Pak Visi

Namanya Vinsen, disapa Visi. Calon anggota legislatif. "Mereka mau uji saya punya kekuatan? Kau lihat nanti, pokoknya rataaa!"

KAMPUNG punya kisah sendiri. Selalu rindu menarik ingin. Maka izinkan beta kali ini berkisah tentang Visi. Kembali bertutur ikhwal kiprah saudaraku. Sepupu jauh di kampung. Dia bangga disapa Pak Visi. Tak marah dicap seperti penjual obat di Pasar Wolowona, kuat 'cari muka' dan 'omong besar'.

"Ini resiko mau jadi anggota Dewan," katanya ngakak saat kami menghangatkan badan, dengan bara sebatang ara di kampung kami yang udik, lereng gunung yang dingin di Flores tengah.

Pagi di awal Oktober, fajar masih malas menyingsing. Pak Visi telah berkali-kali berkata tentang visi dan misi. Misi sebagai DPR, visi sebagai anggota parlemen. "Saya nomor urut dua di dapil (daerah pemilihan) kecamatan kita. Nomor satu ketua ranting partai. Tapi saya tidak ragu. Saya bisa lolos jadi DPR," kata Vinsen, lulusan sebuah SMA ternama di Ende.

Kenapa begitu optimis? "Aih, saya ini bekas ketua Mudika (organisasi pemuda-pemudi beragama Katolik) ko. Bekas ketua RW dan sekarang ketua lingkungan. Pastor paroki kenal baik, pak camat, babinsa, kapolsek kenal saya. Semua orang kenal saya. Kenapa kau ragu?" kata Vinsen. Rokoknya ditarik dalam- dalam. Mengembus napas perlahan, mengepul-ngepulkan asap.

Vinsen melanjutkan cerita. Sejak resmi terdaftar sebagai calon anggota legislatif (caleg) bulan Juli lalu, irama hidup pria berusia 42 tahun itu di kampung agak berubah meski dia tetap berkebun serta mengurus babi, kambing dan ayam. Tak lupa seminggu sekali memandikan kuda betinanya yang sedang bunting kali ketiga.

Yang berubah adalah tiada hari tanpa bicara "visi dan misi". Dia rajin berkunjung ke kampung-kampung terdekat, ke sawah dan ladang tetangga. Ngobrol di pondok berjam-jam. Dulu malas ikut acara nikah, sambut baru, khitanan atau kematian. Sekarang sebaliknya. Tidak diundang pun datang. Semua kesempatan dia pakai.

"Gara-gara begitu saya dipanggil Pak Visi oleh kawan-kawan sebaya. Tiap kali melihat saya, mereka bilang itu Pak Visi datang. Saya malas tahu, malah senang karena mereka mengerti maksud saya. He, kau juga harus dukung karena dari kampung kita belum ada yang DPR," katanya. Lagi-lagi sambil tertawa.

"Ini cara kami di kampung. Tidak perlu pasang iklan di kau punya koran, radio atau televisi. Mau pasang iklan uang dari mana? Saya tidak punya. Tapi coba kau tanya orang-orang di sini, mereka sudah tahu saya caleg,"kata Pak Visi yakin.

Cakapnya berapi-api. Tutur Pak Visi berbuih-buih. Sejenak beta menyela. Berapa banyak partai yang punya caleg di dapilmu ini? "Delapan belas," kata si Visi. Jumlah kursi yang diperebutkan? "Tiga kursi," ujar si Visi. Berapa banyak caleg yang bertarung di dapil sini? "Aih, saya tidak ingat ko. Tapi banyak memang," katanya. Misalnya setiap partai mengusulkan dua orang caleg saja, berarti 36 orang memperebutkan tiga kursi. Kulihat kuping sepupuku itu memerah semu. Kena dia!

Puluhan caleg merebut tiga kursi, yakin akan terpilih? Bukankah suara pemilih tersebar, terbagi-bagi hingga jauh dari syarat lolos? Dasar si Visi. Percaya dirinya selangit. "Mereka mau uji saya punya kekuatan? Tidak apa-apa, kami bakuuji massa. Kau lihat nanti, pokoknya rata!" katanya sambil mengibaskan tangan.

***
SUNGGUH senang menemukan manusia optimis seperti Pak Visi. Caleg memang wajib optimis. Maju tak gentar demi kursi. Tuan dan puan mungkin telah dan segera bertemu dengan tokoh seperti Pak Visi. Juga Bu Visi, anak Visi, mertua dan bibi Visi. Hari-hari ini sampai tahun depan mereka getol berkata tentang visi-misi guna menebar harap, memancing percaya konstituen.

Takdir demokrasi kita melahirkan "keluarga besar visi dan misi". Sejak pilkada langsung bergulir 2005 hingga pilpres 2009, tercatat 18.908 orang meraih kursi lewat pemilu dengan menjual visi-misi.

Berikut rinciannya. Kursi DPRD kabupaten/kota yang diperebutkan seluruh Indonesia sebanyak
15.750, DPRD propinsi 1.998 kursi, 560 kursi DPR, 132 kursi DPD, dua kursi presiden-wapres, 466 kursi kepala daerah dan wakil kepala daerah di 466 kabupaten/kota serta 32 propinsi. Angka 18.908 kursi tersebut untuk yang terpilih. Jumlah yang berusaha merebut bisa dua sampai tiga kali lipat.

Sistem demokrasi langsung menempatkan Indonesia sebagai negara di dunia dengan event pemilu terbanyak. Indonesia menggelar 504 pemilu setiap lima tahun. Artinya, 101 pemilu setiap tahun atau lebih dari delapan pemilu setiap bulan atau dua pemilu setiap pekan.

Tak pelak lagi, kita kebanjiran visi, kehujanan misi. Mendengar visi dan misi hampir saban hari. Inilah negeri seribu visi, sejuta misi. Visi pelawak, misi pemain sinetron, sutradara. Visi pengangguran yang tiba-tiba menjadi penyelenggara negara. Terngiang kata-kata Vinsen di kampung, "Kau lihat nanti, pokoknya rata!" (dionbata@poskupang.co.id)

Beranda Kita (BETA) Pos Kupang edisi Senin, 27 Oktober 2008 halaman 1, http://www.pos-kupang.com/

Di Oenesu Ada Mobil Bagoyang Sandiri

HARI Senin (20/10/2008) siang, jarum jam menunjukkan pukul 11.30 Wita. Air Terjun Oenesu, Kelurahan Oenesu, Kecamatan Kupang Barat, Kabupaten Kupang lengang. Tak ada pengunjung mendatangi lokasi ini.

Terik membakar ubun-ubun. Terasa menyengat. Belasan lopo yang dibangun di lokasi ini kosong. Cuma ada beberapa tukang yang sedang menggali parit untuk pembuatan pagar di sebelah utara lokasi ini. Mereka adalah warga Oenesu.

Tawa dan senda gurau terdengar jelas. Sesekali mereka berteriak hanya sekadar mengusir kepenatan. Begitu panasnya mentari membuat sebagian mereka membuka baju. Dada dibiarkan telanjang. Para tukang ini juga mengikatkan tais, selendang khas Timor di dahi. Tais ini untuk menahan sengatan mentari dan peluh.

Yang lainnya menarik rokok dalam-dalam sembari bercerita. Hal apa saja mereka bahas di bawah sebuah bangunan lopo, persis di tepi Kali Oenesu. Bahkan perbedaaan pendapat pun muncul di antara mereka, seperti diskusi tentang pengembangan daerah tujuan wisata dan dampaknya bagi warga setempat. Ada banyak hal yang mereka diskusikan sebagai bahan masukan untuk pemerintah.

Pertama, tentang tanaman di areal seluas empat hektar itu. Lokasi itu gersang. Jika kita berjalan ke arah air terjun terdapat tanaman yang usianya puluhan, mungkin juga ratusan tahun. Untuk membuat "beranda" lokasi itu menjadi sejuk, maka tak ada cara lain. Menanam dan menanam. Kalau sudah menanam, maka butuh perawatan. Tanaman perlu disiran dan dipupuk agar tumbuh subur.

Kedua, air di kali itu agar terus dibersihkan karena dipenuhi dengan limbah dari perkampungan yang dilewati sungai ini. Ketiga, mereka meminta pemerintah segera membangun kolam renang bagi semua kelompok umur.

Keempat, tentang perilaku pengunjung. Para tukang ini banyak berkisah, lokasi ini akan ramai pada tiap hari Minggu atau hari libur. Bahkan hari biasa pun terdapat pengunjung meski jumlahnya terbatas. Pada hari-hari biasa, mereka yang datang adalah anak-anak muda yang memanfaatkan lokasi ini untuk pacaran.

Jika sekadar jalan-jalan tak soal. Namun, ketika menunjukkan gelagat aneh, maka warga pasti mengusirnya. Para tukang ini bercerita, pernah mengusir sejumlah pasangan dalam waktu berbeda karena berpacaran di atas mobil.

"Kami lihat mobil itu maen bagoyang (mobil terus bergoyang). Dan, sudah berulangkali kami lihat pengunjung aneh-aneh seperti itu. Kami bilang, jangan nodai kampung ini. Ketika itu juga kami usir," kata Markus Buitbesi (40), warga setempat. Pernyataan Markus dibenarkan Stefanus Pong (51), Ketua RT 03/RW 02, Lingkungan II, Oenesu.

Stefanus mengatakan, kejadian ini merupakan konsekuensi dari sebuah perubahan, apalagi bicara tentang pariwisata. Namun, nilai-nilai dan tata krama harus tetap dijaga. Karena itu sebagai warga setempat mereka selalu mengawasi lokasi itu agar steril. Bersih dari berbagai pengaruh negatif.

Warga ini meminta pemerintah mengganti jembatan kayu menjadi jembatan beton. Jembatan ini digunakan pengunjung menuju lokasi air terjun. Ketika menuruni puluhan anak tangga pun sangat berbahaya. Kata "cedera" akan selalu mengingatkan kita ketika melewati jembatan gantung dan anak tangga jika terjatuh.

Di lokasi air terjun udara terasa sejuk. Menggembirakan, apalagi menyaksikan air terjun yang meniti bebatuan terjal, tajam dan berlumut. Percikannya sungguh eksotik. Sebuah kolam alam sangat dalam. Pada tiap hari Minggu atau hari libur banyak warga yang menjadikannya sebagai tempat pemandian. Kedalamannya sekitar delapan sampai sembilan meter.

Apa yang disampaikan warga Oenesu ini tetap kita lihat dalam konteks konstruksif. Sebagai warga di kelurahan ini, sehari-hari terus mengamati obyek wisata ini. Bila penataannya baik akan berdampak pada kontribusi bagi daerah.

Dengan penataan yang lebih baik, arus kunjungan akan lebih banyak. Dengan demikian akan berdampak pula bagi mereka. Seperti bisnis kecil-kecilan dapat laris manis saat pengunjung memadati lokasi terjun ini.

Kita ingin mengatakan bahwa air terjun Oenesu perlu dibenahi lagi. Sudah ada beberapa langkah positif yang dilakukan Pemerintah Kabupaten Kupang. Membangun lopo, anak tangga ke air terjun dan menetapkan pendapatan per tahun untuk lokasi ini. Tinggal dikembangkan lagi. Kita yakin dinas teknis sudah menyiapkan program ke depan. (paul burin)

Pos Kupang edisi Senin, 27 Oktober 2008 halaman 4, http://www.pos-kupang.com/

Hasil Pilkada Sudah Ada di KPUD Belu

ATAMBUA, PK -- Hasil Perhitungan suara Pilkada Belu dari 24 kecamatan sudah ada di sekretariat KPUD setempat. Hari ini, Senin (27/20/2008), KPUD melakukan rapat untuk menentukan kepastian pleno rekapitulasi seluruh hasil pemungutan suara guna menetapkan pasangan calon terpilih.

"Memang sesuai jadwal, pleno untuk rekapitulasi hasil Pilkada di tingkat KPUD antara tanggal 27-29 Oktober 2008. Semua hasil pleno di tingkat PPK (panitia pemilihan tingkat kecamatan, Red) sudah ada di KPUD Belu. Kami tinggal mengundang para kandidat termasuk timnya, Panwas dan pihak terkait untuk mengikuti proses pleno KPUD yang jadwalnya baru kita tetapkan besok (hari ini, Red)," kata Ketua KPUD Belu, A Martin Bara Lay, S.H menjawab Pos Kupang melalui ponselnya, Minggu (26/10/2008).

Pilkada Belu diikuti empat paket calon bupati dan wakil bupati, yakni Joachim Lopez -Ludovikus Taolin (paket Jalin/didukung koalisi Partai Demokrasi Kebangsaan, PKPB, Partai Indonesia Baru, Partai Patriot Pancasila dan Partai Demokrat); Gregorius Mau Bili-Berchmans Mau Bria (paket Gemar/didukung koalisi PDIP, PKPI, PAN, PPD, Partai Merdeka dan PDS); JT Ose Luan-Falentinus Parera (paket Sera/calon independen); dan Petrus Bria Seran-Damianus Talok (paket Brita/didukung Partai Golkar).


Pemungutan suara dilakukan 22 Oktober 2008. Pasca-pemungutan suara, KPUD Belu menayangkan secara terbuka di sekretariatnya, proses rekapitulasi perolehan suara yang dilaporkan dari semua PPK di Belu. Di hari pertama itu, Joachom Lopez (calon inkumbent) unggul sementara dengan 35.611 suara sah, disusul paket Brita 31.611 suara, Gemar 27.597 suara dan paket Sera memperoleh 22.597 suara. Total suara sah 116.948.

Namun di hari kedua, 23 Oktober 2008, KPUD Belu mendadak menghentikan proses rekapitulasi tersebut. Di hari itu, tim sukses Paket Gemar dan Brita mendatangi KPUD Belu mempertanyakan kenapa KPUD Belu mempublikasikan proses rekapitulasi yang dilaporkan dari PPK. Sejak saat itu, KPUD Belu tidak lagi "transparan" tentang perkembangan perolehan suara para paket calon, tidak seperti KPUD-KPUD di kabupaten-kabupaten lain yang juga menyelanggarakan Pilkada.

