86 Tahun Kefamenanu (3)

Oleh Julianus Akoit

SEJAK didirikan oleh pemerintah militer Belanda pada tanggal 22 September 1922, secara perlahan namun pasti Kota Kefamenanu berkembang dan bertumbuh menjadi lebih baik. Ruas jalan dalam kota dibangun atas perintah Controleur (administrator) Onderafdeeling Noord Midden Timor, H.G.Schulte Nordholt. Jaringan telepon dipasang, gedung pemerintah dibangun.

Para pedagang Cina diajak bekerja sama, menghidupkan roda perekonomian dalam kota. Maka muncullah beberapa toko Cina, diantaranya Toko Kupang, Toko Atapupu, Toko Po Vo dan Toko San Lin serta sebuah toko koperasi, yang didirikan oleh Tuan Ambrosius Salu Tjung Kie, yang pernah menjabat sebagai Asisten Besteur Belanda.

Setelah merdeka dan lepas dari Belanda dan Jepang, Kota Kefamenanu terus berkembang. Ketika diberlakukan Undang-Undang Nomor 69 Tahun 1958 (lembaran Negara Nomor 122 Tahun 1958) tentang Pembentukan Daerah Swatantra Tingkat I (NTT, NTB dan Bali) dan daerah-daerah Swatantra Tingkat II, Kota Kefamenanu tetap ditunjuk sebagai ibukota Swatantra II Timor Tengah Utara (TTU).

Ketika menjadi Bupati TTU, Yakobus Ukat, BA (1970 - 1975), menjadikan Kota Kefamenanu sebagai Kota Neon di daratan Timor. Jaringan listrik berlampu neon dipasang di ruas jalan utama Kota Kefamenanu. Kota yang dulunya gelap dan cuma diterangi temaram lampu minyak dari beranda rumah-rumah penduduk, bersalin rupa menjadi terang-benderang. Ruas jalan dalam kota dibangun lebih banyak dan lebih lebar serta Kantor Bupati TTU dan Gedung DPRD TTU (lama) dibangun semasa kepemimpinan Bupati Drs. J.M. Nailiu (1975 - 1985).

Selanjutnya, dibuatlah rancangan tata ruang Kota Kefamenanu dengan didahului pembangunan beberapa ruas jalan dalam Kota Kefamenanu ketika Drs. St. P. Parera menjabat sebagai Bupati TTU (1985 - 1990). Saat menggantikan Bupati Parera, Drs. Anton Amaunut (1990 - 2000) melakukan revisi perencanaan tata ruang Kota Kefamenanu dan menggulirkan Program Konsolidasi Tanah Perkotaan serta gagasan Kota Kefamenanu sebagai "Kota Bersatu".

Pasangan Bupati dan Wakil Bupati TTU periode 2000 - 2005, Drs. Hendrikus Sakunab dan Drs. Gabriel Manek, M.Si, ketika dipercayakan memimpin wilayah ini, mencanangkan program Kota Kefamenanu sebagai Kota SARI (Sehat, Aman, Rindang dan Indah) dan Wini sebagai Kota Satelit. Dua program ini dilanjutkan juga dalam masa kepemimpinan Drs. Gabriel Manek, M.Si dan Raymundus Sau Fernandes, S.Pt (2005 - 2010).

Lalu apa itu Kota Satelit? Banyak rumusan pengertian yang bisa dicantumkan di sini, tapi mungkin yang dimaksud dengan Kota Satelit adalah sebuah kota baru yang dibangun di dekat atau di pinggiran sebuah kota besar dalam rangka perluasan kota. Atau kota yang terletak di pinggir atau berdekatan dengan kota besar yang secara ekonomi, sosial, administratif dan politik bergantung atau dipengaruhi oleh kota besar itu.


Berdasarkan rumusan pengertian di atas maka Program Pembangunan Kota Wini Sebagai Kota Satelit adalah suatu upaya mendasar yang merupakan inti program pembangunan Kota Wini sebagai pusat pemerintahan, pusat perekonomian (pusat perdagangan dan industri) dan pusat pemukiman dalam rangka menunjang pengembangan Kota Kefamenanu dan Pembangunan Daerah Kabupaten TTU.

"Maksud dari usaha mewujudkan Kota Wini sebagai Kota Satelit adalah untuk meningkatkan pemahaman dan penghayatan seluruh masyarakat agar secara bersama bersikap dan bertindak untuk membangun Kota Wini sebagai kota satelit dalam semangat kekompakan, persatuan dan kesatuan," demikian penjelasan Bupati TTU, Drs. Gabriel Manek, M.Si kepada para wartawan di Kefamenanu, usai dilantik sebagai Bupati TTU periode 2005 -2010.

