur memiliki arti kurang baik dalam masyarakat," ujarnya.

Kepala Dinas Koperasi Kota Manado, Ester Lumingkewas mengatakan  bibir tidak cocok diterapkan sebagai dasar pembuatan branding Manado.  Sejak lama diksi bibir acap diolok-olok orang luar karena mengambarkan profil umum perempuan Manado yang supel, ramah dan enak diajak ngobrol oleh para  tamu. Diksi bibir berkonotasi negatif itu jelas tidak sejalan dengan kenyataan  Manado sebagai kota yang religius.

Usul untuk meminta pendasaran yang lain juga disampaikan Kepala Dinas Pemuda dan Olahraga J  Sondakh dan Kepala Dinas Tata Kota Manado, Amos Kenda.

Camat Wenang,   Danny Kumajas mengatakan image buruk tentang Kota Manado dengan kata bibir itu sudah terlanjur lama melekat di benak orang Manado maupun orang di luar Manado. Pendasaran branding itu harus hati-hati digunakan. Apalagi jika menyangkut kebijakan politik walikota dan wakil wali kota. "Ini bisa mempengarahi suasana politik," tuturnya.

Agus Sunaryo, pembicara kunci dalam workshop itu kemudian mengatakan jangan memposisikan kata bibir pada konotasi negatif. Bisa jadi itu berarti keramahtamahan. Tugas pemerintahlah dan masyarakat Manadolah  yang menempatkan diksi bibir secara positif.  "Saya ke Manado cari bibir dan saya menemukannya di hotel ketika tiba. Keramahan resepsionis yang menerima itu terlihat dari bibirnya yang selalu tersenyum ramah," kata Agus.

Diskusi tentang branding Manado tidak berhenti di situ. Saat membuat branding, banyak pilihan yang ditawarkan peserta workshop yang terdiri dari kepala dinas dan para pegawai. Ada lima belas tawaran yaitu Delicious City, Truly Paradise,  Great Manado, Manado Mina,  Nice City, Manado Mantap, Let's Go Manado, Kota Penjara, Spoon City,  Experience Manado, Colorful Manado, Spectakular Manado dan Manado Whatever You Want?

Kota Penjara dan Spoon City diberikan wakil Wali Kota Manado,  Harley Mangindaan untuk memenuhi harapan Agus bahwa branding harus menantang. "Kalau Spoon City bisa mengambarkan kuliner, bentuk Kota Manado yang lembah dan curamnya Bunaken," tutur Harley yang akrab disapa Ai.

Agus menginginkan kata Experience karena lebih menantang. Mereka yang datang harus mengalaminya sendiri Kota Manado.  Namun, diskusi hari itu belum mengambil kesimpulan serta memutuskan pilihan. Diskusi berlanjut  dengan pembahasan program setiap SKPD untuk menunjang program besar Manado sebagai Kota Ekowisata bertaraf internasional.

Dilema bibir bagi Manado agaknya masih butuh diskusi panjang. Image buruk itu mestinya bisa dikikis bukan?  *

Sumber: Tribun Manado 26 Juli 2012 hal 11

Anak Palue Melintasi Zaman

Mencari air di Palue (KOMPAS/EDDY HASBY)
HIDUP tak pernah mudah di Pulau Palue, Kabupaten Sikka, Nusa Tenggara Timur. Warga harus menyuling panas bumi dan menoreh pohon pisang demi setetes air. Mereka pun di bawah ancaman karena setiap jengkal tanah Palue adalah tubuh Gunung Api Rokatenda.

    Kesulitan hidup dan bahaya yang mengancam tak menciutkan nyali orang Palue. Selama ratusan tahun mereka tinggal di pulau itu. Bergenerasi hingga kini, 9.990 orang menyesaki pulau gunung api yang hanya seluas 39,5 kilometer persegi itu.

    Masih pukul 08.00. Namun, matahari pada akhir Mei 2012 itu terasa memanggang Kampung Poa, Desa Rokirole, Kecamatan Palue. Wihelmina Wea (40) berjalan di antara pipa-pipa bambu di ladang panas bumi yang mengeluarkan asap. Ia berjongkok di ujung pipa bambu dan menuangkan jeriken berisi air ke dalam ember. VIDEO LIHAT DI SINI.

