Tampilkan postingan dengan label Koleksi sobat. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Koleksi sobat. Tampilkan semua postingan

Bahasa dan Buku

 


Stephie Kleden-Beetz

Oleh: Stephie Kleden-Beetz

 LAMBANG adalah sebuah bahasa, bahasa tertua manusia. Sampai sekarang di abad computer ini pun kita hidup dalam “lautan” lambang. Sebuah lukisan, entah itu bintang, garuda, beringin, perahu, atau apapun saja, baru menjadi lambang bila di dalamnya terkandung sesuatu yang lebih dari pada yang hanya terlihat oleh mata. C. G. Jung, psikiater (1875-1961) berkata: “Lambang memiliki aspek yang tak sadar yang mustahil dapat diterangkan atau diberi definisi setepatnya”. Pun : “Musik adalah juga Bahasa yang dipahami siapa saja”.

George Bernard Shaw, (1856-1950) dramawan Irlandia dan juga pemenang hadiah Nobel Kesusasteraan, tahun 1926, pernah berkunjung ke rumah seorang yang sangat kaya. Si tuan rumah bertanya, apa kesan tamunya tentang barang-barang antik yang mahal. Shaw menjawab: “Saya merasa seperti berada di museum, yang paling penting tidak terdapat di sini.” Orang kaya itu terkejut, lalu spontan bertanya: Apa? “Buku”, jawab Shaw.

Dulu di kota-kota besar Eropa ada gerobak penuh buku berkeliling dan orang boleh leluasa mencari. Seorang mahasiswi membeli buku karangan Beranger, : penyair Perancis, (1780-1852). 

Di rumah ia terkejut ketika menemukan setumpuk uang di balik sampul tebal buku itu dengan sebuah nota bertuliskan “Duit ini hadiah bagi pencinta buku”. Bahwa buku itu mencerdaskan manusia, semua kita tahu. “Katakan apa yang anda baca, dan akan kukatakan siapa anda”. Tentu ada pula buku yang tidak bermutu.


Kita tidak bisa berkomunikasi tanpa bahasa. Buah, pikiran yang lahir dalam kepala kita, hanya mendapat wujud dalam bahasa. Semakin tertata-rapi bahasa kita, semakin mudah kita membuat orang lain memahami maksud kita. Semakin “ngawur” dan panjang lebar dan tidak keruan bahasa kita, semakin bingung pihak yang mendengarnya. 

Kemarin seorang sahabatku berkeluh-kesah tentang aneka naskah yang masuk majalahnya, dan dia harus mengedit naskah-naskah tersebut. “Astaga, saya jadi “pusing, tujuh keliling” benar-benar minta ampun”.

Diterimanya kita dalam pergaulan dengan sesama amat tergantung bukan hanya pada peri laku kita melainkan terutama pada bagaimana kita bertutur-kata, ya berbahasa. Sepotong kalimat biasa bisa membuat hidup seseorang berubah, merasa berguna.

 Misalnya: “Jangan menyerah, coba sekali lagi pasti bisa!” Kalimat yang menguatkan dan memberi semangat ini dapat diucapkan oleh ayah-ibu kepada anak-anaknya, atau bapak dan ibu guru kepada murid-muridnya, atau atasan kepada bawahannya.

Kenapa tidak suka Matematika? Seorang mahasiswi ditanya. Karena guruku pernah menghardik dengan galak “Goblok amat sih!” jawab si cantik itu. Maka ia pun langsung patah-arang dengan mata pelajaran eksakta dan kini menekuni bidang bahasa. 

Bahasa kita mengenal ungkapan: “Kata-kata lebih tajam dari pedang”. Tetapi kata pun memiliki daya sihir yang menghanyutkan pendengar atau pembacanya. Coba dengar sanjungan berikut: Wow, rambutnya bagaikan mayang berurai, alis persis semut beriring, lengan mulus seperti gading yang tidak retak, lehernya jenjang mempesona dan masih banyak lagi.

Betapa senang saya menjelajahi ‘Ruang Siswa’ Warta Flobamora, membaca puisi dan cerita pendek dari para murid sekolah. “Rajin-rajinlah adik-adik. Sebab tak ada juara yang jatuh dari langit, semua harus dimulai langkah demi langkah,” Selamat berjuang untuk masa depan yang gemilang.

Ada ungkapan oleh Grace Hopper: “A ship in port is safe, but this is not what ships are built for” (Kapal di pelabuhan memang aman, tetapi bukan itu maksud kapal dibuat). Justru di lautan ya di samudra raya kapal baru berfungsi, ketika bertarung dengan ombak dan gelombang atau angin puting beliung.

Bersama Petronius, penyair Romawi kita pun berkata: “Perjuangan untuk mencapai sesuatu justru perlu, sebab apalah artinya kemenangan mudah yang terasa hambar dan tak memberi kepuasan di hati dan kebanggaan di jiwa”.

Sumber: berandanegeri.com

Profil Ignas Kleden, Sosiolog Kenamaan Kelahiran Flores Timur

Ignas Kleden
 Indonesia memiliki seorang intelektual terkenal kelahiran Flores Timur, Provinsi Nusa Tenggara Timur atau NTT.

Dia adalah Dr. Ignas Kleden, MA.  Mengutip wikipedia, Ignas Kleden lahir pada tanggal 19 Mei 1948 di Waibalun, Larantuka, Kabupaten Flores Timur.

Suami dari  Ninuk Probonegoro ini aktif sebagai sastrawan, sosiolog, cendekiawan, dan kritikus sastra sejak awal tahun 1970-an.

Setelah tamat pendidikan dasar dan menengah, ia menempuh pendidikan di Sekolah Tinggi Filsafat Teologi  Ledalero, Maumere, Flores  (1972).

Ignas  meraih gelar Master of Art bidang filsafat dari Hochschule fuer Philosophie, Muenchen, Jerman pada tahun 1982.

Pada tahun 1995, Ignas Kleden  meraih gelar Doktor bidang Sosiologi dari Universitas Bielefeld, Jerman.

Ignas juga pernah bekerja sebagai penerjemah buku-buku teologi di Penerbit Nusa Indah, Ende, Flores. 

Ia sempat pula bekerja sebagai editor pada yayasan Obor Jakarta (1976-1977), Yayasan Ilmu-Ilmu Sosial, Jakarta (1977-1978), dan Society For Political and Economic Studies, Jakarta.Tahun 2000 ia turut mendirikan Go East yang kini menjadi Pusat Pengkajian Indonesia Timur.

Saat masih di tinggal Flores, ia sudah mengenal majalah Basis Yogyakarta dan rutin mengirimkan tulisannya ke majalah itu. Dia juga menulis artikel di majalah Budaya Jaya Jakarta, dan menulis artikel semipolemik untuk majalah Tempo. 

Setelah hijrah ke Ibu Kota Jakarta tahun 1974, Ignas makin aktif menulis, baik di majalah maupun jurnal, dan menjadi kolumnis tetap majalah Tempo. 

Esainya mengenai sastra dimuat di majalah Basis, Horison, Budaya Jaya, Kalam, harian Kompas, dan lain-lain.

Buku Anjing-Anjing Menyerbu Kuburan (Cerpen Pilihan Kompas 1997) juga memuat esainya, "Simbolis Cerita Pendek". 

Kumpulan esai tentang perbukuan, Buku dalam Indonesia Baru (1999), memuat salah satu tulisannya, "Buku di Indonesia: Perspektif Ekonomi Politik tentang Kebudayaan".[2] Buku kumpulan esainya adalah Sikap Ilmiah dan Kritik Kebudayaan (1988) dan Sastra Indonesia dalam Enam Pertanyaan (2004).

Ia menulis kata pengantar untuk Mempertimbangkan Tradisi karya Rendra (1993), Catatan Pinggir 2 karya Goenawan Mohamad (1989), dan Yel karya Putu Wijaya (1995).

Tahun 2003, bersama sastrawan Sapardi Djoko Damono, menerima Penghargaan Achmad Bakrie. 

Ia dinilai telah mendorong dunia ilmu pengetahuan dan pemikiran sosial di Indonesia ke tingkat yang lebih tinggi dan lebih tajam lewat esai dan kritik kebudayaannya. (*)

Sumber: Pos Kupang

Mengenang Abang Kami, Dr. Ignas Kleden, M.A

Ignas Kleden

Oleh Tony Kleden

Saya menulis kisah kenangan ini dengan perasaan mengharubiru.  Perasaan itu muncul terutama karena sudah hampir tiga bulan saya lebih banyak berada di Waibalun, Flores Timur.

Bagi saya, dan hampir pasti bagi semua  orang dari desa mana pun,  desa/kelurahan  tempat lahir itu seperti punya ‘kekuatan  supranatural’  yang selalu  menyertai di setiap jejak langkah.

Kekuatan itulah yang memompa spirit, menghembuskan  ausdauer dan lalu membangkitkan  ‘ike kewaat’  (semacam ‘korsa’)  hingga  menjadi ‘atadiken’ (orang dengan kekuatan) di mana pun berada.

Meski dirundung duka dan diselimuti rasa kehilangan,   saya dengan bangga menulis kisah kenangan serba ringkas ini. Bangga sebagai orang (ata) Waibalun.  Kebanggaan itu terutama juga karena nama abangku, Dr. Ignas Kleden,  lahir, hidup dan berkarya menerabas batas Waibalun, menembus sekat  suku, melampaui ike kewaat ata Waibalun.

Maka tulisan ini  ini menjadi ungkapan kebanggaan, kekaguman dan  apresiasi terhadap Ignas, yang sudah menutup mata untuk selamanya, kembali ke Tuhannya yang tidak saja disembahnya, tetapi juga Tuhan yang diimani menurut akal sehatnya.

Terus terang, secara  personal saya tidak terlalu dekat dengan Ignas. Selain karena terpaut  usia yang jauh sekitar 19 tahun, juga karena kami sangat jarang bertemu.

Di rumah dan di kalangan keluarga dekat, Ignas dipanggil dengan nama Ite, sapaan halus dari  Piter. Nama baptisnya Ignatius Nasu Kleden. Nama Piter diambil dari nama kakeknya (dari garis keturunan mama), Petrus Gege Hadjon.

Seringat saya,  pertama kali menemukan nama Ignas saat saya masih anak ingusan di kampung. Masih duduk di bangku sekolah dasar. Nama  Ignas muncul sebagai penulis esai di Majalah Tempo. Saya tidak mengerti  mengapa majalah terbitan Jakarta itu bisa muncul di Waibalun pada masa sekitar  tahun  1976.

Sebagaimana biasa, foto penulis opini di Tempo selalu disertakan di halaman opini. Dan, foto Ignas yang kala itu belum berusia 30 tahun tampil dengan gaya pada zamannya.  Difoto dengan wajah menyamping,  rambut agak panjang terurai dengan rokok yang mengepul  dari  bibirnya. Matanya bulat terang agak melotot. Konon, itu mata orang-orang pintar.

Sungguh mati, saya  sangat penasaran mengapa Ignas bisa muncul dan menulis di majalah itu?

Belakangan, saat menempuh pendidikan di Seminari San Dominggo Hokeng (1983-1987), saya jadi tahu seperti  apa sosoknya, seberapa  hebatnya nama Ignas. Tulisannya sangat sering muncul di Harian  Kompas, majalah Tempo, juga di majalah  kebudayaan Basis.  Saya juga membaca dan mengikuti polemik kebudayaan yang menghiasi halaman harian Kompas  yang juga sering menampilkan tulisan Ignas.Tulisannya selalu jadi buruan utama.

Sebagai sastrawan, sosiolog, cendekiawan, dan kritikus sastra hebat, tulisan-tulisan Ignas menyebar di beragam media cetak. Beragam tulisannya itu, harus diakui, menjadikan Ignas salah satu sosiolog terkemuka Indonesia saat ini, kritikus sastra paling tajam dan telanjang membedah karya sastra berbagai penulis.

Dari beragam tulisannya itu kuat tertangkap kalau Ignas  menempatkan diri sebagai satu dari segelintir intelektual  Tanah Air yang total berbakti pada ilmu.   Totalitas baktinya pada ilmu itu bisa dilihat dari gaya dan pola hidupnya yang sederhana dan apa adanya.  Tidak punya rumah  mewah, tidak punya mobil mahal, tidak pernah menjadi konsultan  politik partai, tidak menerima  jabatan seperti dirjen, wakil menteri, komisaris perusahaan ini dan itu.

Konon saat Soeharto berkuasa, Ignas  beberapa kali mendapat undangan kehormatan untuk hadir pada upacara-upacara kenegaraan.   Undangan itu ditolaknya dengan halus. Dia ingin berdiri di sudut netral dan kemudian mengemukakan pikirannya.

Pikirannya yang jernih tertuang dalam teks-teks berupa esai, kolom, makalah dan juga buku-buku. Namanya jadi populer bukan  karena tampangnya   yang sering terlihat di berbagai acara talk show  di  televisi. Juga bukan karena sering muncul di media sosial karena komentar nyinyir tentang suatu  fenomena di republik ini.

Secara intelektual, Ignas memang cerdas.  Pria yang lahir 19 Mei 1948 ini bintang kelas sejak sekolah dasar.  Saat ayahnya,  Yohanes Djuan  Kleden, seorang guru sekolah rakyat (SR/SD) pindah tugas dari Pamakayo, Solor ke Lewotala  (di Kecamatan Lewolema  sekarang), Ignas loncat kelas.  Ketika keluarga guru ini pindah ke Hewa, Kecamatan Wulanggitang, Ignas masuk Seminari San Dominggo Hokeng.

Guru Djuan dan istri, Katharina Sabu Hadjon, dianugerahi sepuluh orang anak.  Enam laki-laki dan empat perempuan.  Ignas anak laki-laki besar.  Didikan dan tempaan guru Djuan dan Mama Katharina menjadikan sepuluh anaknya benar-benar jadi manusia, jadi atadiken.

Beberapa nama keluarga ini patut disebut. Suster Stephania Kleden CIJ (alm),  Pater Dr. Leo Kleden, SVD  (dosen IFTK Ledalero),  Stephie Kleden Beetz (alm, penulis, penerjemah),  Ansis Kleden (penulis, editor dan penerjemah di Jakarta),   Kons Kleden (alm, wartawan dan penulis), Drs. Marianus Kleden, M.Si (dosen Unwira Kupang), Hermien Y Kleden (mantan wartawan Tempo)  dan Emil Kleden (aktivis LSM di Jakarta).

