Pertanian Sulut Terabaikan

Kelapa andalan petani Sulawesi Utara
BANYAK sektor ekonomi potensial di Sulawesi Utara yang belum dikembangkan dengan baik. Misalnya sektor pertanian yang banyak memberikan andil dalam pertumbuhan ekonomi Sulut, masih terabaikan.

Demikian salah satu kesimpulan yang terangkum dalam focus group discussion bertajuk Tren dan Peluang Bisnis bagi Wirausaha Muda Sulut, kerja sama Tribun Manado-Ilmu Sulut, disponsori Bank BNI dan didukung penuh Bank Indonesia Sulut, Rabu (8/8/2012), di Convention Center Hotel Novotel Manado.

Kepala Kantor Perwakilan Bank Indonesia (BI) Sulut, Suhaedi mengatakan, selama ini sektor yang dominan adalah perdagangan, perhotelan dan restoran.

"Padahal pertanian cukup baik, namun perannya perlahan berkurang karena sudah mulai tergantikan oleh manufacturing dan jasa. Sekarang bagaimana kita mengaitkan sektor-sektor jangka panjang dengan membayar sektor linkage pada pertanian," kata Suhaedi.

Menurutnya, jangan sampai manufacture menjadi subtitusi pertanian. Seharusnya bagaimana menjadikan manufacture yang berbasis pertanian.

Suhaedi menambahkan, untuk mengembangkan dan menghidupkan sektor pertanian diperlukan untuk menciptakan dan mengembangkan sektor yang memiliki linkage dengan pertanian.

"Sangat penting untuk menekankan pada manufacturing daripada jasa. Perbankan mencari debitur yang prospektif dan bisa dipercaya, yang tentu saja sangat mendukung bisnis yang baik asalkan tidak sampai nantinya menyebabkan kredit macet," ujarnya.

Andrei Angouw, anggota DPRD Sulawesi Utara yang juga pengusaha di Manado mengatakan, saat ini merupakan masa pemulihan kepercayaan bank terhadap masyarakat Sulut. Menurutnya, hilangnya suatu kepercayaan dari bank pada satu usaha sangat memperngaruhi semua usaha lainnya.

"Ini perlu perhatian, pengawasan dan edukasi agar kepercayaan dari bank bisa didapatkan lagi. Bagaimana kelapa bisa bersaing kalau infrastruktur tidak mendukung? Sabut kelapa tidak bisa menjadi uang begitu saja kecuali harus dikirim ke Jakarta dan Surabaya baru bisa diekspor," tutur Andrei.

Menurutnya, manufacture sulit berkembang karena infrastruktur tidak ada makan hanya akan terdapat bahan mentah. Andrei menambahkan persaingan dalam bisnis merupakan hal yang alami namun yang penting adalah bekerja keras.

"Kita mesti belajar dari Amerika Serikat. Jumlah pelaku sektor pertanian berkurang, namun kontribusi pertanian tetap tinggi karena adanya teknologi," katanya.

Sementara itu, perwakilan Bank Sulut, mengatakan, kebanyakan petani tidak diberdayakan. Ia mengatakan, Bank Sulut menawarkan kredit kepada petani cengkih dan petani jagung namun kredit petani tersebut mempunyai kredit bermasalah.

Menurutnya, semua program pemerintah ingin memberdayakan petani namun masalah kredit usaha tani yang terjadi di tahun 1998/1999 masih terbawa-bawa yang disebabkan karena petani tidak membayar. "Kredit pertanian dianggap sebagai bantuan dan bukannya pinjaman, hal ini menjadikan kredit macet," ucapnya.

Namun menurut penuturan Gede, dari Bank BRI, walaupun petani terlilit kredit bermasalah, BRI tetap memberikan pinjaman. "Semuanya tergantung treatmentnya. Pilihannya tergantung pada kita change the culture atau adapt with the culture," ujar Gede.

Menurut Dr Peggy Mekel, pemandu acara, pelaku ekonomi di Sulut perlu menangkap peluang-peluang di bidang jasa yang memfokuskan pada teknologi dan life style.

Namun pengembangan pada sektor pertanian lewat teknologi pada dasarnya kembali memberdayakan dan perlu meningkatkan kemampuan masyarakat lokal.

Jadilah Pengusaha

Suasana focus group discussion bertajuk Tren dan Peluang Bisnis bagi Wirausaha Muda Sulut, Rabu (8/8/2012) benar-benar hidup. Para peserta diskusi yang digelar di Convention Center Hotel Novotel Manado oleh  Tribun Manado-Ilmu Sulut dan disponsori Bank BNI serta didukung penuh Bank Indonesia Sulut itu aktif memberikan pandangan dan pengalamannya.

