In Memoriam Valentino Luis

 Gunung Ebulobo Flores. Foto karya Valentino 

Oleh: Dion DB Putra

"Gema suara pertanda kapal akan berlabuh membangunkan penumpang yang terlelap. Saya dan keempat tandem beringsut bangkit dari bangku-bangku panjang yang kami gunakan sebagai alas tubuh." 

"Angin pagi menerpa sekujur badan, memaksa kami berkemas dengan tangan menggigil. Alih alih menggerutu, kami justru saling berangkulan  dengan sukacita.  Akhirnya tiba juga di Pelabuhan Lembar, Lombok."  

Begitulah cara Valentino Luis menulis lead alias teras feature-nya. Deskripsinya kuat. Indah menggoda, senantiasa menghela minat pembaca untuk mencicipi tulisannya sampai jauh. Hingga kata terakhir.

Dua paragraf awal di atas saya kutip dari laporan perjalanannya di Lion Mag (Inflight Magazine Lion Air) edisi Agustus 2014 bertajuk "Buai Pesisir Lombok Selatan".

Kala itu Valentino Luis bersama empat rekannya dari negara berbeda berwisata ke Pulau Lombok, Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB).

Diksinya elok melukiskan suasana Lombok pagi itu dalam perjalanan dari Lembar menuju selatan.

"Pagi di Lombok adalah sawah-sawah hijau keemasan yang menguapkan kabut tipis putih, segelintir kendaraan yang dipacu lamban, dan siluet kubah-kubah mesjid bermodel bawang yang menunjukkan kesakralan mereka antara bayangan gunung serta pepohonan," tulis Valentino.

Lokasi liputan Valentino Luis dkk pada masa itu adalah kawasan Pantai Kuta Mandalika dan sekitarnya. 

Kuta memang dikenal sebagai kantong wisata Lombok Selatan. Letaknya persis di bibir pantai nan permai. Di kawasan inilah sekarang berdiri megah Sirkuit Mandalika, tempat pagelaran ajang bergengsi MotoGP sejak 2022.

Penulis Hebat

Sebagian dari tuan dan puan yang pernah menggunakan maskapai penerbangan Lion Air dan Batik  Air- kiranya tidak asing dengan nama Valentino Luis.

Mungkin sekali dua Anda pernah membaca tulisannya di majalah udara bulanan maspakai tersebut. Cukup sering catatan perjalanan Valentino menjadi laporan utama Lion Mag atau Majalah Batik Air.

Putra Sikka, Flores, Provinsi Nusa Tenggara Timur ( NTT), kelahiran 21 Mei 1982 adalah penulis hebat dan fotografer andal. Dia juga seorang petualangan sejati.

Sejak usia muda dia telah berkelana ke berbagai belahan dunia. Melalui tulisan dan foto-fotonya dengan sudut pandang eksotik, dia menghibur pembaca. 

Valentino Luis membawa setiap orang seolah ikut berwisata dengannya ke seluruh ujung bumi. 

Tempat yang biasa saja di mata awam, dalam jahitan kata dan kalimat Valentino Luis - berubah menjadi sesuatu yang berkesan. Penuh pesona memikat badan dan jiwa.

Kiranya banyak orang berkunjung ke objek wisata di NTT, luar NTT maupun manca negara setelah membaca tulisan Valentino Luis. Saya yakini itu.

Valentino Luis (Dok pribadi)

Pilihan judulnya umumnya puitik berisi. "Sensasi Elevasi Potosi" demikian dia beri titel perjalanannya ke Bolivia, dipublikasikan Majalah Batik Air edisi Juni 2014.  

Bolivia adalah negara terkurung daratan di Amerika Selatan berbatasan dengan Peru, Brasilia, Paraguay, Argentina dan Chile.

Valentino Luis berkunjung ke Kota Potosí, Bolivia. Kota dengan elevasi tak lazim. Meski letaknya di kaki Gunung Cerro Rico, posisi  Potosí sudah lebih dari 4.000 meter di atas permukaan laut (dpl). Karena letaknya itulah ia digadang sebagai kota tertinggi di planet bumi. 

