Gaya Jokowi di Kairagi
Dalam rangkaian blusukannnya ke Sulawesi Utara, Calon Presiden (Capres) PDI Perjuangan, Ir Joko Widodo alias Jokowi menyempatkan diri mampir ke Kantor Harian Tribun Manado di Jalan AA Maramis, Kairagi, Manado, Sabtu (10/5/2014) sekitar pukul 13.15
Dua Mahasiswi Unima Taklukkan Puncak Elbrus
Prestasidemi prestasi dibukukan anak-anak Mahasiswa Pecinta Alam (MPA) Aesthetica, Fakultas Bahasa dan Seni (FBS) Universitas Negeri Manado (Unima)
Berwisata Penuh Sensasi ke Pulau Komodo
TAK dapat dimungkiri, Pulau Komodo di Manggarai Barat, Nusa Tenggara Timur, adalah salah satu pulau terunik di dunia
Tampilkan postingan dengan label Mengenang Gus Dur. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Mengenang Gus Dur. Tampilkan semua postingan
Pluralisme Pasca-Gus Dur
dion bata
Oleh Zuhairi Misrawi
Presiden Susilo Bambang Yudhoyono dalam prosesi pemakaman Gus Dur menyatakan bahwa almarhum adalah Bapak Pluralisme dan Multikulturalisme. Sultan Hamengku Buwono X juga menyebut Gus Dur sebagai pejuang pluralisme, Kamis (31/12).
Kematian Gus Dur sungguh mengejutkan seluruh pihak. Doa senantiasa menggema di jagat republik ini, termasuk dalam pesta malam Tahun Baru yang lalu. Penulis sangat terharu ketika melihat langsung ratusan ribu warga menyambut kedatangan jenazah almarhum di pesarean Pesantren Tebuireng. Mereka melambaikan tangan sembari melafadzkan pujian kepada Tuhan dan Muhammad SAW, sebagaimana lazimnya dalam tradisi NU.
Salah satu jasa besar Gus Dur adalah mengukuhkan panji-panji pluralisme. Sebab itu, pernyataan Gus Dur sebagai bapak dan pejuang pluralisme merupakan sebuah realitas yang tidak terbantahkan lagi. Meskipun demikian, pernyataan tersebut meninggalkan dua hal: harapan dan tantangan.
Harapan, karena pluralisme masih menjadi laku sosial-politik. Mereka yang mendukung tegaknya kebinekaan merupakan kelompok mayoritas. Sebaliknya, mereka yang menolak pluralisme adalah kelompok kecil yang kadang kala suara mereka lantang di permukaan. Meskipun suara mereka lantang, tetapi kehendak publik pada pluralisme tidak akan mampu ditundukkan oleh ambisi dan tendensi mereka.
Gus Dur berada di barisan garda depan untuk memperkuat pluralisme di republik ini. Istimewanya, pluralisme yang dikembangkan Gus Dur tidak hanya pada tataran pemikiran, melainkan menjadi sebuah tindakan sosial-politik. Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) yang didirikan Gus Dur secara eksplisit menjadikan kebangsaan sebagai pijakan utamanya. Padahal, partai tersebut didukung sepenuhnya oleh basis kalangan Muslim tradisional. Gus Dur telah mampu menggabungkan antara pemikiran dan tindakan pluralisme.
Gus Dur juga memperlakukan kelompok-kelompok minoritas, terutama mereka yang tertindas, sebagai warga negara yang mempunyai hak sama di depan hukum. Tatkala menjadi Presiden ke-4 RI, Gus Dur juga memulihkan hak politik etnis Tionghoa. Gus Dur selalu menegaskan bahwa kelompok minoritas mempunyai hak sipil-politik ataupun hak ekonomi, sosial, dan budaya yang sama dengan hak-hak kelompok ”pribumi”. Eksistensi mereka dilindungi oleh konstitusi. Dalam hal ini, pemikiran tentang pluralisme sejalan dengan spirit demokrasi, bahkan makin memperkukuh. Keduanya tidak bertentangan, bahkan saling menguatkan.