Saya melihat didikan keras penuh disiplin sang ayah dan sentuhan lembut sang mama, menjadikan semua anggota keluarga ini bisa mengenyam pendidikan  tinggi.  Mereka bisa menikmati pendidikan tinggi juga karena kecemerlangan otak.  Semua mereka selalu jadi bintang di sekolah. Semua mereka sukses merenda hidup di berbagai medan bakti.

Saya ingat, ketika masih di bangku SD saya sering tidur malam  dengan si bungsu  Emil Kleden, ketika keluarga ini kembali ke Waibalun  saat sang ayah memasuki masa purnabakti.  Di rumah hanya tertinggal  Emil. Semua kakaknya menyebar di mana-mana, untuk sekolah dan juga untuk kerja.

Keteraturan  hidup keluarga sangat terasa di rumah. Makan mesti bareng di meja makan. Doa makan wajib hukumnya. Setelah makan Guru Djuan membagi kisah. Macam-macam kisah.  Dari tugas sebagai guru di begitu banyak tempat sampai  pengalaman-pengalaman unik dan heroik ketika  mengejar anak-anak kampung yang lari ke hutan dan dan kebun untuk dibawa ke sekolah.

Cerita paling seru dan paling suka saya dengar adalah kisah sekolah anak-anaknya.  Guru Djuan bangga mengisahkan prestasi  anak-anaknya  di sekolah.

Ignas, menurut Guru Djuan, memiliki kemampuan bahasa yang  baik sekali.  Tak heran, saat masih di bangku SMA Seminari San Dominggo Hokeng, Ignas sudah lancar berpidato dalam bahasa Jerman.  Bahasa Inggris, tentu saja,  juga dikuasainya sejak masa itu. Dari tulisan-tulisannya, buku-buku yang jadi referensinya kebanyakan dalam bahasa Inggris dan Jerman.

Ada cerita menarik. Usai berhenti dari Seminari Tinggi  St.  Paulus Ledalero,  tahun 1973, Ignas mengadu nasib di Jakarta.  Ketika meletus peristiwa Malari (Malapetaka Limabelas Januari) 1974, Ignas yang baru beberapa bulan di Jakarta  tampil  dan menyita perhatian luas.  Sejumlah wartawan luar negeri ingin mewawancarai para mahasiswa yang tumpah berdemo di jalan.

Tidak banyak  mahasiswa  yang  bisa berbahasa Inggris, apalagi Jerman.   Maka Ignas yang diwawancarai. Dia bicara bahasa Inggris dan Jerman meladeni para wartawan luar negeri.

Konon, sejak itulah  nama Ignas jadi sangat terkenal di kalangan para aktivis mahasiswa Indonesia. Apalagi sejak itu Ignas mulai  menulis di majalah dan koran-koran Jakarta. Namanya  kian kesohor.

Ada cerita lain lagi. Ketika hendak melanjutkan pendidikan S2 di Jerman, Ignas tidak punya ijazah S1. Universitas Munchen Jerman,  tempatnya melamar,  bingung.  Pengelola universitas mencari tahu sosok yang melamar S2 tanpa  ijazah S1 ini.  Mereka bingung karena Ignas  menulis lamaran S2 dalam bahasa Jerman yang sempurna.

Seorang pastor SVD dari Polandia dikontak Kedubes Jerman di Jakarta. Pastor yang profesor  itu meyakini mahasiswa itu tak lain Ignas. “Terima saja orang itu. Dia cerdas dan tidak perlu diragukan,” kata Pastor itu meyakini.  Dan terjadilah, Ignas melanjutkan  pendidikan S2 tanpa  ijazah S1.

Dia meraih gelar M.A dengan predikat summa cum laude (dengan pujian setinggi-tingginya).  Tesis S2 tentang filsuf  ilmu pengetahuan Karl R Popper ditulisnya  dalam bahasa Jerman.

Sedangkan untuk disertasi  S3  di Univesitas  Bielefeld, Jerman, Ignas menggugat studi Clifford Geertz   tentang Indonesia secara keseluruhan. Disertasi ini ditulisnya dalam bahasa Inggris.

Cendekiwan Indonesia itu sudah kembali ke Sang Pengasal, Senin (22/1/2024) pagi.  Orang, atadiken  Lamaholot  itu sudah tutup mata. Tetapi Ignas pergi meninggalkan  nama besarnya.  Ignas mewarisi pikiran-pikiran bernasnya untuk bangsa ini.  Ignas sudah mengharumkan nama suku, nama Waibalun, nama   Flores Timur, NTT dan bahkan Indonesia.

Kepergiannya tentu saja meninggalkan duka lara bagi keluarga. Tetapi keharuman nama dan buah pikirannya yang bernas dan berguna  bagi banyak orang menjadi alasan bagi keluarga untuk menyatakan terima kasih kepada Dia yang  memberi hidup. Memberi seorang anak suku bernama Ignatius Nasu Kleden.

Untuk menghormatinya sebagai seorang kritikus sastra, saya mengutip sajak karya Sapardi Djoko Damono berjudul ‘Pada Suatu Hari Nanti’ berikut ini:

Pada suatu hari nanti

Jasadku tak akan ada lagi

Tapi dalam bait-bait sajak ini

Kau takkan kurelakan sendiri


Pada suatu hari nanti

Suaraku tak terdengar lagi

Tapi di antara larik-larik sajak ini

Kau akan tetap kusiasati

Pada suatu hari nanti

Impianku pun tak dikenal lagi

Namun di sela-sela huruf sajak ini

Kau takkan letih-letihnya kucari

Selamat jalan  kakak, saudara kami Ignatius Nasu Kleden. Requiem aeternam, dona ei, Domine!*

Sumber: Kabar NTT

Viral, Hoax dan Bijak Bermedsos

ilustrasi
Oleh: Tony Kleden
Wartawan, tinggal di Kupang

Medio pekan lalu, tepatnya hari Kamis, 2 November 2017, Kota Kupang geger. Sekelompok orang, beberapa di antaranya aparatur sipil negara (ASN), `menyerbu' Wakil Walikota Kupang, dr. Herman Man, di ruang kerjanya. Mereka bertindak kasar terhadap wakil kepala daerah yang dipilih secara langsung oleh rakyat itu.

Kejadian ini kita nilai geger. Geger  karena sangat jarang terjadi di Tanah Air seorang kepala daerah dimarahi ASN yang pangkat, jabatan dan golongannya masih kecil. Kalau  insiden ini terjadi di rumah pribadi seorang warga bernama dr. Herman Man dan di luar jam dinas, maka soal dan urusannya bersifat privat dan bisa diselesaikan di rumah dengan hukum adat.

Tetapi karena terjadi di ruang kerjanya di Kantor Walikota Kupang terhadap Wakil Walikota Kupang pada  jam dinas, maka soalnya sudah berat dan terbuka ruang sangat besar untuk diselesaikan di sidang pengadilan melalui hukum positif. Ada seperangkat aturan hukum yang bisa digunakan dalam memroses kasus ini.

Tulisan ini tidak melihat insiden itu dari sudut pandang dugaan pelanggaran peraturan yang dilakukan ASN terhadap seorang wakil kepala daerah. Sebaliknya tulisan  hanya fokus menyoroti kekuatan pengaruh media sosial (medsos) di ruang publik saat ini dengan membawa efek yang juga luar biasa dan di luar dugaan.

Efek Medsos

Yang mengejutkan adalah kejadian itu direkam menjadi video dan kemudian ditayangkan di medsos. Tak pelak, dalam hitungan jam saja, kejadian itu berulang-ulang ditayang. Sampai dengan hari Minggu (5/11/2017), atau tiga hari setelah kejadian, video itu sudah 14 ribu lebih kali ditayangkan. Ketika tulisan ini Anda baca, boleh jadi insiden itu telah ditayangkan puluhan ribu kali.

Karena ditayang ulang berkali-kali, kejadian itu kemudian menjadi viral. Dalam dunia maya, viral itu artinya suatu kejadian yang lagi ngetren, terkenal dan menyebar luas secara cepat karena banyaknya orang yang membaca, menonton dan kemudian mengunggahnya kembali. 

Kata "viral" digunakan untuk menyebut sesuatu yang menyebar dengan cepat di internet. Sebuah gambar, tulisan/artikel, atau blog yang dibagikan secara massif oleh orang banyak disebut viral.


Dalam catatan Etymologi Online Dictionary, kata ini sudah muncul sejak tahun 1944. Kata ini diartikan sebagai "segala sesuatu yang berkaitan dengan virus". Virus sendiri adalah istilah dari ilmu kedokteran untuk menyebut mikroorganisme yang tidak dapat dilihat dengan mata telanjang, penyebar penyakit tertentu.

Kata virus belakangan juga digunakan untuk menyebut software jahat (ilegal) yang dimasukkan ke dalam sistem komputer melalui jaringan atau  flash disk sehingga menyebar dan dapat merusak program yang ada.

Ada kesamaan esensial dari kata "virus" yang dipakai dalam bidang kedokteran dengan kata yang sama dalam bidang komputer. Kedua-duanya digunakan untuk menyebut sesuatu yang cepat menyebar. Kesamaan itulah yang digunakan sebagai arti kata "viral. Di Kamus Besar Bahasa Indonesia, `viral' diartikan sebagai "bersifat menyebar luas dan cepat seperti virus."

Apakah kejadian yang sudah viral di Kantor Walikota Kupang itu hoax? Kata  hoax berarti memperdayai atau mengelabui. Pada dasarnya hoax itu berbeda dengan fake news (berita bohong, berita palsu). Pada hoax masih terdapat fakta, tetapi fakta itu sangat dilebih-lebihkan atau didistorsi, dipelintir untuk mendukung isu yang sedang aktual diperbincangkan.  Sebaliknya fake news tidak merujuk fakta apa pun. Singkat kata pada fake news itu memang tidak ada fakta.

Meski berbeda secara mendasar, hoax dan fake news punya tujuan sama, yakni membohongi orang lain dengan merekayasa fakta yang ada menjadi sangat provokatif atau menampilkan `fakta' dari praktik-praktik ilusif. Contoh hoax yang paling fenomenal di Tanah Air adalah serbuan tenaga kerja dari China  beberapa tahun lalu.

Faktanya  benar bahwa ada serbuan tenaga kerja dari China. Jumlahnya puluhan ribu. Tetapi oleh pembuat hoax, jumlah tenaga kerja dari  China itu digelembungkan hingga menjadi dua puluhan juta. Tujuannya menciptakan kekacauan atau kekisruhan untuk memompa semangat anti China.

Di dunia jurnalisme ada juga media yang suka membuat kehebohan dengan menampilkan hoax. Media-media seperti ini berpegang teguh pada adagium ini: if it bleeds, it leads. Jika informasi yang dipelintir itu mampu menciptakan pertikaian yang sungguh brutal, maka semakin layak dirayakan penuh kehebohan.

Dengan penjelasan serba singkat ini jelaslah bahwa insiden di Kantor Walikota Kupang yang  jadi viral itu bukan hoax. Kejadian itu ditampilkan apa adanya sesuai fakta yang terjadi. Walikota Kupang, menurut koran harian yang beredar di Kupang, sangat menyesalkan kejadian itu. Para pihak yang diduga terlibat dalam insiden itu, sebagaimana ditampilkan dalam video yang menyebar, juga sudah memberi penjelasan yang kemudian dikutip media mainstream (koran).

Penyesalan Walikota Kupang  dan penjelasan mereka yang terlibat adalah bukti sah bahwa insiden Kamis pagi itu bukan hoax. Insiden itu benar terjadi dan diviralkan tanpa dilebih-lebihkan. Dia tampil utuh dengan durasi sekitar 6 menit.

Untuk konteks kita di NTT, agaknya inilah `informasi' yang paling banyak menyita perhatian publik. Dia (kejadian itu) ditayangkan ulang sebanyak belasan ribu kali, dibagikan dan disebar ribuan kali, serta ditonton puluhan ribu warganet di NTT dan luar NTT.

Fakta ini sekaligus menunjukkan betapa kuatnya efek media sosial.  Inilah bukti betapa kekuatan medsos begitu dahsyat melebihi media mainstream (koran, majalah, televisi, radio, online/daring).

Perlu Bijak

Tetapi fakta ini sekaligus memperlihatkan sisi lain dari medsos. Yakni bahwa para penggunanya sangat sering lupa bahwa medsos itu tak ubahnya ruang publik yang membutuhkan etika dalam setiap interaksi di dalamnya. Banyak kita sering lupa ketika memegang smartphone kita tidak lagi sendirian. Satu kali pencet tanpa sadar membawa akibat yang sangat jauh dan tidak terbayang sebelumnya.

Maka, yang dibutuhkan adalah bijak melihat status atau postingan yang kita buat
sendiri. Sebisa mungkin menghindari postingan yang memicu pergolakan dalam norma yang berlaku di tengah masyarakat. Medsos memang dunia paling bebas menyampaikan pendapat. Akan tetapi sebisa mungkin menggunakan bahasa yang santun dan tdak menyakiti perasan orang lain ketika menyampaikan pendapat itu.

Kasus Wakil Walikota Kupang adalah contoh kasus yang tepat. Andaikata insiden itu tidak diposting ke media sosial, ceritanya tidak seheboh yang terjadi sekarang. Sangat boleh jadi orang pertama yang memosting insiden tersebut di medsos sama sekali tidak bermaksud jelek. Dia juga barangkali tidak membayangkan pencetan  jarinya membawa dampak yang sangat luas.

Kita jadi ingat kasus yang pernah heboh di Tanah Air beberapa bulan lalu ketika seorang ibu rumah tangga bernama Sri Rahayu ditangkap Penyidik Direktorat Tindak Pidana Siber Bareskrim Polri. Ibu rumah tangga berusia 32 tahun ini ditangkap karena menyebarkan ujaran kebencian di media sosial melalui akun facebooknya.

Medsos memang sudah menjadi `mainan' atau `hiburan' baru yang begitu digandrungi semua kalangan. Tetapi mainan baru ini ibarat pisau: berguna tetapi juga bisa membunuh. Maka perlu bijak dan butuh kesadaran penuh ketika memegang handphone. *


Sumber: Pos Kupang 9 November 2017 halaman 4

Efek Tuan Rumah HPN bagi Nusa Tenggara Timur

Oleh Tony Kleden
Wakil Ketua Bidang Pendidikan PWI Provinsi NTT, Pemimpin Umum/Pemimpin Redaksi Majalah Kabar NTT

UNTUK apa  menjadi tuan rumah suatu even? Atau apa untungnya menjadi tuan rumah suatu hajatan, apalagi hajatan skala besar?