Seperti akademisi Unsrat, Heard Runtuwene yang aktif di Dekopin Sulut, melihat Indonesia masih kekurangan wirausahawan.  Menurut Heard, idealnya jumlah wirausaha minimal 2 persen dari total jumlah penduduk demi bisa menggerakkan ekonomi suatu negara. "Tapi saya yakin ke depan jumlah wirausahawan di Indonesia akan makin bertambah seiring meningkatnya pemahaman tentang pentingnya kewirausahaan," jelas Heard.

Salah satu  sektor yang menurut Heard berpotensi menciptakan wirausaha sukses adalah koperasi. "Tidak bisa dipungkiri koperasi termasuk peluang usaha dengan hasil menjanjikan bagi wirausaha muda," tuturnya.

Kepala BI Sulut, Suhaedi menambahkan, khusus untuk Sulut saat ini tren pemilihan peluang usaha sudah perlahan mulai mengalami perubahan. "Sektor pertanian sudah mulai tergantikan perdagangan, hotel, restoran. Orang juga sudah mulai memilih sektor jasa dan properti sebagai peluang usaha ke depan," ujarnya.

Sektor angkutan juga dinilai Suhaedi cenderung melambat dan sektor telekomunikasi mulai meningkat.

Hanya, Suhaedi berharap jangan sampai sektor manufaktur terus meningkat drastis sedangkan sektor pertanian terus mengalami penurunan. "Harusnya keduanya berjalan bersama supaya kuat dan seiambang," jelasnya.

Dikatakannya, mencermati kondisi ini, untuk jangka panjang, wirausaha muda di Sulut harus mampu membangun link yang kuat antarsektor yang bebasis resources Sulut. "Kalau ini dilakukan pasti kita mampu menciptakan peluang usaha dari semua sektor yang menjadi kekayaan di Sulut," katanya.

Sementara itu, Dr Peggy Mekel yang menjadi pemandu diskusi dan sehari-hari sebagai Direktur International Bussines Administration Fakultas Ekonomi  Universitas Sam Ratulangi Manado mengatakan, selama ini, dalam upaya mengubah mindset seseorang dari seorang pencari kerja menjadi seorang pencipta peluang kerja, kampus mengambil peran sangat penting. Salah satunya dengan memasukan materi kuliah kewirausahaan atau enterpreneurship.

"Untuk mencapai impian menjadi seorang pengusaha sukses perlu ditanamkan dahulu apa yang disebut dengan start from small, atau bagaimana memulai semuanya dari hal-hal yang kecil, dan itulah yang kami tanamkan kepada mahasiswa kami," ungkap Peggy dalam wawancara khusus dengan Tribun Manado, Kamis (9/8/2012).

Menurut Peggy, sejak masih mahasiswa baru, anak didiknya sudah diberi motivasi, diajarkan cara berpikir kritis termasuk bagaimana membuat perencanaan bisnis. "Mereka belum dapat materi kuliah, karena masih mahasiswa baru, tetapi sudah diberi materi  motivasi, mindset, serta diajar untuk mulai berpikir kritis bagaimana membuat bisnis planing sendiri bersama kelompok masing-masing," jelasnya.

Selanjutnya, dalam proses perkuliahan, mahasiswa terus dibekali dengan berbagai materi kuliah yang berhubungan dengan pengetahuan yang diperlukan untuk menjadi seorang wirausaha. "Mereka mulai diajar untuk menyusun rancangan bisnis dengan modal kecil," ungkapnya.

Di semester empat, Peggy mengakui mahasiswa makin dikuatkan mindsetnya sebagai wirausaha dengan pemberian stimulus modal usaha sebesar Rp 8 juta  setiap kelompok untuk mulai menjalankan perencanaan bisnis masing-masing.

"Di semester empat mereka dibekali dengan materi entepreneurship I yang berisi materi membuat rancangan bisnis, rancangan marketing, dan mereka mulai mempraktikannya secara nyata dengan pemberian stimulus modal sebesar Rp 8 juta untuk tiap kelompok," tutur Peggy.

Dana ini menurut Peggy digelontorkan langsung Rektorat Unsrat khusus untuk memberi pengalaman praktis kepada mahasiswa IBA mengenai bagaimana memulai dan menjalankan usaha.  (def/ika)

Sumber: Tribun Manado edisi 9-10 Agustus 2012 hal 1
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Best WordPress Themes