Tantangan
Meskipun demikian, harus diakui bahwa pluralisme masih menghadapi tantangan yang serius, terutama pasca-fatwa MUI tentang pengharaman pluralisme. Beberapa hari lalu, dalam sebuah khotbah Jumat di salah satu masjid di Ciputat, penulis masih mendengarkan seorang khatib yang mengutip fatwa MUI tentang pengharaman pluralisme.
Fatwa semacam ini merupakan tantangan serius dalam membangun harmoni dan kebersamaan. Karena seolah-olah ketika berhubungan dengan kelompok lain yang berbeda, maka dianggap akan menjadi bagian dari kelompok tersebut. Padahal, dialog dan perjumpaan justru dapat menjadi kekuatan dan potensi, terutama dalam konteks kebangsaan.
Pluralisme pertama-tama dimulai dari kesadaran tentang pentingnya perbedaan dan keragaman. Sebab perbedaan merupakan fitrah yang harus dirayakan dan dirangkai menjadi kekuatan untuk membangun harmoni. Adapun anggapan bahwa pluralisme akan menjadi sinkretisme merupakan pandangan yang cenderung mengada-ada. Faktanya, pluralisme dan sinkretisme sangat tidak identik.
Pluralisme makin mendapat tantangan karena tindakan intoleransi sepanjang tahun 2009 masih menjadi momok yang menakutkan. Setidaknya, menurut pemantauan Moderate Muslim Society, ada sekitar 59 tindakan intoleransi. Puncaknya adalah aksi terorisme yang membuktikan bahwa ekstremisme dengan mengatasnamakan paham keagamaan tertentu masih mengemuka. Pelaku dan jaringannya berhasil ditangkap, bahkan dibunuh, tetapi paham dan habitatnya masih terus berkembang.
Fatwa keagamaan berupa penyesatan dan pengharaman terhadap kelompok minoritas dalam intra-agama sepanjang tahun 2009 juga menjadi tantangan serius. Fatwa tersebut dapat digunakan untuk melakukan tindakan hukum yang dapat dianggap sebagai diskriminasi dan kriminalisasi terhadap kelompok minoritas. Fatwa tersebut kerap kali dijadikan sebagai landasan untuk melarang kegiatan dan memejahijaukan mereka dengan menggunakan Undang-Undang Nomor 1/PNPS/1965 dan KUHP Pasal 156a tentang penodaan agama. Di samping itu, kelompok minoritas harus mendapatkan perlakukan tidak manusiawi oleh sekelompok masyarakat yang tidak beridentitas, baik penyerangan maupun pengusiran.
Oleh sebab itu, Pew Forum on Religion and Public Life (2009) dalam rilisnya tentang indeks diskriminasi yang dilakukan pemerintah, Indonesia termasuk negara dalam kategori high dan very high karena masih ada undang-undang dan hukum yang dapat digunakan oleh pemerintah untuk melakukan tindakan intoleran, baik berupa restriksi, dehumanisasi, dan opresi. Bahkan, diskriminasi yang terjadi di republik ini menyerupai Pakistan dan Afganistan.
Dalam hal ini, menghidupkan dan mengembangkan kembali pemikiran Gus Dur menjadi sangat relevan. Di antaranya diperlukan pandangan keagamaan yang berorientasi kebangsaan, yang dapat melindungi seluruh warga negara, apa pun agama, keyakinan, kelompok, ras, dan sukunya. Dalam buku Islamku, Islam Anda dan Islam Kita, Gus Dur menegaskan bahwa umat Islam Indonesia harus mengembangkan pandangan keislaman yang berorientasi kebangsaan. Salah satu pesan yang kuat dalam Al Quran adalah bahwa Muhammad SAW diutus oleh Tuhan untuk membangun persaudaraan bagi seluruh umat (QS al-Anbiya [21]: 107).
Istilah tersebut menjadi salah satu prinsip yang menonjol di lingkungan Nahdlatul Ulama, yaitu Islam Rahmatan lil ’alamien. Islam menyebarkan ajaran tentang perdamaian dan toleransi, bukan ajaran yang menebarkan konflik, apalagi kekerasan. Gus Dur senantiasa menyatakan bahwa keberislaman yang berkembang di Tanah Air berbeda dengan keberislaman yang berkembang di Arab Saudi. Interaksi kebudayaan di antara berbagai kelompok di Tanah Air telah menjadikan Islam sebagai agama yang terbuka terhadap perbedaan dan keragaman, bahkan mendorong demokratisasi.