Data-data memperlihatkan begitu banyak untung yang bisa diraih  suatu daerah atau negara ketika menjadi tuan rumah sebuah even. Pada Piala Dunia Sepakbola, misalnya,  banyak negara berlomba-lomba menjadi tuan rumah, meski disadari begitu banyak uang yang harus digelontorkan menyiapkan banyak fasilitas untuk menjadi tuan rumah.

Brasil mengeluarkan dana sekitar 200 triliun rupiah memperbaiki dan membangun fasilitas penunjang ketika menjadi tuan rumah Piala Dunia Sepakbola 2014. Afrika Selatan harus menghabiskan 28 miliar rand  (1 rand = 1.100 rupiah) ketika tampil sebagai tuan rumah Piala Dunia 2010. Dana sangat banyak dibutuhkan untuk menyiapkan berbagai fasilitas  yang perlu untuk mendukung sebagai tuan rumah.


Ketika Kupang menjadi tuan rumah  peringatan Hari Pers Nasional (HPN) 2011, banyak sekali orang yang ragu dan cemas. Entahkah Kupang  siap menjadi tuan rumah untuk even sebesar HPN? Apakah sarana dan fasilitasnya menunjang? Hotel-hotelnya cukup untuk menampung ribuan tamu dari seluruh Indonesia?

Sampai dengan tahun 2011, saat penyelenggaraan HPN Kupang, sarana penunjang seperti hotel, hall atau ruang pertemuan skala besar di Kupang masih bisa dihitung dengan jari. Hotel berbintang cuma dua, selebihnya hotel melati.  Hall atau aula untuk pertemuan skala besar masih sulit. Singkatnya, dilihat dari fasilitas penunjang Kupang sepertinya jauh dari harapan.

Itu sebabnya, pada rapat-rapat awal membahas persiapan menjadi tuan rumah, ada suara yang menolak Kupang menjadi tuan rumah HPN. Malu-malu saja, begitu pendapat segelintir orang.
Tetapi Pemda NTT sudah bertekad bulat. Kupang  harus jadi tuan rumah, apa pun yang terjadi dan seperti apa pun juga kondisinya. Panitia pelaksana dibentuk dan mulai bekerja. Fasilitas yang belum ada diadakan, yang kurang dan rusak diperbaiki. Maka banyak dana dialokasikan Pemda NTT untuk menyukseskan HPN Kupang. Masyarakat dari berbagai elemen dilibatkan.

Pengusaha hotel, pemilik restoran, gerai kerajinan dilibatkan untuk menyukseskan HPN Kupang.
Sejujurnya harus diakui bahwa sebelum diselenggarakan HPN Kupang, image tentang Nusa Tenggara Timur (NTT), khususnya tentang Kupang, masih minor. NTT miskin, terkebelakang, susah maju. Kupang sangat jauuhh.. Ada yang mengira Kupang lebih jauh dari Ambon jika dilihat dari Jakarta.

Gambaran, image miring seperti ini wajar dan masuk akal,  karena NTT, Kupang jarang tampil dan ditampilkan di pentas nasional. Kecuali sektor olahraga, khususnya yang berurusan dengan adu otot seperti tinju, kempo, karate dan atletik, NTT jarang berkibar di tingkat nasional.
HPN Kupang kemudian  dianggap sebagai saatnya menunjukkan kepada dunia luar bahwa NTT bisa, bahwa Kupang juga bisa menjadi tuan rumah. Ada target jangka  panjang yang ingin dicapai menjadi tuan rumah. Dengan kata lain, dengan serba keterbatasannya, Pemda NTT ingin menjadikan HPN Kupang sebagai kesempatan memperbaiki image, menaikkan pamor NTT di mata dunia luar dan menciptakan merek. Gubernur NTT, Drs. Frans Lebu Raya selalu mengingatkan, NTT boleh dibilang miskin, tetapi kalau sudah menjadi tuan rumah, jadilah tuan rumah yang baik. Jangan sekali-kali membuat tamu kecewa di Kupang.

Jika semangatnya seperti ini, maka targetnya adalah branding. Dalam ilmu pemasaran, merek itu sangat penting dan vital. Orang pemasaran menjadikan merek itu branding. Terjemahan lurusnya cap. Cap, itu sederhana sekali, tapi manfaatnya luar biasa. Ijazah seseorang tidak diakui kalau tidak ada cap. Semua surat penting baru resmi dan legal kalau ada cap.

Dengan cap atau merek itulah sesuatu dikenal. Para sales  menjual sebuah produk dari mereknya. Merek itu membentuk brand image. Dengan brand image itulah sesuatu produk dikenal, dicintai dan diminati.

Semua sabun mandi fungsinya sama, yakni membersihkan badan. Tetapi mana ada sabun mandi yang mampu mengalahkan lux? Pasta gigi, tak ada yang mampu menyaingi pepsodent.
Kerabat saya yang bekerja di Zaire punya cerita menarik. Di Zaire, Indonesia dikenal dari sabun giv. Sabun mandi ini kalah pamor dengan merek sabun mandi lain yang dianggap lebih berkelas seperti lux, dethol, lifebuoy, camay  di Indonesia. Tetapi giv sudah punya merek di Zaire.

Sepuluh tahun lalu, nokia menguasai pasaran handphone di jagat ini. Sekarang samsung mengambil alih. Kualitas produk, nokia lebih unggul. Yang tidak unggul dari nokia adalah lemahnya pencitraan yang menjatuhkan brand image-nya. Mereka yang menggunakan HP nokia dianggap `jadul', jaman dulu. Sebaliknya mereka yang menggunakan HP merek samsung dianggap pintar `jaim', jaga image.

Dilandasi semangat seperti itulah Kupang akhirnya menjadi tuan rumah HPN 2011 dengan segala kelebihan dan terutama kekurangannya. Kekurangan fasilitas diimbangi dengan pelayanan yang baik kepada semua tamu.  Ibu gubernur yang sekaligus sebagai Ketua Dekranasda NTT tak mau malu menjadi tuan rumah. Kepada semua tamu yang datang dihadiahi sarung tenun ikat khas daerah-daerah di NTT.

Boleh dibilang, HPN Kupang cukup bagus. Terbukti Presiden SBY dalam pidatonya pada HPN tahun berikutnya di Jambi tiga kali menyebut penyelenggaraan HPN Kupang sebagai HPN yang cukup berhasil. Pada HPN 2013 di Manado, sukses HPN Kupang masih disebut-sebut sejumlah rekan wartawan dari daerah lain.

Efek yang diperoleh
Pertanyaan penting selanjutnya, apa efek menjadi tuan rumah HPN di Kupang? Beberapa efek nyata bisa disebut. Pertama, perubahan luar biasa terjadi dengan pembangunan sejumlah fasilitas umum di Kupang pasca HPN 2011. Geliat pembangunan di Kupang sangat terasa dan terlihat di mana-mana. Ruko menghiasi jalan umum. Restoran  serba rasa dengan aneka menu menjamur. Hotel berbintang dan melati dibangun menjulang membelah angkasa.

Kedua, di  sektor transportasi udara. Arus manusia yang datang dan pergi melalui bandar udara meningkat tajam. Maskapai penerbangan menambah frekuensi terbang. Saat ini, jumlah penumpang yang datang dan pergi melalui Bandara El Tari Kupang sekitar 4000-5000 orang setiap hari. Jumlah ini belum termasuk bandara-bandara di Pulau Flores, khususnya Bandara Frans Seda di Maumere dan Bandara Komodo di Labuan Bajo.

Ketiga, pamor NTT meningkat. Setelah sukses menyelenggarakan HPN 2011, Kupang sepertinya kebanjiran order menjadi tuan rumah sejumlah even nasional dan internasional. Selain beberapa even olahraga nasional, even lain seperti Munas Gerakan Pramuka juga diadakan di Kupang. Teranyar Kupang menjadi tuan rumah Munas Perkumpulan Keluarga Berencana Indonesia (PKBI).

Kepercayaan menjadi tuan rumah sejumlah even ini tak lain berarti pamor NTT, khususnya Kota Kupang semakin terangkat. Tak ada lagi kekhawatiran menyelenggarakan even nasional, bahkan internasional di Kupang.  Kupang siap selalu manakala ditunjuk menjadi tuan rumah even-even nasional dan internasional.

Di balik ketiga efek yang sangat nyata ini, terdapat pertumbuhan ekonomi yang luar biasa.  Biar kecil, hampir semua sektor memperlihatkan geliat pertumbuhan yang luar biasa. Geliat pertumbuhan ini selanjutnya mendongkrak pendapatan masyarakat.  Dana miliaran rupiah yang dibelanjakan untuk menyukseskan HPN Kupang tidak sia-sia. Tentu dana yang dikeluarkan tahun 2011 adalah investasi jangka panjang yang ternyata sudah mulai terlihat manfaatnya di berbagai sektor.  Peningkatan arus manusia yang masuk ke Kupang langsung menggerakkan mata rantai ekonomi. Dari transportasi darat, belanja makan dan minum hingga cenderamata.

Bagi masyarakat, efek paling  terasa adalah meningkatnya pertumbuhan ekonomi yang selanjutnya mendongkrak pendapatan. Tetapi bagi pemerintah, efek paling penting dari HPN Kupang adalah perbaikan image dan penciptaan brand image tentang NTT dan tentang Kupang.  Bahwa NTT tidak semiskin seperti yang tergambar selama ini. Bahwa orang NTT tidak sekasar seperti yang diperkirakan sekian lama. Bahwa NTT juga punya apa-apa untuk dibanggakan.

Belakangan brand image ini semakin penting dan urgen mengingat kerja sama  golden triangle (segitiga emas) antara Kupang-Darwin-Dili.  Sudah beberapa  pertemuan dalam kerangka segitiga emas digelar di Kupang. Pastilah, ke depan banyak program yang bisa digagas dan direncakan dalam kerja sama golden triangle ini.

Tiga tahun sudah Kupang mencatat sejarah sebagai tuan rumah peringatan Hari Pers Nasional. Lepas dari kekurangannya, Kupang telah menginvestasi banyak dana untuk kepentingan dan kebutuhan demi kemajuan NTT ke depan.  *

Sumber: Buku Geliat NTT, Jambi dan Bengkulu Pasca HPN. Diterbitkan PWI Pusat dan diluncurkan pada peringatan Hari Pers Nasional (HPN) 2015 di Batam, Kepri 9 Februari 2015.

Investasi di NTT Tumbuh Pesat Setelah HPN 2011

Oleh Laurensius Molan
Wakil Ketua Bidang Organisasi PWI Provinsi Nusa Tenggara Timur, Kepala LKBN ANTARA Biro Kupang

PESONA Hari Pers Nasional (HPN) 2011 di Kupang, ibu kota Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) pada 9 Februari 2011 agaknya masih melekat dalam ingatan setiap insan pers, masyarakat dan pemerintahan daerah setempat. Mengapa? Aura HPN 2011 saat itu, tidak hanya sekadar menghadirkan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY)  untuk membuka acara tersebut, tetapi kepala negara malah mengikutsertakan pula hampir sebagian besar menterinya serta para pengusaha papan atas untuk melihat dari dekat sosok NTT lewat HPN tersebut.

Kepala negara tidak hanya sekadar berkantor di Kupang selama tiga hari untuk mengendalikan pemerintahan dari atas wadas tanah karang, tetapi melakukan pula napak tilas dengan melakukan perjalanan darat dari Kupang menuju Atambua sejauh sekitar 400 kilometer, untuk mengenang masa mudanya sebagai prajurit TNI-AD ketika menjadi Komandan Batalyon Infanteri (Yonif) 744/Satya Yudha Bhakti (SYB), pasukan organik milik Kodam IX/Udayana.


Batalyon ini mencatat prestasi gemilang dalam operasi penumpasan Gerakan Pengacau Keamanan (GPK) di Timor Timur, ketika wilayah bekas jajahan Portugis dan bekas provinsi ke-27 Indonesia itu, masih menjadi bagian dari NKRI. Ketika Timor Timur memilih lepas dari Indonesia lewat referendum pada Agustus 1999, Batalyon kebanggaan ini tetap dipertahankan eksistensinya dan menjadi bagian dari pasukan organik Korem 161/Wirasakti Kupang.

Batalyon ini bermarkas di Atambua, ibu kota Kabupaten Belu dan di Kefamenanu, ibu kota Kabupaten Timor Tengah Utara dengan tugas permanen menjaga tapal batas negara dengan Timor Leste. Atas dasar inilah, Presiden SBY kemudian memilih jalan nostalgia dengan melakukan napak tilas dari Kupang ke Atambua untuk bersua dengan para prajurit TNI-AD dari Yonif 744/SYB di wilayah perbatasan RI-Timor Leste itu.

Dampak dari HPN 2011 di Kupang itu, tidak hanya membuat para pekerja pers di Nusa Tenggara Timur bangga, karena sukses dalam menyelenggarakannya serta menjadi model atau semacam studi banding bagi daerah lain di Indonesia yang bakal menjadi tuan rumah HPN, tetapi lebih dari itu, mengalirlah investasi ke daerah ini untuk membangun NTT yang sering dianekdotkan dengan sebutan Nasib Tidak Tentu atau Nanti Tuhan Tolong (NTT).

Data yang disuguhkan Badan Koordinasi Penanaman Modal Daerah (BKPMD) NTT memaparkan bahwa dalam kurun waktu 2011-2012, tercatat 103 investor asing menanamkan modalnya di NTT dengan nilai investasi sekitar Rp3 triliun. Bidang investasi yang digarap antara lain perhotelan, pertambangan umum dan pertambangan mangan serta kegiatan ekspor impor dengan menyerap sekitar 2.371 orang.

Sementara investasi dalam negeri (PMDN) hanya tercatat tujuh investor dengan nilai investasi sekitar Rp588 miliar. Lahan usaha mereka di sektor pemurnian mangan dan kehutanan. Sedang, total investasi untuk tahun 2013 hanya mencapai sekitar Rp50 miliar. Namun, pada 2014, jutru mengalami peningkatan yang sangat spektakuler.  

Saat ini, NTT menjadi incaran para penanam modal, baik PMA maupun PMDN. Hal ini terlihat dari tingkat pertumbuhan investasi yang cukup mendebarkan, yakni Rp2,9 triliun dari target yang ditetapkan BKPMD NTT hanya Rp2 triliun untuk tahun 2014.

"Pertumbuhan investasi tersebut menunjukkan bahwa iklim investasi di wilayah provinsi kepulauan ini cukup menjanjikan. Sarana dan prasarana penunjang investasi sudah cukup tersedia, tidak ada bentuk perizinan yang bertele-tele serta adanya kepastian hukum atas lahan untuk berinvestasi," kata Kepala BKPMD NTT Semuel Rebo.

