Nostalgia Flobamora (2)

Gerson Poyk [Sumber: Nusa Indah]
Oleh Gerson Poyk

Ayahku seorang mantri yang mengepalai rumah sakit di kabupaten itu. Masa itu dokter tinggal di ibukota keresidenan (di Endeh) dan sekali-sekali ia datang mengunjungi rumah sakit yang dipimpin oleh ayahku.

Aku ingat betul, pada suatu malam, perutku kram luar biasa. Aku merintih kesakitan. Ayahku menghilang dan kemudian kembali dengan seorang lelaki bule tampak di depan mataku dan ia menaruh stetoskop di tubuhku sambil meraba-raba perutku.

Tidak lama kemudian sakitku hilang dan aku tidur lelap dan bangun segar di pagi hari meninggalkan kenangan wajah lelaki bule dan rabaan tangan di perutku, serta suaranya yang samar entah tentang apa bicaranya, aku tak ingat lagi.

 Orang selalu memanggil aku Be’a. Ini adalah nama panggilan kesayangan bagi orang Rote. Setiap anak yang sangat disayangi dipanggil Be’a baik ia lelaki atau pun perempuan. Begitu pula kakek yang sangat disayangi, dipanggil Papa Be’a. Nenek kami dipanggil Mama Be’a. Kadang-kadang aku dengar orang mengatakan bahwa kami, aku dan adik perempuanku Matilda alias Nona, anak Tuan Hof. Ini karena ayahku . Itu karena ayahku berpangkat Hoofd Mantri atau Mantri Kepala di rumah sakit itu.

Rumahsakit Bajawa terletak di salah satu pojok halaman tangsi polisi. Biasanya di sore hari ayahku mengajak aku ke rumah sakit. Aku memegang tangan ayahku berjalan setengah mengelilingi tangsi dan dalam perjalanan aku selalu bertanya dan bertanya ”apa itu”. Masa ”apa itu” itu kunikmati benar. Ayah tampak membunyi-bunyikan giginya sedangkan aku memberondongi ayah dengan Tanya ” Apa itu, Pa?” Aku terpesona memandang lapangan rumput yang hijau , pohon-pohon yang rindang, rumah-rumah dan mulut ku berbunyi, ”Apa itu, Pa?” Perasaanku mengalun indah dan tersangka aku menggigit-gigit kukuku.


”Jangan makan kuku,” kata ayahku.

 ”Kenapa kalau makan kuku,p pa?” tanyaku.

 Jawaban yang aneh, yang masih kuingat sampai hari ini, ”makan kuku sendiri berarti makan orang tua?” kata ayahku.

Aku menguakkan muka ke atas, memandang ayahku. Beliau tenang-tenang saja dan aku menikmati elusan udara irasional dalam jiwaku. Ayah tidak mengatakan bahwa di kuku ada telur cacing dan kalau makan kuku, cacing akan masuk ke mulut dan ke perut, kemudian membuat aku sakit. Pada waktu aku sakit, orang tua jadi susah, sedih.

Kasihan ayah dan ibuku kalau aku sakit. Entah, apakah analisa yang demikian itu terjadi di saat itu atau di kemudian hari ketika aku telah bersekolah, aku tak tahu, tetapi aku lebih yakin bahwa setelah mendapat pendidikan tentang ilmu kesehatan barulah jelas bahwa seorang anak yang menggigit-gigit kuku adalah seorang yang makan (menyusahkan) orang tua bila anak itu sakit perut. Kata-kata ”makan orang tua” masih terngiang dalam kasanah kenanganku.

Di tahun baru dan hari ulang tahun Ratu Wilhelmina, orang dikota kecil itu berpesta membakar mercon. Kenikmatan bakar mercon terasa juga tetapi kenikmatan ini sirna karena berita ada anak yang matanya buta. Oleh karena itu aku sangat takut pada bunyi dan semprotan mercon. Naluri menyelamatkan diri lebih besar daripada naluri menantang bahaya api dan ledakan. Begitulah, pada suatu hari entah hari raya apa, ada anak tangsi membakar mercon besar di lapangan segitiga di luar tangsi di samping menara air. Melihat mercon itu ditutupi sebuah kaleng susu, naluriku menyuruh aku berlari menjauhi ledakan yang tentu akan besar sekali. Dari kejauhan yang aman, aku melihat dengan aman pula kaleng susu itu mental cukup tinggi ke udara. Setelah dewasa kalau dikenang kembali, aku geli sendiri mengenang ketakutan yang demikian, ketakutan lihat langit terbelah dan ketakutan pada ledakan mercon besar.