Oleh karena itulah, dalam rangka memberikan penghormatan terhadap Gus Dur sebagaimana dilakukan oleh Presiden Yudhoyono, akan sangat baik apabila MUI menarik kembali fatwa pengharaman terhadap pluralisme. Dan, hal tersebut sama sekali tidak mengurangi wibawa MUI. Tradisi penangguhan dan koreksi fatwa dilakukan oleh ulama terdahulu, sebagaimana dilakukan oleh Imam Syafi’i dengan diktum pendapat lama (qaul qadim) selama masih di Irak dan pendapat baru (qaul jadid) ketika menetap di Mesir.
Tentu, pada masa mendatang, kehidupan berbangsa dan bernegara yang relatif toleran dan harmonis ini harus didukung oleh kebijakan publik dan pandangan keagamaan yang secara sungguh-sungguh dapat memperkuat kebinekaan. Itulah sesungguhnya yang menjadikan Gus Dur sebagai pendekar pluralisme di republik ini. Zuhairi Misrawi, Intelektual Muda NU dan Ketua Moderate Muslim Society.
Sumber: Kompas, 4 Januari 2010
Gus Dur Telah Pergi
dion bata
Oleh Franz Magnis-Suseno
Meskipun tahu bahwa Gus Dur sakit-sakitan, saat kemarin Tuhan mengatakan, ”Gus, sudah cukup!”, mengagetkan juga. Banyak dari kita, khususnya tokoh dan umat berbagai agama di Indonesia, merasa kehilangan. Kita menyertai arwahnya dengan doa-doa kita agar ia dengan aman, gembira, dan pasti terheran-heran dapat sampai ke asal-usulnya.
Betapa luar biasa Abdurrahman Wahid, Gus Dur kita ini! Seorang nasionalis Indonesia seratus persen, dengan wawasan kemanusiaan universal. Seorang tokoh Muslim yang sekaligus pluralis dan melindungi umat- umat beragama lain. Enteng-enteng saja dalam segala situasi, tetapi selalu berbobot; acuh-tak acuh, tetapi tak habis peduli dengan nasib bangsanya. Orang pesantren yang suka mendengarkan simfoni-simfoni Beethoven.
Rahasia Gus Dur adalah bahwa ia sama sekali mantap dengan dirinya sendiri. Ia percaya diri. Ia total bebas dari segala perasaan minder. Karena ia tidak pernah takut mengalah kalau itu lebih tepat, ia tidak takut kehilangan muka (dan karena itu memang tak pernah kehilangan muka), dan ia juga tidak gampang tersinggung karena hal-hal sepele.
Gus Dur berhati terbuka bagi semua minoritas, para tertindas, para korban pelanggaran hak-hak asasi manusia. Umat-umat minoritas merasa aman padanya. Gus Dur membuat mereka merasa terhormat, ia mengakui martabat mereka para minoritas, para tertindas, para korban.
Tak perlu defensif
Ada yang tidak mengerti mengapa Gus Dur begitu ramah terhadap agama-agama minoritas, tetapi sering keras terhadap agamanya sendiri. Namun, Gus Dur demikian karena ia begitu mantap dalam agamanya. Karena itu, ia tidak perlu defensif dan tidak takut bahwa agamanya dirugikan kalau ia terbuka terhadap mereka yang berbeda.
Apakah Gus Dur seorang demokrat? Ia sendiri sebenarnya lebih menyerupai kombinasi antara kiai dan raja Jawa. Namun, ia seorang demokrat dalam arti yang lebih mendalam. Ia betul-betul meyakini dan menghayati hak-hak asasi manusia. Ia tidak tahan melihat seseorang terinjak martabatnya, ia menentang kekejaman atas nama apa pun.
Bagi saya, Gus Dur mewujudkan Islam yang percaya diri, positif, terbuka, ramah. Dengan demikian, ia memproyeksikan gambar yang positif tentang Islam. Dan, kalau pada kunjungan negara ia menyalami kepala negara lain dengan lelucon, mereka menyadari bahwa presiden Muslim ini seorang humanis dan warga dunia.