Hal ini cukup terlihat jelas dengan geliat pembangunan di Kota Kupang sebagai ibu kota Provinsi NTT, seperti pembangunan rumah toko (Ruko) dan hotel-hotel berbintang. Hampir di semua sudut kota ini, para pemilik modal seakan berlomba untuk membangun ruko, hotel berbintang dan berbagai fasilitas umum lainnya, sehingga membuat wajah kota "karang" ini--sebutan khas untuk Kota Kupang--perlahan berubah menjadi kota modern.

Pesatnya pertumbuhan investasi tahun ini, dinilai cukup spektakuler karena total investasi pada tahun sebelumnya hanya mencapai Rp50 miliar. "Target kami tahun ini hanya Rp2 triliun, tetapi belum mencapai akhir 2014, nilai investasinya justru sudah melampaui target menjadi Rp2,9 triliun," kata Rebo menambahkan.

Menurut dia, investasi paling besar terjadi di sektor perhotelan yang menyebar di Kota Kupang dan Labuan Bajo di Kabupaten Manggarai Barat, sebagai pintu masuk utama ke Taman Nasional Komodo (TNK) yang telah ditetapkan sebagai salah satu dari tujuh keajaiban dunia (New7wonders).

Investasi asing (PMA) dalam tahun ini berkonsentrasi pada 41 proyek, sedang investasi dalam negeri (PMDN) hanya berkonsentrasi pada 19 proyek dengan nilai investasi mendekati Rp1 triliun.

"Kepastian hukum dan keamanan serta kenyamanan merupakan syarat mutlak bagi para investor untuk menanamkan modalnya di Indonesia, termasuk di NTT," tambah Ketua Asosiasi Pengusaha Indonesia wilayah NTT Fredy Ongko Saputra.

Geliat pembangunan di Kota Kupang pasca HPN 2011 memang cukup terasa seperti dengan hadirnya hotel-hotel berbintang, yang ketika berlangsungnya HPN membuat panitia nasional dan lokal berdebar-debar, karena hotel berbintang di Kupang hanya Kristal dan Sasando, sementara sisanya adalah hotel kelas melati.

Hotel kelas melati yang jarang penghuninya, akhirnya di-book-ing pula oleh panitia untuk menampung para peserta dari berbagai daerah di Indonesia. Ketua Umum PWI Pusat Margiono hanya bisa berseloroh..."fasilitas penginapan di Kota Kupang bukan sedikit jumlahnya, namun karena tamu undangannya terlalu banyak sampai akhirnya tidak bisa tertampung semuanya".

Meskipun demikian, para peserta merasa nyaman untuk mengikuti kegiatan tersebut sampai tuntas. Jika Kupang terpilih kembali menjadi tuan rumah, tampaknya tidak ada rasa khawatir lagi bagi panitia, karena fasilitas hotel berbintang sudah cukup banyak berdiri tegar di atas batu karang ini yang merupakan dampak dari pelaksanaan HPN 2011 di Kupang. *

Sumber: Buku Geliat NTT, Jambi dan Bengkulu Pasca HPN. Diterbitkan PWI Pusat dan diluncurkan pada peringatan Hari Pers Nasional (HPN) 2015 di Batam, Kepri 9 Februari 2015.

"Kembali" ke Kupang


bildad11.jpg


IKAN BAKAR — Menikmati ikan bakar di pantai Kupang (1997) bersama Bildad (paling kiri), Paul Bolla dan pasangannya, kemudian Ana Jukana, Peter A Rohi, dan Hans Christian Louk. Ikan termasuk murah di Kupang, terutama kalau kita mau beli langsung dari nelayan pas mereka naik dari laut. Ikan segar itu langsung dibersihkan dengan air laut, dibakar, disantap. Gurih sekali.

Buku Kiriman Dion

KAKA.. Ini be kirim buku 15 Tahun Pos Kupang. Baca sudah! Tapi jang bilang-bilang orang laen. Be cuma bawa beberapa sa untuk ketong pung teman yang perna di Kupang, na!”

ITULAH yang dibisikkan Dion Dosi Bata Putra, Pemimpin Redaksi Pos Kupang di sela-sela Rapat Kerja pimpinan koran-koran daerah Persda di Ciater, Subang, Jawa Barat, 5 Desember 2007. Ia merogoh ransel, mengeluarkan buku bersampul biru.

Saat membacanya kemudian, saya tersedot kembali ke Kupang. Kembali ke masa-masa belajar dari para guru, mulai dari Bildad sampai Pius Rengka. Dari pendeta Paul Bolla, sampai Pater Jan Menjang (alm). Dari Daniel Rattu sampai guru besar Damyan Godho, dan masih banyak nama lagi yang harus saya sebut dengan rasa hormat karena telah begitu bermurah hati membagikan ilmu mereka.

Saya teringat kembali ketika untuk pertama kali menjejakkan kaki di Pulau Karang itu pertengahan tahun 1995. Apa yang disaksikan lewat jendela pesawat, tanah tandus kecoklatan dengan tonjolan-tonjolan karang, jadi lebih nyata beberapa saat setalah mendarat di bandara El Tari.

Sepanjang perjalanan menuju kantor, Domu Warandoy dan Evi H Pello yang menjemput saya, menunjukkan tempat-tempat di kiri kanan jalan yang kami lalui. Aduh! Tak terbayangkan bagaimana sulitnya mengembangkan koran di tempat seperti ini. Tempat di mana beli dan baca koran entah jadi prioritas keberapa dalam kehidupan sehari-hari warganya.

Pertama terbit 1 Desember 1992, sampai saat itu (1995) Pos Kupang terbit teratur sebagai koran harian berformat tabloid delapan halaman. Ya, tabloid. Ya, cuma 8 halaman. Atau setara dengan selembar koran broadsheet! Dicetak hitam-putih, dengan logo POS KUPANG di kiri atas. Jadi, meskipun “setebal” delapan halaman, koran ini jadi tipis jika selesai dibaca langsung kita lipat-lipat, masuk saku.

Sekarang, setelah berusia 15 tahun, tentu saja Pos Kupang tidak seperti dulu lagi. Ia terbit dalam bentuk broadsheet 16 halaman, dengan empat halaman warna. Ia pun sudah melakukan cetak jarak jauh di Ende dan di Maumere (Flores) di seberang laut. Nah, buku kiriman Dion itu antara lain berkisah tentang jejak langkah perjalanan Pos Kupang.

Ada testimoni dari pada pelaku, maupun mantan pelaku (banyak yang sudah berhasil di berbagai bidang, baik di NTT maupun di ibu kota dan di daerah lain), dan lebih banyak lagi berisi telaah mengenai peran Pos Kupang pada berbagai sisi kehidupan masyarakat di provinsi itu. Tokoh masyarakat, ilmuwan, kaum rohaniwan, kalangan birokrat, mantan pejabat dan lain sebagainya menuliskan pandangan kritis mereka terhada surat kabar ini.

Dus, meski buku ini diterbitkan menandai 15 tahun surat kabar itu, ia terhindar dari kesan sebagai kecap dapur yang biasanya lebih banyak berisi puji-pujian atas diri sendiri. Ia sekaligus jadi referensi yang cukup bernas mengenai perkembangan pers dan perannya di dalam kehidupan masyarakat setempat.

Tapi, bagi saya, buku itu seakan membawa saya kembali ke Kupang. Melalui buku ini, saya “bertemu” lagi dengan para guru yang luar biasa gairahnya membangun koran di negeri kering dan serba minim. Saya “bertemu” lagi dengan Pius Rengka yang kata-katanya luar biasa tajam, kokoh, dan indah.

“Bertemu” lagi dengan Hans Ch Louk yang ramah, suaranya pelan dan seperti tak pernah punya marah, namun tulisan-tulisannya lugas dan menyentak. “Betemu” lagi dengan pak pendeta, Yulius O Lopo yang kini jadi direktur pemberitaan Top TV Papua. Kepada merekalah –tentu pula dengan Dion dan Om Damyan Godho yang jadi tokoh sentral Pos Kupang– saya belajar banyak bagaimana gairah, ruh, spirit, bahu-membahu untuk menjalankan sebuah niat, membangun koran. Dan, mereka berhasil.

di-bandung-nasi-pun-berpayung-kaka.jpg
Santap malam sebelum rapat kerja: “Ai Kaka… di Bandung, nasi pun berpayung ko?
***
SAYA masih ingat betul, bagaimana sulitnya merekrut tenaga wartawan. Ketika itu, Pos Kupang baru saja ditinggal “bedol desa” oleh sejumlah wartawan dan redakturnya yang ikut Valens Goa Doy yang diberi kepercayaan mengelola Berita Yuda versi baru. Belakangan, proyek Berita Yuda itu tak berlanjut.

Rekrutmen pertama, berhasil menghimpun kemudian menyaring calon wartawan. Empat orang! Kami melatihnya secara penuh, kelas dan lapangan. Sampai akhir masa pelatihan, tak ada satu pun yang memadai. Bisa dipaksakan, tapi akan menyiksa mereka sendiri dan mungkin mengganggu sistem. Maka, buka lagi rekrutmen. Hasilnya, nihil lagi.

Toh, akhirnya dapat juga. Itu setelah berlangsung rekrutmen “ronde” ketiga. Dari sejumlah pelamar yang masuk dan lulus testing, kali ini tampak bibit-bibit yang sangat potensial. Dan terbukti, sebagian di antara mereka kini menduduki posisi-posisi penting di Pos Kupang. Satu dua lainnya, juga jadi tokoh jurnalis di luar Pos Kupang.

Itu dari satu sisi, SDM. Sisi lain, infrastruktur, jalur distribusi, persebaran penduduk di puluhan pulau, adalah tantangan lain yang hanya akan bisa diterobos dengan gairah yang dimiliki para awak Pos Kupang. Jika tidak, koran itu mungkin kini tinggal nama, bukan lagi jadi satu pilar yang kokoh dalam kehidupan demokrasi dan bisnis di NTT sebagaimana sosoknya yang tampak hari-hari ini.

Sebelum belajar ke Pos Kupang, saya sudah “sekolah” di Bandung (Bandung Pos, Mingguan Pelajar, Salam, dan kemudian Mandala – saat koran ini digandeng Kelompok Kompas-Gramedia), di Yogya (Bernas), di Palembang (Sriwijaya Post). Sarana, fasilitas dan infrastruktur di koran-koran itu boleh dibilang termasuk sederhana untuk ukuran sebuah industri koran di Jawa dan Sumatera saat itu. Tapi, begitu masuk ke Pos Kupang, saya seperti sedang menyaksikan dan ikut dalam sebuah gegar tekonologi (jika istilah ini ada).

Sampai pada proses pracetak, infrastruktur Pos Kupang tidak terlalu jauh berbeda dengan apa yang digunakan di Bernas. Tapi begitu masuk proses cetak, ya ampun. Saya seperti terlontar ke masa silam. Masa sekitar tahun 70-an, manakala saya sering ngintil paman saya mengantarkan naskah untuk korannya ke percetakan Ganaco NV di Bandung. Itu pun, mesinnya sudah agak lebih “modern” dibanding dengan yang digunakan Pos Kupang.

Sebagai ilustrasi, untuk mencetak 3000-4000 Pos Kupang saat itu, kami membutuhkan waktu antara 6-7 jam! Selain mesin, puluhan orang –tetangga sekitar– juga terlibat dalam penerbitan surat kabar ini. Tiap pagi, mulai pukul 03.00 belasan orang berderet di meja lipat di sisi lain percetakan. Ya, mereka jadi juru lipat dan juru sisip koran tabloid “setebal” delapan halaman itu!

Itu jika mesin tidak ngadat. Namanya mesin sepuh yang “berpengalaman” panjang, tentu pula acapkali macet. Ada saja gangguannya. Sampai-sampai pernah Om Damy meminta khusus pastor memberkati mesin itu. Menyembahyangi, kemudian memercikkan air suci.

Toh, mesin tak jua mau kompromi, sesekali penyakitnya datang lagi. Sampai sekali waktu, Om Damy mendatangkan paranormal untuk –jika ada– mengusir demit penyakit yang ngendon di itu mesin. Upacara pun digelar di lantai pelat baja sisi mesin. Potong ayam dan mengucurkan darahnya di lantai. Lalu ditaruhlah telur di atas genangan kecil darah itu. Beberapa saat kemudian, darah terserap entah ke mana!

Paranormal itu bermeditasi, merapal mantra, lalu bangkit bergerak ke arah mesin. Ia menunjuk sebuah titik hitam di sisi luar dinding mesin itu. Mengorek-ngoreknya sebentar, dan…. seperti ujung rambut, sepotong kawat mencuat. Ditariklah kawat itu, ternyata panjang. Seperti terkait ke suatu mekanisme di dalam mesin.
Dan ternyata, mesin itu tetap saja dengan sifat tuanya. Sesekali masih ngadat dan ogah mencetak. Jika sudah begini, tak ada jalan lain kecuali memindahkan cetakan ke Percetakan Negara Republik Indonesia (PNRI) milik Deppen setempat.

Tapi, bagi saya, “pastor” maupun “pawang” mesin itu yang sesungguhnya adalah Ign Setya Mudya Rahartono (kini mengepalai unit cetak Pos Kupang). Putra Yogya inilah yang dengan telaten ngopeni mesin peninggalan zaman “purba” itu hingga mampu mengantar Pos Kupang menuju masa-masa kejayaan.

Tokoh lain yang menurut saya berperan besar adalah Bildad yang berhasil memegang kunci pengelolaan infrastruktur teknologi informatika Pos Kupang. Yang mengagumkan saya dari Bildad, adalah dia belajar secara otodidak mengenai IT. Pada masa itu, di Kupang belum ada lembaga, bahkan sebatas, kursus mengenai komputer/IT. Ilmu yang berhasil dikuasasinya ternyata menjadi tulangpunggung kelancaran proses kerja penerbitan surat kabar di Tanah Timor itu.

Selain  soal mesin dan keterbatasan infrasutrktur pendukung,  kertas juga jadi masalah utama, karena sangat tergantung pada pengriman dari Surabaya. Kapal pengirim, tergantung cuaca. Pernah sekali waktu, proses pracetak sudah rampung, tapi percetakan tak bisa bergerak karena kertas habis. Kiriman belum masuk karena kapal tertahan jauh dari pelabuhan. Belum bisa merapat.