Bara Lay, kemarin, mengatakan, pihaknya belum bisa mengumumkan perkembangan perolehan suara dari empat paket calon karena KPUD belum melakukan pleno rekapitulasi hasil perolehan suara.

Medali Memimpin di TTS
Dari SoE, ibukota Kabupaten Timor Tengah Selatan (TTS), dilaporkan, pasangan calon Paul Victor R Mella-Benny A Litelnoni (paket Medali) masih memimpin perolehan suara dengan mendulang 66.911 suara, disusul paket Damai, 65.448 suara, Globe, 38.489 suara, Jhonthom, 36.910 suara dan Jetcar, 9.499 suara.

Sampai Minggu (26/10/2007) pukul 17.00 Wita, total suara sah terhitung sudah mencapai 217.257. Jumlah pemilih Pilkada TTS berdasarkan daftar pemilih tetap (DPT) sebanyak 251.296 jiwa.

Ketua Pokja Pilkada TTS, Imanuel Lakapu, kemarin, mengatakan, hasil perolehan suara yang masuk ke KPUD TTS sudah hampir final. Namun ia belum bisa menyebutkan siapa yang menjadi pemenang Pilkada TTS. Alasannya, untuk penetapkan pasangan calon terpilih harus melalui rapat pleno KPUD TTS yang akan digelar hari Rabu (29/10/2008).

"Data yang kami sampaikan masih bersifat sementara. Untuk itu, kami tetap akan memasukkan penambahan data bila ada laporan dari PPK," ujar Lakapu sambil menyatakan bila kotak suara sudah masuk semua dari PPK, maka pleno di tingkat kabupaten dapat digelar lebih awal.

Di tempat terpisah, Ketua Pokja Logistik Pilkada TTS, Kosmas D Sanga mengatakan, seluruh kotak suara dari 32 PPK/kecamatan sudah masuk ke gudang KPUD TTS. Terakhir, tiga kecamatan yang baru memasukkan kotak suara, yakni Kecamatan Amanatun Utara, Kecamatan Kokbaun dan Kecamatan Toianas. "Semua kotak suara sudah berada di gudang KPUD TTS dan dijaga ketat aparat keamanan," kata Sanga.

Menurut pantauannya, tidak ditemukan adanya kerusakan kotak suara. Dia memastikan semua kotak suara masih dalam kondisi yang sama seperti saat dikirimkan sebelum pemungutan suara digelar.
"Begitu pula dengan rekapan dari 32 PPK/kecamatan juga sudah masuk. Untuk membuka rekapan dari masing-masing PPK baru dilakukan pada saat KPUD TTS menggelar pleno," demikian Sanga. (yon/aly)

Pos Kupang edisi Senin, 27 Oktober 2008 halaman 1

Simpati Berantas Korupsi di Alor

KALABAHI, PK -- Calon Bupati dan Wakil Bupati Alor, Drs. Simeon Pally dan Drs. Yusran Tahir (paket Simpati) akan menciptakan pemerintahan yang bersih dan berwibawa, termasuk memberantas korupsi dalam waktu 100 hari kerja. Hal itu dilakukan jika paket Simpati dipercayakan masyarakat untuk memimpin Kabupaten Alor lima tahun ke depan (2009-2014).

Simeon Pally mengatakan hal ini ketika berkampanye di lapangan mini Kota Kalabahi, Sabtu (25/10/2008) sore. Dalam kampanye yang dihadiri pendukung dan simpatisan berjumlah ribuan, Simeon Pally didampingi Yusran Tahir dan sejumlah jurkam yang adalah pengurus partai pendukung, baik tingkat propinsi maupun kabupaten.

Pally menilai rakyat Alor sudah mahir berdemokrasi. Hal itu ditandai dengan banyaknya massa yang hadir dalam kampanye paket Simpati. Pilkada yang merupakan bagian dari demokrasi ini pada intinya berada di tangan rakyat.

Pally mengungkapkan, kalau terpilih sebagai bupati dan wabup Alor, paket Simpati akan melaksanakan visi dan misi, serta program kerja yang telah disusun. Paket Simpati bertekad menjadikan rakyat Alor sejahtera, berkecukupan dalam kehidupan, baik jasmani maupun rohani.

Sedangkan untuk misi paket Simpati, demikian Pally, melaksanakan tugas dengan Tri Krida yakni perbaikan pemerintahan, peningkatan SDM, dan pemberdayaan ekonomi.
Untuk bidang pemerintahan, dalam 100 hari kerja nanti, Pally akan menciptakan pemerintahan yang bersih dan berwibawa, antara lain dengan memberantas korupsi, karena korupsi menyengsarakan rakyat.

Untuk menjaga wibawa pemerintah, diusahakan agar tidak terjadi perbuatan amoral. Selain itu, Pally bertekad menciptakan pemerintahan yang demokratis dan terbuka, serta menempatkan personel sesuai keahliannya, dan akan melakukan pemekaran wilayah mulai dari tingkat desa, kecamatan hingga kabupaten.
Hal menarik lainnya di bidang pemerintahan yang disampaikan Pally adalah memperhatikan kesejahteraan aparat desa. Ketua RT dan RW serta Linmas akan diberi gaji. Demikian pula kepala desa, bila pensiun akan diberi pesangon.

Untuk bidang peningkatan SDM, tandas Pally, Kabupaten Alor masih menempati ranking 16 di NTT untuk tingkat kelulusan ujian nasional (UN). Paket Simpati akan mengembalikan kehormatan bidang pendidikan di kabupaten ini. Guru-guru di daerah terpencil akan diberikan insentif dan biaya perjalanan dinas. Untuk mutasi guru pun akan disediakan anggaran dari APBD II sehingga tidak harus mengeluarkan dana pribadi. Pally juga berjanji akan membuka sejumlah unit sekolah baru.

Di bidang kesehatan, Pally akan memperhatikan secara khusus tenaga medis yang bertugas di pedesaan. Juga akan melobi tenaga dokter umum maupun spesialis PNS dari pusat untuk ditempatkan di Alor. Kepada dokter-dokter yang bersedia tugas di Alor, akan disiapkan rumah dan kendaraan dinas.

Masalah kesehatan lainnya yang menjadi perhatian, kata Pally, meliputi pemenuhan kebutuhan air bersih, masalah lingkungan dan perumahan.

Untuk bidang pemberdayaan ekonomi, Pally menekankan komitmen paket Simpati untuk menaikkan harga komoditi dan menjaga kestabilan harga. (oma)

Pos Kupang edisi Senin, 27 Oktober 2008 halaman 8, http://www.pos-kupang.com

Yoga Gratiskan Akta Kelahiran di Matim

BORONG, PK -- Pasangan Drs. Yoseph Tote, M.Si-Agas Andreas, S.H.M.Hum (paket Yoga) menyatakan, akan melaksanakan program akta kelahiran gratis jika keduanya terpilih menjadi Bupati dan Wakil Bupati Manggarai Timur periode 2008-2013. Selain itu, paket Yoga yang diusung Partai Golkar juga berjanji menstabilkan harga komoditi pertanian.

Yoseph Tote dan Agas Andreas mengatakan hal ini ketika tampil berkampanye di Borong, Minggu (26/10/2008). Kampanye hari terakhir paket Yoga itu dihadiri sekitar ribuan pendukung dan simpatisannya.

Yoseph Tote mengatakan, program lain yang juga menjadi prioritas adalah menciptakan iklim pelayanan secara baik. Karena itu, yang dipentingkan adalah mendekatkan pelayanan kepada masyarakat.

"Manggarai Timur akan menjadi kabupaten contoh, miskin struktur kaya fungsi yang ditunjang dengan struktur yang baik dan kompetensi bukan hasil gosok tangan," kata Tote.

Tote juga mengingatkan seluruh simpatisan paket Yoga untuk menjaga harga diri di masa tenang selama tiga hari terakhir ini. Harga diri tidak boleh digadai dengan hal-hal yang bersifat sementara. "Tetapkan suara hati dan memilih paket Yoga. Yoga adalah pilihan yang tepat untuk memimpin Manggarai Timur," katanya.

Agas mengatakan, sebagai daerah baru, Manggarai Timur membutuhkan pemimpin yang cerdas, rasional dan memiliki kepedulian yang tinggi terhadap masyarakat.

Paket Yoga, demikian Agas, memiliki komitmen sejati untuk membawa perubahan dan harapan baru bagi masyarakat Manggarai Timur. Karena itu, langkah awal yang dilakukan jika terpilih nanti adalah menciptakan kestabilan harga komoditi masyarakat sehingga tidak dikendalikan oleh para pemilik modal.

Agas mengatakan, paket Yoga memberi jaminan terciptanya sirkulasi ekonomi dengan baik. Selain itu, menyiapkan sarana infrastruktur yang baik sehingga pertumbuhan ekonomi berjalan dengan baik. "Aspek kehidupan seluruh masyarakat Manggarai Timur akan diperhatikan secara baik dan bertanggung jawab," kata Agas.

Dikatakannya, Yoga akan menerapkan Undang-Undang secara baik termasuk menerapkan program akta kelahiran secara gratis.
Keterpanggilan Yoga untuk memimpin Manggarai Timur, katanya, lahir dari panggilan untuk memberi pelayanan maksimal kepada masyarakat Manggarai Timur.

"Karena itu percayalah kepada Yoga untuk membangun daerah ini. Yoga komit membangun daerah ini secara adil dan merata menuju masyarakat sejahtera," ujar Agas. (lyn)

Pos Kupang edisi Senin, 27 Oktober 2008 halaman 8, http://www.pos-kupang.com/

Panwas Kupang Temukan Pelanggaran Kampanye

KUPANG, PK -- Panitia Pengawas (Panwas) Pilkada Kabupaten Kupang menemukan beberapa pelanggaran yang terjadi selama masa kampanye calon Bupati dan Wakil Bupati Kupang yang berlangsung 11 - 25 Oktober 2008 . Beberapa diantaranya kampanye melibatkan PNS, kepala desa, anak-anak, penggunaan fasilitas negara, kampanye di luar jadwal.

Ketua Panwas Pilkada Kabupaten Kupang, Nelce Ringu, S.TP saat ditemui, Sabtu (25/10/2008), mengatakan, pelanggaran tersebut merupakan hasil pantauan dan laporan Panwas kecamatan.

Nelce Ringu mengatakan, Panwas sedang mengkaji pelanggaran sebelum memproses lebih lanjut. Menurutnya, jika memang pelanggaran itu merupakan pidana, maka akan diserahkan kepada kepolisian dan pidana pemilu ke sentra penegakan hukum terpadu (Gakumdu) yang terdiri dari kepolisian, kejaksaan dan Panwas Kabupaten.

Nelce Ringu menjelaskan, pengkajian pelanggaran hasil temuan Panwas dilakukan selama 7 hingga 14 hari. Sedangkan pelanggaran yang dilapor oleh pihak lain akan dikaji kurang lebih selama tiga hari.

Nelce Ringu mengatakan, dengan berakhirnya masa kampanye, maka Panwas mulai menertibkan atribut-atribut calon bupati dan wakil bupati. Menurutnya, penertiban atribut oleh panwas kecamatan mulai tanggal 26 Oktober 2008. Atribut dalam bentuk baliho, stiker dan spanduk.

Nelce Ringu mengimbau semua elemen masyarakat bersama Panwas melakukan pengawasan selama proses pencoblosan hingga penghitungan suara, termasuk mengawasi jangan sampai terjadi politik uang. (mas)

Pos Kupang edisi Senin, 27 Oktober 2008 halaman 8, http://www.pos-kupang.com

Imago Tahu Kebutuhan Rakyat Alor

KALABAHI, PK -- Pasangan Drs. Imanuel Blegur, M. Si-Godlief Sirituka, BcKn (paket Imago) menyatakan, program pembangunan yang dibuat menjawab kebutuhan masyarakat Kabupaten Alor. Program bukan hanya dengan mimpi, tapi berangkat dari kondisi riil masyarakat.

Imanuel Blegur mengatakan hal ini saat berkampanye di lapangan bola kaki Mebung, Kecamatan Teluk Mutiara, Minggu (26/10/2008) sore. Saat itu Imanuel Blegur didampingi Godlief Sirituka, beberapa jurkam kabupaten dan propinsi NTT, antara lain Drs. John Th. Blegur (Ketua DPD Partai Golkar Alor), Drs. Cyrilus Bau Engo (Sekretaris DPD I Partai Golkar NTT) dan Ny. Inche DP Sayuna, S. H, M.Hum (anggota DPRD NTT dari Partai Golkar). Kampanye dihadiri ribuan pendukung dan simpatisan.

Imanuel Blegur mengatakan, visi paket Imago sangat sederhana yakni bikin masyarakat Alor yang damai dan sejahtera. "Alor damai agar tidak ada perselisihan, perkelahian, dan tertib sosial. Untuk Alor sejahtera agar masyarakat bisa memenuhi kebutuhannya, baik jasmani maupun rohani," katanya.

Sementara misi yang dijabarkan dalam program kerja paket Imago adalah Sapta Layan. Sapta layan meliputi pembangunan infrastruktur, pembangunan di bidang pendidikan, di bidang kesehatan, reformasi birokrasi, pemberdayaan ekonomi, dan bidang strategis lainnya.

Untuk bidang infrastruktur, mantan anggota DPR RI ini menyebutkan, meliputi jalan, jembatan, gorong-gorong, listrik, dan air bersih. Pembangunan jalan ke kampung-kampung, lebih khusus lagi ke wilayah sentra produksi, menjadi prioritas.

