Paat Masih Pakai Setrika Berkepala Ayam

Setrika jadul berkepala ayam
SANG surya turun ke peraduan ketika warga berkumpul di rumah kepala jaga VII Desa Tondey Kecamatan Motoling Barat Kabupaten Minahasa Selatan, Fredy Telew (57) hari Selasa (1/10/2013).

Wajah-wajah itu tampak ceria. Yohanis Sarayar (67) asyik bermain kartu di beranda rumah Fredy sampai kegelapan menyelimuti kampung yang belum tersentuh jaringan listrik  itu.

Kepala jaga mulai membuka cerita. Dusun jauh  Tondey berdiri sekitar tahun 1968, saat tujuh orang petani membuka lahan. Seiring perjananan waktu makin bertambah populasinya. Youtje Telew (66), menyebut sekolah pertama di dusun ini dibangun  awal  tahun 1980-an. Fredy Telew mengakui pemerintah memberikan bantuan genset tahun 2006.  T etapi genset itu hanya bisa dioperasikan tiga hari sekali selama tiga jam guna menghemat bensin yang harganya mencekik leher.

 "Kami membutuhkan 15 liter bensin untuk dua malam. Itu hanya untuk tiga jam per hari. Waktu yang dipilih malam hari,"  tuturnya. Sebanyak 63 KK di dusun ini  wajib membayar Rp 30 ribu per bulan.

Permintaan itupun ternyata sulit dipenuhi semua warga dusun jauh Tondey. Maklum, sebagian besar mereka berprofesi sebagai petani. Pada malam tanpa listrik dari genset, warga Tondey manfaatkan lampu botol berbahan bakar minyak tanah.
Frengky Telew (32) mengatakan bermain kartu menjadi hiburan satu-satunya di dusun itu. Mereka tidak punya pesawat televisi "Kami cepat-cepat pulang dari kebun untuk main kartu. Ibu-ibu juga cepat masak sebelum gelap" katanya.

Etni Paat, istri kepala jaga mengatakan lampu botol  menjadi andalan meskipun rumahnya kotor akibat asap dari lampu itu. Empat lampu botol dipakai  terus- menerus sepanjang minggu. "Kira-kira dua liter minyak tanah yang dihabiskan selama seminggu," ujarnya. "Kalau ada ibadah, kami menggunakan lampu petromaks di malam hari," kata Etni Paat.

Karena ketiadaan listrik itu, hampir tidak ada peralatan elektronik lain selain handphone.  Setrika pun tidak dimiliknya. "Kalau untuk setrika kami memakai sabun," kata Etni bercanda. Maklum mereka tidak memiliki setrika sama sekali.
Kalaupun sangat butuh dia meminjam setrika model lama yang gunakan arang kelapa milik pemimpin agama di dusun itu. "Itu setrika bara. Hanya dua keluarga yang punya. Namanya setrika ayam," ujar Etni lagi sambil tertawa.

Anak-anak di dusun ini pun jarang belajar pada malam hari.Tribun Manado yang bermalam di dusun itu pada Selasa (1/10/2013), melihat anak-anak sudah beranjak tidur sekitar pukul 20.00 Wita setelah makan malam.

Kepala Desa Tondey, Johny Kawengian yang didampingi sekretaris Robby Piri dan kaur pembangunan  Erol Lumowa berharap jaringan listrik PLN segera masuk ke desa tersebut. Daerah ini kaya dengan komoditi pertanian dan perkebunan. "Tondey raya menghasilkan 800 ton kopra. Untuk cengkih seribu ton. Sedangkan untuk gula aren tiga ton per hari dengan 300 pengrajin," ujar Kawengian, Rabu (2/10/2013).

Nasib serupa masih dirasakan warga UPT Sangkilang Desa Serei Kecamatan Likupang Barat Kabupaten Minahasa Utara. Belum seluruh warga Sangkilang menikmati listrik. Keluarga Revian Ali (41), misalnya,  mengakui masih menggunakan setrika model lama dengan sumber bara dari tempurung kelapa. Untuk memasak keluarganya menggunakan kayu bakar.

"Kalau setrika pakaian kami gunakan setrika bara dari arang tempurung kelapa," tutur Ali kepada Tribun Manado di desa itu, Selasa (1/10). Ali yang hobi menonton sepakbola menikmatinya di televisi milik sepupu. "Kalau mau nonton bola harus pergi ke rumah sepupu, kalau jadwal mainnya subuh biasanya sepupu saya memberitau kalau ada jadwal sepakbola subuh," sebutnya.(dma/crz)

Sumber: Tribun Manado 3 Oktober 2013 hal 1

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Best WordPress Themes