Maka, menjelang tengah malam, Om Damy dan Domu melesat ke seantero pojok kota Kupang, menggedori toko yang menjual kertas ukuran plano. Dapat! Beberapa rim, cukup untuk oplaag hari itu. Mesin cetak pun bergerak. Dan hari itu Pos Kupang terbit warna warni. Kertasnya, yang warna warni! Ada yang warna telur-asin, hijau muda, kuning muda, putih, ada yang gabungan antara kertas putih dan warna lain!
Hebatnya, koran itu tetap laris dibeli orang!

***
borong-abis-na.jpg
ayo-foto-bersama-yang-melirik-nona-sendiri.jpg
Usai rapat kerja, 6 Desmber 2007, singgah ke Tribun Jabar. Ayo foto bersama! ajak Dion. Klik, dan di antara “kebersamaan” itu, cuma satu orang yang melirik ade nona! Hehehehehe…. Atas: Sempat pula pi pesiar sambil borong abis macam-macam barang. Saya diapit Dion dan Daud (Pemimpin Perusahaan Pos Kupang)
***
ITU cuma sekelumit dari gambaran nyata keadaan saat itu. Kini cerita itu tentu tinggal kenangan. Para kerabat kerja Pos Kupang telah mulai mereguk hasil kerja keras mereka yang tiada henti. Koran ini sudah mendarah daging dan jadi bagian hidup warga NTT, menjadi ruh informasi mereka, menjadi penerang, jadi penggerak opini publik, jadi pengontrol yang awas dan dipercaya.

Dion yang kini jadi pemimpin redaksi koran itu selalu bersemangat saat menceritakan, membandingkan dan menggugat, jika kami sedang rapat kerja, setidaknya setahun sekali. Keadaan sekarang, mungkin sudah jauh berubah. Setidaknya, sarana, fasilitas, dan infrastruktur pendukung, mungkin sudah lebih baik dibanding 12-15 tahun silam.

Tapi, tentu segalanya masih jauh tertinggal oleh perkembangan yang terjadi di daerah-daetah lain di luar NTT, terutama di Jawa, Sumatera, Kalimantan, dan Sulawesi. Toh Dion Cs tetap dalam spiritnya, tetap dalam gairah yang sama dengan saat-saat saya mulai berguru kepada mereka 12 tahun silam. Hebat!
Buku yang dihadiahkannya itu sedikit mengobati kerinduan saya untuk menghirup kembali udara Kupang. Setidaknya, lewat buku itu saya bertemu dan “mendengar ” pembicaraan mereka, tidak saja mengenai Pos Kupang, melaikan mengenai hal-hal lain yang ingin saya ketahui dalam konteks kekinian.

Terimakasih, Dion. Terimakasih Om Damyan Godho. Terimkasih para guru besar saya di Kupang !! **
orang-bandung-makan-daun-ko.jpg
“Orang Bandung cuma makan daun ko, Kaka?”

Sejarah Pers di Nusa Tenggara Timur

KALAU kita membolak-balik buku-buku sejarah pers nasional, mulai dari zaman kolonial sampai era Orde Baru, nyaris tidak disinggung tentang pers Nusa Tenggara Timur. Yang ada hanya sejarah pers di Jawa, Sumatera, Sulawesi, Kalimantan bahkan di Maluku (Ternate).

Dari ketiadaan informasi ini, orang bisa saja berkesimpulan bahwa tidak ada pers di NTT pada masa itu. Tidak terlalu salah kesimpulan itu. Tetapi, coba kita sedikit memperluas penelitian kita. Artinya, tidak hanya berpusat pada dokumen-dokumen atau buku-buku yang diterbitkan oleh negara atau lembaga swasta nasional.

Cobalah menelusuri sejarah perkembangan gereja di wilayah ini. Mengejutkan, gereja yang sudah masuk ke wilayah ini sejak masa kolonial memiliki dokumentasi yang lengkap mengenai berbagai hal yang terjadi, termasuk kehidupan pers di daerah ini.

Hanya memang harus diakui, penerbitan pers di NTT sejak masa kolonial secara nasional dilihat sebagai pers golongan. Jelasnya, pers yang berhaluan Kristen (Katolik). Media-media tersebut terbit sebagai sarana pewartaan gereja. Pemimpinnya hampir semua dari lembaga gereja.
Kendati demikian, dalam prakteknya tidak semata-mata hal-hal berbau gereja yang menjadi subyek pemberitaannya. Hal-hal umum berkaitan dengan kepentingan profan masyarakat pun menjadi perhatiannya.

Sejak masa kolonial masyarakat NTT sudah bisa membaca koran karena gereja pada waktu itu sudah mendirikan sekolah-sekolah. Di Larantuka sekolah putra dibuka pertama kali pada tahun 1862 diikuti sekolah putri pada tahun 1879. Di Maumere sekolah putra pertama dibuka tahun 1875, diikuti sekolah putri pada tahun 1882. Di Lela sekolah putra pertama tahun 1897 dan sekolah putri 1899. Di Ndona (Ende) sekolah putra dibangun pertama kali pada tahun 1915 dan sekolah putri 1920. Di Todabelu (Ngada) sekolah putra pertama dibangun tahun 1921 dan sekolah putri 1931. Di Ruteng sekolah putra pertama tahun 1921 dan sekolah putri tahun 1943.

Di Lahurus (Belu-Timor) sekolah pertama tahun 1890 dan sekolah putri tahun 1921. Sekolah-sekolah ini antara lain mendidik masyarakat lokal untuk bisa membaca.
Karena itu, sebenarnya tidak ada alasan bagi pers nasional untuk mengabaikan fakta sejarah ini.

***
MAJALAH pertama Bintang Timoer terbit di Ende pada tahun 1925, dengan sub-judul: Soerat Boelanan Katolik yang Bergambar. Majalah ini diterbitkan oleh Serikat Sabda Allah (SVD/Societas Verbi Divini). Ukurannya 19 x 26,5 cm, tebal 16 halaman, bergambar dengan kulit khusus.

Majalah ini memberitakan pokok-pokok keagamaan, masalah-masalah pertanian, pendidikan, keluarga, dan sebagainya. Juga berita-berita daerah dan internasional. Alamat redaksinya: R.K. Missie, Lela-Maumere, di bawah pimpinan P. Fries, SVD, kemudian dilanjutkan oleh P. F. Cornelissen, SVD.

Selama beberapa tahun Bintang Timoer dicetak di Percetakan Kanisius Yogyakarta (mulai 1925). Tapi, sejak tahun 1928 dicetak di Percetakan Arnoldus Ende. Percetakan ini pun milik SVD Ende.

Majalah Bintang Timoer tidak terbit lagi sejak Juni 1937. Faktor-faktor penyebabnya terutama kurangnya minat masyarakat dan sumbangan finansial. Sejak itu sampai dengan Indonesia merdeka nyaris tidak ada penerbitan di NTT.

Baru sesudah Perang Dunia II (1942-1945) diterbitkan dua mingguan Bentara dalam tahun 1946. Ukurannya, 25 x 32 cm, tebal 8 halaman, bergambar, tanpa kulit. Secara garis besar isinya sama seperti Bintang Timoer. Tapi, dalam perkembangannya muncul banyak tulisan mengenai perkembangan negara dan kehidupan masyarakat umum, di samping tulisan-tulisan bersifat agama (renungan-renungan).

Bersamaan dengan terbitnya Bintang Timoer, tahun 1925 terbit dalam bahasa Sikka majalah bulanan Kristus Ratu Itang. Ukurannya, 21 x 14,8 cm. Isinya, soal-soal agama, pokok-pokok sosial ekonomi, pendidikan, budaya dan sebagainya, berita-berita daerah dan juga dunia internasional. KRI lenyap bulan Desember 1938.

Pada tahun 1950-an, terbit majalah Bentara, yang dipimpin P. A. Conterius, SVD, kemudian oleh P. Markus Malar, SVD, dan akhirnya oleh Frans Tan. Sempat mencapai oplah 3.300, Bentara terbit sampai 1959, tak lama setelah terbentuknya Propinsi NTT dan sejumlah kabupaten pada akhir 1958.

Sejalan dengan Bentara diterbitkan majalah bulanan untuk anak-anak, Anak Bentara. Ukurannya, 21 x 14,8 cm, tebal 16 halaman, dihiasi gambar-gambar. Peredarannya mencakup seluruh Indonesia dengan oplah 35.000. Yang banyak berjasa untuk Anak Bentara adalah P. G. Kramer, SVD bersama para siswa Seminari Mataloko. Sejak tahun 1961 Anak Bentara tidak terbit lagi.

Untuk para guru diterbitkan, majalah Pandu Pendidikan sejalan dengan sistem pendidikan Sekolah Pembangunan yang dicetuskan Menteri P dan K waktu, Mashuri. Pemimpin redaksinya berturut-turut, P. Cornelissen, P. Swinkels, P. Lambert Lame Uran. Pandu Pendidikan terbit sampai tahun 1959.

Menjelang pemberontakan Permesta pada tahun 1956/1957, di Ende terbit sebuah majalah Gelisah. Majalah ini dicetak di Percetakan Arnoldus Ende. Bagaimana kelanjutannya dan kapan berakhirnya tidak diketahui. Hampir pasti majalah itu berjalan tidak sampai tahun 1960.
Pada tahun 1960 terbit pula beberapa majalah yang berumur singkat: Ekonomi, Sebuk, Muda Katolik, Serbukin, Pemuda Penjaga (dari Manggarai). Untuk Flores, pemerintah daerah Flores menerbitkan Zaman Baru dan Sinar Sembilan.

Pada tahun 1960-an Partai Komunis Indonesia (PKI) melalui Comite Daerah Besar (CDB) menerbitkan Mingguan Pelopor di Kupang. Pelopor lahir mengikuti Instruksi Presiden ketika itu, supaya setiap partai politik memiliki terbitan sendiri. Mingguan Pelopor terbit dalam bentuk stensilan setebal 12 halaman, karena waktu itu belum ada percetakan di Kupang. Pelopor berhenti terbit pada tahun 1965, sejak penumpasan G30S/PKI.

Untuk mengimbangi Pelopor waktu itu, Petrus Kanisius Pari selaku aktivis Pemuda Katolik menerbitkan Mingguan Pos Kupang pada tahun 1962. Kopnya dicetak di Percetakan Nusa Cendana, selebihnya dalam bentuk stensilan. Majalah ini hanya terbit selama beberapa bulan.
Selanjutnya, pada tahun 1965, Kanis Pari menerbitkan Mingguan Kompas dalam bentuk stensilan. Tapi, umurnya cuma tiga bulan karena tidak mengantongi surat izin terbit (SIT) sendiri. Dia hanya menggunakan izin terbit Harian Kompas Jakarta. Pada akhir tahun 1965, Mingguan Kompas tidak terbit lagi.

SKM Dian

Sejak lahirnya Orde Baru yang sarat dengan tuntutan pembangunan, NTT praktis ketiadaan surat kabar. Informasi terutama berkaitan dengan pembangunan sepi. Terdorong oleh situasi demikian, maka pada tanggal 24 Oktober 1973 surat kabar Dian terbit berdasarkan Surat Izin Terbit (SIT) yang diperoleh melalui Keputusan Menteri Penerangan RI No.
01455/SK/DIRJEN-PG/SIT/1973, tanggal 6 Agustus 1973. Pada waktu itu Dian terbit sebagai majalah dua mingguan dengan ukuran 21 X 29 cm, setebal 12 halaman dan oplah 6.000 eksemplar. Pemimpin umum/pemimpin redaksinya, P. Alex Beding, SVD.

Dian diterbitkan oleh Yayasan St. Paulus di Ende, sebuah badan hukum milik Serikat Sabda Allah (SVD), yang bergerak di berbagai bidang kerasulan serikat tersebut, termasuk kerasulan komunikasi.

Sebagai sebuah surat kabar, Dian mempunyai visi sebagai pedoman bagi arah perjuangannya. Visi itu termaktub dalam motonya Membangun Manusia Pembangun. Dengan motto ini Dian menawarkan dirinya sebagai salah satu agen pembangunan (change agent) sumber daya manusia dalam lingkup pembacanya sekaligus agen pembangunan fisik dan sumber daya alam dalam lingkungan penyebarannya.

Sesuai dengan moto di atas dan searah dengan tujuan pers Indonesia sebagai alat perjuangan nasional dan media yang bersifat aktif, dinamis, kreatif, informatoris dan mempunyai fungsi kemasyarakatan sebagai pendorong dan pemupuk daya pikir kritis dan progresif yang meliputi segala perwujudan kehidupan masyarakat, Dian terbit sebagai upaya gereja setempat (dalam hal ini Serikat Sabda Allah--SVD) untuk melibatkan diri secara langsung dalam upaya pembangunan mental-rohani dan ekonomi masyarakat pembacanya.

Selain itu, Dian secara sadar hadir sebagai alat kontrol sosial dalam upaya pembangunan sikap politik sesuai dengan asas dan semangat Undang-Undang Dasar 1945 dan Pancasila demi penegakan hukum, kebenaran dan keadilan serta perdamaian.

Singkatnya, Dian bertujuan untuk menjadi partner pemerintah dan gereja dalam upaya meningkatkan mutu hidup manusia menuju pembangunan manusia seutuhnya (integral human development).

Dalam kerangka itu sejak awal Dian sudah secara konsisten menyebarkan informasi-informasi yang berdampak positif bagi pembangunan manusia seutuhnya itu, yang meliputi bidang politik, ekonomi, keagamaan, hukum, keamanan dan ketertiban, keadilan dan perdamaian, serta hak dan tanggung jawab manusia sebagai warga suatu bangsa dan negara, termasuk tanggung jawab di bidang IPTEK.

Setelah sekian tahun diterbitkan oleh Yayasan St. Paulus, pada tahun 1986 penerbitannya dialihkan kepada Yayasan Dian yang juga mengelola majalah bulanan untuk anak-anak, Kunang-Kunang. Pada akhir tahun 1986, Dian maju selangkah lagi. Ia mulai terbit berdasarkan Surat Izin Usaha Penerbitan Pers (SIUPP) No. 218/SK/Menpen/SIUPP/B.1/1986, tertanggal 2 Desember 1986. Oleh karena itu, Dian merasa perlu mengubah bentuk dan wajahnya. Sejak Januari 1987, Majalah Dua Mingguan Dian berubah menjadi Surat Kabar Mingguan (SKM) Dian dalam bentuk tabloid berukuran 29,5 X 43 cm, setebal 12 halaman. Sejak saat itu, SKM Dian selalu terbit secara teratur sekali seminggu. Dalam setahun sesuai dengan jadwal, Dian selalu berhasil terbit sebanyak 48 nomor (edisi). Pada pertengahan tahun 1993, SKM Dian terbit dengan 16 halaman. Tetapi sejak minggu terakhir Juli 1995, akibat melonjaknya harga kertas, Dian kembali terbit dengan 12 halaman.

