Selamat Jalan Bupati Ema

HJ Gadi Djou
SEBAGIAN besar perjalanan kariernya dihabiskan di bidang pemerintahan. Tetapi, perhatiannya di bidang pendidikan tidak sedikit. Buktinya, sejak tahun 1980, bersama pimpinan DPRD, tokoh masyarakat, alim ulama, tokoh pendidikan di Kabupaten Ende, dia mendirikan Yayasan Perguruan Tinggi Flores dan Universitas  Flores.

Itulah Herman Joseph Gadi Djou, Drs Ekon. Bagi sebagian besar masyarakat Kabupaten Ende dia memiliki sapaan akrab yakni Bupati Ema Gadi Djou. Agaknya pantas jika dia mendapat predikat sebagai tokoh pendidikan di Kabupaten Ende, bahkan Flores umumnya. 

 Kini, sosok yang akrab disapa HJ Gadi Djou itu  tinggal kenangan. Ia telah pergi meninggalkan istri, anak-anaknya beserta sanak keluarganya untuk selama-lamanya.
Bupati Ende periode 1973-1983 ini meninggal dunia pada Sabtu (5/7/2014), sekitar pukul 23.52 WIB di Rumah Sakit Panti Rapih, Yogyakarta. Dia meninggal dalam usia  77 tahun lebih.

Meski lebih dikenal sebagai pejabat birokrat, HJ Gadi Djou yang lahir pada 4 April 1937 di Ndona-Ende, pernah menjabat Rektor Universitas Flores tahun 1980-1983. Dan, sejak tahun 1980 hingga sekarang, HJ Gadi Djou  menjabat Ketua Yayasan Perguruan Tinggi Flores.

Informasi yang diterima Pos Kupang dari anak sulungnya, Anna Maria Gadi Djou, Minggu (6/7/2014), di rumah duka Jalan Sam Ratulangi, Kota Ende, sebelum meninggal almarhum sempat dirawat di Rumah Sakit Panti Rapih Yogyakarta beberapa kali. "Bapak menderita komplikasi penyakit, seperti tumor di usus dan terakhir menderita penyakit infeksi saluran kencing," tutur Anna.

Anna mengatakan, ayahnya meninggalkan Kota Ende dan berangkat ke Yogyakarta pada November 2013. Ayahnya ke Yogyakarta untuk berisirahat dan  mengobati penyakit yang dideritanya. Sejak itu HJ Gadi Djou tidak pernah lagi kembali ke Ende hingga ajal menjemputnya pada Sabtu (5/7/2014).

Menurut rencana, jenazah HJ Gadi Djou tiba di Ende hari ini, Senin (7/7/2014), dan  disemayamkan di rumah duka, Jalan Sam Ratulangi, Kota Ende.  HJ Gadi Djou meninggalkan seorang istri, Ny. Maria Aloysia Parera, tiga orang anak, yaitu  Anna Maria Gadi Djou, Dr. Laurensius Dominicus Gadi Djou, dan Joseph Alfonsius Gadi Djou, serta empat orang cucu, yakni Matheus Reynaldi, Patrsia Maria D Ndoenboey, Maria Rianty Gadi Djou dan Antonia Maria Gadi Djou.

Semasa hidupnya, HJ Gadi Djou memegang sejumlah jabatan di bidang pemerintahan, seperti Kepala Divisi Ekspor dan Impor Kantor Gubernur NTT, Wakil Kepala Biro Inspeksi Keuangan dan Pajak, Kepala Biro Inspeksi Keuangan dan Pajak tahun 1967. Kepala Biro Ekonomi tahun 1968 dan Wakil Direktur Perusahaan Daerah NTT tahun 1968. Selain itu, HJ Gadi Djou pernah menjabat Bupati Ende periode tahun 1973-1983. Asisten II Setda  NTT Bidang Ekonomi dan Pembangunan tahun 1985-1995. Kepala BP7 Propinsi NTT tahun 1995-1997.

HJ Gadi Djou juga aktif di organisasi kemasyarakatan seperti Ketua PMKRI Cabang Kupang tahun 1967-1969, Komisaris Daerah PSSI NTT 1986-1973, Sekretaris II Kokamendragi tahun 1967, Anggota Pengurus DPD I Golkar NTT tahun1967, Sekjen Partai Katolik NTT tahun 1968-1970, Ketua Dewan Penasihat DPD II Partai Golkar Kabupaten Ende, Kwartir Daerah Gerakan Pramuka NTT tahun 1984-1997, Ketua Ikatan Sarjana Katolik (ISKA) NTT tahun 1994-1997, Ketua Badan Pekerja Harian Dewan Kesenian Daerah Kabupaten Ende Tahun 1999-2004.

HJ Gadi Djou pernah mengikuti kursus Help Magistraat/Pembantu Jaksa, Project Appraisal pada Lembaga Manajemen Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia, Orientasi Pemerintahan, Orientasi Pembangunan Bidang Agraria, Sekolah Staf Pimpinan Administrasi (SESPA), Tarpadnas, Penataran P4 Pusat/Menggala.

Penugasan luar negeri ke Dili, Timor Portugis tahun 1968 untuk pembukaan penerbangan Zamrut, Hongkong tahun 1969 untuk Penelitian Ekspor Ternak, Darwin, Australia Utara tahun 1990, 1991 dan 1992 mengikuti Expo. Ke Singapura, Bangkok, Korea Selatan, Taipe, Bombay, New Delhi tahun 1992 untuk studi perbandingan tentang kayu cendana dan hasil pengolahannya, Paris (Prancis) tahun 1994 sebagai Anggota Delegasi Pramuka Indonesia pada Kongres Pramuka se-Dunia.

HJ Gadi Djou mendapat tanda jasa/penghargaan Cincin Emas Kelas II Nusa Tenggara Timur dari Gubernur NTT, Satya Lencana Karya Kelas II dari Presiden RI, Piagam Penghargaan No. 707/1983 dari Ketua Kwartir Nasional Gerakan Pramuka.
Sebelum meninggal, kata Anna, ayahnya tidak menitipkan pesan khusus.  Namun, tutur Anna,  sang ayah mengatakan bahwa jika memang sudah waktunya dipanggil Yang Kuasa, dia telah siap. Selamat jalan tokoh pendidikan. (rom)

Sumber: Pos Kupang 7 Juli 2014 halaman 1


Baca Juga
Lebu Raya Sebut Gadi Djou Putra Terbaik
 
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Best WordPress Themes