Naluri melarikan diri dari bahaya di masa kecil, tampaknya tidak hilang ketika aku sudah bekerja sebagai pegawai negeri (guru) dan setelah berumahtangga. Di masa kecil, tidak ada akibat apa tetapi di masa dewasa naluri melarikan diri membuat aku menemui serba kesulitan dan kelucuan hidup. Penuh dengan tragedi dan komik. Misalnya ketika aku lari dari Ternate di saat timbulnya pemberontakan Permesta .Begitu ada kapal di pelabuhan, aku segera naik ke atas dengan pakaian di badan dan kemudian terdampar di Bali . Dengan ”mengemis”sana ”mengemis” sini aku mendapat ongkos untuk ke Jakarta . Di Jakarta, pembesar pendidikan menengah marah-marah lalu memindahkan aku ke Bima. Dua tahun lamanya aku tak menerima gaji. Bayangkan aku masih hidup dan mengajar terus dalam kebaikan orang-orang di Bima . Aku masih ingat pada haji Achmad seorang saudagar yang pernah membantu aku. Aku degngar saudagar yang baik itu mewariskan usahanya kepada anak-anaknya yang pernah aku didik.

 Melihat yang demikian, aku jadi takut karena rumahnya dekat. Aku lalu meninggalkan dia menangis pulang kerumah. Untung tidak ada yang melaporkan kepada ayah dan ibuku. Hukuman terhadap kenakalanku selalu tersedia. Hal ini aku alami ketika pada suatu hari, ada seorang gadis manis berjalan memakai kebaya, kain batik dan berkerudung. Mungkin ia anak pegawai negeri (guberneman) sehingga ia kenal betul ibuku.

Aku agak lupa, kata-kata yang kuucapkan kepadanya. Aku hanya ingat bahwa aku selalu melihat pinggulnya yang indah dan lenggangnya yang lembut dan pakaiannya bergaya muslim.Mungkin aku tertarik padanya, mungkin bibit libido mulai bertumbuh atau mungkin karena keusilan seorang anak yang masih ingusan, anak yang belum bersekolah. Ibuku marah besar.dia menyuruh pembantu membawah cabe dan cobek.

Kemudian ia menyuruh pembantu mengambil tahi ayam. Ibu mengulek-ulek semuanya dicobek lalu menangkap aku, memeluk erat-erat dan menggosokan sambal tahi ayam itu kepada mulutku. Setelah aku besar, aku sadar bahwa semuanya itu gombal. Bukan tahi ayam sebenarnya yang dioleskan ke mulutku yang kotor terhadap gadis berkain kebaya dan berkerudung itu.

Musim hujan tiba. Setelah ibu memandikan aku dengan menggosok-gosok telapak kaki dan seluruh tubuh, terutama tumitku yang dakinya tebal, aku mulai berani mandi pagi. Disore hari aku masuk ke bak mandi dan mengocok-ngocok bak itu.

Alangkah senangnya.Dimusim kemarau aku takut mandi pagi dan sore sehingga, bilamana tiba acara mandi aku menangis-nangis ketika dimandikan ibu, apalagi ibu menyebut-nyebut nama Oom Obaya, sopir oto pos (mobil pos) dan tuan inspektur polisi Belanda yang suka berkeliling kota naik sepeda motor gandengan.

Aku paling takut polisi bule itu. Bila ada bunyi sepeda motor gandengan aku lari bersembunyi. Adikku Matilda, pada suatu sore, ketika berjalan bersama ayah, tiba-tiba ia berteriak ketakutan memeluk ayah ketika serombongan suster katolik bule berpakaian putih-putih mendekati kami.Ia tidak takut melihat orang berpakaian putih membungkus seluruh badan.

Ketika bungkusan itu masih jauh, bergerak berombongan, ia tenang-tenang saja tetapi begitu mendekat dan ada manusia putih bermata hijau tertarik pada anak manis kekuningan berambut agak merah dan mencoba mencubit pipinya, adikku berteriak, menangis ketakutan memeluk kaki ayah. Aku hanya geli sendiri dan menatap terus mata biru dalam jilbab katolik itu.

Di Bajawa, seperti juga di semua kabupaten di Flores, kontrolir dan aspiran kontrolir, kemudian inspektur, semuanya Belanda. Di bawah mereka seperti klerk dan Bestuur Assisten adalah orang Rote. Kepala tangsi polisi juga seorang yang berasal dari Rote. Dia pamanku, To’o Hormu. Celakanya, opas-opasnya pun berasala dari Rote. Pakaian opas seperti polisi, memakai kelewang panjang dan topi bambu. Kumisnya terputar bagaikan tanduk kecil di bibirnya.