Dian senantiasa bekerja sama dengan pemerintah dalam upaya membangun manusia Indonesia seutuhnya. Sikap ini mendapat tanggapan positif dari pemerintah karena pada dasarnya pers merupakan sarana pemerintah dalam menyebarluaskan berbagai gagasan pembangunan.
Pada tahun 1986, Dian dipercayakan oleh pemerintah RI untuk terlibat dalam program nasional Koran Masuk Desa (KMD) dengan tujuan utama membangun dan mengembangkan masyarakat desa lewat jasa pers.

Program KMD ini terwujud dalam bentuk penerbitan lembaran khusus sebanyak empat halaman yang diterbitkan sebagai suplemen dengan kop Dian untuk Desa. Lewat program ini misi Dian untuk membangun manusia pembangun semakin dipertajam oleh  penyebaran berbagai informasi pembangunan lewat rubrik-rubrik pedesaannya, seperti teknologi tepat guna, kampanye lingkungan sehat, pendidikan keterampilan dan sebagainya.

Sejalan dengan tujuan Dian, sasaran misi Dian adalah masyarakat desa yang terdiri dari petani/nelayan dan para pejabat desa. Sasaran lain adalah kaum muda yang terdiri dari pelajar, mahasiswa, dan pemuda remaja lepas sekolah. Kecuali itu, juga para pengusaha kecil dan wiraswasta, para guru dan pegawai dan terutama pemerintah sebagai agen pembangunan dalam jalur formal. Semua pembaca tersebut tersebar di seluruh wilayah NTT dan di tempat-tempat di mana terdapat orang-orang asal NTT. Oplah Dian sempat mencapai 7500 eksemplar per edisinya.

Posisi Dian mulai tergeser sejak lembaga yang sama menerbitkan Harian Flores Pos pada tanggal 9 September 1999, berdasarkan SIUPP No. 169/SK/Menpen/SIUPP/1999, tanggal 19 Agustus 1999. Dian yang biasanya terbit pada setiap hari Jumat bergeser ke hari Minggu sampai sekarang. Penampilan dan penyajiannya pun banyak berubah, nyaris menjadi edisi Minggu-nya Harian Flores Pos. Bedanya hanya ada kop Dian.

Terbitan lain SVD adalah Berita Regio Ende (BRE), Pastoralia dan Vox (Seminari Tinggi Ledalero). Pada tahun 173, Keuskupan Agung Ende juga menerbitkan Penyalur Berita Dioses. Sementara Keuskupan Larantuka menerbitkan Warta Dioses Larantuka.
Mingguan Kupang Post

Atas dorongan Gubernur NTT El Tari, pada tanggal 5 Desember 1977 terbit Mingguan Kupang Post di Kupang. Dicetak di Percetakan Arnoldus Ende setebal empat halaman. Isinya menyangkut hal-hal umum berkaitan dengan kebijakan pemerintah daerah dan kepentingan masyarakat. Kupang Post terbit atas rekomendasi Kantor Wilayah (Kanwil) Departemen Penerangan (Deppen) NTT dan surat izin terbit (SIT) dari Menteri Penerangan RI. Pemimpin redaksinya Damyan Godho yang pada waktu itu juga wartawan Harian Kompas Jakarta untuk wilayah NTT.

Ketika Damyan berhenti sebagai Pemred pada tahun 1978, pengelolaan Kupang Post diteruskan oleh Kanwil Deppen NTT. Namun karena pengelolaan yang tidak profesional, Kupang Post berhenti terbit sekitar tahun 1983/1984.

Pada tahun 1980-an, Yayasan Karya Sosial (YKS) Maumere menerbitkan Majalah Duta Masyarakat sampai awal 1990-an. Sementara di Kupang, sejak matinya Kupang Post, nyaris tidak ada terbitan. Masyarakat hanya bisa membaca Majalah Dian dan sejumlah surat kabar harian terbitan Jakarta, seperti Kompas, Suara Karya, Sinar Harapan, Media Indonesia, Majalah Tempo, Mingguan Hidup dan Bali Post. Media-media ini juga menempatkan wartawannya di NTT, yang secara rutin mengirim berita-berita menyangkut NTT ke kantor redaksinya.
Kendati demikian, pemerintah senantiasa mendorong supaya ada media cetak lokal di Kupang. Maka, pada tahun 1987 Menteri Penerangan RI Harmoko mendirikan Percetakan Negara Republik Indonesia (PNRI) Kupang. Maksudnya, untuk mendorong tumbuhnya media cetak lokal di Kupang. Harmoko bahkan sempat mendorong Damyan Godho, namun hal itu tidak segera terwujud karena terbatasnya modal dan wartawan.

Sampai pada tahun 1992, NTT tercatat sebagai salah satu dari enam propinsi yang belum memiliki media cetak harian. Karena itu Harmoko sekali lagi mendorong Damyan Godho dengan memberi kemudahan memperoleh SIUPP (Surat Izin Usaha Penerbitan Pers), sehingga terbitlah Harian Pos Kupang pada tanggal 1 Desember 1992. Harian Pos Kupang didirikan bersama oleh Damyan Godho, Valens Goa Doi dan Rudolf Nggai, berdasarkan SIUPP No: 282/SK/Menpen/SIUPP/A.6/1992, tanggal 6 Oktober 1992.

Sejak itu ketiga orang ini mulai mengumpulkan orang-orang NTT, baik untuk menjadi wartawan maupun menjadi pengelola bisnisnya. Harian Pos Kupang tercatat sebagai harian pertama dalam sejarah NTT dengan peredaran menjangkau semua kabupaten yang ada.

Untuk mengatasi kesulitan distribusi akibat kondisi NTT sebagai daerah kepulauan, pada tahun 1998 Pos Kupang melaksanakan cetak jarak jauh di Percetakan Arnoldus Ende untuk melayani pembaca di seluruh Flores dan Lembata. Namun pada tahun 2000, Pos Kupang berhenti cetak jarak jauh di Ende lalu mulai dengan cetak jarak jauh di Maumere menggunakan mesin cetak sendiri. Hal yang sama dilakukan di Ruteng sejak November 2003 sampai sekarang, untuk melayani pembaca di Manggarai, Manggarai Barat dan Ngada. Sejak tahun 1997, Pos Kupang juga menjadi media elektronik yang bisa dibaca melalui internet di seluruh dunia.

Krisis ekonomi pada tahun 1997 menjadi tantangan tersendiri bagi Pos Kupang. Kenaikan harga material cetak yang sangat tajam ketika itu sempat membuat Pos Kupang seperti kapal yang sedang dihempas gelombang hebat. Tapi, Pos Kupang berhasil melewati tantangan itu, bahkan boleh dibilang tantangan membuat Pos Kupang semakin matang. Pos Kupang semakin maju. Pada tahun 2006 Pos Kupang menerima penghargaan sebagai salah satu dari 10 koran terbaik nasional pada tahun 2005 menurut penilaian Dewan Pers.

***
Eforia yang dialami sebagian besar masyarakat Indonesia sejak kejatuhan Soeharto pada 21 Mei 1998 juga dialami pers. Terlebih setelah Menteri Penerangan Junus Josfiah mencabut semua ketentuan era Orde Baru yang menghambat kebebasan pers, diikuti pengesahan Undang-Undang No. 40/1999 tentang Pers.

Meskipun negara sedang dilanda krisis ekonomi, gairah masyarakat untuk mendirikan penerbitan pers tidak surut. Hanya dalam dua pekan sejak ketentuan baru diberlakukan, Deppen sudah mengeluarkan 20 SIUPP baru. Hingga tanggal 15 April 1999 jumlah SIUPP baru meningkat lagi menjadi 852, selanjutnya terus meningkat hingga ribuan penerbitan.

Eforia itu juga menggerakkan orang-orang di NTT untuk mendirikan penerbitan pers. Pada tanggal 29 April 1999, sejumlah wartawan yang hengkang dari Harian Pos Kupang mulai menerbitkan Harian Umum Surya Timor di Kupang. Tebalnya 12 halaman. Eforia reformasi mewarnai kehadiran media ini. Selain terungkap dalam motonya, Suara Masyarakat Indonesia Baru, juga terlihat dalam isi, gaya pemberitaan serta cara-cara memperoleh informasi yang benar-benar bebas.

Harian Surya Timor terbit berdasarkan SIUPP No:1114/SK/Menpen/SIUPP/1999, tanggal 23 Maret 1999. Pemimpin umumnya, Servatius Djaminta, pemimpin redaksi, Wens John Rumung, redaktur eksekutif, Alex Dungkal, dan redaktur pelaksana, Fredy Wahon.

Namun, segera pula terasa bahwa mengelola media baru di era reformasi tidak gampang. Baru berjalan dua tiga tahun Surya Timor tampaknya tidak bisa bertahan di Kupang. Sejumlah wartawan yang diandalkan pun hengkang. Pada tahun 2001, redaksi Surya Timor pindah ke Maumere, Kabupaten Sikka. Namanya pun berubah menjadi Surya Flores, kemudian pindah lagi ke Ruteng, Kabupaten Manggarai. Sekarang Surya Timor/Surya Flores tinggal nama.

Pada saat yang bersamaan Harian Pos Kupang menerbitkan tabloid mingguan Kompak. Tapi juga tidak bertahan lama. Orang-orang yang hengkang dari Surya Timor kemudian ada yang mendirikan Harian Independen NTT Ekspres, ada juga yang mendirikan Harian Suara Timor dan Metro Kupang. NTT Ekspres terbit berdasarkan SIUPP No: 1563/SK/MENPEN/SIUPP/1999, tanggal 3 Agustus 1999, dengan moto, Aktual, akurat dan tuntas berlandaskan kasih. NTT Ekspres diterbitkan oleh Yayasan Lentera Kehidupan. Pemimpin umumnya, Ir. Alex Foenay, pemimpin redaksi: Hans Christian Louk, pemimpin perusahaan, Decky Budianto, redaktur pelaksana, Paul Bolla, dan manajer produksi, Anna Djukana. Terbit dengan 12 halaman tujuh kolom, NTT Ekspres pun menghilang dari peredaran sekitar 2002/2003.

Pada tahun 1999 juga terbit Harian Sasando Pos. Pemimpin redaksinya Pius Rengka dan redaktur pelaksana Yos Lema. Harian ini coba tampil sebagai koran ekonomi bisnis di Kupang, tapi juga tidak bertahan. Dalam satu sampai dua tahun saja, Sasando Pos hilang dari peredaran.
Pada tahun 2000 terbit Harian Umum Radar Timor di Kupang. Terdaftar di Pengadilan Negeri Kupang Nomor 65/AN/YS, tanggal 21 Agustus 2000. Motonya, kritis, objektif dan rasional. Pemimpin umumnya, H. Maria Pinto Soares, pemimpin redaksi Fredy Wahon. Terbit 12 halaman dengan ukuran tabloid. Kehadirannya cukup menyaingi Harian Pos Kupang, tetapi akhirnya menghilang sekitar tahun 2004/2005.

Beberapa staf redaksi yang hengkang dari Radar Timor mendirikan Harian Kupang News pada akhir 2003 atau awal 2004.

Pada tahun 2001/2002 terbit pula Harian Cendana Pos di Kupang. Pemimpin umumnya, Drs. Valentinus Seran, pemimpin redaksi, Cyriakus Kiik, dan koordinator liputan Yesayas Petruzs. Tapi tidak bertahan juga, lalu Cyriakus Kiik mendirikan Harian Suara Masyarakat sekaligus menjadi pemimpin redaksinya.

Ketika Harian NTT Ekspres menghilang pada akhir tahun 2002 atau awal tahun 2003, Ana Djukana langsung beralih dengan mendirikan Harian Kursor sekaligus bertindak sebagai pemimpin umum/pemimpin redaksinya. Kursor terdaftar di PN Kupang No. 1/AN/PMT/LGS/2003/PN Kupang, tanggal 21 Maret 2003, dan mulai terbit 1 April 2003. Kursor masih terbit hingga saat ini. Semboyannya, Untuk Keadilan dan Kesetaraan. Fokus pemberitaannya, Kota Kupang dan kesetaraan jender.

Pada pertengahan tahun 2003 juga di Kupang terbit Harian Pagi Timor Express (Jawa Pos Group). Timor Express terbit 16 halaman berwarna masing-masing pada halaman muka dan belakang. Pada tahun 2007, Timor Express merayakan hari ulang tahun (HUT) keempat dan tampaknya akan terus berkembang dan menjadi penyaing berat Harian Pos Kupang. Pemimpin redaksi/penanggung jawabnya, Yusak Riwu Rohi, dan redaktur pelaksana, Simon Petrus Nilli.
Masih banyak lagi media yang terbit pada masa reformasi. Selain harian, banyak juga yang terbit mingguan dan bulanan, baik di Kupang maupun di daerah-daerah.

Contohnya Mingguan Berita Rote Ndao Pos, yang terdaftar di PN Kupang No. 18/AN/YS/LGS/R001/PN.Kpg, tanggal 14 Maret 2001. Dicetak di PNRI Kupang, mingguan ini terbit mulai 2002 dan masih terbit sampai sekarang. Pemimpin redaksi/penanggung jawabnya, Kanis Mone SP, redaktur pelaksana, Mixcris Seubelan.

Juga pernah terbit tabloid mingguan Swara Lembata (cover depan berwarna) mulai 20 Desember 2001, setebal 12 halaman. Alamat redaksinya di Lewoleba, Kabupaten Lembata. Mulai April 2006 Swara Lembata tidak terbit lagi.

Media cetak lainnya adalah tabloid mingguan Flotim Pos/Asas, mingguan Suara Flobamora (Kupang), Duta Flobamora (Waingapu), Sinar Alor Pos (Kalabahi), Ngada Pos (Kupang), Udik (Kupang), Duta Flobamor (Kupang), Alor Pos (Kalabahi), Saksi (Kupang), Marturia (Kupang), Suara Selatan Daya (Kupang), Media Entete (Kupang), Sabana (Waikabubak), Global (Atambua), Buser Timur, Expo Lamaholot (Kupang), Belu Pos (Atambua), Gelora Info (SoE), Bentara (Kupang), Talenta (Kupang), Solusi (Kefamenanu), Lontar (Kupang), Delegasi (Lewoleba), Start Sport (Kupang), Asmara (Kupang), Wunang Pos (Waingapu), Media Info (Larantuka), Biinmaffo (Kefamenanu), Media Rakyat (Ruteng), Tamsis (Kupang), dan yang terakhir mingguan Spirit NTT, yang merupakan kerja sama Harian Pos Kupang dengan sejumlah Pemda di NTT.