Bahwa karier politik aktif Gus Dur kontroversial berkaitan juga dengan kenyataan bahwa ia tidak dapat melihat. Keterbukaannya tidak pernah berubah.
Apa yang tinggal sesudah Gus Dur pergi? Sekurang-kurangnya dua. Pertama, hubungan begitu baik antara umat beragama yang dirintisnya akan berkembang terus.
Kedua, dengan generasi muda NU, Gus Dur meninggalkan kader intelektual bangsa yang terbuka, pluralis, dan cerdas; modal bagus bagi masa depan bangsa.
Yang dirintis Gus Dur akan berjalan terus. Nevertheless, Gus, we will miss you. Resquiescat in pace.
Franz Magnis-Suseno Rohaniwan dan Guru Besar di Sekolah Tinggi Filsafat Driyarkara.
Sumber: Kompas Senin, 4 Januari 2010
Gus Dur Tak Punya Kepentingan Lagi...
dion bata

Saya datang ke makam, karena saya tahu mereka yang mati itu sudah tidak punya kepentingan lagi (K.H.Abdurrahman Wahid)
INDONESIA berduka! Tokoh pemersatu bangsa, K.H Abdurrahman Wahid atau yang populer dengan sapaan Gus Dur meninggal dunia di RS Cipto Mangunkusumo Jakarta, Rabu 30 Desember 2009 pukul 18.40 WIB. Indonesia jelas kehilangan seorang tokoh humoris yang cinta perdamaian, pejuang hak asasi manusia (HAM) yang gigih serta pembela kaum minoritas itu.
Abdurrahman Wahid lahir di Jombang, 4 Agustus 1940. Ayahnya, K.H Wahid Hasyim adalah anak pendiri Nahdlatul Ulama (NU), Hasyim Asy'ari. Ibunya, Hj. Sholehah juga merupakan keturunan tokoh besar NU, K.H Bisri Sansuri. Ketika kecil, Gus Dur sempat bercita-cita menjadi anggota ABRI (kini TNI). Namun, keinginannya itu kandas di tengah jalan karena sejak berusia 14 tahun ia harus memakai kacamata minus.
Menyelesaikan SD di Jakarta, Gus Dur melanjutkan pendidikan ke Sekolah Menengah Ekonomi Pertama di Yogyakarta hingga lulus tahun 1957. Selepas itu, Gus Dur memasuki dunia pendidikan agama secara intensif. Mula-mula ia menimba ilmu agama selama sekitar dua tahun di Pesantren Tegalrejo (Magelang).
Selanjutnya di Pesantren Tambak Beras (Jombang), Gus Dur bekerja sambil meneruskan pendidikan di pesantren sebagai santri senior. Bagi Gus Dur, kehidupan pesantren bukan hal baru. Sewaktu kecil, ia sudah diajar mengaji dan membaca Alquran oleh kakeknya di Pesantren Tebuireng (Jombang).
Salah satu hobi Gus Dur adalah mendengar musik klasik terutama lagu-lagu karya Beethoven dan Mozart, lagu Umm Khulsum dari Mesir, Janis Joplin dan penyanyi balada terkemuka Indonesia, Ebiet G. Ade. Hobi lain adalah menonton sekaligus menganalisis pertandingan sepakbola.
Pada usia 22 tahun, Gus Dur menuju Mekah untuk menunaikan ibadah haji sekaligus melanjutkan studi di Universitas Al-Azhar Kairo. Saat di Mesir itulah Gus Dur melangsungkan 'pernikahan jarak jauh' dengan Siti Nuriyah. Pasangan ini dikaruniai empat orang putri. Setelah menyelesaikan pendidikan di Mesir, pada tahun 1966 Gus Dur pindah ke Baghdad, Irak. Dia kuliah di Universitas Baghdad mengambil spesialisasi ilmu sastra dan humaniora. Dari Baghdad, Gus Dur meneruskan pengembaraan akademisnya ke sejumlah negara Eropa. Dia sempat tinggal di Belanda sekitar enam bulan, belajar di Universitas Leiden.