Imanuel mengatakan, air bersih adalah kebutuhan masyarakat yang harus diprioritaskan. Tanpa air bersih, orang tidak sehat. Dan ini bisa dibuktikan di sejumlah wilayah di daerah ini akibat ketiadaan air bersih masyarakat mengalami sakit gatal-gatal.
Paket Imago juga akan memperjuangkan penerangan kepada masyarakat secara merata. Dari data yang ada baru 20 persen masyarakat Alor menikmati penerangan listrik. Itu pun baru 5 persen yang menikmati penerangan pada siang dan malam hari. "Kondisi ini berdampak pada kehidupan masyarakat. Contoh paling sederhana hingga saat ini, anak-anak sekolah di sejumlah desa harus belajar malam menggunakan biji damar untuk penerangan. Ini harus kita keluarkan dari kondisi yang ada," tandas Imanuel yang mendapat aplaus dari massa yang hadir.

Paket Imago juga berjanji akan memperhatikan tenaga medis dan guru di daerah itu. Untuk masalah kesehatan dan pendidikan ini, telah disiapkan sejumlah strategi untuk meningkatkan derajat kesehatan masyarakat dan daerah.

Imanuel Blegur juga menyinggung masalah birokrasi. Dikatakannya, paket Imago akan memperbaiki sistem penerimaan PNS, dan juga akan membersihkan birokrasi dari masalah perselingkuhan.

Hal penting lainnya yang ditekankan Imanuel Blegur adalah menyangkut upaya menaikkan harga komoditi kemiri. Untuk ini telah disiapkan tiga strategi yaitu jual kemiri ke pabrik di Baukau untuk mendekatkan pasar, membangun pabrik kemiri, dan juga menggunakan teknologi tepat guna untuk menjadikan kemiri batangan bernilai jual tinggi.

Ince Sayuna meminta masyarakat Alor untuk memilih paket Imago. Menurutnya, sosok Imanuel Blegur telah dikenal secara meluas, memiliki intelektualitas yang tidak diragukan lagi, bersih dari korupsi, juga respons gender dan anak. (oma)

Pos Kupang edisi Senin, 27 Oktober 2008 halaman 7, http://www.pos-kupang.com/

Daging Lunak, Goyang Pelan-Pelan

Menelusuri jalur Pantai Utara (Pantura) Flores di bulan September,
menikmati terik matahari,
sepoi angin laut utara dan harum
aroma jambu mete sepanjang
Magepanda -Ropa.
Uang 'datang sendiri'.
Truk dan pick-up hilir mudik.
Mengapa mete Flores bermerk India?

Oleh Dion DB Putra

GARDIA Guna (57) dan Fransiska Dai (50) terusik oleh kilatan kamera yang tiba- tiba mengenai wajah mereka. "He ema tau apa le kau foto kami?" kata Fransiska Dai dalam bahasa Lio. Diterjemahkan secara bebas berarti mengapa Anda mengambil gambar kami?

Wajah Guna dan Dai agak cemberut. Namun, sontak menebarkan senyum ketika Pos Kupang memperkenalkan diri sekaligus menyampaikan maksud mengambil gambar mereka sedang mengumpulkan dan mengupas jambu mete di Kolisoro, Desa Tou Timur, Kecamatan Kota Baru, Kabupaten Ende. Letak Kolisoro tidak jauh dari tapal batas antara Kabupaten Sikka dan Ende.

"Molo ema. Hiwa ina jambu mente esa kura, weli iwa," ujar Gardia. "Tulislah yang kami alami. Tahun ini jambu mete kurang lebat buahnya dan harga turun." Begitu kira-kira makna pernyataan Gardia Guna. Di Sikka dan Ende-Lio, masyarakat setempat menyebut tanaman ini jambu mente atau mente saja.

Hari itu Rabu 17 September 2008. Jarum jam menunjukkan pukul 14.39 Wita. Panas terik. Tapi Gardia Guna dan Fransiska Dai tidak merasakan sengatan matahari 34 derajat Celcius. Mereka nyaman dan santai bekerja di bawah rimbunan jambu mete (Anacardium occidentale L) siap panen. Mete yang harum mewangi.
Sejak Magepanda, Kabupaten Sikka hingga Ropa, Kecamatan Maurole, Kabupaten Ende, mudah menemukan petani seperti Gardia Guna dan Fransiska Dai yang sedang mengumpulkan jambu mete atau cashew nut itu. Mereka umumnya perempuan.

"Bukan berarti laki-laki tidak urus jambu mete. Untuk petik, kumpul dan kupas memang banyak dikerjakan wanita," kata Drs. Kornelis Wara, Camat Kota Baru.
Selama bulan September hingga November, memanen jambu mete merupakan aktivitas harian petani Tou, Kolisoro, Sokolago, Niopanda, Ndondo dan daerah lain di Pantura Flores. Jika hari-hari ini berkunjung ke wilayah itu, maka Anda akan menikmati harum buah jambu mete yang ranum. Aromanya mirip stroberi.

Cara memanen jambu mete oleh Gardia Guna dan Fransiska Dai siang itu lazim dilakukan petani jambu mete di berbagai belahan dunia, yaitu secara lelesan dan selektif. Cara lelesan adalah membiarkan buah jambu mete tua di pohon dan jatuh sendiri. Sedangkan cara selektif adalah langsung memetik dari pohon. Apabila buah tak dapat dipetik secara langsung, pemanenan dibantu dengan galah atau tangga berkaki tiga. "Biasanya jambu jatuh sendiri. Kami tinggal pilih-pilih (pungut) saja," kata Fransiska Dai.

Bagaimana dengan jambu mete tua tapi belum jatuh? "Gampang Om bos. Cukup goyang pohon dan ranting. Cukup goyang pelan-pelan akan jatuh sendiri," kata Xaver Mite (19), petani muda yang ditemui di Kampung Kobho, Desa Ndondo. Menurut Xaver, menggoyang pohon jambu mete tidak boleh terlalu keras karena akan menjatuhkan buah yang belum matang.

Adapun ciri jambu mete yang siap dipanen adalah kulit buah semu berubah menjadi oranye, kuning atau merah tergantung jenis varietasnya. Sedangkan warna kulit biji yang sudah tua adalah putih keabu-abuan dan mengkilat. Buah jambu mete tua sepanjang Pantura Flores umumnya berwarna oranye. Para petani di sana seperti Fransiska Dai, Gardia Guna, Xaver Mite dan Bernadeta Rika (60) tahu kapan saat yang tepat memanen mete. Menurut pengalaman mereka, buah mete biasanya siap panen pada umur dua sampai dua setengah bulan sejak munculnya bunga. Mereka juga tahu gelondongan yang baik berasal dari buah mete yang matang. "Kalau masih muda tidak ada yang mau beli," kata Rika.

Jika jambu mete tua telah dikumpulkan, pekerjaan selanjutnya memisahkan buah semu dengan buah sejati. Biji mete gelondongan dipisahkan dari buah semu secara manual. Ukuran buah semu lebih besar daripada buah sejati. Tekstur dagingnya lunak, rasa asam agak manis (sepat), berair dan aroma buahnya mirip stroberi. Harum sepanjang jalan itu bersumber dari aroma buah semu yang telah matang. Biji mete gelondongan itulah yang dijual kepada pengusaha pengumpul komoditi.

"Tunggu nanti Cina datang baru kami jual," kata Gardia Guna. Diksi Cina yang dimaksudkan Guna adalah pengusaha etnis Tionghoa asal Kota Maumere dan sekitarnya yang biasa membeli komoditi mereka. "Setiap hari mereka lewat di sini, jadi kami bisa jual kapan saja," tambah Fransiska Dai.

Kenyataannya tidak semua pembeli adalah pengusaha etnis Tionghoa. Seperti disaksikan Pos Kupang, ada wajah Nitakloang, Bola, Magepanda, Paga, Lio, Flores Timur, Jawa, Bima bahkan wajah mirip India. Jambu mete di Pantura Flores sungguh menarik perhatian banyak orang. Sejak lama. (bersambung: India Yang Punya Nama)

Pos Kupang edisi Senin, 20 Oktober 2008 halaman 1, http://www.pos-kupang.com/

India yang Punya Nama

Oleh Dion DB Putra

MERASA diperhatikan, Bernadeta Rika (60) tersipu malu saat menerima uang pecahan Rp 50 ribu sebanyak tiga lembar dari Nyonya Daniel, pengusaha pengumpul jambu mete asal Maumere. Hari itu, 17 September 2008, Rika, warga Kampung Kobho, Desa Ndondo, Kecamatan Kota Baru, Kabupaten Ende menjual sekarung jambu mete gelondongan kepada Daniel.

"Saya tidak punya uang kecil untuk kembali, kasi saya uang pas," kata Rika. Sebagai pengusaha pengumpul aneka komoditi masyarakat Pantura Flores yang saban hari melintasi rute Maumere-Ropa PP, Daniel siap payung sebelum hujan. Selalu ada "uang kecil" di dalam tas istrinya, wanita keturunan Tionghoa. "Susah dapat uang kecil di kampung begini," katanya.

Ketika ditemui Pos Kupang hari itu, Daniel bersama istri serta dua orang staf sedang dalam perjalanan pulang dari Ropa ke Maumere dengan truk Cantates. Di dalam truk yang dimodifikasi menjadi "bis kayu" tersebut ada karung-karung berisi jambu mete serta komoditi lain. Paling banyak jambu mete. "Sekarang kan sedang musimnya," kata pria asal Kampung Kei, Kecamatan Nita, Kabupaten Sikka itu.

Daniel yang sehari-harinya tinggal di Wolombetan-Maumere menekuni pekerjaan tersebut sejak bulan Januari tahun 2007. Sebelumnya ia berusaha di Lewoleba, Kabupaten Lembata.

Daniel membeli jambu mete gelondongan dari petani dengan harga Rp 8 ribu per kg. Harga standar untuk musim panen mete tahun ini. Hampir semua pengumpul mete membeli dari petani di wilayah Sikka dan Ende dengan harga senilai itu.

Setiap pengumpul komoditi membangun jaringan dengan petani sepanjang jalur Maumere-Ropa. "Prinsipnya kami bisa beli dari siapa saja. Tapi ada pelanggan yang hanya jual kepada saya. Tergantung hubungan baik dengan mereka," tutur Daniel.

Pelayanan dan hubungan baik dengan petani merupakan kunci sukses mengingat persaingan antara pengusaha cukup ketat. Setiap hari rata-rata 20-an pengusaha pengumpul komoditi yang hilir-mudik sepanjang jalur Maumere-Ropa membeli hasil bumi. Mereka menggunakan truk atau mobil bak terbuka (pick-up) untuk mengangkut mete. Pengusaha lainnya berasal dari Kota Ende, kurang lebih 10 orang. Mereka juga rutin mengunjungi petani di wilayah Welamosa, Sokoria, Ropa, Ranokolo, Maurole, Aewora hingga Ndondo.

Pada hari biasa, para pengumpul rata-rata mendapatkan 1 sampai 2 ton jambu mete gelondongan dari petani. "Lebih banyak kalau hari pasar. Bisa dapat 5 sampai 6 ton," kata Daniel. Pasar di kawasan utara Ende berlangsung sepanjang pekan. Hari Senin pasar di Boto, Rabu Pasar Ropa, Kamis Pasar Kota Baru, hari Jumat Pasar Ndondo dan hari Sabtu pasar mingguan di Maurole. Sudah tradisi di Flores, saat pasar mingguan, petani 'turun gunung' menjual hasil kebun mereka.

Ke mana jambu mete itu dilempar? Pengusaha pengumpul seperti Daniel menjual komoditi tersebut kepada jaringan pengusaha besar di Maumere. Menurut Daniel, margin harga jual kepada pengusaha di Maumere tidak besar. Dia menjual seharga Rp 8.250,00 atau Rp 8.300,00 per kg. "Kalau mete yang dibeli dari petani banyak, keuntungan saya lumayan," jelasnya. Pos transportasi menguras biaya terbesar. Jika menyewa kendaraan, sebagian keuntungan bakal terkuras. "Saya untung karena punya oto (truk) sendiri," kata Daniel yang merangkap sopir truk Cantates.

Siapa pengusaha besar di Maumere atau kota lain di Flores yang menguasai perdagangan jambu mete? Bukan cuma Daniel yang tahu. Bahkan petani sederhana di kampung seperti Gardia Guna dan Bernadeta Rika pun hafal 'luar kepala'. "Ata India," jawab spontan Bernadeta Rika. Ata India (orang India).

India sudah lama masuk ke Flores. Lebih awal ketimbang 'invasi' film Bollywood mendominasi program acara stasiun televisi nasional. India populer di Pantura Flores karena mete. Orang-orang di sana tidak begitu kenal nama Shahrukh Khan, Hrithik Roshan, Salman Khan, Aishwarya Ray atau Pretty Zinta. Tetapi mereka tahu tentang India. "Kami kumpul dari petani lalu jual kepada India. Harga sudah mereka (pengusaha India) tentukan," kata Daniel.

Artinya, kacang mete yang dinikmati pengunjung restoran ternama di Paris, London, Bonn, Roma, Tokyo bahkan Jakarta, dikenal sebagai mete India. Jambu mete Flores, tapi India yang punya nama. "Mau bilang apa, mereka yang punya uang," ujar Camat Kota Baru, Drs. Kornelis Wara.

Dengan uang siapa pun bisa menguasai dunia! India adalah negara terbesar pengekspor mete olahan. Saban tahun pedagang India berkelana di Flores antara bulan Agustus hingga Desember. Mereka menentukan harga. Naik atau turun, tergantung dia. Mete organik bisa disebut non-organik. Mete nomor satu, dapat diklaim buruk mutu. Petani kecil seperti Rika tentunya tak paham dengan mekanisme pasar yang "gelap gulita" semacam ini. Siapa peduli? (bersambung: Mencicipi Mete Cap "Mi Menge")
Pos Kupang edisi Selasa, 21 Oktober 2008 halaman 1, http://www.pos- kupang.com

Mencicipi Mete Cap "Mi Menge"

Oleh Dion DB Putra

BUKAN tak ada yang peduli terhadap nasib petani jambu mete di Pulau Flores. Harian Pos Kupang dan media massa lainnya di Propinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) sudah kerap merilis, menulis dan merekam tapak jejak kepedulian itu. Mungkin kecil, tetapi sungguh berarti bagi petani.

