Tampilkan postingan dengan label Mengenang Hendrik Fernandez. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Mengenang Hendrik Fernandez. Tampilkan semua postingan

Fernandez dalam Kenangan Herman Musakabe


Musakabe (kedua dari kiri), Fernandez (ketiga dari kiri)
KUPANG, PK--Gubernur NTT periode 1988-1993, dr. Hendrik Fernandez, yang meninggal dunia pada Sabtu (6/9/2014) dalam usia 81 tahun 10 bulan, dimakamkan di Taman Makam Pahlawan (TMP) Darma Loka-Kupang, Selasa (9/9/2014).

Pemakaman dr.Hendrik Fernandez diawali  misa requiem pukul 10.00 Wita di rumah duka di Jalan WR Mongonsidi II No. 3 Kota Kupang. Misa dipimpin Vikjen Keuskupan Agung Kupang, Romo Geradus Duka, Pr, didampingi imam konselebran lainnya.

Misa diikuti sekitar 800 orang, termasuk pejabat Pemerintah Provinsi NTT. Hadir  Gubernur NTT periode 1993-1998, Herman Musakabe;  Gubernur NTT, Frans Lebu Raya; Sekda NTT, Frans Salem; Wakil Walikota Kupang, Herman Man; Danrem 161/Wira Sakti Kupang, Brigadir Jenderal (Brigjen) TNI Achmad Yuliarto, dan beberapa pajabat lainnya.

Gubernur NTT, Frans Lebu Raya, ditanyakan kesannya terhadap almarhum dr. Hendrik Fernandez  mengatakan, "Apa yang saya  lakukan selama menjadi Gubernur NTT belum sebanding dengan apa yang sudah dilakukan oleh almarhum Hendrik Fernandez semasa menjadi Gubernur NTT."

Melalui program Gempar dan Gerbades, demikian Frans Lebu Raya, Hendrik Fernandez mampu mengubah dan meningkatkan perekonomian masyarakat NTT menjadi lebih baik.

"Satu pengalaman yang tidak bisa saya lupakan dengan beliau waktu saya masih menjadi seorang aktivis, di mana pada saat kami ingin mengadakan kegiatan terkendala pendanaan. Dan di situ almarhum Hendrik Fernandez yang waktu itu menjadi Ketua Partai Golkar NTT hadir menjadi solusi kami. Beliau memberikan bantuan dana sehingga kegiatan kami berjalan baik. Satu lagi putra terbaik NTT yang pergi. Selamat jalan Pak Fernandez, semoga arwahmu mendapatkan ketenangan di dalam Kerajaan Surga," ujar Frans Lebu Raya.

Mantan Gubernur NTT, Herman Musakabe, mengatakan, kepergian dr. Hendrik Fernandez bukan tanpa meninggalkan apa-apa. Beliau telah banyak berbuat untuk masyarakat NTT, baik sewaktu menjabat Direktur RSUD Prof. WZ Johannes Kupang, anggota DPR RI, Kepala Kanwil Kesehatan NTT dan saat menjabat Gubernur NTT.
Menurutnya, almarhum Hendrik Fernandez merupakan tipe pemimpin yang selalu melayani, bukan hanya waktu menjadi gubernur, juga setelah tidak lagi menjadi Gubernur NTT. "Beliau tetap melayani masyarakat NTT  menjadi dokter di Klinik Kartini miliknya. Pak Fernandez adalah tipe pemimpin yang kebapakan. Dia selalu melindungi, memberikan kita rasa nyaman dan  memberikan kita teladan melalui sikapnya yang selalu rendah diri dan tekun dalam doa," ujarnya.

Selain itu, demikian Herman Musakabe, Pak Fernandez adalah pemimpin yang konsisten, prinsip, namun tetap lembut di dalam perbuatannya. "Yang selalu saya ingat dari dia adalah saat dia dalam keadaan sakit, masih sempat memberikan ucapan selamat ulang tahun kepada temannya. Bahkan langsung datang ke rumah temannya. Ini adalah bukti bahwa almarhum Hendrik Fernandez adalah sosok yang pantas kita teladani,"  ujar Herman Musakabe.