Kembali ke Tanah Air tahun 1971, Gus Dur bergabung dengan Fakultas Ushuluddin Universitas Hasyim Asy'ari. Dia mengajar teologi dan beberapa ilmu agama. Selanjutnya sejak tahun 1974 ia dipercaya sebagai sekretaris pesantren Tebuireng. Bersamaan dengan itu nama Gus Dur mulai dikenal orang melalui tulisannya di berbagai surat kabar, majalah dan jurnal.
Kiprahnya di dunia politik dimulai sekitar awal 1980-an, ketika ia mulai banyak bersinggungan dan secara terbuka menawarkan ide-ide tentang pluralisme, demokrasi, HAM, dan lain-lain. Tindakan politiknya semakin kentara sejak ia terpilih menjadi Ketua Umum PBNU pada Muktamar 1984 di Situbondo -- justru ketika NU kembali kepada khittah 1926, yang berarti NU menarik diri dari dunia politik praktis. Hal ini bisa terjadi karena dengan khittah itulah hubungan NU dengan pemerintah Orde Baru yang semula tegang menjadi cair.
Melalui peran Gus Dur pula NU menjadi ormas Islam pertama yang menerima pemberlakuan Pancasila sebagai satu-satunya asas dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Meskipun kemudian hubungan Gus Dur dengan pemerintah kembali merenggang karena sikap kritisnya terhadap pemerintahan Soeharto, posisinya sebagai Ketua Umum PBNU dapat dipertahankannya selama dua kali muktamar berturut-turut, yaitu tahun 1989 dan 1994.
Bagi sebagian orang, gagasan-gagasan dan tindakan Gus Dur kerap dipandang kontroversial dan mengejutkan. Tak jarang dia suka melawan arus. Gus Dur, misalnya, pernah menghebohkan Indonesia melalui kunjungannya ke Israel tahun 1994, justru ketika masyarakat banyak menyoroti kelicikan negeri itu terhadap nasib rakyat Palestina. Bahkan, sepulangnya dari sana Gus Dur menyarankan agar pemerintah RI membuka hubungan diplomatik dengan Israel.
Gus Dur seolah memantapkan gelarnya sebagai tokoh kontroversial ketika ia justru beberapa kali mengunjungi Soeharto setelah penguasa Orde Baru itu lengser tahun 1998. Kontroversi lainnya, pada pemilu 1999 ia dicalonkan sebagai presiden bukan oleh PKB yang dideklarasikannya, tapi oleh beberapa partai "Poros Tengah".
Saat menjabat Presiden RI (1999-2001), Gus Dur "mengolok" anggota DPR seperti murid Taman Kanak-Kanak. Pernyataan yang membuat sebagian anggota DPR/MPR kala itu gerah. Belakangan para politisi Senayan yang tidak puas dengan kiprah Gus Dur, membangun kekuatan untuk melengserkannya di tengah jalan. Posisi presiden pun pindah ke tangan Megawati Soekarnoputri yang berawal dari skandal Buloggate dan Bruneigate.
Gus Dur tak pernah gentar mengungkapkan sesuatu yang diyakininya benar, meski banyak orang sulit memahami, bahkan menentangnya. Pesan Gus Dur lazimnya baru dipahami di kemudian hari. Putra sulung dari enam bersaudara itu sering berbicara keras menentang politik keagamaan sektarian. Sikapnya sering menempatkannya pada posisi sulit, melawan pemimpin Islam lainnya di Indonesia.
Seperti saat Ikatan Cendekiawan Muslim Indonesia (ICMI) berdiri tahun 1991 yang diketuai BJ Habibie, Gus Dur secara terbuka menentang. Gus Dur menyebut ICMI akan menimbulkan masalah bangsa di kemudian hari. Dia pun mendirikan Forum Demokrasi sebagai penyeimbang ICMI.
Semasa pemerintahannya, Gus Dur membubarkan Departemen Penerangan dan Departemen Sosial serta menjadi pemimpin pertama yang memberikan Aceh referendum untuk menentukan otonomi dan bukan kemerdekaan seperti di Timor Timur. Pada 30 Desember 1999, Gus Dur mengunjungi Jayapura dan berhasil meyakinkan pemimpin Papua bahwa ia mendorong penggunaan nama Papua.
