Di kaki Gunung Inerie...

KABAR duka itu membawaku ke kaki Gunung Inerie setelah lebih dari 13 tahun! Aku berduka bersama saudariku, aku juga ikut bersukacita mengantar adik bungsuku ke padang penggembalaannya. Tuhan sungguh menghadirkan sesuatu dengan cara yang unik.

HARI Rabu 10 Oktober 2007 menjelang pukul 12.00 Wita, handphone saya berdering. "Om Dion, Mama Evie di Wirajaya sudah pergi..." begitu suara Sinta, istri John Wasa dari balik telepon.Kecemasan sekian lama akhirnya menjadi kenyataan. Selamat jalan Mama Evie....
Mama Evie adalah sapaan akrab buat Elisabet Ire-Manafe, ibunda John Ire, ipar saya. Saya tidak hanya mengenal Mama Evie karena pernikahan John dan adik perempuan saya, Veronika Hando Bata. Saya mengalami perjumpaan secara pribadi dengan almarhumah jauh sebelum ikatan cinta menyatukan John dan Ronnie.
Mama Evie atau Ibu Evie adalah guru saya di SMAN 1 Ende, Flores-NTT. Guru bahasa Inggris yang mengajar dengan penuh perhatian dan mengenal baik setiap kelemahan dan kekurangan muridnya. Dan, saya adalah salah seorang murid kesayangan almarhumah.Mama Evie meninggal dunia di rumah duka Jl. Lorong SMAN 1 Ende sekitar pukul 10.30 Wita hari Rabu, 10 Oktober 2007.
Mama Evie menderita sakit sejak dua tahun terakhir. Bermula dari operasi mata dan berlanjut dengan operasi pengangkatan kista. Ternyata ada tumor ganas yang membuat kondisi Mama Evie terus menurun. Suaminya Thomas Ire dan ketujuh putra- putrinya sudah berencana membawa Mama Evie ke Surabaya untuk operasi di rumah sakit dengan fasilitas lebih memadai, namun Tuhan berhendak lain.
Mama Evie pergi begitu lekas dalam usia 60 tahun empat bulan lebih. Pergi di saat sebagian besar anak-anaknya masih membutuhkan perhatian seorang ibu."Jujur kae (kakak), kami memang belum siap menerima kenyataan Mama sudah pergi," kata John Ire dengan air mata berlinang.
Saat kutelepon John sedang berada di rumah Om Edi Manafe di Penfui, pamannya. Dia ke Kupang untuk suatu kegiatan yang berkaitan dengan pekerjaannya. Beruntung John sudah miliki tiket pesawat ke Ende sehingga hari itu juga bisa langsung pulang ke sana.
Setelah rapat dengan panitia tinju dan Pertina NTT di kantor Redaksi Pos Kupang dilanjutkan rapat umum dengan PU Pos Kupang, Damyan Godho -- pikiran dan perasaan saya tercurah ke Ende. Pulang atau tidak? Pertanyaan itu yang selalu terngiang.
Setelah berkonsultasi dengan istri dan beberapa kali diingatkan untuk segera mengambil keputusan, sekitar pukul 15.30 Wita saya meminta Voni (staf PSDM Pos Kupang) untuk segera memesan tiket PP Kupang-Ende. "Usahakan saya dapat tiket untuk besok (11 Oktober 2007) dan pulang hari Minggu atau Senin," kataku kepada Voni.
Ada kekhawatiran karena mulai 13 Oktober ada libur panjang PNS dan swasta berkaitan dengan Hari Raya Lebaran. Sekitar pukul 17.00, tiket PP sudah diperoleh. Dan, saya mendapat SMS dari kakak ipar di Ende bahwa pemakaman Mama Evie akan dilangsungkan hari Kamis 11 Oktober 2007 pukul 16.00 Wita. Legalah hati saya karena bisa menghadirinya. Pesawat dari Kupang pukul 12.00 dan akan tiba 40 menit kemudian.
