Nostalgia Flobamora (1)

Gerson Poyk
Oleh Gerson Poyk

BUKU kenang-kenangan masa kecilku ini kutulis untuk memperingati seekor anjing kesayanganku yang sangat setia mendampingiku kemana aku pergi. Diwaktu aku mandi di mata air Mbaumuku di Ruteng, ibukota Kabupaten Manggarai di Flores Barat, anjing kesayanganku ikut mandi, ketika aku mencabut rumput menyiangi ladang jagungku,ia menungguku. Ketika aku membaca kejayaan dan kejatuhan Napoleon serta kekejaman Kaisar Nero, anjing kesayanganku tidur di kakiku. Ketika otak di kepalaku berurusan dengan kebuasan manusia dalam sejarah kakiku mengusap-usap sebuah kelembutan yang justru datang dari binatang.

Aku masih mengenang sampai hari ini, betapa hancurnya hatiku ketika suatu pagi ketika aku keluar dari halaman dan berjalan beberapa meter menuju sekolah aku melihat anjingku berdiri kemudian berjalan pelan-pelan mendekatiku dan ketika ia mendekat, aku melihat tulang punggungnya telah putus dibelah orang dengan parang. Ia berjalan pelan sekali tidak perduli padaku.

Terbayang olehku, biasanya ia berlari menemuiku lalu melompat dan memelukku dengan suaranya yang riang dan menjilat-jilat tanganku. Bayangan itu membuat aku menangis mengusap-usapnya kemudian menyuruhnya pulang. Begitu ia melangkah pelan-pelan me nuju rumah aku jadi optimis bahwa ia akan sembuh.

Tulang punggungnya yang putus akan tersambung kembali bilamana ia beristirahat dan diberi makan yang bergisi tinggi. Dengan paru-paru yang tampak ia berjalan memasuki halaman rumah lalu berjalan menuju kolong bale-bale bamboo tempat aku selalu duduk atau berbaring sambil membaca riwayat hidup Napoleon dan sebuah buku terbitan Balai Pustaka yang berjudul "Iman dan Pengasihan " yang mengisahkan kekejaman Kaisar Nero terhadap umat Nasrani di Roma.

Duduk di kelas menghadapi pekerjaan berhitung, aku membayangkan jarum, benang dan kawat untuk menyambung kembali tulang punggung anjingku yang putus itu. Selain anjing kesayanganku, kenang-kenangan masa kecilku ini terutama kutulis untuk memperingati ayah dan ibuku yang dengan susah payah, penuh kasih sayang membesarkan anak-anaknya, termasuk aku. Yang paling membikin aku bangga pada ayahku ialah bahwa ia menerima anak-anak tirinya, membesarkan mereka, menyekolahkan mereka hingga mereka bisa hidup mandiri.

Yang perempuan kawin dengan orang baik-baik dan yang laki-laki menjadi polisi. Hanya abang tertua yang menjadi tentara yang tidak pernah tinggal dengan kami karena dari rumahnya ia langsung masuk KNIL, dilatih di Purworejo. Ia seangkatan dengan Pak Harto. Menjelang masuknya Pak Jepang, Pak Harto berpangkat kopral sedangkan abangku sudah sersan. Ketika Jepang mendarat, putuslah hubungan kami dengannya. Di saat sang Merah-Putih berkibar diIndonesia timur, abangku muncul dari hutan gerilya sebagai tentera republik di Sumut.

Ayahku dengan caranya mengantar aku ke pintu gerbang negeri imajinasi sedangkan ibuku dengan caranya pula menuntun imajinasiku ke program-program etis baik dalam tulisan-tulisanku, baik dalam perbuatan praktis dalam masyarakat. Dengan lain kata ayahku mendorong aku untuk berani mengambil resiko pengembaraan dalam hidup ini, berani untuk hi dup bukan berani mati sedangkan ibuku yang selalu hidup dalam jiwaku, selalu menuntun imajinasiku ke te ngah kebun untuk menanam padi, jagung, ubi, labu dan sebagainya.