                                    
Bangun dari Desa
Wakil Walikota Kupang, Herman Man, mengatakan, dr.Hendrik Fernandez adalah mantan pemimpin yang membangun NTT dimulai dari tingkat desa.  Gerakan membangunan NTT mulai dari tingkat desa, lanjut Herman Man,  sekarang ini mulai diikuti oleh pemimpin-pemimpin tingkat kabupaten, provinsi dan nasional. Sebab, dampaknya luar biasa dalam menciptakan kemandirian masyarakat desa.

"Sebagai seorang dokter kita kehilangan dokter terbaik. Beliau pemimpin kami sewaktu menjadi Kepala Kanwil Kesehatan NTT. Beliau memiliki peran penting dalam meningkatkan  kesehatan masyarakat NTT. Kita kehilangan seorang sosok pemimpin yang menjadi teladan dengan sikap rendah hati," ujarnya.

Dokter Andreas Fernandez, anak kandung almarhum dr. Hendrik Fernandez, mewakili kaluarga mengucapkan terima kasih kepada  semua pihak yang mengikuti acara pemakaman  Hendrik Fernandez.  "Kami keluarga minta maaf kepada semua pihak jika semasa hidup bapak pernah menyakiti hati siapa saja," ujar Andreas.

Pantauan Pos Kupang, jenazah almarhum Hendrik Fernandez,  menunju TMP Darma Loka Kupang sekitar pukul 13.00 Wita, diiringi kendaraan roda empat dan kendaraan
roda dua.

Almarhum Hendrik Fernandez dimakamkan dengan upacara militer. Komandan upacara Kapten Yuli Hartarto dan Inspektur Upacara, Gubernur NTT, Frans Lebu Raya. Pemakaman dr.Hendrik Fernandez sempat mengalami masalah saat peti jenazah hendak dimasukkan ke dalam lubang kubur. Pasalnya, peti jenazah berukuran  lebih besar daripada lubang kubur yang telah disiapkan.  Akibatnya, upacara pemakaman secara militer  sempat terganggu. Keluarga sempat melaksanakan  ritual adat setelah upacara militer. Ukuran peti mati lebih panjang kurang lebih 4 cm dari lubang kubur. Para petugas kubur mengikis  dinding kubur sehingga peti jenazah bisa dimasukkan ke dalam lubang kubur.  (dd)

Sumber: Pos Kupang 10 September 2014 hal 1

Hendrik Fernandez Dimakamkan di Darma Loka

dr Hendrik Fernandez
Gubernur NTT periode 1988-1993, dr. Hendrikus Fernandez, akan dimakamkan hari Selasa (9/9/2014) di Taman Makam Pahlawan (TMP) Darma Loka, Kupang.   Prosesi pemakaman diawali misa requiem di Gereja Santa Maria Assumpta, Selasa (9/9/2014), pukul 09.00 Wita.

Anak kandung almarhum Hendrik Fernandez, yaitu dr. Andreas Fernandez,  ditemui di rumah duka di Jalan Wolter Mongonsidi II No. 3 Kota Kupang, Minggu (7/9/2014), mengatakan, Gubernur NTT, Frans Lebu Raya, bersama Ibu Lusia Adinda Lebu Raya, ketika melayat menyampaikan niat baik Pemerintah Provinsi  NTT memakamkan almarhum dr. Hendrik Fernandez,  di TMP Darma Loka.

"Kami keluarga  berterimah kasih atas niat baik dari Pemprop NTT. Keluarga besar sudah sepakat untuk memakamkan almarhum dr. Hendrik Fernandez  di TMP Darma Loka. Semua persiapan pemakaman sudah beres, dan kami masih menunggu keluarga besar dari Larantuka yang akan tiba di Kupang, Senin (8/9/2014) menggunakan kapal feri," ujar Andreas, dokter penyakit dalam di RSU WZ Johannes Kupang itu.

Andreas menjelaskan, banyak tokoh masyarakat yang melayat almarhum dr. Hendrik Fernandez. Di antaranya, Gubernur NTT, Frans Lebu Raya, dan Ibu Lusia Adinda Lebu Raya, Esthon Foenay, dan dr. Husein Pankratius.