Dia menjaga kantor-kantor, rumah kontrolir dan bangunan penting lainnya. Kalau ada pohon mangga yang rimbun dan berbuah lebat di depan bangunan itu, opaslah musuh anak-anak yang lebih besar dariku, anak-anak yang telah bersekolah. Ada yang mengatakan, mencuri buah mangga kurang enak tetapi larinya itu yang enak. Pencuri mangga harus cepat turun dari pohon lalu lari melompat pagar. Itulah yang lebih enak dari mencurinya. Walaupun masih kecil, aku sudah bisa berpikir bahwa anak-anak pencuri mangga itu akan menjadi orang jahat kalau sudah besar.

Kembali ke cerita mengenai musim hujan, aku ingat, pada suatu hari ketika aku bangun tidur siang, aku berteriak-teriak memanggil ibu. Ke kamar tamu dan pintu depan yang menghadap jalan raya, aku memanggil keras-keras, ”Mama…” Tidak ada jawaban. Aku ke dapur dan berteriak, ”Mama…” Kemudian terdengar jawaban ibu dari halaman belakang. Aku melongok ke halaman belakang. Ternyata ibu sedang menanam jagung, labu dan sebagainya, dibawah siraman hujan dan gemuruh atap seng rumah kami. Kepalanya berbungkus handuk.

Kemudian aku melupakan kegiatan ibuku. Setelah empat ataulima bulan, aku gembira sekali ketika melihata halaman belakang. Jagung dan labu telah berbuah dan bisa dipetik. Ibu memetik beberapa buah jagung muda dan merebusnya. Aku dan adikku melahap jagung muda rebus itu dan sayur pucuk dan bunga labu.

Buah labu yang panjar belum bisa dipetik karena masih terlalu muda, tetapi jagung dan sayur daun dan bunga labu itu, mungkin untuk pertama kali aku kenal dan sadar memasuki perutku. Aku ingat, beberapa hari kemudian aku memetiknya dan merebusnya sendiri dengan periuk besi. Lalu aku tidak lagi keluar rumah. Setiap hari aku sibuk merebus jagung.

Ketika aku menjadi sastrawan, pergumulan batin paling menonjol adalah di seputar keterasingan makhluk-makhluk urban dan para penganggur. Aku dekat dengan para miskum (orang miskin dan kumuh) atau para kumis (manusia kumuh dan miskin). Mereka terasing, tercerabut, teralienasi dari tanah. Ibulah yang mengajarkan aku bagaimana memperoleh solusi dari keterasingan atau alienasi manusia dari tanah. Orang-orangkota hanya bergantung pada tenaga mereka, tenaga tubuh mereka.

Tenaga dan tubuh mereka tercerabut dari kepribadian mereka, dicabut, direbut oleh uang.Para buruh, para kuli, para pedagang kecil, para pelacur, harus banting tulang menjual daging mereka untuk uang agar bisa makan. Semua mereka terasing dari mereka. Seandainya mereka punya tanah dan pengetahuan untuk menyuburkan tanah dan memelihara tanaman, maka mereka tidak akan kekurangan makanan. Mereka tidak mengasingkan tenaga produktif mereka, daging mereka (seks dan tenaga mereka) kepada uang. Mereka tidak akan terasing, sakit, menjadi manusia tak berdaya.

Manusia, disamping jiwa, roh adalah apa yang dimakannya. Jika makanannya kurang sehat, maka manusia akan bodoh, menjadi setengah binatang. Orang-orangkota dari jenis Miskum atau Kumis gampang digerakkan oleh elit politik dan orang-orang berduit untuk menjadi binatang yang berkelompok untuk bunuh diri ramai-ramai dengan melakukan kerusuhan.

Indonesia dewasa ini ketika kutulis kenang-kenangan masa kecilku ini, benar-benar telah meninggalkan tanah, meninggalkan hujan, meninggalkan kegiatan pertanian mandiri. Padahal setelah beberapa bulan bibit ditaruh di tanah air kita yang subur ini, makanan akan tiba di dapur dan perut dan kita pun tidak usah membelinya, kita tidak usah tergantung pada uang yang dipinjam dari luar negeri, tidak usah tergantung pada belas kasihan negeri kaya. Malah dengan cukupnya makanan di kebun sendiri, kita dapat bekerja keras dan tenang untuk membayara utang. Program yang produktif di bidang pertanian perlu lekas dibuat, karena tanah bukan saja menghasilkan makanan tetapi juga kerajinan tangan dalam rangka produksi olehmassa di desa-desa dan bukan produksi massal pabrik-pabrik milik segelintir konglomerat. [Bersambung]

Baca Juga
SEMUA tentang Gerson Poyk
Nostalgia Flobamora (1)

Sumber: Matheos Viktor MessakhBa
Reaksi:

0 komentar:

Posting Komentar

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Best WordPress Themes