Manado yang Indah Sekaligus Mendebarkan Hati

Alat berat bersihkan longsoran di Ring Road Manado 17-2-2013 (foto Dion)
TIDAK mudah menemukan tanah datar di Kota Manado. Manado adalah kota berbukit bertebing serta berhiaskan lembah dan ngarai. Itulah yang membuat Manado unik, indah sekaligus mendebarkan hati.

Dulu kawasan Boulevard adalah pesisir pantai biasa. Kalau sekarang warga Manado bisa menikmati tanah datar yang luas, hal itu berkat reklamasi pantai dari para pemodal. Kawasan Boulevard sekarang berubah menjadi ruang publik warga kota ini. Di sana berjejer pusat perbelanjaan. Di sana juga ada ruang rekreasi, tempat berolahraga dan berbagai aktivitas publik lainnya.

Bayangkan kalau Boulevard masih asli seperti puluhan tahun lalu? Bisa dipastikan betapa sesak berdesaknya ibu kota Nyiur Melambai ini. Hampir tak ada ruang terbuka untuk bersantai di akhir pekan. Nyaris tak ada tempat untuk menggelar hajatan yang melibatkan massa. Dalam konteks ini reklamasi pantai di Manado adalah pilihan yang tidak keliru. Reklamasi itu sebuah kebutuhan.

Sebagai ibu kota Provinsi Sulawesi Utara, Manado merupakan magnet yang menarik orang dari seluruh penjuru datang mencari hidup. Dalam tempo sepuluh tahun belakangan ini Manado sulit menampik banjir urbanisasi. Pertumbuhan penduduk meroket. Properti perumahan pun menjadi kebutuhan vital.

Di sinilah letak soalnya. Tidak mudah bagi pengembang properti mencari lahan siap pakai. Mereka harus membelah perbukitan dan meratakannya hingga secara teknis konstruksi dianggap layak untuk membangun perumahan. Kita mudah menemukan kawasan perumahan di Kota Manado dan sekitarnya yang seperti itu. Bukit-bukit digusur dan diratakan lalu di atasnya didirikan rumah.

Minggu 17 Februari 2013, enam orang tewas ketika tanah longsor menerjang rumah di Citraland. Kita setuju dengan sikap manajemen Citraland yang segera melakukan evaluasi agar kejadian serupa tidak terulang di kemudian hari. Peristiwa tersebut pun menjadi pembelajaran bagi pengembang properti lainnya di Kota Manado dan sekitarnya. Mesti dilakukan evaluasi menyeluruh apakah kawasan perumahan yang dibangun di atas bukit yang diratakan itu aman dan nyaman bagi penghuninya?

Faktor keselamatan merupakan pertimbangan utama ketika seseorang memutuskan membeli rumah. Di Kota Manado, rumah itu harus aman dari banjir dan longsor yang sudah menjadi bencana langganan kota ini.

Tentu saja pemerintah daerah tidak boleh berpangku tangan. Malu bila aparatur pemerintah sekadar omong akan melakukan ini atau itu. Pemerintah wajib menunjukkan langkah konkret agar korban banjir dan tanah longsor bisa diminimalir. Sejak lama sudah disuarakan soal relokasi bertahap warga yang bermukim di bantaran sungai serta lereng perbukitan.

 Namun, sejauh yang kita amati seruan itu hanya nyaring sesaat ketika bencana datang. Seiring berlalunya waktu, pemerintah daerah seolah lupa dan lebih sibuk dengan urusan yang lain. Sebanyak 16 orang tewas dalam bencana banjir dan tanah longsor yang menerjang Manado dan sekitarnya 17 Februari 2013. Ini jumlah korban terbesar pada  bencana serupa dalam kurun waktu dua puluh tahun terakhir. Jadi, para pemimpin daerah ini mestinya tidak lagi bermain retorika. Jangan lagi pandang enteng! *

Sumber: Tribun Manado 21 Februari 2013 hal 10
Reaksi:

0 komentar:

Posting Komentar

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Best WordPress Themes