Pada hari keempat di Bolivia, Valentino  memijakkan kaki di Salar de Uyuni atau nama lain Salar de Tunupa. Tempat favorit wisatawan dunia.

Ini adalah hamparan garam terluas di dunia, mencapai 10,582 km2  atau dua kali lipat dari luas Pulau Dewata Bali.  

Valentino menulis, "Menemukan dataran garam maha luas, mendapati diri laksana miniatur hidup di bentang whiteboard gigantis. Ada perasaan seolah sedang berenang di lautan terdalam ketika menghirup uap garamnya, namun saya pun menyadari bahwa kami berada di ketinggian 4.000 meter di atas permukaan laut."

Bukankah kata-kata Valentino membawa imajinasi pembaca ikut "merasakan" sensasi padang garam maha besar di sana?

Demikianlah kepiawaian Putra NTT ini selama puluhan tahun menjadi traveler. Penulis wisata sekaligus wisatawan penulis. 

Dia jurnalis terbaik. Dia nyaris sempurna sebagai penulis dan fotografer. Foto-fotonya bercerita, tulisan-tulisannya enak dibaca dan kaya perspektif. Lama tertanam di otak dan hati.

Kontak pertama saya dengan Valentino jauh sebelum Facebook hadir. Yang baru ada kala itu Friendster, pelopor platform media sosial global yang populer di atas tahun 2002, untuk berbagi profil, foto, dan testimonial antar teman. 

Kenangan di Dili

Saya jatuh hati pada caranya merangkai kata dan kalimat sejak pertama kali membaca tulisannya yang dia unggah di blog pribadi. Valentino Luis merupakan blogger ternama di masanya.

Saya rutin memberi apresiasi, komentar dan terutama berterima kasih karena melalui tulisannya saya seperti ikut melanglang buana. Perjumpaan kami memang lebih kerap lewat jagat maya. 

Kami bersua langsung hanya beberapa kali, dan tidak lama. Satu di antaranya yang agak lama durasinya saat bersama  ikut penerbangan perdana Maskapai Air Timor Kupang-Dili pada Desember 2017.  Di Dili kami sempat berbagi cerita dan menikmati keramahan tuan dan rumah.

Valentino Luis adalah pengguna medsos yang aktif sehingga banyak orang selalu terhubung dengan aktivitasnya seabrek.

Sesungguhnya dia tak sekadar penulis hebat. Valentino Luis juga dikenal luas sebagai aktivis sosial yang selalu hadir dalam banyak momen yang menentukan.

Melalui rumah Shoes for Flores, misalnya,  Valentino Luis menggalang bantuan untuk  anak anak di pedalaman Nusa Tenggara Timur yang kekurangan dalam  aneka akses dan fasilitas pendidikan.

Dia pria dengan spirit inovator dan pelopor. Karyanya berdampak luas. Dia memanggungkan produk lokal ke pasar dunia melalui Innocentia. 

Seingat saya, produk Innocentia yang khas antara lain jaket dan tas perjalanan berbahan tenunan dengan motif aduhai. Dia sungguh memancarkan semangat kewirausahaan. 

Dia terlibat dengan banyak komunitas di NTT. Valentino Luis sukarela berbagi ilmu dan keterampilan. Kerja kreatifnya selalu menginspirasi dan meneguhkan. 

Selasa pagi 3 Februari 2026 tersiar kabar yang menggemparkan dari Lela, Sikka. Valentino Luis berpulang. Usianya terbilang muda, belum genap 43 tahun.

Banjir ucapan dukacita dari mana-mana. Kolega dan para sahabatnya seolah tak percaya, anak muda Flobamora yang luar biasa itu telah tiada. 

Selamat Jalan Valentino Luis. Bahagia kekal di sisiNya.

Epang Gawang (terima kasih), Nong Valentino. Kami akan selalu mengenangmu lewat karyamu yang abadi.  (*)

Sumber: Pos Kupang

Tuan dan puan yang kangen tulisan Valentino Luis silakan klik DI SINI

Valentino Luis dan Warisannya untuk Flores

Valentino Luis (tengah). Dok SFF

Oleh: Elisabeth Hendrika Dinan

Saya pertama kali bertemu Ka Valen – sapaan akrab Valentino Luis – pada 2018. 

