Ancaman El Nino

WILAYAH Propinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) terancam El Nino atau kekeringan panjang. Gejala datangnya El Nino ditandai dengan terus menurunnya indeks osilasi selatan (SOI) hingga -15,9.
Begitulah yang disampaikan Kepala Badan Meteorologi dan Geofisika (BMG) Stasiun El Tari Kupang, Albert Kusbagio, Selasa (26/9) lalu. Kusbagio menjelaskan, musim kering biasanya ditandai dengan terus menurunnya SOI hingga pada angka negatif.
Ketika SOI negatif, maka curah hujan akan terhambat. Kekeringan panjang mulai terjadi ketika SOI di suatu daerah berada pada level -10 ke bawah. Posisi NTT saat ini berada pada level -15,9. "Dan, jika terus berlanjut hingga bulan berikutnya, NTT akan mengalami musim kering yang panjang dan mengarah ke El Nino," kata Kusbagio.
Kita menggarisbawahi warta tersebut. Kita pandang sangat penting informasi tentang ancaman El Nino seperti disampaikan Albert Kusbagio. Kita berharap ancaman tersebut tidak menjadi kenyataan. Namun, pemberitahuan tentang kemungkinan El Nino kita sambut positif sebagai peringatan agar kita bersikap proaktif. Sebagai daerah langganan bencana, sudah sepantasnya kita melakukan antisipasi dini terhadap kemungkinan kemarau panjang melanda daerah ini.
Pemberitahuan dari Kepala BMG Stasiun El Tari Kupang tersebut menambah kewaspadaan kita karena kita semua maklum dampak dari kemarau panjang. Kita akan menghadapi rawan pangan bahkan bencana kelaparan yang hebat sebagaimana pernah terjadi pada tahun-tahun sebelumnya.
Agaknya baik kita mengutip kembali hasil pantauan dan analisis sementara dari Sistem Kewaspadaan Pangan dan Gizi Badan Bimas Ketahanan Pangan (BP2KP) Propinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) pada pertengahan tahun ini. Hasil analisis BP2KP menyebutkan, tujuh dari 16 kabupaten/kota di NTT berisiko rawan. Tujuh kabupaten itu yakni Ngada, Ende, Sikka, Lembata, Belu, Timor Tengah Utara (TTU) dan Timor Tengah Selatan (TTS).
Bukan mustahil daerah yang berisiko rawan pangan serta rawan pangan akan menjadi kenyataan jika kemarau panjang (El Nino) benar-benar melanda wilayah NTT dalam beberapa bulan ke depan.Rawan pangan tidak asing dengan denyut kehidupan sebagian besar penduduk daerah ini yang mata pencahariannya adalah petani. Saban tahun kenyataan seperti itu selalu dirasakan penduduk Nusa Tenggara Timur. Rawan pangan bukan problem sosial yang berdiri sendiri.
Selalu bertautan dengan derajat kehidupan rakyat secara keseluruhan. Dampak langsung dari kondisi rawan pangan sudah kita alami yaitu masalah gizi buruk yang menghadirkan deraian air mata karena puluhan bahkan hingga ratusan anak NTT mati karena busung lapar!
Penderitaan akibat gizi buruk itu tidak tidak lebih baik dibandingkan dengan bencana alam seperti tanah longsor, gempa bumi, banjir dan bencana lainnya. Sepanjang tahun 2005 di Propinsi NTT tercatat 85.604 kasus kurang gizi, 13.202 gizi buruk, 459 busung lapar dan 39 di antaranya meninggal dunia.
Selama awal 2006, di NTT tercatat 86.275 anak kurang gizi, 13.251 gizi buruk, 523 busung lapar dan 61 orang meninggal dunia (Data jaringan Solidaritas Penanggulangan Busung Lapar yang dipublikasikan pada 3 Mei 2006).Dengan membeberkan data seperti ini kita ingin menggugah perhatian sekaligus mengajak para pemimpin daerah ini untuk lebih serius mengambil langkah konkret menghadapi kemungkinan datangnya El Nino. Diperlukan kebijakan strategis di tingkat pemerintahan lokal untuk mengantisipasi kemungkinan terburuk dari dampak kemarau panjang tersebut.
Persoalan kita masih terkait dengan cara berpikir dan cara bertindak. Pola kerja kita yang lama dan lazimnya tidak produktif mutlak diperbaharui. Tidak tepat lagi kita menyalahkan kondisi alam ketika risiko rawan pangan datang menerjang.
Pemberitahuan dini dari BMG tentang ancaman El Nino perlu direspon pemerintah dengan menyiapkan manajemen penanganan bencana yang lebih baik. Baik dalam arti pro kepentingan masyarakat yang kemungkinan akan menjadi korban. Bukan baik dari sisi prosedur kerja intern pemerintah.Dalam kasus gizi buruk yang melanda daerah kita sejak tahun lalu, warta yang mengemuka adalah penyalahgunaan dana bahkan pencairan dana gizi buruk tersendat karena kendala-kendala birokrasi Kita tidak mau persoalan seperti itu terulang..
Dewasa ini sekitar 5 juta anak Indonesia mengalami gizi buruk. Kalau tidak ditangani sejak dini maka dalam tempo 15 tahun mendatang lima juta anak Indonesia terancam kehilangan daya saingnya."Kita memang belum melakukan penelitian tentang itu, tapi dengan melihat besaran masalah yang ada sekarang maka kalau tidak segera ditanggulangi mereka akan kehilangan kesempatan untuk menjadi sumber daya manusia berkualitas," kata Kepala Subdit Bina Kewaspadaan Gizi Direktorat Gizi Masyarakat Departemen Kesehatan Tatang S Falah di Jakarta, Kamis.
Menurut Tatang, gizi buruk merupakan gejala yang terjadi dalam jangka panjang dan menimbulkan dampak jangka panjang pula. Masalah gizi, berkaitan erat dengan kualitas dan daya saing Sumber Daya Manusia (SDM) di masa depan. Anak-anak dengan status gizi kurang atau buruk, tidak akan tumbuh dan berkembang dengan baik.
Selain berpengaruh pada pertumbuhan dan perkembangan anak, status gizi juga berpengaruh pada kecerdasan anak. Anak-anak dengan gizi kurang dan buruk akan memiliki tingkat kecerdasan yang lebih rendah, nantinya mereka tidak akan mampu bersaing. Apa jadinya anak NTT dengan kondisi demikian? **Salam Pos Kupang, 27 September 2006. (dion db putra)
Reaksi:

0 komentar:

Posting Komentar

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Best WordPress Themes