Tergulingnya Raksasa Tradisional

Kembang api bersemburat indah di langit Stadion Vienna. Michael Ballack terduduk lesu tak berdaya. Wajahnya murung menyelimuti duka. Bekas darah masih tersisa di pelipisnya. Darah yang seakan sia-sia tertumpah karena akhirnya dalam pertandingan final itu dia kalah. Matanya menerawang jauh, memandang aneka bunga-bunga api, yang bertaburan di angkasa untuk menghormati sang juara. Ia melihat kapten lawan, Iker Casillas, mengangkat tinggi-tinggi piala juara. Alangkah bahagianya andaikan ia yang juga kapten boleh mengangkat piala itu.

”Kami sudah sampai di final, tapi kami kalah. Tentu kami kecewa luar biasa,” kata Ballack. Ballack adalah seorang lelaki yang kuat. Tapi ia pernah berkata, ”Dalam hal bola, seorang lelaki juga bisa menangis.” Malam itu tidak hanya dia yang menangis. Orang-orang Jerman juga menangis bersamanya.

Ballack adalah tumpuan utama kesebelasan Jerman. Menurut Franz Beckenbauer, Ballack-lah yang membedakan Jerman dari Spanyol. Spanyol memang tim hebat. ”Tapi mereka tidak mempunyai chef di lapangan. Ya, Spanyol tidak memiliki kapten yang tangguh,” kata Beckenbauer.

Waktu Jerman melawan Portugal, Ballack menunjukkan, dia adalah chef yang sesungguhnya. ”Ballack seakan hendak mengatakan, siapa hendak mengalahkan Jerman, dia harus terlebih dahulu mengalahkan saya,” kata Beckenbauer lagi.

Beckenbauer berharap agar Ballack bisa memahkotai prestasinya dengan menjadi juara di Vienna. Ternyata Ballack tampil bukan sebagai calon juara. Sama sekali tak tampak ia adalah chef lapangan tengah. Malah sering kali ia hanya marah-marah.

Di malam final itu, Jerman di bawah Ballack memang tak pantas menjadi juara. Komentator sepak bola Jerman sendiri pun mengakui, Jerman belum masak menjadi juara. Komentator-komentator luar mengkritik, Jerman selayaknya kalah.

”Jerman telah melempar handuk. Jerman jauh di bawah Spanyol. Jerman seperti kesebelasan anak-anak sekolah yang harus bermain melawan kesebelasan bernama Spanyol,” kata Giovanne Elber, mantan pemain Stuttgart yang sekarang menjadi komentator televisi di Brasil.

Jerman adalah langganan juara. Itu karena mereka mempunyai keutamaan-keutamaan dasar sepak bola yang tradisional, seperti mentalitas yang kuat, disiplin yang tinggi, pantang menyerah. Belum lagi mereka terkenal mempunyai fisik yang kuat. Semuanya itu ternyata tidak cukup, ketika mereka harus menghadapi Spanyol yang bermain dengan begitu modern dan dengan intelegensi dan teknik yang tinggi. Belum lagi, Spanyol menunjukkan sepak bola bukan lagi permainan individu, tapi permainan tim. Memang Spanyol telah meninggalkan gaya permainan matadornya yang individual dan beralih ke permainan yang mengandalkan kekompakan tim.

Perubahan ini terkait dengan sejarah sport di Spanyol sendiri. Di bawah diktator Franco, individualitas amatlah dipentingkan. Tak mengherankan bila dalam kurun selanjutnya, Spanyol berjaya dalam olahraga individual, seperti tenis, formula 1, dan balap sepeda. Baru akhir- akhir ini Spanyol juga berjaya di bidang olahraga beregu, seperti bola tangan, basket, dan hoki.

”Perubahan itu terjadi sebagai akibat dari sebuah modernisasi masyarakat,” kata pelatih basket Spanyol, Pepu Hernandez. Perubahan itu juga merambat ke sepak bola. Tim Spanyol di bawah Luis Aragones jelas memperlihatkan, sepak bola modern hanya bisa dimainkan dalam kebersamaan.

Pengabdian kepada tim inilah yang membuat sepak bola Spanyol menjadi indah. Mereka bermain dengan passing pendek dan jeli. Tempo permainan juga berubah-ubah, cepat, lambat, dan kemudian jadi cepat lagi. Mereka seakan memainkan sepak bola Brasil yang lambat, tapi indah, sekaligus memadukannya dengan kecepatan yang dituntut sepak bola modern.

Sergio Ramos dan kawan-kawannya bermain tegas dan lugas. Tapi, tak ada kesan kekerasan militerisme dalam setiap gerak mereka. Malah mereka menampakkan suatu romantisme sepak bola yang indah. Betapa eloknya passing Xavi. Dengan permainan demikian, Jerman yang mengandalkan keutamaan sepak bola klasik ternyata dibuat kalang kabut tak karu-karuan.

Sepak bola adalah cermin dari dinamika masyarakat. Dari sepak bola Spanyol kita boleh menarik refleksi untuk kehidupan bermasyarakat kita. Dalam abad modern ini tak cukuplah bila kita membangun diri dengan berpegang pada keutamaan lama, yang berasal dari nilai-nilai klasik dan tradisional kita.

Kita masih harus terus mencari intelegensi, trik, teknik, dan taktik baru, yang mungkin tak ada sambungannya sama sekali dengan keutamaan dan nilai-nilai lama kita. Dan, itu harus kita cari bukan secara individual, tapi dalam kebersamaan. Hanya dengan demikian kita akan menjadi seperti Spanyol modern yang sanggup menggulingkan raksasa tradisional Jerman.
(Oleh Sindhunata Wartawan Pencinta Sepakbola)
 
Sumber: Kompas.Com

Daya Hidup dalam Krisis

Dalam peringkat FIFA, Italia berada di urutan ketiga setelah Brasil dan Argentina. Artinya, Italia adalah nomor satu di Eropa. Menjelang Piala Eropa 2008, dalam peringkat UEFA, Italia juga nomor satu.

Italia memang hebat. Hanya pada tahun 1970 mereka ditekuk Brasil di bawah Pele, 1-4. Setelah itu, hampir 40 tahun lamanya, Italia tidak pernah menderita kekalahan dengan selisih skor tiga. Malah melawan Belanda, sejak 1978, mereka tidak pernah kalah.

Maka ketika digasak Belanda dengan skor 0-3, Italia seakan kehilangan dirinya. Peristiwa memalukan ini tidak hanya diderita ”Squadra Azzurra”, tetapi juga oleh rakyat Italia. ”Squadra Azzurra telah melukai hati orang-orang Italia,” tulis koran-koran Italia hampir senada.

Kekalahan itu nyaris seperti sebuah kematian. Namun tidak lama kemudian, Italia ternyata berhasil menggebuk Perancis dan lolos ke perempat final. Rakyat Italia pun meledak dalam harapan. Koran La Repubblica menulis, kemenangan itu adalah kebangkitan dari mereka yang sebelumnya disabdakan telah mati. Dan La Gazzetta dello Sport berkomentar, ”Grazie Azzuri, sungguh sebuah mukjizat, kami berada kembali di firdaus.”

Betapa singkat jarak antara kematian dan kebangkitan, antara neraka dan surga. Hanya 90 menit! Itulah melankoli orang-orang Italia. Hanya kemenangan anak kesayangan mereka, Squadra Azzurra, yang dengan cepat membangkitkan mereka dari kematian menuju kebangkitan.

Krisis ternyata penting bagi kesebelasan Italia. Kolumnis La Gazzetta dello Sport, Fabio Licari, menulis, Squadra Azzurra dapat merebut juara bila terimpit krisis.

Dari krisis ke krisis

Menjelang Piala Dunia 2006, sepak bola Italia geger karena skandal penyuapan dan pengaturan skor pertandingan. Pelatih Marcello Lippi beserta dua pemainnya, Gianluigi Buffon dan Fabio Cannavaro, dituntut mundur. Kendati atau malah justru karena krisis-krisis tersebut, Italia akhirnya juara dunia.

Mendekati Piala Eropa 2008, Licari khawatir jangan-jangan Italia tak bakal jadi juara. Soalnya, hampir tak ada satu krisis pun yang mendera mereka. Semuanya berjalan mulus.

Tiba-tiba mereka terpukul karena Fabio Cannavaro cedera. ”Kami kehilangan pemimpin di lapangan,” kata Daniele De Rossi. Memang kehadiran Cannavaro amatlah vital. Dia tidak hanya pembela pertahanan yang tangguh, tetapi juga dirigen yang mengarahkan permainan.

