Selamatkan Gunung Mutis

YA, kita serukan dengan suara nyaring di ruangan ini agar semua pihak mengambil langkah secepatnya untuk menyelamatkan hutan di kawasan cagar alam Gunung Mutis.
Upaya penyelamatan itu segera dilakukan, jangan ditunda lagi agar kebakaran tidak meluas dan merusak vegetasi hutan andalan di Pulau Timor tersebut.Media ini melaporkan, ratusan hektar hutan di kawasan Gunung Mutis, termasuk wilayah cagar alam di sekitar gunung itu, terbakar sejak hari Kamis (9/11) lalu. Kebakaran diperkirakan masih berlangsung.
Dinas Kehutanan Kabupaten Timor Tengah Selatan (TTS) mengidentifikasi empat titik kebakaran yakni di kawasan sekitar Desa Tune, Tutem, Kuanoel dan Desa Leloboko. Kiranya cukup jelas alasan mengapa kita menyerukan upaya penyelamatan itu selekasnya.
Mutis dan kawasannya termasuk di dalamnya bentangan perbukitan yang mengitari Timau adalah daerah tangkapan air. Belum ada data pasti tentang sumber air yang muncul dari perut perbukitan dan kawasan ini, namun sekitar puluhan, bahkan ratusan sungai bersumber dari kawasan ini. Kebakaran hutan yang menimpa Mutis adalah ancaman sangat serius bagi sumber-sumber air.
Maka kegagalan menjaga ekosistem kawasan Mutis adalah ancaman bagi Noelmina dan Benanain, dua sungai terbesar yang selama ini menjadi sumber air, bukan hanya untuk keperluan air bersih, tetapi sandaran hidup bagi ribuan petani, ternak, satwa liar dan tetumbuhan di Pulau Timor. Mutis adalah jantung kehidupan sekitar 2 juta penduduk Pulau Timor. Jika kawasan terbasah di Timor itu rusak -- mudah membayangkan dampak buruknya yang akan kita rasakan kelak.
Hari-hari ini kekeringan masih melanda wilayah Pulau Timor. Hujan sempat turun beberapa hari lalu, tetapi masih menjadi tanda tanya besar bagi kita semua apakah akan berlanjut dengan curah hujan yang semakin besar. Iklim Timor berbeda dan sangat khas dibandingan dengan kawasan lain di Propinsi NTT. Artinya, kita hanya bisa memprediksi kapan kekeringan itu akan berakhir.
Jika kita lengah mengambil langkah, maka bukan mustahil kebakaran akan kian sering terjadi dan semakin merusak ekologi kawasan Mutis dan sekitarnya.Penyebabnya kebakaran itu belum diketahui. Sebagaimana diungkapkan Kepala Dinas Kehutanan TTS, Drs. John Mella, penyebabnya masih diselidiki tim yang turun ke lokasi kebakaran 24 jam setelah peristiwa itu terjadi Kamis lalu. Prioritas saat ini adalah memadamkan titik api agar areal yang terbakar tidak semakin meluas.
Selain menghentikan amukan si jago merah, mencari penyebab kebakaran mutlak dilakukan. Sepekan sudah kejadian itu berlalu. Mudah-mudahan kita segera mendapatkan keterangan lengkap tentang penyebabnya dan bagaimana upaya pemadaman yang dilakukan instansi terkait bersama masyarakat. Sekadar menduga-duga, barangkali tidak ada unsur kesengajaan. Titik api boleh jadi berawal dari kebiasaan masyarakat sekitar kawasan hutan lindung itu menyiapkan lahan untuk kebun.
Sudah menjadi tradisi masyarakat kita menyiapkan lahan dengan cara tebas bakar. Tebas pepohonan, rumput dan ilalang kemudian membakarnya. Lahan yang sudah bersih kemudian diolah sambil menanti musim hujan. Datangnya hujan menjadi awal musim tanam. Ketidakhati-hatian masyarakat saat membakar lahan mengakibatkan titik api menjalar ke kawasan lain termasuk hutan Gunung Mutis yang dilindungi tersebut. Budaya tebas bakar sudah berulang kali digugat dan dikritik.
Tidak sedikit pula langkah yang ditempuh guna meminimalisir kebiasaan tersebut. Kenyataannya tidak mudah terwujud. Sebagian besar petani kita di daerah ini masih mengandalkan cara kerja tradisional itu. Memvonis mereka salah pun bukan tindakan yang bijaksana.
Pencegahan dan pengawasan dari instansi berwenang serta semua pemangku kepentingan terkait dengan kawasan Mutis patut kita pertanyakan di sini. Jangan-jangan kita memang lengah sehingga tidak dapat mencegah terjadinya kebakaran ratusan hektar hutan itu. Perlu direfleksikan cara kita bekerja, jangan- jangan masih bergaya ala pemadam kebakaran. Ada soal dulu baru bergerak dan bergiat. Juga bukan tidak mungkin ada persoalan lain yang jauh lebih besar dan kompleks.
Terbakarnya ratusan hektar hutan di kawasan Mutis telah membawa kerugian sangat besar bagi kita semua. Toh hutan tidak jadi dalam sehari, sebulan atau setahun. Butuh waktu bertahun-tahun bahkan puluhan tahun untuk menghijaukan kembali lahan yang gundul dan kering. Itupun dengan persyaratan yang berat, apakah kita memikiki komitmen yang kuat serta konsisten dalam pelaksanaannya.
Sikap kita umumnya belum memandang penting upaya menyelamatkan lingkungan. Kita hanya piawai mengekspoitasi dan merusak untuk kepentingan jangka pendek. ***Salam Pos Kupang, 16 November 2006. (dion db putra)
Reaksi:

0 komentar:

Posting Komentar

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Best WordPress Themes