Hari Kamis itu saya tiba di rumah duka sekitar pukul 13.00 Wita. Tangisan anak-anak, Bapa Thomas Ire dan keluarga sungguh menyayat hati. Saya mengabadikan peristiwa itu dengan kamera. Ya, itulah salah satu sumbangan yang bisa saya berikan sesuai kompetensi saya.Pukul 16.00 Wita pemakaman dimulai. Ibadat sabda dipimpin frater dari Paroki St. Yoseph Onekore. Pemberkatan jenazah dilakukan adik bungsuku, Romo Vincentius Budi Bata Putra, Pr.
Romo Vincent hari itu bergerak dari Mataloko, tempat ia menjalani retret bersama para pastor lainnya se-Kevikepan Bajawa. Seperti sudah diatur akhirnya jenazah Mama Evie diberkat oleh anaknya sendiri, Romo Vincent yang baru ditahbiskan sebagai imam di Paroki Salib Suci Maurole, 23 Agustus 2007.
Mama Evie dimakamkan di depan rumah. Ini sesuai isyarat dari almarhumah menjelang hari-hari terakhir hidupnya. Banyak yang mengantar kepergiannya. Saya tak dapat mengingat satu per satu. Selain sesuai ajaran agama Katolik, upacara pemakaman juga berlangsung secara kedinasan. Guru-guru SMAN 1 Ende mengantar koleganya itu ke tempat peristirahatan terakhir.Peristiwa kedukaan itulah yang akhirnya membawaku ke kaki Gunung Inerie...
Tidak mau kami susah
Mama Evie seperti "merencanakan" kepergiannya pada saat yang tepat. Tepat dalam arti Mama Evie tidak mau menyusahkan orang-orang yang dikasihinya. Isyarat itu sudah beliau sampaikan kepada putra sulungnya, John Ire. Namun, isyarat itu baru bisa dimengerti setelah kepergiannya pada 10 Oktober 2007.
Sejak bulan Mei 2007, kami keluarga di Onekore telah disibukkan dengan berbagai persiapan menyambut pentahbisan adik Vincent. Persiapan itu berlangsung di tengah-tengah perasaan teriris mengingat Mama Evie terbaring sakit di rumah, Jl. Lorong SMAN 1 Ende.
Ronnie dan John, Bapa Thomas Ire menguatkan mama dan Kak Eman untuk tetap berusaha agar urusan adik Vincent berjalan baik. Mereka tetap terlibat penuh. Dan, Mama Evie selalu mendorong agar Ronnie dan John membantu sepenuhnya mama Theresia Masi dan Kak Eman Bata Dede. Luar biasa hati mama ini.
Pentahbisan adik Vincent menjadi imam di Maurole 23 Agustus 2007 berjalan sukses. Demikian pula dengan misa perdana di Gereja St. Yoseph Onekore pada 27 Agustus 2007 dan Misa Syukur Keluarga di Onekore 31 Agustus 2007.
Selama bulan September 2007, Vincent juga secara maraton mempersembahkan misa keluarga mulai dari Ratenggoji (9 September), Wolonio (16 September), Pemo (19 September) dan Watujuke (30 September). Semua acara itu diikuti mama, Kak Eman, Kak Geradus Baba dan keluarga inti kami yang lain.
Setelah semua itu berlalu baru mama Evie pergi. Mama Evie memang tidak mau menyusahkan orang-orang yang dikasihinya.
Kematian mama Evie juga memberiku kesempatan ikut mengantar adik Vincent ke tempat penggembalaannya yang perdana sebagai imam Tuhan, Paroki St. Martinus Ruto, Kecamatan Aimere, Kabupaten Ngada. Hari Sabtu 13 Oktober 2007 kami mengantar adik Vincent ke Ruto.
Kami menggunakan dua mobil dan dua sepeda motor. Dalam mobil kijang saya, mama Thres, Mama Resa, adik Sipri, Romo Vincent dan ponakan-ponakan, Salsa, Elsa, Resa, Icha dan Putra, anak dari adik Marten. Kakak Gerardus Baba, istrinya Fatima dan anak Jovan memakai mobil pick-up mereka. Sedangkan kak Eman dan istri serta Marten dan istri menggunakan sepeda motor.