Itulah krisis pertama yang mendatangi Italia. Berikutnya datang lagi krisis, ketika oleh Belanda prestasi kejayaan mereka dicoret dari sejarah dan mereka dilumat 0-3. Kemudian Italia bermain dengan amat pas-pasan ketika ditahan imbang Romania, 1-1.

Syukurlah akhirnya krisis itu tiba. Hal ini karena krisis tersebut justru memberi daya hidup bagi mereka. ”Kekalahan membuat kita kuat”, itulah dogma sepak bola Italia, yang terus diajarkan Pelatih Italia Roberto Donadoni setelah Italia terbenam dalam krisis. Dogma itu ternyata benar. Italia mengirim Perancis ke jurang kehancuran, 2-0.

”Ini semuanya hanya permulaan,” kata bek Gianluca Zambrotta. Artinya, baru sekarang Italia menunjukkan siapa sebenarnya mereka. Dan bagi fans Italia, mereka adalah juara dunia. Maka, jalan ke arah juara pun mulai kelihatan rata. Luca Toni mengatakan, Italia telah memperoleh kembali roh kejuaraan dunia 2006. ”Kita kembali hadir, dan sekarang kita pun akan melewati sampai jalan ini berakhir,” ujarnya. Akhir jalan itu jelas: final di Vienna, 29 Juni nanti.

Kiranya duel di Vienna nanti memang tidak mudah bagi Spanyol. Namun jika tidak menang sekarang, lalu kapan lagi? Spanyol adalah negara dengan klub-klub raksasa bola, seperti Real Madrid dan Barcelona. Namun 44 tahun lamanya, sejak Piala Eropa 1964, Spanyol belum pernah meraih juara apa pun. Malah sejak 1984, mereka belum pernah lolos dari perempat final pada kancah internasional.

”Kita mesti melupakan masa lalu,” kata Pelatih Spanyol Luis Aragones. Memang, kalau tidak, mereka akan terjerat takdir yang tidak pernah menjadikan mereka juara. ”Inilah saat datangnya kebenaran,” kata Xabi Alonso.

Toh Alonso sempat berkata, ”Italia selalu mempunyai problem pada babak awal, tetapi kemudian mereka selalu menjadi lebih baik.” Tampak Alonso masih juga diliputi keraguan. Ia seakan belum sepenuhnya yakin bahwa kesebelasannya bisa melawan takdir sejarah. (Oleh Sindhunata, wartawan pencinta sepakbola)

Sumber: Kompas.Com

Keajaiban Membutuhkan Waktu

Sepak bola bukan sekadar permainan keras. Sepak bola juga bagian dari alam rasa. Tak heran jika sepak bola bisa bersentuhan dengan musik. Malahan mungkin musik bisa memberikan inspirasi pada permainan sepak bola.

Bukan rahasia, pemain bola dunia suka mendengarkan musik sebelum pertandingan. Itu terjadi juga pada pemain kesebelasan Belanda. Di antara mereka, Wesley Sneijder dikenal sebagai disc jockey (DJ) yang mempersiapkan musik dari iPod-nya.

Musik itu kemudian diperdengarkan lewat pengeras suara sehingga bisa dinikmati kawan-kawannya. ”Saya sudah minta izin kepada trainer, dan ia setuju. Pada tiga pertandingan internasional, kami sudah mencobanya. Ternyata musik itu memberi atmosfer yang baik bagi kami,” ujar Sneijder.

Guus Hiddink juga suka musik. Menjelang pertandingan melawan Yunani, setelah kalah telak dari Spanyol, Hiddink dan anak-anaknya berada di kota Salzburg, kota musikus besar Wolfgang Amadeus Mozart.

Teringat Mozart, Hiddink langsung terinspirasi oleh bahasa musik untuk melukiskan kekalahan timnya. ”Melawan Spanyol, sebenarnya kami memainkan musik yang indah. Namun, akhirnya kami terbenam karena memainkan nada-nada yang sumbang,” katanya.

Mozart ternyata juga menjadi inspirasi luar biasa bagi pelatih sekaliber Giovanni Trapattoni, yang sekarang melatih Irlandia. ”Siapa mendengarkan Mozart, dia akan bermain bola dengan lebih baik,” kata Trapattoni.

Menurut Trapattoni, dari musik klasik, seperti musik Mozart, pemain bola bisa belajar banyak tentang tempo, irama, dan struktur permainan. Juga tentang bagaimana permainan harus dikendurkan, kemudian dikencangkan lagi. ”Orang akan belajar logika untuk membaca permainan. Saya sendiri percaya, lewat musik, saya tumbuh menjadi pemain bola sekaligus manusia,” katanya.

Trapattoni menyayangkan, sekarang pemain muda tak menyukai musik klasik. Pendapat itu kiranya tidak seluruhnya benar. Kalangan muda juga mencintai musik walau bukan musik klasik. Contohnya adalah Pelatih Kroasia Slaven Bilic.

Bilic, pelatih termuda dalam Piala Eropa 2008, tidak hanya penggemar, tetapi juga pemain musik. Ia adalah gitaris band metal Rawbau. Bilic memang juga seorang roker, yang dikenal amat berapi-api bila memainkan gitarnya.

Bilic amat mengagumi roker Marko Perkovic. Di negerinya, Perkovic—yang nama artisnya adalah Thompson—dikenal sebagai roker berhaluan kanan. Salah satu lagu ciptaan Thompson yang digemari Bilic adalah Lijepa Li Si, yang artinya betapa indah dirimu. Lirik lagu ini berkisah tentang romantisme cinta akan tanah air.

Setelah melawan Austria, pemain-pemain Kroasia tertunduk dan murung. Mereka kelihatan tidak puas karena hanya menang 1-0. ”Menyanyilah,” perintah Bilic. Dan, mereka pun menyanyikan lagu kecintaan akan tanah air ciptaan Thompson. ”Lijepa Li Si adalah lagu indah, kami dan fans Kroasia suka menyanyikannya,” katanya.

Bilic adalah pelatih berjiwa muda. Ia bertato dan memakai anting-anting. Ia yakin memiliki otoritas alami.

”Untuk menunjukkan otoritas itu, saya tidak perlu gembar- gembor bahwa saya adalah bos dan lainnya harus tutup mulut serta menurut. Bagi saya, otoritas adalah pengetahuan, tak lebih tak kurang,” katanya.

Selain sebagai orang bola dan roker, Bilic juga orang yang berjiwa patriotik. Ia pernah bilang, pemain bola ibarat serdadu yang bertempur untuk negaranya. ”Sekarang pun saya tahu bahwa negara membutuhkan saya,” katanya.

Sabtu dini hari WIB nanti, Bilic dan anak-anaknya perlu berhati-hati karena pemain-pemain Turki pun siap bertempur membela negaranya. Memang begitu menggulung Ceko dengan amat mengejutkan, nasionalisme Turki pun ikut bangkit.

Harian Turki, Milliyet, menyebut kemenangan fantastis itu sebagai ”lagu kepahlawanan”. Dan beginilah tulis koran setempat, Türkspor, ”Ibumu telah melahirkan kalian untuk hari semegah ini. Pantas bila orang mendirikan tugu peringatan untuk kalian. Permainan kalian akan menjadi isi sejarah. Tentangnya kami akan bercerita kepada anak cucu. Allah akan meratakan jalan kalian ke final.”

Kemenangan Turki memang luar biasa. Pelatih Denmark Sepp Piontek, yang pernah mengarsiteki Turki pada awal tahun 1990-an, memuji habis kehebatan mereka. Waktu itu Piontek dibantu asisten Fatih Terim, pelatih Turki sekarang. ”Dulu pemain Turki selalu menyongsong pertandingan dengan penuh semangat. Namun, begitu ketinggalan, mereka langsung patah semangat,” ujar Piontek.

Kondisi berubah. Dalam Piala Eropa ini, dua kali mereka ketinggalan dan dua kali pula mereka menyusul dengan mengejutkan. Malah mereka menggilas Ceko dengan begitu mengenaskan. ”Pemain Turki telah membuat apa yang tidak mungkin menjadi mungkin,” kata Piontek.

