Terpikat Indahnya Cahaya Kunang-Kunang

Kunang-Kunang edisi Oktober 2011
TIGA Tahun setelah membangun Penerbit Nusa Indah tahun 1970, Pater Alex Beding, SVD merasa belum puas karena buku pada masa itu belum menjadi kebutuhan masyarakat Flores dan Lembata. Harga buku pun relatif mahal sehingga tidak mudah dijangkau berbagai lapisan masyarakat.

Berdasarkan hasil diskusi dengan rekan-rekannya dan terutama mendapat persetujuan dari pimpinan SVD Regio Flores, Alex Beding merintis terbitnya media massa cetak yang akan memenuhi kebutuhan masyarakat umum. Tentang penerbitan pers ini Alex Beding menulis kenangan berikut sebagaimana dikutip Steph Tupeng Witin dalam buku “Bersyukur dan Berharap, Kenangan 60 Tahun Imamat Alex Beding, SVD” (Ledalero 2011, hal 35-36).

“Dengan buku kami belum melayani kebutuhan lebih banyak orang. Buku belum menjadi kebutuhan dan juga terlalu mahal. Maka saya mengajukan gagasan untuk penerbitan pers. Sudah lebih dari 10 tahun majalah Bentara berhenti. Kami mulai ramai berdiskusi dan memutuskan untuk menerbitkan majalah umum DIAN. Untuk majalah anak-anak KUNANG-KUNANG kami mendapat Sr. Emanuel Gunanto OSU yang dengan senang hati mau menjadi pemimpinnya. Suster Ema, begitu nama akrabnya, sangat berhasil bersama dengan pembantu-pembantunya.”

Dengan mottonya yang padat berisi Membangun Manusia Pembangun, majalah DIAN akhirnya terbit perdana di Ende pada tanggal 24 Oktober 1973. Hari itu bertepatan dengan Pater Alex Beding merayakan ulang tahun imamatnya yang ke-22. Tanggal lahir Majalah DIAN sama dengan tanggal Alex Beding ditahbiskan menjadi imam sulung asal Lembata di Gereja Paroki Nita, 24 Oktober 1951.

Tanggal kelahiran DIAN agaknya dengan sengaja dipilih sang pendiri agar mudah diingat. Tidak lama berselang Alex Beding dkk menghadirkan majalah bulanan KUNANG-KUNANG untuk anak-anak. “Syukur kepada Tuhan, kedua majalah ini hidup sampai merayakan pesta perak!” demikian Alex Beding dalam kenangannya.

Empat belas tahun setia mengunjungi pembaca di berbagai pelosok Nusa Tenggara Timur (NTT) dalam bentuk majalah bulanan, pada tahun 1987 atau tiga tahun setelah Alex Beding melepas jabatan Pemimpin Umum DIAN dan KUNANG-KUNANG, majalah DIAN berubah. DIAN menjadi Surat Kabar Mingguan DIAN. Saat Harian Flores Pos mulai diterbitkan pada tahun 1999, perlahan-lahan DIAN bergeser menjadi semacam edisi hari Minggu dari Harian Flores Pos. Dan pada tahun 2006, Mingguan DIAN tidak lagi mengunjungi pembacanya.

Selama 33 tahun keberadaannya, DIAN sungguh telah menjadi dian, lilin dan suluh bagi masyarakat Flobamora melalui karya jurnalistik para pengelolanya. Fakta ini tidak bisa dan tidak patut ditampik siapa pun. Bahkan amat banyak putra-putri NTT yang terjun sebagai wartawan atau penulis di negeri ini, pertama kali mendapat ruang ekspresi dan ruang belajar menulis melalui Majalah/ Mingguan DIAN.

Nasib baik masih memihak warisan Alex Beding lainnya yaitu majalah KUNANG-KUNANG. Meski vakum beberapa saat, majalah anak-anak itu tetap terbit sampai saat ini dan tahun 2013 akan merayakan usia 40 tahun.
Mengenai nama majalah itu, Alex Beding menulis kenangan berikut. “Nama itu saya ambil dari nama seekor binatang. Pada malam hari kunang-kunang akan mengeluarkan cahaya yang sangat indah. Kunang-kunang biasa berkumpul di pohon tertentu dan serempak mengeluarkan cahaya sehingga dapat memberikan penerangan bagi tempat di sekitarnya. Banyak orang suka pada kunang-kunang karena cahayanya. Saya mengibaratkan ilmu pengetahuan seperti kunang-kunang. Ilmu pengetahuan merupakan cahaya yang memberikan pengetahuan kepada manusia, terutama anak-anak.

Ketika mendirikan majalah KUNANG-KUNANG pertama sekali saya ingin meningkatkan pengetahuan dan pendidikan untuk masyarakat. Saya ingin secara khusus bersahabat dengan anak-anak melalui majalah KUNANG-KUNANG. Anak-anak adalah masa depan bangsa. Saya juga ingin agar setelah membaca KUNANG-KUNANG anak-anak bisa menulis karangan, cerita, puisi, melukis, menyanyi, olahraga dan sebagainya.” (Majalah KUNANG-KUNANG edisi Oktober No. 10 Tahun XXXVIII, 2011, hal 16).

