Telaten Menyapa Anak Petani SBD

WEETABULA, PK -- Penduduk terbesar Kabupaten Sumba Barat Daya (SBD) adalah petani, sehingga petani dan anak- anaknya harus diberi perhatian khusus.

Demikian sari kampanye calon bupati (Cabup) SBD, Thimotius Langgar, S.H dan calon wakil bupati, dr. Marthen Caley (paket Telaten) di Desa Tanggaba, Kecamatan Wewewa Timur, Sabtu (27/9/2008) siang. Kampanye paket ini mendapat perhatian massa yang datang dari 20 desa di kecamatan itu.
Langgar mengatakan, jumlah penduduk SBD terbesar adalah petani. Karena itu, petani harus benar-benar mendapat perhatian dalam membangun SBD ke depan.

"Membangun SBD ke depan sungguh-sungguh harus memperhatikan petani. Petani miskin, petani yang tidak punya tanah, petani yang punya tanah sedikit dan anak-anak petani. Mengapa anak-anak petani perlu diperhatikan? Karena yang lahir di SBD terbanyak adalah anak petani. Dengan demikian, masalah terbanyak di SBD juga adalah masalah anak-anak petani. Anak tidak sehat, kurang gizi, kurus, kelaparan, miskin, ada anak petani yang tidak sekolah, tidak bisa melanjutkan ke perguruan tinggi, anak petani yang tidak dapat lapangan kerja dan lain-lain," kata Langgar.

Dia mengatakan, apabila terpilih sebagai bupati, program strategis yang akan dibangun adalah program yang berpihak pada petani, yakni membangun ekonomi rakyat, pendidikan rakyat, kesehatan rakyat, ketertiban ketenteraman rakyat dan sektor strategis yang meliputi kepariwisataan dan kelautan/perikanan, yang diharapkan dapat memperluas lapangan kerja serta pemanfaatan secara optimal sumber daya alam yang dapat meningkatkan pendapatan dan kesejahteraan masyarakat.

"Kenapa harus bangun ekonomi, pendidikan, kesehatan, trantibmas dan sektor strategis? Karena pendapatan masyarakat rendah. Kenapa pendapatan rendah? Karena rata-rata pendidikan, pengetahuan dan keterampilan rendah. Kenapa pendidikan rendah? Karena rata-rata masyarakat tidak mampu melanjutkan ke pendidikan tinggi. Kenapa tidak mampu ke perguruan tinggi? Karena rara-rata mereka miskin. Kenapa masyarakat miskin? Karena pendapatan rata-rata rendah. Dan, kenapa pendapatan rendah? Karena pengetahuan dan keterampilan mereka rendah,"kata Langgar dan mencontohkan orang Sumba jual 1 kg kayu cendana Rp 20.000,00, ketika kayu cendana sampai di Bali, lalu diolah dan diukir jadi patung, harganya sudah berkisar lima ratus ribu hingga lima juta rupiah, bahkan bisa mencapai belasan juta rupiah.

Menurut Langgar, masyarakat perlu memperoleh pelatihan, keterampilan dan pengetahuan agar mampu mengolah berbagai kebutuhan bagi peningkatan pendapatannya. (cha)

Pos Kupang edisi Senin, 29 September 2008 halaman 8
Reaksi:

0 komentar:

Posting Komentar

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Best WordPress Themes