    Jeriken yang kosong kembali di taruh di mulut pipa bambu. ”Nanti sore airnya bisa diambil lagi,” kata Wihelmina. Dalam sehari, satu pipa bambu bisa menampung sekitar 20 liter air.

    Sejak ratusan tahun lalu keluarga Wihelmina dan warga Kampung Poa menggantungkan hidup pada tetes air yang disuling dari ladang panas bumi. Ketiadaan sumber air bersih membuat mereka mencari cara lain. Pulau Palue yang tersusun dari batuan gunung api yang keras tidak bisa menyimpan air.

    ”Memang tidak ada mata air di sini. Namun, orangtua kami mewariskan cara mengambil air dari panas bumi,” kata Bonefasis Woko (40), tokoh masyarakat Poa. ”Caranya mirip menyuling moke (minuman tradisional yang dibuat dari pucuk pohon lontar).”

    Pagi itu Bonefasis mempraktikkan cara mencari sumber panas bumi. Dengan sebilah tongkat besi, ia menusuk-nusuk tanah di halaman rumah dan memeriksa ujungnya. ”Jika ujungnya panas, ada panas bumi di titik itu,” katanya.

    Tak lama mencari, ia menemukan sumber panas di gundukan tanah. Ia menggali titik itu dengan linggis sedalam 50 sentimeter. Uap panas mengepul dari lubang galian itu.

    Bonefasis menancapkan bambu sepanjang 2 meter ke lubang galian. Bambu itu lalu dilubangi salah satu sisinya. Sebatang bambu lain yang lebih panjang disambungkan ke lubang itu secara mendatar.

KOMPAS/EDDY HASBY
    Uap panas bumi yang naik sebagian berubah jadi titik air yang lalu mengalir pelan ke ujung bambu. Jeriken di ujung bambu menampung tetesan air.

    Di Kampung Poa, ada sekitar 100 titik penyulingan panas bumi. Dimulai pada 1960-an, teknologi suling sederhana itu ditemukan setelah berbagai uji coba. ”Lapangan ini tanah adat yang kami jaga agar kami bisa mendapat air minum,” kata Bonefasis yang menjadi Ketua Badan Permusyawaratan Desa Rokirole.

    Sekretaris Camat Palue Martin Luther Adji mengatakan, sumber panas bumi di Palue hanya ada di lima desa. ”Masih ada tiga desa yang sama sekali tak punya sumber air,” katanya.

Sejak 1990-an, Yayasan Dian Desa membuat proyek percontohan bak penampung air hujan di Palue. Bak itu lalu dikembangkan massal dengan tambahan dana alokasi desa. Tahun 2011, ada 750 bak di pulau itu.

Bak-bak itu diletakkan di bawah atap rumah sehingga bisa menampung air hujan hingga 5.000 liter. ”Air bak dapat disimpan dari Desember sampai Juli. Setelah itu, harus cari sumber lain,” kata Martin.

Batang pisang
    Bagi warga desa yang memiliki panas bumi, musim kemarau masih bisa teratasi. Namun, bagi desa tanpa sumber panas bumi, misalnya Tuanggeo, para warga harus mencari cara lain. Di desa ini, warga mendapatkan air dengan mengorek batang pisang.

    Bagian pangkal batang pisang dewasa dilubangi dengan parang sedalam 15 sentimeter. Lubang itu dikorek-korek dengan sendok sampai keluar sedikit air yang menetes. Tetesan itu ditampung batang bambu yang ruasnya sudah dibersihkan. Sehari, satu batang pisang bisa mengeluarkan air hingga lima ruas bambu.
KOMPAS/EDDY HASBY
Warga desa Tuanggeo, Pulau Palue, Kabupaten Sikka, Nusa Tenggara Timur, Rabu (30/5), memanfaatkan uap panas dari dalam bumi untuk disuling menjadi air bersih. Dalam sehari mereka dapat mengumpulkan 20 liter air dari tetesan penyulingan dan digunakan untuk kebutuhan air minum.