Dikemudian hari ketika aku berenang dalam dunia sastra dan filsafat aku mengenang motivasi yang diberikan ayahku. Ketika aku menulis conceptual tool untuk operasi kemanusiaan, yang berupa kebutuhan maksimum seorang individu yang diambil dari tanah pertanian dan alam, maka ibukulah yang memberi jalan padaku. Ketika aku menjadi dewasa dan mengembara ke seluruhIndonesia , ketika aku terbang di atas samudera dan benua dan ngelayap di kota-kota dunia, o Tuhan , dimana-mana kudengar derita dan ratap tangis keterasingan urban.

Ketika aku melakukan ekspedisi tunggal mendaki puncak-puncak pegunungan filsafat, ketika itu ibu yang hidup dalam jiwaku menuntun imajinasiku yang terbang dari landasan kategori pengertian rasional yang bersentuhan dengan laboratorium dunia yang menghasilkan pramida besar dan cerobong-cerobong asap industri, menuju ke dunianya sayap-sayap kategori kemerdekaan yang disebut moral, keabadian dan Tuhan.

Di bawah siraman hujan ibu menanam jagung dan sayuran untuk kesehatanku. Itulah kenangan yang paling meresap untuk kemudian, ketika aku menjadi sastrawan, aku sangat yakin bahwa untuk menjadi orang bermoral, perlulah orang kembali ke tanah yang membentang luas di tanah air untuk diolah untuk jadi sawah lading dan padang pengembalaan. Ayah dan ibuku membawa aku ke suatu perjalanan panjang dari possibility ke probability dan implementasi. Keduanya mempunyai pengabdian tanpa pamrih buat anak-anaknya.

Seperti diketahui, orang-orang di pulau kelahiranku Rote bukanlah petani yang menanami tanaman perdagangan dan industri. Mereka menanam padi, jagung dan sebagainya untuk dimakan sendiri. Kebanyakan orang Rote menyimpan tiga tahun panen padi di lumbung karena untuk hidup sehari-hari mereka minum gula lontar dan lauk ikan dan sayuran seperti daun kelor, daun papaya dan daun bawang. Itulah yang membuat orang Rote sangat subsisten.

Berabad-abad pulau Rote yang kecil memberikan segalanya untuk penduduknya, sehingga mereka tidak perlu tergantung pada ekonomi uang.Memang ada apa yang disebut ekonomi lontar (gula, balok, anyaman), tapi ekonomi lontar tak membuat orang Rote memegang banyak uang. Mereka tak risau karena makanan dan pakaian yang ditenun sendiri selalu tersedia. Begitu pula dengan tenaga menggarap sawah.Ada begitu banyak kerbau yang dapat merencah (menginjak-nginjak sawah sampai menjadi lumpur).

Jika kemudian ekonomi uang memasuki pulau itu maka subsistensi yang etis itu akan hidup bersama dengan manipulasi, dengan kelicikan, dengan penipuan dan pencurian. Ekonomi lontar atau ekonomi gula begitu berkenalan dengan arak (sopi) yang diperkenalkan oleh Belanda (dibawa dariBatavia ) maka maraklah penyulingan arak (sopi) di bawah naungan pohon lontar. Orang Rote menjadi pemabuk, pemarah dan pemalas - terutama anak-anak mudanya. Mereka menjadi penganggur urban di Kupang dan kota-kota lain di Indonesia, terasing dari tanah di pulaunya yang membuat nenek-moyangnya berabad-abad sangat subsisten, jauh dari pengangguran urban.