Sebut misalnya, Swiscontact, organisasi antarbangsa yang sejak 2004 memberi perhatian khusus terhadap tanaman jambu mete di Flores. Misi yayasan nirlaba yang berdiri di Swiss tahun 1959 tersebut ikut membantu penduduk miskin di Pulau Flores. Jambu mete merupakan salah satu komoditi yang bisa diandalkan petani memperbaiki kehidupan mereka. Pemda Ende, Ngada, Nagekeo, Sikka, Manggarai dan Flotim tidak asing dengan organisasi ini.

Swisscontact memulai aksi dengan survei. Mereka menemukan fakta komoditi pertanian asal Flores yang bisa menembus pasar Eropa dan Amerika Utara adalah jambu mete (cashew nut). Swisscontact juga menemukan jambu mete di Flores umumnya tumbuh secara organik. Tumbuh dengan pupuk alam.

Bukan pupuk kimia buatan manusia. Mutu mengagumkan, tapi nilai tambah secara ekonomis justru berlangsung di luar Nusa Bunga, terutama India. Para petani Flores hanya tahu menjual kepada pengumpul atau tengkulak. Selanjutnya mereka tak tahu dan tak ingin tahu lebih jauh. "Yang penting kami dapat uang dari jual mete," demikian pengakuan polos Bernadeta Rika.

Data Pos Kupang menunjukkan, selain mendorong tumbuhnya UKM, prestasi Swisscontact dalam programnya di Flores adalah memperkenalkan sertifikasi pertanian organik untuk jambu mete. Sertifikasi organik berkorelasi dengan harga jual. Harga mete organik lebih tinggi ketimbang non-organik. Kini sekitar 600 petani jambu mete di Flores dengan sertifikat organik. Setiap panen menghasilkan jambu mete di atas 200 ton.

Swisscontact -- yang bekerja di 30 negara di dunia -- setidaknya telah menyadarkan petani mete di Flores untuk menaman secara organik karena itulah yang dibutuhkan pasar internasional. Dan, makanan organik itu sehat.
Swisscontact tidak sendirian. Tokoh ini perlu disebut. Asalnya dari Jawa Timur, bermukim di Wolowaru, Kabupaten Ende. Wolowaru, tempat mampir yang tersohor di jalur Ende-Maumere. Anda yang pernah melintas Flores selatan mungkin pernah menyingahi rumah makan Jawa Timur di jantung Kota Wolowaru. Pernah menikmati soto dan ayam goreng bikinan Sucahyo Lukito, si pemilik warung itu.

Beberapa tahun terakhir, Lukito tidak sekadar mengelola warung. Ia mempunyai aktivitas yang lebih besar yaitu mengekspor kacang mete olahan. Setiap hari Lukito bekerja bersama 123 karyawan-karyawati mengolah kacang mete. Mulai dari memecah mete gelondongan sampai berbentuk camilan. Lukito "mengoreng" mete organik menjadi kacang garing, renyah, gurih dan nikmat.

Di bawah bendera UD Nusa Permai, Lukito telah mengeskpor mete organik ke tiga negara, Singapura, Jerman dan Amerika Serikat. Segera menyusul Australia. Kacang mete Flores sesuai standar mutu lembaga sertifikasi internasional, Institute for Marketecology (IMO) dan dalam pengawasan Laboratorium Jerman, Ifmulm Dr. Rolf Bauerle. "Pengakuan dari IMO kacang mete organik Flores terbaik di dunia. Warga Eropa paling meminati kacang mete ini. Permintaan mereka tinggi, berapapun yang disediakan dibeli habis. Tetapi saya tidak bisa memenuhinya karena modal terbatas," kata Sucahyo Lukito kepada Pos Kupang dan Kompas di Wolowaru (Pos Kupang online, Selasa 16 September 2008).

Eskpor perdana kacang mete dimulai tahun 2007 sebanyak 17,5 ton ke distributor Jerman, PT Flores Farm, Big Tree Farm di Amerika Serikat dan PT Palmerindo Lestari-Singapura. Tahun 2008, selain ke tiga distributor itu, Lukito menjual
kepada distributor Australia. Lukito tercatat sebagai orang Indonesia pertama yang mengekspor kacang mete ke Eropa. "Sebab baru saya dari Indonesia yang memperoleh sertifikasi IMO," katanya.

Luar biasa bukan? Siapa menduga kacang mete gurih dan renyah kesukaan bule Eropa diolah tangan-tangan sederhana asal Wolowaru? Bahan mete organik berasal dari Desa Ile Padung, Kecamatan Lewolema, Kabupaten Flores Timur seluas 240 ha yang menghasilkan 300 ton/tahun dan dari Desa Rowa, Kecamatan Boawae, Kabupaten Nagekeo seluas 40 ha dengan kapasitas produksi 70 ton/tahun. Menurut Lukito, jambu mete dari dua desa tersebut sudah disertifikasi IMO. IMO ke Flores difasilitasi Swisscontact. Harga jual mete gelondongan di dua daerah tersebut lebih tinggi 30 persen dibanding mete tak bersertifikat IMO.

Jelas dan bening duduk soalnya sekarang. Kacang mete olahan bisa dikerjakan di Flores. Masuk pasar dunia dengan nama Flores. Kendati India masih merajai Nusa Bunga, namun langkah kecil dari Wolowaru membuka mata, Flores juga bisa mengolah 'hasil kebun' sendiri sesuai standar mutu internasional. Flores dan NTT agaknya butuh banyak figur seperti Lukito sehingga mampu menyerap lebih banyak jambu mete dari petani. Para petani mete di Flores dan NTT perlu mendapatkan sertifikasi seperti saudara mereka di Ilepadung dan Rowa agar nilai jualnya lebih baik. Memiliki posisi tawar sepadan, tidak mudah ditipu tengkulak atau jaringan pengusaha dari luar.
***

LAHAN jambu mete di kawasan Pantai Utara (Pantura) Sikka dan Ende tidak kalah dibanding Rowa dan Ilepadung. Mengutip Camat Kota Baru, Drs. Kornelis Wara, luas tanaman jambu mete di wilayah yang dipimpinnya itu kurang lebih 300 ha. Tanaman ini dibudidayakan sejak 20 tahun lalu ketika Kota Baru masih tercatat sebagai Perwakilan Kecamatan Maurole. "Jambu mete di sini umumnya sedang produktif, usia antara 5-15 tahun. Tumbuh alamiah. Saya bisa memastikan petani tidak pakai pupuk kimia dan pestisida," kata Wara.

Pusat jambu mete di Kecamatan Kota Baru adalah dataran Ndondo yang meliputi Desa Niopanda, Ndondo, Tou, Tou Timur dan Loboniki. Tanaman yang tidak rewel ini juga dikembangkan petani di Panalato dan hampir seluruh kawasan utara Kecamatan Maurole. Petani di sana, kata Kornelis Wara, juga menaman kepala, kemiri, kakao dan vanili. "Tapi jambu mete terbanyak. Tahun ini panenan kurang. Tahun 2007 tidur malam kami terganggu oleh lalu lalang kendaraan yang mengangkut jambu mete," ujarnya.

Dampak ekonomis nyata bagi penduduk. Sejak tahun 2000, bersamaan dengan akses jalan yang semakin baik ke Maumere maupun Ende, derajat kehidupan petani meningkat. "Salah satu indikator, makin banyak orangtua sekolahkan anak mereka. Angka drop out turun dari tahun ke tahun. Tahun ini kelas 1 SMPN Kotabaru ada 200 anak," demikian Wara.

Setelah masa keemasan kelapa (kopra) berakhir, jambu mete kini menjadi sandaran hidup penduduk Flores. Pantura menjanjikan masa depan. Akses jalan makin bagus. Mobilitas manusia dan barang lancar. Mbay, ibukota Nagekeo, bakal menjadi pusat pertumbuhan ekonomi baru.

Sikap antisipasi dan mempersiapkan diri mau tak mau harus dilakukan sejak dini. Saat ini PT Perusahaan Listrik Negara (PLN) Persero sedang membangun Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) di Desa Keliwumbu, Kecamatan Maurole. PLTU bekuatan 2x7 MW itu bisa memenuhi kebutuhan listrik dua kabupaten, Ende dan Sikka. Bahkan Nagekeo, tetangga di barat.

Investasi besar tentu bukan tanpa tujuan besar. Krisis daya listrik di Flores bakal teratasi dengan beroperasinya PLTU Ropa dalam waktu dekat. Tumbuhnya industri di Pantura Flores bukan mustahil. Investor bakal datang jika energi listrik mencukupi. Ada waktunya nanti petani Pantura Flores tidak cuma menjual mete gelondongan seperti sekarang.

Toh tanaman ini banyak manfaatnya, mulai dari akar, batang, daun hingga buah. Buah mete semu tidak perlu dibuang. Buah semu diolah menjadi beberapa jenis seperti sari buah mete, anggur mete, manisan kering, selai mete, buah kalengan, dan jem jambu mete. Kulit kayu jambu mete mengandung cairan berwarna coklat. Apabila terkena udara, cairan tersebut berubah hitam. Cairan ini dapat digunakan untuk tinta, bahan pencelup atau pewarna. Kulit batang jambu mete berkhasiat sebagai obat kumur atau obat sariawan. Batang pohon menghasilkan gum atau blendok untuk perekat buku. Selain daya rekatnya baik, gum berfungsi sebagai anti gengat yang menggerogoti buku. Akar jambu mete berkhasiat sebagai pencuci perut. Daun mete yang muda dimanfaatkan sebagai lalap. Di Jawa Barat, orang makan lalapan daun mete muda. Daun tua adalah obat luka bakar.

Dari akar sampai buah mete bisa diolah menjadi bahan bernilai ekonomis. Terlintas kerinduan, suatu hari nanti mencicipi sari buah mete cap "Mi Menge" produksi Pantura Flores. Mi menge, harum mewangi sari jambu mete dari Ndondo, Tou, Kota Baru, Sokolago, Aewora, Ropa atau Sokoria. Kenapa tidak? Peluang emas itu ada di depan mata. (habis)

Pos Kupang edisi Rabu, 22 Oktober 2008 halaman 1, http://www.pos-kupang.com/

Lomba Kumpul Bibit

Oleh Frans Krowin

SEKITAR 27 tahun lalu, saat saya masih kecil, suasana hidup di desa saya, Pamakayo, Kecamatan Solor Barat, Kabupaten Flores Timur, amat menyenangkan. Kerukunan, kekeluargaan, dan lain-lain begitu terasa. Spirit untuk maju juga amat kental. Kala itu semua orang memang ingin maju.

Hasrat masyarakat di era 1980-an itu sesungguhnya dilecut oleh motivasi pemimpin yang selalu menggelorakan semangat untuk maju. Maju sepertinya diarahkan menjadi sebuah prinsip yang harus dianut semua orang untuk mengubah diri, mengubah hidup, mengubah hal dari tiada menjadi ada.

Masih membekas dalam ingatan saya, Kepala Desa Pamakayo saat itu,Yohanes Suban Kein. Dia selalu berkeliling dari satu RK (rukun kampung) ke RK lainnya untuk mengecek kebersihan lingkungan. Meski bukan setiap hari, pada hari-hari tertentu, ia mengunjungi warga dengan gayanya sendiri.

Dalam kunjungan itu, ada-ada saja yang ditanyakan. Tentang orang tua kita, tentang lingkungan, tentang kesibukan warga, tentang pekerjaan dan sebagainya. Ia juga selalu mengajak warga untuk membersihkan lingkungan. Apalagi saat itu, ada lomba desa yang dicanangkan oleh Gubernur NTT, Ben Mboi. Lomba desa itu mencakup semua aspek, baik administrasi desa, partisipasi masyarakat dalam pembangunan, tentang pendidikan dan lain-lain.

Alhasil, di era 1980-an itu, masyarakat kami kebanyakan menghabiskan waktu untuk kepentingan umum. Pada hari-hari tertentu di pekan berjalan, ada kerja bakti. Kerja bakti itu untuk kepentingan umum. Kerja bakti itu di luar gotong royong yang dalam bahasa ibu disebut gemohing.

Gemohing itu artinya kerja kelompok. Kerja kelompok itu umumnya untuk mendukung kehidupan ekonomi keluarga. Gemohing itu sangat terasa saat menjelang musim hujan, saat tanam atau saat membersihkan rerumputan di kebun. Saat gemohing, warga bekerja sambil menyanyi. Mereka menyanyikan lagu-lagu yang sifatnya membakar semangat untuk rajin bekerja.

Meski ada banyak orang yang mengeluhkan cara kerja itu, semua warga tunduk pada perintah kepala desa. Sebab, kerja bakti itu telah disepakati dalam rapat desa. Rapat desa itu adakalanya berlangsung di gereja, terutama setiap hari Minggu seusai misa, juga berlangsung di Bale Guan Gahing Lewo Tana Pamakayo.

Makanya, semua rumah tangga pasti mengirim utusannya untuk kerja bakti. Jika tidak, akan ada denda. Denda itu berupa uang dan uang itu dimasukkan ke kas desa.

Sementara untuk memudahkan pengontrolan terhadap hasil kerja, pemerintah desa membagi area kerja. Singkat kata, kerja bakti itu berjalan sesuai kesepakatan bersama.

Mungkin karena faktor itu, maka sekitar tahun 1984, Desa Pamakayo terpilih sebagai juara I Lomba Desa Tingkat Propinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) dan juara II Lomba Desa Tingkat Nasional.

Ketika predikat itu diumumkan, semua warga menyambut gembira. Semua bangga. Kalau omong tentang lomba desa, semua warga 'menepuk dada'.

Sikap warga ini sangat wajar. Karena pada saat NTT dibelenggu aneka keterbatasan, warga desa kami malah berhasil mengukir prestasi, terpilih sebagai desa unggul di Flobamora. Unggul dalam sejumlah aspek yang terpaut langsung dengan proses pembangunan desa. Pembangunan desa saat itu murni digerakkan oleh semangat kerja bakti, semangat gotong royong.