Pertemuan itu terjadi saat Shoes For Flores (SFF), komunitas berbasis di Maumere yang ia rintis sejak 2014, mengadakan kegiatan di Labuan Bajo.

Saya dan kawan-kawan dari Rumah Kreasi- sebuah hub bagi kaum muda di Labuan Bajo untuk beragam aktivitas- menyambut mereka di kantor Sunspirit for Justice and Peace, yang juga mengelola Rumah Tenun Baku Peduli.

Kala itu, kami tidak banyak berinteraksi. Hal yang saya ingat justru satu detail kecil: Ka Valen datang lebih dulu dengan motor KLX oranye hijau, mendahului tim SFF yang menggunakan mobil.

Setelah acara itu, kami belum begitu akrab. 

Saat bepergian, saya hanya sesekali menemukan nama Ka Valen di majalah yang dipajang di pesawat.  

Ia memang salah satu penulis artikel perjalanan di sejumlah majalah milik maskapai. Pengalamannya berkelana ke berbagai belahan dunia ia abadikan melalui tulisan dan foto-foto dengan sudut pandang eksotik.

Kecintaan Pada Tenun

Kami baru terhubung lagi pada 2020, ketika media National Geographic (NatGeo) Indonesia meliput gerakan Rumah Tenun Baku Peduli. Ia merupakan salah satu kontributor media itu.

Dari semula agak segan, perlahan-lahan Ka Valen menjadi salah satu teman yang paling sering mengajak saya berdiskusi soal tenun.

Ia juga sosok yang paling rajin “mengompori” saya supaya mau menjadi narasumber dalam berbagai diskusi soal tenun.

Bersama beberapa teman, kami bahkan membuat Grup WhatsApp khusus untuk membahas apapun tentang tenun.

Setelah mendengar kabar ia meninggal pada 3 Februari 2026 dalam usia 43 tahun, saya kemudian mengingat-ingat lagi betapa seringnya kami berbagi ruang diskusi yang sama. 

Sepanjang 2020-2021, kami sama-sama mengikuti kurang lebih tujuh forum diskusi tentang tenun. Hanya dua yang saya inisiasi, selebihnya atas ajakannya—kadang dengan sedikit paksaan.

Saat saya ragu ia selalu memberikan saya pertanyaan ini: “Kamu tidak mau kan kalau apa yang kamu kerjakan justru orang lain yang omong? Baik kalau itu benar, kalau salah? Kamu tidak capek nanti teriak protes?”

Kalimat itu sering ia ulangi, dan entah bagaimana, selalu berhasil membuat saya mengangguk.

Pada masa-masa pandemi Covid-19, kami berdua bersama Michael Whyag, seorang chef, pernah diminta menjadi narasumber diskusi di Kementerian Pariwisata tentang socioenterprenership dalam dunia pariwisata lewat wastra dan gastronomi.

Sehari sebelum acara, saya menghubungi Ka Valen, memberi tahunya bahwa saya bingung harus bicara apa. 

Jawabannya sederhana: “Ya ayo, kita bahas kebingungan itu.” Esoknya, semuanya berjalan lancar.

Ada satu momen lain yang selalu saya ingat. Pada 9 Juli 2020 kami berdua diminta NatGeo untuk berbagi cerita tentang warisan wastra Flores lewat siaran langsung di kanal YouTube mereka. 

Sebagai pengalaman pertama, saya grogi dan ragu menerima tawaran itu. Ka Valen rupanya menyadarinya. Ia menelepon, meyakinkan saya untuk ikut. Kami berdiskusi berulang-ulang, memilah-milah apa yang bisa dibagikan.

Lima belas menit sebelum acara dimulai, ia kembali menelepon: “Kaka Ney, santai saja. Jangan terlalu tegang. Kan kita yang paling tahu tentang adat kita sendiri. Kita lahir dan hidup dari situ. Jangan ragu.”