Andreas mengatakan, bapaknya almarhum dr.Hendrik Fernandez adalah sosok yang punya prinsip dalam hidupnya. "Bagi bapak walau banyak orang menentang apa yang bapak yakini sebagai suatu kebenaran, maka itu yang akan dia lakukan, termasuk dalam hal mendidik kami. Apa yang menurut bapak baik dan benar untuk kami anak-anaknya, itu harus kami lakukan. Bapak orangnya humoris, tapi tegas. Kalau bicara soal prinsip, tidak bisa ditawar lagi. Apa yang bapak ajarkan kepada kami, sekarang sudah kami nikmati," ujar Andreas. (dd)

Sumber: Pos Kupang 8 September 2014 hal 1

In Memoriam Dokter Hendrik Fernandez

Fernandez bersama Paus Yohanes Paulus II (1989)
KUPANG, PK--Gubernur NTT periode 1988-1993, dr. Hendrik Fernandez, tutup usia. Pria kelahiran Weetabula, Sumba Barat Daya (SDB), 7 November 1932 ini meninggal dunia di Rumah Sakit Kartini Kupang, Sabtu (6/9/2014) siang.  Mantan Gubernur NTT itu meninggal dalam usia mendekati 82 tahun atau tepatnya 81 tahun 10 bulan.
Jenazah mantan Kepala Kantor Wilayah (Kakanwil) Kesehatan NTT itu, dibawa dari Rumah Sakit (RS) Kartini Kupang ke rumah duka di Jalan WR Mongonsidi II No. 3 Kota Kupang, sekitar pukul 14.20 Wita.

Saat jenazah Hendrik tiba di rumah disambut isak tangis keluarga dan kerabat. Beberapa dokter dan pejabat pemerintah ikut mengantar jenazah almarhum dari RS Kartini ke rumah duka.

Istri almarhum, Ibu Mia Fernandez, memandangi wajah suaminya yang terbaring kaku di tempat tidur. Sejak tiba di rumah duka, ibu Mia Fernandez  mendampingi jenazah suaminya. Ibu Mia menerima ucapan turut berduka dari keluarga dan warga yang datang melayat.

Fransiska Sin Fernandez, putri almarhum dr. Hendrik Fernandez, ditemui di rumah duka, mengatakan, ayahnya meninggal dunia karena terserang penyakit stroke.
Almarhum meninggalkan seorang istri, tiga orang anak dan tujuh orang cucu. Ketiga anak almarhum, yakni Fransiska Sin Fernandez, S.H, Dokter Andreas Fernandez, Sp.PD, dan Ir. Mikhael Fernandez.

"Bapak dirawat di RS Kartini sejak hari Kamis (4/9/2014). Bapak mengalami stroke sejak empat tahun lalu. Penyakitnya sudah lama. Selama ini bapak dirawat di rumah saja oleh anak sendiri, dr. Andreas Fernandez, Sp.PD, dibantu dua orang perawat," tutur Sin Fernandez.

Ia mengatakan, karena ayahnya sudah menderita stroke cukup lama, maka keluarga, terutama ibu (Ibu Mia Fernandez) dan anak-anak serta cucu  terlihat tegar menghadapi kenyataan atas meninggalnya bapak.

"Padahal, mestinya tanggal 7 Oktober 2014, bapak dan mama akan merayakan pesta emas 50 tahun perkawinan mereka. Bapak dan mama menikah pada 7 Oktober 1964," ujar Sin.

Sin menuturkan, bapak adalah orang sederhana dan suka kedamaian. Kepada anak- anak dan cucu-cucu, bapak selalu berpesan agar hidup damai dengan orang lain. Juga jangan suka marah dengan orang dan jangan sombong.  "Hiduplah selalu dalam kedamaian dan berbuat baik dengan orang lain," tutur Sin mengutip pesan bapaknya ketika masih bersama mereka selama ini.

"Salah satu anak saya, sangat mengidolakan kakeknya (dr. Hendrik Fernandez). Terutama ajaran untuk selalu hidup damai dan sederhana. Bapak juga selalu  ingatkan kami untuk berjuang supaya hidup menjadi lebih maju," ujarnya.