Bahkan beberapa tahun berikutnya, desa kami juga terpilih sebagai juara I lomba LMD (Lembaga Musyawarah Desa) tingkat nasional. Atas prestasi itu, kepala desa kami, Suban Kein bersama ibu, Nona Yuli Krowin (almarhum) diundang Presiden Soeharto untuk mengikuti upacara kenegaraan di Yogyakarta.
Bila kisah ini ditarik lebih luas untuk cakupan NTT, maka saya harus jujur mengatakan bahwa spirit untuk maju seperti yang dilakukan warga desa kami tampaknya belum dimiliki oleh warga desa di daerah lain. Setidaknya itu terlihat dari tampilan wajah sejumlah desa yang pernah saya kunjungi ketika melakukan tugas jurnalistik.

Di daratan Timor, misalnya, masih banyak desa yang sangat jauh dari harapan. Tak sedikit desa yang boleh dibilang tertinggal. Padahal potensi alamnya sangat melimpah dibandingkan dengan kondisi desa kami yang didominasi oleh batu-batu karang.


Pola hidup masyarakat juga begitu. Bila di desa kami, dan juga di desa lainnya, domisili warga tersebar dalam suatu areal, dengan letak rumah yang saling berdekatan antara satu dengan yang lain, beda dengan sejumlah desa di Timor bahkan Sumba. Sampai saat ini, masih ada rumah warga ibarat rumah kebun. Letaknya berjauhan. Mungkin karena itu, kerawanan sosial demikian terasa.

Ada hal yang hampir terlewatkan. Dulu, ketika NTT melaksanakan Operasi Nusa Hijau (ONH) dan Operasi Nusa Makmur (ONM), kami anak-anak sekolah dasar (SD) wajib mengumpulkan bibit, baik lamtoro, johar, mangga dan lain-lain untuk rebiosasi.

Agar jumlah bibit yang dikumpulkan banyak, kepala sekolah SDK Waikrowe di Menanga, Kecamatan Solor Timur, Yoseph Gawe, menjadikan ajang itu sebagai lomba. Maka berlomba- lombalah kami mengumpulkan bibit tanaman. Kami ingin menjadi juara dan mendapat uang Rp 15.000,00.

Saat itu, yang jadi juara adalah Emi, anak seorang polisi. Saat itu, Emi yang masih kelas 4 SD, mengumpulkan bibit lamtoro dan johar sekitar 50 kg. Sedangkan kami yang lain tidak terlalu banyak. Tapi saat itu, bibit tanaman yang terkumpul lumayan banyak. Ketika hujan datang, bibit itu kami tanam di daerah- daerah yang tandus, seperti Lewogeka, Tala dan beberapa tempat lainnya di sekitar Menanga.

Saya tidak tahu, masih adakah semangat itu di masa kini ataukah sebaliknya? Mudah-mudahan saja hal yang positif itu ditumbuhkan kembali, sehingga bisa bermanfaat bagi masa kini dan yang akan datang. (frans_krowin@yahoo.com)

Pos Kupang edisi Sabtu, 25 Oktober 2008 halaman 10, http://www.pos-kupang.com

Pilkada Belu: Panwas Tidak Temukan Pelanggaran

ATAMBUA, PK -- Ketua Panitia Pengawas (Panwas) Pemilihan Kepala Daerah dan Wakil Kepala Daerah (Pilkada) Belu, Valens Parera mengatakan, pada tahapan pleno rekapitulasi perolehan suara di tingkat PPK, Panwas tidak menemukan pelanggaran.

"Kami sempat mendapat informasi lewat telepon bahwa ada paket tertentu yang ke lokasi jemput hasil pleno PPK. Tapi begitu ditanya dimana lokasi, kapan, tidak disebutkan. Makanya kami kesulitan untuk melacak informasi seperti itu," Parera.

Meski begitu, katanya, Panwas akan terus memantau soal kemungkinan adanya pelanggaran. Pihaknya juga meminta kepada masyarakat Belu untuk bersabar menunggu hasil pleno KPUD Belu mengenai hasil final Pilkada Belu.

"Panwas sendiri belum tahu apakah Pilkada Belu ini satu putaran saja atau dua putaran. Panwas masih menunggu pleno di PPK dan selanjutnya pleno di KPUD," katanya.

Hasil pleno perhitungan suara di PPK Tasifeto Timur (Tastim), Sabtu (25/10/2008), memperlihatkan pasangan Gregorius Mau Bili-Berchmans Mau Bria (paket Gemar) memperoleh 4.297 suara, pasangan JT Ose Luan-Falentinus Parera (paket Sera) meraih 2.614 suara, pasangan Joachim Lopez-Ludovikus Taolin (paket Jalin) mendapat 1.593 suara dan paket Brita (Petrus Bria Seran-Damianus Talok) kebagian 884 suara. Total pemilih yang terdaftar sebanyak 11.847 pemilih sementara yang menggunakan hak suara sebanyak 9.662 pemilih, yang tidak menggunakan hak suara 2.185 pemilih. Total suara sah 9.370 suara dan suara tidak sah sebanyak 360.

Disaksikan Pos Kupang, pleno PPK diselenggarakan di aula kantor Camat Tastim di Wedomu sekitar pukul 10.00 Wita. Pleno dipimpin Ketua PPK setempat, Benediktus Bria, didampingi anggotanya, Mateus Mau Letto, Bernadetha Siba dan Gabriel Lau. Hadir pula Kapolsek setempat, Aiptu Mus Panie, Camat, Marsel Maumeta, para saksi empat paket calon, para ketua dan anggota PPS serta undangan lainnya.

Hasil pleno perhitungan suara di PPK tersebut diterima oleh semua PPS dan para saksi dari empat paket calon yang hadir dalam rapat pleno tersebut.

Camat Tasifeto Timur, Marsel Maumeta mengatakan, secara keseluruhan proses pencoblosan di wilayahnya berjalan aman dan sukses. Tingkat partisipasi masyarakat untuk mengikuti pilkada ini cukup bagus yakni 82 persen sementara kekeliruan mencoblos 12 persen.

"Hasilnya sudah diplenolan oleh PPK dan hasil pleno PPK segera dibawa ke KPUD di Atambua," katanya. (yon)

Pos Kupang edisi Minggu, 26 Oktober 2008 halaman 1, http://www.pos-kupang.com

Mella-Banunaek Terpaut 280 Suara

SOE, PK -- Berdasarkan hitungan cepat hasil Pilkada Timor Tengah Selatan (TTS) yang direkap KPUD setempat, perolehan suara pasangan calon Paul Victor Mella-Benny A Litelnoni (paket Medali) dan pasangan Daniel Banunaek-Alexander Nakamnanu (paket Damai) hanya terpaut 280 suara.

Paket Medali memperoleh 65.483 suara sah ((30,43) persen) dan Damai meraih 65.203 ((30,30 persen) dari total suara sah yang direkap sebanyak 215.158.

Demikian hasil rekap hitungan cepat yang dihimpun KPUD sampai, Sabtu (25/10/2008) pukul 19.00 Wita. Selain paket Medali dan Damai yang bersaing ketat, tiga paket lainnya yakni Globe memperolej 38.149 suara (17,73 persen), Jhonthom, 36.728 suara (17,07 persen) dan Jetcar, 9.595 suara (4,46 persen).

Jumlah pemilih Pilkada TTS berdasarkan DPT (daftar pemilih tetap) sebanyak 251.296 orang. Dikurangi dengan jumlah suara sah yang sudah direkap sebanyak 215.158, maka masih ada 36.138 ribu dukungan yang diperebutkan. Jumlah ini masih dikurangi lagi dengan surat suara tidak sah dan pemilih yang tidak menggunakan hak pilihnya.

Ketua Pokja Pilkada TTS, Imanuel Lakapu kepada wartawan, kemarin, mengatakan 32 PPK sudah melaporkan jumlah perolehan suara masing-masing pasangan calon. Meski demikian, data yang masuk belum dapat dijadikan sebagai data final. KPUD, katanya, masih harus melakukan rapat pleno rekapitulasi perolehan suara yang dijadwalkan berlangsung pada Rabu (29/10/2008).

Menurut Lakapu penambahan perolehan suara bagi tiap pasang calon sangat dimungkinkan lantaran data yang ada masih bersifat sementara. Untuk itu, KPUD TTS tetap akan merekap semua data yang masuk dari PPK setiap hari.

Ketua Pokja Logistik, Kosmas D Sanga yang dikonfirmasi terpisah, mengatakan sudah 22 dari 32 PPK yang ada di TTS yang menyerahkan kotak suara ke KPUD TTS. Ke-22 PPK itu juga sudah menyerahkan rekapitulasi perolehan suara dari PPS masing-masing.

"Sisanya kotak suara dari sepuluh PPK saat ini masih dalam perjalanan menuju KPUD TTS. Kami sudah memberikan deadline bagi seluruh PPK harus mengirim kotak suara ke KPUD TTS, hari ini (kemarin, Red). Bila seluruh kotak suara dan rekapan dari PPK sudah terkumpul maka KPUD TTS dapat menggelar rapat pleno rekapitulasi perolehan suara dari seluruh PPK," jelas Kosmas Sanga.

Pantauan di sekretariat KPUD TTS, kemarin sore, satu persatu anggota PPK mendatangi kantor itu untuk menyerahkan kotak suara beserta rekapan perolehan suara. Setiap kotak suara yang masuk langsung disimpan di gudang KPUD TTS.

Selain itu, pengamanan sekretariat KPUD TTS pun mulai diperketat. Selain puluhan anggota polisi yang berjaga, aparat juga memarkir satu unit mobil water cannon di depan sekretariat KPUD TTS. Satu unit mobil pemadam kebakaran dan satu unit mobil tangki air milik Pemkab TTS, juga disiagakan.

Panwas Tetap Proses
Ketua Panitia Pengawas (Panwas) Pilkada TTS, Albert Benu yang dikonfirmasi terpisah, kemarin, mengatakan pihaknya telah menerima laporan kasus penggergajian gembok kotak suara yang dilakukan dua anggota KPPS TPS III, Desa Bena, Kecamatan Amanuban Selatan. Menurutnya, laporan yang masuk akan dipilah terlebih dahulu apakah masuk dalam tindak pidana pemilu atau pelanggaran administrasi.

"Bila terjadi tindak pidana pemilu maka panwaslu akan membawanya ke polisi," ujar Benu.
Kapolres TTS, AKBP Suprianto yang dikonfirmasi terpisah, mengatakan polisi selaku penyidik kasus tindak pemilu belum mendapatkan laporan adanya dugaan tindak pidana dalam kasus itu. Menurutnya, sesuai aturan kasus itu tidak bisa langsung diproses di kepolisian. Sebelum ditangani polisi, kasus-kasus masalah pemilu harus dilaporkan terlebih dahulu ke Panwas.

"Setelah panwas menyatakan adanya indikasi tindak pidana pemilu maka panwas akan membawa kasus itu ke polisi. Di polisi, kami sudah menyiapkan tim penegakan hukum terpadu khusus menangani kasus-kasus tindak pidana pemilu," jelas Suprianto. (aly)

PEROLEHAN SUARA SEMENTARA
------------------------------------------------------------------------
No Nama Paket Perolehan Suara
-------------------------------------------------------------------------
Kamis (23/10) Jumat (24/10) Sabtu (25/10)
-------------------------------------------------------------------------
1 DAMAI 25.849 64.077 65.203
2 JHONTHOM 15.917 36.096 36.728
3 GLOBE 17.554 36.319 38.149
4 JETCAR 3.814 9.266 9.595
5 MEDALI 30.805 64.137 65.483
-----------------------------------------------------------------------------
JUMLAH 93.939 209.895 215.158
---------------------------------------------------------------------------
* Sumber: KPUD TTS, Sabtu (26/10/2008).

Pos Kupang edisi Minggu, 26 Oktober 2008 halaman 1, http://www.pos-kupang.com

KPUD Kupang Salurkan Logistik

KUPANG, PK -- Komisi Pemilihan Umum Kabupaten Kupang telah menyalurkan logistik pilkada sejak tanggal 24 Oktober 2008. Penyaluran memprioritaskan daerah yang letaknya jauh seperti Sabu Raijua.

Ketua KPUD Kupang, Johni K.Tiran, S.H, saat ditemui di ruang kerjanya, Sabtu (25/10/2008), mengatakan, penyaluran untuk daerah yang jauh di daratan Pulau Timur, seperti Kecamatan Amfoang dan Semau, dilakukan tanggal 25 Oktober. Sedangkan untuk kecamatan lainnya dilaksanakan pada tanggal 26 - 28 Oktober.

"Pengiriman logistik untuk daerah yang jauh diprioritaskan sehingga tidak mengalami keterlambatan. Kita target paling lambat, Selasa (28/10/2008), semua logistik sudah sampai di TPS masing-masing," kata Tiran.

Tiran menjelaskan, logistik ini terdiri dari surat suara, kartu pemilih, sampul, segel, tinta dan tanda pengenal saksi atau penyelenggara.

Ia juga mengatakan, KPUD telah membuka kesempatan kepada lembaga yang berniat memantau pelaksanaan pilkada Kabupaten Kupang. Pemantau harus mendaftarkan diri pada KPUD.
Menurut Tiran, sampai dengan saat ini belum ada yang mendaftarkan diri sebagai pemantau Pilkada.

Dia mengatakan, untuk penghitungan surat suara, KPUD menghimpunnya melalui telepon dan model formulir C1 yang telah dibagikan kepada masing-masing pantia pemungutan suara (PPS) melalui pantia penyelenggara kecamatan (PPK).

Tiran mengatakan, untuk mengantisipasi hal-hal yang tidak diinginkan dalam penghitungan suara, KPUD Kupang telah berkoordinasi dengan Polres Kupang untuk pengamanan.