Di masa VOC orang Rote mulai sadar bahwa mereka buta huruf dan sangat memerlukan sekolah. Akan tetapi dengan apa mereka membayar gaji guru? Maka VOC meminta guru dibayar denga kacang ijo, lilin lebah dan budak . Namun orang Rote menolak membayar gaji guru yang didatangkan Belanda dengan budak. Mereka hanya mau membayar dengan kacang ijo dan lilin lebah. Bayangkan kalau seandainya gaji guru dibayar dengan budak. Tentu banyak sekali budak yang dimilikanya ketika guru itu pensiun. Tinggal ongkang-ongkang saja karena sawah dan lading dikerjakan oleh para budak. Untung hal itu tak terjadi.

Jadi pendidikan di pulau Rote bukan dimulai dengan uang. Dengan demikian maka akhirnya pulau Rote memiliki belasan sekolah angka loro atau sering juga disebut sekolah gubernemen (sekolah negeri) Ayahku memasuki sekolah itu, tetapi sebelum menamatkannya di Rote,ia sangat ingin merantau.

Kakek menyetujuinya lalu menjual beberapa ekor kambing. Lalu ayah dikirim ke Kupang untuk tinggal dengan guru Lanu yang juga berasal dari Ringgou, kampung ayah. Karena kakek tak mampu mengirim uang tiap bulan maka ayah memperoleh status anak piara. Biasanya anak yang dipiara oleh orang Rote yang bergaji, bekerja serabutan mulai dari mencari kayu bakar, memikul air mandi dan minum, mencuci piring, momong anak majikan dan sebagainya. Imbalannya adalah makan, pakai dan tidur gratis dan di atas segalanya, anak piara itu dimasukkan ke sekolah. Itulah cara penduduk sebuah pulau yang mayoritas penduduknya tidak punya uang kontan, memajukan generasi mudanya.

Tiba-tiba seorang guru yang juga berasal dari kampung ayah, Guru They, dipindahkan ke Takalar, Sulawesi Selatan. Dia mengajak ayah ikut ke Sulawesi . Sudah tentu ayah sangat setuju. Menurut cerita ayah, ketika duduk di kelas terakhir sekolah gobernemen (sekolah angka loro) itu, ayah harus keluar tiga puluh menit lebih awal. Ia harus berlari pulang ke rumah untuk masak nasi, sayur dan ikan sehingga Guru They pulang, makanan hangat-hangat sudah tersedia.

Begitu ayah tamat ia langsung mendapat pekerjaan sebagai kepala hallte stasion kereta api yang menghubungkan Makassar dan Takalar. Akan tetapi ketika ada lowongan untuk Sekolah Angkatan Laut Kerajaan Belanda (KIS) maka ayah meninggalkan pekerjaannya. Begitu tamat ia ditugaskan di atas kapal perang SUMBA . Teman-teman lainnya yang seangkatan, termasuk Paraja bertugas di kapal Tujuh lalu mengadakan pemberontakan yang  terkenal itu.

Ayahku dipecat karena suka berkelahi. Ketika hidungnya ditinju oleh seseorang, ia mencabut pisau lalu menancapkan ke betisnya." Untung tak putus urat di atas tumitnya ," demikian beberapa kali kudengar cerita ayah. Seorang teman sekampungnya yang bekerja sebagai klerk di boom (pelabuhan), tiba-tiba terkejut melihat ayahku berada di atas timbunan karung, sedang berkelahi dengan seorang buruh angkut. Teman itu segera naik ke bukit karung itu untuk menolong ayah dan begitulah, sang buruh segera angkat kaki. Teman sekampung ayah itu terheran-heran mengapa seorang anggota Angkatan Laut Kerajaan Belanda telah duel di atas timbunan karung.



Lalu menurut cerita ayah, ia bekerja di pabrik binatu besar milik orang Belanda, tetapi karena Belanda selalu memarahinya maka hanguslah pakaian putih milik orang Belanda. Tentu saja pemilik perusahaan binatu itu memecat ayah.