Terim adalah pengagum Piontek. Di kantornya, di Istanbul, terpancang tulisan yang menjadi moto Piontek 20 tahun lalu, ”Tak ada yang tidak mungkin. Keajaiban membutuhkan waktu.” Bagi Turki, waktu itu telah datang. Dan mungkin datang lagi kalau nanti mereka bisa menggulung Kroasia. (Oleh Sindhunata, wartawan pecinta sepakbola)

Sumber: Kompas.Com

Universalisme Sepak Bola

Akhirnya sportlah yang menang! Itulah kata-kata bijak yang pernah diucapkan Guus Hiddink. Kata-kata ini seakan sebuah ramalan. Rusia adalah underdog. Namun, jika mereka dapat bermain bola dengan cemerlang, akhirnya merekalah yang menang. Sebaliknya, betapapun Belanda bertabur bintang, jika bermain dengan jelek, mereka pun terusir pulang.

Bagi Hiddink, bola sebagai sport memang berdiri di atas segalanya. Di atas nasib, bahkan di atas nasionalisme. Siapa ingin menang karena percaya kepada nasib atau keberuntungan, ia akan ditekuk oleh mereka yang memainkan bola dengan gemilang.

Sport menuntut profesionalisme dan fairness total. Dan Hiddink rela disebut pengkhianat kepada negaranya, Belanda, jika itu dilakukannya demi nilai profesionalisme dan fairness yang dituntut oleh sport.

Belakangan Hiddink menarik kembali kata pengkhianat itu. ”Pengkhianat adalah kata yang jelek. Kata itu tidak ada dalam kamus saya. Pers yang melontarkan kata itu, dan saya terperangkap, lalu keluarlah kata pengkhianat itu dari mulut saya,” katanya.

Apa pun halnya, pendirian Hiddink kiranya sesuai dengan prinsip bahwa profesionalisme, fairness, dan sportivitas adalah nilai-nilai universal yang tidak boleh dikorbankan dalam situasi apa pun, termasuk ketika seorang dituntut untuk berempati kepada nasib bangsanya.

Nilai-nilai universal itu tak pernah menghancurkan nasionalisme. Nilai-nilai itu malah mengembangkan dan membuat nasionalisme lebih terbuka dan dewasa. Dari kasus ”pengkhianatan Hiddink”, kiranya kita boleh menarik paralel untuk memahami nasionalisme politik.

Nasionalisme yang dewasa adalah nasionalisme yang terbuka, khususnya terhadap tuntutan hak-hak asasi yang universal. Kita akan membuat nasionalisme kita kerdil dan kekanak-kanakan jika demi nasionalisme kita ”mengkhianati” tuntutan hak asasi yang universal.

Ke Rusia sendiri, Hiddink membawa nilai-nilai sepak bola yang sebelumnya tidak ada di sana. Anehnya, nilai-nilai dari luar itu tidak meniadakan sepak bola Rusia, tetapi malah memberi wajah nasional bagi persepakbolaan di sana.

Asisten Hiddink, Igor Kornejev, bilang, ”Guus telah mengubah pikiran dunia sepak bola Rusia.” Sebelumnya, para pemain Rusia tidak mempunyai respek terhadap kesebelasan nasional. Mereka lebih mencintai klub-klub mereka sendiri. ”Organisasi sepak bola nasional kacau-balau. Sekarang iklimnya berubah. Para pemain suka bermain untuk kesebelasan nasional,” kata Kornejev.

Menurut Kornejev, sepak bola Rusia telah kehilangan satu generasi pemain. Soalnya, sepak bola mereka banyak dikuasai pemain asing. Tahun 2006, misalnya, Spartak Moskwa pernah hanya memainkan dua pemain Rusia di lapangan. Dalam situasi ini, pemain Rusia yang berusia 18-22 tahun hampir tak mempunyai kesempatan untuk berkembang.

Hiddink membuat master plan, di tahun-tahun mendatang pemain asing harus dikurangi. Tahun 2010, setiap klub direncanakan hanya boleh mempunyai empat pemain asing. Pendeknya, ia berusaha agar sepak bola Rusia kembali memiliki wajah Rusia sendiri.

Rencana ini mendapat sambutan positif. Bahkan, mantan Presiden Vladimir Putin juga ikut menyokongnya. Klub-klub setempat dibenahi dan diperkuat. Salah satu contohnya adalah klub Zenit St Petersburg. Gasprom Company, perusahaan yang menguasai 85 persen produksi gas alam nasional, sanggup menjadi tulang punggung finansial bagi klub yang diasuh oleh Pelatih Belanda Dick Advocaat itu. Upaya itu sudah memetik hasil: Zenit keluar sebagai juara Piala UEFA tahun ini.

”Akan datang waktunya, pemain-pemain hebat Rusia tidak akan merumput lagi di Italia, Inggris, atau Prancis, tetapi di Rusia sendiri,” kata Advocaat meramal. Ramalan ini berarti, klub-klub sepak bola Rusia akan makin otonom. Liga yang otonom pasti juga akan memberikan sumbangan besar bagi kokohnya kesebelasan nasional.

Tidak usah menunggu nanti, sekarang pun liga sepak bola Rusia sudah memberi sumbangan yang amat berarti bagi kesebelasan nasional. Hampir semua pemain Rusia untuk Piala Eropa kali ini datang dari klub-klub setempat sendiri.

”Lihatlah nama-nama pemain Rusia dan lihatlah pula klub asalnya. Siapa yang berpengalaman main di Liga Champions? Dibandingkan dengan pemain Belanda, kami bukan apa-apanya,” kata Hiddink sebelum pertandingan melawan Belanda.

Ternyata anak-anak Hiddink bermain jauh lebih baik daripada Belanda. Di samping mengetengahkan power football, mereka juga memainkan bola dengan enteng dan lincah. Mereka membangun rantai pertahanan yang tak tergoyahkan, mampu merebut permainan di lapangan tengah, dan cepat mementahkan serangan lawan. Lebih dari itu, mereka bermain dengan amat gembira.

Semua itu adalah permainan yang asli Belanda. Maka ada yang bilang: jika Belanda berkaca, mereka akan melihat Rusia. Ya, Hiddink adalah pelatih Belanda. Pasti ia telah memfotokopi permainan Belanda bagi Rusia. Ternyata fotokopi ini malah lebih baik dari aslinya. (Oleh Sindhunata, wartawan pecinta sepakbola)

Sumber: Kompas.Com

Kenangan akan Cordoba

Tahun 1978 di Stadion Cordoba. Waktu itu Josef Hickersberger, Hans Krankl, dan timnya membela Austria menghadapi Jerman Barat pada babak kedua Piala Dunia di Argentina. Pertandingan ini memang tidak menentukan bagi Austria. Menang atau kalah, mereka tersingkir.

Toh Austria memberikan perlawanan mati-matian. Semula perlawanan ini kelihatan sia-sia. Gawang mereka jebol oleh Karl-Heinz Rummenige. Untung, Berti Vogts melakukan gol bunuh diri. Skor jadi 1-1. Krankl berhasil menambah kemenangan Austria, tetapi tak lama kemudian pemain Jerman, Bernd Hoelzenbein, berhasil menyamakan kedudukan, 2-2. Pertandingan tinggal dua menit, dan gawang Sepp Maier pun jebol oleh tembakan Krankl. Skor 3-2 untuk Austria.

Kegembiraan meledak sampai ke seluruh pelosok Austria. Sampai saat ini warga Austria masih mengingat suara penyiar radio Edi Finger yang melaporkan terjadinya gol itu dari pinggir lapangan: ”Krankl datang, ia menusuk ke daerah berbahaya… dan ia menembak… Goool, gool, gool, gool! Luar biasa, saya seakan gila rasanya. Krankl menembak, dan 3-2 untuk Austria, tuan-tuan dan nyonya-nyonya, mari kita berpeluk-pelukan gembira….” Suara itu kemudian diputar berulang-ulang dan diperdengarkan di mana-mana.

Cordoba 1978 telah menjadi peristiwa bersejarah bagi rakyat Austria. Gol Helmut Krankl dikenang bukan hanya sebagai kemenangan sepak bola, tetapi juga peristiwa yang mengembalikan harkat diri Austria. Austria memang mengakui kehebatan negara Jerman. Namun, di balik kekaguman ini tersembunyi perasaan minder. Gol di Cordoba telah melepaskan mereka dari perasaan rendah diri itu.

Menjelang pertandingan melawan Jerman, Cordoba pun terdengar kembali di kota-kota Austria. Peristiwa 21 Juni 1978 di Cordoba mengisi hampir semua koran mereka. Di kafe-kafe, di stasiun kereta, di rumah-rumah makan , orang tak bisa diam tentang Cordoba. Cordoba menjadi slogan perjuangan.