Pada Maret 2000, pemerintahan Gus Dur mulai bernegosiasi dengan Gerakan Aceh Merdeka (GAM). Dua bulan kemudian, pemerintah menandatangani nota kesepahaman dengan GAM. Gus Dur juga mengusulkan agar TAP MPRS No. XXIX/MPR/1966 yang melarang Marxisme-Leninisme dicabut. Pada Januari 2001, Gus Dur mengumumkan Tahun Baru Cina (Imlek) menjadi hari libur nasional diikuti dengan pencabutan larangan penggunaan huruf Tionghoa.
"Almarhum Gus Dur adalah sosok Muslim dengan Nadhlatul Ulama-nya yang humanis merangkul semua kelompok masyarakat, termasuk kelompok minoritas sebagai bagian dari Negara Kesatuan Republik Indonesia yang plural." Demikian kesaksian salah seorang rekan Gus Dur, Romo Mudji Sutrisno.
"Sosok Gus Dur sudah diakui dunia internasional sebagai perekat persaudaraan antar umat beragama," kata Ketua Mahkamah Konsitusi, Mahfud MD. "Kita benar-benar kehilangan seorang tokoh besar, tokoh pemersatu bangsa dalam sejarah modern Indonesia," kata Wapres, Boediono seperti dikutip Antara semalam.
Suatu ketika wartawan pernah bertanya tentang kebiasaan Gus Dur berguyon dalam situasi genting sekalipun ."Di pesantren, humor itu menjadi kegiatan kami sehari-hari. Dengan lelucon, kita bisa sejenak melupakan kesulitan hidup. Dengan humor, pikiran kita jadi sehat," kata Gus Dur.
Kebiasaan lain Abdurrahman Wahid adalah sangat percaya pada isyarat dari makam para leluhur. Karena itu Gus Dur sangat rajin berziarah ke makam meskipun hal itu sering merepotkan koleganya. Tentang kebiasaannya itu, Gus Dur enteng berkata, "Saya datang ke makam, karena saya tahu mereka yang mati itu sudah tidak punya kepentingan lagi." Kini Gus Dur sudah tidak punya kepentingan lagi. Tugas kita untuk melanjutkan keutamaan beliau.Meneruskan perjuangan almarhum yang belum selesai. Selamat Jalan Gus Dur. Beristirahatlah dalam Damai. (dion db putra/dari berbagai sumber)
Pos Kupang edisi Kamis, 31 Desember 2009
Data Diri
Tempat, Tanggal Lahir : Jombang Jawa Timur, 4 Agustus 1940
Istri : Sinta Nuriyah
Anak :
1. Alissa Qotrunnada Munawaroh (P)
2. Zannuba Arifah Chafsoh (P)
3. Annita Hayatunnufus (P)
4. Inayah Wulandari (P)
ALAMAT
Rumah :
Jl. Warung Silah No. 10, Ciganjur
Jakarta Selatan 12630 - Indonesia
Kantor :
Jl. Duren Tiga Raya No. 4
Jakarta 12760 - Indonesia
PENDIDIKAN
1966-1970: Universitas Baghdad, Irak, Fakultas Adab Jurusan Sastra Arab
1964-1966 : Al Azhar University, Cairo, Mesir, Fakultas Syariâ?Tah (Kulliyah al-Syariâ?Tah)
1959-1963 : Pesantren Tambak Beras, Jombang, Jawa Timur, Indonesia
1957-1959 : Pesantren Tegalrejo, Magelang, Jawa Tengah, Indonesia
JABATAN
1998-Sekarang: Partai Kebangkitan Bangsa, Indonesia, Ketua Dewan Syuro DPP PKB
2004-Sekarang : The WAHID Institute, Indonesia, Pendiri
2000-Sekarang : Pengurus Besar Nahdlatul Ulama, Indonesia, Mustasyar
2002-Sekarang : Universitas Darul Ulum, Jombang, Jawa Timur, Indonesia (Rektor)
PENGALAMAN JABATAN
1999-2001: Presiden Republik Indonesia
1989-1993 : Anggota Majelis Permusyawaratan Rakyat RI
1987-1992 : Ketua Majelis Ulama Indonesia
1984-2000 : Ketua Dewan Tanfidz PBNU