Bagi Sin, ada banyak kebersamaan dirinya dengan sang ayah yang begitu berkesan selama hidup. Dari sekian banyak kesan itu, tutur Sin, gaya hidup almarhum ayahnya yang sederhana dan selalu berpesan agar hidup damai dengan orang lain merupakan kesan yang sangat berarti. "Bapak tidak memberikan pesan terakhir sebelum meninggal, karena bapak sudah tidak bisa bicara akibat stroke. Tidak ada komplikasi penyakit lain. Bapak hanya mengalami stroke saja," kata Sin.

Selama ini, lanjut Sin, ibu selalu berdoa untuk kesembuhan bapak. "Apa mau dikata, Tuhan yang menentukan nasib hidup seorang manusia. Sebagai manusia, keluarga berharap almarhum dr. Hendrik Fernandez, diterima di sisi kanan Allah di surga," ujarnya.

Menyinggung rencana pemakaman, Sin mengatakan, sesuai informasi yang sempat ia terima dari Pak Esthon Foenay, mantan Wagub NTT ketika menjenguk ayahnya di RS Kartini Kupang, jenazah bapak  akan dimakamkan di Taman Makam Pahlawan (TMP) Darma Loka Kupang.

"Tadi, Pak Esthon Foenay bilang kemungkinan dimakamkan di Taman Makam Pahlawan Darma Loka. Cuma pihak keluarga belum mengambil keputusan mau makam di mana dan kapan bapak dimakamkan. Keluarga runding dulu," kata Sin. (mar/roy)


Kehilangan Seorang 'Pelari Estafet'

HARI ini (kemarin) pukul 10 lewat 15 menit, Saudara Charles Agoha, mantan ADC ketika saya Gubernur NTT, menelepon saya: "Bapak, ada berita duka: dr. Fernandez baru 5 menit lalu, meninggal di RS Kartini, Jl. El Tari."  Kematian dr. Fernandez sudah ditunggu-tunggu oleh keluarga dan handai taulan.  Maklumlah kondisi kesehatannya sudah pada tahap terminal hampir 1,5 tahun yang lalu.  Penderitaannya sudah lebih lama dari kondisi sekarat itu.  Hanya mereka yang pernah terkena stroke mampu mengerti wujud penderitaan itu.  Menurut saya kematian bukan saja menjadi pintu ke kehidupan yang kekal, tetapi sekaligus merupakan suatu pembebasan dari penderitaan yang berat itu.

Perkenalan saya dengan dr. Fernandez sudah hampir 70 tahun lamanya, sebagai murid di Schakelschool Ndao, Ende, sehabis Perang Dunia Kedua, dan 17 tahun kemudian sebagai Dokabu dan Kepala RS di Flores dan Kupang.  Yang agak lama adalah sebagai politisi Golkar.  Beliau adalah Ketua Partai Katolik Flores Timur ketika saya ajak menjadi caleg Golkar pada Pemilu 1971, beliau selanjutnya menjadi politikus Golkar dari tahun 1971 sampai menutup matanya hari ini.  Saya kira!

Ketika saya berhenti dari jabatan gubernur tahun 1988, beliau menggantikan saya menduduki kursi gubernur di Jalan El Tari itu.  Sebagai politikus dengan pengalaman pribadi yang berbeda-beda, logis sekali bahwa pandangan-pandangan beliau tidak selalu sama dengan pandangan saya.  Dan, pencabangan pandangan itu membuat komunikasi pribadi kami terputus, malahan praktis hilang sama sekali.  Generasi muda sekarang perlu mengerti bahwa perbedaan pandangan dalam berpolitik adalah normal sekali, kendati dalam satu partai.  Memang di zaman Orde Baru dahulu, perbedaan itu sepertinya tabu!  Maklum Orde Baru itu cenderung monolitik dalam pandangan politiknya.  Saya berbahagia bahwa di senjanya usia, dr. Fernandez dan saya, saya mengumpulkan keberanian moril untuk melupakan dan menghapuskan ingatan-ingatan lama itu, sehingga dengan ikhlas tenggelam bersama terbenamnya matahari di ufuk barat dengan damai.

