86 Tahun Kefamenanu (2)

Oleh Julianus Akoit

DENGAN bermarkasnya penguasa militer Belanda di Kefamenanu pada tanggal 22 September 1922, secara resmi sistem pemerintahan Onderafdeeling Noord Midden Timor berpindah dari Noetoko ke Kefamenanu. Setahun kemudian, dibangunlah gedung Kantor Onderafdeeling oleh seorang arsitek kenamaan bangsa Belanda bernama Tuan Peddemons.

Selain membangun Kantor Onderafdeeling, juga dibangun Kantor Polisi Belanda dekat rumah Jabatan Bupati TTU sekarang. Sedangkan Klerk I (Kepala Kantor Belanda) ditunjuk Tuan Denu, seorang warga keturunan Sabu. Rumah tinggal Tuan Denu kini dijadikan Kantor Dinas Kimpraswil Kabupaten TTU, sekitar 25 meter dari gedung Kantor Onderafdeeling.

Selanjutnya pada tahun 1939, kekuasaan militer Belanda berubah menjadi pemerintahan sipil Belanda, dengan ditunjuknya seorang Controleur (administrator) Onderafdeeling pertama, yaitu Tuan Peddemars. Perubahan kekuasaan militer Belanda menjadi pemerintahan sipil Belanda, berdasarkan Delf Bestuur Regelen 1938 dalam Indische Staasblad No. 372.

Pada bulan Desember 1939, Peddemars digantikan oleh Controleur H.G. Schulte Nordholf. Ia bertugas hingga tahun 1942. Nordholf adalah seorang terpelajar yang punya minat besar terhadap masalah antropologi. Ketika bertugas di Kota Kefamenanu, ia meluangkan waktu untuk melakukan penelitian seputar masalah sistem politik Atoni Timor (orang Timor asli). Hasil penelitian itu dijadikan disertasi doktoralnya dengan judul: Het Politieke van de Atoni von Timor.

Ketika Jepang menyerang Australia dan masuk ke Pulau Timor 1942 - 1947, Nordholf dan keluarganya melarikan diri ke Belanda melalui Oecusse. Praktis roda pemerintahan sipil Belanda di Kefamenanu goncang. Tengah malam sebelum melarikan diri, Nordholf sempat memanggil Tuan de Haan dan meminta de Haan sebagai administrator (controleur) sementara Pemerintah Sipil Belanda di Kota Kefamenanu. Selanjutnya jabatan de Haan digantikan oleh Tuan Detaq.

Pada masa kepemimpinan Detaq, istilah controleur diganti dengan sebutan Oetoesan Pemerintah Daerah (OPD). Kemudian Detaq diganti oleh C.M.K. Amalo dan sebutan OPD diganti dengan istilah Kepala Pemerintahan Sementara (KPS). Jabatan KPS terakhir di Kefamenanu dipegang oleh M.Y. Ngefak.

Pada masa kepemimpinan Ngefak, Kota Kefamenanu menjadi tempat pertemuan para raja Timor di lingkungan Keresidenan Timor pada tanggal 21 Oktober 1946. Hasil pertemuan ini menjadi dokumen penting bagi lahirnya Undang-Undang Nomor 69 Tahun 1958 (lembaran Negara Nomor 122 Tahun 1958) tentang Terbentuknya Daerah Swatantra Tingkat I (NTT, NTB dan Bali) dan Daerah-daerah Swatantra Tingkat II. Pada bulan Desember 1958 lahirlah daerah Swatantra Tingkat II Timor Tengah Utara, dengan Ibu kotanya Kefamenanu.

Kota Kefamenanu, dulunya terdiri dari perkampungan kecil (small hamlets) atau "Kuan" (sebutan dalam bahasa Dawan Timor). Batas Kota Kefamenanu, mulai dari Kampung Kaisar (sekarang Kampung Baru). Selanjutnya Tangsi Polisi Lama melewati pinggir kali menuju gedung Penjara Lama dan PLN Lama, terus ke Toko Sinar Karya, rumah almarhum Dimatnusa terus kembali ke Rumah Jabatan Bupati TTU sekarang. Luasnya tidak sampai 20 kilometer persegi dengan jumlah penduduk sekitar 300 KK. Dalam kota kecil ini, berdiri pertokoan Cina, antara lain Toko Kupang, Toko Atapupu, Toko Po Vo dan Toko San Lin serta sebuah toko koperasi, yang didirikan oleh Tuan Ambrosius Salu Tjung Kie, yang pernah menjabat sebagai Asisten Besteur Belanda.

Lalu bagaimana wajah Kota Kefamenanu sekarang? "Luar biasa. Saya sangat kagum melihat perkembangan Kota Kefamenanu sekarang. Saya tidak pernah membayangkan Kota Kefamenanu akan berubah menjadi besar sedemikian cepatnya. Warga Kota Kefamenanu juga sangat dinamis, dan penuh optimis," kata Henck Schultenorholt, seorang Sejarawan dari Universitas Leiden - Belanda dan dikenal pula sebagai ahli kebudayaan Bali, ketika bertemu wartawan di Kantor Bupati TTU tahun 2006 lalu. Profesor Henck dilahirkan di Kefamenanu. Hampir seluruh masa kanak-kanaknya ia habiskan di Kota Kefamenanu.

Pendapat Profesor Henck tidak salah. Sekarang, luas Kota Kefamenanu mencapai 79 kilometer persegi, dengan jumlah penduduk sebanyak 7.417 KK atau 35.494 jiwa, yang menyebar di 10 kelurahan, 182 RT, 61 RW dan 60 dusun/lingkungan. Atau jumlah penduduknya bertambah hampir 100 kali lipat dan luas kotanya pun bertambah hampir 10 kali lipat setelah 86 tahun.