Tentang pemilih, Tiran mengatakan, setelah dilakukan verifikasi, warga Kabupaten Kupang yang ditetapkan sebagai pemilih sebanyak 211.562 jiwa, terdiri dari 107.756 laki-laki dan 103.806 perempuan. Pemilih yang tersebar akan mencoblos pada 585 TPS yang tersebar pada 240 desa/kelurahan.

Tiran menegaskan, jumlah pemilih hasil verifikasi yang sudah masuk daftar pemilih tetap (DPT) cukup valid sehingga tidak ada komplain dari masyarakat. (mas/*)

Pos Kupang, Minggu 26 Oktober 2008 halaman 10

Kampanye Paket Tutor "Makan" Korban

KUPANG, PK -- Kampanye Calon Bupati-Wakil Bupati Kupang pasangan Ayub Tuto Eki - Viktor Tiran (Paket Tutor) di Camplong "memakan" korban, setelah seorang pria tak dikenal tewas terjatuh dari truk milik Andreas Tafatin, Kepala Desa (Kades) Tanini, Kecamatan Takari, Jumat (24/10/2008) sore. Jenazah lelaki tak beridentitas ini disemayamkan di Instalasi Pemulasaran Jenazah (IPJ) RSU Prof. Dr.
W Z Johannes Kupang.

Petugas piket IPJ RSU Kupang, Albert M A Kause mengatakan, jenazah tak dikenal ini diantar tim sukses Paket Tutor bernama Titus Anin bersama seorang tenaga medis dari Puskesmas Oesao, Abdulkadir sekitar pukul 21.35 Wita. "Jenazah ini sempat dibawa ke Puskesmas Oesao baru diantar ke sini oleh petugas medis Pak Abdulkadir dan tim sukses dari Paket Tutor. Nama dan nomor hand phone-nya ada di buku tamu," kata Kause sambil menunjukkan nama dan nomor hand phone Anin.

Anin ketika dihubungi Pos Kupang sekitar pukul 22.15 Wita, mengatakan, pihaknya tidak mengenal identitas dan keluarga korban. Dia mengaku mengantar korban ke Puskesmas Oesao dan selanjutnya ke RSU Kupang. Menurutnya, kasus kecelakaan ini juga sudah dilaporkan di Polsek Fatuleu.

Tetapi ketika Pos Kupang menanyakan penanganan lanjut korban termasuk beban biaya apabila keluarganya tidak diketahui, Anin mengatakan, Paket Tutor tidak mempunyai dana untuk itu dan menyerahkan tanggung jawab itu kepada pemerintah.

"Paket Tutor tidak punya uang. Kami sudah bertanggung jawab dengan antar jenazah ke RSU Kupang dan melaporkan ke Polsek Fatuleu. Kalau ditanya urusan biaya, Paket Tutor tidak punya dana untuk itu dan itu kan menjadi tanggung jawab pemerintah," katanya dan kembali mengatakan hal itu ketika ia dimintai penegasan tentang Paket Tutor tidak lagi bertanggung jawab terhadap kelanjutan nasib korban.

Jenazah korban, sekitar pukul 22.00 Wita semalam divisum oleh seorang dokter pegawai tidak tetap (PTT), dr. Elis. Saat ditanya, dr. Elis tidak menjelaskan hasil visum. Tetapi dari informasi yang diperoleh Pos Kupang, besar kemungkinan korban meninggal karena saat terjatuh, kepala bagian belakangnya membentur badan jalan.

Kedua kaki korban juga patah, selain darah keluar dari mulut dan hidung korban.
Disaksikan Pos Kupang, korban mengenakan baju kaos oblong warna putih yang sudah kusam dan celana pendek merah. Ia juga mengenakan sarung tenun motif Timor serta sebuah ikat pinggang.

Kause menjelaskan, dari informasi beberapa warga Camplong di ruang IPJ, korban jatuh dari truk di wilayah Oenaek, Kelurahan Camplong. Kecelakaan ini berawal ketika mobil tersebut mengangkut massa asal Desa Tanini, setelah selesai mengikuti kampaye paket Tutor di Camplong.

Beberapa warga dari Camplong dan Desa Tanini di Kupang berdatangan semalam di ruang IPJ untuk melihat korban tetapi tidak ada yang mengenalnya. Salah seorang bapak yang enggan menyebut namanya terus menghubungi beberapa kerabatnya yang lain agar menjaga jenazah ini di ruang IPJ. (dar/den)

Pos Kupang edisi Sabtu, 25 Oktober 2008 halaman 6, http://www.pos-kupang.com

Gemar Menang di Kakulukmesak

ATAMBUA, PK -- Memperoleh dukungan 4.291 suara sah di Kecamatan Kakuluk Mesak, pasangan calon Gregorius Mau Bili-Berchmans Mau Bria (paket Gemar), menang di kecamatan itu. Posisi kedua ditempati paket Jalin (Joachim Lopez-Ludovikus Taolin) yang memperoleh 1.966 suara.

Dua paket calon lainnya, Petrus Bria Seran-Damianus Talok (Paket Brita) memperoleh 934 suara dan Ose Luan- Falentinus Parera (paket Sera) meraih 831 suara.
Demikian hasil pleno PPK Kakulukmesak, Jumat (24/10/2008), yang berlangsung di kantor camat setempat.

Total suara sah di kecamatan ini 8.022 surat suara, tidak sah sebanyak 388 surat suara. Dengan demikian pemilih di kecamatan ini yang menggunakan hak pilihnya dalam Pilkada Belu sebanyak 8.410 orang. Daftar pemilih tetap (DPT) di kecamatan ini 12.011 orang sehingga jumlah pemilih yang tidak mencoblos sebanyak 3.601 orang (30 persen).

Disaksikan Pos Kupang, pleno PPK Kakulukmesak dihadiri camat setempat, Vinsen Kapu, Ketua PPK, Weke Kornelis, anggota PPK, Alcino do Santos, pimpinan musyawarah kecamatan, para ketua PPS dan anggota, kepala desa dan para saksi pasangan calon. Pleno digelar pukul 10.00 Wita yang diawali dengan sekapur sirih dari ketua PPK.

Rekapitulasi perhitungan suara dilakukan berturut-turut dari Desa Kabuna, Desa Fatuketi, Leosama, Dualaos, Jenilu dan Kenebibi.

Petugas PPK, Alcino do Santos, sebelum menyampaikan secara terbuka hasil perhitungan suara dari PPS, kepada peserta pleno menunjukkan kotak suara yang disegel rapi. Setelah itu dibuka kotak suaranya lalu kertas suara ditempelkan pada papan kemudian diumumkan secara terbuka kepada peserta pleno. Satu persatu dibuka yang diawali dengan kotak dari desa Desa Kabuna dimana total suara dari tujuh TPS total perolehan suara untuk pasangan Gemar, 1.431 suara, Sera 189 suara, Brita 214 suara dan Jalin 243. Desa Fatuketi dari dua TPS, Gemar memperoleh 290 suara, Sera 110, Brita 167 dan Jalin 350. Desa Leosama dari dua TPS, Gemar 412 suara, Sera 83, Brita 42 dan Jalin 117. Desa Dualaos dari lima TPS, Gemar memperoleh 775 suara, Sera 225, Brita 171 dan Jalin 483. Desa Jenilu dari 4 TPS, Gemar 458 suara, Sera 66, Brita 171 dan Jalin 628. Desa Kenebibi dari 4 TPS, Gemar memperoleh 925 suara, Sera 158, Brita 169 dan Jalin 145.

Seusai pleno PPK, Ketua PPK Kecamatan Kakulukmesak, Weke Kornelis didampingi Alcino do Santos menjelaskan, secara umum seluruh proses pleno hasil perhitungan suara dari masing-masing paket berjalan aman dan lancar. Seluruh peserta menyaksikan langsung seluruh proses tanpa ditutup-tutupi. Selanjutnya hasil pleno akan disampaikan ke KPUD Belu.

Camat Kakulukmesak, Vinsen Kapu mengatakan, seluruh proses Pilkada di kecamatan itu berlangsung lancar dan sukses. "Saya juga perlu sampaikan bahwa tidak benar di Kakulukmesak ada penggelembungan suara untuk paket tertentu. Hasil perhitungan suara di tingkat PPS baru kita plenokan ini dan hasilnya sudah disampaikan secara terbuka kepada semua yang hadir di rapat pleno," jelas Kapu.

Brita Unggul di Malbar
Sementara itu Camat Malaka Barat, Remigius Asa, S.H yang dihubungi melalui telepon dari Atambua ke Besikama, kemarin, mengatakan bahwa pleno PPK Malaka Barat sudah dilaksanakan Kamis (23/10/2008). Pleno dihadiri para petugas PPS dan para saksi dari empat paket calon.

Dari 28 TPS di Malaka Barat, katanya, jumlah pemilih sesuai DPT sebanyak 13.251 orang dimana yang ikut coblos 10.172 orang dengan suara sah 9.987 dan suara tidak sah 185 kertas suara. Dari jumlah suara sah tersebut, paket Gemar memperoleh 1.060 suara, paket Sera 908 suara, paket Brita 5.256 suara dan paket Jalin 2.763 suara. Hasil pleno PPK tersebut, kata camat, sudah diantar ke KPUD Belu, kemarin.

Pengamat hukum, Bernando Seran, S.H, MH kepada Pos Kupang, kemarin, mengatakan, dalam perhitungan suara KPUD Belu hendaknya berpegang teguh aturan sehingga tidak meresahkan masyarakat. Dia juga meminta KPUD ransparan agar ada kontrol dari masyarakat.

"Selain itu KPUD harus tetap menjaga independensinya agar tidak ada intervensi pihak lain dalam pengambilan keputusan," tegas Bernando Seran.

Ketua KPUD Belu, A Martin Bara Lay, S.H, mengatakan, saat ini KPUD belum mengumumkan secara resmi hasil perolehan suara dari masing-masing paket calon. Sebab, rekapitulasi perolehan suara masih diplenokan di tingkat PPK. Hasil pleno dari PPK masih harus diplenokan lagi di KPUD tanggal 27-28 Oktober 2008. Setelah itu baru diumumkan.

"KPUD masih menunggu hasil pleno di tingkat PPK. Hasil perhitungan cepat yang pernah kami tayangkan sebelumnya bukan data final. Data resminya baru bisa diketahui pada pleno KPUD sesuai jadwal. Jadi hasil sementara yang pernah dipublikasikan media massa itu untuk memenuhi keingintahuan warga yang mengikuti setiap saat. Jadi sekali lagi saya sampaikan bahwa data resmi soal hasil perhitungan suara pasangan calon itu akan kita umumkan nanti sesuai jadwal," jelasnya. (yon/amy)

Pos Kupang edisi Sabtu, 25 Oktober 2008 halaman 1, http://www.pos-kupang.com

Paul Mella Unggul Tipis di TTS

SOE, PK -- Sampai hari kedua pasca-pemungutan suara di Timor Tengah Selatan (TTS), 23 Oktober 2008, pasangan calon Paul Victor R Mella-Benny A Litelnoni (paket Medali) unggul tipis atas rival beratnya, Daniel Banunaek-Alexander Nakamnanu (paket Damai).

Hitungan cepat yang direkap KPUD setempat sampai Jumat (24/10/2008) malam, perolehan suara kedua paket ini hanya terpaut 60 suara. Medali memimpin dengan 64.137 suara dan paket Damai menempel ketat dengan 64.077 suara. Di urutan ketiga paket Globe memperoleh 36.319 suara, Jhonthom, 36.096 suara dan Jetcar, 9.266 suara.

Dengan demikian total suara sah sah yang sudah direkap mencapai 209.895 suara. Sementara pemilih tetap Pilkada TTS sesuai DPT (daftar pemilih tetap) berjumlah 251.296 orang. Dikurangi pemilih yang tidak mencoblos dan surat suara tidak sah, maka sisa suara yang diperebutkan masih sekitar 30-an ribu.

Ketua Pokja Pilkada TTS, Imanuel Lakapu kepada wartawan di sekretariat KPUD TTS, semalam, mengatakan data tentang perolehan suara itu masih bersifat sementara.

"Data yang kami umumkan ke publik berdasarkan laporan dari masing-masing penyelenggara pemilu di tingkat kecamatan. Mereka menyampaikan data itu via telpon dan SMS," jelas Lakapu.

Untuk hasil resminya, kata dia, KPUD TTS masih menunggu hasil rapat pleno rekapitulasi perolehan suara di tingkat kecamatan (PPK) yang dijawdwalkan berlangsung Sabtu (25/10/2008) dan Minggu (26/10/2008).
Ditanya apakah dengan hasil sementara itu apakah KPUD TTS sudah bisa memprediksikan Pilkada TTS berlangsung dua putaran, Lakapu mengatakan, pihaknya belum bisa menentukan sikap tentang satu atau dua putaran. Sebab proses perhitungan suara masih berlangsung di tingkat PPK.

Keributan di Panite
Proses penghitungan suara di PPK Amanuban Selatan di Panite, Jumat (24/10/2008), sempat terjadi keributan. John Sakan, saksi paket Medali memergoki dua anggota KPPS TPS Tiga Desa Bena, sedang menggergaji gembok kunci kotak suara yang berada di kantor camat setempat.

Jhon Sakan memergoki anggota KPPS TPS Tiga Desa Bena, Matheos Taek sementara menggergaji gembok kecil yang melilit pada kotak suara TPS Tiga. Menurut Sakan, saat peristiwa berlangsung, Camat Amanuban Selatan, Fredrik Oematan dan dua anggota DPRD TTS dari Fraksi Partai Golkar, Nope Nabuasa dan Zat Tlonaen, juga berada di kantor camat.

"Camat dan dua anggota Dewan itu tidak menegur. Saya yang tegur Taek. Saya ingatkan dia bahwa membuka kotak suara harus di depan para saksi, panwaslu dan polisi, bukan langsung digergaji," tutur Sakan yang menambahkan bahwa di TPS yang kotak suaranya digergaji itu paket Medali menang.