Tabloid yang terbit mingguan di NTT umumya berumur pendek. Selain karena tidak didukung modal yang cukup kuat, media-media ini umumnya kalah bersaing atau kurang diminati pembaca. Setelah satu media berhenti terbit, personelnya menerbitkan media baru dengan pemodal yang baru pula.

Namun, satu hal positif yang bisa diambil dari muncul tenggelamnya usaha media cetak di NTT bahwa ternyata orang memiliki jiwa perintis dan minat besar dalam bidang pers. Semangat ini bukan hal baru dalam lintasan sejarah NTT. Hanya di masa lalu para perintis itu terbentur dengan keterbatasan fasilitas.

Tidak hanya di NTT, wartawan NTT juga banyak merintis penerbitan pers nasional. Gerson Poyk dikenal sebagai perintis berdirinya Harian Sinar Harapan pada tahun 1960-an sekaligus menjadi wartawan andalan. Drs. Frans Seda adalah orang yang berada di balik berdirinya Harian Umum Kompas. Aco Manafe, selain menjadi wartawan Sinar Harapan sejak tahun 1968, juga menjadi perintis berdirinya Harian Sore Suara Pembaruan tahun 1989.

NTT juga masih punya nama-nama seperti Petrus Kanisius Pari (Indonesia Raya, Penabur), Hendrik Ola Hadjon (Asas, terbit di Surabaya), Pius Karo (Harian Kompas), Damyan Godho (Kompas), Louis Taolin (Suara Karya), Marcel Weter Gobang (Suara Karya, Surya, Pos Kupang), Cypri Aoer (Suara Pembaruan).

Saat ini pun sejumlah orang NTT tampil sebagai pemimpin media-media terkemuka di Jakarta: Rikard Bagun (Kompas), Piter Gero (Kompas), Cyrilus Kerong (Bisnis Indonesia), Laurens Tato (Media Indonesia), Hermin Kleden (Tempo), , Claudius Boekan (Metro TV), dan masih banyak lagi.

Kehadiran media dan wartawan di NTT akan terus dibutuhkan untuk mendorong pembangunan. Harus diakui masih banyak keluhan mengenai kualitas wartawan di daerah ini. Menjadi tugas perusahaan media dan para wartawan sendiri untuk membenahi diri sehingga kualitasnya semakin baik.

Tidak hanya di media cetak, orang NTT pun harus mulai melirik media elektronik, seperti radio, televisi dan terlebih internet (media online). Media online diramalkan bakal menggeser posisi media cetak.Untuk itu, tidak ada cara untuk bisa menggapainya, selain belajar dan belajar.* (Agus Sape, wartawan Pos Kupang)

Daftar Pustaka
1. Suryomiharjo, Abdurrachman, dkk, Beberapa Segi Perkembangan Sejarah Pers di Indonesia, Jakarta: Penerbit Buku Kompas, Januari 2002.
2. Suranto, Hanif, dkk, Pers Indonesia Pasca Soeharto Setelah Tekanan Penguasa Melemah (Laporan Tahunan 1998/1999), LSPP dan AJI, 1999.
3. Haryanto, Ign dan Setiawan, HW, Pers Diterpa Krisis, AJI dan LSPP, April 1998.
4. Daros, Henri, Karya SVD di Bidang Komunikasi dalam Dalam Terang Pelayanan Sabda (Kenangan Tujuh Puluh Lima Tahun Karya SVD di Indonesia, Provinsi SVD Ende, 1990.
5. Sape, Agustinus, Ketidakadilan Dalam Perspektif 'Asal Omong' Dian (Skripsi), STFK Ledalero, 1996.
6. Godho, Damyan, wawancara, Kupang, 18 Juli 2007.
7. Embuiru, Dr. Herman, SVD, Menelusuri Pendidikan di NTT (Refleksi Sejarah dalam Perspektif Katolik) dalam Perspektif Pembangunan, Dinamika dan Tantangan Pembangunan Nusa Tenggara Timur, Yayasan Citra Insan Pembaru Kupang, 1994.


Sumber: Blog Agus Sape

Hanya Bermodal Semangat

Damyan Godho
Oleh Damyan Godho

PADA
tanggal 1 Desember 2007 usia Surat Kabar Harian (SKH) Pos Kupang genap 15 tahun. Pada momen penting ini, saya bersama seluruh karyawan patut memadahkan syukur kepada Tuhan dan terima kasih kepada para pembaca. Berkat campur tangan Tuhan dan dukungan para pembaca, surat kabar ini bisa tumbuh dan bertahan mencapai tahapan dan kondisi seperti saat ini.

Ketika merencanakan penerbitan Harian Pos Kupang 15 tahun lalu, kami tidak punya apa-apa.  Modal dan kemampuan manajerial untuk mengurusi surat kabar kami tidak punya.  Yang kami punya cuma semangat dan sedikit pengalaman. Kami menyadari bekerja dengan peralatan yang tidak memadai.

Meskipun sudah mengalami banyak kemajuan, harapan yang kami bentangkan dalam visi dan misi ketika mendirikan surat kabar ini sampai saat ini belum terwujud. Visi dan misi Pos Kupang terkait erat dengan upaya mencerdaskan kehidupan bangsa yaitu terciptanya masyarakat NTT yang memiliki budaya baca dan akses terhadap informasi.

Semua kita tahu berapa persen warga atau kepala keluarga (KK) di NTT yang suka membaca. Rasanya belum sampai 5 persen. Sebagai orang yang percaya bahwa membaca itu penting, saya harus katakan bahwa upaya mencerdaskan bangsa itu masih sangat jauh dari harapan.

Kendati demikian, kami harus menggelutinya. Kami  harus menghadapi perjuangan yang sangat berat, sebab mau tidak mau usaha ini bersentuhan  dengan bisnis. Kalau masyarakat tidak bisa atau tidak mau membeli koran, bagaimana usaha ini bisa hidup dan berkembang? Perjuangan itulah yang kami rasakan selama ini.

Pos Kupang didirikan oleh tiga orang, yaitu Valens Goa Doy,  Rudolf Nggai, dan saya sendiri. Valens Doy menangani bagian redaksi, Rudolf Nggai menangani percetakan. Sedangkan saya  mengurusi hal-hal di luar yang diurus kedua orang ini.

Inisiatif mendirikan Harian Pos Kupang bermula pada tanggal 12 April 1992. Pada waktu itu saya sebagai wartawan Kompas di NTT bertemu Harmoko di Bajawa, Kabupaten Ngada. Harmoko datang dalam kapasitas sebagai Ketua Umum DPP Golkar dan Menteri Penerangan RI. Bersama dengan Ansel da Lopez (wartawan Kompas) dan disaksikan Kepala Kantor Wilayah (Kakanwil) Departemen Penerangan (Deppen) NTT, Sinuraya, Harmoko menantang saya untuk mendirikan koran di NTT. Dia berjanji memberikan SIUPP (Surat Izin Usaha Penerbitan Pers).

Sebagai Menpen, Harmoko ingin paling kurang di setiap ibu kota propinsi ada koran harian. Waktu itu hanya ada Surat Kabar Mingguan (SKM) Dian yang terbit di Ende. Saya sendiri pun pernah mendirikan Mingguan Kupang Pos pada tahun 1977, tapi mingguan ini tidak bertahan lama karena keterbatasan dana dan lemahnya manajemen.

Ketika mendapat tantangan Harmoko itu, saya langsung menyatakan siap mendirikan koran harian. Saya menghubungi Valens Goa Doy (Direktur Kelompok Persda-KKG), yang sudah merintis pendirian enam koran daerah di bawah Kelompok Kompas Gramedia (KKG/Persda) dari Sabang sampai Merauke. Dia turut mendirikan Harian Serambi Indonesia di Banda Aceh, Harian Sriwijaya Post di Palembang, Harian Bernas di Yogyakarta, Harian Surya di Surabaya, Tifa Irian di Jaya Pura, dan Post Maluku di Ambon.
Valens sebagai orang NTT memang sudah lama merindukan agar di NTT ada koran harian. Begitu saya kontak, dia spontan datang, mengurus segala  persiapan untuk mendirikan koran ini. Karena itulah saya tidak habis-habisnya berterima kasih kepada Valens (almarhum), karena tanpa dia tidak mungkin Pos Kupang ada.

Pada saat dia tiba di Kupang, kami langsung memulai proses pengurusan SIUPP. Waktu itu lebih dari 10 persyaratan administratif harus kami penuhi untuk penerbitan SIUPP.  Kami bertiga (Valens, Rudolf dan saya) juga menghadap notaris untuk mengurus pendirian PT yang sampai saat ini disebut PT Timor Media Grafika.

Pada tanggal 12 Juli 1992, kami mengajukan permohonan SIUPP kepada Direktorat Jenderal Pembinaan Pers dan Grafika (PPG), Departemen Penerangan RI. Saya sendiri yang mengurusnya di Jakarta.

Sebagai orang Kompas, saya mendapat izin dari Pemimpin Umum Kompas, Jacob Oetama untuk mendirikan koran di daerah ini dengan status tetap sebagai wartawan Kompas.  Ketika saya bertemu Pak Jacob Oetama pada bulan Juli 1992, beliau mengatakan, "Bung, coba-cobalah!" Artinya, mudah-mudahan jalan. Padahal saya berharap Kupang mendapat perhatian seperti koran-koran daerah lainnya yang didirikan Kompas waktu itu. Tapi saya bisa memahami kebijakan ini karena dari sudut bisnis NTT belum menguntungkan.

Karena berbagai kesibukan Harmoko, SIUPP No: 282/SK/Menpen/SIUPP/A.6/1992 tanggal 6 Oktober 1992  itu baru kami terima  pada tanggal 12 Oktober 1992. Saya dan Valens yang menerima SIUPP itu. Begitu mendapatkan SIUPP, Wens John Rumung langsung melamar dari Jakarta untuk menjadi wartawan Pos Kupang.

Bantuan GMIT

Namun, mendapatkan SIUPP tidak otomatis semuanya langsung bisa dimulai. Kami masih harus merekrut wartawan. Pius Rengka ketika itu sebagai dosen Universitas Katolik Widya Mandira (Unwira) Kupang yang juga aktif sebagai koresponden SKM Dian, mulai bergabung dengan kami. Dialah yang menangani perekrutan wartawan dan tenaga-tenaga lainnya. Untuk mendapatkan tenaga-tenaga itu, kami mengumumkan melalui radio dan pasang iklan di koran terbitan Surabaya. Alhasil, sebanyak 300-an orang mengajukan lamaran.

Pada tanggal 1 November 1992, kami mulai mengadakan pelatihan wartawan selama dua minggu. Pelatihan dimulai dari jam 08.00 pagi sampai jam 12.00 malam, melelahkan. Valens Goa Doy bertindak sebagai instruktur tunggal. Hasil dari pelatihan itu, beberapa orang masih bertahan di Pos Kupang sampai saat ini, seperti Dion DB Putra, Beni Dasman, Paul Burin, Ferry Jahang dan Mariana Dohu. Itu juga makanya sejumlah wartawan di sini merasa begitu dekat dan menyebut Valens guru.

Untuk perekrutan, kami juga meminta bantuan Sinode GMIT (Gereja Masehi Injili di Timor). Kami bertemu dengan Pdt. Dr. A A. Yewangoe sebagai Rektor Universitas Kristen Artha Wacana (UKAW) Kupang untuk membantu rekrut tenaga. Sinode menanggapinya dengan mengirim enam sarjana lulusan Fakultas Theologia UKAW, di antaranya Eben Nuban Timo, Esther Gah, Yulius O Lopo  dan Mesakh Dethan. Mereka juga mengikuti pelatihan wartawan angkatan pertama.

Kami juga merekrut loper. Tapi karena mereka menganggap menjual koran sebagai pekerjaan hina, mereka menjual dengan menyembunyikan koran dalam kantong plastik. Mereka malu-malu. Padahal pada tahun 1966-1967, saya menjadi loper Harian Kompas di Kupang. Waktu itu saya sedang menjadi anggota DPRD GR Propinsi NTT. Sehabis sidang DPRD, saya langsung pergi ke Kantor Pos untuk mengambil koran lalu menjualnya. Karena itu bisa dimengerti kalau sampai sekarang orang-orang Kupang masih mengenal saya sebagai loper Kompas.

Setelah melalui tiga kali menerbitkan nomor percobaan, pada tanggal 1 Desember 1992 Pos Kupang secara resmi terbit enam hari seminggu dengan 12 halaman. Bentuknya tabloid berukuran 41 X 30 cm, disesuaikan dengan kemampuan mesin cetak milik Rudolf Nggai. Motonya, Suara Nusa Tenggara Timur.

Pada waktu kami mempersiapkan percetakan, kami diberi tempat oleh Rudolf Nggai di bangunan reyot berdinding bebak, yang sebenarnya warung. Di bangunan tersebut tidak ada WC. Kami hanya diperlengkapi dengan empat unit komputer tua yang tiada hari tanpa ngadat (hang).

Saya harus mengambil komputer, meja dan rak di rumah saya, dibawa  ke kantor. Wartawan harus bekerja antre dengan dukungan perangkat kerja telex Antara dan jaringan koran daerah KKG (Persda). Meski demikian, di tempat itu jugalah kami dikunjungi Harmoko pada tahun 1993.

Begitu mulai terbit, kami langsung menghadapi masalah baru yang sifatnya sangat politis. Kehadiran Pos Kupang tidak begitu saja diterima. Muncul banyak sinisme yang menganggap penerbitan Pos Kupang sebagai pekerjaan orang gila. Gila karena kami tidak punya apa-apa, tetapi berani menerbitkan koran apalagi mengklaim sebagai Suara Nusa Tenggara Timur.

Masalah lainnya berkaitan dengan figur Valens dan saya yang memang pernah berkecimpung di partai politik. Muncul banyak kecurigaan bahwa Pos Kupang terbit untuk memenuhi kepentingan politik kami berdua. Apalagi Pos Kupang hadir menjelang suksesi gubernur NTT waktu itu. Tantangan itu kami hadapi dan menganggapnya sebagai hal wajar.