Perjalanan Ende-Ruto sejauh 165 km PP (Pergi-Pulang) sungguh melelahkan namun indah. Semua ponakan kecuali Salsa, mabuk kendaraan dan muntah. Mama Theresia mandi muntah Elsa, romo kena muntah Icha dan Putra. Mama Resa direpotkan oleh Resa yang mabuk sepanjang jalan. Kami empat kali berhenti sepanjang perjalanan itu untuk memulihkan kondisi anak-anak yang muntah.
Di Terminal Watujaji-Bajawa bertemu adik Aris Ninu, wartawan Pos Kupang di Bajawa. Saya titip lima buah proposal dana untuk penerbitan buku 15 Tahun Pos Kupang sekaligus menitipkan bahan untuk mengurus SIM bagi adik Vincent. Di luar dugaan, adik Aris pun mau menunggu rombongan kak Geradus Baba yang baru keluar dari Ende jam 12.30 Wita.
Aris janji menjadi penunjuk jalan bagi Kak Geradus menuju Ruto. Dan dia memenuhi janjinya itu, tiba di Ruto bersama Kak Geradus sekitar pukul 18.30 Wita.Rombongan pertama kami tiba di Ruto sekitar pukul 15.00 Wita. Di sana disambut pastor paroki, Romo Paul dan ibu-ibu Santa Anna.
Mereka rupanya sudah menunggu kehadiran kami sejak pagi. Setelah minum dan makan, kami diajak jalan-jalan ke pantai Ruto-- sekitar 200 meter dari Gereja. Pantai yang indah alami di kaki Gunung Inerie.
Malam jam 19.30 Wita ada acara resmi penyambutan Romo Vincent oleh DPP Paroki Ruto. Diawali upacara adat, sambutan-sambutan dan makan malam bersama. Luar biasa kegembiraan umat Ruto menyambut kehadiran Vincent sebagai pastor pembantu (pastor kapelan). Untuk pertama kalinya, Paroki yang sudah ada sejak tahun 1954 itu memiliki seorang pastor pembantu.
Dengan jumlah umat 7.000 orang lebih, seorang pastor yang melayani mereka sungguh melelahkan. Dengan kehadiran pastor kapelan, pelayanan kepada umat akan lebih baik lagi. "Doa kami terkabul," kata mama-mama St. Anna.
Mewakili keluarga, Kak Geradus mengucapkan terima kasih atas partisipasi dan bantuan umat Ruto saat misa syukur keluarga di Onekore 31 Agustus 2007. Ruto datang dengan tarian jai dan soka yang khusus mereka persembahkan bagi Vincent. Mereka juga membantu materi berupa moke, minyak kelapa dan beras.Vincent memperkenalkan kami semua anggota keluarga dari Ende.
Romo Paul pun mengungkapkan rasa syukurnya karena sekarang dia telah mendapat bantuan seorang teman imam. Kebahagiaan serupa diungkapkan Ketua DPP Paroki Ruto (maaf saya lupa namanya).
Hari Minggu, 14 Oktober 2007 kami mengikuti misa jam 07.00 Wita yang dipimpin Romo Vincent. Dia mempersembahkan ujud khusus untuk jiwa Mama Evie. Di tengah misa yang khusuk, meriah dipadati umat serta lantunan suara koor yang merdu, saya teringat akan Mama Evie. Saya yakin beliau hadir bersama di tengah kami, sama dengan ayah saya Thomas Bata almarhum dan para leluhur...
Usai misa dan makan pagi serta foto-foto, kami kembali ke Ende sekitar jam 11.00 Wita dan tiba dengan selamat pukul 17.00 Wita. Malam jam 20.00 saya ke rumah duka lagi untuk berdoa bagi Mama Evie Manafe.. Dan 15 Oktober 2007 saya pamit kembali ke Kupang. (dion db putra)
Reaksi:

0 komentar:

Posting Komentar

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Best WordPress Themes