Menurut Sakan, saat dia sedang beradu mulut dengan Taek, datang anggota Polsek Amanuban Selatan mengamankan Taek.

Taek yang dikonfirmasi di lokasi kejadian, mengatakan bahwa dia melakukan itu atas kesepakatan bersama antara ketua KPPS, M Seno dan empat anggota lainnya, Matheos L, Alex, Gibrael Nubatonis dan dia sendiri. Menurut Taek, gembok itu terpaksa digergaji karena kuncinya hilang pada hari Kamis (23/10/2008) malam.
Camat Amanuban Selatan, Fredrik Oematan yang dikonfirmasi, mengatakan bahwa dia sempat memerintahkan agar Gibrael, orang yang pertama kali menggergaji gembok kotak suara itu, keluar dari ruangan. Namun tak disangka masuk lagi salah satu temannya, Matheos Taek yang melakukan hal yang sama.

Oematan mengaku tak langsung menegur dua anggota KPPS masuk lantaran masih sementara menerima dua tamu anggota DPRD TTS, Nope Nabuasa dan Zat Tlonaen.

Tentang pengangkutan empat kotak suara dari Desa Noemuke yang menggunakan mobil dinas camat, Oematan mengatakan hal itu dilakukan lantaran kurangnya dana untuk membawa empat kotak dari TPS Desa Noemuke ke PPK di Panite. Dana untuk pengangkutan empat kotak suara hanya Rp 100.000. Sementara tukang ojek setempat meminta biaya transpor satu kotak suara dibawa ke Panite sebesar Rp 50.000. (aly)

Pos Kupang edisi Sabtu, 25 Oktober 2008 halaman 1, http://www.pos-kupang.com

ABBA Janji Suguhkan Anggur Merah

BORONG, PK -- Pasangan calon Bupati dan Wakil Bupati Manggarai Timur (Matim), Yoseph Biron Aur, S.Sos dan Ir. Gorgonius D Banjang (paket ABBA) menyatakan bertekad menyuguhkan Anggur Merah (alokasi anggaran menuju masyarakat sejahtera) bagi masyarakat setempat, jika keduanya terpilih memimpin Matim, lima tahun ke depan.

Dalam kampanye di Borong, Jumat (24/10/2008), Biron Aur mengatakan akan mengalokasikan dana 60 persen untuk belanja publik dan 40 persen untuk belanja rutin dalam APBD. Hanya dengan begitu, katanya, agenda pokok yang dikemas dalam "Pekosamaraga" dapat dilaksanakan dengan baik.

Biron Aur dalam kampanyenya berjanji akan memrioritaskan semua aspek kehidupan jika terpilih memimpin Matim, lima tahun ke depan. Masyarakat merencanakan sesuai kebutuhannya dan pemerintah melaksanakan program yang dikehendak rakyat itu. Semua kegiatan pembangunan itu berjalan secara bersama-sama dan nuansa kolegial partisipatif.

Ditegaskanya bahwa masyarakat Matim merindukan pemimpin yang cerdas secara emosional dan intelektual serta memihak pada kepentingan rakyat banyak. ABBA bertekat menjawabi seluruh kebutuhan rakyat itu sesuai prioritas kebutuhan dengan memenuhi seluruh kebutuhan yang diagendakan dalam Pekosamaraga.

Dikatakannya, sebagai daerah baru Matim membutuhkan strategi pembangunan yang baik dan benar. ABBA terpanggil untuk mewujudkan impian masyarakat itu dengan mengalokasikan dana sesuai porsi kebutuhan yakni 60 persen untuk belanja publik dan 40 persen untuk belanja rutin. Dia juga menyatakan akan menerapkan pola pembangunan dalam semangat kolegial partisipatif bersama seluruh elemen masyarakat.

"Kita bersama nai ca anggit tuka ca leleng bangun Manggarai Timur menuju arah yang lebih baik. Kalau bukan kita siapa lagi, kalau bukan sekarang kapan lagi. ABBA bertekad membawa harapan baru menuju masyarakat Manggarai Timur yang sejahtera," katanya.

Sementara Gorgonius D Bajang menambahkan bahwa Matim yang masyarakatnya mayoritas petani, maka pembangunan diarahkan pada peningkatan kapasitas produksi komoditi petani serta menyiapkan sarana pemasaran. Selain itu membekali petani dengan pelatihan dan penyuluhan.

"Pekosamaraga tercapai melalaui kerjasama, selain itu meningkatkan keterampilan para petani," katanya.
Bajang juga berjanji memperhatikan sektor pendidikan, kesehatan, sarana dan prasarana, fasilitas umum guna menpercepat akselerasi masyarakat.


Sementara jurkam ABBA, Cypri Aoer dan Ketua DPC PDIP Manggarai Timur, Willy Nurdin, menjelaskan, ABBA memiliki kapasitas memimpin yang teruji. Biron Aur sebagai birokrat tulen dan Gorgonis D Bajang sebagai aktivis sudah mengetahui dan merekam detak jantung kebutuhan masyarakat Manggarai Timur. Tentunya, tegas Nurdin, Pekosamaraga adalah pioner dalam membangun Manggarai Timur. Sentra-sentra lalu lintas dan distribusi serta kantong produksi akan diperhatikan dengan baik. Poros tengah untuk lalu lintas masyarakat disiapkan dengan baik. ABBA menjamin dalam kepemimpinan keduanya akan membawa fajar pencerahan, pembaharuan dan harapan baru menuju masyarakat sejahtera. (lyn/advertorial)

Pos Kupang edisi Sabtu, 25 Oktober 2008 halaman 1, http://www.pos-kupang.com

NTT Bangkit: Lestarikan Komodoku

Oleh Oby Lewanmeru

PROPINSI NTT sejak 2007 sudah dicanangkan sebagai daerah unggulan baru pariwisata di kawasan timur Indonesia. Pencanangan itu antara lain bertujuan menjadikan NTT sebagai gerbang Asia-Pasifik berbasis pariwisata, seni, dan budaya.

Salah satu icon pariwisata di NTT adalah komodo (varanus komodoensis), kadal raksasa yang terdapat di Pulau Komodo, Kabupaten Manggarai Barat. Pemerintah sudah melindungi binatang purbakala itu dengan menetapkan kawasan seluas 173.300 hektar (ha) yang terdiri dari 40.728 ha daratan dan 132.572 ha laut, sebagai

Taman Nasional Komodo (TNK) pada 6 Maret 1980. Dalam kawasan ini ada tiga buah yakni Pulau Komodo (33.937 ha), Pulau Rinca (19.627 ha) dan Pulau Padar (2.017 ha).

Tahun 1986 kawasan ini ditetapkan sebagai Cagar Biosfer. Tahun 1991 UNESCO mengukuhkan binatang komodo sebagai warisan dunia di Indonesia. Tak bisa dipungkiri lagi daya tarik kadal raksasa ini bagi dunia pariwisata. Maka tak ada alasan bagi siapa pun untuk menyelamatkan binatang purbakala itu dari kepunahannya. Kelestariannya hanya bisa dijaga dengan menjamin agar alam lingkungannya tetap asli, tidak dirusak. Flora dan fauna yang berada dalam kawasan itu saling mendukung.

Populasi komodo pada tahun 2000 terdata 1.009 ekor di Pulau Komodo dan 1.001 ekor di Pulau Rinca. Data tahun sebelumnya di Pulau Komodo ada 1.062-1.772 ekor komodo sedangkan di Pulau Rinca berkisar 1.110- 1.344 ekor. Pendataan oleh BTNK tahun 2003, tercatat ada 2.616 ekor komodo yang hidup di Pulau Komodo dan Pulau Rinca. Jumlah ini turun drastis pada tahun 2005 yakni 2.535 ekor. Disebutkan bahwa komodo yang masih kecil banyak yang mati karena kesulitan mendapatkan makanan.

Penurunan ini akibat terganggunya ekosistem habitat komodo selain tekanan-tekanan alam pada habitatanya termasuk berkurangnya mangsa utama komodo. Sejumlah faktor yang mempengaruhi penurunan populasi komodo antara lain, kerusakan habitat asli akibat ulah manusia diantaranya pembakaran hutan dan areal lain dalam TNK, perburuan liar terhadap mangsa utama komodo yakni rusa, selain tekanan-tekanan alam dan manusia. "Jelas kita semau bisa lihat ada trend penurunan populasi komodo lima tahun terakhir akibat berbagai tekanan yang dialami binatang ini. Kalau kita semua tidak bersama menjaga kelestarian dari satwa langka ini maka diprediksi dalam rentang waktu dekat dan menengah sekitar 10-20 tahun mendatang binatang ini bisa punah," kata Balai Taman Nasional Komodo (BTNK), Drs. Tamen Sitorus.

***
Sesuai hasil survai yang dilakukan berbagai elemen bidang pariwisata, komodo masih menjadi "magnet utama" bagi kunjungan wisatawan. Kebanyakan turis yang datang ke TNK, tujuan utamanya adalah ingin melihat komodo selain menikmati keindahan alamnya.
Sitorus mengakui wisatawan mancanegara yang berwisata ke Mabar tujuan utamanya adalah melihat binatang komodo.

"Turis yang datang pertama kali di daerah ini hanya punya satu tujuan utama yakni melihat komodo. Dan apabila turis yang sama itu datang lagi maka untuk lihat komodo bukan lagi tujuan utama tapi mereka itu datang hanya untuk menyelam serta menikmati panorama laut serta wisata alam lainnya," kata Sitorus.

Kunjungan turis tahun ini sudah mencapai 7.347 orang. Tahun 2006 turis yang datang ke TNK mencapai 17.673 orang, 2007 meningkat menjadi 20.069 orang. Perkembangan yang menggembirakan dan menggairahkan.

Namun salah satu masalah yang dihadapi ialah sarana prasarana penunjang seperti hotel/penginapan, restoran, transportasi dan komunikasi. Di bidang komunikasi, internet dan jaringan telepon masih menjadi kendala. Sudah ada sebuah hotel berbintang namun masih dirasakan masih kurang. Karena itu pada tahun depan sudah ada pembangunan satu buah hotel berbintang lagi berstandar internasional.

Masalah lainnya, para wisatawan kebanyakan masuk dari NTB dan langsung ke Pulau Komodo maupun Pulau Rinca untuk melihat komodo. Ini tantangan bagi Pemkab Mabar untuk menjadikan Labuan Bajo memiliki daya tarik tersendiri agar para turis mau datang ke Labuan Bajo, entah sebelum atau sesudah ke Pulau Komodo.

***

Sesuai sejarah, binatang purbakala itu sudah menyatu dengan manusia di Pulau Komodo. Warga Kampung Komodo sampai sekarang menganggap komodo sebagai nenek moyang mereka yang harus dihormati.
Isaka Mansyur, warga Kampung Komodo, mengisahkan pada jaman dahulu hiduplan seorang putri di Pulau Komodo dan warga setempat menyapanya dengan Putri Naga. Sang putri kemudian menikah dengan seorang pemuda bernama Majo. Lahirlah anak kembar dari pasangan ini, seorang bayi lak-laki dan seekor naga.

Anak laki-laki diberi nama Gerong dan dibesarkan di dalam kampung, sedangkan naga tadi diberi nama Ora dan dibesarkan di hutan. Kakak beradik ini tidak saling mengenal. Beberapa tahun kemudian, Gerong berburu di hutan. Gerong hendak membunuh rusa, tapi mendadak hadir seekor kadal besar dari semak belukar dan berusaha menyelamatkan rusa itu. Gerong berusaha tetapi tidak mampu sebab kadal itu sudah menguasai rusa. Gerong marah dan mengangkat tombaknya hendak membunuh kadal raksasa itu. Saat itu tiba-tiba muncul pula seorang wanita cantik. Wanita itu mengatakan kepada Gerong bahwa kadal itu adalah saudaranya sendiri yang bernama Ora, jangan dibunuh. Sampai saat ini, warga Kampung Komodo masih menganggap komodo sebagai Ora, saudara mereka sehingga bisa hidup berdampingan satu sama lain.

Warga setempat sulit untuk dipisahakan dari komodo. Pernah, suatu ketika pemerintah berencana memindahkan penduduk Kampung Komodo ke tempat lain. Saat itu sebagian besar komodo menghilang dari pulau itu. Mereka baru muncul kembali setelah pemerintah membatalkan rencananya. *

Pos Kupang edisi Sabtu, 25 Oktober 2008 halaman 1, http://www.pos-kupang.com/

Jabatan Dirut PD Flobamor Bernuansa Politik

KUPANG, PK--Mantan Direktur Umum (Dirut) PD Flobamor NTT, Stanis Tefa, S.H, menegaskan, menjadi Direktur Utama (Dirut) PD Flobamor NTT sarat muatan politik. Dengan kondisi seperti itu, dirut sangat menyulitkan dalam menjalankan usaha.

Stanis Tefa mengatakan itu kepada Pos Kupang di ruang kerjanya, Rabu (22/10/2008). Muatan politik itu, kata Tefa, manakala mengelola perusahaan ada-ada saja kebutuhan yang sulit untuk terungkap secara terbuka. Muatan politik itu, datang dari partai politik pada satu sisi dan pemerintah pada sisi lain.

Tefa mengatakan, kondisi seperti tentu juga dirasakan direktur lainnya di PD Flobamor. Dia mengaku banyak orang tidak tahu kondisi seperti itu. Dari pengalamannya, kata Tefa, DPRD NTT pernah secara terbuka dalam rapat pemandangan akhir fraksi menuding dirinya pernah korupsi sehingga disarankan untuk diganti. "Saya pernah alami kondisi tertekan seperti itu. Kondisi seperti itu sangat berat. Tetapi beruntunglah, semua telah berlalu. Saya lebih senang menjual es batu di kios sendiri ketimbang mengelola uang daerah miliaran rupiah," ujar Tefa.