Banyak atau sedikit kontribusi dr. Fernandez kepada rakyat Flobamora tercinta tergantung dari apresiasi masing-masing warga Nusa Tenggara Timur.  Tetapi satu hal yang pasti bahwa dr. Fernandez telah menyumbang tenaga dan pikiran bagi Nusa dan Bangsa, sebagai dokter dan pamong praja paling kurang selama setengah masa hidupnya dengan setia.  Hakim sejarah saja akan mengadili beliau, apakah dia pamong praja yang berani, apakah dia pamong praja dengan "judgement" yang baik, apakah dia seorang pejabat yang berintegritas dan apakah dia seorang gubernur dengan kadar dedikasi yang tinggi.  Dan paling akhir Tuhan Allah akan mengadili dia sebagai seorang Kristiani yang konsekwen.  Saya dan juga pembaca tidak berhak untuk kedua-duanya!
Nusa Tenggara Timur kehilangan lagi salah seorang "pelari estafet" kepemimpinan Flobamora, menyusul para almarhum Lalamentik, El Tari, Piet Tallo, ke alam baka.  Semoga Tuhan Allah yang Maha Kasih memberi tempat yang layak kepada dr. Hendrik Fernandez. Requiescat in Pace dr. Fernandez. (*/eni)


IA Medah: Melahirkan Banyak Kader

KETUA DPD 1 Partai Golkar NTT dan mantan Ketua DPRD NTT, Ibrahim Agustinus Medah punya kesan tersendiri terhadap almarhum mantan Gubernur NTT, dr. Hendrik Fernandez (alm).

Menurut Medah, almarhum dr. Hendrik Fernandez,  sudah berjasa besar untuk NTT. "Kita harus menghargai karya beliau yang sudah begitu besarnya untuk NTT, baik
sebagai Ketua Golkar maupun sebagai gubernur," ujarnya.

Dari sosok beliau sebagai Ketua Golkar, demikian Medah, almarhum Hendrik Fernandez telah melahirkan banyak kader Golkar yang mengabdi bagi negara dan bagi daerah ini, baik di bidang eksekutif dan legislatif maupun di bidang lain.
Bahkan setelah Pak Fernandez berhenti dari Ketua Golkar, beliau tetap mengabdi dan berkarya di bidang politik melalui Partai Golkar. Karena itulah, lanjut Medah, sampai saat beliau meninggal, tetap sebagai Ketua Dewan Penasehat/Pembina Partai Golkar NTT.

Sebagai gubernur, kata Medah, almarhum Hendrik Fernandez, sudah banyak memberikan andil dalam pembangunan di NTT ini. "Karenanya saya selaku Ketua Partai Golkar NTT, memberi penghargaan yang setinggi-tinggi dan sebesar-besarnya atas pengabdian beliau, baik sebagai ketua Partai Golkar maupun sebagai gubernur semasa hidup beliau," ujar Medah.

Sementara itu, Wakil Gubernur NTT periode 2008-2013, Esthon Foenay mengatkan, Pak Hendrik Fernandes (alm) seorang pekerja keras dan rendah  hati.

"Pola hidupnya sederhana. Kita semua masyarakat NTT kehilangan seorang figur  pemimpin  yang luar biasa. Cintanya pada  masyarakat NTT sangat besar. Saya mantan kepala  Biro  Binsos Setda NTT di era pemerintahan  Pak Hendrik Fernandez," ujar Esthon. (roy)

Sumber: Pos Kupang 7 September 2014 hal 1

Ingat Fernandez, Ingat Gempar dan Gerbades

Hendrik Fernandez
TATKALA Flobamora dipimpin Gubernur El Tari, rakyat dipacu untuk selalu melakukan penanaman. Saat itu terkenal semboyan, "Tanam... tanam sekali lagi tanam". Waktu terus bergulir. Ketika 'Kapal NTT' dinakhodai Ben Mboy, muncul Program Operasi Nusa Hijau (ONH) yang dilakukan serentak dengan Operasi Nusa Makmur (ONM) dan Operasi Nusa Sehat (ONS).