    ”Air pisang bisa kami masak untuk minum. Kalau terpaksa dan tak ada air, ini juga untuk mandi, sikat gigi, dan segala keperluan,” kata Osta Metti, perempuan dari Desa Tuanggeo.

    Mandi saat kemarau panjang di Desa Tuanggeo dilakukan dengan mengelap badan menggunakan air pisang. ”Kami sudah biasa mandi seperti itu. Airnya kan terbatas,” kata Osta sambil tersenyum.

    Keterbatasan daya dukung lingkungan justru memicu warga Palue semakin kreatif.

    Tak hanya kemampuan mencari air, warga Palue juga memiliki kebijakan bercocok tanam. Adat mengharamkan warga menanam padi. ”Kalau ada yang berani tanam akan terjadi bencana di Palue,” kata Petrus Fidelis Cawa (70), tokoh adat Palue.

    Menurut kisah Petrus, nenek moyang mereka adalah Mboja Roja, suami-istri dari Ende. Dalam pelayaran ke Palue, bekal air di buli-buli tumpah. Hanya tersisa sedikit air tawar. Saat pertama tiba di Palue, mereka juga tak membawa padi, hanya jagung, ubi, dan kacang-kacangan. ”Seandainya Mboja Roja membawa padi dan air di buli-buli tidak tumpah, bolehlah kami menanam padi,” katanya. ”Namun, nenek moyang kami tiba di sini tanpa air dan padi. Kami sekarang harus hidup dengan yang ada di sini.”

    Palue memang tak cocok dengan padi. Jika dipaksakan, kemungkinan gagal panen bisa berisiko menimbulkan kelaparan. ”Makanan pokok kami di sini singkong, pisang, kacang hijau, dan jagung. Mau makan nasi bisa beli dari luar,” kata Petrus.

    Dengan kebijakan pangan lokal serta teknik menyuling air dari panas bumi dan pohon pisang, warga di pulau gunung api itu melintasi zaman....(Amir Sodikin/Samuel Oktora)

Sumber: Kompas.Com

http://tanahair.kompas.com/read/2012/06/26/17120718/Daya.Hidup.di.Pulau.Gunung.Api

Wisata Payudara di Flores

WISATA di Kabupaten Manggarai Timur, Nusa Tenggara Timur tentu belum banyak terdengar di telinga para turis. Padahal, keunikan budaya dan alam yang tersebar di enam wilayah kecamatan tersebut tak kalah dengan obyek wisata di belahan Nusantara yang lain.

Obyek wisata Watu Susu Rongga misalnya. Obyek wisata ini berada di Kecamatan Kota Komba, terdapat di Kelurahan Watunggene, Manggarai Timur. Di lokasi ini dapat ditemui sebuah batu raksasa yang bentuknya sangat mirip dengan (maaf) payudara. Lokasinya berada di lereng Gunung Komba.

Untuk mencapai batu unik ini, pengunjung harus berjalan kaki selama empat jam menyusuri lereng gunung, atau berkuda selama sekitar tiga jam. Kepala Bidang Pengembangan Sumber daya dan Produksi Wisata (Destinasi) di Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Manggarai Timur, Damasus Ndama, Jumat (27/7/2012) mengaku, ia bersama enam staf dan sejumlah wisatawan domestik mengunjungi lokasi "Batu Susu" tersebut.

"Kami diundang organisasi pengelolaan destinasi Paradise on Earth Kabupaten Manggarai Timur untuk mengunjungi objek itu dengan horse trekking (perjalanan wisata berkuda)," katanya. "Selama perjalanan kami melewati tempat ribuan kerbau yang berada di Wae Mausui," kata Ndama lagi.

Setelah itu, rombongan dan wisatawan serta wartawan menikmat padang Mausui yang sangat luas dengan pemandangan yang sangat indah. "Selama berkuda di padang Mausui, kami menikmati ribuan kuda yang sedang makan rumput. Sungguh selama perjalanan kami disuguhkan oleh pemandangan yang indah," kata Ndama.

