Gizi buruk di NTT

BERDASARKAN hasil pantauan dan analisis sementara dari Sistem Kewaspadaan Pangan dan Gizi Badan Bimas Ketahanan Pangan (BP2KP) Propinsi Nusa Tenggara Timur (NTT), tujuh dari 16 kabupaten/ kota di NTT berisiko rawan pangan tahun ini. Tujuh kabupaten itu yakni Ngada, Ende, Sikka, Lembata, Belu, Timor Tengah Utara (TTU) dan Timor Tengah Selatan (TTS).
Baiklah kiranya informasi publik yang disampaikan Kepala BP2KP NTT, Drs. Petrus Langoday pada awal pekan ini. Kita pandang sebagai kabar baik karena risiko rawan pangan tidak asing dengan denyut kehidupan sebagian besar penduduk daerah ini yang mata pencahariannya adalah petani.
Saban tahun kenyataan seperti itu selalu dirasakan penduduk Nusa Tenggara Timur sehingga dianggap lumrah, bahkan oleh unsur pimpinan pemerintahan dan kemasyarakatan kita yang seharusnya malu melihat rakyatnya lapar. Rawan pangan bukan problem sosial yang berdiri sendiri.
Selalu ada tali-temalinya dengan derajat kehidupan rakyat secara keseluruhan. Dampak langsung dari kondisi rawan pangan sudah kita alami yaitu kasus gizi buruk yang menghadirkan deraian air mata melalui fakta ini: Puluhan bahkan hingga ratusan anak NTT mati karena busung lapar!
Penderitaan akibat gizi buruk itu tidak tidak lebih enteng dibanding bencana alam seperti tanah longsor, gempa bumi, banjir dan lainnya. Guna menyegarkan ingatan, baiklah kita angkat kembali catatan Jaringan Solidaritas Penanggulangan Busung Lapar (JSP-BL) yang dipublikasikan pada 3 Mei 2006.
Propinsi Jawa Barat (Jabar) mencatat angka kasus gizi buruk tertinggi sepanjang tahun 2005 yakni 107.500 kasus gizi buruk. Sementara di awal tahun 2006 hingga sekarang, Jabar tercatat 143 balita menderita marasmus, 4 balita kwasiorkhor, 13 balita marasmus kwasiorkhor. Sebanyak 15 balita gizi buruk meninggal dunia. Kasus tertinggi kedua terdapat di Propinsi Nusa Tenggara Timur (NTT).
Sepanjang tahun 2005, NTT mencatat 85.604 kasus kurang gizi, 13.202 gizi buruk, 459 busung lapar dan 39 di antaranya meninggal dunia. Selama awal 2006, di NTT tercatat 86.275 anak kurang gizi, 13.251 gizi buruk, 523 busung lapar dan 61 meninggal dunia.
Dalam catatan JSP-BL, terdapat 5 juta anak Indonesia yang mengalami gizi buruk dan rata-rata 24 anak balita Indonesia meninggal setiap satu jam, mayoritas akibat gizi buruk. Artinya tidak amat penting sekadar informasi tentang risiko rawan pangan itu. Informasi itu merupakan peringatan dini agar kita siap dan sigap. Apakah tindakan kita?
Itulah jawaban yang realistis. Rawan pangan yang bakal berujung pada gizi buruk dan busung lapar adalah masalah paling krusial bagi daerah kita yang getol meniti tiga pilar pembangunan itu. Busung lapar adalah bencana Nusa Tenggara Timur.
Lalu apa yang terjadi? Kita menghadapi kenyataan lain yang juga memilukan hati, sampai sekarang kita belum menemukan kebijakan strategis di tingkat pemerintahan lokal untuk menjawab masalah busung lapar secara sistemik. Cara berpikir dan cara kita bekerja masih seperti dulu. Kita suka menyalahkan kondisi alam ketika rawan pangan datang menerjang.
Kita masih bergaya ala petugas pemadam kebakaran manakala gizi buruk dan busung lapar telah menelan korban anak-anak tak berdosa. Kita cuma piawai berbicara sampai mulut berbusa-busa dan merasa malu karena anak kita mati akibat kurang gizi. Kita tidak serius berpikir mencari solusi dan bekerja dengan kesungguhan hati untuk mengatasi bencana sosial yang mengerikan itu.
Dalam kasus gizi buruk, warta yang mengemuka di sini adalah penyalahgunaan dana bahkan yang ada sangat sepele tapi tega nian yaitu pencarian dana gizi buruk tersendat karena kendala birokrasi. Dewasa ini sekitar 5 juta anak Indonesia mengalami gizi buruk. Kalau tidak ditangani sejak dini maka dalam tempo 15 tahun mendatang lima juta anak Indonesia terancam kehilangan daya saingnya.
Gizi buruk merupakan gejala yang terjadi dalam jangka panjang dan menimbulkan dampak jangka panjang pula. Masalah gizi, berkaitan erat dengan kualitas dan daya saing Sumber Daya Manusia (SDM) di masa depan. Anak-anak dengan status gizi kurang atau buruk, tidak akan tumbuh dan berkembang dengan baik.
Selain berpengaruh pada pertumbuhan dan perkembangan anak, status gizi juga berpengaruh pada kecerdasan anak. Anak-anak dengan gizi kurang dan buruk akan memiliki tingkat kecerdasan yang lebih rendah, nantinya mereka tidak mampu bersaing. Apa jadinya anak NTT dengan kondisi demikian? Salam Pos Kupang, 9 Juni 2006 (dion db putra).
Reaksi:

0 komentar:

Posting Komentar

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Best WordPress Themes