Bagi warga Austria, Cordoba berarti ”Kami bisa menembak mati Jerman”. Sekarang pun di lorong-lorong kota Vienna orang meneriakkan slogan, ”Jerman, Jerman, bagimu semuanya telah berlalu, Vienna akan jadi Cordoba, schallalala.”

Tak hanya warga biasa, pemain-pemain Austria juga di- hantui peristiwa Cordoba. ”Cordoba adalah bagian dari sejarah kami. Sebagai pemain-pemain muda, kami juga ingin menciptakan sendiri sebuah Cordoba,” kata kapten kesebelasan Austria, Andreas Ivanschitz.

Pemain depan Roland Linz tak kalah bersemangat, ”Setelah Cordoba, sekarang kami akan membuat sensasi di Vienna.”

Dan rekannya, Emanuel Pogatez, menambahkan, ”Ini adalah kesempatan dalam hidup kami. Kami dapat menulis sejarah kami sendiri tentang Cordoba.”

Jika para pemain sedang dilanda histeria Cordoba, tidak demikian halnya dengan Hickersberger. Pelatih Austria ini justru khawatir, histeria itu bisa membuat pemain Austria lupa diri. ”Austria adalah negara merdeka. Kita tidak butuh pembebasan,” katanya. ”Cordoba tak punya peran apa-apa dalam pertandingan kita nanti.”

Hickersberger justru meminta para pemainnya menahan diri dan berani rendah hati. Ia sadar, Austria hanyalah tim pinggiran. Mereka telah dikalahkan oleh Kroasia, dan prestasinya melawan Polandia pun belum bisa dibanggakan. Selain itu, ia mengingatkan, Jerman adalah Jerman. Maksudnya, kendati sempat sempoyongan, Jerman selalu bisa bangkit dan mengganas di babak berikutnya.

Asisten Hickersberger, Andreas Herzog, juga mengingatkan pemainnya agar mereka melupakan Cordoba dan berkonsentrasi pada pertandingan saja. Menurut Herzog, kemenangan tak dapat dibeli dengan apa pun, juga dengan kenangan akan Cordoba. Lebih penting, para pemain mati-matian berupaya mengerahkan seluruh dayanya dan menggunakan otak serta kecerdasannya untuk menang.

Toh Herzog mengakui, melawan Jerman selalu memberikan pengalaman yang luar biasa bagi Austria, apalagi dalam pertandingan yang demikian menentukan. Di Cordoba, kemenangan mereka atas Jerman sudah memberikan demikian histeria kepada rakyat Austria, padahal dengan kemenangan itu mereka tetap tersingkir.

Bayangkan, jika sekarang mereka menang dalam pertandingan yang demikian menentukan nanti di Vienna. Itu berarti membuat Jerman terdepak. ”Jika itu terjadi, Austria pun akan terbakar oleh api kebanggaan,” kata bos bola persatuan sepak bola Austria, Friedrich Stickler.

Memang Austria sadar akan keterbatasannya, tetapi mereka juga ingin mengikuti Piala Eropa ini sampai sejauh mungkin. Kalau impian itu tidak tercapai, sekurangnya mereka telah mencapai dua target: tidak tersingkir secara menyakitkan seperti Swiss, dan bisa membuat Jerman meradang.

Siapa tahu peristiwa Cordoba nanti terulang kembali di Vienna? (Oleh Sindhunata, wartawan pecinta sepakbola)

Sumber: Kompas.Com


Virus Oranje

Semula kesebelasan Belanda bukanlah favorit. Predikat ini sungguh pahit. Sebab selama 20 tahun terakhir percaturan bola internasional, baru kali ini kesebelasan ”Oranje” tak menduduki tempat unggulan.

Prediksi ini sekarang berbalik 180 derajat. Setelah menggulingkan juara dunia Italia, 3-0, Belanda mendadak difavoritkan ke final. Tidak hanya itu, anak-anak asuhan Marco van Basten juga dipuji sebagai kesebelasan yang telah mempertontonkan apa sesungguhnya sepak bola modern.

Ada cukup alasan mengapa semula Belanda tidak difavoritkan. Dalam kancah sepak bola Eropa, pemain-pemain Belanda tak banyak memberi harapan. Kalaupun ada, pemain yang dipandang hebat paling-paling hanya Ruud van Nistelrooy dan Edwin van der Sar. Atau di bawah mereka adalah Robin van Persie dan Wesley Sneijder.

Bahkan dua pemain tangguh, Clarence Seedorf dari AC Milan dan Mark van Bommel dari Bayern Muenchen, menolak bergabung. Pers menganggap absennya kedua pemain itu sebagai kegagalan diplomasi Van Basten menggaet pemain-pemain potensial Belanda.

Ini masih ditambah cedera yang menghantui kesebelasan Oranje. Karena cedera, Ryan Babel dari Liverpool terpaksa harus absen total dari turnamen. Arjen Robben tiba-tiba juga cedera. Sementara Robin van Persie belum total sembuh.

Melawan Italia, Belanda mesti siap menelan pil pahit. Begitu suara pesimistis dari sementara pengamat bola di Belanda. Ramalan ini 100 persen meleset. Justru Belanda yang hampir tidak memberi kesempatan bernapas bagi Italia. Permainan Belanda seakan memojokkan Italia menjadi seperti mesin tua yang tak berfungsi lagi.

La nottata più nera, malam tergelap bagi ”Squadra Azzurra”, begitu tulis koran La Gazzetta dello Sport. Belanda telah mencemplungkan Italia dalam malam tanpa harapan. Sebaliknya, malam tanpa harapan bagi Italia itu adalah malam terang dan membebaskan bagi Belanda.

Sudah lama Belanda belum pernah menang melawan Italia. Terakhir mereka menang lawan Italia, 2-1, saat bermain di Piala Dunia 1978 di Argentina. Bayangkan, 30 tahun lamanya mereka harus menanti. Baru sekarang, dalam Piala Eropa 2008 ini, Belanda dapat merasakan buah penantian mereka.

Maka pantas, begitu gol Van Nistelrooy mengoyak gawang Gianluigi Buffon, permainan Belanda tiba-tiba menjadi serba tak terduga. Seakan sebuah tanggul telah jebol, dan permainan mereka pun mengalir seperti air bah. Ya, seakan roh kemenangan 30 tahun lalu di Argentina mendadak menaungi mereka, dan gawang Italia pun ambrol lagi dengan gol-gol indah dari Wesley Sneijder dan Giovanni van Bronckhorst.

Pemain-pemain Belanda juga tak membayangkan bahwa mereka bisa bermain begitu dahsyat. ”Sungguh suatu mimpi. Rasanya tak bisa kami bermain bola lebih baik daripada permainan kami melawan Italia itu,” kata Rafael van der Vaart.

Van Basten menyebut permainan melawan Italia itu historis. Memang sebagai pemain, Van Basten adalah bintang. Namun sebagai pelatih, ia belum menunjukkan kualitas yang hebat. Baru dalam pertandingan melawan Italia itu ia terbukti berhasil membentuk kesebelasan Belanda yang sangat disegani. Sekarang ia layak disebut berhasil baik sebagai pemain maupun sebagai pelatih.

Bagi Van Basten, permainan itu historis juga dalam arti bahwa ia berhasil membawa Belanda kembali ke jati diri sepak bolanya, yakni sebuah total football. Total football ini adalah permainan Ajax di bawah Rinus Michels yang berjaya di Eropa tahun 1970-an. Oleh Michels, sistem itu kemudian diterapkan pada permainan Belanda.

Total football, yang 30 tahun lalu diperagakan Johan Cruijff dan kawan-kawannya, seakan hidup kembali di stadion di Bern, ketika anak-anak Van Basten menjungkirkan Italia ke jurang ratapannya. Prinsip total football adalah setiap pemain harus selalu siap berada di posisi yang terus-menerus berganti. Tak ada yang mangkal dalam posisi yang lebih kurang permanen.

Lihatlah bagaimana misalnya Van Bronckhorst, man of the match malam itu, dengan gigih membela pertahanan. Lalu, begitu mendadak ia maju ke depan menjadi pengumpan yang jitu. Malah dengan kejelian nalurinya, ia juga membuat gol. Atau Dirk Kuyt, penyerang yang tiba-tiba dengan sigap mundur ke belakang ketika pertahanan Belanda terancam.

