Kampung "Moke" Brai

BRAI. Begitulah namanya. Kampung dan namanya telah dikenal masyarakat Kabupaten Sikka. Kampung ini berada di daerah pinggiran Kota Maumere, Kabupaten Sikka. Kampung ini penuh keunikan, lain dari yang lain.

Bagi masyarakat Kabupaten Sikka, Brai terkenal dengan suguhan moke (arak) yang menjadi sumber penghasilan dan pekerjaan warga setempat.

Kampung Brai merupakan salah satu dusun kecil di Desa Watugong, Kecamatan Kangae, Kabupaten Sikka. Wilayah ini telah dikenal sebagai salah satu daerah penghasil moke terbesar di Kabupaten Sikka. Para pembuat moke dari wilayah ini mampu melayani permintaan konsumen hingga ke luar Kabupaten Sikka, seperti Kabupaten Ende, Flores Timur dan Lembata.

Sebenarnya pembuat moke di Kabupaten Sikka menyebar merata hampir di setiap desa di Kabupaten Sikka. Tapi, bila menyebut nama Brai, ingatan orang langsung pada moke.

Moke sendiri memiliki nilai historis dan tradisional bagi masyarakat Kabupaten Sikka. Hampir setiap acara adat harus ada moke sebagai salah satu suguhan hidangan. Ada yang memberi julukan tak ada moke, maka tidak ada pesta. Banyak rumah di Kabupaten Sikka sengaja menyimpan moke, baik untuk konsumsi sendiri maupun untuk menyuguhi tamu yang biasanya tamu yang dihormati.


Begitu kuatnya moke ini membuat jenis minuman lokal ini sulit untuk diberantas, apalagi kini moke tidak sekadar minuman pada acara adat, tetapi sudah memiliki nilai ekonomis yang tinggi. Meski demikian, tidak semua orang Kabupaten Sikka selalu mabuk dan membuat anarkis karena minuman keras ini. Hanya oknum-oknum tertentu saja yang sengaja ingin mencari perhatian dengan cara minum moke ini berlebihan.

Tidak sedikit putra-putri Kabupaten Sikka yang sukses menempuh pendidikan dan menjadi orang-orang sukses karena moke. Para orangtua rela bekerja keras membuat moke demi menyekolahkan anak-anak mereka.

Lalu bagaimanakah pendapat warga setempat di tengah upaya banyak kalangan memberantas miras dan menertibkan penjualan miras?

Kepala Dusun Brai, Alfonsus Abraham (54), yang ditemui Pos Kupang, Rabu (20/1/2010), mengatakan, penyulingan moke di Brai dilakukan secara turun-temurun. Penyulingan moke bagi warga Brai sudah mejadi urat nadi kehidupan dan merupakan sumber mata pencaharian utama.

"Hampir semua warga Kampung Brai menyuling moke dan dengan moke mereka menyekolahkan anak-anak mereka hingga ke perguruan tinggi. Moke telah menjadi andalan warga Brai," kata Abraham.

Mengenai proses pembuatan moke, Abraham mengatakan, usaha penyulingan hingga penjualan moke di wilayah ini harus melalui proses yang matang. Untuk pembuatan moke, ada tiga tiga tahap penting. Penyulingan moke dimulai dari menggunakan periuk tanah. Ada juga yang menggunakan drum, hingga mesin penyulingan moke yang diperoleh warga dari Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag), Kabupaten Sikka beberapa tahun lalu.

Proses penyulingan moke pun membutuhkan bahan bakar yang tidak sedikit. Untuk itu, warga penyuling moke harus rela mengeluarkan biaya besar untuk membeli kayu api, yang saat ini mencapai harga Rp 300.000 - Rp 400.000 per-truk. Untuk setahun menyuling moke, diperlukan delapan sampai sepuluh truk kayu.

Jika dilihat secara sepintas, semua orang akan berpikir memilih menjadi penyuling sekaligus pedagang moke merupakan pekerjaan yang gampang dan instant. Akan tetapi kenyataannya membuktikan bahwa setiap pembuat moke haruslah memiliki jiwa kerja keras yang tinggi. Sebab untuk menghasilkan bahan dasar pembuatan moke, harus memanjat pohon lontar dua kali sehari, pagi dan sore.

Setiap penyuling moke di Kampung Brai memiliki 30 sampai 40 pohon lontar, bahkan ada yang memiliki 50 pohon. Dengan demikian, secara akumulatif, setiap hari seorang penyuling moke mempertaruhkan nyawanya di atas pohon lontar, karena harus lebih dari 60 kali naik-turun pohon lontar.

"Kalau sudah jadi moke, terlihat gampang, tetapi kerjanya cukup sulit. Karena harus dua kali sehari panjat setiap pohon. Jadi kalau pas musimnya, kami bisa sampai jam 22.00 Wita baru bisa istirahat. Kalau tidak diiris sore, tingkat produksinya akan menurun drastis," jelas Abraham.

Berkat kerja keras tersebut, warga Kampung Brai dapat memenuhi kebutuhan hidup mereka setiap hari. Darius Martinus, Gensius Rikus, dan Kandidus Gregorius mengungkapkan, hanya dengan menjadi penyuling moke, mereka dapat memenuhi kebutuhan dasar hidup mereka, mulai dari bahan makanan, peralatan rumah tangga, bahkan sampai pada biaya pembangunan rumah tinggal.

Ketiganya mengisahkan, untuk menghasilkan 30 liter moke berkualitas, dibutuhkan 200 liter moke putih (nira), yang hanya dapat diperoleh dalam waktu dua sampai lima hari, tergantung banyaknya pohon lontar yang dimiliki seorang penyuling moke. Namun itu hanya dapat dihasilkan pada musim puncak produksi, antara bulan Maret sampai Agustus. Sedangkan untuk bulan Oktober sampai Februari, produksi moke berkurang, karena bunga lontar, yang menjadi media penghasil moke putih belum tumbuh, dan juga kualitas moke berkurang akibat adanya kadar air yang terlalu tinggi, tercampur air hujan.

Sedangkan untuk pemasaran moke, para penyuling belum memiliki tujuan pasar yang jelas, sehingga setiap kali memperoduksi moke, para penyuling mengadu nasib ke tempat-tempat pemasaran minuman yang 'wajib' disuguhkan di setiap pesta ini .

"Sampai saat ini, kami belum punya daerah tujuan pasar. Kami langsung jual ke pasar-pasar, sehingga kami sangat menjaga kualitas mokenya. Kami tidak ingin setelah sampai di pasar, mokenya tidak laku karena kalah kualitas. Sedangkan harganya berkisar antara Rp 10 ribu sampai Rp 15 ribu per botol, tergantung musim dan kualitas moke," jelas ketiganya.

Menyangkut adanya upaya dan larangan pihak pemerintah bagi masyarakat penyuling moke, ketiganya mengaku, tidak berkeberatan meninggalkan pekerjaan tersebut. Namun harus diberikan solusi berupa lapangan kerja pengganti. Sebab lokasi pertanian yang mereka miliki tidak dapat diandalkan untuk memenuhi kebutuhan dasar hidup mereka, apalagi biaya pendidikan anak.

Mereka juga berharap, adanya campur tangan pemerintah dalam melegalkan produksi moke, dengan cara memberi label paten, sehingga kualitas dan kadar alkohol moke dapat diatur, ada batas kadar alkohol moke yang boleh diedarkan secara bebas di pasaran. (Jumal Hauteas)

Pos Kupang Sabtu, 30 Januari 2010 halaman 5
Reaksi:

0 komentar:

Posting Komentar

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Best WordPress Themes