Program apa yang ditabuhkan Hendrikus Fernandez? Lima tahun memimpin NTT, 1998-1993, Hendrik Fernandez menelorkan Gerakan Meningkatkan Pendapatan Asli Rakyat (Gempar) sebagai salah satu program pembangunan di daerah ini. Para petani diwajibkan menanam sejuta anakan jambu mete dan tanaman bernilai ekonomi lainnya.

Para petani NTT kemudian menikmati hasil dari menanam jambu mete tersebut lewat program Gempar yang ditabuhkan Hendrikus Fernandez.

Fernandez merasa kurang puas jika membiarkan para petani mengolah lahannya sendiri tanpa adanya pendampingan sebagai salah satu langkah untuk meningkatkan hasil produksi petani. Ia kemudian mengirim para sarjana ke desa-desa untuk membantu para petani dalam mengembangkan lahan pertaniannya lewat program Gerakan Membangun Desa (Gerbades).

Para sarjana menjadi ujung tombak dalam misi pembangunan pertanian dimaksud. Selama menjadi Gubernur NTT, Fernandez menerima empat penghargaan dari Menteri Kependudukan dan Keluarga Berencana sebagai bentuk penghormatan atas jasanya dalam upaya meningkatkan kesejahteraan masyarakat lewat program-program pembangunan yang ditelorkannya.

Almarhum Hendrikus Fernandez adalah perintis pengembangan kawasan industri Bolok (KIB). Ia kemudian mengundang El Nusa untuk membangun pelabuhan laut sebagai "base camp-nya" Celah Timor. Namun, setelah Timor Timur lepas dari Indonesia melalui jajak pendapat pada Agustus 1999, nasib pelabuhan tersebut seakan tak dirawat. Tetapi, akhirnya kawasan pelabuhan itu dijadikan sebagai Pangkalan Utama TNI-AL (Lantamal) Kupang, sampai sekarang.

Almarhum juga memiliki visi pembangunan yang sangat menjanjikan dengan merintis NTT Development Coorporation untuk menarik para investor menanamkan modalnya di KIB sebagai mata rantai untuk membangun kawasan industri segitiga Pulogadung-Bolok-Darwin atau Jakarta-Kupang-Darwin.

Juga telah meletakkan dasar-dasar pembangunan yang cukup signifikan bagi upaya peningkatan kesejahteraan masyarakat di wilayah provinsi kepulauan ini. Ia telah pergi, namun meninggalkan kenangan yang begitu mendalam bagi rakyat dan pemerintah di wilayah provinsi kepulauan ini. (ant)


BIODATA

--------------
- Nama: Dokter Hendrikus Fernandez
               (Anak ke-6 dari 11 bersaudara)
-  Lahir : Weetebula, Sumba Barat Daya, 7 November 1932
-  Ayah: Andreas Fernandez
-  Mama: Fransisca Riberu
 - Istri: Maria Sapora Ola Boleng, S.H
- Anak: Andreas Fernandez, Fransisca Fernandez, Ir. Michael   Fernandez.

- Pendidikan:
* SD di Sumba Barat Daya selama tiga tahun                       
* Schakel School (SS) di Ndao, Ende, Flores, mengikuti kepindahan sang ayah.
* Setelah menyelesaikan studi SR 6 tahun pada 1945 di Ende, Fernandez kemudian berlayar ke Makassar, Sulawesi Selatan, untuk melanjutkan                        pendidikan Algemene Lager School (ALS) atau setara SLTP pada zaman koloni Belanda atas bantuan seorang pastor asal Jepang, Pater  Michael Iwagana.
*  Setelah tamat di ALS Makassar pada 1948, Fernandez melanjutkan ke Middelbare School (MS), yaitu sekolah menengah umum (SMU)                          Bahasa Belanda setara MULO di Makassar.
* Tamat SMA di Makassar pada 1953.
* Kuliah di Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga Surabaya. Meraih gelar dokter atau Ars pada 1963.