Pemain-pemain Belanda tak pernah berusaha mengacau permainan lawan. Memang salah satu prinsip dasar total football bukan bagaimana permainan lawan dirusak, tetapi bagaimana permainan sendiri dikembangkan sejauh mungkin. Justru itulah yang membuat permainan Belanda sportif, karena itu juga enak dilihat.

”Marilah kita berharap agar Belanda terus menebarkan virusnya,” begitu komentar Terry Butcher, mantan pemain Inggris yang sekarang menjadi asisten pelatih kesebelasan Skotlandia. Memang sudah lama publik bola rindu akan sepak bola yang indah dan efektif seperti diperagakan Belanda. (Oleh Sindhunata, wartawan pecinta sepakbola)

Sumber: Kompas.Com

Hidup dengan Dua Hati

GOL ke gawang Polandia itu seharusnya ia rayakan dengan selebrasi kegembiraan. Ternyata bukan demikian yang dibuat oleh Lukas Podolski. Setelah menjebol gawang Artur Boruc, wajah Podolski nyaris tanpa ekspresi.

Begitu pertandingan usai, Podolski saling bertukar kostum dengan Mariusz Lewandoski, lawan yang tadi berusaha menghentikan gerakannya. Lalu ia melangkah dengan hening. Sejenak ia mampir ke sudut lapangan, menyalami ayah, beberapa sanak, dan pamannya yang khusus datang dari Polandia.

Podolski adalah turunan Jerman yang dilahirkan di kota Gliwice, Polandia. Tahun 1980-an, sekitar sejuta turunan Jerman di Polandia kembali ke Jerman. Podolski bersama orangtuanya ikut dalam gelombang itu.

”Saya punya keluarga besar di Polandia, lebih besar daripada di Jerman. Dua-tiga kali setahun saya berkunjung ke sana. Bertemu dengan keluarga dan teman-teman saya dulu. Saya mencintai kota kelahiran saya, saya menyukai Polandia dan manusianya. Di rumah kami selalu bicara bahasa Polandia,” kata Podolski.

Ujung tombak Jerman ini mengakui punya dua hati di dadanya. Satu hati untuk Jerman, lainnya untuk Polandia. Itu sebabnya mengapa ia tidak terlalu bergembira kendati ia mestinya bergembira dengan dua gol yang disarangkannya. Gol itu adalah kegembiraan untuk satu hatinya, tetapi sekaligus kesedihan untuk hatinya yang lain.

Hidup dengan dua hati itu tampaknya selalu menyisakan kegundahan. Memang, begitulah yang sering dialami oleh mereka yang hidup dalam pengasingan. Dengan amat mengharukan, hal itu pernah diungkapkan dalam surat-menyurat Paul Celan dan Nelly Sachs, dua penyair Jerman turunan Yahudi, yang hidup di pengasingan karena pengejaran Nazi dulu. Celan hidup di Paris, dan Sachs di Stockholm.

Kedua penyair hidup dalam kesepian. Keduanya sama-sama merindukan tanah air. Tetapi, mereka tak mempunyai tanah air yang mempersatukan mereka. Andaikan ada, tanah air itu hanyalah sebuah unsichtbare Heimat, tanah air yang tak terlihat. Oleh tanah air yang tak terlihat inilah mereka berdua merasa terikat. Persahabatan mereka terasa begitu dekat, tetapi demikian jauh mereka saling terletak sehingga mereka tak bisa merasakan hidup dan penderitaan masing-masing di bumi tempat kaki mereka berpijak.

Celan dan Sachs mengatakan, untung mereka bisa menulis puisi. Kalau tak ada puisi, kegundahan mereka tak bakal terungkap. Memang dalam hidup sehari-hari, kegundahan itu selalu tersembunyi juga pada seorang pemain bola bernama Podolski.

Syukur bahwa Podolski membuat dua gol ke gawang Polandia malam itu. Gol ini membuka dengan terang, siapa dia sesungguhnya: manusia yang hidup dalam dua tanah air, yang terpisah dalam kegembiraan dan kesedihan, kemenangan dan kekalahan. Gol itu bagaikan puisi yang berdendang tentang dua hati, yang selama ini tersembunyi dan mengoyak-ngoyak pribadi Podolski.

Dari peristiwa Podolski makin jelas bahwa sepak bola bukan sekadar adu otot. Sepak bola menyertakan seluruh diri manusia, termasuk emosi dan riwayat pribadinya. Secara intuitif, seorang awam bola pun dapat menangkap kedalaman itu. Itu, misalnya, terungkap dalam pernyataan Christina Stuemer, penyanyi Austria, yang dipercaya oleh Österreichen Fussball Bundes (OFB), Persatuan Sepak Austria, untuk membawakan lagu-lagu resmi Piala Eropa kali ini.

Christina mengaku, ia tidak mengerti apa itu off-side. ”Tetapi bagi saya, sepak bola adalah cermin yang memantulkan emosi-emosi. Bola mengingatkan saya pada hidup dengan segala pencapaian dan kegagalannya, puncak dan jurangnya.”

Menurut Christina, bola dan musik itu paralel. ”Bola dan konser sama-sama mengandalkan kerja keras. Orang harus memberikan dirinya 120 persen, sementara sukses dan tidaknya pertunjukan bola atau musik juga bergantung pada apakah kita bisa menyertakan emosi publik. Sungguh, di sini emosi sangatlah berperan,” kata penyanyi Austria itu.

Sumber emosi adalah perasaan. Karena itu, bola juga dekat dengan perasaan. Dan, faktor perasaan inilah yang amat diperhatikan oleh pelatih Jerman Joachim Loew. Loew mengartikan bola bukan sebagai sport, tetapi permainan. Sport lebih berkenaan dengan bagaimana orang mengerahkan tenaganya untuk menang, sedangkan dengan permainan, orang berusaha menggunakan segenap potensinya, baik tenaga, akal, atau emosinya untuk bisa menang.

Karena itu, Loew memerintahkan agar dalam duel yang paling keras pun, pemain-pemain Jerman bisa mengontrol diri dan emosinya. Untuk itu, Loew tak segan-segan mengadopsi teknik permainan basket. Sebab, dari basket orang bisa belajar bagaimana melakukan body-contact yang agresif, tetapi tetap menjaga diri agar jangan sampai melakukan foul.

”Sepak bola memang menegangkan. Berada di pinggir lapangan dalam pertandingan besar, saya juga amat tegang. Tapi dalam batin, saya selalu berusaha untuk tenang,” kata Loew. Setelah bermain gemilang melawan Polandia, Loew kiranya bisa lebih tenang hatinya ketika nanti Podolski dan kawan-kawannya menghadapi Kroasia. (Oleh Sindhunata, Wartawan Pencinta Sepak Bola)

Sumber: Kompas.Com

Menang karena Chaos

PIALA Eropa 2008 menorehkan sejarah baru. Dan, sejarah itu adalah sejarah Turki. Tiga kali mereka hampir mati. Tiga kali pula mereka hidup lagi. Dahsyatnya, peristiwa itu terjadi pada saat pertandingan tinggal beberapa menit lagi.

Ingatlah, di Basel, Swiss, orang mengira pertandingan berakhir seri, 1-1. Tiba-tiba Arda Turan menjebol gawang Swiss pada menit kedua perpanjangan waktu. Di Geneva, 15 menit sebelum pertandingan berakhir, Turki sudah ketinggalan 0-2 di belakang Ceko. Toh akhirnya, mereka menggilas Ceko dengan 3-2 setelah kapten Nihat Kahveci membobol gawang Ceko pada menit ke-88 dan ke-90.

Korban paling mengenaskan adalah Kroasia. Dalam perpanjangan waktu, pada menit ke-119, Kroasia merasa pasti akan keluar sebagai pemenang lewat gol Ivan Klasnic. Di luar dugaan, tiga menit kemudian, pada menit ke-122, Semih Senturk menyamakan kedudukan dan akhirnya Kroasia tergulung lewat adu penalti dengan skor 1-3.

Permainan Turki memang sulit dipahami. Mereka seakan memainkan bola yang prinsipnya adalah chaos. Kendati demikian, mereka bisa menang karena kepercayaan diri mereka yang sangat besar. ”Kami percaya akan diri kami. Siapa pun lawan kami, kami takkan panik,” kata Hamit Altintop menjelang pertandingan melawan Jerman nanti.

