Tiga Syarat Kembalikan Kejayaan Bahari

Cucu Ibu Sud dan Didik Heru Purnomo
JAKARTA, FS - Bangsa Indonesia harus segera mengubah mindset dan cara pandang atas lautnya jika ingin mengembalikan kejayaan bahari nusantara. Ada tiga syarat yang harus dipenuhi bangsa Indonesia.

Demikian inti pesan buku “TAHUN 1511 – Limaratus Tahun Kemudian” yang ditulis Laksdya TNI Didik Heru Purnomo (Kalakhar Bakorkamla RI) bersama 30 wartawan seluruh Indonesia. Buku terbitan Gramedia Pustaka Utama itu diluncurkan di Jakarta, Rabu (21/12/2012).

Syarat pertama, laut harus dipandang sebagai faktor yang menyatukan dan bukan yang memisahkan pulau-pulau yang ada di Indonesia. Kedua, Indonesia harus melakukan reformasi birokrasi kelautan untuk mengatasi tumpang tindih peraturan yang merupakan penghambat kembalinya kekuatan dan kejayaan laut bahari Indonesia sebagaimana pernah dicapai pada 1000 tahun lalu. Ketiga, diperlukan political will dari pemerintah serta bangsa ini untuk membentuk satu wadah tunggal yang bermulti fungsi (multi task single agency) agar keamanan, keselamatan dan serta kekayaan perairan Indonesia dapat terjaga.

Editor buku itu, Putut Prabantoro dalam siaran persnya kepada FloresStar, Selasa (27/12/2011) menyebutkan, peluncuran buku tersebut menghadirkan pembicara Laksdya TNI (Purn) Djoko Sumaryono - Mantan Kalakhar Bakorkamla dan Sekjen PPAL (Persatuan Purnawirawan Angkatan Laut), Dr. Ir. Son Diamar, M.Sc – Anggota Dewan Kelautan Indonesia, Franciscus Welirang – Pengusaha, Kornelius Purba - Senior Managing Editor The Jakarta Post dan G.A. Guritno – Redaktur Majalah Gatra. Diskusi bedah buku dipandu Putut Prabantoro - Editor Buku “Tahun 1511, Limaratus tahun Kemudian”.

Buku ini menceritakan harapan bangsa Indonesia akan kembalinya kejayaan lautnya yang pernah diraih sebelum tahun 1511. Indonesia adalah negara kepulauan terbesar di dunia. Jarak diagonal antara Sabang ke Merauke adalah sama dengan jarak London ke Istambul. Sebelum tahun 1511, Indonesia yang dulu dinamakan Nusantara sangat dikenal dengan kekuatan lautnya dan sangat disegani negara tetangga bahkan China. Pada saat itu, perairan selat Malaka dan laut wilayah Timur Asia dikuasai Nusantara. Kehebatan pelaut Indonesia sudah ada sejak abad kedua, ketika pelaut Indonesia mengarungi laut lepas hingga Madagaskar, Afrika.

Namun sejak jatuhnya Malaka ke tangan Portugis pada tahun 1511, praktis kekuasaan Nusantara atas laut hilang. Kejatuhan Malaka diawali dengan ditemukannya jalur rempah-rempah oleh Ludovico Di Varthema, petualang dari Bologna - Italia yang menjejakan kaki pertama kali di Ternate pada 1506 saat Sultan Bayanullah memerintah (1500 -1521). Kekuasaan Nusantara atas lautnya semakin tak mungkin direbut kembali setelah tewasnya Dipati Unus dari Demak tewas dalam penyerangan ke Malaka pada 1521.

Limaratus tahun setelah kejatuhan Malaka, laut Indonesia belum mendapat perlakuan semestinya. Menurut Didik Heru Purnomo, meski sudah merdeka 66 tahun, bangsa Indonesia belum dapat mengelola, mengamankan dan menjaga lautnya. Hal ini bisa dipahami karena tumpang tindihnya peraturan laut Indonesia. Dijelaskan, cara yang termudah untuk membangun kembali kejayaan bahari Indonesia adalah dengan mengubah cara berpikir bangsa Indonesia.

“Laut itu yang menyatukan bukan memisahkan. Jika dipandang bahwa laut memisahkan pulau-pulau yang ada di Indonsia, impian untuk membangun kejayaan bahari Indonesia tidak pernah akan terjadi. Namun, jika mindset kita melihat bahwa laut itu yang menyatukan, ini merupakan langkah awal yang baik melihat Idnoensia sebagai bangsa yang besar,” kata Heru Purnomo.