Tefa juga meluruskan soal penyertaan dana pemerintah daerah ke PD Flobamor senilai Rp 1, 5 miliar sejak awal bukan dalam bentuk uang tunai. Dana Rp 1,5 miliar itu merupakan bagian dari kompensasi pemerintah terkait dengan saham pemerintah daerah di PT Semen Kupang. Saham pemerintah daerah dalam bentuk tanah dikonversikan dalam rupiah senilai Rp 1,5 miliar.
Mengenai dana dari pemerintah daerah, kata dia, setiap tahun pasti dialokasikan dalam APBD I. Namun, PD Flobamor setiap tahun juga menyumbang untuk APBD NTT. "Ada bantuan dana dari pemerintah, dan perusahaan daerah selalu mengembalikan untuk APBD I," ujarnya.

Dia mengaku tidak tidak gampang menjadi Dirut PD Flobamor. Perusahaan seperti ini terkadang penuh intrik. "Kalau mau jadi Dirut PD Flobamor, intinya harus punya rasa memiliki. Kalau tidak memiliki rasa seperti itu, maka siap untuk gagal," ujar Tefa.

Ia mengaku membidani PD Flobamor selama 10 tahun sejak tahun 1991 hingga tahun 2001. Saat serah terima dari pejabat lama, Tefa diharuskan mengelola dana Rp 1,5 juta yang tersisa dalam kas. Jumlah dana seperti itu tentu tidak bisa membantu untuk berusaha.

Beruntung saat itu, Gubernur NTT memberi dukungan penuh. Dukungan gubernur ketika itu bukan dalam bentuk dana, tetapi sejumlah kemudahan. Malah, kantor-kantor pernah diwajibkan membeli ATK di PD Flobamor. Namun kegiatan seperti itu juga merugi karena dinas terkadang baru membayar setelah satu tahun kemudian. "Bagaimana bisa jalan usaha seperti itu? Kita membeli dari orang toko dengan tunai, sedangkan dinas harus kredit. Akibatnya, modal tidak bisa bergulir dan susah berkembang," ujarnya.

Tefa mengakui hanya tiga gubernur yang serius dan punya komitmen mengelola PD Flobamor. "Soal kemajuan perusahaan daerah, saya harus akui kepiawaian tiga Gubernur NTT, El Tari, Ben Mboi dan Fernandez. Hanya tiga gubernur itu saja yang komit terhadap pengembangan perusahaan daerah," ujarnya.
Malah gubernur Hendrik Fernandez sempat memberikan dua unit mobil fuso yang sudah rusak tetapi diperbaiki hingga beroperasi.

Sementara itu, mantan Dirut PD Flobamor lainnya, Benediktus Muda, S.E, enggan memberi komentar ketika dihubungi Pos Kupang, Jumat (24/10/2008). Muda hanya tersenyum ketika menyinggung soal permainan politik yang terjadi dalam perusahaan.

Ia hanya menyinggung soal dana. Menurut Muda, dana yang diberikan pemerintah untuk PD Flobamor sangat terbatas. Akibatnya, usaha yang dilakukan terbatas pula. "Jangan orang berpikir dana yang diberikan tahun 1980 berlanjut. Persoalannya, dana yang diberikan sebelum untuk kebutuhan operasional seperti gaji karyawan dan lainnya. Pejabat yang baru mengelola dana baru pula," ujarnya.

Ia memimpin PD Flobamor sejak tahun 2000 hingga 2006. Dana yang paling banyak dikucurkan Pemerintah NTT baru tahun 2006 dalam kaitan rencana pembangunan ruko. Dana tersebut tidak sempat ia kelola karena keburu diganti. "Saya masih punya data berapa dana yang diberikan kepada pemerintah setiap tahun. Apa yang kita berikan kepada pemerintah pasti terbatas sesuai dengan modal kerja," ujarnya. (ely)

Pos Kupang edisi Sabtu, 25 Oktober 2008 halaman 1, http://www.pos-kupang.com

Pilkada Rote, Rp 2,5 M untuk Putaran Kedua

BA'A, PK -- Anggaran untuk membiayai pelaksanaan Pilkada Rote Ndao putaran kedua diperkirakan mencapai Rp 2,5 miliar. Demikian rancangan kebutuhan dana yang dibuat Komisi Pemilihan Umum Daerah (KPUD) Kabupaten Rote Ndao.

"Rancangan kami Rp 2,5 miliar untuk putaran kedua. Tapi ini belum pastikan karena kami belum menghitung secara mendetail. Saat ini yang kami butuhkan adalah belanja untuk logistik termasuk surat suara, alat peraga, tinta dan lainnya. Juga biaya untuk petugas pemutakhiran data dan biaya untuk honor para anggota KPPS yang diperkirakan mencapai Rp 300 juta sampai Rp 400 juta. Sementara biaya perjalanan dinas dan honor para annggota KPUD, PPK dan staf sudah dianggarkan hingga Desember 2008," jelas Ketua KPUD Rote Ndao, Robert H Lona saat ditemui di ruang kerjanya, Jumat (24/10/2008).

Saat itu, Robert Lona didampingi, anggota KPUD, Frida I E Tjong, Denny Saudale dan Sekretaris KPUD, Christian Dae Panie. Lona mengatakan, KPUD berusaha untuk menekan biaya. "Anggaran yang sudah kami rancang ini akan kami bicarakan lagi dengan Pemda dan akan kami konsultasikan ke Mendagri termasuk konsultasi jadwal. Karena jadwal tahap kedua tersebut masih berubah namun proses tahap kedua tetap berjalan dalam bulan November dan Desember dilakukan pelantikan sesuai dengan surat edaran Mendagri," katanya.

Mengenai bilik dan kotak suara yang dibakar pada tanggal 15 Oktober lalu, Lona mengatakan, KPUD akan menggunakan bilik dan kotak suara cadangan sehingga tidak perlu ada belanja tambahan.

"Kalau kurang satu dua, kita akan pikirkan apakah untuk mengantinya dengan kayu. Tapi, ini juga harus dibicarakan lagi agar tidak terjadi polemik. Karena soal bilik dan kotak ini tidak ada standar apakah mau pakai almunium, kayu atau plastik," katanya.

Mengenai logistik, Lona mengatakan, sesuai aturan semua logistic ditender. Namun, dengan sisa waktu yang cukup singkat, KPUD akan membicarakan lagi dengan pemerintah untuk melihat acuan apakah bisa atau tidak. "Kalau melihat dari sisi waktu yang ada maka bisa PL namun kita akan kaji kembali sehingga tidak menjadi masalah. Karena sesuai aturan yang ada kita harus tender," katanya.

9.762 Tidak Coblos
Lebih lanjut, Lona menjelaskan pada pilkada putaran pertama, sebanyak 9.762 pemilih tidak mencoblos pada Senin (13/10/2008), dari total pemilih yang ditetapkan 73.235 jiwa. Rinciannya, sebanyak 5025 pemilih laki-laki dan 4.737 perempuan. Dengan demikian, pemilih yang mencoblos sebanyak 62.590 orang, dengan rincian laki-laki 31.800 dan perempuan 30.790 orang.


Pemilih yang tidak menggunakan haknya tersebar di Kecamatan Rote Barat Laut yaitu sebanyak 2.522 jiwa. Selanjutnya disusul berturut-turut, Kecamatan Lobalain sebanyak 2.205 orang, Kecamatan Rote Barat Daya sebanyak 1.257 pemilih, Kecamatan Rote Timur sebanyak 1.341 pemilih dan Kecamatan Rote Barat sebanyak 1.172 pemilih. Sementara di kecamatan lain dengan jumlah pemilih kecil seperti Rote Selatan yang tidak mencoblos 415 orang, Pantai Baru 989 orang dan Rote Tengah 742. Dari jumlah ini, terhitung sebanyak 951 suara tidak sah.

Robert Lona mengatakan, banyaknya pemilih tidak mencoblos menjadi tantangan bagi KPUD juga pihak-pihak lain termasuk pemerintah agar kedepan lebih mendorong rakyat untuk menggunakan haknya.
"KPUD akan terus sosialisasikan termasuk dalam pemutahiran data kami akan perhatikan. Tapi, kami juga minta masyarakat agar berpartisipasi saat pemutakhiran data. Jika pada putaran pertama belum mencoblos agar bisa mendaftarkan namanya kembali dipetugas PPK atau KPPS terdekat untuk menggunakan hak pilihnya," kata Lona. (iva)

Pos Kupang edisi Sabtu, 25 Oktober 2008 halaman 8, http://www.pos-kupang.com

Amon Djobo Janji Beri Pelayanan Prima

KALABAHI, PK -- Pasangan Drs. Amon Djobo-Taufik Nampira, S.P, M.M (paket Amanat) berjanji akan memberikan pelayanan prima kepada masyarakat jika keduanya dipercayakan memimpin Kabupaten Alor lima tahun ke depan (2009-2014). Dalam memberi pelayanan, paket Amanat tidak pilih kasih.

Amon Djobo dan Taufik Nampira mengatakan hal ini saat berkampanye di lapangan bola kaki Mebung, Kecamatan Alor Tengah Utara, Rabu (22/10/2008). Kampanye dihadiri pendukung dan simpatisan paket Amanat dari Kecamatan Alor Tengah Utara dan sekitarnya.

Amon Djobo mengatakan, paket Amanat akan memekarkan Kecamatan Alor Tengah Utara. Desa-desa yang akan dimekarkan membentuk kecamatan baru adalah desa-desa yang berada di wilayah lembah Mainang. Pemekaran yang dilakukan bertujuan untuk mendekatkan pelayanan pemerintah.

Amon Djobo mengatakan, paket Amanat juga memperhatikan sarana infrastruktur yang merupakan salah satu kebutuhan masyarakat di wilayah itu, yang belum dilaksanakan oleh pemerintah. Infrastruktur dimaksud adalah pengerjaan jalan dari Kafekbekak ke Mainang.

Mantan Kepala Bappeda Alor ini berjanji akan memperhatikan sarana listrik di desa-desa dan memperjuangkan air bersih bagi masyarakat.

Amon Djobo menyinggung harga komoditi pertanian milik masyarakat. Apabila paket Amanat menang, maka harga komoditi akan ditingkatkan, dan menjaga kestabilan harga komoditi.

Hal lain yang akan dilaksanakan adalah membangun perumahan rakyat yang layak huni. Untuk pembangunan rumah rakyat ini, direncanakan setiap tahun dibangun 30 unit rumah di setiap kecamatan.

Pada kesempatan itu, Amon Djobo mengajak semua kandidat bersaing secara sehat, dan jangan melakukan kampanye hitam dengan melecehkan satu dengan yang lain, termasuk dengan menyebarkan surat kaleng. "Masyarakat jangan mempercayai isu-isu murahan seperti itu," katanya. (oma)

Pos Kupang edisi Sabtu, 25 Oktober 2008 halaman 7, http://www.pos-kupang.com

KPUD Serahkan Hasil Pilkada Ende

ENDE, PK -- Komisi Pemilihan Umum Kabupaten Ende, Jumat (24/10/2008) siang, menyerahkan berkas hasil Pilkada Ende kepada DPRD setempat. KPUD menetapkan pasangan Drs. Don Bosco Wangge, M. Si-Drs. Achmad Mochdar sebagai bupati dan wakil bupati Ende terpilih periode 2009-2014. Tahapan selanjutnya, Dewan mengusulkan paket ini kepada Menteri Dalam Negeri (Mendagri) melalui Gubernur NTT untuk ditetapkan.

Penyerahan hasil pilkada dilakukan Ketua KPU Ende, Fransiskus AR Senda, S.Sos, dan diterima Ketua DPRD Ende, Titus M Tibo, S.H, di ruang rapat gabungan komisi DPRD. Fransiskus Senda didampingi anggota KPUD, Sekretaris KPU Ende, Yosep Woge dan Sekretaris DPRD, Musa Djamal.

Pilkada Kabupaten Ende diikuti tujuh paket calon bupati dan wakil bupati Ende, yakni paket Ir Petrus Lengo-Paulus Pase, S.H (paket Lengo-Pase), paket Drs. Siprianus Reda Lio-Titus M. Tibo, S.H (Paket Setia), pasangan Ir. Marselinus Y.W Petu-Ir. Stefanus Tani Temu, M.Si (paket Petani), pasangan Ir. Yucundianus Lepa, M.Si-Nur Aini Rodja, S.Pd (paket Dian) dan pasangan Wilhelmus Wolo, S.H- Drs Albert Magnus Bhoka (paket Wolo-Bhoka), pasangan Silvester Djuma, S.H-H Djafar H Ahmad, M. M (paket Mawar) dan paket Drs. Don Bosco Wangge, M. Si-Drs Achmad Mochdar (paket Doa).

Sesuai hasil rekapitulasi penghitungan suara KPU Ende, paket Doa memperoleh 55.074 suara sah atau 41,94 persen dan ditetapkan sebagai calon bupati dan wakil bupati terpilih.
Titus M Tibo, S.H yang ditemui usai acara penyerahan, Jumat kemarin, mengatakan, Dewan akan mengusulkan kepada Mendagri melalui Gubernur NTT untuk menetapkan hasil pilkada pada tanggal 24 Oktober 2008. (mar/rom)

Hasil penghitungan suara Pilkada Ende

-----------------------------------------------------------------------
Nama paket Jumlah suara persentase
-----------------------------------------------------------------------
Lengo-Pase 14. 443 11,00
Mawar 22.459 17,10
Wolo Bhoka 12.953 9,86
Setia 11.588 8,82
Doa 55.074 41,94
Petani 11.435 8,71
Dian 3 .368 2,56
Total suara 131.320 100 persen
----------------------------------------------------------------------------
Sumber KPUD Kabupaten Ende

Total pemilih 157.061
Ikut memilih 135.322
Tidak ikut memilih 21..846
Suara tidak sah 4.002
Persentase yang ikut pilih 83,60 persen
Jumlah TPS 540 TPS

Pos Kupang edisi Sabtu, 25 Oktober 2008 halaman 7, http://www.pos-kupang.com
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Best WordPress Themes