Begitulah Ka Valen. Hal-hal yang rumit sering terasa sederhana setelah ngobrol dengannya.

Kecintaannya pada upaya pelestarian tenun ia wujudkan juga lewat Innocentia. Ia mengubah tenun—yang bagi sebagian orang terlihat kaku—menjadi produk turunan yang fungsional: tas, jaket, strap kamera, dompet dan lain-lain.

Komitmennya menjaga kekhasan dan nilai tenun membuat ia juga bisa sangat keras. 

Pada 19 Maret 2021, ia menghubungi saya memberitahu soal video kain printing bermotif tenun NTT yang dipromosikan oleh akun Badan Narkotika Nasional Provinsi NTT dan diklaim sebagai sebagai tenun Manggarai.

Ia marah dengan hal itu. Kami lalu menyusun pernyataan sikap yang dengan nada tegas mempersoalkannya. Saya juga ikut menulis pernyataan protes di akun Instagram.

Kemarahan serupa juga muncul pula ketika pada 2018 Gramedia menerbitkan buku berjudul Pesona Kain Indonesia: Kain Songket Labuan Bajo.

Isi buku itu sebagai besar mengambil foto penenun dan koleksi di Rumah Tenun Baku Peduli tanpa ijin. Selain itu, ada sejumlah informasi yang salah. Misalnya menyebut semua kain tenun dari NTT sebagai kain Songket Labuan Bajo. 

Kami juga menilai judul buku itu melecehkan dan menggiring opini seolah-olah Labuan Bajo memiliki tradisi tenun Songket sendiri. 

Kami menduga waktu itu sebagai kesengajaan karena Labuan Bajo sedang menjadi destinasi pariwisata favorit dan belakangan disebut sebagai destinasi super premium. Jadi, meletakan Labuan Bajo di judul bisa jadi untuk menarik minat pembeli. 

Kami menyusun draft poin keberatan dan Ka Valen mengambil peran menyurati Gramedia untuk meminta menarik buku itu.

Setahu saya, buku itu kemudian tidak ditemukan lagi di beberapa gerai Gramedia yang saya kunjungi, kendati di toko digital, buku itu masih terpampang.

Senang Bercerita

Ka Valen yang saya kenal bukan orang yang mudah membuka diri pada semua orang. 

Namun, di lingkaran pertemanannya, ia adalah penutur cerita yang luar biasa. Mendengarnya bercerita secara runut benar-benar membius waktu. 

Dengan mata berbinar dan gestur tubuhnya yang khas, ia bisa membuat kita tenggelam dalam ceritanya. Tiga atau empat jam berlalu tanpa terasa. Ia tidak pernah sungkan berbagi apa yang ia ketahui.

Selama 2019 hingga 2024, ia terlibat aktif dalam banyak event besar dan ikut berkegiatan dengan banyak komunitas anak muda di Labuan Bajo. Di sana, terlihat jelas bagaimana pendekatannya pada semua orang.

Pada September 2021, saya baru saja kembali dari Yogyakarta untuk pengumpulan data riset tulisan akhir tentang tenun dan pariwisata berbasis komunitas. 

Sebuah kebetulan, Ka Valen mengabari bahwa ia berada di Labuan Bajo pasca kegiatan Flores Writers Festival yang berlangsung di Ruteng.

Ia sempat terkena Covid-19 dan tidak memungkinkannya terbang kembali ke Maumere.  Saya dan tim mengajaknya beristirahat di Rumah Tenun Baku Peduli.

Seminggu itu menjadi waktu yang berharga untuk mengenal lebih dalam bagaimana ia melihat Flores dari kejauhan—dan bagaimana akhirnya ia memutuskan pulang dan berkarya usai melalang buana di berbagai negara.

Rekan-rekan saya di Rumah Tenun Baku Peduli mengenang Ka Valen sebagai orang yang paling suka bercerita, juga suka merenung dan membaca berjam-jam.