Ndama lalu menuturkan, sejauh mata memandang terlihat kemegahan alam, yakni Gunung Komba, Lembah Mausui, Pantai Waewole dan padang. Selain itu masih ada kemegahan Gunung Inerie di Kabupaten Ngada.

Sebelum tiba di dua batu raksasa itu,  pengunjung dapat singgah di situs bersejarah yakni kuburan tua Jawa Tu (pahlawan perang Komba), dan 20 anak tangga. "Terakhir kami melihat situs Istri Jawa Tu dan kuburan adiknya Nai Pati (pahlawan perang Komba)," katanya.

Ketua Paradise on Earth Kabupaten Manggarai Timur, sekaligus senior guide, Fransisco Huik De Rosari menjelaskan, obyek batu susu rongga menjadi salah satu tempat yang bisa 'dijual' kepada para turis mancanegara dengan program horse trekking. "Saya sudah beberapa kali ke sana dengan program horse trekking dengan tamu asing, dan domestik. Wisatawan mengagumi obyek wisata budaya itu. Namun, perlu penataaan dan promosi secara bersama kepada publik serta akses masuk ditata dengan baik," tuturnya.

Kepala Suku Ngeli selaku pemilik situs kuburan Tua, Jawa Tu dan Nai Pati serta Watu Susu Rongga, Gaspar Jala menuturkan, cerita secara turun temurun bahwa dua batu raksasa berbentuk payudara itu, terjadi saat perang Komba. Konon, di antara Gunung Komba dan gunung kecil lainnya terdapat lubang besar. Lalu, leluhur berinisiatif untuk menutup lubang itu dengan dua batu raksasa tersebut.

Namun ada syarat yang menyertai penutupan itu, yakni, selama batu di angkat dari wilayah pesisir pantai, semua orang harus diam dan tak boleh bicara kotor. Tak diduga, seorang perempuan yang tak mengetahui hal itu berteriak dengan mengeluarkan kata-kata kotor, setibany di lereng Gunung Komba . Seketika itu juga, kedua batu itu tidak bisa diangkat dan menancap ke tanah, hingga saat ini.

Staf Progam Officer Tourism Object dan Marketing Swisscontact Labuan Bajo, Annaas Firmanto mengaku senang dengan perjalanan menuju ke Watu Susu Rongga. Mulai dari Mbolata, acara adat di rumah Kepala Suku Ngeli, Gaspar Jala, pesisir Pantai Waewole yang indah, tempat ribuan kerbau yang menikmati airnya di bawah Lembah Mausui. Lalu, ada Lembah Mausui dan padang belantara Mausui dengan ribuan kuda dan sapi yang sedang makan rumput hijau.

"Saya menikmati wisata ke Watu Susu Rongga dengan alamnya yang indah. Di sana tempat yang sangat unik bagi wisatawan," kata Firmanto.

Firmanto lalu menyarankan, Pemerintah Kabupaten Manggarai Timur dan Paradise On Earth Kabupaten Manggarai Timur bersama dengan tua-tua adat dan Pemerintah Kelurahan Watunggene membuat papan informasi yang lengkap dengan cerita-cerita sejarah Watu Susu Rongga tersebut.

Sementara, menurut Ndama, Pemerintah Kabupaten Manggarai Timur bersama dengan mitra kerja seperti organisasi pengelolaaan destinasi (Destination Management Organization-DMO) harus memiliki kemauan untuk mengembangkan dan mempromosikan obyek wisata yang begitu indah tersebut kepada wisatawan. (*)

Sumber: Kompas.Com

Mereka tak Kekurangan Kasih Sayang

Penghuni Panti Tuna Grahita St Anna Tomohon
TATATAN mata Lusi Faot (16) tampak kosong ketika duduk di ayunan taman bermain Panti Grahita Santa Anna, Kota Tomohon, akhir pekan lalu.

Jumat (20/7/2012) sore itu, meski duduk di ayunan tak ada niat Lusi memainkannya. Dia termenung sambil sesekali tersenyum.