Kata Pelatih Kroasia Slaven Bilic, ”Turki mempunyai sesuatu yang istimewa, yang dibutuhkan orang untuk bermain sepak bola.” Mungkin sesuatu yang istimewa itu adalah kepercayaan diri tadi sebab dengan kepercayaan diri, mereka sanggup terus bermain dan menang, walau permainan mereka terjerumus ke dalam chaos dan ketidakteraturan.

Pelatih-pelatih lawan mengatakan, sulit membaca permainan Turki. Mereka melihat Turki tidak mempunyai taktik dan sistem yang jelas. Yang muncul di permukaan adalah kegigihan mereka bermain dalam chaos dan ketidakteraturan.

Tak ada cara lain untuk menghadapi permainan yang berani berisiko dengan chaos itu kecuali konsentrasi penuh. ”Konsentrasi, konsentrasi sampai peluit berakhir, itulah yang harus kami buat untuk mengalahkan Turki,” kata manajer timnas Jerman, Oliver Bierhoff.

Kendati Turki kehilangan banyak pemain inti akibat akumulasi kartu, Michael Ballack tetap mengingatkan, Turki adalah lawan yang amat berbahaya. Buat Turki, masuk ke semifinal adalah prestasi. Maka, dalam pertandingan lawan Jerman, mereka akan bermain tanpa beban. Ini tentu membuat permainan mereka makin liar, edan, dan tak terduga.

Ballack juga mengingatkan, Turki mempunyai mentalitas Jerman. Ballack agaknya benar karena sepak bola Turki mewarisi dasar-dasar sepak bola yang telah diletakkan oleh Jupp Derwall dan Sepp Piontek, yang keduanya adalah orang Jerman.

Tahun 1984 Derwall, mantan pelatih kesebelasan nasional Jerman, datang ke Turki dan mengasuh Galatasaray. Karena jasanya di bidang bola, ia mendapat gelar Doktor Kehormatan di Universitas Ankara. Tahun 1990 ia diminta untuk melatih kesebelasan nasional, tetapi ia menolak dan merekomendasikan Sepp Piontek untuk jabatan itu.

Di Turki, baik Derwall maupun Piontek dijuluki sebagai ”bapak-bapak keberhasilan”. ”Jerman adalah guru kami,” kata mantan Pelatih Turki Mustafa Denizili. Harap diingat, kesebelasan Turki kali ini juga mempunyai pemain kelahiran Jerman, yaitu Hamit Altintop yang bermain di Bayern Muenchen dan Hakan Balta di Galatasaray.

Menonton Turki, lebih-lebih pada saat akhir, memang amat menegangkan sehingga walau memuji anak-anak Pelatih Fatih Terim, pers Turki meminta, mereka tidak lagi bermain dengan mengandalkan kejutan dan keajaiban.

”Terim tercinta, melawan Jerman, kami ingin menang dengan normal. Menang tanpa keajaiban. Kami semua tegang dan capai setengah mati dengan kemenangan pada menit-menit terakhir itu,” begitu tulis kolumnis Hasan Lemal dari koran Turki, Milliyet.

Tetapi, mengapa keajaiban harus dilarang? Dan, siapa yang bisa melarang keajaiban terjadi? Toh, Turki sudah tiga kali mati dan tiga kali hidup kembali. Oleh karena itu, kalau kali ini keajaiban terjadi lagi, bibir rakyat Turki akan menggumam kembali dalam doa ini: syukur kepada Allah!
(Oleh Sindhunata, Wartawan Pencinta Sepak Bola)

Sumber: Kompas.Com

Standing Ovation Usai Tonton Soegija

Mgr Albertus Soegijapranata SJ bersama Bung Karno (istimewa)
MANADO, TRIBUN - Luar biasa. Bisokop 21 di Manado Town Square, Kamis (7/6/2012) penuh sesak. Di antara jejalan para penonton film itu terdapat Gubernur Sulawesi Utara Dr Sinyo Harry Sarundajang, Wakil Gubernur Djauhari Kansil, Sekdaprov, Rachmat Mokodongan, Uskup Manado Mgr Joseph Suwatan dana para pejabat di daerah ini.

Kedatangan mereka untuk memenuhi undangan nonton bareng pemutaran perdana film Soegija dari GP Anshor Sulut yang dikomandoi Benny Ramdhani. Acara ini didukung PMII Komisariat STAIN dan Tribun Manado.

Benny dalam pembukaan nonton bareng di Studio 1 mengatakan, generasi baru GP Ansor perlu belajar dari sosok Soegija. "Romo Soegija layak mendapat tempat terhormat, karena selama ini sejarah seolah menenggelamkannya. Sejarah bukanlah milik kaum mayoritas, suku, agama atau ras tertentu, GP Ansor perlu belajar nilai-nilai tersebut," ujar anggota DPRD Sulut ini disambut tepuk tangan.

Pernyataan Soegija tentang 100 persen Katolik, 100 persen Indonesia perlu ditiru dan diaplikasikan dengan menyatakan 100 persen Sulawesi Utara, 100 persen Indonesia.

Melalui film ini banyak pembelajaran yang menurutnya bisa diambil seperti pengorbanan akan nilai kemanusiaan dan multikulturalisme. "Vatikan pertama kali dan satu-satunya di negara Eropa yang saat itu mengakui kemerdekaan Indonesia atas perjuangan Romo Soegija," imbuhnya.

Ia juga mengkritisi kelompok tertentu yang seolah-seolah kebenaran dan Indonesia milik kelompok tersebut. " Mari kita lawan mereka dengan cara cinta kasih bukan dengan kekerasan seperti yang mereka lakukan, kita melawan hegemoni dan kekerasan dengan cinta kasih, satu merah putih satu Indoensia," katanya tegas.

Uskup Manado Mgr Joseph Suwatan mengapresiasi inisiatif GP Ansor dalam penyelenggaraan noreng ini. Sosok Uskup Mgr Soegijapranata SJ menjadi pemuda yang memiliki cita-cita dan memilih menjadi gembala. Kiprah Soegija menurut Suwatan dikenal dengan kebhinekaan, nilai kemanusiaan serta pluralisme. "Saya ini  dengar sosok beliau sejak saya seminari semester dua atau frater, Romo Soegija dikenal dengan postur tubuh yang kecil namun lincah," ujarnya.

Uskup mengakui dari film ini banyak hal yang bisa diambil, maka ia pun memiliki antusiasme untuk noreng dan itu adalah kali pertama ia menonton di 21 Cineplex Mantos selama 50 tahun dalam karya imamat. Meski film diputar pukul 17.00 Wita, sejak pukul 15.00, Uskup Manado sudah bersiap dari Keuskupan dan berangkat ke Mantos.

Gubernur Sarundajang pun menyampaian apresiasi kepada GP Ansor dan media yang telah mendukung acara ini, Tribun Manado. "Film ini mengandung pelajaran berharga. Mengajarkan tentang perjuangan," kata Sarundajang.

Ia mengatakan, film ini juga menunjukkan bahwa Indonesia adalah bangsa yang ajaib. Menurutnya, berbagai macam budaya, suku, dan agama ada. "Meski berbeda kita tetap saling menghormati dan menjunjung pluralisme. Dan Sulut bisa menjadi contoh," tuturnya.

Menurut Sarundajang, dengan menonton film ini menunjukkan bahwa apa yang terjadi di Sulut adalah hal yang benar. Kata Sarundajang, kerukunan yang terjadi di Sulut sudah merupakan jalan yang tepat.

"Dengan demikian semakin memperkuat keyakinan kita sebagai anak bangsa. Ini juga membuktikan bahwa kita mengakui empat pilar bangsa yakni Pancasila, UUD 45, Bhineka Tunggal Ika, dan NKRI,"  ucap Sarundajang.

Wakil Gubernur Dr Djouhari Kansil yang juga ikut nonton mengatakan, film ini mengajarkan nilai-nilai perjuangan. "Apalagi bagi anak muda saat ini. Yang belum nonton silakan, dan ambil pelajaran dari situ," tutur Kansil.

Sekdaprov Rachmat Mokodongan, ikut berkomentar soal film besutan Garin Nugroho ini. Ia mengatakan, film ini mengajarkan bahwa untuk menuju satu tujuan hal yang diperlukan sebagai modal adalah persatuan dan kesatuan. "Tidak melihat asal usul, suku, dan agama, semua berjuang untuk mendapatkan kemerdekaan," tutur Mokodongan.

Film ini menyajikan suasana dengan minim musik iringan membawa penonton ke era 1940-an. Penonton menyimak dengan serius terutama saat beberapa kalimat yang diucapkan pemeran utama Nirwan Dewanto sebagai Soegija sarat dengan nilai-nilai.