1980-1984 : Katib Awwal PBNU
1974-1980 : Sekretaris Umum Pesantren Tebu Ireng
1972-1974 : Fakultas Ushuludin Universitas Hasyim Ashari, Jombang (Dekan dan Dosen )
PENGALAMAN ORGANISASI
2003: Gerakan Moral Rekonsiliasi Nasional, Penasihat
2002 : Solidaritas Korban Pelanggaran HAM, Penasihat
1990 : Forum Demokrasi, Pendiri dan Anggota
1986-1987 : Festifal Film Indonesia, Juri
1982-1985 : Dewan Kesenian Jakarta, Ketua Umum
1965 : Himpunan Pemuda Peladjar Indonesia di Cairo â?" United Arab Republic (Mesir), Wakil Ketua
AKTIVITAS INTERNASIONAL
2003-Sekarang : Non Violence Peace Movement, Seoul, Korea Selatan, Presiden
2003-Sekarang : International Strategic Dialogue Center, Universitas Netanya, Israel,
Anggota Dewan Internasional bersama Mikhail Gorbachev, Ehud Barak and Carl Bild
2003-Sekarang : International Islamic Christian Organization for Reconciliation and Reconstruction (IICORR), London, Inggris, Presiden Kehormatan
2002-Sekarang : Interreligious Federation for World Peace (IIFWP), New York, Amerika Serikat, Anggota Dewan Penasehat Internasional
2002 : Association of Muslim Community Leaders (AMCL), New York, Amerika Serikat,
Presiden
1994-Sekarang : Shimon Perez Center for Peace, Tel Aviv, Israel, Pendiri dan Anggota
1994-1998: World Conference on Religion and Peace (WCRP), New York, Amerika Serikat, Presiden
1994 : International Dialogue Project for Area Study and Law, Den Haag, Belanda, Penasihat
1980-1983: The Aga Khan Award for Islamic Architecture, Anggota Dewan Juri
PENGHARGAAN
2004: Anugrah Mpu Peradah, DPP Perhimpunan Pemuda Hindu Indonesia, Jakarta, Indonesia
2004: The Culture of Peace Distinguished Award 2003, International Culture of Peace Project Religions for Peace, Trento, Italia
2003: Global Tolerance Award, Friends of the United Nations, New York, Amerika Serikat
2003: World Peace Prize Award, World Peace Prize Awarding Council (WPPAC), Seoul, Korea Selatan
2003: Dare to Fail Award , Billi PS Lim, penulis buku paling laris â?oDare to Failâ??, Kuala Lumpur, Malaysia
2002: Pin Emas NU, Pengurus Besar Nahdlatul Ulama, Jakarta, Indonesia.
2002: Gelar Kanjeng Pangeran Aryo (KPA), Sampeyan dalem Ingkang Sinuhun Kanjeng Susuhunan Pakubuwono XII, Surakarta, Jawa Tengah, Indonesia
2001: Public Service Award, Universitas Columbia , New York , Amerika Serikat
2000: Ambassador of Peace, International and Interreligious Federation for World peace (IIFWP), New York, Amerika Serikat
2000: Paul Harris Fellow, The Rotary Foundation of Rotary International
1998 :Man of The Year, Majalah REM, Indonesia
1993: Magsaysay Award, Manila , Filipina
1991: Islamic Missionary Award , Pemerintah Mesir
1990: Tokoh 1990, Majalah Editor, Indonesia
DOKTOR KEHORMATAN
2003: Netanya University , Israel
2003: Konkuk University, Seoul, South Korea
2003: Sun Moon University, Seoul, South Korea
2002: Soka Gakkai University, Tokyo, Japan
2000: Thammasat University, Bangkok, Thailand
2001: Asian Institute of Technology, Bangkok, Thailand
2000: Pantheon Sorborne University, Paris, France
1999: Chulalongkorn University, Bangkok, Thailand