Bupati Manek juga menegaskan tujuan dari usaha mewujudkan kota Wini sebagai kota satelit adalah untuk membangun dan menciptakan kota Wini menjadi kota yang layak huni (liveable), kota yang mempunyai suasana dan iklim ekonomi yang kondusif untuk investasi (bankable), kota yang dapat dikembangkan dan berkembang secara berkelanjutan (sustainable) baik dalam aspek ekonomi maupun dalam aspek lingkungan, dan kota yang yang dalam pembangunan dan pengelolaannya selalu melibatkan seluruh komponen masyarakat (stakeholders) sehingga menjadi kota yang partisipatif.

Kini, program pengembangan Kota Satelit Wini diarahkan pada enam pokok kegiatan. Pertama, peningkatan, pengembangan dan rehabilitasi fasilitas dan pusat-pusat kegiatan perkotaan yang telah tersedia. Kedua, peningkatan pengembangan dan pembangunan sarana dan prasarana perhubungan (darat dan laut) untuk kelancaran dan kemudahan aksebilitas dari Kota Kefamenanu ke Kota Wini, di dalam Kota Wini, dan dari Kota Wini Ke Kota Kefamenanu dan kota sekitarnya. Ketiga, pencadangan dan pemotongan tanah. Keempat, pembangunan dan pengembangan fasilitas sosial seperti pendidikan dan kesehatan dan fasilitas lainnya. Kelima, pembangunan pusat perdagangan dan industri. Keenam, pembukaan wilayah atau kawasan dalam rangka perluasan Kota Wini.

Bagaimana realitanya sekarang? Dan bagaimana aktualisasi dari Program Kota Wini sebagai Kota Satelit? Wini adalah ibukota Kecamatan Insana Utara. Luas Kota Wini (Kelurahan Humusu C) hanya 15,34 kilometer persegi atau hanya 14,37 persen dari total luas wilayah Kecamatan Insana Utara. Masih ada 9 desa dan kelurahan di Kecamatan Insana Utara. Letaknya hanya 63 kilometer arah utara dari Kota Kefamenanu, ibukota Kabupaten TTU. Jumlah penduduk Kota Wini hanya 509 KK atau 2.292 jiwa.

Pola pemukiman dan sebaran pemukiman dalam Kota Wini lebih banyak terkonsentrasi pada sepanjang jalan kolektor ke arah selatan yaitu dari Wini - Kefamenanu dan ke arah timur, yaitu Wini - Ponu. Sekarang, dari Wini - Ponu, sudah ada jalan negara hotmix seluas 6 meter sepanjang 45 kilometer hingga tembus ke Atapupu, Kabupaten Belu. Keadaan ini dianggap wajar karena adanya faktor penarik (pull factor) dari Kota Kefamenanu dan Kota Ponu.

Di Kota Wini terdapat beberapa fasilitas pelayanan pemerintahan seperti kantor camat, polsek dan koramil, dan Puskesmas dan Badan Pengelolaan Air Minum. Ada juga pelayanan Bank BRI Unit Wini, gedung sekolah SD, SMP dan SMK Negeri Perikanan, PLN dan jaringan listriknya. Namun sayang, kemampuan daya yang tersedia cuma 86.000 VA, yang hanya melayani 144 pelanggan. Jaringan telekomunikasi melalui telepon kabel (telkom) belum ada. Kondisi ini diselamatkan oleh hadirnya 1 BTS Telkomsel untuk komunikasi melalui telepon nirkabel (handpone).

Di bidang ekonomi, ada 1 pasar mingguan dan aktivitas bongkar muat di pelabuhan Wini. Namun aktivitas itu cuma seadanya dan jarang dilakukan. Yang ramai jika ada pengiriman ternak sapi ke Jawa dan pulau sekitarnya serta aktivitas nelayan di dermaga ikan. Menurut rencana, tahun 2009 hingga 2010 akan dilakukan pembangunan perluasan Pelabuhan Wini seluas 40.000 meter persegi. Di lokasi ini akan dibangun pula pelabuhan kontainer, pembangunan gudang line I, pembangunan pelataran penumpukan barang, rambu laut dan instalasi listrik pelabuhan laut. Juga di tahun yang sama akan dibangun Terminal Bus Tipe C Wini seluas 2.832,40 meter persegi.

Semua potensi SDA dan SDM di Wini, adalah modal utama pembangunan kendati belum dianggap maksimal. Masih butuh sentuhan-sentuhan serius dan maksimal dalam perencanaan yang lebih matang didukung pembiayaan dari APBD Kabupaten TTU maupun APBN. Kita berharap, program Pembangunan Kota Satelit Wini tidak hanya sebatas dokumen tertulis yang disimpan dalam lemari pejabat, namun harus diaktualisasikan secara serius dan maksimal secara berkelanjutan dengan melibatkan partisipasi masyarakat setempat. Dengan begitu, majunya Kota Wini berimbas pula bagi kemajuan pengembangan Kota Kefamenanu, maupun sebaliknya. Semoga. (habis)

Pos Kupang edisi Senin, 15 September 2008 halaman 1
Reaksi:

0 komentar:

Posting Komentar

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Best WordPress Themes