Demikian saat pemeran Mariyem bersama jurnalis asal Belanda berboncengan  dengan latar belakang alam dan senja yang romantis, penonton spontan bersorak, seolah momen tersebut bagian dari diri. Atau saat pemeran remaja yang buta huruf dengan keunikan wajah dan ekspresinya bisa mengundang gelak tawa.

Butet Kertarajasa juga sukses mengurai urat tawa penonton, setiap dialog yang disampaikan membuat penonton terpingkal. Selain itu ada beberapa kisah pedih para tokoh, seperti kehilangan, berpisah dan momen-momen lain yang menyentil rasa haru penonton.

Sutradara film Soegija sukses memberikan suguhan penuh nilai dan ibarat masakan mampu memberikan menu lengkap, mengenyangkan sekaligus menyehatkan. Dan penonton pun puas. (aro/rob)


Bukan Film Asal Jadi


PENONTON film Soegija benar-benar membeludak. Menurut Andy Zalira, perwakilan dari Studio 21 Mantos mengatakan, studio penuh sesak dan diisi peserta nonton bareng lebih dari 290 orang.

Ia mengaku senang GP Anshor dan Benny Ramdhani memrakarsi nonton bareng ini. "Ini ada kaitan dengan nasionalisme. Ini soal kebersamaan," ujarnya, kemarin.

Ia menyebut banyak film nasional yang asal jadi. Tapi Soegija merupakan film yang berkualitas. "Saya harap banyak film yang masuk itu berisi tentang kepahlawanan dan pendidikan. Ini sangat baik untuk generasi muda,"ujarnya.

Uskup Manado Joseph Suwatan MSC mengaku kagum dengan film yang baru ditonton itu. Ada pesan kemanusiaan yang mendalam.

"Saya melihat seorang tentara yang menjadi berubah ketika ia melihat bayi dalam keranjang padahal ia mengira bapak bayi yang ditembak itu menyembunyikan senapan. Uskup Soegijapranoto juga membantu langsung masyarakat yang menderita saat itu," ujarnya.

Ia melihat perjuangan uskup ini sungguh luar biasa. Soegijapranoto memanfaatkan jabatan uskupnya sehingga duta Vatikan bisa memahami dan membuat Vatikan menjadi negara yang pertama mengakui kemerdekan Indonesia. Ini memengaruhi negara-negara lain. "Ia juga rela memindahkan keuskupan Semarang ke Yogyakarta karena pemerintahan Indonesia berpindah ke daerah itu."katanya.

Mengenai antusiasme warga yang menonton, monseignur berharap informasi dari film tentang kemanusiaan, kesatuan bisa di wartakan. "Apalagi dalam situasi akhir-akhir ini di mana orang mulai melihat perbedaan. Mudah-mudahan film ini bisa menggunggah," tandasnya.

Benny juga mengaku bersyukur ada sosok seperti Uskup Soegijapranoto. Menurut Benny, uskup mengajarkan banyak hal hal soal kebersamaan, kebangsaan dan nilai-nilai universal lain.

Benny berharap dengan antusiasme warga yang menonton akan tercipta satu rumusan bersama untuk memerjuangkan nilai yang dibawa oleh Uskup Soegijapranoto. "Mari kita kalahkan kemunafikan. Rumah kita hanya satu yaitu Indonesia. Dasar negara kita hanya satu yaitu Pancasila," tandasnya. (dma)

Sumber: Tribun Manado Jumat 8 Juni 2012 halaman 1



Film SOEGIJA

Sutradara : Garin Nugroho
Produser Eksekutif : Y I Iswarahadi SJ
Produser :
Djaduk Ferianto
Murti Hadi Wijayanto SJ
Tri Giovanni
Pemain :
Nirwan Dewanto
Annisa Hertami Kusumastuti
Butet Kertaradjasa
Olga Lidya
Wouter Braff
Wouter Zweers


Sinopsis


Film ini ingin melukiskan kisah-kisah kemanusiaan di masa perang kemerdekaaan bangsa Indonesia (1940-1949). Adalah Soegija (diperankan Nirwan Dewanto) yang diangkat menjadi uskup pribumi dalam Gereja Katolik Indonesia. Baginya kemanusiaan itu satu, kendati berbeda bangsa, asal-usul, dan ragamnya.

Dan perang adalah kisah terpecahnya keluarga besar manusia. Ketika Jepang datang ke Indonesia (1942), Mariyem ( Annisa Hertami) terpisah dari Maryono (Abe), kakaknya. Ling Ling (Andrea Reva) terpisah dari ibunya (Olga Lydia).

Tampaknya keterpisahan itu tidak hanya dialami oleh orang-orang yang terjajah, tetapi juga oleh para penjajah. Nobuzuki (Suzuki), seorang tentara Jepang dan penganut Budhist, ia tidak pernah tega terhadap anak-anak, karena ia juga punya anak di Jepang. Robert ( Wouter Zweers), seorang tentara Belanda yang selalu merasa jadi mesin perang yang hebat, akhirnya juga disentuh hatinya oleh bayi tak berdosa yang ia temukan di medan perang. Ia pun rindu pulang, ia rindu Ibunya.

Di tengah perang pun Hendrick (Wouter Braaf) menemukan cintanya yang tetap tak mampu ia miliki karena perang. Soegija ingin menyatukan kembali kisah-kisah cinta keluarga besar kemanusiaan yang sudah terkoyak oleh kekerasan perang dan kematian.


Biografi Soegija
Monseigneur Albertus Soegijapranata SJ., atau lebih dikenal dengan Soegija. Lahir 25 November 1896 di Kampung Kepatihan Meten Surakarta. Putra kelima dari perkawinan Karjasoedarma dan Soepijah. Mereka adalah abdi dalem Kraton Surakarta.

Dari Surakarta, keluarga Karjasoedarmo pun pindah tempat tinggal ke Wirogunan, Yogyakarta. Soegija kecil sekolah di Sekolah Rakyat di Ngabean. Pindah lagi ke Sekolah Rakyat Pakualaman. Lalu pindah lagi ke HIS Wirogunan. Di HIS Wirogunan inilah, Soegija mengenal Rm F van Lith SJ., yang datang ke Yogyakarta untuk mencari murid yang mau melanjutkan sekolah di Muntilan.

Tahun 1909, Soegija masuk sekolah di Muntilan. Dan, pada 24 Desember 1909 Soegija dibaptis dengan nama permandian Albertus. Tahun 1910, Soegija melanjutkan sekolah di Kweekschool voor Javaanse Onderwijneers, sekolah ini baru saja dibuka waktu itu.

 Soegija lulus ujian penghabisan di Kweekschool dan diangkat menjadi guru di sekolah tersebut pada tahun 1915. Setelah menjadi guru, tahun 1916, Soegija menyatakan keinginannya untuk menjadi seorang imam.

Tahun 1919, Soegija Berangkat ke Belanda untuk belajar di Gymnasium, Leiden yang diasuh para imam ordo Salib Suci. Setahun berikutnya, tahun 1920, masuk Novisiat Serikat Jesus di Mariendaal, setelah ada ijin khusus dari pembesar Serikat Jesus, karena Soegija menjadi katolik setelah dewasa.

27 September 1922, Soegija mengucapkan Triprasetya dalam Serikat Yesus. Seusai belajar filsafat di Berchmans College, Ondenbosch, Fr. Soegija pulang ke Indonesia dan ditugaskan sebagai guru di Muntilan tahun 1923. Selama di Muntilan ini Fr. Soegija juga aktif di bidang pers sebagai redaktur majalah mingguan Katolik berbahasa Jawa, Swara Tama. Tahun 1928, Berangkatlah Soegija ke Belanda untuk belajar teologi di Maastricht. Setahun kemudian, tahun 1929, untuk pertama kalinya pergi ke Roma menghadap Paus Pius XI bersama-sama dengan empat orang Jesuit dari Asia lainnya. Pada tanggal 25 dan 26 Mei 1931, Soegija resmi menerima tahbisan subdiakonat dan diakonat di Maastricht.

SUMBER : www.soegijathemovie.com

Mengintip Rumah Sakit Apung USNS Mercy

USNS Mercy di Teluk Manado 31 Mei 2012 (foto rizky)
KAPAL United State Navy Ship (USNS) Mercy tiba di teluk Manado sekitar pukul 04.00 Wita hari Kamis 31 Mei 2012. Kapal rumah sakit terbesar di dunia datang lebih awal dari yang diperkirakan. Kapal yang mengangkut sekitar 1.000 kru ini melakukan perjalanan selama seminggu dari Guam. Kapal ini selama dua minggu akan melakukan misi kemanusiaan di Sulawesi Utara bertajuk Pacific Partnership 2012.