Atas jasanya merintis penerbitan buku lewat Nusa Indah dan menghadirkan majalah DIAN dan KUNANG-KUNANG serta berbagai karya tulis baik dalam bentuk buku maupun artikel di media massa terbitan dalam dan luar negeri, maka pantaslah jika Alex Beding, SVD dikenang sebagai salah satu tokoh pers terkemuka di Propinsi NTT.

Organisasi profesi kewartawanan tertua di negeri ini yakni Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) tidak lupa memberi penghargaan terhadap salah seorang anggota seniornya itu. Pada peringatan Hari Pers Nasional (HPN) tingkat Propinsi NTT tahun 2009, PWI Cabang NTT memberikan piagam penghargaan untuk Alex Beding, SVD secara pribadi dan kepada Percetakan Arnoldus Nusa Indah Ende secara institusi.

“Award itu diberikan oleh Ketua PWI Cabang NTT, Dion DB Putra pada peringatan Hari Pers Nasional (HPN) ke-63 bertempat di Sekretariat PWI NTT di Kupang, Sabtu (28/2/2009),” demikian berita Harian Flores Pos edisi Senin, 2 Maret 2009 halaman 13. Karena Pater Alex berhalangan hadir, penghargaan tersebut diserahkan kepada wartawan Flores Pos di Kupang, Leo Ritan yang kemudian diteruskan kepada Pater Alex Beding dan pimpinan Percetakan Arnoldus Ende.

Atas usul PWI Cabang NTT juga pada tahun 2011 ketika NTT dipercaya sebagai tuan rumah Hari Pers Nasional (HPN) yang diikuti ribuan delegasi dari seluruh Indonesia termasuk Presiden Susilo Bambang Yuhdoyono, Alex Beding mendapat penghargaan dari Pemerintah Propinsi NTT berupa cincin emas kelas II.

Penghargaan tersebut diserahkan Gubernur NTT, Drs. Frans Lebu Raya pada acara jamuan makan malam dengan seluruh peserta HPN di Restoran Teluk Kupang, Selasa (8/2/2011). P Charles Beraf, SVD mewakili Pater Alex Beding menerima penghargaan tersebut.

Selain Pater Alex Beding, SVD, Gubernur Lebu Raya juga menyerahkan penghargaan kepada sembilan wartawan lainnya yang berjasa bagi kemajuan daerah ini. Mereka adalah Valens Goa Doy (alm), Julius R Siyaramamual (alm), Peter A Rohi, Aco Manafe, Gerson Poyk, Rikard Bagun, Laurens Tato, Frans Padak Demon dan Primus Dorimulu (Harian Pos Kupang, 9 Februari 2011 halaman 1).

“Pater Alex merima penghargaan ini, bukan hanya karena dia mulai mengelola DIAN pada tahun 1973, tetapi dan terlebih karena jiwa dan semangat kerja keras dan usaha kreatif dalam mengelola majalah pertama di NTT tersebut. Dia tidak sekadar memulai dan mempertahankan majalah dalam jangka waktu yang lama. Lebih dari itu, di tengah keterbatasan saat itu, dia berusaha keras dengan kreativitas, keyakinan dan cinta untuk menghadirkan kepada warga dan umat bahan bacaan bermutu.” Demikian catatan Dr. Paul Budi Kleden, SVD dalam buku “Bersyukur dan Berharap, Kenangan 60 Tahun Imamat Alex Beding, SVD” (Ledalero 2011, hal 101-102).

Menurut Paul Budi Kleden, Pater Alex mempunyai bakat dan perhatian besar terhadap kerasulan media massa. Bakat ini dikembangkan dan menemukan ekspresinya dalam berbagai bentuk, seperti majalah DIAN dan KUNANG-KUNANG serta berbagai buku yang ditulis atau diterjemahkannya. Usaha penerjemahan dan penerbitan ini masih terus dilanjutkannya dalam usianya yang mendekati angka 90 tahun (hal 102).

Pada bagian penutup catatannya (hal 126-127), Paul Budi Kleden menulis sebagai berikut. “Kontribusi besar Pater Alex untuk kerasulan media cetak bukanlah sebuah prestasi yang berdiri sendiri. Kesetiaan dan keuletan Pater Alex dalam membaca, menulis, menerjemahkan, mengedit dan menerbitkan bukanlah satu bentuk pekerjaan yang digeluti sekadar memenuhi hasrat pribadi dan mencari kepuasan sendiri. Tugas ini adalah panggilan dan misi yang berakar dalam tradisi Gereja dan menjadi satu medan karya khusus SVD sejak berdirinya.

Pater Alex telah melaksanakan dengan sungguh-sungguh visi Arnold Janssen, agar kerasulan media cetak memberikan kontribusi bagi perkembangan iman umat dan mempengaruhi opini publik melalui bacaan bermutu. Dengan kesungguhan kerja ini Pater Alex memberikan motivasi dan inspirasi bagi keterlibatan siapa saja dalam media cetak. Terima kasih Pater Alex untuk semangat yang tidak mengenal batas usia.” (dion db putra/bersambung)

Sumber: Harian FloresStar 1 Februari 2012 halaman 1

Artikel Terkait
Intan Imamatnya jadi Mahkota Bagi Lembata
Dia Menjala di Lautan Lain
Dari Mataloko ke Ende demi Nusa Indah
Membangun Nusa Indah dari Kantor Sederhana
Reaksi:

0 komentar:

Poskan Komentar

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Best WordPress Themes