Lela, Tempatnya Memilih Berpulang

Suatu sore, sepulang dari dokter untuk tes Covid, sambil mendengar kabar tentang banyaknya orang meninggal karena penyakit itu, ia tiba-tiba bercanda kepada kami: “Kalau boleh memilih, suatu saat ketika dipanggil Tuhan, saya mau berpulang di tempat yang indah. 

Di gunung misalnya, melihat matahari terbit atau tenggelam. Kan tidak merepotkan banyak orang.”

Ia mengatakan hal itu sambil tertawa.

Setelah mendengar kabar bagaimana dia berpulang, saya baru memahami bahwa bagi seorang Valentino Luis, di antara semua tempat indah di dunia ini yang sudah dia kunjungi, Lela, kampung halamannya menjadi yang terindah di hatinya.

Dan, ia benar-benar pergi saat matahari terbit—seperti yang pernah ia harapkan.

Di Flores, banyak orang hebat. Namun, tak banyak orang seperti Valentino Luis, yang mampu mendorong orang lain bertumbuh tanpa menggurui.

Tak banyak yang seperti Valentino Luis yang bersedia melakukan semua itu diam-diam, tanpa sorotan, juga tanpa pernah memanfaatkan orang lain demi membesarkan dirinya sendiri.

Bagi sebagian orang, ia adalah mentor; bagi yang lain, sahabat; bagi yang lain lagi, saudara.

Ia tidak hanya mewariskan nilai berharga untuk Maumere, tetapi dari ujung ke ujung pulau ini. 

Dalam forum Baku cerita sesi pertama di Labuan Bajo, yang ia ikut inisiasi, Ka Valen sempat berkata: “Kita ata (orang) Flores sudah terlalu lama dikotak-kotakkan, dibenturkan sana-sini, lalu lupa melihat bersama soal-soal yang ada di Flores. Rasa ke-Flores-an kita seharusnya memperkuat kerja-kerja kemanusiaan.”

Pernyataan itu meniupkan harapan bagi banyak orang muda di Flores dan NTT untuk bersatu, bergerak bersama melakukan apapun demi tanah kelahiran.

Ka Valen meninggalkan banyak legacy yang membuatnya terus dikenang, lewat Shoes for Flores, Innocentia, Blog Anak Flores, buku-bukunya, serta publikasi foto dan audiovisual.

Semoga legacy itu terus dihidupkan sebagai bagian dari menjaga mimpi-mimpinya tentang tanah ini.

Flores kehilangan satu sosok yang bersinar dalam aksi sunyinya.

Selamat jalan, Ka Valen.

Terima kasih telah menjadi inspirasi.

Fly high dan tidur tenang dalam pelukan abadi tanah Flores

You will always be missed.

*) Elisabeth Hendrika Dinan adalah Direktur Sunspirit for Justice and Peace, yang juga mengelola Rumah Tenun Baku Peduli di Labuan Bajo

Sumber: floresa.co

 




Ia Pergi Berkelana, tapi Tak Pernah Pergi dari Flores

Valentino Luis (Dok Pribadi Valentino)

Oleh: Erlyn Lasar

Pagi ini, kabar itu datang dari jarak jauh. Di bawah langit Melbourne, kabar itu terasa ganjil, dan sumbang sekali, seperti suara burung gagak di siang hari yang terdengar sangat asing di telinga ketika pertama kali kami menjejakkan kaki di benua ini. Seorang kakak, sahabat, dan guru bagi banyak orang telah pergi.

Ia penulis perjalanan, pengelana, pemotret lanskap dan budaya. Namun bagi banyak orang yang tumbuh bersamanya, ia adalah seorang yang diam-diam menjaga rumah.

Sejak kecil, ia bercita-cita menjadi tokoh Tintin dalam Kisah Petualangan Tintin. Barangkali itulah sebabnya ia memilih jalan hidup yang tidak menetap.

Ia berkelana ke banyak negara, menulis untuk majalah penerbangan Lion Air Group dan National Geographic, memotret bentang alam dan wajah-wajah manusia dengan ketekunan yang nyaris asketik.