Pada hari pertama kedatangannya, wartawan media lokal mendapat kesempatan untuk melakukan tur singkat ke kapal rumah sakit terbesar ini. Tribun Manado satu dari 11 media lokal mendapat kesempatan ikut. Sebelum naik ke kapal rumah sakit, semua wartawan mendapatkan pengarahan dari staf US Navy tentang prosedur selama di atas kapal.

Untuk mencapai kapal yang buang sauh di Teluk Manado  ini bisa menggunakan  dua perahu milik USNS Mercy atau naik helikopter Sea Hawk yang memiliki kapasitas 10 orang penumpang termasuk kru. Biasanya perahu digunakan untuk mengangkut kru yang akan turun ke daratan. Kapal ini akan bekerja selama 12 jam dari 16 jam kerja. sedangkan helikopter untuk mengangkut suplai obat-obatan. Untuk menuju ke kapal ini, mereka hanya menggunakan dua perahu dari 30 yang dimiliki.

Jika menggunakan helikopter maka penumpang akan turun di helipad yang berada di bagian atas kapal  sedangkan jika menggunakan perahu penumpang akan naik lewat samping kanan kapal ini.Lantai 01 dan 02, yang terletak paling atas digunakan untuk menyimpan obat-obatan, laboratorium, dan sejenisnya.

Pasien yang tidak bisa berjalan, untuk dapat menuju ruang administrasi dibawa melewati lift yang bisa menampung sekitar 20 orang dewasa. Selain lift ada lorong yang bisa menghubungkan mulai dari bagian atas kapal hingga ke bagian bawah kapal. Jika melewati lorong ini semua personil terlihat bergerak cepat. Begitu sampai  di daerah M (main deck) pasien yang akan mengikuti operasi akan dicocokan administrasinya yang ada dalam daftar pasien yang sudah discreening terlebih dahulu di darat.

Dekat dengan bagian administrasi ini, ada yang namanya ruang gawat darurat yang memiliki kapasitas 50 tempat tidur. Di ruangan ini juga nantinya bisa dipilah ke bagian mana pasien akan dirawat. Di sini juga terletak 12 ruang operasi. Sayangnya saat kunjungan Tribun Manado, ruang operasi sementara dipersiapkan jelang pelaksanaan operasi yang akan dilakukan selama 12 hari mendatang.

Di bawahnya lagi tersusun lantai 2 hingga 5, yang digunakan sebagai bangsal para pasien. Mercy memiliki 250 tempat tidur, dan bisa ditambah hingga 1.000 jika diperlukan. Di dalam kapal itu ada 20 tempat tidur untuk perawatan pasca-operasi, dan 80 dipan untuk perawatan intensif. Di sana ada poliklinik gigi dengan enam bilik pemeriksaan. Meski tak bisa masuk ke dalam ruangannya langsung, dijelaskan oleh Perwira Humasnya Maria Lohmeyer dinding kamar dari baja dicat putih, krem, atau hijau muda. Tak ada sofa mentereng atau televisi di ruang pasien. . "Semua ruang berpenyejuk udara karena tak ada jendela," kata Maria.

 Maria yang menjadi pemandu tur, menambahkan, semua pasien tinggal di dalam barak berukuran sekitar 200 meter persegi. Di dalamnya terdapat 20 tempat tidur bertingkat dua dipan 1x2 meter dengan kasur lateks berseprai putih. Pada sisi masing-masing dipan ada lampu baca, tangki oksigen, dan sebuah rak kecil dari besi. Untuk kamar rawat anak-anak, kata Maria, dirancang sedemikian rupa hingga menyerupai tempat bermain. "Hal ini dimaksudkan agar anak-anak meski dalam masa penyembuhan bisa menikmati hiburan. Ruang perawatan anak memiliki kapasitas 80 tempat tidur," ujarnya.

Rumah sakit terapung ini juga memiliki pusat terapi fisik, mesin ct scan, ada juga mesin khusus yang dapat menganalisa darah melalui sinar X ray, klinik pengobatan mata, dua mesin yang mampu memproduksi oksigen, serta memiliki bank darah yang dapat menyimpan 5 ribu unit kantong darah beku, serta 500 plasma darah serta bisa mencocokan darah 20 unit per jam. Ada juga ruangan untuk masa pemulihan dan ruangan untuk para keluarga yang menjaga pasien yang akan menjalani operasi.

Maria kemudian mengajak rombongan wartawan untuk makan siang. Saat makan siang, semua kru antri untuk masuk dalam satu ruangan. Setiap orang mengambil nampan untuk meletakan peralatan makan seperti piring, mangkuk sup, garpu, sendok, dan pisau. Setelah mengambil peralatan makan, masih juga akan antri untuk mengambil menu. Siang itu menu yang disajikan adalah menu khas Spanyol dan Meksiko. Ada Burrito yang terbuat dari tortilla gandum yang diisi dengan berbagai macam daging seperti daging sapi, ayam atau babi. Daging-daging yang sudah dimasak ini biasanya hanya isi satu-satunya, dan kemudian digulung dengan tortilla tadi. Di Amerika Serikat, isi dari burrito lebih bervariasi, seperti nasi, kacang merah, kubis, tomat, saus salsa, guacamole, keju dan sour cream. "Setiap hari menunya berbeda tergantung jadwal yang sudah dipersiapkan oleh koki," tutur Maria.

Ruang makan adalah tempat favorit para marinir melepas lelah. Sebuah ruangan jembar, sekitar 200 meter persegi. Kursi-kursi makan biru disusun mengitari beberapa meja berbentuk persegi panjang. Agak ke sisi kiri terdapat meja besar tempat orang mengambil buah, aneka minuman panas dan dingin. Di depan, sebuah tv flat besar tergantung dan memutar film-film Hollywood. Sebuah kamar untuk mengambil makanan terletak di sisi restoran. Untuk ruang makan perwira, letaknya berbeda dengan ruang makan kru umum. Di ruang makan perwira, sudah tersedia menu yang sama. Kursinya diatur mengikuti meja bundar yang di atasnya sudah di letakkan beberapa jenis saus dan madu. "Selesai makan, semua perwira maupun kru harus membawa sendiri peralatan makannya ke bagian belakang. Di sana sudah ada orang yang siap untuk mencuci piringnya," jelas Maria kepada rombongan wartawan yang sudah selesai makan.

Untuk menghilangkan kebosanan, bisa juga dilakukan aktivitas lainnya seperti bermain pingpong, berbelanja di minimarket, mengirim surat melalui kantor pos.  Jika sedang iseng, para penghuni kapal bisa juga membeli camilan di mesin penjual minuman kaleng dan makanan kecil. Tentu saja mesin itu hanya menerima recehan dolar.

USNS Mercy dahulunya adalah kapal tengker minyak yang kemudian pada 19 Desember 1986 disumbangkan kepada US Navy. Kapal yang semuanya terdiri dari metal ini, kemudian diubah menjadi kapal rumah sakit. USNS Mercy merupakan satu dari dua kapal rumah sakit milik Amerika. Kapal ini memiliki panjang 272 meter, dengan kecepatan 17.5 mil laut. Namun menurut Perwira Humasnya, untuk perjalanan ke Indonesia mereka hanya menggunakan kecepatan 5 knot.

Palkanya dibedah, ditata ulang, dan diisi dengan peralatan medis modern. Di lambung kiri dan kanan diberi ruang yang diisi 35 ribu ton air laut, sebagai penyeimbang kapal. Dengan kelengkapan itu, kapal praktis tidak oleng meski dihantam ombak. Itulah sebabnya, operasi berpresisi tinggi, seperti bedah jantung, bisa dilakukan meski kapal sedang melaju. Untuk mengurangi guncangan, kabin bedah diletakkan di tengah perut kapal. Kapal ini memliki awak yang terdiri dari pelaut sipil (dengan waktu penugasan) sebanyak 65 orang, yang bukan penugasan sebanya 18 orang, kemudian personil angkatan laut, kedokteran, sebanyak 1.215 orang penugasan, dan 58 orang yang tidak penugasan. (rine f araro)

Sumber: Tribun Manado 1 Juni 2012 halaman 1
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Best WordPress Themes