Tantangan yang lebih serius justru datang dari dalam diri Pos Kupang sendiri. Sarana kerja yang serba terbatas. Bagaimana membuat masyarakat NTT menjadikan koran sebagai salah satu dari sepuluh kebutuhan pokoknya; suatu upaya yang tidak gampang berhadapan dengan kebiasaan orang NTT yang kurang gemar membaca. Bahkan sampai dengan usia 15 tahun ini, masalah yang tidak pernah terselesaikan dalam perusahaan ini adalah masalah etos kerja, disiplin yang memprihatinkan, sikap mapan, puas dengan apa yang ada, lemahnya spirit dari setiap karyawan untuk membangun cakrawala baru.

Sebagai pendiri dan sebagai pemimpin umum, kadang-kadang saya sedih menyaksikan sejumlah orang yang tidak mau berubah. Mereka tidak sadar bahwa menghadapi perubahan di luar yang begitu cepat dan tak terduga membutuhkan kesadaran dari setiap karyawan di dalam perusahaan ini.

Harus disadari bahwa posisi Pos Kupang saat ini tidak lagi seperti ketika dia pertama kali hadir pada tahun 1992. Kalau pada tahun 1992, Pos Kupang satu-satunya koran harian di daerah ini, maka ketika memasuki era reformasi posisi itu langsung berubah. Pos Kupang hanya salah satu di antara sekian banyak media baru yang bermunculan.

Kehadiran media-media ini juga sebenarnya terinspirasi oleh kehadiran Pos Kupang. Sejak tahun 1992, Pos Kupang menjadi semacam persemaian wartawan dan pekerja-pekerja media di Indonesia. Tercatat sebanyak 198 orang pernah bekerja di Pos Kupang, 98 orang di antaranya wartawan, sekarang bekerja di mana-mana di seluruh Indonesia. Bahkan ada yang menjadi pemimpin media baru, baik di NTT maupun di Jakarta. Ada  yang menjadi politisi (anggota DPRD, wakil bupati) dan aktivis LSM. Ada juga yang bekerja sebagai PNS. Akan tetapi, semua itu belum membuat Pos Kupang cukup bangga karena visi Pos Kupang adalah membentuk masyarakat NTT yang gemar membaca.

Mengembangkan Pos Kupang pada tahun-tahun awal tidak gampang. Selain berhadapan dengan kurangnya minat baca di semua lapisan masyarakat NTT dan daya beli yang rendah, kondisi wilayah NTT yang berpulau-pulau sungguh menjadi masalah yang sangat berat. Yang jelas usaha surat kabar juga bisnis. Dia harus dikembangkan secara bisnis. Tetapi kenyataan yang kami hadapi bahwa kami tidak punya pasar. Kami juga tidak meminta bantuan pemerintah daerah (Pemda). Pasar itu kami kembangkan sendiri. Jadi bisa dibayangkan betapa beratnya mengembangkan usaha koran di NTT.

Untuk mendistribusi koran ke daerah-daerah  (Flores, Sumba dan Alor), kami menggunakan jasa pesawat terbang setiap hari. Itu pun kami tetap menghadapi kendala. Selain sering tidak terangkut, koran yang kami distribusi hanya bisa menjangkau ibukota-ibukota kabupaten.

Kami juga sempat mendistribusikan Pos Kupang ke Bali, Jawa Timur dan Jakarta. Untuk mendukung pemberitaan kami juga menugaskan wartawan ke daerah-daerah tersebut. Tapi kemudian terasa bahwa upaya ini tidak efisien. Karena itu, kami hanya berkonsentrasi pada pengembangan di wilayah NTT.

Oplah kami awalnya mencapai 3.000-an. Kondisi itu bertahan sampai tahun 1995; suatu tingkat oplah yang tidak memungkinkan untuk keberlangsungan suatu usaha penerbitan pers. Jangankan bisa maju, bertahan pun tidak. Pendapatan kami semata-mata dari hasil penjualan koran. Iklan waktu itu sama sekali belum ada. Iklan kami baru mulai tumbuh pada saat kami memuat iklan dari Toko Tiflos. Namun tetap saja sampai saat ini penghasilan kami dari iklan belum ideal sebagai salah satu sumber penghasilan di perusahaan penerbitan pers. Penghasilan kami masih didominasi oleh penjualan koran; suatu usaha koran yang sebenarnya tidak sehat.

"Sonde usah pakai iklan ju, orang tahu," begitu jawaban para pengelola toko di Kupang ketika petugas iklan Pos Kupang menawarkan jasa pemasangan iklan kepada mereka.

Dalam tiga tahun pertama Pos Kupang jatuh bangun. Tak satu pun bank yang percaya pada Pos Kupang ketika mengajukan permohonan kredit karena usaha ini dianggap tidak memiliki prospek masa depan.

Kami benar-benar mengalami krisis pertama pada tahun 1994. Kami tidak punya apa-apa lagi karena manajemen yang kurang baik. Kami mencatat piutang yang tidak tertagih sebanyak Rp 1,7 miliar. Kami menurunkan orang-orang untuk melakukan penagihan, tapi mereka tidak menemukan orang-orangnya.

Meski begitu, Pos Kupang tetap bertahan. Karena kehabisan kertas koran, kami mulai mencetak koran pakai kertas warna-warni yang kami beli di toko-toko di Kupang. Penampilan ini malah menimbulkan kesan pada pembaca seolah-olah Pos Kupang sudah sangat berkembang.

Dalam keadaan bisa bertahan itu, Kelompok Kompas Gramedia (KKG) melakukan survei dan melihat pertumbuhan, prospek dan daya tahan kami. Maka pada April 1995 saya langsung menawarkan merger dengan KKG. Tawaran itu ternyata diterima. Merger dengan KKG dilakukan pada tanggal 30 Juli 1994 dengan akta notaris No. 158, dan direalisasikan mulai tanggal 9 Maret 1995. Merger dilakukan karena Rudolf Nggai menyatakan ingin berkonsentrasi pada bisnis utamanya. Karena itu, kami terpaksa bubar. Tinggal saya dan Valens Goa Doy.

Pada saat Rudolf Nggai mundur, kami langsung mengalami krisis cash flow. Saat itu tingkat pendapatan karyawan sangat menyedihkan. Ya, antara Rp 60 ribu sampai Rp 100 ribu perorang per bulan ditambah uang makan. Hal yang membanggakan saya adalah pada saat krisis itu sebagian wartawan angkatan pertama rela gaji mereka dipotong 50 persen asalkan Pos Kupang tetap terbit.

Dalam beberapa bulan pun proses merger selesai. Kami keluar dari tempat lama yang disediakan Rudolf di Jl. Soeharto No.53 pada tanggal 1 Maret 1995, bertepatan dengan liburan lebaran. Kami pindah ke Jl Kenari No. 1 Naikoten 1 Kupang, kantor yang kami tempati sampai saat ini.

Kantor yang sekarang ini awalnya rumah toko milik Suwarno Suyanto. Ketika kami masih bingung mencari tempat, dia menawarkannya dengan biaya kontrak Rp 10 juta per tahun untuk jangka waktu lima tahun. Selanjutnya, KKG membeli bangunan dua lantai dan tanah ini dengan harga Rp 500 juta. Ini yang saya sebut penyelenggaraan Tuhan.

Pada waktu merger, kami hanya memiliki satu mesin cetak tua dengan fasilitas kredit bank karena sudah dinilai memiliki prospek. Kredit ini pun diperoleh atas dukungan Gubernur Herman Musakabe yang bertindak sebagai Ketua Pengawas Bank NTT waktu itu. Dengan uang kredit itu, kami membeli mesin cetak dan sarana kerja lainnya. Pinjaman itu kami lunaskan dalam tiga tahun kemudian.

Pada tahun 1996, kami mulai mendapat bantuan tenaga dari KKG/Persda), yaitu Marcel Weter Gobang, Januari 1996, diikuti Hyeronimus Modo, mulai 1 Februari 1996. Sebelumnya kami juga mendapat tenaga percetakan Setya MR.

Untuk efisiensi waktu itu, kami mendapat inspirasi untuk coba mengembangkan Sistem Cetak Jarak Jauh (SJJ) di Ende mulai 25 Maret 1998, bekerja sama dengan Percetakan Arnoldus Ende. Hal ini tidak terencanakan, tetapi menjadi blessing indisguise (berkat terselubung) karena beberapa bulan kemudian Indonesia dilanda krisis moneter. Distribusi koran kami ke daerah-daerah tertolong oleh cetak jarak jauh ini.

Cetak jarak jauh yang kami kembangkan itu ternyata menjadi satu-satunya yang dikembangkan koran daerah ketika itu, sehingga pada suatu hari saya ditelepon oleh Dirjen PPG Deppen, menanyakan teknologi cetak jarak jauh itu. Pada waktu itu Deppen sedang membahas peraturan cetak jarak jauh.

Kemudian KKG juga ingin agar Pos Kupang mengubah format dan memperbaiki mutu percetakan. Maka kami mendapat bantuan mesin cetak web pada tahun 1999. Gedung baru untuk mesin cetak web ini diresmikan pada Februari 2000. Akibatnya kami melakukan percetakan dalam dua versi. Di Ende Pos Kupang tetap dicetak dalam ukuran tabloid, sedangkan di Kupang dalam ukuran broadsheet.

Selanjutnya pada tahun 2000 kami pun mendapat bantuan satu unit mesin web dari KKG untuk Flores. Maka cetak jarak jauh kami pindahkan dari Ende ke Maumere menggunakan mesin web ini. Sejak itu ukuran koran Pos Kupang di Flores sama dengan di Kupang yaitu broadsheet. Bedanya, di Flores tetap dicetak hitam putih, sedangkan di Kupang dicetak warna untuk halaman-halaman luar.

Dengan cetak jarak jauh di Flores, kelihatan ada prospek di Flores. Maka mulai 1 November 2004, kami juga merintis cetak jarak jauh di Ruteng sampai sekarang. Kami juga bermimpi untuk membangun cetak jarak jauh di Sumba. Mudah-mudahan mimpi itu bisa terealisasi pada waktu mendatang. Apa yang kami lakukan ini intinya untuk mengatasi kesulitan distribusi.

Selain cetak jarak jauh, sejak tahun 1997 kami juga sudah memiliki website. Sejak itulah berita-berita Pos Kupang bisa diakses di seluruh dunia. Website ini mengambil bagian dalam website Harian Kompas. Di balik upaya ini kami ingin agar Pos Kupang menyebar luas.

Sampai dengan usia 15 tahun ini, Pos Kupang tidak pernah lepas dari masalah, bahkan akan terus menghadapi masalah. Selain masalah distribusi, sebagai media cetak Pos Kupang menghadapi revolusi teknologi multi-media yang sedang menyerbu dunia saat ini. Kendati demikian, sebagai pemimpin di sini saya tidak cemas. Saya yakin media cetak tidak akan pernah tergusur karena multi-media pun dimulai dengan membaca.

Yang menjadi persoalan bagi kami adalah pengembangan diri orang-orang yang mengelola Pos Kupang. Ada yang menulis berita belum benar, bahasa yang jelek dan logika yang tidak jalan. Yang terakhir inilah sebenarnya yang mengancam kami. Karena itu, kami merasa perlu setiap orang dalam perusahaan ini mengoreksi diri. Setiap karyawan harus peka terhadap perubahan yang serba cepat saat ini.

Sayangnya, ada di antara kami yang belum sadar akan hal ini. Saya tidak membutuhkan semuanya. Cukup 50 persen saja dari karyawan memiliki visi maju, maka kami berani mengatakan bahwa kami tidak takut perubahan. Kami sudah banyak melakukan perubahan selama ini. Tapi kalau ada yang tidak mau berubah, dia akan mati (If you don't change, you die!).

Saat ini pun hadir begitu banyak media di NTT, selain Pos Kupang. Terhadap kehadiran media-media ini, Pos Kupang patut berbangga karena Pos Kupang ikut  mendidik jurnalis dan pekerja-pekerja pers yang bisa merintis media baru.

Dalam posisi sebagai salah insan pers di NTT, saya bangga dengan kehadiran media-media ini. Kita sama sekali tidak alergi terhadap kehadiran mereka. Kehadiran mereka justru memperkuat Pos Kupang dalam mencapai visi dan misinya membangun budaya baca di NTT. Kehadiran media-media ini membantu kami untuk saling mengoreksi.

Kami senantiasa sadar bahwa mati hidupnya usaha ini sangat tergantung pada masyarakat pembaca. Kami tidak mungkin hidup tanpa pembaca, baik dengan membeli dan memasang iklan Pos Kupang maupun melalui kritik dan sarannya untuk kemajuan Pos Kupang. Kami yakin dengan demikian Pos Kupang masih bisa merayakan ulang tahunnya pada waktu-waktu mendatang. Dirgahayu Pos Kupang. Ad multos annos.*

Sumber: Buku 15 Tahun Pos Kupang, Suara Nusa Tenggara Timur (editor Dion DB Putra, Tony Kleden, Maria Matildis Banda)

Biodata
 
DAMYAN Godho lahir di Boawae-Flores, 25 Maret 1945. Menyelesaikan SR Boawae (1957), SMP Kota Goa Boawae (1960) dan SGA Ndao-Ende (1963). Pernah kuliah di IKIP Malang Cabang Kupang, Fakultas Hukum Berdikari (cikal bakal Fakultas Hukum Undana), tapi drop out.
 

Ayah empat anak ini sarat pengalaman. Dia pernah menjadi Guru SD Frateran Kupang (1963), karyawan Perusahaan Daerah Perdagangan NTT (1966), loper koran (1967-1968), kontraktor bangunan (1969),  pedagang ternak kecil-kecilan (awal 1970-an), wartawan Harian Kompas (1975), Pemimpin Redaksi Mingguan Kupang Post (1977) dan akhirnya mendirikan SKH Pos Kupang sekaligus menjadi Pemimpin Umum/Pemimpin Redaksi (1992). Setelah merger dengan KKG, menjadi Direktur PT Timor Media Grafika (1995-sekarang).  Motto: Percaya diri, peduli sesama dan jujur.
 

Damyan Godho juga matang di bidang organisasi. Dia menjadi anggota dan pengurus PMKRI Cabang Kupang (1963-1965), Ketua KAMI Konsulat NTT (1967),  Anggota Panitia Persiapan pembentukan Kabupaten Nagekeo (1967),  aktif di Partai Katolik (1967) lalu menjadi pengurus Komisariat Daerah NTT (1969). Dalam usia sangat muda ia  menjadi anggota DPR GR NTT (1967-1971), aktif di Partai Demokrasi Indonesia (1973) dan menjadi salah satu Wakil Ketua DPD PDI NTT (1976-1982). Ketua Cabang PWI NTT (1997-2008).
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Best WordPress Themes