Dulu kala, kantor Onderafdeeling yang kecil dan sumpek, kini sudah diganti dengan gedung berlantai dua yang megah di Jalan Jenderal Basuki Rachmat. Jalanan kota dari aspal kasar (lapen) kini berganti menjadi aspal hotmix yang licin mulus. Bahkan sepanjang 9 kilometer ke arah Kupang dan 4 kilometer arah Atambua, jalan dua jalur siap menyambut tamu yang menyinggahi Kota Kefamenanu. Dulunya cuma ada enam buah toko Cina, sekarang sudah ratusan toko, puluhan rumah makan, belasan gedung sekolah dan puluhan gedung pemerintahan.

Rumah penduduk kota yang dulunya sederhana, berganti rumah tembok bercat warna-warni yang mengkilat. Dulunya cuma ada satu mobil milik Controleur dan Residen Belanda dan puluhan sepeda dayung, kini berganti ratusan kendaraan mewah berbagai merek dan sepeda motor yang berseliweran di jalan-jalan protokol Kota Kefamenanu. Dulunya alun-alun berada di halaman depan rumah dinas Controleur Belanda, kini menjadi lapangan umum yang megah di Oemanu.

Dulu telepon kabel melintasi pepohonan di pinggir jalan, sekarang berganti telepon nirkabel (handphone) atau telepon genggam. Dulunya cuma ada Gereja Katolik Santa Theresia dan Gereja Protestan di ujung alun-alun, kini sudah berdiri belasan gereja dan masjid serta pura dan vihara. Enam buah hotel, dua bank, satu terminal bus dan dua buah pasar pun berdiri megah di jantung Kota Kefamenanu.

Perubahan fisik ini juga berdampak pada perubahan sosial-budaya dan ekonomi penduduk Kota Kefamenanu. Dulu, pada sore hari, hanya tampak Noni Belanda ditemani pria Belanda dewasa naik sepeda pancal keliling Kota Kefamenanu seraya bercerita. Sang Noni Belanda mengenakan baju longdress berenda di ujungnya hingga tumit kaki dan pria Belanda mengenakan baju bersaku empat di depan dan celana komprang yang disetrika licin. Bosan berkeliling dengan sepeda pancal, mereka duduk di bawah pohon asam Belanda di ujung alun-alun kota, melanjutkan ceriteranya. Bila matahari nyaris tenggelam, pasangan muda-mudi ini pulang ke rumahnya sambil terus berceritera diselingi tawa cecikikan sang Noni Belanda.

Tapi sekarang, setiap petang menjelang malam, puluhan sepeda motor berbagai merek yang ditumpangi remaja tanggung parkir di halaman belakang gedung Dharma Wanita Kabupaten TTU. Halaman belakang gedung ini gelap gulita. Di antara rerimbunan tanaman bunga, berpasang-pasang remaja mengenakan baju you can see bertali satu dan bercelana pendek duduk sambil berpelukan. Tidak peduli dengan pejalan kaki yang melintasi di trotoar. Kondisi ini juga terlihat di kawasan Ring Road (jalan lingkar luar), di Kilometer 5 arah Atambua. Di bawah temaram cahaya bintang dan bulan, puluhan pasang remaja berpelukan.

Jelang pukul 24.00 wita, 'ritus sex' para remaja ini baru bubar.
"Sebaiknya Pemkab TTU membangun sebuah Pasar Malam di kawasan Pasar Lama Kefamenanu. Di Pasar Malam ini, setiap malam diadakan pertunjukan band dan pentas kesenian daerah maupun modern. Para muda-mudi dan remaja serta warga lainnya silahkan memenuhi area ini. Boleh pakai karcis masuk.

Dengan begitu aktivitas muda-mudi dan remaja bisa dipantau oleh aparat terkait. Dari pada dibiarkan berkeliaran di lorong-lorong gelap dan gedung-gedung tua," pinta Dominicus Nonis, S.E, salah satu tokoh pemuda di Kefamenanu, ketika melakukan audiens bersama para wartawan di ruang kerja Bupati TTU, Kamis (11/9/2008) siang.


Sedangkan seorang wartawan media cetak, mengusulkan kepada pemerintah agar gedung-gedung tua tak berpenghuni di jantung kota, sebaiknya dirobohkan. "Selain itu penjual asongan dan PKL di lokasi terminal dan trotoar, supaya ditertibkan. Itu merusak pemandangan saja. Motto Kota Kefamenanu sebagai kota yang sehat, aman, rindang dan indah, akhirnya hanya sebatas motto tanpa aktualisasi yang nyata. Kami tidak mau dengar lagi sebutan orang tentang Kota Kefamenanu hanyalah sebuah 'Kuan' (kampung) besar yang semrawut dan kumuh," katanya.

Jangan lupa drainase di dalam Kota Kefamenanu harus ditata dengan rapi. Sebab hampir setiap musim penghujan, warga mengeluh banjir menyerbu dari jalan raya masuk ke rumah tinggal. Itu terjadi karena saluran drainase mampet penuh dengan sampah. "Aneka bunga di jalan dua jalur banyak yang sudah mati. Sampah berserakan di mana-mana. Harus ada kantor dinas kebersihan yang mengurus tentang persampahan di kota dengan serius. Jadi jangan dibebankan sebagai tugas tambahan bagi Dinas Kimpraswil TTU. Kota ini perlu ditata dengan baik.

Di kawasan industri kok terselip juga beberapa kantor pemerintah dan sekolah? Kayaknya, penataan kota masih amburadul," pinta wartawan lainnya. (bersambung)

Pos Kupang edisi Minggu, 14 September 2008 halaman 1
Reaksi:

0 komentar:

Posting Komentar

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Best WordPress Themes