Cerita mengenai kembalinya ayah ke pulau Rote tidak banyak yang kuketahui. Ayah hanya bercerita bahwa ia sukar sekali mendapat pekerjaan karena tiba zaman meleset (malaise) yang kira-kira sama dengan masa krisis sekarang ini. Namun tidak lama kemudian ayah mendapat pekerjaan sebagai mantri verpleger (mantri rumah sakit), kemudian kawin dengan seorang wanita asal Rote. Akan tetapi, karena ibu itu tidak mempunyai anak maka menurut ibu itu ketiku bertemu aku, ia mengijinkan suaminya kawin lagi agar mendapat keturunan.

Setelah bercerai dengannya, ayahku kawin dengan ibuku dan lahirlah aku, pada suatu subuh tanggal 16 Juni 1931, di sebuah rumah di tepi pantai, tidak jauh dari mercusuar satu-satunya di pulau Rote.

***

Bajawa, sebuahkota kecil di Kabupaten Ngada (Pulau Flores) adalah kota kesadaran pertama seorang anak kecil yang lahir di pulau Rote. Rasa bersalah dan ketakutan akan ajal dan penghukuman, entah bagaimana telah tertanam dalam diri seorang kanak-kanak sepertiku. Lucu memang, ibu memberiku uang satu kelip untuk sumbangan Sekolah Minggu. Entah karena rayuan si penjual roti keliling, aku membelanjakan uang itu dan ketika sampai di gereja aku tidak seperti anak lain menyerahkan uang itu kepada guru Sekolah Minggu.

Pada suatu hari,kota yang selalu ditutupi kabut musim hujan itu terbelah. Aku melihat ke langit. Di balik awan ada langit biru. Dengan segera aku mengira bahwa langit terbelah dan ini pertanda dunia mulai kiamat. Aku berlari ke rumah. Berlari kencang ngos-ngosan sambil membayangkan bagaimana kalau aku mati nanti dengan dosa yang kubawa, dosa membelanjakan uang untuk Sekolah Minggu? Berlari ketakutan penuh khayalan pada penghukuman dihari kiamat, sampailah aku ke rumah. Aku berkeliling meja makan membawa ketakutan akan terbelahnya langit dan hukuman hari kiamat tetapi ketakutanku hilang karena ibuku tenang-tenang saja, begitu pula adik perempuanku. Rumah (dalam arti home) melenyapkan ketakutanku.

Samar-samar terbayang olehku, ada beberapa anak kecil yang mengikuti Sekolah Minggu itu. Rasanya tidak sampai sepuluh orang. Gereja Protestan di Bajawa tampak dalam kenanganku, sebuah bangunan kumuh. Barangkali lantainya tanah dengan bangku-bangkunya tanpa sandaran. Aku masih ingat pada sosok seorang anak muda yang menjadi guru Sekolah Minggu. Rasanya di gereja kecil itulah terjadi pertemuan antara ide tentang Tuhan yang sudah tertanam dari sononya dalam jiwa seorang anak kecil sepertiku dan informasi yang diperoleh dari guru itu tentang Tuhan yang turun ke bumi untuk menjemput manusia yang tak berdaya menghadapi ajal dan gelimang dosa.

Kota Bajawa di masa kecilku terdiri dari sebuah tangsi polisi, sebuah rumahsakit, sebuah Sekolah Rakyat, sebuah Gereja Katolik yang indah dan besar sekaligus rumah-rumah untuk pastor dan suster dan beberapa rumah pembesar pemerintah serta beberapa toko milik orang Tionghoa dan sebuah pasar terbuka (lapangan). Lapangan rumputnya hijau subur terpotong rapi, mungkin oleh orang-orang strapan (narapidana). Aku tak ingat di mana letak penjara, kecuali jalan menuju kuburan karena rumah dinas kami nomor dua dari pojok jalanan menuju tempat itu. [Bersambung]

Sumber: Akun FB Matheos Viktor Messakh


Artikel lain tentang Gerson Poyk KLIK DI SINI
SEMUA tentang Gerson Poyk
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Best WordPress Themes