- Karier:
* Pemilu 1971, Fernandez bergabung dengan Sekretariat Bersama (Sekber) Golkar Flores Timur, dan dicalonkan menjadi anggota DPR/MPR.
* Lolos ke Senayan menjadi anggota DPR-RI dan duduk di Komisi VIII.
* Selepas menjadi anggota DPR/MPR, Fernandez kembali ke Kupang.
* Pada 1 April 1978, Fernandez dilantik Gubernur NTT, dr Ben Mboi, menjadi Direktur RSUD Prof Dr WZ Johannes Kupang menggantikan drg. Widya.
*Dilantik menjadi Kakanwil Kesehatan NTT pada 1 April 1979 oleh Menteri Kesehatan/Kepala BKKBN Pusat saat itu.
*Menjelang Pemilu 1987, Fernandez dipercayakan menjadi anggota DPRD NTT dari Golkar.
* Menjadi  anggota DPRD NTT periode 1987-1992 dan menjadi Ketua DPRD NTT pada periode tersebut.
* Ketika berakhirnya masa jabatan kedua dr. Ben Mboi sebagai Gubernur NTT pada 1988, DPRD NTT kemudian mengusulkan nama Hendrikus Fernandez sebagai calon Gubernur NTT periode 1988-1993 bersama dua orang calon wakil gubernur, yakni SHM Lerrick dan Godlief Boeky.
* Dalam pemilihan Gubernur-Wakil Gubernur NTT periode 1988-1993 oleh DPRD NTT, pasangan Hendrikus Fernandez dan SHM Lerrick terpilih sebagai gubernur dan wakil gubernur. (ant)



Hanya Orang Gila....


NAMA Hendrikus Fernandez tercatat dalam sejarah berdirinya Harian Umum Pos Kupang.  Tanggal 1 Desember 1992 dilakukan syukuran nasi tumpeng  secara kecil-kecilan di Kantor Pos Kupang, diikuti dengan launching secara terbuka di Resto Pantai Timor, Jalan Sumatera, yang dihadiri Gubernur NTT saat itu, dokter Hendrikus Fernandez.

Namun jauh sebelum tanggal itu, proses menuju kelahiran koran harian pertama di NTT itu sudah berlangsung lama. Adalah Om Damyan Godho, Om Valens Goa Doy, Om Julius Syaranamual dan beberapa nama lagi, adalah tokoh penting, para idealis yang nekad  melahirkan sebuah harian di NTT. Mereka adalah orang-orang yang percaya, yakin, dan bernazar untuk mempertaruhkan semua kemampuan dan potensi diri mereka demi  hadirnya sebuah media harian di NTT. Dan, Tuhan berpihak kepada sikap nekad para pendiri SKH Pos Kupang.

Pada saat melaunching Pos Kupang 1 Desember 1992, Gubernur Hendrik Fernandez menyebut para pendiri dan wartawan Pos Kupang adalah orang-orang gila yang bermodalkan nekat dan semangat untuk mendirikan koran di Kupang. Mengapa disebut orang gila? Sebab dengan kondisi Kupang dan NTT saat itu belum memungkinkan untuk membuka bisnis koran.

Masyarakat belum akrab dengan yang namanya wartawan. Benar-benar mengagetkan. Membuat banyak orang terheran-heran. Kok ada koran. Menimbulkan kecemasan pada segelintir orang. Banyak pihak baik sebagai subyek maupun obyek pemberitaan saat itu belum siap dengan perubahan dengan hadirnya SKH Pos Kupang. Bagaimanapun Pos Kupang harus terbit, meski awalnya akan banyak menemukan keterangan narasumber tidak bersedia menyebutkan identitasnya.
Yang menggelikan adalah banyak instansi pemerintah bahkan sampai melakukan hal yang konyol: menempelkan pengumuman pada selembar kertas "TIDAK MENERIMA WARTAWAN".

Para pejabat yang hendak dijadikan narasumber bersembunyi dari wartawan. Mereka takut diwawancarai. Ada pula yang berani dan berapi-api memberi keterangan. Begitu diberitakan, lalu  ada pihak yang keberatan dan protes, yang bersangkutan ketakutan dan buru-buru menyalahkan wartawan. Untunglah wartawan melengkapi diri dengan alat perekam. Itulah kondisi saat itu. (disarikan dari tulisan Paul Bolla tentang, "Selamat Datang Perubahan)

Sumber: Pos Kupang 7 September 2014 hal 1
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Best WordPress Themes