Rafda Hanya Sempat Bertahan 6 Jam

Evakuasi korban tanah longsor di Citraland Manado (foto Riyo Noor)
RINTIHAN Rafda Oroh (18) terdengar menyayat hati. Gadis warga perumahan Citraland Blok Eden Brigde EB8/2 tengah berjuang  bertahan hidup di bawah reruntuhan beton rumah yang menimpa setengah tubuhnya. Tuhan berkehendak lain.

Rafda akhirnya mengembuskan napas terakhir setelah bertahan selama enam jam dalam kesakitan. Rafda merupakan satu dari enam korban tewas akibat tanah longsor di Citraland. Lima korban lainnya adalah  Lady Oroh (30),  Franky Palit (30-an), Elisabet Kawilarang (30), 5. Gioklie Palit (3) dan  Tommy Maripi (28)

"Tolong, tolong, kase keluar akang kita dari sini (Tolong, keluarkan saya dari sini," ujar Rafda merintih kesakitan di bawah reruntuhan. Tribun Manado mendengar sendiri rintihan Rafda sekitar pukul 12.40 Wita.

Hari Minggu (17/2/2013) sekitar pukul 09:00 Wita, tiba-tiba rumah tinggal Rafda diterjang tanah longsor. Naas nasib kakaknya Lady Oroh (30) langsung tewas di lokasi, tertimbun bersama seorang petugas sekuriti Citra Land bernama Tommi Maripi. Hanya Rafda yang bertahan hidup. Kaki mahasiswi Fakultas Ekonomi Universitas Sam Ratulangi (Unsrat) Manado itu dari bagian paha ke bawah terjepit reruntuhan tembok. Meski begitu perjuangannya untuk  hidup begitu kuat.Saat tertimbun, mahasiswi semester II itu tengah memegang boneka beruang teddy.

Petugas dari Basarnas dan kepolisian dibantu staf Dinas Pekerjaan umum berusaha mengeluarkan Rafda dari reruntuhan. Sementara Rafda tertimbun, diperkirakan ratusan warga berkumpul berharap wanita berambut panjang itu selamat. Tubuh gadis itu pun terkulai lemas tertelungkup di lantai. Sesekali  ia mengangkat kepala dan minta pertolongan "Tolong keluarkan saya dari sini," ujar si gadis.

Dua detik berselang ia kembali terkulai lemas, merebahkan kepalanya di lantai. Tim dokter ikut diturunkan ke sana. Mereka menyuplai oksigen ke paru-paru Rafda yang terlihat sudah kesulitan bernapas. Satu meter dari tempat Rafda, tampak tubuh sang kakak, Lady sudah tak bernyawa. Seluruh tubuh Lady tertimpa beton, hanya wajahnya terlihat samar-samar muncul di antara reruntuhan

Petugas pun sempat gamang. salah bertindak sedikit saja bisa-bisa kehilangan nyawa gadis itu karena puing beton di atas kepala Rafda dikhawatirkan roboh. Petugas pun berupaya menopang reruntuhan dengan balok, membentengi tubuhnya dengan papan. Kepalanya dikenakan helm.

Sejak tertimbun pukul 09:00 Wita, hingga empat jam berikutnya, posisi Rafda terhimpit reruntuhan. Petugas tak punya ide menyelamatkan gadis itu, karena dibayangi ketakutan salah bertindak. Ada usaha mengangkut beton secara manual dengan tenaga manusia, namun beton terlampau berat. Menggunakan eskavator pun ditakutkan memicu reruntuhan kembali roboh.

 Asupan oksigen terus diberikan, namun berangsur keadaan fisik Rafda terus memburuk. Sekitar pukul 14.40 Wita, dokter memeriksa keadaannya, nadi Rafda tak lagi berdenyut. Tim medis tak bisa berbuat banyak, mereka pasrah melepas kepergian gadis itu. Peralatan oksigen dicabut. Sekitar enam  jam bertahan di reruntuhan Rafda berpulang.

Nada kekecewaan melanda warga yang dari pagi menunggu proses evakuasi. Tampak juga di sana Wakil Gubernur Djouhari Kansil, Anggota DPRD Minahasa Careigh N Runtu dan Sekda Minahasa Warouw Karouan. Sedari awal mereka optimis Rafda bisa diselamatkan, apalagi kabar kekuatan gadis itu bertahan hidup begitu besar menambah keyakinan. Harapan mereka pun pupus, bersama kepergian Rafda.

Sartika Londonaung (21) Warga Winangun Atas pun mengungkapkan penyesalannya. Sartika merupakan saksi mata bencana longsor. Ia melihat tiga rumah di Citra Land tertimpa tanah dan air. Ia pula yang pertama kali mendengar teriakan minta tolong Rafda "Dia (Rafda) teriak minta-minta tolong, saya dengar langsung masuk ke rumah, saya lihat dia tertindis beton," ujar Sartika.

Sartika mengaku, langsung meraih tangan Rafda, namun ia pun tak berdaya mengeluarkan gadis itu dari reruntuhan. Air mata Sartika meleleh,. "Kita lihat dia (Rafda) sampai menangis. Kasihan, seandainya saya yang terjepit. kita tidak bisa tolong, sedih sekali," katanya.

