Nostalgia Natal

Gerson Poyk
Oleh Gerson Poyk

NATAL telah mendunia. Dari kacamata kebudayaan, hari Natal tampaknya bersifat komersial. Jadi, ada kebudayaan materialnya. Akan tetapi semuanya muncul dari kebudayaan spiritual. Dilihat dari segi kebudayaan spiritual, sebenarnya Natal adalah getaran batin.

Adalah tenaga spiritual di mana berakar akal manusia, imajinasinya dan segala kekuatan naluri. Ia bagaikan bunga dengan satu tangkai spiritual tempat daun-daun bunga bertumpu. Natal adalah ekspresi cinta ilahi dalam bentuk tubuh yang ikut tumbuh bersama manusia, ikut rubuh dan bangkit mengisi harapan dan cinta.

Ia datang dari negeri jauh sejuta tahun cahaya dan siapa yang percaya ia akan tenang depan televisi atau komputer yang mampu mempertunjukkan kisah-kisah maya orang-orang yang sudah tiada. Kalau komputer saja bisa menghidupkan orang yang sudah tiada, tentulah Tuhan yang maha sanggup itu bisa menciptakan kelahiran dan kebangkitan. Imanuell!

Di seluruh dunia perayaan Natal tampak meriah. Di hotel-hotel, di super dan hiper market ada pohon Natal dengan lagu-lagu Natal segala. Di gereja-gereja di seluruh dunia kebudayaan Natal tampak dalam aspek materialnya. Kebudayaan material Natal di Amerika beda sekali dengan di Indonesia. Apartemen, rumah-rumah gedongan tampak sepi.

Di jalan-jalan tampak keluarga-keluarga yang merayakan hari Natal dengan meluncur ke tempat peristirahatan di gunung dan di atas mobil tampak papan selancar dan sampan bermotor kecil untuk berselancar dan meluncur dengan perahu kecilnya di danau dan pantai. Hari Natal adalah hari manusia di negeri industri melepaskan diri dari tenaga yang direbut oleh kapitalisme industrial.

Terbang dari Midwest ke Washington di hari Natal, suasananya biasa-biasa saja. Di hotel hanya ada pohon Natal. Kalau rindu akan keramaian Natal mengalirlah ke kelap-kelap untuk berajojing ria. Ruangan yang besar penuh dengan orang-orang muda lelaki dan perempuan bergerak-gerak liar melepaskan diri dari tumpukan tekanan kerja di kerajaan industri dan mamon. Tenaga yang dirampas setiap hari oleh uang dikembalikan lagi oleh liburan Natal.

Atau masuk ke restoran mencari makanan enak, puisi kuliner. Waktu mengunyah pork, penulis mengenang hari Natal di kampung halaman. Biasanya hari Natal di kampung, papa to'o (paman ) dibantu oleh anak-anak muda menyembelih babi. Para te'o menyulap daging mentah itu menjadi puisi kuliner. Para manahelo, penyair pemimpin tari kabalai menyanyikan syair-syair yang indah karena bahasa sehari-hari yang mudah dimengerti oleh akal sehari-hari, dicampur dengan bahasa imajinasi dan bahasa perasaan serta kemerduan bunyi sehingga terasa enak sepertinya daging mentah yang dicampur dengan segala bumbu dan makanan lain sehingga menjadi puisi kuliner.

Begitu pula para manahelo di pulau kelahiran, meramu bahasa akal, bahasa imajinasi dan dan kemerduan bunyi yang menggetarkan perasaan jadi satu dalam puisi yang dinyanyikan oleh manahelo.

Terbayang, rumah orang Rote yang masih primitif, atap daun yang kumuh, kolong rumah berlantai tanah tetapi di sana ada meja panjang, dengan man meja yang putih bersih, piring dan sendok serta gelas yang berisi air bening. Makanan ditata di atas meja. Pendeta duduk di kepala meja dan papa to'o (paman) duduk di kepala meja yang lain. Mama to'o dan anak cucu duduk berderet berhadapan.

Pendeta sembahyang. Sembahyang terus, sembahyang terus sehingga adik yang paling kecil mengomel, "Kok sembahyangnya lama sekali, sudah lapar nih!" Kakak perempuannya menutup mulutnya. Itulah kenangan hari Natal di kampung. Di hari Natal orang tak berani minum sopi dan anggur Rote (laru) tetapi nanti di tahun baru, daging kerbau dan domba berkelimpahan, makanan enak tersaji dan semua mulut orang berbau sopi (wiski Rote). Musik sesando meramaikan suasana tahun baru. Ah, luar biasanya nostalgia di hari Natal di negeri orang.

Hanya di gereja nostalgia Nusa Tenggara agak terlupakan. Suasananya, kotbahnya, sembahyangnya seperti di kampung halaman. Semua orang jadi satu dalam tubuh Kristus walaupun kulit berbeda. Bedanya Cuma bahasa Inggris.(Pos Kupang.Com, Sabtu, 24 Desember 2011 | 10:05 WITA)
Reaksi:

0 komentar:

Posting Komentar

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Best WordPress Themes