Tetapi ke mana pun ia pergi, Flores tidak pernah tertinggal. Tanah itu bukan latar belakang, melainkan kompas.

Ia tidak bepergian untuk melarikan diri. Ia pergi untuk membawa pulang cerita. Lewat tulisannya, Flores hadir bukan sebagai objek eksotik, melainkan sebagai ruang hidup yang bermartabat, dengan kebudayaan, ritus, bahasa, dan imajinasi yang layak dihargai.

Ia percaya bahwa kebudayaan tidak selalu harus dibela dengan pidato; kadang cukup dengan menghadirkannya apa adanya, jujur, dan penuh hormat.

Kameranya bekerja dengan cara yang sama. Lanskap tidak pernah ia paksa menjadi indah. Wajah-wajah manusia tidak ia posisikan sebagai tontonan. Foto-fotonya seperti mengajak kita berhenti sejenak dan berkata: lihatlah, ini berharga. Bahkan yang paling sederhana sekalipun.

Di tempat-tempat yang ia singgahi, termasuk di kampung halamannya sendiri, ia lebih sering memilih peran pendukung. Ia mendorong lahir dan bertahannya komunitas-komunitas yang bekerja dengan militansi sunyi untuk kebudayaan dan kemanusiaan.

Ia hadir, menghubungkan orang, membuka ruang, lalu mundur selangkah. Namanya tidak selalu tercatat, tetapi dampaknya menetap.

Saya teringat, di suatu hari, kami mengutarakan kegelisahan tentang rencana merantau jauh untuk lanjut belajar, tentang membawa anak kami yang saat itu belum genap dua tahun, tentang jarak, ketidakpastian, dan rasa takut kalau-kalau pilihan itu akan menyusahkan anak kami yang diajak berjuang saat masih terlalu kecil.

Ia mendengarkan dengan senyum yang hangat, lalu berkata pelan bahwa ia telah berhenti takut mati. Bukan karena hidupnya tanpa luka, melainkan karena ia merasa telah pergi ke banyak tempat, mengalami banyak hal, belajar dari begitu banyak orang, dan yang terpenting, memberi dirinya kesempatan untuk berbagi kepada lebih banyak orang lewat berbagai cara yang mungkin.

Ia bilang, ia sudah menjadi seperti Tintin. Kalimat itu tidak terdengar seperti nasihat, melainkan seperti pengakuan yang jujur dan menenangkan.

“Kalian mesti berani. Anak itu beruntung, ketika kalian berani mengajaknya berpetualang jauh sejak dini. Suatu hari dia akan sangat berterima kasih,” katanya sambil menyeruput kopi pahit kesukaannya.

Tentang dirinya sendiri, ia jarang bercerita. Ia seperti seseorang yang bisa melakukan banyak hal, namun selalu bergerak dengan kerendahan hati orang yang merasa belum tahu apa-apa. 

Bahkan tentang sakit yang ia alami di hari-hari akhirnya, ia memilih diam. Sahabat dan rekan nyaris tidak pernah mendengar keluhannya. Maka kepergiannya terasa mendadak, bukan karena ia pergi terlalu cepat, tetapi karena ia pergi tanpa banyak isyarat.

Kini, yang tertinggal bukan hanya duka, tetapi juga tanggung jawab. Tanggung jawab untuk menjaga apa yang selama ini ia rawat. Terlebih kesadaran bahwa budaya kita berharga, bahwa tanah lahir tidak harus ditinggalkan agar bisa diperkenalkan ke dunia, dan bahwa kerja-kerja kemanusiaan sering kali paling bermakna justru ketika dilakukan tanpa sorotan.

Ia telah berkelana jauh. Sebab surga nampaknya membutuhkan seorang penutur ulung mulai hari ini.

Ia memang telah pergi. Namun melalui tulisan, foto, dan orang-orang yang pernah disentuhnya, rasa-rasanya memang ia tidak pernah benar-benar pergi dari Flores.

Selamat jalan, Valentino Luis. Rest in love.

Penulis: Erlyn Lasar

Sumber: ekorantt.com


Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Best WordPress Themes