Di tengah kebingungan Sartika, tiba-tiba rumah kembali bergemuruh hendak roboh, suami Sartika pun terpaksa menarik Sartika keluar dari rumah "Saya tak bisa tolong, saya terpaksa meminta tolong warga yang lain," ungkapnya. Dari Sartika, kabar perjuangan hidup Rafda tertimbun longsor pun menyebar dari mulut ke mulut. Warga yang awalnya berkumpul di lokasi longsor Gereja Kalam Kudus Citra Land, akhirnya pindah di blok Eden Brigde.

Kehilangan Dua Putri
Rintihan pilu Leni Repi, ibunda Rafda dan Lady pun pecah. Leni bersama suaminya pendeta Johan Oroh baru saja tiba dari Desa Bangunan Wuwuk, Boltim ketika menemukan dua puterinya tak lagi bernyawa. "Oh Tuhan," ujar Leni histeris

Pendeta Oroh pun tak kuasa menahan sedih, air matanya mengalir deras, usai menyaksikan tubuh dua anaknya di reruntuhan. Ia keluar ditopang kerabatnya dan duduk menangis di depan rumah. Setelah berhasil mengendalikan diri, Pendeta Oroh bertutur kisah terakhir bersama anaknya. Pendeta GPDI Bangunan Wuwuk ini mengatakan, Rafda dan Lady tinggal berdua. Sebenarnya di rumah itu ada juga suami dan anak Lady, namun saat kejadian berada di Jawa. Johan Oroh punya tiga orang anak,  Rafda anak bungsunya masih berkuliah, sementara Lady telah bekerja sebagai Kepala Bagian di Bank Pundi Manado.

Sedangkan anak keduanya laki-laki tengah sekolah pendeta di pulau Jawa. Malam sebelum kejadian naas itu, Pendeta Oroh sempat telepon Rafda. Ketika itu sekitar pukul 20:000 Wita, hujan deras mengguyur Manado, firasatnya tak baik, apalagi mengetahui rumah di Citra Land di bawah tebing curam "Saya sudah sampaikan untuk keluar dari rumah, karena takut longsor," ujarnya.

Ketika itu, kata Pendeta Oroh, dua puterinya sedang memasak pisang kukus "Namun firasat saya tak baik, karena kata puteri saya sudah satu jam pisang kukusnya tak juga masak," ungkapnya. Oroh pun pasrah, ia berencana memakamkan dua puterinya di Bangunan Wuwuk tempat asal mereka "Saya harus terima, mereka berdua hanya dititipkan Tuhan pada keluarga saya," ujarnya.

Suasana memilukan juga terlihat saat tubuh penuh lumpur Gioklie Palit, bocah berusia tiga tahun berhasil dikeluarkan dari reruntuhan beton rumah tinggalnya di Citra Land Blok Eden Bridge. Gio ditemukan  di kamar mandi dalam keadaan tanpa busana. Diduga Gio sedang mandi, saat longsor menerjang rumah. Gio tewas berssama orangtuanya, pasangan Frangky Palit dan Elisabet Kawilarang.

Petugas TNI yang mengevakuasi bocah itu pun diberikan kepada sang paman. Lelaki itu  meraih tubuh tak bernyawa bocah itu sambil mentikikan air mata.
Ning Kawilarang, bibi bocah itu pun histeris, ia meratap sedih nasib naas ponakannya. Ia hanya tak menyangka, sejam sebelum longsor pukul 09.00 Wita kemarin, ia masih saling telepon dengan Elisabet, adik kandungnya. "Rencana saya mau jemput dia (Gio), mau bawa berdoa di klenteng (Calaca). Dia suka sekali kita jemput, minta dibelikan baju putih," ujar Ning meratap sedih.

Tewas Berpelukan
Gracia Gosal (3) dan Ripka Gosal (10) ditemukan tewas dalam posisi berpelukan. Keduanya adalah korban tanah longsor di Lingkungan VIII, Kelurahan Tingkulu, Kecamatan Wanea, Manado, Minggu (17/2/203) pagi.

 "Kejadiannya sekitar pukul 9.30. Kejadiannya sangat cepat sekali, tanah langsung ambruk," kata Kepala Lingkungan VIII, Lucky Sumangkut. Selain Gracia dan Ripka, Ibu Gracia, Ripka Ruru (25), juga ditemukan tewas di dalam rumahnya. Lucky mengatakan, Ruru tak sempat melarikan diri saat tanah longsor menerjang. "Suami dan opanya berhasil selamatkan diri," ujarnya.

Masih di Kelurahan Tingkulu, Lingkungan V, Charles Taroreh (27) juga tewas tertimpa longsor. Charles tewas di dalam ruma nya. "Ini kejadian sekitar pukul 7.30 pagi. Papa dan adiknya sempat keluar, hanya korban tidak sempat selamatkan diri," tutur Lucky. (ryo/ton/dru/def/erv/kev)

Sumber: Tribun Manado Senin 18 Februari 2013 hal 1
Reaksi:

0 komentar:

Posting Komentar

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Best WordPress Themes