Frans Seda: Pahlawan Perhubungan NTT

MAUMERE, PK -- Almarhum Frans Seda telah banyak berbuat untuk kemajuan kawasan timur Indonesia, termasuk NTT. Kontribusinya bagi kemajuan bidang perhubungan di NTT (transportasi laut dan udara), tidak kecil. Almarhum adalah pahlawan bagi kemajuan perhubungan di NTT.

Sewaktu menjabat sebagai Menteri Perhubungan RI (Era Presiden Soeharto), sejumlah kapal perintis "didrop" ke NTT untuk meretas keterisolasian wilayah, meski pada akhirnya pengelolaan kapal-kapal itu oleh pemerintah daerah menjadi tidak jelas dan akhirnya "hilang" tak berbekas. Penerbangan perintis oleh pesawat Merpati ke sejumlah daerah di NTT, juga berkat campur tangan almarhum Frans Seda.

Mantan Ketua DPRD NTT, Drs. Daniel Woda Palle mengakui besarnya perhatian Frans Seda tersebut. Dia memberi contoh bagaimana Frans Seda memperhatikan pentingnya sarana perhubungan (bandar udara).

"Setelah menjadi Menteri Perhubungan, benar-benar saya akui beliau begitu memperhatikan Indonesia timur, termasuk NTT dan Sikka. Saya ingat betul, landasan pacu (bandara) Waioti itu dulu rumput peninggalan Jepang. Tetapi waktu dia jadi Menteri Perhubungan landasan itu diaspal, tambah luas lalu dibangun tower. Saya yang memanfaatkan tower itu. Saya waktu itu Bupati Sikka. Saya kadang-kadang naik di tower, kendalikan pesawat yang datang ke Maumere bawa turis. Anda bisa lihat Waoiti sekarang, kita boleh bangga untuk tingkat lokal. Itu jasa Frans Seda," tandas Woda Palle yang ditemui di kediamannya di Maumere, Sabtu (2/1/2010).

Kesaksian tentang besarnya perhatian Frans Seda bagi perhubungan di NTT, juga disampaikan Damyan Godho, Pemimpin Umum SKH Pos Kupang. Saat Frans Seda menjadi Menhub, Damyan adalah wartawan Harian Kompas yang bertugas di NTT.

Frans Seda, katanya, membuka penerbangan dan pelayaran perintis di NTT. Dia memberi lima kapal perintis untuk NTT.

"Tiap kapal itu kapasitas angkutnya sekitar 150-250 ton.
Salah satu kapal namanya Kelimutu. Sekarang ini ada kapal Pelni namaya Kelimutu, itu nama kapal yang dulu diberikan oleh Frans Seda untuk NTT," kata Damyan.

Kapal-kapal perintis tersebut dikelola oleh Perusahaan Pelayaran Daerah NTT (Peldan). "Yang mengurus perusahaan itu namanya Hendrik Mujur," katanya.
Untuk kepentingan penerbangan perintis, kata Damyan Godho, Frans Seda banyak memberi inspirasi kepada El Tari, Gubernur NTT saat itu, untuk membuat bandara- bandara di NTT guna mendukung penerbangan perintis.
Seda membagi maskapai penerbangan ke beberapa daerah dan NTT dapat jatah pesawat Merpati.

Selain pembangunan bidang perhubungan, Seda juga memperhatikan pembangunan pendidikan dan Pariwisata di NTT. "Almarhum mendirikan sekolah- sekolah di Magepanda dan Mego. Kemudian yang penting juga adalah perhatiannya pada bidang parawisata. Dia bangun Flores sebagai daerah wisata maka lahirlah Sao Wisata. Dibangun sebelahnya Sea World Club. Dan titik itu menjadi sentral wilayah Flores. Itu kenangan saya tentang Frans Seda sebagai tokoh nasional," ujar Woda Palle.

Tak Lapuk dan Lekang
Kenangan akan Frans Seda yang tak terlupakan oleh Woda Palle adalah ketika Frans Seda menikah. Resepsi pernikahan berlangsungi Lekebai, Kecamatan Mego, Kabupaten Sikka.

"Saya masih ingat betul, saat itu saya masih muda. Ketika Frans Seda menikah dengan seorang gadis bernama Yoge Pattinaya keturunan Ambon Minahasa. Mereka nikah di Jakarta tapi resepsinya di Lekebai. Saya waktu itu, usia kurang lebih 21 tahun. Saya pimpinan Grup Band Garuda waktu itu dan band saya harus tampil dalam acara resepsi itu. Zaman itu tidak ada tape recorder. Jadi band saya diminta tampil dalam acara yang besar itu. Kami mulai main band jam lima sore. Entah ada kekuatan apa, kami main band sepanjang malam sampai jam selapan pagi baru berhenti," kenang Woda Palle.

Kesan Pak Frans Seda waktu itu? "Dia panggil saya, 'Hei kau ini resepsi belum mulai kau sudah main musik, selama resepsi kau main musik. Kami sudah mengantuk dan tidur kau masih main musik. Kami bangun tidur kau tetap masih main musik. Kenapa kau bisa begitu?' Saya katakan saya bangga dan ini sumbangan saya untuk pernikahan ini," tutur Woda Palle.

Saat resepsi pernikahan tersebut, lanjutnya, paman Frans Seda yang bernama Guru Mali Seda bertutur tentang sosok Frans Seda dalam Bahasa Lio.

"Begini katanya, 'Kau (Frans Seda, Red) ini, ele leza di nara meta, ele uza di nara jigha'. Artinya tidak lapuk oleh hujan, tidak lekang oleh panas. Makna dari ungkapan adat itu yaitu biar panas Frans Seda tetap segar, mekar dan hijau. Biar hujan kau berbunga. Saya terkesan sekali akan tutur adat itu, karena memang dalam perjalanan terbukti. Di era Soekarno, Frans Seda dicintai, di jaman Soeharto dia disayangi dan saat era Reformasi dia jadi panutan. Jadi tak lapuk dan lekang oleh perjalanan waktu," katanya. (ris/gem)

Pos Kupang, Senin 4 Januari 2010 halaman 1
Reaksi:

0 komentar:

Posting Komentar

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Best WordPress Themes