Hambatan utama kejayaan bahari Indonesia adalah tumpang tindihnya peraturan dan karena peraturan itu pula, masing-masing sektor mengedepankan egonya. Menurut Didik Heru Purnomo, ego sektoral itu wajar karena setiap instansi bekerja berdasarkan undang-undangnya masing-masing.

Buku dengan tebal 247 halaman ini mendapat KataPengantar dari Marsekal TNI (Purn) Djoko Suyanto (Menkopolhukam selaku Ketua Bakorkamla), Purnomo Yusgiantoro (Menhan) dan Laksamana TNI Agus Suhartono (Panglima TNI). Buku ini juga memuat komentar empat tokoh nasional yakni Letjen TNI (Purn) Kiki Syahnakri (Mantan Wakasad), Franciscus Welirang (Pengusaha), R. Priyono (Kepala BPMIGAS) dan KH Salahuddin Wahid (Ketua Gerakan Integritas Bangsa). (osi)


Penghargaan buat Ibu Sud

ADA yang mengharukan dalam acara peluncuran buku pada pekan lalu itu. Pada kesempatan itu Laksdya Didik Heru Purnomo memberikan tanda penghargaan kepada Bintang Sudibyo (Ibu Sud) pencipta lagu “Nenek Moyangku” berupa kapal. Penghargaan itu diterima Carmanita, cucu dari Ibu Sud. Carmanita kala itu ditemani beberapa cucu Ibu Sud yang lainnya.


“Saya merasa bahagia dalam acara ini, Ibu Sud mendapat perhatian dari kalangan TNI Angkatan Laut. Ini membesarkan hati karena Eyang Putri (Ibu Sud-red) terus dikenang oleh bangsa Indonesia melalui lagu-lagunya,” ujar Carmanita, yang juga desainer batik eksklusif. Selain mengarang lagu “Nenek Moyangku”, Ibu Sud juga mengarang banyak lagu nasional Indonesia termasuk lagu Tanah Air.


Kehebatan pelaut nusantara dulu, sebagaimana digambarkan dalam lagu “Nenek Moyangku” diakui Kasie Intel Bea dan Cukai, Tanjung Balai Karimun pada Desember 2010 ketika menangkap pelaku penyelundup 50 ton bahan peledak yang diangkut dari Malaysia (halaman 7). Ditulis dalam buku tersebut, sebagaimana mengutip pernyataan Kasie Intel Bea dan Cukai Tanjung Balai Karimun, “Orang Buton dan Bugis adalah dua suku paling berani menerjang ganasnya Laut China Selatan. Tidak ada suku lain di Indonesia yang mampu menembus Laut China Selatan yang berbahaya itu.”


Kehebatan itu dilukiskan bahwa penyelundupan itu dilakukan dengan menggunakan perahu kayu sementara medan yang dihadapinya sangat ganas. Para penyelundup dari Sulawesi itu untuk membawa barang selundupan dari Malaysia dengan tujuan Sulawesi harus melewai Laut China Selatan, Laut Sulu dan Laut Sulawesi. Laut China Selatan terkenal sangat ganas, tidak kenal ampun bagi para pelaut yang hanya memiliki setengah nyali.


Sementara salah seorang pembicara dalam peluncuran buku, Djoko Sumaryono mengatakan bahwa diperlukan komitmen yang kuat untuk membangun kejayaan bahari Indonesia. Membangun kejayaan bahari Indonesia harus dimulai dengan membangun ekonomi kelautan.

Pembicara lain, Franciscus Welirang menegaskan bahwa harus ada kejelasan birokrasi dalam operasi di laut. Bagaimanapun juga kekuataan laut Indonesia hanya bisa dibangun ketika masalah birokrasi bisa diatasi. “Keluhan para pengguna laut adalah banyaknya para aparat dari berbagai instansi yang merasa memiliki tanggung jawab di laut. Namun ketika ada masalah yang muncul di laut, tidak ada instansi yang merasa bertanggung jawab,” ujarnya. (osi)

Sumber: Harian FloresStar 28 Desember 2011 halaman 10
Reaksi:

0 komentar:

Posting Komentar

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Best WordPress Themes