Lusi merupakan satu di antara 50 klien di Panti Grahita Santa Anna. Tak seperti anak normal umumnya, Lusi dan anak-anak di Santa Anna mengalami kondisi keterbelakangan mental atau retardasi mental dengan tingkat berbeda. Lusi merupakan salah seorang yang retardasi mentalnya paling memprihatinkan.

Sore itu merupakan waktu bermain. Anak lelaki bermain bola di halaman depan, anak perempuan memilih bergoyang mengikuti irama musik caka-caka. Hanya Lusi di ayunan. Tiba-tiba Lusi berdiri dan menghambur ke dalam pelukan  Suster Felicite Lakada, Kepala Panti Grahita Santa Anna Tomohon yang baru tiba. Suster Lakada pun tersenyum menyambut Lusi yang terlihat manja dalam pelukannya.

Suster Lakada mengungkapkan, beginilah anak-anak Santa Anna menghabiskan keseharian mereka. Semua aktivitas sudah dijadwalkan dengan pengawasan penuh para pengasuh. Masa depan yang didambakan anak-anak normal serasa jauh dari jangkauan Lusi dkk. Membuat mereka bahagia merupakan cita-cita Suster Lakada dan 12 pegawai Santa Anna.


Suster Lakada tak pernah lupa 23 Juli merupakan hari spesial baginya karena  di hari itu ia bisa merayakan hari anak bersama penghuni Santa Anna. "Hari anak belum menggema seperti hari Ibu dan hari lainnya. Anak-anak khususnya di Santa Anna tak bisa dipungkiri kurang mendapat perhatian orangtua," ujar Lakada.

Suster Lakada mencontohkan, Lusi misalnya, gadis itu seorang piatu, sejak kecil diasuh di Santa Anna. Ayah Lusi menikah lagi, sementara ibu tiri tak menghendaki Lusi tinggal di rumah. Santa Anna pun jadi tempat labuhan hidup Lusi.

Kata Suster Lakada, Lusi beda dengan anak lainnya, hampir tiap hari dia menangis tanpa sebab jelas "Tiap malam menangis, dia (Lusi) bicaranya tidak jelas, ditanya pun  diam saja, kadang dia menangis sampai lelah dan tertidur," tuturnya. Meski begitu, Suster Lakada ingin di Santa Anna, anak-anak tersebut tak  kekurangan kasih sayang.

Memperingati Hari Anak Nasional, Santa Anna mengadakan kegiatan bersama. Di tempat Lakada berdiri bersama Lusi pun didatangi dua klien Santa Anna lainnya.

Seorang bernama Margaretha Sumampow (16). Gadis itu pun senasib dengan Lusi.
Ia dibawa neneknya ke Santa Anna 11 tahun silam, namun beberapa tahun belakangan kabar keberadaan keluarga Margereta  tak lagi jelas "Dia (Margaretha) di sini sejak usia 5 tahun. Awalnya keluarga sesekali datang. Di usia 9 tahun sudah tidak lagi. Sekarang malah keluarganya tidak tahu di mana," ujar Lakada.

Margaretha pun terlihat akrab dengan Suster Lakada. Meski tak jelas perkataan gadis itu, Suster Lakada coba mencerna maksudnya "Oh dia bilang mama mati. Ia, ibunya memang sudah meninggal," ujar Lakada. Meski aktif, Margaretha hampir tak punya harapan untuk keluar dari keterbelakangan mental. Kata Lakada, sebenarnya gadis itu punya rambut panjang terurai, namun digunting sendiri sampai habis "Aduh ini malah sudah bertumbuh, lalu habis digunting," tuturnya.

Ia mengungkapkan, emosi anak keterbelakangan mental cenderung tidak stabil, ada kalanya masalah sepele bisa memicu sikap agresif "Tak jarang barang-barang, pintu, jendela dirusak. Kadang saling senggol saja langsung ribut," katanya.

Gambaran-gambaran sifat agresif, pendiam dan kurang bersosialisasi tak semuanya dimiliki anak- anak Santa Anna. Monica Lepong (9) misalnya, gadis cilik asal Banggai Luwuk ini sekilas terlihat normal namun Monica termasuk kriteria educable atau mampu didik. Dalam kemampuan akademik Monica setara dengan anak kelas 5 SD. Meski tak lancar, ia bisa membaca, menulis. Ia pun tampak lincah dan riang ketika menghampiri Suster Lakada.

Monica punya cita-cita ingin j seperti Suster Lakada "Kalau besar mau jadi suster," ujar Monica tersenyum sembari berlalu. Setidaknya meski jauh dari kenyataan, ada keinginan anak-anak Santa Anna menjadi sesuatu yang dicita-citakannya, bahkan kata Suster Lakada, ada yang ingin menjadi dokter, tentara, polisi, pastor bahkan pilot.  "Kalau bicara soal cita-cita mereka punya, semangat sekali mereka membicarakan soal cita- cita," demikian Lakada.

Sejak pukul 05.00

Keseharian anak-anak Santa Anna dimulai sejak bangun pukul 05.00 pagi. Mereka memulai hari dengan ibadah dan sarapan. Kemudian, mandi dan berangkat ke sekolah khusus di samping asrama. Menurut Asteria Sri Tandiala, Sekretaris Santa Anna, anak-anak tuna grahita  mengenyam pendidikan.  "Kelasnya kita pisah yang mampu didik dan mampu latih. Yang sulit itu anak mampu latih," kata Asteria.

Usai sekolah, klien Santa Anna makan  dan tidur siang. Sekitar jam 4 sore, waktunya bermain, menunggu jadwal makan malam dan tidur.

Suka duka pun dirasakan pengasuh di Santa Anna. Menurut Feronica Rotikan, pengasuh Santa Anna. Ada rasa bahagia dalam keseharian Feronica bisa mengasuh klien Santa Anna, meski kadang emosinya muncul akibat ulah mereka "Seringkali susah diatur. Banyak kali mereka berontak, makanya hampir tiap bulan pintu, jendela, barang-barang rusak," ujarnya tersenyum

Anak-anak tersebut kata Feronica pun butuh kasih sayang "Mereka itu kadang maunya dimanja, datang minta dipeluk," katanya. Tiap hari tiba waktunya bekerja, kata ibu dua anak ini, selalu muncul kerinduan ingin cepat bertemu penghuni Santa Anna "Kerja di sini merupakan pelayanan kami kepada Tuhan. Saya sayang mereka sama seperti anak sendiri," tuturnya. (riyo noor)

Nasib Anak Sulut

Balita Terlantar:     6.116 orang
Anak Terlantar:  222.608 orang
Anak Nakal     :    46.302 orang   
Anak Jalanan  :       1.696  orang
Anak Butuh Perlindungan Khusus: 98 orang
Sumber: BP3A Provinsi Sulut 2011


Sumber: Tribun Manado 23 Juli 2012

Kumis

Ram Singh Chuachan
"Ciuman dari seorang pria yang tidak berkumis, seperti minuman sampanye tanpa gelembung-gelembung kecil."  (Ram Singh Chuachan, pria berkumis terpanjang di dunia versi Guinness Book of World Records)

KUMIS hari-hari ini menjadi trending topics. Setidaknya di Jakarta, di ibu kota negara Indonesia yang sedang berasyik-masyuk dengan pesta demokrasi bernama pemiluka. Dua pria berbeda profil dan gaya memasuki putaran kedua. Yang satu berkumis, yang lainnya klimis. Hahaha....

Laga final pemilukada DKI Jakarta mempertemukan juara bertahan Si kumis Fauzi Bowo alias Foke melawan Joko Widodo alias Jokowi asal Solo yang necis tak berkumis dan jambang. Dan, Foke kemudian identik dengan kumis.

Tom Selleck
Ini soal eksistensial. Perkara siapa yang akan menang dalam pesta tersebut tentu tidak ada hubungannya dengan berkumis atau tidak berkumis. Coretan isengku akhir pekan ini terinspirasi dari kata-kata Ram Singh Chuachan, pria India yang untuk sementara memegang rekor baru sebagai pria berkumis terpanjang di dunia.

Memiliki kumis terpanjang di dunia merupakan kebanggaan tersendiri bagi Ram Singh Chuachan. Seperti dilansir BBC, Sabtu 19 Mei 2012, kumis pria asal India ini sepanjang 4,29 meter dan memecahkan Guinness Book of World Records.

Menurut catatan BBC, sebenarnya  Chuachan telah menarik perhatian dunia jauh sebelum namanya masuk buku rekor dunia. Kumis lebarnya pernah muncul di film ternama James Bond, Octopussy tahun 1983 silam. Ia juga menjadi tampil di beberapa film Bollywood.

Charlie Chaplin
Bagi Anda  yang ingin memanjangkan kumis seperti dirinya, Chuachan  berbagi tips gratis. Chuachan menyarankan agar memanjang kumis saat masih berusia muda. Pasalnya ketika sudah berusia lanjut, produksi hormon menurun sehingga tdiak bisa memicu pertumbuhan kumis dengan maksimal. Ia juga sering menggunakan minyak kelapa untuk merawat kumisnya.

"Saya selalu  meminyakinya secara teratur dan mencucinya setiap 10 hari sekali," ujar Chuachan.

Albert Einstein
Lalu ada tokoh kunci yang mendukung impian Chuachan yaitu istrinya. Sang istri  selalu membantunya merawat kumis tersebut, dan tidak pernah memprotes keputusannya untuk memanjangkannya.

"Saya selalu mengatakan padanya, ciuman dari seorang pria yang tidak berkumis, seperti minuman sampanye tanpa gelembung-gelembung kecil," kelakar Chuachan kepada istrinya.
Hulk Hogan

                    ***

BICARA
tren yang menyangkut penampilan fisik, wanita mungkin hanya peduli pada gaya rambut. Namun bagi pria, rambut di wajah pun sangat berpengaruh. Berikut ini tujuh gaya kumis paling ikonik sepanjang masa. Ada yang jadi trendsetter bagi pria-pria lainnya, ada juga yang begitu unik sampai jadi ciri khas.

Tom Selleck
Jangan heran jika kamu melihat foto-foto pria di era 80-an dan menemukan banyak kumis seperti ini. Tom Selleck lah penyebabnya. Kumis lebat namun di-trim dengan rapi ini jadi trendsetter di seluruh dunia seiring dengan popularitas aktor Hollywood ini, terutama saat ia membintangi tokoh detektif di serial ternama "Magnum P.I."

Charlie Chaplin
Apa yang paling khas dari Charlie Chaplin? Selain tongkatnya, orang pasti akan menyebut kumisnya, yang dibiarkan tumbuh lebat namun dicukur di bagian pinggir dan disisakan hanya di bawah hidung. Namun gaya kumis ini tak sempat jadi tren bagi pria-pria lainnya karena kumis ini identik dengan Adolf Hitler.

Salvador Dali
Hulk Hogan
Kumis gaya ini sempat diberi nama "The Wrestler Moustache" alias Kumis Pegulat karena dipopulerkan oleh atlet gulat ternama, Hulk Hogan. Jika dirunut ke masa lalu, kumis gaya inilah yang kabarnya dipakai oleh Genghis Khan (tentu saja warnanya hitam, bukan pirang). Karena itulah kumis ini identik dengan tipe pria garang, bengis, dan macho.

Albert Einstein
Mungkin karena terlalu sibuk berpikir, Albert Einstein tak terlalu peduli dengan penampilannya. Rambutnya dibiarkan tumbuh gondrong awut-awutan, begitu pun kumisnya yang dibiarkan berantakan.

Salvador Dali
Sesuai dengan kepribadiannya yang nyentrik, pelukis Salvador Dali juga punya kumis yang nyentrik. Panjang, diberi gel, dan dilekukkan ke atas.

Mr. Pringles
Produk keripik kentang ini mulai dijual di Amerika Serikat tahun 1968 dan diedarkan ke seluruh dunia tahun 1970. Logonya begitu ikonik hingga orang bisa menebak hanya dari kumisnya. Apakah Anda mengenal pria yang berkumis seperti Mr. Pringles? (dari berbagai sumber)

FN:Buat komunitas kumis di mana saja berada.
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Best WordPress Themes